• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB lV HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB lV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB lV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Kios Bu SUS

Penggunaan istilah bagi toko yang menjual produk hasil bumi, pada umumnya menggunakan istilah Kios. Terbukti kebiasaan ini banyak digunakan oleh produsen dan konsumen di pasar tradisional. Fenomena tersebut banyak muncul di pasar tradisional, yang dulunya menggunakan istilah lapak dan kios yang berada di sekitar pasar atau pertokoan. Istilah Kios terlihat lebih familiar dan terkesan tidak mahal dimata konsumen yang ada di lingkungan pasar tradisional.

Usaha Kios Bu SUS berawal dari kegiatan turun temurun dengan berjualan hasil bumi di depan rumah, yang pertama kali dikelola oleh Ibu dari Bu SUS yang bernama Ibu Sundarsih. Sistem penjualan dilakukan secara langsung, membeli hasil bumi dari petani lalu menjualnya ke pembeli lain. Kios Bu SUS yang menjual palawija atau hasil bumi terletak di Kabupaten Semarang, Kecamatan Sumowono, merupakan salah satu kios perseorangan yang bergerak pada bidang pertanian (palawija) hasil bumi, yang seiring berkembangnya zaman maka omset penjualan semakin pesat. Ibu Sundarsih merasa tidak mampu dalam menyediakan tempat sebagai penampung produk meliputi kopi, kapulaga, kemukus, coklat, jahe, kayu manis, cabe jawa, jagung, panili, cengkeh, lengkuas, kunyit, dan jengkol.

Kios Bu SUS ini berdiri pada bulan Februari tahun 1980 yang didirikan oleh Bu Sundarsih, terletak di desa Wonokerso kecamatan Pringsurat kabupaten Temanggung, sebagai pedagang desa. Seiring berjalannya waktu, kegiatan perdagangan hasil bumi ini, terus mendapatkan peluang usaha yang masih terbuka.

Pada tahun 1990 penjualan hasil bumi, khususnya kopi biji dari ibu Sundarsih masih menyetor produknya ke pedagang di pasar Pingit, oleh sebab itu ibu Sundarsih memberanikan diri menyewa tempat yang digunakan sebagai kios usaha yang terletak di daerah Pasar Pingit.

Tahun demi tahun berkembang dan pasar tradisional pindah ke Sumowono.

Karena tingginya permintaan konsumen dan petani lebih mudah dalam akses penjualan lewat pasar, maka Kios Bu SUS kemudian pindah di daerah Kecamatan Sumowono. Pada tahun 2000 usaha perdagangan hasil bumi ini, mulai banyak dijalankan oleh ibu Sus Minaningsih (Bu SUS), yang kemudian mengontrak kios

(2)

di belakang kecamatan Sumowono yang berdekatan dengan pasar Sumowono.

Kios Bu SUS tersebut berfokus kepada komoditas kopi, walaupun produk hasil bumi lainnya juga ada, seperti rempah-rempah, dan produk pangan, yang tergantung musim tanamnya. Cara penjualan yang dilakukan bisa menggunakan pembelian di tempat secara tatap muka datang ke kios, lewat telepon dengan saling percaya dalam jumlah pengiriman dan kualitas produk. Apabila pembelian barang lewat telepon, administrasinya dilakukan ketika barang datang langsung dibayar atau barang datang nota pembelian ditandatangani oleh penanggung jawab pembeli barang tersebut.

Kios ini juga melakukan mitra dengan kios hasil bumi lainnya, contohnya apabila ada orderan produk yang diinginkan konsumen sedang kosong (produk belum tersedia), pihak Kios Bu SUS akan menginformasikan kepada kios lain yang mempunyai stok produk tersebut. Apabila perjanjian kesepakatan, maka akan di beli Kios Bu SUS dengan harga pedagang. Guna menjamin kualitas produk hasil bumi, khususnya kopi, kios ini menawarkan beberapa grade kopi, contohnya kopi super, kopi biasa, dan kopi campur, tergantung keinginan konsumen, serta harga yang diinginkan. Untuk grade kopi, kelompok kopi super dan kopi biasa, dibagi menjadi tiga jenis kopi, yaitu robusta, arabika dan excelsa.

Pada tahun 2006 ibu Sus Minaningsih sebagai pengolahan Kios Bu SUS, memberanikan diri membeli kios di dekat pasar tradisional Sumowono, karena tempat yang disewa dahulu, tidak disewakan lagi oleh pemiliknya, sehingga dengan keterpaksaan dan keberanian ibu Sus Minaningsih membeli kios yang berada di sebelah selatan pasar tradisional Sumowono, sebelum kantor Pos. Infrastruktur bangunan kios, sudah memenuhi dalam melakukan kegiatan perdagangan (jual- beli) hasil bumi khususnya kopi, karena memiliki bangunan permanen yang ada gudang untuk menampung dan menyortir produk. Pada saat itu ibu Sus Minaningsih, sudah melibatkan anaknya (bapak Wuryanto dan bu Eni Kurnia Ningsih), untuk ikut mengelola kegiatan perdagangan di Kios Bu SUS.

Kios Bu SUS memiliki bentuk badan usaha formal sebagai Usaha Dagang (UD) pada tahun 2010. Kios Bu SUS tersebut dikelola, dengan mempekerjakan tiga orang pekerja tiga yang bernama Sukirman, dan Budi, sebagai karyawan tetap serta Sunardi, dan Sahadi yang bekerja sebagai pekerja kasar secara bergantian.

(3)

Manajemen terdiri dari penanggung jawab Kios Bu SUS yang berasal dari keluarga yaitu anak dari ibu Sus Minaningsih, yang bernama bu Eni Kurnianingsih, dan pak Wuryanto seperti yang telah dijelaskan diatas. Dalam pengelolaan Kios Bu SUS, ibu Sus Minaningsih hanya mengontrol saja dari rumah, sedangkan bu Eni dan pak Wuryanto bekerja di Kios Bu SUS secara bergantian.

Manfaat dari kegiatan perdagangan yang dilakukan Kios Bu SUS, adalah konsumen kopi bisa lebih fokus untuk mencari produk kopi yang diinginkan, sehingga konsumen tidak banyak menghabiskan waktu untuk mencari kopi biji yang diinginkannya. Sedangkan bagi petani kopi dan pengepul kopi, akses menjual menjadi lebih dekat dan mendapatkan harga yang lebih menguntungkan, karena Kios Bu SUS lebih terbuka dalam hal jual- beli kopi biji, seperti timbangannya akurat, dibayar cash, pelayanannya baik dan sopan, menerima produk selain kopi, dan harga tidak menekan petani dan pengepul.

Konsumen yang sudah lama berlangganan atau percaya terhadap kualitas kopi di Kios Bu SUS, adalah konsumen dari Semarang (pemilik pabrik kopi bubuk) dengan jenis kopi yang diinginkan kopi robusta. Perkembangan usaha Kios Bu SUS dari tahun 1980 sampai dengan tahun 2010, dapat dilihat dari periode pengelolanya, seperti berikut ini:

1. Ibu Sundarsih dan Ibu Sus Minaningsih (generasi pertama Kios Bu SUS) Pada periode awal tahun 1980 dan 1990-an pengelola usaha dibawah Ibu Sundarsih dan Ibu Sus Minaningsih, teknologi untuk jual-beli secara fisik masih menggunakan timbangan manual, dan kurang efisien apabila ada konsumen yang datang membeli, maupun petani dan pengepul kopi yang datang menjual, dalam jumlah yang banyak akan menyita waktu dalam penimbangan produk secara manual.

