Potret
Sisikmelik
Kabupaten Pekalongan
Potensi Kota Kajen,
UNDANG UNDANG HAK CIPTA Sanksi Pelanggaran Pasar 27
Undang Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
1. Barang siapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak terkait sebagai dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Potret
Sisikmelik
v
Potret Sisikmelik Kabupaten Pekalongan
SAMBUTAN BUPATI PEKALONGAN
MEMAHAMI DAN MEMETAKAN
(Memulai dengan “kulakan masalah”)
DAlAM sebuah sesi diskusi seorang ma-ha siswa bertanya ke-pada saya, “Dalam era otonomi daerah, ada kecenderungan rekru tmen pegawai, khu susnya Pegawai Tidak Tetap (PTT), penuh dengan nepo-tis me. Dengan potret otoda yang demikian itu, kebijakan apa yang akan dilakukan agar rekrutmen pegawai dan pelayanan publik umumnya menjadi lebih baik?”. Pertanyaan itu diajukan menanggapi materi yang saya sampaikan pada Kuliah Umum Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, Minggu, 19 Februari 2012.
Terhadap pertanyaan itu antara lain saya sampaikan, “Singkap dulu underan-nya, ketahui kunci masalahnya. Potret kondisi, ketahui dengan jernih kelemahan dan kekuatannya, diagnosis, tentukan terapi apa yang tepat”
“Kulakan masalah”, menemukenali per-ma salahan adalah dasar pemikiran ketika kita memulai setiap misi dan menghadapi per masalahan. Pemahaman ini juga selalu saya sampaikan dan tularkan kepada jajaran birokrasi. Saya tekankan kepada Kepala SKPD untuk turun ke lapangan secara periodik mau pun insidental, untuk menemukenali permasalahan dan potensi masing-masing urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawabnya.
Ada dua sisi yang dapat dijadikan pijakan mengapa kulakan masalah penting? Dua sisi itu adalah sisi filosofis dan manajerial. Sisi filosofis antara lain didasari oleh pemikiran Sun Tsu, yang mengatakan, “Kenali diri sendiri, kenali lawan, maka kemenangan sudah pasti di tangan. Kenali medan pertempuran, kenali iklim; maka kemenangan akan sempurna”. Dari sisi manajerial, kita pahami bersama bahwa mengenali kekuatan dan kelemahan diri sendiri serta mengenali peluang dan tan tangan lingkungan adalah awal untuk mencapai kesuksesan.
vi
Potret Sisikmelik Kabupaten PekalonganSaya menyambut baik upaya untuk mendokumentasikan potensi Kabupaten Peka-longan dalam bentuk buku Potret Sisikmelik Kabu paten Pekalongan ini. Upaya mendo-kumentasikan potensi adalah juga bagian dari “kulakan masalah” seperti yang saya sampaikan di atas.
Dari judul dan isinya saya melihat buku ini menyajikan penggalan sejarah secara singkat (sisikmelik) Kabupaten Pekalongan, khususnya Kajen sebagai Ibu Kota, serta gambaran potensi budaya dan pariwisata yang ada di Kabupaten Pekalongan. Hara pan-nya, buku yang dimaksudkan sebagai ensik-lopedia ini dapat menjadi referensi dalam menemukenali masalah dan potensi yang ada di Kabupaten Pekalongan.
Saya panjatkan puji syukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya penyusunan buku ini. Kepada Tim Penyusun saya ucapkan terima kasih atas kerja kerasnya. Dan akhirnya, semoga buku ini dapat memberi manfaat dan menjadi bagian upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kajen, Oktober 2012 BUPATI PEKAlONGAN
vii
Potret Sisikmelik Kabupaten Pekalongan
PENGANTAR KETUA DPRD
Kota ”Santri” itu Milik Siapa?
