Tim Perumus Mulyadi Muslim, MA Sudarman,MA
Dr. Rosniati Hakim,MA Nur Asni Abbas,M.Ag Edi Oktaviandi,S.Ag Dr. M. Kasim
Paljariati Yusra,SS Yunardi,M.Pd
Teuku Debi Muhammadar Elfan Bawaslah,ST
Konstributor Zuriyati, MA Hendrayadi, MA
SAMBUTAN WALIKOTA PADANG
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, puji dan syukur kita haturkan ke hadirat Allah SWT. Dzat yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga tercurah untuk Nabi Muhammad SAW. Tokoh teladan dalam membangun perdaban untuk kesejahteraan umat manusia dari dunia hingga akhirat kelak.
Visi Kota Padang dalam rangka mewujudkan masyarakat yang lebih sejarhatera adalah “Mewujudkan Kota Padang sebagai Kota Pendidikan, Perdagangan dan Pariwisata Yang Sejahtera, Religius dan Berbudaya”.Dari visi tersebut terlihat bahwa terdapat 6 hal pokok yang menjadi landasan, fokus dan sasaran utama pembangunan yang diharapkan dapat dicapai dalam periode 5 tahun mendatang. Dan salah satunya adalah aspek agama (religius), baik Islam dan agama lainnya yang dianut warga Kota Padang sangat penting artinya untuk dapat mengarahkan dan membimbing tingkah laku masyarakat dalam rangka mewujudkan masyarakat yang patuh dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bermoral tinggi dan sangat penduli terhadap kepentingan umum masyarakat;
Dalam rangka merealisasikan cita-cita besar, khususnya upaya-upaya memaksimalkan pembentukan prilaku yang berakhlakul karimah bagi generasi muda, iman yang kokoh, maka peran lembaga pendidikan dan keluarga menjadi strategis. Kombinasi harmonis antara pemerintah, instansi terkait, serta masyarakat menjadi sangat penting dalam menyukseskan program dan kegiatan yang dirancang sedemikian rupa.
memberi ruang yang begitu luas untuk anak-anak yang belum memiliki pondasi kuat untuk mengakses menu dan situs-situs negatif, sehingga membuat mereka cendrung permisif dan mengikuti budaya serta pemikiran yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama ataupun budaya lokal
yang menegaskan bahwa falsafah masyarakatnya adalah masyarakat yang beradat dan adat itu dilandaskan kepada Agama atau Adat Basandi Syara, Syarak Basandi Kitabullah
Berangkat dari realitas di atas, adanya kesadaran masyarakat dalam membentengi akidah serta moral generasi muda dan kewajiban pemerintah yang secara tegas tertuang dalam visi membangun Kota Padang, khususnya peningkatan kegiatan keagamaan yang lebih berkualitas, maka pesantren ramadhan adalah program konkrit yang harus sukses dilaksanakan. Mulai dari perencanaan konsep kurikulum, pembekalan panitia dan penyelenggara, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi pasca pelaksanaan dimaksud.
Pesantren ramadhan untuk para pelajar, mulai dari tingkad SD/MIN kelas IV hingga kelas VI, SMP/MTS dan SMA/MA serta SMK telah dilaksanakan sejak tahun 2004. Dalam perjalanan pelaksanaan yang cukup panjang itu, telah dilakukan evaluasi, perbaikan dan pemantapan baik dari segi kurikulum, tata cara pelaksanaan, penilaian ataupun pembiayaan. Jika pada tahun 2009 fokus muatan pesantren ramadhan diarahkan pada penguatan hafalan ayat-ayat pendek dan Asmaul Husna, kemudian pada tahun 2010 pelaksanaan pesantren ramadhan dilengkapi dengan bahan Ajar serta RPP untuk setiap tingkatan. Selanjutnya pada tahun 2011 hingga 2013 bahan ajar pesantren ramadhan ditekankan kepada materi-materi akhlak, sehingga tema besar kegiatan dimaksud pembiasaan akhlaqul karimah berbasis Al Qur an dan Sunnah.
yang disesuaikan berdasarkan tingkatan SD, SMP dan SMA. Materi-materi akhlakpun juga demikian, dan untuk menyerap nilai dari materi yang disampaikan, maka materi yang berkaitan dengan biografi para sahabat ataupun pahlawan lebih ditekankan kepada akhlak dan karakter dari objek pembahasan yang sejalan dengan tujuan materi. Kepanitiaan ataupun penanggung jawab kegiatan besar ini juga disempurnakan dengan penunjukan satu orang Master of Trainer (MOT) yang berasal dari panitia ataupun orang khusus yang mampu memerankan diri sebagai “Kepala Sekolahnya Pesantren Ramadhan”.
Khusus untuk tahun 2015 ini, peran MOT juga di definitifkan sebagai Kepala Sekolah Pesantren Ramadhan, sehingga dia lebih fokus pada penyelenggaraan kegiatan pesantren. Adapun urusan administratif ataupun teknis lainnya dihendle oleh kepanitiaan secara tersendiri. Khusus untuk lima sekolah di Kota Padang yaitunya SMA 1, SMA 2, SMA 6, MAN 3 dan SMK 2 dieberikan kewenangan untuk melaksanakan pesantren ramadhan di sekolah masing-masing dengan harapan pelaksanaan, pengelolaan dan target yang dicapai jauh lebih baik dari pelaksanaan yang diselenggarakan di masjid/mushalla. Kita berharap pelaksanaan pesantren yang diselenggarakan sekolah dimaksud juga lebih berbobot, karena ditunjang oleh sarana sekolah yang cukup untuk proses PBM pesantren, keterlibatan para guru yang lebih maksimal, serta pengawasan Kepala Sekolah. Dan adanya pelaksanaan pesantren ramadhan di sekolah tidak akan manghilangkan makna dan semangat memakmurkan masjid seperti yang kita inginkan sebelumnya.
kritik/saran yang konstruktif sangat kita harapkan untuk mewujudkan Kota Padang yang lebih religius.
Semoga rencana besar dan kerjasama kita dalam menyukseskan pembangunan di Kota Padang secara umum dan khususnya kegiatan pesantren ramadhan tahun 2015 ini diberkahi dan diridhai Allah. Sehingga negeri yang aman dan damai, penduduknya yang ramah dan berakhlak serta pemimpinya yang
dekat dengan rakyatnya bisa menjadi kenyataan dimasa yang akan datang.Amiin
Padang , Mei 2015 WALIKOTA PADANG
Bagian Pertama
AQIDAH Standar Kopetensi :
Memahami tauhid secara benar dalam kehidupan.
Kemampuan Dasar
Berakidah yang lurus dan benar
Mengantisipasi bahaya syirik dari pengaruh teknologi informasi.
Indikator Capaian
1. M em aham i sifat -sifat Allah Sw t .
2. M em aham i ayat Al-Quran yang t erkait dengan sifat-sifat Allah Sw t . 3. M em bukt ikan Allah it u ada
4. Memahami /mengantisipasi bahaya syirik dari media cetak dan
elektronik.
