12
Istilah penerjemahan merupakan sebuah istilah yang umum didengar oleh masyarakat. Hal ini menandakan begitu berperannya penerjemahan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin maju sebuah masyarakat maka kebutuhan akan informasi semakin tinggi. Informasi ini didapatkan bukan hanya dari dalam negeri namun juga dari luar negeri. Alasan inilah yang mendorong terciptanya komunikasi global, sebuah komunikasi yang melibatkan masyarakat lintas negara, lintas budaya, serta lintas bahasa. Adanya ratusan atau bahkan ribuan macam bahasa yang berbeda-beda di dunia menjadikan peran penerjemahan begitu sangat penting.
Penerjemahan dapat diibaratkan sebagai jembatan informasi di dalam komunikasi global.
Begitu pentingnya penerjemahan bagi masyarakat mendorong adanya ilmu yang mengkaji mengenai hal ini. Selama bertahun-tahun banyak peneliti telah mendedikasikan diri untuk mengembangkan kajian mengenai ilmu penerjemahan.
Dikutip dari beberapa ahli, berikut adalah pengertian penerjemahan. Pertama, Catford (1978: 20) menurutnya penerjemahan adalah penggantian material teks dari bahasa sumber ke dalam materi teks bahasa sasaran. Larson (1984: 3) menambahkan bahwa penerjemahan meliputi pemindahan makna dari bahasa sumber ke bahasa sasaran dengan memperhatikan struktur semantik bahasa sumber dan bahasa sasaran dan makna-lah yang harus ditransfer dengan baik. Definisi penerjemahan selanjutnya diungkapkan oleh Newmark (1988: 5) yang mengungkapkan bahwa penerjemahan merupakan penyampaian makna dari suatu teks ke bahasa lain sesuai dengan pesan penulis teks aslinya. Berikutnya, Nida (1969: 12) yang menyatakan bahwa menerjemahkan merupakan memproduksi padanan yang wajar dan paling dekat dengan pesan bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran, pertama yang berhubungan dengan makna dan kedua yang berhubungan dengan gaya bahasa. Senada dengan Nida, Nababan (2003: 18-23) mengungkapkan
bahwa penerjemahan pada umumnya mengacu pada pengalihan pesan tertulis dan lisan. Nababan juga menggarisbawahi bahwa selain memperhatikan kesetiaan makna antara BSu dan BSa, penting bagi penerjemah untuk memperhatikan gaya bahasa terjemahan dan tingkat kemampuan pembaca suatu karya terjemahan.
Dengan memperhatikan ketiga hal tersebut maka diharapkan proses penerjemahan bisa menghasilkan karya terjemahan berkualitas yang bisa diterima oleh pembaca.
Dari kelima pengertian mengenai penerjemahan diatas, beberapa hal mengenai penerjemahan perlu digarisbawahi, diantaranya; 1) proses penerjemahan sejatinya merupakan sebuah proses pengalihbahasaan, 2) objek dari penerjemahan tidak akan lepas dari material teks, padanaan kata, dan makna atau pesan yang terkandung dalam teks, 3) ada beberapa unsur penting yang harus diperhatikan dalam proses penerjemahan, yaitu; gaya bahasa, unsur semantik, kesepadanan dan kesetian makna dari bahasa sumber sehingga pesan yang disampaikan dapat dialihbahasakan dengan baik.
B. TEKNIK PENERJEMAHAN
Molina dan Albir (2002: 509) mendefinisikan teknik penerjemahan sebagai sebuah cara yang diaplikasikan untuk menganalisis dan mengklasifikasikan bagaimana suatu terjemahan sepadan dengan teks sumbernya. Selanjutnya, Molina dan Albir (2002:50) membagi teknik penerjemahan dengan detail menjadi 18 jenis teknik. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai jenis teknik penerjemahan menurut Molina dan Albir.
a. Adaptasi (adaptation). Mengalihbahasakan unsur budaya yang terkandung pada BSu ke dalam unsur budaya yang memiliki sifat sama pada BSa agar pembaca sasaran dapat lebih mudah memahami istilah budaya tersebut.
