• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL LOGIT TERSEMBUNYI DENGAN RESPON TERACAK (Studi Kasus: Akses Situs Porno oleh Anak Remaja) IKA ERLINA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENERAPAN MODEL LOGIT TERSEMBUNYI DENGAN RESPON TERACAK (Studi Kasus: Akses Situs Porno oleh Anak Remaja) IKA ERLINA"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL LOGIT TERSEMBUNYI

DENGAN RESPON TERACAK

(Studi Kasus: Akses Situs Porno oleh Anak Remaja)

IKA ERLINA

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

(2)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS

DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Penerapan Model Logit Tersembunyi dengan Respon Teracak (Studi Kasus: Akses Situs Porno oleh Anak Remaja) adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juli 2011

Ika Erlina NRP: G151040061

(3)

ABSTRACT

IKA ERLINA. Applying Hidden Logit Model with Randomized Response (Case

Study: Accessing Porn Sites by Teenagers). Supervised by AJI HAMIM

WIGENA and BUDI SUSETYO.

In 1965 Stanley Warner (Fox & Tracy, 1986) pioneered the randomized response technique to reduce bias response caused by respondents who lied, or did not answer the question given by the interviewer to estimate the sensitive characteristics. Warner model directing respondents to answer either of two sensitive opposite questions. Warner model still has weaknesses, then Simmons (Fox & Tracy, 1986) develops a randomized response technique of Warner model by replacing one question with a question that not associated with the sensitive issues at all (unrelated question model). According to Stem & Steinhorst (Fox & Tracy, 1986) unrelated question model still has weaknesses too and then developed into a forced response model. Maddala (1983) pioneered the development of sensitive attributes in the randomized response technique as a binary response variable associated with several explanatory variables. This development adopts logistic regression to estimate its parameters. Since π* is the population proportion that have sensitive attributes that can not be predicted directly, but estimated by π, Corstange (2004) named this prediction method with hidden logit estimation. This research aimed to find factors that affect a student accessing porn sites. This research obtain that proportion estimator of the population that accessing porn sites is 24%. Variables that significantly influence a student to access pornographic websites such as gender, maternal education, ownership of the laptop and how to connect to the internet. This research also needs to be developed again primarily related to response variables that have more than two categories (multinomial) such as issues about the type of drugs consumed, how many times had an abortion in a population of prostitutes and so on.

(4)

RINGKASAN

IKA ERLINA. Penerapan Model Logit Tersembunyi dengan Respon Teracak

(Studi Kasus: Akses Situs Porno oleh Anak Remaja). Dibimbing oleh AJI

HAMIM WIGENA dan BUDI SUSETYO.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, sudah mulai banyak sekolah-sekolah yang menggunakan internet sebagai sumber informasi yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat menambah wawasan berfikir siswa-siswanya. Namun tidak sedikit siswa yang memanfaatkan internet dengan tidak seharusnya. Mereka lebih banyak menggunakan waktunya di depan internet untuk keperluan yang kurang atau tidak penting bahkan karena keingintahuannya, mereka membuka situs-situs porno.

Seorang remaja (siswa khususnya) yang sudah kecanduan pornografi internet akan sulit menghentikan kebiasaanya sehingga dia akan melakukan hal tersebut berulang. Gambar-gambar yang ada di dalam web porno akan melekat dalam pikiran anak dan sulit dihilangkan dalam jangka waktu yang cukup lama. Pornografi kini tersedia lebih beragam dijangkau dengan sangat mudah bahkan murah oleh siapapun termasuk anak-anak.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi atau bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi. Dengan kemudahan teknologi pada saat ini seperti internet, handphone, buku bacaan, VCD, TV, dan lain sebagainya, merupakan teknologi yang sebenarnya diciptakan dan dikembangkan untuk tujuan positif, namun terkadang pemakai teknologi tersebut menggunakannya untuk hal-hal yang negatif, antara lain pornografi (Wibowo & Adi, 2010).

Sebuah riset dari University of New Hampshire melaporkan bahwa 42% pengguna internet berusia 10 hingga 17 tahun mengaku telah mengakses pornografi online. Lebih dari sepertiga anak lelaki berusia 16 sampai 17 tahun mereka sengaja mengunjungi situs porno, sedangkan anak perempuan yang sengaja mengunjungi situs porno sekitar 8% saja (JE 2010). Isu-isu seperti akses situs porno pada remaja, dalam penelitian ini khususnya siswa SMA, merupakan isu yang bersifat sensitif bagi mereka. Jika mereka ditanya secara langsung mereka yang pernah atau sering mengakses situs porno cenderung tidak mau menjawab dengan jujur.

Survei opini publik sering dilakukan untuk tujuan menggali informasi tentang isu-isu yang bersifat umum akan dirasa mudah dan nyaman bagi responden untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh pewawancara. Tidak demikian halnya jika suatu survei yang dilakukan terkait dengan isu-isu yang sifatnya privat atau isu-isu yang bersifat sensitif bagi diri responden, seperti ketika pewawancara memberikan pertanyaan kepada responden mengenai memakai narkotika atau tidak, intensitas mengakses situs porno, pernah melakukan aborsi atau tidak pada wanita dewasa, pernah melakukan korupsi atau tidak dan sebagainya. Seringkali pewawancara menemui kendala dimana responden segan memberikan jawaban dengan jujur atau mungkin

(5)

menolak atau tidak menjawab pertanyaan sama sekali, sekalipun bentuk idetitas dari respoden tidak dicantumkan dalam lembar kuisioner.

Untuk menghindari penolakan atau ketidakjujuran responden dalam menjawab pertanyaan yang sifatnya sensitif, diperlukan suatu metode yang dapat membuat responden merasa lebih nyaman akan identitas dirinya. Teknik respon teracak (randomized response technique) merupakan suatu teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan keakuratan data yang diperoleh dari isu-isu yang hal tersebut (Fox & Tracy 1986). Jika informasi dari teknik respon teracak ini diperlakukan sebagai peubah repon, metode logit tersembunyi (hidden logit) dapat digunakan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Tujuan Penelitian ini yaitu mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi seorang remaja mengakses situs porno serta menduga proporsi siswa yang mengakses situs porno dalam tiga bulan terakhir (April 2011 sampai dengan Juni 2011).