5. Memahami ayat Al-Quran dan sunnah Rasul yang terkait dengan syirik
6. Memahami/mengantisifasi bahaya syirik dari media sosial dan kemajuan
MEYAKINI ADANYA ALLAH SWT ( Dalam asma dan Sifat-Nya)
SALAH satu rukun iman yaitu iman kepada Allah. Rukun iman kepada Allah ini adalah rukun iman yang pertama. Tidaklah mudah meyakinkan diri bahwa Allah itu selalu memperhatikan dan Maha Melihat dan Maha Mendengar.
Iman Kepada Allah berarti yakin dan percaya bahwa Allah itu memang ada dengan segala sifat-sifat dan nama-nama-Nya yang agung serta Dia-lah yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini.Tujuan untuk meyakini adanya Allah SWT adalah untuk mengerjakan semua perintah dari Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan rahmat-Nya. Dalam hal ini sebagai seorang muslim memiliki beragam cara untuk meyakini adanya kehadiran Allah SWT di alam semesta ini.
Bagaimana caranya kita meyakini adanya Allah? Hal ini dapat dilakukan dengan cara:
1. Mengenal ciptaan dan kekuasaan Allah di alam semesta ini.
Alkisah, tentang seorang pemuda yang tidak percaya dengan Tuhan. Dia mengajak berdebat seorang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara pertanyaannya adalah: “Benarkah Tuhan itu ada” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”
Si pemuda dan juga para penduduk kampung tertawa terbahak-bahak. Dia berkata kepada orang banyak, “Orang alim ini sudah gila rupanya. Masak pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya. Mana bisa perahu jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!”
Orang banyak pun tertawa riuh. Setelah tawa agak reda, orang alim pun berkata, “Jika kalian percaya bahwa perahu tak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa bumi, langit dan seisinya bisa ada tanpa penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu atau menciptakan bumi, langit dan seisinya ini?”
Mendengar perkataan orang alim tersebut, akhirnya si pemuda dan penduduk kampung sadar bahwa mereka telah terjebak oleh pernyataan sendiri. “Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua,” kata si Pemuda. “ Jika Tuhan itu ada, mengapa dia tidak kelihatan. Di mana Tuhan itu berada?” Pemuda itu berpendapat, karena dia tidak pernah melihat Tuhan, maka Tuhan itu tidak ada.
Orang alim menampar pipi si pemuda dengan keras, sehingga si atheis merasa kesakitan. “Kenapa Anda memukul saya? Sakit sekali.” Begitu si pemuda mengaduh.
Si alim bertanya. “Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit. Di mana sakitnya?”
“Ini sakitnya di sini,” si Pemuda menunjuk-nunjuk pipinya.
“Tidak, saya tidak melihat sakit. Apakah para hadirin melihat sakitnya?” Si alim bertanya ke orang banyak.
berkata. Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak bisa mengetahui keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.
Kita wajib meyakini keesaan dan kekuasaan Allâh, yaitu bahwa hanya Allâh yang mencipta, memiliki, menguasai dan mengatur seluruh makhluk. Hanya Allâh Azza wa Jalla yang menghidupkan, mematikan, memberi rezki, mendatangkan kebaikan, mendatangkan bencana. Tidak ada sekutu bagi Allâh
Azza wa Jalla dalam seluruh perkara di atas, baik malaikat, nabi, wali, jin, ruh,
atau lainnya. Yang mencipta, memiliki dan mengatur/menguasai seluruh alam semesta ini hanyalah bagi Allâh semata. Allâh Azza wa Jalla berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 2 :
Artinya : Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Kita wajib meyakini bahwa Allâh adalah pencipta seluruh makhluk, walaupun kita tidak pernah bertemu, melihat, mendengar secara langsung. Banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan hal ini. Di antaranya firman Allâh
Subhanahu wa Ta’ala :
Artinya : Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang
menciptakan (diri mereka sendiri )
Maksudnya, keadaan manusia atau makhluk yang sudah ada ini tidak lepas dari salah satu dari tiga keadaan :
a. Mereka ada tanpa pencipta. Ini tidak mungkin. Tidak ada akal sehat yang
bisa menerima bahwa sesuatu itu ada tanpa ada yang membuatnya.
b. Mereka menciptakan diri mereka sendiri. Ini lebih tidak mungkin lagi.
c. Inilah yang haq, yaitu Allâh Azza wa Jalla yang telah menciptakan mereka, Dialah Sang Pencipta, penguasa, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Seorang Arab Baduwi ditanya, “Apakah bukti tentang adanya Allâh Azza wa Jalla?” Dia menjawab, “Subhânallâh (Maha Suci Allâh)! Sesungguhnya kotoran onta menunjukkan adanya onta, bekas telapak kaki menunjukkan adanya perjalanan! Maka langit yang memiliki bintang-bintang, bumi yang memiliki jalan-jalan, lautan yang memiliki ombak-ombak, tidakkah hal itu menunjukkan adanya al-Lathîf (Allâh Yang Maha Baik)
al-Khabîr (Maha Mengetahui).”
Apakah bukti bahwa Allah itu memang benar benar ada? Mari kita lanjutkan ke pembahasan di bawah ini.
a. Allah telah menciptakan seisi alam semesta ini. Yaitu gunung, lautan,
daratan dan masih banyak lagi. Kalau begitu, siapakah yang menciptakan matahari, bulan dan bintang serta planet planetnya? Tentunya adalah Allah SWT.
b. Adanya makhluk hidup juga telah membuktikan adanya Allah. Ingat!
Allah menciptakan manusia dari saripati tanah. Dia yang menghidupkan dan mematikan bunga-bunga yang tumbuh di taman dengan berbagai macam warna yang indah dan aroma yang semerbak, pohon apel yang memberikan buah yang berasal dari sebutir biji yang kecil yang setiap tahun mengeluarkan buah yang meruah dengan berbagai warna yang memikat dan rasa yang lezat.
Artinya : Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari
langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran
dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang
mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang
mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka
Katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?"
c. Begitu pula burung-burung yang berkicau dan begitu lincah berpindah dari
anak sapi yang lahir dari induknya kemudian menyusu. Air susu yang memenuhi kantong susu induknya dipersiapkan untuk menyusui anak-anaknya. Seluruh fenomena itu merupakan tanda-tanda kekuasaan, kebesaran dan wujud Sang Pencipta.
d. Selain itu, masih ada pernyataan lagi. Kalau begitu, siapakah yang
memberikita akal untuk berpikir? Siapakah yang telah menciptakan kita dalam bentuk yang seindah indahnya? Dan siapa pula yang memberikan kita bantuan dan jalan keluar dari semua masalah yang kita hadapi? Jawaban dari pada pertanyaan semua di atas adalah Allah SWT.
e. Dan satu lagi, siapakah yang menjanjikan sebuah surga dan siapakah yang
akan membangkitkan kita nanti di alam kubur? Siapa penentu hari kiamat itu? Jawabannya juga Allah SWT.
