Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia ii
Sapta Tertib Pertanahan
i
Daftar Isi
ii
Daftar Tabel, Grafik dan Gambar
iv
Kata Pengantar
vii
Ikhtisar Eksekutif
ix
BAB I
PENDAHULUANA. Latar Belakang 1
B. Maksud dan Tujuan 3
C. Kedudukan, Tugas dan Fungsi 3
D. Struktur Organisasi 4
E. Sumber Daya Manusa dalam Organisasi 5
F. Sistimatika Penyajian LAKIP 8
BAB II
RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJAA. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional 2010-2014
10
B. Rencana Strategis 2010-2014 13
C. Penetapan Kinerja Tahun 2013 16
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia iii
A. Pengukuran Kinerja 19
B. Capaian Indikator Kinerja Utama 22
C. Evaluasi dan Analisis Capaian Kinerja 23
1. Sasaran 1: Terwujudnya jaminan kepastian hukum hak atas tanah
23
2. Sasaran 2: Terwujudnya pengendalian dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka peningkatan akses terhadap sumber ekonomi
36
3. Sasaran 3: Terciptanya pengaturan, dan penataan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan
pemanfaatan tanah secara optimal dan berkeadilan
39
4. Sasaran 4: Berkurangnya sengketa, konflik, dan perkara pertanahan di seluruh Indonesia
45
5. Sasaran 5: Terpenuhinya Infrastruktur Pertanahan Di Indonesia 48 D. Kinerja Lainnya 51 E. Akuntabilitas Keuangan 65
BAB IV
PENUTUP Penutup 71 1. Rencana Strategis 2010-2014 2. Penetapan Kinerja 2013 3. Pengukuran KinerjaLAMPIRAN
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia iv
No. Nama Hal
1. Gambar 1.1 Struktur Organisasi 5
2. Tabel 1.1 Pegawai berdasarkan unit kerja 6
3. Grafik 1.1 Pegawai berdasarkan unit kerja 6
4. Tabel 1.2 Pegawai berdasarkan Golongan 6
5. Grafik 1.2 Pegawai berdasarkan Golongan 6
6. Tabel 1.3 Pegawai berdasarkan Pendidikan 6
7. Grafik 1.3 Pegawai berdasarkan Pendidikan 6
8. Tabel 1.4 Pegawai berdasarkan Usia 7
9. Grafik 1.4 Pegawai berdasarkan Usia 7
10. Tabel 1.5 Pegawai berdasarkan Jabatan 7
11. Grafik 1.5 Pegawai berdasarkan Jabatan 7
12. Tabel 1.6 Pegawai berdasarkan Jenis Kelamin 7
13. Grafik 1.6 Pegawai berdasarkan Jenis Kelamin 7
14. Tabel 2.1 Penetapan Kinerja BPN-RI Tahun 2013 17
15. Tabel 3.1 Kategorisasi Kinerja 20
16. Gambar 3.1 Peta Kinerja unit kerja daerah tahun 2013 21
17. Gambar 3.2 Peta Output Fisik Unit Kerja Daerah tahun 2013 21
18. Tabel 3.2 Capaian IKU tahun 2013 22
19. Gambar 3.3 Penyerahan sertipikat di Palembang 23
20. Grafik 3.1 Perbandingan Target Legalisasi Aset dalam
Renstra dan Tapkin (2010-2014) 24
21. Tabel 3.3 Capaian IKU-1 pada SS-1 24
22. Grafik 3.2 Persentase Realisasi Capaian IKU-1 25
23. Tabel 3.4 Perbandingan Realisasi Legalisasi Aset tahun
2012 dan 2013 25
24. Tabel 3.5 Capaian sertipikasi Prona 2010-2013 26
25. Grafik 3.3 Capaian sertipikasi Prona 2010-2013 26
26. Tabel 3.6 Capaian sertipikasi UKM 2010-2013 28
27. Grafik 3.4 Capaian sertipikasi UKM 2010-2013 28
28. Tabel 3.7 Capaian Sertipikasi Pertanian 2010-2013 30
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia v
29. Tabel 3.8 Capaian Sertipikasi Nelayan 2010-2013 31
30. Tabel 3.9 Capaian Sertipikasi Transmigrasi 2010-2013 32
31. Gambar 3.4 Pelayanan malam di daerah Duren Sawit 32
32. Tabel 3.10 Capaian Sertipikasi MBR 2010-2013 33
33. Tabel 3.11 Kategorisasi Indeks Kepuasan Masyarakat 34
34. Tabel 3.12 Unsur-unsur yang dinilai pada IKM 34
35. Tabel 3.13 Peringkat Indeks Kepuasan Masyarakat tahap II
tahun 2013 35
36. Tabel 3.14 Pencapaian IKU pada SS-2 36
37. Tabel 3.15 Pencapaian IKU pada SS-3 39
38. Tabel 3.16 Capaian Konsolidasi Tanah 2010-2014 41
39. Grafik 3.5 Capaian Konsolidasi Tanah 2010-2014 41
40. Grafik 3.6 Jumlah bidang hasil Konsolidasi Tanah Tahun
2010-2013 41
41. Tabel 3.17 Target IKU pada Renstra 2010-2014 43
42. Tabel 3.18 Realisasi Pencapaian Indikator Kinerja 44
43. Grafik 3.7 Realisasi Redistribusi Tanah Tahun 2010-2013 45
44. Gambar 3.5 Peninjauan Lokasi sengketa di Mesuji Lampung 45
45. Tabel 3.19 Tabulasi jumlah sengketa Konflik perkara
pertanahan nasional 47
46. Tabel 3.20 Pencapaian IKU Tahun 2013 48
47. Tabel 3.21 Pencapaian IKU pada SS-5 Tahun 2013 48
48. Gambar 3.6 Peta dasar pertanahan Tahun 2013 49
49. Gambar 3.7 Peta Tematik pertanahan Tahun 2013 50
50. Gambar 3.8 Peta Zona Nilai Tanah dan Kawasan Tahun 2013 50
51. Gambar 3.9 Loket khusus Pelayanan One Day Service 51
52. Gambar 3..10 Waktu Pelayanan Layanan Cepat (Quick Service) 53
53. Gambar 3.11 Biaya dan Waktu Penyelesaian Layanan Cepat
(Quick Service) 53
54. Gambar 3.12 Weekend Service 53
55. Gambar 3.13 Suasana Layanan 54
56. Gambar 3.14 Layanan Tujuh Menit 55
57. Gambar 3.15 Jenis, Waktu dan Biaya LANTUM 56
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia vi
59. Gambar 3.17 BPN Go Mobile 59
60. Tabel 3.22 Kata Kunci/Prefix pada Layanan SMS Pertanahan 60
61. Gambar 3. 18 Layanan Anggota Masyarakat 61
62. Gambar 3. 19 Penandatanganan MoU 61
63. Tabel 3.23 Realisasi Anggaran BPN-RI Tahun 2013 66
64. Gambar 3.19 Peta serapan Anggaran Unit Kerja Daerah Tahun
2013 66
65. Tabel 3.24 Alokasi Anggaran Per Program Tahun
2010-2013 67
66. Grafik 3.8 Realisasi Anggaran BPN-RI tahun 2010-2013 67
67. Tabel 3.24 Realisasi Penerimaan PNBP BPN-RI Tahun
2010-2013 68
68. Grafik 3.9 Persentase Realisasi Penerimaan PNBP BPN-RI
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia vii
Kata Pengantar
Segala puja, puji, dan syukur
senantiasa kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas berkah dan
rahmat-Nya pula maka Laporan
Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah (LAKIP) Badan
Pertanahan Nasional Republik
Indonesia (BPN-RI) Tahun 2013 ini dapat diselesaikan pada waktunya.
LAKIP BPN-RI Tahun 2013 merupakan dokumen pertanggung-jawaban terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi instansi BPN-RI kurun waktu tahun 2013, sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) BPN-RI 2010-2014 dan Rencana Kinerja Tahunan (RKT) BPN-RI 2013.
Oleh karenanya, melalui penyusunan laporan ini dapat ditelaah berbagai target dan realisasi atas segala hal yang dicanangkan dan yang telah dicapai melalui implementasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) beserta upaya perbaikan dan peningkatan kinerja jajaran BPN-RI pada tahun-tahun berikutnya, baik di lingkungan Kantor Pusat maupun semua Kantor Wilayah Provinsi dan Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota.
Sebagai cerminan kinerja jajaran BPN-RI Tahun 2013, LAKIP BPN-RI Tahun 2013 ini merangkum semua capaian atas program dan kegiatan seluruh Satuan Kerja (Satker) secara nasional dari Pusat, Wilayah, dan Daerah. Dari padanya, akan dapat dinilai pencapaian atas target selama satu tahun yang sekaligus menjadi gambaran tentang tahapan dalam penjabaran terhadap visi, misi, kebijakan, dan program serta kegiatan BPN-RI dalam upaya menjadikan tanah dan pertanahan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia. Besar harapan, kiranya dengan LAKIP BPN-RI Tahun 2013
Hendarman Supandji Kepala BPN-RI
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia viii
ini akan menjadi bahan bagi penilaian kinerja tahun bersangkutan yang menjadi pula titik-tolak dalam perbaikan mutu perencanaan dan pelaksanaan atas program dan kegiatan di tahun-tahun mendatang, demi pencapaian visi dan misi BPN-RI.
Jakarta, Maret 2014
KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,
HENDARMAN SUPANDJI 12
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia ix
Ikhtisar Eksekutif
LAKIP BPN-RI Tahun 2013 ini merupakan pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah yang teknis penyusunannya
mengacu pada Peraturan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) BPN-RI dimaksud untuk memberikan gambaran yang jelas, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan tentang kinerja BPN-RI.
Dalam upaya mewujudkan agenda Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional tahun 2010-2014, yaitu: 1) Menciptakan Indonesia yang Aman dan Damai; 2) Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis; dan 3) Menciptakan Kesejahteraan Rakyat Indonesia, maka dalam rangka pembangunan di bidang pertanahan telah ditetapkan visi pembangunan pertanahan, yaitu: “Menjadi lembaga yang mampu
mewujudkan tanah dan pertanahan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, serta keadilan dan keberlanjutan sistem kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan Republik Indonesia”.
Berdasarkan visi dimaksud ditetapkan misi pembangunan pertanahan yang akan dilaksanakan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia dalam tahun 2010-2014, sebagai berikut:
1. Peningkatan kesejahteraan rakyat, penciptaan sumber-sumber baru
kemakmuran rakyat, pengurangan kemiskinan dan kesenjangan
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia x
2. Peningkatan tatanan kehidupan bersama yang lebih berkeadilan dan bermartabat dalam kaitannya dengan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T);
3. Perwujudan tatanan kehidupan bersama yang harmonis dengan mengatasi berbagai sengketa, konflik dan perkara pertanahan di seluruh tanah air dan penataan perangkat hukum dan sistem pengelolaan pertanahan sehingga tidak melahirkan sengketa, konflik dan perkara di kemudian hari;
4. Keberlanjutan sistem kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan Indonesia dengan memberikan akses seluas-luasnya pada generasi yang akan datang terhadap tanah sebagai sumber kesejahteraan masyarakat; dan
5. Penguatan lembaga pertanahan sesuai dengan jiwa, semangat, prinsip dan aturan yang tertuang dalam UUPA dan aspirasi rakyat secara luas. Secara umum, beberapa capaian utama kinerja BPN-RI tahun 2013 adalah sebagai berikut:
Sasaran Strategis (SS) IKU Target Realisasi %
Sasaran Strategis 1 (SS-1)
Terwujudnya jaminan kepastian hukum hak atas tanah a. Jumlah bidang tanah yang dilegalisasi/ disertipikatkan 928.695 Bidang 839.918 Bidang 90,44 b. Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap pelayanan legalisasi aset tanah B B 100,00 Sasaran Strategis 2 (SS-2) Terwujudnya pengendalian dan pemberdayaan
masyarakat dalam rangka peningkatan akses
terhadap sumber ekonomi
Jumlah Keputusan penetapan tanah terlantar yang ditetapkan. 153 SK 74 SK 48,36 Sasaran Strategis 3 (SS-3) Terciptanya pengaturan, dan penataan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah secara optimal dan berkeadilan
a. Jumlah bidang tanah yang teratur dan tertata. 4.430 Bidang 2.656 Bidang 52,00 b. Jumlah redistribusi tanah dalam rangka rangka tatanan
175.500 Bidang
159.480
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia xi kehidupan bersama yang lebih berkeadilan Sasaran Strategis 4 (SS-4) Berkurangnya sengketa, Konflik dan Perkara Pertanahan di Indonesia Jumlah kasus pertanahan yang terselesaikan 2.800 Kasus 2.632 Kasus 94,00 Sasaran Strategis 5 (SS-5) Terpenuhinya infrastruktur pertanahan di Indonesia
Luas cakupan peta pertanahan
2.894.200 Ha
2.531.542
Ha 87,47
Capaian kinerja pada tahun 2013 secara umum dapat memenuhi target yang ditetapkan. Sasaran yang terwujud dengan capaian yang tinggi meliputi jaminan kepastian hukum hak atas tanah, berkuranganya sengketa, konflik dan perkara pertanahan, terciptanya pengaturan, dan penataan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah secara optimal dan berkeadilan, serta terpenuhinya infrastruktur pertanahan di Indonesia.
Selain pemenuhan infrastruktur pertanahan yang tertera di dalam penetapan kinerja, juga terpenuhi pemetaan pertanahan seluas 23.912.709 Ha yang realisasinya mencapai 100%.
Capaian yang terendah adalah terwujudnya pengendalian dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka peningkatan akses terhadap sumber ekonomi.
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 1
A. Latar Belakang
Tanah merupakan hal yang sangat penting bagi bangsa dan masyarakat Indonesia. Undang-Undang Dasar Tahun 1945 meng-amanatkan bahwa tanah harus dipergunakan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat. Tanah bukan hanya sebagai tempat tinggal dan bercocok tanam, tapi juga mempunyai nilai historis, religius, politik dan keamanan. Tanah juga merupakan salah satu faktor dalam menunjang pertumbuhan ekonomi, menjaga keutuhan dan perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia.
BPN-RI sebagai lembaga pemerintah yang ditugaskan dalam bidang pertanahan menyadari betul, bahwa seluruh jajaran BPN-RI harus bekerja keras bahu membahu dengan instansi pemerintah lainnya baik pusat maupun daerah, agar amanat UUD Tahun 1945 "tanah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat" dapat segera terwujud. Sebagai upaya untuk mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa tersebut, Badan Pertanahan Nasional telah menetapkan program-program strategis, antara lain:
1. Percepatan legalisasi aset tanah, antara lain melalui Proyek Operasi Nasional Agraria (PRONA), sertipikasi lintas sektor yaitu Usaha Mikro dan Kecil (UKM), Petani, Nelayan, serta Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR);
2. Redistribusi Tanah, yang termasuk dalam program pelaksanaan Reforma Agraria;
3. Penertiban tanah terlantar;
4. Percepatan penanganan kasus pertanahan; dan 5. Optimalisasi pelaksanaan Larasita;
BABI
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 2
Kelima program strategis ini dilaksanakan secara simultan bersama dengan program-program teknis BPN lainnya. Dalam rangka mengoptimalkan pelaksanaan program strategis BPN tersebut dan dalam rangka Reformasi Birokrasi, pada awal tahun 2013 kepala BPN-RI telah mengeluarkan Instruksi Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 1/Ins/II/2013 tentang Percepatan Pelaksanaan Program Strategis BPN-RI Tahun 2013. Melalui Instruksi No. 1 Tahun 2013 ini Kepala BPN menargetkan kepada seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN untuk menyelesaikan dan melaporkan pelaksanaan program strategis dalam 3 (tiga) tahap penyelesaian, yaitu tahap pertama, dilaporkan sampai dengan akhir Juni dengan target minimal sebesar 40% (empat puluh persen), tahap kedua sampai dengan akhir September target yang harus dicapai sebesar 70% (tujuh puluh persen), dan tahap ketiga pada akhir Desember sebesar 100% (seratus persen).
Sebagai wujud pertanggungjawaban atas pelaksanaan misi organisasi BPN-RI dalam mencapai tujuan dan sasaran tahun 2013 bagi pelaksanaan tugas pemerintahan di bidang pertanahan dan umpan balik peningkatan kinerja tahun 2014, maka disusunlah Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) BPN-RI Tahun 2013 dengan berpedoman pada Rencana Strategis (Renstra) BPN-RI Tahun 2010-2014 dan Rencana Kinerja Tahunan 2013.
LAKIP BPN-RI Tahun 2013 ini merupakan pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang teknis penyusunannya mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.Dengan tersusunnya LAKIP ini, diharapkan sasaran Sistem Akuntabilitas Kinerja BPN-RIdapat tercapai, yaitu terwujudnya instansi yang akuntabel serta melaksanakan tugas dan fungsi secara efisien, efektif, responsif, dan transparan serta partisipatif.
