TARIKH Standar Kopetensi :
HAJI AGUS SALIM
C. Agus Salim terjun ke Dunia politik
Agus Salim mengawali karir politiknya di Sarekat Islam (SI) bersama HOS Tjokropaminoto dan abdul Muis sejak tahun 1915.Organisasi ini banyak menyuarakan kepentingan perjuangan bangsa Indonesia. Melalui organisasi ini, ia mengecam tindakan pemerintah kolonial Belanda yang sering menyengsarakan rakyat Indonesia. Ia juga pernah menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat). Ketika HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis mengundurkan diri dari Volksraad sebagai wakil SI akibat kekecewaan mereka terhadap pemerintah Belanda, Agus Salim menggantikan posisinya selama empat tahun (1921-1924). Disana ia berpidato agar bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa resmi organisasi, bukan bahasa Belanda. Ternyata, sebagaimana pendahulunya, ia juga merasakan bahwa perjuangan melalui Volksraad tidak banyak bermanfaat. Agus Salim akhirnya memutuskan keluar dan lebih
berkonsentrasi di SI.
Pada tahun 1923, terjadi perpecahan didalam tubuh SI. Semaun dan kelompoknya menghendaki SI lebih condong ke “kiri”, sedangkan Agus Salim dan Tjokroaminoto menolak hal itu. Perbedaan ini menyebabkan dua kubu tersebut semakin berseberangan. Semaun dan kelompoknya membentuk Serikat Rakyat (pengembangan dari SI Merah atau SI Kiri) yang nantinya berubah menjadi Partai Komunis Indonesia/PKI, sementara Agus Salim dan kelompoknya tetap bertahan di SI (disebut juga sebagai SI Putih). Dengan demikian, posisinya sebagai politisi dan pemimpin Islam semakin jelas terlihat.
Pada tahun 1927, Agus Salim diutus ke Mekah mewakili umat Islam Indonesia dalam menggalang kesatuan dan perjuangan umat Islam sedunia. Sekembalinya dari Mekah, ia bersama Hos Tjokroaminotomenerbitkan surat kabar Fajar Asiadalam usaha untuk mengubah Sarekat Islam menjadi partai politik. Maksud ini tercapai dan Partai Sarekat Islam Indonesia(PSII) menjadi partai politik terbesar di Indonesia ketika itu.
Pada tahun 1930, Agus Salim diutus menghadiri Konferensi Perubahan Internasional di Janewa, Swiss, di mana ia juga menyampaikan pidatonya. Semenjak itu namanya mulai terkenal diluar negeri, disebabkan dalam penyampaian makalahnya pada konferensi itu diketahui bahwa orang Indonesia mempunyai kecrdasan yang tinggi dan mampu menguasai bahasa-bahasa asing.
HOS Tjokroaminoto meninggal dunia pada tahun 1934, dan pimpinan partai dipegang oleh Abikusno. Karena tidak dapat bekerja sama dengan Abikusno, maka Agus Salim bersama teman-teman yang sehaluan menarik diri dari PSII. Ia kemudian mendirikan Partai Penyadar bersama Mr. Muhammad Roem dan A.M. Sengaji.
Pada zaman Jepang, Agus Salim sempat bekerja pada stasiun radio NIROM bahagian ketimuran. Tapi hanya sebentar, ia lalu berhenti dari pekerjaan ini dan banting stir jadi pedagang arang dengan maksud agar dapat hidup bebas dan terlepas dari tekanan penjajahan Jepang.
Pekerjaan ini tidak lama dilakukannya, karena jiwa kepemimpinan dan cita-cita untuk kemerdekaan bangsa Indonesia telah menghimbaunya kembali ke medan juang. Menjelang akhir kependudukan Jepang, ia diangkat menjadi panitia 9 BPUPKI (Badan penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), yaitu badan-badan yang tugasnya mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dan merumuskan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Selain ikut merumuskan piagam Djakarta, bersama dengan Djajadinigrat dan Soepomo, Agus Salim menjadi penghalus bahasa dalam penyusunan batang tubuh UUD 1945.
Pada kurun inilah ia kerap dijuluki dengan sebutan “Orang Tua Besar” (the Grand Oldman) julukan itu sebagai bentuk penghargaan atas pengaruh dan kontribusi yang besar terhadap pembentukan bangsa dan Negara Indonesia pada masa itu. Disamping itu, sebutan ‘Orang Tua’ memang masuk akal karena rapat-rapat badan BPUPKI dan PPKI berlangsung antara bulan Juni-Agustus 1945, Agus Salim sudah berumur 61 tahun. Padahal, para peserta lainnya masih dibawah umur 43 tahun. Julukan itu juga berarti sebagai ‘pelecehan umur’ karena memang Agus Salim benar-benar jenius dan sangat pandai sehingga menjadi orang yang dituakan sekaligus dihormati. Hatta sendiri pernah menyebut Agus Salim sebagai Salim op Zijn Best (Salim adalah orang hebat dan terbaik).
Ketika berlangsung Muktamar Umat Islam di Yogyakarta pada tanggal 17 November 1945 untuk membentuk partai Masyumi, Agus Salim pun menggerakkan terwujudnya partai Islam tersebut. Namun ia tidak ikut dalam kepengurusan Masyumi karena kemudian diangkat menjadiMentri Luar Negeri dalam Kabinet Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Ia juga menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Hatta.
Pada awal kemerdekaan, dimana bangsa Indonesia memerlukan pengakuan serta menjalin hubungan persahabatan dengan Negara-negara lain, Agus Salim diutus oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk mengunjungi beberapa Negara lain. Delegasi yang pertama dipimpinnya adalah ke Internal Asia Conference di New Delhi pada tahun 1947. Selesai dari konferensi itu,
Agus Salim dan rombongannya langsung menuju ke Timur Tengah untuk menjelaskan cita-cita revolusi dan perjuangan bangsa Indonesia. Dengan gemilang delegasinya dapat meraih simpati dan pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Negara-negara Mesir, Saudi Arabia, Turki, Iran dan Irak.
Pada saat agresi Belanda II tanggal 19 Desember 1948, tentara Belanda menangkap sejumlah pimpinan Indonesia seperti Presiden Soekarno, wakil presiden Hatta dan bekas Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Agus Salim juga turut ditangkap.Mereka diasingkan ke Brastagi, kemudian dipindahkan ke Prapat, dan akhirnya dibawa ke Bangka, dan baru dikembalikan ke Yogyakarta setelah gencatan senjata.
Setelah penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada Pemerintahan Republik Indonesia, Agus Salim masih tetap di pemerintahan sebagai
penasihat Menteri Luar Negeri. Pengalamannya dalam bidang
jurnalismemembuatnya dipercaya sebagai Ketua Dewan kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada tahun1952.
Selain itu, Agus Salim juga aktif memberikan ceramah-ceramah ilmiah dalam berbagai kesempatan, diundang dalam sejumlah perguruan tinggi, baik dalam maupun luar negeri. Pada tahun1953, ia memberi kuliah tentang Islam di Cornell University (Itacha) dan Princeton University Amerika serikat. Ia mengemukakan pentingnya Islam sebagai pandangan hidup sebagai muslim. Ceramahnya itu kemudian diterbitkan oleh Cornell University, yang merupakan salah satu perguruan tinggi papan atas dan pernah menjadi pusat kajian tentang Islam di AS.Dengan demikian, pemikiran Agus Salim telah mendapat pengakuan secara Internasional. Agus Salim juga pernah diangkat sebagai Guru Besar pada Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTNI) di Yogyakarta.Namun, sayangnya pengangkatan itu belum sempat dilakoninya.