• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

P U T U S A N

Nomor 127/Pdt.G/2017/PTA.Mdn

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Tinggi Agama Medan yang memeriksa dan mengadili perkara gugatan Pembatalan Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf pada tingkat banding, dalam persidangan Majelis Hakim, telah menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara antara :

Linda Chairani Pane, BA binti Saidi Muli Pane, umur 58 tahun, agama Islam, pendidikan Sarjana Muda, pekerjaan wiraswasta, tempat tinggal di Jalan Bambu III No.13 Lingkungan III, Kelurahan Durian, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan, dalam hal ini memberi kuasa kepada Syahrizal, S.H dari Kantor Advokat Syahrizal &

Rekan, berkantor di Jalan Ampera Bagan Asahan Pekan, Kecamatan Tanjung Balai, Kabupaten Asahan, Propinsi Sumatera Utara, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 09 Pebruari 2017, dahulu disebut sebagai Penggugat, sekarang sebagai Pembanding ;

Melawan

Kantor Kementerian Agama Kota Tanjungbalai, Cq. Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Datuk Bandar/Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf, berkantor di Jalan Singosari, Lingkungan IV, Kelurahan Pahang, Kecamatan Datuk Bandar, Kota Tanjungbalai, yang pada saat ini dijabat oleh H.M.JAMIL, S.Ag, dahulu disebut sebagai Tergugat, sekarang sebagai Terbanding;

Pengadilan Tinggi Agama tersebut;

Telah membaca dan mempelajari berkas perkara dan semua surat yang berhubungan dengan perkara ini ;

DUDUK PERKARA

Mengutip semua uraian tentang hal ini sebagaimana termuat dalam putusan Pengadilan Agama Tanjungbalai Nomor 124/Pdt.G/2017/PA.Tba.

tanggal 11 Oktober 2017 Masehi, bertepatan dengan tanggal 21 Muharram 1439 Hijriyah yang amarnya berbunyi sebagai berikut :

1. Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya.

2. Membebankan kepada Penggugat untuk membayar semua biaya yang timbul dalam perkara ini sejumlah Rp 1.981.000,00 (satu juta sembilan ratus delapan puluh satu ribu rupiah).

Membaca akta permohonan banding yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Agama Tanjungbalai bahwa Penggugat/Pembanding pada tanggal 19 Oktober 2017 telah mengajukan permohonan banding terhadap putusan Pengadilan Agama Tanjungbalai Nomor 124/Pdt.G/2017/PA.Tba tanggal 11 Oktober 2017 Masehi bertepatan dengan tanggal 21 Muharram 1439 Hijriyah, permohonan banding tersebut telah diberitahukan kepada pihak lawannya yaitu Terbanding pada tanggal 24 Oktober 2017;

Menimbang, bahwa Pembanding telah mengajukan Memori Bandingnya bertanggal 30 Oktober 2017 yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Agama Tanjungbalai tanggal 31 Oktober 2017, Memori Banding tersebut telah pula

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

disampaikan kepada Terbanding tanggal 7 Nopember 2017, tetapi Terbanding tidak mengajukan Kontra Memori Banding, sesuai dengan Surat Keterangan Panitera Pengadilan Agama Tanjungbalai tertanggal 20 Nopember 2017.

Memperhatikan bahwa Pembanding telah menggunakan haknya untuk memeriksa berkas perkara banding, sesuai dengan berita acara memeriksa berkas perkara tanggal 31 Oktober 2017, sedangkan Terbanding tidak menggunakan haknya untuk membaca berkas banding (inzage) sesuai dengan surat keterangan Panitera Pengadilan Agama Tanjungbalai nomor 124/Pdt.G/2017/PA.Tba tanggal 20 Nopember 2017, meskipun untuk itu telah diberitahukan kepada Terbanding sesuai dengan relaas pemberitahuan oleh Jurusita Pengganti Pengadilan Agama Tanjungbalai tanggal 30 Oktober 2017.

PERTIMBANGAN HUKUM

Menimbang, bahwa oleh karena permohonan banding dalam perkara ini telah diajukan oleh Penggugat/Pembanding dalam tenggang waktu dan menurut syarat dan cara-cara yang ditentukan dalam undang-undang, sebagaimana ketentuan dalam Pasal 199 ayat (1) RBg. Jo Pasal 7 ayat (1) dan (4) Undang- Undang Nomor 20 Tahun 1947 Tentang Peradilan Ulangan, serta permohonan banding tersebut telah diajukan oleh pihak yang berperkara (in cassu Penggugat/Pembanding) yang memiliki kapasitas sebagai pihak (persona standi in judicio) dan atau memiliki legal standing dalam perkara a quo, sebagaimana ketentuan Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman jo. Pasal 61 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, dengan demikian permohonan banding tersebut telah memenuhi syarat formil, maka permohonan banding tersebut harus dinyatakan dapat diterima;

Menimbang, bahwa Majelis Hakim tingkat banding setelah membaca dan menelaah dengan seksama proses pemeriksaan dan pertimbangan hukum putusan perkara ini di tingkat pertama pada dasarnya secara subtansial dan yuridis telah memedomani bunyi pasal perundang-undangan dan ketentuan hukum acara yang berlaku, namun dalam hal analisa pertimbangan hukum tentang fakta-fakta/alasan gugatan Pembatalan Akta Pengganti Ikrar Wakaf yang didalilkan oleh Penggugat dengan alat bukti tertulis maupun saksi- saksinya tidak dipertimbangkan dengan teliti dan cermat sehingga menghasilkan kesimpulan yang keliru oleh karena itu Majelis Hakim tingkat banding tidak sependapat dengan pertimbangan Majelis Hakim tingkat pertama tersebut dan Majelis Hakim tingkat banding akan mempertimbangkan, mengadili dan memutus sendiri dengan analisa sosiologis dan filosofis dalam bentuk ratio decidendi yang pertimbangan hukum selengkapnya diuraikan di bawah ini;

Menimbang, bahwa berkaitan dengan kewenangan mengadili secara absolut dan relatif Pengadian Agama Tanjungbalai, proses pemanggilan, usaha mendamaikan, upaya mediasi dan penentuan legal standing para pihak berperkara yang diterapkan oleh Hakim Majelis tingkat pertama telah mengacu pada ketentuan hukum acara yang berlaku dengan disertai dasar hukum yang tepat, demikian juga Putusan Sela tentang sita jaminan dan pertimbangan permintaan putusan serta merta telah tepat dan benar, sehingga proses pemeriksaan perkara ini di tingkat pertama tentang hal-hal tersebut, patut dinyatakan memiliki legal reasoning yang benar dalam memenuhi tata cara/tahapan-tahapan penyelesaian perkara ini sebagaimana mestinya;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Menimbang, bahwa setelah mempelajari putusan Majelis Hakim tingkat pertama serta Memori Banding, maka Majelis Hakim tingkat banding berpendapat bahwa pertimbangan dan pendapat Majelis Hakim tingkat pertama kurang tepat dan tidak benar, sehingga Majelis Hakim Tinggi akan mempertimbangkan sendiri sebagaimana akan diuraikan di bawah ini;

Menimbang, bahwa ternyata Majelis Hakim tingkat pertama meskipun dalam musyawarah majelis dan dalam putusannya telah sepakat, namun demikian anggota I (satu) telah berbeda pendapat dengan Ketua Majelis dan Hakim Anggota lainnya dan telah menyampaikan dissenting opinion sebagaimana ketentuan Pasal 14 ayat (2) dan Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman;

Menimbang bahwa terhadap dissenting opinion tersebut, Majelis Hakim tingkat banding sependapat dan sepakat dan oleh karena itu Majelis Hakim tingkat banding mengambil alih pertimbangan tersebut dan menjadikan sebagai pertimbangan sendiri;

Menimbang, bahwa meskipun Majelis Hakim tingkat banding telah mengambil alih pertimbangan tersebut sebagai pertimbangannya sendiri , namun demikian Majelis Hakim tingkat banding memandang perlu untuk mengutip kembali sebagian pertimbangan tersebut yang selengkapnya adalah sebagai berikut;

Menimbang, bahwa Penggugat telah mengajukan pembatalan terhadap Akta Pengganti Akta Ikrar Waqaf (APAIW) yang telah diterbitkan oleh Tergugat dalam jabatan sebagai PPAIW (Pejabat Pembuat Akta Ikrar Waqaf) pada tanggal 26 November 1997 karena APAIW itu cacat hukum disebabkan objek waqaf adalah hak milik ahli waris H. Muhammad Syarif Pane yang telah diganti rugi oleh Penggugat dalam kapasitas sebagai ahli waris atau pembeli dari ahli waris H. Muhammad Syarif Pane yang lain. Dengan demikian masalah pokok dalam perkara ini adalah apakah objek perkara adalah hak milik Penggugat atau Wakaf;

Menimbang, bahwa sebelum mempertimbangkan lebih lanjut tentang pokok perkara, Hakim Anggota I perlu mempertimbangkan apakah perkara ini kurang pihak atau tidak, sehubungan tidak dijadikannya nazir wakaf sebagai pihak dalam perkara ini;

Menimbang, bahwa Tergugat dalam jawabannya tidak pernah mengajukan eksepsi tentang adanya kekurangan pihak dalam perkara ini, selain itu nazir wakaf yang telah ditetapkan dengan Surat Pengesahan Nazir yang dikeluarkan Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Datuk Bandar tanggal 23 Mei 2005 Nomor KK.02.18.5/BA.03.2/146/05 (lampiran Bukti P.X) telah melewati waktu masa tugas nazir dan tidak dilakukan pengangkatan kembali sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 Pasal 14 ayat (1) yang mengatur ketentuan mengenai masa bakti nadzir yang berbunyi “Masa bakti nadzir adalah 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali.”.

Dengan demikian kenyataan saat ini objek perkara yang telah dikeluarkan Tergugat APAIW nya telah tidak mempunyai nazir lagi karena nazir yang ada secara hukum sudah demisioner sejak 23 Oktober 2010. Oleh sebab itu tidak ada nazir yang pantas dijadikan pihak dalam perkara ini;

Menimbang, bahwa oleh karena Penggugat dan Tergugat berbeda pendapat tentang status objek perkara, maka merujuk kepada ketentuan Pasal 163 HIR, Pasal 283 RBG dan Pasal 1865 KUH Perdata yang menegaskan bahwa setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai sesuatu hak, atau guna menegakkan haknya sendiri maupun membantah sesuatu hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak atau

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

peristiwa tersebut, maka Penggugat dan Tergugat harus dibebani beban pembuktian berimbang, Penggugat harus membuktikan dalil gugatannya dan Tergugat juga harus membuktikan dalil bantahannya. Oleh sebab itu Penggugat harus membuktikan dalil gugatannya bahwa tanah itu adalah hak miliknya dan Tergugat juga harus membuktikan dalil bantahannya bahwa tanah itu adalah wakaf;