Contoh: sincerely yours pada surat berbahasa Inggris, diterjemahakan menjadi hormat saya pada bahasa Indonesia.
b. Amplifikasi (amplification). teknik penerjemahan yang mengeksplisitkan atau memparafrasa suatu informasi yang implisit dalam BSu sehingga lebih jelas
bagi pembaca sasaran. Contoh: There are many Indonesian at the ship diterjemahkan menjadi Banyak warga negara Indonesia di kapal itu
c. Peminjaman (borrowing). teknik penerjemahan dimana penerjemah meminjam kata atau ungkapan dari bahasa sumber. Peminjaman itu bisa bersifat murni (pure borrowing) atau peminjaman yang sudah dinaturalisasi (naturalized borrowing). Peminjaman murni (pure borrowing), yaitu peminjaman tanpa melakukan perubahan apa pun, seperti kata “flashdisk”
yang tetap digunakan dalam bahasa Indonesia. Sedangkan, peminjaman alamiah (naturalized borrowing), yaitu peminjaman dimana kata dari BSu disesuaikan dengan ejaan BSa, seperti kata “musik” yang berasal dari kata
“music”.
d. Kalke (Calque). Teknik penerjemahan dengan mengalihbahasakan kata atau frasa dari BSu secara harfiah ke BSa baik secara leksikal maupun struktural.
Pada teknik ini, terjemahan cenderung mengikuti struktur BSu. Contoh:
assistant manager dalam bahasa Indonesia menjadi asisten manajer .
e. Kompensasi (Compensation). Menyampaikan unsur informasi atau efek stilistik dalam bahasa sumber pada bagian lain bahasa sasaran. Hal ini dilakukan karena pengaruh stilistik (gaya) pada BSu tidak bisa diterapkan pada BSa. Teknik ini sama dengan teknik konsepsi. Contoh: ungkapan dari bahasa Inggris a pair of scissors yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi sebuah gunting.
f. Deskripsi (Description). Teknik yang mengganti istilah dengan deskripsi bentuk atau fungsinya. Contoh: penerjemahan dari bahasa Inggris egg tarts menjadi di Indonesia biasa disebut pai susu.
g. Kreasi Diskursif (Discursive creation). Teknik penerjemahan yang menciptakan sebuah padanan yang benar-benar di luar konteks yang tak terprediksi. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian calon pembaca.
Teknik ini sering muncul dalam terjemahan judul film, buku atau novel.
Contoh: terjemahan judul novel Shopaholic and Sister dalam bahasa Inggris diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi Si Gila Belanja Punya Kakak.
h. Padanan Lazim (Established equivalent). Menggunakan istilah atau ungkapan yang sudah dikenal dan lazim (dengan kamus atau penggunaan sehari-hari) sebagai terjemahan dalam bahasa sasaran. Contoh: ungkapan dari bahasa Inggris cool dalam bahasa Indonesia menjadi keren.
i. Generalisasi (Generalization). Menerjemahkan suatu istilah dengan istilah yang sudah umum dan dikenal masyarakat luas. Teknik ini digunakan apabila suatu istilah dalam bahasa sumber merujuk pada bagian yang spesifik, yang padanannya dalam bahasa sasaran tidak ada yang merujuk pada bagian yang sama. Contoh: mansion dalam bahasa Inggris menjadi rumah dalam bahasa Indonesia
j. Amplifikasi Linguistik (Linguistic Amplification). Merupakan penambahan unsur-unsur linguistik dalam BSa agar lebih sesuai dengan kaidah dan lebih mudah dipahami. Teknik ini sering digunakan dalam consecutive interpreting dan dubbing. Misalnya: Ungkapan “I see” dalam bahasa Inggris menjadi
“Saya mengerti” dalam bahasa Indonesia.
k. Kompresi Linguistik (Linguistic compression). Teknik ini mensintesis elemen linguistik yang ada menjadi lebih sederhana karena sudah dapat dipahami Misalnya, terjemahan ungkapan dari bahasa Inggris I want you to know menjadi Ketahuilah dalam bahasa Indonesia.
