• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES PENGEMBANGAN KECERDASAN SOSIAL ANAK USIA DINI MELALUI DRAMA: Penelitian Tindakan terhadap Siswa-siswa Taman Kanak-kanak Laboratorium Percontohan Universitas Pendidikan Indonesia Kelas Nol Besar.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PROSES PENGEMBANGAN KECERDASAN SOSIAL ANAK USIA DINI MELALUI DRAMA: Penelitian Tindakan terhadap Siswa-siswa Taman Kanak-kanak Laboratorium Percontohan Universitas Pendidikan Indonesia Kelas Nol Besar."

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………..i

LEMBAR PERSETUJUAN DISERTASI………ii

ABSTRAK………...iii

ABSTRACT……….iv

PERNYATAAN………....v

KATA PENGANTAR…..………vi

DAFTAR ISI…..………..ix

DAFTAR GAMBAR...………xiv

DAFTAR BAGAN...………...xvi

DAFTAR TABEL..………...xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ...21

C. Tujuan ...21

D. Manfaat Penelitian ...22

E. Asumsi ...22

(2)

x BAB II KERANGKA TEORETIK

A. Kecerdasan Sosial…..………26

1. Kesadaran Sosial...27

2. Fasilitas Sosial…...………...27

B. Empati..………..33

C. Pendidikan Anak Usia Dini…..……….38

1. Pengembangan Empati Anak Usia Dini………..42

2. Komunikasi Verbal…..………....42

3. Komunikasi Nonverbal…..………..44

D. Prinsip Bermain sambil Belajar dan Belajar Seraya Bermain…..……….45

E. Drama dan Pendidikan Drama…..……….52

F. Drama dan Pendidikan Umum/Nilai...………60

G. Proses Produksi Drama…..………64

1. Perencanaan...………..64

2. Latihan Drama…..………...65

1) Olah Tubuh untuk Kekuatan…..………...66

2) Olah Tubuh untuk Kelenturan…..……….67

3) Olah Tubuh untuk Komunikasi Makna..………...67

4) Motorik Kasar……...……….69

5) Motorik Halus…...……….70

6) Wacana Kata...………...70

(3)

xi

8) Pola Lantai (Blocking)……….72

9) Kepekaan Musikal..………...72

H. Koordinasi.………73

I. Empati dalam Proses dan Pertunjukkan Drama….………...74

BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian..……….76

B. Definisi Operasional...………81

C. Tahapan Penelitian..………...85

1. Latihan Bahasa Verbal..………...86

2. Latihan Bahasa Nonverbal..……….…91

3. Latihan Kepekaan Panca Indra..………..97

4. Latihan Pola Lantai..………....97

5. Latihan dengan Rangsangan Musik…..………...98

6. Latihan Koordinasi..………99

D. Instrument Penelitian…..……….103

a) Pedoman Latihan Bahasa Verbal…..……….104

b) Pedoman Latihan Bahasa Nonverbal..………...105

c) Pedoman Tes Tindakan…..………....105

E. Proses Pengembangan Instrument…..……….…105

(4)

xii

1. Tes Tindakan.………....106

2. Observasi Partisipatif….………...106

3. Observasi Nonpartisipatif….……….………...108

G. Prosedur Penelitian dan Tahap-tahap Penelitian.………109

1. Merumuskan Kegiatan.……….109

2. Membuat Instrument Penelitian.………...109

3. Menunjuk Instruktur untuk Implementasi Kegiatan….………....110

4. Terjun ke Lapangan….……….110

5. Mengolah dan Menyusun Data……….111

6. Pengujian Teori dan Implikasinya bagi Pengembangan Empati…………...111

7. Mengadakan Bimbingan dengan Promotor, Ko-promotor, dan Pembimbing..………..112

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian...113

1. Kemampuan Bahasa Verbal….………...113

a. Kemampuan Fonologis….………113

b. Kemampuan Leksikon….……….115

c. Kemampuan Semantik….……….118

d. Kemampuan Sintaksis ….……….120

(5)

xiii

2. Kemampuan Bahasa Nonverbal..………126

(a) Kemampuan Gerak-gerak Primer..……….126

(b)Kemampuan Gerak-gerak Sekunder.……….129

3. Kepekaan terhadap Perasaan Orang Lain.………..131

a. Kepekaan Mendengarkan Bahasa Verbal.………...131

b. Kepekaan Mendengarkan Nada Bicara………...135

c. Kepekaan Menafsirkan Bahasa Nonverbal………...137

4. Empati dari Sudut Pandang Orang Lain (Akting)…………...138

B. Pembahasan……… ...146

(a) Anak TK dan Perkembangan Sosialnya.………..146

(b) Drama bagi Anak TK….………..149

(c) Pengembangan Empati Anak TK melalui Drama.………...153

C. Temuan.……… 186

a. Teoretik………. ………..186

1. Empati sebagai Esensi Dasar dalam Komunikasi….………188

2. Interpretasi dalam Drama sebagai Empati Segitiga.………... 197

3. Presentasi Drama Menuai pada Empati Penonton.………..198

4. Efektivitas Proses Drama dalam Pengembangan Empati Anak TK.……....200

(6)

xiv BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

Kesimpulan ……..………...205

Implikasi..………..209

DAFTAR PUSTAKA…..………211

LAMPIRAN-LAMPIRAN….………..216

Lampiran 1. Pedoman Latihan Bahasa Verbal melalui Lagu…..………..216

Lampiran 2. Pedoman Latihan Bahasa Verbal melalui Teks Dialog….…………...217

Lampiran 3. Pedoman Tes Tindakan melalui Skenografi………218

(7)

xv

DAFTAR GAMBAR

3.1. Anak-anak TKLPU Sedang Melakukan Senam Kesegaran

Jasmani dengan Bimbingan Guru-gurunya...92

3.2. Latihan Gerak-gerak Dasar Tubuh….………93

3.3. Latihan Gerak-gerak Dasar Bagian Tangan…..……….93

3.4. Latihan Gerak Koordinasi Tangan dan Kaki….………....93

3.5. Latihan Menirukan Ekspresi dalam Gambar…..………93

3.6. Latihan Keseimbangan………...93

3.7. Latihan Ekspresi Melamun………93

3.8. Latihan Gerakan Merunduk………...94

3.9. Latihan Gerakan Tengadah………94

3.10. Latihan Gerakan Kepala ke kiri dan ke kanan………...94

3.11. Latihan Menari Bersama sambil Bernyanyi………...94

3.12. Latihan Merasakan Anggota Tubuh yang Sakit……….97

3.13. Latihan Meraba Objek Tertentu Secara Imajinatif……….97

3.14. Latihan Pola Lantai………98

4.15. Kemampuan Siswa dalam Gerak-gerak Koordinasi Sebelum Perlakuan Diberikan………..131

4.16.Kemampuan Siswa dalam Gerak-gerak Koordinasi Sesudah Perlakuan Diberikan………...131

(8)

xvi

4.18. Presentasi Drama Adegan Tiga Ekor Anak Ayam Dimainkan Anak-

Anak dan Seekor Burung Elang Dimainkan Instruktur……….140

4.19. Latihan Bernyanyi sambil Berakting………142

4.20.Presentasi Tubuh sebagai Bahasa Ungkap dalam Komunikasi……….143

4.21. Latihan Koordinasi Bahasa Verbal dan Nonverbal

(9)

xvii

DAFTAR BAGAN

2.1. Unsur-unsur Kecerdasan Sosial………...26

2.2. Peta Empati dalam Kecerdasan Sosial……….35

2.3. Peta Empati di antara Kecerdasan Sosial, Emosiaonal, dan Moral………..36

2.4. Kegiatan dalam Drama……….57

2.5. Muatan Nilai dalam Drama………..62

3.6. Alur Kegiatan Pengembangan Empati melalui Permainan Drama………..84

3.7. Tahapan Penelitian………..85

4.8. Proses Interpretasi dalam Drama………..154

(10)

xviii

DAFTAR TABEL

3.1. Daftar Nama Subjek Penelitian dan Inisialnya……….77

3.2. Kemampuan Bahasa Verbal Subjek Penelitian Sebelum

Perlakuan Diberikan………..87

3.3. Kemampuan Bahasa Verbal Subjek Penelitian Sesudah

Perlakuan Diberikan………..90

3.4. Hasil Tes Kemampuan Anak dalam Mengolah Gerak…….………96

3.5. Hasil Tes Siklus 1 Perihal Kemampuan Bahasa Verbal, Bahasa

Nonverbal, serta Koordinasi Keduanya……….. ……...100

3.6. Kemampuan Rerata Subjek Penelitian tentang Bahasa Verbal, Nonverbal, serta Koordinasi Keduanya Hasil Perlakuan pada Siklus 1

secara Kualitatif………... ……...101

3.7.Hasil Perlakuan pada Siklus 2 Perihal Kemampuan Bahasa

Ungkap Emosi, Kepekaan, serta Akting………...103

4.7. Kemampuan Fonologis Subjek Penelitian

Setelah melalui Proses Perlakuan……….….114

4.8. Kemampuan Leksikon Subjek Penelitian

Setelah melalui Proses Perlakuan...115

4.9. Respons Subjek Penelitian terhadap Kata-kata Baru………...119

4.10.Kemampuan Sintaksis Subjek Penelitian Berdasarkan

Teks Drama yang Dimainkan………...123

4.11 Kemampuan Pragmatis Subjek Penelitian berdasarkan

Teks Drama yang Dimainkan………..125

4.12 Kemampuan Bahasa Tubuh Subjek Penelitian

Setelah melalui Proses Perlakuan...127

(11)

xix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Pedoman latihan bahasa verbal melalui lagu………214

