• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI THOMAS FEBRIAN TAMBUNAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI THOMAS FEBRIAN TAMBUNAN"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

SINTESIS BASA SCHIFF MELALUI REAKSI KONDENSASI ANTARA SELULOSA DIALDEHID DENGAN ETILENDIAMIN DAN ANILIN SERTA

UJI AKTIFITASNYA SEBAGAI ANTIBAKTERI

SKRIPSI

THOMAS FEBRIAN TAMBUNAN 140802069

PROGRAM STUDI S1 KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2019

(2)

SINTESIS BASA SCHIFF MELALUI REAKSI KONDENSASI ANTARA SELULOSA DIALDEHID DENGAN ETILENDIAMIN DAN ANILIN SERTA

UJI AKTIFITASNYA SEBAGAI ANTIBAKTERI

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains

THOMAS FEBRIAN TAMBUNAN 140802069

PROGRAM STUDI S1 KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2019

(3)

PENGESAHAN SKRIPSI

Judul : Sintesis Basa Schiff Dari Hasil Kondensasi Selulosa Dialdehid Dengan Etilen Diamin Maupun Anilin Serta Uji Akrivitasnya Sebagai Antibakteri

Kategori : Skripsi

Nama : Thomas Febrian Tambunan

Nomor Induk Mahasiswa : 140802069 Program Studi : Sarjana Kimia

Fakultas : MIPA – Universitas Sumatera Utara

Disetujui di

Medan, September 2019

Ketua Program Studi Pembimbing,

Dr. Cut Fatimah Zuhra, M.Si Dr. Mimpin Ginting, M.Sc NIP. 197404051999032001 NIP : 195510131986011001

(4)

PERNYATAAN ORISINALITAS

SINTESIS BASA SCHIFF MELALUI REAKSI KONDENSASI ANTARA SELULOSA DIALDEHID DENGAN ETILENDIAMIN DAN ANILIN SERTA

UJI AKTIFITASNYA SEBAGAI ANTIBAKTERI

SKRIPSI

Saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan dan masing masing disebutkan sumbernya.

Medan, September 2019

Thomas Febrian Tambunan 140802069

(5)

PENGHARGAAN

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, karena atas berkat kasih karunia dan pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan judul “Sintesis Basa Schiff Dari Hasil Kondensasi Selulosa Dialdehid Dengan Etilen Diamin Maupun Anilin Serta Uji Akrivitasnya Sebagai Antibakteri”.

Terimakasih penulis sampaikan kepada Bapak Bapak Dr. Mimpin Ginting, MS selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya selama penyusunan skripsi ini. Terimakasih kepada Ibu Dr. Cut Fatimah Zuhra, M.Si dan Ibu Dr. Sovia Lenny, S.Si, M.Si selaku ketua dan sekretaris program studi Kimia FMIPA USU Medan, Dekan dan Wakil Dekan FMIPA USU, Bapak Dr. Mimpin Ginting, MS selaku Kepala Laboratorium Kimia Organik beserta Dosen dan seluruh staff Pegawai FMIPA USU.

Secara khusus penulis mengucapkan terimakasih kepada Orangtua, kakak, abang dan adik penulis yang telah banyak memberikan dukungan doa, moril, materil, dan kasih sayang yang tak terhingga hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan studi.

Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada asisten laboratorium Kimia Organik, Slamet, Lutfhi, Marina dan rekan Ikatan Mahasiswa Kimia dan rekan stambuk 2014 yang telah banyak memberikan bantuan dan masukan kepada penulis.

Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penelitian dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Medan , Oktober 2019

Thomas Febrian Tambunan

(6)

SINTESIS BASA SCHIFF MELALUI REAKSI KONDENSASI ANTARA SELULOSA DIALDEHID DENGAN ETILENDIAMIN DAN ANILIN SERTA

UJI AKTIFITASNYA SEBAGAI ANTIBAKTERI

ABSTRAK

Basa Schiff disintesis melalui reaksi kondensasi antara selulosa dialdehid (SDA) dengan etilen diamin maupun anilin, dimana SDA diperoleh dari oksidasi α- selulosa menggunakan oksidator natrium periodat. Terbentuknya selulosa dialdehid secara kualitatif didukung oleh terbentuknya endapan merah bata dengan penambahan pereaksi Fehling serta meningkatnya kelarutannya dalam air dan hasil analisis FT-IR memberikan spektrum dengan puncak vibrasi pada bilangan gelombang 1635,64 cm-

1 yang menunjukkan gugus C=O aldehid. Selulosa dialdehid yang dihasilkan memiliki derajat oksidasi sebesar 80,9 % dengan kadar karbonil sebesar 10,36 %. Terbentuknya basa Schiff didukung oleh hasil analisis FT-IR memberikan spektrum dengan puncak vibrasi pada bilangan gelombang 1635,64 cm-1 dan 1604,77 cm-1 yang menunjukkan terbentuknya ikatan imina (-C=N-) hasil kondensasi antara gugus amin dari etilendiamin dan anilin dengan gugus aldehid dari SDA. Uji aktivitas antibakteri pada basa Schiff dilakukan melalui metode difusi cakram, untuk basa Schiff hasil reaksi kondensasi SDA dengan etilendiamin pada konsentrasi 0.15%;0.30%;0,45% terhadap S.aureus dan E.coli secara berturut turut memberikan diameter zona bening 6,9mm;

9mm; 12,5mm dan 7mm; 12,5mm; 13mm. Sedangkan untuk basa Schiff hasil reaksi kondensasi SDA dengan anilin pada konsentrasi 0.15%;0.30%;0,45% terhadap S.aureus dan E.coli secara berturut turut memberikan diameter zona bening 10mm;

10,8mm; 20,1mm dan 10,5mm; 14,6mm; 17,1mm. Dengan demikian basa Schiff hasil kondensasi SDA dengan etilendiamin dan anilin memiliki sifat antibakteri yang cukup baik terhadap bakteri S.aureus dan E.coli

Kata kunci: Antibakteri, basa Schiff, Etilen Diamin, Anilin, Oksidasi, Selulosa

(7)

SYNTHESIS OF SCHIFF BASE THROUGH CONDENSATION REACTION BETWEEN DIALDEHYDE CELLULOSE WITH ETHYLENE DIAMINE OR ANILINE AND TESTING THEIR

ACTIVITY AS ANTIBACTERIAL

ABSTRACT

Schiff base has been synthesized by reaction condensation between Ethylene diamine or Aniline and dialdehyde cellulose (DAC) which from oxidation of α- cellulose with oxidator sodium periodate. The formed cellulose dialdehyde qualitatively shown by the formed brick red sendiment with fehling test and increased solubility in water and by FT-IR spectrophotometer data that gave peak at wave number of 1635,64 cm-1 which belong to C=O aldehyde group. Synthesized dialdehyde cellulose has oxidation degree of 80,9% and carbonyl level of 10,36%. Schiff base was characterized by FT-IR spectrophotometer and gave peak at wave number 1635,64 cm-1 and 1604,77 cm-1 which indicated the formation of Schiff base bond (C=N) as the result of condensation between amine group from Ethylene diamine and Aniline with aldehyde group from DAC. Antibacterial activity test on Schiff bases were performed by disc plate diffusion method, for Schiff base of the condensation results of DAC with Ethylenediamine on concentration 0.15%;0.30%;0,45% against S.aureus and E.coli gave clear zone diameter in a row 6,9mm; 9mm; 12,5mm and 7mm; 12,5mm; 13mm.

for Schiff base of the condensation results of DAC with Aniline on concentration 0.15%;0.30%;0,45% against S.aureus and E.coli gave clear zone diameter in a row 10mm; 10,8mm; 20,1mm and 10,5mm; 14,6mm; 17,1mm. Thereby the Schiff base condensation results dialdehyde cellulose with ethylene diamine and aniline has properties antibacterial that is good enough against S.aureus and E.coli.

Keywords: Antibacterial, Schiff base, Ethylene Diamine, Aniline, Oxidation, Cellulose

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

PENGESAHAN SKRIPSI i

PERNYATAAN ORISINALITAS ii

PENGHARGAAN iii

ABSTRAK iv

ABSTRACT v

DAFTAR ISI vi

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR x

DAFTAR LAMPIRAN xi

DAFTAR SINGKATAN xii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Permasalahan 3

1.3 Tujuan Penelitian 3

1.4 Pembatasan Masalah 3

1.5 Manfaat Penelitian 4

1.6 Metodologi Penelitian 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Selulosa 5

2.2 Oksidasi Selulosa 6

2.2.1 Oksidasi Selulosa dengan Natrium Hipoklorit dan

Hidrogen Peroksida 7

2.2.2 Oksidasi Selulosa dengan Natrium Periodat 8

2.3 Etilendiamin 9

2.4 Anilina 9

2.5 Basa Schiff 10

2.6 Bakteri 11

2.6.1 Escherichia coli 11

2.6.2 Staphylococcus aureus 12

2.7 Antibakteri 13

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat 15

3.2 Alat dan Bahan 15

3.2.1 Alat 15

3.2.2 Bahan 16

3.3 Pembuatan Larutan 17

3.3.1 Pembuatan Larutan NaOH 0,1 N 17 3.3.2 Pembuatan Larutan HCl 0,15 N 17 3.3.3 Pembuatan Larutan HCl 0,1 M 17 3.4 Sintesis Selulosa Dialdehid (SDA) 17

(9)

3.5 Penentuan Derajat Oksidasi SDA 17

3.6 Penentuan Jumlah Karbonil SDA 18

3.7 Sintesis Basa Schiff 19

3.7.1 Sintesis Basa Schiff dari SDA dengan

Etilendiamin 19

3.7.2 Sintesis Basa Schiff dari SDA dengan Anilin 19 3.8 Penentuan Aktivitas Antibakteri 19 3.8.1 Pembuatan Media Miring NA 19 3.8.2 Pembuatan Media Agar Miring dan Stok

Kultur Bakteri 20

3.8.3 Pembuatan Media Mueller Hinton Agar

(MHA) 20

3.8.4 Pembuatan Inokulum Bakteri 20 3.8.5 Penentuan Aktivitas Antibakteri Basa Schiff 20

3.9 Bagan Penelitian 21

3.9.1 Sintesis Selulosa Dialdehid (SDA) 21 3.9.2 Penentuan Derajat Oksidasi SDA 22 3.9.3 Penentuan Jumlah Karbonil SDA 23 3.9.4 Sintesis Basa Schiff dari Selulosa

Dialdehid dan Etilendiamin 24 3.9.5 Penentuan Aktivitas Antibakteri 25

3.9.5.1 Pembuatan Media Mueller

Hinton Agar (MHA) 25

3.9.5.2 Pembuatan Media Nutrien Agar (NA), Media Agar Miring dan

Stok Kultur Bakteri 26 3.9.5.3 Penyiapan Suspensi Bakteri 27 3.9.5.4 Pengujian Aktivitas Antibakteri

Basa Schiff 28

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis FT-IR α-Selulosa 29

4.2 Pembuatan Selulosa Dialdehid 30

4.3 Sintesis Basa Schiff dari Selulosa Dialdehid

dengan Etilendiamin 32

4.4 Sintesis Basa Schiff dari Selulosa Dialdehid

dengan Anilin 34

4.5 Uji Antibakteri Hasil Sintesis 37

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan 40

5.2 Saran 40

DAFTAR PUSTAKA 41

LAMPIRAN 44

(10)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul

Halaman Tabel

4.1 Uji Antibakteri Hasil Sintesis 45

(11)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

Gambar

2.1 Struktur Selulosa 6

2.2 Jenis Oksidasi pada Polisakarida 7

2.3 Reaksi Oksidasi Selulosa dengan Natrium Hipoklorit 7 2.4 Reaksi Oksidasi Selulosa dengan Hidrogen Peroksida 8

2.5 Reaksi Oksidasi Selulosa dengan Periodat 8

2.6 Struktur Kimia Etilendiamin 9

2.7 Struktur Kimia Anilina 10

2.8 Reaksi Selulosa dialdehida dengan Etilendiamin 10

2.9 Reaksi Selulosa dialdehida dengan Anilin 10

2.10 Bentuk mikroskopis bakteri Escherichia coli 12

2.11 Bentuk Mikroskopis Bakteri Staphylococcus aureus 13

4.1 Spektrum FT-IR Selulosa Komersil PT. Toba Pulp Lestari 29

4.2 Mekanisme Reaksi Pembentukan Selulosa Dialdehi 30

4.3 Reaksi Pembentukan Fehling Serta Reaksi Antara Fehling Dengan Gugus Aldehid 31

4.4 Spektrum FT-IR Selulosa Dialdehid 32

4.5 Mekanisme Reaksi Pembentukan Basa Schiff Hasil Kondensasi Selulosa Dialdehid dengan Etilen Diamin 33

4.6 Spektrum FT-IR Basa Schiff Hasil Kondensasi Selulosa Dialdehid dengan Etilendiamin 34 4.7 Mekanisme Reaksi Pembentukan Basa Schiff Hasil Kondensasi Selulosa Dialdehid dengan Anilin 35 4.8 Spektrum FT-IR Basa Schiff Hasil Kondensasi Selulosa Dialdehid dengan Anilin 36

4.9 Perbandingan spektrum FT-IR 37

4.10 Grafik Uji antibakteri pada bakteri Eschericia coli 39 4.11 Grafik Uji antibakteri pada bakteri Staphylococcus aureus 39

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

Lampiran

1 Perhitungan Derajat Oksidasi ( DO) Selulosa Dialde 44

2 Perhitungan Kadar Karbonil 44

3 Gambar α-Selulosa 44

4 Gambar Proses Pembuatan Selulosa Dialdehid 45

5 Gambar Basa Schiff 45

6 Gambar Uji Antibakteri 46

7 Gambar Spektrum FT-IR 48

(13)

DAFTAR SINGKATAN

DO = Derajat Oksidasi

FT-IR = Fourier Transform- Infra Red

DMSO = Dimethyl Sulfoxide

MHA = Mueller Hinton Agar

NA = Nutrien Agar

SDA = Selulosa Dialdehid

Basa Schiff (1) = Selulosa Dialdehid + Etilen Diamin Basa Schiff (2) = Selulosa Dialdehid + Anilin

(14)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Selulosa merupakan polimer senyawa organik yang paling melimpah di bumi.

Produksi selulosa dari tanaman diprediksi mencapai 1012 ton setiap tahunnya. Setiap tumbuhan diyakini mengandung sekitar minimal 33% selulosa, di mana pada kayu terdapat sekitar 50% selulosa, sementara pada kapas mengandung sekitar 90%

selulosa. Selulosa yang diproduksi sebagian besar diolah menjadi bubur kertas, bahan pokok, dan ada juga yang digunakan untuk proses kimia yang berkelanjutan. Proses kimia yang telah dilakukan terhadap selulosa sangatlah beragam, seperti esterifikasi selulosa, oksidasi selulosa, dan eterifikasi selulosa (Granstorm,2009)

Selulosa dibentuk oleh unit monomer glukosa berulang, telah menyebabkan kebangkitan global penelitian selulosa interdisipliner karena karakteristiknya yang unik. Selama beberapa dekade terakhir, selulosa telah menarik perhatian sebagai salah satu polisakarida yang menjanjikan untuk mencapai sintesis basa Schiff, yang dapat dimodifikasi secara signifikan untuk menyesuaikan sifat-sifatnya untuk banyak aplikasi potensial sebagai antibakteri (John dan Thomas 2008; Klemm et al. 2011;

Huang et al. 2011; 2006; Peng et al.2011).

Pendekatan oksidasi ini sering melibatkan fungsionalisasi melalui gugus hidroksil permukaan ke polimer yang telah disintesis melalui zat perangkai atau polimer yang dibentuk oleh polimerisasi in situ dari inisiator amobil pada permukaan substrat. Pendekatan oksidasi berkala menawarkan metode yang mudah dan penting untuk fungsionalisasi gugus hidroksil dalam selulosa. Ia dikenal karena fragmentasi oksidatif yang sangat selektif dari ikatan glikol C-2 dan C-3 dari cincin glukosa menjadi produk dialdehida C-2 / C-3, yang bertindak sebagai perantara reaktif untuk derivatisasi lebih lanjut. α-Selulosa akan dioksidasi dengan menggunakan Natrium Periodat dan akan menghasilkan Selulosa Dialdehid (Kristiansen et al. 2010; Potthast et al.2007; Zhang et al. 2012).

(15)

Bakteri merupakan kelompok mikroorganisme yang sangat penting karena pengaruhnya yang membahayakan maupun menguntungkan. Bakteri tersebar luas disekitar makhluk hidup yang sering dijumpai diudara, air dan tanah, dalam usus binatang, pada lapisan lembab pada mulut, hidung dan tenggorokan, pada permukaan tubuh dan tumbuhan. Bakteri adalah organisme terkecil bersel tunggal terkecil, beberapa diantaranya hanya memiliki diameter 0,4 µm (mikrometer). Sel berisi sitoplasma dan bahan inti yang dibungkus oleh dinding sel dan pada beberapa jenis bakteri, dinding sel ini dikelilingi oleh kapsula atau lapisan lender (Roger, 1982).

Basa schiff merupakan senyawa imina dengan karakteristik ikatan C=N.

Derivat ini bisa diperoleh melalui kondensasi amina primer dengan senyawa karbonil seperti aldehid maupun keton. Basa Schiff pertama sekali ditemukan oleh seorang bernama Hugo Schiff sejak tahun 1864. Basa Schiff memiliki karakteristik berupa gugus imin (-RC=N-) dalam strukturnya (Cimerman et al, 1997).

Serat selulosa yang mengandung gugus amina aktif telah dikenal karena sifat antimikroba dan modifikasi kimianya yang dihasilkan dari perlekatan kovalen adalah metode yang sangat efektif dan disukai untuk memasukkan amina ke permukaan selulosa (Alonso et al. 2009; Cassano et al. 2009; El-Tahlawy et al. 2005; Ringot et al.2011).

Dari Penelitian sebelumnya yaitu aldehid hasil ozonolisis metal ester asam lemak minyak kelapa sawit dengan anilina dan fenilhidrazin dengan tujuan mengamati aktivitas antibakteri. Uji aktivitas antibakteri Basa Schiff yang diperoleh dengan metode difusi agar dalam pelarut DMSO (Dimetil Sulfoksida) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli menunjukkan bahwa kedua Basa Schiff yang diperoleh lebih aktif dalam menghambat bakteri Escherichia coli dengan indeks antimicrobial masing-masing 0,75 dan 1,22 sedangkan terhadap bakteri Staphylococcus aureus indeks antimikrobialnya masing-masing 0,12 dan 0,42.

(Stephani, 2015)

Sebuah seri Basa Schiff turunan oksazepin juga telah disintesis melalui kondensasi dengan aldehida aromatik dalam pelarut etanol dan asam asetat sebagai katalis. Kemudian diuji sifat antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Salmonella typhii dan Klebsiella pneumoniae yang memberikan hasil bahwa Basa Schiff yang diperoleh menunjukkan aktivitas anti bakteri yang bagus

(16)

terhadap Salmonella typhii dan Klebsiella pneumoniae dan sedang terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Telah diuji juga kemampuannya dalam menghambat korosi dari baja lunak dalam media H2SO4 1 N yang memberikan hasil nilai efisiensi korosi Basa Schiff mencapai 89,58 % (Hamak dan Eissa, 2013).

Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, peneliti tertarik untuk meneliti tentang kondensasi selulosa dialdehid dengan etilendiamin maupun dengan anilina menjadi basa Schiff dan diikuti uji aktivitas antibakteri kedua basa Schiff tersebut.

1.2 Permasalahan

1. Bagaimana mensintesis basa Schiff melalui reaksi kondensasi selulosa dialdehid dengan etilen diamin maupun anilin dimana selulosa dialdehid diperoleh dari reaksi oksidasi selulosa dengan natrium periodat?

2. Bagaimana aktifitas antibakteri dari basa Schiff yang dihasilkan terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mensintesis basa Schiff dengan mereaksikan selulosa dialdehid dengan etilen diamin maupun anilin dimana selulosa dialdehid diperoleh dari reaksi oksidasi selulosa dengan natrium periodat.

2. Untuk mengamati bagaimana aktifitas antibakteri dari basa Schiff yang dihasilkan terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli 1.4 Pembatasan Masalah

1. Oksidasi selulosa dengan natrium periodat

2. Sintesis basa Schiff dengan mereaksikan selulosa dialdehid yang dengan etilendiamin dan anilin

3. Uji antibakteri menggunakan bakteri Staphyloccocus aureus ( gram positif ) dan bakteri Escherichia coli ( gram negatif)

(17)

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber informasi mengenai reaksi sintesis, serta pengembangan dari reaksi-reaksi organik dalam reaksi oksidasi selulosa untuk menghasilkan modifikasi selulosa dan bagaimana cara mensintesis basa Schiff melalui reaksi kondensasi selulosa dialdehid dengan etilendiamin maupun anilin dan diharapkan basa Schiff yang diperoleh memiliki potensi sebagai antibakteri sehingga dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari – hari maupun industri.

1.6 Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan melalui eksperimen di laboratorium, dimana larutan α- selulosa di oksidasi dengan menggunakan natrium periodat pada suhu 35°C selama 240 jam untuk menghasilkan selulosa dialdehida. Selulosa dialdehida hasil oksidasi direaksikan dengan etilendiamin dan anilin dalam pelarut etanol pada kondisi refluks selama 5 jam untuk menghasilkan basa Schiff. Basa Schiff hasil reaksi dikonfirmasi hasilnya dengan spektroskopi FT-IR dan dilakukan pengujian aktivitasnya sebagai antibakteri melalui metode zona bening.

(18)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Selulosa

Selulosa merupakan biopolimer yang berlimpah di alam yang bersifat dapat diperbaharui, mudah terurai, tidak beracun, dan juga merupakan polimer karbohidrat yang tersusun atas β-D glukopiranosa dan terdiri dari tiga gugus hidroksi per anhidro glukosa menjadikan selulosa memiliki derajat fungsionalitas yang tinggi. Sebagai materi yang diperbaharui, selulosa dan turunannya dapat dipelajari dengan baik. Bahan dasar selulosa telah digunakan lebih dari 150 tahun dalam berbagai macam aplikasi, seperti makanan, produksi kertas, biomaterial, dan dalam bidang kesehatan (Coffey et al, 1995).

Selulosa merupakan konstituen utama kayu kira-kira 40-50% bahan kering dalam kebanyakan spesies kayu adalah selulosa, terutama terdapat dalam dinding sel sekunder. Selulosa merupakan homo-polisakarida yang tersusun atas unit-unit β-D- Glukopiranosa yang terikat satu sama lain dengan ikatan-ikatan glikosida (Hardjono.

1995).

Rantai selulosa terdiri dari satuan glukosa anhidrida yang saling berikatan melalui atom karbon pertama dan ke empat. Ikatan yang terjadi adalah ikatan ß- 1,4- glikosidik. Secara alamiah molekul-molekul selulosa tersusun dalam bentuk fibril- fibril yang terdiri dari beberapa molekul selulosa yang dihubungkan dengan ikatan glikosidik. Fibril-fibril ini membentuk struktur kristal yang dibungkus oleh lignin.

Komposisi kimia dan struktur yang demikian membuat kebanyakan bahan yang mengandung selulosa bersifat kuat dan keras. Sifat kuat dan keras yang dimiliki oleh sebagian besar bahan berselulosa membuat bahan tersebut tahan terhadap peruraian secara enzimatik.Secara alamiah peruraian selulosa berlangsung sangat lambat (Fan et al., 1987).

(19)

Gambar 2.1 Struktur Selulosa

Menurut Clark, berdasarkan panjang rantainya membagi selulosa menjadi tiga bagian yaitu

1. α-Selulosa

Merupakan selulosa rantai panjang, tidak larut dalam larutan 17,5 % NaOH, dengan DP sekitar 600 – 1500.

2. β-Selulosa

Merupakan selulosa rantai pendek, larut dalam larutan 17,5 % NaOH, memiliki DP sekitar 15 – 90.

3. γ-Selulosa

Merupakan selulosa rantai pendek, larut dalam larutan 17,5 % NaOH dan larutan asam, dan memiliki DP kurang dari 15 (Smook, 1987).

2.2 Oksidasi Selulosa

Selulosa dapat dioksidasi dalam beberapa cara untuk menghasilkan struktur yang berbeda jenis (Gambar 2.2). Jika terdapat alcohol primer bebas (contohnya pada C-6 dalam selulosa atau amilosa), alkohol ini dapat dioksidasi menjadi aldehid ataupun hingga menjadi karboksilat. Metode kimia enzimatik telah digunakan untuk mengoksidasi alcohol primer pada polisakarida. Jalur oksidasi lain adalah pembelahan oksidatif pada 1,2-diol. Struktur ini terdapat pada polisakarida (contohnya C-2 dan C-

(20)

3 dalam selulosa, amilosa, atau xylosa) sehingga dapat mengalami pembukaan cincin oksidatif pada ikatan C-C sehingga muncullah masalah selektifitas. Ketika melakukan turunan oksidatif dari polisakarida, diharapkan hanya terjadi salah satu jenis oksidasi saja (Cumpstey, 2013).

Gambar 2.2 Jenis Oksidasi pada Polisakarida. (a) Oksidasi Alkohol Primer (b) Pembelahan Oksidatif pada Diol

2.2.1 Oksidasi Selulosa dengan Natrium Hipoklorit dan Hidrogen Peroksida

Metode yang telah digunakan untuk oksidasi C-6 dari monosakarida glikosida menjadi asam uronat adalah perlakuan dengan oksigen pada permukaan logam platinum sebagai katalis heterogen (Bekkum, 1990). Ini merupakan metode yang menarik karena molekul oksigen digunakan sebagai agen pengoksidasi sehingga hanya dihasilkan air sebagai produk samping dan, berdasarkan prinsip katalis, katalis heterogen dapat dengan mudah dipisahkan dan digunakan kembali. Akan tetapi, metode ini memiliki kekurangan ketika mengoksidasi polisakarida karena katalisnya berupa heterogen, maka derajat oksidasinya sangat rendah (Aspinall dan Nicolson, 1960)

(21)

Beberapa reaksi oksidasi selulosa dengan berbagai oksidator dapat dilihat pada gambar berikut:

1. Oksidasi Selulosa dengan Natrium Hipoklorit

Gambar 2.3 Reaksi Oksidasi Selulosa dengan Natrium Hipoklorit (Vanier et al., 2016)

Selulosa dioksidasi menenggunakan Natrium hipoklorit dengan cara Natrium hipoklorit bereaksi dengan H2O pada C-6 membentuk NaOH + HCl + O-. Oksigen bebas yang terdapat pada reaksi tersebut mengoksidasi selulosa pada ikatan C-6 yang kemudian membentuk asam karboksilat.

2. Oksidasi Selulosa dengan Hidrogen Peroksida

Gambar 2.4 Reaksi Oksidasi Selulosa dengan Hidrogen Peroksida (Vanier et al., 2016)

Selulosa dioksidasi menggunakan Hidrogen Peroksida dengan cara Hidrogen Peroksida bereaksi dengan H2O pada C-6 membentuk Oksigen bebas yang mengoksidasi C-6 yang kemudian membentuk asam karboksilat (gambar 2.4)

(22)

2.2.2 Oksidasi Selulosa dengan Natrium Periodat

Selulosa dialdehid dapat dihasilkan dengan mereaksikan selulosa dengan natrium periodat. Natrium periodat merupakan oksidator selektif yang hanya akan memutuskan ikatan C2-C3 sehingga terbentuk 2 gugus aldehid (Höglund, 2015).

Gambar 2.5 Reaksi Oksidasi Selulosa dengan Periodat

Oksidasi periodat menyebabkan turunnya derajat kristalinitas yang menghasilkan material dengan serat yang lebih tipis dan fleksibel (Kim et al., 2000).

Selulosa yang teroksidasi sempurna oleh periodat larut dalam air dengan bantuan pemanasan, tetapi selulosa yang teroksidasi sebagian tidak larut dalam air (Kim et al., 2004).

2.3 Etilen Diamin

Etilendiamin (1,2- diamino etana) dibuat dari etilen diklorida dan amonia, sifatnya adalah tidak berwarna, jernih, mempunyai bau amonia, densitasnya 0,898 g/cm-3, titik didihnya 116-117°C, sedikit larut dalam eter, tidak larut dalam benzena, bersifat sangat basa sehingga mudah mengadsorbsi CO2 dari udaramembentuk

(23)

karbonat yang tak mudah menguap. Etilendiamina digunakan sebagai pelarut untuk kasein, albumin dan sulfur, juga digunakan sebagai emulsifier,penstabil lateks serta sebagai penghambat/ inhibitor dalam larutan anti beku.

Adapun struktur dari etilendiamin seperti gambar 2.6 berikut ini:

Gambar 2.6 Struktur Kimia Etilendiamin (Anonimous,1976)

2.4 Anilina

Sifat-sifat kimia dari anilina (Priyatmono, 2010):

1. Halogenasi senyawa anilina dengan Brom dalam larutan sangat encer menghasilkan endapan 2, 4, 6 tribromo anilina.

2. Pemanasan anilina hipoklorida dengan senyawa anilina sedikit berlebih pada tekanan sampai 6 atm menghasilkan senyawa difenilamina.

3. Hidrogenasi katalitik pada fase cair pada suhu 135-1700C dan tekanan 50-500 atm menghasilkan 80% sikloheksamin (C6H11NH2). Sedangkan hidrogenasi anilina pada fase uap dengan menggunakan katalis nikel menghasilkan 95% sikloheksamina.

4. Nitrasi anilina dengan asam nitrat pada suhu -200C menghasilkan mononitroanilina dan nitrasi anilina dengan nitrogen oksida cair pada suhu 00C menghasilkan 2, 4 dinitrophenol.

(24)

Gambar 2.7 Struktur Kimia Anilina

2.5 Basa Schiff

Suatu senyawa yang mengandung gugus azomethin (-CH=N-) dinamakan sebagai basa Schiff. Senyawa ini biasanya dibentuk oleh reaksi kondensasi antara suatu senyawa amina primer dengan suatu senyawa karbonil (Bell et al, 1963). Amina primer dapat menjadi inhibitor lebih efektif apabila panjang rantainya bertambah, namun kebalikan bagi merkaptan alifatik primer dan beberapa aldehida justru efisiensinya menurun apabila panjang rantai bertambah (Widharto, 2004). Selain sebagai anti korosi, basa Schiff juga memiliki kegunaan lain. Ligan basa Schiff yang mengandung atom pendonor (seperti N,O,S dan lainnya) menunjukkan aktivitas biologi yang baru sebagai anti jamur, antiviral, anti kanker, antimikroba, dan sebagai agen antibakteri (Gwaram , 2012).

Gambar 2.8 Reaksi Selulosa dialdehida dengan Etilendiamin (Vanier et al., 2016)

(25)

Gambar 2.9 Reaksi Selulosa dialdehida dengan Anilin (Vanier et al., 2016)

Basa Schiff pertama kali dikenalkan oleh bernema Hugo Schiff pada tahun 1864 dimana dengan melakukan kondensasi amina primer dengan senyawa karbonil (Cimerman et al, 2000). Pada umumnya basa Schiff dari turunan aldehida disebut dengan aldimina dan turunan keton disebut dengan ketimina (Robert, 1982).

2.6 Bakteri

Nama bakteri berasal dari kata “bakterion” (bahasa Yunani) yang berarti tongkat atau batang. Sekarang nama itu dipakai untuk menyebut sekelompok mikroorganisme yang bersel satu, tidak berklorofil ( meskipun ada kecualinya) , berkembang biak dengan pembelahan diri, serta demikian kecilnya sehingga hanya dapat dilihat dengan menggunakan alat mikroskop (Dwijoseputro, 1978).

Berdasarkan perbedaannya didalam menyerap zat warna gram bakteri dibagi atas dua golongan yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Bakteri gram positif menyerap zat warna pertama yaitu kristal violet yang menyebabkan berwarna ungu, sedangkan bakteri gram negatif menyerap zat warna kedua yaitu safranin dan menyebabkannya berubah warna menjadi merah (Dwijoseputro, 1978).

Bakteri gram positif memiliki kandungan peptidoglikan yang tinggi (dapat mencapai 50%) dibandingkan bakteri gram negatif (sekitar 10%). Sebaliknya kandungan lipida dinding sel bakteri gram positif lebih rendah sedangkan pada dinding sel bakteri gram negatif tinggi yaitu sekitar 11-22% (Lay,1992).

Uji aktivitas antibakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dalam mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri. Uji aktivitas antibakteri dapat dilakukan dengan metode difusi dan pengenceran (dilusi). Disc diffusion test atau uji difusi disk dilakukan dengan mengukur diameter zona bening (clear zone) yang merupakan petunjuk adanya

(26)

respon penghambatan pertumbuhan bakteri oleh suatu senyawa antibakteri dalam ekstrak. Syarat jumlah bakteri untuk uji kepekaan/sensitivitas yaitu 105-108 CFU/mL (Hermawan, 2007).

2.6.1 Escherichia coli

Escherichia coli merupakan bakteri terbanyak yang terdapat di saluran pencernaan ternak terutama unggas dengan jumlah 104 – 105 CFU/ml (Spring. P, 1997). Escherichia coli disebut juga Bacterium coli, merupakan bakteri gram negatif, aerob atau anaerob fakultatif, panjang 1-4 µm, lebar 0,4-1,47 µm, berbentuk batang, tidak bergerak. Bakteri ini dapat tumbuh pada suhu 8-40 0C, membentuk koloni bundar, cembung, halus dan dengan tepi rata. Escherichia coli biasanya terdapat dalam saluran cerna sebagai flora normal. Bakteri ini dapat menjadi patogen bila berada di luar usus atau di lokasi lain dimana flora normal jarang terdapat (Jawetz et al., 2001).

E. coli merupakan salah satu bakteri penyebab infeksi dalam saluran pencernaan. Pada beberapa kasus, e. coli adalah bakteri yang paling banyak menimbulkan infeksi saluran cerna. Tingginya angka kejadian ini disebabkan karena keadaan higienis makanan, minuman dan air yang dikonsumsi kurang baik, serta dipengaruhi oleh higienis lingkungan sekitar (Rahmawati et al., 2012).

Suatu antibakteri adalah senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu. Bakteri tersebut dapat menyebabkan timbulnya penyakit tertentu misalnya Escherichia coli yang merupakan penyebab diare dan Stapyloccocus aureus sebagai penyebab penyakit kulit (Rosyidah et al., 2010).

Gambar 2.10 Bentuk mikroskopis bakteri Escherichia coli

(27)

2.6.2 Stapyloccocus aureus

Staphyloccocus aureus merupakan bakteri gram positif, tidak bergerak, tidak berspora dan mampu membentuk kapsul, berbentuk kokus dan tersusun seperti buah anggur. Ukuran Staphyloccocus aureus berbeda-beda tergantung pada media pertumbuhannya. Apabila ditumbuhkan pada media agar, Staphyloccocus aureus memiliki diameter 0,5-1 mm dengan koloni bewarna kuning. Dinding selnya mengandung asam teikoat yaitu sekitar 40% dari berat kering dinding selnya.

Asam teikoat adalah beberapa kelompok antigen dari Staphyloccocus. Asam teikoat mengandung aglutinogen dan N-asetilglukosamin. Staphyloccocus aureus adalah bakteri aerob, tetapi apabila sudah berpindah ke tempat lain dapat bersifat anaerob fakultatif, mampu memfermentasikan manitol dan menghasilkan enzim koagulase, hialurodinase, fosfatase, protease dan lipase. Staphyloccocus aureus dapat tumbuh pada suhu 35 0C–37 0C suhu minimum 6,7 0C dan suhu maksimum 45,4 0C.

Bakteri ini dapat tumbuh pada pH mendekati 9,8 bila substratnya mempunyai komposisi yang baik untuk pertumbuhannya. Bakteri ini membutuhkan asam nikotinat untuk tumbuh dan akan distimulir pertumbuhannya dengan adanya thiamin.

Staphyloccocus aureus dapat dilihat pada gambar dibawah ini, hidup sebagai saprofit di dalam saluran-saluran pengeluaran lendir dari tubuh manusia dan hewan- hewan seperti hidung, mulut dan tenggorokan yang dapat dikeluarkan pada saat batuk atau bersin. Bakteri ini juga sering terdapat pada pori-pori dari permukaan kulit, kelenjar keringat dan saluran usus. Selain dapat memyebabkan intoksikasi, Staphyloccocus aureus juga dapat menyebabkan bermacam-macam infeksi (Nasution, 2014)

Gambar 2.11 Bentuk mikroskopis bakteri Staphylococcus aureus

(28)

2.7 Antibakteri

Antibakteri adalah senyawa yang digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri yang bersifat merugikan. Pengendalian pertumbuhan mikroorganisme bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit dan infeksi, membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi, dan mencegah pembusukan serta perusakan bahan oleh mikroorganisme (Sulistyo, 1971). Antimikrobia meliputi golongan antibakteri, antimikotik, dan antiviral (Ganiswara, 1995).

