• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL MERAKIT PUKAT CINCIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODUL MERAKIT PUKAT CINCIN"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL

MERAKIT

PUKAT CINCIN

2015

NAUTIKA

PERIKANAN LAUT

2015 NAUTIKA PERIKANAN LAUT

MODUL MERAKIT PUKA

T CIN

CIN

Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan

A-PDF Watermark DEMO: Purchase from www.A-PDF.com to remove the watermark

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, dengan tersusunnya modul Merakit Pukat Cincin ini. Modul ini merupakan modul pembelajaran yang dapat digunakan peserta didik program keahlian Nautika Perikanan Laut dalam mempersiapkan diri untuk uji kompetensi keahlian. Peserta didik dapat belajar secara individual dan mandiri dalam menyelesaikan suatu unit kompetensi secara utuh.

Modul ini disusun berdasarkan silabus SUPM Edisi 2012 dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Pada setiap bab berisi tentang lembar informasi, lembar praktek unjuk kerja, penilaian/evaluasi dan lembar kunci jawaban.

Dengan mempelajari seluruh isi modul dan melaksanakan setiap praktek unjuk kerja diharapkan peserta didik dapat lebih siap menghadapi uji kompetensi keahlian

Jakarta, Desember 2015 Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan

(3)

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL... iv DAFTAR GAMBAR ... v BAB I. PENDAHULUAN ... 1 A. Deskripsi ... 1

B. Peta Judul Modul, Unit Kompetensi dan Elemen Kompetensi ... 4

C. Tujuan ... 4

D. Petunjuk Penggunaan Modul ... 5

E. Waktu ... 5

BAB II. MENJABARKAN DESAIN PUKAT CINCIN. ... 6

A. Lembar informasi ... 6

B. Lembar Praktek Unjuk Kerja ...37

C. Penilaian/Evaluasi ...39

D. Lembar Kunci Jawaban ...42

BAB III. MENYIAPKAN KEBUTUHAN BAHAN DAN PERALATAN PUKAT CINCIN. ...43

A. Lembar Informasi ...43

B. Lembar praktek unjuk kerja ...62

C. Penilaian/Evaluasi ...65

D. Lembar Kunci Jawaban ...67

(4)

BAB IV. MERANGKAI KOMPONEN PUKAT CINCIN. ...68

A. Lembar informasi ...68

B. Lembar Praktek Unjuk Kerja ...85

C. Penilaian/Evaluasi ...86

D. Lembar Kunci Jawaban ...89

BAB V PENUTUP. ...90

DAFTAR PUSTAKA ...91

(5)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Hubungan anatara spesies sasaran tangkap dengan ukuran mata

jaring dan benang ...17

Tabel 2. Simbol-simbol dalam desain alat tangkap ...24

Tabel 3. Kode/singkatan pada desain alat tangkap ...26

Tabel 4. Data komponen tali, bahan,diameter dan panjangnya dari desain pukat cincin ... 36

Tabel 5. Data komponen jaring, bahan,ukuran dan jumlah mata desain pukat cincin ...36

Tabel 6. Data komponen lainnya dari desain pukat cincin ...37

Tabel 7. Jenis bahan dan nama dagang ...43

Tabel 8. Sifat fisik serat sintetis ...44

Tabel 9. Pengelompokan bahan tali ...47

Tabel 10. Pengelompokan bahan jaring ...48

Tabel 11. Bahan dasar untuk komponen lainnya ...48

Tabel 12. Rincian kebutuhan tali temali ...49

Tabel 13. Rincian kebutuhan bahan jaring (webbing) ...58

Tabel 14. Rincian kebutuhan perlengkapan (pelampung, pemberat dan cincin) ...59

Tabel 15. Peralatan kerja pembuatan alat penangkapan ikan pukat cincin ... 61

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kontruksi pukat cincin ... 7

Gambar 2. Pursein bentuk lekuk ... 7

Gambar 3. Macam-macam bentuk pukat cincin (purse sein) ... 8

Gambar 4. Tali pelampung dan tali ris atas ... 11

Gambar 5. Tali pemberat dan tali ris bawah ...12

Gambar 6. Cara pengingkat tali cincin ...13

Gambar 7. Tali kerut ...13

Gambar 8. Pelampung pukat cincin ...14

Gambar 9. Pemberat pukat cincin ...15

Gambar 10. Desain pukat cincin (1) ...30

Gambar 11. Desain Pukat cincin (2)...46

Gambar 12. Pembetangan webbing agar mudah diukur dan dipotong ...70

Gambar 13. Memotong jaring ...71

Gambar 14. Penyambungan antar webbing untuk membuat bagian jaring .71 Gambar 15. Bentuk sambungan antar webbing ...72

Gambar 16 Bentuk sambungan take up antara badan jaring dengan srampat ... 74

Gambar 17. Pemasangan tali penggantung pada srampat atas dan bawah75 Gambar 18. Memasukan tali kedalam pemberat ...78

Gambar 19. Bentuk ikatan tali cincin pada tali pemberat ...80

Gambar 20. Menyatukan tali pelampung,tali ris atas dan tali penggantung srampat dalam satu ikatan ...81

Gambar 21. Menyatukan tali pemberat, tali ris bawah dan tali penggantung srampat bawah dalam satu ikatan ...82

Gambar 22. Posisi tali kerut setelah masuk kedalam cincin ...84

Gambar 23. Posisi tali kerut yang sudah jadi ...85

(7)
(8)

BAB I PENDAHULUAN

A. Deskripsi

Pukat cincin atau “Purse Seine” adalah alat tangkap ikan yang terbuat dari beberapa lembaran jaring, tali dan bahan lainnya yang ditujukan untuk menangkap gerombolan ikan pada perairan pelagis. Jenis-jenis ikan yang menjadi sasaran tangkapnya meliputi jenis ikan pelagis kecil seperti layang, lemuru, kembung, maupun jenis ikan pelagis besar seperti tongkol, cakalang, tuna dan lain sebagainya.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP. 06 /MEN/2009 tanggal 11 Januari 2010, tentang Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia, pukat cincin merupakan alat tangkap ikan yang termasuk dalam kelompok jenis alat tangkap jaring lingkar (surrounding nets), dengan kriteria jaring lingkar bertali kerut (surrounding nets with purse line), dan terdaftar dengan kode PS, 01.1.0. Alat tangkap ini telah distandarisasikan secara nasional dengan nomor SNI 7277.3:2008.

Disebut pukat cicin karena dilengkapi dengan cincin-cincin pada bagian bawah jaring sebagai tempat untuk memasang tali kerut. Fungsi cincin dan tali kerut pada saat alat dioperasikan adalah menutup bagian bawah jaring sehingga jaring membentuk kantong untuk mengurung ikan yang tertangkap.

Prinsip pengoperasian alat tangkap ini, yaitu dengan cara melingkarkan jaring pada gerombolan ikan sedemikian rupa guna membentuk dinding secara vertical, kemudian menarik tali kerut pada bagian bawah jaring sampai tertutup sehingga pergerakan

(9)

renang ikan menjadi terhalang dan tidak dapat meloloskan diri baik ke arah horizontal (ke samping kanan atau kiri) maupun ke arah vertikal (ke jaring bagian bawah). Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan sampai dengan kolom perairan yang mempunyai kedalaman yang cukup (kedalaman jaring ≤0,75 kedalaman perairan).

Di Indonesia alat ini mulai diperkenalkan olen Balai Penelitian Perikanan Laut (BPPL) pada tahun 1970 di pantai Utara Jawa. Beberapa tahun kemudian berkembang pesat dan menyebar di seluruh perairan Indonesia dengan nama daerah yang berbeda-beda, akan tetapi prinsip pengoperasiannya tetap sama. Di Sumatera Utara dan Aceh pukat cincin dikenal dengan nama pukat

langgar dan pukat senangin, di Sulawesi Selatan dan Kalimantan

Timur dengan nama gae , di Sulawesi Utara dan Maluku dengan nama Soma Giob.

Pada saat ini, pukat cincin merupakan salah satu alat tangkap yang produktif dan keberadaannya menyebar hampir di seluruh perairan laut di dunia. Dengan bentuk dan ukuran yang bermacam-macam, maka untuk memudahkan dalam memahaminya pukat cincin diklasifikasikan menurut :

1. Letak kantong (bunt) pada jaring utama, terdiri dari 2 (dua) jenis, yaitu pukat cincin dengan letak kantong pada:

a. salah satu ujung jaring, dan; b. tengah-tengah jarring.

(10)

2. Bentuk dasar jaring utama, pukat cincin terdiri dari 3 (tiga) bentuk, yaitu :

a. bentuk segi empat; b. bentuk trapezium, dan; c. bentuk lekuk.

3. Ikan yang menjadi tujuan penangkapan, terdiri dari 2 (dua) kelompok yaitu:

a. ikan pelagis kecil dan; b. ikan pelagis besar.

4. Jumlah kapal yang dipergunakan dalam operasi penangkapan, terdiri dari 2 jenis,yaitu:

a. pukat cincin dengan satu buah kapal, dan; b. pukat cincin dengan dua buah kapal.

Pukat cincin diusahakan mulai dari skala kecil, skala menengah hingga skala besar. Usaha ini banyak menyerap tenaga kerja, baik di bagian penangkapan ikan di laut, maupun di bagian pembuatan dan perawatan alat.

