• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 5 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 5 Universitas Kristen Petra"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

2.1. Obligasi

2.1.1. Pengertian Obligasi

Obligasi adalah kontrak keuangan. Penerbit obligasi, seperti perusahaan, akan membayar bunga kepada pembeli obigasi secara periodik. Kemudian, pada akhir waktu tertentu, penerbit obligasi membayar pokok obligasi yang biasa disebut nilai par. Sebaliknya, pemegang obligasi memberikan sejumlah uang kepada perusahaan saat ini.

Obligasi biasanya dijual di pasar obligasi dan memiliki harga pasar yang dapat berubah setiap saat. Obligasi adalah satu sekuritas yang berdasarkan pada IOU dari penerbitnya. Obligasi ini tidak menawarkan hak istimewa kepada pemilik perusahaan. Contohnya, 10 tahun obligasi AT & T memberikan hak untuk menerima pembayaran kupon atau bunga secara periodik dan pokok atau face value pada saat jatuh tempo. Pemegang obligasi tidak memiliki suara dalam pengambilan keputusan di perusahaan.

Banyak obligasi adalah Fixed-Rate Bond atau sekuritas yang berpendapatan tetap karena perjanjian pembayarannya berbentuk kontraktual dan tetap sepanjang waktu. Bagaimana pun beberapa obligasi membayar dalam bentuk variabel income dan mengacu pada Floating-Rate Bond. Jangka waktu obligasi tidak terlalu lama dan tidak terdapat risiko kebangkrutan, secara umum risiko dari obligasi itu tergolong rendah dengan return yang rendah pula. Biasanya obligasi kurang liquid daripada saham dan umumnya relatif tinggi cashflow secara periodik (untuk membayar bunga kepada pemegang obligasi) (Levy 28).

2.1.2. Karakteristik Obligasi

2.1.2.1. Nilai obligasi (jumlah dana yang dipinjam)

Dalam penerbitan obligasi, maka perusahaan akan dengan jelas menyatakan jumlah dana yang dibutuhkan yang dikenal dengan istilah

“jumlah emisi obligasi”. Penentuan besar kecilnya jumlah penerbitan

(2)

obligasi berdasarkan aliran arus kas perusahaan, kebutuhan, serta kinerja bisnis perusahaan.

2.1.2.2. Jangka waktu obligasi

Setiap obligasi mempunyai masa jatuh tempo atau berakhirnya masa pinjaman (maturity). Secara umum masa jatuh tempo obligasi adalah 5 tahun. Ada yang 1 tahun, adapula yang 10 tahun. Semakin pendek jangka waktu obligasi maka akan semakin diminati oleh investor, karena dianggap risikonya kecil.

2.1.2.3. Principal dan Coupon rate

Nilai prinsipal obligasi adalah sejumlah uang yang disetujui oleh penerbit obligasi agar dibayarkan kepada pemegang obligasi pada masa jatuh tempo. Jumlah ini biasa berhubungan dengan redemption value, maturity value, par value or face value. Coupon rate juga disebut nominal rate, adalah tingkat bunga yang disetujui penerbit untuk dibayar kepada pemegang obligasi setiap tahun. Besarnya pembayaran bunga setiap tahun kepada pemilik obigasi selama jangka waktu obligasi dinamakan coupon.

Tingkat persentase coupon dikali nilai prinsipal obligasi menghasilkan besarnya coupon. Contohnya, obligasi dengan 8% coupon rate dan nilai par nya adalah $1,000 akan membayar bunga per tahun sebesar $80.

2.1.2.4. Jadwal pembayaran

Kewajiban pembayaran kupon obligasi oleh perusahaan penerbit, dilakukan secara berkala sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, bisa dilakukan triwulan, semesteran, atau tahunan.

2.1.2.5. Diterbitkan oleh perusahaan atau pemerintah (Levy 29-30)

2.1.3. Jenis-Jenis Obligasi

Sekuritas pasar modal meliputi instrumen-instrumen yang lebih besar dari satu tahun dan isntrumen-instrumen yang tidak memiliki masa jatuh tempo.

