• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Tumor Otak 2.1.1 Definisi Tumor Otak

Tumor otak terjadi karena adanya pertumbuhan sel otak yang abnormal di dalam atau sekitar otak yang berkembang tidak terkendali.

Tumor otak dalam bahasa radiologis artinya lesi desak ruang atau Space Occupying Lesion (SOL) (YSP & Amroisa, 2015). Ada dua jenis tumor otak yaitu tumor otak primer dan tumor otak sekunder. Tumor otak primer yaitu tumor yang terjadi diakibatkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali dari sel otak tersebut. Tumor otak primer terdiri lagi dari beberapa jenis yaitu Glioma, Meningioma, medulloblastoma. Tumor otak sekunder disebabkan oleh tumor yang menyebar dari tubuh bagian lain ke otak (Suta et al., 2019). Sel tumor terus tumbul secara abnormal pada daerah Central Nervous System (CNS) dan terus mendesak jaringan otak disekitarnya sehingga dapat memunculkan gangguan neurologis (YSP & Amroisa, 2015).

Tumor otak disebut juga neoplasma yaitu pertumbuhan jaringan yang abnormal yang tidak terkendali pada tubuh manusia. Seharusnya, sel normal pada tubuh manusia mampu mengganti sel yang sudah tua ataupun rusak dengan sel yang baru namun adanya tumor yang berkembang membentuk massa di ruang tengkorak sehingga terjadilah tumor otak itu sendiri (Musadir, 2016).

2.1.2 Anatomi dan Fisiologi Otak

Otak merupakan organ yang paling rumit dan mengendalikan semua fungsi tubuh manusia. Otak terdiri dari serebrum, serebelum, dan terdapat batang otak yang terbentuk oleh mesensefalon, pons dan medulla oblongata.

Terdapat kalvaria dan durameter yang apabila disingkirkan terdapat lapisan arachnoid mater kranialis dan pia mater kranialis sehingga terlihat adanya gyrus, sulkus dan fisura korteks serebri. Hemisper serebri didapat dari sulkus

(2)

dan fisura korteks yang mana menjadi daerah lebih kecil yang disebut lobus (Yueniwati, 2017).

2.1.2.1 Anatomi otak

a. Serebrum (Otak Besar)

Gambar 2.1 Anatomi Otak Besar Sumber: (Yueniwati, 2017)

Serebrum terdiri atas dua hemisfer. Hemisfer kanan mengendalikan tubuh bagian kiri begitupun sebaliknya pada hemisfer kiri. Tiap-tiap hemisfer terdiri dari empat lobus. Gyrus merupakan bagian lobus yang menonjol serta sulkus merupakan bagian lekukan yang menyerupai parit. Serebrum terdiri dari lobus frontal, lobus parietal, lobus oksipital dan lobus temporal (Yueniwati, 2017).

1. Lobus Frontal

Lobus frontal yaitu lobus yang berada pada bagian depan serebrum. Lobus frontal berfungsi mengendalikan gerakan otot, bola mata, pusat bicara (area broca) dan mengontrol aktivitas intelektual (area asosiasi) (Yueniwati, 2017).

2. Lobus Parietal

Lobus parietal yaitu lobus yang berada pada area tengah otak besar. Letak lobus ini dibatasi oleh sulkus sentralis dan pada bagian belakang terdapat garis yang ditarik dari sulkus parietooksipital ke ujung posterior sulkus lateralis (Sylvian).

(3)

Lobus ini berfungsi menerima impuls dari serabut saraf sensorik thalamus yang dikaitkan dengan semua bentuk sensasi serta mampu mengenali jenis rangsangan somatik (Yueniwati, 2017).

3. Lobus Oksipital

Lobus oksipital berada pada bagian belakang dari lobus temporal dan parietal. Lobus ini dapat menginterpretasikan objek yang ditangkap oleh retina mata sehingga terdapat rangsangan visual (Yueniwati, 2017).

4. Lobus Temporal

Lobus Temporal terdapat pada bagian bawah dan posisinya dipisah dari lobus oksipital oleh sebuah garis yang jika ditarik secara vertikal ke bawah dari ujung atas sulkus lateral.

Lobus ini memiliki beberapa fungsi seperti pemaknaan dalam penerimaan informasi, kemampuan dalam pendengaran serta bahasa dalam bentuk suara (Yueniwati, 2017). Setiap lobus memiliki beberapa bagian atau area sehingga terdapat fungsi masing-masing yaitu sebagai berikut (Yueniwati, 2017):

Gambar 2.2 Fungsi Masing-Masing Area Otak Besar Sumber: (Yueniwati, 2017)

1) Area visual (berfungsi untuk pengenalan dan persepsi gambar serta melihat objek)

2) Area asosiasi (berfungsi dalam hal memori jangka pendek, pengaturan emosi serta keseimbangan)

(4)

3) Area fungsi motor (berfungsi untuk menggerakan otot volunteer)

4) Area Broca’s (berfungsi untuk menggerakkan otot berbicara)

5) Area auditori (berfungsi untuk mendengar)

6) Area emosi (berfungsi untuk memberikan beberapa respon seperti rasa lapar, rasa nyeri dan respon untuk mempertahankan diri)

7) Area sensosi asosiasi

8) Area olfaktori (membantu manusia untuk mencium bau- bauan)

9) Area sensori (berfungsi untuk merasakan sensasi dari kulit ataupun otot)

10) Area asosiasi somatosensory (area ini berfungsi untuk membantu pengenalan objek, temperature, melakukan evaluasi berat dan tekstur)

11) Area wernickle’s (kemampuan bahasa bicara serta menulis)