Pembuatan pukat cincin dilakukan dengan cara merakit komponen-komponen pukat seperti tersebut di atas dengan tahapan sebagai berikut:

1. Menjabarkan disain pukat cincin yang ditetapkan;

2. Menyiapkan bahan-bahan dan peralatan untuk membuat komponen-kompenen pukat cincin;

3. Merangkai komponen-komponen pukat sesuai dengan disain yang ditetapkan, sehingga alat siap dioperasikan.

(11)

B. Peta judul modul, unit kompetensi dan elemen kompetensi

Modul ini mengacu kepada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), dengan judul Unit Kompetensi: Merakit Pukat Cincin, nomor kode: A.031110.005.01, yang terdiri dari 3 (tiga) elemen kompetensi. dan dapat dipetakan seperti pada gambar bagan di bawah ini:

C. Tujuan

Setelah mempelajari modul ini secara tuntas diharapkan peserta didik dapat :

1. memiliki kompetensi merakit pukat cincin mulai dari : a. Menjabarkan desain pukat cincin;

b. Menyiapkan kebutuhan peralatan kerja dan bahan pukat cincin,dan;

c. Merangkai komponen pukat cincin.

2. Dinyatakan kompeten dalam uji kompetensi Merakit Pukat Cincin

Merakit Pukat Cincin

Menjabarkan desain

pukat cincin

Menyiapkan

kebutuhan peralatan

kerja dan bahan pukat

cincin

Merangkai komponen

pukat cincin

(12)

D. Petunjuk Penggunaan Modul

Agar pembelajaran modul ini dapat berjalan dengan benar serta efektif dan efisien, peserta didik diharuskan mengikuti langkah-langkah pada petunjuk penggunaan modul sebagai berikut :

1. Perhatikan daftar isi sebelum membaca modul lebih lanjut;

2. Pelajarilah semua elemen kompeten yang ada pada unit ini secara berurutan;

3. Bacalah lembar informasi yang ada pada setiap elemen kompetensi dengan seksama untuk memahami pengetahuan yang diperlukan dan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam unjuk kerja;

4. Lakukanlah praktek unjuk kerja secara tuntas dan terukur sesuai dengan kriteria yang ditetapkan guna mengetahui tingkat keterampilan yang dicapai;

5. Setelah mempelajari modul ini, jawablah semua pertanyaan pada lembar penilaian / evaluasi formatif sesuai dengan petunjuk yang ada guna mengetahui sejauh mana tingkat penyerapan terhadap materi modul ini;

6. Bacalah referensi lain yang berhubungan dengan materi dalam modul ini untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

E. Waktu

Waktu yang dibutuhkan dalam mempelajari modul ini adalah disesuaikan dengan ketuntasan belajar, serta sesuai panduan dari guru/pembimbing.

(13)

BAB II

MENJABARKAN DESAIN PUKAT CINCIN

A. Lembar Informasi

1. Mengidentifikasi Pukat Cincin

Sebelum menjabarkan desain pukat cincin, terlebih dulu perlu mengenal dan memahami konstruksi dasar, komponen-komponen serta spesifikasi bahan-bahan yang digunakan.

a. Konstruksi dasar pukat cincin

Bentuk dan ukuran (panjang dan dalam) pukat cincin dapat dibuat berbeda-beda disesuaikan dengan jenis ikan sasaran tangkap, kedalaman perairan di daerah penangkapan dan besar kapal yang digunakan untuk mengoperasikannya. Walaupun bentuk dan ukuran pukat cincin berbeda-beda namun konstruksi dasar secara umum adalah sama. Komponen-komponen pukat cincin meliputi: Badan jaring (srampat, sayap, pundak, perut, dan kantong) srampat, tali ris (atas dan bawah), pelampung, tali pelampung, pemberat, cincin, tali cincin dan tali kerut.

(14)

tali ris atas pelampung tali pelampung selvadge atas A

sayap bahu perut kantong perut bahu sayap

B C D E D C B

Tali kerut tali ring/cincin ring/cincin pemberat tali ris bawah selvadge bawah

Gambar 1. Konstruksi pukat cincin

Bentuk pukat cincin yang digunakan ada 3 macam yaitu : bentuk segi empat, trapesium, dan lekuk.

Gambar 2.Purse Seine Bentuk Lekuk

(15)

Gambar 3. Macam-Macam Bentuk Pukat Cincin (Purse Seine)

b. Komponen-komponen pukat cincin

Jenis dan fungsi masing-masing komponen pukat cincin adalah sebagai berikut :

1) Badan Jaring

Badan jaring merupakan bagian terbesar dari unit alat tangkap pukat cincin yang terdiri dari bagian srampat, sayap, pundak, perut , dan kantong. Pada umumnya ukuran mata jaring dan besar benang yang digunakan pada bagian-bagian ini tidak sama.

a) Srampat (A)

Srampat atau selvadge adalah pinggir jaring bagian atas dan bawah dengan bahan benang lebih tebal dengan ukuran mata jaring yang lebih besar atau sama dengan bagian jaring lainnya. Biasanya srampat menggunakan bahan polyethylene (PE), atau polyamide (PA) nomor 210-D/15 atau R300tex dengan ukuran mata jaring 1”. Srampat ditempatkan sebagai penghubung antara badan jaring dengan tali ris dan berfungsi sebagai penguat guna melindungi badan jaring terhadap tekanan tarikan

(16)

yang kuat.. Srampat disambungkan pada bagian atas, bawah dan samping badan jaring.

b) Bagian sayap (B)

Sayap atau wing berada di ujung jaring bagian kanan dan kiri yang berfungsi untuk menggiring ikan ke areal dalam jaring serta untuk melindungi bagian pundak dan perut jaring terhadap tekanan beban dari samping. Bagian ini dibuat dari bahan PA, atau poly vinyl alcohol (PVA) nomor benang 210-D/9 atau R300tex ukuran mata 1¼”. Ukuran mata jaring bagian sayap pada umumnya lebih besar daripada ukuran mata pada bagian perut dan kantong, dengan tujuan agar lebih mudah di dalam menarik dan melingkarkan untuk mengurung ikan karena beban hambatan terhadap air lebih kecil.

c) Bagian pundak (C)

Pundak atau shoulder ini terdiri dari 2 bagian, masing – masing terletak pada luar sisi bagian perut, atau antara sayap dan perut. Bagian ini dibuat dari bahan PA nomer benang 210- D/9 atau R125tex, ukuran mata jaring 1”. Komponen ini berfungsi untuk membentuk dinding vertical di dalam air dan menghadang ikan agar tidak keluar dari jaring.

d) Bagian perut jaring.(D)

Perut atau belly berfungsi untuk menghadang dan menggiring ikan terkurung ke dalam kantong. Bagian ini dibuat bahan PA nomor benang 210-D/9 atau R125tex, ukuran mata 1”. Ukuran mata jaring bagian perut lebih kecil daripada ukuran mata sayap, dan luas jaringnya

(17)

lebih luas daripada bagian sayap dan pundak dengan tujuan agar lebih kuat dalam menahan tekanan gerakan dan volume ikan yang terkurung serta menghalangi ikan tidak menerobos keluar dari jaring.

e) Kantong (E)

Bagian kantong atau bunt terletak pada sisi atas jaring bagian tengah yang paling dalam dan berfungsi untuk mengurung dan menampung ikan di dalam air saat proses pengangkatan jaring (hauling) sedang berlangsung. Kantong dibuat dari bahan PA atau PVA nomor benang 210-D/12 atau R200tex ukuran mata ¾ “. Pada beberapa tipe pukat cincin ada yang menempatkan bagian kantong ditengah-tengah dan ada pula yang meletakkan pada bagian akhir (ujung). Bagian tersebut dibuat sedemikian rupa dari ukuran benang yang lebih dibandingkan bagian yang lain, karena beban yang menekan besar dibandingkan dengan bagian perut dan sayap yaitu menahan tekanan gerakan dan volume ikan. 2) Tali-tali

Di dalam konstruksi pukat cincin banyak terdapat beberapa macam tali yang berfungsi untuk melindungi dan memperkuat bagian lembaran badan jaring dan untuk mempermudah dalam penarikan atau menaikkan alat tersebut ke atas kapal. Tali-tali dimaksud terdiri atas : a. Tali ris atas; b. Tali pelampung; c. Tali penggantung srampat; d. Tali ris samping; e. Tali ris bawah; f. Tali pemberat; g. Tali cincin; h. Tali kerut; i. Tali selambar.

(18)

a) Tali Ris Atas

Tali ris atas merupakan tali yang digunakan untuk menggantung srampat bagian atas dan mengikatkan dengan tali pelampung. Biasanya tali ini dibuat dari bahan PE diameter 10 mm;

b) Tali Pelampung

Tali pelampung adalah tali yang merangkai pelampung untuk diikatkan pada tali ris atas. Tali ini terbuat dari bahan PE dengan diameter 10 mm;

Tali pelampung

Tali ris atas Tali penggantung srampat

Gambar 4. Tali Pelampung dan Tali Ris Atas

c) Tali penggantung srampat

Terdiri dari 2 tali yang masing-masing berfungsi menggantung srampat atas untuk diikatkan tali ris atas dan menggantung srampat bawah untuk diikatkan ke tali ris bawah. Tali ini terbuat dari bahan PE diameter 8 mm; d) Tali ris samping

Tali yang terdiri dari 2 utas dengan arah pintalan berbeda (kiri dan kanan). Semuanya dibuat dari bahan PE, salah satu tali berdiameter 8 mm untuk menggantung bagian tepi sayap dan srampat, sedang yang lainnya berdiameter 10 mm diletakkan di bagian

(19)

luar dan diikatkan dengan tali penggantung tersebut sehingga dapat berfungsi sebagai penguat yang melindungi sayap serta menghubungkan ris atas dan ris bawah;

e) Tali Ris Bawah

Tali ris bawah merupakan tali yang digunakan untuk mengikat jaring srampat bagian bawah dan pemberat serta tali ring. Biasanya tali ini dibuat dari PE diamater 10 mm;

f) Tali Pemberat

Tali pemberat adalah tali yang merangkai pemberat untuk diikatkan pada tali ris bawah. Tali ini dibuat dari bahan PE diameter 10 mm;

Tali ris bawah

Tali pemberat

Gambar 5. Tali Pemberat dan Tali Ris Bawah

g) Tali Cincin

Tali cincin dibuat dari bahan PE dengan diameter 8 mm dan panjang tertentu (± 50 cm rangkap = 100 cm) yang diikatkan pada tali ris bawah untuk mengikat cincin. Tali ini yang digunakan untuk mengantungkan cincin pada tali ris bawah. Ada berbagai bentuk cara pengikatan tali pemberat pada tali ris yaitu: bentuk kaki tunggal, kaki ganda dan dasi;

(20)

Gambar 6. Cara pengikatan tali cincin

h) Tali Kerut

Tali kerut dibuat dari bahan PE atau PVA dengan diameter 20 – 25 mm yang berfungsi untuk mengkerutkan jaring. Tali ini dimasukan melalui cincin-cincin dan cukup kuat untuk mengkerutkan jaring hingga membentuk kantong.

Tali kerut

Gambar 7. Tali kerut

i) Tali Selambar

Tali selambar dibuat dari bahan PE diameter 20 -25 mm diletakkan pada ujung jaring, diikatkan pelampung, berfungsi sebagai penarik badan jaring.

(21)

3) Komponen lainnya a) Pelampung

Pelampung (float) pukat cincin biasanya dibuat dari bahan sintetis poly vinyl chloride (PVC) dan berbentuk oval dengan daya apung tiap pelampung ± 1 kg. Ukuran pelampung disesuaikan jenis dan ukuran pukat cincin yang digunakan. Pelampung harus memiliki daya apung yang tinggi sebab untuk menahan beban jaring dan perlengkapanya serta ditambah ikan hasil tangkapan supaya tetap mengapung;

Gambar 8. Pelampung pukat cincin

b) Pemberat

Pemberat (sinker) terbuat dari bahan timah hitam (Pb) dengan berat 200 gram/buah atau rantai dengan jumlah tertentu yang digunakan untuk menenggelamkan dan memposisikan jaring secara vertikal pada kedalaman tertentu serta mengatur kecepatan tenggelam yang diinginkan. Pemberat dari bahan timah berbentuk oval, dan ukuran serta beratnya disesuaikan jenis dan ukuran pukat cincin yang digunakan. Pemberat ini berfungsi

(22)

untuk mempercepat jaring turun, sehingga ikan yang dikurung tidak meloloskan diri ke bawah;

pemberat

Gambar 9. Pemberat pukat cincin

c) Cincin

Cincin (ring) biasanya dibuat dari besi/baja/kuningan. Diameter lingkaran cincin ± 140 mm, berat cincin ± 800 gram atau disesuaikan dengan ukuran pukat cincin. Cincin ini merupakan tempat untuk lewatnya tali kerut (purse line) berfungsi sebagai pusat pengkerutan jaring; d) Killi – killi

Kili-kili (swivel) dipasang pada bagian tengah – tengah tali ris pemberat dari bahan kisi putih ukuran 5/8 inchi berat 500 gr sebanyak 2 buah.Fungsi killi – killi sebagai pemutus tali atau dengan kata lain bila salah satu bagian tali ris putus maka maka bagian tali lainnya tidak ikut terputus.

(23)

c. Standar Ukuran Pukat Cincin

Panjang pukat cincin ditentukan oleh panjang tali pelampung yang pengukurannya sebatas tempat terikatnya jaring pada tali ris dari ujung sayap yang satu sampai ujung sayap lainnya. Sedangkan kedalaman pukat cincin ditentukan oleh bagian jaring yang paling dalam/lebar (ditarik tegang)pada bagian pusatnya. Dari hasil beberapa penelitian diperoleh standar ukuran yang berkaitan dengan pukat cincin, antara lain:

1) Panjang pukat cincin ≥ 15 kali panjang kapal;

2) Dalam / lebar minimum 10% dari panjang pukat cincin; 3) Panjang dan dalam / lebar bunt (kantong) minimum sama

dengan panjang kapal;

4) Panjang tali ris bawah ≥ 10% - 20% panjang tali ris diatas; 5) Hanging rate (E) adalah perbandingan panjang jaring

(tegang) dengan panjang tali ris. Besarnya Hanging (tergantung jaring pada tali ris) berkisar antara 50% - 90% tergantung tipe jaring;

6) Panjang tali kerut umumnya 1,1 sampai 1,75 kali panjang tali ris bawah atau 1,5 kali panjang pukat cincin;

7) Breaking Strength (R) tali kerut pukat cincin adalah R > 3 kali (gabungan berat jaring,tali kolor,pemberat,cincin) atau P (ton) =√tonage kapal;

8) Ukuran mata jaring tergantung dari ukuran dan jenis ikan yang akan ditangkap. Menurut Fridman ukuran bukaan mata jaring dapat di tentukan dengan rumus sebagai berikut :

(24)

OM = 2/3 x L/K Keterangan :

OM = Bukaan mata (mm) pada bagian bunt

L = Panjang (mm) jenis ikan yang akan di tangkap

K = Koefisien (tergantung dari ikan yang akan ditangkap) K = 5 (Untuk ikan berukuran panjang dan pipih)

K = 3,5 (Untuk bentuk ukuran ikan secara umum) K = 2,5 (Untuk ikan – ikan yang pipih dan lebar)

Tabel 1. Hubungan antara species sasaran tangkap dengan ukuran mata jaring dan benang

Spesies Ukuran mata (mm) Ukuran Benang (R tex ) 1 2 3 Teri Kecil 12 75 – 100 Teri,Sardine Kecil 16 75 – 100 Sardine,Sardinella 18 – 20 100 – 150 Ikan terbang,Meckerel Kecil,Tenggiri,Sardinelle Besar 25 – 30 150 – 300 Meckerel,Belanak,Tilapia,Tenggiri,Tongkol kecil 50 – 70 300 – 340 Tongkol,Tuna,Cakalang 50 – 70 450 – 500

9) Perbandingan pemberat dengan berat jaring ( di udara ) Jumlah berat pemberat (di udara) berkisar antara ½ - 2/3 dari berat jaring di udara. Jumlah berat pemberat (di udara) per meter panjang tali ris bawah umumnya antara 1 kg dan 3 kg (untuk Purse Seine dengan ukuran

(25)

mata kecil yang di pergunakan menangkap ikan- ikan pelagis kecil yang memiliki kedalaman renang tinggi, sedangkan untuk pukat cincin tuna yang beser jumlah pemberat sampai 8 kg /meter;

10) Perbandingan daya apung dengan jumlah berat jaring Pemasangan pelampung-pelampung pukat cincin harus bukan hanya mengimbangi antara daya apung yang di perlukan dengan jumlah berat alat di dalam air tetapi juga harus di hitung daya apung tambahan (ekstra Bouyancy). Besar bouyancy ini 30% di perairan tenang,dan 50% - 60% di perairan berombak untuk mengimbangi keadaan laut yang berombak serta factor lain yang ada hubungannya dengan cara pengoperasian alat. Daya apung yang lebih besar dibutuhkan pada bagian bunt/kantong yang memiliki benang lebih berat dan sepanjang bagian tengah pukat cincin (yang mendapat gaya tarik lebih besar selama pengoperasian). Dalam praktek, jumlah daya apung pelampung kira – kira sama dengan 11/2 sampai 2 kali jumlah pemberat yang di pasang pada tali ris bawah. Contoh :

Pukat cincin yang besar dengan jaring yang relatif berat, jumlah pemberat yang di perlukan relatif kecil,dan daya apung yang di perlukan kira-kira setengah lebih sedikit dari berat yang di udara.

Daya apung 1,3 – 1,6 kali (berat jaring dalam air di tambah berat pemberat dalam air), atau 0,5 sampai 0,6 kg tiap kg jaring di udara.

(26)

Pukat cincin yang lebih kecil dengan berat yang relatif lebih ringan, memerlukan pemberat yang relatif besar dan daya apung pelampung yang kira – kira sama atau sedikit lebih besar dari berat jaring (di udara).

Daya apung = 1,3 – 1,6 kali (berat jaring dalam air di tambah jumlah pemberat dalam air),atau 1 sampai 1,3 kg untuk tiap kg berat jaring di udara.

Pada prinsipnya bentuk Purse Seine yang umum digunakan di Indonesia terutama di perairan Pantai Utara Jawa adalah empat persegi panjang,yang bagian tengahnya lebih dalam dari kedua sayapnya.

Setelah memahami konstruksi pukat cincin, maka untuk membuat pukat cincin yang sama dalam jumlah banyak sesuai dengan bentuk, ukuran dan spesifikasi bahan yang diinginkan perlu dibuat desain.

2. Mengenal desain pukat cincin a. Pengertian desain

Desain adalah gambar yang berupa pola dari suatu alat tangkap yang dilengkapi kode-kode dan ukuran-ukuran bagian (komponen) pukat tertentu yang diperlukan dengan menggunakan skala tertentu. Desain pukat cincin menggambarkan susunan letak komponen alat tangkap tersebut, yang terdiri dari :

1) Gambar tali yang berbentuk garis, dengan singkatan jenis bahan, simbol diameter, panjang dan lain-lain di bagian atas atau bawahnya;

(27)

2) Gambar potongan jaring dalam bentuk persegi panjang, segi tiga atau bentuk lainnya, dengan singkatan jenis bahan, nomor dan ukuran mata jaring di dalamnya;

3) Gambar simbol komponen lainnya seperti pelampung, pemberat dan lain-lain, pada gambar garis (tali) dan dilengkapi dengan singkatan bahan, jumlah serta berat atau diameter;

4) Gambar penjelas, misalnya bentuk-bentuk ikatan, dan lain-lain.

b. Tujuan pembuatan desain

1) Memberikan gambaran mengenai bentuk dan ukuran alat tangkap yang akan dibuat;

2) Memberikan informasi spesifikasi dari alat tangkap tersebut; 3) Menjadikan acuan dalam pembuatan beberapa alat tangkap dengan bentuk, ukuran dan spesifikasi yang sama; 4) Memudahkan dalam melakukan telusuran terhadap

kerusakan alat dan menentukan jenis bahan yang digunakan untuk perbaikan.

c. Data dan informasi dalam desain

Untuk dapat membaca desain alat penangkap ikan perlu memahami aturan dasar penggambaran desain alat-alat tangkap yang berlaku secara internasional. Beberapa hal penting yang pelu diketahui adalah seperti berikut ini:

(28)

1) Penggambaran

Di dalam disain pukat cincin digambarkan bahwa:

a) Panjang mendatar sama dengan panjang tali pelampungnya, dan;

b) dalamnya netting sama dengan dalamnya stretched netting.

2) Ukuran Panjang dan Diameter

Ukuran panjang dan diameter yang umum digunakan adalah meter (m) dan millimeter (mm).

a) Ukuran meter

Ukuran meter digunakan untuk bahan yang berdimensi relative besar, seperti panjang tali pelampung, tali pemberat, bridle line, warp, tali selambar (penulisan angka sampai dua angka di belakang koma titik, missal : 5.25 ; 90.20);

b) Ukuran millimeter

Ukuran millimeter digunakan untuk bahan yang berdiameter relative kecil, seperti ukuran mata jarring, ketebalan tali, pelampung dan rantai, misalnya : 12 ; 300; 3) Ukuran Massa dan Berat

Massa dan berat dinyatakan dalam kilogram (kg). Gaya, seperti kekuatan putus/breaking load netting yarn atau tali dan daya apung pelampung dinyatakan dengan kilogramme-force (Kgf) atau gramme-kilogramme-force (gf);

4) Jenis Bahan

Jenis bahan dinyatakan dengan singkatan yang berlaku internasional, misalnya: plastic (PL), sisal (SIL), poliamide (PA);

(29)

5) Ukuran Netting Yarn

a) Ukuran netting yarn/benang dinyatakan dalam denier ( d ), resultant tex ( R-Tex ) dalam system penomoran langsung;

b) Denier memiliki berat 1 gram untuk panjang 9000 meter setiap yarn;

c) R-Tex menunjukkan resultan densitas linier bahan jadi yang memiliki berat 1 gram untuk panjang benang 1000 meter.

Khusus untuk jenis bahan monofilament juga perlu dicantumkan diameternya.

6) Tipe simpul dan bentuk

Tipe simpul dan bentuk simpul yang digunakan, misalnya : English knot, double English knot, dan reef knot, atau kadang-kadang bila perlu dicantumkan dengan gambar; 7) Ukuran dan bentuk mata jaring

Ukuran besarnya mata dinyatakan dengan millimeter, yaitu ukuran mata pada keadaan ditegangkan (stretched mesh) atau mesh size stretched.

Bentuk mata jaring Yoko artinya arah mata jarring kearah vertical dari lembar jaring sedangkan bentuk Tate arah mata jarring kearah horizontal lembar jaring.

8) Ukuran Lembar jaring (Webbing)

Panjang lembar jaring umumnya dinyatakan dengan meter dan yard namun ada juga yang dinyatakan dengan jumlah mata. Sedangkan lebarnya umumnya dinyatakan dengan jumlah mata, tetapi ada juga yang dinyatakan dengan meter atau yard.

(30)

Dimensi panel daging jaring atau bagian-bagian jaring dinyatakan/ digambarkan lebar dan panjangnya/dalamnya dengan mencantumkan jumlah mata pada sisi-sisinya. Pada desain trawl untuk lebarnya bossom/bibir, jumlah angkanya ditulis dalam kurung. Agar praktis, bentuk bagian daging jaring/netting dinyatakan dengan rasio perbandingan pemotongan ( cutting rate ) pada tiap-tiap sisinya.

Simbul N = Potongan point ( cut point )

T = Potongan mesh ( cut mesh / clean mesh ) K = Bisa potongan mesh bisa pula T

B = Potongan bar ( halfer = kaki-tiga ) AB = Potongan All bar

9) Rasio Penggantungan daging jaring (Hanging ratio=E) merupakan perbandingan antara panjang tali dengan panjang jaring tegang (stretched netting). Biasanya dinyatakan dalam persen dengan angka di belakang koma misalnya E = 0,70.

10) Tali / Rope

Digambarkan berupa garis tebal dan dinyatakan dalam satuan meter untuk panjangnya, diikuti dengan jenis bahan dan diameternya, misalnya: 35.40 PES Ø 12

11) Kelengkapan Lainnya

Pada penggambaran perlengkapan lainnya terdapat variasi dalam penunjukkannya, misal : Pelampung pukat cincin ; jumlah, bahan, daya apung : 1200 PVC 0,66 kgf

(31)

d. Kodifikasi

1) Maksud kodifikasi

Kodifikasi adalah pemberian kode bagi nama-nama komponen, bahan pukat cincin dan lain-lainnya dengan maksud agar :

a) Desain alat tangkap dapat tampak sederhana, mudah dibaca dan lebih banyak memberikan data dan informasi yang diperlukan.

b) Memberikan persepsi yang sama terhadap nama komponen maupun bahan alat tangkap di lingkup lokal maupun universal.

2) Bentuk kodifikasi

Kodifikasi dalam disain alat tangkap dapat dibuat dalam 2 bentuk, yaitu simbol dank singkatan.

a) Simbol

Informasi komponen dan ukuran alat tangkap disampaikan dalam bentuk simbol seperti pada tabel 2 berikut di bawah ini.

Tabel 2. Simbol-simbol dalam desain alat tangkap

No

Simbol Arti Keterangan Inggris Indonesia

1 2 3 4

1 Rope) Tali

2 Net/webbing Bagian Jaring

3 Float Pelampung

4 Sinker Pemberat

(32)

No

Simbol Arti Keterangan Inggris Indonesia

1 2 3 4

5 Mesh size Ukuran mata

jaring

6 Ø Diameter Garis tengah 7 Upper panel Sisi atas

8 Lower panel Sisi bawah

9 Right side panel Sisi kanan

10 Left side panel ) Sisi kiri

11 N direction in netting Arah jaring 12 II Thickness Tebal 13 Circumferen Keliling 14 Approximatelly Rata-rata

15 ……../…….. Optional Boleh pilih

16 Ring Cincin

b) Singkatan

Informasi komponen dan ukuran alat tangkap disampaikan dalam bentuk singkatan huruf seperti pada tabel 3 berikut di bawah ini.

(33)

Tabel 3. Kode/singkatan pada desain alat tangkap

No Singkatan Arti Keterangan Inggris Indonesia

1 2 3 4

1 ALU Almunium Almunium

2 BR Brass Kuningan

3 CHRO Chromium Chromium

4 CK Cork Gabus

5 COC Coconut Sabut kelapa

6 COMB Combination

rope

Tali kombinasi

7 COT Cotton Katun

8 CU Cupper Tembaga

9 CUT Cut Potong

10 DKN Double knot Simpul ganda

11 FE Iron Besi

12 FISH Fish Ikan

13 GALV Galvanized Lapisan galvanis

14 L Length Panjang

15 MAN Manila Serat manila

16 MAT Material Bahan

17 MET Metal Logam

18 NTS Net sounder Penduga alt

19 PA Polyamide Polyamide Serat sintetis bahan pembuat tali ataupun jaring 20 PE Polyethylene Polyethylene

21 PES Polyester Polyester

22 PP Polypropele Polypropele

23 PVA Poly vinyl

alcphol

Poly vinyl alcphol

24 PVC Polyvinyl

Chloride

Polyvinyl Chloride

(34)

No Singkatan Arti Keterangan Inggris Indonesia

1 2 3 4

25 PL Plastic Plastik Bahan

pelampung

26 PB Lead Pemberat Bahan

pemberat

27 RUB Rubber Karet

28 SIS Sisal Serat sisal

29 SST Stainless Stell Biji anti karat

30 SW Swivel Kili-kili

31 SYN Synthetic fibre Serat sintetis

32 TIN Tinned Timah

33 WIRE Wire rope Tali baja

34 ZN Zinc Seng 35 € Hanging ratio (HR) Persentase perbandingan panjang jarring dengan tali penggantung jaring

36 Rtex Resultan tex Berat (g) 1.000

meter benang jadi

Dari simbol dan singkatan di atas dapat mempelajari contoh berikut di bawah ini:

i. Rope dan wire ( tali dan baja )

 130.50 PP 2 x  18 + PVA / PE  9 maksudnya panjang tali 130,5 meter dari bahan Polypropelene sebanyak 2 buah dengan garis tengah 18 mm ditambah Polyvinyl alcohol atau Polyethylene garis tengah 9 mm sebanyak satu buah;

(35)

 2600.00 Comb wire  16 maksudnya panjang tali 2600 meter dari bahan kombinasi serat dengan baja mempunyai garis tengah 16 mm;

 3 x PA + PB 78g / m maksudnya tali polyamide dipintal 3 buah ditambah pemberat timah 78 gram permeter;

 40.30 3x (PP  16 + PP  14 + PP  7) maksudnya panjang tali 40,3 meter sebanyak 3 buah tidak dipintal/terpisah dari bahan Polypropelene dengan garis tengah masing 16, 14 dan 7 mm;

 70.00 wire  26 maksudnya Tali baja panjang 70 meter dengan garis tengah 26 mm;

 17.06 wire  6,8 ( Coc  16 Cov ) maksudnya Tali baja panjang 17,06 meter dengan garis tengah 6,8 mm ditutup / dibungkis tali dari bahan sabut kelapa garis tengah 16 mm.

ii. Pelampung dan pemberat (Float and sinker)

 1200 Pl 660 kgf maksudnya Pelampung 1200 buah dari bahan lastik dengan total buoyancy / daya apung 660 kg;

 600 PL 4100 gf maksudnya Pelampung plastik 600 buah dengan daya apung 4,1 kg tiap pelampung;

 30 PL  240 maksudnya Pelampung plastik 30 buah dengan garis tengah pelampung 24 cm;

 3 – 5 PL  80 – 100 maksudnya 3 sampai 5 pelampung plastik dengan garis tengah pelampung 8 sampai 10 cm;

(36)

 PL A1 – A3 10.93 kgf / m maksudnya Pada sisi A1 sampai A3 menggunakan pelampung plastik dengan daya apung 10,93 kilogram permeter;

 1350 – 1570 PL  60 L 200 maksudnya Pelampung plastik 1350 sampai 1570 buah dengan garis tengah 60 mm dan panjang tiap pelampung 200 mm;

 18 – 10 / m PB 67g maksudnya Pemberat 18 sampai 10 buah permeter dengan berat 67 gram;

iii. Ring

 40 ST  18,4 / 12 maksudnya Ring atau cincin sebanyak 40 buah bahan baja dengan garis tengah 18,4 cm dengan ketebalan 12 mm;

 143 ST  180 / 18 / 1230 g maksudnya Cincin 143 buah dari bahan baja dengan garis tengah 180 mm dan tebal 18 mm mempunyai berat 1,23 kg;

(37)

e. Gambar desain € = 0,80 62,5 m PE Ø 14 62,5 m PE Ø 14 (1) 2000 PL 150 gr 250 m PE Ø 12 (2) 250 m PE Ø 12 (3) 250 m PE Ø 4 (4) 12500 X 10 24 mm PA R 200 tex ( I ) A B C D E F G 1000 3000 3000 1000 3000 3000 1000 30mm R300tex PA 400 1400 1600 1800 1600 1400 400 20 mm 16mm 20 mm PA R125tex PA PA R200tex R125 tex 30 m PA Ø 8 30 m PA Ø 4 (II ) 12500 X 10 24 mm PA R 200 tex 275 m PE Ø 4 (5) 1250 Pb 100 gr 275 m PE Ø 12 (6) 275 m PE Ø 12 0,30 m PA Ø 8 (7) 400 m PVA Ø 14 750 Ø 100 mm (8)

Gambar 10 . Desain pukat cincin (1)

(38)

f. Membaca Desain

Pada level operator penangkapan ikan tidak diwajibkan memiliki kompetensi membuat desain, tetapi sekurang-kurangnya mampu menjabarkan disain alat tangkap yang telah dibuat oleh para ahli. Batasan menjabarkan meliputi kemampuan membaca, memahami dan menuangkan data dari desain ke dalam lembar catatan (sheet). Cara membaca disain pukat cincin dengan menggunakan contoh gambar disain di atas adalah sebagai berikut :

 Perhatikan gambar desain serta kode-kode (symbol dan singkatan) yang ada di dalamnya.

 Panjang pukat cincin dapat di lihat pada angka yang menunjukan panjang tali pelampung.

Data tertera: 250 m ,artinya panjang jaring 250 meter  Sedang dalam/lebar pukat cincin dapat di lihat pada bagian

pukat cincin yang paling dalam/lebar atau dengan menghitung bagian jaring terdalam secara vertikal.

Data tertera :

Jumlah mata ke bawah:

 Srampat atas & bawah = 2 x 10 mata x 24 mm = 480 mm = 0,48 meter

 Bagian kantong = 1.800 mata x 16 mm = 28.800 mm = 28,80 meter

 Dalam jarring = 0,48 meter + 28,80 meter = 29,28 meter  Hanging ratio biasanya dapat di lihat pada bagian tali pelampung atau tali pemberat dengan symbol E dan bilangan decimalnya. Data tertera: E 0,80 artinya bagian tersebut menggunakan hanging 80%.

(39)

 Bagian-bagian pukat cincin dapat di lihat bentuk disainnya, serta jenis bahan, nomor benang, ukuran dan jumlah mata yang digunakan tertera.

Data tertera pada bagian jaring :

 (I) dan (II) 12500 X 10 24 mm PA R 200 tex, artinya srampat atas dan bawah masing-masing dengan jumlah mata ke samping 12.500 mata dan jumlah ke bawah 10 mata berukuran 24 mm terbuat dari bahan polyamide nomor benang R200tex.

 (A) dan (G) 1.000 x 400 30 mm R300tex, , artinya Sayap (A) dan (G) masing-masing dengan jumlah mata ke samping 1.000 mata dan jumlah ke bawah 400 mata berukuran 30 mm terbuat dari bahan polyamide nomor benang R300tex.

 (B) dan (F) 3.000 x 1400 20 mm R125tex, , artinya Sayap (A) dan (G) masing-masing dengan jumlah mata ke samping 1.000 mata dan jumlah ke bawah 400 mata berukuran 30 mm terbuat dari bahan polyamide nomor benang R300tex

 --- dan seterusnya ---

 Tali digambarkan dalam bentuk garis, dibagian atas atau bawahnya tertera panjang tali (m), jenis bahan dan diameternya.

Data tertera :

 (3) 250 m PE Ø 12 , artinya tali ris atas panjang 250 meter terbuat dari bahan polyethylene dengan garis tengah 12 mm.

(40)

 (5) 275 m PE Ø 4, artinya tali penggantung /pengikat srampat bawah panjang 275 meter terbuat dari bahan polyethylene dengan garis tengah 4 mm.

 --- dan sterusnya ---

 Komponen lainnya seperti pelampung, pemberat, dan cincin ditandai dengan simbol pada gambar garis (tali) dan dibelakangnya tertera jumlah, singkatan jenis bahan dan berat setiap buahnya.

Data tertera:

 2000 PL 150 gr, artinya pelampung sebanyak 2.000 buah terbuat dari bahan plastic dengan berat 150 gram/buah.

 --- dan seterusnya ---

3. Mencatatkan data desain ke dalam lembar data (data sheet) a. Lembar data (data sheet) pukat cincin

Lembar data adalah form untuk memberi gambaran yang lebih rinci, mengenai data alat tangkap diperlukan. Menurut konvensi lembar data alat tangkap memuat beberapa unsur di bawah ini. Lembar data terdiri dari 5 (lima) bagian, yaitu :

1) Bagian yang berisi tentang klasifikasi alat penangkapan;

2) Bagian yang menjelaskan tentang spesifikasi daging jaring atau netting / webbing;

3) Bagian yang menunjukkan spesifikasi tali-tali;

4) Bagian yang memuat tentang pelampung dan pemberat; 5) Bagian yang berisi gambar/informasi vital yang diperlukan.

(41)

a) Bagian-bagian daging jaring/panel

i. Macam-macam panel ditandai dengan huruf capital A, B dan seterusnya, dan bilamana dipelukan bias dibubuhi angka di belakangnya A1, A2 dan seterusnya;

ii. Bila digunakan benang rangkap digambarkan sebagai #; iii. Jenis-jenis bahan ditulis dengan nama yang berlaku

umum, sedapat mungkin dihindari nama perdagangan; iv. Tipe simpul (Simpul bendera tunggal/sheet bend, simpul

bendera ganda/double sheet bend,simpul mati/flat knot); v. Pengawetan

O = tanpa pengawetan C = dengan penyamakan T = dengan aspal

R = dengan bahan resin

Cu = dengan turunan (derivative) tembaga

vi. Ukuran benang, ditandai dengan total tex/R-Tex atau dengan denier/d;

vii. Stretched mesh diberi ukuran mm;

viii. Sisi atas dan sisi bawah dijelaskan dengan jumlah mata sisi yang bersangkutan, sedangkan dalamnya dengan jumlah mata ke bawah;

ix. Bating rate / cutting rate, menggunakan grafik; x. Take up, A : B = 4 : 5;

(42)

b) Tali-tali yang digunakan

i. Macam-macam tali diberi tanda dengan huruf kecil (a, b, dan seterusnya), bilamana diperlukan dibubuhi angka di belakangnya ( a1, a2 dst.), dan bila digunakan tali rangkap , digambarkan;

ii. Jenis bahan dan pengawetan identik dengan yang digunakan untuk netting;

iii. Keliling tali (circumference ) dengan ukuran inchi; iv. Diameter dengan ukuran mm;

v. Konstruksi dengan arah pintalan dan jumlah strand; vi. Kekerasan pintalan dengan pintalan keras (H), sedang

(M) dan lunak (S);

Lembar data ini cukup, untuk pembelajaran bagi calon operator lembar data disederhanakan seperti pada tabel 4, 5 dan 6 di bawah ini.

b. Mengisikan data desain ke dalam lembar data

Setelah data yang ada pada disain di baca dan dipahami, maka hasil pembacaannya dapat dituangkan ke dalam sheet yang tersedia. Sebagai contoh desain pukat cincin pada gambar 9 di atas dapat dijabarkan seperti pada sheet atau tabel 4 di bawah ini.

(43)

i. Tali

Tabel 4. Data komponen tali, bahan, diameter dan panjangnya dari desain pukat cincin

No Nama

Komponen Bahan

Diamater

(Ø) Panjang Keterangan

1 Tali pelampung PE 12 mm 250 m

2 Tali ris atas PE 12 mm 250 m

3 Tali penggantung srampat atas PE 4 mm 250 m 4 Tali penggantung sayap samping PE 4 mm 30 m

5 Tali ris samping PE 8 mm 30 m

6 Tali pemberat PE 12 mm 275 m

7 Tali ris bawah PE 12 mm 275 m

8 Tali penggantung srampat bawah PE 4 mm 275 m 9 Tali cincin PE 8 mm 0,30 m x 2 x 750 Sejumlah cincin yang dipasang

10 Tali kerut PVA 14 mm 400 m

11 Tali selambar PE 14 mm 62,5 m x 2

ii. Jaring

Tabel 5. Data komponen jaring, bahan, ukuran dan jumlah mata dari desain pukat cincin

No Nama Komponen Baha n Ukuran mata ( ) Jml mata Keterangan Kesamping Kebawah

1 Srampat atas PA 24mm 1.2500 10 R200 tex

2 Bagian sayap PA 30 mm 1.000 400 R300 tex

3 Bagian perut I PA 20 mm 3.000 1.400 R125 tex

4 Bagian perut II PA 20 mm 3.000 1.600 R125 tex

5 Kantong PA 20 mm 1.000 1.800 R200 tex

6 Srempat bawah

PA 24mm 1.250 10 R200 tex

(44)

iii. Komponen lainnya

Tabel 6. Data komponen lainnya dari desain pukat cincin

No

Nama

Komponen Bahan Berat Jumlah Keterangan

1 Pelampung Pl 150 gr 2000 bh

2 Pemberat Pb 100 gr 1250 bh

3 Cincin Kn Ø 100

mm

275 m Kuningan

Dengan dituangkannya data dari desain ke dalam sheet secara benar maka dijadikan seagai dasar dalam menghitung kebutuhan bahan.

B. Lembar Praktek Unjuk Kerja

Guna mengukur tingkat kemampuan peserta didik di dalam mempelajari unit kompetensi “Menjabarkan Desain Alat Tangkap Pukat Cincin” ini ada 2 kegiatan unjuk kerja yang harus dipraktekkan yaitu:

1. Mengidentifikasi konstruksi alat tangkap pukat cincin, dan

2. Membaca serta menuangkan data disain pukat cincin ke dalam sheet.

Adapun prosedur yang harus dilakukan dalam menyelesaikan tugas ini adalah seperti berikut di bawah ini.

(45)

1. Peralatan

Peralatan yang digunakan untuk mengidentifikasi konstruksi pukat cincin serta membaca dan menuangkan data disain alat tangkap tersebut ke dalam sheet terdiri dari:

a. Pinsil b. Penggaris c. Alat Hitung 2. Bahan

Untuk bahan yang digunakan berupa:

a. 1 unit pukat cincin atau gambar konstruksi pukat cincin b. Gambar disain pukat cincin

c. kertas gambar dan sheet (lembar isian) 3. Waktu

Waktu yang dibutuhkan untuk menjabarkan desain alat tangkap purse seine adalah 120 menit

4. Langkah Kerja

a. Unjuk kerja “Mengidentifikasi konstruksi pukat cincin”

1) Siapkan unit pukat cincin dan bentangkan di lapangan sampai semua bagian alat tangkap tersebut kelihatan (bila tidak ada alat tangkap dapat diganti dengan gambar konstruksi pukat cincin);

2) Siapkan pensil dan kertas gambar;

3) Sebut dan tuliskan bagian-bagian jaring, tali-tali dan komponen pukat cincin ke dalam kertas yang telah disediakan

(46)

b. Unjuk kerja “ Membaca dan menuangkan data disain pukat cincin ke dalam sheet”

1) Siapkan gambar disain pukat cincin;

2) Siapkan kertas tulis dan sheet (lembar isian);

3) Tuliskan data yang ada didalam gambar disain pukat cincin kedalam lembar sheet yang telah disediakan berdasarkan 3 kelompok yaitu: tali-tali, bagian jaring dan komponen lainnya.

Bila peserta didik dapat melakukan unjuk dengan tingkat kebenaran 70% ke atas dinyatakan memenuhi syarat minimal kompeten dan dapat melanjutkan ke unit kompetensi berikutnya. Tetapi bila tingkat pencapaian < 70%, harus mempelajari i kembali mengulangi unjuk kerja sebagaimana di atas.

C. Penilaian/Evaluasi

Untuk mengetahui sejauh mana tingkat penyerapan peserta didik terhadap pengetahuan yang diajarkan dapat dilakukan evaluasi formatif dengan mengerjakan soal-soal di bawah ini.

SOAL:

1. Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : KEP.06/MEN/2009, tanggal 11 Januari 2010 tentang Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia, purse seine atau pukat cincin termasuk ke dalam kelompok alat tangkap …

A. Jaring lingkar (surrounding net) B. Jaring tegak pasif C. Jaring kantong yang dihela D. Jaring tegak aktif

(47)

2. Purse seine disebut pukat cincin karena dilengkapi cincin-cincin yang berfungsi untuk …

A. Pemberat B. Tempat memasang tali kerut C. Tempat menggantung tali ris D. Semua jawaban di atas benar 3. Komponen-komponen yang merupakan bagian dalam konstruksi

pukat cincin adalah …

A. Tali-tali B. Bagian-bagian jaring

C. Komponen lainnya D. Semua jawaban di atas benar 4. Bagian jaring yang berfungsi untuk mengumpulkan ikan yang

tertangkap ke dalam pukat cincin disebut … A. Srampat B. Bagian sayap

C. Kantong (bunt) D. Bagian perut

5. Bagian jaring yang berfungsi untuk melindungi bagian jaring lainnya terhadap tekanan tarikan dari tali riis atas maupun tali kerut disebut … A. Srampat B. Bagian sayap

C. Kantong (bunt) D. Bagian perut

6. Gambar yang berupa pola dari suatu alat penangkapan yang dilengkapi dengan ukuran-ukuran tertentu disebut ...

A. Kontruksi B. Grafik C. Disain D. Drawing

7. Tali yang digunakan untuk membentuk kantong pada bagian bawah pukat cincin disebut ...

A. Tali ris atas B. tali kerut C. Tali ris bawah D. tali cincin

8. Bahan jaring utama pukat cincin biasanya dibuat dari benang ...

A. PE B.PES

C. PA D.PVA

(48)

9. Bagian pukat cincin yang terbuat dari besi/baja/kuningan yang berfungsi sebagai tempat untuk lewatnya tali kerut disebut ...

A. Pemberat B. Timli

C. Rantai D. Cincin

10. Data dimensi yang dibutuhkan pada komponen bagian jarring (misalnya srampat) adalah …

A. Bahan, ukuran mata, jumlah mata, Rtex B. Bahan, ukuran mata, panjang jariing, Rtex C. Bahan, diameter benang, jumlah mata, Rtex D. Bahan, diameter benang, jumlah mata, Rtex

(49)

D. Lembar Kunci Jawaban

Guna memudahkan dalam koreksi jawaban dan terdapat standar jawaban dalam mengerjakan soal di atas perlu dibuat kunci jawaban seperti berikut di bawah ini.

1. A 6. C

2. B 7. B

3. D 8. C

4. C 9. D

5. A 10. A

Setelah peserta didik menjawab soal-soal di atas, cocokkanlah jawabannya dengan kunci jawaban yang tersedia. Hitunglah jawaban yang benar, kemudian gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaannya terhadap materi unit kompetensi Menjabarkan Desain Pukat Cincin.

Rumus :

Tingkat penguasaan = jumlah jawaban yang benar X 100 %

10

Arti tngkat penguasaan yang dicapai : 90 % - 100 % = baik sekali

80 % - 89 % = baik 70 % - 79 % = sedan < 70 % = kurang

Apabila peserta didik mencapi tingkat penguasaan 80 % dapat meneruskan dengan unit kompetensi berikutnya, tetapi bila tingkat penguasaan yang dicapai kurang dari 80% harus mengulangi kembali mempelajari materi pengetahuan tentang Menjabarkan Desain Pukat Cincin, terutama bagian yangf belum dikuasai.

(50)

BAB III

MENYIAPKAN KEBUTUHAN BAHAN DAN PERALATAN PUKAT CINCIN

A. Lembar Informasi

1. Mengidentifikasi jenis bahan, nama dagang dan sifat fisik a. Jenis bahan dan nama dagang

Bahan dasar jaring maupun tali yang digunakan untuk membuat pukat cincin berasal dari serat sintetis, seperti Polyamide (PA), Polyethylene (PE), Polyester (PES) dan

Polyvinyl acohol (PVA). Di beberapa negara bahan-bahan dasar

tersebut memiliki nama dagang sendiri-sendiri, misalnya PA dikenal dengan nama dagang nylon, PVA dikenal dengan kuralon, dan lain sebagainya.

Tabel 7. Jenis bahan dan nama dagang

N0 Jenis Bahan Nama Dagang

1 2 3

1 Polyamide (PA)

Nylon (banyak Negara), amilon (jepang), Caprolan (USA), Kapron, Anid (Rusia), Kenlon, Knoxlock, Enkalon (Inggris), Lilion, Forlion (Italia), Perlon, Platil (Jerman), Nailonsix (Brasil)

2 Polyethylene (PP)

Etylon, Hiralon, Hi-zex (Jepang), Verlon (USA), Durlene, Norfil, Rigidex (Inggris), Sainthene, Flotten (Perancis), Vestolen, Nortylen (Jerman), Nymplex (Belanda), Levilene (Italia), Laveten (Swedia), Axvaflek (Norwegia)

3 Polypropylene (PP)

Verlon P (USA), Drylene, Ribofil (Inggris), Hostalen (Jerman), Meraxlon (Italia), Danaflex, Multiflex (Denmark), Porlene (Argentina

4 Polyester (PES)

Tetoron (Jepang), Dacron (USA), Diolen, Trevira (Jerman), Terylene (Inggris), Tergal (Perancis), Terital (Italia)

5 Poly vinyl alcohol (PVA)

Cremona, Kanebian, Kuralon, Mexlon, Trawlon, Vinilon (Jepang)

(51)

b. Jenis bahan dan sifat fisik

Bahan dari serat sintetis dimaksud mempunyai sifat fisik yang berbeda-beda seperti pada tabel 8 di bawah ini.

Tabel 8. Sifat Fisik Serat Sintetis

No

Nama

Serat Sintetis Kode Densitas Sifat Fisik

1 2 3 4 5

1 Polyamide PA 1,14 Tenggelam

Kekuatan dan daya tahan gesekan baik

Kemuluran amat baik

2 Polyester PES 1,38 Tenggelam

Kekuatan sangat baik Kemuluran kurang

3 Polyethylene PE 0,94 – 0,96 Terapung

Ketahanan gesekan baik Kelenturan baik

4 Polypropelene PP 0,91 – 0,92 Terapung

Kekuatan baik

Ketahanan gesekan baik

5 Polyvinyl alcohol PVA 1,30 – 1,32 Tenggelam

Kethanan gesekan baik Kemuluran baik

c. Satuan bahan

Pada perdagangan bahan-bahan alat tangkap ikan setiap jenis bahan diberi spesifikasi mengenai bahan dasar seratnya, diameter, panjang atau berat dan lain-lain. Spesifikasi tersebutuntuk memudahkan para konsumen membandingkan antara bahan yang satu dengan yang lainnya serta memilih dan menentukan jenis bahan yang dibutuhkan. Bahan yang digunakanuntuk pembuatan pukat cincin berdasarkan konstruksi bahan yang tercantum dalam desain, yang nomenklatur telah

(52)

disesuaikan dengan yang ada di pasar atau standar dagang sehingga tali, bahan jaring atau komponen lainnya dapat dihitung dan mudah untuk mendapatkannya. Adapun satuan-satuan bahan yang digunakan dalam perdagangan antara lain:

1) Gulungan tali dalam satuan roll dengan panjang 200 meter; 2) Lembaran bahan jaring dalam satuan pis (piece) dengan

ukuran 100 meter x 100 mata ke bawah (Mesh Depth);

3) benang sesuai dengan spesifikasi dalam satuan roll atau berat (Kg);

4) pelampung sesuai spesifikasi dalam satuan buah atau berat; 5) pemberat sesuai dengan spesifikasi dalam satuan buah atau

berat;

6) cincin sesuai dengan spesifikasi dalam satuan buah atau berat.

Sementara tu, ukuran jaring dinyatakan dengan panjang ke samping dalam satuan meter atau yards (0,9 m).Panjang jaring yang diukur dalam keadaan mesh tertutup (stretched mesh). Sedangkan ukuran kedalaman jaring dinyatakan dalam jumlah mata ke bawah pada keadaan mesh tertutup (stretched mesh) untuk semua sistem penomoran yang berlaku.

(53)

2. Menyiapkan Kebutuhan Bahan Sesuai Dengan Desain a. Rancangan Konstruksi Pukat Cincin

€ = 0,60 50 m PE Ø 14 50 m PE Ø 14 (1) 1600 PL 150 gr 200 m PE Ø 12 (2) 200 m PE Ø 12 (3) 200 m PE Ø 4 (4) 10.000 X 10 1,0 “ PA R 200 tex ( I ) A B C D E F G H 800 2400 2400 2400 2400 800 800 800 1,25 ” R300tex (5) (6) 300 300 0,75 “ 1100 1,0 “ PA PA 1200 R125 tex R200 tex 1300 30 m PE Ø 8 1300 30 m PE Ø 4 1400 1500 (II ) 11.000 X 10 1,0 “ PA R 200 tex 220 m PE Ø 4 (7) 1000 Pb 100 gr 220 m PE Ø 12 (8) 220 m PE Ø 12 0,50 m PA Ø 8 (9) 300 m PE Ø 14 400 Kn Ø 100 mm (10)

Gambar 11. Desain Pukat Cincin

(54)

Sebagai contoh, suatu rancangan konstruksi alat tangkap pukat cincin dengan panjang 200 m, kedalaman kantong 28 m dan posisi kantong ditempatkan di bagian tepi jaring seperti gambar konstruksi di atas.

b. Mengelompokkan Bahan 1) Tali Temali

Dengan mengacu kepada disain pada gambar 10 di atas, jenis tali yang dibutuhkan untuk membuat komponen-komponen pukat cincin dapat dikelompokkan seperti pada tabel 9 berikut di bawah ini:

Tabel 9. Pengelompokkan bahan tali

No Jenis Bahan Diameter Penggunaan Keterangan

1 2 3 4 5 1 Polyethylene (PE) 14 mm Tali slambar (1) Tali kerut (10) 2 Polyethylene (PE) 12 mm Tali pelampung (2)

Tali ris atas (3) Tali Ris Bawah (8)

Tali pemberat (9) 3 Polyethylene

(PE)

8 mm Tali iris samping (kiri dan kanan) (5) Tali cincin (11) 4 Polyethylene (PE) 4 mm Tali penggantung srampat atas (4) dan srampat bawah (7) Tali penggantung sayap samping (kiri dan kanan) (6)

(55)

2) Bahan jaring

Jenis bahan jaring yang dibutuhkan untuk membuat komponen-komponen pukat cincin juga mengcu kepada disain di atas, dapat dikelompokkan seperti tabel 10 berikut di bawah ini.

Tabel 10. Pengelompokkan bahan jaring

No Jenis Bahan

Ukuran mata

Nomor

Benang Penggunaan Keterangan

1 2 3 4 5 6

1 Polyamide (PA)

1” R200tex Srampat atas

Srampat bawah 2 Polyamide

(PA)

1,25 “ R300tex Sayap kiri Sayap kanan 3 Polyamide

(PA)

1” R125tex Bagian pundak

kiri dan kanan Bagian perut kiri dan kanan) 4 Polyamide

(PA)

0,75” R200tex Kantong)

3) Komponen lainnya

Jenis bahan untuk membuat komponen lainnya seperti table 11 di bawah ini:

Tabel 11. Bahan dasar untuk komponen lainnya

No

Jenis Bahan

Berat Bentuk Penggunaan

1 2 3 4 5

1 Plastik 150 gram Oval Pelampung

2 Timah hitam 100 gram Silindris Pemberat

3 Kuningan 800 gram Lingkaran Cincin

4 Kuningan 200 gram - Kili-kili

(56)

Tabel 12. Rincian Kebutuhan Tali Temali

Dengan dilakukannya pengelompokkan ini akan dapat memudahkan dalam menghitung dan menyiapkan kebutuhan bahan yang diperlukan.

No. Nama Bagian & Jenis Bahan Tali Diameter (Ø)Tali Temali Nama Bagian Jenis

Bahan

14mm 12mm 8 mm 4mm

1 2 3 4 5 6 7

1. Bagian atas jaring

Tali Ris Atas (PE) 200 m

Tali pelampung (PE) 200 m

Tali penggantung srampat (PE) 200 m

2. Bagian bawah jaring

Tali Ris Bawah (PE) 220 m

Tali pemberat (PE) 220 m

Tali penggantung srampat (PE) 220 m

3. Bagian sisi tegak

Tali penghubung slambar kanan

(PE) 9 m

Tali penggantung sayap samping kanan

(PE) 6 m

Tali penghubung slambar kiri

(PE) 9 m

Tali penggantung sayap samping kiri

(PE) 6 m

4. Tali Cincin (PE) 400x 2

x 0,5 = 400 m

5. Tali kerut (PE) 300 m

6. Tali Selambar (PE) 2 x 50m

= 100 m

J U M L A H 400 m 840 m 418 m 432 m

JUMLAH

(Konversi dlm Satuan Standar Dagang)

2 Roll 5Roll 3 Roll 3 roll

(57)

c. Menghitung Kebutuhan Bahan

Setelah bahan-bahan dikelompokkan menurut jenis dan ukurannya, maka kelompok-kelompok tersebut dihitung sesuai dengan kebutuhannya. Hasil penjumlahan dari kelompok bahan kemudian dikonversikan dengan satuan ukuran yang berlaku diperdangan, misalnya satuan lembaran jaring dengan pis, satuan gulungan tali dengan volume panjang 200 meter, dan lain-lain.

1) Tali temali

Dalam tabel 12 menunjukkan jumlah tali temali yang harus dipersiapkan dalam pembuatan jaring pukat cincin tersebut. 2) Bahan Jaring

Ukuran lembaran jaring yang dikenal dengan sebutan webbing atau net webbing, mempunyai ukuran yang bervariasi, ada yang menggunakan satuan meter, mata, yard serta ada yang menggunakan kombinasi dari itu.

Contoh : 100 M x 100 MD 100 M x 400 MD 100 Yard x 140 MD 4000 ML x 400 MD 100 M x 10 M Keterangan ; M = Meter

ML = Mesh Length satuannya mata MD = Mesh Depth satuannya mata Yard = Yard 1 yard = 91 cm

(58)

Ukuran besarnya benang menggunakan system penomoran menurut Denier dengan symbol d; Td atau D, atau menurut Tex system dengan symbol tex atau R tex.

Namun kata kunci dari ukuran lembaran jaring yang digunakan pada pembelajaran ini adalah 100 meter panjang ke samping x 100 mata ke bawah, yang berlaku untuk semua ukuran mata jaring dan penomoran. Untuk menghitung kebutuhan jaring dengan mengkonversikan ke dalam satuan pis di atas dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

i. Hitung jumlah mata jaring ke samping sepanjang 100 m sesuai dengan ukuran matanya, menggunakan rumus :

MP = LP : Ms

Keterangan :

MP : jumlah mata jaring ke samping sepanjang 100 meter LP : panjang jaring ke samping untuk setiap pis = 100 meter Ms : ukuran mata jaring ( dalam “ atau mm)

* ukuran panjang dikonversikan ke dalam mm

ii. Hitung luas 1 pis webbing dalam satuan mata menggunakan rumus :

LPW = MD X MP

Keterangan :

LPW : luas 1 pis webbing

MD : jumlah mata ke bawah untuk setiap pis webbing (100 mata)

(59)

iii. Hitung luas seluruh webbing dalam satuan mata menggunakan rumus :

LAW = AMD X AML

Keterangan :

LAW : luas seluruh webbing pada suatu bagian pukat cincin AMD : jumlah seluruh mata ke bawah

AML : jumlah seluruh mata memanjang pada suatu bagian pukat cincin

iv. Hitung jumlah webbing yang butuhkan dengan menggunakan rumus:

Web = LAW : LPW

Keterangan :

Web : Jumlah webbing yang dibutuhkan

Untuk menghitung jumlah webbing secara langsung dapat menggunakan rumus :

Web = LAW = AMD X AML = AMD x AML X 1 pis LPW MD X MP MD X (LP : Ms)

(60)

Dengan menggunakan rumus di atas, maka kebutuhan bahan jaring untuk membuat pukat cincin sebagaimana disain di atas dapat dihitung sebagai berikut :

 Srampat

 Bagian atas : panjang 10.000 mata ke samping dan lebar /dalam 10 mata ke bawah terbuat dari PA nomor benang R 200 tex dengan ukuran mata 1”.

- Jumlah mata jaring ke samping sepanjang 100 meter (MP) = LP : Ms = 100 meter : 1 inch

= 100 x 1000 mm : 1 X 25 mm = 4.000 mata - Luas satuan webbing (LPW) = MD x MP

= 100 mata x 4.000 mata = 400.000 mata - Luas seluruh webbing ( LAW) = AMD X AML

= 10 mata x 10.000 mata = 100.000 mata - Jumlah webbing yang dibutuhkan untuk srampat atas

(Web) = LAW : LPW = 100.000 mata : 400.000 mata = 0,25 pis

 Bagian bawah : panjang 11.000 mata ke samping dan lebar /dalam 10 mata ke bawah terbuat dari PA nomor benang R 200 tex dengan ukuran mata 1”. Dengan menggunakan rumus yang sama, maka :

- Jumlah mata jaring ke samping sepanjang 100 meter (MP) = 4.000 mata

- Luas satuan webbing (LPW) = 400.000 mata - Luas seluruh webbing ( LAW) = AMD X AML = 10 mata x 11.000 mata = 110.000 mata

(61)

- Jumlah webbing yang dibutuhkan untuk srampat atas (Web) = LAW : LPW = 110.000 mata : 400.000 mata = 0,275 pis

 Jumlah webbing srampat yang dibutuhkan = = web srampat atas + web srampat bawah = 0,25 pis + 0,275 pis = 0,525 pis

 Sayap (A dan H)

Masing-masing terbuat dari bahan PA nomor benang R 300 tex dengan panjang ke samping 800 mata dan lebar / dalam 300 mata ke bawah dengan ukuran 1, 25 “ . Dengan menggunakan rumus gabungan di atas maka jumlah webbing sayap kiri dan kanan yang dibutuhkan :

Web (sayap) = 2 X ( LAW ) = 2 X ( AMD X AML) = LPW MD X MP = 2 X ( AMD X AML) = MD X ( LP : Ms) = 2 x 300 X 800 100 X { 100 X 1000 mm : ( 1,25 X 25 mm) } = 2 X 240.000 100 X { 100.000 mm : 31,25 mm } = 2 X 240.000 = 480.000 = 1,5 pis 100 X 3.200 320.000

(62)

 Pundak (B)

Terbuat dari bahan PA nomor benang R 125 tex dengan panjang ke samping 2.400 mata dan lebar/dalam 1.100 mata ke bawah dengan ukuran 1,0 “. Dengan menggunakan rumus gabungan di atas maka jumlah webbing sayap kiri dan kanan yang dibutuhkan :

Web (pundak B) = ( LAW ) = ( AMD X AML) = LPW MD X MP = ( AMD X AML) = MD X ( LP : Ms) = 1.100 X 2.400 100 X { 100 X 1000 mm : ( 1 X 25 mm) } = 2.640.000 100 X { 100.000 mm : 25 mm } = 2.640.000 = 2.640.000 = 6,6 pis 100 X 4.000 400.000  Perut (C)

Terbuat dari bahan PA nomor benang R 125 tex dengan panjang ke samping 2.400 mata dan lebar / dalam 1.200 mata ke bawah dengan ukuran 1, 0 “ . Dengan menggunakan rumus gabungan di atas maka jumlah webbing sayap kiri dan kanan yang dibutuhkan :

(63)

Web (perut C) = ( LAW ) = ( AMD X AML) = LPW MD X MP = ( AMD X AML) = MD X ( LP : Ms) = 1.200 X 2.400 100 X { 100 X 1000 mm : ( 1 X 25 mm) } = 2.880.000 100 X { 100.000 mm : 25 mm } = 2.880.000 = 2.880.000 = 7,2 pis 100 X 4.000 400.000  Perut (D)

Terbuat dari bahan PA nomor benang R 125 tex dengan panjang ke samping 2.400 mata dan lebar / dalam 1.300 mata ke bawah dengan ukuran 1, 0 “ . Dengan menggunakan rumus gabungan di atas maka jumlah webbing sayap kiri dan kanan yang dibutuhkan :

Web (pundak B) = ( LAW ) = ( AMD X AML) = LPW MD X MP = ( AMD X AML) = MD X ( LP : Ms) = 1.300 X 2.400 100 X { 100 X 1000 mm : ( 1 X 25 mm) } = 2.640.000 100 X { 100.000 mm : 25 mm } = 3.120.000 = 3.120.000 = 7,8 pis 100 X 4.000 400.000

Gambar

Gambar 1. Konstruksi pukat cincin
Gambar 3.  Macam-Macam Bentuk Pukat Cincin (Purse Seine)
Gambar 4. Tali Pelampung dan Tali Ris Atas
Gambar 5. Tali Pemberat dan Tali Ris Bawah  g) Tali Cincin
+7

Referensi

Dokumen terkait