RAJAWALI PERS Divisi Buku Perguruan Tinggi
PT RajaGrafindo Persada D E P O K
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Ishaq
Pengantar Hukum Indonesia (PHI) /Ishaq
—Ed. 1—Cet. 5.—Depok: Rajawali Pers, 2018.
xii, 338 hlm., 24 cm Bibliografi: hlm. 327 ISBN 978-979-769-742-6
1. Hukum -- Indonesia. I. Judul.
340.095 98
Hak cipta 2014, pada Penulis
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apa pun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, tanpa izin sah dari penerbit 2014.1404 RAJ
Dr. H. Ishaq, S.H., M.Hum Dr. H. Efendi, S.H., M.Si (Editor) PENGANTAR HUKUM INDONESIA (PHI) Cetakan ke-4, Mei 2017
Cetakan ke-5, September 2018
Hak penerbitan pada PT RajaGrafindo Persada, Depok Desain cover oleh [email protected]
Dicetak di Fajar Interpratama Mandiri PT RAJAGRAfInDo PERSADA Anggota IKAPI
Kantor Pusat:
Jl. Raya Leuwinanggung, No.112, Kel. Leuwinanggung, Kec. Tapos, Kota Depok 16956 Tel/Fax : (021) 84311162 – (021) 84311163
E-mail : [email protected] http: // www.rajagrafindo.co.id Perwakilan:
Jakarta-16956 Jl. Raya Leuwinanggung No. 112, Kel. Leuwinanggung, Kec. Tapos, Depok, Telp. (021) 84311162.
Bandung-40243, Jl. H. Kurdi Timur No. 8 Komplek Kurdi, Telp. 022-5206202. Yogyakarta-Perum. Pondok Soragan Indah Blok A1, Jl. Soragan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Telp. 0274-625093. Surabaya-60118, Jl. Rungkut Harapan Blok A No. 09, Telp. 031-8700819. Palembang-30137, Jl. Macan Kumbang III No. 10/4459 RT 78 Kel. Demang Lebar Daun, Telp. 0711-445062. Pekanbaru-28294, Perum De' Diandra Land Blok C 1 No. 1, Jl. Kartama Marpoyan Damai, Telp. 0761-65807. Medan-20144, Jl. Eka Rasmi Gg. Eka Rossa No. 3A Blok A Komplek Johor Residence Kec. Medan Johor, Telp. 061-7871546. Makassar-90221, Jl. Sultan Alauddin Komp. Bumi Permata Hijau Bumi 14 Blok A14 No. 3, Telp. 0411-861618. Banjarmasin-70114, Jl. Bali No. 31 Rt 05, Telp. 0511-3352060. Bali, Jl. Imam Bonjol Gg 100/V No. 2, Denpasar Telp. (0361) 8607995. Bandar Lampung-35115, Jl. P. Kemerdekaan No. 94 LK I RT 005 Kel. Tanjung Raya Kec. Tanjung Karang Timur, Hp. 082181950029.
PERSEMBAHAN
Buku ini saya persembahkan kepada:
Ayahnda Dama almarhum dan Ibunda Hj. Halwiah Kakandaku M. Yusuf.
Istriku yang tercinta, Asyirah
Putra-putriku tersayang: Nurhikmah Ishaq, dan Fadhli Muhaimin Ishaq
Para guru-guruku, dan
Almamaterku
Ο¡0
!#
≈Ηq9#
ΟŠm9#
Dengan mengucapkan puji dan syukur yang sedalam-dalamnya penulis panjatkan kehadirat Allah Swt. yang telah memberikan rahmat dan hidayah- Nya sehingga karena-Nya penulis telah dapat menyelesaikan penyusunan buku referensi Pengantar Hukum Indonesia (PHI).
Buku referensi ini merupakan penyempurnaan dari buku referensi penulis yang pertama dengan judul Dasar-Dasar Hukum Indonesia yang diterbitkan oleh penerbit STAIN Kerinci Press dengan tujuan untuk diedarkan di kalangan terbatas di lingkungan mahasiswa Jurusan Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci tempat penulis mengabdikan diri.
Penyusunan buku referensi ini pada awalnya bertujuan untuk membantu mahasiswa dalam proses belajar mengajar khususnya dalam Mata Kuliah Pengantar Hukum Indonesia (PHI) pada semester II (dua) yang mengambil Mata Kuliah “Pengantar Hukum Indonesia” dalam bentuk buku referensi.
Buku referensi ini merupakan penyempurnaan dari buku referensi sebelumnya, yakni penambahan materi dari setiap bab dan literatur terbaru sebagai sumber referensi. Buku referensi ini pokok bahasannya sudah disesuaikan dengan Topik Inti Kurikulum Nasional Perguruan Tinggi Agama Islam Fakultas Syariah dan Hukum UIN, Fakultas Syariah IAIN, Jurusan Syariah STAIN Kerinci, dan Fakultas Syariah IAIN STS Jambi.
KATA PENGANTAR
Dalam kesempatan ini pula penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Y. Sonafist, M.Ag, selaku Ketua STAIN Kerinci yang telah banyak memberikan arahan semangat dan dorongan kepada penulis, sehingga buku referensi ini dapat diselesaikan dengan baik. Di samping itu juga Sdr. Dr. H.
Efendi, S.H., M.Si, yang bersedia sebagai editor ahli dari buku referensi ini.
Dengan adanya buku referensi ini tidak berarti bahwa para mahasiswa lalu dapat mengesampingkan buku-buku literatur Pengantar Hukum Indonesia dan bahan-bahan lainnya yang telah diwajibkan. Penulisan buku referensi ini masih belum sempurna, oleh karena itu, penulis tetap mengharapkan saran- saran dan kritikan sehat dari pembaca (pemakai) untuk lebih penyempurnaan buku referensi ini. Kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan dan penerbitan buku referensi ini, serta kepada Penerbit PT RajaGrafindo Persada yang berkenan menerbitkan diucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga kehadiran buku referensi ini dapat membantu mahasiswa dalam mempelajari Pengantar Hukum Indonesia.
و ﷲ رو م
و ﷲ رو م
Sungai Penuh, April 2013
Penulis
Dr. H. Ishaq, S.H., M.Hum
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR vii
BAB 1 PENDAHULUAN 1
A. Pengertian Pengantar Hukum Indonesia (PHI)
dan Pengantar Ilmu Hukum (PIH) 1
B. Pengertian Tata Hukum 4
C. Sejarah Tata Hukum di Indonesia 5
D. Pembinaan Hukum Nasional 22
BAB 2 SUMBER HUKUM DAN BAHAN HUKUM 31
A. Pengertian dan Macam-macam Sumber Hukum 31
B. Bahan-bahan Hukum 59
BAB 3 ASAS-ASAS HUKUM TATA NEGARA 61
A. Istilah dan Pengertian Hukum Tata Negara 61 B. Sejarah Ketatanegaraan Indonesia 64
C. Sistem Pemerintahan 70
D. Lembaga Negara Republik Indonesia 81 BAB 4 ASAS-ASAS HUKUM ADMINISTRASI NEGARA 103
A. Istilah dan Definisi Hukum Administrasi Negara 103 B. Asas-asas Hukum Administrasi Negara 104
C. Perbuatan Administrasi Negara 107
D. Peradilan Tata Usaha Negara 116
BAB 5 ASAS-ASAS HUKUM PIDANA 127
A. Pengertian Hukum Pidana 127
B. Sejarah Hukum Pidana di Indonesia 129 C. Tindak Pidana dan Jenis Pidana 136
D. Berlakunya Hukum Pidana 138
E. Penggolongan Tindak Pidana dan Sistematika KUHP 145
BAB 6 ASAS-ASAS HUKUM PERDATA 151
A. Istilah dan Pengertian Hukum Perdata 151 B. Sejarah Hukum Perdata di Indonesia 152
C. Sistematika Hukum Perdata 154
BAB 7 ASAS HUKUM ACARA PIDANA 213
A. Pengertian, Tujuan dan Asas Hukum Acara Pidana 213 B. Sejarah Singkat Hukum Acara Pidana 216 C. Ruang Lingkup Kegiatan Hukum Acara Pidana 217 D. Pemeriksaan di Sidang Pengadilan dan Alat Bukti 219 E. Putusan Pengadilan dan Upaya Hukum 227 F. Pelaksanaan Putusan Haki m 237
BAB 8 ASAS HUKUM ACARA PERDATA 239
A. Pengertian,Tujuan, Fungsi dan Asas Hukum Acara
Perdata 239
B. Pihak-pihak dalam Proses Hukum Acara Perdata 245 C. Proses Beracara di Pengadilan 246 D. Rekonvensi (Gugatan Balasan) 252 E. Intervensi Terhadap Perkara yang Diperiksa 253 F. Gugatan Dengan Prodeo (Cuma-cuma) 257
G. Pembuktian 259
H. Kesimpulan dari Penggugat dan Tergugat
Sebelum Perkara Diputus 261
I. Putusan Hakim 262
J. Upaya Hukum 263
BAB 9 ASAS-ASAS HUKUM DAGANG 271
A. Istilah dan Pengertian Hukum Dagang 271
B. Sejarah Hukum Dagang 272
C. Sistematika dan Sumber Hukum Dagang 273
BAB 10 HUKUM PERBURUHAN 275
A. Pengertian Hukum Perburuhan 275 B. Perjanjian Kerja dan Perjanjian Perburuhan 277
BAB 11 ASAS-ASAS HUKUM AGRARIA 281
A. Definisi Hukum Agraria 281
B. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 283
BAB 12 ASAS-ASAS HUKUM PAJAK 285
A. Pengertian Hukum Pajak 285
B. Perbedaan Antara Pajak, Retribusi dan Sumbangan 286
C. Jenis-jenis Pajak 286
BAB 13 ASAS-ASAS HUKUM ANTAR GOLONGAN 289 A. Istilah dan Pengertian Hukum Antar Golongan 289 B. Sejarah Timbulnya Hukum Antar Golongan 290 BAB 14 ASAS-ASAS HUKUM INTERNASIONAL DAN
HUKUM PERDATA INTERNASIONAL 293
A. Asas-asas Hukum Internasional 293 B. Asas-asas Hukum Perdata Internasional 296
BAB 15 ASAS-ASAS HUKUM ADAT 301
A. Istilah dan Pengertian Hukum Adat 301 B. Sifat dan Lingkungan Hukum Adat 303 C. Struktur Persekutuan Hukum (Masyarakat Hukum) 305
BAB 16 ASAS-ASAS HUKUM ISLAM 307 A. Istilah dan Pengertian Hukum Islam 307
B. Sumber Hukum Islam 308
C. Tujuan Hukum Islam 322
DAFTAR PUSTAKA 327
CATATAN SINGKAT MENGENAI PENULIS 337
PENDAHULUAN BAB 1
A. Pengertian Pengantar Hukum Indonesia (PHI) dan Pengantar Ilmu Hukum (PIH)
Pengantar Hukum Indonesia merupakan basis atau mata kuliah dasar yang tidak bisa ditinggalkan oleh seseorang yang ingin mempelajari keseluruhan hukum positif di Indonesia. Pengantar Hukum Indonesia (PHI) terdiri dari kata Pengantar dan Hukum Indonesia. Pengantar berarti membawa ke tempat yang dituju mempelajari masalah-masalah dan cabang-cabang hukum di Indonesia.
Oleh karena itu, Pengantar Hukum Indonesia (PHI) adalah mata kuliah dasar yang mempelajari keseluruhan hukum positif1 Indonesia sebagai suatu sistem hukum yang sedang berlaku di Indonesia dalam garis besarnya. Dengan demikian, objek dari Pengantar Hukum Indonesia adalah hukum positif Indonesia. Fungsinya adalah mengantarkan setiap mahasiswa atau orang yang akan mempelajari hukum positif Indonesia.
Sedangkan Pengantar Ilmu Hukum (PIH) adalah mata kuliah yang merupakan dasar bagi setiap mahasiswa atau orang yang akan mempelajari ilmu hukum dan memberikan pengertian-pengertian dasar berbagai istilah dalam ilmu hukum yang bersifat umum, yakni tidak terbatas pada ilmu hukum yang berfokus pada negara tertentu dan masa tertentu.
1Adalah hukum yang berlaku sekarang bagi suatu masyarakat tertentu dalam suatu daerah tertentu.
Jadi objek Pengantar Ilmu Hukum adalah hukum pada umumnya dan tidak terbatas pada hukum positif negara tertentu. Fungsinya adalah mendasari dan menumbuhkan motivasi bagi setiap mahasiswa atau orang yang akan mempelajari hukum.
Pengantar Ilmu Hukum secara formalnya, yaitu memberikan suatu pemandangan umum secara ringkas, yakni: (1) mengenai seluruh ilmu pengetahuan hukum, (2) mengenai kedudukan ilmu hukum di samping ilmu-ilmu yang lain, (3) mengenai pengantar dasar, asas dan penggolongan cabang hukum.
Secara materiilnya bahwa Pengantar Ilmu Hukum (PIH) memberikan uraian tentang sejarah lembaga-lembaga hukum beserta metode-metode peninjauannya baik secara sejarah, kemasyarakatan, filsafat, maupun dogmatis.
Pengantar Ilmu Hukum (PIH) berstatus sebagai mata kuliah dasar yang menunjukkan jalan ke arah cabang-cabang ilmu hukum yang lebih terperinci dan mempunyai nilai guna/parktis. Dengan demikian, Pengantar Ilmu Hukum (PIH) memberi pengetahuan dalam garis besarnya mengenai hukum pada umumnya.
Menurut Marwan Mas,bahwa:
Pengantar Ilmu Hukum (PIH) merupakan mata kuliah dasar bagi mahasiswa (setiap orang) yang akan mempelajari atau bahkan memperdalam ilmu hukum, meskipun berisi pengetahuan dasar hukum, tetapi membutuhkan kesiapan bagi yang ingin mendalaminya karena lingkup bahasannya sangat luas.2
Berdasarkan keterangan di atas dapatlah dijelaskan bahwa mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum (PIH) keberadaannya sebagai pengantar dalam mengarungi lautan ilmu hukum, sesungguhnya memberikan pemahaman tentang bagaimana dasar-dasar teoretis, asas-asas, dan filosofis yang terkandung dalam lautan hukum itu.
Jadi Pengantar Ilmu Hukum (PIH) mengantarkan kepada materi lapangan- lapangan hukum yang cukup luas, seperti hukum pidana, hukum perdata, hukum tata negara, hukum administrasi negara, hukum internasional, hukum perdata internasional, hukum agraria, hukum lingkungan, hukum adat, hukum pajak, hukum acara (hukum formal), dan sebagainya.
2Marwan Mas, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2004), hlm. 11.
Sebagai pengantar, maka PIH yang objeknya hukum mengkaji dan menganalisis hukum sebagai suatu fenomena (gejala) hukum yang berhubungan dengan kehidupan manusia secara universal.