12) Area fungsi motor (kemampuan orientasi dan pergerakan bola mata)

13) Fungsi psikis yang tinggi (berfungsi untuk membantu manusia dalam hal melakukan perencaan, keputusan, kreativitas, ekspresi terhadap emosi, konsentrasi dan sifat untuk menahan diri)

b. Serebelum (Otak Kecil)

Serebelum terletak pada bagian bawah belakang kepala, dekat pada batang otak area belakang dan lobus oksipital bagian bawah serta dekat pada ujung leher bagian atas. Serebelum memiliki beberapa fungsi yaitu pusat tubuh dalam mengontrol gerakan seperti keseimbangan, koordinasi otot dan gerakan tubuh. gerakan tersebut juga dapat seperti mengendarai mobil, menulis, mengunci pintu dan

(5)

sebagainya. Gerakan tersebut disimpan secara otomatis oleh serebelum (Terry & Weaver, 2012; Yueniwati, 2017).

c. Batang Otak

Batang otak terletak di dalam tulang tengkorak dan memanjang hingga medulla spinalis. Batang otak berfungsi untuk mengontrol denyut jantung, tekanan darah, pernapasan, kesadaran, pola tidur dan makan. Apabila terdapat massa maka terdapat gejala yang muncul seperti muntah, sulit menelan, sakit kepala ketika bangun, diplopia serta adanya kelemahan pada otot wajah. Batang otot terdapat tiga bagian yaitu mesensefalon, pons dan medulla oblongata (Terry & Weaver, 2012; Yueniwati, 2017).

1. Mesensefalon

Otak tengah atau biasa disebut mesensefalon yaitu bagian paling atas dari batang otak yang menghubungkan antara otak besar (serebrum) dan otak kecil (serebelum). Otak tengah mengendalikan penglihatan, pergerakan bola mata, besar kecilnya pupil, mengatur keseimbangan dan pendengaran.

Selain itu, saraf kranial III (Okulomotor) dan IV (Trochlear) juga terhubung dengan otak tengah. Saraf kranial III berfungsi untuk kontraksi pupil, dan pergerakan extraocular. Saraf kranial IV untuk pergerakan bola mata (Terry & Weaver, 2012;

Yueniwati, 2017).

2. Pons

Pons terdapat pada bagian dari batang otak dan terletak antara otak tengah dan medulla oblongata serta terletak di fossa kranial posterior. Saraf kranial V (Trigeminal) juga terhubung dengan pons. Saraf kranial ini berfungsi untuk mengunyah, membuka rahang, sensasi taktil dari wajah, kornea, oral dan mukosa hidung (Terry & Weaver, 2012; Yueniwati, 2017).

(6)

3. Medulla Oblongata

Bagian ini merupakan bagian paling bawah belakang dari batang otak dan berlanjut ke medulla spinalis serta terletak pada fossa kranial posterior. Nervus IX (Glossopharyngeal), X (Vagus), dan XII (Hypoglossal) terhubung dengan medulla, sedangkan nervus VI (Abdusens) dan VIII (Akustik) terletak antara pons dan medulla. Saraf kranial IX berfungsi untuk menelan, berbicara, refleks gag dan produksi saliva, saraf kranial X berfungsi untuk mengontrol proses volunter dari menelan dan proses involunter terhadap aktivitas jantung, paru dan tractus digestif. Saraf kranial XII berfungsi untuk pergerakan lidah. Untuk saraf kranial VI berfungsi untuk pergerakan lateral dari bola mata serta saraf kranial VIII berfungsi untuk keseimbangan dan pendengaran (Terry &

Weaver, 2012; Yueniwati, 2017).

2.1.2.2 Fisiologi Otak

Otak manusia memiliki berat 1200-1400 gram. Saat keadaan istirahat otak memerlukan oksigen sebanyak 20% dari seluruh kebutuhan oksigen tubuh dan memerlukan 70% glukosa tubuh.

Setiap menit, oksigen yang diperlukan oleh otak sebanyak 800 cc dan glukosa sebanyak 100 mg. Otak memerlukan glukosa sebagai sumber energi dan menjadi sumber utama oleh sel otak selain oksigen. Energi yang diperoleh ini dikelompokkan menjadi dua fungsi yaitu untuk mempertahankan integritas sel membrane dan membuang produk toksik serta untuk proses sintesis dan membantu pelepasan neurotransmitter (Terry & Weaver, 2012; Yueniwati, 2017),

2.1.3 Etiologi Tumor Otak

Tumor otak belum diketahui secara pasti faktor penyebabnya namun terdapat dugaan timbulnya suatu tumor yaitu bawaan, radiasi, virus, zat-zat karsinon dan embryonal yang tertinggal.

(7)

a. Genetik

Meningioma, astrocytoma dan neurofibroma meerupakan tumor yang terjadi akibat factor bawaan dan dapat dijumpai pada anggota keluarga.