l. Penerjemahan Harfiah (Literal Translation). Menerjemahkan kata demi kata dengan memperhatikan struktur bahasa sasaran, tetapi penerjemah tidak mengkaitkannya dengan konteks. Sebagai contoh peribahasa dalam bahasa Inggris killing two birds with one stone yang diterjemahkan menjadi membunuh dua burung dengan satu batu.
m. Modulasi (Modulation). Teknik penerjemahan yang mengganti, fokus, sudut pandang atau aspek kognitif yang ada dalam BSu, baik secara leksikal ataupun struktural. Meskipun demikian, hasil terjemahan akan tetap memberikan pesan yang sama. Misalnya: You are going to be a mother dalam bahasa Indonesia menjadi Kau akan punya anak.
n. Partikularisasi (Particularization). Teknik ini menggunakan istilah yang lebih spesifik atau konkrit. Contoh: exercise dalam bahasa Inggris menjadi senam dalam bahasa Indonesia.
o. Reduksi (Reduction). Memadatkan informasi yang terdapat dalam BSu ke dalam BSa. Namun, tidak menghilangkan unsur informasi. Contoh: a car accident menjadi sebuah kecelakaan dalam bahasa Indonesia
p. Substitusi (Substitution). Menerjemahkan dengan mengganti elemen kebahasaan dari elemen paralinguistik (intonasi, gestur) atau sebaliknya.
Contoh: he shakes his head diartikan menjadi dia tidak setuju.
q. Transposisi (Transposition). Teknik penerjemahan yang mengganti kategori gramatikal bahasa sumber dalam bahasa sasaran, misalnya mengganti kata menjadi frasa. Teknik ini biasanya digunakan karena adanya perberdaan tata bahasa antara BSu dan BSa, seperti dalam terjemahan kata dalam bahasa Inggris adept menjadi frasa dalam bahasa Indonesia sangat terampil.
r. Variasi (Variation). Teknik penerjemahan yang mengganti unsur-unsur linguistik atau paralinguistik yang mempengaruhi variasi linguistik. Misalnya perubahan gaya bahasa, dialek sosial, tona tekstual, dan dialek geografis.
Misalnya, Give it to me now! Kemudian dialihbahasakan menjadi Berikan barang itu ke gue sekarang!
C. PENILAIAN KUALITAS TERJEMAHAN
Layaknya sebuah produk, maka sebuah terjemahan juga memerlukan penilaian kualitas. Penilaian ini dianggap penting mengingat sebuah produk terjemahan akan membawa pengaruh terhadap pembaca sasaran. Maka dari itu, sebuah produk terjemahan yang baik seharusnya mengandung kesamaan pesan antara teks sumber dengan teks sasaran. Terkait dengan penilaian kualitas terjemahan, Nababan et al. (2012) merekomendasikan tiga aspek penting untuk mengukur kualitas sebuah produk terjemahan. Ketiga aspek tersebut meliputi;
tingkat keakuratan terjemahan, tingkat keberterimaan terjemahan, dan tingkat keterbacaan terjemahan. Masing-masing instrumen terdiri dari tiga bagian:
kategori terjemahan, skor, dan paremeter kualitatif. Skor atau angka yang diberikan menggunakan skala 1 sampai dengan 3. Semakin berkualitas suatu terjemahan, semakin tinggi skor yang diberikan. Parameter kualitatif berisi penjelasan mengenai indikator penilaian. Ketiga instrumen disajikan dalam tabel berikut ini.
Kategori Terjemahan
Skor Parameter Kualitatif
Akurat 3 Makna kata, istilah teknis, frasa, klausa, kalimat atau teks bahasa sumber dialihkan secara akurat ke dalam bahasa sasaran; sama sekali tidak terjadi distorsi makna.
Kurang Akurat
2 Sebagian besar makna kata, istilah teknis, frasa, klausa, kalimat atau teks bahasa sumber sudah dialihkan secara akurat ke dalam bahasa sasaran.
Namun, masih terdapat distorsi makna atau terjemahan makna ganda (taksa) atau ada makna yang dihilangkan, yang mengganggu keutuhan pesan
Tidak Akurat 1 Makna kata, istilah teknis, frasa, klausa, kalimat atau teks bahasa sumber dialihkan secara tidak akurat ke dalam bahasa sasaran atau dihilangkan (deleted)
Tabel 2.1. Instrumen Penilaian Tingkat Keakuratan Terjemahan
Kategori Terjemahan
Skor Parameter Kualitatif
Berterima 3 Terjemahan terasa alamiah; istilah teknis yang digunakan lazim digunakan dan akrab bagi pembaca; frasa, klausa dan kalimat yang digunakan sudah sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia.
Kurang Berterima
2 Pada umumnya terjemahan sudah terasa alamiah;
namun ada sedikit masalah pada penggunaan istilah teknis atau terjadi sedikit kesalahan gramatikal.
Tidak Berterima
1 Terjemahan tidak alamiah atau terasa seperti karya terjemahan; istilah teknis yang digunakan tidak lazim digunakan dan tidak akrab bagi pembaca;
frasa, klausa dan kalimat yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia.
Tabel 2.2. Instrumen Penilaian Tingkat Keberterimaan Terjemahan
Kategori Terjemahan
Skor Parameter Kualitatif
Tingkat Keterbacaan
Tinggi
3 Kata, istilah teknis, frasa, klausa, kalimat atau teks terjemahan dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca
Tingkat Keterbacaan
Sedang
2 Pada umumnya terjemahan dapat dipahami oleh pembaca; namun ada bagian tertentu yang harus dibaca lebih dari satu kali untuk memahami terjemahan
Tingkat Keterbacaan
Rendah
1 Terjemahan sulit dipahami oleh pembaca.
Tabel 2.3. Instrumen Penilaian Tingkat Keterbacaan Terjemahan
Nababan et al. (2012) juga memberikan contoh penilaian kualitas terjemahan dengan menggunakan instrumen penilaian yang telah mereka kembangkan. Contoh tersebut disajikan pada tabel berikut ini.
No Bahasa Sumber Bahasa Sasaran
Skor Keakura-
tan
Keberteri- maan
Keterbaca- an 1 Almost 100% of
middle-aged people need eyeglassess.
Hampir 100%
manusia setengah baya memerlukan kaca mata.
3 3 3
2 The eye has been referred to as
“the most
important square inch of the body surface”
(Havenern,1979, h.1)
Mata dikatakan sebagai
“bagian ukuran permukaan tubuh yang paling penting”
2 2 2
(Hanver, 1979, h.1) 3 Therefore,
changes must be made to improve lighting in homes, offices, restaurants, and geriatric centres.
Dengan demikian, perubahan harus dilakukan dengan menambah pencahayaan di rumah, perkantoran, restoran, dan pusat geriatri (panti wreda)
1 3 3
Jumlah 6 8 8
Skor rata-rata 2,0 2,67 2,67
Tabel 2.4. Contoh penilaian kualitas terjemahan
Penjelasan yang dapat diberikan dari contoh kalimat yang ada pada tabel tersebut yakni: kalimat sumber 1 sudah diterjemahkan secara akurat ke dalam bahasa sasaran; kalimat sumber 2 diterjemahkan secara kurang akurat;
sedangkan kalimat sumber 3 diterjemahkan dengan tidak akurat. Namun skor penilaian yang diberikan pada kalimat sumber 3 menunjukkan terjemahan tersebut sudah berterima dan mudah dipahami oleh pembaca bahasa sasaran.