Begitu pula tempat berjualan kurang efisien, contohnya tidak bisa menampung terlalu banyak produk, karena tempat penyimpanan belum memadai.

2. Bapak Wahyu Dwi Wuryanto dan Eni Kunia Ningsih (generasi kedua Kios Bu SUS) Beranjak tahun 2010, pengelolaan Kios Bu SUS secara turun temurun tersebut semakin berkembang tahun ke tahun. Dengan pengalaman ibu Sus Minaningsih dalam membimbing anak-anaknya yaitu: ibu Eni Kurnia Ningsih dan bapak Wahyu Dwi Wuryanto sebagai pengganti sebagai pengelola Kios Bu SUS, maka perkembangan teknologi menggunakan timbangan digital mulai diterapkan

(4)

dan informasi jual-beli khususnya produk kopi, dilakukan secara online melalui handphone. Selain itu tempat usaha atau kios, dibuat permanen dengan mempunyai gudang untuk menyimpan, dan menyortir produk kopi dari petani.

Tabel 4.1 Deskripsi Singkat Kios Bu SUS

No. Deskripsi Keterangan

1. Nama Usaha Kios Bu SUS

Jl. Diponegoro No. 19 Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang.

2. Nomer Usaha ( SIUP) Kios Bu SUS 503. 517/332/SIUP/VI/2010

3. Pemilik Usaha Ibu Sus Minaningsih

4. Manajer Usaha Ibu Eni Kurnia Ningsih

Pak Wahyu Dwi Wuryanto

5. Karyawan Sukirman

Budhi

Sahadi dan Sunardi

6. Identitas Usaha Usaha Dagang (UD)

7. Produk utama Kopi biji: Robusta, Arabika, Excelsa 8 Produk (Non – Utama) Rempah-rempah dan produk Pangan:

Kapulaga, Kemukus, Kayu Manis, Cabe Jawa, Panili, Lengkuas, Jahe, Coklat, Jagung, Cengkeh, Lengkuas, Kunyit, Jengkol.

Sumber: Data Primer, 2021 (Diolah) 4.1.1. Struktur Organisasi Kios Bu SUS

Gambar dibawah ini, menjelaskan tentang bagian dan tugas yang harus dilaksanakan, serta mempermudah menjelaskan kepada pekerja agar tidak salah dalam melakukan tugas-tugas yang harus dikerjakan, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam manajemen pelaksanaan Kios Bu SUS. Pada gambar tersebut terdapat beberapa bagian atau tugas yang diberikan, seperti: Bu Sus selaku pemimpin usaha Kios Bu SUS, melakukan kontrol. Sebagai pengontrol Bu Sus hanya datang sesekali ke Kios, untuk melihat dan mengecek (pengawasan) dalam pembukuan keuangan tentang kegiatan pembelian dan penjualan barang (produk kopi biji dan hasil bumi lainnya) yang dilakukan oleh Bu Eni Kurnia Ningsih dan Pak Wahyu Dwi Wuryanto selaku manager (pengelola) Kios Bu SUS.

(5)

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Kios Bu SUS

Pengelolaan manajemen keuangan dipegang oleh pak Wahyu Dwi Wuryanto dan bu Eni Kurnia Ningsih, sistem yang dilaksanakan adalah shift dalam seminggu empat hari dikelola pak Wahyu Dwi Wuryanto, dan tiga hari dikelola oleh bu Eni.

Tetapi apabila ada keperluan, salah satu pihak akan dikoordinasikan antara pak Wahyu Dwi Wuryanto dan bu Eni Kurnia Ningsih untuk menjaga dan melayani Kios Bu SUS. Selain itu bu Eni Kurnia Ningsih dan pak Wahyu Dwi Wuryanto bertugas sebagai pengontrol pekerja, dan melakukan pengawasan kualitas produk (mengambil sampel produk) yang datang dari petani untuk dijual di Kios BU SUS.

Pekerja bernama Sukirman dan Budi sebagai pekerja tetap, serta Sahadi dan Sunardi sebagai pekerja tidak tetap (pocokan), bertugas apabila ada produk dari petani datang, akan melakukan kegiatan: mengangkut, menimbang dan menyimpan produk kopi di gudang milik Kios Bu SUS.

4.1.2 Produk Hasil Bumi Kios Bu SUS

Selain produk kopi biji, produk lainnya yang ditawarkan oleh Kios Bu SUS, adalah jahe, kunyit, kemukus, coklat, kayu manis, lengkuas, panili, kapulaga, cabe jawa, jengkol, dan jagung. Pada saat ibu Sundarsih memulai usaha jual-beli hasil

Pemimpin: Bu Sus Minaningsih .

Manajer 1:

Eni Kurnia Ningsih

Manajer 2:

Wahyu Dwi Wuryanto

Pekerja:

• Sukirman

• Budhi

• Sahadi

• Sunardi

(6)

bumi pada sekitar tahun 1980-an, produk hasil bumi yang diperdagangkan sudah meliputi berbagai jenis komoditi, tidak hanya produk kopi biji saja. Hal ini dikarenakan produk hasil bumi yang dihasilkan petani di sekitar wilayah kecamatan Sumowono kabupaten Semarang, seperti kecamatan Pingit, Pringsurat, dan Kaloran, yang berada di kabupaten Temanggung, serta kecamatan Boja, dan Bandungan yang berada di kabupaten Semarang memiliki jenis komoditas yang beragam.

Selain petani yang menjual produk hasil bumi ke Kios Bu SUS, banyak juga pengepul hasil bumi yang menjual ke Kios Bu SUS dengan berbagai jenis hasil bumi. Banyaknya jenis hasil bumi yang diperdagangkan ini membuat Kios Bu SUS, harus memiliki kemampuan dalam mengelola perdagangan (jual- beli) secara baik dan teliti, sehingga perlu melakukan kegiatan perdagangan seperti menerima produk, menimbang, menyimpan, melakukan sortasi, melakukan grading, dan melakukan perhitungan risiko (penyusutan dan harga produk).

Kegiatan perdagangan di Kios Bu SUS ini mulai menapaki kemajuan yang pesat, saat tahun 2006 saat menempati kios yang sekarang ini, dengan bangunan permanen dua lantai dengan fasilitas yang baik, seperti gudang, tempat parkir, timbangan digital, dan pekerja tetap yang membantu kegiatan perdagangan. Produk kopi biji ini menjadi andalan dalam kegiatan perdagangan di Kios Bu SUS.

Deskripsi perkembangan usaha dan lokasi Kios Bu SUS, seperti pada pernyataan informan kunci berikut ini:

“awal berjualan kios Bu SUS sebelum di Sumowono di pasar Pingit,,, ternyata lebih rame di pasar Sumowono,, kemudian pindah lah ke pasar Sumowono. Belum punya kios masih menggunakan ongkek atau gerobak dan timbangan manual belum menggunakan timbangan digital, setelah sekian waktu pindah-lah di belakang kecamatan Sumowono pasar. Bangun tempat di situ diizinkan oleh kepala pasar atau lurah pasar, itu zaman masih anaknya SMP sampai kuliah masih di atas (belakang kecamatan). Beriringnya waktu kan yang lokasi diatas milik pemda yang bawah milik desa,, desa tersebut mau buat pasarsendiri. Akhirnya Kios Bu SUS yang sudah permanen tergusur, dapet tanah di pemda sak upilik (sangat kecil). Gak muat untuk palawija “nah Bah Sus beli tanahini atau yang sekarang ditempati, dulu beli luasnya 600 meter tetapi di borong bareng bareng, dapet tanah ini bangun di sini alhamdulilah sudah milik sendiri gak takut ke gusur lagi.” (IK – 2 – A :13)

Usaha palawija turun temurun dari mbah buyut, ke bah sus’’ ibunya bulik istilahnya meneruskan itu alhamdulillah selalu ada perkembangan”(IK– 2 A:12)

“Dulu Mbah Sus juale meng di sekitar sini di Pingit juragan, alhamdulilah semakin

(7)

kedepan ada kerjasama eksportir Surabaya, Semarang. Dulu kan jualnya di Surabaya juga’’ sekarang kesana sendiri langsung ke produsen” (IK – 3 - B :6).

4.1.3 Produk Biji Kopi Kios Bu SUS

Produk kopi yang ada di Kios Bu SUS, memiliki kualitas produk dan keunikan, serta harga yang kompetitif, ditambah dengan layanan dari penjual yang baik dan ramah. Kopi biji yang diperdagangkan di Kios Bu SUS memiliki tiga varietas utama, yaitu kopi robusta, kopi arabika dan kopi excelsa merupakan biji kopi spesial. Kopi robusta memiliki keunggulan, bentuk lebih bulat (oval), ukuran lebih kecil, dan warna hijau pucat dengan lipatan tengah yang kurang nampak, serta rasa yang lebih pahit. Kopi arabika memiliki keunggulan, dengan bentuk lebih lonjong, warna biji hijau pudar, rasa yang cenderung lebih asam. Sedangkan untuk harga kopi biji, jenis arabika memiliki tingkat harga yang lebih mahal dibandingkan dengan kopi biji jenis robusta.

Apabila petani ingin menjual hasil panen kopi ke Kios Bu SUS, cukup melewati timbangan untuk memastikan jumlah kuantitas (berat) dan penyortiran (mengambil sampel kopi) untuk memperoleh kepastian harga (kopi/kg) dan nilai penjualan atas produk kopi yang dijual oleh petani di Kios Bu SUS. Penyortiran produk kopi yang dijual petani ke Kios Bu SUS, akan dipisahkan menjadi grade yang berkualitas baik, sedang, dan campur (kurang) atau menjadi grade A, B dan C, masing-masing memiliki tingkat yang berbeda, harga paling tinggi didapatkan untuk kopi yang masuk grade A (kualitas baik). Sebagai contoh, untuk kopi grade A, memiliki spesifikasi: bentuknya bulat, ukuran besar (± 1,0 cm), warna hijau muda (toska), aromanya kuat (mocca).

Dalam kegiatan penjualan kopi biji ke konsumen, pihak Kios Bu SUS, akan melayani permintaan konsumen sesuai dengan keinginan konsumen (pemilik kafe kopi dan pemilik pabrik kopi bubuk, biasanya konsumen (pembeli) menginginkan kualitas dan jenis kopi biji, serta kuantitas dan waktu pembelian (pengiriman) yang berbeda-beda. Untuk itu pihak Kios Bu SUS, akan memberikan pelayanan secara personal sesuai transaksi disepakati.

Apabila produk kopi biji yang diinginkan konsumen tidak tersedia pada saat tersebut, maka pihak dari Kios Bu SUS akan menginformasikan kepada rekan (mitra) bisnis. Jika harga dari produk kopi biji disetujui oleh rekan (mitra)

(8)

bisnisnya, maka akan dibeli oleh pihak Kios Bu SUS dan dijual kepada konsumen (pemilik kafe kopi dan pemilik pabrik kopi bubuk), sehingga bisa tetap melayani permintaan konsumen.

Untuk suplai kopi biji dari petani di sekitar wilayah Sumowono, umumnya berasal dari desa Ngadikerso, Kebonagung dan Pledokan, yang banyak menanam kopi dan secara rutin menjual ke Kios Bu SUS. Bila digambarkan jumlah kopi yang ditanam petani, di wilayah sekitar kecamatan Sumowono, secara komposisi adalah jenis kopi robusta sekitar 80% arabika sekitar 15%, dan excelsa sekitar 5%. Adapun deskripsi tentang kegiatan perdagangan kopi biji, adalah sebagai berikut:

1. Produk Kopi Biji

Produk kopi biji, yang diperdagangkan di Kios Bu SUS, sebagian besar adalah kopi robusta, yang berasal dari petani dan juga dari pengepul kopi (tingkat desa dan tingkat kecamatan) dari sekitar wilayah kecamatan Sumowono, baik itu yang berada di kabupaten Semarang, serta sebagian dari sekitar kabupaten Temanggung. Kopi biji dari jenis arabika, umumnya didapat dari dari pengepul kecamatan di sekitar kecamatan Pringsurat, yang dari petani sangat jarang menjual jenis kopi arabika.

2. Pemanfaatan Gudang di Kios Bu SUS

Aktivitas di gudang memberikan manfaat sebagai tempat menyimpan kopi biji yang telah dibeli dari petani dan pengepul, yang berasal dari wilayah yang berbeda- beda. Kopi biji yang telah dibeli, kemudian dilakukan penyortiran dan dilakukan grading, lalu disimpan dalam karung plastik, dengan grade yang tidak sama (grade A, grade B, dan grade C). Kopi biji yang telah disimpan dalam karung , dengan grade yang berbeda-beda, akan disimpan ditempat yang sama dengan pengelompokan karung plastik dengan grade yang sama, sehingga tidak tercampur dengan karung kopi biji dengan grade yang berbeda.

Manfaat pengelompokan karung kopi biji dengan grade yang sama di Kios Bu SUS, akan memudahkan konsumen dalam memilih kualitas dan kuantitas kopi biji, memudahkan produsen (Kios Bu SUS) dalam menentukan harga kopi biji.

Oleh karena itu pemilihan kopi biji saat pembelian dan tahap penyortiran serta grading kopi biji, harus diperhatikan dengan baik dan teliti, pabrik kopi bubuk dan pemilik kafe, yang pada umumnya sangat memperhatikan aspek kualitas kopi biji.

Pada proses penimbangan kopi biji yang dijual oleh petani dan pengepul (desa

(9)

dan kecamatan), aspek kuantitas (berat produk) sangat menentukan bagi petani dan pengepul, karena menyangkut hasil penjualan yang diterima oleh penjual (selain aspek harga). Produk kopi biji dari petani dan pengepul akan ditimbang, angka pada timbangan digital tersebut akan menghasilkan kuantitas dalam satuan kilogram (kg), kuintal (kw), atau ton, kemudian angka nominal timbangan digital dikalikan dengan harga jual yang telah disepakati (sesuai kualitasnya dan kesepakatan).

Variasi kualitas kopi biji, menyangkut kandungan kadar air dalam kopi biji ada beberapa hal yang mempengaruhinya, terutama musim. Kadar air kopi biji yang dijual pada bulan Januari, Februari, dan Maret saat musim penghujan, umumnya memiliki kadar air 18% s/d 20%. Kadar air ini membuat kopi biji tidak bisa kering secara optimal seperti yang dikehendaki (12% s/d 14%). Kondisi ini karena cuaca yang cenderung hujan dan tidak banyak sinar matahari, sehingga saat penjemuran kopi biji tidak bisa kering seperti yang diinginkan.

Dalam situasi seperti ini, petani dan pengepul terpaksa menjual kopi biji dengan kadar air yang masih tinggi, karena waktu penjemuran dan penyimpanan yang sudah cukup lama dan mereka membutuhkan uang untuk kegiatan musim tanam dan kegiatan usaha lainnya. Hal ini tentu saja akan membuat petani dan pengepul, tidak bisa mendapatkan harga yang lebih tinggi seperti yang diharapkan.

3. Dampak Persediaan Kopi Biji di Kios Bu SUS

Persediaan kopi biji di gudang yang dimiliki Kios Bu SUS dilakukan agar, produk tetap terjaga kuantitas dan kualitasnya. Namun demikian kegiatan dalam rangka menjaga persediaan kopi biji, perlu dilakukan dengan baik, agar tidak menimbulkan beban biaya bagi perusahaan (kios Bu SUS). Karena itu jumlah persediaan dan lamanya penyimpanan (persediaan), harus diperhitungkan dengan baik, diharapkan persediaan kopi biji yang ada di gudang tidak terlalu lama tersimpan, namun juga tidak boleh terjadi kelangkaan persediaan (stok), karena akan menganggu permintaan kopi biji dari konsumen.

Kios Bu SUS memanfaatkan situasi penawaran dan permintaan kopi biji yang ada di pasar di wilayah Sumowono. Jika saat itu penawaran kopi biji jumlahnya banyak, karena panen yang melimpah dari sekitar Sumowono, dan Kios Bu SUS memperkirakan harga jual kopi biji kedepannya akan mengalami peningkatan, maka kopi biji akan dibeli dalam jumlah yang cukup dan dilakukan penyimpanan

(10)

dengan baik di gudang agar kualitasnya tetap terjaga. Hal dilakukan oleh Kios BU SUS, untuk mendapatkan keuntungan yang optimal dan menjaga kebutuhan (permintaan) konsumen, sehingga tidak terjadi kelangkaan dan bisa memiliki persediaan kopi biji secara berkesinambungan.

Jika terjadi jumlah penawaran kopi biji dari petani di sekitar Sumowono, jumlahnya sedikit, karena tidak sedang musimnya panen, maka Kios Bu SUS akan menginformasikan kebutuhan kopi biji kepada pengepul kopi (tingkat kecamatan) dan mitra dagang (kios kopi biji lainnya) di kecamatan Pingit, untuk bisa memenuhi kebutuhan kopi biji yang diminta Kios Bu SUS. Adapun cara ini cukup sulit dan biaya menjadi lebih mahal namun perlu dilakukan agar terjamin ketersediaan kopi biji yang dimiliki Kios Bu SUS, sehingga bisa melayani kebutuhan konsumen (pabrik kopi bubuk dan pemilik kafe kopi). Berdasarkan pengalaman Kios Bu SUS selama puluhan tahun berdagang kopi, kondisi ini sangat jarang terjadi, karena bisa mencari kopi dari tempat lainnya di luar kabupaten dan provinsi melalui mitra dagang (kios kopi biji lainnya.

4. Risiko Bagi Kios Bu SUS

Risiko yang dihadapi Kios Bu SUS adalah produk saat membeli kopi biji dari petani dan pengepul, serta resiko harga saat menjual kopi biji ke pemilik kafe kopi dan produsen kopi bubuk. Aktivitas rantai pasok tersebut akan menimbulkan risiko bagi Kios Bu SUS tersebut yaitu risiko produk kopi biji karena petani atau pengepul melakukan kecurangan produk tidak yang optimal kualitasnya, atau penurunan kualitas kopi biji dari petani dan pengepul.

Dari kasus tersebut menyebabkan Kios Bu SUS, mendapat pengalaman agar menyortir dengan teliti saat membeli dari petani dan pengepul. Namun hal ini ada kelemahannya, apabila produk kopi biji petani datang, lalu dilakukan penyortiran dengan teliti maka dampak yang ditimbulkan memakan waktu yang lama dalam pelayanannya, sedangkan petani per hari mencapai 10 orang lebih dan ada kemungkinan datang pada saat yang relatif bersamaan, akibatnya ada yang lolos penyortiran. Misalnya lolos dalam penyortiran padahal produk tidak bagus dibeli Kios Bu SUS dengan harga bagus, atau produk datang dari petani terkadang kopi basah atau belum terkupas dengan baik, ada juga yang menjual kopi biji belum kering, sehingga perbedaan kadar air tersebut menyebabkan turunnya kualitas

(11)

produk kopi biji.

5. Produk Kopi Biji

Kualitas produk kopi biji, secara fisik dan aroma lebih banyak diukur secara kualitatif, karena tingkat keragaman kopi biji yang dijual oleh petani dan pengepul, sangat tinggi, sehingga diukur dengan melakukan pengelompokan kopi biji berdasarkan, ukuran, warna, aroma dan kotoran kulit, seperti berikut ini:

1. Ukuran Kopi. Biji grade A adalah ukuran yang besar, kopi biji grade B adalah ukuran yang sedang, dan kopi biji grade C adalah ukuran kecil.

2. Warna Kopi Biji. Kopi biji yang warna hijau muda (tosca) masuk grade A, kopi biji yang warna hijau pudar (ada warna putihnya) masuk grade B, sedangkan kopi biji yang warna putih pucat (hijaunya tidak terlalu nampak) masuk grade C.

3. Aroma Kopi Biji. Kopi biji dengan aroma menyengat harum, masuk grade A, kopi biji yang aromanya tidak terlalu menyengat, masuk grade B, sedangkan kopi biji dengan aroma yang sangat sedikit, masuk grade C.

4. Kotoran Kulit Kopi Biji Kopi biji yang tidak ada kulitnya, masuk grade A, kopi biji yang masih ada kulitnya, masuk grade B, dan kopi biji yang masih banyak kulitnya, masuk grade C.

Proses pembayaran dalam transaksi di Kios Bu SUS, saat membeli kopi biji dari petani dan pengepul dilakukan secara tunai saat terjadi kesepakatan penjualan (sepakat kuantitas, kualitas, dan harga). Sedangkan proses pembayaran saat menjual kopi biji ke pemilik kafe kopi dan produsen kopi bubuk bisa dilakukan secara konsinyasi, saat konsumen datang ke Kios Bu SUS, tergantung negosiasi dengan pihak kios. Situasi ini bisa berubah ubah tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

4.2 Strategi Generik Porter Strategi Fokus di Kios Bu SUS

Strategi Generik yang diterapkan oleh Kios Bu SUS dalam pemasaran kopi biji dilakukan dengan menerapkan srtategi fokus (focus), strategi pemasaran ini secara umum hanya berkonsentrasi pada target yang relatif sempit. Pada sekelompok segmen tertentu yang ada di pasar, dalam hal ini pasar kopi biji hanya melayani di sekitar wilayah Sumowono di kabupaten Semarang,

“sakeng langgane sing tumbas lan petani sing adol kopi, wes percoyo karo kios, trus muncul persodaraan mas, nek wong jowo koyo silahturahmi - kadang hajatan di undang,

(12)

nikahan di undang, ngono kui mas adate” (IK – 2 – B: 17)

“mas mriki niku manfaate gudang amergo ben barange iso di pilah pilah karo ben muat akeh. Selain kui ben iso groser karo ecer tergantung produk kopi seng di pileh konsumen mileh seng apik op biasa kopine (IK – 1 – A : 6)

Segmen Pasar Produk Kopi Biji dari Kios Bu SUS

Kios Bu SUS mempunyai pelanggan (konsumen kopi biji) yang tidak terlalu banyak, demikian pula petani dan pengepul kopi biji juga berasal dari sekitar wilayah Sumowono kabupaten Semarang. Target pasar kopi biji Kios Bu SUS adalah pasar tradisional, yang secara khususnya para produsen dan konsumen melakukan jual beli secara lokal dan tunai. Lokasi yang berdekatan dengan pasar tradisional akan menguntungkan pihak Kios Bu SUS, karena tidak mengeluarkan banyak biaya dalam promosi untuk mengenalkan produk kopi biji. Segmen pasar yang tidak terlalu luas ini, dirasakan lebih cocok dan mudah untuk dijalankan.