Apabila diperhatikan penjelasan di atas maka antara Pengantar Hukum Indonesia (PHI) dengan Pengantar Ilmu Hukum (PIH) mempunyai perbedaan dan hubungannya, yaitu:
1. Perbedaannya:
a. Kedua ilmu itu (PHI dan PIH) memiliki objek kajian yang berbeda, yaitu objek kajian Pengantar Hukum Indonesia (PHI) adalah mempelajari hukum yang sekarang sedang berlaku atau hukum positif di Indonesia (ius constitutum). Sedangkan objek kajian Pengantar Ilmu Hukum (PIH) adalah pengertian dasar dan teori ilmu hukum serta membahas hukum pada umumnya, dan tidak terbatas pada hukum yang berlaku tertentu saja, akan tetapi juga hukum yang berlaku di negara lain pada waktu kapan saja (ius constitutum dan ius constituendum).
b. Pengantar Hukum Indonesia (PHI) berfungsi untuk mengantarkan setiap mahasiswa atau orang yang akan mempelajari hukum yang sedang berlaku atau hukum positif Indonesia. Sedangkan Pengantar Ilmu Hukum (PIH) berfungsi sebagai dasar bagi setiap mahasiswa atau orang yang akan mempelajari hukum secara luas beserta pelbagai hal yang melingkupnya.
2. Hubungannya.
Adapun hubungan antara Pengantar Hukum Indonesia (PHI) dengan Pengantar Ilmu Hukum (PIH) adalah merupakan dua mata kuliah yang memiliki hubungan yang erat. Hubungan yang erat itu mengantarkan bagi yang mempelajarinya pada suatu kesimpulan, bahwa Pengantar Hukum Indonesia (PHI) secara khusus mempelajari hukum yang sedang diberlakukan pada waktu tertentu di Indonesia, namun dalam Pengantar Ilmu Hukum (PIH) menelaah hukum secara luas dan komprehensif.
Selanjutnya hubungan antara Pengantar Hukum Indonesia (PHI) dengan Pengantar Ilmu Hukum (PIH) dapat dilihat pada dua hal di bawah ini, yaitu:
a. Kedua llmu itu (PHI dan PIH) merupakan mata kuliah dasar keahlian yang akan mempelajari ilmu hukum.
b. Pengantar Ilmu Hukum (PIH) merupakan dasar untuk mempelajari Pengantar Hukum Indonesia (PHI), yakni Pengantar Ilmu Hukum (PIH) harus dipelajari terlebih dahulu sebelum mempelajari Pengantar Hukum Indonesia (PHI).
Untuk mempermudah melihat perbedaan dan hubungan antara Pengantar Hukum Indonesia (PHI) dengan Pengantar Ilmu Hukum (PIH) dapat dilihat pada skema I di bawah ini:
Skema 1. Perbedaan dan hubungan antara PHI dan PIH.
Mata Kuliah Dasar Keahlian Hukum
Pengantar Hukum Indonesia Pengantar Ilmu Hukum
Fungsinya mendasari dan menum- buhkan mo- tivasi bagi setiap mhs/
orang yg akan mem- pelajari hu- kum.
Objeknya hukum pada umumnya yg tidak ter- batas pada- hukum positif negara ter- tentu.
Fungsinya mengantarkan setiap mahasis- wa/orang yang akan mempela- jari hukum posi- tif Indonesia Objeknya
hukum positif Indonesia
B. Pengertian Tata Hukum
Tata hukum dalam bahasa Belandanya disebut “recht orde”, yaitu susunan hukum. Dengan demikian tata hukum adalah susunan hukum yang terdiri atas aturan-aturan hukum yang tertata sedemikian rupa sehingga orang mudah menemukannya bila suatu ketika ia membutuhkannya untuk menyelesaikan peristiwa hukum yang terjadi dalam masyarakat. Tata atau susunan itu pelaksanaannya berlangsung selama ada pergaulan hidup manusia yang berkembang.
Setiap bangsa mempunyai tata hukumnya sendiri, demikian juga bangsa Indonesia mempunyai tata hukumnya, yaitu tata hukum Indonesia. Guna
mempelajari tata hukum Indonesia adalah untuk mengetahui hukum yang berlaku sekarang ini di dalam negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tata hukum yang sah dan berlaku pada waktu tertentu di negara tertentu disebut hukum positif (ius constitutum). Sedangkan tata hukum yang diharapkan berlaku pada waktu yang akan datang dinamakan. Ius constituendum dapat menjadi ius constitutum, dan ius constitutum dapat hapus dan diganti dengan ius constitutum baru yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang senantiasa berkembang.
Dalam hal ini dapat dicontohkan pada Buku Kesatu tentang perkawinan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPER) diganti dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974, tentang Perkawinan. Proses penggantian aturan-aturan hukum seperti itu akan harus dilakukan oleh manusia selama pergaulan hidup menghendaki adanya rasa keadilan yang sesuai kebutuhan akan ketertiban dan ketenteraman hidupnya.
Tata hukum Indonesia adalah tata hukum yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia yang terdiri dari aturan-aturan hukum yang ditata atau disusun sedemikian rupa, dan aturan-aturan itu antara satu dan lainnya saling berhubungan dan saling menentukan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan contoh sebagai berikut:
a. Hukum pidana saling berhubungan dengan hukum acara pidana dan saling menentukan satu sama lain, sebab hukum pidana tidak akan dapat diterapkan tanpa adanya hukum acara pidana. Dalam arti jika tidak ada hukum pidana, maka hukum acara pidana tidak akan berfungsi.
b. Hukum keluarga berhubungan dan saling menentukan dengan hukum waris. Agar harta kekayaan yang ditinggalkan oleh seseorang yang meninggal dunia dapat dibagikan kepada para ahli warisnya perlu dibuat peraturannya. Siapa ahli warisnya, berapa bagiannya, dan apa kewajibannya ditentukan oleh hukum waris.
C. Sejarah Tata Hukum di Indonesia
Sejarah dalam bahasa asing, misalnya bahasa Inggrisnya adalah “history”, Asal katanya yaitu,”historiai” dari bahasa Yunani yang artinya adalah hasil penelitian. Dalam bahasa Latinnya adalah “historis”. Istilah ini menyebar luas menjadi “historia” (bahasa Spanyol), “historie” (bahasa Belanda),
“histoire”(bahasa Prancis), dan “storia”(bahasa Italia). Sedangkan dalam bahasa
Jermannya, semula dipergunakan istilah “Geschichte”, yang berasal dari kata geschehen, yang berarti “sesuatu yang terjadi”. Sedangkan istilah “Historie”
menyatakan kumpulan fakta kehidupan dan perkembangan manusia.3 Dengan demikian sejarah adalah suatu cerita dari kejadian masa lalu yang dikenal dengan sebutan lagenda, kisah, hikayat, dan sebagainya yang kebenarannya belum tentu tanpa bukti-bukti sebagai hasil suatu penelitian. Di samping itu, sejarah dapat juga diartikan sebagai suatu pengungkapan dari kejadian-kejadian masa lalu. Menurut Soerjono Soekanto, sejarah adalah pencatatan yang bersifat deskriptif dan interpretatif, mengenai kejadian-kejadian yang dialami oleh manusia pada masa-masa lampau, yang ada hubungannya dengan masa kini.4
Apabila dilihat dari kegunaannya, maka sebagai pegangan dapat diartikan bahwa, sejarah adalah suatu pencatatan dari kejadian-kejadian penting masa lalu yang perlu diketahui, diingat, dan dipahami oleh setiap orang atau suatu bangsa masa kini. Jadi sejarah tata hukum Indonesia adalah suatu pencatatan dari kejadian-kejadian penting mengenai tata hukum Indonesia pada masa lalu yang perlu diketahui, diingat dan dipahami oleh bangsa Indonesia.
