• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai macam agama dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai macam agama dan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai macam agama dan kepercayaan, suku, bahasa yang berbeda-beda dan kehidupan sosial budaya yang tidak sama satu dengan lainnya. Sebagai bangsa yang heterogen, Indonesia memiliki corak tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Perbedaan dalam kehidupan sosial bermasyarakat menjadi sesuatu yang harus dibanggakan karena hal ini merupakan aset yang dipuyai oleh bangsa Indonesia. Dalam slogan bangsa Indonesia “Bhineka Tunggal Ika” ini dapat menciptakan persatuan nasional apabila dikelola dan dipelihara secara baik. Tapi disisi lain juga harus sadar akan resiko dari negara dengan mayarakat yang heterogen.

Clifford Greetz dalam (Kymlicka, 2011: viii) berpendapat bahwa Indonesia sebegitu bertautan sehingga sulit untuk melukiskannya secara jelas. Indonesia tidak hanya multietnis (Batak, Aceh, Bali, Flores, Bugis, Jawa dan seterusnya), melainkan juga multi mental (Cina, Portugis, Belanda, Portugis, Buddhisme, Konfusianisme, Hindhuisme, Islam, Kristen, Kapitaslis, seterusnya). Dari pernyataan Greertz mempertegas bahwa Indonesia merupakan bangsa yang multikultural. Keberagaman dalam masyarakat Indonsia dapat dilihat berdasarkan geografis maupun sosio-kultural yang ada di Indonesia.

Dikutip dari artikel milik Badan Pusat Statistika dengan judul “Mengulik Data Suku di Indonesia” (Badan Pusat Statistika, 2015) memaparkan, BPS yang

(2)

2 bekerja sama dengan Insitude Of Shoutheast Asian Studies (ISEAS) pada tahun 2013, menemukan 633 suku besar yang tersebar di seluruh Nusantara. Pada tahun 2017 dalam artikel milik (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018), telah memetakan dan menverifikasi ada 652 bahasa daerah di Indonesia Tidak hanya memiliki keberagaman dalam suku maupun bahasa. Masyarakat Indonesia juga memiliki keberagaman keyakinan yang dipercayai. Agama yang dinyatakan sah oleh Pemerintah Republik Indonesia yaitu Islam, Protestan, Khatolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.

Masyarakat Indonesia yang beragam ini, tidak menutup kemungkinan Indonesia berpotensi tinggi untuk terjadinya konflik. Banyak konflik yang berkaitan SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) pernah terjadi di Indonesia. Salah satu konflik antar umat beragama yang paling kelam yang pernah terjadi adalah Kerusuhan Poso yang terjadi pada 24 Desember 1998.

Pada bulan April 2000, konflik kedua terjadi karena berhubungan berhubung secara erat dengan politik, hal ini dikarenakan berkenaan dengan pemilihan dari Bupati Poso serta beredarnya rumor perihal pembagian jataj kekuasaan yang dilakukan atar elit kelompok Kristen dan kelompok Islam. Konflik kedua berlangsung dari Mei 2000 hingga Desember 2001, ini menjadi konflik yang bernuansa SARA dan mengarah pada perang saudara (Alganih 2016: 170).

Tidak hanya di lingkungan bermasyarakat, di lingkungan pendidikan juga ditemukan pandangan mengenai intoleransi beragama. Dalam artikel milik PinterPolitik dengan judul “Pendidikan Indonesia Makin Intoleran?”

(PinterPolitik, 2015) memaparkan, pada akhir tahun 2017 Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi melakukan survei dan ditemukan hasil 23,4

(3)

3 persen mahasiswa dan 23,3 persen siswa SMA di Indonesia mempunyai pandagan intoleransi. Sedangkan pada tahun 2018, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPMI) Universitas Islam Negeri (UIN) mengeluarkan survei nasional mengenai keberagaman di sekolah-sekolah dan universitas di Indonesia. Hasil yang ditemukan bahwa 56,9 guru-guru TK hingga SMA di Indonesia memiliki opini intoleransi. Intoleransi yang pernah terjadi dalam lingkungan pendidikan, salah satunya polemik tentang aturan sekolah yang intoleransi. Di kutip dari BBC (Artharini, 2017) hal ini terjadi pada tahun 2017 di SMPN 3 Genteng Banyuwangi salah satu sisiwi non-Muslim yang menarik bekas pendaftarannya karena aturan yang di buat oleh sekolah mewajibkan semua siswi harus menggunakan jilbab. Sebelummnya calon siswi ini di tolak oleh pihak sekolah dengan alasan non-Muslim, orang tua dari siswi melaporkan kejadian yang menimpa anaknya ke Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi sehingga pihak sekolah memperbolehkan sisiwi tersebut masuk dengan persayaratan harus menggunakan jilbab dan mengikuti pelajaran agama Islam.

Sebelumnya, dikutip dari dalam Republika.co.id (Baraas, 2014), pada tahun 2013 seorang siswa SMAN 2 Denpasar bernama Anita Whardani dilarang menggunakan jilbab atau kerudung di sekolah. Pelarangan jilbab juga terjadi di beberapa sekolah di Bali, salah satunya SMPN 1 Singaraja ditulis dalam buku panduan siswa. Pada Bab I pasal 2 dari buku saku dinyatakan, khusus perempuan poin (c) tidak menggunakan jilbab, Sebagai masyarakat yang beragama, seharusnya dapat saling menharagai dan menumbuhkan sikap toleransi antar umat beragama.

(4)

4 Pada tahun 2019, tepatnya pada bulan juni, SDN Karangtengah Wonosari Yogyakarta, melalui surat edarannyamewajibkan siswa-siswi tahun ajaran 2019-2020 untuk menggunakan pakaian muslimah. Siswa wajib menggunakan celana panjang dan siswi wajib berjilbab. Menanggapi hal ini OMBUDSMAN mendatangi sekolah dan meminta klarifikasi dan kemudian pihak sekolah mencabut aturan tersebut (Fauzan, 2019).

Untuk menumbuhkan sikap toleransi, Sistem Pendidikan Indonesia dalam rancangannya memiliki tujuan untuk menaikkan kemampuan siswa agar dapat menjadi manusia yang kreatif, berilmu, mandiri, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia. Pendidikan karakter menjadi salah satu wujud utama agar tercapainya tujuan dari sistem pendidikan Indonesia. Salah satu nilai pendidikan karakter bangsa Indonesia ialah toleransi. Toleransi adalah bentuk sikap untuk menghargai perbedaan yang ada. Seperti perbedaan suku, agama etnis, sikap, pendapat ataupun perbuatan orang lain yang berbeda dari dirinya. Tujuan dari pendidikan yang berkarakter pada intinya ingin membentuk bangsa yang kompetitif, tangguh, bertoleran, bermoral, berjiwa patriot, bergotong royong, berkembang secara dinamis dan beorientasi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya diresapi dengan iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.

Untuk mewujudkan keteladanan toleransi tidak hanya didapat melalui pendidikan formal saja, tapi juga dapat disampaikan melalui media massa seperti film. Film dinilai menjadi media komunikasi massa yang efektif dalam menyampaikan informasi, ide atau gagasannya kepada masyarakat luas. Film merupakan gambaran sosial dari masyarakat yang kemudian diproyeksi ke atas

(5)

5 layar. Film memiliki pesan yang dikemas sedemikian rupa oleh pembuatnya dengan berbagai tujuan, ada yang menghibur maupun memberikan informasi tapi ada pula yang ingin mencoba memasukan keyakinan atau pemahaman tertentu yang secara perlahan mengajak penontonnya. Pesan yang ditampilkan dalam film juga dapat menjadi pembelajaran dan penambahan wawasan bagi penontonnya. Penyampaian pesan dalam film diharapakan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, sehingga berbagai macam pesan dapat dibawa oleh film.

Salah satu film yang mengangkat tema tentang toleransi beragama adalah

“Aisyah:Biarkan Kami Bersaudara”. Dimana Herwin Novianto menjadi sutradara, film ini menjadi gambaran kehidupan masyarakat Indonesia yang juga dapat bersifat intoleransi. Film berdurasi 109 menit yang diliris pada tanggal 16 Mei 2016 menceritakan tentang perjalanan seorang Aisyah sarjana muda yang berasal dari Ciwedy, Jawa Barat yang mendapat tugas menjadi guru SD di Dusun Derok, Atambua, Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan Timor Leste. Aisyah yang diperankan oleh aktris Laudya Cynthia Bella mengalami konflik dengan ibunya yang tidak mengizinkannya untuk mengabdikan diri di daerah yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Dengan tekadnya yang kuat Aisyah meyakinkan ibunya untuk mendapatkan izin untuk berangkat ke Dusun Derok, Atambua, Nusa Tenggara Timur. Sesampainya di Dusun Derok yang sangat berbeda degan kampung halamannya, Aisyah harus menyusuaikan dirinya dengan perbedaan iklim, budaya, bahasa dan agama.

