• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS EVALUASI PROGRAM KESEHATAN REPRODUKSI BAYT GOES TO PESANTREN OLEH BAYT AL HIKMAH COMMUNITY CIREBON TAHUN 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV ANALISIS EVALUASI PROGRAM KESEHATAN REPRODUKSI BAYT GOES TO PESANTREN OLEH BAYT AL HIKMAH COMMUNITY CIREBON TAHUN 2014"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

ANALISIS EVALUASI PROGRAM KESEHATAN REPRODUKSI

“BAYT GOES TO PESANTREN” OLEH BAYT AL HIKMAH COMMUNITY CIREBON TAHUN 2014

A. Gambaran Umum Bayt Al Hikmah Community Cirebon 1. Profil Bayt Al Hikmah Community Cirebon

Bayt Al hikmah adalah komunitas kawula muda yang peduli hak- hak seksualitas dan kesehatan reproduksi untuk kesetaraan gender dan keadilan gender bagi perempuan muda. Sebagai komunitas kawula muda Bayt Al Hikmah Community Cirebon terbuka bagi siapapun sesuai dengan prinsip dan dasar Islam, hak asasi manusia, demokrasi dan keberagaman 2. Latar Belakang Bayt Al Hikmah Community Cirebon

Pengurus Bayt Al Hikmah bekerjasama dengan Fahmina Institute dalam mengembangkan pengetahuan serta menberikan informasi terkait kesehatan reproduksi. Pengurus Bayt Al Hikmah Community Cirebon terdiri dari beberapa profesi seperti, guru, dosen dan mahasiswa.Namun dalam perjalanannya kemudian semakin asyik mendiskusikan isu-isu perempuan, terutama dengan kesehatan reproduksi dan seksualitas.

Awalnya beberapapengurus Bayt Al Hikmah yang belum paham dengan kesehatan reproduksi remaja karena hal ini dianggap masih tabu oleh sebagian besar masyarakat. Pengalaman sebagian para pengurus yang pernah menuntut ilmu dipesantren, semua obrolan seputar kesehatan reproduksi dan seksualitas itu tabu mulai terjawab, bahwa ternyata mitos.Para pengurus Bayt Al Hikmah Community Cirebon terus belajar kesehatan reproduksi, mulai dari belajar gender dan analisis selama satu tahun didampingi Ibu Lies Marcoes, mengundang medis untuk belajar, hingga belajar ke PKBI Yogyakarta untuk belajar kesehatan reproduksi dan seksualitas.

3. Tujuan Bayt Al Hikmah Community Cirebon

Berdasarkan wawancara dengan Masitoh selaku ketua pelaksana program kesehatan reproduksi pada santri adalah memberikan pemahaman

36

(2)

yang benar terhadap kesehatan reproduksi, karena pemahaman kesehatan reproduksi pada dasarnya mampu mengantisipasi dampak buruk penyimpangan seksual, menjadi generasi yang sehat jasmai dan rohani.

Selain memberikan pemahaman juga memberikan informasi yang benar dan memadai kepada santri sesuai dengan kebutuhan untuk memasuki masa baligh, menjauhkan para santri dari problem seksual dan agar para santri mengetahui batas-batas hubungan yang baik-buruk/halal-haram dengan lawan jenis sesuai dengan hukum Islam.

Dengan demikian, tujuan dari program kespro adalah untuk memelihara kesucian dan hak reproduksi manusia. Jika reproduksi sehat, bebas dari penyakit tentunya proses-proses reproduksi akan berjalan dengan aman, sehat dan baik. Karena itu dalam keseluruhan konsep program kesehatan reproduksi memberikan pentingnya menjaga alat-alat kesehatan reproduksi dari berbagai macam penyakit, dari penyakit fisik- biologis, maupun psikis-mental.

Visi Bayt Al-Hikmah Community Cirebon Membangun terciptanya masyarakat yang menghargai dan melindungi hak-hak Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas yang bermartabat, Setara, adil dan tanpa Diskriminasi.

Misi Bayt Al-Hikmah Community Cirebon penguatan individu dengan membangun kelompok, Mengembangkan dan menyebarluaskan cara pandang yang terbuka dalam berbagai hal termasuk keberagaman Seksualitas di Lingkungan Masyarakat dan Membangun Crisis Centre to Youth. Dari beberapa pernyataan tersebut sebenarnya mempunyai tujuan yaitu agar santri mengetahui, memahami da melaksanakan program yang sudah diberikan.

4. Pegiat Bayt Al hikmah Community Cirebon a) Penasihat program : Maimunah Mudjahid

Pada tahun 2007, bersama dengan yang lainnya, menginisiasi berdirinya Bayt al hikmah. Selanjutnnya Maimunah Mudjahid atau Mamay juga tercatat sebagai alumni pada Summer Institute On Sexsuality Culture And Society, graduate School Of Social Science di

(3)

UVA ( university Van Amsterdam). Pendidikan masternya diselesaikan pada jurusan Linguistik Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

b) Penasihat program : Alifatul arifiati

Pendidikan terakhirnya adalah S1-Pendidikan Bahasa Inggris di STAIN Cirebon.Alif pernah mengajar Bahasa Inggris di Mts Nurul Islam Jawa Tengah dan menjadi Tim Survey Lembaga Penelitian Communication Swamedia Research (CSR) Jakarta tahun 2008.

Sebelum bergabung dengan Fahmina , Alif aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) termasuk sebagai ketua KORPRI dan Sekretaris PMII Cabang Cirebon.

c) Manager-Koordinator. Diskusi wilayah Indramayu : Masitoh Anwar Manager program dan koordinator diskusi daerah wilayah Indramayu.

Perempuan pecinta keadilan yang masih aktif menulis tentang perempuan ini, selain aktif di Bayt Al Hikmah juga aktif di SMK Soka Mina bahari Cirebon dan pernah mewakili Informal Worker Indonesia di ITF Nepal pada tahun 2014. Ia menyelesaikan Pensisikan S1 di ISIF (Institute Studi Islam Fahmina)

d) Koordinator Diskusi Wilayah Cirebon Kota : Turisih Widyowati Aktif di Bayt Al hikmah sejak awal perintisan di tahun 2007-sampai sekarang.Pernah mendapatkan beasiswa “Healt Reproductive Youth and Leadership” dari Ashoka Desember 2010, mendapatkan penghargaan dari Ashoka sebagai “Anak Muda Pegiat Kesehatan Reproduksi Dan Sekeualitas dan Serta Membuka Ruang Publik Bagi Remaja”. Beberapa kali masuk dalam Nominasi Tempo Award di tahun 2012 kategori ”Anak Muda Pegiat Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas Bagi Remaja”

e) Bendahara : Pipih Indah Permata Sari

Keuangan dan koordinator daerah bagian Cirebon Timur. Lahir 15 Agustus, selain aktif di bayt Al hikmah , juga disibukkan dengan mengurus putri pertamanya. Menurutnya keduanya sangat penting, ketika di Bayt kita menggali informasi ataupun sharing dengan para

(4)

pegiat kespro, dan di rumah kita bisa mengaplikasikannya dan sharing bersama keluarga.

f) Koordinator Diskusi Wilayah Cirebon Selatan Barat : Azwar Anas Lahir di Cirebon pada tanggal 17 Juli 1984. Sarjana Pendidikan Bahasa Arab IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang saat ini sedang menempuh Pendidikan S2 di Bandung. Pernah mengajar di Pondok Pesantren Al Ittihad Plered selama 6 tahun dan saat ini masih ngabdi di Pondok Pesantren Amparan Djati Dukupuntang-Cirebon. Selain itu aktif di Bayt Al Hikmah Fahmina –Institute Divisi Eksternal yang fokus terhadap isu-isu kesehatan reproduksi, seksualitas dan keadilan- keadilan gender, dari tahun 2007 sampai dengan sekarang.

g) Koordinator diskusi Daerah Wilayah Barat dan Utara : Lili Faridah Koordinator diskusi daerah wilayah Barat dan Utara Kab. Cirebon lahir 9 Juni 1990 dan aktif di Bayt Al Hikmah sejak tahun 2009 sampai dengan sekarang. Selain itu juga tercatat sebagai pengajar di salah satu yayasan Pendidikan di Kecamatan Panguragan. Pada tahun 2011 bersama teman-teman Bayt Al Hikmah menulis Buku yang berjudul

“Kisah Perempuan”, Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan. Ia menyelesaikan Pendidikan S1 di ISIF Cirebon.

h) Koordinator Wilayah Kuningan : Komala Dewi

Sejak tahun 2007 banyak terlibat dalam penguatan isu Kesehatan reproduksi diwilayah III Cirebon. Pernah berkesempatan mengikuti pertemuan Asia regional Women Transport Worker mewakili Indonesia di nepal pada tahun 2014 dan saat ini mengabdikan diri di SMK Caruban Nagari Dukupuntang-Cirebon.

5. Program Bayt Al Hikmah Community Cirebon a) Bayt Al Hikmah Goes To School

Minimnya pengetahuan yang berkaitan dengan promosi tentang pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi bagi remaja di sekolah, maka Bayt Al Hikmah menginisiasi program ini untuk mengisi kekosongan tersebut.Program ini dilaksanakan dibeberapa sekolah Se-wilayah III Cirebon yang meliputi Kota dan

(5)

Kabupaten.Melalui program ini, Bayt Al Hikmah memperoleh gambaran tentang permasalahan terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi yang dihadapi remaja.

Sosialisasi mengenai Kespro juga dilakukan oleh Bayt Al- Hikmah di beberapa sekolah, diantaranya:

 SMAN 1 Plumbon

 SMK Caruban Nagari

 MANU Putri Buntet

 SMA Manggungan, Indramayu

 SMPN 1 Karang Ampel

 MA dan SMP Khusnul Khotimah, Kuningan

 Mts Mengger Jati Kapetakan

 Mts Mafatihul Huda, Depok-Cirebon

 SMP Babussalam Panguragan

 SMK Greged

b) Bayt Al Hikmah Goes to Pesantren

Program ini ditujukan untuk remaja yang tinggal diwilayah pesantren.Melalui program ini santri dilatih untuk dapat mengenali permasalahan terkait kesehatan reproduksi. Program ini dilaksanakan di pesantren-pesantren se-wilayah III Cirebon yang meliputi kota dan kabupaten. Program ini merubah paradigma tentang wacana seksualitas dan kesehatan reproduksi di pesantren.

Diantara pondok pesantrennya adalah sebagai berikut:

 Pon-pes Bappenpori Babakan

 Pon-pes Istiqomah Buntet

 Pon-pes Sa’diyyah Gedongan

 Pon-pes Al-Salafiyah Bode

 Pon-pes Kempek

 Pon-pes Daru Al-Tauhid Arjawinangun

 Pon-pes Jambu Babakan

 Pon-pes Candang Pinggan

(6)

 Pon-pes Al-Ghozali Rajagaluh

 Pon-pes Al-Mizan Majalengka

 Pon-pes Roudotul Mubtadiin Majalengka

 Pon-pes Al-Sakinah Indramayu

 Pon-pes Nurul Huda Kuningan

 Pon-pes Miftahutholobin Kuningan

 Pon-pes Amparan Djati Cisaat c) Diskusi Daerah

Diskusi daerah merupakan salah satu program Bayt Al Hikmah yang ditujukan untuk menjangkau remaja yang tinggal di daerah- daerah terpencil. Program ini dilaksanakan dibeberapa daerah se- wilayah III Cirebon yang meliputi kota dan kabupaten. Tiap-tiap daerah di dampingi oleh satu atau dua pegiat Bayt Al Hikmah.

d) SMS Center

Bayt Al hikmah membeikan pelayanan kepada remaja yang berupa layanan pengaduan terkait permasalahan seksualitas dan kesehatan reproduksi.Program ini juga memberikan informasi tentang hal tersebut.Melalui program ini remaja dapat berkonsultasi tentang permasalahan seputar seksualitas dan kesehatan reproduksi yang dihadapi oleh mereka tanpa rasa malu.

e) Sekolah Kesehatan Reproduksi Remaja

Program ini memberikan kesempatan beberapa pelajar untuk mendapat pendidikan tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi.

Setiap pelajar mewakili sekolahnya dalam kegiatan ini. Selanjutnya masing-masing dari mereka berkewajiban untuk menyampaikan kembali pengetahuan yang diperoleh kepada yang lain.

f) Bahtsul Masail Santri Putri

Program ini memberikan kesempatan kepada santri putrid di pesantren-pesantren untuk mengembangkan kemampuannya dalam mendiskusikan permasalahan terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi dari perspektif agama.

(7)

g) Camping Kesehatan Reproduksi

Kegiatan inin bertujuan untuk menyampaikan informasi mengenai seksualitas dan kesehatan reoproduksi dengan cara yang menyenangkan. Program ini dilaksanakan diruang terbuka. Selain itu kegiatan ini dikemas dalam bentuk permainan seperti outbond dan yang lainnya.

h) Peer Konsultan

Dalam kegiatan ini, beberapa perwakilan pesantren diberikan pelatihan dan pendidikan tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi. Mereka berkewajiban untuk menyampaikan kembali pengetahuan yang mereka dapatkan kepada yang lain. Selain itu mereka juga bertugas untuk menerima aduan dan memberikan solusi atas permasalahan yang ada.

i) Penerbitan dan Publikasi Bulletin

The youth gazette adalah bulletin yang hadir untuk memberikan informasi-informasi terkait kesehatan reproduksi dan seksualitas khusus untuk kalangan pelajar SMP-SMA se-wilayah III Cirebon. Selain memuat opini atau artikel kespro, bulletin ini juga memuat puisi dan kolom tanya jawab terkait permasalahan kespro remaja. Bulletin ini hadir setiap bulan dan sudah berjalan dari tahun 2012 hingga sekarang.

j) Tanasul

Majalah tanasul terbit setiap 3bulan sekali oleh Fahmina Institute dan diliput beserta ditulis oleh tim bayt al hikmah community Cirebon. Edisi perdana terbit poada bulan juni 2010. Dalam tanasul ada rubric Mawfiquna, Kabar Santri, Pesantren Kita, Muhadhoroh, Bahtsul Kitab, Khsanah, Santri Bertanya Tanasul Menjawab, Rihlah dan Dunia Tanasul.

k) Buku

Buku Kisah Perempuan “Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan” adalah buku yang pertama kali diterbitkan

(8)

oleh ISIF Cirebon dan ditulis oleh tim Bayt Al Hikmah Community Cirebon pada tahun 2011. Mereka terdiri atas Azwar Anas, Dede Kuswoyo, Ima Khusnul Khotimah, Komala Dewi, Lili Faridah, Maemunah Mudjahid, Masitoh, Nurul Huda, Pipih Indah Permata Sari Dan Turisih Widyowati. Buku Kisah Perempuan “Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan” ini didalamnya dibahas 9 tema dari sejak haid sampai menopause. Ditulis berdasarkan proses mereka belajar, didalamnya disajikan kisah-kisah personal bersentuhan dengan isu-isu yang terkait dengan kespro dan seksualitas.

l) Pendampingan kelompok remaja

Pendampingan kelompok remaja dilakukan dalam rangka memberikan pelayanan kepada remaja sehingga dapat menumbuhkan rasa nyaman pada dirinya akan problematika yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari, terutama terkait tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas. Kegiatan ini dilakukan dengan cara konselor sebaya. Melalui bercerita dan melakukan pendampingan.

6. Sasaran Program Kesehatan Reproduksi “Bayt Goes to Pesantren”

Dalam sejarah Indonesia, hak-hak perempuan untuk mendapatkan informasi kesehatan reproduksi selalu dikekang dengan berbagai alasan tafsir agama, budaya, serta nilai-nilai sosial dan dikukuhkan dalam bentuk produk sosial dan produk hukum.Kelompok perempuan terutama santri putri di pesantren tidak mendapatkan akses hak-hak kesehatan reproduksi dengan mudah, bahkan tidak tersentuh oleh berbagai intervensi dari negara atau kelompok sosial lainnya.Karena keberadaan santri di pindok pesantren dianggap sakral, membiarakan kesehatan reproduksi dikalangan santri begitu tabu.Padahal tidak sedikit diantara mereka yang belum mengetahui kesehatan reproduksi.Sasaran program kesehatan reproduksi

“Bayt Go to Boarding School adalah santriwati di pondok pesantren.

7. Penerima Manfaat Program Kesehatan Reproduksi “Bayt Goes to Pesantren”

Penerima manfaat dari program tersebut adalah santriwati/santri putri dipondok pesantren. Menurut Turisih Widyowati antusias setiap

(9)

santri di pondok pesantren setiap tahun semakin meningkat, dilihat dari jumlah daftar hadir yang semakin bertambah.

8. Sumber Dana Bayt Al Hikmah Community Cirebon

Sumber dana kegiatan Bayt Al hikmah berasal dari Fahmina Institute dan dari lembaga yang bekerja sama dengan Bayt Al Hikmah1 B. Gambaran Umum Pondok Pesantren

1. Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamy

Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy adalah salah satu diantara beberapa pesantren yang ada diKampung Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Jawa Barat Indonesia. Tepatnya yang beralamat di Jl.

Kebon Jambu no. 1 Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat.

Visi Kebon Jambu semata-mata untuk membentuk kpribadian santri sebagai kader yang beriman dan bertaqwa dengan serta merta meningkatkan ibadah kepada Allah SWT., dan mengharap ridlo-Nya (sebagaimana tercermin dalam sikap tawadlu‟, tunduk dan patuh kepada Allah SWT., dalam seluruh aspek kehidupan). Mengimplementasikan fungsi Khalifah Allah di muka bumi (sebagaimana tercermin dalam sikap proaktif, inovatif, kreatif dan produktif).

Sedangkan misinya adalah mempersiapkan individu-individu yang unggul dan berkualitas menuju terbentuknya umat terbaik yang dapat memberikan manfaat kepada manusia lainnya, selain bermanfaat untuk dirinya sendiri (khairo ummah). Sebagai misi khususnya adalah mempersiapkan kader-kader ulama dan pemimpin umat (mundzirul qoum) yang muttafaqih fid dien; yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk melaksanakan dakwah ilal khair, „amar ma‟ruf nahi munkar dan indzarul qoum.

2. Pondok Pesantren Assalafiyyah Bodelor

Pondok Pesantren Bodelor terletak didesa Bodelor Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon. Pondok Pesantren Assalafiyyah Bodelor sebelah butara berbatasan dengan Desa Tegalwangi, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kertasari dan Desa karangsari, sebelah timur

1 Wawancara dengan Komala Dewi, 20 Desember 2015

(10)

Berbatasan dengan Desa Megu cilik, dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Bodesari.

Kegiatan di Pondok pesantren ini sekolah formal dipagi hari dan mengaji kitab disore hari. Santri yang yang ada dipondok pesangtren ini berasal dari berbagai daerah seperti dari Indramayu, Brebes dan penduduk asli Desa Bodelor itu sendiri.

3. Pondok Pesantren Amparan Djati

Pondok Pesantren Amparan Djati adalah salah satu pondok pesantren yang berada di Desa Cisaat Kec. Dukupuntang Kab. Cirebon.

Tepatnya berada di Jalan Pengeran Panjunan blok Pabunian.

Kegiatan santri dipondok pesanatren ini tidak beda dari pondok pesantren Jambu Al Islamy dan Pondok Pesantren Assalafiyyah Bodelor, sekolah formal dipagi hari dan mengaji kitab disore hari.

(11)

C. CapaianProgram Kesehatan Reproduksi “Bayt Goes to Pesantren”

Untuk mengetahui capaian program Bayt Goes to Pesantren, dipaparkan sebagai berikut:

Logframe Program Bayt Goes to Pesantren Tabel I

N o

Tujuan Hasil Indikator Sumber

Ferivikasi

Asumsi dan Resiko

1 Goal Santri mandiri dan

memperoleh peningkatan

pengetahuan kesehatan reproduksi serta meningkat pula kesehatan reproduksi dan lingkungannya.

Impact Kemandirian santri terhadap kesehatan reproduksi

Dapat mengatasi sakit ketika PMS

Mencari informasi baru bukan hanya berkonsultasi kepada Bayt Al Hikmah, santri sudah mulai bertanya mengenai kesehatan reproduksi pada ahli seperti dokter

Wawancara dengan santri di tiga pesantren

2 Tujuan Program Memberikan pemahaman yang benar terhadap kesehatan reproduksi, karena pemahaman reproduksi pada dasarnya mampu mengantisipasi dampak buruk

Outcome Mengentaskan santri dari masalah tabu terhadap kesehatan reproduksi.

Terbukanya wawasan santri terhadap pengetahuan baru tentang kesehatan reproduksi

Wawancara dengan Turisih Widyowati

memberikan pemahaman terhadap tujuan program

(12)

penyimpangan seksual, agar santri menjadi generasi yang sehat jasmani dan rohani;

Memahami organ reproduksi dan kesehatannya untuk diri sendiri dan bermanfaat sehingga dapat

menyebarluaskannya kepada tenan atau santri yang belum mengetahui mengenai kesehatan reproduksi 3 aktivitas 1. Bahtsul Masa’il

disetiap pesantren yang menjadi bimbingan Bayt Al Hikmah

2. Pelatihan dan pembekalan pengetahuan kesehatan reproduksi dipesantren 3. Peer Konsultan 4. Membagikan

Bulletin atau Majalah serta sticker yang

Output 1. mampu mengenali kesehatan reproduksi secara umum dan ilmu agama

2. faham organ dan kesehatan reproduksi 3. santri mudah

membicarakan kesehatan dan berkonsultasi pada teman sebaya yang sudah diberikan pengarahan dari bayt al hikmah

Pengetahuan santri terhadap kesehatan reproduksi meningkat

Bekerja sama dengan DPRD Kab. Cirebon, Dinas

Kesehatan, BPPKB, dan Dinas Pendidikans

(13)

berkaitan dengan kesehatan

reproduksi kepada santri di pesantren

(14)

D. Pengembangan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja Oleh Bayt Al Hikmah Community Cirebon di Pesantren

Bayt Al Hikmah Community Cirebon, memberdayakan masyarakat dengan fokus remaja di pondok pesantren sejak tahun 2007. Pesantren dianggap kurang berdaya dengan pencitraan negatif dari sebagian masyarakat bahwa pesantren di kenal kumuh dan jorok. Selain itu pesantren masih enggan menerima pengetahuan kesehatan reproduksi karena tabu untuk dibicarakan.

Melalui visi-misinya Bayt Al Hikmah muncul sebagai lembaga yang bergerak dibidang kesehatan reproduksi remaja, dengan memberikan penguatan dan pemberdayaan melalui program yang telah dirancang dalam rangka meningkatkan pengetahuan santri terhadap kesehatan reproduksi agar meningkat pengetahuannya serta meningkat pula kesehatan reproduksinya.

Setelah Bayt Al Hikmah melaksanakan program kesehatan reproduksi di pesantren beberapa pondok pesantren menjadi terbuka wawasannya dan bisa menerima pengetahuan baru yang sebelumnya dianggap tabu.

Tidak hanya pengetahuan kesehatan reproduksi saja yang di berikan oleh Bayt Al Hikmah Community Cirebon, juga memberikan pelatihan leadership kepada santri supaya menjadi pribadi yang baik dan bisa menjaga diri dari pergaulan bebas.

Bayt Al Hikmah Community Cirebon mulai membuat riset-riset kecil yang dilakukan bersama-sama kepada lima pertempuan di masing-masing daerah tempat tinggal mereka terkait bagaimana pengalaman penggunaan KB bagi perempuan usia produktif di usia 20-30 tahun dan usia kurang produktif serta menopause. Sangat mencengangkan, kebanyakan perempuan menggunakan alat kontrasepri itu karena ikut-ikutan. Mereka tidak tahu dampak dari alat tersebut.

Dan menemukan perempuan yang terus mengeluarkan darah setiap bulannya, ada pula yang semakin kurus, ada pula yang kegemukan, ada juga yang pusing- pusing setiap sore, dan banyak yang lainnya.

Setelah melakukan riset, Bayt Al Hikmah Community Cirebon semakin memantapkan untuk fokus pada kesehatan reproduksi dan seksualitas.Meski

49

(15)

fokus pada kesehatan reproduksi, namun Bayt Al Hikmah Community Cirebon tidak pernah meninggalkan tradisi diskusi dan membaca, sampai saat ini masih dilakukan setiap dua minggu.Selain itu Bayt Al Hikmah Community Cirebon terus keluar masuk ke pesantren untuk berdiskusi kesehatan reproduksi dan seksualitas dan pastinya tidak mudah.

E. Evaluasi Program Kesehatan Reproduksi “Bayt Goes to Pesantren”

Adapun variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini mengacu pada lima kriteria evaluasiyaitu relevansi, efektifitas, efisiensi, dampak dan kesinambungan. Dalam hal ini akan dibahas satu persatu sebagai berikut:

1. Relevansi program kesehatan reproduksi “Bayt Goes to Pesantren” dengan santri

Relevansi menggambarkan konsistensi tujuan, kebijakan dan program teradap santri. Program yang diberikan Bayt Al Hikmah relevan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman yang benar terhadap kesehatan reproduksi berupa program dengan memberikan pengetahuan dan informasi kesehatan reproduksi untuk santri. Akses informasi di pesantren yang terbatas, pesantren dikenal dengan kumuh, mengetahui organ kesehatan reproduksi sendiri masih tabu dan mitos bahwa jika melihat kelamin sendiri akan menghilangkan hafalan dan menjadi bodoh, hal tersebut yang menjadi tujuan Bayt Al Hikmah untuk melaksanakan program di pesantren.

Berikut ini penjelasan tentang relevansi:

a. Tujuan Bayt Al hikmah community Cirebon

Tujuan bayt al hikmah community Cirebon dalam program kesehatan reproduksi “Bayt Goes to Pesantren” adalah memberikan pemahaman yang benar terhadap kesehatan reproduksi, karena pemahaman kesehatan reproduksi pada dasarnya mampu mengantisipasi dampak buruk penyimpangan seksual, menjadi generasi yang sehat jasmai dan rohani. Selain memberikan pemahaman juga memberikan informasi yang benar dan memadai kepada santri sesuai dengan kebutuhan untuk memasuki masa baligh, menjauhkan para santri dari problem seksual dan

(16)

agar para santri mengetahui batas-batas hubungan yang baik-buruk/halal- haram dengan lawan jenis sesuai dengan hukum Islam.

Sehingga dapat saya simpulkan bahwa yang menerima program kesehatan “Bayt Goes to Pesantren”adalah santri dan anggota pondok pesantren yang terdapat di dalamnya.

b. Kebijkan Bayt Al Hikmah Community Cirebon

Untuk menjadi anggota bayt Al hikmah Community Cirebon tidak harus memiliki kriteria tertentu, karena untuk mengetahui kesehatan reproduksi merupakan hak kita semua baik laki-laki maupun perempuan.

Untuk menjadi anggota Bayt Al hikmah Community Cirebon tidak dipungut biaya, akan tetapi kemauan masing-masing individu untuk membuka diri menerima pengetahuan kesehatan reproduksi bahwa mengetahui kesehatan reproduksi dan organ reproduksi adalah bukan hal yang kolot atau tabu.

c. Program Bayt Al Hikmah “Goes to Pesantren”

1) Bahtsul Masail Santri Putri

Program ini memberikan kesempatan kepada santri putrid di pesantren-pesantren untuk mengembangkan kemampuannya dalam mendiskusikan permasalahan terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi dari perspektif agama.

2) Peer Consultan

Dalam kegiatan ini, beberapa perwakilan pesantren diberikan pelatihan dan pendidikan tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi. Mereka berkewajiban untuk menyampaikan kembali pengetahuan yang mereka dapatkan kepada yang lain. Selain itu mereka juga bertugas untuk menerima aduan dan memberikan solusi atas permasalahan yang ada.

Santri ternyata lebih senang, nyaman juga tebuka dengan teman sebaya daripada dengan orang tua, guru/ustadzah, hal itu karena kelompok sebaya dianggap memiliki kesetaraan pengetahuan. Segala

(17)

informasi yang diperoleh baik dari media cetak maipun media elektronik ataupun bisik-bisik dari teman akan cenderung dikomunikasikan dengan teman sebayanya.

Peer consultan merupakan kepanjangan tangan dari Bayt Al Hikmah community Cirebon yang bertugas menampung pertanyaan dan permasalahan dari santri seputar kesehatan reproduksi, yang kemudian akan di diskusikan ketika ada pertemuan dua bulan sekali dengan Bayt Al Hikmah akan tetapi programnya sekarang sudah tidak intens lagi. Peer consultan beranggotakan santri, karena santri dinilai lebih dekat dengan teman santri yang lainnya dibandingkan dengan ustadz/ustadzah.

Kegiatan yang dilakukan oleh peer konsultan adalah diskusi dan memeberikan informasi pegetahuan kesehatan reproduksi kepada santri yang lain untuk mengetahui masalah yang dihadapi di lingkungan pondok pesantren terkait kesehatan reproduksi.

Keanggotaan peer consultan terdiri dari mahasiswa, siswa SMP/sederajat, Siswa SMA/sederajat dan santri.

3) Penerbitan dan Publikasi Bulletin

The youth gazette adalah bulletin yang hadir untuk memberikan informasi-informasi terkait kesehatan reproduksi dan seksualitas khusus untuk kalangan pelajar SMP-SMA se-wilayah III Cirebon. Selain memuat opini atau artikel kespro, bulletin ini juga memuat puisi dan kolom tanya jawab terkait permasalahan kespro remaja. Bulletin ini hadir setiap bulan dan sudah berjalan dari tahun 2012 hingga sekarang.

4) Tanasul

Majalah tanasul terbit setiap 3bulan sekali oleh Fahmina Institute dan diliput beserta ditulis oleh tim bayt al hikmah community Cirebon. Edisi perdana terbit pada bulan juni 2010. Dalam tanasul ada Rubric Mawfiquna, Kabar Santri, Pesantren Kita, Muhadhoroh,

(18)

Bahtsul Kitab, Khsanah, Santri Bertanya Tanasul Menjawab, Rihlah dan Dunia Tanasul.

5) Buku

Buku Kisah Perempuan “Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan” adalah buku yang pertama kali diterbitkan oleh ISIF Cirebon dan ditulis oleh tim Bayt Al Hikmah Community Cirebon pada tahun 2011. Mereka terdiri atas Azwar Anas, Dede Kuswoyo, Ima Khusnul Khotimah, Komala Dewi, Lili Faridah, Maemunah Mudjahid, Masitoh, Nurul Huda, Pipih Indah Permata Sari Dan Turisih Widyowati. Buku Kisah Perempuan “Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan” ini didalamnya dibahas 9 tema dari sejak haid sampai menopause. Ditulis berdasarkan proses mereka belajar, didalamnya disajikan kisah-kisah personal bersentuhan dengan isu-isu yang terkait dengan kespro dan seksualitas.

6) Pendampingan kelompok remaja

Pendampingan kelompok remaja dilakukan dalam rangka memberikan pelayanan kepada remaja sehingga dapat menumbuhkan rasa nyaman pada dirinya akan problematika yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari, terutama terkait tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas. Kegiatan ini dilakukan dengan cara konselor sebaya.

Melalui bercerita dan melakukan pendampingan.

d. Materi Implemetasi program kesehatan reproduksi “Bayt Goes to Pesantren”

Adapun materi yang diberikan haya difokuskan pada materi kesehatan reproduksi remaja, ini disesuaikan dengan kondisi para santri mengingat usia santri adalah masih remaja.

Hal tersebut dimaksudkan agar para santri lebih memahami bagaimana menjaga organ reproduksinya. Pengetahuan ini akan menjadi bekal bagi santri menyangkut kesehatan reproduksinya. Dengan demikian

(19)

santri dapat diharapkan akan siap melewati masa remaja lebih aman untuk memasuki masa dewasa.

Mengenai materi kesehatan reproduksi yang sesuai dengan usia santri di pondok pesantren adalah:

1) Organ reproduksi a. Perempuan

Gambar 1

Organ perempuan yang penting dalam proses reproduksi adalah

 Indung telur (ovarium), fungsinya menghasilkan telur.

 Saluran telur (tuba falofi), fungsinya tempat berjalannya sel telur setelah keluar dari ovarium (prose ovulasi) dan tempat pembuahan atau bertemunya sel telur dan sperma.

 Rahim (uterus) berupa rongga yang terlindungi oleh beberapa lapisan otot dan selaput lender. Dalam keadaan tak terisinukurannya lebih hampir sama dengan buah alpukat muda. Rahim ini merupakan tempat elastis, dimana janin tumbuh dan berkembang menjadi bayi yang siap dilahirkan.

 Liang kemaluan (vagina), digunakan untuk senggama dan jalan lahir bayi.

 Bibir kemaluan (vulva) yang melindungi vagina.

(20)

b. Laki-laki

Gambar 2

 Buah pelir (testis), ada dua buah berada dalam kantung pelir berfungsi menghasilkan sperma

 Saluran sperma (vasdeferens), sebagai tempat berjalnnya sperma dri testis ke prostate.

 Prostate dan beberapa kelenjar lainnya berfungsi menghasilkan cairan mani.

 Uretra (saluran kemih), sebagai lewatnya cairan-cairan mani yang mengandung sperma.

 Batang kemaluan (penis), berfungsi sebagai alat kelamin dan alat reproduksi.

Materi mengenai kesehatan reproduksi perlu disampaikan, karena organ reproduki secara maksimal ketika organ itu matang, dan ini terjadi ketika seseorang memasuki masa puber atau baligh.

2) Haid

Haid (menstruasi), secara biologis merupakan siklus reproduksi yang menandai sehat dan berfungsinya organ-organ reproduksi perempuan. Menstruasi menandakan matangnya organ seksual seorang

(21)

perempuan dalam arti ia mempunyai ovum yang siap dibuahi, bias hamil dan melahirkan. Oleh para ulama siklus ini dinamakan haid.

Sedangkan darah yang dihukumi haid oleh kitab-kitab fiqh pesantren pada umumnya paling sedikit sehari semalam (24 jam) baik 24 jam itu darah terus menerus keluar atau terputus-putus. Sedangkan masa siklus haid paling lama 15 hari 15 malam.Sedangkan masa siklus haid rata-rata berlangsung selama seminggu (6 hari 6 malam atau 7 hari 7 malam).

Secara berkala sel telur yang sudah matang akan di keluarkan dari indung telur. Sel telur ini akan bergerak melalui saluran telur menuju rahim. Sementara itu rahim secara berkala mengalami penebalan pada dinding rahim sehingga jika diperlukan ia akan siap menerima konsepsi (pembuahan). Jika sel telut tidak bertemu dengan sel sperma berarti tidak dibuahi maka sel telur dan seluruh jaringannya yang terbentuk pada dinding rahim akan luruh, dikluarka dari rahim sebagai menstruasi (haid)

Remaja perempuan perlu memperhatikan kebersihan selama haid ini berlangsung kurang lebih selama 4-7 hari, mengganti pembalut sekali buang air kecil atau minimal menggantinya tiga jam sekali sehari.

Pembalut wanita bisa diperoleh dengan cara membeli di toko atau warung.

Umumnya dalam keadaan terbungkus yang terjamin kebersihannya.

Pembalut juga bisa dibuat sendiri dari kain yang kemudian dilipat menjadi semacam popok. Dalam hal ini yang perlu diingant dan dijaga, pembalut buatan ini dicuci bersih dan dijemur hingga kering betul sebelum digunakan kembali. Pembalut yang dicuci dengan air yang kurang bersih dan digunakan dalam keadaan lembab akan memudahkan terjadinya penyakit yang tidak diinginkan.

Pada saat menstruasi, menjelang dan sesudah menstruasi sebagian remaja perempuan diliputu suasana yang tidak menentu dan juga perasaan yang kurang nyaman atau terasa sakit disekitar bawah pusar. Hal ini

(22)

biasanya membuat remaja perempuan menjadi cepat lelah dan mudah tersinggung perasaannya.

3) IMS (infeksi Menular seksual)

IMS adalah infeksi yang menyerang organ kelamin seseorasng dan sebagian di tularkan melalui hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan.IMS dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang dapat dilihat oleh alat pembesar. Dan cara penularannya melalui hubungan seks bebas dan tidak aman, hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal.

Kasus IMS dan HIV/AIDS cukup banyak terjadi dikalangan remaja. Berbagai jenis IMS dan HIV/AIDS sangat berpengaruh pada tingkat seseorang pada umumnya dan kondisi kesehatan reproduksi pada khususnya karena pada umumnya berkaitan langsung dengan sistem reproduksi manusia, bahkan dapat berdampak kematian.

Kasus HIV/AIDS bagaikan fenomena gunung es, yang nampak hanyalah permukaan belaka namun kasus yang sesunggyhnya jauh lebih besar daripada kasus yang nampak. Penyakit ini merupakan penyakit yang mematikan, karena sampai saat ini belum ditemukan obat penyembuhnya.

IMS menyebabkan infeksi alat reproduksi yang dianggap serius.

Bila tidak diobati secar tepat, infeksi dapat menjalar dan menyebabkan penderita sakit berkepanjangan, kemandulan dan kematian. Remaja perempuan perlu disadari bahwa resiko untuk terkena IMS lebih besar daripada laki-laki sebab alat reproduksi remaja wanita lebih rentan. Dan sering kali berakibat lebih parah karena gejala awal yang tak segara dikenali, sedangkan infeksi berlanjut ketahap yang lebih parah.

Untuk terhindar dari PMS bagi yang belum menikah, cara yang paling ampuh adalah tidak melakukan seksual, saling setia dengan pasangan yang sudah menikah, hindari hubungan seks yang tidak aman dan beresiko, menggunakan kondom bila salah satu suami atau ostri

(23)

terkena IMS dan selalu menjaga kebersihan alat kelamin dan periksa segera bila ada gejala.

Dalam Al Qur’an surat Al Baqoroh Allah mencintai orang yang bersih dan bertaubat. Taubat dan bersih menurut ayat ini mengandung makna bersih lahir dan batin. Orang yang bersih lahir batinnya akan memilih hubungan yang sehat melalui jalur pernikahan yang sah dan halal menurut hukum agama dan negara.

Adapun jenis-jenis IMS antara lain:

 Genore

Kuman penebabnya adalah Neisseria gonnorhoae. Ada masa tenggang selama 2-10 hari setelah kuman masuk kedalam tubuh melalui hubgungan seksua. Tanda-tanda infeksinya adalah nyeri, merah, bengkak dan bernanah. Gejala pada laki-laki adalah nyeri saat kencing, keluarnya nanah kental kuning kehijauan, ujung penis nampak merah dan agak bengkak. Pada perempuan, 60% kasus tidak menunjukkan gejala.

Akibatnya pada laki-laki dan perempuan sering kali berupa kemandulan. Pada perempuan bisa juga terjadi radang panggul.

 Sifilis (Raja Singa)

Masa tanpa gejala akan timbul selama 3-4 minggu, kadabd- kadangsampai 13 minggu, kemudian timbul benjolan disekitar alat kelamin disertai pusing dan nyeri tulang.

 Herpes Genital

Infeksi yang disebabkan oleh Herves simplex dalam masa tenggang 4-7 hari sesudah vurus masuk kedalam tubuh melalui hubungan seks.

Gejala dan tanda-tandanya adalah bintil-bintil berair kemudian pecah dan meninggalkan luka yang akan mengering lalu hilang sendiri.

Pada perempuan, sering kali menjadi kanker mulut rahim beberapa tahun kemudian.

 Klamidia

(24)

Masa tanpa gejala berlangsung 7-21 hari. Tidak jarang pula gejala tidak muncul sama sekali, padahal proses infeksi sedang berlangsung.

Akibat terkena klamidia pada perempuan adalah cacatnya saluran telur dan kemandulan.

 Kandidiasis Vagina

Kandidiasis vagina merupakan keputihan yang disebabkan oleh jamur Candida albicans. Pada keadaan normal jamur ini terdapat dikulit dalam liang kemaluan perempuan. Tetapi pada keadaan tertentu jamurini meluas sehingga menimbulkan keputihan

e. MetodeImplementasi Program Kesehatan Reproduksi “ Bayt Goes to Pesantren”

Metode merupakan sebuah cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan .tanpa menggunakan metode yang tepat dengan tujuan yang akan dicapai maka akan sulit mewujudkanya. Oleh karena itu seorang pengurus Bayt Al Hikmah Community Cirebon harus mampu menggunakan metode yang tepat, efektif, dan bervariasi agar proses implementasi program tidak jenuh.

Sejauh pengamatan peneliti, metode yang digunakan dalam implementasi menyesuaikan dengan materi yang akan disampaikan, yaitu:

1. Metode Diskusi

Metode ini dinilai efektif dalam meningkatkan motivasi santri dalam menguasai materi yang akan dibahas. Metode ini dipakai juga untuk mengatasi kejenuhan santri.

2. Metode ceramah

Metode ini biasanya digunakan untuk semua materi yang akan disampikan dan digunakan pada awal proses penyampaian program berlangsung. Karena bagaimanapun metode ini tidak dapat ditinggalkan karena untuk memperjelas uraian materi yang disampaikan.Biasanya penyampaian materi dengan metode ini bersifat cepat, padat dan jelas.

3. Metode Tanya jawab

(25)

Metode Tanya jawab dilakukan agar santri aktif dalam proses peyampaian materi, sehingga dalam prosesnya tidak bersifat satu arah melainkan ada feedback oleh santri.

4. Metode pemecahan masalah (Problem Solving)

Suatu cara yang menyajikan bahan pelajaran mengajak dan memotivasi para santri untuk memecahkan masalah.

Metode ini biasanya digunakan untuk materi-materi yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan di hadapi remaja di zaman sekarang dan perlu menemukan jalan keluarnya.

f. Media Implementasi Program “Bayt Goes to Pesantren”

Media merupakan bagian terpending dari suatu proses implementasi program. Tujuan media dalam program kesehatan reproduksi supaya proses implementasi program kesehatan reproduksi dapat berlangsung dengan baik. Dengan memanfaatkan fasilitas sarana prasarana baik berupa alat visual maupun audio visual diharapkan dapat memperbaiki system dalam penyampaian program kesehatan reproduksi

“Bayt Goes to Pesantren” dan meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi.

Media cetak maupun media elektronik juga penting, terkait santri dalam mempelajari kesehatan reproduksi dan mendapatkan informasi mengenai hal tersebut.Apalagi dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih menjadikan media sebagai alat utama untuk mempermudah penyampaian materi.Alat peraga juga disini sangat menunjang sebagai sarana penyampaian materi program kesehatan reproduksi.Dengan alat peraga tersebut dapat membawa implementasi santri pada tahapan bagaimana dan dimana alat reproduksi itu harus ditempatkan. Meskipun pada alat peraga tersebut pada awalnya para santri merasa risih dan malu, tetapi apabila sudah dibiasakan maka para santri akan menjadi terbiasa dan mudah memahami materi kesehatan reproduksi.

(26)

Gambar 3 dan 4 Alat Peraga Organ Reproduksi Laki-laki dan Perempuan

Jadi dalam pelaksanaan program kesehatan reproduksi sangat diperlukan media yang tepat dan berteknologi agar santri memperoleh pemahaman secara lebih jelas dan mudah terhadap materi program kesehatan reproduksi.

2. Efektifitas Program Kesehatan Reproduksi “Bayt Goes to Pesantren”

Efektifitas yang menggambarkan tingkat pencapaian target Program kesehatan reproduksi “Bayt Goes to Pesantren”Bayt Al Hikmah community Cirebon.Program yang diberikan Bayt Al Himah efektif, karena dapat diterima dengan baik oleh santri.Beberapa santri mengaku materi yang diberikan Bayt Al Hikmah sesuai dengan dengan kebutuhan santri yang belum mengetahui kesehatan reproduksi. Akses di pondok pesantren sangat terbatas, hadirnya Bayt Al hikmah memberikan pengetahuan dan informasi kesehatan reproduksi menambah ilmu baru dan kesehatan reproduksi sangat penting hal tersebut bukanlah hal yang tabu untuk diketahui. Berikut penjelasannya:

a. Target Program Kesehatan Reproduksi “Bayt Goes to Pesantren” Bayt Al Hikmah Community Cirebon.

(27)

Target penerima program “Bayt Goes to Pesantren” adalah pondok pesantren Se-wilayah III Cirebon meliputi Kabupaten dan Kota dengan sasaran programnya adalah santri.

Menurut Turisih Widyowati, semenjak berdirinya Bayt Al Hikmah tahun 2007 meski awalnya terdapat penolakan dari pondok pesantren dan tidak jarang juga pondok pesantren yang terbuka dengan program kesehatan reproduksi “Goes to Pesantren” namun dalam implalamementasi program tersebut mengalami peningkatan kehadiran jumlah santri yang mengikuti pelaksanaan program tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa dari tahun ke tahun Bayt Al Hikmah Community Cirebon terjadi peningkatan jumlah santri yang mengikuti program tersebut disamping ada beberapa penolakan dari pesantren.

b. Tahapan Pelaksanaan Program Kesehatan Reproduksi “Bayt Goes to Pesantren”

Tahap pelaksanaan merupakan inti dari sebuah program. Tahap inilah yang digunakan sebagai standar dari berhasil atau tidaknya suatu program. Apabila dalam pelaksanaan terdapat ketidaksesuaian dengan perencanaan, maka program tersebut dapat dinyatakan tidak berhasil.

Dalam program kesehatan reproduksi “Bayt Goes to Pesantren” kegiatan utamanya adalah proses meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pentingnya kesehatan reproduksi bahwa mengetahui kesehatan reproduksi adalah bukan hal yang tabu untuk dibicarakan.

Tahap-tahap pada program kesehatan reproduksi “Bayt Goes to Pesantren” adalah sebagai berikut:

a. Assesment (Penjajagan dan Penataan kebutuhan)

Tahap ini dilakukan oleh Bayt Al Hikmah Community Cirebon dan Fahmina Institute untuk mengetahui pondok pesantren yang akan diberikan program. Assesment dilakukan satu bulan sebelum implementasi program. Tujuannya adalah untuk mengetahui ketersediaan civitas akademi pesantren, tempat yang akan digunakan,

(28)

media penunjang apa saja yang mendukung penyampaian implementasi program kesehatan reproduksi “Bayt Goes to Pesantren”.

b. Sosialisasi

Sosialisasi merupakan penjelasan pelaksanaan program oleh Bayt Al Hikmah Community Cirebon kepada pondok pesantren dengan tujuan untuk membangun kesamaan persepsi dalam pelaksanaan program kesehatan reproduksi “Bayt Goes to Pesantren”.

Tahap ini bertujuan agar program yang diberikan dapat disinergikan dengan pihak pesantren.

Sosialisasi dilakukan pada saat kunjungan kembali ke pondok pesantren yang akan menerima program kesehatan reproduksi “Bayt Goes to Pesantren” setelah dilakukan assesment.

c. Bimbingan

Tahap ini juga merupakan sosialisasi mengenai program kesehatan reproduksi “Bayt Goes to Pesantren”dengan pondok pesantren. Hanya saja materi yang diberikan bersifat rasional tidak seperti kitab-kitab fiqih yang dikaji oleh santri di pondok pesantren terkait kesehatan reproduksi.

Pada setiap lokasi pelaksanaan program, tidak sesuai waktu yang telah direncanakan, karena terbatasnya tenaga dan waktu yang dimiliki oleh pengurus Bayt Al Hikmah Community Cirebon, sementara jumlah pesantren yang banyak2

d. Supervisi

Supervisi merupakan pemantauan program yang telah dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh keberhasilan program yang telah dilaksanakan. Alat yang digunakan dalam supervisi ini adalah RTL (Rapat Tindak Lanjut) yang dilaksanakan setelah

2Wawancara bersama Azwar Anas selaku bagian konseling 22 Oktober 2015

(29)

implementasi program pada hari itu juga dengan membahas materi yang di sampaikan dapat diterima dengan baik atau tidak, kesan dan pesan santri setelah menerima program kemudian pembentukkan ketua jaringan santri yang pada hari itu diberikan program yang bertujuan untuk menjalin silaturrahmi dan bisa berkomunikasi dengan mengumpulkan no hp serta alamat facebook, memudahkan RTL selanjutnya.

c. Kinerja Pengurus Bayt Al Hikmah Community Cirebon

Salah satu tugas dari Bayt Al Hikmah Community Cirebon adalah memberikan bimbingana dan pembinaan. Dari hasil dilapangan, diketahaui bahwa bimbingan dan pembinaan kesehatan reproduksi di pesantren hanya dilakukan pada awalnya saja, ada monitoring secara langsung dengan RTL (Rapat tindak Lanjut) namun metode tersebut kurang efektif. Ini berdasarkan hasil wawancara dengan santri di tiga pondok pesantren (pon-pes jambu Al Islamy, Ponpes As-Salafiyyah Bodelor dan Pon-pes Amparan Djati Dukupuntang). Bimbingan dan pembinaan program kesehatan reproduksi baru dilaksanakan satu kali di Pon-pes Jambu Al Islamy serta Pon-pes Assalafiyyah Bodelor dan dua kali di Pon-pes Amparan Djati.

Bayt Al hikmah sering mengadakan kegiatan kesehatan reproduksi diluar pesantren, hanya meminta delegasi beberapa santri saja dari pondok pesantren untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tidak semua santri bisa mengikuti kegiatan tersebut karena masih ada kegiatan yang dilakukan oleh santri. Pengetahuan yang didapat oleh santri yang mengikuti kegiatan diluar pesantren akan disampaikan kembali kepada santri yang tidak bisa mengikuti kegiatan tersebut.

Kesulitan dalam penyampaian pengetahuan kesehatan reproduksi hasil kegiatan yang diikuti diluar pesantren diantaranya santri masih cuek ketika diajak berdiskusi kesehatan reproduksi, waktu yang kurang efektif

(30)

karena antara kegiatan berdiskusi dan jadwal kegiatan di pesantren yang bentrok, sehingga komunikasi tidak berjalan dengan baik.

Pernyataan diatas berdaasarkan hasil wawancara dengan santri di tiga pondok pesantren:

1) Khoirunnisa hanya satu kali mengikuti kegiatan bahtsul masa’il di Pon- pes jambu Al Islamy dan workshop kesehatan reproduksi remaja di Gedung Bupati Kab. Cirebon pada tahun 2015. Belum pernah mengikuti kegiatan kesehatan reproduksi sebelumnya, hanyaada beberapa santri yang sudah terlebih dahulu mengikuti kegiatan tersebut.

2) Menurut Siti Maslahatul Ammah, Bayt Al Hikmah pernah melaksanakan program kesehatan reproduksi di Pon-pes jambu Al Islamy hanya satu kali ketika masih SMA dan itu sekitar tahun 2013, tidak seperti Mawar Balqis yang setiap bulannya sering melaksanakan program disini seperti pendampingan KDRT, mencari solusi untuk masalah-masalah perempuan dan memberikan bantuan bagi santri yang tidak mampu.

3) Menurut Mufi Muti’atausa’adah program yang diberikan oleh Bayt Al hikmah dirasa belum cukup, berharap mengadakan seminar atau workshop kesehatan reproduksi lebih banyak diadakan dipondok pesantren.

4) Zahrotusa’adah menilai program yang diberikal Bayt Al hikmah dirasa belum maksimal, padahal program kesehatan reproduksi yang diberikan oleh Bayt Al hikmah mudah untuk di fahami, cuma dalam bimbingannya belum maksimal.

5) Rokimah Septiyani, program yang di berikan Bayt Al Hikmah sudah bagus, namun dalam pelaksanaannya harus ada penambahan waktu kunjungan supaya pengetahuan yang didapat bisa maksimal. Ia pernah mengikuti dua kali kegiatan di Pon-pes Amparan Djati dan lebih banyak mengikuti kegiatan yang dilakukan Bayt Al Hikmah di luar pesantren.

6) Lia Fitriya merasa pengetahuan yang di dapat dari Bayt Al Hikmah belum cukup dan masih membutuhkan bimbingan yang lebih. Ia juga sama seperti Rokimah mengikuti dua kali kegiatan di Ponpes Amparan Djati

(31)

dan lebih banyak mengikuti kegiatan yang dilakuikan oleh Bayt Al Hikmah diluar Ponpes.

7) Iim Yunika, ia belum pernah mengikuti kegiatan kesehatan reproduksi dipesantren yang dilakukan oleh Bayt Al Hikmah, hanya pernah mendengar saja.

8) Suci menuturkan, ia hanya satu kali saja menikuti kegiatan tersebut itu juga karena di ajak teman sekelasnya.

9) Menurut Muniroh, baru sekali mengikuti kegiatan kesehatan reproduksi dipesantren ketika ia duduk dibangku SMA pada tahun 2011, tahun-tahun berikutnya belum pernah mengikuti karena belum ada kegiatan yang dilakukan Bayt di pesantren Assalafiyyah Bodelor, pernah melakukan kegiatan,tetapi hanya mengisi waktu luang di bulan ramadhan.

10) Menurut Nenah, Bayt Al Hikmah sudah lama tidak memberikan pengetahuan dan informasi ke Ponpes Assalafiyyah Bode, dulu pada saat di pegang Mba Asih masih, aktif melakukan kegiatan seperti mengaitkan kesehatan reproduksi dengan kitab risalatul mahid, setelah itu sudah tidak berjalan lagi karena msih belum ada dorongan dan masih terhalang oleh jadwal pesantren yang padat.

