• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Jakarta, Januari 2017 Kepala BKIPM, Dr. Ir. Rina, M.Si. BKIPM - KKP i

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KATA PENGANTAR. Jakarta, Januari 2017 Kepala BKIPM, Dr. Ir. Rina, M.Si. BKIPM - KKP i"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KATA PENGANTAR

Salah satu asas penyelenggaraan good governance adalah

asas akuntabilitas yang menetukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Akuntabilitas tersebut salah satunya diwujudkan dalam bentuk penyusunan laporan kinerja.

Laporan Kinerja (LKj) ini merupakan wujud pertanggungjawaban BKIPM atas kinerja selama tahun 2016, sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Kinerja BKIPM Tahun

2016, yang terdiri dari 35 Indikator Kinerja Utama (IKU). Penyusunan LKj ini mengacu pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Rencana Strategis BKIPM Tahun 2015-2019.

Berbagai prestasi kinerja telah diraih BKIPM sepanjang tahun 2016, antara lain di bidang pelayanan publik: penerapan sistem e-payment (EDC) PNBP di 47 UPT, di bidang penegakkan hukum: 153 kasus pelanggaran dengan nilai komoditas yang diselamatkan sebesar Rp306,8 milyar, serta realisasi PNBP sebesar Rp52,86 milyar (meningkat 163%).

Kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan laporan kinerja ini. Akhir kata, semoga laporan kinerja ini dapat memenuhi harapan sebagai pertanggungjawaban kami kepada semua stakeholder atas mandat yang diemban dan kinerja yang telah ditetapkan dan sebagai pendorong peningkatan kinerja organisasi BKIPM.

Jakarta, Januari 2017 Kepala BKIPM, Dr. Ir. Rina, M.Si

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL IKHTISAR EKSEKUTIF DAFTAR ISI DAFTAR GRAFIK DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN

BAB II PERENCANAAN KINERJA

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

BAB IV PENUTUP

1.1 Latar Belakang

2.1 Visi dan Misi

3.1 Capaian Kinerja

4.1 Kesimpulan

1.3 Arah Kebijakan dan Strategi BKIPM

2.3 Sasaran Indikator dan Target Kinerja

3.3 Realisasi Anggaran

1.2 Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi

2.2 Tujuan

3.2 Analisi dan Evaluasi

4.2 Rekomendasi 1.4 Isu Strategis

2.4 Pengukuran Kinerja

3.4 Capaian Kinerja Lainnya 1.5 Sistematika dan Penyajian

i iii 7 ii vi v 11 17 23 71 11 17 23 71 13 18 65 12 17 27 71 15 22 67 16

(4)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Sasaran Strategis dan IKU

Tabel 3.14 Realisasi IK12 pada Tahun 2014-2016 dan Target RPJM Tabel 3.7 Realisasi IK5 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

Tabel 3.21 Realisasi IK19 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM Tabel 3.2 Realisasi IK1 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

Tabel 3.16 Realisasi IK14 pada Tahun 2014-2016 dan Target RPJM Tabel 3.9 Realisasi IK7 pada Tahun 2014-2016 dan Target RPJM

Tabel 3.23 Realisasi IK21 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM Tabel 3.5 Realisasi IK3 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

Tabel 3.19 Realisasi IK17 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM Tabel 3.12 Realisasi IK10 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

Tabel 3.26 Realisasi IK24 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

Tabel 3.29 Realisasi IK27 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM Tabel 3.1 Capaian Kinerja BKIPM Tahun 2016

Tabel 3.15 Realisasi IK13 pada Tahun 2014-2016 dan Target RPJM Tabel 3.8 Realisasi IK6 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

Tabel 3.22 Realisasi IK20 pada Tahun 2014-2016 dan Target RPJM Tabel 3.4 Realisasi IK2 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

Tabel 3.18 Realisasi IK16 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM Tabel 3.11 Realisasi IK9 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM 27

Tabel 3.25 Realisasi IK23 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

Tabel 3.28 Realisasi IK26 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM Tabel 3.3 Tingkat kepatuhan pengguna jasa