D. SOSIOLINGUISTIK
Spolsky (1998: 3) menyebutkan bahwa sosiolinguistik merupakan cabang ilmu dari linguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan masyarakat, lebih dalam lagi sosiolinguistik mempelajari pengguna bahasa dan
masyarakat dimana pengguna bahasa tersebut tinggal. Sejalan dengan Spolsky, Holmes (1995: 1) berpendapat bahwa sosiolinguistik berhubungan dengan bahasa dan masyarakat. Holmes dalam bukunya menjelaskan perbedaan penggunaan bahasa dalam konteks sosial yang berbeda serta mengidentifikasi fungsi sosial dari bahasa dalam menyampaikan makna sosial.
Lebih lanjut lagi, Radford et al. (2009: 14) menyatakan bahwa untuk melihat hubungan antara bahasa dan masyarakat ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan. Pertama, latarbelakang sosial penutur dan pendengar ( umur, jenis kelamin, kelas sosial, latarbelakang etnis). Kedua, hubungan antara penutur dengan pendengar (teman baik, atasan-bawahan, guru-murid, ayah-anak), Ketiga konteks dan sikap interaksi (berbicara di supermaket, berbicara di sekolah, berbicara dalam telpon, berkhutbah). Kemudian Wardaugh (2006: 10- 11) menekankan hubungan antara bahasa dan masyarakat dengan menjelaskan bahwa ada beberapa kemungkinan hubungan antar keduanya, seperti bahasa kemungkinan dipengaruhi oleh masyarakat atau sebaliknya, kemungkinan bahasa dan masyarakat saling mempengaruhi satu sama lain, serta kemungkinan kedua tidak saling mempengaruhi.
Dari pengertian - pengertian para ahli tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik merupakan cabang ilmu dari linguistik yang mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat. Fokus dari cabang ilmu ini adalah mengenai bagaimana bahasa digunakan oleh individu atau sekumpulan orang dan bagaimana konteks sosial dapat mempengaruhinya.
E. UNGKAPAN BOOSTER
1. Pengertian Ungkapan Booster
Seperti yang telah sedikit disinggung dalam bab 1, ungkapan booster merupakan sebuah strategi komunikasi yang digunakan untuk memperkuat suatu argumentasi serta berperan untuk meningkatkan daya persuasif dalam sebuah pernyataan yang dilontarkan oleh seseorang. Beberapa penelitian
mengenai ungkapan booster telah dilakukan para ahli, khususnya dalam payung linguistik. Holmes (1984: 347) menyatakan bahwa ‘[boosting]
involves expressing degrees of commitment or seriousness of intention’.
Pengertian dari Holmes ini menggarisbawahi bahwa ungkapan booster merupakan sebuah alat komunikasi yang digunakan untuk menguatkan komitmen. Pengertian yang hampir sama diungkapkan oleh Hyland, Hyland (1998b) mendefinisikan boosters sebagai strategi komunikasi untuk meningkatkan kekuatan dari sebuah pernyataan serta menekankan kepastian, komitmen yang kuat, keyakinan, dan kebenaran. Kemudian Mayer (1997) melihat ungkapan booster sebagai sebuah lexical items yang digunakan untuk menguatkan keyakinan dalam sebuah pernyataan. Peacock (2006) juga menyebut hal serupa, bahwa booster merupakan strategi komunikasi yang digunakan untuk mempertegas komitmen dalam sebuah pernyataan. Lebih lanjut lagi Vasileva (2001) menerangkan bahwa booster merupakan piranti komunikasi yang digunakan untuk menguatkan sebuah komitmen agar terdegar lebih tegas dan jelas. Pada intinya, kelima pengertian mengenai ungkapan booster yang diungkapkan di atas mengandung makna yang sama, yaitu bahwa ungkapan booster merupakan sebuah strategi komunikasi yang berfungsi sebagai penekanan terhadap sebuah pernyataan.