2. Mengenal dan memahami nama nama dan sifat-Nya.
YAITU mengimani seluruh nama-nama Allâh dan sifat-sifat-Nya yang tersebut di dalam kitab Al-Qur’ân dan sunnah yang shahih dengan tanpa menyerupakan dengan makhluk. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
Artinya : Katakanlah: "Serulah Allah atau
serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia
mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu
mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya
dan carilah jalan tengah di antara kedua itu".( QS. al Isra’ ; 110 )
Artinya :"Hanya milik Allâh asmâ-ul husnâ, maka bermohonlah kepada-Nya
dengan menyebut asmâ-ul husnâ itu dan tinggalakanlah
orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut)
nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap
apa yang telah mereka kerjakan. ( QS. al-A’râf: 180.)
Nama-nama Allah yang agung dan mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan kehebatan Allah sebagai pencipta dan pemelihara alam semesta beserta segala isinya. Mengetahui asma Allah yang 99 merupakan jalan untuk dapat mengenal dan meyakini akan adanya Allah SWT. Dalam kehidupan sehari hari dapat dilihat realisasinya antara lain:
a. Membiasakan membaca
Setiap memulai pekerjaan yang baik .
Hal ini dilakukan karena segala yang ada di alam adalah kepunyaan Allah. Untuk itu bila melakukan sesuatu yang baik, maka manusia hendaknya mengagungkan nama Allah karena yang ada dimuka bumi ini
dan segala hidup dan penghidupan manusia diperoleh atas
kemahapengasihan (Rahman) dan penyayangnya (Rahim) Allah kepada manusia.
sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar-Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar-Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.
b. Membiasakan membaca
Setiap selesai mengerjakan pekerjaan yang baik atau mendapatkan nikmat Allah.
Hal ini dilakukan karena memuji orang atas perbuatannya yang baik yang dikerjakannya haruslah dengan kemauan sendiri. Karena itu, memuji Allah berarti menyanjung-Nya karena perbuatannya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi Allah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji. Semuanya itu tidak terlepas dari sifat Allah yang maha berkuasa, mengatur dan menentukan alam semesta ini.
MENGANTISIPASI BAHAYA SYIRIK DARI PENGARUH TEKNOLOGI INFORMASI A. Pendahuluan
Tujuan utama manusia diciptakan oleh Allah adalah untuk beribadah, mengabdikan diri hanya kepada-Nya. Firman Allah dalam surat Ad-Zariyat ayat 56:
Pengabdian atau ibadah yang dimaksud pada ayat di atas adalah pengabdian atau ibadah yang sesuai dengan aturan syariat Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim dituntut untuk belajar dan mempelajari bagaimana beriman kepada Allah dalam artian men-tauhid-kan/mengesakan Allah SWT. Bagaimana cara beribadah yang benar dan bagaimana ber-muamalah dalam kehidupan sehari-hari, karena semua itu pada akhirnya bernilai ibadah jika sesuai dengan aturan. Namun, menjadi sia-sia belaka jika tidak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan Allah SWT.
B. Bahaya Syirik
Setiap muslim harus mengesakan Allah dalam segala bentuk kekuasaan, kehebatan dan kemahakayaan-Nya. Allah yang menciptakan, memelihara dan maha menentukan segalanya. Dia Dzat yang maha tinggi dan agung, melebihi ketinggian dan keagungan makhluk yang lainnya.
Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Sifat).
Jika seseorang meyakini adanya Allah dan yang menciptakan adalah Allah juga, tetapi ibadahnya tidak ditujukan kepada Allah, maka yang bersangkutan akan terjerumus pada kesyirikan dalam beribadah. Atau dia meyakini Allah Maha Berkuasa, tetapi dia juga meyakini bahwa ada makhluk lain yang juga mempuyai kehebatan yang menyamai Allah dan bahkan melebihi kekuasaan Allah. Ini pun juga termasuk kategori syirik dalam keyakinan.
Untuk memurnikan tauhid, maka di samping mengetahui bagaimana mentauhidkan Allah dalam keberadaan, pengabdian dan asma serta sifat-Nya, maka manusia harus mengetahui bentuk-bentuk kesyirikan dalam rangka untuk menghindari diri agar jangan sampai melakukannya.
Para ulama membagi kategori syirik ke dalam dua bentuk, yaitu syirik
akbar (besar) dan syirik asghar (kecil).
1. Bentuk- bentuk syirik akbar itu antara lain:
a. Memalingkan suatu ibadah kepada selain Allah dalam bentuk
penyembahan, penyembelihan dan berdoa.
b. Mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara yang tidak diajarkan Allah,
seperti penyembelihan kurban atau nazar untuk jin atau syaitan.
c. Takut kepada orang-orang yang telah mati, jin atau syaitan.
Bentuk syirik akbar seperti disebutkan di atas didasarkan kepada firman Allah yang artinya:
“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat
mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak kemanfa’atan, dan mereka
berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.”
Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak
diketahui-Nya baik di langit dan tidak dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi
dan apa yang mereka mempersekutukan”. (Q.S. Yunus: 18)
oleh orang lain. Namun, walaupun termasuk kategori syirik kecil, tetapi sangat dikhawatirkan oleh Rasul SAW sebab jika terus berkelanjutan pada akhirnya akan menjadi besar. Padahal, Allah SWT menyuruh manusia beribadah kepada-Nya dengan ikhlas sepenuh hati. Allah berfirman:
“...Tidaklah mereka disuruh, kecuali hanya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya dalam menjalankan agama yang
lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat yang
demikian itulah agama yang lurus” (Q.S Al Bayyinah, 98 :5)
Jika seseorang melakukan perbuatan syirik secara sadar dan tidak berhenti dari kesyirikan dimaksud, maka dia akan menanggung konsekuensinya, baik di dunia ataupun di akhirat kelak. Syirik akbar sangat berbahaya, sehingga harus dihindari. Di antara bahaya atau efek negatifnya adalah sebagai berikut:
1. Amalannya tertolak, tidak akan diterima oleh Allah, hanya akan menjadi
sia-sia bagaikan debu yang beterbangan (Q.S al-Furqan: 23)
2. Pelakunya tidak akan diampuni apabila mati dalam keadaan belum
bertaubat (Q.S An-Nisaa': 48)
3. Pelakunya keluar dari Islam atau murtad, sehingga boleh diperangi oleh
pemerintahan yang sah (Q.S At-Taubah: 5)
4. Pelakunya tidak berhak untuk masuk surga (al-Ma’idah: 72)
C. Contoh Kesyirikan dalam Film
Syirik akbar ataupun asghar sangatlah berbahaya. Oleh karena itu, setiap muslim harus menghindari diri dari semua bentuk kesyirikan dimaksud. Pada zaman modern seperti sekarang ini, mungkin tidak ada lagi orang yang menyembah patung atau berhala seperti zaman jahiliyah dulu. Tetapi, lewat tontonan film sangat mungkin saja anak-anak, remaja bahkan orang dewasa terjerumus pada keyakinan yang berbau syririk. Salah satu bentuk kesyirikan dalam isi film dapat dilihat pada cuplikan cerita film Mahadewa, Harry Potter dan Little
Mahadewa merupakan salah satu nama suci Tuhan dalam agama Hindu,
Mahadewa artinya Tuhan Yang Maha Besar. ama lainnya adalah Shiwa. Keyakinan ini bertentangan dengan konsep tauhid dalam Islam. Bahwa Yang Maha Besar itu hanyalah Allah, sebagaimana firman Allah Ta’ala (pada ayat kursi):
Shiwa di bumi bersemayam di Kailasha, nama tempat tersuci di puncak Gunung Himalaya. Menurut keterangan kitab suci agama Hindu, puncak ini dipercaya perbatasan antara alam nyata dengan surga. Gunung Himalaya dipercaya gunung paling suci bagi umat Hindu, seperti dinyatakan di dalam Bhagavad Gita; “Di antara gunung, Aku adalah Himalaya”. Di gunung inilah bhatara Shiwa beryoga.
Berbeda sekali dengan Tuhannya umat Islam, kita beriman bahwa Allah ber-istiwa’ di arsy (di langit). Yang bersemayam di gunung itu sesungguhnya adalah bangsa jin yang malah disembah manusia.
Dikisahkan pada film Mahadewa adalah Shiwa, Tuhan yang berpribadi sebagai Yogin (pertapa), sehingga seolah-olah seperti manusia. Hal ini bertentangan dengan konsep ketuhanan dalam Islam bahwa Allah tidak sama dengan manusia. Seperti diungkapkan firman Allah:
“Tidak ada yang menyerupainya sesuatu pun, dan Dia Maha
Mendengar lagi Maha Melihat” (As Syuro 110).
Dewa Syiwa memiliki empat sakti/istri. Salah satunya adalah Dewi Sati, putri Dewa Daksa (Daksa adalah putra Dewa Brahma). Dalam film Mahadewa juga diceritakan percintaan Dewa Shiwa, hingga lahirnya Ganesha dan Kartikeya (di Bali disebut Dewa Kumara, Dewanya para anak kecil).
Keyakinan adanya Tuhan yang beristri dan punya anak bertentangan dengan Firman Allah :
padahal Dia tidak mempunyai istri” (Qs Al An am, 6:101). “Maha suci Allah dari
yang mempunyai anak” (Q.S. An Nisa, 4:171)
Dewa Daksa pada film Mahadewa digambarkan sebagai dewa pencipta yang arogan terhadap Shiwa, sehingga Shiwa akan memenggalnya dan diganti dengan kepala kambing.
Kita bisa lihat Tuhan-Tuhan dalam agama Hindu saling berselisih dan berperang saling membinasakan, sungguh benarlah firman Allah :
”Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan- tuhan selain Allah, tentulah
keduanya itu telah rusak binasa,” ( Q.S. Al-Anbiya’: 22)
”Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan
(yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan beserta-Nya, masing- masing Tuhan itu
akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari Tuhan-Tuhan itu
akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha suci Allah dari apa yang mereka
Bagian Kedua
AKHLAQ
Standar Kopetensi :
Memahami akhlaq secara benar dalam kehidupan. Kemampuan Dasar:
1. Berprilaku jujur dan beretika dalam kehidupan sehari-hari
2. Berani melakukan kebaikan dan kebenaran
Indikator capaian:
1. Memahami ayat Al-Quran dan Sunnah Rasul yang
terkait dengan kejujuran.
2. Memahami nilai-nilai kejujuran.
3. Mencontohkan prilaku jujur.
4. Menerapkan prilaku jujur dalam kehidupan
sehari-hari.
5. Menerapkan prilaku jujur dalam kehidupan
sehari-hari
6. Berani menyampaikan kebaikan dan kebenaran
7. Memahami Ayat Al-Quran dan sunnah Rasul yang
terkait dengan kebaikan dan kebenaran
8. Berani bersikap dan konsisten dalam perbuat an
9. Beranggung jaw ab dalam m elaksanakan t ugas dan kew ajiban
BERPRILAKU JUJUR DAN BERETIKA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
A. Memahami ayat Al-Quran dan Sunnah Rasul yang terkait dengan kejujuran
Ayat-ayat Al-Qur’an terkait dengan kejujuran (Al Ahzab ayat 7 s.d. 8)
“Dan (ingatlah) seketika Kami telah mengambil perjanjian dari Nabi-Nabi
dan dari engkau dan dari Nuh dan Ibrahim dan Musa dan Isa anak Maryam.
Dan telah Kami ambil dari mereka perjanjian yang berat”.
Ayat di atas menjelaskan bahwa para Nabi oleh Allah telah diambil perjanjian yang berat. Perjanjian Nabi dengan Allah sesuatu yang keluar dari sifat-sifat jujur para Nabi. Mereka menepati janji dan jujur melaksanakannya di hadapan Allah. Dalam ayat delapan dalam surat Al Ahzab juga dijelaskan:
“Agar Dia menanyakan kepada'orang-orang yang jujur akan kejujuran
mereka, dan telah Kami sediakan untuk orang-orang yang tidak mau percaya
siksaan yang pedih”.
Di dalam ayat tiga berturut-turut ayat 6 dan 7 dan 8 kita mendapatkan betapa erat hubungan seorang umat dengan Rasul-Nya, dan bagaimana pula hubungan erat janji setia seorang Rasul dengan Tuhan yang mengutusnya.
"Nabi itu lebih utama bagi orang yang beriman daripada diri mereka
sendiri".(Pangkal ayat 6).
B. Memahami nilai-nilai kejujuran
Jujur dalam Bahasa Arab berarti benar (siddiq). Benar di sini yaitu benar dalam berkata dan benar dalam perbuatan. Hadis Nabi mengatakan :
ﺮﺒﻟا ﻰﻟا ىﺪﮭﯾ قﺪﺼﻟا نﺎﻓ ,
ﺔﻨﺠﻟا ﻰﻟا ىﺪﮭﯾ ﺮﺒﻟا ناو ,
دﻮﻌﺴﻣ ﻲﺑا ﻦﻋ ىﺮﺤﺘﯾ و قﺪﺼﯾ ﻞﺟﺮﻟا لاﺰﯾ ﺎﻣو
لﺎﻗ ﮫﻨﻋ ﷲ ﻰﺿر :
ﻢﻠﺳو ﮫﯿﻠﻋ ﷲ ﻰﻠﺻ ﷲ لﻮﺳر لﺎﻗ ,
قﺪﺼﻟﺎﺑ ﻢﻜﯿﻠﻋ ,
ﺎﻘﯾﺪﺻ ﷲ ﺪﻨﻋ ﺐﺘﻜﯾ ﻰﺘﺣ قﺪﺼﻟا
رﻮﺠﻔﻟا ﻰﻟا ىﺪﮭﯾ بﺬﻜﻟا نﺎﻓ بﺬﻜﻟاو ﻢﻛﺎﯾاو ,
رﺎﻨﻟا ﻰﻟا ىﺪﮭﯾ رﻮﺠﻔﻟا ناو ,
و ىﺮﺤﺘﯾو بﺬﻜﯾ ﻞﺟﺮﻟا لاﺰﯾ ﺎﻣ
ﺎﺑاﺬﻛ ﷲ ﺪﻨﻋ ﺐﺘﻜﯾ ﻰﺘﺣ بﺬﻜﻟا .
1[8]
“Dari Ibn Mas’ud ra. Ia berkata: Bersabda Rasulullah SAW: wajib
bagimemegang teguh perkataan benar, karena perkataan benar
membawa kebaikan, dan kebaikan itu mengajak ke surga. Seseorang
yang senantiasa berkata benar, sehingga dituliskan di sisi Allah
sebagai orang yang berbuat benar (jujur). Dan jauhilah berkata dusta,
karena kata dusta itu membawa kejahatan, dan sessungguhnya
kejahatan itu mengajak ke neraka. Seorang pria yang senantiasa
berkata dusta, maka dituliskan disisi Allah sebagai pendusta besar”.
Berlaku jujur dengan perkataan dan perbuatan, mengandung makna, bahwa berkata harus sesuai dengan yang sesungguhnya. Sebaliknya, jangan berkata yang tidak sesuai dengan yang sesungguhnya. Perkatan itu disesuaikan dengan tingkah laku perbuatan, sebagaimana yang dijelaskan dalam surat at-Taubah ayat 119.
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan
hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.
Sikap jujur, merupakan salah satu fadhilah yang menentukan status dan kemajuan seseorang dan masyarakat. Menegakkan prinsip kejujuran adalah salah satu sendi kemaslahatan dalam hubungan antara manusia dengan manusia dan antara satu golongan dengan golongan yang lain.
Dampak dari sifat jujur adalah menimbulkan rasa berani, karena tidak ada orang yang merasa tertipu dengan sifat yang diberikan kepada orang lain. Bahkan, orang merasa senang dan percaya terhadap pribadi orang yang jujur. Pepatah ada mengatakan “berani karena benar, takut karena salah”.
Sifat Jujur tidak dapat dimiliki dan dilaksanakan dengan baik dan sempurna oleh orang yang tidak kukuh imannya. Orang beriman dan takwa, karena dorongan iman dan taqwanya itu merasa diri wajib selalu berbuat dan bersikap benar serta jujur. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam surat az-Zumar ayat 33.
“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa”.
Hadis Rasul mengatakan :
ﮫﻠﺼﻔﻣ ﻞﻄﺨﻟا دﻮﻌﯾ ﻢﻟو ﮫﻟﻮﻘﻣ ﻖﺤﻟا ﻖﯾﺮط مﺰﻟاو ﮫﻧﺎﻨﻋ ﻦﻣ ﺮﺼﻗا و ﮫﻧﺎﺴﻟ ﻦﻣ ﺢﻠﺻا ءاﺮﻣا ﷲ ﻢﺣر ). هاور يﺪﻋ ﻦﺑا ( 2[10]
“Mudah-mudahan Allah akan merahmati orang-orang yang memperbaiki lidahnya, memendekkan tali kekangnya, melazimi perkataan-perkataannya
dijalan kebenaran dan tidak membiasakan anggota-anggotanya berbuat tidak benar”. ( Riwayat Ibn ‘Adi)
Dalam arti umum kata jujur diartikan lurus hati, tidak bohong, tidak curang dan tulus ikhlas. Dalam arti khusus dapat diartikan sifat jujur, ketulusan hati atau kelurusan hati. Dari pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa kejujuran merupakan suatu sifat yang melekat pada manusia yang berupa potensi dasar yang semua orang memilikinya.
Di antara manusia itu ada yang tingkat kejujurannya rendah dan tingkat kejujurannya yang tinggi. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa segi dan perilaku manusia itu baik dari perkataannya maupun perbuatannya. Jujur jika diartikan secara baku adalah mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran. Dalam praktek dan penerapannya secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harfiah, maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, berbohong, munafik atau lainnya.
C. Mencontohkan Prilaku Jujur dalam Kehidupan
kehormatan yang menimpa mereka.
Contoh perilaku dan sikap jujur kepada Allah SWT.
Dari penjelasan di atas, jelas bahwa kita harus jujur kepada Allah SWT untuk menepati janji-janji kita agar tidak melakukan kesalahan lagi. Itulah salah-satu contoh perilaku dan sikap jujur kepada Allah SWT. Sebaliknya, jika kita mengngkari janji kepada Allah SWT, berarti kita sudah tidak jujur kepada Allah SWT. Sikap tersebut harus kita hindari, termasuk menghindari sikap jujur kepada sesama makhluk.
4. Contoh Prilaku Jujur dalam Kehidupan Sehari-hari 4.1. Contoh sikap jujur di rumah
1. Ketika Ananda disuruh berbelanja ke kedai kemudian ada uang
kembalinya Ananda mengembalikan semua uang kepada ibu sesuai dengan jumlahnya.
2. Ketika ada tamu yang datang kemudian Ananda menjelaskan pada tamu
bahwa orang tua Ananda sedang tidur sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
3. Ketika tetangga atau teman bertanya tentang masalah apa saja Ananda
menjawab apa adanya sesuai dengan kenyataan.
4.2.Contoh Prilaku jujur dalam keluarga
1. Mengembalikan uang bapak, ibu, atau saudara yang lain kalau kita
bertemu uang yang tercecer.
2. Tidak mengambil jatah makanan dan uang saudara sendiri yang diberikan
oleh orang tua atau keluarga lainnya.
3. Menceritakan keadaan yang sebenarnya pada keluarga tentang kondisi diri
sendiri dan saudara lainnya.
1. Mengampaikan pesan sesuai dengan yang sebenarnya.
2. Melaporkan keuangan organisasi sesuai kenyataan.
3. Menepati janji yang telah diucapkan dan menyampaikan kalau ada
halangan penting.
4.4.Contoh jujur pada orang tua
1. Mengembalikan uang yang berlebih pada orang tua.
2. Menyebutkan kebutuhan uang sesuai dengan yang dibutuhkan.
BERANI MELAKUKAN KEBAIKAN DAN KEBENARAN
1. Ayat Al-Quran dan Sunnah Rasul yang terkait dengan kebaikan dan kebenaran
Berani karena benar:
Asy syura ayat 38
Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan
mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara
mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada
mereka.
Ali Imran ayat 159
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap
mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah
ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal
kepada-Nya”.
Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah Ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.
Al-baqoroh ayat 148
148. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Ar Rum ayat 41-42
Arti:Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (41)
Al A’raf 56-58
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan
diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah samat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”(56)
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan), hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan, seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”(57)
yang bersukur.”(58)
Ash Shad ayat 27:
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.
Al Kafirun
1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
4. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
6. Untukmu agamamu dan untukku lah agamaku."
Al kahfi ayat 29
29. Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya kami Telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
Yunus ayat 40-41(arti):
Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al-Quran, dan di
antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih
mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan (40). Jika mereka
mendustakan kamu, maka katakanlah: “Bagiku pekerjaanku dan bagimu
pekerjaanmu. kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun
berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan” (41).
Al Kahfi ayat 29(arti):
Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa
yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir)
biarlah ia kafir." Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu
neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum,
niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang
menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat
2. Berani Menyampaikan Kebaikan dan Kebenaran
Pengertian kebaikan : elok, patut, teratur, apik, rapi, tidak ada celanya, mujur beruntung, berguna, selamat, tidak kurang sesuatu apapun, berbudi pekerti.
Pengertian kebenaran: sesuai sebagaimana adanya, betul, tidak salah, tidak berat sebelah, adil, dipercaya, cocok dengan keadaan yang sebenarnya, tidak bohong, sungguh-sungguh, benar-benar, berkata terus terang.