11) Siti Nurjannah menuturkan, program kesehatan reproduksi di pesantren dirasa belum cukup, karena berkunjung ketika ada undangan dan ketika ada event tertentu.

d. Kemitraan

Jalinan kemitraan dengan lembaga lain perlu dilakukan dalam pelaksanaan program kesehatan reproduksi “Bayt Goes to Pesantren”

agar program berjalan efektif dan efisien. Dalam pelaksanaan program kesehatan reproduksi dipondok pesantren didasarkan pada prinsip kemitraan, karena dengan adanya 2 (dua) atau lebih orang yang bermitra dalam mengerjakan suatu program maka akan memiliki hubungan jaringan yang kondusif, sehingga tercipta suatu tim yang sinergis dalam melaksanakan program kesehatan reproduksi dipondok

(32)

pesantren. Guna membantu dan menambah wawasan, dalam pelaksanaannya Bayt Al Hikmah Community Cirebon mendatangkan para ahli terkait kesehatan reproduksi remaja dari BKKBN juga dari medis. Bayt Al Hikmah Community Cirebon bekerjasama dengan:

1. Bekerjasama dengan BKKBN Kabupaten Cirebon dalam pelatihan KRR (Kesehatan Repruduksi Remaja). Hal ini ini dilakukan untuk menambah wawasan para santri tentang perkembangan luar.

2. Bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kab. Cirebon, sebagai orang yang ahli dalam bidang kesehatan.

3. Mengadakan seminar kesehatan reproduksi, diselenggarakan atas kerjasama Bayt Al Hikmah Community Cirebon dengan BKKBN Kota Cirebon.

4. Bekerjasama dengan YKP (Yayasan Kesehatan Perempuan), Jakarta.

5. Bekerjasama dengan Mitra Inti Jakarta.

6. Bekerjasama dengan IPP (Institute Pelangi Perempuan), Jakarta.

7. Bekerjasama dengan Obor Marsinah, Jakarta.

8. Bekerjasama dengan Combine, Jogjakarta.

9. Bekerjasama dengan FAMM/JASS, Jakarta.

10. Bekerjasama dengan Mawar Balqis, Arjawinangun.

11. Bekerjasama dengan Fahmina Institute Cirebon.

12. Bekerjasama dengan Yayasan Banati, Palimanan.

13. Bekerjasama dengan Akbid Muhamadiyah Cirebon.

14. Bekerjasama dengan IWE (Institute Women Empowerment), Jakarta.

15. Bekerjasama dengan Sister Malaysia.

16. Bekerjasama denhgan Moropicor, Philiphina.

Santri perlu mendapatkan informasi yang cukup menegenai kesehatan reproduksi, sehingga santri mengetahui hal yang seharusnya dilakukan dihindari. Pemberian materi oleh para profesional kesehatan

(33)

dapat meningkatkan pengetahuan santri, sedangkan intervensi implementasi program harus diberikan untuk membantu santri dalam menjada resiko IMS.

e. Teknis Pelaksanaan program

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang sudah sejak lama ada di Indonesia. Pondok pesantren mempunyai peranan yang sangat penting dalam menimba ilmu agama Islam. Kesehatan reproduksi adalah hak manusia, begitu pula dengan santri yang berada menuntut ilmu di pondok pesantren. Bayt Al Hikmah merupakan lembaga yang sangat peduli dengan kesehatan reproduksi, yang berupaya memberikan program kesehatan reproduksi untuk santri yang masih tabu dengan kesehatan reproduksi.

Sering kali pondok pesantren dianggap kumuh oleh sebagian orang, karena tempat tinggal santri atau asramanya dalam satu kamar diisi oleh 3-4 orang dengan kondisi kamar yang sempit dengan pakaian-pakaian yang menggantung di atap bercampur dengan udara sesaknya kamar tanpa fentilasi udara yang memadai, belum lagi dengan cucian-cucian yang kotor yang disimpan dalam satu kamar yang sama. Kekhasan yang lainnya adalah kamar mandi yang berjejer banyak akan tetapi kurang dijaga kebersihannya, dengan lantai kamar mandi yang licin, closet yang mulai menghitam karena tidak disikat, bekas bungkus shampoo dan pasta gigi yang berda di dalam bak kamar mandi berisi air bahkan sampai ada underware yang menggantung dibelakang pintu kamar mandi ditambah lagi dengan bau kamar mandi yang baunya menusuk hidung (bau apek)3

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa program kesehatan reproduksi yang diberikan belum dicerna oleh santri secara mendalam. Kesehatan reproduksi sebanarnya bukan saja menjaga organ- organ kesehatan reproduksi saja,akan tetapi kebersihan lingkungan, tempat, dan pakian haruslah dijaga kebersihannya juga.

3Observasi 22 oktober 2015 di ponpes Jambu Al Islamy dan Ponpes Amparan Djati Cisaat.

(34)

Sebuah program agar dapat berjalan membutuhkan tiga komponen yaitu input, proces dan output. Input adalah segala sesuatu yang digunakan untuk kepentingan pelaksanaan program. Input yang digunakan adalah materi kesehatan reproduksi, pemateri kesehatan reproduksi, media penyampaian pelaksanaan program kesehatan reproduksi dan pendanaan.

Materi yang digunakan untuk pelaksanaan program kesehatan reproduksi di pesantren diantaranya dengan menggunakan modul yang sudah dirancang oleh pengurus Bayt Al Hikmah dengan tujuan untuk memanage program yang berlangsung dengan teratur dan buku-buku dikarang oleh Fakih Mansur dan Marzuki wahid mengenai gender dan kesehatan reproduksi.

Dalam pelaksanaan program, Bayt Al Hikmah tidak hanya menggunakan modul yanag telah dirancang, juga mengangkat isu-isu perempuan atau isu-isu sosial yang sedang ramai dibicarakan di kalangan masyarakat seperti kasus Marsinah seorang buruh perempuan yang dibunuh karena menuntut haknya sebagai buruh, trafficking (perdagangan manusia) dan bedah buku.

Input lainnya adalah santri sebagai penerima program kesehatan reproduksi “Bayt Goes to Pesantren”. Input yang terakhir adalah instansi- instansi pemerintah dan non pemerintah yang sesuai dengan kompetensinya untuk menyukseskan program kesehatan reproduksi dipesantren.

Dibutuhkan dana untuk proses pelaksanaan program. Agar program kesehatan reproduksi dapat terlaksana, maka kebutuhan pengetahuan mulai dari buku-buku kesehatan reproduksi, pembuatan modul, transport baik pemateri atau pengurus, hingga studi banding.

Dengan tujuan kegiatan bisa berjalan dengan baik. Menurut Pipih Indah Permata Sari, dana kegiatan berasal dari Fahmina Institute dan instansi- instansi terkait yang ikut tergabung dalam pelaksanaan program kesehatan reproduksi.

(35)

Output adalah keluaran atau tujuan yang akan dicapai dari program keehatan reproduksi “Bayt Goes to Pesantren”. Output yang ingin dicapai adalah santri mandiri dan memperoleh peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi serta meningkat pula kesehatan reproduksinya.

Demikian pula dengan program kesehatan reproduksi “Bayt Goes to Pesantren” ini untuk mencapai tujuannya mengentaskan santri dari masalah tabu mengetahui kesehatan reproduksi.

3. Efisiensi Program Kesehatan Reproduksi “Bayt Goes to Pesantren”

Efisiensi yang diperlihatkan adalah perbandingan input dengan output.

Dalam hal ini penulis memfokuskan pembahasan tentang pengetahuan santri Tentang kesehatan reproduksi, alokasi tenaga dan waktu serta sasaran dari program tersebut.Program yang diberikan Bayt Al Hikmah di pesantren sudah effisien walaupun diperlukan peningkatan dan perbaikan pelaksanaan program kesehatan reproduksi.

a. Pengetahuan Santri Tentang Kesehatan Reproduksi

Pengetahuan santri tentang kesehatan reproduksi adalah sejauh mana santri mengetahui tentang program yang diikutinya dan sejauh mana santri mengetahui dasar-dasar kesehatan reproduksi.

Untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta (santri) yang telah mengikuti kegiatan ini maka diperlukan informasi mengenai kesehatan reproduksi yang meliputi pemahaman mengenai maksud dan tujuan Bayt Al Hikmah Community Cirebon.

Maksud dan tujuan Bayt Al Hikmah yaitu untuk meningkatkan kualitas kesehatan, meninggalkan budaya tabu terhadap kesehatan reproduksi, meningkatkan kemandirian dan meningkatkan kesejahteraan kesehatan reproduksi karena sehat adalah hak kita.

Sikap santri terhadap Bayt Al Hikmah Community Cirebon adalah pernyataan positif dengan program kesehatan reproduksi yang diberikan, manajemen penyampaian materi yang asik sesuai dengan usia santri

(36)

sehingga santri merasa nyaman dan tidak jenuh ketika berada dalam kegiatan tersebut. Santri dapat hidup sehat, bisa merawat dan menjaga organ reproduksi dengan baik.Haid yang tadinya sakit tidak merasa sakit lagi setelah tahu cara mengatasinya.