Sejarah tata hukum Indonesia terdiri dari sebelum tanggal 17 Agustus 1945 dan sesudah tanggal 17 Agustus 1945. Sebelum tanggal 17 Agustus 1945 terdiri dari:
1. Masa Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) (1602-1799);
2. Masa Besluiten Regerings (1814-1855);
3. Masa Regerings Reglement (1855-1926);
4. Masa Indische Staatsregeling (1926-1942);
5. Masa Jepang (Osamu Seirei) (1942-1945).5
Sedangkan sesudah tanggal 17 Agustus 1945 adalah sebagai berikut:
1. Masa 1945-1949 (18 Agustus1945 – 26 Desember 1949);
2. Masa 1949-1950 (27 Desember 1945 – 16 Agustus 1950);
3. Masa 1950-1959 (17 Agustus 1950 – 4 Juli 1959);
4. Masa 1959-sekarang (5 Juli 1959 – sekarang).6
3R.Abdoel Djamali, Pengantar Hukum Indonesia,(Jakarta: RajaGrafindo Persada,1999), hlm. 8.
4Soerjono Soekanto, Pengantar Sejarah Hukum, (Bandung: Alumni,1983), hlm.13.
5J.B. Daliyo, Pengantar Hukum Indonesia,(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,1995), hlm.13-21.
6J.B. Daliyo, Ibid, hlm. 23-25.
1. Masa Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC/1602-1799)
Sebelum kedatangan orang-orang Belanda pada tahun 1596 di Indonesia hukum yang berlaku di daerah-daerah Indonesia pada umumnya adalah hukum yang tidak tertulis yang disebut hukum adat. Setelah orang-orang Belanda berada di Indonesia dengan mendirikan Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) pada tahun 1602 dengan tujuan supaya tidak terjadi persaingan antar para pedagang yang membeli rempah-rempah dari orang-orang pribumi, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang besar di pasaran Eropa.
Vereenigde Oost Indische Compagnie dalam berdagang diberi hak istimewa oleh pemerintah Belanda yang disebut hak octrooi yang meliputi monopoli pelayaran dan perdagangan, mengumumkan perang, mengadakan perdamaian dan mencetak uang. Dengan hak octrooi itu VOC melakukan ekspansi penjajahan di daerah-daerah kepulauan Nusantara, dan menanamkan penekanan dalam bidang perekonomian dengan memaksakan aturan-aturan hukumnya yang dibawa dari negeri asalnya untuk ditaati oleh orang-orang pribumi.
Peraturan-peraturan tersebut merupakan hukum positif orang Belanda di daerah perdagangan, yakni ketentuan-ketentuan hukum yang dijalankan di atas kapal-kapal dagang. Ketentuan hukum tersebut sama dengan hukum Belanda kuno yang sebagian besar merupakan hukum disiplin. Sejak Gubernur Jenderal Pieter Both diberi wewenang untuk membuat peraturan yang diperlukan oleh VOC di daerah-daerah yang dikuasainya, maka setiap peraturan yang dibuat itu diumumkan berlakunya melalui “pelekat”. Kemudian pelekat itu dihimpun dan diumumkan dengan nama “Statuten Van Batavia” (Statuta Betawi) pada tahun 1642.
Statuta tersebut berlaku sebagai hukum positif baik orang-orang pribumi maupun orang pendatang dan sama kekuatan berlakunya dengan peraturan- peraturan lain yang telah ada. Peraturan-peraturan hukum yang dibuat oleh VOC, pada masa inipun kaidah-kaidah hukum adat Indonesia tetap dibiarkan berlaku bagi orang bumi putra (pribumi). Tetapi dalam berbagai hal VOC mencampuri peradilan-peradilan adat dengan alasan-alasan, bahwa:
Sistem hukum pada hukum adat, tidak memadai untuk memaksakan rakyat menaati peraturan-peraturan;
Hukum adat adakalanya tidak mampu menyelesaikan suatu perkara, karena persoalan alat-alat bukti;
Adanya tindakan-tindakan tertentu yang menurut hukum adat bukan merupakan kejahatan, sedangkan menurut hukum positif merupakan tindak pidana yang harus diberikan suatu sanksi.7
Salah satu contoh tentang campur tangan penjajah adalah diadakannya
“pakem Cirebon” sebagai pegangan bagi hakim-hakim peradilan adat, yang isinya antara lain memuat sistem hukuman seperti, pemukulan, cap bakar, dirantai. Pada zaman ini daerah Indonesia misalnya Aceh sudah dikenal sistem penghukuman yang kejam seperti hukuman mati bagi seorang istri yang melakukan perzinaan, hukuman potong tangan bagi orang mencuri, hukuman menumbuk kepala dengan alu lesung bagi orang pembunuh tanpa hak.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa ketika VOC berkuasa, tata hukum yang berlaku adalah aturan-aturan yang berasal dari negeri Belanda dan aturan yang diciptakan oleh gubernur jenderal yang berkuasa di daerah kekuasaan VOC, serta aturan yang tidak tertulis maupun yang tertulis yang berlaku bagi orang-orang pribumi, yakni hukum adatnya masing-masing.
Pada tanggal 31 Desember 1799 pemerintah Belanda akhirnya membubarkan VOC, karena banyak menanggung utang.
2. Masa Besluiten Regerings (1814-1855)
Menurut Pasal 36 Nederlands Gronwet tahun 1814 (UUD Negeri Belanda 1814) menyatakan bahwa “Raja yang berdaulat, secara mutlak mempunyai kekuasaan tertinggi atas daerah-daerah jajahan dan harta milik negara di bagian-bagian lain”. Kekuasaan mutlak raja itu diterapkan pula dalam membuat dan mengeluarkan peraturan yang berlaku umum dengan sebutan “Algemene Verordening”(Peraturan Pusat). Karena peraturan pusat itu dibuat oleh raja, maka dinamakan juga “Koninklijk Besluit”(besluit raja) yang pengundangannya dibuat oleh raja melalui “Publicatie, yakni surat selebaran yang dilakukan oleh Gubernur Jenderal.
Dilihat dari isi Koninklijk Besluit itu mempunyai dua sifat tergantung dari kebutuhannya, yaitu:
1. Besluit sebagai tindakan eksekutif raja, misalnya ketetapan pengangkatan gubernur jenderal.
2. Besluit sebagai tindakan legislatif, yaitu mengatur misalnya berbentuk Algemene Verordening atau Algemene Maatregel Van Bestur (AMVB) di negeri Belanda.
Dalam rangka melaksanakan pemerintahan di “Nederlands Indie”
(Hindia Belanda), raja mengangkat Komisaris Jenderal yang terdiri dari Elout, Buyskes dan Vander Capellen. Para Komisaris Jenderal itu tidak membuat
peraturan baru untuk mengatur pemerintahannya, dan tetap memberlakukan undang-undang dan peraturan-peraturan yang berlaku pada masa Inggris berkuasa di Indonesia, yakni mengenai landrente dan usaha pertanian dan susunan pengadilan buatan Raffles. Dalam bidang hukum peraturan yang berlaku bagi orang Belanda tidak mengalami perubahan, karena menunggu terwujudnya kodifikasi hukum yang direncanakan oleh pemerintah Belanda.
Lembaga peradilan yang diperlakukan bagi orang pribumi tetap dipergunakan peradilan Inggris.