2.1. Contoh berani menyampaikan kebaikan dan kebenaran dalam keluarga
a. Menyampaiakn secara santun pada orang tua kalau ada prilaku orang
tua yang melanggar ajaran agama.
b. Menegur adik dengan penuh kasih sayang kalau berbohong dan tidak
shalat.
c. Melarang teman masuk dalam kamar orang tua kalau kita membawa
teman ke rumah.
d. Menjaga harta orang tua.
2.2. Contoh berani menyampaikan kebaikan dan kebenaran kepada sesama teman, di sekolah atau di masjid
a. Menegur teman dengan penuh persahabatan kalau teman berkelahi dan
berkata kotor.
b. Menasehati teman yang melawan pada orang tua dan guru.
c. Menyampaikan pendapat dalam diskusi dengan bahasa baik.
d. Berani tampil di depan kelas baik disuruh maupun tidak disuruh guru.
e. Berani dan mau azan di masjid atau di mushalla.
f. Menegur teman atau orang lain membuang sampah sembarangan.
g. Mengajak teman bersih-bersih, gotong royong, shalat berjamaah di
bermain-main, patuh pada perintah Allah dan Rasul, patuh pada orang tua, guru, dan tokoh masyarakat.
3. Berani bersikap konsisten dalam perbuatan
Pengertian konsisten: tetap, tidak berubah-rubah, taat azas, ajek, selaras, dan sesuai.
Pengertian perbuatan: mengerjakan, melakukan, membikin, hasil pekerjaan, hasil perbuatan.
Contoh berani bersikap konsisten dalam perbuatan:
3.1. Mengerjakan shalat secara teratur dan terus menerus
3.2.Tidak terpengaruh dengan ajakan teman yang melanggar aturan Allah
3.3.Tidak terpengaruh dengan film, televisi dan media yang sesat dan tidak baik
3.4.Tidak membaca bacaan yang porno dan bacaan orang dewasa
3.5.Melakukan shalat berjamaah di masjid dengan tetap
3.6.Disiplin baik di rumah, di sekolah dan di mana saja berada
3.7.Berbuat baik secara terus menerus tanpa henti
4. Bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan kewajiban
Pengertian bertanggung jawab: kewajiban menanggung, memikul tanggung jawab, menanggung segala sesuatunya, menerima beban.
Pengertian kewajiban : harus dilakukan, tidak boleh tidak dilaksanakan, tidak boleh ditinggalkan, harus dilaksanakan.
Contoh bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan kewajiban:
4.1.Rajin shalat
4.2.Mengerjakan pekerjaan yang diberikan oleh orang tua dan guru sampai
selesai
4.3.Membantu orang tua dengan sukarela
4.4.Belajar dengan penuh kesadaran dan senang hati
4.5.Mengaku salah kalau melakukan kesalahan dan berjanji tidak mengulang
5. Memberikan contoh perilaku berani karena benar, contoh berani menyampaikan kebaikan dan kebenaran dalam keluarga
a) Menyampaiakn secara santun pada orang tua kalau ada prilaku orang
tua yang melanggar ajaran agama.
b) Menegur adik dengan penuh kasih sayang kalau berbohong dan tidak
shalat.
c) Melarang teman masuk dalam kamar orang tua kalau kita membawa
teman ke rumah.
d) Menjaga harta orang tua.
5.1. Contoh berani menyampaikan kebaikan dan kebenaran sesama teman, di sekolah atau di masjid:
a) Menegur teman dengan penuh persahabatan kalau berkelahi dan
berkata kotor.
b) Menasehati teman yang melawan pada orang tua dan guru.
c) Menyampaikan pendapat dalam diskusi dengan bahasa baik.
d) Berani tampil di depan kelas baik disuruh maupun tidak disuruh guru.
e) Berani dan mau azan di masjid atau di mushalla.
f) Menegur teman atau orang lain membuang sampah sembarangan.
g) Menyajak teman bersih-bersih, gotong royong, shalat berjamaah di
masjid, tidak ribut ketika mendengarkan pengajian, tidak bergelut, patuh pada perintah Allah dan Rasul, patuh pada orang tua, guru, dan tokoh masyarakat.
5.2.Contoh berani bersikap konsisten dalam perbuatan: 5.2.1. Mengerjakan shalat secara teratur dan terus menerus
5.2.3. Tidak terpengaruh dengan film, televisi dan media yang sesat dan tidak baik
5.2.4. Tidak membaca bacaan yang porno dan bacaan orang dewasa
5.2.5. Melakukan shalat berjamaah di masjid dengan tetap
5.2.6. Disiplin baik di rumah, di sekolah dan di mana saja berada
5.2.7. Berbuat baik secara terus menerus tanpa henti
5.3. Contoh Bertanggung-jawab dalam melaksanakan tugas dan kewajiban
5.3.1. Rajin shalat
5.3.2. Mengerjakan pekerjaan yang diberikan oleh orang tua dan guru sampai
selesai
5.3.3. Membantu orang tua dengan sukarela
5.3.4. Belajar dengan penuh kesadaran dan senang hat
5.3.5. Mengaku salah kalau melakukan kesalahan dan berjanji tidak mengulang
Bagian Ketiga
FIQH IBADAH
Standar Kopetensi :
Santri mampu melaksanakan praktek ibadah dan beramal shaleh dengan benar sesuai perintah Allah dan Rasul
Kemampuan Dasar
Melaksanakan praktek Ibadah dengan benar sesuai dengan tuntunan Rasullullah
Indikator Capaian
1. Melaksanakan praktek proses berudhuk
2. Memahami bacaan shalat dan menghayati maknanya
3. Memahami Sunnah rasul terkait dengan cara berudhuk dan shalat
4. Mengimplementasikan nilai-nilai shalat dalam kehidupan sehari-hari
Praktik Wudhu’ Pengertian
Wudhu’ berasal dari kata “wada’ah” yang berarti baik dan bersih.
