ANALISIS SKOR 6S ASSESSMENT DI LINGKUNGAN TEMPAT KERJA
UKM SUCI RIZKI BEKASI
Luli Akhriyani1*, Dene Herwanto2, Febriana Angelia Purba3
1,2,3Teknik Industri, Universitas Singaperbangsa Karawang
Jl. H.S. Ronggowaluyo Telukjambe Timur - Karawang 41361 Telp. 0812-9228-5094, Fax. (0267) 641367 ext. 102
*E-mail: [email protected]
ABSTRACT
A successful company is a company with a work environment that supports both workers and machines in that environment. A good work environment can support the comfort and safety of employees so that the work done will be optimal. Therefore, the aim of this study is to ensure a safe work environment or area without hazards which can be identified by the 6S method which stands for seiri, seiton, seiso, seiketsu, shitsuke, and safety. The research method used is the observation of every 6S aspect in the work environment of Suci Rizki UKM. Based on the results of this study, it shows that UKM Suci Rizki gets a final score of 1.3437 which is included in the Unacceptable classification which means that the 6S method activity is not carried out or only a small part in the Suci Rizki UKM
Keywords :
Method 6S, UKM
PENDAHULUAN
Lingkungan kerja memiliki pengaruh yang besar terhadap pekerjaan karyawan. Menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, aman dan menyenangkan merupakan salah satu cara bagi perusahaan untuk meningkatkan kinerja karyawan (Maizir et al., 2020). UKM Suci Rizki di Bekasi merupakann usaha yang memproduksi beragai jenis tahu, Belum menciptakan lingkungan kerja yang bersih, seperti penaataan loyang tahu yang tak terpakai bertumpuk-tumpuk, area kerja yang licin, kontainer yang diletakkan di sembarang tempat. Hal tersebut dapat mengganggu kenyamanan dan meningkatkan resiko kerja yang tinggi terhadap karyawan, untuk itu diperlukan analisis terhadap seberapa besar budaya 6S yang telah diterapkan UKM Suci Rizki di Bekasi ini.
Metode 6S
Konsep 6S merupakan pengembangan dari 5S, namun keselamatan kerja juga perlu ditamahkan guna meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja. sehingga menggabungan safety kedalam bagian 5S akan menjadi 6S (Setiawan, 2018). Metode 6S merupakan singkatan dari seiri, seiton, seiso, seiketsu,
shitsuke dan safety. Dalam bahasa Inggris menjadi sort, set in order, shine, standardize, sustain, dan safety. Metode ini merupakan pengembangan dari 5S yang diusulkan oleh Hiroyuki Hirano pada
tahun 1990 (Nadira et al., 2018)
Tahap pertama yakni seiri, mengacu pada pemilihan dan klasifikasi elemen di tempat kerja menjadi dua kategori utama, yaitu penting dan tidak penting dalam upaya untuk menghilangkan elemen yang tidak terpakai atau jarang digunakan yang menumpuk dan menciptakan gangguan. Tahap Seiton membuat ruang bagi setiap item, Produk harus diklasifikasikan sebagai label "penting" untuk membawa pesanan ke tempat kerja, dan disusun serta ditempatkan sesuai dengan frekuensi penggunaannya, sehingga karyawan dapat dengan cepat menemukan, menggunakan, dan mengembalikan ke tempat sebelumnya. Shine / Seiso bertujuan untuk menciptakan kondisi
lingkungan kerja yang terbaik (termasuk mesin, peralatan, lantai, dan dinding) untuk mempertahankan tempat kerja dalam kondisi yang ideal. Standarisasi mencakup pembedaan yang mudah antara kondisi normal dan abnormal dengan menerapkan aturan sederhana yang dapat dilihat oleh semua operator. Shitsuke merupakan disiplin ilmu sehingga setiap tahapan 6S sudah menjadi kebiasaan, Salah satu langkahnya adalah dengan memberikan pelatihan tentang budaya 6S dan audit rutin kepada pekerja (Kartika & Rinawati, 2016) Keselamatan kerja (Safety) adalah perlindungan karyawan dari cedera akibat kecelakaan kerja. Safety bertujuan untuk membiasakan karyawan peduli dengan keselamatan kerja. Keselamatan kerja memastikan bahwa pekerja atau komunitas kerja memperoleh derajat kesehatan yang setinggi mungkin dalam aspek fisik, psikologis dan sosial, serta mencegah dan mengobati penyakit atau gangguan yang disebabkan oleh faktor pekerjaan dan lingkungan serta penyakit umum. (Endro & Hardi, 2016)
Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja yang baik akan memberi dukungan kerja yang maksimal kepada karyawan. Jika karyawan dapat melakukan aktivitas dengan sebaik-baiknya, sehat, aman dan nyaman, kondisi lingkungan kerja tersebut dapat dikatakan baik dan sesuai (Sri, 2014). Dalam jangka panjang, akibat dari kesesuaian lingkungan kerja terhadap karyawan akan terlihat. Selain itu, lingkungan kerja yang tidak menguntungkan dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja dan waktu, serta tidak mendukung didapatkannya rancangan sistem kerja yang efisien (Bhastary & Suwardi, 2018).
