• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. keadaan tersebut berbeda dengan Involuntary Childlessness, bahwa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA. keadaan tersebut berbeda dengan Involuntary Childlessness, bahwa"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Konsep Childfree

1. Definisi Childfree

Childfree atau yang biasa disebut dengan Voluntary Childlessness, di mana keadaan seseorang yang secara sukarela tidak ingin memiliki anak, keadaan tersebut berbeda dengan Involuntary Childlessness, bahwa pasangan belum dikarunia seorang anak dan pasangan tersebut berharap untuk memiliki anak atau secara tidak sukarela tidak memiliki anak.

Dalam beberapa kamus bahasa inggris, Childfree bukanlah suatu hal yang asing penyebutannya, seperti dalam kamus Macmillan yang mendefinisikan Childfree sebagai used to describe someone who has decided not to have children (digunakan untuk menggambarkan seseorang yang telah memutuskan untuk tidak punya anak).1 Kemudian dalam kamus Collins diartikan sebagai having no children, childless, especially by choice (tidak punya anak, tanpa anak, terutama karena pilihan)2 selain kedua kamus diatas dalam kamus Merriam Webster diartikan sebagai without children (tanpa anak).3

Dalam beberapa pengertian diatas Childfree berkaitan dengan pilihan atau keputusan seseorang, keadaan tersebut bukanlah suatu keterpaksaan

1 https://www.macmillandictionary.com/dictionary/british/child-free?q=childfree.

2 https://www.collinsdictionary.com/dictionary/english/childfree.

3 https://www.merriam-webster.com/dictionary/child-free.

(2)

yang menyebabkan seseorang untuk memilih hal tersebut, akan tetapi seseorang mengambil pilihan tersebut dengan keadaan sadar tanpa keterpaksaan, dapat didefinisikan bahwa childfree ialah pilihan hidup seseorang atau pasangan yang dilakukan secara sadar untuk menjalani kehidupan tanpa ingin memiliki anak, baik anak kandung, anak angkat, ataupun anak adopsi.

2. Sejarah awal kemunculan Childfree

Fenomena childfree pada saat ini menjadi pembicaraan kalangan masyarakat Indonesia, meskipun istilah childfree terdengar istilah yang baru, namun pada praktiknya childfree sudah menjadi keputusan banyak manusia dalam melangsungkan kehidupan. Istilah childfree sendiri sudah muncul sebelum tahun 1901 dalam kamus bahasa Inggris Merriam- Webster istilah tersebut pertama kali muncul dan menjadi suatu istilah yang skeptis sebagai kehidupan kontemporer.4

Dalam buku How to Be Childless: A History and Philosophy of Life Without Children yang ditulis oleh Dr. Rachel Chrastil menyebutkan bahwa banyak penduduk Inggris, Belanda, dan Prancis sejak tahun 1500- an yang menunda pernikahan (Chrastil 2019). Wanita muda di kota dan desa di Eropa memilih mendirikan rumah tangga mandiri alih-alih memilih membangun rumah tangga dan bergabung ke rumah mertua.

Di kota Prancis sendiri pada era pra-revolusioner, 15 hingga 22

4Tunggono, V. (2021). Childfree & Happy.

(3)

persen orang dewasa memilih untuk tidak menikah dan memiliki anak, berbeda dengan seberang Atlantik di koloni-koloni Amerika, tidak memiliki anak merupakan kondisi yang jarang terjadi, perintah al-kitabiah untuk memiliki keturunan serta kebutuhan akan anak-anak untuk bekerja di ladang mengharuskan seseorang untuk memiliki anak, akan tetapi keadaan tersebut tidak berlangsung lama, pada tahun 1800-an, 5wanita di Amerika dan Eropa Barat memilih untuk tidak menikah dan memiliki anak, menurut mereka dengan tidak memiliki anak mereka dapat melakukan pekerjaan tanpa memperjuangkan kesetaraan dan membesarkan anak, kondisi tersebut mengalami puncaknya pada tahun 1900-an di mana 1 dari 5 wanita Amerika yang lahir pada tahun 1885- 1915 tidak mempunyai anak, keadaan tersebut berubah ketika terjadi pasca-Perang Dunia II,6 keluarga menjadi tempat perlindungan akibat perang yang mengerikan, di Negara Amerika Serikat, pemerintah federal mendukung pembentukan keluarga yang tertuang dalam RUU GI dan Kredit Pajak, akan tetapi tren ini memiliki umur pendek, pada tahun 1970- an7 terdapat diskusi terbuka serta klaim bahwa wanita dapat mengendalikan tubuhnya sendiri dengan tidak memiliki anak.

5 ealey, J. (2016). Rejecting reproduction: The national organization for non-parents and childfree activism in 1970s America. Journal of Women's History, 28(1), 131-156.

6Chrastil, R. (2019). How to be childless: A history and philosophy of life without children.

Oxford University Press.

7 Ichie, C. (2013). Voluntary sterilization for childfree women: understanding patient profiles, evaluating accessibility, examining legislation. Hastings Center Report, 43(6), 36-44.