Tabel 3.17 Realisasi IK15 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM Tabel 3.10 Realisasi IK8 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

Tabel 3.24 Realisasi IK22 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM Tabel 3.6 Realisasi IK4 pada Tahun 2014-2016 dan Target RPJM

Tabel 3.20 Realisasi IK18 pada Tahun 2014-2016 dan Target RPJM Tabel 3.13 Realisasi IK11 pada Tahun 2014-2016 dan Target RPJM

Tabel 3.27 Realisasi IK25 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

19 39 32 47 27 41 34 48 30 45 37 51 24 40 34 47 30 43 36 50 53 29 42 35 49 31 46 38 51

(5)

Tabel 3.31 Realisasi IK29 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

Tabel 3.38 Realisasi IK35 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM Tabel 3.33 Nilai Pemenuhan Fasilitas

Tabel 3.36 Realisasi IK33 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM Tabel 3.32 Nilai Pengawasan Internal dan Eksternal

Tabel 3.39 Rincian Realisasi Anggaran BKIPM Tahun 2012-2016 Tabel 3.35 Realisasi IK32 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM Tabel 3.34 Realisasi IK31 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

Tabel 3.37 Realisasi IK34 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

58 65 59 63 58 66 62 60 64

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Struktur Organisasi BKIPM

Gambar 3.6 Pengawasan Terpadu di Perbatasan Sota - Papua New Guinea Gambar 3.1 Nilai Pencapaian Sasaran Strategis BKIPM

Gambar 3.4 Koordinasi Penegakkan Hukum dengan Polri dan Bea Cukai Gambar 2.1 Peta Strategi BKIPM tahun 2016

Gambar 3.7 Pelepasan Benih Ikan Bersama Gubernur Kalimantan Selatan Gambar 3.3 Titik Pengambilan Sampel Air di Teluk Hurun Lampung Gambar 3.2 Pemeriksaan Karantina Instalasi KIPM Puspa Agro

Gambar 3.5 Pemetaan Jenis Agen Hayati di DAS Mahakam

13 59 23 55 18 68 44 42 57

(7)

Grafik 3.1 Realisasi PNBP BKIPM Tahun 2014-2016

Grafik 3.3 Komoditas Hidup dan Non Hidup Yang Dominan Dilalulintaskan Grafik 3.2 Perbandingan Jumlah HC dengan Nilai Ekspor

Grafik 3.4 Realisasi Penyerapan DIPA BKIPM Tahun 2012-2016

32 40 33 65

DAFTAR GRAFIK

(8)

Nilai pencapaian sasaran strategis (NPSS) Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan pada 2016 adalah sebesar 100,93%. Nilai ini diperoleh dari pencapaian Sasaran Strategis (SS) dan target Indikator Kinerja Utama (IKU) BKIPM yang telah ditetapkan dengan hasil sebagai berikut:

A. Capaian Kinerja Utama

Capaian kinerja pelaksanaan tugas dan fungsi BKIPM yaitu Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) tahun 2016 adalah sebagai berikut:

1. Kepatuhan (compliance) pelaku usaha KP terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan kelautan dan perikanan

Realisasi kepatuhan (compliance) pelaku usaha perkarantinaan ikan dan mutu terhadap peraturan perundang-undangan sebesar 98% dari target 73%. Capaian ini menunjukkan bahwa pelaku usaha kelautan perikanan yang menggunakan jasa karantina termasuk pelaku usaha masuk dalam kategori kepatuhan tinggi.

2. Kasus Penolakan Ekspor oleh Negara Mitra

Kasus penolakan ekspor hasil perikanan ke negara mitra yang terjadi selama tahun 2016 masih dapat dikendalikan di bawah 10 kasus, sehingga target penolakan produk perikanan di negara mitra tercapai 100%.

Kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra pada tahun 2016 terjadi di: • Rusia sebanyak 4 (empat) kasus yang disebabkan oleh kandungan mikrobiologi (2

kasus) dan heavy metal (2 kasus);

• Korea sebanyak 3 (tiga) kasus yang disebabkan oleh kandungan benzopyrene (2 kasus) dan carbon monoxide (1 kasus);

• Perancis, Belanda, China, dan Kanada masing-masing sebanyak 2 (dua) kasus. Peolakan ekspor hasil perikanan Perancis disebabkan mercury dan cadmium; Belanda disebabkan mercury (2 kasus); China yang disebabkan kandungan kloramphenicol dan TVB-N; serta Kanada disebabkan oleh sensory evaluation (2 kasus).

• Jerman, Spanyol dan Italy masing-masing 1 (satu) kasus. Jerman disebabkan oleh Salmonella tipe b, Spanyol disebabkan oleh poor temperature control dan Italy disebabkan oleh mercury;

• Untuk Negara Vietnam dan Norwegia tidak terjadi kasus penolakan.

• Terhadap kasus penolakan yang terjadi tersebut telah dilakukan investigasi. Sehingga tidak berdampak terhadap terjadinya suspend.

(9)

pengendalian mutu dan uji profisiensi tahun 2016 ditargetkan meningkat sebesar 7,5% dibandingkan tahun sebelumnya yaitu Rp14,02 Milyar, namun dalam realisasinya sebesar Rp52,86 Milyar (meningkat sebesar 376.96%). Peningkatan PNBP BKIPM terjadi dikarenakan adanya peningkatan sistem pengawasan ekspor, impor dan antar area terhadap komoditas perikanan yang dilalulintaskan, implementasi e-payment di 47 UPT KIPM, dan integrasi sistem sertifikasi mutu dan karantina ikan sebagaimana amanat Undang-Undang No.23/2014.

4. Nilai ekspor hasil perikanan disertifikasi karantina

Nilai produk perikanan ekspor yang disertifikasi BKIPM pada tahun 2016 mencapai US$5,99 milyar dengan volume 1,09 juta ton dan 2,61 milyar ekor. Nilai ekspor ini meningkat 8,51% dibandingkan tahun 2015 sebesar US$5,52 milyar. Indikator ini menunjukan bahwa BKIPM memberikan kontribusi untuk ikut mengawal terhadap target produksi perikanan dan target ekspor produk perikanan melalui jaminan mutu produk yang dilalulintaskan. Dari keseluruhan ekspor perikanan tahun 2016 tersebut, sebanyak 92,31% merupakan ikan konsumsi, yaitu sebesar US$5,71 milyar dimana udang vaname merupakan komoditas dengan estimasi nilai ekspor terbesar, yaitu sebesar US$141,95 juta disusul tuna (US$69,24 juta), tawes (US$57,74 juta), dan kepiting sebesar (US$57,07 juta). Untuk nilai ekspor ikan hias yang dilaporkan pada UPT BKIPM pada tahun 2016 sebesar US$45,56 juta mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya sebesar 44,28%.

Negara tujuan ekspor terbesar untuk komoditas konsumsi yang dilaporkan adalah Amerika Serikat (230,49 ribu ton), China (136,09 ribu ton), Jepang (103,17 ribu ton), Vietnam (84,54ribu ton) dan Thailand (68,97 ribu ton).

5. Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang memenuhi persyaratan ekspor

Dalam rangka mendukung keterimaan produk perikanan Indonesia di Negara tujuan ekspor sebagai otoritas penjamin mutu dan keamanan hasil perikanan, BKIPM menetapkan kinerja jumlah UPI yang memenuhi persyaratan ekspor melalui sertifikasi HACCP. Terdapat 667 UPI dan 2.037 produk perikanan yang memenuhi syarat ekspor ke 38 negara mitra. Jumlah UPI tersebut meningkat sebesar 16% dari target 575 unit, sedangkan produk perikanan yang memenuhi syarat ekspor meningkat sebesar 29.58% dari target 1.572. 6. Jenis penyakit ikan karantina yang dicegah penyebarannya antar zona

Pencegahan masuk dan tersebarnya jenis penyakit ikan karantina antar zona yang berjumlah 13 jenis di 141 lokasi, dapat tercapai 95,74% dari target 84 %. Pengendalian penyakit ikan karantina antar zona ini akan terus ditingkatkan kinerjanya dalam rangka mendukung target produksi perikanan budidaya.