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, Observasi sebagai aktivitas mencatat suatu gejala dengan bantuan instrumen-instrumen dan merekamnya dengan tujuan ilmiah atau tujuan lain. Metode observasi merupakan teknik pengumpulan data dimana objek penelitian diamati secara langsung serta melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. (Nadira et al., 2018)
Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan form penilaian 6S, form penilaian 6S digunakan untuk menilai apakah lingkungan tempat kerja sudah menerapkan budaya kerja 6S (Maizir et al., 2020). Form penilaian 6S dapat mengetahui sejauh mana pelaksanaan 6S dalam organisasi telah terlaksana sehingga karyawan dapat melakukan pekerjaan dengan keselamatan kerja yang terjamin.
HASIL DAN PEMBAHASAN Pengumpulan Data
metode 6S akan dilakukan, yakni pada stasiun penggilingan, pencetakan, perendaman, penggorengan, dan pengepakan.
Perhitungan Total Skor 6S
Industri yang baru berkembang yang relatif kecil dan belum terlalu besar seperti UKM Suci Rizki cocok untuk melakukan perhitungan checklist 6S. Berikut merupakan hasil form checklist 6S.
Tabel 1. Hasil Penelitian Form 6s Assessment
Berdasarkan tabel perhitungan penilaian form 6S didapatkan hasil pengisian form dengan menggunakan metode 6S, tabel tersebut berisikan aspek 6S yaitu Seiri, Seiton, Seiso, Safety, Seiketsu,
Sitsuke, dengan total ada 32 faktor yang ditinjau dalam 6 aspek tersebut. Hasil skor tersebut kemudian
diidentifikasi berdasarkan tabel klasifikasi hasil skor 6S.
Tempat : UMKM SUCI RIZKI Tanggal : 16 Desember 2020
1 2 3 4
1 Part atau material 1 Semua peralatan sesuai yang dibutuhkan √
2 Peralatan 2 Alat yang rusak dipisahkan √
3
Alat Tulis Kantor dan Filing 3
Semua barang (hard maupun softfile ) yang tidak digunakan diberi tanda penanganan dengan 6S redtag
√
4
Labelling identitas 4
Tempat penyimpanan diatur yang baik sehingga mudah
dilihat, diambil dan dikembalikan √
5 Tempat penyimpanan, bahan
dan alat 5
Terdapat penunjukkan yang jelas atas jumlah persediaan
maksimum atau minimum √
6
Penunjuk Jumlah 6
Semua area dilengkapi dengan garis pembatas
dan semua barang di dalam garis √
7
Area Pembatas 7
Penyimpanan peralatan harus disusun dengan baik
dan mudah sehingga cepat ditemukan √
8 Dokumentasi 8 Dokumen tertata rapi dan mudah diakses √
9 Lantai, dinding, langit-langit 9 Tidak ada debu, kotoran, noda, atau rumah serangga √ 10
Peralatan 10
Tempat sampah cukup, teridentifikasi dan sesuai
dengan penggunaannya √
11
Manajemen sampah 11
Peralatan kebersihan cukup, penempatan rapi,
terlindung dari kotoran √
12 Peralatan & Tanggung jawab
kebersihan 12
Terdapat mekanisme yang jelas
untuk penanggung jawab kebersihan √
13 Ergonomi 14 Mengangkut barang melebihi batas kemampuan √
15 Tersedia alat bantu manual material handling √
16 Postur kerja normal √
14 APAR 17 Terdapat APAR dengan tipe yang sesuai √
18 Ada tanda/Sign APAR dan terdapat prosedur
pemakaiannya yang sesuai √
19 APAR berfungsi baik dan tata letaknya mudah diakses √
20 Pengecekan APAR secara berkala √
15 Poster/Sign : 21 Terdapat Sign atau poster K3 √