Menurut (Madigan et al, 2000), berdasarkan sifat toksisitas selektifnya, senyawa antimikrobia mempunyai 3 macam efek terhadap pertumbuhan mikrobia yaitu:

1. Bakteriostatik, memberikan efek dengan cara menghambat pertumbuhan tetapi tidak membunuh. Senyawa bakterostatik seringkali menghambat sintesis proteinatau mengikat ribosom. Hal ini ditunjukkan dengan penambahan antimikrobia pada kultur mikrobia yang berada pada fase logaritmik. Setelah penambahan zat antimikrobia pada fase logaritmik didapatkan jumlah sel total maupun jumlah sel hidup adalah tetap.

2. Bakteriosidal, memberikan efek dengan cara membunuh sel tetapi tidak terjadi lisis sel atau pecah sel. Hal ini ditunjukkan dengan penambahan antimikrobia pada kultur mikrobia yang berada pada fase logaritmik. Setelah penambahan zat antimikrobia pada fase logaritmik didapatkan jumlah sel total tetap sedangkan jumlah sel hidup menurun.

3. Bakteriolitik, menyebabkan sel menjadi lisis atau pecah sel sehingga jumlah sel berkurang atau terjadi kekeruhan setelah penambahan antimikrobia. Hal ini ditunjukkan dengan penambahan antimikrobia pada kultur mikrobia yang berada pada fase logaritmik. Setelah penambahan zat antimikrobia pada faselogaritmik, jumlah sel total maupun jumlah sel hidup menurun.

Mekanisme penghambatan antibakteri dapat dikelompokkan menjadi lima, yaitu menghambat sintesis dinding sel mikrobia, merusak keutuhan dinding sel mikrobia, menghambat sintesis protein sel mikrobia, menghambat sintesis asam nukleat, dan merusak asam nukleat sel mikrobia (Sulistyo, 1971).

Uji aktivitas antibakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dalam mengetahui senyawa murni yang

(29)

memiliki aktivitas antibakteri. Uji aktivitas antibakteri dapat dilakukan dengan metode difusi dan pengenceran (dilusi) (Hermawan, 2007). Disc diffusion test atau uji difusi disk dilakukan dengan mengukur diameter zona bening (clear zone) yang merupakan petunjuk adanya respon penghambatan pertumbuhan bakteri oleh suatu senyawa antibakteri dalam ekstrak. Syarat jumlah bakteri untuk uji kepekaan/ sensitivitas yaitu 105-108 CFU/mL (Hermawan, 2007).

Penggolongan kekuatan daya antibakteri digolongkan menurut, yaitu : Diameter zona hambat 5 mm atau kurang dikategorikan lemah, zona hambat 5-10 mm dikategorikan sedang, zona hambat 10-20 mm dikategorikan kuat dan zona hambat 20 mm atau lebih dikategorikan sangat kuat. (Davis et al, 1971)

Metode difusi merupakan salah satu metode yang sering digunakan. Metode difusi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu metode silinder, metode lubang/ sumuran dan metode cakram kertas. Metode lubang/ sumuran yaitu membuat lubang pada agar padat yang telah diinokulasi dengan bakteri. Jumlah dan letak lubang disesuaikan dengan tujuan penelitian, kemudian lubang diinjeksikan dengan ekstrak yang akan diuji. Setelah dilakukan inkubasi, pertumbuhan bakteri diamati untuk melihat ada tidaknya daerah hambatan di sekeliling lubang (Kusmayati et al, 2007).

Prinsip metode pengenceran adalah senyawa antibakteri diencerkan hingga diperoleh beberapa macam konsentrasi, kemudian masing-masing konsentrasi ditambahkan suspensi bakteri uji dalam media cair. Perlakuan tersebut akan diinkubasi dan diamati ada atau tidaknya pertumbuhan bakteri, yang ditandai dengan terjadinya kekeruhan. Prinsip metode kertas cakram yaitu zat yang akan diuji diserapkan ke dalam kertas cakram dengan cara meneteskan pada kertas cakram kosong larutan antibakteri sejumah tertentu dengan kadar tertentu pula. Kertas cakram diletakan diatas permukaan agar padat yang telah diolesi bakteri, diinkubasi selama 18-24 jam pada suhu 370C. Aktivitas antibakteri dapat dilihat dari daerah hambat disekeliling kertas cakram (Yuliani et al, 2006).

Larutan uji senyawa antibakteri pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya pertumbuhan bakteri uji, ditetapkan sebagai Kadar Hambat Minimal (KHM) atau Minimal Inhibitory Concentration (MIC). Larutan yang ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya dikultur ulang media cair tanpa penambahan bakteri uji ataupun

(30)

senyawa antibakteri, dan diinkubasi selama 18-24 jam. Media cair yang tetap terlihat jernih setelah diinkubasi ditetapkan sebagai Kadar Bunuh Minimal (KBM) atau Minimal Bactericidal Concetration (MBC) (Pratiwi, 2008).

(31)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Proses penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2018 hingga Agustus 2019. Proses penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Organik FMIPA USU Medan. Analisis gugus fungsi menggunakan spektrofotometer (FT-IR) dilakukan di laboratorium kimia organik Universitas Gajah Mada (UGM). Uji aktivitas antibakteri dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FMIPA USU.

3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat

− Spektrofotometer FT-IR Shimadzu

− Labu Takar 250 mL Pyrex

− Gelas Ukur 50 mL Pyrex

− Labu Leher Tiga 250 ml Pyrex

− Hotplate Stirrer Fishons

− Magnetic Bar

− Neraca Analitis RADWAG AS 220/6/2

− Termometer 110℃ Fisher

− Gelas Erlenmeyer 50 mL Pyrex

− Beaker Glass 100 ml Pyrex

− Kondensor Bola Pyrex

− Panci dari Aluminium Jawa

− Oven Memmert

− Plastik dan Karet

− Corong Kaca

− Kertas saring Whatman No.42

− Botol Aquadest

(32)

− Cawan Petri

− Sample Cup

− Autoklaf

− Tabung Reaksi pyrex

− Jarum ose

− Botol Vial

− Jangka Sorong

− Desikator

− Saringan

− Indikator Universal

− Waterbath

− Buret

− Tabung CaCl2

− Corong Penetes 50ml pyrex

3.2.2 Bahan

− NaOH p.a E’Merck

− HCl p.a E’Merck

− α-Selulosa TPL

− NaIO4 p.a E’Merck

− Air suling

− Indikator Phenolftalein

− Etilen Diamin p.a E’Merck

− Anilin p.a E’Merck

− Etanol 96% p.a E’Merck

− Nutrient Agar (NA)

− Isolat Bakteri Staphylococcus aureus

− Isolat Bakteri Eschericia coli

(33)

3.3 Pembuatan Larutan

3.3.1 Pembuatan Larutan NaOH 0,1 N

Ditimbang NaOH sebanyak 1 gram dan dilarutkan dengan air suling dalam labu takar 250 ml hingga garis tanda. Selanjutnya dilakukan standarisasi dengan asam oksalat 0,1 N menggunakan indikator fenolftalein sebanyak 3 tetes hingga terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah lembayung.

3.3.2 Pembuatan Larutan HCl 0,15 N

Diukur HCl pekat sebanyak 3,1ml dan diencerkan dengan air suling dalam labu takar 250 ml hingga garis tanda. Selanjutnya dilakukan standarisasi dengan NaOH 0,15 N menggunakan 3 tetes indikator bromtimol biru hingga terjadi perubahan warna dari biru menjadi hijau kekuningan.

3.3.3 Pembuatan Larutan HCl 0,1 M

Diukur HCl pekat sebanyak 2,07ml dan diencerkan dengan air sulinf dalam labu takar 250ml hingga garis tanda. Selanjutnya dilakukan standarisasi dengan NaOH 0,1 N menggunakan 3 tetes indikator bromtimol biru hingga terjadi perubahan warna dari biru menjadi hijau kekuningan.

3.4 Sintesis Selulosa Dialdehid ( SDA )

Sebanyak 8,7 g natrium periodat dilarutkan dengan 200 mL air suling didalam gelas Erlenmeyer 500 mL pada suhu kamar dan kondisi tanpa cahaya, lalu ditambahkan 4 g α-Selulosa dan distirrer dengan kuat pada suhu 35oC selama 240 jam.

Setelah reaksi selesai, ditambahkan etanol secara bertahap hingga terbentuk padatan kamudian disaring menggunakan kertas saring Whatmann no. 42. Residu kemudian dibilas menggunakan etanol dan dikeringkan dalam desikator. Kemudian hasil yang diperoleh diuji secara kualitatif menggunakan pereaksi Fehling. kemudian dianalisis dengan spektroskopi FT-IR, dihitung derajat oksidasi dan ditentukan kadar karbonilnya (Hoglund, 2015).

(34)

3.5 Penentuan Derajat Oksidasi SDA

Sebanyak 0,1 g sampel dilarutkan dengan 10 mL air suling didalam gelas Erlenmeyer 250 mL. Kemudian ditambahkan dengan 10 mL NaOH 0,1 N. Larutan kemudian dipanaskan hingga larut sempurna. Setelah itu, larutan didinginkan.

Ditambahkan ke larutan 10 mL HCl 0,15 N hingga pH larutan < 7. Lalu ditambahkan air suling sebanyak volume yang berkurang saat pemanasan pertama. Larutan dipanaskan kembali selama 1 menit, lalu ditambahkan indikator fenolftalein 2 tetes.

Dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N, dan diamati perubahan warnanya. Penentuan derajat oksidasi dapat ditentukan melalui persamaan berikut: (Zhang, 2012)

Keterangan: CNaOH =Konsentrasi NaOH

VNaOH =Volume NaOH

CHCl =Konsentrasi HCl VHCl =Volume HCl

3.6 Penentuan Jumlah Karbonil SDA

Sebanyak 1 g sampel ditambahkan 40 mL air suling dalam gelas Erlenmeyer 250 ml. Kemudian dipanaskan diatas waterbath selama 20 menit. Didinginkan larutan hingga suhu 40oC. Lalu diatur pH larutan hingga pH=3 dengan menggunakan HCl 0,1 M. Setelah itu, ditambahkan 25 mL larutan hidroksilamin. Lalu dipanaskan kembali diatas waterbath dengan suhu 40oC selama 4 jam sambil distirer. Kemudian dititrasi dengan HCl 0,1 M hingga pH=3. Dicatat volume titran yang diperoleh (Smith, 1967)

(35)

Dimana : M =Molaritas HCl Vb =Volume HCl blanko Vs =Volume HCl sampel 3.7 Sintesis Basa Schiff

3.7.1 Sintesis Basa Schiff Dari Selulosa Dialdehid Dengan Etilen Diamin

Ditimbang 0,676 gram SDA, kemudian dimasukkan kedalam labu leher 3 ukuran 250 ml. setelah itu SDA dilarutkan dengan menggunakan 20 ml etanol absolut.

Dirangkai alat refluks yang dilengkapi dengan magnetik bar, thermometer dan tabung CaCl2. Kemudian ditambahkan 0,24 gram, (0,004 mol) etilen diamin melalui corong penates secara perlahan – lahan. Direfluks selama 5 jam . Setelah reaksi selesai disaring menggunakan kertas saring Whatmann no.42 dan dibilas dengan air suling secara intensif dan kemudian endapan dicuci dengan 5 ml air suling dan 5 ml etanol panas. Hasil yang diperoleh dikeringkan didalam desikator, ditimbang, dianalisa strukturnya dengan menggunakan spektofotometer FT-IR, uji kandungan Nitrogen melalui metode kjeldahl serta diuji aktivitas antibakterinya (Sherif et al, 2016).

3.7.2 Sintesis Basa Schiff Dari Selulosa Dialdehid Dengan Anilin

Ditimbang 0,676 gram SDA, kemudian dimasukkan kedalam labu leher 3 ukuran 250 ml. setelah itu SDA dilarutkan dengan menggunakan 20 ml etanol absolut.

Dirangkai alat refluks yang dilengkapi dengan magnetik bar, thermometer dan tabung CaCl2. Kemudian ditambahkan 0,372 gram, (0,004 mol) etilen diamin melalui corong penates secara perlahan – lahan. Direfluks selama 5 jam . Setelah reaksi selesai disaring menggunakan kertas saring Whatmann no.42 dan dibilas dengan air suling

(36)

panas. Hasil yang diperoleh dikeringkan didalam desikator, ditimbang, dianalisa strukturnya dengan menggunakan spektofotometer FT-IR, uji kandungan Nitrogen melalui metode kjeldahl serta diuji aktivitas antibakterinya (Sherif et al, 2016).

3.8 Penentuan Aktivitas Antibakteri

3.8.1 Pembuatan Media Miring NA (Nutrien Agar)

Sebanyak 7 g agar dilarutkan dengan 250 ml air suling dalam gelas Erlenmeyer dan dipanaskan hingga larut dan mendidih, kemudian disterilkan di autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit.

3.8.2 Pembuatan Media Agar Miring dan Stok Kultur Bakteri

Ke dalam tabung reaksi yang steril dimasukkan 3 ml media NA steril, didiamkan pada temperatur kamar sampai memadat pada posisi miring membentuk sudut 30-450. Biakan bakteri dari strain utama diambil dengan jarum ose steril lalu diinokulasi pada permukaan media NA miring dengan cara menggores, kemudian diinkubasi pada suhu 35 0C selama 24 jam.

3.8.3 Pembuatan Media Mueller Hinton Agar (MHA)

Sebanyak 19 g serbuk Mueller Hinton Agar, dimasukkan dalam gelas Erlenmeyer lalu dilarutkan dalam 500 ml air suling dan dipanaskan hingga semua larut dan mendidih. Lalu disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121 0C selama 15 menit.

3.8.4 Pembuatan Inokulum Bakteri

Sebanyak 3,25 g nutrient broth dilarutkan dengan 250 ml air suling dalam gelas Erlenmeyer dan dipanaskan hingga semua larut dan mendidih, kemudian disterilkan di autoklaf pada suhu 1210C selama 15 menit dan didinginkan. Lalu koloni mikroba diambil dari stok kultur menggunakan jarum ose steril lalu disuspensikan ke dalam 10 ml media nutrient broth steril dalam tabung reaksi dan diinkubasi pada suhu 35 0C selama 3 jam, lalu diukur panjang gelombang dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis panjang gelombang 580-600 nm.

(37)

3.8.5 Penentuan Aktivitas Antibakteri Basa Schiff

Penentuan aktifitas antibakteri didapat dengan metode difusi agar dimana paper disk (Ǿ 6 mm) yang telah direndam dengan Basa Schiff dan dengan adanya kontak langsung dengan media yang telah diinokulasi oleh E.coli dan S.aureus, kemudian dapat diamati zona bening yang terbentuk setelah diinkubasi selama 24 jam.

Zona bening menunjukkan daya hambat yang dihasilkan pati dialdehid dan basa Schiff terhadap E.coli dan S.aureus. Zona bening yang terbentuk diukur dengan menggunakan jangka sorong (ketelitian mm).

(38)

3.9 Bagan Penelitian

3.9.1 Sintesis Selulosa Dialdehid (SDA) dari Oksidasi α-Selulosa dengan Natrium Periodat

(39)

3.9.2 Penentuan Derajat Oksidasi SDA

3.9.3 Penentuan Jumlah Karbonil SDA

(40)

3.9.4 Sintesis Basa Schiff dari Selulosa Dialdehid dan Etilen Diamin

Catatan: Dilakukan Perlakuan yang sama untuk Sintesa Basa Schiff dari Selulosa Dialdehid dan Anilin dengan perbedaan massa anilin 0,372 gram

(41)

3.9.5 Penentuan Aktivitas Antibakteri

3.9.5.1 Pembuatan Media Mueller Hinton Agar (MHA)

(42)

3.9.5.2 Pembuatan Media Nutrien Agar (NA), Media Agar Miring dan Stok Kultur Bakteri

7 gram Media NA

Dilarutkan dengan 250 ml aquadest dalam gelas Erlenmeyer

Dipanaskan sambil diaduk hingga larut dan mendidih

Disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit Media NA steril

Dituangkan sebanyak 10 ml kedalam tabung reaksi

Dibiarkan pada temperatur kamar sampai memadat pada posisi miring membentuk sudut 30-45o

Diambil biakan bakteri S. aureus dari strain utama dengan jarum ose lalu dogoreskan pada media nutrient agar yang telah memadat

Diinkubasi pada suhu 35oC selama 24 jam Stok Kultur Bakteri S. aureus

Catatan : Dilakukan hal yang sama untuk bakteri E. coli

(43)

3.9.5.3 Penyiapan Suspensi Bakteri

10 ml aquadest

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi ditutup rapat menggunakan kapas Disterilkan ke dalam autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit

Aquadest steril

Diambil koloni bakteri dari stok kultur Bakteri S. aureus dengan

menggunakan jarum ose Disuspensikan ke dalam

Aquadest steril lalu dihomogenkan Dibandingkan kekeruhannya dengan standard Mc Farland

Inokulum Bakteri Staphylococcus aureus

Catatan : Dilakukan hal yang sama untuk bakteri E. coli

(44)

3.9.5.4. Pengujian Aktivitas Antibakteri Basa Schiff

Inokulum Bakteri

Dimasukkan media MHA ke dalam cawan petri steril

Didiamkan sampai media memadat Diambil suspensi bakteri S. aureus yang telah dilarutkan dalam aquadest

Digoreskan suspensi bakteri ke dalam media MHA secara merata Dimasukan kertas cakram yang telah

direndam ekstrak senyawa basa Schiff dan pati dialdehid dalam etanol kedalam cawan petri yang berisi bakteri

Diinkubasi selama 18-24 jam pada suhu 35oC Diukur diameter zona bening di sekitar cakram dengan jangka sorong

Hasil

Catatan : Dilakukan hal yang sama untuk bakteri E. coli

(45)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis FT-IR α-Selulosa

α-Selulosa yang digunakan merupakan selulosa (pulp) hasil olahan dari PT.

Toba Pulp Lestari (TPL) di Porsea yang berbentuk lembaran kecil tipis berwarna putih. Data hasil analisis dengan spektrofotometer FT-IR diperoleh spektrum yang menunjukkan gugus-gugus yang terdapat pada selulosa, dimana memberikan puncak- puncak vibrasi pada daerah bilangan gelombang 3348.42 cm-1 menunjukkan gugus – OH; 2900,94 cm-1 menunjukkan gugus C-H sp3 stretching; 1635,64 cm-1 menunjukkan gugus C=O aldehid yang berada diujung rantai selulosa; 1319,31 cm-1 menunjukkan ikatan C-O; 1111 cm-1 menunjukkan gugus C-O simetris dan 894,97 cm-1 menunjukkan gugus C-H sp3 bending (Lestari et al., 2014) (Pavia., 2009) (Gambar 4.1).

Gambar 4.1 Spektrum FT-IR Selulosa Komersil PT. Toba Pulp Lestari

(46)

4.2 Pembuatan Selulosa Dialdehid

α-Selulosa dapat dioksidasi menggunakan oksidator selektif yakni natrium periodat. Natrium periodat akan memutus ikatan C2-C3 pada selulosa yang memiliki gugus hidroksil sekunder menghasilkan 2 gugus aldehid yaitu selulosa dialdehida.

Reaksi antara selulosa dengan Natrium periodat dimulai dengan penyerangan atom C pada C2 dari selulosa oleh atom O dari natrium periodat dan terjadi pelepasan OH-. OH- menyerang proton H pada gugus –OH dari atom C3. O- pada C3 melepas I pada periodat membentuk siklik dan ini tidak stabil sehingga terjadi pembukaan cincin pada atom C2 dan C3 sehingga membentuk selulosa dialdehid dan natrium iodat.

Mekanisme reaksi pembentukan selulosa dialdehid secara hipotesis (Gambar 4.2).

Gambar 4.2 Mekanisme Reaksi Pembentukan Selulosa dialdehid

Hasil yang diperoleh adalah padatan putih sebanyak 4,12 g dari 4 g α-selulosa yang digunakan. Hasil penentuan derajat oksidasi yang dilakukan melalui titrasi netralisasi adalah sebesar 80,9% serta kadar karbonilnya adalah sebesar 10,36%, terbentuknya selulosa dialdehid juga didukung secara kualitatif dengan terbentuknya endapan merah bata dengan pereaksi Fehling dan juga terjadinya peningkatan sifat kelarutan dalam aquadest (air).

(47)

Reaksi yang terjadi dalam hal ini menggunakan pereaksi Fehling adalah sebagai berikut (Gambar 4.3).

CuSO4 + 2NaOH → Cu(OH)2↓ gelatin hijau + Na2SO4

Tembaga(II)sulfat Sodium hidroksida Tembaga(II)hidroksida Sodium sulfat

K-Na-Tartarat Kompleks K-Na-Tartarat dengan Tembaga

Gambar 4.3 Reaksi Pembentukan Fehling Serta Reaksi Antara Fehling Dengan Gugus Aldehid

Hasil analisis spektrum FT-IR menunjukkan terbentuknya selulosa dialdehid ditandai dengan munculnya gugus C=O aldehid pada daerah bilangan gelombang 1635.64 cm-1 tetapi pada bilangan gelombang ini menunjukkan bahwa puncak vibrasi lebih tajam daripada selulosa yang sebelum dioksidasi, sedangkan pada daerah bilangan gelombang 3471.87 cm-1 menunjukkan gugus –OH; 2939.52 cm-1 menunjukkan gugus C-H sp3 stretching; pada bilangan gelombang 1033.85 cm-1 menunjukkan gugus C-O simetris dan 879,54 cm-1 menunjukkan gugus C-H sp3 bending (Gambar 4.4).

(48)

Gambar 4.4 Spektrum FT-IR Selulosa Dialdehid

4.3 Sintesis Basa Schiff Dari Selulosa Dialdehid Dengan Etilendiamin

Basa Schiff terbentuk dari reaksi kondensasi antara selulosa dialdehid dengan etilen diamin, dimana terbentuk gugus amina atau basa Schiff (C=N), ikatan antara atom C gugus aldehid dari Selulosa dialdehid dengan atom N dari Etilen diamin.

Reaksi antara selulosa dialdehid dengan Etilen diamin dimulai dengan penyerangan atom N amina dari Etilen diamin pada atom C2 aldehid dari selulosa dialdehid dan atom O aldehid menyerang atom H dari gugus amin Etilen diamin.

Selanjutnya atom O tersebut menyerang 1 atom H lagi dan mengeluarkan molekul air sehingga terjadi pembentukan ikatan rangkap dan menghasilkan basa Schiff.

Mekanisme reaksi pembentukan basa Schiff secara hipotesis (Gambar 4.5).

Mekanisme reaksi pembentukan basa Schiff secara hipotesis seperti pada Gambar 4.5

(49)

Gambar 4.5 Mekanisme Reaksi Pembentukan Basa Schiff Hasil Kondensasi Selulosa Dialdehid dengan Etilen Diamin

Hasil yang diperoleh dari reaksi kondensasi sebanyak 0,676 g selulosa dialdehid dengan 0,24 g etilendiamin adalah sebanyak 0,208 g, berupa serbuk berwarna coklat kekuningan.

Data uji nitrogen menggunakan metode Kjeldahl pada basa Schiff

menunjukkan bahwa kandungan nitrogen hasil reaksi kondensasi selulosa dialdehid dengan etilendiamin adalah 2,82%

(50)

Data spektrofotometri FT-IR menunjukkan gugus-gugus yang terdapat pada basa Schiff, dimana memberikan spektrum dengan puncak-puncak vibrasi pada daerah bilangan gelombang 3441,01 cm-1 menunjukkan gugus –NH2 dan gugus –OH; 2924,09 cm-1 menunjukkan gugus –CH2 ; 1635,64 cm-1 menunjukkan gugus C=N; 1118,71 cm-

1 menunjukkan gugus C-O simetris (Gambar 4.6).

Gambar 4.6 Spektrum FT-IR Basa Schiff Hasil Kondensasi Selulosa Dialdehid dengan Etilendiamin

4.4 Sintesis Basa Schiff Dari Selulosa Dialdehid Dengan Anilin

Basa Schiff terbentuk dari reaksi kondensasi antara selulosa dialdehid dengan anilin, dimana terbentuk gugus amina atau basa Schiff (C=N), ikatan antara atom C gugus aldehid dari Selulosa dialdehid dengan atom N dari Anilin. Reaksi antara selulosa dialdehid dengan Anilin dimulai dengan penyerangan atom N amina dari Anilin pada atom C2 aldehid dari selulosa dialdehid dan atom O aldehid menyerang atom H dari gugus amin Anilin. Selanjutnya atom O tersebut menyerang 1 atom H lagi dan mengeluarkan molekul air sehingga terjadi pembentukan ikatan rangkap dan

(51)

menghasilkan basa Schiff. Mekanisme reaksi pembentukan basa Schiff secara hipotesis (Gambar 4.7).

Gambar 4.7 Mekanisme Reaksi Pembentukan Basa Schiff Hasil Kondensasi Selulosa Dialdehid dengan Anilin

(52)

Hasil yang diperoleh dari reaksi kondensasi sebanyak 0,676 g selulosa dialdehid dengan 0,372 g anilin adalah sebanyak 0,253 g, berupa serbuk berwarna coklat kekuningan.

Data uji nitrogen menggunakan metode Kjeldahl pada basa Schiff

menunjukkan bahwa kandungan nitrogen hasil reaksi kondensasi selulosa dialdehid dengan anilin adalah 1,42%

Data spektrofotometri FT-IR menunjukkan gugus-gugus yang terdapat pada basa Schiff, dimana memberikan spektrum dengan puncak-puncak vibrasi pada daerah bilangan gelombang 3410,15 cm-1 menunjukkan gugus –NH2 dan gugus –OH; 2931,80 cm-1 menunjukkan gugus –CH2 ; 1604,77 cm-1 menunjukkan gugus C=N; 1056,99 cm-

1 menunjukkan gugus C-O simetris (Gambar 4.8).

Gambar 4.8 Spektrum FT-IR Basa Schiff Hasil Kondensasi Selulosa Dialdehid dengan Anilin

Basa Schiff sebagai antibakteri digunakan sebagai bahan dasar pakaian agar tidak menghasilkan bau tidak sedap meski dipakai berkali-kali. Paling berguna untuk

(53)

kaos kaki yang sering menghasilkan bau tidak sedap jika dipakai berkali kali yang dihasilkan oleh bakteri.

Selanjutnya perbandingan spektrum FT-IR dari perubahan selulosa menjadi selulosa dialdehid dilanjutkan kondensasi dengan etilen diamin maupun anilin menjadi basa Schiff (gambar 4.9)

Gambar 4.9 Perbandingan spektrum FT-IR

Pada gambar 4.9 menunjukkan bahwa terjadi pembengkakkan pada bilangan gelombang 1635,64 cm-1 yang menunjukkan gugus C=O aldehid.

(54)

4.5 Uji Antibakteri Hasil Sintesis

Uji antibakteri terhadap basa Schiff hasil reaksi kondensasi antara selulosa dialdehid dengan etilen diamin dan basa Schiff hasil reaksi kondensasi antara selulosa dialdehid dengan anilin menggunakan bakteri Eschericia coli (gram negatif) dan Staphylococcus aureus (gram positif) dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Gambar uji antibakteri dapat dilihat pada lampiran 5. Penggolongan kekuatan daya antibakteri digolongkan menurut Davis et al, (1971), yaitu : Diameter zona hambat 5 mm atau kurang dikategorikan lemah, zona hambat 5-10 mm dikategorikan sedang, zona hambat 10-20 mm dikategorikan kuat dan zona hambat 20 mm atau lebih dikategorikan sangat kuat.

Data hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa basa Schiff 1 dan basa Schiff 2 memiliki antibakteri yang baik terhadap bakteri Eschericia coli yang merupakan bakteri yang umum dijumpai di dalam tubuh. Untuk bakteri Staphylococcus aureus antibakteri basa Schiff 1 tidak terlalu baik dan basa Schiff 2 baik , bakteri ini umumnya dijumpai diluar tubuh.

Dari data hasil uji antibakteri tersebut, dapat dilihat basa Schiff 2 lebih berpotensi sebagai antibakteri daripada basa Schiff 1. Hal ini dapat dilihat dari besarnya zona hambat. Basa Schiff 2 juga termasuk kedalam kategori kekuatan antibakteri yang kuat.

Terdapat perbedaan antara basa Schiff 1 dan basa Schiff 2 dikarenakan pada kedua basa Schiff terdapat perbedaan struktur monomer dimana pada basa Schiff 2 terdapat cincin aromatis yang menunjukkan bahwa ada resonansi, sehingga basa Schiff 2 lebih stabil.

(55)

Tabel 4.1 Uji Antibakteri Hasil Sintesis

Isolat Bakteri Perlakuan Konsentrasi Diameter kertas cakram ( mm )

Diameter zona hambat ( mm ) Eschericia coli Basa Schiff (1)

Basa Schiff (2)

0,15%

0,30%

0,45%

0,15%

0,30%

0,45%

6 6 6 6 6 6

7 12,5 13 10,5 14,6 17,1 Staphylococcus

aureus

Basa Schiff (1)

Basa Schiff (2)

0,15%

0,30%

0,45%

0,15%

0,30%

0,45%

6 6 6 6 6 6

6,9 9 12,5 10 10,8 20,1

(56)

Gambar 4.10 Grafik Uji antibakteri pada bakteri Eschericia coli

Gambar 4.11 Grafik Uji antibakteri pada bakteri Staphylococcus aureus

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

0,15% 0,30% 0,45%

Diameter Zona Bening (mm)

Konsentrasi (%)

Eschericia coli

Basa Schiff 1 Basa Schiff 2

0 5 10 15 20 25

0,15% 0,30% 0,45%

Diameter Zona Bening (mm)

Konsentrasi (%)

Staphylococcus aureus

Basa Schiff 1 Basa Schiff 2

(57)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Basa Schiff dapat disintesis melalui reaksi kondensasi antara gugus amin dari etilendiamin dan anilin dengan gugus karbonil dari selulosa dialdehid hasil oksidasi selulosa komersil dengan natrium periodat. Terbentuknya basa Schiff pada reaksi Selulosa dialdehid dengan etilen diamin dan anilin didukung oleh munculnya puncak vibrasi pada daerah bilangan gelombang secara berturut-turut 1635,64 cm-1 dan 1604,77 cm-1 yang menandakan gugus C=N .

2. Senyawa basa Schiff dapat berperan sebagai antibakteri, dimana senyawa basa Schiff (1) menunjukkan aktivitas antibakteri pada baketeri E.Coli yang paling efektif dengan besar zona hambat pada konsentrasi 0,45%, sebesar 13 mm dan pada bakteri S.Aureus pada konsentrasi 0,45%, sebesar 12,5 mm. Dan basa Schiff (2) menunjukkan aktivitas antibakteri pada baketeri E.Coli yang paling efektif dengan besar zona hambat pada konsentrasi 0,45%, sebesar 17,1 mm dan pada bakteri S.Aureus pada konsentrasi 0,45%, sebesar 20,1 mm. Berdasarkan tingkat kekuatannya, aktivitas antibakteri senyawa basa Schiff hasil sintesis tergolong sedang.

5.2 Saran

Diharapkan untuk peneliti selanjutnya agar dapat melanjutkan penelitian ini dengan melakukan uji antibakteri pada selulosa dialdehid yang diperoleh dan menambahkan variasi pada sintesis basa Schiff.

(58)

DAFTAR PUSTAKA

Alonso D, Gimeno M, Olayo R, Vazquez-Torres H, Sepulveda-Sanchez JD, Shirai K (2009) Cross-linking chitosan into UV-irradiated cellulose fibers for the preparation of antimicrobial- finished textiles. Carbohydr Polym 77(3): 536–

543.

Anonymous, I. 1976.The Merck Index. New Jersey: Merck and Co

Ashraf, M.A. Karamat,M., and Abdul,W. 2011. Synthesis, Characterization and BiologicalActivity of Schiff Bases. IPCBEE Vol.10. Singapore: IACSIT Press.

Aspinall, G. O and Nicolson, A. 1960. The Catalytic Oxidation of European Larch c- Galaktan. Journal of the Chemical Society, 2503-2507

Bastman, S.1989.Studies on Degradation and Extraction of Chitin and Chitosan from Prawn Shells. England: The Queen’s University of Belfast

Bekkum, H. V.1990.Carbohydrates as Organic Raw Materials. Weinheim:VCH Bell,S.C., G.L.Couklin., and S.J.Childress. 1963. J.Am. Chem Soc., 85, 2868, 1963,

DalamQasim, M. 2011. Synthesis and Characterization of new Schiff Bases and Evalution as Corrosion Inhibitors. Iraq: Departement of Chemistry University of Basrah

Cimerman, Z., Galic, N., and Bosner, B. 1997. Anal. Chim. Acta.

Coffey, D.G., Bell, D.A., and Handerson, A., (1995), Cellulose And Cellulose Derivate. NewYork: John Wiley & Son.

Cumpstey, I. 2013. Chemical Modification of Polysacharides. Private Practice, UK Davis WW, Stout TR, 1971. Disc Plate Method of Microbiological Assay. Journal of

microbiology 22: 659-665.

Dwijoseputro D, 1978. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit Djambatan. Jak0arta Fan, L. T., Gharpuray, M.M., and Lee, Y. H., (1987), Cellulose Hydrolysis. Berlin:

Springer-Verlag Berlin Heidelberg.

Ganiswara SG, 1995. Farmakologi dan Terapi. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Ganstrom, M. 2009. Cellulose Derivatives: Synthesis, Properties and Applications.

Helsinki: Helsinki University Printing House.

Gwaram, N.S., Ali, H.M., and Khaledi,H. 2012. Antibacterial Evalution of Some Schiff Bases Derived from 2-Acetylpyridine and Their Metal Complexes. Chemistry Departement.Faculty of Science. Kuala Lumpur: University of Malaysia.

Hamak and Eissa. 2013. Synthesis, Characterization, Biological Evaluation and Anti Corrosion Activity of Some Heterocyclic Compounds Oxazepine Derivatives from Schiff Bases. Organic Chemistry Current Research.

Hardjono, S. 1995. Kimia Kayu: Dasar-Dasar dan Penggunaannya. Edisi kedua, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Hermawan. A., 2007. Pengaruh Ekstrak Daun Sirih (Piper betle L.) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Dengan Metode Difusi Disk, Artikel Ilmiah, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga Surabaya.

Höglund E, 2015. Production of Dialdehyde Cellulose and Periodate Regeneration:

Towards Feasible Oxidation Processes. Karlstads University

Gambar

Gambar 2.2 Jenis Oksidasi pada Polisakarida. (a) Oksidasi Alkohol Primer   (b) Pembelahan Oksidatif pada Diol
Gambar 2.3 Reaksi Oksidasi Selulosa dengan Natrium Hipoklorit (Vanier et al.,  2016)
Gambar 2.5 Reaksi Oksidasi Selulosa dengan Periodat
Gambar 2.8 Reaksi Selulosa dialdehida dengan   Etilendiamin (Vanier et al., 2016)
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber informasi mengenai berbagai dampak perubahan yang diakibatkan dari merger yang dilakukan oleh perusahaan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi dari minyak terpentin, serta reaksi ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi reaksi oksidasi

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan kajian ilmu yang berguna bagi pengembangan ilmu, khususnya menajemen sumber daya manusia mengenai pengembangan karir, disiplin

Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat serta dapat dijadikan sebagai referensi untuk menambah ilmu mengenai kualitas jasa,

Sesuai dengan latar belakang diatas maka dilakukan sintesis dialdehid alginat melalui reaksi oksidasi natrium alginat dengan menggunakan natrium metaperiodat sebagai agen

Manfaat Teoritis Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi yang dapat dijadikan rujukan bagi upaya pengembangan ilmu yang berkaitan, dan juga dapat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi serta dijadikan sebagai bahan evaluasi pada peningkatan perusahaan yang berkaitan dengan persepsi kualitas

Teoritis Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan peneliti dan menjadi sumber data atau informasi sebagai bahan masukan bagi pengembangan ilmu kebidanan mengenai