(10)

7. Keberhasilan pengawasan di wilayah perbatasan

Layanan dan pengawasan KIPM di perbatasan adalah salah satu indikator kinerja KKP dalam program prioritas nasional. Penetapan sasaran perbatasan yang harus dilayani dan diawasi mengacu pada jumlah perbatasan yang ditetapkan oleh BNPP. Tingkat keberhasilan layanan dan pengawasan KIPM di perbatasan dalam tahun 2016 tercapai 75,4% (26 lokasi) dari target sebesar 73%.

B. Capaian Kinerja Kegiatan Strategis lainnya 1. Pelayanan Sertifikat Ekspor, Impor dan domestik

Kinerja pelayanan sertifikasi KIPM terhadap pengiriman produk perikanan tujuan ekspor, impor dan domestik di 243 lokasi tahun 2016, sebagai berikut:

• Sertifikasi kesehatan ikan (karantina): 352.094 sertifikat (105,30% dari target 171.500 sertifikat). Nilai produk yang disertifikasi US$ 1,91 milyar. Jika dibandingkan dengan tahun 2015 terdapat peningkatan sebesar 27.91% dari US$ 1,77 milyar.

• Sertifikasi mutu dan keamanan hasil perikanan: 86.582 sertifikat (104,32% dari target 83.000 sertifikat). Nilai produk yang disertifikasi US$ 4,08 milyar. Jika dibandingkan tahun 2015 terdapat peningkatan sebesar 5,33%, dari US$ 3,87 milyar.

2. Sertifikasi penerapan sistem jaminan mutu pada Unit Pengolahan Ikan

Pada tahun 2016, realisasi jumlah sertifikasi HACCP pada unit pengolah ikan mencapai 2.037 sertifikat dari target 1.300 sertifikat.

3. Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang teregistrasi di negara mitra

Pada tahun 2016, UPI di Indonesia yang memperoleh approval number sebanyak 174 unit atau melampaui dari target sebanyak 150 unit.

4. UPI yang menerapkan sistem traceability

Pada tahun 2016, UPI di Indonesia yang menerapkan sistem traceability (ketertelusuran bahan baku) sebanyak 41 unit dari target 39 unit.

5. Penetapan Instalasi karantina ikan (IKI) milik pihak ketiga

Pada tahun 2016, IKI milik pelaku usaha yang ditetapkan berjumlah 429 unit dari target sebesar 230 unit.

6. Penetapan Unit Usaha Pembudidayaan Ikan (UUPI) yang menerapkan Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB)

UUPI yang tersertifikasi SCKIB pada tahun 2016 sebanyak 197 unit dari target CKIB sebanyak 140 unit.

(11)

8. Unit Pelaksana Teknis yang menerapkan ISO 9001 dan ISO 17020

Pada tahun 2016, 13 UPT yang telah diakreditasi terkait penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 dan 12 UPT yang didaftarkan untuk diakreditasi ISO 17020.

9. Laboratorium penguji yang konsisten dalam penerapan ISO 17025

Pada tahun 2016, telah dilakukan verifikasi ISO 17025 pada 20 laboratorium UPT yang telah melakukan penambahan ruang lingkup pengujian.

10. Penanganan pelanggaran dan penegakan hukum

Pelanggaran bidang KIPM pada tahun 2016 berjumlah 153 kasus dengan nilai produk yang diselamatkan Rp. 306,8 Milyar. Penanganan lebih lanjut dalam bentuk penindakan hukum, yaitu Pulbaket: 119 kasus, Penyidikan: 14 kasus; P19: 2 kasus; P21: 1 kasus dan putusan pengadilan: 17 kasus. Pelanggaran yang terjadi menurun 2.61% dibandingkan tahun 2015 (157 kasus).

11. Layanan KIPM di SKPT

Selain melaksanakan tugas dan fungsi di exit-entry point (bandara/pelabuhan), BKIPM juga mendukung program pembangunan kelautan dan perikanan di Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT). Pada tahun 2016, BKIPM telah mengalokasikan kegiatan pembangunan ataupun operasional layanan di 14 lokasi SKPT, yaitu Sabang, Simeuleu, Mentawai, Anambas, Natuna, Nunukan, Tahuna, Talaud, Morotai, Saumlaki, Tual, Biak, Timika, dan Merauke dengan anggaran sebesar Rp29.916.700.000.

12. Dwelling time

Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kementerian Kelautan dan Periksanan (KKP) terus mendorong perbaikan sistem dwelling time atau waktu bongkar muat yang terdapat di berbagai pelabuhan di Tanah Air.

Dalam dwelling time atau waktu tunggu layanan di pelabuhan, BKIPM memberikan kontribusi selama 0,03 hari dari waktu tunggu layanan nasional selama 3,7 hari. Hasil tersebut merupakan rata-rata waktu tunggu layanan di UPT BKIPM, yaitu di sejumlah pelabuhan besar di Indonesia, seperti di Pelabuhan Belawan (Sumatra Utara) kontribusi BKIPM 8 menit 42 detik terhadap dwelling time 3,9 hari, di Pelabuhan Tanjung Priok kontribusi BKIPM 37 menit 8 detik terhadap dwelling time 2,07 hari, di Pelabuhan Tanjung Perak (Jawa Timur) kontribusi BKIPM 26 menit 2 detik terhadap dwelling time 3,4 hari, dan di Pelabuhan Tanjung Emas (Jawa Tengah) kontribusi BKIPM mengambil waktu 76 menit 34 detik terhadap dwelling time 5,19 hari

(12)

BAB 1

1.1 Latar Belakang

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2015 tentang Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 23/PERMEN-KP/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) merupakan salah satu unit eselon I Kementerian Kelautan dan Perikanan. BKIPM mempunyai tugas menyelenggarakan perkarantinaan ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan, serta keamanan hayati ikan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, BKIPM dituntut untuk melaksanakan secara prudent, transparan, akuntabel, efektif dan efisien sesuai dengan prinsip-prinsip good governance, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

Salah satu asas penyelenggaraan good governance adalah asas akuntabilitas yang menetukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelengara negar harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Akuntabilitas tersebut salah satunya diwujudkan dalam bentuk penyusunan laporan kinerja.

Laporan kinerja disusun sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban BKIPM dalam melaksanakan tugas dan fungsi selama tahun 2016 untuk mencapai visi dan misi BKIPM. Di samping itu, juga sebagai alat kendali dan pemacu peningkatan kinerja setiap satuan kerja di lingkungan BKIPM serta sarana untuk mendapatkan masukan bagi stakeholders demi perbaikan kinerja BKIPM. Selain untuk memenuhi prinsip akuntabilisat, Laporan Kinerja tersebut juga merupakan amanat Peraturan Pemerintah Nonor 8 tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.

(13)

1.2 Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi

Dalam melaksanakan tugasnya, BKIPM mempunyai fungsi: a) penyusunan kebijakan teknis, rencana, dan program perkarantinaan ikan, sistem jaminan mutu, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan, serta keamanan hayati ikan; b) pelaksanaan perkarantinaan ikan, sistem jaminan mutu, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan, serta keamanan hayati ikan; c) pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan perkarantinaan ikan, sistem jaminan mutu, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan, serta keamanan hayati ikan; d) pelaksanaan administrasi Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan; dan e) pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsi BKIPM, Kepala Badan dibantu oleh 4 (empat) Unit Eselon II, yaitu: 1) Pusat Karantina dan Keamanan Hayati Ikan; 2) Pusat Sertifikasi Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan; 3) Pusat Standardisasi, Kepatuhan, dan Kerjasama; dan Sekretariat Badan, serta 47 Unit Pelaksana Teknis (UPT KIPM), yaitu: 2 (dua) Balai Besar, 12 (dua belas) Balai, 32 (tiga puluh dua) Stasiun, dan 1 (satu) Balai Uji Standar, 193 (seratus sembilan puluh tiga) Wilayah Kerja, serta kelompok Jabatan Fungsional, diantaranya Pengendali Hama dan Penyakit Ikan, Pengawas Perikanan bidang Mutu Hasil Perikanan, Pranata Komputer, Pranata Humas, Arsiparis, Statistisi dan jabatan fungsional umum lainnya.

Jumlah SDM aparatur yang mendukung BKIPM saat ini berjumlah 1.738 orang pegawai, dengan komposisi pegawai 10% di Pusat dan 90% di UPT KIPM. Distribusi pegawai yang berimbang ini diperlukan dalam membentuk workforce yang efektif dan efisien. Selain itu, BKIPM juga mempertimbangkan komposisi dari segi jabatan, golongan, pendidikan dan kompetensi. Komposisi yang berimbang merupakan dukungan dalam pencapaian sasaran kinerja BKIPM dalam perspektif learning and growth.

(14)

Struktur organisasi BKIPM dapat dilihat dalam Gambar 1.1.

Gambar 1.1

Struktur Organisasi BKIPM (Permen KP No.23/2015)

1.3 Arah Kebijakan dan Strategi BKIPM

Arah kebijakan dan strategi pembangunan BKIPM disusun dan dilaksanakan dengan mengacu pada arah kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan, serta diselaraskan dengan perkembangan lingkungan yang terjadi. Arah kebijakan pembangunan BKIPM tahun 2016 adalah mengacu pilar pembangunan kelautan dan perikanan 2015 – 2019 yaitu penegakan kedaulatan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan (sovereignity), pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan berkelanjutan (sustainability) dan peningkatan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan (prosperity).

(15)

a. Pencegahan penyebaran penyakit ikan eksotik ke dalam wilayah RI, dan pencegahan penyebaran penyakit ikan karantina antar zona dalam wilayah RI.

b. Pengawasan jenis agen hayati yang dilindungi, dilarang, dan dibatasi di exit/entry point ekspor, impor, maupun antar area.

c. Penerapan Biosecurity (monitoring di sentra budidaya).

d. Kepatuhan (compliance) pelaku importasi produk KP sesuai ketentuan. e. Kepatuhan (compliance) Unit Pengolahan Ikan dalam persyaratan ekspor.

2. Peningkatan kesejahteraan masyarakat KP dilaksanakan melalui penguatan daya saing dan nilai tambah produk perikanan dengan penerapan sistem jaminan kesehatan ikan, mutu dan keamanan hasil perikanan.

a. Pengembangan sistem pencegahan dan penyebaran penyakit ikan karantina, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan yang sesuai standar melalui: • Sertifikasi kesehatan ikan ekspor, impor dan domestik;

• Sertifikasi penerapan sistem jaminan mutu (HACCP) dan penerapan Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB) pada Unit Usaha Perikanan;

• Registrasi Unit Pengolahan Ikan di negara mitra;

• Penerapan sistem traceability rantai pasok bahan baku pada Unit Pengolahan Ikan (UPI);

• Konsistensi penerapan sistem manajemen mutu (ISO 9001), sistem manajemen inspeksi (ISO 17020), dan sistem layanan laboratorium (ISO 17025).

b. Harmonisasi sistem penjaminan Mutu yang Implementatif

• Harmonis sistem, perkarantinaan ikan, mutu dan keamanan hasil perikanan dengan negara mitra (MoU/MRA) serta negara tujuan ekspor lainnya;

• Penyelesaian penanganan kasus ekspor hasil perikanan

3. Pelaksanaan reformasi birokrasi dan tata kelola, akan dilaksanakan melalui strategi:

a. Pengelolaan sumber daya manusia berbasis kompetensi (Competency Based Human Resource Management);

b. Perbaikan pelayanan publik melalui penerapan Standar Pelayanan; c. Peningkatan kemudahan akses dan transparansi informasi publik;

(16)

1.4 Isu Strategis

Isu strategis pembangunan perkarantinaan, keamanan hayati ikan, mutu, dan keamanan hasil perikanan mengacu kepada mandat untuk mendukung terwujudnya kedaulatan pengelolaan dan pemanfaaatan sumbedaya kelautan dan perikanan, melalui:

1. Pencegahan masuk dan tersebarnya penyakit ikan karantina antar zona. 2. Penerapan Biosecurity (monitoring di sentra budidaya).