16 Jalur Evakuasi 22 Terdapat tanda jalur evakuasi √
23 Terdapat peta jalur evakuasi √
17
Alat Pelindung Dir 24
Tersedia alat pelindung diri yang layak pakai
dan sesuai standar √
18 Panel Listri 25 Sambungan kabel tertata dengan rapi, stop kontak tertutup √
26 Panel dalam keadaan tertutup √
27 Panel indikator yang berfungsi baik √
19 Lampu Emergency/Genset 28 Tersedia lampu Emergency /Genset √
20 P3K 29 Tersedia kotak P3K dan obat-obatan √
21
Menjaga seluruh metode 6S
30 Ada upaya dan mekanisme agar 6S
selalu dilaksanakan setiap saat dengan baik √ 22
Semangat & Pemahaman 6S
31 Terdapat ajakan untuk selalu melaksanakan 6S
berupa slogan,peringatan, atau tanda lainnya √ 23
Pembelajaran
32 Ada upaya untuk pembelajaran 6S dan keterlibatan seluruh karyawan dan pengguna fasilitas
√
24 Audit 6S 33 Ada audit internal 6S secara periodik √
TOTAL POIN 23 14 6
TOTAL POIN KESELURUHAN 43
S E IR I/ S O R T / RIN G K A S Score FORM 6S ASSESSMENT S E IKE T S U / S T A ND A R D IZ A T IO N/ RA W A T S IT S U KE /S U S T A IN /RA JIN S A F E T Y / A M A N S E IS O / S H INE / RE S IK S E IT O N/ S E T IN O R D E R / RA P I 6S No ASPEK No TINJAUAN
Tabel 2. Klasifikasi Hasil Skor 6S
1 Unacceptable Aktivitas tidak dilakukan
2 Poor Aktivitas kurang dilakukan
(sebagian kecil saja)
3 Good Aktivitas dilakukan dengan
cukup (diaplikasikan dan jelas di sebagian besar area)
4 Excellent Aktivitas dilakukan dengan
baik (diaplikasikan dan jelas di semua area)
5 World Class Aktivitas dilakukan dengan
sangat baik dan ada bukti yang mendukung
Tabel klasifikasi 6S yang menentukan hasil dari perhitungan skor 6S assessment apakah tempat lingkungan kerja dinyatakan telah menerapkan 6S dengan baik maupun tidak. Skor diagi menjadi 4 yakni score 1 (aktivitas tidak dilakukan), score 2 (aktivitas kurang dilakukan), score 3 (aktivitas dilakukan dengan cukup baik), score 4 (aktivitas dilakukan dengan baik), dan score 5 (ativitas dilakukan dengan sangat baik).
Pengolahan Data
Perhitungan total poin dan skor 6S
Total poin di dapatkan dari jumlah checklist di lembar pengamatan 6S kemudian dikali dengan nilai skor klasifikasinya. Perhitungan untuk setiap tinjauan kemudian dijumlahkan kelimanya kemudian didapatkan total poin
Total Poin = 23 + 14 + 6 + 0 + 0 = 43
Skor didapatkan dari pembagian total point dengan jumlah tinjauan, karena yang ada di lembar pengamatan sejumlah 32, jadi total poin dibagi 32.
Score = 43
32= 1,3437
Identifikasi Masalah Berdasarkan Tabel 6S
Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa UKM Suci Rizki mendapat skor akhir sebesar 1,3437 dan masuk dalam klasifikasi unacceptale, yang artinya metode 6S baru dilakukan sebagaian kecil saja. Masalah yang ada pada tempat penelitian berdasarkan tabel 6S adalah alat yang sudah rusak dan tidak terpakai tidak dibersihkan, tidak ada tanda / label yang diberikan untuk barang-barang yang ada disana, tidak adanya garis pembatas untuk benda yang berada di tempat penelitian, tidak adanya poster K3 atau sign, tidak tersedianya kotak P3K, tidak adanya ajakan berupa slogan atau peringatan untuk melaksanakan 6S, dan tidak adanya penggunaan 6S keseluruhan secara periodik.