Selain itu, jenis-jenis neoplasmatersebut tidak terdapat bukti yang kuat untuk membuktikan adanya factor genetik (Makmur & Siregar, 2020;

Nurarif & Kusuma, 2015).

b. Sel embryonal yang tertinggal

Tumor ini diakibatkan karena sudah terjadi keganasan, tumbuh terus menerus dan merusak jaringan disekitarnya. Pertumbuhan abnormal ini dapat dijumpai pada kraniofaringioma, khordoma yang berpangkal pada Ratkhe dan korda dorsalis. Sel embryonal tertinggal di dalam tubuh manusia dan menjadi ganas sehingga merusak atau menghancurkan sel di sekelilingnya (Makmur & Siregar, 2020; Nurarif & Kusuma, 2015).

c. Radiasi

Jaringan pada sistem saraf pusat peka terhadap radiasi sehingga mampu terjadi perubahan degenerasi. Jenis radiasi yang dapat menimbulkan tumor yaitu radiasi dengan dosis sub terapeutik sehingga dapat merangsang sel-sel mesenkhimal. Selain itu, paparan sinar X, gamma ray, infrared, ultraviolet dapat meningkatkan resiko tumor otak (Makmur

& Siregar, 2020; Nurarif & Kusuma, 2015; Yueniwati, 2017).

d. Virus

Virus Epstein Barr menimbulkan neoplasma dan disangka berperan sebagai Burkitt;s Lymphoma (Makmur & Siregar, 2020).

e. Zat Karsinogen

Methhyl cholanthrene dan nitroso ethyl urea merupakan zat yang diakusi sebagai zat karsinogenik dapat memunculkan tumor. Selain itu, zat karsinogenik dpat ditemukan pada daun kayu manis, pala, selasih, adas manis, minyak mawar, kuncup cengkeh dan lainnya (Makmur & Siregar, 2020; Nurarif & Kusuma, 2015).

f. Gaya hidup

Makanan yang diawetkan, daging asap atau acar berhubungan terhadap peningkatan resiko terjadinya tumor otak (Nurarif & Kusuma, 2015).

(8)

2.1.4 Klasifikasi Tumor Otak

Tumor otak terbagi menjadi beberapa hal yaitu berdasarkan derajat keganasan (tumor otak jinak dan tumor otak ganas), berdasarkan peletakannya (tumor intra aksial dan ekstra aksial). Pada tumor otak ekstra aksial terbagi lagi menurut tempatnya yaitu pada rongga subarachnoid, parenkim otak, tulang tengkorak dan meningen. Tumor intra aksial yaitu tumor yang terletak di dalam otak sedangkan ekstra aksial adalah tumor yang berada di luar jaringan otak seperti berada pada selaput otak (meningen) (Yueniwati, 2017).

Tumor otak pada susunan saraf telah ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) mengenai sistem stadium atau keganasan untuk merencanakan penatalaksanaan dan memprediksi terhadap pertumbuhan tumor otak. Beberapa tingkatan sebagai berikut: (Musadir, 2016)

a. Grade I

Tumor stadium grade I mampu berkembang secara lambat atau pelan dengan ukuran sel tampak kecil ataupun normal serta jarang menyebar di sekitar jaringan lunak lainnya. Pada stadium grade I ini, tindakan operasi dapat dilakukan untuk pengangkatan tumor.

b. Grade II

Tumor stadium grade II dapat dilihat pada jaringan lunak terdapat penyebaran namun berkembang secara lambat. Ketika telah terjadi stadium grade II, tumor mampu berkembang ke grade yang lebih tinggi.

c. Grade III

Tumor stadium grade III berkarakteristik cepat menyebar ke jaringan lunak lainnya dan dapat terlihat perbedaan antara sel tumor dengan sel normal yang jelas.

d. Grade IV

Tumor stadium grade IV berkembang sangat cepat dan agresif serta sangat terlihat dengan jelas perbedaan antara sel tumor dengan sel normal lainnya. Stadium IV ini, tumor sudah sangat sulit untuk dilakukan terapi.

(9)

2.1.5 Manifestasi Klinis Tumor Otak 2.1.5.1 Gejala tumor otak secara umum

Gangguan mental ringan (psikomotor asthenia) yang dapat terjadi pada penderita dengan tumor otak labil, pelupa, mudah tersinggung serta timbulnya ansietas dan depresi. Selain itu terdapat beberapa gejala umum lainnya:

a. Nyeri kepala

Pada tumor otak, umumnya gejala awal pada pasien tumor otak berupa nyeri kepala. Nyeri kepala sangat bervariasi dari ringan hingga episodik berat. Nyeri kepala pada pasien tumor otak umumnya bertambah berat pada malam dan pagi hari saat bangun tidur serta dapat menimbulkan peningkataan tekanan intrakranial. Psikomotor asthenia yang timbul dengan nyeri kepala patut dicurigai sebagai tumor otak (Yueniwati, 2017). Nyeri kepala terbagi menjadi dua jenis yaitu nyeri kepala primer dan sekunder. Nyeri kepala primer seperti tegang (terasa nyeri tumpul, tertekan dan seperti nyeri kepala sakit sinus), migrain serta nyeri kepala cluster sedangkan untuk nyeri kepala sekunder didasari karena adanya tumor intracranial, rupture aneurisma dan infeksi. Nyeri kepala yang timbul akibat adanya tumor otak lebih buruk pada pagi hari dan dapat diperparah oleh manuver valsava (Dananjiyo et al., 2019).

b. Muntah

Muntah dapat terjadi pada pasien dengan tumor otak diiringi dengan timbulnya nyeri kepala. Umumnya muntah pada peningkatan TIK bersifat proyektil tanpa disertai rasa mual.

c. Kejang

Pasien dengan tumor otak umumnya mengalami bangkitan kejang dan dapat dicurigai apabila baru terjadi di usia 25 tahun keatas, memiliki status epilepsi, resisten terhadap obat epilepsi dan bangkitan disertai dengan gejala Tekanan Intra Kranial (TIK) (Yueniwati, 2017).

2.5.1.2 Gejala Tekanan Intrakranial

Tekanan Intra Kranial timbul dengan keluhan adanya nyeri kepala pada area otak frontal dan oksipital yang muncul pada malam atau pagi hari disertai

(10)

dengan muntah proyektil dan kesadaran menurun. Gejala yang timbul juga terdapat parase pada nervus VI (Yueniwati, 2017). Peningkatan TIK juga dapat dilihat dari deskripsi nyeri pasien, seperti nyeri muncul apabila dalam posisi supinasi, batuk atau mengejan (Haq et al., 2019).

2.5.1.3 Gejala-gejala tumor otak yang spesifik

Gejala tumor otak yang spesifik sebagai berikut (Komite Penanggulangan Kanker Nasional, 2015):

a. Gejala Tumor Otak pada Lobus Frontal

1. Timbulnya gejala perubahan kepribadian seperti penderita menunjukkan gejala depresi atau masalah psikiatrik

2. Timbulnya kejang fokal akibat jaras motorik tertekan oleh tumor hemiparase kontra lateral

3. Tumor yang menekan pada permukaan media akan menimbulkan gejala inkontinentia

4. Tumor yang berada pada lobus dominan akan menimbulkan gejala afasia

b. Gejala Tumor Otak pada Lobus Temporal 1. Timbulnya gejala hemianopsia

2. Timbulnya gejala neuropsikiatrik seperti dejavu, amnesia dan hypergraphia

3. Jika terdapat lesi pada lobus yang dominan menimbulkan afasia c. Gejala Tumor Otak pada Lobus Parietal

1. Timbulnya gangguan motorik dan sensorik yang kontra lateral 2. Ditemukan gejala homonymous hemianopia (hanya melihat satu

sisi)

3. Jika terdapat lesi pada yang dominan di lobus parietal menimbulkan gejala disfasia dan jika terdapat lesi pada lobus yang tidak dominan menimbulkan gejala geographic agnosia dan dressing apraxia

d. Gejala Tumor Otak pada Lobus Oksipital

1. Pergerakan kontra lateral dari homonymous hemianopia 2. Timbulnya gangguan penglihatan menjadi object agnosia

(11)

3. Gejala Tumor Otak di Tumor di Cerebello Pontin Angle 4. Pasien mengalami gangguan pada fungsi pendengaran e. Gejala Tumor Otak di Glioma Batang Otak

Timbulnya gejala neuropati kranial seperti diplopia, kelemahan pada area wajah dan dysarthria.

f. Gejala Tumor Otak pada Area Serebelum

1. Adanya gangguan berjalan dan timbulnya tekanan intracranial (mual, muntah dan timbul nyeri kepala hebat)

2. Nyeri kepala pada area oksipital hingga ke leher dan terdapat spasme pada otot servikal

2.1.6 Pemeriksaan Penunjang Tumor Otak a. Pemeriksaan Laboratorium:

Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat secara umum keadaan pasien dan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam terapi yang akan diberikan. Pemeriksaan dapat berupa pemeriksaan darah lengkap LDH, hemostasis, fungsi ginjal dan hati, kadar gula darah serta elektrolit lengkap (Komite Penanggulangan Kanker Nasional, 2015; Yueniwati, 2017)

b. Pemeriksaan Radiologi

1. Pemeriksaan Computered Tomography (CT) Scan

Pemeriksaan ini bertujuan ntuk melihat adanya tumor pada langkah awal penegakan diagnosa, dapat melihat adanya kalsifikasi, timbulnya lesi atau destruksi pada tulang tengkorak (Yueniwati, 2017).

2. Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Pemeriksaan ini menggunakan teknik pencitraan untuk pemeriksaan otak dan mempunyai resolusi kontras serta spasial yang tinggi.

Pemeriksaan MRI dpat mengdiagnosis tumor otak dan dapat memberikan informasi jika ditambahkan dengan Magnetic Resonance Spectroscopy (MRS). MRS ini dapat mengukur konsentrasi dari berbagai komponen biokimia dalam jaringan tubuh (Hulmansyah, 2020). Pemeriksaan ini mampu melihat gambaran

(12)

jaringan lunak dengan jelas serta mampu melihat tumor infratentorial namun mempunyai keterbatasan dalam hal kalsifikasi (Komite Penanggulangan Kanker Nasional, 2015; Yueniwati, 2017) 3. Pemeriksaan Diffusion Weighted Imaging (DWI)

Pemeriksaan ini merupakan model pencitraan echoplanar yang mengukur gerakan acak molekul air. Saat melakukan diagnosis tumor otak, DWI dapat mendiagnosis abses, nekrotik dan metastasis serta menilai usia iskemik otak (Yueniwati, 2017).

4. Pemeriksaan Digital Substraction Angiography (DSA)

Teknik ini menggunakan sinar-X bertujuan untuk mendeteksi pembuluh darah yang memberikan suplai ke tumor otak serta mengontrol embolisasi tumor hipervaskular (Yueniwati, 2017).

2.1.7 Patofisiologi Tumor Otak

Tumor otak terbagi menjadi dua yaitu tumor otak primer dan sekunder atau adanya metastasis. Tumor otak primer timbul dari jaringan intrakranial termasuk dari sel glial, neuron, meningen dan astrosit. Proses terjadinya tumor otak primer terkait dengan adanya mutase yang telah terpapar radiasi sehingga menyebabkan rusaknya struktural sel otak. Akibat adanya paparan, sel-sel mengalami mekanisme adaptasi seluler sehingga terdapat perubahan morfologi pada sel otak. Perubahan ireversibel dapat terjadi karena sel otak terus menerus terkena radiasi atau mutagen yang dapat menyebabkan mutase DNA. Inaktivasi tumor supresor gen dan aktivasi onkogen akan terjadi sehingga pembelahan sel otak tidak normal disertai adanya penurunan mekanisme kematian sel (apoptosis). Berdasarkan runtutan kejadian akan memicu perkembangbiakan sel-sel otak yang dapat berkembang menjadi tumor otak. Adanya metastasis dari tumor primer di tempat lain sehingga menyebar melalui aliran darah dan menembus dinding pembuluh darah disebut dengan tumor otak sekunder. Adanya pergerakan tumor dapat menyerang parenkim otak, pia meter dan duramater.