Lampiran 2. Pedoman latihan bahasa verbal melalui dialog……….215

(12)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam waktu relatif singkat bangsa ini nyaris menjadi bangsa yang tidak

bermartabat di mata dunia, terpuruk, miskin, dan kehilangan harga diri. Kepribadian

bangsa yang dulu terkenal santun, dengan keragaman budaya yang membanggakan,

kini porak poranda, hanya tinggal nostalgia dalam bentuk wacana kekecewaan.

Usaha-usaha untuk merajut kembali tatanan yang kian memudar, tak mampu

menghadang gelombang perubahan ke arah yang tidak menentu.

Dulu, Indonesia memiliki semangat persatuan dan kesatuan yang sangat

tinggi, sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia terwujud dengan semangat

kebinekaan. Kini luntur, tawar, dan hanya tinggal slogan saja. Negara Kesatuan

Republik Indonesia hanya menjadi kalimat politik tanpa makna. Perjuangan dan

pergerakan para orang tua dulu, hingga membuahkan negara merdeka dan berdaulat,

hanya ada dalam fakta sejarah, namun hilang dalam jiwa.

Dulu setiap orang berusaha keras untuk mempertebal rasa persatuan, sekarang

sebaliknya perpecahan menjadi isu yang aktual sekaligus sebagai senjata untuk

mengancam lawan politik yang memegang tampuk pemerintahan. Ketika kran

demokrasi dibuka semua merasa memiliki kebebasan (tanpa batas) padahal belum

paham, demokrasi baru pada tataran “mengeja”. Mahasiswa belajar berani dulu untuk

(13)

2

Jika diidentifikasi, persoalan bangsa ini akan bermuara pada karakteristik

manusia-manusianya sehubungan dengan basis moralitasnya sehingga

perilaku-perilaku imoralitas seolah-olah menjadi hal yang lumrah dan marak terjadi di seluruh

penjuru tanah air. Kekerasan, kejahaan, kebebasan tanpa batas, menjadi icon yang khas bangsa ini. Karakter manusia Indonesia kini telah berubah hingga nyaris

kehilangan jati-diri sebagai bangsa besar di Asia Tenggara. Bangsa yang dulu

terkenal ramah, adab, agamis, serta memiliki tatakrama yang khas dan bernilai tinggi

dalam konteks moral, kini luntur terbawa arus global, hanyut dan kuyup tak karuan.

Banyak tudingan bahwa kemorosotan moral bangsa ini salah satunya adalah

akibat dari gagalnya pendidikan yang terlalu mengutamakan kemampuan akademis

sebagai subject matter. Namun kurang dan hampir tidak pernah mendidikan moral secara serius dan melekat pada setiap mata pelajaran. Pendidikan karakter/moral para

siswa hanya dititipkan pada mata pelajaran agama, sedangkan mata pelajaran lain

seolah-olah tidak berkepentingan untuk mendidikan moral. Padahal tujuan

pendidikan nasional tidak hanya untuk kecerdasan intelektual, akan tetapi juga

kecerdasan-kecerdasan lain sehingga terbentuk manusia-manusia utuh hasil didikan

yang berkarakter.

Betapa penting pendidikan karakter dalam kerangka mempersiapkan generasi

penerus yang berkualitas. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional tahun

2003, karakter menjadi salah satu tujuan, akan tetapi dalam realitasnya belum ada

tanda-tanda untuk dilaksanakan. Sementara ini karakter pembelajar berkembang

(14)

3

Manusia memiliki bermacam-macam karakter atau sifat, seperti misalnya baik

hati, sombong, pemarah, pemaaf, pelit, hemat, boros, dan lain sebagainya. Mungkin

ada lebih dari belasan ribu kata yang digunakan untuk menggambarkan karakter dan

sifat manusia. Dalam bahasa Inggris saja ada sekitar 18.000 kata (Taniputra, 2005:

75). Secara awam hanya ada dua jenis karakter manusia yaitu baik dan buruk. Jika

ada orang yang membawa keberuntungan atau baik bagi kita, maka kita akan

menyebutnya sebagai baik. Sebaliknya bila ada orang yang menyusahkan kita atau

merugikan kita, maka kita akan menyebutnya sebagai jahat.

Pribadi itu suatu totalitas, yang menjadi sentrum; sedang karakter merupakan

bagian dari kepribadian manusia. Karakter itu bentuk organisasi dari kehidupan

perasaan, pengenalan dan kehendak yang diarahkan pada sistem nilai; dan

diekspresikan dengan relatif konsekuen pada perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan

satu sistem nilai yang hendak dikejar (Kartono, 2005: 61). Karakter lebih merupakan

aspek etis (aspek susila/moral) dari kemanusiaan. Apa yang dikejar oleh manusia, apa

yang menjadi tujuannya, ke arah mana ia memastikan diri, semua itu menunjukan

objek-objek final. Maka karakter itu merupakan segi final dari kepribadian yang

mengandung unsur-unsur etis. Karakter itu akunya psikis yang diekspresikan dalam

bentuk tingkah laku manusia, juga menampilkan keseluruhan akunya. Sebagian

ditentukan oleh sifat-sifat hereditas, sebagian lagi ditentukan oleh milieu-nya (sesuai

(15)

4

Pendidikan karakter merupakan pembentukan akhlak melalui proses knowing

the good, loving the good, and acting the good, yaitu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognisi, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir

menjadi habit of the mind, heart, and hands (http//www.sumardi.blogspot.com.). Lickona (1992: 118) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik

(components of good character) yaitu moral knowing, moral feeling, and moral action. Hal ini diperlukan agar siswa didik mampu memahami, merasakan, dan sekaligus mengerjakan nilai-nilai kebajikan.

Moral knowing merupakan hal penting untuk diajarkan yang terdiri dari enam aspek yaitu: 1) moral awareness, 2) knowing moral values, 3) perspective taking, 4)

moral reasoning, 5) decision making, and 6) self knowledge. Moral feeling adalah aspek lain yang harus ditanamkan kepada anak yang merupakan sumber energi dari

diri manusia untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral. Terdapat enam hal

yang merupakan aspek emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk

menjadi manusia berkarakter yakni: 1) conscience, 2) self-esteem, 3) emphaty, 4) loving the good, 5) self control, 6) humility. Moral action adalah bagaimana membuat pengetahuan moral dapat diwujudkan menjadi tindakan nyata. Perbuatan/tindakan

moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. Untuk

memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally)

maka harus dilihat dari tiga aspek lain dari karakter yaitu: 1) kompetensi, 2)

keinginan, dan 3) kebiasaan. Berbicara pendidikan karakter, tidak terlepas dari

(16)

5

salah satu muara dari proses pendidikan karakter. Kecerdasan sosial adalah bagian

intergral dari karakter yang perlu dikembangkan sejak usia dini. Pendidikan karakter

yang memfokuskan bagaimana membangkitkan rasa empati, etika moral, dan

pelayanan sosial dapat menciptakan sebuah tatanan sekolah yang lebih peduli dan

saling menghormati antar kawan, antara guru dan siswa, serta siswa dan orang tuanya

(Megawangi, 2004: 56).

Kemampuan memahami dan merasakan kekhawatiran orang lain (empati),

merupakan hal yang dapat mencegah perbuatan kejam dan mendorong kita untuk

memperlakukan orang lain dengan baik. Empati muncul secara alamiah dan sejak

usia dini. Anak-anak lahir dengan membawa sifat yang besar manfaatnya bagi

perkembangan moral ini. Namun, tak ada jaminan bahwa kelak kapasitas untuk bisa

memahami perasaan orang lain bisa berkembang dengan baik. Meskipun anak-anak

lahir dengan kapasitas berempati, empati perlu tetap ditumbuhkan karena jika tidak,

tak akan berkembang. Empati berperan meningkatkan sifat kemanusiaan, keadaban,

dan moralitas. Empati merupakan emosi yang mengusik hati nurani anak ketika

melihat kesusahan orang lain. Hal tersebut juga yang membuat anak dapat

menunjukan toleransi dan kasih sayang, memahami kebutuhan orang lain, serta mau

membantu orang yang sedang kesulitan. Anak yang belajar berempati akan jauh lebih

pengertian, penuh kepedulian, dan biasanya mampu mengendalikan kemarahan.

Sehubungan dengan hal itu, anak-anak seharusnya memiliki pengalaman dalam

(17)

6

dalam hal ini sekolah tidak secara langsung mengajarkannya. Padahal kemampuan

berempati merupakan hasil proses pembiasaan sejak pendidikan usia dini.

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan salah satu bentuk

penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar kearah

pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar),

kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio

emosional (sikap dan prilaku serta agama), bahasa dan komunikasi, sesuai dengan

keunikan, dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Anak usia

dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan

pesat dan sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya. PAUD merupakan

lembaga pendidikan yang ditujukan bagi anak-anak usia prasekolah dalam rentang

usia 0-6 tahun dengan tujuan agar dapat mengembangkan potensi-potensinya sejak

dini dan berkembang secara wajar. Secara akademik, PAUD adalah suatu bidang

kajian yang mempelajari tentang cara-cara efektifitas untuk membantu siswa usia dini

agar berkembang sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya. Namun kenyataannya

PAUD di Indonesia belum tergarap dengan baik. Perhatian pemerintah untuk

mengembangkan PAUD masih jauh dari harapan. Hal itu disebabkan oleh kesalahan

memaknai arti pendidikan prasekolah sebagai pendidikan yang tidak wajib dan tidak

penting diikuti oleh setiap anak. Institusi PAUD seperti TK, tidak dikembangkan

sebagaimana jenjang pendidikan di atasnya (Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah).

Hampir seluruh TK (lebih dari 99%) adalah TK swasta yang dikembangkan oleh

(18)

7

yang pantas. Selain itu, jumlahnya kurang dari 1% yang berstatus PNS. Jumlah anak

yang mengenyam pendidikan TK juga sangat rendah, yaitu sekitar 12% (Suyanto,

2002: 3). Hal-hal di atas menunjukan bahwa PAUD di Indonesia belum mendapat

perhatian yang serius sehingga belum dapat mengemban amanat untuk mendidik,

mencerdaskan, dan mengembangkan potensi anak-anak sebagai generasi penerus

bangsa. Hal ini tidak terkecuali Taman Kanak-kanak Laboratorium Percontohan UPI

(TKLPU) yang dijadikan lokasi penelitian dalam upaya menemukembangkan model

yang lebih efektif untuk mengembangkan kecerdasan sosial (empati) anak usia dini

melalui drama.

TK sebagai salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini merupakan

sebuah lembaga yang berupaya untuk mengembangkan potensi anak agar

berkembang optimal. Lembaga ini menyelenggarakan proses pendidikan sebagai

persiapan untuk mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya. Oleh karena itu posisinya

sangat penting dan semua komponen masyarakat bertanggung jawab atas

penyelenggaraannya. TK merupakan bentuk pendidikan anak usia dini yang berada

pada jalur pendidikan formal sebagaimana yang dinyatakan dalam undang-undang

No. 20 tahun 2003 pasal 28 ayat 3, “Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan

formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfa, atau bentuk lain yang

sederajat.”

TK bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi anak agar kelak menjadi

manusia yang utuh sesuai falsafah suatu bangsa. Anak dapat dipandang sebagai

(19)

8

santun, aturan, norma, etika, dan berbagai hal tentang dunia. Ia juga sedang belajar

berkomunikasi dengan orang lain dan belajar memahami orang lain. Anak perlu

dibimbing perihal kehidupan sosial serta mekanisme sosial yang berlaku

dilingkungannya. Sehubungan dengan tujuan TK adalah mengembangkan seluruh

potensi anak, maka segala kegiatan yang mengarah pada pengembangan potensi harus

dilakukan. Tujuan kurikuler hendaknya ditujukan untuk mengembangkan anak secara

menyeluruh, yang meliputi aspek kognitif, fisik-motorik, moral, emosional, dan

sosial.

TKLPU berdomisili di lingkungan kampus Universitas Pendidikan Indonesia

dan dikelola oleh universitas melalui BPS. Dilihat dari lingkungan tempat

penyelenggaraan pendidikan TKLPU, sungguh sangat ideal karena berada di

lingkungaan para pakar, pemerhati, dan praktisi di bidang pendidikan.

Siswa-siswinyapun pada umumnya berasal dari lingkungan setempat (anak-anak dosen,

karyawan, masyarakat umum di lingkungan sekitar UPI, bahkan anak-anak dosen dari

luar Bandung yang orang tuanya sedang mengikuti pendidikan pascasarjana di UPI).

TK ini memang sengaja dikelola oleh UPI sebagai laboratorium penelitian dan

percobaan. Banyak peneliti yang melakukan penelitian baik untuk skripsi, tesis,

bahkan disertasi termasuk peneliti sendiri. Para siswa sudah tidak merasa asing

(terutama kelas nol besar) jika di kelas mereka menjumpai orang baru (yang

diperkenalkan guru), dan mereka senantiasa menyapa ”bapak/ibu sedang penelitian

ya”? Mereka terbiasa mendapat perlakukan dari peneliti dan terbiasa dihimbau oleh

(20)

9

Kurikulum yang diberlakukan selama proses pembelajaran di TKLPU

mengacu kepada kurikulum nasional dan muatan lokal yang ditetapkan sekolah.

Untuk memperkuat penguasaan bahan ajar intrakulikuler, diberikan jam pelajaran

tambahan berupa ko-kulikuler yaitu pada pelajaran Baca Tulis Al Quran atau sering

disebut TPA (pengajian siswa). Ko-kulikuler tersebut dimaksudkan untuk

membentuk keunggulan dalam kemampuan dan kemantapan di bidang keagamaan.

Sungguhpun telah memiliki program yang tetap, tetapi terbuka bagi semua peneliti

untuk ikut berkontribusi dalam mengembangkan program pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran di TKLPU mengutamakan bermain sambil belajar dan

belajar seraya bermain. Bagi anak prasekolah, kegiatan bermain menjadikan fungsi

sosial anak semakin berkembang. Secara alamiah bermain memotivasi anak untuk

mengetahui sesuatu lebih mendalam, dan secara spontan anak mengembangkan

kemampuannya. Bermain pada dasarnya mementingkan proses dari pada hasil.

Kegiatan siswa-siswi TKLPU hampir seluruhnya merupakan aktivitas bermain. Atas

dasar keyakinan dan pemahaman terhadap model pembelajaran bagi anak usia dini,

kegiatan bermain sangat diutamakan mengingat dampak positif dari proses

permainan. Tidak penting hasil permainan itu seperti apa, akan tetapi proses

permainan merupakan pembelajaran tersendiri bagi anak-anak. Dengan demikian

semua materi pembelajaran dikemas dalam bentuk kegiatan bermain karena “play is

a important vehicle for children, social, emotional and cognitive development” (Bredekamp (1987: 5). Namun pemahaman itu baru pada tataran teoretis, kegiatan

(21)

10

berperan sebagai aplikan dari model pembelajaran instan yang sudah jadi. Mereka

tidak dicetak sebagai desainer dalam proses pembelajaran sungguhpun realitas

menuntut demikian. Di samping itu, secara nasional, model PAUD dalam hal ini TK

masih dalam proses mencari format yang tepat dan efektif untuk sistem

penyelenggaraannya. Banyak ahli PAUD tapi belum banyak pakar, banyak yang

berbicara, tetapi sangat jarang yang mencoba. Dalam konteks wacana, banyak para

ahli pendidikan berbicara masalah PAUD, namun giliran implementasi semua

dipasrahkan sepenuhnya kepada tenaga lapangan (guru-guru TK) yang jarang

mendapat kesempatan untuk meningkatkan kompetensi di bidangnya.

Kegiatan kesenian mendapat perhatian yang cukup baik dari pihak TKLPU,

namun sampai saat ini belum ada guru yang memiliki kompetensi memadai di bidang

seni. Para lulusan (sarjana pendidikan seni) sangat jarang yang tertarik meniti

karirnya sebagai pendidik seni anak usia dini. Mereka lebih suka menjadi guru

sekolah lanjutan seperti SMP atau SMA bahkan banyak yang terbuai dengan mimpi

untuk menjadi artis atau mejadi dosen. Sementara ini, pembelajaran seni

dilaksanakan oleh siapa saja (guru) yang memiliki sedikit kemampuan bernyanyi,

menari atau menggambar, sekedar untuk mengisi kekosongan. Tentunya mereka tidak

akan mampu mengkaji sampai pada tataran tujuan apalagi hakikat pendidikan seni,

karena mereka bukan bidangnya. Apa yang terjadi di lapangan sehubungan dengan

pelaksanaan pembelajaran seni berkesan “dari pada tidak ada” yang penting

(22)

11

Pembelajaran seni pertunjukan di TK hanya melatih bernyanyi dan menari

tanpa memiliki konsep yang jelas perihal tujuannya. Setelah anak hapal dengan tarian

atau lagu yang di pelajari dan dianggap layak tampil, maka biasanya dipentaskan oleh

pengajar pada acara tertentu. Pengalaman pentas merupakan pengalaman berharga

bagi siswa untuk berani tampil di muka umum. Namun pendidikan seni tidak hanya

melatihkan bentuk karya yang sudah jadi dan hanya bermuara pada pertunjukan. Ada

hal yang lebih penting dalam proses pembelajaran seni yaitu dimana peserta didik

dibawa pada kondisi interaksi sosial. Bagaimana mereka saling berhubungan sesama

teman dengan rasa empati, serta bagaimana mereka melakukan kerjasama dalam

proses produksi seni. Kenyataan itu tidak membuat aneh bagi peneliti, karena konsep

pendidikan seni itu sendiri masih dalam proses pencarian bahkan termasuk bagi

pendidik seni sekalipun. Di antara mereka (pendidik seni) terdapat misperception dimana mereka beranggapan bahwa proses pendidikan seni itu adalah melatihkan

materi seni kepada murid agar murid menguasainya. Kemudian dievaluasi pada akhir

pembelajaran, namun hanya pada aspek psikomotoriknya. Sungguhpun banyak

pendidik seni yang menuntut perimbangan ke tiga ranah yaitu kognisi, afeksi, dan

psikomotorik, namun tetap kompetensi seni yang bermuara pada skill murid yang dihargai dan menjadi tujuan. Sampai saat ini jarang pendidik seni yang menyadari

bahwa seni bisa dijadikan media pendidikan untuk mengembangkan multi kecerdasan

para siswa.

Melihat karakteristik pendidikan seni di lapangan yang notabene melatihkan

(23)

12

peserta didik terfokus perhatiannya hanya kepada materi seni yang diberikan

pelatih/guru yang mengajar melalui metode peniruan. Padahal, seni terutama seni

drama sangat terbuka peluangnya untuk mengembangkan berbagai potensi siswa.

Mengingat usia anak-anak adalah usia bermain, maka pendekatannya pun harus

melalui permainan yang menyenangkan. Permainan yang senantiasa melatihkan

pembiasaan empati adalah drama. Melalui drama anak-anak dibiasakan berlatih

bersama, menafsirkan peran yang dibawakan termasuk perwatakannya, serta

melatihkan seluruh anggauta tubuhnya sebagai media ungkap dalam drama. Kebiasan

menafsirkan akan berdampak pada pembiasaan empati terutama pada aspek emosi

tokoh yang diperankan. Memerankan tokoh (di luar dirinya) cerita dalam drama sama

dengan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain (tokoh yang diperankan).

Drama merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang menyertakan

berbagai media ungkap seperti bahasa verbal, bahasa visual (bahasa tubuh, bahasa

rupa), serta bahasa musikal. Seluruh elemen bahasa ungkap itu luruh dalam

persenyawaan melalui proses produksi dan lahirlah drama.

Dari empat cabang seni yang diajarkan di sekolah, seni drama merupakan

cabang seni yang sangat memungkinkan untuk dijadikan media pendidikan karakter.

Karena drama itu sendiri adalah seni bermain peran, watak, atau karakter. Dalam

mata pelajaran ini anak diajarkan bagaimana cara berbicara (dengan bahasa verbal),

bergerak dengan bahasa tubuh (akting), mengolah mimik muka, mengolah irama

berbicara, mengolah artikulasi, serta mengolah seluruh organ bicara dan organ tubuh

(24)

13

peran yang dimainkan, adalah satu pengalaman dalam menghadirkan karakteristik

tokoh. Semakin banyak peran yang dimainkan, semakin banyak pengalaman dalam

proses pembentukan kepribadian siswa. Belajar drama adalah belajar memahami

potensi diri sendiri, belajar tentang orang lain, belajar tentang lingkungannya, belajar

bangsanya, belajar dunianya, serta belajar Tuhannya melalui proses empati.

Drama merupakan miniatur kehidupan. Dengan mempelajari drama, secara

tidak langsung mempelajari kehidupan seniman yang merupakan sub-struktur dari

kehidupan sosial masyarakatnya. Apa yang nampak pada sebuah karya drama atau

teater, adalah cerminan dari kehidupan di baliknya. Drama tidak hanya pertunjukan

semata, akan tetapi juga ada misi dan visi di balik pertunjukan yaitu seperangkat nilai.

Nilai-nilai yang diusung oleh pertunjukan drama, merupakan model-model kehidupan

pentas sebagai refleksi dari kehidupan nyata dan tidak menutup kemungkinan

sebagai acuan model kehidupan berikutnya.

Adapun nilai-nilai itu adalah: nilai emosional (perasaan yang diekspresikan),

nilai verbal (ungkapan melalui bahasa kata-kata), nilai visual (ungkapan melalui

bahasa gerak tubuh dan rupa yang bisa dilihat), nilai intelektual (ungkapan informasi

pengetahuan yang bisa ditanggapai dan difikirkan). Nilai-nilai tersebut di atas akan

bisa dicerna oleh peserta didik dengan empati. Semakin terlatih empati siswa,

semakin kaya akan pengalaman batin dan besar kemungkinan akan terbentuk

karakteristik individu yang diharapkan.

Pendidikan drama di TK posisinya sangat fundamental dalam kerangka

(25)

14

merenungi berbagai hal termasuk tata nilai, ekspresif, kreatif, cerdas, diharapkan

menjadi calon-calon generasi yang bermartabat.

Nilai-nilai permainan yang terdapat dalam drama kemudian menjadi efek

beranting, yaitu efek yang bermanfaat sebagai media pendidikan. Bermain drama

bertujuan melatih imajinasi kreatif. Dengan menghayati perbuatan-perbuatan yang

telah didramatisasikan melaui proses empati, siswa akan lebih cepat menyerap ilmu

yang merasuk dalam sanubarinya. Proses penghayatan itu akan belangsung saat siswa

memilih bagian-bagian drama yang disukainya dengan teks percakapannya,

penafsirannya, peralatannya, dan lain sebagainya. Paling tidak, jika seorang siswa

mempelajari berbagai watak yang terdapat dalam drama yang mereka peroleh dari

guru, kemudian memerankannya, merupakan pendidikan tersendiri. Meskipun

peranan yang dimainkannya kecil dan hanya beberapa saat saja, namun dia telah

membina dirinya sendiri. Dia telah melakukan sesuatu, di antaranya menghargai

orang lain, saling menyayangi sesama teman, bekerja sama dalam permainan, dan

melatih disiplin diri.

Drama sebagai pendidikan, tidak semata-mata berorientasi pada produk

pertunjukan drama, akan tetapi nilai-nilai yang didapatkan oleh para siswa melalui

proses drama dan dampaknya terhadap perilaku siswa. Belajar empati tidak hanya

datang dari melihat/membaca dan mendengar saja, tetapi akan lebih efektif bila

datang dari perlakukan, perbuatan, dan pengalaman melalui bentuk permainan drama.

Oleh karena itu belajar berbuat sebaiknya menggunakan cara bermain atau permainan

(26)

15

Salah satu cara untuk menciptakan sebuah kondisi psikologi sosial yang bagus

pada anak usia dini (TK), bermain drama merupakan suatu kegiatan yang dilakukan

anak-anak secara berkelompok dan didalamnya terjadi interaksi sosial yang kuat. Dari

sinilah, seorang anak akan belajar menghargai dan mengakui eksistensi anak-anak

sepermainan lainnya. Mereka akan memiliki solidaritas sosial yang kuat ketika

menginjak usia dewasa nanti karena telah membiasakan diri untuk berinteraksi secara

harmonis melalui kegiatan drama.

Dalam permainan drama, anak-anak diajak belajar moral secara atraktif dan

mengasyikan sehingga membekas di kedalaman rasa. Memerankan tokoh cerita,

sudah barang tentu lengkap dengan karakteristiknya yang disajikan secara atraktif

dalam bentuk menyanyi bersama, menari bersama, berdialog bersama lawan main,

mengekspresikan kata-kata yang diucapkan, serta belajar mengolah bahasa tubuh

sebagai media komunikasi dengan orang lain. Hal yang lebih penting dalam

permainan drama adalah belajar tentang orang lain. Belajar menafsirkan tentang apa

yang dirasakan oleh orang lain (empati). Dengan permainan drama, niscaya

benih-benih kebersamaan atas nasib orang lain akan tumbuh dalam jiwanya sehingga

membentuk karakter positif di masa mendatang.

Anak usia 5-6 tahun adalah masa untuk bermain dan bercanda ria. Maka,

untuk menanamkan rasa empatik pada anak usia dini, bijaksana rasanya jika

menggunakan metode pembelajaran yang mendidik dan menghibur. Nilai-nilai sosial

(untuk merasakan penderitaan sesama) ketika masa usia dewasa tiba akan menguat,

(27)

anak-16

anak usia dini dipengaruhi oleh apa yang dimainkannya semenjak kecil. Bermain

drama juga merupakan salah satu kegiatan yang dapat menstimulasi perkembangan

kognitif, psikososial, psikomotorik, dan model komunikasi yang positif. Anak usia

dini merupakan tempat bertumpunya segala pengharapan orang tua sehubungan

dengan generasi masa datang. Oleh karena itu, mempertajam kepekaan sosial

terutama empati dalam diri anak usia dini adalah sebuah keniscayaan.

Dari fenomena yang terjadi di lapangan perihal pelaksanaan pembelajaran

seni di Taman Kanak-kanak, peneliti memandang bahwa pendidikan seni, baik seni

musik, seni tari, seni rupa maupun seni drama di TKLPU belum berjalan optimal. Hal

ini berhubungan dengan tidak adanya guru yang kompeten untuk ke empat cabang

seni. Dari empat cabang seni yang biasa diajarkan di Taman Kanak-kanak pada

umumnya, seni drama merupakan bidang yang sama sekali tidak dikuasai oleh pada

umumnya guru Taman Kanak-kanak. Padahal, seni drama merupakan media yang

paling strategis untuk mendidik anak usia dini dan relatif murah penyelenggaraannya.

Ketika dikonfirmasi dengan Kepala Sekolah, peneliti mendapat sambutan

yang sangat positif dan mendukung sepenuhnya untuk mengadakan kegiatan drama.

Selain Kepala Sekolah, guru-guru dan para siswa juga sangat senang dengan rencana

ini. Antusiasme pihak TKLPU, membuat peneliti merasa terpanggil dan tertarik

untuk ikut berkontribusi dan andil di dalamnya melalui penelitian. Adapun judul

topik penelitian yang diajukan adalah: “Proses Pengembangan Kecerdasan Sosial

Anak Usia Dini melalui Drama” (Penelitian Tindakan terhadap Siswa-siswi Kelas

(28)

17

Dari judul topik penelitian yang diajukan, terdapat empat variabel yang

menjadi fokus kajian dalam penelitian ini, yaitu: proses pengembangan, kecerdasan

sosial (empati), anak usia dini, dan drama.

Manusia sejak lahir telah memiliki karakter yang terbentuk melalui faktor

heriditas. Potensi yang merupakan bawaan sejak lahir ini tidak akan berkembang

sesuai dengan harapan yang diinginkan jika tidak ada proses pengembangan melalui

pendidikan. Karakter manusia akan berkembang secara alami dan sesuai dengan sifat

bawaan yang diwariskan oleh orang tuanya. Proses pengembangan adalah salah satu

kegiatan dalam upaya membina dalam hal ini karakter agar individu berkembang

secara optimal. Di samping itu pengembangan karakter yang dimaksud diharapkan

besesuaian dengan nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat lingkungannya.

Kecerdasan sosial merupakan salah satu muara dari proses pendidikan

karakter. Dengan demikian, kecerdasan sosial adalah bagian intergral dari karakter

yang perlu dikembangkan sejak usia dini. Adapun unsur-unsur kecerdasan sosial

diorganisir ke dalam dua kategori besar: kesadaran sosial, apa yang kita rasakan

tentang orang lain, dan fasilitas sosial, apa yang kemudian kita lakukan dengan

kesadaran itu. Dua kategori kecerdasan sosial yaitu kesadaran sosial dan fasilitas

sosial secara subtansial merupakan empati. Empati muncul secara alamiah dan sejak

usia dini, namun, tak ada jaminan bahwa kelak kapasitas untuk bisa memahami

perasaan orang lain bisa berkembang dengan baik. Meskipun anak-anak lahir dengan

kapasitas berempati, empati perlu tetap ditumbuhkan karena jika tidak, tak akan

(29)

18

Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan pemahaman tentang kesadaran sosial

dan fasilitas sosial, empati merupakan inti dari kecerdasan sosial. Begitu juga tentang

pemahaman tentang nilai-nilai baik-buruk yang diberlakukan pada sebuah sistem,

maka empati merupakan perwujudan dari kecerdasan moral.

Anak dengan empati yang baik menunjukan: kepekaan sosial; memahami

perasaan orang lain; kepekaan terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain;

Memahami orang lain secara tepat dari sikap tubuh, bahasa, ekspresi wajah, dan nada

suara; Memahami ekspresi wajah yang ditunjukan orang lain dan memberi reaksi

yang tepat; Memahami kesedihan orang lain dan memberi respon yang tepat bahwa ia

mengerti perasaan orang lain; Meneteskan air mata atau ikut bersedih ketika orang

lain sedang bersusah hati; kepedulian ketika orang lain diperlakukan tidak adil dan

tidak baik; keinginan untuk memahami sudut pandang orang lain; Mengungkapkan

secara lisan pemahaman terhadap perasaan orang lain. Empati yang baik bisa

dibentuk melalui proses pendidikan dan dimulai sejak usia dini.

Ada beberapa kategori tingkatan pendidikan Anak Usia Dini berdasarkan usia

peserta didik yakni: (1) 0 – 2 tahun adalah Taman Penitipan Anak; (2) 3 - 4 tahun

adalah Kelompok bermain /Play Group (Non Formal Education); (3) 5 – 6 tahun

adalah Taman Kanak-kanak (Formal Education) (UUSPN, 2006).

Anak Usia Dini yang dijadikan subjek dalam penelitian ini adalah anak usia

TK, karena peneliti beranggapan bahwa anak usia ini belum banyak terkontaminasi

oleh pengaruh lingkungan. Dengan demikian, pola-pola kepribadian mereka masih

(30)

19

keinginan kita termasuk pembentukan karakter. Pendekatan yang paling efektif

menurut pandangan peneliti untuk pembentukan karakter adalah melalui drama.

Masa usia TK merupakan masa perkembangan yang sangat pesat dari

keseluruhan perkembangan manusia. Pada masa ini pula fantasi mereka menjulang

tinggi serta spirit ingin tahu pada segala sesuatu hal sangat tinggi. Kemampuan

bahasa sudah sangat bagus sungguhpun kemampuan berbicara masih terhambat oleh

aspek fonologis. Namun usaha untuk belajar memproduksi suara dalam berkata-kata

sangat gencar karena kebutuhannya dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Organ-organ tubuh mereka telah sangat siap untuk difungsikan baik primer maupun

sekunder. Tugas orang dewasa adalah mengembangkan potensi yang terbentuk secara

alami menjadi bentukan yang disesuaikan dengan pola budaya serta norma-norma

yang berlaku. Bentuk kegiatan yang sangat efektif dalam kerangka mengembangkan

potensi siswa untuk kebuthan interaksi sosial, adalah dengan kegiatan drama. Melalui

kegiatan drama peserta didik dibiasakan berkomunikasi dengan sesama melalui teks

naskah/lakon yang diperankan anak. Keberhasilan dalam memerankan lakon

tergantung pada empati dan kerjasama antar pemain. Naskah atau lakon yang

disiapkan oleh guru kemudian ditransformasikan ke dalam media ungkap seni akting

bersama-sama siswa, maka terwujudlah drama.

Terdapat dua kegiatan besar dalam drama yaitu interpretasi dan presentasi.

Sebuah sajian drama (presentasi) merupakan hasil dari kegiatan interpretasi yang

kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa ungkap drama baik verbal maupun

(31)

20

proses menafsirkan yang kemudian mempresentasikan hasil tafsiran itu ke depan

publik penonton. Keberhasilan drama diukur oleh keberhasilan proses penafsiran,

sedangkan proses penafsiran merupakan proses empati yang berlangsung tiga arah.

Seorang pemain (aktor/aktris) menafsirkan cerita drama tentang nilai-nlai, ide-ide,

serta tema-tema yang terkandung dalam teks naskah; Seorang pemain menfsirkan

konsep sutradara tentang gagasan-gagasannya sehubungan dengan teks naskah yang

akan digarafnya; Pemain juga senantiasa menafsirkan tokoh cerita yang

diperankannya. Penafsiran bisa berhasil apabila pemain memahami dan merasakan

bagaimana perasaan pengarang yang dituangkan dalam naskah drama yang

dikarangnya, serta merasakan tentang perasaan sutradara sebagai konseptor

pertunjukan drama.

Komponen-komponen empati memiliki kemiripan dengan cara kerja drama

yaitu kegiatan eksploitasi bahasa ungkap emosi, kepekaan, serta akting. Akhir dari

proses drama adalah presentasi diri di depan penonton dengan tujuan

mengkomunikasikan gagasan-gagasan artistik. Sedangkan akhir dari proses

pengembangan empati adalah presentasi diri yang empatik di depan orang lain (mitra

komunikasi) untuk menghasilkan kesan yang diharafkan. Proses interpretasi dan

presentasi drama merupakan proses empati yang berlangsung multiarah. Dengan

demikian maka proses dan produksi drama sangat tepat dijadikan pendekatan untuk

(32)

21 B. Rumusan Masalah

Masalah-masalah yang akan diteliti dirumuskan dalam bentuk

pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut.

1. Bagaimanakah memperkaya perbendaharaan bahasa ungkap emosi

melalui drama?

2. Bagaimanakah meningkatkan kepekaan terhadap perasaan orang lain

melalui drama?

3. Bagaimanakah mengembangkan empati dari sudut pandang orang lain

(memerankan karakter orang lain) melalui drama?

C. Tujuan

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menemukan sebuah formula yang

lebih efektif guna mengembangkan kecerdasan sosial (empati) anak usia dini melalui

drama. Adapun tujuan secara khusus adalah untuk:

1. Menggambarkan perbendaharaan bahasa ungkap emosi anak usia dini

melalui drama

2. Mengetahui tingkat kepekaan anak usia dini terhadap perasaan orang

lain melalui drama

3. Menggambarkan empati dari sudut pandang orang lain (karakter orang

(33)

22 D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat baik secara teoretis maupun secara

empiris. Secara teoretis hasil penelitian ini diharapkan berkontribusi pada

pengembangan model pendidikan karakter kecerdasan sosial anak usia dini (TK)

melalui drama. Secara empiris, diharapkan menjadi sebuah formulasi bagi guru-guru

TK dalam mendidikan karakter kecerdasan sosial (empati), serta berdampak positif

pada perubahan sikap dan perilaku siswa.

E. Asumsi

Pengembangan karakter memerlukan berbagai pendekatan terutama

pendekatan yang mengarahkan peserta didik langsung belajar meragakan dalam

bingkai perilaku yang akan menjadi tujuan. Drama adalah salah satu cabang seni yang

dalam prosesnya senantiasa mengeksploitasi tubuh dan fungsinya sebagai bahasa

ungkap dalam memerankan tokoh lengkap dengan karakteristiknya. Melalui proses

eksplorasi perwatakan, gaya bicara, bahasa tubuh, bahasa mimik muka dan akhlak

tokoh ceritera, maka akan ditemukan sosok dan kepribadian tokoh yang diperankan.

Dengan demikian, drama sangat tepat dijadikan pendekatan dalam proses

pengembangan empati anak TK. Karena proses drama adalah proses empati.

Sementara anak usia TK adalah usia bermain, jadi anak akan tahu dan paham pada

(34)

23 F. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan terhadap anak-anak TKLPU

kelas nol besar. Jumlah responden yang dijadikan subjek penelitian terdiri dari 43

orang siswa. Melalui penelitian ini diharapkan melahirkan sebuah model

pengembangan empati anak usia dini (TK) melalui drama. Adapun

langkah-langkahnya sebagai berikut:

a. Studi Pendahuluan: Mengkaji tentang pelaksanaan pengembangan kecerdasan sosial dalam hal ini empati yang terdapat di TKLPU; Mengkaji tentang kompetensi

guru sebagai pelaksana proses pendidikan di lapangan perihal pengembangan

empati; Menginventarisir fasilitas penunjang yang disediakan lembaga sehubungan

dengan pengembangan empati di TKLPU; Mengadakan kerjasama antara peneliti

dengan pihak lembaga untuk bersama-sama mengembangkan empati peserta didik;

Identifikasi permasalahan yang terjadi di lapangan sehubungan dengan implementasi

pengembangan empati; Menghubungkan antara realitas di lapangan dengan harapan

ideal perihal pengembangan empati; Menjawab persoalan kesenjangan antara realitas

dengan idealitas secara teoretik; Memberikan solusi berupa penawaran kegiatan yang

berbentuk proses pengembangan kecerdasan sosial anak usia dini melalui drama.

b. Pengembangan Model: Mempersiapkan naskah drama sebagai media pembelajaran empati yang sesuai dengan tingkat kemampuan pembelajar; Menyiapkan beberapa

orang instruktur untuk mengimplementasikan konsep model; Melatihkan berbagai

(35)

24

c. Validasi: Secara konseptual akan dilakukan diskusi dengan para pakar di antaranya: dengan pakar drama, pakar pendidikan anak usia dini, praktisi pendidikan

anak usia dini, pakar bahasa, pakar psikologi anak, pakar pendidikan seni musik, serta

pakar pendidikan seni tari; Secara empirik akan menggunakan data lapangan.

d. Implementasi Model dilakukan dengan cara menunjuk implementator yang berasal dari guru TK tempat penelitian dilakukan, serta mahasiswa yang akan melakukan

penelitian untuk skripsi. Tugas implementator yang berasal dari guru TK adalah

mengimplementasikan konsep-konsep perlakuan yang telah dipersiapkan oleh peneliti

dan mengumpulkan data, sedangkan yang berasal dari mahasiswa tugasnya

merangkap, disamping sebagai implementator juga sebagai peneliti yang judul

topiknya merupakan bagian dari topik yang diajukan peneliti.

e. Evaluasi dilakukan melalui tes tindakan pada setiap akhir perlakuan secara parsial bagian demi bagian dan diakhir perlakuan secara integral berupa

presentasi/pertunjukan dari hasil latihan secara keseluruhan.

f. Lokasi Penelitian dilakukan di TKLPU. Pemilihan lokasi ini atas pertimbangan bahwa pertama, mobilitas penelitian ini sangat tinggi, sehingga memerlukan jarak

geografis yang memungkinkan lancarnya proses penelitian. Kedua, TKLPU memiliki

tingkat aksesbility yang sangat tinggi bagi peneliti, sehingga akan memperlancar proses komunikasi. Ketiga, para guru yang mengajar di TKLPU rata-rata memiliki

kompetensi di bidang yang akan diteliti dan bersesuaian dengan tujuan lembaga

(36)

25

bagi insan peduli pendidikan Anak Usia Dini terutama warga UPI untuk

berkontribusi di dalamnya.

Adapun penentuan sampel penelitian diambil berdasarkan tingkatan kelas,

yaitu kelas nol besar (seluruhnya) yang terdiri dari tiga kelas yaitu B1, B2, dan B3.

Jumlah keseluruhan sebanyak 43 siswa. Alasan pertama, kelas nol besar dianggap

sudah akrab dengan lingkungannya, dengan guru-gurunya, serta dengan

teman-temannya. Sehingga besar kemungkinan pengembangan empati akan bisa dilakukan

melalui guru-guru dan teman-temannya. Alasan kedua, kelas nol besar sudah

memiliki pengalaman belajar selama 1 tahun, sehingga akan memudahkan untuk

menerapkan model yang akan dilakukan oleh peneliti. Alasan ketiga, kelas nol besar

TKLPU terdiri dari beragam latar belakang sosial-ekonomi dan etnik, sehingga

peneliti menganggap sangat strategis untuk menerapkan model pengembangan

(37)

205

BAB V

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

A. Kesimpulan

Perbendaharaan Bahasa Ungkap Emosi Anak Usia Dini

Untuk mewujudkan sikap empatik harus ditunjang oleh penguasaan bahasa

ungkap sebagai media dalam berkomunikasi. Keterampilan menggunakan bahasa

ungkap hanya bisa dicapai melalui proses latihan secara terus-menerus sejak usia

dini. Kepasihan dalam menggunakan bahasa ungkap akan memperkuat makna

komunikasi antar individu. Bahasa sebagai alat komunikasi, merupakan sarana

yang sangat penting dalam kehidupan anak. Mengingat besarnya peranan

pengembangan bahasa bagi kehidupan anak, maka perlu dikembangkan pada anak

didik sejak usia TK baik bahasa verbal maupun bahasa non-verbal.

Bahasa Verbal

Anak-anak TKLPU yang dijadikan subjek penelitian, pada umumnya

memiliki kemampuan fonem yang cukup baik. Karena mereka rata-rata berasal

dari keluarga yang peduli pada pendidikan anak. Mereka adalah anak-anak dan

cucu-cucu dosen serta karyawan UPI yang sangat paham tentang bagaimana

mengembangkan potensi anak.

Pengembangan leksikon sanggat bergantung pada prekuensi interaksi

sosial anak dengan lingkungannya. Semakin sarat perjumpaan anak dengan orang

lain dan melakukan komunikasi verbal, maka akan semakin banyak

perbendaharaan kata yang diperoleh melalui perjumpaan itu. Perolehan

(38)

206

maupun tidak langsung (melalui media) yang sering dilakukan. Selain

pengalaman mendengar, perbendaharaan kata anak usia dini, dipengaruhi oleh apa

yang dilihatnya dalam keseharian.

Pengucapan kata-kata yang dibarengi dengan pemahaman akan

mengesankan keyakinan dalam penyajiannya. Dengan demikian komunikasi akan

berjalan lancar karena pendengar tidak merasa sanksi atas kebenaran

kata-katanya. Jika pembicaraan mendapat respon yang positif dari pendengar akan

menciptakan kondisi interaksi yang selaras dengan tujuan. Pembicara akan merasa

dihargai karena respons positif dari pendengar, sementara pendengar akan

mendapat pengetahuan dari kebenaran kata-kata yang diucapkan pembicara.

Drama dalam proses dan produksinya merupakan kegiatan eksploitasi

makna-makna, baik makna kata, kalimat, maupun perilaku. Melalui drama anak-anak

dibawa masuk ke dalam proses pembelajaran makna-makna.

Kemampuan merangkai kata-kata menjadi kalimat bagi anak usia dini

membutuhkan proses yang relatif panjang. Sebab kemampuan sintaksis sangat

ditentukan oleh kemampuan semantik dan leksikon. Drama kurang efektif untuk

mengembangkan kemampuan sintaksis anak-anak. Struktur-struktur kalimat

dalam drama lebih mengutamakan nilai komunikasi daripada ketaatannya pada

kaidah-kaidah bahasa.

Penggunaan kata-kata dan kalimat-kalimat dalam berkomunikasi

berhubungan erat dengan konteks. Presentasi drama verbal adalah bagaimana

(39)

207

bagaimana kata-kata itu dikemas sedemikian rupa sehingga memiliki kekuatan

komunikasi untuk menyampaikan gagasan.

Bahasa Nonverbal

Berdasarkan pengamatan peneliti menunjukan bahwa pada umumnya anak

sudah mampu menggerakan bagian-bagian tubuhnya kecuali gerak-gerak pada

bagian kaki. Mereka kesulitan dalam melakukan gerak lompat satu kaki, baik kaki

kiri maupun kaki kanan. Anak-anak pada umumnya kekurangan waktu dan

kesempatan untuk melakukan latihan gerak-gerak koordinasi. Hal ini disebabkan

oleh kurangnya sarana bermain anak yang mengarah kepada kemampuan

gerak-gerak koordinatif. Kegiatan anak-anak dalam bermain dibatasi oleh kepedulian

orang tua dan guru yang berlebihan. Namun, kemampuan dalam meragakan

kembali pengalaman kegiatan fisik mereka terutama menggunakan anggauta

tubuh tangan dan bagian kepala (mata, hidung, dan mulut), sangat memuaskan.

Ketika mereka berbicara, hampir seluruh informasi dipertegas oleh tangan dengan

gerak-gerak spontan.

Kepekaan terhadap Perasaan Orang Lain

Kepekaan anak usia dini terhadap bahasa verbal, nampak pada responsnya

yang spontan ketika mendengar kata-kata yang diucapkan oleh orang lain. Bentuk

respons terhadap kata-kata yang didengarkan berupa refleksi fisik yang tampak

pada ekspresi wajah dan biasanya dipertegas oleh anggotan badan yang lain.

Kepekaan bahasa nonverbal meliputi ketajaman melihat, mendengar, dan

(40)

208

telah dimiliki oleh anak-anak pada umumnya. Karena sarana untuk belajar tentang

hal tersebut sangat banyak. Misalnya di lingkungan keluarga, lingkungan bermain,

dan lingkungan sekolah, serta tayangan media televisi. Anak-anak sudah paham

bahwa orang marah itu nada bicaranya tinggi dan penuh tekanan, serta pada

umumnya membentak-bentak. Sebaliknya nada bisik-bisik dipahami dan

direspons oleh anak-anak dengan penuh tanda tanya dan curiga.

Empati dari Sudut Pandang Orang Lain

Memerankan Tokoh Orang Lain dalam permainan drama sama dengan

empati dari sudut pandang orang lain. Bentuk presentasinya merupakan perpaduan

berbagai bahasa ungkap. Perpaduan dari perbendaharaan bahasa ungkap emosi

dengan kepekaan perasaan dalam istilah drama disebut akting. Presentasi drama

merupakan hasil proses transformasi nilai kehidupan nyata menjadi

nilai-nilai kehidupan pentas yang simbolis. Dapat disimpulkan bahwa proses drama

adalah proses empati, karena dengan empati, proses perwujudan nilai-nilai yang

digagas oleh para insan drama akan hadir di depan audien dan ditanggapi secara

empatik. Melalui drama anak-anak mengalami proses pembiasaan mengolah

bahasa ungkap dan kepekaan yang terintegrasi dalam bentuk akting. Format kerja

drama sangat efektif dan pedagogis dalam mengembangkan aspek empati anak

(41)

209

B. Implikasi

Kecerdasan sosial tidak bisa terlepas dari kecerdasan emosional dan

kecerdasan moral dalam konteks interaksi sosial. Kecerdasan sosial yang hanya

mengandalkan adaftasi terhadap mekanisme sosial yang berlaku nyaris menjadi

perilaku yang semu. Tanpa muatan rasa yang mencerminkan kesungguhan

berinteraksi. Kesan yang akan diterima oleh mitra komunikasi akan terasa tawar

dan kamuplatif. Ini merupakan ancaman bagi kemanusiaan jika segala perilaku

bersifat fragmatis dan dilatarbelakangi oleh siasat serta strategi untuk mencapai

target tertentu melalui interaksi. Jika demikian adanya, interaksi sosial bukan lagi

fitrah makhluk manusia, melainkan hanyalah strategi adaftasi dalam pergaulan

semu. Kecerdasan sosial yang sejati tidak cukup hanya dengan fasilitas sosial dan

kesadaran sosial, akan tetapi harus disertai dengan kecerdasan emosional.

Sehingga performa yang tanpak merupakan perwujudan dari ketulusan dan

kejujuran serta keikhlasan hati yang divisualisasikan melalui bahasa nonverbal.

Keselarasan tentang apa yang dirasakan dan dilakukan oleh seseorang dalam

berkomunikasi, akan mempermudah mitra komunikasi untuk membaca pesan

yang disampaikan. Begitu juga bahasa verbal yang kerap menjebak seseorang

karena retorikanya harus selaras dengan tindakan dan perasaan. Kecerdasan sosial

tanpa disertai dengan kecerdasan emosional akan berkesan kamuplatif

sungguhpun dia telah beretika menurut mekanisme soisal, namun etika kamuplatif

yang tujuannya untuk mengelabui lawan bicara demi target kesan yang

diharapkan. Di samping kecerdasan emosional, kecerdasan sosial juga harus

(42)

210

tanpa makna. Karena tidak ada substansi moral yang diperjuangkan atau dibela

demi tegaknya sistem moral yang dianut. Oleh karena itu seseorang harus

memahami dan menggunakan esensi dasar dalam berkomunikasi yaitu empati

agar perjumpaan menjadi wahana dalam proses pengembangan diri. Empati yang

merupakan intinya dari kecerdasan sosial, emosional, dan moral perlu terus

dikembangkan sehingga membentuk kepribadian yang diharapkan. Proses drama

sangat efektif dalam mengembangkan empati anak usia dini karena cara kerjanya

yang senantiasa mengeksploitasi bahasa ungkap emosi, kepekaan, dan akting.

Ketiga aspek yang diolah oleh kegiatan drama adalah juga komponen empati yang

pada akhirnya memiliki muara yang sama yaitu tampil baik di depan orang lain.

Proses drama menggunakan ”empati segitiga” dalam menghadirkan nilai-nilai

dramatik dan presentasi drama juga akan mewujudkan empati bagi penonton.

Oleh karena itu, guru harus memiliki kompetensi di bidang drama serta

bidang-bidang seni lainnya. Paling tidak guru harus menyadari pentingnya pendekatan

seni terutama drama dalam rangka pengembangan empati anak. Tugas itu sungguh

sangat berat melihat kenyataan sumber daya guru yang seperti sekarang ini. Salah

satu strategi untuk mensiasati kondisi yang terjadi, jika tidak memiliki skill di

bidang seni, guru bisa mengambil peran sebagai manajer dalam proses kegiatan

(43)
(44)

211

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A.C. 2008. Pokoknya Kualitatif. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.

Bakker, A. 1995. Kosmologi&Ekologi Filsafat tentang Kosmos sebagai Rumahtangga Manusia. Yogyakarta: Kanisius.

Bohlin K. et al 2001. Building Character in Schools: Resource Guide. California: Jossey-Bass.

Borba, M. 2008. Membangun Kecerdasan Moral. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Covey, S.R,. 2004. The 8th Habit from Effectiveness to Greatness. New York: Free Press and Colophon are trademarks of Simon & Schuster, Inc.

Dunn J. 1987. The Beginings of Moral Understanding: Development in the Second Year. In: Jerome Kagan and Haron Lamb (eds). The Emegence of Morality in Young Children. Chicago: The University of Chicago Press.

Dewantara, K.H. 1936. Dasar-dasar Pendidikan dalam Tooneel. Jakarta: Pujangga Baru

Dougili, J. (1987) Drama Activities for Language Teaching. London: Macmillan.

Durkheim E. 1961. Moral Education. New York: Free Press

Einon, D. 2005. Permainan Cerdas untuk Anak. Jakarta: Erlangga

Early, M. and Tarlington C. (1982) "Off stage: Informal drama in language learning". ELT Journal Documents 113.

Faruk, M. 2007. 60 Permainan Kecerdasan Kinestetik. Jakarta: Grasindo.

Given B.K. 2007. Brain-Based Teaching. Bandung: Mizan Media Utama (MMU).

(45)

212

__________2006. Sosial Intellegence: The new Science of Human Relationship. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.

Gray T. 1926. Dance Drama (Experiments in The Art of The Theatre). London: Cambridge, W. Heffer & Sons Limited.

Holt, C. 1967. Art in Indonesia: Continuitiesand Change. Ithaca, New York: Cornell University Press.

Hume, S.J. & Lois M. F. 1947. Theatre and School. New York: Samuel French.

Hurlock, E. 1974. Personality Development. United States of America: McGraw-Hill, Inc.

http://chiron. Valdosta.edu/whuitt/col/morchr. HtmI

http://melta.org.my/ET/1990/main8.html.

http://globalisasi. wordpress.com/2006/07/10

Isjoni. 2007. Cooperative Learning. Bandung: Alfabeta.

Johnson & Johnson. 1994. Cooperative Learning in The Clasroom. Virginia, Association for Supervition and Curriculum Development.

J.S.Bennigna (ed). Moral Character, and Civic Education in the Elementary School. New York: Teachers College Press.

Kemis S. & Robin MC Taggart. 1998. The Action Research Planner, 3 rd ed. Victoria: Deakin University.

Kartono K. 2005. Teori Kepribadian. Bandung: Mandar Maju.

Kilpatrick,W. 1992. Why Johny Can’t Tell Right From Wrong. New York: Simon & Schuster, Inc.

Kohn A. 1997. How Not to Teach Values: A Critical Look at Character Education. http:/tigger.uic.edu/’Lnucci/Moral/Ed/articles/kohn.html

Lie, A. 2002. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo.

(46)

213

---1092b. Educating for Character, How Our Schools Cn Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

Maley, A. and Duff, A. (1978) Drama Techniques in Language Learning. Cambridge: Cambridge University Press.

Mangunprasodjo, S. 2005. Anak Masa Depan dengan Multi Intelegensi.

Yogyakarta: Pradipta Publising.

Megawangi R. 2001. Mengapa Pendidikan Karakter?. Unpublished mimeograph. Indonesia Heritage Foundation.

____________2004. Pendidikan Karakter. Jakarta: Indoseia Heritage Foundation.

Maclsaac, D. 1996. Introduction to ActionResearch.

http://www.phycics.nau.edu/-danmac (2/7/2009).

Mangunprasodjo, S. 2005. Anak Masa Depan dengan Multi Intelegensi.

Yogyakarta: Pradipta Publishing.

Matejka L. and Irwin R. Titunik. 1976. Semiotics of Art: Prague School Contributions. England: The MIT Press.

McCaslin N. 1975. Children and Drama. Inc New York: David Mckay Company.

Mordecai, J. (1985) "Drama and second language learning". Spoken English, 18:2, pp.12-15.

Moses G. 1974. Children’s theatre A Philosophy. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Ommanney, K. A. 1932. The Stage and The School. New York: School of Speech, Northwestern University, Scond revised edition.

Padmodarmaya P. 1990. Pendidikan Seni Teater. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

(47)

214

Patmonodewo S. 2002. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Phenix PH. H. 1964. Realm of Meaning. New York: McGraw-Hill Book

Company.

Rich, D. 1997. Mega Skills, Building Children’s Achievement for the Information Age. New York: Houghton Mifflin Company.

Rendra W.S. 1988. Tentang Bermain Drama. Jakarta: Pustaka Jaya.

Scharengnivel, R.C.(1970) "The development of oral expression through guided and spontaneous dramatic activities in English medium primary schools in Singapore". A paper presented at the RELC conference, 1980.

Soemantri, P. 1995. Buku Ajar Pendidikan Pra-Sekolah. Jakarta: Dirjen Dikti.

Solehudin, M. 2000. Konsep Dasar Pendidikan Pra-Sekolah. Bandung: Fip UPI.

Sternberg, E.M. 2000. The Balance Within: The Science Connecting helth and Emotions. New York: W.H. Freeman.

Stern, S. (1980) "Why drama works: A psycholinguistic perspective". In OIler, Jr. J.W. & Richard Amato, P.A. (Eds.), Methods that work. Rowley: Newbury House Publishers Inc. Scharengnivel, R.C.(1970) "The development of oral expression through guided and spontaneous dramatic activities in English medium primary schools in Singapore". A paper presented at the RELC conference, 1980.

Supriyadi, D. 2004. Membangun Bangsa melalui Pendidikan. Bandung:

Rosdakarya.

Sumaatmadja N. 2002. Pendidikan Kemanusiaan Manusia Manusiawi. Bandung: Alfabeta

Smith, C.A. 2004. Superkids. Notre Dame Indiana U.S.A.: Ave Maria Press INC.

Tambayong, Y. 2000. Seni Akting (Catatan-catatan Dasar Seni Kreatif Seorang Aktor. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Taniputra, I. 2005. Psikologi Kepribadian. Yogyakarta: Ar-Ruzz.

(48)

215

Tillman, D. & Diana Hsu. 2004. Living Values Activities for Children Ages 3-7. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indoneia.

Tjokroatmojo at.al. 1985. Pendidikan Seni Drama (Suatu Pengantar) Surabaya: Usaha Nasional.

---2003. Didaktik Metodik di Taman Kanak-kanak. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

---2006. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Fokusmedia.

Vasta,R., M.M. Haith, S.A. Miller. 1992. Child Psychology: The Modern Science. New York: John Wiley & Sons Inc.

Wright, E. A. 1959. Uderstanding Today’s Theatre. U.S.A: Denison University Press

Wade, C. and C.Tavris. 1990. Psychology. New York: Harper & Row Publishers.

Wilson Q. 1993. The Moral Sense. New York: Simon & Schuster Inc.

Referensi

Dokumen terkait

Usia anak dini yang memiliki kecerdasan emosional akan lebih mampu.. beradaptasi dengan lingkungannya dan menjadi lebih kompeten

Langkah untuk mengembangkan kecerdasan linguistik pada anak usia dini: mengajak anak berbicara sejak masih dalam kandungan sampai anak sudah lahir di dunia sebab anak

Meningkatkan Kecerdasan Interpersonal Anak Usia Dini (Studi Kasus di Taman Kanak-Kanak Dharma Wanita Persatuan Tlasih Sidoarjo). Skripsi Program Studi Pendidikan

Dalam penelitian ini implementasi model untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran tari pendidikan untuk meningkatkan kecerdasan kinestetik anak usia

Pengembangan kemampuan pemecahan masalah pada anak usia dini dapat dikembangkan melalui berbagai upaya, salah satu upaya untuk mengembangkan kemampuan pemecahan

Kesimpulan penelitian ini adalah pelatihan pendidikan emosi efektif untuk meningkatkan pemahaman Bunda PAUD mengenai stimulasi kecerdasan emosi pada anak usia dini. Saran

Penggunaan media pembelajaran dalam mengembangkan kecerdasan naturalis pada anak usia dini merupakan suatu hal yang penting untuk dilakukan (Rahmatunnisa &

Peningkatan Verbal Linguistik Anak Usia Dini Melalui Permainan “Gerbong Kata” Cara yang dapat dilakukan oleh orang tua atau pendidik dalam upaya untuk meningkatkan kecerdasan