MODUL PERKULIAHAN
Pengantar Ilmu
Komunikasi
Persepsi
Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Ilmu Komunikasi Broadcasting
06
Ponco Budi Sulistyo., S.Sos., M.CommAbstract
Kompetensi
Modul membahas pengertian dan proses persepsi, proses psikologis yang dapat mempengaruhi persepsi dan atribusi atau penyebab persepsi.
Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian dan proses persepsi, proses psikologis yang dapat mempengaruhi persepsi dan atribusi atau penyebab persepsi.
Persepsi
Persepsi adalah proses dengan mana kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang
mempengaruhi indra kita.
Persepsi mempengaruhi rangsangan (stimulus) atau pesan apa yang kita serap dan makna yang kita berikan kepada mereka ketika mereka mencapai kesadaran.
Proses Persepsi
Persepsi bersifat kompleks. Tidak ada hubungan satu lawan satu antara pesan yang terjadi
“di luar sana” – dalam getaran udara dan dalam tanda-tanda hitam di atas sehelai kertas – dengan pesan yang akhirnya memsasuki otak kita. Apa yang terjadi di luar dapat sangat berbeda dengan apa yang mencapai otak kita.
Mempelajari bagaimana dan mengapa pesan-pesan ini berbeda sangat penting untuk memahami komunikasi.
Kita dapat mengilustrasikan bagaimana persepsi bekerja dengan menjelaskan tiga langkah yang terlibat dalam proses ini. Tahap-tahap ini tidaklah saling terpisah benar; dalam kenyataan, ketiganya bersifat kontinyu, bercampur-baur dan bertumpang-tindih satu sama lain. Lihat gambar berikut :
Proses persepsi
Terjadinya Stimulasi Stimulasi
Stimulasi alat indra alat indra
alat indra diatur dievaluasi-ditafsirkan
Sumber : Joseph A. Devito. Komunikasi Antar Manusia.Professional Books.1997.
Terjadinya Stimulasi Alat Indra (Sensory Stimulation)
Pada tahap pertama alat-alat indra distimulasi (dirangsang). Namun, meskipun kita memiliki
kemampuan pengindraan untuk merasakan stimulus (rangsangan), kita tidak selalu menggunakannya. Contoh ?
Kita akan menangkap apa yang bermakna bagi kita dan tidak menangkap yang kelihatannya tidak bermakna.
Pada tahap kedua, rangsangan terhadap alat indra diatur menurut berbagai prinsip. Salah
satu prinsip yang sering digunakan adalah prinsip proksimitas (proximity), atau kemiripan: Orang atau pesan yang secara fisik mirip satu sama lain dipersepsikan bersama-sama, atau sebagai satu kesatuan (unit). Contoh ?
Intinya, kita menyimpulkan bahwa kedua pesan tersebut berkaitan menurut pola yang sudah tertentu.
Prinsip lain adalah kelengkapan (closure): Kita memandang atau mempersepsikan suatu gambar atau pesan yang dalam kenyataannya tidak lengkap sebagai gambar atau pesan yang lengkap. Contoh ?
Kemiripan dan kelengkapan hanyalah dua diantara banyak prinsip pengaturan yang akan kita singgung. Dalam membayangkan prinsip-prinsip ini, hendaklah kita ingat bahwa apa yang kita persepsikan, juga kita tata ke dalam suatu pola yang bermakna bagi kita. Pola ini belum tentu benar atau logis dari suatu segi obyektif tertentu.
Stimulasi Alat Indra Ditafsirkan-Dievaluasi
Langkah ketiga dalam proses perseptual adalah penafsiran-evaluasi. Kita menggabungkan kedua istilah ini untuk menegaskan bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan. Langkah ketiga ini merupakan proses subyektif yang melibatkan evaluasi dari pihak penerima.
Penafsiran-evaluasi kita tidak semata-mata didasarkan pada rangsangan luar, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, kebutuhan, keinginan, sistem nilai, keyakinan tentang yang seharusnya, keadaan fisik dan emosi pada saat itu, dan sebagainya yang ada pada kita.
Hendaknya jelas dari daftar pengaruh di atas (yang sama sekali tidak lengkap) bahwa ada banyak peluang bagi penafsiran. Walaupun kita semua menerima sebuah pesan, cara masing-masing orang menafsirkan-mengevaluasinya tidaklah sama. Penafsiran-penafsiran ini juga akam berbeda bagi satu orang yang sama dari waktu ke waktu.
Perbedaan individual ini janganlah sampai membutakan kita akan validitas beberapa generalisasi tentang persepsi. Meskipun generalisasi ini belum tentu berlaku untuk seseorang tertentu, tampaknya ia berlaku untuk sebagian cukup besar orang.
PROSES YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI
Antara kejadian stimulasi dengan evaluasi atau penafsiran terhadap stimulasi tersebut, persepsi dipengaruhi oleh berbagai proses psikologis penting. Disini kita menyinggung enam proses yang utama (Cook, 1971; Rubin, 1973; Rubin dan McNeil, 1985), yaitu :
Teori kepribadian implisit (implicit personality theory)
Ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy) Aksentuasi perceptual (perceptual accentuation)
Primasiresensi (primacy-recency) Konsistensi (concitency)
Teori Kepribadian Implisit
Stereotip Ramalan yang
terpenuhi dengan Persepsi sendirinya seseorang Konsistensi Aksentuasi perseptual Primasi-resensi
Beberapa proses psikologis yang mempengaruhi persepsi seseorang
Sumber : Joseph A. Devito. Komunikasi Antar Manusia.Professional Books.1997.
Teori Kepribadian Implisit
Bacalah pernyataan-pernyataan singkat berikut ini. Tandailah karakteristik dalam tanda kurung yang kelihatannya paling cocok untuk melengkapi kalimat tersebut :
Yudha penuh semangat, memiliki rasa ingin tau yang besar, dan (cerdas, kurang cerdas)
Henny periang, lincah, dan (langsing, gemuk)
Nita menarik, cerdas, dan (disukai, tak disukai) orang
Vonny ramah, positif, dan (menarik, tidak menarik)
Endar ganteng, tinggi, dan (kurus, tegap)
Kata-kata tertentu tampaknya benar dan lainnya kelihatannya salah. Yang membuatnya kelihatan benar adalah teori kepribadian implisit, sistem aturan yang mengatakan kepada anda mana karakteristik yang sesuai dengan karakteristik lainnya.
Kebanyakan teori yang mengatakan bahwa seseorang yang bergairah dan mempunyai rasa ingintau yang besar pasti juga cerdas. Tentu saja, tidak ada alasan logis untuk mengatakan bahwa orang yang tidak cerdas tidak dapat dapat bergairah dan mempunyai rasa ingin tau yang besar.
“Efek halo” yang banyak dikenal merupakan fungsi dari teori kepribadian implisit kita. Jika kita percaya bahwa seseorang memiliki sejumlah kualitas positif, kita menyimpulkan bahwa ia juga memiliki kualitas positif yang lain. “Efek halo terbalik” juga ada.
Waspadalah akan Hambatan Potensial. Dua hambatan serius terhadap persepsi yang
akurat seringkali timbul bila seseorang menerapkanteori kepribadian implicit. Kecenderungan kita untuk mengembangkan teori kepribadian dan mempersepsikan seseorang seakan-akan sesuai dengan teori ini dapat menyebabkan kita :
Mempersepsikan kualitas-kualitas dalam diri seseorang yang menurut “teori” seharusnya dimilikinya, padahal kenyataannya tidak demikian. Contoh ?
Mengabaikan kualitas atau karakteristik yang tidak sesuai dengan teori kita. Misalnya, kita mungkin mengabaikan kualitas negatif pada diri kawan kita padahal kualitas itu dengan cepat kita lihat pada diri lawan kita.