“ kios bu SUS melayani pasar lokal tok mas, biyen wis tau jajal melu pasar luas mas sak priode tapi kerjo ne dadi sepaneng mas, nuruti kualitas pasar luas ki yo barang kudu apek, telat sitik seneni, kerjo ne ora nyante, iro iso leren, nek dirasak-rasakke ngelayani pasar lokal wae, wes cukup mas ” ( IK – 2- C : 11)

4.2.1 Fokus Low Cost di Kios Bu SUS

Strategi low cost atau biaya rendah yang diterapkan Kopi BU SUS, dapat dilakukan karena kopi biji dibeli langsung dari petani dan pengepul yang ada, dengan jumlah yang banyak (melimpah) sehingga diperoleh harga yang relatif lebih rendah. Hal ini yang kemudian juga akan dapat digunakan untuk menjual kopi biji ke konsumen (pabrik kopi bubuk dan pemilik kafe kopi) dengan harga yang bersaing juga. Situasi ini memberikan dampak positif dalam kontinuitas penjualan kopi, pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan perdagangan kopi biji sama-sama diuntungkan.

“kene dodole ngandalke barang seng dibeli mas, dadine regane kopi iso rendah tanpa rugi, kabeh sepakat sama sama puas”( IK – 2 –C : 16)

Dalam menjalankan strategi low cost, juga ada aspek operasional yang meningkat, seperti pelayanan yang baik dan sopan. Konsumen akan merasa lebih diperhatikan sehingga konsumen akan merasakan tingkat kepuasan yang lebih dan akan menjadi loyal terhadap produk kopi biji dari Kios Bu SUS.

(13)

Kios Bu SUS berusaha untuk memberikan informasi perkembangan harga kopi, dengan berpedoman harga pasar ekspor-impor produk kopi, sehingga konsumen selalu memperoleh info harga yang terkini dan merasa puas.

“Tergantung pembeli juga mas kadang harga rendah, kadang tinggi, kadang manut kualitas seng koyongopo, tapi kene regane iso dadi groser opo ngecer, mergo kuantitase mas”(IK – 3 – D :12)

“ Selalu abdet info rego to mas, ben konsumene ora ketinggalan informasi lan rego pasar pedomane ya pasar ekspor-impor mas, liwat media sosial ” ( IK – 3

– B: 17).

4.2.2 Fokus Keunikan Produk di Kios Bu SUS

Keunikan pada jenis produk kopi biji, diharapkan dapat memuaskan konsumen khususnya pemilik kafe kopi yang sangat membutuhkan kopi yang berkualitas bagus, fenomena tersebut memunculkan selera dan kualitas kopi biji yang relatif tinggi oleh konsumen. Kios Bu SUS ini, dapat dipenuhi karena telah mempunyai gudang untuk menyimpan produk yang berkualitas dari petani dan pengepul di berbagai jenis kopi.

Strategi ini diterapkan oleh Kios Bu SUS, sehingga konsumen dapat memilih produk kopi biji dengan keunikan produk yang konsumen ingin beli, dengan strategi ini loyalitas akan muncul dari konsumen sehingga pihak kios mendapatkan citra baik. Selain itu Kios Bu SUS mengantisipasi apabila produk yang diinginkan konsumen tidak ada, melakukan strategi kerjasama atau koordinasi kepada mitra kerjanya agar bisa memenuhi kebutuhan konsumen akan kopi biji yang berkualitas

“ Biasane konsumen ki, misale mas kopi seng apek seko endi, kopi temanggung ono pora mbak, dadine yo kudu nyetok, nek grade te tergantung selera konsumen mas”(

IK- 3 – B : 15 )

“ fungsi gudang iki ya produke ben aman, ora jamurin opo keno penyaket, karo milah milah produk seng bangsane apek karo elek, nek di campur kabeh biasane konsumen ora gelem. Podowae nek ora dipisah, ya produk seng apek dadi elek,, barang tukune duwur oar diopeni dadi ora bati to mas”( IK– 3 – A : 5)

“kualitas kopi onten grade mas, onten A onten B onten C, tergatung apek pora kopine, bentu e kopi lemu gede grade A, ora lemu tapi ora pecah grade B, kopine pecah- pecah warna kurang bagus grade C mas. Nek penjemuran petani biasane 4 sampai 5 ndino, penjemuran tergantung cuacane mas, kui pangaruhe neng kualitas kopi mas, petani sak wise di jemur langsung disetorke kios, kadar air mong ngangge kiro kiro mawon, di demek ngangge tangan, nek ngangge alat suwi antrineselak akeh” (P – 2 – F : 1)

“Kios Bu SUS nek ono pelanggan aku ya kudu iso ngarahke mas ben pelanggan ora bingung mileh produke mas” ( IK – 2 – A : 3)

(14)

“Ya nek bentuke kopi ya nguno kui nek robusta bulet, arabika agak lonjong, exselsa bulat kecil, rasanya juga berbeda beda mas,, ada yang asam pekat,, ada yang asam, konsumen seleranya berbeda beda mas, dadi ne tak pisah pisah ik grade A, iki grade B ik grade C dadine gampang karo wong tuku ya seneng, produk yang lain ya jamu jamuan koya jahe, kunyit, kemukus, coklat, vanila ,kapulaga, cabe dan jagung) produk”

(IK -2 –B : 1)

4.2.3 Strategi Fokus Dalam Pemasaran Kopi di Kios Bu SUS

Dalam menjalankan kiosnya Bu SUS mendapatkan kopi biji langsung dari petani kopi tanpa perantara yang datang langsung menjual ke kios. Hal itu yang membuat harga kopi miliknya menjadi lebih murah dengan kualitas yang relatif terjaga, selain itu ada faktor tertentu yaitu biaya operasional untuk menjemur kopi yang dijual glondong oleh petani sudah terkendali oleh Bu SUS karena telah memiliki gudang di kiosnya, dan biaya untuk tenaga kerjanya cukup rendah, hal tersebut menyebabkan harga kopi biji Kios Bu SUS menjadi low cost.

Demikian pula dalam hal promosi di pemasaran kopi, pihak Kios Bu SUS melakukan strategi pemasaran yang membuat biji kopi miliknya dikenal banyak orang, melalui penggunaan media whatsapp, dengan diimbangi dengan lokasi (tempat) usaha yang strategis agar menarik banyak pelanggan yang lewat di kios Bu SUS. Oleh karena itu Kios Bu SUS memilih wilayah pasar tradisional Sumowono sebagai tempat berjualan kopinya. Seperti diuraikan oleh narasumber pemilik kios, berikut ini.