BIlA boleh ditamsilkan, wilayah Ka -bupaten Peka lo ngan seperti ham pa ran la zuardi yang ka-ya raka-ya. Potensi-potensi sumber daya alam nya sungguh luar biasa. Nah, jika mem bedah keka-yaan yang ada di Ka bupaten Pekalongan ini, setidaknya akan menemukan betapa banyak nya pendapatan yang masuk. Dan, tentunya hasil kekayaan itu bisa dijadikan untuk menyejahterakan dan memakmurkan seluruh masyarakatnya.
lantas Kota Santri yang kayaraya akan potensi alamnya itu milik siapa? Jawabannya tak lain adalah milik seluruh masyarakat Kabupaten Pekalongan. Kota Santri tidak hanya milik segelintir kelompok atau sekelompok orang kaya, namun semua warga dari mulai tukang becak, sopir angkutan umum, tukang kebersihan jalan, perajin batik, hingga para birokrat, semua memunyai hak yang sama untuk memiliki Kabupaten Pekalongan.
Pendek kata, Kabupaten Pekalongan ha-rus milik seluruh masyarakatnya. Dari sini-lah, tentunya bisa ditarik benang merah kalau maju tidaknya Kabupaten Pekalongan merupakan tanggung jawab dari semua rak-yat nya. Itulah sebabnya, pembangunan yang
terus digiatkan sangat berhubungan erat dengan semangat tinggi, dalam artian terus bersemangat dan rasa memiliki terhadap kota tercintanya, yakni Kota Santri.
Secara khusus, saya melihat bahwa masya rakat Kabupaten Pekalongan selama ini dikenal memunyai etos kerja yang sangat tinggi. Itu setidaknya semakin bergeliat sejak Kota Kajen menjadi Ibu Kota Kabupaten Pekalongan. Artinya, seluruh masyarakat Kabupaten Pekalongan merasa terpanggil untuk ikut membangun kota tercintanya dari semua sektor.
Menyambung tentang buku; Potret
Sisikmelik Kabupaten Pekalongan. Potensi Kota Kajen, Budaya, dan Pariwisata ini
memang sebelumnya saya pernah ’bermimpi’ ingin mengurai potensi-potensi yang ada di Kabupaten Pekalongan melalui paparan buku.
Nah, harapan saya buku yang cukup mewakili
potret dari sejumlah potensi Kota Santri ini bisa bermanfaat bagi khalayak umum, dan khususnya bagi seluruh masyarakat Kabupaten Pekalongan.
Memang, sungguh menjadi sebuah kebang-gaan tersendiri bagi masyarakat Kabupaten Peka-longan, ketika daerahnya bisa dikenal pub lik sebagai kota yang memiliki harapan ce mer lang di masa mendatang. Kekayaan alam, misalnya, di hamparan wilayah Kabu pa ten Pekalongan memang masih sangat per lu dikembangkan dan dikelola secara mak simal.
viii
Potret Sisikmelik Kabupaten PekalonganDengan pengelolaan yang profesional dan dimenej secara baik terhadap kekayaan alam tersebut, saya yakin Kabupaten Pekalongan akan semakin cepat menjadi sebuah kota harapan yang bisa diperhitungkan oleh daerah-daerah lain.
Singkat kata, kontens buku ini berhasil memotret beragam potensi yang ada di Kota Santri, seperti potensi seni batik, potensi pariwisata, potensi budaya serta tradisi, dan sebagainya.
Dan, akhirnya saya sangat berharap semoga buku ini mampu dijadikan sebagai pilar wacana yang mengarah pada khasanah pengetahuan –tentang potensi-potensi yang
dipunyai Kabupaten Pekalongan— sebagai acuan referensi. Selebihnya, buku ini bisa menjadi dokumentasi yang memuat lembaran sejarah Kota Santri.
Di akhir kata pengatar ini, saya berharap semoga apa yang telah diupayakan dan digiatkan oleh seluruh masyarakat Kabupaten Pekalongan selalu mendapat karunia, barokah, dan ridlo dari Allah Swt. Amien.