Ramalan Yang Terpenuhi Dengan Sendirinya
Ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya terjadi bila kita membuat perkiraan atau merumuskan keyakinan yang menjadi kenyataan karena kita meramalkannya dan bertindak seakan-akan itu benar (Insel & Jocobson, 1975; Merton, 1957).
Ada empat langkah dasar dalam proses ini :
1. Kita membuat prediksi atau merumuskan keyakinan tentang seseorang atau situasi. Misalnya kita meramalkan bahwa Yusuf adalah orang canggung dalam situasi antarpribadi.
2. Kita bersikap kepada orang atau situasi tersebut seakan-akan ramalan atau keyakinan kita benar. Misalnya, di depan Yusuf kita bersikap seakan-akan Yusuf memang orang yang canggung.
3. Karena kita bersikap demikian (seakan-akan keyakinan kita benar), ia menjadi kenyataan. +
4. Kita mengalami efek kita terhadap seseorang atau akibat terhadap situasi, dan apa yang kita saksikan memperkuat keyakinan kita. Misalnya, kita menyaksikan kecanggungan Yusuf, dan ini memperkuat keyakinan kita bahwa Yusuf memang orang yang canggung.
Jika kita mengharapkan seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu atau jika kita meramalkan tentang sesuatu karakteristik atau situasi, ramalan kita seringkali menjadi kenyataan karena adanya ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya.
Contoh..?
Hampir selalu ini terbukti benar, barangkali karena ia bertindak sedemikian sehingga merangsang para anggota kelompok bereaksi negatif. Orang ini memehuhi sendiri ramalannya.
Hati-hatilah terhadap hambatan potensial. Ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya
dapat menimbulkan dua hambatan. Kecenderungan kita untuk memenuhi sendiri ramalan kita dapat menyebabkan kita :
Mempengaruhi perilaku orang lain sehingga sesuai dengan ramalan kita. Melihat apa yang diramalkan ketimbang apa yang sebenarnya.
Aksentuasi Perseptual
Bayam barangkali rasanya tidak enak, tetapi bila anda lapar, rasanya akan sama lezat dengan ayam panggang.
Proses ini, yang dinamai aksentuasi perceptual, membuat kita melihat apa yang kita harapkan dan kita inginkan. Kita melihat orang yang kita sukai sebagai lebih tampan dan lebih pandai ketimbang orang yang tidak kita sukai.
Kontra argumen yang jelas adalah bahwa sebenarnya kita lebih menyukai orang yang tampan dan pandai dan oleh karenanya kita mencari-cari orang seperti ini, bukan karena orang yang kita sukai itu kelihatan tampan dan pandai.
Hati-hatilah terhadap hambatan potensial. Aksentuasi perceptual dapat menimbulkan
berbagai hambatan. Kecenderungan kita untuk mempersepsikan yang kita inginkan atau butuhkan dapat membuat kita :
Mendistorsi persepsi kita tentang realitas; membuat kita melihat apa yang kita butuhkan atau inginkan ketimbang apa yang nyatanya ada, dan tidak melihat apa yang tidak ingin kita lihat.
Menyaring atau mendistorsi informasi yang mungkin merusak atau mengancam citra-diri kita dan dengan demikian sangat mempersulit upaya peningkatan-diri.
Memandang orang lain memiliki karakteristik atau kualitas negatif yang sebenarnya ada pada diri kita – psiko analis mekanisme defensif (defence mekanism) menamai ini proyeksi.
Melihat dan mengingat kualitas atau karakteristik positif lebih dari pada yang negatif (dinamai efek Poliana), dan dengan demikian mendistorsi persepsi kita tentang orang lain.
Mersakan perilaku tertentu dari orang lain sebagai menunjukkan bahwa ia menyukai kita hanya karena sebenarnya kita ingin disukai.
Primasi-Resensi
Coba cermati dua kondisi di bawah ini :
X adalah orang yang cerdas, tekun, impulsive, kritis keras kepala dan dengki.