(4)

3. Faktor-faktor yang melatar belakangi munculnya Childfree

Saat seseorang memilih untuk childfree terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang tersebut memilih gaya hidup childfree, dalam buku yang ditulis oleh Corinne Maier yang berjudul No Kids:40 Reasons For Not Having Children,8 terdapat lima kategori alasan seseorang memilih childfree diantarannya:

a. Pribadi

Faktor pribadi biasannya timbul dari emosi dan batin seseorang, seperti masa kecilnya yang mengalami kondisi buruk dalam keluargannya, merasa bahwa memiliki anak ialah tanggungjawab yang besar sehingga tidak ada waktu atau merasa terbenani dengan tanggungjawab tersebut, selain beberapa hal tersebut, alasan seseorang untuk memilih childfree ialah, merasa bahwa dirinya tidak pantas untuk menjadi orangtua yang baik.

b. Psikologis dan Medis

Alasan psikologis dan medis merupakan alasan yang paling sering digunakan oleh seseorang yang memutuskan untuk childfree, faktor psikologis yang merupakan pikiran bawah sadar seseorang seperti trauma, sedangkan alasan medis berhubungan dengan suatu keterbatasan fisik, seseorang tersebut biasannya mengalami kondisi genetik atau fisik yang apabila dia memiliki seorang anak akan

8 Maier, C. (2009). No Kids: 40 Good Reasons Not to Have Children. McClelland & Stewart.

(5)

membahayakan kondisi anak tersebut.

c. Ekonomi

Seseorang merasa bahwa untuk menghidupi dirinya sendiri ia mengalami kesulitan dalam ekonomi apalagi ketika ia memiliki seorang anak, seseorang melihat harga melahirkan serta membesarkan anak hingga dewasa bukanlah harga yang murah, oleh karennya orang tersebut berpikir realistis dan memahami keadaan ekonominya yang pas-pasan dan tidak mampu melahirkan dan membesarkan anak sampai dewasa dengan keadaan kekurangan aspek finansial.

d. Filosofis

Faktor filosofis menyangkut pandangan atau cara berfikir seseorang tersebut tentang gaya hidup yang dipilih, salah satu pandangan tersebut ialah, untuk mempersembahkan karya yang lebih bermartabat dan berfungsi bagi banyak orang, seseorang memberikan konstribusi dalam bidang sosial dan tidak harus dengan memiliki anak. Beberapa pandangan lain berpendapat bahwa memiliki anak ialah sebuah narsisme.

e. Lingkungan Hidup

Linkungan hidup sebagai suatu alasan seseorang memilih Childfree berasal dari luar diri seseorang tersebut, keadaan tersebut berasal dari orang yang memiliki simpati yang besar, sebagian orang berpendapat bahwa dengan memiliki seorang anak, populasi manusia di dunia menjadi berlebih dan dapat merusak bumi.

(6)

B. Konsep Feminisme 1. Definisi Feminisme

Feminisme merupakan suatu kata yang berarti wanita, kewanitaan atau keadaan seperti wanita, bisa dikatakan feminisme ialah suatu keadaan yang berkaitan dengan kewanitaan atau keperempuanan.9 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) feminisme ialah gerakan wanita yang menuntut hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria.10

Dalam buku yang ditulis oleh Lisa Tuttle yang berjudul Encylopedia of Feminis, feminisme dalam Bahasa inggris merupakan sebuah kata yang berasal dari Bahasa latin femina (women) yang secara mendasar yakni “having the qualities of females”.11

Feminisme berasal dari keadaan seorang wanita yang merasa ditindas, oleh karenannya mereka membuat gerakan agar wanita tidak bisa ditindas dengan mudahnya, pengetahuan mengenai feminisme berangkat dari keadaan historis gerakan feminisme ini muncul. Gerakan feminisme bukanlah suatu gerakan yang berada dalam suatu wadah yang sama, gerakan ini memiliki beberapa pemikiran di dalamnya, dapat di definisikan bahwa feminisme ialah suatu gerakan yang dinamai yang berasal dari pemikiran yang memandang kebebasan serta persamaan perempuan dari sistem patriarki di mana keberpihakan sistem kepada

9 Abbas, Nurhasnah. "Dampak Feminisme Pada Perempuan." Al-Wardah: Jurnal Kajian Perempuan, Gender dan Agama 14.2 (2020): 187-198.

10 Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta : Balai Pustaka, 2001), hlm 315.

11 Mirnalisa, Cut Tasri. "Konsep Feminsme dari Sudut Pandang Wanita Islam Aceh

" Prosiding Sseminar Nasional Hasil Penelitian. Vol. 2. No. 2. 2019.

(7)

laki-laki.

Gerakan feminisme merupakan suatu gerakan yang bertolak belakang dari kesadaran di mana terdapat penindasan serta penomerduaan salah satu jenis kelamin, yaitu perempuan.12

Selain beberapa definisi diatas, feminisme juga didefinisikan sebagai suatu kesadaran akan penindasan dan pemerasan atas perempuan di masyarakat, bahkan di lingkungan kerja ataupun lingkungan keluarga, dan keadaan secara sadar atas wanita ataupun lelaki untuk membalikkan atau mengubah keadaan tersebut.13

2. Pandangan Feminisme menurut Para Ahli.

Istilah feminisme sudah digunakan sejak tahun 1980-an guna memperoleh persamaan hak, kesempatan perempuan serta keadilan, di mana pada saat itu posisi perempuan selalu ditindas dan berada di bawah laki-laki, terdapat beberapa pengertian feminisme menurut para ahli, diantarannya;

1) Maggie Humm : feminisme sebagai sebuah ideologi pembebasan perempuan akibat sesuatu yang melekat dalam pendeketannya mengenai keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakdilan akibat jenis kelaminnya ialah perempuan.14

2) Najmah dan Khatimah : feminisme ialah sebuah kesadaran atas

12 Aya Susanti, Feminisme Radikal, Studi Kritis AlKitabiah, (Bandung; Yayasan Kalam Hidup, 2008), hlm 11.

13 Ibbas, Nurhasnah. "Dampak Feminisme Pada Perempuan." AL-WARDAH: Jurnal Kajian Perempuan, Gender dan Agama 14.2 (2020): 187-198.

14 A ditama, Alif Saifuan, and Abdur Rofik. "Nilai-nilai Feminisme dalam Flim RA Kartini Karya Hanung Bramantyo." Proceeding Conference. 2018.

(8)

ekosploitasi dan penindasan atas perempuan yang terjadi baik dalam tempat kerja, keluarga ataupun masyarakat serta perempuan dan laki-laki sadar atas Tindakan tersebut dan ingin mengubah keadaan tersebut.15

3) Mutaqqim : feminisme adalah suatu kesadaran atas adannya ketidakadilan, penindasan, serta subordinasi perempuan yang dilanjutkan menggunakan upaya untuk mengunat keadaan tersebut ke dalam sebuah system masyarakat yang lebih adil.16

4) Mansour Fakih : feminisme ialah gerakan serta kesadaran yang berawal dari pemikiran bahwa kaum perempuan pada dasarnya dieksploitasi dan ditindas, dan usaha dalam mengakhiri penindasan serta eksploitasi.17

5) Gerda Lerner (1986) : feminisme ialah sebuah doktrin yang menjunjung hak-hak sosial serta politik yang setara bagi perempuan, menyusun deklarasi perempuan sebagai suatu kelompok serta sejumlah teori.18

6) Karen J. Warren : feminisme adalah suatu gerakan melawan naturisme dan di saat yang bersamaan merupakan gerakan untuk mengakhiri seksisme.19

15 Ita Mutiara. "Studi kritis peranan wanita dalam perpolitikan dunia." MOZAIK: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora 2.1 (2007).

16 Rohtama, Yoga. "Perjuangan tokoh utama dalam novel pelabuhan terakhir karya Roidah:

kajian feminisme liberal." Jurnal Ilmu Budaya Vol 2.3 (2018).

17 Mansoer Fakih, Menggeser Konsepsi Gender Dan Tranformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), 230.

18 Apriani, Fajar, and S. Sos. "Berbagai Pandangan Mengenai Gender dan Feminisme Oleh."

19 Tong, Rosemarie, and Tina Fernandes Botts. Feminist thought: A more comprehensive introduction. Routledge, 2018.

(9)

7) Moeliono, dkk : feminisme ialah gerakan kaum perempuan yang meminta persamaan hak seutuhnya antara kaum perempuan dan laki- laki.20

3. Bentuk-bentuk Gerakan Feminisme

a. Feminisme Liberal

Feminisme liberal merupakan feminisme yang berasal dari kelompok liberalisme, feminisme liberal bermula pada abad ke-18, feminisme ini mempunyai konsepsi terhadap sifat manusia, di mana manusia memliliki nalar yang membedakan manusia tersebut dari makhluk lain, feminisme ini menekankan pada aspek prudensial serta moral, menurut kaum liberalisme masyarakat yang adil dapat membuat seseorang untuk memuaskan diri serta menunjukkan otonominnya.

Dalam kaum liberal, liberal sendiri dikategorikan dalam dua hal, yaitu lliberal klasik dan liberal yang mengarah pada kesejahteraan , eligater. Menurut liberal klasik, negara yang ideal ialah negara yang melindungi wargannya dalam kebebesan hak memilih, hak dipilih, memberikan pendapat, kebebasan apabila berbeda serta kebebasan berserikat, keadaan tersebut berkebalikan dengn liberal yang mengarah kepada kesejahteraan, menurut mereka negara yang ideal ialah negara yang memiliki keadilan ekonomi serta kebebasan sipil, diketahui bahwa feminisme liberal

20 imorangkir, Anggi Septiani. "Analisis Feminisme Novel ‘Menjadi Perempuan Terdidik’Karya Wiyatmi." (2020

(10)

berangkat dari kaum liberal, akan tetapi feminisme liberal kontemporer lebih mengarah kepada liberalisme yang mengarah pada kesejahteraan, menurut Susan Wendell tujuan politik yang mendekati dengan feminisme liberal ialah kesejajaran kesempatan.21Secara umum dapat disimpulkan bahwa tujuan feminisme liberal ialah mengadakan masyarakat yang adil serta memperhatikan tempat kebebesan berkembang.

Pada abad ke-18 feminisme liberal menginginkan pendidikan yang setara, di mana perempuan tidak hanya digunakan sebagai alat untuk kesempurnaan serta kebahagian orang, kemudian seiring berkembangnya waktu pada abad ke-19, feminisme liberal menggagas hak politik serta kesempatan dalam bidang ekonomi yang sejajar, menurut John Stuart Mill dan Harriet Taylor Mill mengemukakan bahwa perempuan harus memiliki hak pilih agar dapat sejajar dengan laki-laki.22

Setelah abad ke-19, pada abad ke-20 setelah pemberlakuan amandemen sembilan belas, feminisme tidak menunjukkan kegiatan yang berada di Amerika Serikat, kemudian pada sekitar tahun 1960, muncul generasi baru feminisme liberal yang menginginkan kebebebasan, di mana perempuan membutuhkan

21 Tong, Rosemarie, and Tina Fernandes Botts. Feminist thought: A more comprehensive introduction. Routledge, 2018.

22 Rohtama, Yoga. "Perjuangan tokoh utama dalam novel pelabuhan terakhir karya Roidah:

kajian feminisme liberal." Jurnal Ilmu Budaya Vol 2.3 (2018).

(11)

kebebasan sipil dan kesempatan ekonomi.

Seorang feminis yang bernama Betty Friedan salah satu pendiri serta presiden pertama National Organization for Women (NOW) yang secara mendalam lebih condong pada feminisme liberal memiliki klaim untuk perempuan yaitu;23

1. Perempuan harus diberikan perlindungan hukum, kepastian hak, mendapatkan upah, dapat kembali ke pekerjaan mereka, mendapatkan cuti serta upah dalam cuti hamil sebagai jaminan;

2. Kesempatan kerja yang setara;

3. Di mana Kongres Amerika Serikat harus meloloskan amandemen Hak-hak yang setara Kepada Konstitusi, untuk memastikan kesetaraan hak;

4. Perempuan miskin berhak mendapatkan pelatihan kerja, perumahan, tunjangan kerja;

5. Perempuan berhak mendapatkan Pendidikan yang setara guna mengembangkan posisinnya;

6. Perempuan berhak atas reproduksinya dengan menghapuskan hukum atas aborsi serta bebas mencari informasi terhadap alat kontrasepsi;

Melihat tuntutan hak yang diajukan oleh feminisme liberal, mereka menginginkan untuk membebaskan perempuan

23 Tong, Rosemarie, and Tina Fernandes Botts. Feminist thought: A more comprehensive introduction. Routledge, 2018.

(12)

atas peran gender yang bersifat menindas, di mana perempuan diberikan tempat yang rendah, bahkan perempuan tidak mendapatkan tempat baik dalam ekonomi, Pendidikan atau forum.

b. Feminisme Radikal

Feminisme radikal muncul setelah Amandemen Sembilan Belas sekitar tahun 1960-an serta 1970-an,24 feminisme ini mengangkan mengenai ketidakadilan gender dalam konsep biologis antara perempuan dan laki-laki, feminisme ini tidak tertarik untuk menempatkan perempuan untuk ditempatkan sejajar dalam ekonomi, hak sipil, dan beberapa hak lain untuk sejajar dengan laki- laki, feminisme radikal berasumsi bahwa system seks, biologis perempuan merupakan sebab penindasan terhadap kaum perempuan.

Feminisme ini mengangkat masalah sistem seks atau gender kemudian peran seorang ibu kepada perempuan dan kehamilan, mereka tidak memerlukan tempat yang tinggi dalam bekerja, menurut mereka apabila derajat mereka setara dengan laki-laki dalam hak sipil, ekonomi serta pendidikan tidak dapat mengembalikan perempuan menjadi di posisi yang tidak dikuasai oleh laki-laki, laki-laki dapat menguasai perempuan melalui system seks atau gender, serta struktur biologis perempuan yang berbeda dengan laki-laki.

24 Ibid, hal 38.

(13)

Oleh karenanya mereka mengangkat system seks atau gender tersebut, tidak banyak penganut feminisme radikal yang lesbian, mereka menggagap hubungan yang heteroseksual dapat menindas perempuan, lesbian dianggap sebagai perempuan yang mandiri serta bebas dari laki-laki.

Seiring waktu dengan adannya kemunculan feminis esensialisme muncul dua femisme radikal, diantarannya feminism radikal libertarian dan kultural, kedua feminis tersebut memiliki perbedaan yang mencolok terutama mengenai sistem seks atau gender, reproduksi, serta sifat feminim dan maskulin.

c. Feminisme Marxis

Feminisme marxis dan sosialis memiliki beberapa persamaan, mengenai feminisme marxis condong ke dalam tokoh Marx, Engels, dan para pemikir di abad ke-19.25 Pemikiran marxis ini tidak sependapat dengan konsep liberal dalam sifat manusia, di mana kaum liberal membedakan manusia dengan binatang menggunakan nalar, penggunaan bahasa, dan beberapa kegiatan khusus seperti agama, ilmu pengetahuan dan seni, Marxist tidak sependapat dengan pemikiran tersebut, mereka menggangap mereka menjadi manusia karena cara mereka bertahan hidup seperti bertani, berkebun, berternak.

Feminisme marxis yakin atas eksistensi sosial menentukan

25 Ibid hal.39.

(14)

kesadaran, menurut feminisme tersebut pekerjaan perempuan itu membentuk sifat perempuan, sifat-sifat alamiah perempuan.

Perempuan harus siap bertugas, apabila perempuan terus bekerja nilai komoditi ditentukan tergantung seberapa besar pekerjaan mereka.

Selain itu feminisme marxist memiliki hipotesis bahwa kecuali jika struktur ekonomi kapital dihancurkan, manusia pasti terus tergolong dalam dua kelas yang bertolak belakang, yaitu yang berpunya dan yang tidak berpunya, karena kapitalisme dan patriarki saling berkaitan antara satu sama lain, dan banyaknya perempuan dibanding laki-laki menyebabkan semakin banyaknya perempuan yang dianggap sebagai perempuan “yang tidak berpunya”.

d. Feminisme Sosialis

Feminisme marxist dan sosialis sering dikatakan tidak mudah dalam menemui perbedaan, akan tetapi kecondongan arah pemikiran mereka berbeda antara satu sama lain, di mana feminisme Marxist yang condong pada tokoh di abad ke-19, berbeda dengan feminisme sosialis yang condong atas pemikiran pada abad ke-20 seperti Louis Althusser.

Aliran feminisme ini memandang pernikahan sebagai suatu tanda bahwa perempuan (istri) menjadi sepenuhnya milik laki-laki (suami), pernikahan merupakan suatu penindasan terhadap

(15)

perempuan, aliran ini sama dengan aliran Marxist yang menginginkan sistem ekonomi kapitalis diganti, akan tetapi feminisme sosialis mengantinnya dengan masyarakat sosialis yang tidak memiliki kelas-kelas. Feminisme sosialis merupakan wujud ketidakpuasan atas feminisme Marxist atas kebutaan terhadap gender, oleh karenannya agar pergantian tersebut terjadi perlu dimulai dengan keluarga yang dapat membebaskan seorang perempuan dari keterikatan dengan suami, apabila sistem tersebut dapat terlepas maka dapat menghilangkan sistem kelas atau eligater dan menjadi masyarakat sosial tanpa kelas, menurut aliran ini perempuan dapat seimbang dengan seutuhnya apabila industri dalam rumah tangga dibebaskan dan menjadi industri sosial.

e. Feminisme Psikoanalisis

Aliran ini berpendapat bahwa perempuan bertindak melalui atau diawali dengan psikis perempuan atau cara berpikir perempuan, selain itu aliran ini menggangap semua berawal pada masa kanak- kanak, di mana laki-laki memandang diri mereka sebagai seseorang yang maskulin sedangkan wanita menggangap dirinya sebagai seseorang yang feminim.

Beberapa tokoh feminis awal seperti Alfred Adler, Karen Horney, serta Clara Thompson menolak pernyataan bawa identitas gender, perilaku seseorang bukanlah berasal dari struktur biologis laki-laki dan perempuan, semua tersebut berasal dari kondisi serta

(16)

nilai-nilai sosial perempuan dan laki-laki.

f. Feminisme Eksistensialis

Feminisme ini diawali dengan penindasan perempuan atas dasar beban reproduksi yang harus ditanggung oleh tubuh perempuan, pendapat tersebut diajukan oleh Simone de Beauvoir, terdapat teori terdahulu yaitu teori milik Jean Paul yang mengemukakan bahwa terdapat tiga jenis keberadaan, diantarannya etre ens soi (ada pada dirinnya), etre pour soi (ada bagi dirinya) serta etre pour les autres (ada untuk orang lain, hal tersebut berhubungan dengan pendapat Simone de Beauvoir bahwa perempuan dituntut untuk menjadi dirinya sendiri kemudian menjadi yang lain, di mana perempuan seharusnya berada di bawah perlindungan laki-laki, dengan kata lain laki-laki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek.26

Untuk keluar dari istilah yang sudah melekat dalam label perempuan sangatlah tidak mudah menurut Simone de Beauvoir, oleh karennya perempuan harus meluncurkan beberapa startegi yang diajukan oleh Simone de Beauvoir, yaitu; perempuan harus bekerja, perempuan wajib terus menerus belajar menjadi kaum intelektual, perempuan dapat menjadi pelaku tindakan atas perubahan sosial.27

26 Apriani, Fajar, and S. Sos. " Berbagai Pandangan Mengenai Gender dan Feminisme Oleh"

27 Pranowo, Yogie. "Identitas Perempuan dalam Budaya Patriarkis: Sebuah Kajian tentang Feminisme Eksistensialis Nawal el Sa'adawi dalam Novel “Perempuan di Titik Nol”." Melintas 29.1 (2013): 56-78.

(17)

g. Feminisme Posmodern

Feminisme postmodern memiliki persamaan dengan seorang postmodern yang ingin dan berusaha menghindari Tindakan serta pemikiran falogosentris di mana merupakan cara berpikir yang membuat posisi hierarkis terhadap perempuan dan laki-laki seperti dilindungi kemudian melindungi, serta cara berpikir kuat dan lemah. Selain itu aliran ini menolak semua pemikiran feminisme, feminisme ini memiliki kecurigaan terhadap semua pemikiran feminisme, karena aliran ini berusaha menghindari kata-kata lesbian kemudian feminis, dengan adanya kedua kata tersebut melekat pada falagosentris, beberapa kata tersebut menjadi parasite suatu perempuan karena keadaan tersebut menyimpang dari norma yang berlaku di masyarakat, dan bukan menjadi keadaan seksual yang bebas dipilih oleh seseorang. Aliran ini mengajak para perempuan untuk menjadi “feminis yang baik”.

h. Feminisme Multikultural dan Global

Mengenai kedua feminisme diatas memiliki beberapa persamaan, aliran tersebut menentang esensialisme perempuan, selain itu feminisme tersebut menolak bahwa perempuan diuntungkan dengan ras, ataupun kelas mereka. Akan tetapi kedua aliran tersebut juga memiliki perbedaan di mana feminisme multikultural menggangap di suatu negara, misalnya Indonesia

(18)

semua perempuan dilahirkan dengan tidak memiliki rasa tau kelas yang sama, semua itu tergantung pada pendidikan, pekerjaan, pernikahan, kesehatan, dan beberapa hal lain, sedangkan feminisme global lebih memperluaskan pemikiran feminisme multikultural semua bergantung pada perempuan tersebut berasal dari negara yang maju atau berkembang kemudian negara tersebut dijajah atau menjajah.

Feminisme global setuju dengan pemikiran feminisme multikultural bahwa definisi feminism harus diperluas, akan tetapi feminisme global lebih berfokus pada hasil penindasan dari kebijakan praktek nasionalis dan colonial, keduannya sepakat bahwa segala sesuatu yang menyangkuat perempuan harus didefinisikan sebagai feminisme.

C. Maqasid al-syari’ah Imam Al-Syatibi 1. Biografi Imam Al-Syatibi

Imam As_Imam Al-Syatibi ialah cendekiawan muslim yang memiliki nama lengkap Abu Ishaq bin Musa bin Muhammad al-Lakhmi al- Gharnanti asy-Imam Al-Syatibi28, beliau berasal dari suku Arab Lakhmi, Imam Al-Imam Al-Syatibi lahir di Syatiba, kemudian menjalani kehidupan hingga tumbuh besar di Granada29. Di masa tersebut Granada

28Qadariyah, L. (2017). Buku Ajar Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Jakarta: Duta Media Publishing.

29 Zatadini, N., & Syamsuri, S. (2018). Konsep Maqashid Syariah menurut Al-Syatibi dan kontribusinya dalam kebijakan fiskal. Al-Falah: Journal of Islamic Economics, 3(2), 1-16.

(19)

menjadi salah satutempat untuk menuntut ilmu, Imam Al-Imam Al-Syatibi memperoleh Pendidikan pertamannya berupa Bahasa arab dan nahwu yang digurui oleh Abu Abdullah Al-Biri, setelah gurunya tersebut meninggal dunia Al-Imam Al-Syatibi tidak putus untuk mempelajari Bahasa arab dan nahwu, beliau melanjutkan mencari ilmu dengan Abul Qasim al-Sharif al-Sibti30.

Setelah mendalami Bahasa arab, beliau melanjutkan mempelajari hadist serta kalam kepada Abu Qasim ibn Baina, kemudian mempelajari ilmu sastra yang digurui oleh Abu Bakar al-Qarsyi al-Hasymi, serta ushul fiqh dari Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Miqarri dan Abu Abdillah Muhammad ibn Ahmad al-Syarif al-Tilimsani, selain beberapa ilmu diatas Imam Al-Imam Al-Syatibi juga mempelajari falak, mantiq, debat. Guna mengembangkan pengetahuannya, beliau tidak hanya menempuhnya dalam pembelajaran, akan tetapi beliau juga melasaksanakan komunikasi seperti mengirim surat terhadap seseorang sufi, yaitu abu Abdillah ibn al-Nafsi al-Rundi31 Al-Imam Al-Syatibi juga mempelajari ilmu rasional yaitu ulum al-aqliyah kepada Abu Ali Mansur al-Zawawi dan Abdullah al-Sharif al-Tilmisani yang merupakan ilmuwan besar32. Berbagai ilmu telah dipelajai oleh beliau, akan tetapi Imam asy- Imam Al-Syatibi sangat berminat dengan ilmu ushul fiqh dikarenakan

30 Ibid. hal 114.

31 Qadariyah, L. (2017). Buku Ajar Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Jakarta: Duta Media Publishing.

32 Zatadini, N., & Syamsuri, S. (2018). Konsep Maqashid Syariah menurut Al-Syatibi dan kontribusinya dalam kebijakan fiskal. Al-Falah: Journal of Islamic Economics, 3(2), 1-16.

(20)

metedologi dan fiqh islam ialah prnrntu faktor kekuatan serta kelemahan fiqh.

Setelah menuntut berbagai macam ilmu, Al-Imam Al-Syatibi membagikan ilmunya tersebut terhadap beberapa muridnya, diantarannya;

Abu Yahya ibn asim, Abu Bakar al-Qadi, dan Abu Abdillah al-Bayani33. Beliau merupakan ulama yang aktif dalam menulis beberapa karya, Imam Syathibi menghasilkan beberapa buku, karya-karya Imam Syathibi beracu pada kedua hal yaitu; ulum al-wasilah serta ulum al-maqasid. Beberapa karya Imam Syathibi diantarannya ialah, pertama, kitab al-muwaqat yang merupakan kitab utama dari beliau di mana menjelaskan ilmu ushul fiqh serta pengenalan dalam maslahah serta maqashid Al-Syathibi, kedua, Kitab al-I’tisham yang berisi mengenai bid’ah dan pendalamannya, ketiga, kitab al-Majalis, kitab tersebut ialah Kitab al-Buyu’ yang ada di dalam Shahih al-Bukhari, keempat, Syarah al-Khulashah, kita tersebut merupakan buku nahwu yang terdiri dari empat juz besar, kelima, Unwan al-Ittifaq fi ‘Ilm al-Isytiqaq, yang berisis Ilmu Sharf serta Fiqh, keenam, Ushul an-Nahw, buku terseut membahas mengenai Qawaid Lughah, ketuju, Al-Ifadat wa al-Insyadat, yang memuat gambaran perjalanan beliau,. Dari beberapa buku diatas, hanya tiga karya yang dicetak yaitu, Kitab al-muwafaqat, Kitab al-I’tisham serta al-Ifadat wa al-Insyadat34

33 Qadariyah, L. (2017). Buku Ajar Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Jakarta: Duta Media Publishing.

34 Kasdi, Abdurrahman. "Maqasyid Syari’ah Perspektif Pemikiran Imam Imam Al-Syatibi dalam Kitab Al-Muwafaqat." YUDISIA: Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam 5.1 (2016).

(21)

2. Pengertian Maqasid Syari’ah

Dalam pengertian Maqashid al-syari’ah dimulai secara Bahasa, kata Maqasid al-syari’ah terbagi menjadi dua kata yaitu maqashid dan al- syari’ah, di mana maqashid memiliki arti kesengajaan atau tujuan, kemudian al-syari’ah ialah jalan menuju sumber air atau jalan menuju sumber pokok kehidupan35. Secara langsung maqasid al-syari’ah telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, di mana semua kepentingan untuk memenuhi maslahah dan menyelamatkan manusia dari maslahat36. Secara istilah, maqashid sendiri ialah makna-makna serta hikmah ataupun sejenisnya yang dikehendaki Tuhan dalam setiap syari’at baik umum atau khusus, agar hamba-Nya mendapatkan kemaslahatan. Imam Al-Syatibi tidak menuliskan pengertian mengenai maqasid al-syari’ah, beliau mengatakan bahwa sesungguhnya syari’ah bertujuan guna mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dunia ataupun akhirat37.

Disimpulkan dari pernyataan Imam Al-Syatibi diatas bahwa, tujuan syari’ah ialah kemaslahatn bagi seluruh manusia, beliau mengemukakan bahwa syari’ah yang dibuat oleh Allah memiliki semua tujuan, apabila hukum tidak memiliki tujuan sama halnya dengan menaruh sesuatu yang menjadi beban dan tidak dapat terlaksana kemaslahatnnya. Oleh

35 Qadariyah, L. (2017). Buku Ajar Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Jakarta: Duta Media Publishing.

36 Zatadini, Nabila, and Syamsuri Syamsuri. "Konsep Maqashid Syariah menurut Al-Imam Al- Syatibi dan kontribusinya dalam kebijakan fiskal." Al-Falah: Journal of Islamic Economics 3.2 (2018): 1-16.

37 Qadariyah, L. (2017). Buku Ajar Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Jakarta: Duta Media Publishing.

(22)

karenannya dengan adannya maqasid al-syari’ah yang dapat melindungi kemaslahatan terhadap manusia.

3. Klasifikasi Maqasid al-syari’ah menurut Imam Al-Syatibi

Maqasid al-syari’ah selalu berhubungan dengan pembentukan hukum, selain berpengaruh terhadap pembentukan hukum, Maqasid al- syari’ah memiliki peranan yang penting dalam tatanan ekonomi, sosial, hingga politik, karena salah satu tujuan dari maqashid sendiri ialah kemaslahatan umat manusia baik dunia maupun akhirat.

Beberapa ulama telah membagi konsep maqasid al-syari’ah, salah satunnya Imam As-Syathibi membahas maqasid al-syari’ah dalam kitab al-Muwafaqat fi Usul al-Syariah pada jilid kedua, Imam Syathibi mengatakan bahwa beban-beban syari’at kembali pada penjagaan tujuan- tujuannya pada makhluk, serta Maqashid sendiri terdiri dari tiga macam;

dharuriyyat (kepentingan pokok), hajiyat (kepentingan sekunder) serta tahsiyat (kepentingan tersier)38.

a. Dharuriyat

Tingkatan dhaririyat menjadi yang pertama, dikarenakan kepentingan tersebut menjadi pondasi bagi kesejahteraan manusia, apabila kepentingan pokok tersebut terpenuhi maka kehidupan dunia serta akhirat mendatangkan kemaslahatan, oleh sebabnya agar terhidar

38 Aziz, M., & Sholikah, S. (2013). Metode Penetapan Maqashid Al Syari’ah : Studi Pemikiran Abu Ishaq al Syatibi. Ulul Albab Jurnal Studi Islam, 14(2), 160-175.

(23)

dari kemudharatan, umat islam perlu memelihara lima kepentingan yang bersifat pokok dalam maqasid al-syari’ah. Pemeliharaan berupa agama, jiwa, akal, nasab, dan harta. Berikut penjelasan terhadap kelima pemeliharaan tersebut;

1) Memelihara Agama (Hifzh din)

Menjaga agama dalam tingkatan dharuriyat ialah memelihara serta melaksanakan kewajiban agama yang sifatnya wajib, contohnya menunaikan krlima rukun islam seperti shalat fardhu, agar terpeliharannya agama seseorang serta terpenuhinnya penjagaan islam terhadap agama Allah SWT telah memerintahkan untuk beribadah seperti shalat, zakat, puasa, haji, infaq, do’a, dan lain lain.

2) Menjaga Jiwa (Hifzh nafs)

Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk melindungi jiwa agar terhindar dari kemudharatan, untuk menghindari kemudharatan tersebut seseorang harus menghindari bahaya yang dapat membahayakan dan mengancam jiwa seseorang, tujuan dari memelihara jiwa ialah menjaga kesucian agama islam, agar umat islam dapat tinggal dalam lingkungan aman yang terbebas dari bahaya apapun.

Untuk memelihara jiwa dalam tingkatan dharuriyat manusia perlu memenuhi kebutuhan pokok yang bersifat primer, seperti sandang pangan, apabila seseorang tidak bisa memenuhi

(24)

kebutuhan tersebut jiwa tersebut dapat terancam kesehatannya.

3) Menjaga Akal (Hifzh aql)

Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk menghindari khamr yang dapat merusak akal, khamar merupakan minuman yang memabukkan dan membahayakan akal manusia, oleh karennanya apabila Allah tidak menurunkan perintah larangan khamar jiwa seseorang terancam dalam bahaya, larangan tersebut tertera dalam Surat Al-Maidah ayat 90 :

ن ٰطْيَّشلا لَمَع ْنِّ م ٌسْج ر ُم َلْ ْزَ ْلْا َو ُباَصْنَ ْلْا َو ُر سْيَمْلا َو ُرْمَخْلا اَمَّن ا ا ْٰٓوُنَمٰا َنْي ذَّلا اَهُّيَآٰٰي َن ْوُح لْفُت ْمُكَّلَعَل ُه ْوُب نَتْجاَف Artinnya : “Duhaimanusia yang beriman! Bahwa berjudi, minuman berakohol, mengundi nasib, serta menyembah berhala ialah aktivitas yang keji serta termasuk perbuatan, oleh karenannya jauhilah hal-hal tersebut supaya kamu beruntung”. (Surat Al- Maidah : 90).39

4) Menjaga Nasab (Hifzh nasab)

Untuk menjaga keturunan, Allah SWT mensyariatkan hamba- Nya untuk menikah, Allah memerintahkan untuk menikah agar seseorang terhindar dari zina, perintah untuk menikah tertera dalam An-Nisa ayat 3:

ْن اَف ۚ َعٰب ُر َو َثٰلُث َو ىٰنْثَم ءۤاَس ِّنلا َن ِّم ْمُكَل َباَط اَم ا ْوُح كْناَف ى ٰمٰتَيْلا ى ف ا ْوُط سْقُت َّلَْا ْمُتْف خ ْن ا َو ۗا ْوُل ْوُعَت َّلَْا ىٰٰٓنْدَا َك لٰذ ۗ ْمُكُناَمْيَا ْتَكَلَم اَم ْوَا ًةَد حا َوَف ا ْوُل دْعَت َّلَْا ْمُتْف خ

39 Q.S. Al-Maidah[5]:90.

(25)

Artinnya: “Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim”. (Surat An-Nisa:3).40

Anjuran tersebut berguna menghindari kerusakan terhadap nasab di mana terciptanya anak diluar nikah akibat perzinaan tersebut.

5) Menjaga Harta (Hifzh mal)

Agar tercukupi harta yang halal, Allah membentuk syari’at islam dengan memperbolehkan jual beli, sewa menyewa, gadai.

Allah melarang hamba-Nya untuk memakan harta dengan jalan yang mengundang kemafsadatan, seperti berjudi, riba, mencuri.

Dalam tingkatan dharuriyat memelihara ialah langkah-langkah mencari uang yang halal dan larangan mengambil harta milik orang lain, apabila perolehan harta tersebut tidak secara halal akan mengancam terpeliharannya harta tersebut.

b. Hajiyat

Tingkatan ini merupakan tingkatan kedua atau biasa disebut

40 Q.S. An-Nisa [3]:3.

(26)

dengan kebutuhan sekunder, apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi tidak akan mengancam keselamatan seseorang tersebut, akan tetapi dapat mendatangkan kesulitan bagi seseorang tersebut.

Imam al-Imam Al-Syatibi mengemukakan tujuan hajiyat ini untuk memudahkan, menjauhkan manusia dari kesempitan atau kesulitan dari hidup, meskipun mendatangkan kesulitan terhadap diri seseorang, kemaslahatan secara umum tidak akan terancam. Imam Al-Imam Al- Syatibi dalam kitab al-Muwafaqat memberikan contoh, seperti seseorang yang musafir ataupun sakit mendapatkan keringanan dalam menunaikan ibadah, Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah: 184;

هَن ْوُقْي طُي َنْي ذَّلا ىَلَع َو ۗ َرَخُا ٍماَّيَا ْنِّ م ٌةَّد عَف ٍرَفَس ىٰلَع ْوَا اًضْي رَّم ْمُكْن م َناَك ْنَمَف ٍۗتٰد ْوُدْعَّم اًماَّيَا َن ْوُمَلْع َت ْمُتْنُك ْن ا ْمُكَّل ٌرْيَخ ا ْوُم ْوُصَت ْنَا َو ۗ هَّل ٌرْيَخ َوُهَف ا ًرْيَخ َع َّوَطَت ْنَمَف ٍۗنْي كْس م ُماَعَط ٌةَيْد ف Artinya: “(Yaitu) beberapa hari tertentu. Bahwa di antara kamu apabila sakit atau dalam perjalanan kemudian tidak berpuasa maka harus mengganti sebanyak hari tidak berpuasa itu pada hari lain. Kemudian jika ada yang berat melakukan puasa maka ia harus membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin. Tetapi siapa dengan hati yang rela menjalanka kebajikan, maka itu lebih baik baginya, serta puasamu itu lebih baik atasmu apabila kamu mengetahui ”. (Surat Al- Baqarah:184).41

c. Tahsiniyat

Tingkatan ini berada di tingkatan yang ketiga, apabila kebutuhan

41 Q.S. Al-Baqarah [2]:184.

(27)

ini tidak tercukupi tidak akan menimbulkan kesulitan dan mengancam kelima unsur diatas, Imam Al-Imam Al-Syatibi mengemukakan bahwa maslahah tahsiniyyah ialah memenuhi perkara yang berhubungan dengan akal dan adat, beliau juga menjelaskan bahwa maslahah tahsiniyah berhubungan dengan makarimal akhlaq atau yang disebut dengan nilai pekerti yang baik. Maslahah ini untuk melengkapi maslahah dharuriyat dan hajiyyat, seperti contohnya syariat untuk bersuci, menutup aurat, sunat.

Referensi

Dokumen terkait

Jika dahulu transaksi bisnis yang harus dilakukan secara tatap muka (face-to-face),melibatkan sejumlah fasilitas dan sumber daya fisik (office and paper), dan mempertukarkan

Peserta yang sudah menjabat sebagai Account Representative di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak, agar mampu meningkatkan kompetensi dalam penerapan pengetahuan teknis di

Dalam foto olahraga terkandung banyak materi visual, mulai dari atlit, perangkat pertandingan, penonton, hingga unsur-unsur lain yang kerap muncul dari gelaran

Dari penjelasan dan dasar syar‟i yang digunakan Imam Safi‟i dan Ulama Sha > fi‟i > yah di atas dapat diartikan bahwa manfaat barang gadai hanyalah milik

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Bupati Kebumen Nomor 153 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan

1. RPI2-JM membutuhkan kajian aspek lingkungan dalam perencanaan pembangunan infrastruktur. KLHS dijadikan sebagai alat kajian lingkungan dalam RPI2-JM adalah karena

Setelah mendengarkan penjelasan dari guru tentang peristiwa yang terjadi pada saat perumusan dasar negara, siswa dapat menjelaskan peristiwa yang terjadi pada saat perumusan

Permasalahan yang dihadapi guru di Indonesia sangatlah komplek khususnya pada kepuasan kerja yang dirasa kurang bagi para guru sekarang ini, ketidak hadiran guru