Menimbang, bahwa Ketua Majelis dan Hakim Anggota yang lain berpendapat bahwa objek sengketa adalah waqaf dan bukan milik Penggugat dengan pertimbangan sebagaimana tersebut di atas, namun Hakim Anggota I berbeda pendapat dengan pertimbangan sebagai berikut :

Tentang Kepemilikan Objek Sengketa :

Menimbang, bahwa pendapat Majelis tentang bukti P.VI dan P.VII tentang tidak ditunjukkannya asli alat bukti tersebut di persidangan tidak dipertimbangkan. Menurut Hakim Anggota I pada prinsipnya, kekuatan bukti suatu alat bukti surat memang terletak pada akta aslinya. Tindasan, foto copy, dan salinan akta yang aslinya masih ada, hanya dapat dipercaya apabila tindasan, foto copy dan salinan itu sesuai dengan aslinya. Ketika Hakim memerintahkan Penggugat agar memperlihatkan aslinya di persidangan, tetapi Penggugat tidak menunjukkan aslinya di persidangan. Namun perlu dipertimbangkan ada tidaknya bantahan Tergugat terhadap alat bukti Penggugat. Dalam kenyataannya Tergugat ketika persidangan pembuktian Penggugat tanggal 24 Mei 2017, Tergugat tidak hadir di persidangan, sehingga tidak ada bantahan dari Tergugat. Dengan demikian fotokopi menurut Hakim Anggota I mempunyai pembuktian setidak-tidaknya menjadi bukti permulaan.

Menimbang, bahwa Teguh Samudara dalam bukunya Hukum Pembuktian dalam Acara Perdata pernah menulis :

“Pada prinsipnya, kekuatan bukti suatu alat bukti surat terletak pada akta aslinya. Tindasan, foto copy, dan salinan akta yang aslinya masih ada, hanya dapat dipercaya apabila tindasan, foto copy dan salinan itu sesuai dengan aslinya. Dalam hubungan ini, hakim dapat memerintahkan kepada para pihak agar memperlihatkan aslinya sebagai bahan perbandingan, tetapi apabila lawan mengakui atau tidak membantahnya maka tindasan, foto copy, dan salinan akta tersebut mempunyai kekuatan pembuktian seperti yang asli” (Teguh Samudera, Hukum Pembuktian dalam Acara Perdata, Bandung, 1992, hal. 57)

Walaupun Teguh Samudara menulis Fotokopi Akta yang lawan mengakui atau tidak membantahnya, maka akta tersebut mempunyai kekuatan pembuktian seperti yang asli, tetapi menurut Hakim Anggota I fotokopi Akta yang lawan mengakui atau tidak membantahnya, maka akta tersebut belumlah mempunyai kekuatan pembuktian seperti yang asli, tetapi setidak-tidaknya sebagai bukti permulaaan yang perlu dikuatkan dengan bukti lain. Namun Hakim Anggota I berbeda pendapat dengan Ketua Majelis dan Hakim Anggota yang lain yang mengabaikan alat bukti tertulis P.6 dan P.7, karena mengabaikan alat bukti P.6 dan P.7 tersebut tidaklah tepat karena bukti tersebut tidak dibantah Tergugat, apalagi bukti tersebut adalah berupa surat lama yang biasa disebut Ground Sultan/Grant Sultan yang menguatkan indikasi siapa pemilik awal tanah dahulunya dan Ground Sultan/Grant Sultan adalah sebagai bukti hak milik sebagaimana maksud Pasal 20 ayat (1) ketentuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960;

Menimbang, bahwa bukti P.VI dan P.VII adalah Grant Sultan, namun tidak ditunjukkan aslinya di persidangan dan tidak dibantah Tergugat, menurut Hakim

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Anggota I perlu dikuatkan dengan bukti lain. Adapun bukti lain yang diajukan Penggugat adalah keterangan dua orang Saksi. Saksi pertama maupun Saksi kedua Penggugat mengetahui bahwa tanah objek sengketa adalah milik alm.

H. Muhammad Syarif Pane, dan peta kasar dalam bukti P.8 maupun P.9 di hubungkan dengan hasil pemeriksaan setempat, bahwa objek berada di Jalan Panili dahulu Jalan Muslim yang sebelah selatannya berbatasan dengan Jalan Besar Tanjungbalai – Kisaran;

Menimbang, bahwa setelah diteliti bukti P.VI, ternyata Ground Sultan itu bernomor 10924 tanggal 19 Agustus 1946 an. Muhammad Syarif Pane, maka

Hakim Anggota I meyakini bahwa pemilik awal objek sengketa adalah H. Muhammad Syarif Pane yang berbatasan arah selatan dengan jalan besar

Kisaran/Tanjungbalai, yang didukung dengan peta kasar Ground Sultan 10924 sebagaimana bukti P.VIII dan P.IX yang menggambarkan arah selatan tanah adalah jalan besar Kisaran Tanjungbalai, bersesuaian dengan bukti-bukti Penggugat dan Tergugat lain berkaitan dengan posisi objek sengketa;

Menimbang, bahwa bantahan Tergugat tentang kepemilikan tanah adalah milik Buyung, kemudian dibeli masyarakat muslim setelah itu diwakafkan sebagaimana bukti T.2 Tergugat, karena bukti T.2. menurut Hakim Anggota I adalah berupa Akta Pengakuan Sepihak (APS) yang syarat formil dan materilnya diatur dalam Pasal 1878 KUH Perdata. Syarat materil APS harus pernyataan pengakuan sepihak dari penanda tangan. Pernyataan pengakuan orang lain yang ditandatangani oleh orang yang berbeda, tidak memenuhi syarat formil APS. (Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, (Jakarta : Sinar Grafika, 2006) hal. 612. Menurut Hakim Anggota I pernyataan 9 orang masyarakat di atas adalah pengakuan mereka bahwa telah terjadi peristiwa waqaf tahun 1968 yaitu oleh kaum muslimin terhadap tanah yang dibeli dari Alm. Buyung. Artinya sembilan orang yang membuat pernyataan bukanlah sebagai orang yang berwakaf, tetapi menyatakan bahwa masyarakat yang berwakaf. Pengakuan seperti ini tidaklah memenuhi syarat formil APS, kerena pengakuan dibuat oleh orang lain. Apalagi kenyataannya Tergugat tidak bisa menghadirkan kesembilan orang tersebut dengan alasan telah meninggal dunia dan sakit;

Menimbang, kalaupun sembilan orang pembuat pernyataan T.2 telah meninggal dunia atau sakit paling tidak didukung oleh keterangan Saksi yang menguatkan kebenaran pernyataan dimaksud. Saksi-Saksi Tergugat tidak pernah tahu siapa Buyung apalagi melihat Buyung yang menguasai tanah tersebut, tidak mengetahui adanya pembelian oleh masyarakat kepada Buyung.

Yang diketahui Saksi sejak tahun 1970 didirikan sekolah An Najah yang mengelola adalah Raisyalsah Pane (abang kandung Penggugat atau cucu H.M.

Syarif Pane). Ketika sekolah An Najah tidak beroperasional sejak 1987, Raisalsyah Pane masih hidup sampai meninggal tidak pernah juga ada masyarakat yang mengelola objek sengketa. Kalau memang itu milik masyarakat sudah barang tentu Raisyalsah Pane akan menyerahkan kepada masyarakat atau masyarakat mengambil alih. Selain itu Saksi Tergugat tentang objek adalah waqaf merupakan keterangan yang tidak diketahui sendiri (testimoni de auditu) yang akan dipertimbangkan Hakim Anggota I bagian keabsahan APAIW setelah ini;

Menimbang, berdasarkan pertimbangan di atas dari bukti-bukti yang diajukan para pihak di persidangan, Hakim Anggota I menyakini bahwa tanah objek sengketa adalah milik H. Muhammad Syarif Pane dan ahli warisnya.

Adapun kepemilikan objek sengketa apakah milik mutlak Penggugat atau tidak, Hakim Anggota I sepakat dengan Anggota Majelis Hakim yang lain bahwa bukti P.I Penggugat belumlah layak untuk membuktikan objek milik Penggugat sendiri,

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

karena bukti P1 belum lengkap ditandatangani semua ahli waris H.Muhammad Syarif Pane. Karena dari bukti P.V H.Muhammad Syarif Pane memiliki 4 orang anak yaitu : Siti Jorlang Pane (pr), Siti Rawan Pane (pr), Saidi Muli Pane, Siti Zainab Pane. Sampai hari ini pembagian belum dilaksanakan secara hukum di pengadilan. Kalaupun dilakukan pembagian intern keluarga, suatu saat akan mengundang sengketa, karena dalam objek sengketa dimungkinkan ada hak ahli waris yang lain;

Menimbang, bahwa dengan demikian untuk petitum point 2 Penggugat, Hakim Anggota I sepakat dengan semua anggota Majelis, tetapi dengan pertimbangan berbeda (Concurrin Opinion). Hakim Anggota I akan menolak gugatan Penggugat tersebut untuk dinyatakan sah Surat Pelepasan Hak dan Ganti Rugi Nomor 284/PHGR/DTB/2007 kerena ganti rugi belum melibatkan semua ahli waris H.M. Syarif Pane, walaupun Penggugat dimungkinkan salah satu ahli waris H.Muhammad Syarif Pane dalam kedudukan sebagai cucu dari anak laki-laki;

Tentang keabsahan APAIW:

Menimbang, bahwa tentang dalil Tergugat yang telah mengeluarkan Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf (APAIW) telah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, Hakim Anggota I berbeda pendapat tentang keabsahan APAIW tersebut;

Menimbang, bahwa untuk dinyatakan sah telah terjadinya peristiwa wakaf, perlu terpenuhinya rukun dan syarat wakaf sebagaimana diatur dalam syariat Islam dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila rukun dan syarat tidak terpenuhi, maka dalam Islam perbuatan tersebut tidak sah atau batal;

Menimbang, bahwa tentang rukun dan syarat wakaf, Hakim Anggota I perlu merujuk pendapat Asy Syarkawi dalam kitabnya Asy Syarqawi ala Ath Tahrir Juz II halaman 173 yang pendapat tersebut diambil alih oleh Hakim Anggota I bahwa rukun wakaf ada 4 yaitu : Waqif (Pewakaf), Mauquf (Benda yang diwakafkan), mauquf alaihi (yang diwakafkan atasnya atau Nazir) dan Sighat (Ijab Kabul);

Menimbang, bahwa dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik sebagai aturan yang berlaku ketika APAIW diterbitkan oleh Tergugat, unsur-unsur dan syarat-syarat wakaf diatur dalam Pasal (3), (4), (5) dan (6), dimana Pasal (3) mengatur tentang Pewakaf (waqif), Pasal (4) tentang benda wakaf (mauquf), Pasal (5) tentang ijab kabul dan Pasal 6 tentang nazir (mauquf alaih);

Menimbang, bahwa dengan demikian menurut Hakim Anggota I syarat- syarat yang diatur dalam syariat Islam maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku tentang unsur-unsur dan syarat wakaf mutlak harus dipenuhi untuk

bisa ditetapkannya bahwa peristiwa wakaf itu sah menurut hukum;

Menimbang, bahwa terhadap siapa pewakaf (waqif) dan apa benda wakaf (mauquf) nya dalam perkara ini, Tergugat telah menyampaikan jawaban bahwa waqif adalah Masyarakat Desa Sijambi dan sekitarnya dan benda wakaf adalah objek perkara yang telah dibeli secara patungan tahun 1968 oleh masyarakat dari Alm. Buyung, namun siapa nazir dan kapan ijab kabul atau ikrar wakaf diucapkan Tergugat tidak mengetahuinya;

Menimbang, bahwa syarat wakif dalam Pasal 3 ayat (1) Undang Undang Nomor 28 Tahun 1977 adalah :”Badan-Badan hukum Indonesia dan orang atau orang-orang yang telah dewasa dan sehat akalnya serta yang oleh hukum tidak terhalang untuk melakukan perbuatan hukum, atas kehendak sendiri dan tanpa paksaan dari pihak lain, dapat mewakafkan tanah miliknya dengan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

memperhatikan peraturan-peraturan perundang undangan yang berlaku”. Dari pasal ini dapat dipahami bahwa pewakif bisa saja badan hukum, seseorang atau beberapa orang (lebih dari 1 orang). Namun mengetahui siapa orang yang berwakaf itu sangat diperlukan karena walaupun pewakif lebih dari 1 orang dalam pasal ini disyaratkan orang yang cakap hukum. Sedangkan dalam jawaban Tergugat, pewakif adalah masyarakat muslim Desa Sijambi.

Masyarakat muslim Desa Sijambi mana yang dimaksud tidak dijelaskan Tergugat karena Tergugat mengeluarkan APAIW hanya berdasarkan bukti T.2 yang disana tidak disebutkan identitas jelas masyarakat Desa Sijambi yang berwakaf. Sehingga dengan demikian wakif dalam APAIW yang dikeluarkan Tergugat tidak memenuhi syarat untuk disahkannya telah terjadi peristiwa wakaf, karena wakif tidak jelas atau tidak diketahui (nakirah);

Menimbang, bahwa syarat mauquf (benda wakaf) juga telah diatur dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1977 : “Tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, harus merupakan tanah hak milik atau tanah milik yang bebas dari segala pembebanan, ikatan, sitaan, dan perkara”. Kalau dalam bahasa fiqh klasik tanah yang diwakafkan adalah milkul mutlak (milik sempurna) si wakif. Dalam Pasal 15 ayat (4) huruf (a) Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1978 tentang Peraturan Pelaksana Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik APAIW harus berdasarkan Surat Keterangan tentang Tanah atau surat keterangan kepala desa tentang perwakafan tersebut;

Menimbang, bahwa Tergugat dalam jawabannya menyampaikan bahwa objek wakaf dibeli oleh kaum muslimin dari Alm. Buyung pada tahun 1968. Oleh sebab itu Tergugat harus membuktikan siapa Buyung, betulkah Buyung pernah sebagai pemilik objek sengketa dan apakah pernah telah terjadi perpindahan hak milik dari Buyung kepada masyarakat (kaum muslimin) Desa Sijambi;

Menimbang, bahwa dari bukti-bukti yang diajukan Tergugat berupa tertulis maupun Saksi tidak ada satupun yang pernah mengenal Buyung, tidak pernah melihat Buyung menguasai objek sengketa sebelum dijual ke masyarakat muslim dan tidak pernah mengetahui pembelian oleh masyarakat ke Buyung, sehingga dengan demikian dasar kepemilikan masyarakat Desa Sijambi terhadap objek sengketa tidak ada sama sekali. Sehingga unsur wakaf berupa mauquf (benda wakaf) yang milkul mutlak (milik sempurna) si wakif tidak terbukti;

Fakta ini dibuktikan Tergugat dengan Surat Pernyataan tertanggal 30 Agustus 1997 (Bukti T.2) yang dibuat oleh 9 (sembilan) orang masyarakat yaitu:

H. Muhammad Ilyas, H. Awaluddin Saragih, H. Abu Bakar, H. Muh. Thaib, Dahlan Siagian, Mukhtar Sinaga, Rukiyah M. Yus, H.M. Hutapea, dan Ahmad Damanik. Selain itu Kepala Desa Sirantau telah mengeluarkan pernyataan tentang perwakafan tanah milik tanggal 27 November 1997. (bukti T.3).

Menimbang, bahwa oleh karena bukti T.2 menurut Hakim Anggota I adalah berupa Akta Pengakuan Sepihak (APS) yang syarat formil dan materilnya diatur dalam Pasal 1878 KUH Perdata. Syarat materil APS harus pernyataan pengakuan sepihak dari penanda tangan (Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, (Jakarta : Sinar Garfika, 2006) hal. 612. Menurut Hakim Anggota I pernyataan 9 orang masyarakat di atas adalah pengakuan mereka bahwa telah terjadi peristiwa waqaf tahun 1968 yaitu oleh kaum muslimin terhadap tanah yang dibeli dari Alm. Buyung. Dengan demikian bukti T.2 belum memenuhi syarat materil pembuktian seperti yang telah dipertimbangkan sebelumnya;

Menimbang, bahwa dari saksi-saksi yang diajukan oleh Tergugat untuk menguatkan bukti. T.2 sebagai dasar telah terjadinya wakaf tidak satupun yang mengetahui adanya indikasi-indikasi waqaf (adanya pemilik yang

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

memiliki/mengusai tanah, adanya patungan masyarakat untuk pembelian tanah waqaf, adanya penguasaan objek oleh nazir, apalagi mengetahui peristiwa waqaf berupa penyerahan pewaqif kepada nazir. Malahan siapakah Buyung yang di anggap penjual tanah tidak satupun saksi yang kenal atau pernah melihat dia menguasai tanah, apalagi menerima pembelian tanah. Malah saksi Tergugat Jamaluddin Bin Jamil bersaksi ada uang yang dipungut ke masyarakat diserahkan ke Raisalsyah Pane untuk pembangunan sekolah An Najah bukan diserahkan kepada Buyung untuk membeli tanah. Sedangkan semua saksi Tergugat kenal dengan Raisalsyah Pane adalah abang kandung Penggugat yang telah menguasai tanah tersebut sampai meninggal. Dengan demikian menurut Hakim Anggota I tidak terpenuhi syarat mauquf (benda wakaf) sebagai milkul mutlak (milik sempurna) masyarakat.

Menimbang, bahwa semua Saksi yang diajukan Tergugat mengatakan itu waqaf adalah Saksi testimoni de auditu yang tidak mengetahui langsung peristiwa yang terjadi. Testimoni de auditu kalaupun dimungkinkan diterima, karena tidak mungkin dihadirkan Saksi fakta, saksi Tergugat tetap tidak memenuhi syarat untuk diterima, karena syarat diterima Saksi testimoni de auditu adalah keterangan yang disampaikan saksi de auditu merupakan pesan dari pelaku atau orang yang terlihat dalam peristiwa atau perbuatan hukum yang disengketakan (Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, Jakarta : Sinar Garafika, 2006 halaman 663). Sedangkan saksi Tergugat sumbernya bukan dari pelaku perbuatan hukum yaitu pewaqif, nazir atau saksi ikrar wakaf waktu itu. Kalaupun keterangan saksi bahwa objek sengketa adalah wakaf bersumber dari Raisalsyah Pane (Saudara Penggugat) yang menjadi pengelola An Najah waktu itu, itu pun terlihat janggal bahwa itu bersumber dari Raisalsyah Pane, sebab sekolah An Najah tidak pernah dikelola selain Raisalsyah Pane dan sejak berhenti beroperasi tahun 1987 sampai Raisalsyah Pane meninggal tahun 1993 (6 tahun) tidak pernah diserahkan tanah tersebut kepada masyarakat. Hal ini mengindikasikan kuat bahwa kedudukan Raisalsyah Pane adalah dalam rangka menduduki tanah warisan alm. H. Muhammad Syarif Pane (kakeknya) bukan nazir atau pengelola wakaf;

Menimbang, bahwa selain itu keterangan Saksi Tergugat tentang objek sengketa adalah wakaf telah bertentangan dengan Saksi Penggugat, padahal sebagian saksi Tergugat sama-sama pernah sekolah di An Najah dengan Saksi Penggugat yang mengatakan bahwa objek sengketa bukan wakaf. Dengan demikian keterangan saksi-saksi yang saling bertentangan meskipun saksi yang memberikan keterangan terdiri dari beberapa orang, apabila ternyata keterangan mereka saling bertentangan, tidak sah sebagai alat bukti karena tidak sesuai dengan pasal 170 HIR dan Pasal 1908 KUH Perdata;

Menimbang, bahwa berdirinya sekolah An Najah tidak bisa disebut indikasi waqaf karena sekolah An Najah sejak berdiri sampai mati selama 17 tahun (1970-1987) tidak pernah dikelola orang lain selain Raisalsyah Pane.

Fakta ini diakui oleh semua Saksi, bahkan ketika Sekolah An Najah tidak beroperasi lagi sejak tahun 1987, sampai Raisalsyah Pane meninggal dunia tahun 1993 (6 tahun) tidak ada masyarakat yang melanjutkan operasional sekolah. Hal ini indikasi bahwa sekolah An Najah adalah sekolah yang dikelola secara pribadi oleh Raisalsyah Pane yang dibantu masyarakat untuk operasionalnya, sehingga sekolah An Najah bisa dikategorikan sekolah yang dikelola pribadi untuk masyarakat. Adapun penguasaan objek oleh ahli waris sebagai penghalang untuk pemanfaatan benda wakaf tidak masuk akal, karena sejak dari tahun 1946 objek sengketa tidak pernah dikuasai oleh orang lain

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

(nazir atau pemilik lain) selain ahli waris dan keturunan Alm. H. Muhammad Syarif Pane;

Menimbang, bahwa tentang Bukti T.3 yang diajukan Tergugat berupa Surat Potokopi Surat keterangan Kepala Desa tentang perwakafan tanah milik Nomor 593/05/WKP/DST/97 tanggal 27 Nopember 1997 sebagai dasar penerbitan APAIW, sebagaimana pertimbangan Hakim Anggota yang lain, menurut Hakim Anggota I, T.III bukanlah dasar penerbitan APAIW oleh Tergugat karena Bukti T.III diterbitkan setelah APAIW, Bukti. T.III tertanggal 27 November 1997 sedangkan APAIW terbit sebelumnya yaitu 26 November 1997. Kalau Bukti T.III sebagai dasar APAIW yang diterbitkan Tergugat seharusnya Bukti T.III terbit dahulu baru APAIW belakangan.

Menimbang, bahwa selain itu APAIW yang dikeluarkan Tergugat terlihat janggal karena tidak terdaftar di register buku wakaf di Kantor Urusan Agama Kecamatan Datuk Bandar dan juga tidak didaftarkan ke Kantor Kementerian Agama Kota Tanjungbalai, Hal ini diakui oleh Tergugat sendiri dalam jawabannya, sehingga dalam daftar tanah wakaf baik yang sudah bersertifikat maupun yang belum bersertifikat objek perkara tidak pernah terdaftar sebagai benda wakaf, padahal APAIW adalah akta otentik yang mesti dicatat dalam register yang disediakan untuk itu. Adapun pengakuan Tergugat tentang pendaftaran Tanah Wakaf telah disampaikan ke BPN Kota Tanjungbalai yang pernah dilakukan Kepala KUA Kecamatan Datuk Bandar dengan Surat Nomor : KK.02.18.5/BA.03.2/146/05 tanggal 23 Mei 2005 (8 tahun setelah APAIW diterbitkan) terkesan janggal karena nomor surat pengantar sama dengan Surat Pengesahan Nazir yang dikeluarkan dengan nomor surat dan tanggal yang sama padahal isinya berbeda (Lampiran bukti P.X bentuk W.5 dan W.7).

Kalaupun memang sudah didaftarkan di BPN sampai sekarang Sertifikat Tanah Wakaf tidak pernah diterbitkan. Hal ini menunjukkan bahwa APAIW dari awal bermasalah karena tidak disertai bukti kepemilikan yang sah sebagai syarat untuk mendapatkan Sertifikat Tanah Wakaf (STW);

Menimbang, bahwa tidak terdaftarnya objek perkara sebagai benda wakaf juga dapat ditemukan dalam data-data yang ditulis DR. H. Thamrin Munthe, M.

Hum (mantan Walikota Tanjungbalai) dalam bukunya Hukum Perwakafan di Indonesia Studi Perkembangan Wakaf di Kota Tanjungbalai Sumatera Utara, (Citapustaka Media Perintis, Bandung 2013) halaman 165-166. Dalam data yang bersumber dari Data Kemenag Februari 2012 tidak terdapat objek perkara sebagai tanah wakaf yang belum bersertifikat, sehingga kuat dugaan bahwa APAIW tidak dikeluarkan dan didaftarkan sesuai prosedur yang ada. Padahal menurut ketentuan Pasal 3 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 1977 tentang Tata Pendaftaran Tanah Mengenai Perwakafan Tanah Milik, sebagai aturan yang berlaku saat APAIW diterbitkan : “Semua tanah yang diwakafkan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 1 di atas harus didaftarkan kepada kantor Sub Direktorat Agraria Kabupaten/Kotamadya setempat, PPAIW berkewajiban untuk mengajukan permohonan pendaftaran kepada Kantor Sub Direktorat Agraria Kabupaten/Kotamadya setempat atas tanah-tanah yang telah dibuatkan Akta Ikrar Wakaf. Permohonan pendaftaran perwakafan tanah hak milik tersebut pada ayat (1) Pasal ini harus disampaikan selambat-lambatnya dalam jangka waktu 3 bulan sejak dibuatkan Akta Ikrar Wakaf.”

Menimbang, bahwa kalau ditinjau dari ketentuan Pasal 16 ayat (2) huruf (f) Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1978 tentang Peraturan Pelaksana Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik, APAIW yang dikeluarkan Tergugat selaku PPAIW harus dimasukkan dalam

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Daftar Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf. Sehingga dengan tidak dimasukkannya APAIW dalam Daftar Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf mengindikasikan Akta dikeluarkan tidak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas berkaitan tidak terpenuhinya unsur-unsur wakaf, Hakim Anggota I berpendapat bahwa petitum Penggugat point 3 dan 4 dapat dikabulkan dengan menyatakan Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf Nomor : K-5/BA.03.2/33/1997 tanggal 26 November 1977 tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum;

Menimbang, bahwa Majelis Hakim tingkat banding perlu menambahkan pertimbangan hukum sendiri dalam hal tuntutan Penggugat tentang pengesahan surat pelepasan hak dan ganti rugi nomor : 284/PHGR/DTB/2007 atas nama Linda Chairani Pane, BA sebagai berikut :

Menimbang, bahwa berdasarkan bukti P1, P2 dihubungkan dengan bukti

P5, bahwa pelepasan hak dan ganti rugi (bukti P1) dari ahli waris Alm.

H. Muhammad Syarif Pane kepada Linda Chairani Pane, BA dan penyerahan hak tanah warisan dari ahli waris Alm. H. Muhammad Syarif Pane kepada Linda Chairani Pane, BA dihubungkan dengan bukti P5 tentang silsilah keturunan dari Alm. H. Muhammad Syarif Pane, ternyata ada ahli waris yang tidak dilibatkan sebagai ahli waris, meskipun kedudukannya sebagai ahli waris pengganti , oleh karena itu terhadap tuntutan pengesahan tersebut harus dinyatakan ditolak;