Y adalah orang yang dengki, keras kepala, kritis, impulsive, tekun, dan cerdas.
Siapa yang mempunya sifat lebih positif ?
Jika anda menjawab “X” , inilah yang disebut sebagai efek primasi-resensi. Implikasinya di sini adalah bahwa kita menggunakan informasi yang datang lebih dulu untuk mendapatkan gambaran umum seperti apa orang itu. Kemudian kita menggunakam informasi yang datangnya belakangan untuk membuat gambaran umum ini lebih spesifik.
Implikasi praktis dari efek primasi-resensi ini adalah bahwa kesan pertama yang tercipta tampaknya paling penting. Melalui kesan pertama ini, orang lain akan menyaring tambahan informasi untuk merumuskan gambaran tentang seseorang yang mereka persepsikan.
Hati-hatilah terhadap hambatan potensial. Primasi-resensi dapat menimbulkan dua
hambatan utama. Kecenderungan kita untuk lebih memetingkan informasi yang datang lebih dulu dan menafsirkan informasi yang datang kemudian sesuai dengan kesan pertama dapat membuat kita :
Merumuskan gambaran “menyeluruh” tentang seseorang berdasarkankesan awal yang belum tentu akurat. Contoh ?
Mendistorsi persepsi yang datang kemudian untuk tidak merusak kesan pertama kita. Contoh ?
Konsistensi
Konsistensi menggambarkan kebutuhan anda untuk memelihara keseimbangan diantara sikap-sikap anda. Anda memperkirakan bahwa hal-hal tertentu selalu muncul bersama-sama dan hal-hal lain tidak akan muncul berbersama-sama-bersama-sama.
Secara intuitif saja , misalnya, tanggapilah kalimat-kalimat berikut dengan menandai reaksi yang diharapkan :
Saya berharap orang yang saya sukai (menyukai, tidak menyukai) saya.
Saya berharap orang yang tidak saya sukai (menyukai, tidak menyukai) saya.
Saya berharap kawan saya (menyukai, tidak menyukai) teman saya yang lain.
Saya berharap teman saya (menyukai, tidak menyukai) musuh saya.
Saya berharap musuh saya (menyukai, tidak menyukai) kawan saya.
Saya berharap musuh saya (menyukai, tidak menyukai) musuh saya yang lain.
Menurut kebanyakan teori konsistensi, harapan anda akan sebagai berikut :
Kita berharap seseorang yang kita sukai menyukai kita (1) dan orang yang tidak kita sukai untuk tidak menyukai kita (2). Kita berharap seorang teman akan menyukai teman kita yang lain (3) dan tidak menyukai musuh kita (4). Kita berharap musuh kita tidak menyukai teman kita (5) dan menyukai musuh kita yang lain (6). Semua ini secara intuitif memuaskan.
Selanjutnya, kita berharap seseorang yang kita sukai memiliki karakteristik yang kita sukai atau kita puja, dan kita berharap musuh-musuh kita tidak memiliki karakteristisk yang kita sukai atau kita puja. Sebaliknya, kita berharap orang yang kita sukai tidak memiliki sifat-sifat yang tidak menyenangkan dan orang yang tidak kita sukai memiliki sifat-sifat yang tidak menyenangkan.
Hati-hatilah terhadap hambatan potensial. Konsistenti dapat menimbulkan tiga hambatan
utama. Kecenderungankita untuk melihat konsistensi pada diri seseorang dapat menyebabkan kita :
Mengabaikan atau mendistorsi persepsi tentang perilaku yang tidak konsisten dengan gambaran kita mengenai seseorang secara utuh. Contoh ?
Mempersepsikan perilaku spesifik sebagai terpancar dari kualitas positif orang yang kita sukai dan dari kualitas negatif orang yang tidak kita sukai. Oleh karenanya kita tidak mampu melihat perilaku positif maupun negatif.
Melihat perilaku tertentu sebagai positif jika perilaku yang lain ditafsirkan sebagai positif (efek halo) atau sebagai negatif jika perilaku yang lain ditafsirkan secara negatif (efek halo terbalik).
Stereotip
Stereotip sosiologis atau psikologis adalah citra yang melekat atas sekelompok
orang. Kita semua mempunyai stereotip atitudinal – tentang sekelompok bangsa, kelompok agama, kelompok ras, atau barangkali tentang kaum penjahat, kaum tuna susila, guru, atau tukang pipa.
Jika kita memiliki kesan melekat ini, kita seringkali, bila berjumpa dengan salah seorang anggota kelompok tadi, melihat orang itu terutama sebagai anggota kelompok tersebut.
Sebagai permulaan, ini mungkin memberikan memberikan orientasi yang membantu. Tetapi, ini dapat menimbulkan masalah bila kita kemudian menganggap semua karakteristik yang melekat pada kelompok itu berlaku juga untuk orang itu tanpa menyadari bahwa setiap orang adalah pribadi yang khas.
Hati-hatilah terhadap hambatan potensial. Stereotip dapat menimbulkan dua
hambatan utama. Kecenderungan kita untuk mengelompokkan orang ke dalam kelas-kelas dan bereaksi terhadap seseorang terutama sebagai anggota kelas-kelas-kelas-kelas ini dapat membuat kita :
Mempersepsikan seseorang seakan-akan memiliki kualitas-kualitas tertentu (biasanya negatif) yang kita yakini merupakan ciri kelompok dimana ia menjadi anggotanya
(misalnya, semua orang di bawah naungan bintang Venus bersifat malas) dan, karenanya tidak mampu mengenali sifat multi aspek dari semua orang dan semua kelompok.
Mengabaikan cirri khas yang dimiliki seseorang dan, karenanya tidak mampu menarik manfaat dari kontribusi khusus yang dapat diberikan setiap pihak dalam suatu perjumpaan.
MEMBUAT PERSEPSI LEBIH AKURAT
Efektifitas komunikasi dan hubungan bergantung sebagian besar pada keakuratan kita dalam persepsi antarpribadi. Kita dapat meningkatkan akurasi kita dengan (1), dan (2)
mengikuti beberapa pedoman atau prinsip yang disarankan.
Strategi Untuk Mengurangi Ketidakpastian
Charles Berger dan James Bradac (1982) mengidentifikasi tiga strategi utama untuk mengurangi ketidakpastian :
Strategi pasif. Bila kita mengamati orang lain tanpa orang itu sadar bahwa dia sedang kita amati, kita menerapkan strategi pasif. Yang paling bermanfaat dalam observasi pasif ini adalah mengamati seseorang dalam tugas aktif tertentu, misalnya dalam interaksinya dengan orang lain dalam situasi sosial informal.
Strategi aktif. Bila anda secara aktif mencari informasi tentang seseorang dengan acara apa pun selain berinteraksi dengan orang itu, anda menerapkan strategi aktif. Kita juga memanipulasi lingkungan dengan cara tertentu sehingga kita dapat mengamati seseorang lebih spesifik dan jelas.
Strategi interaktif. Bila kita sendiri berinteraksi dengan seseorang, kita menerapkan strategi interaktif. Kita juga mendapatkan pengetahuan tentan orang lain dengan mengungkapkan informasi tentang diri kita sendiri. Pengungkapan diri menciptakan lingkungan yang santai yang mendorong pengungkapan dari orang yang lebih kita kenal.
Pedoman Untuk Meningkatkan Akurasi Persepsi
Carilah berbagai petunjuk yang menunjuk kearah yang sama.
Berdasarkan pengamatan anda atas perilaku, rumuskanlah hipotesis. Ujilah hipotesis ini terhadap informasi dan bukti-bukti tambahan; jangan menarik kesimpulan yang nantinya akan anda coba konfirmasikan.
Perhatikanlah khususnya petunjuk-petunjuk yang kontradiktif, petunjuk yang akan menolak hipotesis awal anda.
Jangan menarik kesimpulan sampai anda memiliki kesempatan untuk memproses beragam petunjuk.