Secara umum, pasar ini terjadi karena adanya instrumen yang berisi sekumpulan aliran kas yang dijanjikan, atau menawarkan partisipasi untuk mendukung profitabilitas perusahaan di masa yang akan datang. Dalam sekuritas pasar modal

(3)

ini terdapat dua macam instrumen yaitu fixed income securities dan equity income securities. Fixed income securities terbagi dua kategori besar yaitu:

2.1.3.1. Government Bond

Seperti T-Bills, US Treasury Notes dan US Teasury Bond adalah sekuritas pemerintah yang digunakan untuk pendanaan dalam utang pemerintah. Pembayaran kuponnya bersifat semi-annual. Ketika diterbitkan, US Treasury Notes memiliki masa jatuh tempo 2 (dua) sampai 10 (sepuluh) tahun dan US Treasury-Bond memiliki masa jatuh temponya lebih dari 10 (sepuluh) tahun. Jenis-jenis obligasi pemerintah yaitu pertama, Callable Bond yang biasanya dibeli kembali oleh penerbitnya pada harga tertentu di masa yang akan datang. Kedua, Federal Agency Bond. Ketiga, Municipal Bond, yang diterbitkan oleh pemerintah lokal untuk mendanai highways, sistem perairan pendidikan dan capital project lainya. Ada 2 (dua) tipe Multicipal Bond yaitu General Obligation Bond dan Revenue Bond. (Levy 40-41)

2.1.3.2. Corporate Bond

Corporate Bond adalah sekuritas yang mencerminkan janji dari perusahaan yang menerbitkan untuk memberikan sejumlah pembayaran berupa pembayaran kupon dan pokok pinjaman kepada pemlik obligasi, selama jangka waktu tertentu. Perusahaan yang menerbitkan obligasi disebut debitur, sedangkan investor yang membeli obligasi disebut kreditur. (Timothy and Joseph 408). Jenis-jenis Corporate Bond adalah:

2.1.3.2.1. Secured Bonds

Secured Bonds adalah obligasi yang penerbitannya dijamin oleh sejumlah aset.

2.1.3.2.2. Mortgage bonds

Mortgage bonds adalah obligasi yang penerbitannya dijamin oleh aset riil (bukan dalam bentuk finansial).

2.1.3.2.3. Unsecured bonds (Debentures)

Unsecured bonds adalah obligasi yang penerbitannya tidak memiliki jaminan. Pembayaran sangat bergantung pada kemampuan

(4)

dan kemauan dari perusahaan penerbit untuk memberikan bunga yang dijanjikan dan membayar pokok pinjaman sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Jika terjadi gagal bayar, maka pemegang obligasi akan menjadi unsecured creditors. Investor tidak memiliki hak atas harta perusahaan.

2.1.3.2.4. Convertible bonds

Convertible bonds adalah salah satu jenis obligasi yang memiliki kekhususan. Obligasi ini dapat dikonversi ketika terdapat keputusan pemilik obligasi menjadi sejumlah sekuritas lain yang diterbitkan oleh perusahaan yang sama. Biasanya sekuritas lain tersebut adalah common stock.

2.1.3.2.5. Variable-Rate bonds

Obligasi yang memberikan pembayaran kupon yang bervariasi mengikuti frekuensi bunga yang berlaku di pasar atau market rate index.

2.1.4.2.6. Putable bonds

Putable bonds adalah obligasi yang dapat dicairkan sebelum jatuh tempo sesuai dengan keputusan dari pemilik obligasi.

2.1.3.2.7. Junk bonds

Junk bonds biasanya dikenal dengan sebutan high-yield bonds, adalah obligasi yang memiliki peringkat dibawah investment grade. Disebut junk karena obligasi ini lebih berisiko dari obligasi yang berkategori investment grade.

2.1.3.2.8. International bonds

International bonds adalah obligasi yang dijual di negara lain. Obligasi dapat diperdagangkan dalam satuan mata uang negara lain atau obligasi diperdagangkan di negara lain dalam mata uang perusahaan penerbit biasanya disebut Eurobonds.