Pada awal kedatangan Aisyah, masyarakat menganggapnya sebagai Suster Maria. Masyarakat Dusun Derok mayoritas beragama Khatolik, Aisyah

(6)

6 mendapat tantangan dari muridnya yang bernama Lordis Defam, yang menolak untuk diajari olehnya. Lordis menganggap Aisyah yang seorang muslim jahat yang datang ke Dusun Derok untuk menyebabkan perpecahan. Lordis mendapatkan paham dari pamannya bahwa umat islam itu jahat. Aiysah sangat berniat dengan cita-citanya menjadi guru yang baik, ia ingin tetap mengajari muridnya. Di waktu yang lain, Aisyah diperlakuakn dengan sangat baik oleh kepala dusun dan ibu dusun, terlebih dari ibu dusun. Dimana ibu dusun selalu berusaha untuk tetap mengambil air bersih walaupun jarak tempuh yang sangat jauh dari rumah. Hal ini tetap dilakukan untuk menyanggupi kebutuhan rumahnya dan juga kebutuhan Aisyah untuk berwudhu untuk melaksanakan sholat. Aisyah ikut serta menolong muridnya dalam pembuatan pohon natal pada saat perayaan Natal. Walaupun Lordis Defam membenci Aisyah, tapi Aisyah tetap peduli dengan muridnya, dalam Liputan6.com (Sundari, 2016).

Film ini mendapatkan tujuh penghargaan Piala Citra pada tahun 2016 sebagai Film Terbaik, Pemeran Pendukung Wanita Terbaik, Pemeran Anak Terbaik, Pemeran Wanita Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik, Penulis Skenario Asli Terbaik, dan pemenang Penulis Skenario Asli Terbaik. Pada tahun 2017 memenangkan empat penghargaan di Usmar Ismail Awards dengan kategori, Film Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik dan Penulis Skenario Terbaik (film indonesia, 2016). Cerita dalam film ini yang mengangkat tentang isu kemiskinan dan bagaimana keadaan dunia pendidikan di Nusa Tenggara Timur digambarkan dengan alur cerita yang ringan dan dapat dipahami namun banyak pesan yang coba disampaikan dalam film ini. Dalam film ini juga

(7)

7 menampilkan toleransi beragama yang terjadi antara Aisyah dengan warga desa yang lainnya.

Sadar akan adanya pesan toleransi beragama yang dimunculkan dalam film tersebut, peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana pesan toleransi beragama yang gambarkan melalui adegan-adegan dan dialog yang ada didalam film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang yag telah dipaparkan diatas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah apa isi pesan toleransi beragama dalam Film Aisyah:

Biarkan Kami Bersaudara ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui isi pesan toleransi agama yang terdapat pada film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara.

1.4 Manfaat Penelitian a. Secara Akademis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi atau literatur kepustakaan mengenai kajian isi pesan dalam film khususnya yang menyoroti aspek sosial, budaya dan agama khususnya mengenai toleransi.

(8)

8 b. Secara Praktis

Secara praktis, diharapkan penelitian ini dapat menjadi acuan dalam memahami pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah film dan diharapkan menjadi bahan masukan untuk para praktisi komunikasi yang ingin menggeluti industri perfilman agar dapat membuat karya yang terus berkualitas, mendidik dan sarat akan nilai kehidupan khusunya toleransi antar umat beragama.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya perumusan masalah diatas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana persepsi mahasiswa Kebumen di Jogja terhadap Budaya

Sebagai salah satu sumber informasi tambahan yang berguna bagi orang- orang yang melakukan perkawinan beda agama yang menyangkut masalah- masalah yang muncul serta

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka rumusan permasalahan dari penelitian ini adalah: “Bagaimana Pengaruh Pesan Pembangunan dalam

Berdasarkan penjelasan latar belakang diatas, peneliti menentukan rumusan masalah pada penelitian ini adalah adakah pengaruh terpaan pesan storytelling Akbar hendar terhadap

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengestimasi pengaruh inflasi, PDRB, rata-rata lama sekolah, dan upah

Yang membedakan buku ini dengan penelitian adalah peneliti lebih terfokus pada pakaian adat pernikahan yang ada di Palembang dan proses akulturasi budaya yang terdapat dalam

Meskipun peneliti juga menggunakan teori tersebut untuk membedah isi pesan yang terdapat dalam film, akan tetapi subjek peneliti berbeda, yaitu pesan nasionalisme dalam

Pada bab ketiga, penulis akan mencoba menganalisis rumusan masalah yang telah diangkat yaitu “Mengapa terdapat perbedaan tingkat toleransi dalam kehidupan beragama