Untuk memenuhi kekosongan kas negara Belanda sebagai akibat dari pendudukan Prancis tahun 1810-1814, Gubernur Jenderal Du Bus de Gesignes memperlakukan politik agraria dengan cara mempekerjakan para terpidana pribumi yang dikenal dengan “dwangs arbeid”(kerja paksa) berdasarkan pada stbl.1828 nomor 16, yang dibagi atas dua golongan, yaitu:
1. yang dipidana kerja rantai;
2. yang dipidana kerja paksa.8
Dipidana kerja-rantai, ditempatkan dalam suatu tuchtplaats dan akan dipekerjakan pada openbare werker di Batavia dan Surabaya. Sedangkan yang dipidana kerja paksa, baik yang diupah maupun tidak, ditempatkan dalam suatu werkplaats dan akan dipekerjakan pada landbouweta blissementen yang dibuat oleh pemerintah.
Pada tahun 1830 pemerintah Belanda berhasil mengkodifikasikan hukum perdata. Pengundangan hukum yang sudah berhasil dikodifikasi itu baru dapat terlaksana pada tanggal 1 Oktober 1838. Hal ini disebabkan terjadinya pemberontakan di bagian selatan Belanda pada bulan Agustus 1830.
Selanjutnya timbul pemikiran tentang pengkodifikasian hukum perdata bagi orang Belanda yang berada di Hindia Belanda. Untuk maksud itu pada tanggal 15 Agustus 1839 menteri jajahan di Belanda mengangkat Komisi undang- undang bagi Hindia Belanda yang terdiri dari Mr.Scholten Van Oud Haarlem sebagai ketua, Mr.J.Schmither dan Mr.J.F.H. Van Nes sebagai anggota. Komisi ini dalam tugasnya dapat menyelesaikan beberapa peraturan yang kemudian oleh Mr. H.L. Wicher disempurnakan, yaitu:
1. Reglement op de Rechterlijke Organisatie (RO) atau Peraturan Organisasi Pengadilan (POP).
8Andi Hamzah, Asas-asas Hukum Pidana,(Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 17.
2. Algemene Bepalingen Van Wetgeping (AB) atau Ketentuan Umum tentang Perundang-undangan.
3. Burgerlijk Wetboek (BW) atau Kitab Undang-undang Hukum Sipil (KUHS).
4. Wetboek Van Koophandel (WVK) atau Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD).
5. Reglement op de Burgerlijke Rechts Vordering (RV) atau peraturan tentang Acara perdata (AP).9
Berdasarkan kenyataan sejarah tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa tata hukum pada masa Busleiten Regerings (BR) terdiri dari peraturan tertulis yang dikodifikasikan, dan yang tidak dikodifikasi, serta peraturan tidak tertulis (hukum adat) yang khusus berlaku bagi orang bukan golongan Eropa.
3. Masa Regerings Reglement (1855-1926)
Di negeri Belanda terjadi perubahan Grond Wet (UUD) pada tahun 1848 sebagai akibat dari pertentangan Staten General (Parlemen) dan Raja yang berakhir dengan kemenangan Parlemen dalam bidang mengelola kehidupan bernegara. Adanya perubahan Grondwet itu mengakibatkan juga terjadinya perubahan terhadap pemerintahan dan perundang-undangan jajahan Belanda di Indonesia. Hal ini dicantumkannya Pasal 59 ayat (1),(II), dan (IV) Grondwet yang menyatakan: bahwa ayat (1) raja mempunyai kekuasaan tertinggi atas daerah jajahan dan harta kerajaan di bagian dari dunia. Ayat (II) dan (IV) aturan tentang kebijaksanaan pemerintah ditetapkan melalui undang-undang sistem keuangan ditetapkan melalui undang-undang. Hal- hal lain yang menyangkut mengenai daerah-daerah jajahan dan harta, kalau diperlukan akan diatur melalui undang-undang.
Menurut ketentuan Pasal 59 ayat (1),(II) dan (IV) tersebut di atas, maka kekuasaan raja terhadap daerah jajahan menjadi berkurang. Peraturan yang menata daerah jajahan tidak semata-mata ditetapkan oleh raja dengan Koninklijk Besluit-nya, tetapi ditetapkan bersama oleh raja dengan parlemen, sehingga sistem pemerintahannya berubah dari monarkhi konstitusional menjadi monarkhi parlementer. Peraturan dasar yang dibuat bersama oleh raja dengan parlemen untuk mengatur pemerintahan daerah jajahan di Indonesia adalah Regerings Reglement. Regerings Reglement ini berbentuk undang-undang yang diundangkan melalui S. 1855:2 yang isinya terdiri dari
9R.Abdoel Djamali, Op.Cit, hlm. 17.
130 pasal dan 8 bab dan mengatur tentang pemerintahan di Hindia Belanda, sehingga RR ini dianggap sebagai Undang-Undang Dasar pemerintahan jajahan Belanda.
Politik hukum pemerintahan Belanda yang mengatur tentang tata hukum dicantumkan dalam Pasal 75 RR dan asasnya sama sebagaimana termuat dalam Pasal 11 AB, yaitu bahwa dalam menyelesaikan perkara perdata hakim diperintahkan untuk menggunakan hukum perdata Eropa bagi golongan Eropa dan hukum perdata adat bagi orang bukan Eropa.
Selanjutnya RR mengalami perubahan pada tahun 1920 pada Pasal-Pasal tertentu, sehingga dinamakan RR baru yang berlaku sejak tanggal 1 Januari 1920 sampai tahun 1926. Golongan penduduk dalam Pasal 75 RR itu diubah dari dua golongan menjadi tiga golongan, yaitu golongan Eropa, golongan Timur Asing dan golongan Indonesia (Pribumi).
Pada masa berlakunya RR telah berhasil diundangkan kitab-kitab hukum, yaitu:
1. Kitab hukum pidana untuk golongan Eropa melalui S.1866:55 sebagai hasil saduran dari Code Penal yang berlaku di Belanda pada waktu itu;
2. Algement Politie Strafreglement sebagai tambahan kitab hukum pidana untuk golongan Eropa tahun 1872;
3. Kitab hukum pidana bagi orang bukan Eropa melalui S.1872:85 yang isinya hampir sama dengan kitab hukum pidana Eropa tahun 1866;
4. Politie Strafreglement bagi orang bukan Eropa melalui S.1872:111;
5. Wetboek Van Strafrecht diundangkan pada tahun 1915 dengan S.1915:732 di Hindia Belanda dalam suatu kodifikasi yang berlaku bagi semua golongan penduduk mulai tanggal 1 Januari 1918.
4. Masa Indische Staatsregeling (1926-1942)
Pada tanggal 23 Juni 1925 Regerings Reglement tersebut diubah menjadi Indische Staatsregeling (IS) atau peraturan ketatanegaraan Indonesia yang termuat dalam Stb 1925:415 yang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1926. Pada masa berlakunya IS tata hukum yang berlaku di Hindia Belanda adalah pertama-tama yang tertulis dan yang tidak tertulis (hukum adat) dan sifatnya masih pluralistis khususnya hukum perdata. Hal tersebut tampak pada ketentuan Pasal 131 IS yang juga menjelaskan bahwa pemerintah Hindia
Belanda membuka kemungkinan adanya usaha untuk unifikasi hukum bagi ketiga golongan penduduk Hindia Belanda, yaitu Eropa, Timur Asing, dan Pribumi yang ditetapkan dalam Pasal 163 IS.