2.1.3.2.9. Super Long-Term bonds

Obigasi yang memiliki masa jatuh tempo lebih besar atau sama dengan 100 tahun.

(Timothy and Joseph 415-420)

(5)

2.1.4. Risiko-risiko dalam obligasi 2.1.4.1. Interest-Rate Risk

Harga dari sebuah obligasi akan berubah pada arah yang berlawanan dari perubahan tingkat bunga: Jika tingkat suku bunga naik, maka harga obligasi akan turun. Begitu pula sebaliknya, jika suku bunga turun maka harga obligasi akan naik. Jika seorang investor harus menjual obligasi sebelum jatuh tempo, peningkatan tingkat suku bunga bermakna bahwa investor akan mengalami capital loss (missal investor menjual obligasi dibawah harga beli). Risiko jenis ini dikenal dengan interest-rate risk atau market risk. Risiko ini merupakan risiko yang pada umumnya dialami oleh investor pada pasar obligasi.

2.1.4.2. Reinvestment Risk

Variabilitas pada tingkat reinvestment akibat adanya perubahan pada tingkat bunga pasar dinamakan reinvestment risk.

2.1.4.3. Call Risk

Sebagian perusahaan menetapkan untuk menarik atau membeli obligasi yang diterbitkannya pada harga dan waktu tertentu. Hal ini menyebabkan investor akan mengalami call risk dimana pada tanggal tertentu perusahaan penerbit obligasi akan menarik kembali obligasinya.

2.1.4.4. Default Risk

Default Risk juga berkaitan dengan risiko gagal bayar, artinya risiko penerbit obligasi yang mengalami kebangkrutan. Akibat adanya risiko ini, obligasi yang memiliki Default Risk dalam perdagangan di pasar obligasi mempunyai harga yang rendah dibandingkan dengan U.S Treaasury securities. Dilain pihak, obligasi ini dalam perdagangan di pasar obligasi memiliki yield yang lebih besar dari treasury bond.

2.1.4.5. Inflation Risk

Peningkatan Inflation risk atau purchasing power risk disebabkan oleh bervariasinya nilai aliran kas yang diterima oleh investor akibat dampak adanya security due inflasi. Contohnya jika investor membeli obligasi pada coupon rate sebesar 7%, tetapi tingkat inflasi adalah 8%, maka purchasing power aliran kas secara nyata akan dikurangi.

(6)

2.1.4.6. Exchange-Rate Risk

Obigasi yang diperdagangkan denominasi valuta asing, memiliki nilai yang tidak dapat diketahui dengan pasti. Nilai obligasi dalam mata uang lokal baru dapat diketahui ketika pembayaran kupon atau nilai pokok pinjaman terjadi.

2.1.4.7. Liquidity Risk

Liquidity atau marketable risk bergantung pada kemudahan suatu obligasi untuk dijual kembali sebesar nilai obligasinya.

2.1.4.8. Volatility Risk

Harga suatu jenis obligasi tertentu bergantung pada tingkat suku bunga dan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi nilai obligasi tersebut. Perubahan pada faktor-faktor tersebut berpengaruh pada harga obligasi. Risiko jenis ini dikenal dengan volatility risk.

2.1.5. Hubungan antara Harga dan Yield

Perubahan harga obligasi berlawanan arah dengan perubahan required yield. Hal tersebut terjadi karena harga obligasi adalah present value dari aliran kas yang akan diterima. Jika required yield naik maka present value dari aliran kas akan turun (artinya harga obligasi turun). Begitu pula sebaliknya, jika required yield turun maka present value dari aliran kas akan naik (artinya harga obligasi naik)

Harga

(2.1)

Yield

Hubungan antara Coupon Rate, Required Yield, dan Harga

Ketika coupon rate sama dengan required yield, maka harga obligasi akan sama dengan nilai par nya. Ketika yield di pasar naik melebihi coupon rate pada given point in time, harga obligasi akan menyesuaikan sehingga investor dapat mendapat bunga tambahan. Jika tidak, investor akan menjual obligasi dengan

(7)

alternatif diterbitkannya higher-yielding. Hal ini menyebabkan harga obligasi turun di bawah nilai par. Ketika obligasi dijual di bawah nilai par maka akan disebut penjualan pada harga diskon.

Jika required yield pada pasr di bawah coupon rate, obligasi tersebut harus dijual diatas nilai par nya. Hal ini dikerenakan investor yang memiliki kesempatan untuk membeli obligasi pada nilai par akan memperoleh coupon rate lebih.

Hasilnya, investor akan menawarkan harga obligasi yang lebih tinggi karena yield-nya sangat menarik. Obligasi yang dijual dengan harga diatas nilai par disebut penjualan pada harga premium. Hubungan antara coupon rate, required yield, dan harga dapat diringkas sebagai berikut:

Coupon rate < required yield < > harga < par (diskon) Coupon rate = required yield < > harga = par

Coupon rate > required yield < > harga > par (premium) (Frank J. Fabozzi, 26-28)

2.1.6. Pengukuran yield 2.1.6.1. Current yield

Current yield berhubungan dengan bunga coupon pada harga pasar.

Rumusnya adalah:

(2.1)

2.1.6.2. Yield to maturity

Yield adalah tingkat bunga yang membuat present value dari aliran kas sama dengan harga. Yield to maturity adalah pengukuran dalam cara yang sama:

aliran kas yang direalisasikan oleh investor yang memilki obligasi sampai masa jatuh tempo. Rumusnya adalah:

(2.2) Dollar coupon interest per tahun

Current yield =

Harga

a C M

P =

(1+y)² (1+y)ª t =1

(8)

Di mana, P = harga obligasi

C = semiannual coupon interest (dalam $) M = nilai pada saat jatuh tempo (dalam $) a = lamanya periode (number of year x 2)

Tabel 2.1. Tabel hubungan antara coupon rate, current yield, dan yield to maturity Penjualan obligasi pada Hubungan

Nilai par coupon rate = current yield = yield to maturity Harga diskon coupon rate < current yield < yield to maturity Harga premium coupon rate > current yield > yield to maturity Sumber: Fabozzi 44

2.1.6.3. Yield to call

Bagi obligasi yang mungkin dibeli sebelum masa jatuh tempo, pengukuran yang biasa dipakai adalah Yield to call. Yield to call adalah tingkat bunga yang membuat present value dari aliran kas sama dengan harga obligasi jika obligasi dimiliki sampai tanggal pembelian pertama. Secara matematis dapat dinyatakan:

(2.3)

Di mana, M* = call price (dalam $)

a * = lamanya periode sampai first call date (number of year x 2)

2.1.6.4. Yield (internal rate of return) for portofolio

Yield for portofolio obligasi bukan sesederhana average atau weighted average dari yield to maturity obligasi yang ada dalam sebuah portofolio. Yield for portofolio dihitung dengan menentukan aliran kas portofolio dan menentukan tingkat suku bunga yang membuat present value aliran kas sama dengan nilai pasar portofolio. Contohnya terdapat tiga obligasi dalan sebuah portofolio dengan data sebagai berikut:

a* C M*

P =

(1+y)² (1+y)ª*

t =1

(9)

Tabel 2.2. Tabel contoh tiga obligasi dalam sebuah portofolio Obligasi Coupon

rate

Masa jatuh tempo

Nilai par Harga yield to maturity

A 7 % 5 tahun $10,000,000 $9,209,000 9 %

B 10.5 % 7 tahun $20,000,000 $20,000,000 10.5 %

C 6 % 3 tahun $30,000,000 $28,050,000 8.5 %

Sumber: Fabozzi 45

Diasumsikan bahwa tanggal pembayaran coupon adalah sama di setiap obligasinya. Total nilai pasar portofolio tersebut adalah $57,259,000. aliran kas setiap obligasi dan portofolionya ditunjukkan dalam tabel berikut:

Tabel 2.3. Tabel aliran kas setiap obligasi dan portofolionya Periode

aliran kas yang diterima

Obligasi A Obligasi B Obligasi C Portofolio

1 $ 350,000 $ 1,050,000 $ 900,000 $ 2,300,000 2 350,000 1,050,000 900,000 2,300,000 3 350,000 1,050,000 900,000 2,300,000 4 350,000 1,050,000 900,000 2,300,000 5 350,000 1,050,000 900,000 2,300,000 6 350,000 1,050,000 30,900,000 32,300,000

7 350,000 1,050,000 1,400,000

8 350,000 1,050,000 1,400,000

9 350,000 1,050,000 1,400,000

10 10,350,000 1,050,000 11,400,000

11 1,050,000 1,050,000

12 1,050,000 1,050,000

13 1,050,000 1,050,000

14 21,050,000 21,050,000

Sumber: Fabozzi 46

(10)

Jika tingkat suku bunga yang digunakan adalah 4.77%, present value aliran kas akan sama dengan $57,259,000 (total nilai pasar portofolio tersebut) (Fabozzi 40- 46)

2.1.7. Tingkat – Tingkat Kualitas Obligasi

Dua sistem dari tingkat obligasi adalah Moody’s and Standard & Poor’s.

Dua sistem ini, high-grade berarti memiliki resiko kredit yang rendah, atau conversely, kemungkinan yang tinggi untuk dibayar pada masa depan. Grade obligasi tertinggi ditetapkan oleh Moody’s dengan penulisan Aaa, dan oleh Standard & Poor’s dengan penulisan AAA. Tingkat berikutnya ditulis Aa atau AA.

Kemudian tingkat ketiga kedua badan tersebut menggunakan penulisan A. Tiga grade berikutnya adalah Baa atau BBB, Ba atau BB, dan B. Ada juga grade C.

Obligasi dalam tingkat triple A (AAA atau Aaa) dinamakan obligasi utama, double A (AA atau Aa) adalah kualitas tinggi single A diterbitkan dalam upper medium- grade dan triple B (BBB atau Baa) adalah medium-grade. Empat kategori ini disebut sebagai investment grade. Tingkat rendah obligasi memiliki elemen- elemen spekulatif atau beresiko tinggi. Biasanya obligasi ini dikenal sebagai high- yield atau junk bond (Fabozzi 125).

Berikut ini adalah peringkat obligasi menurut Standard & Poor’s serta Moody’s yang diambil dari sumber: Stephen A. Ross dan Randolph W.

Westerfield, Corporate Finance (St. Louis: Times Mirror/Mosby College Publishing, 1988). Data berasal dari berbagai edisi Standard & Poor’s Bond Guide dan Moody’s Bond Guide.

Tabel 2.4. Tabel tingkat kualitas berdasarkan Standard & Poor’s Bond Guide dan Moody’s Bond Guide.

Berkualitas Sangat Tinggi

Berkualitas

Tinggi Spekulatif Tidak Bagus Standard & Poor’s AAA AA A BBB BB B CCC D Moody’s Aaa Aa A Baa Ba B Caa C Sumber: Bodie, Kane, and Marcus 472

Terkadang baik Moody’s dan Standard & Poor’s menggunakan penyesuaian untuk peringkat-peringkat ini : Standard & Poor’s menggunakan

(11)

tanda plus dan minus: A+ menunjukan peringkat A yang paling baik dan A- yang paling rendah. Moody’s menggunakan 1, 2 atau 3, dimana 1 mengindikasikan yang terkuat.

Tabel 2.5. Tabel karakteristik tingkat kualitas berdasarkan Standard & Poor’s Bond Guide dan Moody’s Bond Guide.

Moody’s

Aaa

Standard

& Poor’s AAA

Obligasi dengan peringkat Aaa atau AAA berperingkat tertinggi. Kemampuan finansial untuk membayar kembali bunga dan pokok pinjaman paling kuat.

Aa AA Obligasi dengan peringkat Aa atau AA memiliki kemampuan finansial yang kuat untuk membayar bunga dan membayar kembali pokok pinjaman. Peringkat ini beserta peringkat yang tertinggi terdiri dari obligasi kelas atas.

A A Obligasi dengan peringkat A memiliki kapasitas finasial yang kuat untuk membayar bunga dan membayar kembali pokok pinjaman, meskipun masih agak rentan terhadap efek-efek negatif pada perubahan keadaan dan kondisi ekonomi daripada obligasi pada kategori lebih tinggi.

Baa BBB Obligasi pada peringkat ini memiliki kapasitas yang cukup untuk membayar bunga dan membayar kembali pokok pinjaman. Meskipun ada perlindungan yang cukup, kondisi ekonomi yang kurang baik atau perubahan keadaan cenderung bisa melemahkan kapasitas finansial untuk membayar bunga dan membayar kembali pokok pinjaman untuk obligasi di kategori ini daripada di kategori yang lebih tinggi. Obligasi disini merupakan obligasi level menengah.

B B Caa Ca

BB B CCC CC

Pada kategori ini obligasinya cenderung spekulatif dalam membayar bunga dan membayar kembali pokok pinjaman berkenaan dengan jangka waktu obligasi. BB dan Ba tingkat spekulasinya paling rendah, CC dan Ca tingkat spekulasinya paling tinggi meskipun masih memiliki kualitas dan perlindungan, ketidakpastian atau resiko pada kondisi yang tidak baik besar. Beberapa obligasi mungkin mengalami kegagalan.

C C Peringkat ini merupakan “income bonds” dimana tidak ada pembayaran bunga.

D D Obligasi berperingkat D adalah gagal, pembayaran bunga dan pembayaran kembali pokok tertunda.

Sumber: Bodie, Kane, and Marcus 472

(12)

Beberapa macam tipe investor berkaitan dengan risiko investasi yang ditanggungnya:

1. Conservative investors. Toleransi terhadap risiko cenderung kecil. Persentase stock allocation bagi investor tipe seperti ini adalah 100 minus usia mereka.

Orang-orang seperti ini dapat melakukan split atau pembagian antara cash dan obligasi dalam berinvestasi. Seorang investor tipe conservative berusia 30 tahun dapat berinvestasi 70 persen pada saham dan 30 persen pada obligasi dan sekuritas pasar uang.

2. Moderate investors. Toleransi terhadap resiko lebih tinggi daripada conservative investors. Persentase stock allocation bagi investor tipe seperti ini adalah 110 minus usia mereka.

3. Aggressive investors. Toleransi terhadap resiko tinggi. Persentase stock allocation bagi investor tipe seperti ini adalah 120 minus usia mereka (Wiles 14).

2.2. Portofolio

2.2.1. Pengertian Portofolio

Teori portofolio adalah pendekatan investasi yang diprakarsai oleh Harry M. Makowitz (1927) seorang ekonom lulusan Universitas Chicago yang telah memperoleh Nobel Prize di bidang ekonomi pada tahun 1990. Teori portofolio berkaitan dengan estimasi investor tehadap ekspektasi risiko dan return, yang diukur secara statistik untuk membuat portofolio investasinya.

Markowitz menjabarkan cara mengkombinasikan aset ke dalam diversifikasi portofolio yang efisien. Dalam portofolio ini, risiko dapat dikurangi dengan menambah jumlah jenis aset ke dalam portofolio dan tingkat expected return dapat naik jika investasinya terdapat perbedaan pergerakan harga dari aset- aset yang dikombinasi tersebut (“Harry Max Markowitz”)

Pada prakteknya para pemodal pada sekuritas sering melakukan diversifikasi dalam investasinya dengan mengkombinasikan berbagai sekuritas, dengan kata lain mereka membentuk portofolio.

(13)

2.2.2. Karkteristik Umum Portofolio

Tingkat keuntungan yang diharapkan dari suatu portofolio tidak lain merupakan rata-rata tertimbang dari tingkat keuntungan yang diharapkan dari masing-masing sekuritas yang membentuk portofolio tersebut, yang dinyatakan dalam rumus :

(2.4)

Dalam hal ini E (Rp) adalah tingkat keuntungan yang diharapkan dari portofolio, Xi adalah proporsi dana yang diinvestasikan pada sekuritas i (i = 1, N), dan (Ri) adalah tingkat keuntungan yang diharapkan dari sekuritas i.