Tumor otak menimbulkan gangguan neurologis secara bertahap.

Gangguan ini disebabkan dua faktor yaitu gangguan fokal dan kenaikan tekanan intracranial. Gangguan fokal terjadi karena adanya jaringan otak

(13)

tertekan dan infiltrasi sehingga terjadi invasi langsung pada parenkim otak.

Akibat adanya penekanan sehingga terjadi perubahan suplai aliran darah ke jaringan otak. Hal inilah yang dapat memunculkan serangan kejang. Selain itu, peningkatan tekanan intrakranial karena beberapa faktor seperti bertambahnya massa dalam tengkorak, timbulnya edema disekitar tumor dan perubahan sirkulasi cairan serebrospinal. Akibatnya, terjadi peregangan pada meningens sehingga terjadi proses aktivasi mekanoreseptor yang mempengaruhi kemoresptor. Hal ini menimbulkan gejala mual dan muntah.

Massa tumor pada otak yang semakin bertambah memicu timbulnya herniasi jaringan (pergeseran) di bawah falx cerebri melalui tentorium cerebelli atau melalui foramen magnum. Akibatnya timbul obstruksi vena dan edema karena kerusakan sawar darah otak akan meningkatkan tekanan intrakranial.

Untuk hidrosefalus terjadi akibat terhalangnya aliran cairan serebrospinal karena tumor yang berdekatan dengan ventrikel ketiga dan keempat.

(Ilawanda & Atsani, 2021)

2.1.8 Penatalaksanaan Tumor Otak 2.1.8.1 Penatalaksanaan Medis

Pasien dengan tumor otak yang mengalami penurunan kesadaran, pupil anisokor, lateralisasi apabila mengalami kejang dapat diberikan diazepam, fenitoin. Jika terjadi Edema dapat diberikan dexametason, diuretik. Dexametason sebagai steroid dapat menjadi pilihan untuk mengatasi masalah neurologi dengan dosis besar 10-20 mg secara intravena.

Dosis harian dapat naik hingga 100 mg jika perlu. Apabila pasien tumor otak kejang dapat diberikan diazepam dengan dosis 0.3-0.5 mg/kgBB secara intravena dengan kecepatan 0.5-1 mg/menit (3-5 menit). Jika, kejang tetap ada berikan fenitoin dengan dosis 10-20 mg/KgBB secara intravena dengan kecepatan 0.5-1 mg/kgBB/menit. Pasien tumor otak yang mengalami muntah dapat diberikan Omeprazole 40 mg/12 jam dengan jalur intravena atau obat Ranitidin dengan dosis 150 mg/6-8 jam dengan jalur intravena (Haq et al., 2019).

(14)

2.1.8.2 Penatalaksanaan Keperawatan

Penatalaksanaan kegawatdaruratan umumnya dengan pendekatan

“ABCDE” (Airway, Breathing, Circulation, Disability dan Exposure).

Pertama, masalah jalan napas yang mengancam jiwa dapat terkaji dan ditangani, Kedua, masalah pernapasan yang mengancam jiwa juga dapat ditangani begitupun seterusnya.

a. Airway (Jalan napas)

Pasien yang dapat merespon dengan suara yang normal artinya jalan napasnya paten. Jalan napas yang tidak paten dapat diakibakan karena adanya obstruksi parsial atau kompleks. Pasien dengan penurunan kesadaran umumnya dikarenakan adanya obstruksi jalan napas dan mengeluarkan suara snoring. Jalan napas yang tidak paten dapat diatasi dengan melakukan suction untuk menghilangkan obstruksi dan dapat melakukan posisi head-tilt chin-lift (Krarup & Grove, 2013).

Pengkajian jalan napas dikaji berupa pasien dapat berbicara dengan normal, kaji warna kulit, waspada terhadap ketidaknormalan (wheezing, snoring, gurgling atau snoring bahkan tidak mengeluarkan suara), inspeksi mulut dan kaji kemungkinan adanya cedera tulang belakang (Olgers et al., 2017).

b. Breathing (Pernapasan)

Pada semua kasus, kita dapat membandingkan jumlah pernapasan, melihat pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu napas untuk melihat apakah pernapasan pasien memadai. Jika, pernapasan tidak memadai dapat dibantu dengan ventilasi berupa pemberian rescue breathing serta bisa menggunakan Bag Valve Mask (BVM) (Krarup &

Grove, 2013). Pengkajian pernapasan dapat dilakukan dengan menggunakan pulse oximetry dan kaji saturasi, dengarkan suara paru, kaji respiratory rate, waspada terhadap penggunaan otot bantu napas dan inspeksi pergerakan dinding dada (Olgers et al., 2017).

c. Circulation (Sirkulasi)

Inspeksi warna kulit, tes Capillary Refill Time (CRT) dan ukur denyut jantung pasien untuk mengetahui apakah terdapat masalah pada

(15)

sirkulasi. Perubahan warna kulit, berkeringat dan penurunan kesadaran merupakan gejala dari penurunan perfusi. Monitoring Electrocardiography (EKG) dan pengukuran tekanan darah harus dilakukan. Akses Intravena harus segera dilakukan dengan memposisikan supine atau mengangkat kaki pasien (Krarup & Grove, 2013). Pengkajian sirkulasi dapat dilakukan dengan mengukur tekanan darah, denyut jantung, CRT dan ritme dari jantung. Kaji suhu kulit dan kelembaban, inspeksi JVD dan palpasi nadi perifer (Olgers et al., 2017).

d. Disability (Disabilitas)

Tingkat kesadaran pasien dapat dengan cepat diukur dengan metode AVPU ataupun Glasgow Coma Scale (GCS). Alert (A), Voice Responsive (V), Pain Responsive (P) atau Unresponsive (U).

Pergerakan ekstremitas juga perlu dilakukan inspeksi untuk mengevaluasi tanda gejala potensial dari adanya laterasi. Selain itu, periksa reflek pupil dan glukosa darah karena penurunan kesadaran juga dapat terjadi karena rendahnya kadar gula. Tatalaksana pada permasalahan pasien yang bermasalah di area serebral yaitu melakukan stabilisasi jalan napas, pernapasan dan sirkulasi. Jika, pasien hanya memberikan respon dari pemberian nyeri ataupun pasien tidak responsif, jalan napas perlu dipastikan, posisikan pasien pada posisi recovery (Krarup & Grove, 2013). Pengkajian disabilitas dapat dilakukan dengan mengkaji tingkat kesadaran, kaji fungsi motorik dari ekstremitas, evaluasi bentuk pupil dan refleks cahaya (Olgers et al., 2017).

e. Exposure

Lihatlah tanda trauma, perdarahan, reaksi kulit. Jika menemukan pasien dengan permasalahan tertentu, lepaskan pakaian dan lakukan pengkajian head to toe. Ukur suhu tubuh dengan menggunakan thermometer (Krarup & Grove, 2013). Pengkajian exposure dapat dilakukan dengan mengukur suhu tubuh, pengkajian head to toes, reaksi kulit dan gejala Deep Venous Thrombosis (DVT) (Olgers et al., 2017).

(16)

2.1.8.3 Penanganan Gejala dari Tumor Otak Berdasakan Aspek Keperawatan a. Kejang

Pasien tumor otak disertai dengan kejang dapat diatasi dengan sikap tenang dan paham terhadap kondisi. Pastikan lingkungan aman, tidak di restrain ataupun terdapat sesuatu yang berbahaya di area mulutnya.

Hitung waktu kejadian saat kejang, jika kejang > 5 menit segera lakukan tindakan keperawatan. Jika ditemukan pasien kejang dengan penurunan kesadaran diatasi dengan letakkan bantal pada area kepala, hilangkan benda-benda tajam, miringkan pasien untuk menghindari terjadiny aspirasi karena saliva atau emesis.

b. Nyeri Kepala

Perawat dapat membantu pemberian terapi obat-obatan yaitu dengan pemberian Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDS).

Apabila terjadi adanya edema akibat peningkatan tekanan intra kranial, obat kortikosteroid dapat diberikan. Perawat dapat memantau efek samping seperti perubahaan mood, insomnia, hiperglikemia, perubahan warna kulit dan lainnya.

(Siegel & Armstrong, 2018) 2.1.9 Komplikasi Tumor Otak

Tumor otak dapat menimbulkan beberapa komplikasi yaitu:

a. Edema serebral

Edema serebral terjadi karena adanya cairan yang secara berlebih pada otak sehingga terjadi penumpukan di sekitar lesi akibatnya massa semakin bertambah

b. Hidrosefalus

Hidrosefalus dapat timbul karena peningkatan intrakranial akibat adanya perkembangan massa di dalam rongga cranium.

c. Herniasi otak

Herniasi otak adalah perpindahan jaringan serebral dari lokasi semula atau normal namun jaringan tersebut mendesak area disekitarnya sehingga dapat membahayakan keselamatan jiwa penderita. Herniasi otak dapat menimbulkan kerusakan otak, menekan saraf kranial dan

(17)

pembuluh darah yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan atau iskemik ataupun obstruksi pada cairan serebrospinal yang dapat memproduksi atau terjadinya hidrosefalus (Gilardi et al., 2019).

Herniasi diakibatkan peningkatan TIK. Oleh karena itu dapat terjadi kerusakan otak secara permanen bahkan kematian. Herniasi terdapat tanda trias cushing yaitu bradikardi, hipertensi dan pernafasan tidak teratur merupakan tanda herniasi yang mengancam (Tahir, 2017).

d. Epilepsi

e. Metastase ke tempat lainnya

(Yueniwati, 2017) 2.1.10 Aspek Kegawatdaruratan Tumor Otak

Faktor resiko kegawatdaruratan Tumor Otak (Haq et al., 2019):

a. Hiponatremia

Hiponatremia setelah terjadinya cedera kepala dapat mengalami gangguan homeostasis pada system saraf pusat. Cedera kepala memberikan respons stress dan mengaktivasi aksis gipotalamus- hipofisis-adrenal sehingga meningkatkan atrial natriuretic peptide (ANP), brain natriuretic peptide (BNP) dan arginin vasopressin yang memunculkan terjadinya hiponatremia. Hiponatremia yang tidak terkendali menyebabkan penurunan kesadaran dan serangan kejang akibat dari edema pada serebral, matinya sel otak serta peningkatan TIK bahkan kematian kematian (Kusumaningyas et al., 2018).

b. Anemia

Otak memerlukan oksigen dan hemoglogin sebagai pengangkut utama oksigen untuk memenuh kebutuhan jaringan serta mampu melepaskan lebih banyak oksigen saat pasokan oksigen kurang memadai. Anemia artinya terjadi penurunan jumlah sel darah merah yang beredar dalam pembuluh darah dan merupakan salah satu penyebab terjadinya cedera sekunder pada otak. Apabila anemia terjadi dapat membahayakan jiwa (Ningsih et al., 2018).