Secara istilah: Wudhu’ adalah membasuh anggota badan tertentu sesuai dengan
ketentuan syara’ dengan disertai niat untuk menghilangkan hadas kecil
Dasar hukumnya: QS. Al-Maidah/5 ayat 6:
ْﻣا َو ِ ﻖِﻓاَﺮَﻤْﻟا ﻰَﻟِ إ ْﻢُﻜَﯾِﺪْﯾَ أ َو ْﻢُﻜَھﻮُﺟُوْ اﻮُ ﻠِﺴْﻏﺎﻓ ِةﻼﱠﺼﻟا ﻰَﻟِ إ ْﻢُﺘْﻤُ ﻗ اَذِ إ ْ اﻮُﻨَﻣ
آ َﻦﯾِﺬﱠ ﻟا ﺎَﮭﱡﯾَ أ ﺎَﯾ
ْ اﻮُﺤَﺴ
ُﻜَﻠُﺟْرَ أ َﻮْﻤُﻜِﺳوُؤُﺮِ ﺑ
ءﺎَﺟ ْوَ أ ٍﺮَﻔَﺳ ﻰَﻠَﻋ ْوَ أ ﻰَﺿْﺮﱠﻣ ﻢُﺘﻨُﻜﻧِ إ َو ْ اوُﺮﱠﮭﱠ طﺎَﻓ ً ﺎﺒُﻨُﺟ ْﻢُﺘﻨُﻛ نِ إ َو ِﻦﯿَﺒْﻌَﻜْﻟا ﻰَﻟ
ِ إ ْﻢ
ْ اﻮُﺤَﺴْﻣﺎَﻓً ﺎﺒﱢﯿَط ً اﺪﯿِﻌَﺻ ْ اﻮُﻤﱠﻤَﯿَﺘَﻓ ءﺎَﻣ ْ اوُﺪ ِﺠَﺗ ْﻢَﻠَﻓ ءﺎَﺴﱢﻨﻟا ُﻢُﺘْﺴَﻣَﻻْوَ أ ِﻂِﺋﺎَﻐْﻟا
َﻦﱢﻣ ﻢُﻜﻨﱠﻣ ٌﺪَﺣَ أ
ْﻢُﻜِھﻮُﺟُﻮِ ﺑ
ﯾِﺪْﯾَ أ َو
ُﮫَﺘَﻤْﻌِﻧ ﱠﻢِﺘُﯿِﻟ َو ْﻢُﻛَﺮﱠﮭَﻄُﯿِﻟ ُﺪﯾِﺮُﯾ ﻦِﻜـَﻟ َو ٍ جَﺮَﺣ ْﻦﱢﻣ ﻢُﻜْﯿَﻠَﻌَﻠَﻌْﺠَﯿِﻟ ُ ّﷲ ُﺪﯾِﺮُﯾ ﺎ
َﻣ ُﮫْﻨﱢﻣ ﻢُﻜ
ْﻢُﻜﱠ ﻠَﻌَﻟ ْﻢُﻜْﯿَﻠَﻋ
َنوُﺮُﻜْﺸَﺗ
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub, maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat
buang air (kakus) atau menyentuh[perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air,
maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.
Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
َﺄﱠﺿَﻮَﺘَﯾ ﻰﱠﺘَﺣ َثَﺪْﺣَ أ اَذِ إ ْﻢُﻛِﺪَﺣَ أ ُةَﻼَﺻ ُﻞَﺒْﻘُﺗ َﻻ
Artinya: “Shalat salah seorang di antara kalian tidak akan diterima -ketika masih
berhadats- sampai dia berwudhu.“ (HR. Bukhari no. 6954 dan Muslim no. 225)
Syarat sah wudhu’:
1. Islam
2. Mumayyiz (bisa membedakan antara yang baik dan buruk)
3. Menggunakan air mutlak
4. Tidak ada yang menghalangi sampainya air ke kulit.
Rukun wudhu’:
1. Niat
2. Membasuh muka dari ujung dahi hingga ujung dagu dan dari anak telinga
kanan hingga anak telinga kiri.
3. Membasuh dua tangan hingga siku
4. Mengusap sebagian kepala
5. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki
6. Tertib
Cara berwudhu’:
1. Membaca ta’awwudz dan basmalah
2. Mencuci kedua telapak tangan
3. Berkumur-kumur 3 kali atau menggosok gigi
4. Membersihkan kotoran dari rongga hidung
5. Berniat di dalam hati dengan membaca lafazh mengambil air wudhu’
ِثَﺪَﺤْﻟا ِ ﻊْﻓَﺮِﻟَءْﻮُﺿُﻮْﻟا ُﺖْﯾَﻮَﻧ ﻰ ٰﻟﺎَﻌَﺗ ِ ِّٰۦﺎًﺿ ْﺮَﻓِﺮَﻐْﺻَ ْﻻا
Artinya: "Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadast fardhu karena
Allah".
6. Membasuh muka dari ujung dahi hingga ujung dagu dan dari anak telinga
kanan hingga anak telinga kiri 3x.
7. Membasuh dua tangan hingga siku 3x sampai benar-benar rata, sambil
menyila-nyila jari tangan kanan dengan tangan kiri, dan sebaliknya. (Anggota tubuh yang dibasuh berpasangan hendaklah mendahulukan yang kanan dari pada yang kiri.)
8. Mengusap sebagian kepala
10.Membasuh kedua kaki hingga mata kaki 3x sambil menyila-nyila jari kaki kanan dengan jari tangan kiri dan menyila-nyila jari kaki kiri dengan jari tangan kanan.
11.Membaca doa sesudah wudhu’:
ُﮫَﻟ َﻚْﯾِﺮَﺷَﻻ ُهَﺪْﺣَو ُﷲ ﱠ ﻻِا َﮫَﻟِ إَﻻ ْنَا ُﺪَﮭْﺷَ أ ,
ُﮫُ ﻟْﻮُﺳَرَو ُهُﺪْﺒَﻋ اًﺪﱠﻤَﺤُﻣ ﱠنَا ُﺪَﮭْﺷَ أَو
َﻦْﯿِﺤِﻟﺎﱠﺼﻟا َكِدﺎَﺒِﻋ ﻦِﻣ ْﻲَﻨْﻠَﻌْﺟَﻮَﻨْﯾِﺮﱢﮭَ ﻄَﺘُﻤْﻟا َﻦِﻣ ﻲِﻨْﻠَﻌْﺟاَو َﻦْﯿِ ﺑاﱠﻮﱠﺘﻟا َﻦِﻣ ﻲِﻨْ ﻠَﻌْﺟا ﱠﻢُﮭﱠ ﻠﻟا
Artinya:"Aku bersaksi, tiada Tuhan melainkan Allah yang tunggal dan tiada
sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi, bahwa Nabi Muhammad SAW, adalah
utusan-Nya.Ya Allah, jadikanlah aku orang yang ahli taubat dan
jadikanlah aku orang yang suci, dan jadikanlah aku dari golongan
orang-orang yang shaleh".
Hal-hal membatalkan wudhu’:
1. Keluar sesuatu dari qubul atau dubur, baik sengaja atau tidak.
2. Hilang akal karena gila, tidur, mabuk, dan sebagainya.
3. Bersentuhan kulit laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrim yang
sudah baligh (menurut mazhab Syafi’i).
4. Menyentuh kemaluan dengan telapak tangan secara langsung.
5. Murtad
Instrumen Praktik Wudhu’
No Kegiatan Skor Ket.
1 2 3
1 Membaca basmalah
2 Mencuci telapak tangan
3 Berkumur-kumur
4 Membasuh hidung
5 Membaca lafazh niat
6 Membasuh muka
7 Membasuh kedua tangan hingga siku
8 Menyela-nyela jari-jari tangan
9 Menyapu sebagian kepala
10 Membasuh kedua telinga
11 Membasuh kedua kaki hingga mata kaki
12 Menyela-nyela jari-jari kaki
13 Membaca doa setelah berwudhu’
14 Mendahulukan yang kanan dari pada kiri
15 Tertib
Skor Maksimal 45
Ket.
Skor 3 : dilaksanakan secara sempurna
Skor 2 : terdapat kekurangan, tetapi tidak menyebabkan batal
BACAAN SHALAT DAN MAKNANYA
A. Pengertian Shalat dan Dasar Hukumnya
Shalat, secara bahasa berarti doa. Sedangkan menurut istilah, shalat adalah ibadah berupa perkataan dan perbuatan yang dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan memenuhi syarat dan rukun yang ditentukan untuk mentaati perintah Allah dan mencari keridhaan-Nya.