2. Ungkapan booster sebagai piranti retorika
Pada sub-bab sebelumnya telah dibahas mengenai pengertian ungkapan booster, dimana dijelaskan bahwa ungkapan booster merupakan sebuah strategi komunikasi yang berfungsi sebagai penekanan terhadap sebuah pernyataan. Namun demikian, makna “penekanan” disini perlu dikaji lebih dalam lagi mengenai mengapa diperlukan penekanan dalam sebuah pernyataan. Tentunya ada maksud atau tujuan tertentu dari pemberian penekanan tersebut, salah satunya adalah sebagai sebuah retorika. Suparno dan Kweldju (2009) menjelaskan bahwa retorika adalah sebuah strategi komunikasi yang digunakan oleh seorang penutur untuk
meyakinkan orang lain dalam melakukan tindakan khusus tertentu. Lebih lanjut lagi, ia mengatakan bahwa retorika tidak hanya digunakan untuk meyakinkan dan mengarahkan sebuah tindakan, tetapi retorika itu sendiri adalah sebuah tindakan, dan dapat digunakan sebagai alatnya (piranti).
Beberapa penelitian mengenai ungkapan boosters sebelumnya telah mampu memetakan fungsi boosters. Hyland (1998b) menjelaskan 4 fungsi boosters dalam karya tulis ilmiah, yaitu sebagai penekanan terhadap a) writer presence, b) subjectivity, c) interpersonal engagement, dan d) writer commitment. Namun demikian, ungkapan boosters sebagai piranti retorika dalam spoken discourse mungkin memiliki fungsi yang lebih beragam. Hal ini dijelaskan oleh Jalilifar dan Alavi-Nia (2012) bahwa fungsi boosters dapat berbeda dalam discourse yang berbeda pula. Jalilifar dan Alavi-Nia (2012) kemudian memetakan jenis ungkapan boosters yang berfungsi sebagai piranti retorika sebagai berikut:
a. Propositional booster
Propositional booster merupakan ungkapan booster yang digunakan oleh penutur untuk menegaskan pernyataannya. Dalam hal ini, penutur ingin mengindari ketaksaan makna yang mungkin muncul dari pernyataan yang diungkapkan. Cakupan dari propositional booster adalah ungkapan booster yang digunakan untuk mengintensifkan tingkat kebenaran suatu pernyataan atau melebih-lebihkan kenyataan guna meningkatkan kekuatan dari sebuah pernyataan, sebagai contoh pernyataan dari Ahmadinejad pada saat debat presiden berlangsung berikut, “In this huge sum of campaigning the Iranian nation was insulted.” Selain itu, propositional booster juga digunakan untuk memperkuat keterlibatan personal dalam sebuah pernyataan, contoh:
“ I totally couldn’t agree more with the decicion.”
b. Ilocutionary force booster
Ilocutionary force booster adalah jenis ekpresi booster yang digunakan untuk menekankan atau meningkatkan kekuatan tindak tutur.
Ekpresi booster jenis ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain seperti; keandalan penutur dalam menyampaikan pernyataan, validitas dari pernyataan yang disampaikan oleh penutur, serta pemahaman pendengar mengenai pernyataan yang disampaikan. Atas dasar faktor-faktor tersebut maka Ilocutionary force booster dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
1) Speaker oriented, merupakan jenis Ilocutionary force booster yang fokus penekanan tindak tuturnya lebih kepada penutur. Contohnya: “I repeatedly announced that I forgave everybody”.
2) Content oriented, jenis Ilocutionary force booster yang fokus penekanan tindak tuturnya lebih isi tuturannya, misalnya: “this idea will increase people's creativity beside promoting tourism”
3) Hearer oriented, merupakan jenis Ilocutionary force booster yang fokus penekanan tindak tuturnya lebih kepada pendengar (mitra tutur).
Sebagai contoh, “you have already felt the impact, then which policies can guarantee our well-being?”
c. Miscellaneous boosters
Miscellaneous boosters ungkapan booster yang digunakan secara sporadis yang tidak membentuk suatu kelas khusus, seperti penggunaan idiomatik sebagai booster, misalnya: “She won’t come today, it’s rain cats and dogs.” Frasa idiomatik rain cats and dogs, yang berarti hujan yang sangat lebat, disini digunakan sebagai piranti untuk melebih-lebihkan kenyataan.