(18)

c. Hemodilusi

Hemodilusi dapat mengurangi kekentalan darah dan dapat meningkatkan aliran darah ke otak (Widyapuspita & Boom, 2016).

d. Kejang

Kejang memiliki hubungan langsung dalam terjadinya tumor otak.

Kejang dapat muncul akibat adanya lesi pada intrakranial. Kejang menjadi patokan penting dalam menilai kualitas hidup dan menjadi patokan dalam prognosis pasien. Kejang dapat membahayakan karena jaringan tumor mengiritasi otak disebabkan perubahan kelistrikan (Musadir, 2016; Siegel & Armstrong, 2018)

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan 2.2.1 Pengkajian

a. Subjektif:

Keluhan utama saat masuk rumah sakit. Kaji nyeri dengan PQRST bila terdapat nyeri

b. Objektif

1. Primary Survey 1) General Impresi:

Perhatikan orientasi klien apakah orientasinya baik ataupun tidak baik

2) Airway:

Periksa jalan napas klien apakah paten ataupun tidak paten. Jika tidak paten, dengarkan dan amati suara napas abnormal (snoring, stridor, gurgling) atau adanya obstruksi oleh lidah, cairan, benda asing.

3) Breathing:

Inspeksi pergerakan dinding dada (simetris atau asimetrik), perhatikan dan dengar irama napas klien apakah cepat, dangkal ataupun normal. Periksa pola napas klien (teratur atau tidak teratur), hitung respiratory rate (RR).

(19)

4) Circulation:

Inspeksi apakah terdapat perdarahan, perhatikan area perifer ataupun lainnya mengenai sianosis. Periksa CRT, Nadi, Tekanan darah serta MAP dan PP klien.

5) Disability:

Ukur tingkat kesadaran klien dengan Glasgow Coma Scale (GCS) ataupun dengan Alert, Verbal, Pain dan Unresponsive (AVPU).

Periksa refleks cahaya dan perhatikan bentuk pupil.

6) Exposure:

Kaji klien dengan prinsip head to toe untuk melihat apakah terdapat deformitas, Contusio, Abrasi, Penetrasi, Luka bakar, Laserassi ataupun Edema. Kaji turgor kulit klien.

2. Secondary survey a. Anamnesa:

Kaji tanda gejala, alergi, medikasi yang dikonsumsi, Riwayat penyakit sebelumnya, makan dan minum terakhir, runtutan peristiwa dan tanda-tanda vital.

b. Pemeriksaan Fisik:

Lakukan pemeriksaan fisik head to toe dengan inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.

3. Beberapa fokus pengkajian pada klien dengan gangguan neurologi:

a. Inspeksi:

1. Kaji tingkat kesadaran klien dengan GCS atau AVPU 2. Kaji Kekuatan serta koordinasi motorik tubuh dengan:

3. Romberg’s test: klien berdiri dengan kedua kaki kemudian kedua mata dibuka dan ditutup. Observasi apakah terdapat goyangan atau tanda-tanda akan terjatuh

4. RAM (Rapid Alternating Movement):

5. Kaji respon motorik abnormal terhadap stimulus: Periksa apakah terjadi dekortikasi, deserebrasi dan opisthonus.

6. Kaji bentuk pupil

7. Kaji pola dan irama napas klien

(20)

8. Kaji refleks batuk, muntah dan refleks menelan klien. Nilai posisi lidah klien jika terdapat penyimpangan ke sisi dalam mulut dapat menjadi indikasi kelumpuhan saraf kranial hypoglossal dan glossopharyngeal.

9. Periksa tanda gejala kebocoran CSF dari hidung dan telinga:

otorrhea dan rhinorrhea. Periksa juga apakah terdapat battle sign dan raccoon eyes.

b. Palpasi:

Palpasi area tubuh klien yang kemungkinan menimbulkan nyeri seperti tanda dari fraktur, kurangnya kemampuan fungsi tubuh dan dislokasi.

c. Perkusi:

1. Kaji refleks tendon seperti refleks patella, refleks tendon achiless, refleks otot triseps dan bisep, refleks Babinski.

2. Kaji tanda dari iritasi pada meningeal dengan pemeriksaan Brudzinski’s sign dan Kernig’s sign.

d. Auskultasi:

1. Kaji suara paru dan monitor proses pernapasan klien.

2. Kaji denyut jantung, dengarkan detak jantung klien 2.2.2 Diagnosa Keperawatan (SDKI)

Diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus tumor otak dengan penurunan kesadaran sebagai berikut:

a. Pola napas tidak efektif b.d hambatan upaya napas b. Penurunan curah jantung b.d perubahan irama jantung

c. Gangguan sirkulasi spontan b/d abnormalitas struktur jantung

d. Penurunan Kapastitas Adaptif Intrakranial b/d Lesi menempati ruang (tumor otak)

(21)

2.2.3 Rencana Intervensi Keperawatan (SIKI)

Tabel 2.1 Rencana Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan SLKI SIKI

Pola napas tidak efektif Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan pola napas membaik dengan kriteria hasil:

− Penggunaan otot bantu napas menurun,

− frekuensi napas membaik

− kedalaman napas membaik

Dukungan Ventilasi Observasi:

− Identifikasi adanya kelelahan otot bantu napas

− identifikasi efek perubahan posisi terhadap status pernapasan,

− monitor status respirasi dan oksigenasi (missal frekuensi dan kedalaman napas, penggunaan otot bantu napas, bunyi napas tambahan, saturasi oksigen

Terapeutik:

− Pertahankan kepatenan jalan napas,

− berikan posisi semi fowler atau fowler,

− fasilitasi mengubah posisi senyaman mungkin,

− berikan oksigenasi sesuai kebutuhan (nasal kanul, masker wajah, masker rebreating atau non rebreating), gunakan bag valve mask jika perlu

Edukasi:

− Ajarkan melakukan teknik relaksasi napas dalam,

(22)

− ajarkan mengubah posisi secara mandiri,

− ajarkan batuk efektif Kolaborasi:

− Kolaborasi pemberian bronkodilator jika perlu

Penurunan curah jantung Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan curah jantung meningkat dengan kriteria hasil:

− Bradikardia menurun

− takikardia menurun,

− gambaran EKG aritmia menurun

− tekanan darah cukup membaik

Code Management Observasi:

− Monitor tingkat kesadaran

− monitor irama jantung

− Monitor pemberian Advance Cardiac Life Support sesuai protokol yang tersedia

− monitor kualitas resusitasi jantung paru yang diberikan

− interpretasi EKG dengan akurat untuk pemberian kardioversi yang tepat

− periksa ketersediaan obat-obat emergensi.

Terapeutik:

− Panggil bantuan jika pasien tidak sadar

− aktifkan code blue, pastikan nadi tidak teraba dan napas tidak ada

− lakukan resusitasi jantung paru, jika perlu,

− pastikan jalan napas terbuka, berikan bantuan napas, jika perlu,

− pasang monitor jantung, minimalkan interupsi

(23)

pada saat kompresi dan defibrilasi,

− pasang akses vena jika perlu,

− siapkan intubasi jika perlu,

− berikan kesempatan kepada keluarga untuk melihat pasien saat resusitasi jika perlu,

− berikan dukungan kepada keluarga yang hadir pada saat resusitasi berlangsung, akhiri tindakan jika ada tanda- tanda sirkulasi spontan,

− lakukan perawatan post cardiac arrest

Kolaborasi:

− Kolaborasi pemberian defibrilasi atau

kardioversi jika perlu,

− kolaborasi pemberian endorphin atau adrenalin,

kolaborasi pemberikan andiron jika perlu.

Gangguan Sirkulasi Spontan

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 jam diharapkan Sirkulasi Spontan meningkat dengan kriteria:

− Tingkat

kesadaran cukup meningkat

− Frekuensi nadi cukup meningkat

− Tekanan darah cukup meningkat

Resusitasi Jantung Paru Observasi:

− Identifikasi keamanan penolong, lingkungan dan pasien

− Identifikasi respon pasien

− Monitor nadi karotis tiap 2 menit

Terapeutik:

− Pakai alat pelindung diri

(24)

− Frekuensi napas cukup meningkat

− Saturasi oksigen meningkat

− Posisikan pasien telentang di tempat datar dan keras

− Raba nadi karotis dalam waktu < 10 detik

− Berikan rescue breathing jika ditemukan ada nadi tetapi tidak ada napas

− Bersihkan dan buka jalan napas dengan head tilt chin lift

− Berikan bantuan napas menggunakan Bag Valve Mask Edukasi:

− Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan kepada keluarga Kolaborasi:

− Kolaborasi tim medis untuk bantuan hidup Penurunan Kapastitas

Adaptif Intrakranial

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 jam diharapkan Kapasitas Adaptif

IntraKranial

meningkat degan kriteria:

− Tingkat

kesadaran cukup meningkat

− Sakit kepala cukup menurun

− Gelisah cukup menurun

− Muntah cukup menurun

Pemantauan Tekanan IntraKranial

Observasi:

− Identifikasi penyebab peningkatan TIK

− Monitor peningkatan TD

− Monitor pelebaran

tekanan nadi (selisih TDS dan TDD)

− Monitor penurunan frekuensi jantung

− Monitor ireguleratis irama napas

− Monitor penurunan tingkat kesadaran

(25)

− Tekanan darah cukup membaik

− Tekanan nadi (pulse pressure) cukup membaik

− Bradikardia cukup membaik

− Pola napas cukup membaik

Terapeutik:

− Pertahankan posisi kepala dan leher netral Edukasi:

− Jelaskan dan tujuan prosedur pemantauan

Referensi

Dokumen terkait

Jaringan distribusi sekunder terletak pada sisi sekunder trafo distribusi, yaitu antara titik sekunder dengan titik cabang menuju beban (Lihat Gambar 2.1). Sistem

Jaringan asli dan derajat diferensiasi histologi merupakan pertimbangan yang penting dalam hal ini. Tumor sering ditentukan stadiumnya menurut derajat diferensiasinya

Embolus terbentuk dibagian luar otak, kemudian terlepas dan mengalir melalui sirkulasi serebral sampai embolus melekat pada pembuluh darah dan menyumbat

Komponen utama yang merupakan inti dari pergerakan Touchscreen adalah panel sensor yang terletak pada lapisan paling luar, dimana ketika kita menyentuhnya, maka akan timbul

Dalam banyak hal, perbedaaan satu-satunya antara jaringan irigasi sederhana dan jaringan semi teknis adalah bahwa jaringan semi teknis ini bendungnya terletak di

Periosteum merupakan selubung jaringan konektif fibrous yang mengelilingi permukaan luar tulang kortikal, kecuali sendi dimana tulang dibatasi dengan articular tulang

Tablet salut selaput yaitu tablet kompresi yang disalut dengan selaput tipis dari polimer yang larut atau tidak larut dalam air maupun membentuk lapisan yang meliputi

Ke-2, Yang sedang di luar hubungan dinas berada di luar Indonesia, melakukan salah satu kejahatan yang dirumuskan dalam kitab Undang- undang ini, atau suatu