Untuk variance portofolio, rumusnya adalah:

(2.5)

Di mana,

σ

p² adalah variance portofolio,

σ

i² adalah variance sekuritas i (i = 1, N;

dan i≠j),

σ

ij adalah covariance sekuritas i dengan sekuritas j (dalam hal ini

σ

ij =

ρ

ij

σ

i

σ

j) (Husnan 50 dan 56)

2.3. Pengertian Mutual Fund

Mutual Fund atau yang dikenal dengan Reksa Dana adalah adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk diinvestasikan kembali dalam portofolio efek oleh manajer investasi, dan kemudian disimpan oleh bank kustodian. Jadi wadah ini berfungsi menghimpun dana dan dana-dana tersebut digunakan untuk membeli portofolio efek. Ada beberapa jenis Reksa Dana, yaitu:

1. Reksa Dana Campuran (Balanced Mutual Fund)

Wadah investasi yang berisi dana dari sejumlah investor dimana uang didalamnya diinvestasikan ke dalam berbagai produk investasi oleh sebuah Perusahaan Manajemen Investasi, terutama ke dalam produk investasi berupa saham dan obligasi.

N

E (Rp) = ∑ Xi E (Ri)

i=1

N N N

σ

p² = ∑ X

σ

i² + ∑ ∑ Xi Xj

σ

ij

i=1 i=1 j=1

(14)

2. Reksa Dana Pasar Uang (Money Market Mutual Fund)

Wadah investasi yang berisi dana dari sejumlah investor dimana uang didalamnya diinvestasikan ke dalam berbagai produk investasi oleh sebuah Perusahaan Manajemen Investasi, terutama ke dalam produk investasi Pasar Uang, seperti Sertifikat Bank Indonesia, Sertifikat Deposito, Deposito Berjangka, dan Obligasi Jangka Pendek.

3. Reksa Dana Pendapatan Tetap (Fixed Income Mutual Fund)

Wadah investasi yang berisi dana dari sejumlah investor dimana uang di dalamnya diinvestasikan ke dalam berbagai produk investasi oleh sebuah perusahaan manajemen investasi, terutama ke dalam produk investasi berpendapatan tetap, yaitu obligasi.

4. Reksa Dana Saham (Stock Mutual Fund)

Wadah investasi yang berisi dana dari sejumlah investor dimana uang didalamnya diinvestasikan ke dalam berbagai produk investasi oleh sebuah Perusahaan Manajemen Investasi, terutama ke dalam produk investasi berupa saham.

5. Reksa Dana Terbuka (Open-End Mutual)

Reksa Dana dimana Pemegang Unit Penyertaannya terbuka untuk menjual kembali Unit Penyertaan yang dimilikinya kepada Perusahaan Manajemen Investasi yang menerbitkan Reksa Dana tersebut.

6. Reksa Dana Tertutup (Closed-End Mutual Fund)

Reksa Dana dimana Pemegang Unit Penyertaannya tidak menjual kembali Unit Penyertaan yang dimilikinya kepada Perusahaan Manajemen Investasi yang menerbitkan Reksa Dana tersebut. Pemegang Unit Penyertaan hanya bisa menjual Unit Penyertaan yang dimilikinya kepada investor lain, dimana mekanisme penjualan tersebut dilakukan di Bursa Efek (“Kamus keuangan”).

2.4. Hubungan antara Obligasi, Portofolio, dan Mutual Fund

Investor yang ingin berinvestasi memiliki motif untuk membuat perputaran terhadap uang yang dimilikinya dengan harapan agar uang yang diinvestasikan dapat memberikan return di masa akan datang. Namun dalam

(15)

berinvestasi, para investor juga dihadapkan pada pilihan resiko. Untuk mengurangi resiko bisa dilakukan diversifikasi yang lebih dikenal dengan portofolio. Portofolio bertujuan untuk mengurangi tingkat risiko dan tetap memberikan tingkat keuntungan tertentu. Portofolio merupakan sebuah strategi investasi dengan menempatkan dana dalam berbagai instrumen investasi.