Lebih lanjut lagi, Jalilifar dan Alavi-Nia juga menjabarkan fungsi- fungsi booster yang ditemukan dalam ungkapan booster sebagai piranti retorik, antara lain sebagai berikut:
a. Intensifier : ekpresi booster yang berfungsi untuk mengintensifkan elemen dari sebuah kalimat atau melebih-lebihkan realitas untuk meningkatkan kekuatan pernyataan, seperti terribly hard, extremely beautiful.
b. Personal involvement : ungkapan booster yang digunakan untuk mempertegas keterlibatan personal dalam proposisi yang diungkapkan.
c. Boosting epistemic commitment : ungkapan booster yang menunjukan proposisi mengenai kepastian atau kemungkinan, misalnya kata kerja kognitif mengungkapankan pendapat, modal epistemik.
d. Force-indication : Piranti yang digunakan oleh penutur untuk menekankan adanya kekuatan ilokusi dalam kalimat, sebagai contoh: I ask you, I tell you, I want you, I beg you, in fact.
e. Emphasis expression : Ungkapan booster yang menekankan atau mengintervensi secara eksplisit melalui fitur prosodis, seperti emphatic stress/intonation, emphatic Yes/No/Do.
f. Source-tagging : Ungkapan booster yang digunakan untuk menyebutkan sumber pendapat sebagai suatu untuk mendukung kebenaran proposisi, misalnya: as it is mentioned by...
g. Bounding emphatics : Booster yang dapat berfungsi untuk memperkuat atau menekankan tindak tutur, seperti besides, furthermore, and what is more.
h. Accentuating ideas : Meningkatkan dampak dan keefektifan suatu gagasan sehingga pendengar akan mengingatnya tanpa sadar, sehingga mereka akan didorong untuk menerima gagasan itu sebagai kebenaran, contoh:
digunakannya repetisi atau sinonimia.
i. Seeking solidarity : ungkapan booster yang digunakan untuk meningkatkan kekuatan ilokusi dengan mengasumsikan bahwa pendengar dan penutur memiliki background knowledge yang sama, seperti misalnya: as we all know
j. Rhetorical questions : ungkapan booster yang mewakili proposisi sebagai bukti diri atau disepakati bahwa itu sebenarnya tidak perlu dinyatakan oleh suara tekstual, contoh; you agree about it, don’t you!
3. Ungkapan booster dan gender
Chambers (2009: 115) menerangkan bahwa penelitian-penelitian di bawah payung sosiolinguistik yang mengungkap mengenai adanya perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki,“In virtually all sociolinguistic studies that include a sample of males and females, there is evidence from this conclusion about their linguistic behavior: women use fewer stigmatized and non-standard variants than do men of the same social group in the same circumstances” .
Perbedaan pengunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki telah membentuk adanya stereotip dimana dalam sebuah kelompok sosial yang sama wanita dianggap menggunakan lebih sedikit variasi bahasa yang tidak baku dibandingkan dengan laki-laki. Sebelumnya, penelitian mengenai perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki pernah dilakukan oleh Robin Lakoff dalam bukunya Language and Woman’s Place (1975). Lakoff berhipotesis bahwa ada perbedaan yang jelas antara bahasa perempuan dan bahasa laki-laki, namun penelitian yang dilakukan oleh Lakoff banyak terbantah oleh penelitian lain. Hal ini dikarenakan penelitian yang dilakukannya kebanyakan berdasarkan atas anggapan dan kurang adanya bukti empiris yang mendukung teorinya. Terlepas dari hal ini, penelitian yang dilakukan oleh Lakoff telah mampu menggerakan minat peneliti bidang sosiolinguistik lain untuk melakukan kajian lebih mendalam mengenai bahasa dan gender. Selain itu, penelitian Lakoff juga telah banyak menjadi dasar bagi penelitian gender dalam payung linguistik.