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 3
B. MaksudDan Tujuan
Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) BPN-RI dimaksud untuk memberikan gambaran yang jelas, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan tentang kinerja suatu instansi pemerintah. Hasilnya diharapkan dapat membantu pimpinan dan seluruh jajaran BPN-RI dalam mencermati berbagai permasalahan sebagai bahan acuan dalam menyusun program di tahun berikutnya. Dengan demikian program di tahun mendatang dapat disusun lebih
fokus, efektif, efisien, terukur, transparan dan dapat
dipertanggungjawabkan sehingga dapat meningkatkan kinerja
pembangunan bidang pertanahan.
C. Kedudukan, Tugas,dan Fungsi
Sesuai Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional RIyang diperbaharui dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 85 Tahun 2012 dan terakhir diperbaharui dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2013, BPN-RI mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara nasional, regional dan sektoral sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, BPN
menyelenggarakan fungsinya:
a. Penyusunan dan penetapan kebijakan nasional di bidang pertanahan;
b. perumusan kebijakan teknis di bidang pertanahan;
c. Pelaksanaan koordinasi kebijakan, rencana, program, kegiatan dan kerja sama di bidang pertanahan;
d. Pelaksanaan koordinasi tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan BPN-RI;
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 4
e. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang survey, pengukuran, dan pemetaan;
f. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang penetapan hak tanah, pendaftaran tanah, dan pemberdayaan pemerintah;
g. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengaturan, penataan dan pengendalian kebijakan pertanahan;
h. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum dan pentapan hak tanah instansi;
i. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengkajian dan penanganan sengketa danperkara pertanahan;
j. Pengawasan dan pembinaan fungsional atas pelaksanaan tugas di bidang pertanahan;
k. Pelaksanaan pengelolaan data informasi lahan pertanian pangan berkelanjutan dan informasi di bidang pertanahan;
l. Pelaksanaan pengkajian dan pengembangan hukum pertanahan ; m. Pelaksanaan penelitian dan pengembangandi bidang pertanahan; n. Pelaksanaan pembinaan, pendidikan, pelatihan, dan pengembangan
sumber daya manusia di bidang pertanahan; dan
o. Penyelenggaraan dan pelaksanaan fungsi lain di bidang pertanahan sesuai dengan ketentuan pertauran perundang-undangan.
D. Struktur Organisasi
Adapun struktur Badan Pertanahan Nasional terdiri dari: a. Kepala;
b. Sekretariat Utama;
c. Deputi Bidang Survei, Pengukuran, dan Pemetaan;
d. Deputi Bidang Hak Tanah, Pendaftaran Tanah, dan Pemberdayaan Masyarakat;
e. Deputi Bidang Pengaturan dan Pengendalian Pertanahan; f. Deputi Bidang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum;
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 5
g. Deputi Bidang Penanganan Sengketa dan Perkara Pertanahan; dan h. Inspektorat Utama.
Gambar 1.1
STRUKTUR ORGANISASIBPN-RI
E. Sumber Daya Manusia dalam Organisasi
Efektif tidaknya suatu organisasi sangat bergantung dari "the man behind the system". Di Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia, sistem dan sumber daya manusianya secara berangsur dan pasti sudah mulai ditata. Dalam konteks penataan sumber daya manusia sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia No. 1 tahun 2013 tentang Pola Jenjang Karier Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia. Jumlah pegawai di BPN sampai dengan tanggal 31 Desember 2013 mencapai 20.499 Orang, dengan rincian sebagai berikut:
KEPALA
BADAN PERTANAHAN NASIONAL RI
DEPUTI BIDANG SURVEY, PENGUKURAN DAN PEMETAAN DIT. PENGUKURAN DASAR DIT. PEMETAAN DASAR DIT. PEMETAAN TEMATIK DIT. SURVEY POTENSI TANAH SEKRETARIAT UTAMA BIRO UMUM BIRO PERENCANAAN DAN KLN BIROTU PIMPINAN & PROTOKOL BIRO KEUANGAN & PELAKSANAAN ANGGARAN BIRO ORGANISASI & KEPEGAWAIAN INSPEKTORAT UTAMA INSP. WILAYAH I INSP. WILAYAH II INSP. WILAYAH III INSP. WILAYAH IV INSP. WILAYAH V DEPUTI BIDANG PENGKAJIAN DAN
PENANGANAN SENGKETA DAN KONFLIK PERTANAHAN DEPUTI BIDANG PENGENDALIAN PERTANAHAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PUSAT DATA DAN
INFORMASI PERTANAHAN
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH TINGGI
PERTANAHAN NASIONAL PUSAT HUKUM DAN
HUBUNGAN MASYARAKAT
DIT. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT & KELEMBAGAAN DIT. PENGELOLAAN TANAH NEGARA, TANAH
TERLANTAR & TANAH KRITIS DIT. PENGENDALIAN PENERAPAN KEBIJAKAN & PROGRAM DIT. SENGKETA PERTANAHAN DIT. KONFLIK PERTANAHAN DIT. PERKARA PERTANAHAN DEPUTI
BIDANG HAK TANAH DAN PENDAFTARAN TANAH DEPUTI BIDANG PENGATURAN DAN PENATAAN PERTANAHAN DIT. PENDAFTARAN HAK TANAH& GUNA
RUANG DIT. PENGATURAN & PENGADAAN TANAH PEMERINTAH
DIT. PENETAPAN BATAS BIDANG TANAH &
RUANG DIT. PENGATURAN & PENETAPANHAK TANAH
DIT. PENATAGUNAAN TANAH
DIT. LANDREFORM
DIT. KONSOLIDASI TANAH
DIT.WIL. PESISIR, PULAU-PULAU KECIL,
PERBATASAN &WIL. TERTENTU
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 6 a. Pegawai berdasarkan unit kerja:
Tabel 1.1
Pegawai berdasarkan unit kerja
UNIT KERJA JUMLAH
PUSAT 1.258
DAERAH 19.241
b. Pegawai berdasarkan golongan: Tabel 1.2
Pegawai berdasarkan Golongan
GOLONGAN JUMLAH Golongan I 180
Golongan II 4.816
Golongan III 15.125
Golongan IV 934
c. Jumlah pegawai berdasarkan pendidikan: Tabel 1.3
Pegawai berdasarkan Pendidikan
TINGKAT PENDIDIKAN JUMLAH SD 187 SLTP 430 SMA 7.236 D1 2.085 D3 1.122 D4 2.218 S1 6.114 S2 1.086 S3 19
Grafik 1.1 Pegawai berdasarkan Unit Kerja
Grafik 1.3 Pegawai berdasarkan Pendidikan Grafik 1.2 Pegawai berdasarkan Golongan
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 7
d. Pegawai berdasarkan Usia: Tabel 1.4
Pegawai berdasarkan Usia
USIA PEGAWAI JUMLAH < 25Tahun 605 25-34 4.072 35-45 4.204 46-56 11.168 >56 450
e. Pegawai berdasarkan Jabatan: Tabel 1.5
Pegawai berdasarkan Jabatan
JABATAN JUMLAH Eselon I 6 Eselon II 63 Eselon III 720 Eselon IV 3.208 Eselon V 4.376 Jabatan Fungsional 12.126
f. Pegawai berdasarkan Jenis Kelamin: Tabel 1.6
Pegawai berdasarkan Jenis Kelamin
JENIS KELAMIN
JUMLAH
Laki-Laki 14.854
Perempuan 5.645
Grafik 1.4 Pegawai berdasarkan Usia
Grafik 1.5 Pegawai berdasarkan Jabatan
Grafik 1.6 Pegawai berdasarkan Jenis Kelamin
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 8
F. Sistimatika Penyajian LAKIP
Penulisan LAKIP BPN-RI Tahun 2013 disusun dengan sistematika mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
Laporan akuntabilitas kinerja ini bertujuan menginformasikan capaian kinerja BPN-RI selama tahun 2013. Capaian kinerja (Performance Result) BPN-RI tahun 2013 tersebut dibandingkan dengan penetapan kinerja (Performance Plan) BPN-RI tahun 2013 sebagai tolak ukur keberhasilan tahunan organisasi. Adapun sistematika penyajian laporan sebagai berikut:
1. Ikhtisar Eksekutif, menguraikan ringkasan secara menyeluruh LAKIP BPN-RI;
2. BAB I Pendahuluan, menguraikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan penyusunan LAKIP, tugas dan fungsi organisasi dan Sumber Daya Manusia dalam Organisasi BPN-RI;
3. BAB II Rencana Strategis dan Penetapan Kinerja, menguraikan tentang Gambaran Umum BPN-RI,Visi dan Misi BPN-RI, Tujuan, Sasaran, cara mencapai Tujuan dan Sasaran, serta Penetapan Kinerja Tahun 2013 yang menjadi acuan pengukuran kinerja;
4. BAB III Akuntabilitas Kinerja, menguraikan tentang Pengukuran Kinerja, Evaluasi dan Analisis Capaian Kinerja, Informasi keuangan yang terkait dengan pencapaian kinerja. Dalam bab ini juga diuraikan mengenai pencapaian sasaran-sasaran dengan pengungkapan dan penyajian dari hasil pengukuran kinerja BPN-RI;
5. BAB IV Penutup, mengemukakan tinjauan secara umum dengan mengemukakan keberhasilan/ kegagalan, permasalahan/kendala yang berkaitan dengan kinerja BPN-RI, dan strategi pemecahan masalah untuk meningkatkan kinerja periode berikutnya; dan
6. Lampiran, berisi lampiran hasil pengukuran kinerja BPN-RI Tahun 2013, Renstra, serta Penetapan Kinerja 2014.
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 9
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 10
BPN-RI dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya seperti dijelaskan pada bab sebelumnya berpedoman pada dokumen perencanaan yang tertuang pada:
A. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional 2010-2014
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional 2010-2014 Bidang Pertanahan merupakan RPJMN ke-2 dalam RPJP 2005-2025, dimana RPJMN ke-2 ini ditujukan untuk lebih memantapkan penataan kembali Indonesia disegala bidang dengan menekankan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan ilmu dan teknologi serta penguatan daya saing perekonomian. Visi dan Misi pemerintah tahun 2010-2014 dirumuskan dan dijabarkan ke dalam sebelas program aksi prioritas sehingga lebih mudah diimplementasikan dan diukur tingkat keberhasilannya. BPN-RI sebagai Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang bertugas dalam bidang pertanahan memiliki tanggungjawab dalam beberapa aksi prioritas diantaranya:
Prioritas Nasional 4 : Penanggulangan Kemiskinan
Prioritas Nasional5 : Ketahanan Pangan
Prioritas Nasional6 : Infrastruktur
Prioritas Nasional7 : Iklim Investasi Dan Iklim Usaha Prioritas Nasional 8 : Energi
Prioritas Nasional10 : Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Pasca-Konflik
BABII
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 11
Dalam upaya mewujudkan agenda `Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional tahun 2010-2014, yaitu: 1) Menciptakan Indonesia yang Aman dan Damai; 2) Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis; dan 3) Menciptakan Kesejahteraan Rakyat Indonesia, maka dalam rangka pembangunan di bidang pertanahan telah ditetapkan visi pembangunan pertanahan, yaitu: “Menjadi lembaga yang
mampu mewujudkan tanah dan pertanahan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, serta keadilan dan keberlanjutan sistem kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan Republik Indonesia”.
Berdasarkan visi dimaksud ditetapkan misi pembangunan pertanahan yang akan dilaksanakan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia dalam tahun 2010-2014, sebagai berikut:
1. Peningkatan kesejahteraan rakyat, penciptaan sumber-sumber baru kemakmuran rakyat, pengurangan kemiskinan dan kesenjangan pendapatan, serta pemantapan ketahanan pangan;
2. Peningkatan tatanan kehidupan bersama yang lebih berkeadilan dan bermartabat dalam kaitannya dengan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T);
3. Perwujudan tatanan kehidupan bersama yang harmonis dengan mengatasi berbagai sengketa, konflik dan perkara pertanahan di seluruh tanah air dan penataan perangkat hukum dan sistem pengelolaan pertanahan sehingga tidak melahirkan sengketa, konflik dan perkara di kemudian hari;
4. Keberlanjutan sistem kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan Indonesia dengan memberikan akses seluas-luasnya pada generasi yang akan datang terhadap tanah sebagai sumber kesejahteraan masyarakat; dan
5. Penguatan lembaga pertanahan sesuai dengan jiwa, semangat, prinsip dan aturan yang tertuang dalam UUPA dan aspirasi rakyat secara luas.
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 12
Tujuan utama (ultimate goal) pembangunan bidang pertanahan pada dasarnya adalah: “Mengelola tanah seoptimal mungkin untuk
mewujudkan Tanah bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat”.
Sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan utama tersebut dan mengacu pada Visi dan Misi Pembangunan Pertanahan 2010-2014, tujuan yang akan dicapai pada masa perencanaan jangka menengah tahun 2010-2014 adalah sebagai berikut:
1. Melanjutkan pengembangan infrastruktur pertanahan secara nasional, regional dan sektoral, yang diperlukan bagi seluruh Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi dan Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia;
2. Tetap berupaya mewujudkan suatu kondisi yang mampu
menstimulasi, mendinamisasi dan memfasilitasi terselenggaranya survei dan pemetaan tanah secara cepat, modern dan lengkap serta tetap menjamin akurasi di seluruh wilayah Indonesia khususnya wilayah yang memiliki potensi ekonomi tinggi serta rawan masalah pertanahan;
3. Melanjutkan percepatan pendaftaran tanah dan penguatan hak atas tanah melalui program legalisasi aset pertanahan dengan biaya yang lebih murah, dengan waktu yang terukur, dan prosedur yang mudah; 4. Melanjutkan penataan dan mengendalikan penguasaan, pemilikan,
penggunaan, dan pemanfaatan tanah sehingga mengokohkan keadilan di bidang sumber daya agraria, mengurangi kemiskinan, serta membuka lapangan kerja melalui Program Pembaruan Agraria Nasional (Reforma Agraria);
5. Tetap mengupayakan pengurangan jumlah konflik, sengketa dan perkara pertanahan serta mencegah terciptanya konflik, sengketa dan perkara pertanahan baru;
6. Meningkatkan akuntabilitas pelaksanaan tugas pada semua unit kerja Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia; dan
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 13
7. Melanjutkan peningkatan mutu pelayanan publik di bidang pertanahan agar lebih berkualitas, cepat, teliti, tepat, transparan dan akuntabel yang tetap menjaga kepastian hukum serta partisipatif.
B. Rencana Strategis 2010-2014
Dari awal penyusunan hingga saat ini Rencana Strategis BPN-RI tidak pernah direvisi. Hal ini mengakibatkan:
1. Kegiatan yang merupakan new initiative tidak tercantum pada Renstra;
2. Berkurangnya anggaran mengakibatkan target yang sebelumnya telah ditentukan pada Renstra terpaksa diturunkan.
Sasaran-sasaran strategis Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia adalah:
1. Terwujudnya jaminan kepastian hukum hak atas tanah adalah:
a. Tersedianya rumusan kebijakan di bidang Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah;
b. Bertambahnya jumlah bidang tanah terdaftar; dan
c. Tersedianya database legalitas aset tanah yang berkualitas sesuai dengan standar.
2. Terwujudnya pengendalian, penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka peningkatan akses terhadap sumber ekonomi adalah:
a. Luas Tanah hak dan tanah yang telah mempunyai dasar penguasaan yang terindikasi terlantar yang ditertibkan;
b. Luas tanah negara, tanah terlantar dan tanah kritis yang dikelola; dan
c. Jumlah masyarakat kurang mampu yang memperoleh akses penguatan HAT dan akses sumber-sumber ekonomi.
3. Terciptanya pengaturan, penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah secara berkeadilan adalah:
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 14
a. Tersusunnya kebijakan dan pelaksanaan penatagunaan tanah yang optimal;
b. Neraca Penatagunaan Tanah (Kabupaten/Kota);
c. Penyelenggaraan redistribusi tanah dalam rangka tatanan kehidupan bersama yang lebih berkeadilan serta tersedianya data tekstual dan spasial bidang tanah tentang penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T) dalam rangka penataan ketimpangan (bidang);
d. Penyelenggaraan konsolidasi tanah untuk mewujudkan
lingkungan yang berkualitas; dan
e. Terciptanya Penataan Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah di Wilayah Pesisir, Pulau-Pulau Kecil, Perbatasan dan Wilayah Tertentu.
4. Berkurangnya sengketa, konflik, dan perkara pertanahan di seluruh Indonesia adalah:
a. Jumlah Pengkajian/analisa atas sengketa konflik dan perkara pertanahan;
b. Jumlah Penanganan, Penyelesaian SengketaKonflik dan perkara pertanahan; dan
c. Jumlah Percepatan Pengkajian, penanganan, penyelesaian sengketa dan konflik pertanahan
5. Terpenuhinya infrastruktur pertanahan secara nasional, regional, dan sektoral, di seluruh Indonesia adalah:
a. Tersedianya cakupan kerangka dasar kadastral nasional di bidang pertanahan melalui kegiatan pengukuran dasar;
b. Tersedianya cakupan wilayah jaringan referensi satelit pertanahan (JRSP) untuk mendukung akselerasi pelaksanaan kegiatan pertanahan melalui kegiatan pengukuran dasar;
c. Tersedianya peta dasar pertanahan untuk pendaftaran tanah, pemetaan tematik, pemetaan nilai tanah dan kegiatan pertanahan lainnya melalui kegiatan pemetaan dasar;
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 15
d. Tersedianya peta-peta tematik pertanahan mendukung
perencanaan dan arah penyelenggaraan kegiatan pertanahan dan berkontribusi dalam penyusunan data spasial pertanahan nasional melalui kegiatan pemetaan tematik;
e. Tersedianya peta dan informasi potensi nilai tanah dan kawasan sebagai referensi dan indicator ekonomi tanah untuk keadilan dan kesejahteraan rakyat melalui kegiatan survei potensi tanah (hektar);
f. Tersedianya geospasial database pertanahan sesuai dengan standar infrastruktur data spasial nasional (Standar IDSN) melalui kegiatan pemetaan dasar pertanahan; dan
g. Tersedianya kebijakan teknismengenai pembuatan dan
pengelolaan data spasial pertanahan nasional melalui kegiatan penyusunan pedoman dan standardisasi.
Dalam rangka mengukur dan meningkatkan kinerja serta untuk lebih meningkatkan akuntabilitas kinerja Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia perlu ditetapkan sasaran strategis dan indikator kinerja utama. Indikator Kinerja Utama Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2013 tentang Penetapan Indikator Kinerja Utama Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia.
Berikut ini adalah indikator kinerja utama Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia sesuai Peraturan Kepala BPN-RI Nomor 6 Tahun 2013 tersebut:
1. Jumlah bidang tanah yang dilegalisasi/ disertipikatkan;
2. Meningkatnya Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap pelayanan legalisasi aset tanah;
3. Meningkatnya jumlah keputusan penetapan tanah terlantar yang ditetapkan;
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 16
4. Meningkatnya prosentase jumlah wilayah/bidang/luas tanah yang dilakukan pengaturan dan penataan pertanahan serta redistribusi tanah Jumlah masyarakat kurang mampu yang memperoleh akses penguatan HAT dan akses sumber-sumber ekonomi;
5. Meningkatnya jumlah Kasus pertanahan (Sengketa, Konflik dan Perkara) yang diselesaikan;
6. Bertambahnya persentase cakupan peta dasar di seluruh Indonesia; 7. Bertambahnya persentase cakupan Peta Tematik di seluruh
Indonesia; dan
8. Bertambahnya persentase cakupan Peta Potensi di seluruh Indonesia.
C. Penetapan Kinerja Tahun 2013
Penetapan Kinerja pada dasarnya adalah pernyataan komitmen yang disusun berdasarkan Rencana Kinerja Tahunan (RKT) yang merepresentasikan tekad dan janji untuk mencapai kinerja yang jelas dan terukur dalam rentang waktu satu tahun tertentu dan mempertimbangkan sumberdaya yang dikelolanya. Tujuan khusus Penetapan Kinerja antara lain adalah untuk:
a. Meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan kinerja aparatur; b. Sebagai wujud nyata komitmen antara penerima amanah dengan
pemberi amanah;
c. Sebagai dasar penilaian keberhasilan maupun kegagalan dalam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi;
d. Menciptakan tolok ukur kinerja sebagai dasar evaluasi kinerja aparatur; dan
e. Sebagai dasar pemberian reward (penghargaan) dan punishment (sanksi).
Penetapan Kinerja Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Tahun 2013 telah disusun secara berjenjang sesuai dengan kedudukan tugas dan fungsi unit organisasi yang ada. Penetapan
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 17
Kinerja ini merupakan tolok ukur evaluasi akuntabilitas kinerja pada akhir tahun 2013, disusun berdasarkan Rencana Kinerja Tahun 2013 yang telah ditetapkan. Secara substansi Penetapan Kinerja Tahun 2013 tidak ada perbedaan dengan Rencana Kinerja Badan Pertanahan Nasional RI Tahun 2013. Penetapan Kinerja Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Tahun 2013 selengkapnya terdapat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.1
Penetapan Kinerja BPN-RI Tahun 2013
Sasaran Strategis (SS) IKU Target Realisasi %
Sasaran Strategis 1 (SS-1)
Terwujudnya jaminan kepastian hukum hak atas tanah a. Jumlah bidang tanah yang dilegalisasi/ disertipikatkan 928.695 Bidang 839.918 Bidang 90,44 b. Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap pelayanan legalisasi aset tanah B B 100,00 Sasaran Strategis 2 (SS-2) Terwujudnya pengendalian dan pemberdayaan
masyarakat dalam rangka peningkatan akses
terhadap sumber ekonomi
Jumlah Keputusan penetapan tanah terlantar yang ditetapkan. 153 SK 74 SK 48,36 Sasaran Strategis 3 (SS-3) Terciptanya pengaturan, dan penataan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan
pemanfaatan tanah secara optimal dan berkeadilan
a. Jumlah bidang tanah yang teratur dan tertata. 4.430 Bidang 2.656 Bidang 52,00 b. Jumlah redistribusi tanah dalam rangka rangka tatanan kehidupan bersama yang lebih berkeadilan 175.500 Bidang 159.480 Bidang 90,87 Sasaran Strategis 4 (SS-4) Berkurangnya sengketa, Konflik dan Perkara Pertanahan di Indonesia Jumlah kasus pertanahan yang terselesaikan 2.800 Kasus 2.632 Kasus 94,00 Sasaran Strategis 5 (SS-5) Terpenuhinya infrastruktur pertanahan di Indonesia
Luas cakupan peta pertanahan
2.894.200 Ha
2.531.542
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 19
A. Pengukuran Kinerja
Pengukuran kinerja dilaksanakan berdasarkan pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Sejak tahun 2009 BPN-RI telah membangun dan mengembangkan pengukuran kinerja melalui aplikasi "SKMPP" (Sistem Kendali Mutu Program Pertanahan), dalam rangka mendorong peningkatan mutu kinerja pelaksanaan program-program pertanahan secara konsisten.
SKMPP menjadi perangkat utama dalam sistem pengendalian mutu kinerja program-program pertanahan, baik dalam perspektif internal dan eksternal yang menjadi bagian integral dari sistem manajemen di lingkungan BPN-RI, yang disusun secara komprehensif dengan memperhatikan input, proses, output maupun outcome serta dalam 4 (empat) perspektif yaitu perspektif pemangku kepentingan, keuangan, internal kegiatan maupun kapasitas sumber daya manusia dan organisasi, menyajikan data capaian yang aktual terkait capaian hasil terhadap target yang telah ditetapkan.
Prinsip penyusunan SKMPP disesuaikan dengan langkah proses pengendalian manajemen organisasi sektor publik. SKMPP diperlukan untuk memonitor dan mengevaluasi secara periodik mutu kinerja program pertanahan secara keseluruhan pada 33 Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi dan 436 Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia secara lebih efektif, efisien dan komprehensif. Dengan demikian dapat diperoleh otomatisasi pelaporan
BAB III
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 20
yang sekaligus memberikan umpan balik dari waktu ke waktu untuk meningkatkan mutu pelaksanaan program-program pertanahan.
Desain Pengukuran Kinerja berbasis Sistem Kendali Mutu Program Pertanahan (SKMPP) dimulai dengan menguraikan penentuan Perspektif, Program/Kegiatan yang akan diukur kinerjanya, sasaran-sasaran strategis yang akan dicapai sampai dengan penentuan Indikator-Indikator Ukuran Kinerja setiap Perspektif. Data yang direkam oleh SKMPP menghasilkan informasi yang dapat dimanfaatkan sebagai Sistem Informasi Eksekutif (Executive Information System) bagi pengambilan keputusan (decision making). Informasi tersebut berguna pula sebagai bahan bagi pertanggungjawaban publik serta bahan perencanaan, pembinaan, pemantauan, evaluasi dan pengendalian terhadap pelaksanaan program pertanahan dan kinerja. Dalam SKMPP dapat dilihat progress setiap kegiatan di setiap unit kerja. Dari data tersebut selanjutnya dilakukan kategori kinerja sesuai dengan tingkat capaian kinerja yaitu:
Tabel 3.1 Kategorisasi Kinerja N0. Rentang Nilai (%) Warna 1. ≤ 55,00 Merah 2. 55,01 – 75,00 Kuning 3. 75,01 – 84,99 Hijau 4. ≥ 85,00 Biru
Berikut ini beberapa informasi terkait dengan pengukuran kinerja yang dapat dilihat pada SKMPP:
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 21 Gambar 3.1
Peta Kinerja Unit Kerja Daerah Tahun 2013
Gambar 3.2
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 22
B. Capaian Indikator Kinerja Utama
Sebagaimana telah diuraikan pada BAB II, BPN-RI menetapkan 5 (lima) Sasaran Strategis. Setiap sasaran strategis tersebut memiliki Indikator Kinerja Utama (IKU). Pengukuran tingkat capaian kinerja Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia tahun 2013 dilakukan dengan cara membandingkan antara target dengan realisasi masing-masing indikator kinerja. Pencapaian IKU dari kelima sasaran strategis tersebut disajikan pada tabel 3.2.
Tabel 3.2
Capaian IKU Tahun 2013
Sasaran Strategis (SS) IKU Target Realisasi %
Sasaran Strategis 1 (SS-1)
Terwujudnya jaminan hukum hak atas tanah
a. Jumlah bidang tanah yang dilegalisasi/ disertipikatkan 928.695 Bidang 839.918 Bidang 90,44 b. Meningkatnya Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap pelayanan legalisasi aset tanah B B 100,00 Sasaran Strategis 2 (SS-2) Terwujudnya pengendalian dan pemberdayaan
masyarakat dalam rangka peningkatan akses
terhadap sumber ekonomi
Jumlah Keputusan penetapan tanah terlantar yang ditetapkan. 153 SK 74 SK 48,36 Sasaran Strategis 3 (SS-3) Terciptanya pengaturan dan penataan pertanahan
a. Jumlah bidang tanah yang teratur dan tertata. 4.430 Bidang 2.656 Bidang 52,00 b. Jumlah redistribusi tanah dalam rangka rangka tatanan kehidupan bersama yang lebih berkeadilan 175.500 Bidang 159.480 Bidang 90,87 Sasaran Strategis 4 (SS-4) Berkurangnya sengketa, Konflik dan Perkara Pertanahan di Indonesia Jumlah kasus pertanahan yang terselesaikan 2.800 Kasus 2.632 Kasus 94,00 Sasaran Strategis 5 (SS-5) Terpenuhinya infrastruktur pertanahan diIndonesia
Luas cakupan peta pertanahan
2.894.200 Ha
2.531.542,78
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 23
C. Evaluasi dan Analisis Capaian Kinerja
Pelaksanaan evaluasi dan analisis kinerja dilakukan melalui pengukuran kinerja dengan menggunakan formulir pengukuran kinerja sesuai Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Pengukuran kinerja digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan kegiatan program sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misiBPN-RI. Evaluasi dan Analisis capaian kinerja tahun 2013 dari Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia dapat dijelaskan sebagai berikut:
Sasaran 1: Terwujudnya jaminan kepastian hukumhak
atas tanah.
Untuk pencapaian sasaran ini, BPN mengidentifikasikan 2 (dua) indikator kinerja utama (IKU), yaitu IKU-1 bertambahnya persentase
jumlah bidang tanah yang
dilegalisasi dan IKU-2 meningkat-nya indeks kepuasan masyarakat terhadap pelayanan legalisasi aset tanah.
IKU-1: Bertambahnya persentase jumlah bidang tanah yang dilegalisasi IKU-1 ini dijabarkan ke dalam 6 (enam) sub IKU yang masing-masing pencapaiannya ditabulasikan dalam table 3.3. Sesungguhnya percepatan legalisasi aset merupakan sebuah keharusan untuk mewujudkan fokus dari arah pembangunan nasional di bidang pertanahan. Masih banyaknya bidang tanah yang belum terdaftar dan diberikan legalitas asetnya berupa sertipikat hak atas tanah, akan
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 24
berpengaruh terhadap kepastian hukum atas aset tanah, baik bagi masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Pada gilirannya pemilikan/penguasaan tanah yang belum terlegalisasi tersebut, akan rentan terhadap terjadinya sengketa dan konflik pertanahan.
Dari tahun 2010-2014 target untuk Kegiatan legalisasi aset yang tertera pada Penetapan Kinerja selalu lebih rendah dari Renstra, hal ini berkaitan dengan ketersediaan anggaran.
Grafik 3.1
Perbandingan Target Renstra dan Penetapan Kinerja
Tabel 3.3
Capaian IKU-1 pada SS-1
Terwujudnya Jaminan Kepastian HukumHak Atas Tanah (Bidang)
IndikatorKinerja Target Realisasi %
Jumlah bidang tanah yang
dilegalisasi/ disertipikatkan 928.695 841.326 90,59 a.Sertipikasi Prona 844.292 770.075 93,95 b. Sertipikasi UKM 20.000 19.192 95,96 c. Sertipikasi Petani 24.000 22.519 93,83 d. Sertipikasi Nelayan 18.000 16.527 91,82 e. Sertipikasi Transmigrasi 14.901 5.976 60,38 f. Sertipikasi MBR 7.500 7.037 93,83 0 200.000 400.000 600.000 800.000 1.000.000 1.200.000 2010 2011 2012 2013 2014
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 25 Grafik 3.2
Persentase Realisasi Capaian IKU-1
Hingga berakhirnya tahun 2013, capaian untuk IKU-1 ini adalah sebesar 90,59% atau terealisasi sebesar 841.326 bidang
Apabila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2012 seperti yang ditabulasikan pada table 3.4, maka legalisasi aset tahun 2013 mengalami pertumbuhan negative sebesar 7,5.
Tabel 3.4
Perbandingan Realisasi Legalisasi Aset tahun 2012 dan 2013
Indikator
2012 2013 Pertumbuhan
Target Realisasi % Target Realisasi % Jumlah % Jumlah bidang tanah yang dilegalisasi/ disertipikatkan 869.139 908.283 95,69 928.695 839.918 90,44 (68.365) -7,5 93,95 95,96 93,83 91,82 60,38 93,83 0 20 40 60 80 100 Prona UKM Petani Nelayan Transmigrasi MBR
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 26
Pertumbuhan negatif ini disebabkan rendahnya capaian realisasi sertipikasi hak atas tanah transmigrasi yakni sebesar 60,38%.
Berikut uraian untuk masing-masing sub IKU jumlah bidang tanah yang dilegalisasi/ disertipikatkan:
Sertipikasi Tanah Prona
PRONA, adalah singkatan dari Proyek Operasi Nasional Agraria. PRONA adalah salah satu bentuk kegiatan legalisasi aset dan pada hakekatnya merupakan proses administrasi pertanahan yang meliputi; adjudikasi, pendaftaran tanah sampai dengan penerbitan sertipikat/ tanda bukti hak atas tanah dan diselenggarakan secara massal.
Untuk tahun 2013 target Prona adalah 844.292 bidang, terealisasi sebesar 770.075 bidang atau 93,95%.
Tabel 3.5
Capaian Sertipikasi Prona 2010-2013 PRONA
TAHUN TARGET REALISASI %
2010 226.214 236.130 104,38
2011 568.211 547.486 96,35
2012 785.800 745.540 94,88
2013 844.292 770.075 93,95
Jika dilihat dari jumlah
bidang tanah yang
disertipikatkan, dari tahun 2010-2013 maka jelas terlihat antara target dan persentase realisasi
berbanding terbalik, semakin
besar target maka persentase realisasi menurun.
Grafik 3.3
Capain Sertipikasi Prona 2010-2013
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 27
Kendala:
1. Daftar nama calon peserta yang diusulkan ternyata subyek dan obyeknya bermasalah/ sengketa
2. Sertipikat tanah belum dapat diserahterimakan kepada peserta, karena masih terdapat peserta kegiatan yang terhutang BPHTB. 3. Masih terdapat peserta yang alas haknya (data yuridisnya) belum
lengkap
4. Terdapat lokasi kegiatan yang sebagian tumpang tindih dengan kawasan hutan contohnya Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Riau.
Sertipikasi Tanah UKM
Sertipikat Tanah UKM adalah kegiatan legalisasi aset dengan subyek hak adalah pengusaha kecil dan mikro. Legalisasi aset ini merupakan kerjasama antara Badan Pertanahan Nasional RI dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia serta Kementerian Dalam Negeri. Program ini dimaksudkan untuk memberikan fasilitasi akses penguatan hak berupa sertipikasi tanah kepada Usaha Mikro dan Usaha Kecil. Sehingga diharapkan dengan program ini kedepan para penggiat UKM dapat meningkatkan pengembangan usaha dan iklim investasinya dan tentu saja diharapkan akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat usaha kecil dan mikro.
Untuk tahun 2013 target sertipikasi tanah UKM adalah 20.000 bidang, terealisasi sebesar 19.192 bidang atau 95,96%.
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 28
Kendala:
1. Masih ditemukan hambatan dalam penentuan lokasi kegiatan sesuai kriteria program;
2. Program sertipikasi kurang didukung kesiapan instansi terkait; 3. Usulan nama peserta dan aberkas alas hak terlambat disampaikan
ke kantor pertanahan
4. Sering terjadi perubahan nama peserta dan lokasinya (daftar nominative peserta belum “clean and clear”);
5. Terjadi peralihan penguasaan tanah transmigrasi kepada pihak lain secara di bawah tangan;
6. Letak lokasi yang jauh terkadang di luar pulau sehingga kesulitan transportasi;
7. Lokasi yang diusulkan ternyata masuk lokasi HGU; Tabel 3.6
Capaian Sertipikasi UKM 2010-2013 UKM
TAHUN TARGET REALISASI %
2010 29.701 30.304 102.03
2011 19.800 18.625 94.07
2012 20.163 18.973 94.10
2013 20.000 19.192 95.96
Grafik 3.4
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 29
8. Usulan peserta bersifat sporadik (tidak mengelompok); dan
9. Bidang tanah calon peserta terindikasi sengketa dengan pihak lain.
Sertipikasi Tanah Pertanian
Sertipikat Tanah Petani adalah sub komponen dari komponen kegiatan legalisasi aset. Objek kegiatan ini adalah tanah yang dimiliki/dikuasai oleh petani sedangkan subjek kegiatan ini adalah petani (tanaman pangan, holtikultura, perkebunan dan peternakan). Seperti kegiatan legalisasi aset lainnya, sertipikasi tanah petani pada hakekatnya merupakan proses adminstrasi pertanahan yang meliputi adjudikasi, (pengukuran, pemetaan, pengumpulan data yuridis, pengumuman, penetapan/pemberian hak), pendaftaran tanah dan penerbitan sertipikat hak atas tanah. Sertipikasi tanah petani dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum kepemilikan tanah bagi petani, sehingga dapat digunakan untuk mengembangkan modal usaha.
Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Kementerian Pertanian dengan Badan Pertanahan Nasional RI berdasarkan Keputusan bersama Menteri Pertanian dengan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor: 515/KPTS/HK.060/9/2004 dan Nomor: 2/SKB/BPN/2004 tanggal 02 September 2004.
Maksud dan tujuan program ini adalah untuk:
1. Mendukung dan mempertahankan Program Ketahanan Pangan Nasional;
2. Memberikan kepastian hak atas tanah dan kepastian hukum atas kepemilikan tanah yang diusahakan masyarakat petani yang tinggal dipedesaan secara cepat, tepat, mudah, murah dan aman;
3. Meningkatkan nilai manfaat lahan yang semula berupa sebidang tanah predikat modal pasif menjadi modal aktif dapat terwujud, sehingga dapat digunakan sebagai alat penjaminan bagi petani
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 30
dalam rangka penguatan kemampuan permodalan usaha taninya; dan
4. Untuk mengendalikan laju alih fungsi tanah pertanian ke non pertanian.
Untuk tahun 2013 target sertipikasi tanah Pertanian adalah 24.000 bidang, terealisasi sebesar 22.519 bidang atau 93,83%.
Tabel 3.7
Capaian Sertipikasi Pertanian 2010-2013
PERTANIAN
TAHUN TARGET REALISASI %
2010 24.100 21.423 88,89
2011 26.600 23.309 87,63
2012 30.000 27.671 92,24
2013 24.000 22.519 93,83
Sertipikasi Tanah Nelayan
Sertifikasi Tanah Nelayan adalah sub komponen dari komponen kegiatan legalisasi aset. Sertipikasi tanah nelayan pada hakekatnya adalah proses administrasi pertanahan yang meliputi adjudikasi, pendaftaran tanah dan penerbitan sertipikat hak atas tanah. Sertipikasi tanah nelayan merupakan kerjasama antara Badan Pertanahan Nasional RI dengan Kementrian Kelautan dan Perikanan, berdasarkan Keputusan bersama Nomor: 04/MEN-KP/KB/XI/2007 dan Nomor: 7–SKB–BPNRI– 2007 tanggal 15 November 2007 Program ini dimaksudkan untuk memberikan fasilitasi akses penguatan hak berupa sertipikasi tanah kepada nelayan dan usaha penangkapan ikan skala kecil dengan tujuan yang ingin dicapai:
1. Memberikan kepastian hukum hak atas tanah (aset) nelayan dan usaha penangkapan ikan skala kecil;
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 31
2. Memberikan/meningkatkan akses permodalan berupa kemampuan jaminan kredit/pembiayaan dalam rangka pengembangan usaha; dan
3. Meningkatkan minat dan kepercayaan lembaga keuangan/
perbankan untuk penyaluran kredit.
Untuk tahun 2013 target sertipikasi tanah Pertanian adalah 18.000 bidang, terealisasi sebesar 16.527 bidang atau 91,82%.
Tabel 3.8
Capaian Sertipikasi Nelayan 2010 – 2013
NELAYAN
TAHUN TARGET REALISASI %
2010 3.000 3.001 100,03
2011 9.000 8.451 93,90
2012 15.000 13.431 89,54
2013 18.000 16.527 91,82
Sertipikasi Tanah Transmigrasi
Tujuan pensertipikatan tanah transmigrasi adalah memastikan bahwa setiap kepala keluarga transmigrasi yang telah ditempatkan dan telah memenuhi semua persyaratan yang ditentukan peraturan perundang-undangan, mendapat bidang tanah yang dijanjikan dengan status hak yang kuat (bersertipikat).
Untuk tahun 2013 target sertipikasi tanah Transmigrasi adalah 14.901 bidang, terealisasi sebesar 5.976 bidang atau 60,38%.
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 32 Tabel 3.9
Capaian Sertipikasi Transmigrasi 2010 – 2013
TRANSMIGRASI
TAHUN TARGET REALISASI %
2010 32.984 23.492 71,22
2011 137.435 98.926 71,98
2012 38.575 23.453 60,80
2013 14.901 5.976 60,38
Rendahnya realisasi kegiatan ini disebabkan:
a. Belum terbitnya SK HPLnya karena berkas yang diserahkan oleh instansi terkait belum sesuai dengan persyaratan antara lain:
- belum ada pelepasan kawasan hutan (contoh: provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Maluku, Provinsi Kalimantan Tengah);
- belum selesainya proses ganti rugi; b. Obyeknya (tanah) sudah beralih tangan;
c. Subyeknya (orang) sudah banyak yang berpindah; dan d. Transmigran tidak mampu membayar BPHTB;
Sertipikasi Tanah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)
Legalisasi Aset ini, merupakan
kerjasama antara BPN-RI dengan Kementrian Perumahan Rakyat RI berdasarkan kesepakatan bersama antara Kementrian Perumahan Rakyat RI dengan Kepala BPN-RI Nomor:
08/SKB/M/2010 dan Nomor:
7/SKB/XII/2010 tanggal 03 Desember 2010.
Gambar 3.4
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 33
Untuk tahun 2013 target sertipikasi tanah Pertanian adalah 7.500 bidang, terealisasi sebesar 7.037 bidang atau 93,83%.
Tabel 3.10
Capaian Sertipikasi MBR 2010 – 2013
MBR
TAHUN TARGET REALISASI %
2010 - - -
2011 11.508 10.841 94,20
2012 7.500 6.415 85,53
2013 7.500 7.037 93,83
IKU-2: Meningkatnya Indeks Kepuasan Masyarakat Terhadap Pelayanan Legalisasi Aset Tanah
BPN-RI berupaya menyajikan indeks kepuasan masyarakat secara rutin, dengan harapan mampu memberikan gambaran mengenai kualitas pelayanan di Badan Pertanahan Nasional kepada masyarakat. Indeks tersebut diperoleh berdasarkan pendapat masyarakat terhadap pelayanan legalisasi aset tanah, dalam hal ini diprioritaskan untuk kegiatan prona. Pengolahan data indeks kepuasan masyarakat mengikuti petunjuk dalam keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor KEP/25/M.PAN/2/2004 tanggal 24 Februari 2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. Pada tahun 2013, pengukuran IKM dilaksanakan dalam 2 (dua) tahap, tahap I dilakukan pada bulan Maret di 32 Provinsi dan tahap II di 31 provinsi dengan mengambil sampel 1 (satu) kantor pertanahan kabupaten/kota di setiap provinsi. IKM terhadap pelayanan legalisasi aset tanah dinilai dari 13 unsur seperti tersaji pada table 3.12.
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 34 Tabel 3.11
Kategorisasi Indeks Kepuasan Masyarakat
Interval Mutu Kinerja
81,26 - 100 A SANGAT BAIK
61,26 - 81,25 B BAIK
43,76 - 61,25 C CUKUP BAIK
25 - 43,75 D KURANG BAIK
0 - 24 E TIDAK BAIK
Dari pengolahan data, dapat diketahui bahwa indeks kepuasan masyarakat (IKM) tahun 2013 adalah 73,64 dengan mutu kinerja yang baik (B).
Tabel 3.12
Unsur-unsur yang dinilai pada IKM Kode
Unsur Nama Unsur
Median
Unsur Median Kategori
U13 rasa aman karena sudah
memiliki sertipikat (Prona) 10
DIPERBAIKI U14
rasa yakin akan sertipikat (Prona) sebagai bukti otentik
10
U9 kesopanan dan keramahan
petugas 24
U7 kecepatan penyelesaian Prona 27 U3 kejelasan petugas Prona 30 U4 kedisiplinan petugas prona 30
U1 prosedur Prona 31
31 U5 tanggung jawab petugas
Prona 31
U8 keadilan mendapatkan Prona 32
DIPERTAHANK AN U12 kepastian jadwal Prona 34
U2 persyaratan Prona 35
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 35 U6 kemampuan petugas Prona 38
U11 kepastian biaya Prona 39
Untuk kedepannya, dalam menentukan IKM terhadap pelayanan legalisasi aset, sebaiknya tidak hanya melibatkan responden yang ikut dalam program permerintah seperti prona, tetapi juga masyarakat yang langsung datang ke kantor pertanahan untuk mendaftarkan tanah hak miliknya sehingga diharapkan IKM yang didapatkan lebih berkualitas.
Tabel 3.13
Peringkat Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Tahap II Tahun 2013
NO PROVINSI KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN/KOTA SAMPLING INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT (IKM) MUTU KINERJA
1 D.I. Yogyakarta Kabupaten Sleman 92,3000 A SANGAT BAIK
2 Sumatera Barat Kabupaten Lima Puluh Kota 92,0160 A SANGAT BAIK
3 Sulawesi Tengah Kabupaten Donggala 90,5960 A SANGAT BAIK
4 Jawa Timur Kabupaten Pasuruan 90,1700 A SANGAT BAIK
5 Maluku Kota Ambon 89,1760 A SANGAT BAIK
6 Sumatera Selatan Kabupaten Ogan Ilir 86,6200 A SANGAT BAIK
7 Sulawesi Barat Kabupaten Majene 86,3833 A SANGAT BAIK
8 Banten Kabupaten Pandeglang 86,3360 A SANGAT BAIK
9 NTB Kabupaten Lombok Tengah 84,9160 A SANGAT BAIK
10 Kalimantan Timur Kabupaten Kutai
Kartanegara
84,3480 A SANGAT BAIK
11 Sulawesi Selatan Kabupaten Gowa 83,7800 A SANGAT BAIK
12 Papua Barat Kabupaten Manokwari 82,7860 A SANGAT BAIK
13 Riau Kabupaten Pelalawan 82,5629 A SANGAT BAIK
14 Kalimantan Barat Kabupaten Pontianak 82,3600 A SANGAT BAIK
15 Sulawesi Utara Kota Tomohon 82,0760 A SANGAT BAIK
16 Lampung Kabupaten Pesawaran 82,0760 A SANGAT BAIK
17 Bengkulu Kabupaten Bengkulu Tengah 82,0760 A SANGAT BAIK
18 Kepulauan Riau Kota Batam 81,5080 A SANGAT BAIK
19 Aceh Kabupaten Aceh Besar 80,7371 B BAIK
20 Kepulauan Belitung Bangka Kabupaten Bangka 80,7033 B BAIK
21 Maluku Utara Kota Ternate 80,2300 B BAIK
22 Jawa Tengah Kabupaten Grobogan 79,5200 B BAIK
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 36
24 Jawa Barat Kabupaten Bandung 77,2480 B BAIK
25 Jambi Kabupaten Muaro Jambi 76,2743 B BAIK
26 Sulawesi Tenggara Kabupaten Konawe Selatan 73,8400 B BAIK
27 NTT Kabupaten Kupang 70,0533 B BAIK
28 Sumatera Utara Kabupaten Deli Serdang 69,0120 B BAIK
29 Gorontalo Kabupaten Gorontalo 68,5150 B BAIK
30 Bali Kabupaten Bangli 68,1600 B BAIK
31 Kalimantan Selatan Kabupaten Banjar 67,8760 B BAIK
Sasaran 2:Terwujudnya pengendalian, penguasaan,
pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan
tanah dan pemberdayaan masyarakat
dalam
rangka
peningkatan
akses
terhadap sumber ekonomi.
Untuk pencapaian sasaran strategis ini, BPN-RI mengidentifikasikan 3 (tiga) indikator kinerja utama (IKU), yaitu:
1. IKU jumlah keputusan penetapan tanah terlantar yang ditetapkan;
2. IKU jumlah tanah yang dapat didayagunakan bagi masyarakat, program strategis dan pemerintah; dan
3. IKU Bertambahnya akses terhadap sumber ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat penerima manfaat.
IKU-1: Meningkatnya jumlah keputusan penetapan tanah terlantar yang ditetapkan
Tabel 3.14
Pencapaian IKU Pada SS-2
IndikatorKinerja TARGET
(Bidang)
REALISASI
(Bidang) %
Jumlah Keputusan penetapan tanah terlantar yang
ditetapkan.
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 37
Capaian realisasi SK penetapan tanah terlantar Tahun 2013 sebesar 48,36%, hal ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
1. Obyek yang sedang dilakukan kegiatan penertiban tanah terlantar telah dimanfaatkan sesuai peruntukannya pada saat tahapan kegiatan penertiban berlangsung.
Misalnya pada masa peringatan I, pemegang hak telah me-manfaatkan tanahnya sesuai peruntukan sehingga oleh Kanwil BPN proses penertiban tersebut dihentikan karena kondisi tanah sudah tidak ada lagi yang ditelantarkan. Penghentian proses kegiatan penertiban ini menyebabkan obyek yang akan ditetapkan sebagai tanah terlantar melalui SK Penetapan Tanah Terlantar menjadi berkurang;
2. Selain alasan diatas, hasil analisa dan kajian BPN RI terhadap usulan penetapan tanah terlantar yang disampaikan daerah masih banyak ditemukan aspek tidak tertib administrasi dan tidak tertib hukum sehingga apabila dilanjutkan hingga penetapan, maka BPN berpeluang besar kalah di pengadilan apabila terdapat gugatan dari pemegang hak. Tidak tertibnya administrasi dan tidak tertib hukum dimaksud seperti obyek yang diusulkan banyak yang berasal dari tanah hak yang telah berakhir masa berlakunya, Izin lokasi dan Pelepasan Kawasan Hutan yang bukan termasuk dalam kriteria obyek tanah terlantar sesuai PP 11/2010, obyek yang diusulkan tidak memenuhi kelengkapan berkas;
3. Dari 422 usulan penetapan tanah terlantar yang disampaikan oleh daerah sejak tahun 2010-2013, telah ditetapkan sebanyak 48 obyek sebagai tanah terlantar dengan SK Penetapan sebanyak 96 SK, obyek yang diusulkan untuk ditetapkan sebagai tanah terlantar yang berasal dari tanah bekas hak sebanyak 66 obyek, yang berasal dari ijin lokasi/pelepasan kawasan hutan sebanyak 74 obyek, telah dikeluarkan dari basis data tanah terlantar sebanyak 16 obyek, usulan yang belum lengkap data pendukungnya sebanyak 125 obyek, obyek yang layak dikerjakan sebanyak 93