Shalat diperintahkan untuk didirkan lima kali sehari semalam, yaitu Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Hukumnya fardhu‘ain bagi setiap muslim. Artinya shalat wajib dilaksanakan oleh setiap pribadi muslim yang telah
mukallaf.
Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang perintah shalat, di antaranya adalah:
1. Qs. Al-Ankabut/29 :45
Artinya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al
Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat
Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang
lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
2. Qs. Thaha/20: 14
Artinya: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain
Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Rasulullah SAW juga bersabda:
ﻰﱢﻠَﺻُ ا ﻰِﻧاْﻮُﻤُﺘْﯾَ أَر ﺎَﻤَﻛ اﻮﱡ ﻠَﺻ
Artinya: Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat. (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
Dalam hadis lain, Rasul juga bersabda:
ْﻢُﮭُﺑِﺮْﺿاَو َﻦْﯿِﻨِﺳ َﻊْﺒَﺳ ُءﺎَﻨْﺑَ أ ْﻢُھَو ِةَﻼﱠﺼﻟﺎِ ﺑ ْﻢُﻛَدَﻻْوَ أ اْوُﺮُﻣ َﻦْﯿِﻨِﺳ ِﺮْﺸَﻋ ُءﺎَﻨْﺑَ أ
Artinya: Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat di waktu usia mereka
meningkat tujuh tahun dan pukullah mereka (bila meninggalkannya)
diwaktu mereka berusia sepuluh tahun. (HR. Ahmad, Abu Daud, dan
Hakim).
B. Bacaan dalam shalat fardhu
Sebelum mempelajari bacaan shalat, perlu dipahami kembali rukun shalat. Rukun ini merupakan gerakan atau bacaan yang tidak boleh ditinggalkan dalam melaksanakan shalat. Adapun rukun shalat adalah:
1. Niat
2. Berdiri bagi yang mampu, jika tidak bisa duduk atau berbaring bagi yang
sakit.
3. Takbiratul ihram, dengan membaca “Allahu Akbar”
4. Membaca surat al-Fatihah
5. Ruku’ dengan thuma’ninah (berhenti sejenak)
6. I’tidal dengan thuma’ninah
7. Sujud dengan thuma’ninah
8. Duduk antara dua sujud dengan thuma’ninah
9. Duduk akhir (duduk tawarru’)
10.Membaca tasyahud akhir (ketika duduk tawarru’)
11.Membaca shalawat atas Nabi Muhammad SAW
12.Mengucapkan salam pertama
Adapun yang merupakan bacaan dalam shalat, baik yang difardhukan (termasuk rukun) maupun yang hukumnya sunnat, adalah sebagai berikut:
Rakaat Pertama
1. Berdiri tegak menghadap kiblat (ka’bah), pandangan ke tempat sujud tanpa
berpaling. Bila tak kuasa berdiri maka boleh dengan duduk.
2. Niat shalat dalam hati. Jika dilafadzkan (diucapkan), maka lafazhnya adalah:
ًءاَدَا ِﺔَﻠْﺒِﻘْﻟا َﻞِ ﺒْﻘَﺘْﺴُﻣ ِﻦْﯿَﺘَﻌْﻛَر ِ ﺢْﺒﱡﺼﻟا َضْﺮَﻓ ﻰﱢ ﻠَﺻُ ا ) ﺎًﻣﺎَﻣِا / ﺎًﻣْﻮُﻣْ ﺄَﻣ ِ ( ﻰَﻟﺎَﻌَﺗ ِۦ
Artinya: Sengaja aku shalat fardhu shubuh dua rakaat menghadap qiblat tunai
(sebagai imam/makmum) karena Allah Ta’ala.
َضْﺮَﻓ ﻰﱢ ﻠَﺻُ ا ًءاَدَا ِﺔَﻠْﺒِﻘْﻟا َﻞِ ﺒْﻘَﺘْﺴُﻣ ٍتﺎَﻌَﻛَر َﻊَﺑ ْرَا ِﺮْﮭﱡ ﻈﻟا ) ﺎًﻣﺎَﻣِا / ﺎًﻣْﻮُﻣْ ﺄَﻣ ( ِ ﻰَﻟﺎَﻌَﺗ ِۦ
Artinya: Sengaja aku shalat fardhu zhuhur empat rakaat menghadap qiblat tunai
(sebagai imam/makmum) karena Allah Ta’ala.
َﻊَﺑْرَا ِﺮْﺼَﻌْﻟا َضْﺮَﻓ ﻰﱢ ﻠَﺻُ ا ًءاَدَا ِﺔَﻠْﺒِﻘْﻟا َﻞِ ﺒْﻘَﺘْﺴُﻣ ٍتﺎَﻌَﻛَر ) ﺎًﻣﺎَﻣِا / ﺎًﻣْﻮُﻣْ ﺄَﻣ ( ِ ﻰَﻟﺎَﻌَﺗ ِۦ
Artinya: Sengaja aku shalat fardhu ashar empat rakaat menghadap qiblat tunai
(sebagai imam/makmum) karena Allah Ta’ala
ْﻘَﺘْﺴُﻣ ٍتﺎَﻌَﻛَر َثَﻼَﺛ ِبِﺮْﻐَﻤْﻟا َضْﺮَﻓ ﻰﱢ ﻠَﺻُ ا ًءاَدَا ِﺔَﻠْﺒِﻘْﻟا َﻞِ ﺒ ) ﺎًﻣﺎَﻣِا / ﺎًﻣْﻮُﻣْ ﺄَﻣ ( ِ ﻰَﻟﺎَﻌَﺗ ِۦ
Artinya: Sengaja aku shalat fardhu maghrib tiga rakaat menghadap qiblat
tunai (sebagai imam/makmum) karena Allah Ta’ala
َا ِﺔَﻠْﺒِﻘْﻟا َﻞِ ﺒْﻘَﺘْﺴُﻣ ٍتﺎَﻌَﻛَر َﻊَﺑْرَا ِءﺎَﺸِﻌْﻟا َضْﺮَﻓ ﻰﱢ ﻠَﺻُ ا ًءاَد ) ﺎًﻣﺎَﻣِا / ﺎًﻣْﻮُﻣْ ﺄَﻣ ( ِ ﻰَﻟﺎَﻌَﺗ ِۦ
Artinya: Sengaja aku shalat fardhu isya empat rakaat menghadap qiblat tunai
(sebagai imam/makmum) karena Allah Ta’ala
3. Takbiratul-Ihram, atau takbir permulaan yang mengharamkan pelakunya
beramal selain amalan shalat. Takbiratul Ihram dilaksanakan dengan
mengucapkan ﺮﺒـﻛا ﷲ sambil mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua
pundak.
4. Bersedekap (meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung telapak
tangan kiri di atas dada).
5. Membaca do’a Iftitah (pembuka)
َﻣَو َيﺎَﯿْﺤَﻣَو ْﻲِﻜُﺴُﻧَو ﻲِﺗَﻼَﺻ ﱠنِ إ َﻦْﯿِﻛِﺮْﺸُﻤْﻟا َﻦِﻣ �