Salah satu pendapat Lakoff adalah bahwa bahasa yang digunakan perempuan cenderung merefleksikan lebih pada ketidakpastian, kurang percaya diri, ketidaknyamanan sosial dibandingkan dengan bahasa yang digunakan oleh laki-laki. Pendapat ini kemudian mendorong peneliti lain untuk melakukan penelitian dengan topik terkait, salah satunya adalah penelitian mengenai perbedaan penggunaan hedges dan boosters antara
perempuan dan laki-laki. Dalam penelitian mengenai hedges dan boosters yang dikaitkan dengan gender, ada kecenderungan yang menganggap bahwa perempuan lebih sering menggunakan piranti-piranti tersebut dalam komunikasi dibandingkan dengan laki-laki. Pada kenyataannya, hasil dari beberapa penelitian berbeda-beda. Hal ini diungkapkan oleh Holmes (2008:300),“Some researchers reported that women used up to three times as many hedges as men, while others noted no gender differences. Most, but not all, claimed women used more boosters or intensifiers than men”
Sebagai contoh perbedaan hasil penelitian berkaitan dengan penggunaan ungkapan boosters dan gender, pertama Fahy (2002) meneliti mengenai penggunaan ungkapan booster antara perempuan dan laki-laki pada material sebuah konferensi komputer dan menemukan bahwa laki-laki lebih banyak menggunakan ungkapan booster dibandingkan perempuan. Kedua, Serholt (2012) yang meneliti penggunaan booster dan gender dalam karya tulis ilmiah, hasilnya berbanding terbalik dengan Fahy (2002), Serholt menemukan bahwa perempuan lebih menunjukan komitmen yang kuat dalam setiap pernyataan yang diberikan dibandingkan dengan laki-laki, dengan kata lain ungkapan booster yang digunakan perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Pernyataan dari Holmes dan dua penelitian di atas menunjukan bahwa ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi penggunaan ungkapan booster pada perempuan dan laki-laki. Faktor-faktor tersebut mungkin berbeda antar objek penelitian dan perlu dikaji lebih lanjut.
F. TED
Gambar 2.1 Logo TED
TED, yang merupakan singkatan dari (Technology, Entertainment, Design), adalah sebuah organisasi non-profit yang mengunggah presentasi secara online melalui website ted.com. Sesuai dengan tagline yang diangkat, yaitu "ideas worth spreading" , TED konsisten mengunggah berbagai topik presentasi sejak tahun 2006. TED sebenarnya mulai berdiri pada Februari 1984, didirikan oleh Richard Saul Wurman dan Harry Marks, serta bermarkas di New York, Amerika Serikat dan Vancouver, Kanada. Saat itu TED hanya sebagai sebuah konferensi tahunan.Topik yang diangkat pada awal konferensipun terbatas hanya pada teknologi, hiburan dan desain, berbeda dengan saat ini dimana TED sudah dapat dinikmati secara daring dengan topik yang sangat beragam pula.
Gambar 2.2 Tampilan pada laman TED.com
Berbagai kalangan telah tercatat mempresentasikan gagasannya di TED, mulai dari jurnalis, musisi, akademis, politisi, seniman, psikolog, politisi, dll.
Beberapa nama terkenal antara lain; Bill Clinton, Hillary Clinton, Jane Goodall, Al Gore, Gordon Brown, David Cameron, Billty Graham, Richard Dawkins, Bill Gates, Bono, penemu Google Larry Page dan Sergey Brin, dan berbagai pemenang Nobel Prize. Menariknya, TED memiliki ribuan penerjemah sukarela yang mengalih bahasakan presentasi TED ke dalam berbagai macam bahasa di seluruh dunia. Dalam websitenya tercatat saat ini ada lebih dari 33.000
penerjemah sukarela dari seluruh dunia telah mengalihbahasakan presentasi di TED dalam sekitar 116 bahasa. Menyadari pentingnya peran penerjemah bagi perkembangan TED, pada tahun ini TED memiliki progam mentoring khusus untuk para penerjemahnya, dimana penerjemah yang masih baru akan disandingkan dengan koordinator bahasa yang telah berpengalaman dan juga reviewer guna untuk menjaga kualitas terjemahan presentasi yang diunggah di ted.com serta untuk meningkatkan keterampilan penerjemah itu sendiri.