Menimbang, bahwa oleh karena tuntutan pelepasan hak dan penyerahan hak waris ahli waris Alm. H. Muhammad Syarif Pane kepada Linda Chairani Pane, BA ditolak, maka harta tersebut menjadi harta budel waris bagi seluruh ahli waris dari Alm. H. Muhammad Syarif Pane;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum tersebut di atas, maka Majelis Hakim tingkat banding sependapat dengan pertimbangan discenting opinion Hakim Anggota I tersebut dan tidak sependapat dengan Majelis Hakim Tingkat I dalam hasil musyawarah Majelis tersebut dan oleh karenanya putusan tingkat pertama tersebut nomor 124/Pdt.G/2017/PA.Tba. tanggal 11 Oktober 2017 Masehi bertepatan dengan tanggal 21 Muharram 1439 Hijriah harus dibatalkan dan dengan pertimbangan tersebut di atas, Majlis Hakim tingkat banding dengan mengadili sendiri yang amar lengkapnya sebagaimana tersebut di bawah ini;

Menimbang, bahwa mengenai biaya perkara, oleh karena gugatan Penggugat/Pembanding dikabulkan, sesuai dengan Pasal 192 ayat (1) R.bg biaya perkara tersebut harus dibebankan kepada Tergugat/Terbanding dalam tingkat pertama dan membebankan biaya banding kepada Tergugat/Terbanding;

Mengingat segala peraturan perundang-undangan yang berkenaan dengan perkara ini;

MENGADILI

- Menerima permohonan banding Pembanding;

- Membatalkan Putusan Pengadilan Agama Tanjungbalai Nomor 124/Pdt.G/2017/PA.Tba. tanggal 11 Oktober 2017 Masehi, bertepatan dengan tanggal 21 Muharram 1439 Hijriyah

Dengan Mengadili Sendiri:

1. Mengabulkan gugatan Penggugat sebagian;

2. Menyatakan perbuatan Tergugat yang menerbitkan Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf Nomor :K-5/BA.03.2/33/1997 tertanggal 25 Rajab 1418 H bertepatan dengan tanggal 26 Nopember 1997 serta surat lainnya yang

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

menyangkut tentang wakaf atas tanah milik Penggugat adalah tidak sah dan merupakan perbuatan melawan hukum ;

3. Menyatakan batal dan tidak berkekuatan hukum Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf Nomor :K-5/BA.03.2/33/1997 tanggal 25 Rajab 1418 H bertepatan dengan tanggal 26 Nopember 1997 ;

4. Tidak menerima dan menolak gugatan Penggugat yang lain dan selebihnya;

5. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara ini dalam tingkat pertama sejumlah Rp 1.981.000,00 (satu juta sembilan ratus delapan puluh satu ribu rupiah)

- Menghukum Terbanding untuk membayar biaya perkara di tingkat banding sejumlah Rp 150.000,00 (seratus lima puluh ribu rupiah).

Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Agama Medan pada hari Rabu tanggal 20 Desember 2017 Masehi bertepatan dengan tanggal 2 Rabi’ul Akhir 1439 Hijriyah oleh kami Drs. H. Muhsin Halim, S.H., M.H. Hakim Tinggi yang ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Tinggi Agama Medan sebagai Ketua Majelis, Drs. H. M. Ghozali Husein Nasution, S.H dan Dr. H. Chazim Maksalina, M.H masing-masing sebagai Hakim Anggota dan diucapkan pada hari itu juga dalam sidang terbuka untuk umum oleh Ketua Majelis tersebut didampingi para Hakim Anggota, dibantu oleh Dra. Hj. Rahdima sebagai Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri pihak-pihak yang berperkara.

Ketua Majelis

dto.

Drs. H. Muhsin Halim, S.H., M.H.

Hakim Anggota I Hakim Anggota II

dto. dto.

Drs. H. M. Ghozali Husein Nasution, S.H. Dr. H. Chazim Maksalina, M.H Panitera Pengganti

dto.

Dra. Hj. Rahdima Perincian Biaya Perkara :

1. Biaya Proses Rp 139.000,00 2. Biaya Redaksi Rp 5.000,00 3. Biaya Meterai Rp 6.000,00 Jumlah Rp 150.000,00

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected] Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11

Referensi

Dokumen terkait

Kedua deiksis ich yang terdapat dalam kutipan di atas merujuk kepada seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan. Pada kedua contoh di atas,

Tinggi tumit yang terbaik untuk pegawai wanita dengan berat badan 45-50 kg jika mereka lebih banyak beraktivitas pada bidang datar maka tinggi tumit yang digunakan adalah tt = 3 cm,

Mohammad Takdir Ilahi, Gagalnya Pendidikan Karakter: Analisis dan Solusi Pengendalian Karakter Emas Anak Didik, (Yogyakarta : Ar ruzz Media, 2012), hlm.27.. Usia SMP

Berdasarkan keterangan yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa, dalam hukum Islam tindak pidana hirabah (perampokan) diancam dengan hukuman mati.. Hal ini

Hasil ini diperkuat dengan peneliti terdahulu oleh Nurhayati Agus (2012) bahwa faktor kompetensi dipandang sangat signifikan dan dominan berpengaruh terhadap peningkatan

Pada era yang maju ini kita dituntut untuk selalu serba cekatan dan disiplin dalam bekerja, bekerja pada umumnya untuk memenuhi ekonomi baik perekonomian sendiri

(2) Permohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan penghapusan atau pengurangan sanksi administratif atas SKPDKB, SKPDKBT, dan STPD sebagaimana dimaksud

Sehingga sekolah dapat sukses dalam menyiapkan lulusan yang berkarakter dan mampu berdayasaing di kehidupan era global seperti ini; (b) Bagi Guru, dapat