Reksadana biasanya menyediakan manajer investasi yang dapat membantu investor dalam menempatkan proporsi yang efektif pada portofolio investasi investor. Portofolio investasi dari Reksadana terdiri dari berbagai macam instrumen surat berharga seperti saham, obligasi, instrumen pasar uang, atau campuran dari instrumen-instrumen diatas.

Dalam portofolio yamg didominasi obligasi terdapat 2 (dua) jenis obligasi yang berbeda dalam tingkat return dan resikonya, yaitu obligasi yang berkategori Investment Grade dan obligasi yang berkategori Speculative Grade. Obligasi dengan kategori Investment Grade memiliki return dan resiko yang lebih rendah dibanding dengan Obligasi yang berkategori Speculative Grade.

Pada Merrill Lynch Mutual Fund terdapat dua jenis portofolio pendapatan tetap yang digolongkan berdasarkan credit rating. Portofolio tersebut adalah high yield income bond fund, dimana dalam portofolio ini didominasi oleh obligasi berkategori Speculative Grade serta investment grade and intermediate term portfolio, dimana dalam portofolio ini didominasi dengan kategori Investment Grade.

Pada setiap portofolio yang ditawarkan oleh Merrill Lynch terdapat perbedaan proporsi obligasi dari periode sebelum maupun setelah terjadinya tragedi World Trade Center. Perbedaan komposisi dalam setiap portofolio ini dipengaruhi oleh kondisi investor Amerika Serikat saat itu.

(16)

2.5. Kerangka Berpikir

Gambar 2.2. Kerangka berpikir perbandingan return dan risiko portofolio yang Didominasi oleh obligasi berkategori investment grade dangan portofolio portofolio yang didominasi oleh obligasi berkategori speculative grade.

2.6. Hipotesis

Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah:

Hipotesa 1: Return dari portofolio yang didominasi oleh obligasi berkategori speculative grade lebih besar secara signifikan dari portofolio yang didominasi oleh obligasi berkategori investment grade.

Hipotesa 2: Risiko portofolio yang didominasi oleh Obligasi dengan kategori speculative grade lebih besar secara signifikan dari risiko portofolio yang didominasi oleh Obligasi dengan kategori investment grade.

Portofolio Obligasi

Return & Risiko dari portofolio yang didominasi

Obligasi berkategori investment grade

Return & Risiko dari portofolio yang didominasi

Obligasi berkategori speculative grade

Perbandingan Kinerja Portofolio yang didominasi oleh Obligasi berkategori invesment grade dengan Portofolio yang

didominasi oleh Obligasi berkategori speculative grade

Referensi

Dokumen terkait

Penulis memilih panelis yang tidak terlatih dikarenakan Doerry (1995) menyatakan bahwa, potensi diterimanya suatu produk oleh konsumen ditentukan oleh sebagian

Serta, mulai tahun 2007, khusus untuk penyelenggaraan diklat Non-gelar substantif, Pemerintah Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota juga dapat meminta penyelenggara diklat-diklat non-gelar

Indikator umur dengan adopsi inovasi pembenah tanah asam humat memperoleh nilai koefisien korelasi sebesar -0.685 dengan signifikansi 0.000 yang berati bahwa

Dalam praktik transaksi jual beli di Kober Mie Setan Semolowaru ada suatu hal yang menarik untuk dijadikan sebuah penelitian yaitu mengenai pengembalian sisa

Hasil pengujian LIBS secara kualitatif seperti ditunjukan pada Tabel 3.1 sesuai dengan data BATAN (2005) [6], yang menunjukan bahwa radionuklida dominan yang ada dalam gypsum

Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan moda transportasi sepeda motor dan angkutan umum jenis mikrolet, serta mengetahui probabilitas terpilihnya moda

Kenapa seorang fisikawan bisa menghasilkan konsep-konsep yang sekarang dipakai dalam matematika, hal ini dikarenakan fenomena-fenomena alam yang ada di fisika

Proses pengukuran, misalnya, dapat digunakan dalam pengukuran massa benda menggunakan neraca seraya mengembangkan: (1) konsep berat benda, memenuhi domain I; (2)