Ingatlah bahwa betapa pun banyaknya perilaku yang anda amati dan betapa pun cermatnya anda meneliti perilaku ini, anda hanya dapat menduga apa yang ada dalam benak orang lain. Anda hanya dapat membuat asumsi berdasarkan perilaku yang tampak.
Jangan menganggap orang lain seperti anda, berpikir seperti cara anda berpikir, atau bertindak seperti yang anda lakukan. Sadarilah keragaman manusia.
Waspadalah terhadap bias anda sendiri. – sebagai contoh, hanya menerima hal-hal positif pada diri orang yang anda sukai dan hanya menerima hal-hal yang negatif pada diri orang yang tidak anda sukai.
ATRIBUSI ATAU PENYEBAB (ATTRIBUTION)
Atribusi adalah proses dengan mana kita mencoba memahami perilaku orang lain selain
juga perilaku kita sendiri (Fiske & taylor, 1984). Kita khususnya berusaha memahami
alasan atau motivasi perilaku-perilaku ini.
Langkah pertama kita dalam mengungkapkan sebab-sebab perilaku orang lain adalah menentukan apakah orang ini sendiri atau factor-faktor luar tertentu yang menyebabkan perilaku tersebut. Artinya, , kita harus menentukan apakah penyebab perilaku ini bersifat internal atau eksternal.
Perilaku internal disebabkan oleh kepribadian atau kemampuan seseorang. Perilaku internal disebabkan oleh faktor situasi tertentu.
Tiga prinsip yang kita gunakan dalam menilai sebab atau atribusi dalam persepsi antar pribadi:
1. Konsensus
Bila kita memusatkan pada prinsip consensus kita bertanya, “Apakah orang-orang lain bereaksi atau berperilaku seperti orang yang kita amati?” artinya, apakah orang yang kita amati ini bertindak sesuai dengan consensus umum ? Jika jawabannya tidak, kita lebih cenderung mengatakan bahwa perilaku itu disebabkan oleh factor internal tertentu.
2. Konsistensi
Bila kita memusatkan pada prinsip konsistensi kita bertanya apakah seseorang berulang-ulang berperilaku yang sama dalam situasi yang serupa. Jika jawabannya ya, berarti ada konsistensi yang tinggi, dan kita cenderung mengatakan bahwa perilaku ini disebabkan oleh motivasi internal.
3. Keberbedaan
Bila kita memusatkan pada prinsip keberbedaan, kita bertanya apakah orang ini bertindak sama dalam situasi yang berbeda. Jika jawabannya ya, berarti keberbedaannya rendah, dan anda cenderung menyimpulkan bahwa ini disebabkan oleh factor internal. Keberbedaan yang rendah menunjukkan bahwa orang orang ini berperilaku sama dalam situasi yang berlainan.
ATRIBUSI DIRI
Anda dikatakan menggunakan atribusi diri bila anda berusaha menilai perilaku anda sendiri. Kita mengikuti pola atribusi yang umum, dengan dua pwerbedaan pokok :
Pertama, orang cenderung melihat perilaku orang lain seakan-akan disebabkan oleh
factor-faktor internal, sedangkan perilakunya sendiri seakan-akan disebabkan oleh factor-factor-faktor eksternal.
Perbedaan pokok kedua dalam atribusi diri menyangkut sikap ingin menang sendiri (self
serving bias). Sikap ini membuat orang mengaku-aku untuk hal positif (“Mereka membutuhkan bantuan saya, karenanya saya membantu mereka; inilah saya”) dan menghindari tanggung jawab untuk hal-halyang negatif (“Ujian ini tidak adil, wajar saja kalau saya gagal).
Jadi, bila menilai perilaku diri sendiri yang negatif, kita lebih cenderung menimpakan
sebabnya pada factor-faktor situasi atau lingkungan, dan bila menilai perilaku kita yang positif, kita cenderung menimpakan sebabnnya pada faktor-faktor internal.