Kajen, Oktober 2012
ix
Potret Sisikmelik Kabupaten Pekalongan
SEPERTI untaian manikam yang mempesona. Tamsil ini setidaknya sangat pas disandang oleh Kabupaten Pekalongan. Ketika kali pertama menyapa kawasan –kabupaten yang berada di jalur Pantai Utara (Pantura)— bela-han barat Provinsi Jawa Tengah itu, kesan yang tertangkap adalah betapa kaya potensi, kabupaten yang biasa disebut sebagai Kota Santri ini.
Batik. Sebuah seni membatik (membuat kain batik) adalah ikon yang dimiliki Kabu-paten Pekalongan. Seni batik bagi masyarakat Kabupaten Pekalongan bukan sekadar sebagai
trademark, tapi lebih dari itu seni batik
merupakan ’simbol’ karakter budaya agung dari masyarakat Kabupaten Pekalongan secara utuh.
Perpaduan antara hamparan lahan –dara-tan rendah berupa pesisir dan dataran pegunungan— membuat kabupaten berpen-duduk 848.710 jiwa (data Badan Pusat Statistik Kabupaten Pekalongan 2011) itu juga sangat kaya dengan potensi Sumber Daya Alam (SDA) berupa objek-objek wisata, sektor pertanian dan sektor perkebunan yang sungguh luar biasa.
Bicara tentang Kabupaten Pekalongan, tentu yang terlintas dalam benak adalah batik. Boleh dikiaskan, masyarakat Kabupaten Pekalongan tak lepas dari jargon; ”Tangi turu
yo batik”. Maksudnya, bangun dari tidur
langsung bekerja membuat batik. Dengan kata lain, tiada hari tanpa membatik. Seni membuat
batik seolah menjadi tradisi turun temurun bagi masyarakat Kabupaten Pekalongan yang hasil-hasil produknya sejak ratusan tahun silam telah kesohor di mana-mana.
Tradisi membatik, yang lazim melalui proses dari membuat motif, japlak, hingga
babaran, memang banyak ditemui di Kam
-pung Batik, Desa Kemplong, Kecamatan Wiradesa dan Kampung Batik Buaran. Hampir semua warga di dua kampung tersebut, merupakan perajin atau pekerja batik yang sudah dilakukan secara turun temurun.
Dari sektor wisata, Kabupaten Pekalongan memiliki sejumlah wisata kuliner khas yaitu makanan tradisional Nasi Megono, Soto Tauto,
Pindang Tetel, dan Garang Asem. Tidak hanya
itu, Kabupaten Pekalongan yang beribu kota di Kajen –sebuah kecamatan yang berjarak sekitar 28 kilometer dari Kota Pekalongan— itu juga merupakan kota tua yang menyimpan banyak situs purbakala.
Sebagai kota yang secara geografis admi-nistratif terbagi menjadi 19 kecamatan, 13 kelurahan, 272 desa, 1.196 dusun atau dukuh, dan sebanyak 1.512 Rukun Warga (RW) itu, geliat Kabupaten Pekalongan seolah terus melaju menuju kota harapan. Merujuk kenyataan ini maka sangatlah patut untuk membedah ’isi perut’ Kabupaten Pekalongan. Khususnya yang terkait dengan potensi yang ada di Ibu Kota Kajen, budaya dan tradisi masyarakat, serta sektor pariwisata secara komprehensif dan menyeluruh.
PENGANTAR EDITOR
Sebuah Asa Kota Harapan
x
Potret Sisikmelik Kabupaten PekalonganNah, segaris dengan itu, tim editor merasa
‘wajib’ untuk menerbitkan buku “Sisikmelik
Kabupaten Pekalongan” Potensi Kota Kajen, Budaya, dan Pariwisata. Selebihnya, tentunya
bagi tim editor untuk menerbitkan buku tentang sisikmelik Kabupaten Pekalongan ini sangat bersinggungan erat dengan keberadaan Kabupaten Pekalongan yang merupakan kota harapan dalam menapak perkembangan zaman.
