BAB III
GAMBARAN UMUM WILAYAH
3.1 Geografis dan Administrasi
Bandar Lampung adalah ibu kota Provinsi Lampung. Selain sebagai pusat kegiatan pemerintahan, pendidikan, sosial, politik, dan budaya, Bandar Lampung juga dijadikan sebagai pusat kegiatan ekonomi. Kota ini terletak secara strategis karena merupakan kawasan persinggahan kegiatan ekonomi antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera sehingga kondusif untuk tumbuh kembang Kota Bandar Lampung sebagai pusat industri, perdagangan, dan pariwisata. Luas wilayah Kota Bandar Lampung adalah 197,22 kilometer persegi yang meliputi 126 kelurahan yang tersebar di 20 kecamatan. Secara administratif Kota Bandar Lampung dibatasi oleh:
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan.
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Lampung.
3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Gedung Tataan dan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran.
4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan.
Sumber: BAPPEDA Bandar Lampung dalam https://www.bappedakotabalam.net/peta-wilayah/
GAMBAR III.1.
PETA ADMINISTRASI KOTA BANDAR LAMPUNG
Kota Bandar Lampung memiliki luas wilayah 197,22 km2yang terdiri dari 20 kecamatan dan 126 kelurahan, dengan luas wilayah masing-masing kecamatan sebagai berikut:
TABEL III.1
DAFTAR KECAMATAN BERDASARKAN LUASNYA
NO KECAMATAN LUAS
1 Teluk Betung Barat 11,02 km2 2 Teluk Betung Timur 14,83 km2 3 Teluk Betung Selatan 3,79 km2
4 Bumi Waras 3,75 km2
5 Panjang 15,75 km2
6 Tanjung Karang Timur 2,03 km2
7 Kedamaian 8,21 km2
8 Teluk Betung Utara 4,33 km2 9 Tanjung Karang Pusat 4,05 km2
10 Enggal 3,49 km2
11 Tanjung Karang Barat 14,99 km2
12 Kemiling 24,24 km2
13 Langkapura 6,12 km2
14 Kedaton 4,79 km2
15 Rajabasa 13,53 km2
16 Tanjung Senang 10,63 km2
17 Labuhan Ratu 7,97 km2
18 Sukarame 14,75 km2
19 Sukabumi 23,60 km2
20 Way Halim 5,35 km2
Sumber: Kota Bandar Lampung dalam Angka 2019
3.2 Tata Ruang Kota Bandar Lampung
Kota Bandar Lampung dalam RTRW Provinsi Lampung memiliki peran sebagai kota perdagangan dan jasa, dan hal tersebut secara jelas tertuang dalam RTRW kota tersebut bahwa tujuan dari penataan ruang itu sendiri adalah untuk mewujudkan Kota Bandar Lampung dengan memperhatikan pelestarian lingkungan alam dan keanekaragaman hayati. Untuk kota perdagangan dan jasa yang aman, nyaman, berkelanjutan. Koordinasi fungsi layanan lokal, regional dan nasional. RTRW menetapkan rencana pembangunan Kota Bandar Lampung yang meliputi beberapa bagian wilayah perkotaan (BWK) dan sistem pusat layanan, membagi wilayah Kota Bandar Lampung menjadi beberapa wilayah sesuai dengan kegunaannya masing-masing. Perencanaan BWK dan sistem pusat layanan
disahkan oleh BAPPEDA (Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah).
Sedangkan untuk sistem pusat pelayanan Kota Bandar Lampung terbagi menjadi beberapa wilayah sesuai dengan fungsinya. Perencanaan dan perumusan BWK Kota Bandar Lampung masuk dalam Rencana Tata Ruang Kota (RTRW) Bandar Lampung Tahun 2011:
1. Bagian Wilayah Kota (BWK) A, melingkupi 3 (tiga) Kecamatan, yaitu Kecamatan Tanjung Karang Pusat, Kecamatan Tanjung Karang timur dan Kecamatan Enggal, dengan luas kurang lebih 1.023 hektar dan memiliki fungsi utama BWK A sebagai perdagangan dan jasa skala regional, simpul transportasi darat dan pendidikan.
2. Bagian Wilayah Kota (BWK) B, melingkupi 3 (tiga) Kecamatan, yaitu Kecamatan Kedaton Kecamatan Rajabasa, dan Kecamatan Labuhan Ratu dengan luas kurang lebih 1.957 hektar dan memiliki fungsi utama BWK B adalah pusat pendidikan tinggi dan budaya, simpul utama transportasi darat, perdagangan dan jasa, permukiman perkotaan, dan kesehatan.
3. Bagian Wilayah Kota (BWK) C, melingkupi 3 (tiga) Kecamatan, yaitu Kecamatan Sukarame, Kecamatan Tanjung Senangdan Kecamatan Way Halim dengan luas kurang lebih 3.790 hektar dan memiliki fungsi utama sebagai pendukung pusat pemerintahan provinsi, pendidikan tinggi, permukiman perkotaan, industri rumah tangga, dan konservasi/hutan kota.
4. Bagian Wilayah Kota (BWK) D, melingkupi 2 (dua) Kecamatan yaitu Kecamatan Sukabumi, dan Kecamatan Kedamaian yang memiliki fungsi utama sebagai kawasan industri menengah dan pergudangan, perdagangan dan jasa, permukiman/perumahan, dan pendidikan tinggi.
5. Bagian Wilayah Kota (BWK) E, melingkupi 2 (dua) Kecamatan, yaitu Kecamatan Panjang dan Kecamatan Bumi Waras dengan luas kurang lebih 1.880 hektar dan memiliki fungsi utama sebagai pelabuhan utama, pergudangan, perdagangan dan jasa, industri menengah, kawasan kota wisata dan kota pantai, dan permukiman/perumahan.
6. Bagian Wilayah Kota (BWK) F, melingkupi 3 (tiga) kecamatan, yaitu Kecamatan Kemiling, Kecamatan Tanjung Karang Barat dan Kecamatan Langkapura dengan dengan luas kurang lebih 4.305 hektar dan memiliki
fungsi utama sebagai pusat pendidikan khusus (SPN), agrowisata dan ekowisata, pusat olah raga, permukiman/perumahan terbatas, konservasi, perdagangan dan jasa, pendidikan tinggi, dan industri rumah tangga.
7. Bagian Wilayah Kota (BWK) G, melingkupi 4 (empat) kecamatan, yaitu Kecamatan Teluk Betung Utara, Teluk Betung Barat, Kecamatan Teluk Betung Selatan, dan Kecamatan Teluk Betung Timur dengan luas kurang lebih 3.071 hektar dan memilikifungsi utama sebagai pusat pemerintahan kota, wisata alam dan bahari, perdagangan dan jasa, industri pengolahan hasil laut, pusat pengolahan akhir sampah terpadu, kawasan resapan air, minapolitan, pelabuhan perikanan, dan kesehatan.
3.3 Demografi
Pada tahun 2018, Bandar Lampung memiliki jumlah penduduk 1.033.803 dengan sex ratio 101, yang berarti penduduk laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Daerah terpadat adalah Tanjung Karang Timur (19.302 jiwa / km2), sedangkan kawasan terpadat adalah Kabupaten Sukabumi (2.566 jiwa / km2) (Badan Pusat Statistika Kota Bandar Lampung, 2019).
TABEL III.2
JUMLAH PENDUDUK, KEPADATAN PENDUDUK, RASIO JENIS KELAMIN, PERSENTASE PENDUDUK DI KOTA BANDAR LAMPUNG
Kecamatan Jumlah Penduduk
Kepadatan Penduduk
Rasio Jenis Kelamin
Persentase Penduduk Teluk Betung
Barat 31 461 2 855 106 3.04
Teluk Betung
Timur 43 971 2 965 105 4.25
Teluk Betung
Selatan 41 550 10 963 103 4.02
Bumi Waras 59.912 15.977 104 5,8
Panjang 78.456 4.981 103 7,59
Tanjung Karang
Timur 39.183 19.302 99 3,79
Kedamaian 55.533 6.764 102 5,37
Teluk Betung
Utara 53.423 12.338 100 5,17
Tanjung Karang
Pusat 53.982 13.329 97 5,22
Kecamatan Jumlah
Penduduk Kepadatan
Penduduk Rasio Jenis
Kelamin Persentase Penduduk
Enggal 29.655 8.497 95 2,87
Tanjung Karang
Barat 57.765 3.854 102 5,59
Kemiling 69.303 2.859 99 6,7
Langkapura 35.839 5.856 102 3,47
Kedaton 51.795 10.813 99 5,01
Rajabasa 50.710 3.748 104 4,91
Tanjung Senang 48.333 4.547 100 4,68
Labuhan Ratu 47.347 5.941 101 4,58
Sukarame 60.101 4.075 100 5,81
Sukabumi 60.554 2.566 105 5,86
Way Halim 64.930 12.136 99 6,28
2018 1.033.803 5.242 101 100 2017 1.015.910 5.151 101 100
2016 997.728 5.059 101 100
2015 979.287 4.965 102 100
2014 960.695 4.871 102 100
Sumber: Kota Bandar Lampung dalam Angka 2019
Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa dari tahun 2014 hingga 2018 jumlah penduduk Kota Bandar Lampung semakin meningkat sehingga mengakibatkan kepadatan penduduk semakin tinggi. Dari segi jumlah penduduk, Kecamatan Banjang merupakan kabupaten terpadat dengan 78.456 jiwa, sedangkan Kabupaten Engar merupakan kabupaten terpadat dengan 29.655 jiwa. Selain itu, dari sisi kepadatan penduduk, Jalan Tanjung Karang Timur (Tanjung Karang Timur) memiliki kepadatan tertinggi yaitu 19.302 jiwa / km2. Sedangkan kabupaten dengan kepadatan penduduk terendah adalah Kota Suka b yang memiliki kepadatan penduduk 2.566 jiwa / km2.
3.4 Ekonomi
Konsep pendapatan asli daerah atau produk domestik bruto daerah (PDRB) biasa disamakan dengan pendapatan pemerintah daerah. Pendapatan pemerintah daerah adalah pendapatan pemerintah daerah yang berupa perpajakan dan penerimaan bukan pajak masyarakat. Sedangkan pendapatan daerah merupakan total nilai bersih barang dan jasa yang dihasilkan di suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, atau secara moneter, merupakan total pendapatan yang diperoleh
melalui faktor produksi. PDRB didefinisikan sebagai nilai total barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh semua sektor ekonomi dikurangi jumlah biaya antara untuk memproduksi barang dan jasa tersebut. Pada tahun 2018, angka PDRB Kota Bandar Lampung sebesar 55,48 triliun rupiah. Data PDRB yang terus berkembang dalam lima tahun belakangan memperlihatkan bahwa perekonomian Kota Bandar Lampung sedang membaik. Manufaktur merupakan sektor dengan kontribusi terbesar yaitu 21,48%.
Produk domestik bruto daerah (PDRB) merupakan indikator penting untuk menentukan status ekonomi suatu daerah dalam periode tertentu, terlepas dari harga saat ini atau harga konstan. PDRB daerah mencakup dua jenis, yaitu PDRB (ADHB) yang dihitung dengan harga berlaku dan PDRB (ADHK) yang dihitung dengan harga konstan. Pada dasarnya PDRB adalah total nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh semua sektor ekonomi di suatu wilayah tertentu.
Berikut adalah tabel PDRB atas dasar harga berlaku di Kota Bandar Lampung:
TABEL III.III
PDRB KOTA BANDAR LAMPUNG ATAS DASAR HARGA BERLAKU Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018 2019 Pertanian,
Kehutanan, dan Perikanan
1.812.680 1.931.541 2.044.983 2.102.510 2.198.942 Pertambangan dan
Penggalian 1.240.761 1.452.599 1.698.312 1.857.425 1.976.424 Industri
Pengolahan 8.379.195 9.448.050 10.648.795 11.672.591 12.727.316 Pengadaan Listrik
dan Gas 41.891 48.716 55.400 60.150 65.470
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang
122.049 132.264 143.397 150.188 158.988
Konstruksi 3.983.051 4.657.720 5.356.492 6.038.851 6.482.851 Perdagangan Besar
dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
5.830.589 6.568.557 7.104.711 7.729.909 8627 717,9
Transportasi dan
Pergudangan 5.383.390 6.181.255 6.873.094 7.452.007 8.027.440 Penyediaan
Akomodasi dan Makan Minum
1.080.250 1.259.059 1.412.869 1.556.059 1.724.751
Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018 2019 Informasi dan
Komunikasi 2.085.359 2.453.796 2.859.290 3.205.690 3.491.194 Jasa Keuangan dan
Asuransi 2.092.795 2.342.473 2.643.663 2.802.229 2.941.031 Real Estate 2.147.834 2.466.612 2.819.239 3.170.494 3.515.484 Jasa Perusahaan 148.883 165.731 181.319 198.933 212.822 Administrasi
Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib
2.353.132 2.617.686 2.881.851 3.091.130 3.272.275
Jasa Pendidikan 1.320.007 1.428.779 1.571.926 1.769.714 1.968.959 Jasa Kesehatan
dan Kegiatan Sosial
734.507 836.482 946.536 1.016.215 1.101.777 Jasa Lainnya 672.549 750.583 840.961 920.519 1.014.037 PDRB 39.428.921 44.741.904 50.082.837 54.794.613 59.507.478
Sumber: BPS Kota Bandar Lampung
PDRB yang dihitung pada harga saat ini merupakan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga sekarang, dan PDRB yang dihitung dengan harga tetap menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung dengan menggunakan harga saat ini pada tahun tertentu sebagai tahun dasar. PDRB yang dihitung berdasarkan harga saat ini digunakan untuk menentukan sumber daya ekonomi, transfer dan struktur ekonomi daerah.
Sementara itu, PDRB konstan digunakan untuk menentukan pertumbuhan ekonomi aktual dari tahun ke tahun atau pertumbuhan ekonomi yang tidak dipengaruhi oleh faktor harga. Berikut merupakan PDRB atas dasar harga konstan Kota Bandar Lampung:
TABEL III.4
PDRB ATAS DASAR HARGA KONSTAN KOTA BANDAR LAMPUNG Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018 2019 Pertanian,
Kehutanan, dan Perikanan
1.812.680 1.493.433 1.488.183 1.489.253 1.524.461 Pertambangan dan
Penggalian 843.960 898.543 966.695 1.026.877 1.083.458 Industri
Pengolahan 6.282.501 6.675.103 7.076.978 7.509.757 8.038.957
Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018 2019 Pengadaan Listrik
dan Gas 47.532 50.298 53.160 56.060 59.709
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang
90.652 94.397 96.727 98.396 103.739
Konstruksi 3.170.066 3.489.921 3.809.573 4.187.163 4.419.895 Perdagangan Besar
dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
4.989.569 5.169.319 5.373.791 5.603.839 5.944.833
Transportasi dan
Pergudangan 4.044.077 4.361.295 4.636.133 4.936.323 5.278.980 Penyediaan
Akomodasi dan Makan Minum
753.206 820.130 861.361 927.451 1.006.814 Informasi dan
Komunikasi 2.008.613 2.208.433 2.427.206 2.669.054 2.882.791 Jasa Keuangan dan
Asuransi 1.533.392 1.606.114 1.716.111 1.752.970 1.809.592 Real Estate 1.885.217 1.992.939 2.158.630 2.313.104 2.447.958 Jasa Perusahaan 114.854 118.131 124.330 130.036 135.770 Administrasi
Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib
1.622.097 1.710.663 1.807.471 1.904.102 1.995.380
Jasa Pendidikan 923.477 983.141 1.051.444 1.125.318 1.212.331 Jasa Kesehatan dan
Kegiatan Sosial 574.333 619.882 666.310 705.574 755.093 Jasa Lainnya 529.934 567.291 606.974 654.214 705.505 PDRB 30.873.560 32.859.033 34.921.076 37.089.489 39.405.265
Sumber: BPS Kota Bandar Lampung 2014-2018
3.5 Kesejahteraan Sosial
A. Indeks Pembangunan Manusia
Pembangunan manusia merupakan salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi. IPM menjelaskan bagaimana warga memperoleh hasil pembangunan dari segi pendapatan, kesehatan, dan pendidikan. Pembangunan manusia merupakan ukuran kinerja pembangunan secara keseluruhan yang dibentuk oleh tiga dimensi metode yaitu kesehatan, pendidikan dan taraf hidup. Semua indikator yang mewakili ketiga dimensi tersebut dirangkum menjadi satu nilai yaitu angka Human Development Index (HDI). Nomor indeks pembangunan manusia
ditampilkan di tingkat negara, provinsi dan wilayah / kota. Tampilan Indeks Pembangunan Manusia menurut wilayah memungkinkan setiap provinsi dan wilayah / kota untuk memahami peta pembangunan manusia dari segi capaian, status dan perbedaan antar daerah. Oleh karena itu, kami berharap dapat menginspirasi setiap daerah untuk bekerja keras meningkatkan kinerja pembangunan dengan meningkatkan kemampuan dasar penduduk. Indeks Pembangunan Manusia juga digunakan untuk mengklasifikasikan suatu negara menjadi negara maju, berkembang atau terbelakang untuk mengukur dampak kebijakan ekonomi terhadap kualitas hidup. Berikut merupakan data yang menunjukan IPM Kota Bandar Lampung Tahun 2014 – 2018 yaitu:
Sumber: BPS Kota Bandar Lampung
GAMBAR III.2
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2014-2018
Selama 5 tahun terakhir, IPM Kota Bandar Lampung selalu mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal tersebut menjelaskan bahka selama 5 tahun terakhir penduduk Kota Bandar Lampung mengalami peningkatan dalam memperoleh dan mendapatkan akses dari pembangunan lesehatan , pendidikan dan kehidupa yang layak. Pada tahun 2014 Kota Bandar Lampung memiliki nilai IPM sebesar 74,34 dan hanya meningkat sebesar 0,47 di tahun 2015. Peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2018, dimana pada tahun 2017 nilai IPM sebesar 75,98 dan mingkat sebesar 0,65 sehingga di tahun 2018 nilai IPM menjadi 76,63. In berarti setiap tahun penduduk Kota Bandar Lampung semakin mudah mendapatkan
74,34 74,81 75,34
75,98
76,63
2 0 1 4 2 0 1 5 2 0 1 6 2 0 1 7 2 0 1 8
I NDE KS PE MBA NG UNA N MA N USI A (I PM) KOTA BA NDA R LA MPUN G TA HUN 2 0 1 4 - 2 0 1 8
akses terhadap hasil pembangungan kesehatan, pendidikan, dan kehidupan yang layak.
B. Kemiskinan
Permasalahan kesejahteraan sosial saat ini menunjukkan bahwa sebagian hak kebutuhan dasar warga negara tidak terpenuhi dengan baik karena belum mendapatkan pelayanan sosial negara. Oleh karena itu, tidak mungkin membangun kesejahteraan sosial dan pembangunan secara keseluruhan melalui pemerintah itu sendiri. Pembangunan harus dikoordinasikan antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. Untuk mencapai kondisi tersebut maka perlu dibangun semangat kebersamaan dalam masyarakat agar dapat menyelesaikan masalah dan memenuhi kebutuhannya sesuai dengan potensi yang dimiliki.
Kemiskinan menjadi tantangan utama bagi pembangunan Kota Bangda Lampung untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Meskipun angka kemiskinan di Kota Lampung terus menurun dalam beberapa tahun terakhir dibandingkan dengan daerah bagus lainnya, angka kemiskinan yang tinggi masih sangat tinggi, hal ini menunjukkan kepada kita bahwa Lampung harus tetap memperhatikan kemiskinan dan menjadikannya prioritas dalam kebijakan pembangunan. Berikut merupakan data yang menunjukan Angka Kemiskinan Kota Bandar Lampung Tahun 2014 – 2018 yaitu:
Sumber: BPS Kota Bandar Lampung
GAMBAR III.3
ANGKA KEMISKINAN KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015-2019
10,33 10,15 9,94
9,04 8,71
2 0 1 5 2 0 1 6 2 0 1 7 2 0 1 8 2 0 1 9
A NG K A K E MI SK I NA N KOTA BA N DA R LA MPUN G TA H UN 2 0 1 5 - 2 0 1 9
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), diketahui bahwa angka kemiskinan pada tahun 2018 berhasil diturunkan menjadi satu digit 9,04%, dan pada September 2018 turun menjadi 8,71%. Persentase penduduk miskin pada tahun 2016 tercatat 10,15%, dan pada 2017 turun menjadi 9,94. Jika angka kemiskinan penduduk berhasil diturunkan menjadi satu digit, berarti berbagai rencana pemerintah untuk menurunkan angka kemiskinan di Indonesia tampak berjalan on the track. Meski tidak terlalu penting, jumlah orang miskin masih terus menurun.
3.6 Transportasi
Sebagai Ibukota Provinsi Lampung, Kota Lampung merupakan pusat pembangunan daerah.Fungsi jalan sebagai sarana transportasi darat sangat mempengaruhi aksesibilitas orang dan barang antar daerah / kota dan lintas provinsi. Pada tahun 2015, panjang jalan di Kota Bandar Lampung adalah 901.484 kilometer yang terdiri dari jalan beraspal sepanjang 883.723 kilometer, jalan kerikil sepanjang 8.201 kilometer, dan jalan tanah sepanjang 9.560 kilometer.
Selain itu, Kota Bandar Lampung memiliki jalan negara dan jalan provinsi pada tahun 2015. Rincian informasi meliputi: Jalan negara sepanjang 22.890 kilometer dan jalan provinsi sepanjang 105.906 kilometer (BPS Kota Bandar Lampung 2015).
Kondisi lalu lintas di pusat kota Bandar Lampung (Tanjung Karang Pusat, Tanjung Karang Barat, Teluk Betung Utara) sangat memadai, dan terdapat banyak angkutan umum yang berjalan dan didukung di jalan terjal yang lebar. Kemacetan
830.000 840.000 850.000 860.000 870.000 880.000 890.000 900.000 910.000
2011 2012 2013 2014 2015
KEADAAN & PANJANG JALAN DI KOTA BANDAR LAMPUNG
Diaspal Kerikil Tanah
parah sering terjadi di pasar dan area terminal. Ini karena kondisi pasar yang tidak teratur, yang jumlahnya hampir setengah. Sementara itu, untuk jalan-jalan di pinggiran kota, transportasinya kurang baik. Pengembangan industri transportasi di Kota Bandar Lampung menitikberatkan pada angkutan jalan raya atau angkutan darat yang merupakan penghubung antara angkutan / angkutan daerah, antar kota dan dalam kota. Fungsi utamanya adalah mendistribusikan dari sentra produksi dan kawasan pertumbuhan ke wilayah tersebut. Barang dan jasa. Instalasi atau konsumen.
3.7 Kondisi Smart City di Kota Bandar Lampung
Bandar Lampung Smart City (BLSC) dapat di artikan sebagai Kota untuk menghubungkan, memonitor dan mengendalikan berbagai sumber daya yang ada di Kota Bandar Lampung dengan lebih efektif dan efisien melalui pembangunan dan pengembangan serta pengelolaam melalui penggunaan Teknologi dan Komunikasi (TIK) dengan tujuan memaksimalkan pelayanan bagi masyarakat serta mendukung pembangunan Kota Bandar Lampung yang berkelanjutan. Bandar Lampung Smart City (BLSC) pertama kali di usungkan pada tahun 2018 oleh Dinas Komunikasi dan Informasi. Bapak Krisna selaku Kepala Bidang Pemberdayaan E- Goverment Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Bandar Lampung yang menjadi penanggungjawab pengembangan Smart City di Kota Bandar Lampung telah melakukan observasi kebeberapa kota lainnya untuk mempelajari penerapan Smart City.
Pada 25 April 2019 diskominfo mulai menggelar forum diskusi untuk membuat rumusan dokumen masterplan Smart City yang akan di jadikan landasan dasar pembangunan dan pengembangan Smart City yang akan dilaksanakan di Kota Bandar Lampung. Dengan dibuat dan dirumuskannya rencana pembangunan Smart City dalam document perencanaan masterplan Smart City, maka akan disesuaikan dengan keadaan Kota Bandar Lampung, mulai dari kesiapan kota bandar lampung dalam membangun Smart City dan rencana jangka Panjang Smart City yang akan dilaksanakan sesuai instruksi KPK dan Kementerian Komunikasi dan8. Kemudian pada tanggal 11 Oktober 2019, diskominfo mengadakan sosialisasi Master Plan
8 https://bandarlampungkota.go.id/new/berita-10320-Focus-Group-Discussion-1-Master-Plan- Smart-City-Kota-Bandar-Lampung.html
Smart City Kota Bandar Lampung. Master plan tersebut dibuat atas kerja sama diskominfo dan para ahli peneliti Smart City. Berdasarkan masterplan yang telah dibuat, terdapat 6 pilar pokok visi Smart City Bandar Lampung yaitu Smart City (Smart City), sehat, beriman, berbudaya, unggul, dan berdaya saing berbasis ekonomi kerakyatan. Dari 6 pilar tersebut, ditetapkan pernyataan visi Smart City Kota Bandar Lampung yaitu Terwujudnya Smart City Bandar Lampung yang Sehat, Beriman, Berbudaya, Unggul, Dan Berdaya Saing Berbasis Ekonomi Kerakyatan.
Pemerintah Kota Bandar Lampung memiliki 36 Organisasi Perangkat Daerah yang memilii tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Untuk kemudahan pembangunan dan pengembangan Smart City Kota Bandar Lampung terdapat beberapa faktor/syarat yang memang harus dipatuhi dalam bertransformasi dalam proses birokrasi dan pelayanan publik, dari proses manual sampai menjadi proses berbasis elektronik. Faktor transformasi birokrasi berbasis elektronik yang harus dilakukan dapat dilihat pada tabel berikut:
TABEL III.5
FAKTOR TRANSFORMASI BIROKRASI No Syarat Melaksanakan Transformasi Birokrasi
1
Dinas Komunikasi dan Informatika memiliki kewenangan terhadap saranan dan prasarana TIK yang ada di lingkungan Pemerintah Kota Bandar Lampung, sedangkan Organisasi Perangkat Daerah memiliki data informasi.
2
Semua OPD harus berkordinasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika dalam memanfaatkan sarana prasarana TIK Pemerintah Kota Bandar Lampung.
3
OPD juga berkoordinasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika untuk mendapatkan ijin kelayakan tentang kebutuhan software proprietary dan aplikasi dari pemerintah pusat atau provinsi untuk dianalisa integrasi dengan sistem yang sudah ada. OPD sebagai pemilik data dan pemilik birokrasi juga berkoordinasi dengan OPD yang lain dalam melakukan akuisisi data, pengelolaan dan tanggung jawab kepemilikan data/informasi/proses birokrasinya.
4
OPD harus berkoordinasi denan TIM Teknis Dinas Komunikasi dan Informatika dalam beberapa hal, diantaranya: Pengolahan data, Proses bisnis/proses kerja sistem, Metodologi pengembangan sistem, Platform pengembangan sistem (bahasa pemrograman, database dan engine),
No Syarat Melaksanakan Transformasi Birokrasi
Pengelolaan sistem, Pelaksanaan sistem yang akan di bangun, Sarana dan prasarana sistem (seperti server, jaringan dan perangkat pendukung lainnya)
5
Untuk pemanfaatan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi yang ada di lingkungan Pemerintah Kota Bandar Lampung, maka semua OPD harus berkordinasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika untuk beberapa hal diantaranya: Kapasitas infrastruktur TIK yang akan dibutuhkan, Tingkat keamanan, Kualitas dan jumlah media komunikasi data, sistem jaringan yang akan dibutuhkan, Spesifikasi teknis pekerjaan yang akan dilaksanakan, Mekanisme pengedaan sarana dan prasarana hardware dan sofware, serta Mekanisme pemeliharaan, pengoprasian dan pengendalian.
Sumber: Buku Masterplan Kota Bandar Lampung
Lewat program Smart City yang dicanangkan sejak pertengahan tahun 2019 ini, Diskominfo Bandar Lampung terus melanjutkan berbagai keperluan fisik sebagai penunjang terwujudnya program Smart City itu. Selain itu langkah utama yang dilakukan untuk mencapai Smart City yaitu dengan membenahi atau merapikan infrastrukturnya. Sebab, infrastruktur itu menjadi hal mendasar dalam mendorong pertumbuhan teknologi di suatu daerah, terutama infrastruktur teknologi dan komunikasi (ICT)9. Selain itu,tercetus juga usulan oleh salah satu bakal calon Wali Kota Bandar Lampung, Ryko Menoza SZP yang akan melakukan sebuah terobosan baru dengan dibangunnya jalur kereta monorail yang yang terintegrasi dengan sejumlah wilayah di kota ini untuk mengatasi kemacetan. Pembangunan kereta monorail ini akan menjadi transportasi massal masa depan untuk mengurai kemacetan karena seiring dengan pekembangan waktu pengguna kendaraan akan kian meningkat10. Pembangunan berbasis Smart City memberikan ruang yang luas bagi inovasi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Kota Bangda Lampung, masyarakat, pengusaha, kalangan pendidikan, kalangan kesehatan dan stakeholders lainnya.
9 https://www.kupastuntas.co/2019/09/12/bandar-lampung-menuju-kota-cerdas/. Bandar Lampung Menuju Smart City (12 September 2019) (Wijayanti, 2019)
10 https://radarcom.id/2020/01/13/rycko-siap-jadikan-bandar-lampung-kota-metropolitan-dan- smart-city/. Rycko Siap Jadikan Bandar Lampung Kota Metropolitan dan Smart City (13 Januari 2020). (Admin Radarcom, 2020)
a) Smart Economy
Sasaran dari dimensi smart economy didalam masterplan Smart City Kota Bandar Lampung yaitu mewujudkan ekosistem yang mendukung aktifitas ekonomi masyarakat yang selaras dengan sektor ekonomi unggulan. Inisiatif pembangunan Smart Econmy dilakukan melalui beberapa indikator yaitu membangun ekosistem industri yang berdaya saing, mewujudkan kesejahteraan rakyat dan membangun ekosistem transaksi keuangan. Melalui Dinas Perindustrian Kota Bandar Lampung, pendataan terhadap wirausaha/industri telah dilakukan. Berdasar kan data tersebut di atas, dapat diketahui bahwa pada tahun 2019 terdapat sebanyak 11.351 unit industri terdaftar. Dengan melihat data tersebut maka dapat dikatakan Kota Bandar Lampung telah melakukan pendataan terhadap industri-industri yang ada di Kota Bandar Lampung. terkait dengan nilai PDRB per kapita. Berdasarkan pendataan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandar Lampung, nilai PDRB per kapita (dalam US$) yang seharusnya mencapai 55102 US$ namun kondisi eksisting di Kota Bandar Lampung yang ada hanya mencapai 3999,57 US$. Berdasarkan kondisi ideal persentase optimalisasi tugas pokok dan fungsi Disnaker seharusnya 100%, namun berdasarkan kondisi eksisting yang didapat persentase tersebut hanya mencapai 84%. Selain itu pada konsisi ideal smart economy sebuah kota tidak memiliki pengangguran atau nilai persentase jumlah pengangguran sama dengan nol sedangkan kondisi eksisting yang didapat persentase jumlah pengangguran sebesar 7.
b) Smart People
Smart people merupakan dimensi yang banyak membahas tentang manusia sebagai unsur utama sebuah kota. Pendidikan merupakan salah satu indikator didalamnya untuk melihat kualitas Sumberdaya Manusia. Di Kota Bandar Lampung persentase siswa yang menyelesaikan pendidikan SMA/SMK dan Persentase sekolah terakreditasi tidak mencapai 100%. Dimana melalui media berita kelulusan beberapa sekolah di Kota Bandar Lampung hanya mencapai 99,51%11. Selain itu sekolah terakreditasi di Kota Bandar Lampung
11 https://lampung.tribunnews.com/2020/05/04/216-siswa-smk-di-bandar-lampung-tak-lulus- un?page=1. Tribun Bandar Lampung (4 Mei 2020)
berdasarkan data eksisting yang di dapat dari Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung dan website Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Provinsi Lampung12 terdapat kurang lebih 58 sekolah belum terakreditasi dari total 470 sekolah.
c) Smart Governance
Smart governance dapat diartikan sebagai Smart City governance, dimana komponen tata kelola biasanya menitikberatkan pada tata kelola pemerintah daerah sebagai lembaga yang mengontrol sendi-sendi kehidupan perkotaan.
Salah satu indikatornya adalah bagaimana pemerintah melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan. Pemerintah di Kota Bandar Lampung melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) melakukan sosialisasi penyusunan kebijakan dan dalam prosesnya stakeholder/masyarakat juga dilibatkan dan diberikan kesempatan untuk mengajukan usulan program kegiatan. Pemerintah juga memfasilitasi aspirasi publi yang terintegrasi melalui situs resmi www.bandarlampung.go.id yang dapat di akses oleh masyarakat secara online. Sedangkan aspirasi secara offline bisa disampaikan masyarakat melalui musrembang yang dilakukan untuk penyusunan kebijakan13. Setiap program dan layanan yang dilaksanakan mentransparasikan pembiayaan untuk setiap layanan yang diberikan melalui publikasi Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) pada website masing-masing OPD.
d) Smart Mobility
Smart Mobility merupakan salah satu dimensi yang berbicara terkait transportasi baik prasarana dan saranya maupun sistem pengelolaannya. Kota Bandar Lampung tidak memiliki akses langsung ke internasional, namun masyarakat yang ingin bepergian dengan pesawat akan menggunakan Bandara Radin Inten di Kabupaten Lampung Selatan yang menempuh jarak kurang lebih 27 km dan waktu sekitar 1 jam. Kehadiran harga transportasi publik berdasarkan permintaan belum tersedia di Kota Bandar Lampung untuk saat ini dikarenakan
12 https://bansmlampung.wordpress.com/
13 https://www.bappedakotabalam.net/2019/03/22/musyawarah-perencanaan-pembangunan- musrenbang/
saat ini sedang pada masa restruktur atau penataan jaringan trayek dimana masa aktif angkot yang saat ini dijadikan transportasi umum akan habis dan diganti dengan bus sebagai transportasi umum yang akan digunakan masyakarat Kota Bandar Lampung. Kemudian layanan transportasi publik tersebut juga akan menyediakan pelayanan mengenai informasi secara real time kepada publik.
Kota Bandar Lampung saat ini belum memiliki transit multi moda dengan minimal 3 layanan yang terintegrasi, dikarenakan transportasi umum yang tersedia saat ini belum berbagai jenis moda transportasi. Disisi lain kota Bandar Lampung juga tidak tersedia transportasi Publik Elektrik, dan panjang jalur dan lajur sepeda dalam kilometer per 100,000. Hal ini dikarenakan keterbatasan biaya dan SDM yang ada di Kota Bandar Lampung.
e) Smart Environment
Smart environment salah satu dimensi yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan. Salah satu tujuan pada dimensi ini adalah pengelolaan SDA dan lingkungan yang baik dan berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.
Penilaian baik atau buruk lingkungan dapat dilihat melalui indeks polusi.Indeks polusi Kota Bandar Lampung bernilai 24 dimana nilai tersebut terbilang polusi sedang dan tidak melebihi angka indeks polusi maksimal dikatakan sebagai smart environment. Untuk mendukung ketahanan iklim di Kota Bandar Lampung, pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup mengusungkan rencana/strategi melalui sejumlah program salah satunya terkait sistem pengelolaan sampah 3R yang ada di salah satu TPS. Selain itu untuk mendukung hal tersebut juga terdapat Program Green building yang memang kurang terealisasikan. Penggunaan energi listrik juga merupakan bagian dari penggunaan sumber daya didalam lingkungan. Secara eksisting mencapai 45716783 kWh/tahun. Hal tersebut dapat disebabkan karena pengeluaran listrik rumah tangga yang terlalu tinggi.
f) Smart Living
Sasaran Smart Living dalam Master Plan Smart City Bandar Lampung adalah untuk menciptakan lingkungan hidup yang layak, nyaman dan efisien.
Rencana pembangunan Smart Living dilaksanakan melalui beberapa indikator,
yaitu penataan ruang wilayah yang terkoordinasi, mewujudkan infrastruktur kesehatan, dan menjamin ketersediaan sarana transportasi. Melaksanakan koordinasi penataan ruang untuk menciptakan lingkungan hidup yang nyaman dan harmonis antara kawasan hunian dan pusat kegiatan komersial yang didukung oleh fasilitas hiburan keluarga. Terkait infrastruktur kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan akses makanan dan minuman sehat, akses pelayanan kesehatan, serta akses sarana dan prasarana olahraga.. Selain itu menjamin ketersediaan sarana transportasi dilakukan untuk mewujudkan ekosistem transportasi yang menjamin mudahnya mobilitas bagi individual, publik, maupun untuk pemenuhan kebutuhan logistik suatu daerah.
g) Smart Infrastruktur
Smart Infrastruktur dalam Smart City berkaitan dengan pengadaan infrastruktur cukup penting yang berfungsi mengintegrasikan data dan mambuat fasilitas-fasilitas Sistem informasi didalam keberlangsungan Smart City menjadi berjalan. Kota Bandar Lampung tidak ada lagi Blank Spot atau dapat dikatakan seluruh daerah diperkotaan telah di fasilitasi jaringan yang memadai karena menara BTS telah tersebar merata. Selain tersedia menara BTS, penyediaan konektivitas infrastruktur jaringan TIK juga berupa serat optic dan nirkabel.
Disetiap mal di Kota Bandar Lampung telah tersedia E-Parking dimana setiap pengunjung yang datang masuk dengan mengambil kartu parkir melalui sebuah alat otomatis. Sistem e-Parking menggunakan sebuah alat untuk merekam transaksi pembayaran retribusi parkir yang dinamakan Terminal Parkir Elektronik (TPE).