Santri perlahan mengalami perubahan mulai memerhatikan organ- organ reproduksinya, akan tetapi asih kurang memerhatikan kesehatan lingkungan disekitarnya.

b. Alokasi Tenaga dan Waktu

Setiap program terdapat masukan atau input yang akan digunakan dalam proses pelaksanaan program. Pada program kesehatan reproduksi “ Bayt Goes to Pesantren” ini input atau yang dibutuhkan adalah tenaga, waktu dan pendanaan. Peserta program atau penerima program dari santri yang akan diberikan program dan pendampingan disetiap lokasi program.

Bayt Al Hikmah tidak menentukan kriteria pondok pesantren yang akan diberikan program kesehatan reproduksi, Bayt Al Hikmah ingin merangkul semua pondok pesantren yang ada di wilayah Ciayu Maja Kuning. Untuk mengawali pelaksanaan program di pondok pesantren Bayt Al hikmah mengawalinya dengan pondok pesantren yang pengurusnya ikut tergabung dalam Fahmina Institute dan pengurus Bayt Al Hikmah sendiri, kemudian setelah itu beranjak kepondok pesantren lain. Tanpa Bayt Al Hikmah undangpun ada beberapa pondok pesantren dan sekolah yang meminta Bayt Al Hikmah mengisi materi atau semiar kesehatan reproduksi.4

Program yang diberikan oleh Bayt Al Hikmah disambut baik oleh santri, akan tetapi Bayt Al Hikmah belum intens melakukan program kesehatan reproduksi di pondok pesantren. Lebih sering mengadakan seminar-seminar di luar pondok pesantren. Sebenarnya tidak ada masalah dengan program yang diberikan di luar pesantren yang pada akhirnya akan bermanfaat bagi orang atau santri yang mengikuti kegiatan itu saja.

4 Wawancara dengan Masitoh Anwar, 1 Oktober 2015

(37)

Sehingga pengetahuan kesehatan reproduksi dipondok pesantren tidak merata. Santri mengetahui program kesehatan reproduksi ini dari peer consultan yang diberi tahu oleh ibu nyai yang kebetulan dekat dengan pengurus Fahmina Institute. Tidak jarang juga santri mengenal program tersebut dari Fahmina bukan dari Bayt Al Hikmah Santri menganggap program ini belum cukup, lebih baik lagi jika program kesehatan reproduksi diadakan di pondok pesantren.

Terjadi ketidaksesuaian pada saat pelaksanaan program berikutnya, karena tenaga yang dimiliki oleh Bayt Al Hikmah Community Cirebon belum memadai, sehingga program yang akan diberikan tidak sesuai dengan perencanaan.5

c. Masalah-masalah yang dihadapi santri dalam pelaksanaan program kesehatan reproduksi

Dalam pelaksanaan suatu kegiatan, tidak akan dapat berjalan tanpa adanya suatu masalah. Demikian pula dengan santri di pondok pesantren.

Santri menyatakan masalah kesehatan reproduksi yang dirasakan oleh mereka adalah malu ketika pertama kali menyebutkan organ-organ reproduksi sendiri, sakit di saat haid dan keluhan haid yang tidak teratur dan karena jika melihat organ reproduksi sendiri dapat menyebabkan kebodohan dan menghilangkan hafalan.

Masalah yang lainnya timbul karena kurangnya informasi pengetahuan kesehatan reproduksi di pondok pesantren, karena sarana informasi yang tidak memadai seperti, santri tidak pernah mendengar radio atupun melihat televisi.

Tanggapan dari pegurus Bayt Al Hikmah Community Cirebon sebatas menyarankan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah- masalah yang muncul. Seperti menaruh air panas dalam botol dan diusapkan pada perut yang sakit ketika haid dirasa sangat sakit, jangan

5 Wawancara dengan Azwar Anas, 14 Desember 2015

(38)

memakai meminjam underware teman ang lain, dalam sehari underware harus di ganti dua kali.6

Bayt Al Hikmah juga memberikan pemahaman secara perlahan bahwa dengan melihat organ reproduksi tidak akan menyebabkan kebodohan atau melupakan hafalan dengan metode penyampaian sesuai dengan usia dan karakter penerima program (santri), dan karena jarak yang jauh, untuk berkonsultasi secara langsung Bayt Al Hikmah Community Cirebon membuka layanan SMS Senter di no 085-352-351- 115, grup Bayt Al Hikmah di facebook, hingga situs resmi yang dimiliki oleh Bayt Al Hikmah Community Cirebon. Itu semua dibuat untuk memudahkan siapa saja yang ingin berkonsultasi dan menambah ilmu pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi.

Salah satu cara lain yang dilakukan oleh Bayt Al Hikmah dalam mengatasi keterbatasan informasi ksehatan reproduksi adalah dengan menggunakan metode tertulis berupa leaflet, sticker, poster dan buletin.

Kesimpulan dari efisiensi diatas maka diperoleh nilai yang mengkategorikan program yang diberikan sudah efisien.Walaupun diperlukan peningkatan dan perbaikan dalam kualitas kesehatan reproduksi untuk santri.

4. Dampak Pelaksanaan program Kesehatan Reproduksi “Bayt Goes to Pesantren”

Dampak yaitu pengaruh program kesehatan reproduksi terhadap santri di pesantren.Dalam hal ini dampak sebagai efek primer dan sekunder baik positif maupun negatif, yang dihasilkan sebuah program, langsung atau tidak langsung di kehendaki maupun tidak dikehendaki. Dampak pelaksanaan program kesehatan reproduksi “Bayt Goes to Pesantren” terhadap santri sabagai efek primer dan sekunder, berikut ini pembahasan dampak pelaksanaan program kesehatan reproduksi “Bayt Goes to Pessntren” oleh Bayt Al Hikmah Community Cirebon:

6 Wawancara dengan Mufi muti’atussa’adah 30 Oktober 2015

(39)

a. Efek Sekunder

Efek sekunder pelaksanaan program kesehatan reproduksi “Bayt Goes to Pesantren” adalah penurunan masalah kesehatan reproduksi pada santri yang pada awalnya merasa tabu saat ini sudah mau menerima pengetahuan dan informasi kesehatan reproduksi baik disampaikan secara langsung melalui materi-materi yang diberikan maupun melalui media tertulis seperti bulletin tanasul dan stiker-stiker yang dibagikan serta santri sudah mandiri menangani sakit ketika saat haid dan mengatasi gangguan kesehatan reproduksi lainnya.

Sebelum adanya program kesehatan reproduksi yang diberikan oleh Bayt Al Hikmah santri masih merasa malu dan canggung ketika diterangkan organ-organ reproduksi laki-laki dan perempuan. Tapi saat ini santri sadar bahwa kesehatan reproduksi dan mengenal organ reproduksi perempuan khususnya sangat bermanfaat bagi diri sendiri dan membegi ilmu pengetahuan yang didapat kepada santri-santri lainnya yang belum mengetahui.Bayt Al Hikmah selain memberikan seminar kesehatan reproduksi, juga memberikan media bacaan seperti Bulletin tanasul dan stiker yang di dalamnya memuat informasi dan pengetahuan kesehatan reproduksi.7

Terdapat perubahan dari sebelum dan sesudah program diberikan, seperti bertambahnya pengeatahuan dan informasi tentang kesehatan eproduksi, menjadi lebih tau reproduksi wanita dan pria, dan sudah bisa memnangani sakit ketika haid dengan saran yang di beerikan oleh bayt Al Hikmah dengan menggunakan air hangat yang dimasukkan ke dalam botol lalu disimpan diatas perut yang sakit dan pengetahuannya bertambah mengenai kesehatan reproduksi dari Majalah Tanasul yang dibagikan. Tidak hanya menunggu informasi dan pengetahuan ndari Bayt

7Wawancara dengan Mufi Muti’atussa’adah tanggal 5 November 2015

Referensi

Dokumen terkait

Pelaksanaan program pelatihan pendidikan kesehatan reproduksi yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga bagi guru-guru Sekolah Luar Biasa (SLB)

Pelaksanaan program pelatihan pendidikan kesehatan reproduksi yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga bagi guru-guru Sekolah Luar Biasa (SLB)

Adapun dalam hal kegiatan pendidikan dan/atau pelatihan yang dilakukan oleh instansi pemerintah untuk maksud tersedianya sumber daya manusia Sistem Informasi Kesehatan

Metode atau bentuk kegiatan yang digunakan adalah program pendidikan masyarakat melalui edukasi tentang Layanan Awal Minimum (PPAM) untuk Kesehatan Reproduksi dalam

PERBEDAAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU PERSONAL HYGIENE SANTRIWATI SEBELUM DAN SETELAH DIBERIKAN PENDIDIKAN KESEHATAN SCABIES DI PONDOK PESANTREN SALAFI

Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang SADARI terhadap pengetahuan dan perilaku wanita

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa tingkat III dan tingkat IV program studi Pendidikan Biologi UN PGRI Kediri tentang