Pembuatan radar chart 6S
Skor pada form penilaian 6S yang telah dianalisis kemudian dimasukkan ke Radar Chart.
Skor peraspek tersebut kemudian dan jumlah checklist dikalikan dengan skor
interpretasinya. Berikut adalah radar chart berdasarkan skor peraspek 6S pada penelitian
ini.
Tabel 3. Nilai Peraspek 6S
6S Nilai
Seiri 1.67
Seiton 1.6
Seiso 1
Gambar. 2. Radar Chart metode 6S UKM Suci Rizki
Tampak pada tael 3 dan gambar 2 bahwa nilai paling tinggi didapatkan pada tahap seiri dengan nilai 1,67, lalu seiton dengan nilai 1,6, safety 1,47, dan ketiga tahap lainnya yakni seiso,
seiketsu, dan shitsuke yang masing masing bernilai 1.
KESIMPULAN
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah 6S adalah teknik yang digunakan untuk meningkatkan kesadaran pekerja terhadap budaya 6S sehingga tercapainya budaya kerja yang aman, nyaman, menjamin keselamatan kerja. Teknik 6S mudah diterapkan di organisasi mana pun. Teknik 6S membangun lingkungan kerja yang baik di industri manufaktur. Teknik 6S bermanfaat dalam meningkatkan efisiensi kerja pekerja di industri. Teknik 6S menciptakan lingkungan kerja yang lebih disiplin di industri.
Pada penelitian ini diketahui UKM Suci Rizki belum menerapkan 6S. Hal ini dapat diketahui dari skor penilaian form 6S yaitu 1,3437 dengan nilai paling tinggi terdapat pda aspek seiri. Hasil ini dikategorikan sebagai unacceptable yang menunjukkan bahwa aktivitas masih banyak yang belum dilakukan sehingga karyawan berarti masih belum mendapatkan kenyamanan serta keselamatan yang baik dalam bekerja.
Dari Form Identifikasi 6S didapat banyak permasalahan terkait indikator 6S sehingga diberikan rekomendasi pada tiap indikator 6S, seperti memperhatikan barang-barang yang belum rapi, melakukan kebersihan secara berkala, terdapat slogan maupun peringatan 6S, melakukan audit internal 6S secara berkala, dan sebagainya. Dengan adanya rekomendasi yang diberikan, UKM Suci Rizki dapat memahami dan menerapkan budaya 6S. Dengan budaya organisasi yang baik tentunya akan meningkatkan kinerja karyawan pada UKM Suci Rizki sehingga hasil kerja yang didapatkan akan lebih maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Bhastary, M. D., & Suwardi, K. (2018). Analisis Pengaruh Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Di Pt.Samudera Perdana. Jurnal
Manajemen Dan Keuangan, 7(1), 47–60. https://doi.org/10.33059/jmk.v7i1.753
Endro, W., & Hardi, U. (2016). Pengaruh Keselamatan Kerja Dan Kesehatan Kerja Terhadap Kinerja Dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening (Studi Kasus pada Karyawan Bagian Produksi Unit Serbuk Effervescent PT Sido Muncul Semarang). Among Makarti,
9(17), 38–59.
Kartika, M., & Rinawati, D. I. (2016). Analisa Penerapan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seketsu, Shitsuke) Pada Area Warehouse Cv Sempurna Boga Makmur Makmur Semarang. Industrial
Engineering Online Journal, 5(4).
Maizir, I. F., Al-khairi, P. A., Sari, A. D., Industri, P. T., Industri, F. T., Indonesia, U. I., & Kulon, N. (2020). Analisis Lingkungan Tempat Kerja Dalam Peningkatan Produktivitas Pada Umkm Konveksi XYZ Dengan Menggunakan Metode 6S. Industrial Engineering Online Journal, 89–95.
Nadira, T. A., Siregar, R. H., & Dyah, A. (2018). Analisis Tempat Kerja Umkm XYZ Di Sleman Menggunakan Metode 6S. Industrial Engineering Online Journal, 1–7.
Setiawan, A. I. (2018). Analisis perbaikan kondisi keselamatan kerja dengan metode 6s di industri
umkm pengolahan susu (studi kasus : cv. sahabat ternak). Universitas Islam Indonesia
Yogyakarta.
Sri, R. (2014). Analisis perbaikan kondisi lingkungan kerja terhadap beban kerja mental. Jurnal