Tujuan pembagian golongan penduduk sebenarnya adalah untuk menentukan sistem-sistem hukum yang berlaku bagi masing-masing golongan, yaitu:
I. Golongan Eropa sebagaimana tercantum dalam Pasal 131 IS. Adalah hukum perdata yaitu Burgerlijk Wetboek (BW) dan Wetboek Van Koophandel (WVK) yang diundangkan berlakunya tanggal 1 Mei 1848, dengan asas konkordansi, hukum pidana materiil yaitu Wetboek Van Strafrecht (WVS) yang diundangkan berlakunya tanggal 1 Januari 1981 melalui S.1915:732, dan hukum acara yang dilaksanakan dalam proses pengadilan bagi golongan Eropa di Jawa dan Madura diatur dalam “Reglement op de Burgerlijke Rechts Vordering” untuk proses perdata, dan Reglement op de Straf Vordering untuk proses perkara pidana, yang keduanya mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1981.
Adapun susunan peradilan yang dipergunakan bagi golongan Eropa di Jawa dan Madura adalah:
1. Residentie Gerecht;
2. Raad Van Justitie.dan 3. Hooggerechtshof.
Sedangkan acara peradilan di luar Jawa dan Madura diatur dalam Rechts Reglement Buitengewesten (R.Bg) berdasarkan S.1927: 227 untuk daerah hukumnya masing-masing.
II. Bagi golongan Pribumi (Bumi Putra).
a. Hukum perdata adat dalam bentuk tidak tertulis. Tetapi dengan adanya Pasal 131 ayat (6) IS kedudukan berlakunya hukum perdata adat itu tidak mutlak, dan dapat diganti dengan ordonansi jika dikehendaki oleh pemerintah Hindia Belanda. Kemudian demikian telah dibuktikan dengan dikeluarkannya berbagai ordonansi yang diberlakukan untuk semua golongan yaitu:
1. S.1933: 48 Jo. S.1939: 2 tentang peraturan pembukuan kapal;
2. S.1933: 108 tentang peraturan umum untuk perhimpunan koperasi;
3. S. 1938: 523 tentang ordonansi orang yang meminjamkan uang;
4. S. 1938: 524 tentang ordonansi riba.
Sedangkan hukum yang berlaku bagi golongan pribumi, yaitu:
1. S. 1927: 91 tentang koperasi pribumi;
2. S. 1931: 53 tentang pengangkatan wali di Jawa dam Madura;
3. S. 1933:74 tentang perkawinan orang Kristen di Jawa, Minahasa, dan Ambon.
4. S. 1933: 75 tentang pencatatan jiwa bagi orang Indonesia di Jawa, Madura, Minahasa, Amboina, Saparua, dan Banda;
5. S. 1939: 569 tentang Maskapai Andil;
6. S. 1939: 570 tentang perhimpunan pribumi.
Semua Staatsblad di atas adalah ordonansi yang berkaitan dengan bidang hukum perdata.
b. Hukum pidana materiil yang berlaku bagi golongan pribumi adalah:
1. Hukum pidana materiil yaitu Werboek Van Straf recht sejak tahun 1918 berdasarkan S.1915: 723.
2. Hukum acara perdata untuk daerah Jawa dan Madura adalah
“Inlands Reglement”(IR) dan hukum acara pidana bagi mereka diatur dalam “Herziene Inlands Reglement”(HIR) berdasarkan S.1941: 44 tanggal 21 Februari 1941. HIR ini berlaku di landraat Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Susunan peradilan bagi pribumi di Jawa dan Madura adalah sebagai berikut:
1. District Gerecht, di daerah pemerintahan distrik (kewedanan);
2. Regentschaps Gerecht, di daerah kabupaten yang diselenggarakan oleh Bupati, dan sebagai pengadilan banding;
3. Lanraad, terdapat di kota kabupaten dan beberapa kota lainya yang diperlukan adanya peradilan ini, dan mengadili perkara banding yang diajukan atas putusan Regentschaps Gerecht.
Bagi daerah-daerah di luar Jawa dan Madura, susunan organisasi peradilannya untuk golongan pribumi diatur dalam: Rechtsreglement Buitengewesten (R.Bg), dan lembaga peradilannya adalah:
1. Negorijrecht bank, terdapat pada desa (negari) di Ambon;
2. Districts Gerecht, terdapat di tiap kewedanan dari keresidenan Bangka, Beliteung, Manado, Sumatra Barat, Tapanuli, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur;
3. Mgistraats Gerecht, menangani keputusan districts Gerecht di Beliteung, dan Manado, sedangkan untuk Ambon menangani keputusan Negorijrecht bank;
4. Landgerecht, kedudukan dan tugasnya sama dengan landraad di Jawa, tetapi untuk daerah landraad Nias, Bengkulen, Majene, Palopo, Pare- Pare, Monokwari dan Fak-Fak jabatan ketua dapat diserahkan kepada pegawai pemerintah Belanda, karena kekurangan Sarjana Hukum.
III. Bagi golongan Timur Asing, berlakulah:
a. Hukum perdata, hukum pidana adat mereka menurut ketentuan Pasal 11 AB, berdasarkan S.1855: 79 (untuk semua golongan Timur Asing);
b. Hukum perdata golongan Eropa (BW) hanya bagi golongan Timur Asing Cina untuk wilayah Hindia Belanda melalui S. 1924 : 557. Dan untuk daerah Kalimantan Barat berlakunya BW tanggal 1 September 1925 melalui S. 1925: 92;
c. WvS yang berlaku sejak 1 Januari 1918 untuk hukum pidana materiil;
d. Hukum acara yang berlaku bagi golongan Eropa dan hukum acara yang berlaku bagi golongan pribumi, karena dalam praktik kedua hukum acara tersebut digunakan untuk peradilan bagi golongan Timur Asing.
Dalam penyelenggaraan peradilan, di samping susunan peradilan yang telah disebutkan di atas juga melaksanakan peradilan lain, yaitu:
1. Pengadilan Swapraja;
2. Pengadilan Agama;
3. Pengadilan Militer.
Berdasarkan Pasal 163 jo, Pasal 131 IS. Maka golongan penduduk dan sistem hukumnya dapat dilihat Bagan 2 berikut ini:
Bagan 2 Penggolongan penduduk dan sistem hukumnya.
Lain-lain yg hk.keLain-lain
Ke dalam Indonesia asli
5. Masa Jepang (Osamu Seirei)
Pada masa pemerintahan Jepang pelaksanaan tata pemerintahan di Indonesia berpedoman undang-undang yang disebut “Gunseirei”, melalui Osamu Seirei.
Osamu Seirei itu mengatur segala hal yang diperlukan untuk melaksanakan pemerintahan, melalui peraturan pelaksana yang disebut “Osamu Kanrei”.
Peraturan Osamu Seirei berlaku secara umum. Osamu Kanrei sebagai peraturan pelaksana isinya juga mengatur hal-hal yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan ketertiban umum.
Dalam bidang hukum, pemerintah Balatentara Jepang melalui Osamu Seirei Nomor 1 tahun 1942 pada Pasal 3 menyebutkan, semua badan pemerintahan dan kekuasaannya, hukum dan undang-undang dari peme- rintah yang dahulu tetap diakui sah buat sementara waktu asal saja tidak bertentangan dengan peraturan pemerintah militer.
Berdasarkan Pasal 3 Osamu seirei tersebut, jelaslah, bahwa hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum Balatentara Jepang datang ke Indonesia masih tetap berlaku. Dengan demikian, Pasal 131 IS sebagai Pasal politik hukum dan pembagian golongan penghuni Indonesia menurut Pasal 163 IS masih tetap berlaku.
Untuk golongan Eropa, Timur Asing Cina dan Indonesia,Timur Asing bukan Cina yang tunduk secara sukarela kepada hukum perdata Eropa tetap berlaku baginya Burgerlijk Wetboek (BW) dan Wetboek Van Koophandel (WVK) serta aturan-aturan hukum perdata Eropa yang tidak dikodifikasikan.
Sedangkan bagi golongan Indonesia dan golongan Timur Asing bukan Cina yang tidak tunduk secara suka rela kepada hukum perdata Eropa tetap berlaku aturan-aturan hukum perdata adatnya. Selanjutnya pemerintah Balatentara Jepang juga mengeluarkan Gun Seirei nomor Istimewa 1942, Osamu Seirei Nomor 25 Tahun 1944, memuat aturan-aturan pidana yang umum dan aturan-aturan pidana yang khusus, sebagai pelengkap peraturan yang telah ada sebelumnya.
Sedangkan Gun Seirei Nomor 14 Tahun 1942 mengatur susunan lembaga peradilan yang terdiri dari:
1. Tihoo Hooin, berasal dari landraad (Pengadilan Negeri);
2. Keizai Hooir, berasal dari landgerecht (Hakim Kepolisian);
3. Ken Hooin, berasal dari Regentschap Gerecht (Pengadilan Kabupaten);
4. Gun Hooin, berasal dari Districts Gerecht (Pengadilan Kewedanan);
5. Koikyoo Kootoo Hooin, berasal dari Hof Voor Islami etische Zaken (Mahkamah Islam Tinggi);
6. Sooyoo Hooin, berasal dari Priesterraad (Rapat Agama);
7. Gunsei Kensatu Kyoko, terdiri dari Tihoo Kensatu Kyoko (Kejaksaan Pengadilan Negeri), berasal dari Paket voor de Landraden.
Adapun wewenang Raad van Justitie dialihkan kepada Tihoo Hooin dan Hooggerechtshof tidak disebut-sebut dalam undang-undang itu. Semua aturan
hukum dan proses peradilannya selama zaman penjajahan Jepang berlaku sampai Indonesia merdeka.
Selanjutnya sejarah tata hukum Indonesia sesudah tanggal 17 Agustus 1945 adalah sebagai berikut:
I. Masa tahun 1945-1949 (18 Agustus 1945-26 Desember 1949).
Setelah bangsa Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, maka saat itu bangsa Indonesia telah mengambil sikap untuk menentukan nasib sendiri, mengatur dan menyusun negaranya serta menetapkan tata hukumnya, sehingga pada tanggal 18 Agustus 1945 ditetapkanlah Undang-Undang Dasar yang supel dan elastik dengan sebutan Undang- Undang Dasar 1945.
Bentuk tata hukum dan politik hukum yang akan berlaku masa itu dapat dilihat pada Pasal I dan II aturan peralihan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu: Pasal I yang berbunyi: Segala peraturan perundang-undangan yang ada masih tetap berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini.
Pasal II, semua lembaga negara yang ada masih tetap berfungsi sepanjang untuk melaksanakan ketentuan Undang-Undang Dasar dan belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini.
Menurut ketentuan Pasal I dan II aturan peralihan itu dapat diketahui, bahwa semua peraturan dan lembaga yang telah ada dan berlaku pada zaman penjajahan Belanda maupun masa pemerintahan Balatentara Jepang, tetap diperlakukan dan difungsikan. Dengan demikian, tata hukum yang berlaku pada masa tahun 1945-1949 adalah semua peraturan yang telah ada dan pernah berlaku pada masa penjajahan Belanda maupun masa Jepang berkuasa dan produk-produk peraturan baru yang dihasilkan oleh pemerintah negara Republik Indonesia dari tahun 1945-1949.
II. Masa tahun 1949-1950 (27 Desember 1949-16 Agustus 1950).
Setelah berdirinya Negara Republik Indonesia Serikat, berdasarkan hasil konperensi meja bundar pada tahun 1949, maka berlakulah Konstitusi Republik Indonesia Serikat (KRIS), dan tata hukum yang berlaku pada waktu itu adalah tata hukum yang terdiri dari peraturan-peraturan yang dinyatakan berlaku pada masa 1945-1949 dan produk peraturan baru yang dihasilkan oleh pemerintah Negara Republik Indonesia Serikat selama kurun waktu 27 Desember 1949 sampai dengan 16 Agustus
1950. Hal tersebut telah ditentukan dalam Pasal 192 KRIS yang berbunyi:
”Peraturan-peraturan, undang-undang dan ketentuan tata usaha yang sudah ada pada saat konstitusi ini mulai berlaku tetap berlaku tidak berubah sebagai peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan RIS sendiri, selama dan sekadar peraturan-peraturan dan ketentuan- ketentuan itu tidak dicabut, ditambah atau atas kuasa konstitusi ini.”
Berdasarkan ketentuan Pasal 192 KRIS ini berarti bahwa aturan-aturan hukum yang berlaku dalam negara Republik Indonesia berdasarkan Pasal I dan II aturan peralihan Undang-Undang Dasar 1945 tetap berlaku di negara Republik Indonesia Serikat.
III. Masa Tahun 1950-1959 (17 Agustus 1950-4 Juli 1959).
Pada tanggal 17 Agustus 1950 bangsa Indonesia kembali ke negara kesatuan, dengan Undang-Undang Dasar Sementara 1950 yang berlaku sampai tanggal 4 Juli 1959. Tata hukum yang berlaku pada masa ini adalah tata hukum yang terdiri dari semua peraturan yang dinyatakan berlaku berdasarkan Pasal 142 UUDS 1950, dan ditambah dengan peraturan baru yang dibentuk oleh pemerintah negara selama kurun waktu dari 17-8-1950 sampai dengan 4 - 7- 1959.
IV. Masa Tahun 1959-Sekarang (5 Juli 1959 sampai Sekarang).
Setelah keluarnya Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959, maka Undang- Undang Dasar Sementara (UUDS) 1950 tidak berlaku lagi, dan kembali berlaku Undang-Undang Dasar 1945 sampai sekarang. Tata hukum yang berlaku pada masa ini adalah tata hukum yang terdiri dari semua peraturan yang berlaku pada masa tahun 1950-1959 dan yang dinyatakan masih berlaku berdasarkan ketentuan Pasal I dan II aturan peralihan UUD 1945 dengan ditambah berbagai peraturan yang dibentuk setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 tersebut.
Adapun tata urutan perundang-undangan yang diatur berdasarkan Ketetapan MPRS Nomor XX/MPRS/1966 jo, Ketetapan MPR Nomor V/
MPR/1973 dan TAP No.IX/MPR/1978, tata urutan perundang-undangan (hierarki perundang-undangan) adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang Dasar 1945;
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR);
3. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu);
4. Peraturan Pemerintah (PP);
5. Keputusan Presiden;
6. Peraturan-peraturan Pelaksanaan lainnya seperti:
a. Peraturan Menteri b. Instruksi Menteri;
c. Dan lain-lain.
Sedangkan sumber hukum dan tata urutan peraturan perundang- undangan menurut Ketetapan MPR No.III/2000, hierarkinya sebagai berikut:
1. Undang-Undang Dasar 1945
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat.
3. Undang-undang.
4. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang.
5. Peraturan Pemerintah.
6. Keputusan Presiden.
7. Peraturan Daerah.
Dalam ketetapan MPR No. III/2000 dinyatakan bahwa yang dimaksud sumber hukum adalah sumber yang dijadikan bahan hukum untuk penyusunan peraturan perundang-undangan. Sumber hukum terdiri atas sumber hukum tertulis dan tidak tertulis. Sumber hukum dasar nasional adalah Pancasila sebagaimana yang tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yng dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia, dan batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Pancasila sebagai sumber hukum dasar nasional artinya nilai-nilai Pancasila dijadilan sumber normatif penyusunan hukum oleh karena Pancasila sendiri merupakan norma dasar.
Adapun penjelasan dari masing-masing aturan perundang-undangan sebagaimana telah tercantum di dalam Tap MPR No. III/2000 adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang Dasar 1945 merupakan hukum dasar tertulis Negara Republik Indonesia, memuat dasar dan garis besar hukum dalam penyelenggaraan negara.
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia merupakan putusan Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai pengemban kedaulatan rakyat yang ditetapkan dalam sidang-sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat.
3. Undang-Undang dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat bersama dengan Presiden untuk melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945 serta Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesdia.
4. Peraturan pemerintah pengganti undang-undang dibuat oleh Presiden dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, dengan ketentuan sebagai berikut. Peraturan pemerintah pengganti undang-undang harus diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan yang berikut. Dewan Perwakilan Rakyat dapat menerima atau menolak peraturan pemerintah pengganti undang-undang dengan tidak mengadakan perubahan. Jika ditolak Dewan Perwakilan Rakyat, peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut harus dicabut.
5. Peraturan pemerintah dibuat oleh pemerintah untuk melaksanakan perintah undang-undang.
6. Keputusan Presiden yang bersifat mengatur dibuat oleh Presiden untuk menjalankan fungsi dan tugasnya berupa pengaturan pelaksanaan administrasi negara dan administrasi pemerintahan.
7. Peraturan daerah merupakan peraturan untuk melaksanakan aturan hukum di atasnya dan menampung kondisi khusus dari daerah yang bersangkutan.
Peraturan daerah provinsi dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi bersama dengan Gubernur. Peraturan daerah kabupaten/kota dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota bersama dengan Bupati/Walikota.
Peraturan Desa atau yang setingkat, dibuat oleh Badan Perwakilan Desa atau yang setingkat, sedangkan tata pembuatan peraturan desa atau yang setingkat diatur oleh peraturan daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan.
Dengan terbitnya Ketetapan NO III/MPR/2000 tersebut, maka ketetapan No.XX/MPR/1966, dan Ketetapan No. IX/MPR/1978 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi. Sedangkan di dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan perundang-undangan juga menyebutkan adanya jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan,
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, 2. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang, 3. Peraturan Pemerintah,
4. Peraturan Presiden, 5. Peraturan Daerah.10
ad.1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar yang tertulis, sedangkan di sampingnya Undang-Undang Dasar itu berlaku juga hukum dasar yang tidak tertulis, ialah aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktik penyelenggaraan negara, meskipun tidak tertulis.11
ad.2. Undang-Undang adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden.
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal-ihwal kegentingan yang memaksa.
ad.3.Peraturan Pemerintah adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undag sebagaimana mestinya.
ad.4. Peraturan Presiden adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh Presiden.
ad.5. Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah.12
Tata urutan tersebut di atas mengandung konsekuensi bahwa peraturan yang urutannya lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan perundang- undangan yang lebih tinggi. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, dengan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, maka Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan tidak berlaku lagi.
Adapun jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan menurut Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 2011 adalah sebagai berikut:
10UU RI No.10 Tahun 2004 Pasal 7 ayat (1).
11Penjelasan Umum Undag-Undang Dasar Negara Indonesia 1945, hlm. 64.
1. Undang-Undang Dasar Negara Rebublik Indonesia Tahun 1945, 2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat,
3. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang, 4. Peraturan Pemerintah,
5. Peraturan Presiden,
6. Peraturan Daerah Provinsi; dan 7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
D. Pembinaan Hukum Nasional
Setiap negara yang merdeka dan berdaulat harus mempunyai suatu hukum nasional baik di bidang kepidanaan maupun dibidang keperdataan yang mencerminkan kepribadian jiwa dan pandangan hidup bangsanya.
Bagi negara Indonesia dalam pembinaan dan pembentukan hukumnya harus berdasarkan dengan rambu-rambu Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dalam rangka menggantikan hukum warisan kolonial yang tidak sesuai dengan tata hukum nasional.
Pembinaan hukum nasional tidak hanya tertuju pada aturan atau substansinya hukum saja, tetapi juga pada struktur, instansi dan budaya hukum masyarakat yang mendukung pelaksanaan hukum yang bersangkutan.
Dengan demikian, pembinaan hukum menurut H. Abdurrahman adalah usaha menyeluruh dan terpadu untuk menangani hukum di Indonesia dalam semua aspek.13 Salah satu aspek dari pembinaan hukum nasional adalah membangun adanya suatu konsepsi hukum yang akan dibangun.
Hukum yang harus dibangun adalah bertujuan untuk mengakhiri suatu tatanan sosial yang tidak adil dan yang menindas hak-hak asasi. Politik hukum Indonesia sesungguhnya harus berorientasi pada cita-cita negara hukum yang didasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi dan berkeadilan sosial dalam suatu masyarakat bangsa Indonesia yang bersatu sebagaimana yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.14
13H.Abdurrahman, Perkembangan Pemikiran Tentang Pembinaan Hukum Nasional di Indonesia, (Jakarta: Akademika Pressindo, 1989), hlm. 10.
14Abdul Hakim G. Nusantara, Politik Hukum Indonesia, (Jakarta: Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, 1988), hlm. 20.
Pada era Orde Baru golongan militer dan birokrat merupakan kelompok- kelompok sosial yang terorganisir secara rapi dan mempunyai visi dan ideologi yang relatif homogen, yakni ide persatuan nasional. Ideologi persatuan nasional ini memberikan ligitimasi penting bagi naiknya golongan militer dan birokrat ke panggung politik.
Dengan demikian, golongan sosial di luar sektor negara umumnya merupakan golongan sosial yang kurang terorganisir secara rapi dan secara ideologis tercerai berai. Golongan tersebut terdiri dari intelektual, kalangan akademis, pedagang-pedagang menengah, golongan profesi, pemimpin agama dan tokoh partai politik. Kesemuanya golongan tersebut di atas termasuk golongan menengah yang tidak mempunyai akses langsung ke pusat kekuasaan politik.
Lemahnya masyarakat lapisan bawah terhadap kedudukan politik dan ekonomi, maka kedudukan pemerintah monopoli di bidang pembinaan hukum nasional. Selaras dengan kenyataan ini lembaga peradilan dan partisipasi masyarakat luas kurang mendapatkan tempat yang cukup bararti di bidang pembinaan hukum.
Dengan demikian, produk strategi pembangunan hukumnya adalah ortodoks yang menghasilkan hukum bersifat positivis instrumentalis.15 Hukum yang menjadi instrumen yang ampuh bagi pelaksanaan ideologi dan program dari negara. Dalam hal ini hukum bersifat kaku dan kurang terbuka bagi perubahan, sehingga hukum itu menjadi kurang tanggap terhadap tuntutan kebutuhan masyarakat.
Adapun di era Reformasi sekarang ini strategi pembangunan hukum itu diarahkan kepada hukum yang responsif bercirikan adanya peranan besar lembaga-lembaga peradilan dan partisipasi luas kelompok-kelompok sosial atau partisipasi individu di dalam masyarakat untuk menentukan arah perkembangan hukum. Dengan perkataan lain, aksi hukum merupakan wahana bagi kelompok atau organisasi untuk berperan serta dalam menentukan kebijaksanaan umum.
Arah dan kebijakan politik hukum nasional pada masa lalu dituangkan dalam naskah Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai haluan negara dalam penyelenggaraan bernegara dan pembangunan nasional.
15Abdul Hakim G. Nusantara, Ibid, hlm. 27.