Oleh sebab itu, harapan yang menjadi pilar dari tujuan menerbitkan buku ini, bo-leh dikatakan memunyai target utama, yakni memaparkan ihwal potensi Kabupaten Peka-longan dari sudut sejarah dan potensi Ibu Kota Kajen, utamanya tentang potret sisik-melik Kabupaten Pekalongan yang disu guh-kan secara informatif.
Sebagai buku umum, tentu kontens dari buku ini memang tidak akan menyentuh sisi pembahasan di ranah sejarah. Dengan kata lain, buku ini tidak lebih merupakan buku yang punya varian layaknya insiklopedi sekaligus sebagai guaden. Dan, paparan kontens yang tersaji digali dari berbagai sumber, yakni data empirik dan data literer.
Menyambung ihwal pemilihan judul buku, yakni “Potret Sisikmelik Kabupaten
Pekalongan” Potensi Kota Kajen, Budaya, dan Pariwisata ini, merupakan hasil kajian
yang dilakukan melalui studi empirik dan proses kajian literatur secara intensif dengan beberapa narasumber yang dinilai memiliki kompetensi dan representatif.
Begitu pula, terkait dengan pemilihan judul tersebut, memang merujuk pada makna konkret bahwa kontens buku ini adalah gambaran utuh tentang Kabupaten Pekalongan, terkini –dengan ‘bumbu’ cuplikan sisikmelik –atau mengambil sejarah masa lalu secara singkat.
Sedangkan perihal uraian judul, dalam kamus Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional, terbitan Balai Pustaka, Hasan Alwi dan kawan-kawan, 2003) menyebutkan, kata; Potret memunyai arti; gambaran (dalam bentuk paparan), dan kata; sisikmelik mengandung arti; tanda-tanda yang memberikan petunjuk (barang) bukti; jejak. Itulah karenanya, secara lengkap buku ini kami beri judul; “Potret Sisikmelik
Kabupaten Pekalongan” sebuah paparan
potensi Kota Kajen, budaya, dan pariwisata, sebagai subjudul.
Bagi tim editor, harapan utama yang ingin dipetik yakni agar buku ini bisa menjadi panduan sekaligus memunyai nilai tambah sebagai salah satu referensi, khususnya bagi khasanah pustaka dan bagi masyarakat, secara umum. Dan, tim editor sangat meyakini bahwa setiap paparan kontens yang tampil dalam buku ini, tentunya memunyai kelebihan dan kekurangannya.
Demikian pula, dari serangkaian scheduling penerbitan buku ini, yakni mulai dari awal pengumpulan data, tentu tim editor benar-benar sangat menyadari bahwa kehadiran buku ini tidak bisa dipisahkan dari adanya support serta sumbangan pemikiran dari banyak pihak. Utamanya, kepada seluruh pendukung yang sangat gigih untuk menyelesaikan penerbitan buku ini.
Dalam penggalian data di lapangan yang kami lakukan dengan persentase 80% hasil pengumpulan data empirik dan 20% melalui penelusuran data dari berbagai sumber, seperti kliping surat kabar, majalah, tabloid,
website atau situs di internet –sebagai data
pelengkap.
Khusus melalui kata pengantar ini, kepada semua pihak yang telah memberi dukungan serta sumbangan pemikiran terhadap
xi
Potret Sisikmelik Kabupaten Pekalongan
penerbitan buku ini, sehingga benar-benar bisa diterbitkan, khususnya yang namanya tidak bisa disebut, kami sampaikan banyak terima kasih. Tentu, harapan kami buku ini bisa menjadi salah satu sumbangsih –meski dinilai sekecil apa pun— bagi kemanfaatan semuanya.
Di akhir kata pengantar ini, sampai kapan pun kami tidak akan pernah menutup “mata” dan “telinga” untuk menerima berbagai saran dan kritik konstruktif atas segala kekurangan
dalam “melahirkan” buku ini. Sebesar apa pun dukungan dari banyak pihak yang telah diberikan kepada kami, tanggung jawab dan kekurangan dari buku ini, semuanya “mutlak” berada di tangan tim editor. Semoga Allah Swt selalu meridloi ikhtiar kita bersama.
Kajen, 3 Oktober 2012