“ dadi biji kopine langsung dipasok karo petanine ,mulakno rego kopi nek Kios Bu SUS regone miring utowo murah. Nak aku ki promosine ber seko Whatsapp terus aku ngestory dagangganku nek whatsapp. Nak masalah panggonane ki aku biyen entok rego muurah terneh cedak pasar makane tak tuku” (IK – 1 – B : 3)

Adapun rangkuman gambar yang mendeskripsikan pemasaran kopi di Kios Bu SUS, dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

(15)

Gambar 4.2. Deskripsi Pemasaran Kopi di Kios Bu SUS

4.3 Strategi Bauran Pemasaran (Marketing Mix) Dalam Pemasaran Kopi di Kios Bu SUS

Strategi pemasaran generik yang cenderung digunakan dalam pemasaran kopi biji oleh Kios Bu SUS adalah strategi fokus, dengan menerapkan keunggulan biaya rendah (low cost) dan keunikan produk (product uniqueness) pada kualitas kopi.

Fenomena tersebut diperkuat pada penerapan produk kopi biji yang dipilah atau dipisah di dalam gudang, antara kualitas A, kualitas B, dan kualitas C, agar produsen fokus dalam menawarkan produk, sebaliknya konsumen secara tidak langsung menjadi fokus dalam bujukan produsen. Strategi yang utama lainnya yang diterapkan Kios Bu SUS adalah fokus yang diimbangi dengan low cost, sehingga bisa didapatkan harga yang rendah.

(16)

Aktivitas produk tersebut terkadang jadi berubah dikarenakan konsumen mementingkan keunikan produk atau adanya perbedaan produk (differentiation product) yang berkualitas, sehingga strategi generik Porter, terbilang bisa berubah kelompoknya dikarenakan konsumen. Strategi fokus pada Kios Bu SUS juga digunakan dalam aktivitas strategi bauran pemasaran (maketing mix), yang meliputi: produk (product) harga (price) promosi kopi (promotion), dan distribusi kopi (place) (Kotler dan Amstrong, 2008).

Bauran pemasaran ini memiliki peran yang penting bagi Kios Bu SUS, karena masing-masing komponen bauran pemasaran akan mempengaruhi pengeluaran dan penerimaan usaha, yang akhirnya berpengaruh pada keuntungan. Produk kopi, promosi, dan lokasi (tempat) akan mempengaruhi besar kecilnya pengeluaran karena terkait dengan biaya yang dikeluarkan (membeli kopi dari petani dan pengepul, biaya promosi, dan biaya distribusi dan tempat).

kepada pembeli produsen kopi yang berkualitas jadi cukup karena promosi bagus, lokasi strategis, dan produknya memiliki keunikan), maka diharapkan keuntungan yang didapatkan oleh Kios Bu SUS dapat meningkat. Hal inilah yang menjadikan pentingnya strategi bauran pemasaran (marketing mix) yang dikaitkan dari strategi generik Porter, seperti diuraikan diatas.

4.3.1. Produk Kopi Biji di Kios Bu SUS

Produk kopi biji, yang utama, yang dijual oleh Kios Bu SUS, adalah jenis kopi arabika, robusta, excelsa. Hal ini dikonfirmasi dari pernyataan informan kunci dan partisipan, yang memberikan informasi Kios Bu SUS

“produk di sini habis di sortir dipilih kualitase, terus di pisah pisah mas, siji perawatane gampang, ke pindo melayani konsumen ya gampang mas, ora berbelit belit, dadi konsumen yo ora ragu ora samar ngapusi.” (IK – 3 – C -19).

“Penyortiran grade-nya beli dari petani langsung di sortir ikut grade A, B atau C, di gudang di belakang sudah di pisah-pisah, seng A pojok sana, seng B pojok sini, yang C pojok sini. Yang kopi robusta sebelah sini, sesuai jenisnya dan tempat. jadi kalau mau jual sudah tau tempatnya”.( IK – 3 – A :6)

“Menurut kios mas, nek kualitase apek ya lemu lemu, nek seng biasa ya ora lemu ora pecah, nek seng elek pecah, ya kopi elek ngono tok mas” (P2 –C :2)

“ nek biji Kopi ya kiro kiro wae, ya ngandalke pengalaman, ya ketok moto wes ngerti patokane, yo kui biasane mas”(P2 – C: 3).

4.3.2. Lokasi / Tempat Kios Bu SUS

(17)

Istilah lokasi atau tempat yang digunakan untuk transaksi dalam pemasaran (perdagangan) kopi adalah mangkal atau manggon, bahasa tersebut digunakan pasar tradisional untuk kode tempat. Kios Bu SUS. Lokasi atau tempat usaha kios yang strategis tersebut sekaligus juga akan terlihat unik dan efisien dalam pembelian konsumen. Selain itu petani menghemat biaya tranportasi karena kios terletak di tengah tengah pasar tradisional, dan pasar dimana ada situasi puncaknya jual beli pada hari pasaran, yaitu kliwon. Keunggulan tersebut dapat menambah keuntungan Kios Bu SUS, tanpa mengeluarkan biaya maupun tenaga yang berlebih.

“ Alhamdulilah tempat usaha dapet neng cedak pasar tradisonal,, dadi entok nilai tambah seko konsumen karo petani mas, terus ono punca e pasar tradisonal dino Kliwon, dadi wong wong anyar lawas iso weruh opo jujuk mas” (KI - 3-B: 10).

4.3.3. Harga Kopi Biji di Kios Bu SUS

Istilah lokal lainnya di pasar tradisional yang terkait dengan harga adalah istilah rembug, yaitu: membicarakan soal harga antara konsumen dan produsen, yang akhirnya diharapkan menghasilkan kesepakatan kedua belah pihak. Rembug menjadi istilah atau kebiasaan masyarakat pasar tradisional yang dipakai oleh Kios Bu SUS, yang dengan sengaja maupun tidak sengaja menambah loyalitas konsumen dalam membeli kopi biji.

Harga adalah nilai yang tercantum dalam daftar harga atau dapat juga diartikan harga sebagai nilai akhir yang diterima oleh kios sebagai pendapatannya. Selain itu kopi yang dibeli dari petani akan disortir untuk menentukan kualitas produk, oleh sebab kualitas kopi dari petani akan menghasilkan harga sehingga nilai nominal kopi yang akan diberikan kepada petani oleh Kios Bu SUS, tidak menggunakan sistem kontrak pada petani, siapapun yang akan menjual produknya akan diterima dengan ketentuan ketentuan yang diberikan oleh Kios Bu SUS, sehingga tidak menyebabkan salah paham antara pihak dari petani dan Kios Bu SUS.

Menurut Kusumah (2012), dalam transaksi diharapkan persetujuan dari dua pihak antara konsumen dan produsen. Apabila konsumen membeli produk (transaksi) dengan Kios Bu SUS, maka sistem yang dipakai oleh kios ada dua cara, yaitu: secara langsung (tunai) dan bertahap (konsinyasi). penjelasan transaksi secara

(18)

langsung Adalah pembayaran secara empat mata atau bisa dibilang secara tunai.

Kios Bu SUS menerapkan hal tersebut, konsumen datang ke kios , membeli produk dan konsumen langsung membayar kepada pihak Kios Bu SUS.

Pembayaran secara bertahap bisa mengikat konsumen agar terjadi loyalitas konsumen Kios Bu SUS mendefinisikan pembayaran bertahap (konsinyasi), sebagai suatu perjanjian antara dua pihak, dengan salah satu pihak sebagai pemilik barang menyerahkan barangnya ke pihak tertentu atau pihak lain untuk menjualnya dan pembayaran di awal setengah harga pelunasan tergantung perjanjian kedua belah pihak (Kusumah, 2012). Begitu pula penetapan harga jual produk kopi, dilakukan cukup fleksibel dan tergantung kesepakatan yang telah terjadi saat negoisasi harga, seperti pernyataan berikut ini oleh informan kunci.

“ menurut pembeli, rego kopi ke pemilik kafe kalih produsen kopi bubuk luwih murah dibanding pedagang lain. Kita kasih harga kopi yang bersaing ini, mergo kuantitas pembelian dalam jumlah banyak, biasanya membeli sak kuintal lebih per minggu dengan harga Rp.21.000/kg kopi biji” (IK-2 – A : 14).

Tujuan Menetapkan harga

Tujuan dari Kios Bu SUS menetapkan harga adalah untuk keberlangsungan usaha, dengan mempertimbangkan aspek distribusi (tranportasi), kualitas barang dan keuntungan yang diinginkan, dengan demikian akan semakin cepat kios akan memperoleh keuntungan dan sehingga usahanya akan bertahan di tengah-tengah pasar tradisional.

“persaingan perdagangan komoditas hasil bumi. ‘harga tujuane ya entuk bati mas, karo balik modal cepet ya meng kui mas tujuan ne kios’. ” (IK - 3- A : 19).

Berikut adalah harga beli dari petani dan harga jual ke konsumen, yang menunjukkan pihak Kios Bu SUS umumnya mengambil laba seribu sampai dengan lima ribu untuk jenis komoditi kopi . Keuntungan kios apabila palawija pada musim tertentu naik harganya, sedangkan beli produk dari petani pada saat harga turun, faktor tersebut membuat Kios Bu SUS dapat keuntungan optimal dalam penjualan komoditas hasil bumi secara umum, dan jenis produk kopi pada khususnya.

Tabel 4.2 Harga Komoditas Hasil Bumi di Kios Bu SUS

(19)

No Komoditas

Harga Beli dari Petani (Rp/kg)

Harga Jual ke Konsumen

(Rp/kg)

Keterangan (beli dari Petani) 1.

2.

3.

4. 2 5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

Robusta Grade A Robusta Grade B Robusta Grade C Arabika Grade A Arabika Grade B Arabika Grade C Excelsa Grade A Excelsa Grade B Excelsa Grade C Jahe basah Kunyit

Vanili (per batang) Cabe payung Kemukus Kapulogo Laos basah Jagung Menir Cengkeh

22.000 19.000 16.000 23.000 20.000 17.000 24.000 21.000 18.000 20.000 2.000 100.000 40.000 18.000 150.000 4.000 4.000 17.000 65.000

25.000 22.000 19. 000 26.000 23.000 20.000 27.000 24.000 21.000

25.000

3.500 150.000 50 000 250.000 200.000 5.000 6.000 20.000 75 000

Biji Kering

Buah Basah Umbi Kering

Buah Basah Umbi Kering

Biji Basah Biji Kering Biji Kering Biji Kering Biji Kering Biji Kering

Sumber:Data Primer (Diolah), 2021

Laba kotor tertinggi per bulan yang pernah didapatkan dari Kios Bu SUS mencapai Rp.100.000.000, sedangkan terendah Kios Bu Sus mencapai sekitar Rp 50.000.000 laba kotor, dari aktivitas perdagangan komoditas hasil bumi, dengan produk utama dari kopi biji. Biaya sebagai salah satu faktor dari penetapan harga, sehingga terjadi keseimbangan antara biaya dengan keuntungan kios agar bisa berjalan melakukan kegiatan perdagangan komoditas hasil bumi, khususnya produk kopi biji. Deskripsi yang terkait dengan komoditas hasil bumi dan penetapan harga, dapat dikonformasi dari pernyataan berikut ini:

“Yang dijual polowijo sini kopi, palawija yang lain’’ kan ada cengkeh, kapulogo, kemukus,cabe puyang, jahe, coklat’’ pokok yang di jual. Masih banyak lagi pendukungnya” ( IK -2 –F :6)

“Kalau petani menjual di sini kan punya harga pokok, manut harga pasar atau eksportir. Petani ke Kios Bu SUS takon rego pinten sakniki, entok di tuku ra entok ya

(20)

udah.”(IK – 2 – B : 13)

“Langganan Kios Bu SUS cedak cedak mriki onten boten ,,, di petani sama bakul bakul ya, kalau di data sampai 200 sampai 300 orang ya ada ya cuman tinggal kuantitasnya dan kualitasnya sedikit atau banyak. Kalau petani dia jual saat dia butuh kan.’’

Lengganan ada yang sering kafe kafe Bandungan, sekitare. Ngambil sirup jahe ngambil sini, kopi juga. Kegiatan sosial ada mas biasane seko petani sing wis langganan nek ono hajatan op nikahan di kei undangan, konsumen geh onten mas,, ya teko to mas nambah sedulur tambah umure”(IK– 3 – A : 7)

“nek harga nentukane, ya harga tukune piro karo harga pasar piro, engko di tentukke regone ngono to mas” (IK – 2 – A :12).

Kualitas dan Harga

Kualitas dan harga produk kopi saling berkaitan, kualitas menyebabkan munculnya nilai nominal harga suatu produk apakah tinggi atau rendah. Kualitas sangat diperlukan bagi produsen dan konsumen, sehingga akan mendorong minat konsumen terhadap produk kopi biji tersebut. Pengalaman dalam perdagangan kopi ini harus sangat diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan penjualan terhadap konsumen, karena konsumen bila ada kesalahan terkait dengan kualitas yang tidak sesuai, maka konsumen akan berpindah tempat ke kios lainnya untuk membeli produk seperti yang diinginkannya.

Hal yang utama dari kualitas juga dipengaruhi oleh rasa dan aroma. Harga yang sesuai dengan kualitas rasa dan aroma akan menjadi kepuasan tersendiri bagi konsumen. Sebaliknya apabila harga tidak klop dengan kualitas akan terjadi kegagalan dalam usaha perdagangan ini dan konsumen akan tidak mau lagi membeli produk yang disajikan kios.

“Kualitas seko petani bermacam macam mas ada seng kualitas A kualitas B ono seng C dadi harga seko petani maupun konsumen bedo bedo man ono seng suwur regane ono seng rendah regane, soale konsumen ya bedo bedo juga kebutuhane,, misale pengen kualitas apek kok di kei elek,, yo nesu mas,, bejo nek nesu tok, nek ora tuku meneh gon kene ya ciloko”( IK – 3 – B : 7)

“ saya bisa jualan minuman lebih nyantai, karena produk kopi biji dari kios bu SUS hargannya relatif murah”(P-4 - C: 1)

“buat saya rego kopi sangat fleksibel, sing penting ke saya harga masuk dan bu Eni juga harga wajar, negonya sama-sama menguntungkan “(P-3 - D: 2).

4.3.4. Promosi Kopi Biji di Kios Bu SUS

Promosi yang dilakukan oleh kios, adalah guna mencari konsumen untuk

(21)

membeli produk kopi biji dan mempermudah produsen melaksanakan kegiatan pemasaran di pasar tradisional, sehingga konsumen tertarik membeli produk yang disajikan. Pertama kali cara promosi dari pihak Kios Bu SUS mendatangi produsen yang terletak Semarang dan kafe kopi di daerah Sumowono Kabupaten Semarang.

Seiring berkembangnya zaman teknologi mulai digunakan oleh pihak Kios Bu SUS, memperkenalkan barang atau produk lewat whatsApp. Apabila ada yang sudah berlangganan di Kios Bu SUS, kebanyakan konsumen memesan produk yang di inginkan hanya lewat whatsApp saja akan lebih efisien.

Awal promosi mas mulut ke mulut mas kan teknologi belum canggih seperti sekarang jadi hanya mengandalkan kepercayaan memberikan penekanan produk yang maksimal jadi konsumen seneng engko crito karo tanggane apa sodarane ik tuku kono lo barange bagus. Lambat laun muncul tv, media sosial, nah sejak ada media sosial memakai whatsapp lebih membantu sampai sekarang”(IK-2-C: 14).

Promosi Kios Bu SUS yang berfokus dalam hal yang pasti dan akurat, agar tidak terjadi penghamburan dana atau modal contohnya promosi ke perusahaan perusahaan yang bergerak di bidang kopi saset, seperti kapal api dan bermacam macam kopi saset yang di jual di kalangan masyarakat. Dengan metode promosi yang efisien lewat WA ini, maka dana bisa ditekan lebih hemat karena tepat sasaran.

“dengan adanya WA mas promosi dadi hemat mas neng endi wae iso ngerti keunggulane dadi tepat sasaran promosine, luweh pasti karo cepet komikasine konsumen maupun petani menghemat biaya tranportrasi kaleh waktu mas” (IK – 3 – C :11)

“Nek konsumen puas kan mesti sengojo ra sengojo mesti crito karo keluarga, opo kaleh konco mas,, nah kui nilai tambah gawe kios mas, tanpa menjelaskan produk kios apik, konsumen datang ke kios wes langsung percoyo nek barang bagus” ( IK – 2 – C : 15)

Promosi ya biasane nek ono konsumen, biasane karo menghemat waktu promosi, konsumen tuku ning kios karo di kei produk liane ben tertarik minimal ngerti to mas. karo produk kios opowae” (IK – 2 – C :16)

“ Wah mas kepercayaan konsumen ki gampang gampang angel,, kene rasane wes maksimal jebulane hurung,, tetep biasa wae konsumene kadang ya ono seng gampang, wong ki selerane bedo bedo to mas, ya kene sepenteng ngedoli semaksimal mungkin”. ( IK – 3 – C :12)

“Ya kalau misal terkadang ada barang yang diinginkan Konsumen tidak punya pihak kios , tetapi punya barang hampir mirip ke gunaanya , kios bagaimana caranya membujuk agar konsumen mau” (IK – 3 – C : 13)

“kadang mas sebagai pihak kios harus mengakrapkan dengan pelanggan ben pelanggan merasa di perhatikan keinginanya tidak sekedar mendapatkan uang, agar selalu ingat terhadap kios ,dan sebagai pihak kios selalu mengingatkatkan di karenakan pesaing juga banyak to mas” (IK – 2 -D : 16).

(22)

Personal Selling dan Direct Selling

Pertemuan empat mata dengan konsumen saat bertemu langsung di kios, akan dilanjutkan di media sosial menggunakan media handphone, pihak Kios Bu SUS memberikan informasi online lewat WhatsApp, tujuannya menciptakan kepercayaan dan loyalitas terhadap produk kopi biji yang kios tawarkan. Manfaat personal selling atau penjualan perorangan adalah menjalin keakraban terhadap konsumen secara langsung dan membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen melalui penerapan komunikasi dua arah, yang bisa juga memanfaatkan teknologi.

Teknik pemasaran personal selling ini bisa memberikan informasi teknis yang lebih detail dari produk kopi biji yang ditawarkan sehingga konsumen lebih memahaminya, juga pihak penjual dan pembeli bisa mendiskusikan harga dan persyaratan jual-beli agar transaksi yang dilakukan lebih transparan. Cara ini sangat efisien untuk diterapkan karena meminimalkan waktu dan biaya untuk menginformasikan.

Direct selling atau penjualan langsung oleh Kios Bu SUS dalam rangka promosi dilakukan mengikuti perkembangan zaman dan perkembangan teknologi, yaitu menggunakan WhatsApp. Media promosi dengan WA ini, dilakukan agar lebih mudah dan menghemat biaya promosi.

Walaupun menunggu target yang dituju, apabila konsumen tertarik barulah pihak kios interaktif dengan konsumen yang bisa ditindaklanjuti dengan teknik pemasaran personal selling. Beberapa aktivitas penjualan langsung (direct selling), yang dilakukan oleh Kios Bu SUS adalah mengirim sampel kopi biji yang berkualitas, mengirim brosur yang berisi daftar produk (stock baru) dan harga dari kopi biji yang terbaru kepada konsumen. Kegiatan direct selling yang dilakukan oleh Kios Bu SUS ini, juga menunjukkan keaktifan dalam menjual produk kopi biji, karena konsumen secara rutin akan di informasikan tentang produk kopi biji, sehingga konsumen merasa diperhatikan dan diingatkan akan adanya produk kopi biji yang dimiliki oleh Kios Bu SUS.

“ Dulu mungkin susah ya mencari orang ya, sekarang kan sudah gak gaptek ya lewat HP kita sudah bisa jualan. Yang mau jual di sini ya telfon, harga naik atau turun, barang apa aja telpon atau Whatsapp. Ada juga yang sudah kontrak jam sekian kirim ngabari dulu” (IK 3 - E : 14)

(23)

“ya promosinya,, ya cuma lewat WA mas membuat status di WA nanti ada yang tertarik baru aktif to mas,, ben konsumen tertarik dan gelem tumbas, ya ngono tok mas” (IK- 2 – A:11).

Dari uraian diatas dapat dirangkum alternatif strategi pemasaran kopi di Kios Bu SUS, sebagai berikut Strategi generik Porter, menggunakan strategi fokus harga rendah (low cost focus) dan fokus keunikan (differentiation focus). Produk kopi yang berkualitas, serta strategi bauran pemasaran (marketing mix).

Deskripsi diatas dapat dilihat pada Gambar.4.3 di bawah ini

Gambar 4.3 Alternatif Strategi Pemasaran Kopi di Kios Bu SUS Strategi Pemasaran

Komoditi Kopi

Strategi Fokus

Fokus Biaya (Low Cost)

Fokus Keunikan (Differentiation) Strategi

Generik Porter

Lokasi

Promosi

Harga

Strategi Bauran Pemasaran (Marketing

Mix) Produk

Komoditas Kopi Di Kios Bu SUS

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan asas ini ada tiga cara pendekatan dalam teknik konservasi tanah, yaitu (1) menutup tanah dengan tumbuh-tumbuhan dan tanaman atau sisa-sisa tanaman/tetumbuhan

Berdasarkan hasil wawancara tersebut jelaslah bahwa sempitnya pemahaman keagamaan yang dimiliki peserta didik menjadi salah satu tantangan dalam implementasi nilai-nilai

(YHA) dan PT YKK ZIPPER INDONESIA serta bekerjasama dengan Real Madrid Foundation (RMF), program dua tahunan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman unik yang tak terlupakan

permukaan benda kerja. 2) Tanda pengerjaan adalah lambang bagi suatu perintah proses pengerjaan. 3) Harga kekasaran (Ra) adalah harga kekasaran rata-rata maksimum yang

[r]

Perjanjian Batas Laut Indonesia dengan Singapura , http://fendy-oyee.blogspot.com/2010/05/perjanjian-batas-laut-barat- indonesia.html, di akses pada tanggal 22 Juni 2014.. Eko

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan media kartu bergambar dengan media gambar pajang terhadap penguasaan kosa kata bahasa lnggris anak tunarungu di

Stanton adalah sistem keseluruhan dari kegiata usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosika dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat