PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF PENYELESAIAN MASALAH KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN (PADA MAHASISWA KEBIDANAN DI YOGYAKARTA)

59 

Teks penuh

(1)

commit to user

TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF PENYELESAIAN MASALAH KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN

(PADA MAHASISWA KEBIDANAN DI YOGYAKARTA)

Tesis

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Kesehatan

Program Studi Magister Kedokteran Keluarga Minat Utama Pendidikan Profesi Kesehatan

Diajukan oleh:

Siti Nuryati NIM: S 540 809 316

PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Halaman Pengesahan Pembimbing ……… Halaman Pengesahan Penguji Tesis ………. Pernyataan ………...

3. Kesehatan Reproduksi Remaja ….……….………….. 10

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi Remaja … 12 5. Kemampuan Menyelesaikan Masalah. ….……… 13

6. Ilmiah ….……….….……….... 15

7. Etika ………..….……….. 16

8. Hukum ………... 17

9. Kehamilan Yang Tidak Diinginkan (Unwanted Pregnancy) …...…….. 19

B. Penelitian yang Relevan ………..……... 21

(3)

commit to user

viii

BAB III METODE PENELITIAN ….……… 25

A. Rancangan Penelitian ….……… 25

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ….……… 25

C. Populasi Sampel ….………... 26

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ….……… 26

E. Instrument Penelitian ….………. 28

F. Teknik Pengumpulan Data ….………. 29

G. Teknik Analisis Data ….………. 30

H. Jadwal Penelitian ….………... 31

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ………. 32

(4)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ix DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel 27

Tabel 3.2 Kisi-kisi Kuesioner 29

Tabel 3.3 Jadwal Penelitian 31

Tabel 4.1 Karakteristik Responden 32

Tabel 4.2 Karakteristik Penyuluhan KRR dan Kemampuan 33

Penyelesaian Masalah KTD.

Tabel 4.3 Uji Homogenitas Kelompok eksperimen dan Kelompok 35

kontrol

Tabel 4.4 Perbedaan Peningkata Skor Pre test – Post test KRR 36

dengan Kemampuan Kognitif Penyelesaian Masalah KTD pada Kelompok eksperimen dan kontrol

Tabel 4.5 Perbedaan Kemampuan Penyelesaian Masalah KTD 37

pada Kelompok eksperimen

Tabel 4.6 Perbedaan Kemampuan Penyelesaian Masalah KTD 38

pada Kelompok kontrol

Tabel 4.7 Peningkataan Skor Pre test dan Post test Kemampuan kognitif 39

Penyelesaian Masalah Kehamilan Tidak Diinginkan Pada Kelompok Eksperimen dan Kontrol.

Tabel 4.8 Perbedaan Kemampuan Kognitif dari Aspek ilmiah, 40

etika, hukum dilihat dari Umur, Tempat tinggal asal, Tempat tinggal sekarang pada Kelompok eksperimen

Tabel 4.9 Perbedaan Kemampuan Kognifit dari Aspek ilmiah, 41

(5)

commit to user

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Konsep 23

Gambar 4.1 Grafik Peningkatan Skor Pre test dan Post test 37

(6)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Keterangan Pelaksanaan Penelitian 56

Lampiran 2. Permohonan sebagai Responden 57

Lampiran 3. Pernyataan Persetujuan 58

Lampiran 4. Daftar Pernyatan 59

Lampiran 5. Bahan pembelajaran Ceramah 63

Lampiran 6. Hand out materi Kesehatan Reproduksi Remaja dan

Kehamilan Tidak Diinginkan 65

Lampiran 6. Hasil Uji Validits dan Realibilitas 84

Lampiran 7. Hasil Uji Paired T test 86

(7)

commit to user

xii Abstrak

Siti Nuryati, S 540809316, 2009. Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja Terhadap Kemampuan Kognitif Penyelesaian Masalah Kehamilan Tidak Diinginkan pada Mahasiswa Kebidanan Di Yogyakarta. Tesis: Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pembimbing I Prof.Dr.dr. Didik Tamtomo, MKes, MM, PAK.; Pembimbing II dr. Hari Wujoso, SpF, MM.

Latar Belakang: Masalah kesehatan reproduksi sangat komplek, apalagi masalah kesehatan reproduksi remaja, seperti penyakit-penyakit infeksi menular seksual dan kehamilan tidak diinginkan. Hasil survey LDUI, di 4 propinsi di Indonesia “hanya 55% remaja mengetahui proses kehamilan, 53% remaja tidak mengetahui bahwa sekali berhubungan seksual dapat mengakibatkan kehamilan, 61% KTD remaja usia 15-19 tahun melakukan aborsi, 12% dari mereka melakukan aborsi yang dilakukan sendiri 70%, dokter 10%, tenaga medis 7%. Hanya 45,1% remaja mempunyai pengetahuan yang baik tentang organ reproduksi, pubertas, menstruasi dan kebersihan diri” (Depkes, 2005). Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan reproduksi remaja terhadap kemampuan kognitif penyelasaian masalah kehamilan tidak diinginkan.

Metode: Penelitian eksperimen Pre test – Post test Control Group Design dengan randomisasi, untuk menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Populasi mahasiswa DIII Kebidanan Semester I, Poltekkes Permata Indonesia Yogyakarta, dengan jumlah populasi/sampel 46 orang (total sampling), kelompok eksperimen dan kelompok kontrol masing-masing 23 orang mahasiswa.

Hasil: Ada pengaruh yang signifikan penyuluhan KRR terhadap kemampuan kognitif penyelasaian masalah KTD. Uji Paired T test, T hitung -8,674 > T tabel 2, 074, P 0,000 < (P 0,05). Demikian juga pengaruh penyuluhan KRR terhadap kemampaun kognitif penyelasaian masalah KTD ditinjau dari aspek etika dan hukum, menunjukan bermakna T hitung > dar T tabel dan P < 0,05. Tetapi ditinjau dari aspek ilmiah tidak ada pengaruh yang bermakna T hitung -1,127 < T tabel 2,074, dan P 0,272 > (P 0,05).

Kesimpulan: Penyuluhan kesehatan reproduksi remaja berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuaan kognitif penyelesaian masalah kehamilan tidak diinginkan.

(8)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xiii

Abstract

Siti Nuryati, S 540 809 316, 2009, Adolecent Reproductive Health Education Influence on the Ability of Solving Cognitive Problems of Unwanted Pregnancy in Midwifery Student in Yogyakarta. Thesis: Gradute Program of Sebelas Maret University Surakarta. 1st Counselor Prof.Dr.dr. Didik Tamtomo, MKes,MM,PAK.; 2nd Counselor dr. Hari Wujoso, SpF, MM.

Blackground: Reproductive heath problems were really complex, aspecially adolescent reproductive health problems, sexual transmited diseases, and unwanted pregnancy. The LDUI survey result in 4 province in Indonesia was found that only 55% adolescents who know pregnancy process, 53% of adolescents did not know that one sexual intercourse could result unwanted pregnancy, 61% of adolescents unwanted pregnancy from aged 15-19 did abortion, 12% of them did abortion by themselves 70%, by doctor 10% and 7% by medical practitioner. Only 45,1% of adolescents had good knowledge on their reproduction organ, puberty, menstruation and personal hygiene (Depkes, 2005).

Objective: To observe adolescents reproductive health education influence on the ability of solving cognitive problems of unwanted pregnancy.

Metodology: Experimental research pretest-posttest control group design with randomization. Population: Midwifery 1st semester students, Permata Indonesia Yogykarta Health Polytechnic Yogyakarta. Sample 46, 23 experment and 23 control. Result: There were significant influence between adolescents reproductive health education and ability of solving cognitive unwanted pregnancy problems. T test Paired result, T count -8,674 > T tabel 2,074; P 0,000 < (P 0,05). Likewise, adolescent reproductive health education influence toward ability of solving cognitive unwanted pregnancy problems viewed from etic and law aspect had significant result, T count > T tabel and P < 0,05. But, from scientific aspect view point, there were no significant influence, T count -1,127 < T tabel 2,074, and P 0,272 > (P 0,05).

Conclusion: There were significant influence between adolescents reproductive health education and ability of solving unwanted pregnancy problems.

Key words: education, adolescents reproductive health, problem solving, unwanted pregnancy.

(9)

commit to user

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hak dan kesehatan reproduksi saat ini mendapat perhatian khusus secara

global, sejak diwujudkan isu tersebut dalam konferensi internasional tentang

kependudukan dan pembangunan. Konferensi internasional tersebut kita kenal

“International Conference on Population Development” atau ICPD di Kairo pada

tahun 1994. Kemudian dibahas dalam Konferensi Perempuan Dunia IV (Fourth

World Conference on Women atau FWCW ke 4) di Beijing tahun 1995 untuk

memantau pelaksanaan dan evaluasi setiap 5 tahun.

Aspek hak dan kesehatan reproduksi memang sangat luas, menyangkut

seluruh siklus kehidupan manusia selama hidupnya. Siklus yang dimulai dari

kehamilan, kelahiran, masa anak-anak, remaja, dewasa sampai dengan masa usia

lanjut. Selain panjang rentang usia masalah kesehatan reproduksi juga sangat

kompleks mulai dari masalah kehamilan dan persalinan, penyakit-penyakit

menular seksual dan penyakit degeratif, serta masalah kesehatan reproduksi

remaja. Kesehatan remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di

berbagai dunia saat ini. Seks tanpa proteksi menyebabkan kehamilan yang tidak

diinginkan, aborsi dan infeksi penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual.

Aborsi masalah yang berkait dengan kelangsungan hidup adalah kematian ibu.

Resiko komplikasi dan kematian ibu serta bayi lebih besar, pada kehamilan

remaja, resiko bertamabah untuk melakukan aborsi yang tidak aman (Depkes RI,

(10)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

Masa remaja merupakan salah satu tahapan dalam kehidupan. Remaja

harapan masa depan bangsa perlu dijaga kesehatan secara fisik mental dan

kesejahteraan sosial secara utuh, demikian juga semua hal yang berhubungan

dengan sistem dan fungsi serta proses reproduksi. Gejala yang sering kita lihat dan

kemudian menimbulkan masalah adalah: hubungan seks pranikah, ketidaksiapan

remaja mengatasi kehamilan yang diakibatkannya, telah memicu masalah yang

luas: tindakan aborsi, tindakan kekejaman terhadap bayi yang dilahirkan atau

masalah dalam perawatan anak (Soetjiningsih, 2010).

Survey yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan tahun 1995/1996 pada

remaja 13-19 tahun di Jawa Barat dan Bali didapatkan angka 7% dan 5%

kehamilan pada remaja. Data tentang kehamilan tidak dikehendaki (KTD) dari

beberapa sumber adalah 61% pada usia 15-19 tahun diantaranya 12,2%

melakukan pengguguran, 7,2% ditolong oleh dokter dan bidan, 10,2% oleh dukun

dan 70,4% tanpa pertolongan. Hasil base line survey yang dilakukan oleh

Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LDUI) di 4 Provinsi (Jawa Timur,

Jawa Tengah, Jawa Barat dan Lampung) tahun 1999 hanya 55 % mengetahui

tentang proses kehamilan, 53% remaja tidak mengetahui bahwa sekali saja

berhubungan dapat mengakibatkan kehamilan serta 61% kehamilan tidak

diinginkan pada remaja usia 15-19 tahun dengan melakukan aborsi 12% dari

mereka melakukan aborsi yang dilakukan sendiri 70%, dokter 10% dan tenaga

medis 7% (Depkes 2005). Masih hasil survey, hanya 45,1% remaja mempunyai

pengetahuan yang baik tentang organ reproduksi, pubertas, menstruasi, dan

(11)

commit to user

Penelitian Sahabat Remaja Forum PKBI mengenai seksual pada remaja di

Yogyakarta dikatakan bahwa 26% dari 359 remaja Yogyakarta mengaku telah

melakukan hubungan seksual (Creagh,S. 2009). Kehamilan tidak diinginkan yang

dialami remaja di DIY sangat memprihatinkan; dari tahun 2003-2010 banyak

terjadi pernikahan di bawah umur karena kehamilan tidak diinginkan dan mereka

dikeluarkan dari Sekolah. Hasil dari investigasi dibeberapa Sekolah dan Kantor

Urusan Agama (KUA) di wilayah DIY ada sejumlah 554 pernikahan di bawah

umur (Widyatama, A. , 2010).

Permasalahan remaja erat kaitannya dengan kesehatan reproduksi di

karenakan kurangnya informasi dan pemahaman serta kesadaran untuk mencapai

sehat secara reproduksi. Untuk itu penyuluhan/ pendidikan kesehatan reproduksi

remaja sangat diperlukan dan dapat dikatakan sebagai keharusan. Agar remaja

mampu menyelesaikan masalah, bila terjadi KTD. Tujuan penyuluhan/pendidikan

dapat dipengaruhi oleh beberapa fakta yaitu metode pendidikan dan alat-alat

peraga pendidikan yang dipakai. Pendidikan kesehatan reproduksi remaja dapat

diberikan dengan berbagai metode yang disesuaikan dengan sasaran kelompok

remaja.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

tentang Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja terhadap

Kemampuan Kognitif Penyelesaian Masalah Kehamilan Tidak Diinginkan, dan

penelitian ini akan dilakukan pada mahasiswa DIII Kebidanan di Yogyakarta.

Mengingat bidan dalam tugasnya merupakan kunci utama untuk mempromosikan

(12)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

4

reproduksi. Penelitian akan dilakukan pada mahasiswa D III Kebidanan

Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Permata Indonesia semester I yang belum

pernah menerima materi kesehatan reproduksi remaja.

B. Rumusan Masalah

Adakah Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja Terhadap

Kemampuan Kognitif Penyelesaian Masalah Kehamilan Tidak Diinginkan?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum :

Untuk mengetahui Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja

terhadap Kemampuan Kognitif Penyelesaian Masalah Kehamilan Tidak

Diinginkan (KTD) pada Mahasiswa Kebidanan Politeknik Kesehatan

(Poltekkes) Permata Indonesia Yogyakarta.

2. Tujuan Khusus :

a. Mengetahui Kemampuan Penyelesaian Masalah KTD ditinjau dari aspek

ilmiah.

b. Mengetahui Kemampuan Penyelesaian Masalah KTD ditinjau dari aspek

etika.

c. Mengetahui Kemampuan Penyelesaian Masalah KTD ditinjau dari aspek

hukum pada mahasiswa Kebidanan Poltekkes Permata Indonesia

Yogyakarta.

d. Mengetahui Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja

Terhadap Kemampuan Kognitif Penyelesaian Masalah KTD pada

(13)

commit to user

D.Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu

pengetahuan khususnya kesehatan reproduksi remaja.

2. Manfaat Praktis

a. Pemberian penyuluhan tentang kesehatan reproduksi remaja (KRR)

diharapkan bermanfaat bagi mahasiswa sebagai calon bidan agar nantinya

mampu memecahkan masalah kesehatan reproduksi remaja.

b. Bagi institusi pendidikan khususnya kebidanan dapat menerapkan metode

penyuluhan/pendidikan yang baik dalam proses pembelajaran kesehatan

reproduksi remaja.

c. Bagi peneliti lain diharapkan hasil ini dapat dikembangkan lagi dalam

(14)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Kajian Teori

1. Penyuluhan Kesehatan

Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan

cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak

hanya sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran

yang ada hubungannya dengan kesehatan. Penyuluhan kesehatan adalah gabungan

berbagai kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk

mencapai suatu keadaan dimana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat

secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu bagaimana caranya dan melakukan apa

yang bisa dilakukan (Asian Brain, com, 2010). Penyuluhan/pendidikan harus

mempunyai konsep yang jelas, apa yang diinginkan oleh pendidikan kesehatan.

Pendidikan kesehatan sebagai bagian dari ilmu kesehatan juga mempunyai dua sisi,

yakni sisi ilmu dan sains. Dari sisi sains aplikasi pendidikan kesehatan merupakan

penunjang bagi program-program kesehatan lain misalnya pemberantasan penyakit,

program pelayanan kesehatan, program perbaikan gizi masyarakat.

Penyuluhan/pendidikan kesehatan terhadap subjek didik adalah proses perubahan

kearah dewasa, lebih baik dan matang pada diri individu, kelompok atau

masyarakat, (Notoatmodjo 2003). Masih menurut Notoatmodjo (2003) batasan

pendidikan kesehatan adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi

(15)

commit to user

apa yang diharapkan oleh pendidik. Hasil yang diharapkan adalah perilaku

kesehatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang kondusif.

Tujuan peyuluhan/pendidikan merupakan komponen yang sangat penting

dalam sistem pembelajaran, karena tujuan utama pendidikan adalah agar peserta

didik dapat mencapai kompetensi atau kemampuan. Melalui kemampuan yang baik,

diharapkan subjek didik dapat melakukan penyesuaian diri (well adjusted) dengan

baik. Kemampuan penyesuaian diri yang baik tersebut akan menjadikan individu

itu mampu melakukan respon-respon yang matang, efisien,memuaskan dan sehat

(Asrori,2008).

Menurut Notoatmodjo,(2003), sasaran pendidikan kesehatan dibedakan

menjadi 3 (tiga) tingkatan, yakni:

a. Sasaran primer adalah sasaran langsung, kepada keluarga ibu hamil dan

menyusui , untuk kesehatan ibu dan anak, anak sekolah untuk kesehatan

remaja.

b. Sasaran sekunder adalah tokoh masyarakat

c. Sasaran tertier adalah para pembuat keputusan

Sedangkan metode pendidikan kesehatan menurut Notoatmodjo

(2003) dapat dibedakan sebagai berikut:

a. Metode Pendidikan Individual.

Metode ini digunakan untuk membina perilaku baru atau perilaku

seseorang yang mulai tertarik kepada suatu perubahan dasar yang digunakan

(16)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

8

yang berbeda-beda, agar petugas kesehatan mengetahui dengan tepat serta

dapat membantunya.

Bentuk pendidikan ini antara lain :

1). Bimbingan dan penyuluhan

2). Interview

b. Metode Pendidikan Kelompok

Metode pendidikan kelompok dibagi:

1) Kelompok besar bila jumlah anggota kelompok lebih dari 15 orang,

metode yang digunakan ceramah, simulasi.

2) Kelompok kecil, jumlah anggota kelompok kurang dari 15 orang,

metode yang digunakan diskusi kelompok, brain storming, snow balling,

bruzz group , role play dan simulation game.

c. Metode Pendidikan Massa

Metode ini cocok untuk mengkomunikasikan pesan-pesan kesehatan

yang ditujukan untuk massa dengan menggunakan metode ceramah umum,

pidato, simulasi, sinetron, tulisan-tulisan majalah/ koran, dan bill board.

d. Metode Ceramah

Metode ceramah baik untuk sasaran lebih dari 15 orang yang

berpendidikan tinggi maupun rendah. Hal-hal yang perlu diperhatikan

dalam menggunakan metode ceramah adalah penceramah harus menguasai

materi yang akan diceramahkan secara sistematika yang baik,

mempersiapkan alat-alat bantu pengajaran misalnya makalah singkat, slide,

(17)

commit to user

ceramah adalah bila penceramah dapat menguasai sasaran ceramah dalam

sikap dan penampilan meyakinkan, suara hendaknya cukup keras dan jelas,

pandangan harus tertuju ke seluruh peserta ceramah, berdiri di depan

(ditengah) tidak boleh duduk dan menggunakan alat-alat bantu semaksimal

mungkin (Notoatmodjo, 2003).

2. Teori Belajar

Teori Belajar menurut teori Gestalt dalam buku Mustaqim (2008), adalah

penyesuaian pertama, yaitu mendapatkan response yang tepat, hal ini sangat

tergantung pada pengamatan. Dengan kata lain pemecahan problem sangat

tergantung kepada pengamatan, apabila dapat melihat situasi itu dengan tepat maka

problem “pencerahan” dan dapat memecahkan problem itu. Pemecahan problem

adalah mengadakan perubahan dari keadaan non pragnanz (tidak teratur, tidak

stabil, tidak simetri, tidak seimbang) ke keadaan pragnanz. Inti pelajaran menurut

aliran ini adalah mendapatkan “insight” artinya: dimengertinya persoalan,

dimengertinya hubungan tertentu, antara berbagai unsur dalam situasi tertentu,

hingga hubungan tersebut jelas dan akhirnya didapatkan kemampuan memecahkan

problem, bukan mengulang-ulang bahan yang dipelajari.

Insight ini dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu antara lain: (1) Sikap dan taraf

kompleksitas situasi, (2) Pengalaman, (3) Intelegensi dan kematangan individu.

Teori belajar menurut Notoatmojo (2003), dapat dikelompokan menjadi dua

kelompok besar yaitu teori stimulus-respons memperhitungkan faktor internal dan

(18)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

10

berpangkal pada psikologi asosiasi, dirintis oleh John Locke dan Hirbart. Dalam

teori ini apa yang terjadi pada diri subyek belajar merupakan rahasia atau biasa

disebut sebagai black box. Belajar mengambil tanggapan-tanggapan dan

menggabung-gabungkan tanggapan dengan jalan mengulang–ulang.

Tanggapan-tanggapan tersebut diperoleh melalui pemberian stimulus atau

rangsangan-rangsangan. Teori belajar yang kedua memperhatikan factor internal dan external.

Teori transformasi yang berlandaskan pada psikologi kognitif adalah transformasi

dari masukan (input), kemudian input tersebut direduksi, diuraikan, disimpan,

ditemukan kembali dan dimanfaatkan. Belajar dimulai dari kontak individu dengan

dunia luar. Transformasi dari masukan-masukan sensoris bersifat aktif melalui

seleksi untuk dimasukan kedalam ingatan/memori.

Ciri-ciri Kegiatan Belajar (Notoatmojo, 2003):

a. Belajar adalah kegiatan untuk menghasilkan perubahan pada diri individu

yang sedang belajar, baik aktual maupun potensial.

b. Perubahan tersebut pada pokoknya didapatkan karena kemampuan baru yang

berlaku untuk waktu yang relatif lama.

c. Perubahan-perubahan itu terjadi karena usaha bukan, bukan karena proses

kematangan. Hilgard, yang disarikan oleh Pasaribu dan Simanjuntak dalam

Notoatmojo (2003), yang menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses

perubahan kegiatan dan reaksi terhadap lingkungan.

3. Kesehatan Reproduksi Remaja

(19)

commit to user

Definisi kesehatan reproduksi yaitu suatu keadaan sejahtera fisik, mental

dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam

semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, serta fungsi dan prosesnya

(Kesepakatan Konferensi Wanita Sedunia di Beijing dalam Yani W, (2009).

Definisi ini sama yang ada di Undang-undang Kesehatan Nomor 36/2009,

Kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial secara

utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan

sistem, fungsi, dan proses reproduksi pada laki-laki dan perempuan. Kesehatan

reproduksi yang dimaksud yaitu; saat sebelum hamil, hamil, melahirkan, dan

sesudah melahirkan ; pengaturan kehamilan, alat kontrasepsi dan kesehatan seksual;

dan kesehatan sistem reproduksi.

b. Remaja

Remaja sebagai periode tertentu dari kehidupan manusia. Masa remaja

adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju kemasa dewasa. Menurut

Desmita (2006) untuk menentukan definisi yang memadai tetang remaja tidaklah

mudah, serta kapan masa remaja mulai dan kapan anak remaja tumbuh menjadi

dewasa, tidak dapat dipastikan. Desmita (2006) dalam bukunya Psikologi

Perkembangan, mengatakan batasan usia remaja menurut para ahli adalah antara

usia 12 hingga 21 tahun. Rentang usia remaja dibedakan atas tiga yaitu: masa

remaja awal, usia 12- 15 tahun, masa remaja pertengahan, usia 15 – 18 tahun, masa

remaja akhir, usia 18 – 21 tahun.

Periode remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak ke periode

(20)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

12

periode remaja merupakan klimak dari periode-periode perkembangan sebelumnya.

Dalam periode ini apa yang diperoleh dalam masa-masa sebelumnya diuji dan

dibuktikan sehingga dalam periode selanjutnya individu telah mempunyai suatu

pola pribadi yang lebih mantap (Latifah, M. 2010).

c. Kesehatan Reproduksi Remaja

Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut

sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja.Pengertian sehat

disini tidak semata-mata bebas dari penyakit atau bebas dari kecacatan namun sehat

secara mental serta sosial cultural (BKKBN, 2007).

Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu keadaan sehat sacara fisik, mental

dan kesejahteraan sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan

sistem dan fungsi serta proses reproduksi dan bukan hanya kondisi yang bebas dari

penyakit dan kecacatan serta dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah,

mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertaqwa

kepada Allah SWT, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antara

anggota dan antar keluarga dengan warga masyarakat dan lingkungan (Depag

Jateng, 2004)

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi Remaja.

Keadaan yang berpengaruh buruk terhadap kesehatan reproduksi remaja

(21)

commit to user

a. Masalah gizi, yang meliputi anemia dan kurang energi kronis, pertumbuhan

yang terhambat pada remaja putri yang dapat mengakibatkan kesempitan

panggul.

b. Masalah pendidikan, meliputi buta huruf dan pendidikan rendah dapat

mengakibatkan remaja kurang mampu memenuhi kebutuhan fisik dasar

ketika berkeluarga dan akan berpengaruh buruk terhadap derajat kesehatan

diri dan keluarganya.

c. Masalah lingkungan dan pekerjaan; lingkungan dan suasana kerja yang

kurang memperhatikan kesehatan remaja, lingkungan sosial yang kurang

sehat dapat menghambat bahkan merusak kesehatan fisik mental dan

emosional remaja.

d. Masalah seks dan seksualitas; pengetahuan yang tidak lengkap dan tidak

tepat tentang masalah seksualitas, kurangnya bimbingan untuk bersikap

positif dalam hal yang berkait dengan seksualitas, penyalahgunaan dan

ketergantungan napza, yang mengarah kepada penularan HIV/AIDS melalui

jarum suntik dan seks bebas, penyalahgunaan seksual, kehamilan remaja,

kehamilan pranikah.

e. Masalah kesehatan reproduksi; ketidakmatangan secara fisik dan mental,

resiko komplikasi dan kematian ibu dan bayi lebih besar, kehilangan

kesempatan untuk pengembangan diri remaja, resiko bertambah untuk

melakukan aborsi yang tidak aman.

5. Kemampuan Menyelesaikan Masalah

(22)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

14

pendidikan dibagi dalam tiga domain (ranah), yaitu ranah kognitif (cognitive

domain), ranah afektif (affective domain), dan ranah psikomotorik (psychomotor

domain). Di dalam ranah kognitif terdapat penerapan (application) yang meliputi

kemampuan menerapkan suatu kaidah/ metode untuk menyelesaikan masalah

kehidupan yang nyata pada suatu kasus atau problem yang konkrit dan baru,

termasuk masalah kehamilan tidak diinginkan yang terjadi pada remaja.

Aplikasi menurut Bloom dalam Mustaqim (2008), adalah merupakan suatu

abstraksi pada situasi konkret atau situasi khusus. Abstraksi tersebut bisa terbentuk

ide, teori, petunjuk teknis, prinsip atau generalisasi. Aplikasi (aplication) diartikan

sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi

atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi

penggunaan hukum- hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks

atau situasi yang lain, Notoatmojo (2003). Aplikasi adalah penggunaan abstraksi

pada situasi kongkrit atau situai khusus. Abstraksi tersebut berupa ide, teori atau

petunjuk teknis. Menerapkan abstraksi ke dalam situasi baru disebut aplikasi.

Abstraksi berupa prinsip atau generalisasi yakni suatu yang umum sifatnya untuk

diterapkan pada situasi khusus. Prinsip merupakan abstraksi suatu proses atau suatu

hubungan mengenai kebenaran dasar hukum umum yang berlaku dibidang ilmu

tertentu. Prinsip mungkin merupakan suatu pernyataan yang berlaku pada sejumlah

besar keadaan dan mungkin pula merupakan suatu deduksi dan suatu teori atau

asumsi. Generalisasi merupakan rangkuman sejumlah informasi atau rangkuman

(23)

commit to user

Kemampuan kognitif seperti pengamatan, perhatian, tanggapan, fantasi, dan

berfikir, merupakan sarana dasar untuk pengambilan keputusan oleh remaja dalam

melakukan penyesuaian diri (Asrori, 2007).

6. Ilmiah

Ilmiah menurut Badudu artinya bersifat ilmu, secara ilmu pengetahuan. Jadi

penyelesaian masalah kehamilan tidak diinginkan secara ilmiah adalah

penyelesaian yang bersifat bijak dan sesuai dengan kaidah pengetahuan di bidang

ilmu kesehatan reproduksi. Pengetahuan seseorang diperoleh melalui berbagai

sumber informasi. Ragam informasi tersebut dapat berasal dari pengalaman, proses

pendidikan/belajar, informasi media masa, media elektronik, buku-buku bacaan,

informasi dari petugas, teman dekat dan lain-lain. Pengetahuan dapat membentuk

keyakinan tertentu sehingga seseorang dapat melaksanakan sesuatu berdasarkan

pengalaman itu. Pengetahuan/kognitif merupakan faktor yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmojo, 2003). Dengan pengetahuan inilah

seseorang akan mengambil sikap untuk suatu tindakan dalam penyelesaian masalah

yang dihadapi. Sikap , merupakan reaksi yang tertutup tidak dapat dilihat secara

langsung hanya dapat ditafsirkan melalui perilaku yang tampak.

Menurut Notoatmojo (2003), sikap (attitude) merupakan reaksi atau respon

yang masih tertutup dari seseorang terhadap sesuatu stimulus atau objek. Sikap

positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu

tindakan nyata, hal ini disebabkan oleh beberapa alasan antara lain :

(24)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

16

b. Sikap akan diikuti atau tidak diikuti oleh tindakan yang mengacu kepada

pengalaman orang lain.

c. Sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasarkan pada banyak

atau sedikitnya pengalaman seseorang.

7. Etika

Etika adalah kode prilaku yang memperlihatkan perbuatan yang baik bagi

kelompok tertentu. Etika juga merupakan peraturan dan prinsip bagi perbuatan

yang benar. Etika berhubungan dengan hal yang baik dan hal yang tidak baik dan

dengan kuwajiban moral. Etika merupakan peraturan dan prinsip bagi perbuatan

yang benar. Etika berhubungan dengan hal yang baik dan hal yang tidak baik dan

dengan kuwajiban moral. Etika berhubungan dengan peraturan untuk perbuatan

atau tindakan yang mempunyai prinsip benar dan salah, serta prinsip moralitas

karena etika mempunyai tanggung jawab moral, menyimpang dari kode etik berarti

tidak memiliki perilaku yang baik dan tidak memiliki moral yang baik. Etika dapat

diartikan juga sebagai yang berhubungan dengan pertimbangan keputusan, benar

atau tidaknya suatu perbuatan, karena tidak ada undang-undang atau peraturan yang

menegaskan hal yang harus dilakukan (Suhaeni,ME. 2002).

Etika adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak atau moral, yang erat

kaitannya dengan nilai manusia dalam menghargai suatu tindakan apakah itu benar/

salah, baik/ buruk. Etika dan moral tidak bisa dipisahkan, etika berfokus pada

prinsip dan konsep yang membimbing manusia berfikir dan bertindak dalam

(25)

commit to user

Etika adalah moral yang berasal dari bahasa Latin mos/jamak mores yang

artinya kebiasaan/adat dan menurut Bertens, K.(2002). Etik yaitu nilai-nilai dan

norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam

mengatur tingkah lakunya. Menurut Dep Dik Bud dalam Bertens, K.(2002), Etika

adalah; ilmu tentang baik dan buruk, tentang hak dan kuwajiban, kumpulan azas

atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, nilai mengenai benar dan salah yang

dianut suatu golongan atau masyarakat. Sumber moral adalah agama mimiliki

fungsi yang strategis untuk menjadi sumber kekuatan moral yang baik bagi

manusia. Penyelesaian masalah kehamilan tidak diinginkan, ditinjau dari aspek

etika, harus memperhatikan moral budaya setempat dan juga moral agama sebagai

sumber moral.

8. Hukum.

Hukum adalah semua peraturan/perundangan yang berlaku dan dibuat oleh

yang berwenang , wajib dipatuhi oleh semua warga. Norma hukum perlu dipahami

baik norma hukum secara umum maupun secara khusus misalnya hukum kesehatan

(Sudarma, 2008). Hukum kesehatan yang mengatur penyelesaian masalah

kehamilan tidak diinginkan/ aborsi tertulis di Undang-undang Republik Indonesia

No. 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan, Bagian Keenam, Kesehatan reproduksi,

Pasal 75:

(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.

(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan

(26)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

18

(a) Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan,

baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita

penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat

diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup diluar kandungan;

atau

(b) Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma

psikologis bagi korban perkosaan.

(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan

setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri

dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang

kompeten dan berwenang.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan,

sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan

Pemerintah.

Pasal 76:

Aborsi sebagaimana dimaksud dalam paasal 75 hanya dapat dilakukan:

(1) Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama

haid terakhir, kecualui dalam hal kedaruratan medis.

(2) Oleh tenaga kesehatan yang memiliki ketrampilan dan kewenangan yang

memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh Menteri;

(3) Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;

(27)

commit to user

(5) Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh

Menteri.

Pasal 77:

Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak

bermutu, tidak aman dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan

norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Penyelesaian masalah KTD dalam penelitian ini hukum yang dipakai hukum

kesehatan. Secara tidak langsung hukum adat dan hukum agama juga berperan,

apalagi kalau tinggal di perkampungan pedesaan terpencil yang masih mengikuti

hukum adat, yaitu seperangkat norma dan aturan adat/kebiasaan yang berlaku

disuatu wilayah. Hukum agama adalah sistem hukum yang berdasarkan ketentuan

agama tertentu, yang terdapat dalam Kitab Suci, yang menjadi sumber hukum dan

moral.

9. Kehamilan yang Tidak Diinginkan (Unwanted pregnancy)

Resiko hubungan seksual pra nikah salah satunya adalah kehamilan yang

tidak diinginkan (KTD). Menurut Sugiharto dalam Soetjiningsih (2010) ada 2 hal

yang dilakukan remaja jika mengalami KTD, yaitu mempertahankan kehamilan

atau mengakhiri kehamilan (aborsi). Semua tindakan tersebut membawa resiko baik

fisik, psikis, maupun sosial.

(28)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

20

1) Resiko fisik kehamilan pada usia dini dapat menyebabkan kesulitan

dalam persalinan, pendarahan bahkan hingga terjadi kematian.

2) Resiko psikis/psikologis. Ada kemungkinan pihak perempuan menjadi

orang tua tunggal karena pria yang menghamili tidak bertanggung jawab

atas perbuatannya. Seandainya menikah, hal ini juga bisa

mengakibatkan perkawinan yang bermasalah dan penuh konflik karena

sama-sama belum dewasa dan belum siap menjadi orang tua.

Lebih-lebih pihak perempuan seakan dibebani berbagai perasaan yang tidak

nyaman seperti dihantui rasa malu yang terus menerus, rendah diri,

bersalah atau berdosa, tertekan, pesimis. Bila tidak ditangani dengan

baik, maka perasaan-perasaan tersebut bisa menjadi gangguan kejiwaan

yang lebih parah.

3) Resiko sosial, salah satunya adalah berhenti/putus sekolah atas kemauan

sendiri dikarenakan rasa malu atau cuti melahirkan. Kemungkinan lain

dikeluarkan dari sekolah, karena sekolah tidak mentolerir siswi yang

hamil. Resiko sosial lain adalah menjadi pembicaraan, kehilangan masa

remaja yang seharusnya dinikmati atau cap buruk karena melahirkan

anak “di luar nikah” serta terabaikannya hak pendidikan. Di Indonesia

melahirkan di luar nikah masih sering menjadi beban orang tua maupun

anak yang lahir.

b. Bila kehamilan diakhiri (aborsi):

Banyak remaja yang memilih untuk mengakhiri kehamilan (aborsi) bila

(29)

commit to user

dilakukan oleh dokter/ bidan yang berpengalaman sebaliknya aborsi tidak

aman bila dilakukan oleh dukun ataupun cara-cara yang tidak benar. Aborsi

bisa berdampak negatif secara fisik, psikis dan sosial terutama bila

dilakukan secara tidak aman.

Resiko yang dapat terjadi bila aborsi dilakukan tidak aman;

1) Resiko fisik. Pendarahan dan komplikasi yang dapat menyebabkan

infeksi dan terjadi kemandulan sampai berakibat fatal yaitu kematian.

2) Resiko psikis. Pelaku aborsi seringkali mengalami perasaan-perasaan

takut, panik, tertekan, atau stress, trauma mengingat proses aborsi dan

kesakitan. Kecemasan karena rasa bersalah dan dosa akibat aborsi,

selain itu perilaku aborsi juga mengakibatkan kehilangan kepercayaan

diri.

3) Resiko sosial. Ketergantungan pada pasangan sering kali menjadi lebih

besar karena perempuan merasa sudah tidak perawan, pernah mengalami

KTD dan aborsi. Selanjutnya remaja perempuan lebih sukar menolak

ajakan seksual pasangannya. Resiko lain adalah pendidikan terputus atau

masa depan terganggu.

B. Penelitian yang Relevan.

1. Yori Sulistia (2008), Judul penelitian “Hubungan progran Kesehatan

Reproduksi Remaja dengan Perilaku Pencegahan Seksualitas Pranikah Siswa

SMA di Kabupaten Agam Sumatra Barat” , menggunakan metode penelitian

(30)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

22

lebih banyak pada siswa yang mendapat KRR dari pada siswa yang tidak

mendapat KRR, dan ada hubungan bermakna dengan perilaku pencegahan

seksual adalah (P= 0,000, RP= 7,5), informasi orang tua (P= 0,004, RP= 2,5),

dan informasi teman sebaya (P= 0,03, RP= 0,39). Perbedaan dengan penelitian

yang akan dilakukan pada judul, rancangan penelitian, subjek, waktu dan tempat

penelitian. Persamaannya adalah sama-sama meneliti tentang kesehatan

reproduksi remaja.

2. Sri Lestari Dwi Astuti (2008), melakukan penelitian dengan judul “Hubungan

antara Pengetahuan dan Sikap terhadap Kesehatan Reproduksi dengan Perilaku

Seksual Pranikah pada Mahasiswa DIII Keperawatan Politehnik Kesehatan

Surakarta. Metode penelitian eksplanatory research dengan rancangan

crossectional subjek penelitian Mahasiswa DIII Keperawatan. Hasil; Terdapat

Hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap tentang Kesehatan

reproduksi dengan perilaku seksual pranikah, dengan uji P (P) 0,01< 0,05 dan

uju T (P) X1 0,002 dan (P) X2 0,046 lebih kecil 0,05 serta nilai R2 total = 0,448

atau 44,8%, secara parsial R2 X1= 0,189 atau 18,6% dan R2X2= 0,262 atau

26,2%. Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan pada judul, rancangan

penelitian, subjek, waktu, dan tempat penelitian. Persamaannya adalah meneliti

tentang kesehatan reproduksi.

3. Susilo Damarini (2009), Judul Pengaruh Pendidikan Kesehatan Reproduksi

Remaja terhadap Kemampuan Penangan Penyelesaian Masalah Kehamilan

tidak Diinginkan pada Mahasiswa Kebidanan di Kota Bengkulu. Metode :

Kuasi Eksperimen non randomized, pre tes – post tes Control group design.

Populasi Mahasiswa kebidanan, analisis uji Paired T-test, regresi linier

(31)

commit to user

kelompok sebaya dan ceramah dapat meningkatkan kemampuan remaja

dalam meningkatkan kemampun remaja dalam menyelesaikan masalah

KTD dan dipengaruhi oleh variabel keluarga. Nilai koefisien sebesar 3,18

(CI: 2,59-3,77). Nilai R-square 0,61 berarti variabel tempat tinggal sekarang

bersama keluarga dapat memprediksi kemampuan remaja dalam

menyelesaikan masalah KTD sebesar 61%, Perbedaan dengan penelitian

yang akan dilakukan pada judul, subjek, waktu dan tempat penelitian.

Sedang persamaannya adalah sama-sama meneliti tentang kesehatan

reproduksi remaja dengan KTD.

C. Kerangka Konsep

Gambar 2.1. Kerangka Konsep

D. Hipotesis

1. Ada Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja Terhadap

Kemampuan Kognitif Penyelesaian Masalah KTD ditinjau dari Aspek

Ilmiah.

KemampuanKognitif Penyelesaian Masalah KTD ditinjau dari aspek ilmiah, etika, dan hukum

Penyuluhan Kesehatan

Reproduksi Remaja

Variabelbebas

- Umur

- Tempat tinggal

- Tempat asal

Variabel terikat

(32)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

24

2. Ada Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja Terhadap

Kemampuan Kognitif Penyelesaian Masalah KTD ditinjau dari Aspek

Etika.

3. Ada Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja Terhadap

Kemampuan Kognitif Penyelesaian Masalah KTD ditinjau dari Aspek

Hukum.

4. Ada Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja Terhadap

Kemampuan Kognitif Penyelesaian Masalah KTD pada Mahasiswa D III

(33)

commit to user

25 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian bersifat kuantitatif dan rancangan dalam penelitian ini dengan

randomized control trial. Design ini menurut Sugiyono (2008) disebut Pre test –

Post test Control Group Design, dalam design ini terdapat dua kelompok yang

dipilih secara random, kemudian diberi pre test untuk mengetahui keadaan awal.

Selanjutnya dilakukan post test bagi kelompok eksperimen maupun kelompok

kontrol.

Berikut adalah bagan rencana penelitian:

Keterangan:

“1” Hasil observasi awal = pre test

“x” Pelaksanaan pendidikan KRR dengan ceramah “2” Hasil observasi akhir = post test

“3” Hasil observasi awal = pre test pada kelompok kontrol “4” Hasil observasi akhir = post test pada kelompok kontrol

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi penelitian di Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Permata Indonesia

Yogyakarta.

1 x 2

(34)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

26

2. Waktu pengambilan data mulai tanggal 14 Oktober sampai tanggal 8

November 2010

C.Populasi Sampel

1. Populasi : Semua mahasiswa DIII Kebidanan semester satu (1), di

Poltekkes Permata Indonesia Yogyakarta sebanyak 46 orang.

2. Sampel : Sampel pada penelitian ini total sampling, dengan randomisasi

untuk menentukan kelompok eksperimen dan kelompok

komtrol. Total sampling menurut Murti, B. (2010) disebut

exhaustive sampling, merupakan skema pencuplikan yang

mengambil semua subjek dari populasi sumber sebagai sampel

untuk diteliti. Kemudian sampel dilakukan randomisasi untuk

menentukan sampel penelitian yang mendapat penyuluhan

dengan ceramah dan sampel sebagai kontrol untuk belajar

mandiri dengan diberi hand out/materi, masing-masing dengan

jumlah yang sama. Dari populasi sebanyak 46 orang, dirandom

dengan mengambil undian, nomor satu (1) menjadi kelompok

kontrol dan nomor dua (2) menjadi kelompok penelitian.

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional.

1. Variabel Penalitian ini: variabel independen/variabel bebas adalah penyuluhan

(35)

commit to user

kemampuan kognitif penyelesaian masalah kehamilan tidak diinginkan (KTD).

Sedang sub variabelnya ada tiga yaitu penyesian masalah KTD ditinjau dari

aspek ilmiah, aspek etika, aspek hukum dan variabel luarnya adalah; umur

responden, tempat tinggal sekarang dan tempat asal responden.

2. Definisi Operasional:

Tabel 3.1. Definisi Operasional Variabel

No. Jenis Variabel Uraian

1.

Penyuluhan kesehatan reproduksi remaja yaitu proses pembelajaran/ceramah yang diberikan secara lisan dan tatap muka dengan responden, dalam ceramah diberikan juga scenario kasus yang memerlukan penyelesaian. Skala pengukuran : interval.

Kemampuan kognitif responden yang meliputi aspek ilmiah, aspek etika, dan aspek hukum dalam menyelesaikan masalah kehamilan tidak diinginkan dengan menggunakan test pertanyaan, jawaban Ya dan tidak, skor (1) untuk jawaban yang benar dan skor (0) untuk jawaban salah. Instrument dalam bentuk pertanyaan/kuestioner untuk pre test serta post test dengan pertanyaan tertutup dengan jawaban ya dan tidak.

Penyelesaian masalah secara bijak sesuai kaidah

pengetahuan tentang KESEHATAN Reproduksi

Remaja (KRR).

Penyelesaian masalah sesuai dengan etika/moral dan agama.

Penyelesaian masalah sesuai dengan kaidah hukum kesehatan.

Umur/usia remaja dalam tahun berdasar ulang tahun terakhir(17-20 Th), skala continue, alat ukur/instrument kuestioner.

(36)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

28

Tempat tinggal sekarang

kota Propinsi/ Kabupaten/Kota) dan pedesaan

(bertempat tinggal diluar perkotaan), alat ukur/ instrument questioner.

Tempat tinggal responden setelah menjadi mahasiswa, bersama orangtua/ keluarga, asrama, kos atau kontrak bersama dengan teman. Alat ukur kuestioner.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah daftar pertanyaan/ kuesioner tertutup,

responden tinggal menjawab ya/tidak. Instrument yang digunakan sudah diyakini

valid dan reliabel. Menurut Notoatmojo (2003) uji coba kuesioner dilakukan

untuk mengehatui validitas dan reliabilitas kuesioner. Sudah dilakukan uji

validitas dengan korelasi Pearson Product Moment dan uji realibilitas dengan

Spearman Brown, tanggal 5 Oktober 2010 pada mahasiswa DIII kebidanan

semester satu (1) STIKES Guna Bangsa Yogyakarta, dengan pertimbangan

lokasi, kondisi akademik, sarana prasarana hampir sama atau seimbang. Peserta

uji validitas dan reliabilitas sebanyak 30 orang. Hasil uji validitas 44 pernyataan,

dinyatakan valid 40 pernyataan, r hitung lebih besar dari r tabel (0,239). Hasil

perhitungan rumus Spearman Brown dibandingkan dengan tabel r product

moment, r hitung lebih besar atau sama dengan r tabel maka dinyatakan reliabel.

Hasil semua pernyataan dinyatakan reliable, namun yang digunakan hanya 40

pernyataan, disesuaikan dengan pernyataan yang valid. Hasil penghitungan

(37)

commit to user Tabel 3.2. Kisi-kisi Kuesioner.

No. Aspek Materi Jawaban N

Rincian kuesioner kemampuan

kognitif:

F. Tehnik Pengumpulan Data

Sumber data primer yang dikumpulkan melalui pre test dengan

memberikan pertanyaan tertutup, dan setelah perlakuan dilakukan post test juga

dengan pertanyaan tertutup dengan jawaban Ya atau tidak. Pre test tanggal 14

oktober 2010. Penyuluhan tanggal 17, 18, dan 19 Oktober 2010, media

pembelajaran menggunakaan alat bantu visual dan diberikan hand out tanggal 19

Oktober 2010. Sedang kelompok kontrol hanya diberikan hand out, pada hari

yang sama dengan pemberian hand out pada kelompok eksperimen. Kemudian

berselang 15 hari, tanggal 4 November 2010 diadakan post test bagi kelompok

(38)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

30

Hal ini dilakukaan dengan pertimbangan cukup memenuhi persyaratan, posr test

dilakukan pada hari ke 15-30 setelah perlakuan (Notoatmodjo, 2005)

G. Teknik Analisa Data

Pengolahan data dilakukan melalui proses:

a. Editing

Memeriksa kelengkapan jawaban responden dan meminta menjawab kembali

apabila terdapat pertanyaan yang belum dijawab/ jawaban tidak jelas.

b. Coding

Memberikan kode terhadap jawaban responden, yaitu “1” untuk jawaban

yang benar dan “0” untuk jawaban yang salah.

c. Transfering

Memindahkan jawaban yang telah diberi kode kedalam master table.

d. Tabulating

Menghitung dan menjumlah karakteristik dan jawaban yang sama kemudian

disusun dalam tabel umum disertai dengan keterangan untuk setiap

karakteristik dan pengetahuan.

e. Analisa data.

1) Analisis univariabel

Analisis ini untuk menganalisis distribusi frekuensi masing-masing

(39)

commit to user

Analisis univariabel menggunakan distribusi frekuensi untuk mengetahui

gambaran secara menyeluruh yaitu jumlah responden, jumlah persentasi,

umur remaja, tempat tinggal asal dan tempat tinggal sekarang.

2) Analisis bivariabel

Analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas

(Penyuluhan kesehatan reproduksi remaja) dan variabel terikat

(Kemampuan kognitif penyelesaian masalah kehamilan tidak diinginkan

dilihat dari aspek ilmiah, aspek etika dan aspek hukum). Pada penelitian

ini variabel bebas menggunakan skala interval dan variabel terikat

menggunakan skala interval, maka uji statistik yang digunakan adalah

Uji Paired T test / Uji T beda rata-rata.

H. Jadwal Penelitian

Tabel 3.3. Jadwal Penelitian.

No. Kegiatan Waktu Pelaksanaan

1.

September – Oktober 2010 Oktober – November 2010 November – Desember 2010

(40)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Subjek Penelitian adalah Mahasiswa DIII Kebidanan semester satu (1)

Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Permata Indonesia Yogyakarta. Umur 17 sampai

dengan 20 tahun, jumlah mahasiswa 46 orang, yang dibagi menjadi dua (2)

kelompok secara random, yaitu kelompok I sebagai kelompok eksperimen 23

orang mahasiswa mendapat penyuluhan dengan ceramah dan kelompok II sebagai

kelompok kontrol 23 orang mahasiswa diberi hand out untuk belajar mandiri.

1. Analisa Univariat

Untuk mendiskripsikan tentang karakteristik responden dalam penelitian ini ,

disajikan dalam bentuk tabel frekwensi, meliputi : (a) Umur responden (b)

Tempat tinggal asal dan (c) tempat tinggal sekarang.

Tabel 4.1. Karakteristik Responden Subjek Penelitian.

(41)

commit to user

Berdasarkan tabel 4.1. diatas dapat diketahui bahwa responden mayoritas

umur 18 tahun baik kelompok experiment (ceramah) 18 (78,3%), maupun

kelompok kontrol 17 (73,9%) dari 76,1%.

Tabel 4.2. Karakteristik Penyuluhan KRR dan Kemampuan Penyelesaian Masalah KTD

Karakteristik Ceramah Belajar

(42)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Tabel 4.2. terlihat ada peningkatan skor (mean) dari hasil pre test - post test secara

menyeluruh baik dari kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol.

Peningkatan skor (mean) kesehatan reproduksi remaja terhadap kemampuan

kognitif penyelesaian masalah kehamilan tidak diinginkan pada kelompok

eksperimen (ceramah) pre test 30,61 dan post test 34,30; kelompok kontrol

(belajar mandiri) pre test 28,65 dan post test 31. Kemampuan kognitif

penyelesaian masalah kehamilan tidak diinginkan peningkatan pada kelompok

eksperimen skor (mean) pre test 13,13 post test menjadi 15,83; kelompok kontrol

pre test 12,17 – post test 14,78. Penyelesaian masalah kehamilan tidak diinginkan

ditinjau dari aspek ilmiah pada kelompok eksperimen pre test 5,7 – post test 6,00;

kelompok kontrol pre test 5,35 - post test menjadi 6,00; aspek etika kelompok

eksperimen pre test mean 4,09 - post test 5,74; kelompok kontrol pre test 3,74 –

post test 5,00; dan aspek hukum kelompok eksperimen pre test mean 3,35 – post

(43)

commit to user

Tabel 4.3. Uji Homoginitas Kelompok Eksperimen Ceramah) dan Kontrol

(Belajar Mandiri)

Aspek F P

-KRR terhadap Kemampuan Penyelesaian Masalah KTD - Kemampuan Kognitif -Aspek Ilmiah

-Aspek Etika -Aspek Hukum

0,012

0,640 0,921 0,199 1,404

0,913

0,428 0,343 0,658 0,242

Hasil uji homogenitas kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

menunjukan homogen, diketahui dari penyuluhan Kesehatan Reproduksi

Remaja (KRR) terhadap kemampuan kognitif penyelesaian masalah

KehamilanTidak Diinginkan (KTD), sebesar (F) 0,012 pada tingkat signifikan

(P) 0,91, (P >0,05). Kemampuan kognitif (F) 0,640 pada tingkat signifikan

(P) 0,428, (P.>0,05) berarti Kemampuan kognitif homogen. Aspek ilmiah

homogen (F) 0,921 dengan (P) 0,343, (P> 0,05), juga aspek etika (F) 0,199,

(P) 0,658, (P > 0,05) dan aspek hukum dengan (F) 1,404 tingkat signifikan

(P) 0,242, (P>0,05) berarti keduanya homogen.

2. Analisa Bivariat

Analisa bivariat untuk hubungan antara variabel bebas penyuluhan kesehatan

reproduksi remaja (ceramah) dengan variabel terikat (kemampuan kognitif

penyelesaian masalah kehamilan tidak diinginkan meliputi aspek ilmiah,

(44)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

36

Dalam penelitian ini uji yang digunakan adalah uji Paired T test, yaitu untuk

mengetahui peningkatan skor pre test dan post test baik kelompok eksperimen

dan kelompok kontrol.

Tabel 4.4. Perbedaan Peningkatan skor pre test-post test Kesehatan

Reproduksi Remaja dengan Kemampuan kognitif

Penyelesaian Masalah KTD pada Kelompok eksperimen (ceramah) dan Kelompok kontrol (belajar mandiri).

Kelompok

Dari tabel 4.4. dapat dilihat bahwa dengan Paired T test ada peningkatan skor

pre test– post test pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Peningkatan skor mean kelompok eksperimen -5,391 (CI: -6,680 - -4,102),

T hit -8,674 > T tb 2,074 nilai (P) 0,000 < 005, berarti secara statistik

bermakna dan signifikan secara praktis. Pada kelompok kontrol, hasil uji

Paired T test juga menunjukan peningkatan skor mean -5,130 (CI: -6,881 -

-3,380, T hit -6,077 > T tb 2,074 nilai (P) 0,000 < 0,05, secara statistik

bermakna dan signifikan secara praktis.

Berdasar hasil analisis ini menunjukan peningkatan skor yang bermakna

secara praktis dan statistik penyuluhan kesehatan reproduksi remaja dengan

kemampuan kognitif penyelesaian masalah kehamilan tidak diinginkan (Ada

(45)

commit to user

kognitif penyelesaian masalah Kehamilan Tidak Diinginkan), baik kelompok

eksperimen maupun kelompok kontrol.

Dibawah dapat dilihat pada grafik peningkatan skor pre test dan post testnya.

Grafik 4.1. Peningkatan Skor Pre test dan Post test Kesehatan Reproduksi Remaja Terhadap Kemampuan Kognitif Penyelesaian Masalah Kehamilan Tidak Diinginkan.

Tabel 4.5. Perbedaan Kemampuan Penyelesaian Masalah Kehamilan

Tidak Diinginkan Pada Kelompok Eksperimen (Ceramah). Varibel/sub

(46)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

38

nilai rerata pre test dan post test, kelompok eksperimen; kemampuan kognitif,

aspek etika, aspek hukum secara praktis dan statistic bermakna. Variabel

kemampuan kognitif, CI -2,696, T hit -8,674 > T tb 2,074, (P) 0,000 <0,05;

aspek etika, CI -1,652, T hit -7,713 > T tb 2,074, (P) 0,000 <0,05; aspek

hukum, CI 0,739, T hit -4-376 > T tb 2,074, (P) 0,000 < 0,05. Sedang aspek

ilmiah menunjukan tidak signifikan atau tidak bermakna CI 0,304, T hit

-1,127 < T tb 2,074, P 0,272 > 0,05 berarti tidak ada perbedaan yang

bermakna antara pre test dan post test dari aspek ilmiah.

Tabel 4.6. Perbedaan Kemampuan Penanganan Masalah Kehamilan Tidak Diinginkan Pada Kelompok Kontrol (Belajar - Mandiri). Variabel/

Dilihat dari tabel 4.6. Variabel maupun sub variabel menunjukan selisih nilai

rerata pre test dan post test kelompok kontrol, secara statistik dan praktis

signifikan atau bermakna. Variabel kemampuan kognitif CI -2,609, T hit

-6,204 > T tb 2,074, (P) 0,000 < 0,05, aspek ilmiah CI-0,652, T hit -3,347 > T

tb 2,074, P 0,003 < 0,05; aspek etika CI -1,261, T hit -5,319 > T tb 2,074, (P)

0,000 < 0,05; aspek hukum CI 0,609, T hit -2,826 > T tb 2,074, (P) 0,010 <

(47)

commit to user

Tabel 4.7. Peningkataan Skor Pre test dan Post test Kemampuan kognitif Penyelesaian Masalah Kehamilan Tidak Diinginkan Pada Kelompok Eksperimen dan Kontrol.

Variabel/sub

Dari tabel 4.7. bahwa kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol

keduanya menunjukan peningkatan Skor post test, namun pada kelompok

eksperimen secara keseluruhan peningkatannya lebih tinggi dari kelompok

kontrol, hanya peningkatan pada aspek ilmiah kelompok eksperimen yang

(48)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

40

Tabel 4.8. Perbedaan Kemampuan Kognitif, Aspek Ilmiah, Aspek Etika, Aspek Hukum Dilihat Dari Umur, Tempat Tinggal Asal, Tempat Tinggal Sekarang Pada Kelompok Eksperimen (Ceramah)

Variabel-Sub variabel/

umur sama kemampuan kognitifnya dalam penyelesaian masalah KTD. F hit

0,260 < F tb 3,127 dan P 0,853 > P 0,05. Tempat tinggal asal Perkotaan dan

Pedesaan, T hit 0,868 < T tb 2,080 dan P 0,395 > 0,05 berarti tidak ada

perbedaan dalam kemampuan kognitif penyesaian masalah KTD. Tempat

tinggal sekarang, tinggal bersama orang tua dan di Kos, F hit 0,697 < F tb

3,127 dan P 0,413 > 0,05 berarti tidak ada perbedaan kemampuan kognitif

penyelesaian masalah KTD, antara yang tinggal bersama orang tua dengan di

(49)

commit to user

dilihat dari umur, semua kelompok umur sama dalam penyelesaian masalah

KTD, F hit < F tb dan P> dari 0,05. Dari tempat tinggal asal, tidak ada

perbedaaan, antara yang tinggal di Perkotaan maupun Pedesaan

kemampuannya dalam penyelesaian masalah KTD. T hit < T tb dan P > dari

0,05. Dilihat dari tempat tinggal sekarang bersama orang tua dan di Kos juga

tidak ada perbedaan penyelesaian masalah KTD, baik Aspek ilmiah, etika

maupun aspek hukum, F hit < F tb dan P > 0,05.

Tabel 4.9. Perbedaan Kemampuan Kognitif, Aspek Ilmiah, Aspek Etika, Aspek Hukum Dilihat dari Umur, Tempat Tinggal Asal, Tempat Tinggal Sekarang, Pada Kelompok Kontrol (Belajar Mandiri) Variabel-Sub variabel/

Tempat Tinggal Asal Tempat Tinggal Sekarang

Tempat Tinggal Asal Tempat Tinggal Sekarang

Tabel 4.9. diatas menunjukan bahwa kemampuan kognitif pada kelompok

kontrol, dilihat dari umur, semua kelompok umur sama kemampuan

(50)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

42

> 0,05. Tempat tinggal asal dari Perkotaan maupun Pedesaan juga tidak ada

perbedaan kemampuan kognitif penyelesaian masalah KTD, T hit 0,240 < T

tb 2,080 dan P > 0,05. Tempat tinggal sekarang tidak ada perbedaan pada

kemampuan kognitif penyelesaian masalah KTD, F hit 0,730 < F tb 3,217 dan

P > 0,05. Dari aspek ilmiah, aspek etika dan aspek hukum, pada semua

kelompok umur, yang tinggal di Perkotaan, Pedesaan dan tinggal bersama

orang tua dan di Kos semua sama kemampuannya dalam penyelesaian

masalah KTD. Hasil menunjukan F / T hit < F / T tb dan P > 0,05.

B.

PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan untuk: Mengetahui pengaruh penyuluhan

kesehatan reproduksi remaja (KRR) terhadap kemampuan kognitif

penyelesaian masalah kehamilan tidak diinginkan (KTD), dan tujuan khusus

untuk (1) Mengetahui kemampuan penyelesaian masalah kehamilan tidak

diinginkan ditinjau dari aspek ilmiah; (2) Penyelesaian masalah KTD ditinjau

dari aspek etika; (3) Penyesaian masalah KTD ditinjau dari aspek hukum; (4)

Mengetahui pengaruh penyuluhan KRR terhadap kemampuan kognitif

penyelesaian masalah KTD pada mahasiswa DIII Kebidanan Poltekkes

Permata Indonesia Yogyakarta.

1. Pengaruh penyuluhan kesehatan reproduksi remaja (KRR) terhadap

kemampuan kognitif penyelesaian masalah kehamilan tidak diinginkan

(KTD), penelitian ini mencoba untuk melihat pengaruh KRR melalui

(51)

commit to user

sebagai kelompok kontrol, terhadap penyelesaian masalah KTD pada

mahasiswa DIII Kebidanan semester I, di Yogyakarta. Pengukuran

dilakukan dengan melihat hasil evaluasi sebelum perlakuan dengan pre test

dan setelah perlakuan. Evaluasi intervensi penyuluhan kesehatan

reproduksi remaja dengan post test. Pengukuran dengan cara ini untuk

melihat seberapa besar pengaruh perlakuan terhadap kemampuan kognitif

penyelesaian masalah KTD. Pre test untuk melihat seberapa besar nilai

dasar kemampuan penyelesaian masalah KTD responden sebelum diberi

perlakuan, sedang post test digunakan untuk melihat seberapa besar

responden dapat menyerap materi yang diberikan pada saat perlakuan.

Prosedur penelitian telah dilaksanakan, Pre test dilakukan awal penelitian,

tiga (3) hari dari pelaksanaaan pre test dilakukan ceramah sebanyak 3 kali/

3 hari berturut-turut dan diberi hand out. Kelompok kontrol diberi hand out

pada hari terakhir kelompok eksperimen mendapat ceramah. Kemudian 15

hari berikutnya dilakukan post test secara bersama-sama. Prosedur ini

sesuai pendapat Notoatmojo, (2005), pengetahuan yang terukur pada masa

ini telah tersimpan dalam memori jangka panjang subjek. Selang waktu

15-30 hari adalah cukup untuk memenuhi persyaratan. Apabila selang

waktu terlalu pendek, kemungkinan remaja masih ingat

pernyataan-pernyataan pada pre test sedangkan bila waktu itu terlalu lama,

kemungkinan pada remaja telah terjadi perubahan dalam variabel yang

akan diukur. Dengan melihat hasil pre test dan post test yang ada

(52)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

44

Kebidanan Poltekkes Permata Indonesia dengan penyuluhan menjadi

lebih baik.

Berdasarkan hasil analisis statistik pada penelitian ini bahwa perbedaan

nilai rerata kemampuan responden pada pre test dan post test antara

kelompok eksperimen dan kontrolmenunjukan hasil yang bermakna.

Hasil penelitian dengan uji Paired T test, post test menunjukan bahwa

kemampuan responden meningkat secara signifikan, T hitung > T tabel

-8,674 > 2,074), P 0,000 < P 0,05 berarti secara statistik bermakna dan

signifikan secara praktis, berarti ada pengaruh penyululuhan KRR

terhadap kemampuan kognitif penyelesaian masalah KTD. Demikian juga

kelompok kontrol menunjukan bermakna, T hitung > T tabel (-6,077 >

2,074), P 0,000 < P 0,05 ada pengaruh belajar mandiri terhadap

kemampuan kognitif penyelesaian masalah KTD.

Hasil penelitian kelompok eksperimen dibanding kelompok kontrol lebih

tinggi (2,08) karena perlakuan dengan metode ceramah dibanding belajar

mandiri ada beberapa kelebihan yaitu dalam ceramah responden disamping

mendengarkan juga dapat membaca sendiri dan dapat minta penjelasan

bila ada yang kurang jelas, sedang kelompok belajar mandiri hanya

membaca sendiri tanpa dapat menanyakan kepada tutor manakala ada

hal-hal yang kurang jelas. Hal ini sesuai dengan kerucut Elgar Dale dalam

Notoatmojo (2003) bahwa ada 11 tingkatan yang menggambarkan tingkat

intensitas penggunaan alat bantu/peraga dalam menyampaikan

Figur

Grafik Peningkatan Skor Pre test dan Post test                           37 Penyuluhan KRR Terhadap Kemampuan Koginif        Penyelesaian Masalah   KTD
Grafik Peningkatan Skor Pre test dan Post test 37 Penyuluhan KRR Terhadap Kemampuan Koginif Penyelesaian Masalah KTD . View in document p.5
tabel and P < 0,05. But, from scientific aspect view point, there were no significant
P 0 05 But from scientific aspect view point there were no significant . View in document p.8
Gambar 2.1. Kerangka Konsep
Gambar 2 1 Kerangka Konsep . View in document p.31
Tabel 3.1. Definisi Operasional Variabel
Tabel 3 1 Definisi Operasional Variabel . View in document p.35
Tabel 3.2. Kisi-kisi Kuesioner.
Tabel 3 2 Kisi kisi Kuesioner . View in document p.37
Tabel 3.3. Jadwal Penelitian.
Tabel 3 3 Jadwal Penelitian . View in document p.39
Tabel 4.1. Karakteristik Responden Subjek Penelitian.
Tabel 4 1 Karakteristik Responden Subjek Penelitian . View in document p.40
Tabel 4.2. terlihat ada peningkatan skor (mean) dari hasil pre test - post test secara
Tabel 4 2 terlihat ada peningkatan skor mean dari hasil pre test post test secara . View in document p.42
Tabel 4.3. Uji Homoginitas Kelompok Eksperimen Ceramah) dan Kontrol   (Belajar Mandiri)
Tabel 4 3 Uji Homoginitas Kelompok Eksperimen Ceramah dan Kontrol Belajar Mandiri . View in document p.43
Tabel 4.4. Perbedaan Peningkatan skor pre test-post test Kesehatan
Tabel 4 4 Perbedaan Peningkatan skor pre test post test Kesehatan . View in document p.44
Grafik 4.1. Peningkatan Skor Pre test dan Post test Kesehatan Reproduksi
Grafik 4 1 Peningkatan Skor Pre test dan Post test Kesehatan Reproduksi . View in document p.45
Tabel 4.6. Perbedaan Kemampuan Penanganan Masalah Kehamilan
Tabel 4 6 Perbedaan Kemampuan Penanganan Masalah Kehamilan . View in document p.46
Tabel 4.7. Peningkataan Skor Pre test dan Post test Kemampuan kognitif   Penyelesaian Masalah Kehamilan Tidak Diinginkan Pada    Kelompok Eksperimen dan Kontrol
Tabel 4 7 Peningkataan Skor Pre test dan Post test Kemampuan kognitif Penyelesaian Masalah Kehamilan Tidak Diinginkan Pada Kelompok Eksperimen dan Kontrol. View in document p.47
Tabel 4.8. Perbedaan   Kemampuan  Kognitif,  Aspek  Ilmiah,  Aspek    Etika, Aspek  Hukum  Dilihat  Dari  Umur, Tempat Tinggal Asal,  Tempat Tinggal Sekarang  Pada  Kelompok  Eksperimen (Ceramah)
Tabel 4 8 Perbedaan Kemampuan Kognitif Aspek Ilmiah Aspek Etika Aspek Hukum Dilihat Dari Umur Tempat Tinggal Asal Tempat Tinggal Sekarang Pada Kelompok Eksperimen Ceramah . View in document p.48
Tabel 4.9. Perbedaan Kemampuan Kognitif, Aspek Ilmiah, Aspek Etika,
Tabel 4 9 Perbedaan Kemampuan Kognitif Aspek Ilmiah Aspek Etika . View in document p.49

Referensi

Memperbarui...