Pada tahun 1965 Stanley Warner (Fox &Tracy, 1986) mempelopori teknik respon teracak untuk mengurangi respon bias yang disebabkan oleh responden yang berbohong, atau tidak menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pewawancara pada pendugaan karakteristik yang bersifat sensitif. Model Warner mengarahkan responden menjawab salah satu dari dua pertanyaan sensitif yang berlawanan. Model Warner masih mempunyai kelemahan, kemudian Simmons (Fox &Tracy, 1986) mengembangkan teknik respon teracak model Warner dengan mengganti salah satu pertanyaan menjadi pertanyaan yang tidak berhubungan sama sekali dengan isu sensitif (model unrelated question). Menurut Stem & Steinhorst (Fox &Tracy, 1986) model unrelated question juga masih dinilai mempunyai kelemahan dan mengembangkannya menjadi model forced

response.

Maddala (1983) memelopori pengembangan atribut sensitif dalam Teknik Respon Teracak sebagai peubah respon biner yang dihubungkan dengan beberapa peubah penjelas. Pengembangan ini mengadopsi regresi logistik untuk menduga parameter-parameternya. Karena π* adalah proporsi populasi yang mempunyai atribut sensitif tidak dapat diduga secara langsung, tetapi diduga melalui π, Corstange (2004) menamakan metode pendugaan ini dengan metode pendugaan logit tersembunyi.

Dari hasil penelitian ini diperoleh penduga proporsi populasi yang mengakses situs porno sebesar 24%. Peubah-peubah yang berpengaruh signifikan terhadap akses situs porno oleh seoarng siswa antara lain jenis kelamin, pendidikan ibu, kepemilikan laptop dan cara koneksi ke internet.

Dalam menentukan nilai p yaitu peluang responden mendapat pertanyaan sensitif tidak ada aturan berapa nilai p yang harus ditetapkan. Tetapi tetap harus memperhatikan tingkat sensitifitas informasi yang akan digali dan ukuran contoh yang akan diambil.

Penelitian ini juga perlu dikembangkan lagi terutama terkait dengan peubah respon yang memiliki lebih dari dua kategori (multinomial) seperti isu tentang jenis narkoba yang dikonsumsi, berapa kali pernah melakukan aborsi pada populasi wanita tuna susila dan sebagainya.

(6)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2011

Hak Cipta dilindungi Undang-undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, peulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar bagi IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

(7)

PENERAPAN MODEL LOGIT TERSEMBUNYI

DENGAN RESPON TERACAK

(Studi Kasus: Akses Situs Porno oleh Anak Remaja)

IKA ERLINA

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Statistika

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

(8)
(9)

Judul Tesis : Penerapan Model Logit Tersembunyi dengan Respon Teracak (Studi Kasus: Akses Situs Porno oleh Anak Remaja) Nama : Ika Erlina

NRP : G151040061

Disetujui Komisi Pembimbing

Ketua

Dr. Ir. Aji Hamim Wigena, M.Sc

Anggota

Dr. Ir. Budi Susetyo, M.S

Diketahui

Ketua Program Studi Statistika

Dr. Ir. Erfiani, M.Si

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr

(10)

PRAKATA

Rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini. Dalam tesis ini penulis mengambil judul “Penerapan Model Logit Tersembunyi dengan Respon Teracak (Studi Kasus: Akses Situs Porno oleh Anak Remaja)”.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Ir. Aji Hamim Wigena, M.Sc selaku ketua komisi pembimbing dan Dr. Ir. Budi Susetyo, M.S selaku anggota komisi pembimbing yang telah memberikan banyak saran dan telah membimbing penulis dalam penulisan tesis ini.

Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada orang tua, suami, teman-teman penulis dan semua pihak yang terkait atas doa dan dukungannya. Semoga tesis ini dapat bermanfaat.

Bogor, Juli 2011

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan sebagai anak pertama dari pasangan Sugit Fiady dan Siti Purnami di Kulon Progo pada tanggal 13 Juni 1976.

Penulis menjalani pendidikan sarjana di Program Studi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada, dan lulus pada tahun 2001.

Penulis bekerja sebagai Staf Pengajar di SMA Dwiwarna Bogor untuk mata pelajaran Matematika.

(12)

xii

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Teknik Respon Teracak Model Warner ... 4

Teknik Respon Teracak Model Unrelated Question ... 5

Teknik Respon Teracak Model Forced Response ... 7

Metode Logit Tersembunyi ... 8

METODOLOGI PENELITIAN Data ... 11

Metode Penelitian ... 12

HASIL DAN PEMBAHASAN Data ... 15

Penduga Logit Tersembunyi ... 16

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan ... 18

Saran ... 18

DAFTAR PUSTAKA ... 19

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Deskripsi peubah ... 15 2 Penduga parameter logit tersembunyi ... 16

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Teknik respon teracak model Warner ... 5

2 Teknik respon teracak model Unrelated Question ... 6

3 Teknik respon teracak model Forced Response ... 7

4 Hubungan antara peubah penjelas dan peubah respon ... 9

5 Teknik respon teracak model Forced Response yang digunakan dalam penelitian ... 13

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Penurunan rumus... 21

2 Instruksi untuk responden ... 23

3 Instruksi dan pertanyaan untuk peubah respon ... 25

(16)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Seiring dengan berkembangnya teknologi, sudah mulai banyak sekolah-sekolah yang menggunakan internet sebagai sarana penting dalam kegiatan pembelajaran. Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari internet, terutama sebagai sumber informasi yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran sehingga dapat menambah wawasan berfikir mereka. Namun tidak sedikit siswa yang memanfaatkan internet dengan tidak seharusnya. Mereka lebih banyak menggunakan waktunya di depan internet untuk keperluan yang kurang atau tidak penting bahkan ada yang karena keingintahuannya, mereka membuka situs-situs porno.

Penyalahgunaan internet oleh remaja (siswa khususnya) akan menimbulkan dampak negatif. Seorang remaja yang sudah kecanduan pornografi internet akan sulit menghentikan kebiasaanya sehingga dia akan melakukan hal tersebut berulang. Selain itu gambar-gambar yang ada di dalam web porno akan melekat dalam pikiran anak dan sulit dihilangkan dalam jangka waktu yang cukup lama. Pornografi kini tersedia lebih beragam dan dapat dijangkau dengan sangat mudah bahkan murah oleh siapa pun termasuk anak-anak. Data Yayasan Buah Hati pada tahun 2005 menunjukkan dari 1705 murid SD kelas IV sampai kelas VI di JABODETABEK, 25% telah mengakses dan mengkonsumsi media pornografi melalui telepon genggam, 20% melalui internet, dan sisanya melalui media lain. Jenis medianya tidak lagi hanya media cetak namun juga merambah media audio visual (Soebagijo, 2007).

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi atau bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi. Dengan kemudahan teknologi pada saat ini seperti internet, handphone, buku bacaan, VCD, TV, dan lain sebagainya, merupakan teknologi yang sebenarnya diciptakan dan dikembangkan untuk tujuan positif, namun terkadang pemakai teknologi tersebut menggunakannya untuk hal-hal yang negatif, antara lain pornografi (Wibowo & Adi, 2010).

(17)

2

Sebuah riset dari University of New Hampshire melaporkan bahwa 42% pengguna internet berusia 10 hingga 17 tahun mengaku telah mengakses pornografi online. Kebanyakan anak berusia 13 sampai 17 tahun yang dilaporkan melihat gambar-gambar terlarang. Lebih dari sepertiga anak lelaki berusia 16 sampai 17 tahun mengemukakan bahwa mereka sengaja mengunjungi situs porno, sedangkan anak perempuan yang sengaja mengunjungi situs porno hanya berjumlah sekitar 8% saja (JE 2010). Isu-isu seperti akses situs porno pada anak-anak usia remaja, dalam penelitian ini khususnya siswa SMA, juga merupakan isu yang bersifat sensitif bagi mereka. Jika mereka ditanya secara langsung mereka yang pernah atau sering mengakses situs porno cenderung tidak mau menjawab dengan jujur.

Survei opini publik sering dilakukan untuk tujuan menggali informasi tentang isu-isu yang bersifat umum seperti survei untuk mengetahui kecenderungan populasi terhadap merk dan jenis kendaraan bermotor yang disukainya. Hal ini akan dirasa mudah dan nyaman bagi responden untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh pewawancara. Kerjasama antara pewawancara dan responden akan mudah direalisasikan karena apapun jawaban yang diberikan oleh responden tidak akan memberikan dampak negatif terhadap diri responden.

Namun tidak demikian halnya jika suatu survei yang dilakukan terkait dengan isu-isu yang sifatnya privat atau isu-isu yang bersifat sensitif bagi diri responden, seperti ketika pewawancara memberikan pertanyaan kepada responden mengenai memakai narkotika atau tidak, intensitas mengakses situs porno, pernah selingkuh atau tidak terhadap pasangannya, melakukan aborsi pada wanita dewasa, melakukan korupsi, pernah melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga atau tidak dan sebagainya. Seringkali pewawancara menemui kendala dimana responden segan memberikan jawaban dengan jujur atau mungkin menolak atau tidak menjawab pertanyaan sama sekali, sekalipun bentuk idetitas dari respoden tidak dicantumkan dalam lembar kuisioner.

Pada saat respoden harus memberikan keterangan yang bersifat sensitif pada lembar kuisioner, responden seringkali khawatir kalau ada orang lain yang melihat keterangan yang ia berikan pada lembar kuisioner, atau khawatir kalau

(18)

3

pewawancara mengenal tulisan tangan dari responden, atau khawatir kalau lembar kuisioner diberikan kode-kode tertentu yang tidak diketahui oleh responden dan hanya diketahui oleh pewawancara siapa saja yang menerima dan mengisi lembar kuesioner. Kemungkinan lain responden juga dapat menjadi khawatir jika survei yang terkait akan memberi dampak negatif pada responden sendiri. Mereka merasa malu atau takut dengan resiko hukum yang akan dihadapi jika memang mereka benar mempunyai kaitan dengan isu-isu sensitif yang diteliti.

Untuk menghindari penolakan atau ketidakjujuran responden dalam menjawab pertanyaan yang sifatnya sensitif, diperlukan suatu metode yang diharapkan dapat membuat responden merasa lebih nyaman akan identitas dirinya. Teknik respon teracak (randomized response technique) merupakan suatu teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan keakuratan data yang diperoleh dari isu-isu yang sifatnya sensitif (Fox & Tracy 1986). Jika informasi dari teknik respon teracak ini diperlakukan sebagai peubah respon, metode logit tersembunyi (hidden logit) dapat digunakan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan:

1. Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi seorang remaja mengakses situs porno.

2. Menduga proporsi siswa yang mengakses situs porno dalam tiga bulan terakhir (April 2011 sampai dengan Juni 2011).

(19)

TINJAUAN PUSTAKA

Pada tahun 1965 Stanley Warner (Fox &Tracy, 1986) mempelopori teknik respon teracak untuk mengurangi respon bias yang disebabkan oleh responden yang berbohong, atau tidak menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pewawancara pada pendugaan karakteristik yang bersifat sensitif. Seperti pada pendugaan pernah tidaknya seorang dokter dengan sengaja melakukan aborsi, berapa kali seseorang pernah melakukan hubungan seks bebas.

Sampai sekarang ini teknik respon teracak sudah mengalami perkembangan. Pertama kali diterapkan adalah respon teracak model Warner yang mengarahkan responden menjawab salah satu dari dua pertanyaan sensitif yang berlawanan. Model Warner masih dinilai mempunyai kelemahan, kemudian Simmons (Fox &Tracy, 1986) mengembangkan teknik respon teracak model Warner dengan mengganti salah satu pertanyaan menjadi pertanyaan yang tidak berhubungan sama sekali dengan isu sensitif yang akan digali (model unrelated

question). Menurut Stem & Steinhorst (Fox &Tracy, 1986) model unrelated question juga masih dinilai mempunyai kelemahan dan mengembangkannya

menjadi model forced response.

Teknik Respon Teracak Model Warner

Dalam model Warner ini, responden diberikan dua buah pertanyaan sensitif yang saling berlawanan. Masing-masing pertanyaan mempunyai dua jawaban yang sama (ya/tidak). Respoden diminta untuk menjawab salah satu dari dua pertanyaan tersebut. Pertanyaaan mana yang harus dijawab, tergantung pada hasil dari alat pengacak yang digunakan (seperti dadu, kartu atau koin). Misalkan suatu survei ingin mengetahui proporsi aborsi pada suatu populasi wanita dewasa. Pertanyaan yang disediakan adalah:

Pertanyaan A: Saya pernah melakukan aborsi (ya/tidak). Pertanyaan B: Saya tidak pernah melakukan aborsi (ya/tidak).

Dalam ruangan yang tidak terlihat oleh siapapun, responden disediakan alat pengacak misalkan sebuah dadu. Responden diminta untuk melempar dadu tersebut. Jika mata dadu yang muncul adalah maka responden

(20)

5

menjawab pertanyaan A dan jika mata dadu yang muncul maka responden menjawab pertanyaan B. Karena masing-masing mempunyai dua kemungkinan jawaban dan hanya responden sendiri yang tahu tentang jawaban yang diberikan kepada pewawancara berasal dari menjawab pertanyaan A atau pertanyaan B, maka responden akan merasa lebih nyaman dalam memberikan keterangannya (Fox & Tracy 1986). Ilutrasi dari teknik ini seperti pada Gambar 1.

peubah respon B: saya tidak pernah melakukan aborsi A: saya pernah melakukan aborsi ya tidak ya tidak p (1-p) π* 1-π*

Gambar 1 Teknik respon teracak model Warner

Misalkan adalah peluang responden menjawab pertanyaan A, adalah proporsi jawaban ya dari responden, adalah proporsi responden yang pernah melakukan aborsi. Proporsi responden yang pernah melakukan aborsi tidak dapat diduga secara langsung namun dapat diduga melalui peluang responden menjawab pertanyaan A (yaitu ) yang sudah diketahui dan proporsi jawaban ya yang terkumpul dari responden.

(1) Sehingga proporsi responden yang mempunyai atribut sensitif (yang pernah melakukan aborsi) adalah:

, (2)

Tenik Respon Teracak Model Unrelated Question

Dalam model Warner kedua pertanyaan yang berlawanan tersebut masih bersifat sensitif dan menjurus pada hal yang sama yaitu karakteristik yang sensitif. Hal ini memungkinkan responden masih merasa ragu-ragu untuk memberikan keterangan dengan jujur. Untuk mengurangi dampak tersebut, Simmons (Fox & Tracy, 1986) mengembangkan model Warner dengan pendekatan pertanyaan

(21)

6

berpasangan yang tidak berhubungan yaitu memasangkan pertanyaan sensitif dengan pertanyaan yang sama sekali tidak terkait dengan atribut sensitif tersebut, dan masing-masing pertanyaan tetap mempunyai jawaban yang sama ya/tidak. Pertanyaan-pertanyaannya adalah sebagai berikut:

Pertanyaan A: Saya pernah melakukan aborsi (ya/tidak). Pertanyaan B: Saya lahir di bulan Januari (ya/tidak).

Pendekatan ini memerlukan pengetahuan awal yang terkait dengan pertanyaan tidak sensitif, seperti proporsi populasi yang lahir di bulan Januari. Pemilihan pertanyaan non sensitif inipun harus diperhatikan karena dapat mempengaruhi hasil survei. Misalkan jika pertanyaan tidak sensitif yang diberikan adalah ”Apakah ibu kandung saudara lahir bulan Januari?” Pertanyaan ini dapat menghasilkan respon berbias jika ada responden yang tidak ingat atau bahkan tidak tahu bulan lahir ibu kandungnya, walaupun proporsi ibu kandung yang lahir bulan Januari dari responden diketahui. Ilustrasi dari model ini seperti pada Gambar 2. peubah respon B: saya lahir di bulan Januari A: saya pernah melakukan aborsi ya tidak ya tidak p (1-p) π π* ϑ

Gambar 2 Teknik respon teracak model Unrelated Question

Misalkan adalah peluang responden mejawab pertanyaan A, adalah proporsi jawaban ya dari responden, adalah proporsi responden yang mempunyai atribut sensitif, adalah proporsi responden yang lahir di bulan Januari. Proporsi responden yang menjawab ya adalah:

(3) Sedangkan proporsi responden yang pernah melakukan aborsi dapat diduga dengan:

(22)

7

Teknik Respon Teracak Model Forced Response

Menurut Stem & Steinhorst (Fox & Tracy, 1986) model Unrelated

Question (pertanyaan berpasangan tak berhubungan) inipun masih juga dinilai

mempunyai kelemahan. Dalam model ini diperlukan pengetahuan awal tentang proporsi populasi yang lahir di bulan Januari dan juga responden masih harus memahami dua kemungkinan pertanyaan yang akan didapatkan yaitu pertanyaan sensitif atau pertanyaan pasangannya yang tidak sensitif (Fox & Tracy, 1986). Model Unrelated Question ini kemudian dikembangkan kembali dengan pendekatan ”Forced Response”. Responden hanya dihadapkan dengan satu pertanyaan sensitif atau langsung menjawab ya/tidak (tanpa pertanyaan).

Dalam sebuah ruangan tertutup, responden disediakan dua buah dadu. Tanpa terlihat oleh siapapun responden diminta untuk melempar kedua dadu tersebut secara bersama-sama. Jika kedua mata dadu berjumlah:

a. 2 s/d 4 : responden langsung menjawab ”ya” (tanpa pertanyaan) b. 5 s/d 10 : saya pernah melakukan aborsi (ya/tidak)

c. 11 s/d 12 : responden langsung menjawab ”tidak” (tanpa pertanyaan)

(B ckenholt & van der Heijden, 2007). Ilustrasi dari model ini seperti pada Gambar 3. Peubah respon y ya tidak ya tidak 1-p 1-π* π* p Saya pernah melakukan aborsi π Tanpa pertanyaan q (1-q)

Gambar 3 Teknik respon teracak model Forced Response

Misalkan adalah peluang responden menjawab pertanyaan sensitif (pernah melakukan aborsi atau tidak), adalah peluang responden tidak mendapat pertanyaan sensitif, adalah peluang responden langsung menjawab ya (tanpa pertanyaan), adalah proporsi responden yang memberikan jawaban ya,

(23)

8

adalah proporsi responden yang pernah melakukan aborsi. Maka peluang responden yang memberikan respon ya adalah (Maddala, 1983):

Sedangkan proporsi responden yang pernah melakukan aborsi adalah

(5) Dalam ketiga model teknik respon teracak ini tidak ada aturan yang pasti untuk menentukan besarnya n (ukuran contoh yang harus diambil) dan besarnya nilai , peluang responden menjawab pertanyaan sensitif (Fox & Tracy, 1986). Nilai yang kecil dapat meningkatkan kepercayaan responden akan perlindungan privatnya karena peluang responden untuk mendapatkan pertanyaan sensitif kecil. Singh et al. (2003) menyarankan nilai optimal mendekati 1 dan nilai dipilih sedemikian sehingga maksimum. Untuk contoh yang kecil, pilih sebesar mungkin dengan mempertimbangkan tingkat sensitivitas dari atribut yang diteliti.

Metode Logit Tersembunyi

Maddala (1983) memelopori pengembangan atribut sensitif dalam Teknik Respon Teracak sebagai peubah respon biner yang dihubungkan dengan beberapa peubah penjelas. Pengembangan ini mengadopsi regresi logistik untuk menduga parameter-parameternya. Karena adalah proporsi populasi yang mempunyai atribut sensitif tidak dapat diduga secara langsung, tetapi diduga melalui . Corstange (2004) menamakan metode pendugaan ini dengan metode pendugaan logit tersembunyi.

Peubah respon Y sebagai atribut sensitif yang berskala biner tersebut mengikuti sebaran Bernoulli, dengan fungsi peluang . Peluang responden yang memberikan jawaban ya pada pertanyaan sensitif sebagai fungsi dari sejumlah peubah penjelas dengan , dengan log odds:

dengan odds ratio:

(24)

9

Namun karena tidak dapat teramati langsung (tersembunyi), dan hanya yang dapat teramati dari data contoh yang terkumpul, maka substitusi persamaan (5) ke persamaan (6) diperoleh :

(7)

Pendugaan parameter dapat dilakukan dengan mengkaitkan yang diperoleh dari data contoh. Fungsi log kemungkinan dari parameter dengan syarat y adalah

(8) Turunan fungsi log kemungkinan terhadap parameter adalah

(9) Fungsi log kemungkinan akan maksimum jika turunan fungsi log kemungkinan tersebut sama dengan nol. Karena persamaan tidak dapat diselesaikan secara analitis, maka persamaan tersebut dapat diselesaikan dengan metode Newton Raphson. Prosedur logit tersembunyi menduga parameter sehingga dari hasil tersebut dapat dikembalikan ke model pendugaan model logit biasa yaitu

(10) Hubungan peubah penjelas dan peubah respon seperti diilustrasikan dalam Gambar 4. Peubah penjelas adalah x, AS adalah sukses atau gagalnya atribut sensitif terobservasi oleh survei, S adalah responden sukses terobservasi untuk atribut sensitif, G adalah responden gagal terobservasi untuk atribut sensitif, y adalah data yang teramati.

• X1 • X2 . . . • X8 x • G • S AS • 0 • 1 y r pπ* p(1-π*) q

(25)

10

dan yang teramati dari responden tidak bisa langsung diartikan responden mempunyai atribut sensitif atau tidak. Logit tersembunyi menduga hubungan antara peubah respon yang berasal responden yang sukses teramati dengan peubah-peubah penjelasnya.

Untuk mengetahui peranan peubah penjelas di dalam model secara bersama-sama digunakan uji rasio kemungkinan yaitu Uji G.

Hipotesis statistik :

lawan H1

Statistik uji :

: paling sedikit ada satu ,

(11) dimana adalah nilai kemungkinan tanpa peubah penjelas, adalah nilai kemungkinan dengan peubah penjelas. Statistik akan mengikuti sebaran dengan derajat kebebasan . Kriteria keputusan yang diambil H0

Untuk menguji parameter

ditolak jika

i

β digunakan Uji Wald. Hipotesis statistik:

lawan , Statistik uji:

(12) dimana adalah penduga dan adalah penduga galat baku dari

. Statistik mengikuti sebaran normal baku. Kriteria keputusan adalah

(26)

METODOLOGI PENELITIAN

Data

Penelitian ini menggunakan data primer dan survei yang dilakukan pada tanggal 17 Juni 2011 di SMA Dwiwarna Bogor yang mempunyai fasilitas wifi untuk akses internet. Respondennya adalah siswa kelas X dan kelas XI.

Peubah-peubahnya mencakup:

1. Peubah respon (y): bernilai 0 dan 1. Peubah ini bersifat tersembunyi karena bisa berarti responden mendapat pertayaan sensitif tetapi responden

”tidak” pernah dengan sengaja mengakses situs porno, atau responden

menjawab langsung ”tidak” tanpa pertanyaan. Begitu juga dengan bisa berarti respoden mendapat pertanyaan sensitif dan responden pernah dengan sengaja mengakses situs porno, atau responden langsung menjawab ya tanpa pertanyaan.

2. Peubah penjelas, terdiri dari delapan peubah yang diduga mempunyai pengaruh terhadap peubah respon yaitu:

a. x1

b. x

adalah jenis kelamin: Laki-laki, Perempuan.

2

c. x

adalah pendidikan ibu: SMA, D3, S1, S2, S3.

3

d. x

adalah pendidikan ayah: SMA, D3, S1, S2, S3.

4

e. x

adalah kepemilikan laptop untuk koneksi ke internet: Milik sendiri, Milik anggota keluarga/teman, Tidak pernah mengakses internet menggunakan laptop.

5

f. x

adalah kepemilikan smartphone/blackberry untuk koneksi ke internet: Milik sendiri, Milik anggota keluarga/teman, Tidak pernah mengakses internet menggunakan laptop.

6

g. x

adalah cara koneksi ke internet: Menggunakan modem milik sendiri, Menggunakan wifi di area sekolah.

7

h. x

adalah jam tidur malam: Setelah jam 23.00 WIB, Sebelum jam 23.00 WIB.

8 adalah pengawasan orang dewasa: Sangat ketat, Ketat, Longgar,

(27)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari data hasil penelitian ini dapat dianalisis beberapa hal antara lain sebagai berikut:

Data

Tabel 1 Deskripsi peubah

Peubah Kategori Frekuensi Persen

Respon (y) y=0 (tidak) 62 65%

y=1 (ya) 33 35%

Jenis Kelamin (x1) Laki-laki 38 40%

Perempuan 57 60%

Pendidikan Ibu (x2) SMA 33 35%

D3 13 14%

S1 32 34%

S2 10 10%

S3 7 7%

Pendidikan Ayah (x3) SMA 21 22%

D3 6 6%

S1 31 33%

S2 29 31%

S3 8 8%

Akses internet dengan laptop (x4

Milik sendiri )

83 87%

Keluarga/Teman 12 13%

Tidak pernah menggunakan “laptop”

0 0%

Akses internet dengan

smartphone (x5

Milik sendiri )

79 83%

Keluarga/Teman 4 4%

Tidak pernah menggunakan

smartphone

12 13%

Cara koneksi ke internet Modem 19 20%

(x6) Wifi sekolah 76 80%

Waktu tidur malam (x7) Di atas jam 23:00 55 58%

Sebelum jam 23:00 40 42%

Pengawasan orang Sangat ketat 16 17%

dewasa (x8) Ketat 53 56%

Longgar 26 27%

Sangat longgar 0 0%

Berdasarkan Tabel 1 proporsi responden yang menjawab ya adalah 35 %, responden perempuan 60% sementara responden laki-laki 40%. Pendidikan ibu didominasi lulusan SMA yaitu 35%, lulusan S1 34%, sisanya lulusan D3, S2 dan

(28)

12

Contoh yang digunakan dalam penelitian ini diambil dengan metode contoh acak sederhana dengan ukuran populasi 125. Penelitian ini juga untuk menduga proporsi populasi yang mengakses situs porno, maka ukuran contoh yang akan diambil adalah (Scheaffer et al., 1990):

(13) dengan adalah ukuran contoh yang akan diambil, adalah ukuran populasi,

*

π

adalah proporsi populasi yang mempunyai karakter sensitif yang diketahui dari penelitian sebelumnya (jika tidak diketahui maka π* =0,5), adalah batas kesalahan penarikan contoh (dalam hal ini 0,05). Sehingga ukuran contoh yang diambil adalah 95.

Metode Penelitian

Dengan pertimbangan Stem & Steinhorst, penelitian ini menggunakan model forced response. Untuk peubah respon besarnya peluang responden menjawab pertanyaan sensitif yang digunakan mengacu pada B ckenholt & van der Heijden (2007) yaitu adalah .

Di dalam sebuah ruangan disediakan sebuah kotak yang berisi 9 bola biru, 1 bola kuning dan 2 bola merah. Responden secara acak mengambil satu bola di dalam kotak tersebut dan tidak memberitahukan hasil warna bola yang terambil kepada siapapun termasuk pewawancara. Jika bola yang terambil berwarna merah maka responden (tanpa pertanyaan) langsung menjawab ya. Jika bola yang terambil berwarna kuning maka responden (tanpa pertanyaan) langsung memberikan jawaban tidak. Jika bola yang terambil warna biru, maka responden harus menjawab pertanyaan pernah atau tidaknya mengakses situs porno dalam tiga bulan terakhir, dengan jawaban ya/tidak.

Proposi bola biru merupakan proporsi yang terbesar dengan tujuan untuk mengarahkan responden mendapatkan pertanyaan yang sensitif. Proporsi bola merah yang mengarahkan responden langsung menjawab ya lebih besar dari pada proporsi bola kuning dengan maksud peluang responden langsung menjawab ya tanpa pertanyaan lebih besar dari pada peluang responden langsung menjawab

(29)

13

menjadi lebih nyaman untuk mengikuti survei. Ilustrasi dari teknik ini seperti pada Gambar 5. Peubah respon y ya tidak ya tidak p=9/12 π* r=1/12 q=2/12

Dalam tiga bulan terakhir ini saya pernah dengan sengaja

mengakses situs porno

π

Gambar 5 Teknik respon teracak model Forced Response yang digunakan dalam penelitian

Atribut sensitif diperlakukan sebagai peubah respon yang berskala biner, Y = 1 jika responden menjawab ya dan Y = 0 jika responden menjawab tidak. Dengan (peluang responden menjawab pertanyaan sensitif dalam hal ini pernah/tidaknya responden mengakses situs porno dalam tiga bulan terakhir)

(peluang responden langsung menjawab ya, tanpa pertanyaan), (peluang responden langsung menjawab tidak, tanpa pertanyaan),

Peluang responden yang memberikan respon ya adalah (Maddala, 1983): adalah proporsi responden yang memberikan respon ya, adalah proporsi responden

yang memberikan respon ya pada pertanyaan sensitif.

(14) Peluang responden yang memberikan respon ya pada pertanyaan sensitif , dapat

diperoleh dari

(15) , dan yang telah diketahui (Maddala, 1983):

Substitusi persamaan (15) ke persamaan (6) diperoleh:

(30)

14

Pendugaan parameter dapat dilakukan dengan metode kemungkinan maksimum. Fungsi log kemungkinan dari parameter dengan syarat y adalah (Maddala, 1983):

(19) Turunan fungsi log kemungkinan terhadap parameter adalah (Maddala, 1983):

(20)

Turunan kedua dari adalah:

(21)

Iterasi diperoleh dengan menentukan nilai awal , misalnya , dan penduga adalah (Maddala, 1983):

(22)

Dengan (23)

Prosedur logit tersembunyi menduga parameter sehingga dari hasil tersebut dapat dikembalikan ke model pendugaan logit biasa yaitu (Maddala, 1983)

(24) Untuk menghindari respon bias, sebelum pengambilan data peneliti memberi gambaran/penjelasan kepada responden tentang prosedur dari survei yang akan dilaksanakan, sehingga responden benar-benar memahami dan yakin bahwa teknik respon teracak dapat menjamin keterangan yang diberikan. (Fox & Tracy, 1986)

(31)

16

S3. Pendidikan ayah didominasi lulusan S1 yaitu 33%, lulusan S2 31%, sisanya lulusan SMA, S3 dan D3. Sebanyak 87% responden mengakses internet menggunakan laptop milik sendiri, 13% dari responden mengakses internet menggunakan laptop anggota keluarga/teman. Sebanyak 83% dari responden mengakses internet menggunakan smartphone milik sendiri, 13% tidak pernah menggunakan smartphone dalam mengakses internet dan 4% menggunakan

smartphone milik anggota keluarga/teman. Cara koneksi ke internet 80 % melalui

wifi sekolah dan 20% responden menggunakan modem sendiri. Dari seluruh responden, 58% tidur malam diatas jam 23:00 WIB, sisanya sebelum jam 23:00 WIB. Sebanyak 56% responden merasa pengawasan orang dewasa ketat, 27% responden merasa pengawasan orang dewasa longgar.

Pendugaan Logit tersembunyi

Dari data yang diperoleh proporsi responden yang menjawab ya adalah . Substitusi ke persamaan (15) diperoleh penduga proporsi populasi yang mengakses situs orang dewasa adalah atau 24%.

Tabel 1 merupakan hasil dari pendugaan logit tersembunyi dengan persamaan logit tersembunyi adalah:

Tabel 2 Penduga parameter logit tersembunyi

parameter penduga SE Wald p

bo -24.62 11.79 4.36 0.04*) b1 -4.83 2.27 4.52 0.03 b *) 2.38 2 1.14 4.37 0.04 b *) -0.13 3 0.60 0.05 0.83 b4 5.47 2.61 4.39 0.04 b *) -0.89 5 0.85 1.09 0.30 b6 7.76 3.82 4.13 0.04 b *) 0.17 7 1.42 0.01 0.90 b8 1.24 1.00 1.54 0.22

(32)

17

Untuk melihat peranan peubah penjelas di dalam model secara bersama-sama digunakan uji rasio kemungkinan yaitu uji G. Dengan menggunakan statistik uji diperoleh dengan . Jika digunakan

maka ditolak, artinya model layak untuk digunakan.

Untuk melihat masing-masing parameter βi di dalam model digunakan uji Wald. Dari Tabel 2 menunjukkan penduga parameter untuk peubah jenis kelamin adalah -4.83 dengan p = 0.03 maka peubah jenis kelamin berpengaruh signifikan dalam model. Untuk peubah pendidikan ibu diperoleh p = 0.04, maka peubah pendidikan ibu berpengaruh signifikan dalam model. Untuk peubah kepemilikan laptop dan cara koneksi ke internet diperoleh p = 0.04 dan p = 0.04, hal ini menunjukkan kepemilikan laptop dan cara koneksi ke internet berpengaruh signifikan di dalam model. Sedangkan untuk peubah pendidikan ayah, kepemilikan smartphone, jam tidur malam, dan pengawasan orang dewasa diperoleh p yang lebih besar dari 0.05, oleh karena itu pendidikan ayah, kepemilikan smartphone, jam tidur malam, dan pengawasan orang dewasa tidak berpengaruh signifikan di dalam model.

Peduga odds ratio yang diperoleh untuk peubah jenis kelamin (laki-laki) adalah 0.01. Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan siswa laki-laki mengakses situs porno 0.01 kali dibandingkan siswa perempuan. Untuk peubah pendidikan ibu (lulusan SMA), penduga odds ratio yang diperoleh adalah 10.8. Hal ini menunjukkan kecenderungan siswa yang pendidikan ibunya lulusan SMA untuk mengakses situs porno adalah 10.8 kali siswa yang pendidikan ibunya lulusan selain SMA. Penduga odds ratio untuk peubah kepemilikan laptop adalah 237. Hal ini menunjukkan siswa yang menggunakan laptop sendiri mempunyai kecenderungan mengakses situs porno 237 kali menggunakan laptop bukan milik sendiri. Untuk peubah cara koneksi ke internet menggunakan modem sendiri memiliki kecederungan mengakses situs porno 2.344 kali dibandingkan dengan koneksi ke wifi sekolah.

(33)

18

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Peubah yang signifikan terhadap akses situs porno oleh seorang siswa adalah jenis kelamin, pendidikan ibu, kepemilikan laptop dan cara koneksi ke internet. Untuk peubah cara koneksi ke internet menggunakan modem sendiri memiliki kecederungan mengakses situs porno 2.344 kali dibandingkan dengan koneksi ke wifi sekolah. Untuk peubah kepemilikan laptop, siswa yang menggunakan laptop sendiri mempunyai kecenderungan mengakses situs porno 237 kali dibandingkan dengan menggunakan laptop bukan milik sendiri. Untuk peubah pendidikan ibu, siswa yang ibunya lulusan SMA mempunyai kecenderungan untuk mengakses situs porno adalah 10.8 kali siswa yang pendidikan ibunya lulusan selain SMA. Untuk peubah jenis kelamin, siswa laki-laki mempunyai kecenderungan mengakses situs porno 0.01 kali dibandingkan siswa perempuan. Meskipun odds ratio jenis kelamin laki-laki dibanding perempuan sangat kecil tetapi dari peubah jenis kelamin berpengaruh signifikan di dalam model.

Saran

Dalam menentukan nilai yaitu peluang responden mendapat pertanyaan sensitif tidak ada aturan berapa nilai yang harus ditetapkan. Tetapi tetap harus memperhatikan tingkat sensitifitas informasi yang akan digali dan ukuran contoh yang akan diambil.

Penelitian ini juga perlu dikembangkan lagi terutama terkait dengan peubah responnya yang memiliki lebih dari dua kategori (multinomial) seperti isu tentang jenis narkoba yang dikonsumsi, berapa kali pernah melakukan aborsi pada populasi wanita tuna susila dan sebagainya.

(34)
(35)

DAFTAR PUSTAKA

B ckenholt U, van der Heijden PGM. 2007. Item Randomized-Response Models for Measuring Noncompliance: Risk-Return Perceptions, Social Influences, and Self-Protective Responses. Psychometrika. [terhubung berkala]. http:// www.rand.org/labor/seminars/adp/pdfs/2007_UlfMaria.pdf [3

Chauduri A, Mukerjee R. 1988. Randomized Response: Theory and Techniques. New York: Marcel Dekker.

Juni 2010].

Corstange D. 2004. Sensitive Questions, Truthful Response? Randomized Response and Hidden Logit as a Procedure to Estimate It, paper at the 2004

Annual Meeting of the American Political Science Association.

Cruyff MJLF, van den Hout A, van der Heijden PGM. 2008. The Analysis of Randomized-Response Sum Score Variabels. J.R. Statist. Soc. B 11(1):21-30.

[JE] Jubilee Enterprise. 2010. Facebook Goes to School. Jakarta. Elex Media Komputindo.

Fox JA, Tracy PE. (1986). Randomized Response : A Method for Sensitive

Surveys. Newbury Park, CA : Sage

Fox J-P. 2005. Randomized Item Response Theory Models. Educational and

Behavioral Statistics 30(2):1-24.

Landsheer JA, van der Heijden P, van Gils G. 1999. Trust and Understanding, Two Psychological Aspects of Randomized Response. A study of a method for improving the estimate of social security fraud. Quality & Quantity 33:1-12.

Larrabee S. 2005. Drugs, Coins, and Probability : the Warner Randomized Response Method. [terhubung berkala] http://www.mtholyoke.edu /courses/ /lab_course/drugs_coins.pdf

Lensvelt-Mulders GJLM, Hox JJ, van der Heijden PGM, Maas CJM. 2005. Meta-Analysis of Randomized Response Research. Thirty-five years of validation. Sociological Methods & Research 33(3):319-348.

[25 Februari 2009]

Hussain Z, Anjum S, Shabbir J. 2011. Improved Logit Estimation Through Mangat Randomized Response Model. Business and Social Science 2:5 Kim J, Warde WD. 2005. Some New Results on the Multinomial Randomized

Response Model. Communications in Statistics-Theory and Methods 34:847-856.

Maddala GS. 1983. Limited Dependent and Qualitative Variables in

(36)

21

Sanjaya R, Wibowo C, Adi AP. 2010. Parenting untuk Pornografi di Internet. Jakarta. Elex Media

Scheaffer RL, Mendenhall W, & Ott L. 1990. Elementary Survey Sampling. Boston : PWS-KENT Publishing Company.

Soebagijo A. 2007. Pornografi Dilarang Tapi Dicari. Jakarta. Gema Insani Pers. Suhar V, Midi HB, Qureshi NA. 2011. Logistic regression Analysis of

Employment Behavior Data Using Randomized Response Technique.

Education 8:25-32

[Depdikbud] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ed ke-3. Jakarta: Balai Pustaka.

van der Heijden PGM, van Gils G. 1996. Some Logistic regression models for randomized response data. Di dalam: Forcina A et al , editor. Proceedings

of the 11th International workshop on Statistical Modelling; Orvieto, 15 -19

(37)
(38)

21

Lampiran 1 Penurunan rumus a. Proporsi yang menjawab ya ( ):

b. Proporsi yang mengakses situs porno

c. Log odds

d. Substitusi persamaan (b) ke persamaan (c): e. Nilai f. Turunan terhadap :

(39)

22

g. Fungsi kemungkinan dari parameter :

h. Fungsi log kemungkinan dari parameter dengan syarat y

i. Turunan pertama log kemungkinan:

j. Turunan kedua log kemungkinan:

(40)

23

Lampiran 2 Instruksi untuk responden

Instruksi untuk Responden

Dengan hormat

Terkait dengan penelitan saya tentang fenomena yang terkait dengan isu-isu sensitif, saya memohon kesedian saudara menyisihkan sedikit waktu untuk mengisi kuisioner ini. Kuisioner ini bersifat menjamin kerahasian saudara dan jawaban saudara sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan penilaian saudara di sekolah ini. Saya sangat mengharapkan kejujuran saudara dalam mengisi kuisioner ini. Dari setiap pertanyaan, jawaban apapun yang saudara berikan adalah jawaban yang benar, tidak ada jawaban yang akan saya anggap salah.

Penelitian ini sangat tergantung pada jawaban yang saudara berikan. Oleh karena itu saya mohon saudara menyimak prosedur dalam menjawab setiap pertanyaan dan mengisi setiap pertanyaan yang saya berikan.

Perhatikan untuk pertanyaan pertama:

• Pada pertanyaan pertama ada tiga macam pertanyaan yang mempunyai kemungkinan jawabannya yaitu: YA/TIDAK, YA saja atau TIDAK saja. Saudara hanya menjawab salah satu dari tiga pertanyaan yang ada, dan pertanyaan mana yang harus saudara jawab tergantung pada warna bola yang saudara ambil secara acak. Didepan saudara nanti ada kotak yang berisi sejumlah bola merah, kuning dan biru. Saudara diminta untuk

mengambil salah satu bola dari dalam kotak tersebut. Saudara tidak perlu

menceritakan kepada siapapun warna bola yang terambil, termasuk kepada saya. Prosedur ini sangat menjamin kerahasian jawaban saudara, karena siapapun tidak akan pernah tahu jawaban YA/TIDAK saudara tersebut apakah berasal dari pertanyaan yang terkait dengan warna bola merah, kuning atau biru.

(41)

24

• Kocoklah kotak bola yang ada dihadapan saudara. Kemudian ambil salah satu bola secara acak dari dalam kotak tersebut. Tanpa menceritakan kepada siapapun, perhatikan warna bola yang saudara ambil.

• Jika bola yang terambil berwarna merah, maka langsung berikan jawaban

“ya” pada lembar jawab kuisioner.

• Jika bola yang terambil berwarna kuning, maka langsung berikan jawaban

“tidak” pada lembar jawab kuisioner.

• Jika bola yang terambil oleh saudara berwarna biru, jawablah pertanyaan nomor 1 pada lembar jawab kuisioner.

• Setelah selesai menjawab pertanyaan no 1, silahkan bola yang saudara ambil tadi dikembalikan lagi ke dalam kotak.

(42)

25

Lampiran 3 Instruksi dan pertanyaan untuk peubah respon

Pertanyaan No. 1

Jika bola yang terambil berwarna MERAH

, maka

langsung berikan jawaban “ya” pada lembar

kuisioner.

Jika bola yang terambil berwarna KUNING

, maka

langsung berikan jawaban “tidak” pada lembar

kuisioner.

Jika bola yang terambil berwarna BIRU

jawablah pertanyaan dibawah ini:

maka

“Dalam tiga bulan terakhir ini saya pernah dengan

sengaja mengakses situs porno.”

(43)

26

Lampiran 4 Lembar kuisioner untuk responden

Petunjuk : untuk nomor 1 ikuti instruksi dari interviewer

1.

 YA

 TIDAK

(Petunujuk : untuk pertanyaan nomor 2 sampai 10, isikan jawaban yang sesuai dengan diri saudara)

2. Saya seorang:  Laki-laki  Perempuan

3. Pendidikan terakhir ibu :  SMA

 D3  S1  S2  S3

4. Pendidikan terakhir ayah :  SMA

 D3  S1  S2  S3

(44)

27

5. Saya lebih sering mengakses internet menggunakan komputer/laptop:  Milik sendiri

 Milik anggota keluarga/teman

 Tidak pernah mengakses internet menggunakan laptop

6. Saya lebih sering mengakses internet menggunakan handpone/smart phone/blackberry:

 Milik sendiri

 Milik anggota keluarga/teman

 Tidak pernah mengakses internet menggunakan smart phone atau handphone.

7. Saya lebih sering mengakses internet menggunakan:  Modem sendiri / pulsa

 Mengunakan wifi/fasilitas sekolah

8. Saya lebih sering tidur malam diatas jam 23.00 WIB  Ya

 Tidak

9. Menurut saya pengawasan orang dewasa di lingkungan saya:  Sangat ketat

 Ketat  Longgar  Sangat longgar

Gambar

Gambar 1 Teknik respon teracak model Warner
Gambar 4 Hubungan antara peubah penjelas dan peubah respon
Tabel 1 Deskripsi peubah
Gambar 5 Teknik respon teracak model Forced Response yang  digunakan dalam penelitian

Referensi

Dokumen terkait