1
PENGARUH LAMA PERENDAMAN TELUR DALAM EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava) TERHADAP DAYA TETAS TELUR, KELANGSUNGAN
HIDUP DAN PERTUMBUHAN IKAN MAS KOI (Cyprinus carpio L.) Dedi Tama Putra, Nawir Huhar, Elfrida, M.Si.
Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta. E-mail :[email protected]
ABSTRACT
This study aims to determine the length of immersion of eggs in guava leaf extract in different doses against the hatchability of eggs and the survival and growth of koi carp (Cyprinus carpio L.). He method used in this research is the method of experiment . The research design used in this research is completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 repetitions. Treatment A (Control / without soaking), Treatment B (Old Time Immersion Eggs 10 Minutes) and treatment C (Old Time Immersion Eggs 20 Minutes), treatment D (Long Time Immersion Eggs 30 Minutes). The results showed that the hatching eggs by immersion guava leaf extract was not significantly different, the level of hatching eggs were the highest in treatment B with a percentage of 73.33 %, and the lowest in treatment C with a percentage of 63.16%. Survival rate of koi carp were not significantly different, the highest survival rate in the treatment A with a percentage of 85.04 %, and the lowest in treatment D with a percentage of 51.98 %. The highest absolute weight is the treatment of A (0.21 g), the lowest in treatment C (0.19 g). While long pesentase highest absolute growth in treatment A (1,71cm) and the lowest in treatment B (1.54 cm).
Keywords : guava leaf extract, egg hatchability , survival rate , growth
PENDAHULUAN Latar Belakang
Budidaya ikan hias merupakan salah satu usaha agribisnis yang sangat potensial di Indonesia, dapat dilihat dari lahan yang digunakan dalam budidaya ikan hias yang tidak terbatas. Komoditas ikan hias air tawar merupakan salah satu komoditas unggulan yang banyak diminati
masyarakat. Salah satu komoditas
unggulan yang hingga saat ini masih
diminati adalah budidaya ikan koi
(Cyprinus carpio L.).
Ikan koi berasal dari Jepang yang didatangkan ke Indonesia pada tahun 1962. Ikan koi disukai karena memiliki berbagai macam pola warna dan bentuk tubuh yang indah sehingga menjadikan ikan hias ini menarik para pecinta ikan hias baik dalam dan luar negeri (Arddhiagung dkk.,
2009).
Ikan mas koi merupkan ikan penghasil telur atau larva yang banyak, namun pada saat telur yang dihasilkan oleh ikan saat pemijahan, telur ikan mas koi sering terserang jamur. Salah satu jamur yang sering menyerang ikan maupun telur
2
ikan adalah jamur Saprolegnia sp. Cara yang paling aman untuk mencegah jamur Saprolegnia sp. adalah dengan memanfaatkan obat-obatan herbal yang ramah lingkungan dan mudah terurai di perairan. Salah satunya adalah tumbuhan
jambu biji. Jambu biji merupakan
tumbuhan obat yang cukup ampuh untuk
mengatasi berbagai penyakit. Selain
buahnya, bagian tanaman lain yang sering digunakan sebagai obat adalah daunnya. Daun jambu biji diketahui mengandung senyawa tannin 9-12%, minyak atrisi, minyak lemak dan asam malat. Anomious
(1989)
Efektifitas daun biji dalam
pencegahan penyakit Saprolegniasis
didasarkan pada kemampuan tanin sebagai zat anti jamur. Menurut Noga (1996), 0,15 gr tanin/liter air efektif untuk mencegah serangan jamur pada telur ikan mas Koi (Cyprinus carpio L.).
Berdasarkan uraian diatas, maka dilakukan penelitian tentang pengaruh perendaman dengan ekstrak daun jambu biji terhadap daya tetas daya telur ikan mas koi (Cyprinus carpio L.).
Tujuan Penelitian
1. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui lama perendaman telur dalam ekstrak daun jambu biji yang
terbaik dalam daya tetas,
kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan mas koi (Cyprinus carpio L.).
2. Untuk mengatahui pengaruh
perendaman ekstrak daun jambu biji terhadap daya tetas telur.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang lama perendaman telur dalam ekstrak daun jambu biji terhadap daya tetas telur ikan,
kelangsungan hidup ikan mas koi
(Cyprinus carpio L.).
MATERI DAN METODA Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada
tanggal 6 September – 15 Oktober 2015 di Laboratorium Terpadu Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta.
Materi Penelitian Wadah
Wadah yang digunakan dalam penelitian adalah akuarium sebanyak 12 unit dengan ukuran 40x20x20 cm dengan ketinggian air 15 cm yang bervolume 12 liter air setiap perlakuan dan ulangan.
Ikan Uji
Ikan uji yang digunakan dalam penelitian adalah induk ikan mas koi sebanyak 2 ekor induk jantan dan 1 ekor induk betina yang dipijahkan dan telur yang digunakan 2400 butir, dimana masing-masing wadah diisi 200 butir yang
3
diperoleh dari Laboratorium Terpadu Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta
Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Handcounter 2. Akuarium 3. Termometer 4. Timbangan 5. Kertas milimeter 6. DO 7. pH Universal Metoda Penelitian
2.3.1 Perlakuan dan Rancangan
Metoda yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode Eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4
perlakuan dan 3 ulangan. Adapun
perlakuan yang akan diuji pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
Model rancangannya adalah :
yij = µ +τ i + Σij
Yij = Ulangan ke j akibat perlakuan ke-i µ = Nilai tengah
τi = Pengaruh perlakuan ke-i
∑ij =Galat
Adapun perlakuan yang diuji pada
penelitian adalah sebagai berikut :
Perlakuan A = kontrol (tanpa perendaman)
Perlakuan B = lama waktu perendaman telur 10 menit
Perlakuan C = lama waktu perendaman telur 20 menit
Perlakuan D = lama waktu perendaman telur 30 menit
Hipotesis Dan Asumsi
Hipotesis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah :
1. Hipotesis Awal (Ho) : Tidak ada pengaruh ekstrak daun jambu biji terhadap derajat penetasan telur, kelangsungan hidup dan pertumbuhan pada ikan mas koi
2. Hipotesis Akhir (Hi) :Ada pengaruh ekstrak daun jambu biji terhadap derajat penetasan telur, kelangsungan hidup dan pertumbuhan pada ikan mas koi
Asumsi yang digunakan :
1. Pengaruh genetik dianggap sama
2. Penanganan induk selama
penelitian dianggap sama
Prosedur Penelitian
1. Pembuatan Ekstrak Daun Jambu Biji dengan Cara Maserasi
1. Daun jambu biji dipilih yang bagus lalu dicuci dan dibersihkan
2. Kemudian daun diblender sampai
halus, selanjutnya ditimbang
sebanyak 45 gram dan
ditambahkan air sebanyak 9 liter dan didiamkan selama 24 jam lalu disaring, ekstrak daun jambu biji siap digunakan
3. Setelah itu ekstrak dimasukkan kedalam wadah perendaman telur sesuai perlakuan dan ulangan
4 2. Pemijahan Induk Ikan
1. Menyiapkan wadah pemijahan
induk yang berisikan kakaban 2. Lalu induk ikan jantan dan ikan
betina dipijahkan dalam satu
wadah, pemijahan dilakukan
dengan cara semi alami dengan menyuntikkan hormon ovaprim pada induk ikan mas koi dengan dosis 0.5 ml
3. Setelah induk berhasil memijah, telur yang menempel dikakaban di ambil sebanyak 200 butir
3. Perendaman Telur Dengan Ektrak Daun Jambu Biji
1. Telur diambil sebanyak 200 butir perwadah
2. Setelah itu dilanjutkan dengan perendaman telur pada wadah perendaman yang berisi ekstrak daun jambu biji
3. Setelah dilakukan perendaman
selama waktu yang telah ditentukan berdasarkan perlakuan, maka telur dipindahkan ke wadah penetasan
4. Pengamatan Penetasan Telur
1. Dilakukan perhitungan jumlah telur
yang menetas dengan
menggunakan hand counter
2. Setelah menetas, maka dilanjutkan pengamatan pertumbuhan larva ikan mas koi hingga berumur 40 hari
3. Pengamatan pertumbuhan ikan
dilakukan sekali sepuluh hari selama empat puluh hari
4. Pengontrolan kualitas air yaitu suhu, pH, dan DO dilakukan 2 kali pada awal dan akhir penelitian
Peubah yang Diamati Derajat Penetasan Telur
Menurut Efendi (1997), derajat
penetasan telur dihitung dangan
menggunakan rumus :
Jml Telur Yg Terbuahi Derajat Penetasan Telur = ---X 100%
Jml Telur yg Dihasilkan Laju Sintasan
Kelangsungan hidup benih ikan
dapat dihitung menggunakan rumus
(Effendie, 1978) : SR
=
NtNo x 100 %
Keterangan :
SR = Laju sintasan benih ikan (%)
Nt = Jumlah benih ikan yang hidup sampai akhir penelitian
No = Jumlah ikan awal penelitian
Pertumbuhan Bobot Ikan
Menurut Effendi (1978),
pertambahan bobot ikan dapat di hitung dengan menggunakan :
𝐖 = 𝐖𝐭 − 𝐖𝐨 Keterangan :
W = Pertumbuhan Bobot
Wt = Bobot Akhir Penelitian (gr) Wo = Bobot Awal Penelitian (gr)
5 Laju Pertumbuhan Panjang Mutlak
Menurut Effendie (1978) laju
pertumbuhan panjang mutlak dapat
dihitung dengan rumus :
Lm = Lt – Lo
Keterangan :
Lm = Laju pertumbuhan mutlak (mm) Lt = Pertumbuhan panjang mutlak / hari
(mm)
Lo = Panjang awal (ekor)
Pengukuran Kualitas Air
Selama penelitian pengukuran
kualitas air dilakukan 2 kali yaitu pada
awal dan akhir penelitian dengan
parameter suhu, pH dan DO.
Analisis Data
Semua data yang diperoleh dari hasil penelitian terlebih dahulu dilakukan uji homogenitas dengan menggunakan system pengolahan data SPSS 13 dengan pengaplikasian One Way Anova. Apabila
data homogen selanjutnya dianalisa
dengan uji F(anava). Jika F hitung <F tabel pada taraf kepercayaan 95%, berarti tidak ada pengaruh ekstrak daun jambu biji terhadap derajat penetasan telur ikan mas koi, Ho diterima dan Hi ditolak. Jika F hitung > F tabel pada taraf kepercayaan 95%, berarti ada pengaruh ekstrak daun jambu biji terhadap derajat penetasan telur ikan mas koi, Ho ditolak dan Hi diterima. Untuk melihat adanya perbedaan antar perlakuan dilakukan uji lanjut Duncan (DMRT).
HASIL DAN PEMBAHASAN Derajat Penetasan Telur
Data hasil penghitungan tetas telur ikan mas koi dengan menggunakan ekstrak daun jambu biji dari masing-masing perlakuan dan ulangan dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rata-rata daya tetas telur ikan mas koi yang direndam dengan menggunakan ekstrak daun jambu biji per perlakuan
Perlakuan Ulangan Telur Menetas Rata-rata Daya Tetas (%)
a 1 200 154 72.00±8.23a 2 200 125 3 200 153 b 1 200 136 73.33±6.80a 2 200 142 3 200 162 c 1 200 120 63.16±8.69a 2 200 113 3 200 146 d 1 200 126 67.00±8.71a 2 200 154 3 200 122
Keterangan : huruf superscrip yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05), sedangkan huruf superscrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05).
6
Berdasarkan hasil pengamatan
memperlihatkan bahwa daya tetas telur ikan mas koi yang tertinggi terjadi pada perlakuan B dengan daya tetas 73.33±6.80
(73.33%), kemudian diikuti pada
perlakuan A tanpa perendaman ektrak daun jambu biji dengan daya tetas 72.00±8.23 (72%), pada perlakuan D
memiliki derajat penetasan dengan rataan 67.00±8.71 (67%), dan yang paling terendah pada perlakuan C yaitu dengan daya tetas 63.16±8.69 (63.16%) seperti gambar 1.
Untuk melihat hasil derajat penetasan tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada gambar 1 berikut :
Gambar 1. Bardiagram Derajat Penetasan Telur Keterangan :
Perlakuan A = kontrol (tanpa perendaman ekstrak) Perlakuan B = lama waktu perendaman telur 10 menit Perlakuan C = lama waktu perendaman telur 20 menit Perlakuan D = lama waktu perendaman telur 30 menit
Dari gambar 1 diatas dapat dilihat bahwa derajat penetasan yang tertinggi
terdapat pada perlakuan B dengan
perendaman telur menggunakan ekstrak daun jambu biji selama 10 menit dengan rataan 73,33%, kemudian diikuti oleh perlakuan A tanpa perendaman ektrak daun jambu biji dengan rataan 72% dan pada perlakuan D dengan perendaman selama 30 menit dengan rataan 67% dan yang terendah pada perlakuan C dengan lama perendaman 20 menit dengan rataaan 63,13%.
Pada pengamatan selama penelitian bahwa dalam perendaman telur ikan mas koi dengan menggunakan ektrak daun
jambu biji memiliki daya tetas yang tinggi namun tidak jauh berbeda dengan tanpa menggunkan ektrak daun jambu biji, ini kemungkinan bahwa daya tetas telur
memiliki kemampuan untuk
mengantisipasi serangan bakteri dan
jamur.
Effendi (1985), serangan jamur
dapat melemahkan chorion sehingga chorion kehilangan kekuatannya, lalu menjadi berkerut karena jamur yang menempel pada chorion berkecabah dan hypha akan menembus chorion untuk mengambil zat-zat makanan di dalamnya.
Menurut Ariyanti et. al., (2012),
perbedaan kecepatan penyerapan senyawa
0 20 40 60 80 100 A B C D D e rajat Pen atasan te lu r (% )
Perlakuan
72 73.33 63.16 677
antibakteri pada media agar serta jenis dan konsentrasi senyawa antibakteri yang berbeda juga memberikan zona hambat yang berbeda.
Hasil pengamatan telur dengan menggunakan mikroskop digital dapat dilihat telur yang mati akibat jamur Saprolegnia sp. dan telur yang tidak terkena oleh jamur Saprolegnia sp. Telur yang terkena oleh jamur akan terlihat memutih dan menjadi berubah seperti warna kecolatan, untuk dapat melihat telur yang terkena jamur Saprolegnia sp. terlihat pada gambar berikut :
Gambar 2. Telur Yang Terhindar Oleh Jamur dan Terkena Jamur
Keterangan :
A = telur yang diserang oleh jamur Saprolegnia sp. B = telur yang tehindar oleh jamur Saprolegnia sp.
Jamur Saprolegnia sp. berbentuk benang meneyerupai kapas yang berwarna putih sampai kelabu dan coklat. Hypa Saprolegnia sp. berkoloni pada telur yang telah mati, menghasilkan miselia kusut yang berlebih sehingga mengakibatkan
matinya telur hidup yang berada disekitar telur mati tersebut.
Almufrodi dalam Abuzar (2014)
yang menyatakan bahwa kandungan kimia pada telur yang dibuahi dapat menarik jamur, sehingga jamur bergerak secara kemotaksis positif mengakibatkan jamur semakin mendekat dan akhirnya menempel pada telur.
Dari pengamatan yang dilakukan bahwa derajat penetasan telur ikan mas koi dengan menggunakan ekstrak daun jambu biji pada tiap perlakuan dengan hasil analisis One Way Anova bahwa tidak ada derajat penatasan telur ikan yang berbeda
nyata, dimana F hitung 0,99% <F table <4,07
pada taraf kepercayaan 95%, yang berarti Ho diterima dan Hi ditolak.
Laju Sintasan
Data hasil penghitungan tingkat kelangsungan hidup ikan mas koi dari masing-masing perlakuan dan ulangan dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Rata-rata laju sintasan (%) ikan mas koi dengan menggunakan
ekstrak daun jambu biji
Perlakuan Ulangan Awal Akhir Rata-rataLaju Sintasan (%) A 1 154 128 85.04±2.71a 2 125 105 3 153 127 B 1 136 103 77.17±1.67a 2 142 109 3 162 128 C 1 120 98 81.24±2.25a 2 113 94 3 146 115 D 1 126 103 51.98±45.03a 2 154 114 3 122 102
Keterangan : huruf superscrip yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05), sedangkan huruf superscrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05). B A Telur yang terhindar dari jamur hypa
8
Berdasarkan tabel 2 hasil
pengamatan memperlihatkan bahwa
tingkat kelangsungan hidup ikan mas koi selama penelitian yang tertinggi terjadi
pada perlakuan A dengan tingkat
kelangsungan hidup 85.04±2.71(85,04%),
kemudian diikuti pada perlakuan C dengan nilai rata-rata 81.24±2.25 (81,24%), pada perlakuan B memiliki dengan rataan 77.17±1.67 (77,17%), dan yang paling terendah pada perlakuan D yaitu dengan tingkat kelangsungan hidup 51.98±45.03 (51,98%).
Dari pengamatan yang dilakukan bahwa derajat kelangsungan hidup pada tiap perlakuan dengan hasil analisis One Way Anova bahwa tidak ada kelangsungan hidup ikan yang berbeda nyata (lampiran
2), dimana F hitung 3,157 <F table <4,07 pada
taraf kepercayaan 95%, yang berarti Ho diterima dan Hi ditolak.
Untuk dapat melihat tingkat
kelangsungan hidup ikan mas koi pada tiap-tiap perlakuan dan ulangan dapat dilihat pada gambar 3 berikut :
Gambar 3. Bardiagram Laju Sintasan (%) Keterangan :
Perlakuan A = kontrol (tanpa perendaman)
Perlakuan B = lama waktu perendaman telur 10 menit Perlakuan C = lama waktu perendaman telur 20 menit Perlakuan D = lama waktu perendaman telur 30 menit
Dari gambar 3 diatas dapat dilihat bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan mas koi terdapat pada perlakuan A dengan rataan 85,04%, kemudian diikuti oleh perlakuan C dengan rataan 72% dan pada perlakuan B dengan rata-rata 77,17% dan yang terendah pada perlakuan D dengan rata-rata 51,98%.
Berdasarkan hasil pengamatan
selama penelitian bahwa tingkat
kelangsungan hidup ikan mas koi dengan menggunakan ektrak daun jambu biji dan tanpa menggunakan ekstrak daun jambu biji tidak berbeda nyata, namun kuat dugaan bahwa adanya pengaruh atau
0 50 100 A B C D Laj u S in tasan (% )
Perlakuan
85,04 77,17 81,24 51,989
beberapa hal yang terjadi saat penetasan telur.
Tingkat kelangsungan hidup pada setiap perlakuan tidak berbeda nyata, namun pada perlakuan D memiliki tingkat kelangsungan hidup ikan yang rendah kerana diduga pada perlakuan D memiliki tingkat kepadatan yang tinggi sehingga terdapat persaingan makanan dalam setiap individu larva ikan selama penelitian. Namun kemungkin ada bebarapa hal yang mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup pada perlakuan D rendah
Menurut Effendie dalam Lubis
(2002) menyatakan bahwa tingginya
mortalitas disebabkan faktor lingkungan (kualitas air yang tidak sesuai), tidak tersedianya pakan ,serta kerusakan fisik akibat kurang hati – hatinya dalam penanganan.
Pertumbuhan Berat Mutlak
Dari hasil analisis pertumbuhan benih ikan mas koi selama 40 hari dapat dilihat rata-rata pertumbuhan berat mutlak ikan uji pada tabel 3.
Tabel 3. Rata-rata pertumbuhan berat mutlak (gr) benih ikan mas koi pada tiap-tiap perlakuan dan ulangan
Perlakuan Pertumbuhan Berat Mutlak (gr)
A 0.21±0.01a B 0.20±0.11a C D 0.19±0.02a 0.20. ±0.00a Keterangan :
huruf superscrip yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05), sedangkan huruf superscrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)
Berdasarkan table 3 hasil analisis One Way Anova memperlihatkan bahwa berat mutlak ikan mas koi yang tidak berbeda nyata selama penelitian yang tertinggi terjadi pada perlakuan A dan B dengan berat rata-rata pada perlakuan A yaitu 0.21±0.01 (0,21gr), kemudian diikuti pada perlakuan B dengan berat rata-rata
0.20. ±0.11 (0,20gr), pada perlakuan D
memiliki dengan rataan 0.20±0.00
(0,20gr), dan yang paling terendah pada perlakuan C yaitu dengan rataan 0.19±0.02 (0,02 gr).
Untuk dapat melihat pertumbuhan berat mutlak ikan mas koi pada tiap-tiap perlakuan dan ulangan dapat dilihat pada gambar 4 berikut :
10
Gambar 4. Bardiagram Pertumbuhan Bobot Mutlak Keterangan :
Perlakuan A = kontrol (tanpa perendaman)
Perlakuan B = lama waktu perendaman telur 10 menit Perlakuan C = lama waktu perendaman telur 20 menit Perlakuan D = lama waktu perendaman telur 30 menit
Dari gambar 4 diatas dapat dilihat bahwa rata-rata persentase berat mutlak tertinggi didapatkan pada perlakuan A dengan nilai 0,21gr diikuti pada perlakuan B dengan rata-rata 0,20gr, pada pelakuan D yaitu dengan nilai rata-rata berat mutlak 0,20gr serta pertumbuhan berat mutlak terendah didapatkan pada perlakuan C sebesar 0,19gr.
Dalam penelitian pemberian
makanan pada larva ikan mas koi selama 40 hari diberikan pakan alami yang berbentuk serbuk kuning telur, Artemia sp, Dhapnia sp serta cacing sutera yang dicincang. Namun yang terlihat pada perlakuan C memiliki pertumbuhan bobot mutlak yang rendah selama 40 hari, ini diduga bahwa ada faktor-faktor yang
mempengaruhi terhambatnya pertumbuhan ikan.
Dari pengamatan yang dilakukan bahwa pertumbuhan berat mutlak ikan mas koi dengan menggunakan ekstrak daun jambu biji pada tiap perlakuan dengan hasil analisis One Way Anova bahwa tidak ada petumbuhan berat ikan yang berbeda
nyata, dimana F hitung 0,596 <F table <4,07
pada taraf kepercayaan 95%, yang berarti Ho diterima dan Hi ditolak.
Pertumbuhan Panjang Multak
Dari hasil penelitian yang
dilakukan pada pemeliharaan benih ikan mas koi selama 40 hari terhadap pertumbuhan panjang mutlak yang berbeda dapat dilihat pada tabel 5.
0 0,1 0,2 0,3 A B C D 0,21 0.20 0,19 0.20 PERLAKUAN Pertumb u h an B o b o t M u tl ak (g r)
11
Tabel 5. Rata-rata pertumbuhan panjang mutlak (cm) benih ikan mas koi pada tiap-tiap perlakuan dan ulangan.
Perlakuan Ulangan Awal Akhir Pertumbuhan Panjang Mutlak (cm)
A 1 0.73 2.48 1.71±0.02b 2 0.73 2.4 3 0.76 2.36 B 1 0.82 2.38 1,54±1.03a 2 0.76 2.41 3 0.71 2.28 C 1 0.75 2.27 1,58±0.17a 2 0.74 2.31 3 0.78 2.31 D 1 0.78 2.23 1.55±0.15a 2 0.79 2.33 3 0.75 2.32 Keterangan :
huruf superscrip yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05), sedangkan huruf superscrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)
Dari tabel 5 diatas dapat dilihat bahwa pertumbuhan panjang mutlak larva ikan mas koi yang dipelihara antara perlakuan A dengan perlakuan B,C dan D memperlihatkan berbeda nyata, namun memiliki pertumbuhan panjang mutlak yang tertinggi yakni perlakuan A dengan nilai (1.71±0.02) diikuti oleh perlakuan C dengan nilai rataan (1,58±0.17), kemudian diikuti pada perakuan D dengan rata-rata (1.55±0.15), serta pertumbuhan terendah terdapat pada perlakuan B dengan nilai (1,54±1.03).
Dalam penelitian pemberian
makanan pada larva ikan mas koi selama 40 hari diberikan pakan alami. 3 hari setelah penetasan larva ikan mas koi diberikan pakan alami yaitu kuning telur
yang berbntuk serbuk. Kemudian pada hari ke 7, pemberian pakan diganti dengan pakan alami lain yaitu berupa Artemia sp sampai umur 15 hari, umur 16 sampai umur 25 hari diberikan pakan alami Dhapnia sp, setelah itu baru diberi cacing tubifek atau cacing sutera hingga umur ikan 40 hari. Pemberian makanan pada ikan dilakukan 3 kali dalam sehari secara adlibitum.
Dari analisis One Way Anova
menunjukkan bahwa rata-rata
pertumbuhan panjang mutlak ikan mas koi dari setiap perlakuan dan ulangan berbeda
nyata, dimana F hitung 2,355 <F table <4,07
pada taraf kepercayaan 95%, yang berarti Hi diterima dan Ho ditolak.
12
Untuk lebih jelas gambaran data pertumbuhan panjang mutlak ikan mas koi
selama penelitian dapat dilihat dalam bentuk line seperti dibawah ini.
Gambar 5. Line Pertumbuhan Panjang Mutlak Keterangan :
Perlakuan A = kontrol (tanpa perendaman)
Perlakuan B = lama waktu perendaman telur 10 menit Perlakuan C = lama waktu perendaman telur 20 menit Perlakuan D = lama waktu perendaman telur 30 menit
Dari gambar 5 dapat dilihat bahwa tingkat pertumbuhan panjang mutlak selama penelitian ikan mas koi dalam pengamatan 40 hari antara perlakuan A,B, C dan perlakuan D pada pengukuran sekali sepuluh hari tidak berbeda nyata. Pada pengukuran 10 hari dari setiap perlakuan dan ulangan, pada perlakuan D memiliki pertumbuhan tertinggi dengan rata-rata yaitu 0.77 cm, pada pengukuran ke 20 hari yang tertinggi pada perlakuan A yaitu dengan rata-rata 1,12 cm. pengukuran ke 30 hari yang tertinggi pada perlakuan B dengan rata-rata 1,86 cm dan pada pengukuran ke 40 hari yang tertinggi terjadi pada perlakuan A dengan rata-rata 2,45 cm.
Amri dan Khairuman (2002),
menyatakan bahwa dua sampai tiga hari telur akan menetas dan tumbuh menjadi larva dengan ukuran berkisar antara 0,5-0,6 mm dengan bobot antara18-20 mg. Larva kemudian berubah menjadi kebul (larva stadia akhir) dalam waktu 4-5 hari, setelah 2-3 minggu kebul akan menjadi burayak (stadia benih) yang mempunyai ukuran panjang 1-3 cm dan bobot 0,1-0,5 gram.
Kualitas Air
Pengamatan parameter kualitas air media pemeliharaan ikan uji dilakukan 2 kali selama penelitian, yaitu kualitas air awal penelitian dan akhir penelitian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut : 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 10 20 30 40 Per tu m b u h an Pan jan g M u tlak (c m ) Umur Larva a b c d D. 0.77 D1.09 A. 1.7 D. 2.32 A. 0.74 C. 0.75 B. 0.76 C. 1.09 B. 1.03A. 1.12 A. 2.45 D.1.85C. 1.8 B. 1.86 C. 2.34B. 2.3 PERLAKUAN
13
Tabel 6. Rata-rata parameter kualitas air media pemeliharaan larva ikan mas koi Parameter
Awal Penelitian Akhir Penelitian Baku Mutu Air Kelas II (PP No. 82/2011) A B C D A B C D Suhu (Oc) 28,9 28 28 28 28 28,9 28 28,9 25-30 Ph 7,2 7 7 7,2 7 7 7,2 7,2 6-9 DO (Ppm) 5 5,5 5,5 5,5 5,5 5,5 5,5 5,5 4
Parameter kualitas air selama
penelitian untuk tiap-tiap perlakuan yang diukur pada awal dan akhir penelitian adalah suhu berkisar antara 28-28,9ºC. Sesuai dengan pendapat Lesmana (2001), suhu optimal untuk ikan tropis adalah
27oC.
Derajat keasaman (pH) selama penelitian berkisar antara 7-7,2 pada setiap perlakuan dan ulangan, Kandungan pH yang ideal bagi produktivitas perairan adalah 5,5-6,5, sedangkan kisaran pH yang baik untuk pemeliharaan ikan adalah 7-8,5
(Effendie, 1997). Kandungan DO selama
penelitian adalah 5 ppm/l, hal ini sesuai dengan kondisi oksigen yang ideal
(Djatmika, 1986).
Selama penelitian kualitas air yaitu suhu, pH, dan DO dalam kisaran standar yang layak untuk budidaya.
KESIPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdsarkan hasil penelititian
selama 40 hari dapat ditarik kesimpulan tentang pengaruh ekstrak daun jambu biji
terhadap daya tetas dan pertumbuhan ikan mas koi adalah :
1.
Dosis yang optimal larutan ekstrakdaun jambu biji yang digunakan sebagai bahan untuk meningkatkan daya tetas telur ikan adalah dengan konsentrasi 5 gr /l air dalam waktu perendaman 10 menit.
2. Daya tetas telur ikan mas koi yang tertinggi yang direndam dalam ekstrak daun jambu biji selama 10 menit adalah 73,33% (pada perlakuan B). 3. Laju sintasan ikan mas koi yang
tertinggi pada perlakuan A dengan rataan 85,04%
4. Pertumbuhan bobot mutlak ikan mas
koi yang tertinggi adalah pada
perlakuan A yaitu dengan rataan yaitu 0,21
5. Pertumbuhan panjang mutlak terdapat pada perlakuan A yaitu 1,71 cm. 6. Kualitas air pada masa penelitian
adalah suhu 28-28,90C, pH dengan
14 DAFTAR PUSTAKA
Abuzar. 2014. Pengaruh Penggunaan
Ekstrak Daun Jambu Bijiterhadap
Daya Tetas Telur Ikan
Gurami(Osphronemus Gouramy
Lac)
Almufrodi, A, 2012. “Efektifitas Lama
Perendaman Telur Ikan Lele
Sangkuriang Dalam Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L)
Terhadap Serangan Jamur
Saprolegnia sp” Jurnal FPIK, Universitas Pajajaran, Bandung
Amri, K dan Khairuman. 2002. Menanggulangi Penyakit Pada Ikan Mas dan Koi Jakarta.
Anomious. 1986. Sediaan Galenik. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 91 halaman
Anomious. 2011. Klasifikasi Jamur
Saprolegnia sp.
related:srirahmaningsih.blogspot.c om/2011/08/jamur-saprolegnia-sp-penyebab-penyakit.html klasifikasi jamur saprolegnia sp. (08 Januari 2015).
Arddhiagung, G.F., Putri, F.E., dan Nugroho, S.J. 2009. Budidaya
Ikan Koi (Cyprynus carpio) di Izhaku Koi Farm Belitar Jawa
Timur. PKM Artikel
Ilmiah.http://repository.ipb.ac.id/h andle/123456789/19987/10.Septem ber 2012.
Ariyanti, N. K., I. B. G. Darmayasa dan S. K. Sudirga. 2012. Daya Hambat
Ekstrak Kulit Daun Lidah Buaya (Aloe barbadensis Miller) terhadap
Pertumbuhan Bakteri
Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC 25911. J. Biologi., XVI (1): 1-4.
Djatmika, 1986. Usaha Perikanan Air
Deras. Simplek. Jakarta.
Effendi. M.I, 1997. Metoda Biologi
Perikanan. Penerbit Yayasan Dwi Sri Bogor.
---. M.I. 1978. Biologi Perikanan.
Fakultas Perikanan Institut
Pertanian Bogor.
Khairuman dan Amri, 2002. Budidaya
Ikan Nila Secara Intensif.
Agromedia Pustaka. Jakarta.
Lubis, S.2002. Pemeliharaan Larva Ikan
Bilih (Mystacoleucus Padangesis)
Dengan Padat Tebar Yang
Berbeda. Skripsi. Fakultas Perikan Universitas Bung Hatta. Padang.
Noga, E.J. 1996. Fish Disease Diagnosis
and Treatment. Mosby-Year Book, Inc. St. Louis, MO. 367 p.
Yang, X. L., Hsieh, K. L.,and Liu, J. K.,2007, Guajadial: an unusual
meroterpenoid from guava leaves Psidium guajava, Organic Letters, 9(24), 5135-5138