BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Rumah sakit merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki peran sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Peran tersebut dewasa ini semakin menonjol dengan timbulnya perubahan epidemiologi penyakit, struktur demografis, sosioekonomi masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan teknologi (Iptek), dan pelayanan yang lebih bermutu, ramah serta sanggup memenuhi kebutuhan yang menuntut perubahan pola pelayanan kesehatan di Indonesia (Aditama, 2004). Peran strategis ini didapat karena rumah sakit adalah organisasi yang sangat dinamis dengan fasilitas pelayanan jasa, yang mempunyai sarana prasarana dan peralatan yang dipakai dengan padat ilmu pengetahuan, teknologi dan kespesifikan dalam Sumber Daya Manusia (SDM), yang terdiri dari berbagai macam profesi. Salah satu profesi yang mempunyai peran penting di rumah sakit adalah keperawatan.
Di era revolusi industri 4.0, profesional kinerja tenaga kesehatan menjadi tren isu yang menjadi sorotan penting di dunia kesehatan, dan menjadi sorotan oleh berbagai pihak. Hal tersebut terjadi sebagai konsekuensi tuntutan masyarakat terhadap kebutuhan akan pelayanan prima atau pelayanan yang bermutu tinggi yang tidak terpisahkan dari standar, karena kinerja diukur berdasarkan standar (Mandagi et al., 2015).
Rumah sakit merupakan suatu instansi yang bergerak dalam bidang pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang diberikan rumah sakit meliputi pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Pelayanan kesehatan yang saat ini berkembang di rumah sakit tidak hanya mengenai bangunan rumah sakit (seperti ukuran, kompleksitas, jumlah unit), jumlah kualifikasi staff medis dan non medis, sistem keuangan dan sistem informasi, tetapi mengenai kualitas pelayanan pekerja kesehatan dalam memberikan pelayanan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan tujuan tersebut berbagai jenis dengan perangkat keilmuan yang beragam harus berintegrasi satu sama lain, salah satu terpenting dalam lingkaran pemberi pelayanan tersebut adalah perawat.
Perawat merupakan salah satu penggerak mutu dan kualitas layanan di rumah sakit yang diwujudkan melalui pelayanan prima (Perry & Humborstad, 2008). Pelayanan prima sangat penting dilaksanakan dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien karena selain berkonstribusi dalam meningkatkan kualitas layanan, pelayanan prima juga dapat meningkatkan kepuasan pasien dan mendorong pasien untuk datang kembali berobat di rumah sakit tersebut
Pelayanan keperawatan adalah bagian dari sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit yang mempunyai fungsi menjaga mutu pelayanan, yang sering dijadikan barometer oleh masyarakat, dalam menilai mutu rumah sakit, sehingga menuntut adanya profesionalisme perawat dalam bekerja yang ditunjukkan oleh hasil kinerja perawat baik itu perawat pelaksana maupun pengelola dalam
nyaman dan tidak puas yakni adalah kinerja dari perawat dalam melaksanakan tugas yang tidak sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Sholikhah et al., 2021).
Kinerja berasal dari pengertian performance, ada pula yang memberikan pengertian performance sebagai hasil kerja / prestasi kerja. Namun sebenarnya kinerja mempunyai makna yang lebih luas, bukan hanya hasil kerja tetapi juga termasuk bagaimana proses pekerjaan berlangsung (Wibowo, 2007)
Tenaga perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memegang peranan penting dalam meningkatkan derajat kesehatan dan merupakan tulang punggung di fasilitas pelayanan karena jumlah nya lebih banyak dibandingkan tenaga Kesehatan lain dan juga waktu yang lebih lama serta memiliki lebih banyak interaksi dengan pasien dan keluarga (Wenda Anthonie, 2022).
Perawat bukan saja melaksanakan pelayanan kepada pasien, tetapi banyaknya juga tugas tambahan yang harus dikerjakan oleh perawat, dapat mengganggu pekerjaan dari perawat. Akibat negatif dari banyaknya tugas tambahan perawat, diantaranya timbulnya emosi perawat yang tidak sesuai dengan yang diharapkan dan berdampak buruk bagi produktifitas perawat yang berujung pada kinerja perawat. Pengelolaan tenaga kerja yang tidak direncanakan dengan baik dapat menyebabkan keluhan yang subyektif, beban kerja semakin berat, tidak efektif dan efisien yang memungkinkan ketidakpuasan bekerja, pada akhirnya mengakibatkan turunnya kinerja dan produktivitas serta mutu pelayanan yang merosot (Novianty, 2019)
Hasil penelitian oleh (Novianty, 2019) gambaran kinerja perawat berdasarkan hasil analisis univariat sebanyak 8 perawat (21,1%) mempunyai kinerja tinggi dan 30 perawat (78,9%) mempunyai kinerja rendah. Dari hasil distribusi frekuensi tersebut dapat disimpulkan bahwa lebih dari setengahnya (78,9%), kinerja perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit PMI Kota Bogor adalah rendah.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Yusmahendra dan Yusnilawati , 2020) menyatakan bahwa kinerja perawat baik sebanyak 51 responden (60,7%), kurang baik sebanyak 33 responden (39,3%) dan responden yang merasa puas sebanyak 55 responden (65,5%), yang merasa kurang puas sebanyak 29 responden (34,5%). Hasil Uji Chi Square terdapat hubungan yang signifikan antara kinerja perawat dengan kepuasan pasien dengan P-Value sebesar 0,002. Dengan tingginya nilai kinerja perawat yang baik maka akan menciptakan kepuasan pasien yang tinggi.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja antara lain faktor individu pekerja, faktor organisasi, faktor psikologis (Notoatmodjo, 2007). Salah satu yang sering dapat sebagai sebab menurunnya kinerja adalah keterampilan atau kemampuan seorang pekerja dalam bekerja. Pekerjaan seorang perawat tidak luput dari adanya tekanan psikologis yang dapat menyebabkan stress, kelelahan, kecemasan, traumatic sekunder dll. Hal ini disebakan karena tingginya beban kerja yang harus dilaksanakan oleh perawat (Fujianti et al., 2020). Berdasarkan hasil penelitian (Nirmalarumsari, 2022) bahwa responden yang mengalami stres kerja
sebanyak 39 orang (76,5%) dan jumlah responden yang tidak mengalami stres kerja sebanyak 12 orang (23,5%).
Berdasarkan penelitian oleh (Ahmad & Vera, 2019) yang berjudul Hubungan Tingkat Stres Kerja dengan Kinerja Perawat di Ruang Instalasi Gawat Darurat RSU Kabupaten Tangerang hasil Chi Square didapatkan P=Value 0.028 <
0.05 yang artinya terdapat hubungan antara tingkat stres kerja dengan kinerja perawat.
Menurut IASC (2020), penyebab tenaga kesehatan mengalami kecemasan terutama di masa covid-19 sekarang ini antara lain tuntutan pekerjaan yang tinggi, termasuk waktu kerja yang lama, jumlah pasien yang terus meningkat, semakin sulit mendapatkan dukungan sosial karena adanya stigma masyarakat terhadap petugas garis depan, alat perlindungan diri yang membatasi gerak, kurang informasi tentang paparan jangka panjang pada orang-orang yang terinfeksi, dan rasa takut petugas garis depan akan menularkan Covid-19 pada teman dan keluarga karena bidang pekerjaannya.
Hasil Penelitian Lai et al. (2020), tentang tenaga kesehatan beresiko mengalami gangguan psikologis dalam mengobati pasien Covid-19, menunjukkan bahwa terdapat 50,4% responden memiliki gejala depresi dan 44,6% memiliki gejala kecemasan karena perasaan tertekan. Hal yang paling penting untuk mencegah masalah kecemasan adalah menyediakan alat pelindung diri yang lengkap, sehingga tenaga kesehatan dalam menjalankan tugasnya tidak merasa khawatir dengan dirinya sendiri bahkan dengan anggota keluarga mereka.
Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi memberikan pelayanan secara kuratif, rehabilitatif, preventif, dan promotif, menjadi pusat rujukan untuk wilayah Barat, serta tempat penelitian dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. Dalam menjalankan fungsinya rumah sakit harus melaksanakan pelayanan yang berkualitas dan profesional serta berorientasi kepada kepuasan pelanggan, secara terus menerus berupaya meningkatkan kualitas mutu pelayanan dan kinerja rumah sakit.
Survei awal yang peneliti lakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi pada Agustus 2020 terhadap para perawat yang bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi, dari 10 perawat yang peneliti wawancarai, 10 orang perawat menyatakan bahwa mereka mengalami kecemasan setiap menangani pasien di saat ini. Kecemasan tersebut berupa rasa takut akan tertularnya penyakit yang dibawa oleh pasien, kekhawatiran terhadap anggota keluarga akan tertular penyakit yang dibawa dari tempat kerja, selanjutnya stres kerja yang mereka rasakan disaat melayani pasien dengan peralatan dan keamanan diri yang kurang memadai serta kurangnya perhatian kepala rumah sakit akan hal itu.
Pelayanan yang diberikan oleh perawat masih sering dikeluhkan oleh masyarakat. Sorotan terhadap kinerja perawat merupakan masalah yang harus segera ditanggulangi, sebab pelayanan keperawatan menentukan mutu pelayanan rumah sakit. Kinerja yang jelek akan berdampak terhadap rendahnya pelayanan, pasien merasa kurang nyaman dan tidak puas. Kinerja dalam hal ini erat kaitannya
dengan seberapa besar kecemasan yang dirasakan perawat, stres kerja dan kepuasan kerja yang diterima oleh perawat.
Stres yang dialami perawat terlalu besar, maka kinerja akan mulai menurun, karena stres tersebut menganggu pelaksanaan kerja perawat dan akan kehilangan kemampuan untuk mengendalikannya atau menjadi tidak mampu untuk mengambil keputusan dan perilakunya menjadi tidak menentu. Akibat yang paling ekstrim adalah kinerja menjadi nol, mengalami gangguan, menjadi sakit, dan tidak kuat lagi untuk bekerja, menjadi putus asa, keluar atau menolak bekerja
Secara fisiologis respon stres dapat berupa jantung berdebar, tekanan darah tinggi, panas, keringat dingin, pusing, sakit perut, cepat lelah. Sedangkan pada aspek psikologis, stres dapat berbentuk frustasi, depresi, kecewa, merasa bersalah, bingung, takut, tidak berdaya, cemas, tidak termotivasi, dan gelisah (Wahyuni, 2017).
Stres yang sedang dialami oleh seseorang dapat diatasi dengan melakukan management stress yang di dalam ilmu psikologi dikenal dengan sebutan coping stress. Menurut Abbott et al. (2014), coping strategy adalah suatu bentuk
penerapan untuk mengurangi stress dan meningkatkan skill coping melalui proses kognitif dan tingkah laku.
Coping strategy adalah tindakan yang dapat dilakukan oleh individu untuk
mentolerir, menguasai, meminimalkan, atau mengurangi efek dari stress, dan individu dapat memasukkan strategi perilaku dan strategi psikologis Folkman &
Lazarus (1988). Sedangkan menurut Lazarus (2006), coping adalah strategi
memecahkan masalah yang paling sederhana dan realistis dengan cara memanajemen tingkah laku, berguna untuk membebaskan diri dari berbagai masalah nyata maupun tidak nyata, dan coping adalah usaha secara perilaku dan kognitif untuk mengurangi, mengatasi, dan tahan terhadap tuntutan.
Coping stress dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung seberapa
tinggi-rendahnya stres yang mereka alami, dan jenis Coping Strategy stress yang bagaimana yang mereka sukai untuk diterapkan ketika stres melanda. Menurut Folkman & Lazarus (1988), ada dua jenis coping stress yang dapat dilakukan, yaitu;
(1) Problem focused coping, adalah salah satu jenis Coping Strategy untuk menghilangkan atau mengubah stressor itu sendiri atau ketika individu menghilangkan sumber stres atau mengurangi dampaknya melalui tindakan individu tersebut, dan (2) Emotional focused coping, adalah strategi yang melibatkan mengubah cara seseorang merasakan atau secara emosional bereaksi terhadap stressor. Strategi ini mengurangi dampak emosional dari penyebab stress dan memungkinkannya untuk menyelesaikan masalah dengan lebih efektif.
Coping strategy ini dapat melibatkan strategi perilaku, maupun strategi
psikologis pada diri individu (Lazarus & Folkman’s, 2017). Oleh karena itu,coping strategy yang baik, akan menimbulkan dampak positif terhadap diri sendiri dan dapat meminimalisir stres yang sedang terjadi.
Kepuasan kerja merupakan dambaan setiap invididu yang sudah bekerja.
Masing-masing karyawan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda sesuai dengan nilai yang dianutnya. Semakin banyak aspek aspek dalam pekerjaan yang sesuai
dengan keinginan dan kebutuhan karyawan tersebut maka semakin tinggi pula kepuasan yang dirasakan, demikian sebaliknya. Robbins dan Judge (2015) menjelaskan dari tinjauan atas 300 studi menyatakan terdapat korelasi yang cukup kuat antara kepuasan kerja dan kinerja. Dimana saat kita berpindah dari level individu ke organisasi, kita juga menemukan dukungan untuk hubungan kepuasan- kinerja. Saat kita mengumpulkan data kepuasan dan kinerja untuk organisasi secara keseluruhan, kita menemukan bahwa organisasi dengan lebih banyak pekerja yang lebih puas cenderung lebih efektif dibandingkan organisasi yang lebih sedikit (Robbins & Judge, 2015).
Kepuasan kerja karyawan didefenisikan sebagai reaksi dan perasaan seseorang terhadap tempat ia bekerja. Kepuasan kerja karyawan merupakan hal yang bersifat individual tentang perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Tingkat kepuasan yang berbeda-beda pasti dimiliki oleh setiap individu.
Keberhasilan suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh kinerja karyawannya. Setiap organisasi maupun perusahaan akan selalu berusaha untuk meningkatkan kinerja karyawan, dengan harapan apa yang menjadi tujuan perusahaan akan tercapai. Salah satu cara yang ditempuh oleh perusahaan dalam meningkatkan kinerja karyawannya, misalnya dengan melalui pendidikan, pelatihan, pemberian kompensasi yang layak, pemberian motivasi, dan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif serta memilki disiplin. Peningkatan kinerja karyawan akan membawa kemajuan bagi perusahaan untuk dapat bertahan dalam suatu persaingan lingkungan bisnis yang tidak stabil.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang mendalam tentang permasalahan yang dirasakan oleh para perawat antara lain;
kecemasan, stress kerja, kepuasan kerja dan coping strategy terhadap kinerja perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi.
1.2 Identifikasi Masalah
Kinerja perawat khususnya Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi saat ini masih menjadi masalah. Harapannya setiap perawat dapat menunjukkan kinerja yang optimal, namun kenyataannya justru masih terkendala dengan berbagai faktor yang mengakibatkan kinerja perawat masih menjadi masalah. Dari studi literatur dan hasil observasi sementara di lapangan diketahui bahwa kinerja perawat dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan secara hipotesis bahwa variabel kecemasan, stres kerja, kepuasan kerja dan coping strategy di lingkungan kerja khususnya Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi telah teridentifikasi sebagai penyebab masalah yang sangat berpengaruh pada kinerja perawat di sebuah Rumah Sakit tersebut. Ini membuktikan bahwa kondisi keadaan sorang perawat hendaknya benar-benar terjaga antara keseimbangan emosional diri dan professional kerja dalam melayani para pasien yang membutuhkan pelayanan yang terbaik.
1.3 Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, peneliti merumuskan masalah- masalah penelitian ini sebagai berikut:
1. Apakah terdapat pengaruh langsung kecemasan (X1) terhadap Coping Strategy
2. Apakah terdapat pengaruh langsung stress kerja (X2) terhadap Coping Strategy (X4) di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi?
3. Apakah terdapat pengaruh langung Kepuasan kerja (X3) terhadap Coping Strategy (X4) di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi?
4. Apakah terdapat pengaruh langsung Kecemasan (X1) terhadap kinerja perawat (Y) di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi?
5. Apakah terdapat pengaruh langsung Kepuasan Kerja (X3) terhadap kinerja perawat (Y) di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi?
6. Apakah terdapat pengaruh langsung Coping Strategy (X4) terhadap kinerja perawat (Y) di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi?
7. Apakah terdapat pengaruh tidak langsung Kecemasan (X1) terhadap kinerja perawat (Y) melalui Coping Strategy (X4) di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi?
8. Apakah terdapat pengaruh tidak langsung Kepuasan Kerja (X3) terhadap kinerja perawat (Y) melalui Coping Strategy (X4) di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi?
1.4 Pembatasan Masalah
Dari indentifikasi masalah, peneliti telah mengidentifikasi bahwa masalah utama dalam penelitian ini adalah kinerja perawat. Kinerja perawat merupakan masalah yang luas, rumit dan kompleks, karena dipengaruhi berbagai variabel.
Maka peneliti membatasi masalah penelitian ini hanya pada masalah kecemasan,
stress kerja, kepuasan kerja, dan coping strategy yang meliputi dimensi psikologis, perilaku dan dimensi kognitif yang diduga berpengaruh terhadap kinerja perawat.
Setiap variabel tersebut akan diungkap melalui indikator-indikator atau dimensi- dimensinya yang menunjukkan karakteristik dari variabel yang bersangkutan.
1.5 Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data empirik, fakta dan informasi yang sahih dan benar serta dapat dipercaya tentang variabel- variabel yang mempengaruhi kinerja perawat Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi yaitu :
1. Menganalisis pengaruh langsung kecemasan (X1) terhadap Coping Strategy (X4) di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi
2. Menganalisis pengaruh langsung stress kerja (X2) terhadap Coping Strategy (X4) di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi
3. Menganalisis pengaruh langsung Kepuasan kerja (X3) terhadap Coping Strategy (X4) di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi
4. Menganalisis pengaruh langsung Kecemasan (X1) terhadap kinerja perawat (Y) di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi
5. Menganalisis pengaruh langsung Kepuasan Kerja (X3) terhadap kinerja perawat (Y) di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi
6. Menganalisis pengaruh langsung Coping Strategy (X4) terhadap kinerja perawat
7. Menganalisis pengaruh tidak langsung Kecemasan (X1) terhadap kinerja perawat (Y) melalui Coping Strategy (X4) di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi
8. Menganalisis pengaruh tidak langsung Kepuasan Kerja (X3) terhadap kinerja perawat (Y) melalui Coping Strategy (X4) di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Manap Kota Jambi
1.6 Manfaat Penelitian
Berdasarkan dari tujuan penelitian, peneliti akan melakukan pengujian secara empirik bahwa kecemasan, stres kerja, kepuasan kerja dan coping strategy memiliki pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung terhadap kinerja perawat, jika tujuan dalam penelitian ini tercapai diharapkan akan bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktiks