3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Gambaran Umum Perusahaan 3.1.1 Profil Bank BNI
Gambar 3.1. Logo BNI
Bank Negara Indonesia atau BNI adalah sebuah institusi bank milik pemerintah, dalam hal ini adalah perusahaan BUMN di Indonesia. Dalam struktur manajemen organisasinya, Bank Negara Indonesia (BNI), dipimpin oleh seorang Direktur Utama[ yang saat ini dijabat oleh Gatot Mudiantoro Suwondo.
Bank Negara Indonesia (BNI) adalah bank komersial tertua dalam sejarah Republik Indonesia. Bank ini didirikan pada tanggal 5 Juli tahun 1946. Saat ini BNI mempunyai 914 kantor cabang di Indonesia dan 5 di luar negeri. BNI juga mempunyai unit perbankan syariah, namun sejak 2010 telah spin off (memisahkan diri), yang dinamakan BNI Syariah.
PT Bank Negara Indonesia Tbk didirikan oleh Margono Djojohadikusumo, yang merupakan satu dari anggota BPUPKI, lalu mendirikan bank sirkulasi/sentral yang bertanggungjawab menerbitkan dan mengelola mata uang RI. Margono berjasa besar atas perkembangan bisnis atau usaha perbankan di Indonesia. Karena Margono adalah seorang pionir, maka dia berhasil menanamkan nilai-nilai dan cara pandang bisnis perbankan di Indonesia, menggantikan peranan De Javasche Bank pada era penjajahan.
Setelah krisis keuangan melanda Asia tahun 1998 yang mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional, BNI melakukan program
restrukturisasi termasuk diantaranya melakukan rebranding untuk membangun &
memperkuat reputasi BNI. Identitas baru ini dengan menempatkan angka „46‟ di depan kata „BNI‟. Kata „BNI‟ berwarna tosca yang mencerminkan kekuatan, keunikan, dan kekokohan.Sementara angka „46‟ dalam kotak orange diletakkan secara diagonal untuk menggambarkan BNI baru yang modern.
Globalisasi menuntut industri perbankan untuk selalu meningkatkan kemampuan dalam memberikan solusi perbankan kepada seluruh nasabah.Secara historis BNI fokus pada corporate banking yang didukung dengan infrastruktur retail banking yang kuat. Kini BNI terus berupaya meningkatkan kapitalisasi keduanya menjadi keunggulan BNI.
Sejak berdiri pada tahun 1946, BNI senantiasa menjadi bagian dari dinamika pembangunan perekonomian Indonesia. Dalam kurun waktu lebih dari separuh abad itu juga, BNI telah berkembang menjadi bank nasional yang kokoh dengan pertumbuhan keuangan berkelanjutan.
BNI juga telah melakukan transformasi bisnis dari product centric menjadi customer centric dengan fokus pada business banking dan consumer & retail. Di segmen business banking, BNI menawarkan integrated financial solution bagi nasabah dengan fokus pada delapan sektor industry unggulan. Untuk segmen Consumer & Retail Banking, BNI bertekad menjadi life time banking partner bagi para nasabah dengan menyediakan produk dan jasa perbankan di setiap tahapan usia.
Untuk melengkapi kebutuhan nasabah di bisnis tresuri & internasional, BNI berkomitmen untuk menjembatani bisnis nasabah dengan mengoptimalkan keberadaan kantor cabang BNI di kota finansial dunia: Singapura, Hong Kong, Tokyo, Osaka, London, dan New York.Pada tahun 1996 BNI menjadi bank BUMN pertama yang mencatatkan sahamnya di BEJ. Sampai saat ini Pemerintah RI memegang 60% saham BNI, sementara sisanya 40% dimiliki oleh pemegang saham publik baik individu maupun institusi domestik & asing.
Pada 2013, BNI memposisikan layanannya dalam tingkat yang lebih tinggi.
Bank BNI meluncurkan kartu kredit dan kartu ATM/debit bergambar tim sepakbola
peserta EPL, Chelsea, dengan logo Master Card. Kartu tersebut dapat diterima oleh fans Chelsea. Bank BNI juga meluncurkan layanan trust bagi industri ekspor, termasuk untuk industri minyak dan gas.
3.1.2. Profil Chelsea Football Club
Gambar 3.2 Logo Chelsea FC
Chelsea Football Club adalah sebuah klub sepak bola Inggris yang bermarkas di Fulham, London. Chelsea didirikan pada tahun 1905 dan kini berkompetisi di Liga Utama Inggris. Sepanjang sejarah penampilan dalam dunia sepak bola di Inggris dan Eropa, klub ini telah meraih empat gelar juara Liga Utama Inggris, tujuh Piala FA, empat Piala Liga, satu trofi Liga Champions UEFA, dua Piala Winners UEFA, satu Liga Eropa UEFA dan satu Piala Super UEFA. Stadion kandang mereka Stamford Bridge, berkapasitas 41.837 kursi penonton, telah digunakan sebagai stadion kandang sejak Chelsea didirikan. Sejak tahun 2003, Chelsea dimiliki oleh Roman Abramovich seorang miliuner asal Rusia.
Kesuksesan pertama Chelsea diraih saat meraih gelar juara liga pada tahun 1955. Beberapa gelar dari berbagai kompetisi juga berhasil diraih pada dekade 1960an, 1970an, 1990an, dan 2000an. Dalam periode lima belas tahun terakhir merupakan periode terbaik kesuksesan Chelsea; yang ditutup dengan untuk pertama kali meraih gelar juara double winner, Liga Utama Inggris dan Piala FA pada tahun 2010 dan gelar juara Liga Champions UEFA pada tahun 2012.
Kostum utama Chelsea adalah kaus dan celana berwarna biru royal dengan kaus kaki berwarna putih. Kombinasi tersebut telah digunakan sejak dekade 1960- an. Lambang klub telah berganti beberapa kali dalam upaya memodernisasi dan
mengubah pencitraan. Lambang yang kini digunakan, yang menampilan seekor singa seremonial memegang sebuah tongkat, merupakan modifikasi dari lambang yang pernah digunakan pada dekade 1950-an. Rata-rata jumlah penonton liga pada laga kandang musim 2011–12 sebanyak 41.478 penonton, jumlah tertinggi keenam pada Liga Utama Inggris.
3.1.3. Visi dan Misi a. Bank BNI
- Visi : Menjadi bank yang unggul, terkemuka dan terdepan dalam layanan dan kinerja
- Misi : Memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh nasabah, dan selaku mitra pillihan utama (the bank choice), meningkatkan nilai investasi yang unggul bagi investor, menciptakan kondisi terbaik bagi karyawan sebagai tempat kebanggaan untuk berkarya dan berprestasi, meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial, dan menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola perusahaan yang baik.
b. Chelsea FC
Chelsea’s vision statement that underpins everything we do is that by 2014 we strive to be recognised internationally as the world’s number one football club. This applies to all off the field activities, as well as on the field, and therefore applies to fighting racism and discrimination and promoting integration and social inclusion. Chelsea is committed to providing each employee, potential employee, customer and service users equality of opportunity in all the things we do. We will ensure that equality practices are integral to every process and create an inclusive and positive environment for all.
3.1.4. Kegiatan Perusahaan
Bank BNI yang merupakan bank pertama milik negara yang lahir setelah kemerdekaan Indonesia. Bank BNI sendiri tersebar di 61 lokasi berbeda di kota Surabaya. Beberapa aktivitas yang dijalankan BNI adalah menghimpun dana nasabah dalam bentuk simpanan berupa giro, tabungan, dan deposit. Menyalurkan
dana bagi nasabah yang membutuhkan dalam bentuk kredit – kredit. Lalu memberikan jasa – jasa lainnya yang menunjang kebutuhan nasabah dan memudahkannya seperti pengiriman uang, kliring, inkaso, safe deposit box, kartu kredit yang dipromosikan dengan Chelsea, penukaran valuta asing, letter of credit, cek wisata, melayani pembayaran-pembayaran, pasar modal, wesel, bank garansi dan menerima penyetoran – penyetoran. BNI juga aktif dalam mendukung program Go Green di Indonesia, Bina Lingkungan, Kampoeng BNI, usaha kreatif, kerajinan dan fashion. Selain itu BNI juga berpartisipasi dengan WWF dalam melestarikan hewan – hewan langka di Indonesia. Penghargaan terakhir yang diraih BNI pada tahun 2012 yaitu Sustainable Business Award 2012, The Best State Owned Company dan Banking and Finance Champion, Indonesia Green Company Award 2012, serta SRI Kehati Award 2012.
Chelsea Football Club merupakan salah satu klub sepakbola profesional di Inggris yang besar dan bermarkas di London. Chelsea saat ini berlaga di divisi utama liga Inggris dan juga berlaga di liga antar-klub Eropa. Selain mempertontonkan pertandingan sepakbola berkelas dari para bintang sepakbola dunia yang bermain di klub, Chelsea juga menjual merchandise – merchandise klub dan para pemainnya.Chelsea juga berpartisipasi aktif dalam program memerangi rasisme di dunia sepakbola. Klub ini juga memiliki badan amal yang bernama Chelsea Foundation yang berperan dalam memerangi kanker anak di Inggris, anti- diskriminasi, berkeliling dunia mencari para pemain sepakbola muda berbakat yang bernasib kurang beruntung, melakukan pelatihan dan tur di beberapa negara Asia.
Chelsea juga memiliki tim sepakbola khusus untuk penyandang cacat. Kegiatan yang dilakukan oleh Chelsea Foundation ini bertujuan untuk berperan penting dalam merangkul anak-anak, membangun harga diri dan kepercayaan diri yang diharapkan akan berguna bagi mereka di kehidupan nanti.
3.2. Jenis Penelitian
Malhotra (2004) menyebutkan ada tiga jenis penelitian dalam riset pemasaran, yaitu penelitian eksploratif, penelitian kausal, dan penelitian deskriptif.
Dalam penelitian kali ini, penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif kausal
untuk menjelaskan adanya hubungan antara brand credibility, perceived quality, customer behaviour towards co-branding strategy, dan purchase intention.
Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk menjelaskan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagai variabel yang timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitian itu berdasarkan apa yang terjadi. Kemudian meng- angkat ke permukaan karakter atau gambaran tentang kondisi, situasi ataupun variabel tersebut. Sedangkan menurut Malhotra (2012, p.108) penelitian kausal digunakan untuk mempertahankan bukti dari hubungan sebab-akibat.
Pendekatan yang digunakan penulis adalah pendekatan kuantitatif.
Menurut (Sugiyono, 2009:14), metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivism, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
3.3. Gambaran Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi
Menurut Malhotra (2004:364), populasi adalah gabungan seluruh elemen yang memiliki serangkaian karakteristik serupa yang mencakup semesta untuk kepentingan masalah riset pemasaran. Menurut Sugiyono (2011:61), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang memiliki karakteristik tertentu yang kemudian ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian kali ini, populasi yang digunakan adalah seluruh penggemar klub sepakbola Chelsea, baik yang sudah menggunakan kartu debet BNI-Chelsea di Surabaya.
3.3.2. Sampel
Menurut Malhotra (2012, p.367) sampel adalah kelompok dari unsur-unsur populasi yang dipilih untuk berpartisipasi dalam penelitian. Keuntungan
menggunakan sampel adalah memudahkan peneliti agar penelitian lebih efektif dan efisien. Syarat utama sampel yang baik apabila sampel yang diambil mewakili ciri dan karakteristik populasi (representative) dengan bias yang terlalu kecil. Teknik sampling yang dipilih adalah purposive sampling, dikarenakan untuk menjadi responden, syaratnya adalah harus merupakan penggemar klub sepakbola Chelsea dan merupakan pengguna aktif kartu debet BNI-Chelsea.
3.3.3. Teknik Pengambilan Sampel
Untuk metode pengambilan sampel yang digunakan adalah non-probability sampling dimana semua populasi tidak memiliki peluang yang sama untuk menjadi responden dan pengambilan sampel didasarkan pada pertimbangan peneliti (Simamora. 2004, p.197). Dengan pertimbangan untuk menghemat waktu, tenaga dan biaya sehingga penulis menggunakan teknik yang lebih mendalam yaitu purposive sampling. Pengambilan sampel ini dilakukan atas dasar pertimbangan peneliti yang menganggap unsur-unsur yang dikehendaki telah ada dalam anggota sampel yang diambil.
Calon responden adalah para penggemar Chelsea yang berada di Surabaya dan merupakan pengguna kartu debet BNI-Chelsea. Untuk mengetahui jumlah sampel dalam penelitian regresi, penulis menggunakan rumus dari Green (1991) yaitu 50+8n, di mana n adalah jumlah variabel. Dalam penelitian ini terdapat empat variabel, sehingga dapat diperoleh perhitungan sebagai berikut :
Jumlah sampel = 50+8(n)
= 50+8(4)
= 82, dibulatkan menjadi 100 responden
Dengan sebuah dugaan bahwa sekitar 10% dari 82 responden akan mengisi kuesioner secara tidak maksimal dan hasil kuesioner tersebut tidak dapat dipakai dengan asumsi data yang terkumpul kurang maksimal. Sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut, maka penulis memutuskan untuk membulatkan responden menjadi 100 orang agar data yang didapatkan semakin akurat dan maksimal.
3.4. Jenis dan Sumber Data 3.4.1. Data Primer
Data Primer adalah data atau informasi yang diperoleh dari sumber pertama atau data yang didapatkan dari responden. Dalam penelitian ini, data primer penulis adalah kuesioner yang ditujukan kepada para penggemar Chelsea di Surabaya.
3.4.2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang sudah tersedia sehingga peneliti tinggal mencari dan mengumpulkannya. Data ini digunakan sebagai data pendukung dari data primer.Data ini dapat diperoleh dari studi kepustakaan, dapat berupa literatur atau catatan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, jurnal – jurnal yang bersangkutan, dan internet.
3.5. Metode dan Prosedur Pengumpulan Data
Menurut Sugiyono (2012: 308), teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi, wawancara, kuesioner, dokumentasi dan gabungan keempatnya.
Teknik pengumpulan data yang akan digunakan penulis dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner yang dibuat oleh penulis akan disebarkan langsung kedalam populasi yang dituju. Menurut Malhotra (2012:p.332) kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan tertulis ataupun lisan kepada reponden untuk dijawabnya.
Format kuesioner dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian pertama bersifat umum dan berkaitan dengan data pribadi responden, sedangkan bagian kedua merupakan pernyataan-pernyataan dari tiap variabel yang digunakan dalam penelitian.
Penelitian ini menggunakan skala likert. Menurut Sugiyono (2012: 93), skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Sugiyono menyatakan pula bahwa
jawaban setiap instrumen yang menggunakan skala likert ini mempunyai gradasi dari sangat positif hingga sangat negatif. Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor misalnya:
STS = sangat tidak setuju memiliki nilai = 1 TS = tidak setuju memiliki nilai = 2
N = netral memiliki nilai = 3
S = setuju memiliki nilai = 4
SS = sangat setuju memiliki nilai = 5 3.6. Klasifikasi Variabel
Menurut Sugiyono (2012:38) mendefinisikan variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan. Variabel dalam penelitian ini dibedakan menjadi 3 yaitu :
1) Variabel Bebas (Independent Variable) atau Variabel Eksogen Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, prediktor, antecedent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut variabel bebas. Menurut Sugiyono (2012:39) “Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat)”. Maka dalam penelitian ini, variabel independen adalah brand credibility dan perceived quality.
2) Variabel Terikat (Dependent Variable) atau Variabel Endogen
Variabel dependen sering disebut sebagai variabel output, kriteria, dan konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Menurut Sugiyono (2012:39) “Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas”. Maka dalam penelitian ini, variabel dependen adalah purchase intention.
3) Variabel Intervening atau Variabel Mediasi
Menurut Sugiyono (2012:39) “Variabel intervening adalah variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel independen dan dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan dapat diamati dan diukur”.
Menurut Solimun (2015), variabel mediasi atau variabel intervening adalah variabel yang bersifat menjadi perantara dari hubunga variabel bebas dan variabel terikat. Maka dalam penelitian ini, variabel mediasi adalah customer behavior towards co-branding strategy.
3.7. Definisi Operasional Variabel
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga memperoleh informasi tentang hal – hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono,2009).
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Variabel bebas atau variabel eksogen :
a. Brand Credibility (X1), dengan dimensi : X1.1 = Trustworthiness
Adalah merek perusahaan dapat dipercaya oleh konsumen karena perusahaan mampu menyampaikan janjinya. Indikatornya adalah :
X1.1.1 BNI sebagai merek bank yang terdepan dalam layanan dan kinerja.
X1.1.2 BNI dapat memberikan solusi bagi para nasabahnya secara maksimal.
X1.1.3 BNI memberikan informasi yang jujur dan transparan.
X1.1.4 Chelsea FC sebagai merek salah satu klub sepakbola terbesar di dunia.
X1.1.5 Chelsea FC merupakan merek klub sepakbola terbaik dan terbesar di Liga Inggris.
X1.2 = Expertise
Adalah merek perusahaan memiliki keunggulan atau kelebihan. Indikatornya adalah :
X1.2.1 BNI memiliki kantor cabang yang tersebar di hampir seluruh wilayah Surabaya sehingga mudah dijangkau.
X1.2.2 BNI sebagai merek bank terbesar di Indonesia.
X1.2.3 BNI memiliki kualitas layanan dan produk yang lebih baik dari bank lainnya.
X1.2.4 Seluruh pemain Chelsea FC memiliki kemampuan kelas
dunia.
X1.2.5 Chelsea FC memiliki kondisi finansial yang sehat sehingga mampu terus membeli pemain - pemain bintang dunia.
X1.2.6 Chelsea FC memiliki pemain - pemain muda berkualitas pada
akademi sepakbolanya dan berprospek cerah.
b. Perceived Quality (X2), dengan dimensi : X2.1 = Kinerja
Yaitu apakah produk bekerja sesuai seperti yang diharapkan.
Indikatornya adalah :
X.2.1.1 Kartu debet bank BNI mudah digunakan.
X.2.1.2 Kartu debet bank BNI memudahkan kegiatan transaksi setiap
hari.
X2.1.3 Chelsea FC selalu mempertontonkan permainan yang
menarik.
X2.1.4 Hampir seluruh pertandingan Chelsea FC hasilnya adalah kemenangan.
X2.2 = Karakteristik Produk
Yaitu elemen sekunder dari produk atau bagian-bagian tambahan dari produk sehingga dapat menjadi pembeda penting. Indikatornya adalah :
X2.2.1 Fitur dari kartu debet BNI menjawab kebutuhan Anda.
X2.2.2 Kartu debet BNI memiliki penampakan yang menarik.
X2.2.3 Chelsea memiliki merchandise yang sangat menarik.
X2.3 = Kesesuaian dengan spesifikasi
Yaitu tidak ada produk yang cacat dan produk mampu bekerja optimal. Indikatornya adalah :
X2.3.1 Seluruh fasilitas pada kartu debet BNI selalu mampu bekerja dengan optimal ketika digunakan.
X2.3.2 Chelsea selalu bertanding secara totalitas untuk
memenangkan pertandingan.
X2.4 = Keandalan
Yaitu adalah konsistensi kinerja produk dari satu pembelian ke pembelian berikutnya. Indikatornya adalah :
X2.4.1 Anda selalu puas dengan permainan Chelsea.
X2.4.2 Kinerja layanan BNI selalu memuaskan Anda.
X2.4.3 Chelsea selalu konsisten untuk memenangkan pertandingan.
X2.5 = Ketahanan
Yaitu seberapa lama produk tersebut bisa digunakan dengan sempurna. Indikatornya adalah :
X2.5.1 Kartu debet BNI tidak mudah rusak.
X2.5.2 Chelsea FC akan terus bertahan dalam jangka waktu yang lama di level sepakbola kelas dunia.
X2.6 = Pelayanan
Yaitu mencerminkan bagaimana kemampuan perusahaan memberikan pelayanan sehubungan dengan produk tersebut.
Indikatornya adalah :
X2.6.1 Kinerja pelayanan para pegawai bank BNI.
X2.6.2 Menyaksikan pertandingan Chelsea FC.
X2.7 = Hasil Akhir
Yaitu menunjukkan atau dirasakan adanya kualitas suatu produk.Indikatornya adalah :
X2.7.1 Kualitas layanan kartu debet BNI dalam membantu kegiatan transaksi sehari – hari
X2.7.2 Kualitas Chelsea FC yang menampilkan permainan
sepakbola kelas dunia
2. Variabel mediasi atau variabel intervening yaitu customer behaviour towards co-branding strategy (Y), dengan
dimensi : Y1 = Product Fit
Yaitu persepsi konsumen terhadap tingkat kesesuaian dua atau lebih kategori produk. Indikatornya adalah :
Y1.1 Penggunaan kartu debet BNI-Chelsea agar memudahkan kegiatan transaksi
Y1.2 Penggunaan kartu debet BNI-Chelsea karena Anda ingin menabung uang Anda
Y1.3 Penggunaan kartu debet BNI-Chelsea karena merasa uang akan aman ketika tersimpan di bank BNI Y1.4 Saya merasa strategi produk kartu kredit maupun kartu debet co- branding bank BNI dan Chelsea sudah sesuai dengan yang diinginkan oleh para penggemar Chelsea
Y1.4 Tertarik dengan benefit yang ditawarkan kartu debet BNI- Chelsea yaitu berhak mengikuti undian tiket menonton langsung pertandingan Chelsea di Stamford Bridge, London Y1.5 Tertarik dengan benefit yang ditawarkan kartu debet BNI-
Chelsea yaitu berkesempatan mendapatkan bendera Chelsea FC
Y1.6 Meningkatkan transaksi belanja menggunakan kartu debet BNI-Chelsea agar kesempatan memenangkan undian semakin besar
Y1.7 Meningkatkan jumlah saldo dalam kartu debet BNI-Chelsea agar kesempatan memenangkan undian semakin besar
Y1.8 Keuntungan pengguna kartu debet BNI-Chelsea ketika berbelanja merchandise resmi Chelsea yaitu mendapatkan diskon sebesar 10% untuk setiap pembelanjaan di Official Chelsea FC Megastore dengan tambahan cashback 5%
Y1.9 Kartu debet BNI-Chelsea praktis dan mudah dibawa kemana saja
Y2 = Brand Fit
Yaitu tingkat konsistensi dari citra merek setiap partner.
Indikatornya adalah :
Y2.1 Penampakan kartu debet BNI-Chelsea sangat menarik sebab ada foto para pemain Chelsea
Y2.2 Menjadi fans setia Chelsea FC apabila menggunakan kartu debet BNI-Chelsea
Y2.3 Merasakan kebanggaan tersendiri apabila memiliki kartu debet BNI-Chelsea
Y2.4 Seorang penggemar setia Chelsea FC wajib memiliki seluruh hal yang berkatian dengan Chelsea, salah satunya adalah kartu debet BNI-Chelsea
3. Variabel terikat atau variabel endogen yaitu purchase intention (Z), dengan dimensi :
Z1 = Cognitive
Yaitu didasarkan pada kenyataan-kenyataan seperti yang ditunjukkan oleh suatu produk kepada konsumen.
Indikatornya adalah :
Z1.1 Menggunakan kartu debet BNI-Chelsea karena kebutuhan fasilitas kemudahan bertransaksi yang ditawarkan
Z1.2 Menggunakan kartu debet BNI-Chelsea karena karena ingin menabung uang di bank BNI
Z1.3 Menggunakan kartu debet BNI-Chelsea karena merasa aman menabung uang di bank BNI
Z1.4 Menggunakan kartu debet BNI-Chelsea karena ingin memenangkan berbagai promo undian berhadiah
Z1.4 Menggunakan kartu debet BNI-Chelsea karena merasa menggunakan kartu debet sangat praktis dan mudah dibawa kemana saja
Z2 = Affective
Yaitu motif pembelian yang berkaitan dengan perasaan dan emosi individu. Indikatornya adalah :
Z2.1 Menggunakan kartu debet BNI-Chelsea sebagai penggemar setia Chelsea FC
Z2.2 Menggunakan kartu debet BNI-Chelsea agar mendapat pengakuan sebagai penggemar setia Chelsea FC
Z2.3 Merasakan kebanggaan tersendiri ketika menggunakan kartu debet BNI-Chelsea pada saat bertransaksi
Z2.4 Menggunakan kartu debet BNI-Chelsea karena ada gambar para pemain Chelsea FC
Z2.5 Menggunakan kartu debet BNI-Chelsea hanya karena berkaitan dengan Chelsea
Z2.6 Menggunakan kartu debet BNI-Chelsea karena dorongan orang - orang sekitar
Z2.7 Menggunakan kartu debet BNI-Chelsea karena sudah percaya dengan reputasi bank BNI
3.8. Teknik Analisis Data
3.8.1. GSCA (Generalized Structured Component Analysis)
Generalized Structured Compeonent Analysis (GSCA) dikembangkan oleh Heungsun Hwang, Hec Montreal, dan Yhosio Takane pada tahun 2004. Tujuannya adalah menggantikan faktor dengan kombinasi linier dari indikator (variabel manifes) di dalam analisis SEM. Pendekatan analisis ini menggunakan metode kuadrat terkecil (least square) di dalam proses pendugaan parameter. Metode GSCA juga dapat diterapkan pada hubungan antar variabel yang kompleks (rekursif
& non-rekursif), melibatkan higher-order komponen (faktor) dan perbandingan multi-group.
Tenenhaus (2008) mengatakan bahwa GSCA adalah metode baru SEM berbasis komponen, sangat penting dan dapat digunakan untuk perhitungan skor (bukan skala) dan juga dapat diterapkan pada sampel yang sangat kecil. Di samping itu, GSCA dapat digunakan pada model struktural yang melibatkan variabel dengan indikator refleksif atau normatif. Hwang (2009) mengatakan bahwa, dalam prakteknya, GSCA memperbolehkan terjadinya multikolonieritas yaitu terjadi korelasi yang kuat antar variabel eksogen. GSCA juga dikembangkan untuk menghindari kekurangan dari PLS (partial least square), yaitu dilengkapi dengan prosedur optimalisasi global (seperti pada SEM), sehingga juga powerfull untuk konfirmasi teori (Hwang & Takane, 2015). Langkah – langkah dalam penggunaan analisis GSCA adalah :
Gambar 3.3 Langkah – Langkah Analisis GSCA Sumber : Solimun (2015)
3.8.2. Merancang Model Pengukuran (Refleksif atau Formatif) a. Model Indikator Refleksif
Secara umum variabel laten dinyatakan seperti personalitas, sikap, perilaku, atau keinginan bertindak (konatif) umumnya dipandang sebagai variabel yang menampakkan sesuatu (tercermin) dan dapat diamati, sehingga indikatornya
Merancang Model Struktural (hubungan antar variabel laten)
Pengujian Hipotesis (Resampling Bootstrapping) Evaluasi Goodness of Fit
Estimasi: Weight, Loading, dan Koefisien Jalur (original & resampling)
Konversi Diagram Jalur ke Sistem Persamaan Mengkonstruksi Diagram Jalur Merancang Model Pengukuran (refleksif atau
formatif)
bersifat refleksif. Model indikator refleksif dikembangkan berdasarkan pada classical test theory yang mengasumsikan bahwa variasi nilai variabel laten merupakan fungsi dari true score (indikator) ditambah error. Jadi variabel laten seolah – olah mempengaruhi indikator atau arah kausalitas dari variabel laten ke indikator. Model refleksif sering disebut juga sebagai confirmatory factor model dimana data variabel laten berupa skor faktor dan diperoleh menggunakan analisis faktor konfirmatori.
b. Model Indikator Formatif
Variabel laten dengan model indikator fomatif mempunyai karakteristik berupa variabel komposit, sering dijumpai dalam bidang ekonomi. Penentuan model formatif atau refleksif dapat ditelusuri dari definisi operasional, sehingga berdasarkan variabel definisi operasional, maka dapat dinyatakan formatif atau refleksif.
Model indikator formatif tidak memerlukan asumsi bahwa korelasi antar indikator secara konsisten. Karena telah diasumsikan bahwa antar indikator tidak saling berkorelasi maka ukuran cronbach alpha tidak diperlukan. Untuk menilai validitas variabel laten perlu dilihat variabel lain yang mempengaruhi variabel laten. Jadi untuk menguji validitas dari variabel laten dengan model indikator formatif, peneliti harus menekankan pada nomological (berdasarkan pada substantive content-nya) dan atau criterion-related validity.
3.8.3. Pendugaan Parameter
Metode pendugaan parameter (estimasi) di dalam GSCA adalah metode kuadrat terkecil (least square methods). Pada GSCA, model struktural dan model pengukuran diintegrasikan menjadi satu model sehingga proses pendugaan parameter berorientasi pada meminimumkan residual model terintegrasi.
Metode pendugaan parameter yang digunakan yang mampu meminimumkan residual model secara terintegrasi adalah Alternating Least Square-ALS (Hwang, 2009). Proses perhitungan pada ALS adalah kompleks, oleh karena itu dalam proses mendapatkan residual yang minimum dilakukan dengan
cara iterasi. Dimana iterasi akan berhenti jika telah tercapai kondisi konvergen, misal selisih dugaan dengan tahap sebelumnya ≤ 0,001.
Pendugaan parameter dalam GSCA meliputi : a. Berdasarkan data sample original
1. Weight dan loading estimate adalah untuk mendapatkan data variabel laten, umumnya pendugaan parameter menggunakan pendekatan eigen value dan eigen vector.
2. Path coefficient estimate yaitu koefisien hubungan antar variabel laten, digunakan ALS.
b. Berdasarkan data resampling (sample boostrap)
1. Means dari weight, loading, path coefficient. Yaitu dugaan parameter berupa rata - rata dari subsampel, digunakan metode resampling bootstrap.
3.8.4. Measures of Fit
Measures of Fit dapat dilakukan pada model pengukuran, model struktural, dan model keseluruhan (overall model).
a. Measures of Fit Measurement Model
Model pengukuran ini bertujuan untuk menguji apakah instrumen penelitian valid dan reliabel.
- Convergent Validity
Validitas ini menggambarkan ukuran korelasi antara skor indikator refleksif dengan skor variabel latennya. Untuk hal ini oading 0.5 sampai 0.6 dianggap cukup, pada jumlah indikator per variabel laten tidak besar, berkisar antara 3 sampai 7 indikator.
Pendekatan lain dengan cara melihat hasil pengujian, jika signifikan (p<0,005) maka dikatakan valid.
- Discriminant Validity
Validitas ini pada indikator refleksif berdasarkan pada nilai AVE, yaitu membandingkan nilai square root of average variance extracted (AVE) setiap variabel laten dengan korelasi antar variabel laten lainnya dalam model, jika square root of average variance extracted (AVE) variabel laten lebih besar dari korelasi dengan seluruh variabel laten lainnya maka dikatakan memiliki discriminant validity yang baik.
∑i2
AVE =
∑i2 + ∑i var(Ei)
- Internal consistency reliability
Kelompok Indikator yang mengukur sebuah variabel memiliki reliabilitas internal konsistensi yang baik jika memiliki alpha ≥0.6 walaupun bukan merupakan standar absolut.
Pada indikator formatif ukuran validitas dievaluasi berdasarkan pada substantive content dengan melihat signifikansi dari weight, jika signifikan (p<0,005) berarti valid.
b. Measure of Fit Structural Model
Goodness of Fit Model structural diukur menggunakan FIT , yaitu setara dengan R- square pada analisis regresi atau koefisien determinasi total pada analisis jalur atau Q2 pada PLS.
1. FIT menunjukan varian total dari semua variabel yang dapat dijelaskan oleh model struktural. Nilai FIT berkisar dari 0 sampai 1.Semakin besar nilai ini, semakin besar proporsi varian variabel yang dapat dijelaskan. Jika nilai FIT = 1 berarti model secara sempurna dapat menjelaskan fenomena yang diselidiki.
2. AFIT (Adjusted FIT) serupa dengan R2 adjusted pada analisis regresi. AFIT dapat digunakan untuk perbandingan model. Model dengan AFIT nilai terbesar dapat dipilih antara model yang lebih baik.
c. Measure of Fit Overall Model
Overall Model adalah model didalam GSCA yang melibatkan model struktural dan model pengukuran secara terintegrasi, jadi merupakan keseluruhan model. Beberapa pemeriksaan goodness of fit model overall disertai dengan nilai cut off diberikan pada tabel berikut :
Tabel 3.1 Ukuran Goodness of Fit Model Overall pada GSCA Sumber : Solimun (2015)
Goodness of FIT Cut-off Keterangan
SRMR ≤0.08 Setara dengan RMSEA pada SEM GFI ≥0.90 Mirip dengan R2dalam regresi
Tabel 3.2 Kriteria SRMR Sumber : Solimun (2015)
SRMR Keterangan
<0.05 Close fit (model sangat sesuai) 0.05 – 0.08 Good fit (model sesuai)
0.08-0.1 Mariginal fit (model cukup sesuai)
>0.1 Poor fit (model tidak sesuai)
3.8.5. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis (β,ϓ, dan λ) dilakukan dengan metode resampling Bootstrap. Statistik uji yang digunakan adalah statistik t atau uji t, dengan hipotesis statistik sebagai berikut :
- Hipotesis statistik untuk outer model adalah H0 : λi = 0 lawan
H0 : λi ≠ 0
- Hipotesis statistik untuk inner model : pengaruh variabel laten eksogen terhadap endogen adalah
H0 : ϓi = 0 lawan H0 : ϓi ≠ 0
- Hipotesis statistik untuk inner model : pengaruh variabel laten endogen terhadap endogen adalah
H0 : βi = 0 lawan H0 : βi ≠ 0
Sample bootstrap disarankan sebesar 500, hal ini didasarkan pada beberapa penelitian bahwa dengan sample bootstrap 500, sudah dihasilkan penduga parameter yang bersifat stabil. Sedangkan besar sampel pada masing- masing sampel bootstrap disarankan lebih kecil atau sama dengan sampel asli.
Hal ini akan menghasilkan penduga parameter yang bersifat stabil. Misalnya jika data dianalisis dengan sampel original n=40, maka sampel bootstrap sebesar 500 (number of sample) dan sampel pada masing-masing sampel bootstrap sebesar 40 atau 39 atau 38 atau 37 atau 36 atau 35 (cases per sample).
3.9. Analisis Deskriptif
Menurut Sugiyono (2012:148) statistik deskriptif adalah statistik yang di- gunakan untuk menganalisa data dengancara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat ke-simpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
Analisa deskriptif merupakan metode analisis yang digunakan untuk memperoleh gambaran secara mendalam dan obyektif mengenai obyek penelitian.
Dalam upaya membantu memaparkan hasil analisis ini, maka hasil penelitian melalui survei disajikan dalam bentuk tabel dan gambar sesuai hasil pengamatan.