3. Kepatuhan importasi produk KP sesuai ketentuan.

4. Kepatuhan Unit Pengolahan Ikan dalam persyaratan ekspor.

5. Pengendalian dan Pengawasan Jenis agen hayati yang dilindungi, dilarang dan besifat invasive.

6. Penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra.

7. Monitoring kesegaran ikan, residu dan cemaran bahan berbahaya.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan daerah, khususnya tentang pembagian urusan bidang kelautan dan perikanan mengamanatkan bahwa penyelenggaraan karantina ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan adalah merupakan fungsi pusat. Hal ini memberikan tantangan kepada BKIPM, khususnya terkait penyiapan sumber daya manusia dan penyediaan sarana prasarana pengujian mutu hasil perikanan. Hal ini terkait adanya mandat bahwa penerbitan HC ekspor mutu yang semula diselenggarakan dan diterbitkan oleh Propinsi (LPPMHP) dilimpahkan kewenangan penyelenggaraan dan penerbitannya ke UPT BKIPM.

(17)

1.5 Sistematika dan Penyajian

Sistematika dan penyajian LKj Tahun 2016 merujuk pada aturan dan ketentuan yang berlaku, sebagai berikut:

a. Bab I - Pendahuluan, menyajikan penjelasan umum organisasi, dengan penekanan kepada aspek strategis organisasi serta permasalahan utama (strategic issued) yang sedang dihadapi organisasi.

b. Bab II - Perencanaan Kinerja, menguraikan ringkasan/ikhtisar perjanjian kinerja tahun yang bersangkutan.

c. Bab III - Akuntabilitas Kinerja, menjelaskan capaian kinerja organisasi untuk setiap pernyataan kinerja sesuai dengan hasil pengukuran kinerja organisasi yang digunakan untuk mewujudkan kinerja organisasi sesuai dengan dokumen Perjanjian Kinerja. d. Bab IV - Penutup, menjelaskan simpulan umum atas capaian kinerja organisasi serta

langkah di masa mendatang yang akan dilakukan organisasi untuk meningkatkan kinerjanya.

(18)

BAB 2

PERENCANAAN KINERJA

2.1 Visi dan Misi

Aspek yang berkaitan dengan visi KKP sesuai dengan mandat yang diberikan kepada BKIPM adalah dukungan untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat dan mandiri dalam memastikan produk perikanan yang berkualitas dan berwawasan lingkungan. Oleh karena itu, BKIPM menetapkan visi pembangunan karantina ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan Tahun 2015-2019, yaitu: “Hasil Perikanan Yang Sehat Bermutu, Aman Dan Terpercaya”.

Misi yang diemban oleh BKIPM untuk mewujudkan visi tersebut adalah:

1. Mewujudkan produk perikanan yang berdaya saing melalui penjaminan persyaratan mutu produk hasil perikanan.

2. Mewujudkan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan melalui pengendalian Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK) dan jenis agen yang dilindungi, dilarang dan dibatasi.

3. Mewujudkan masyarakat kelautan dan perikanan yang sejahtera, maju, mandiri melalui pola konsumsi ikan yang bermutu serta budidaya ikan yang bebas dari hama dan penyakit.

2.2 Tujuan

Tujuan pembangunan BKIPM merupakan penjabaran dari visi dan misi guna mendukung prioritas pembangunan kelautan dan perikanan. Tujuan pembangunan yang hendak dicapai dalam rangka mencapai sasaran program prioritas BKIPM adalah melindungi kelestarian sumber daya hayati perikanan dan kelautan dari Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK) dan jenis agen yang dilindungi, dilarang, dibatasi serta menjamin mutu hasil perikanan nasional dengan sasaran:

1. meningkatnya kepatuhan (compliance) pelaku usaha KP terhadap ketentuan peraturan perundang undangan kelautan dan perikanan di wilayah pengeluaran/pemasukan ekspor, impor, dan antar area kepatuhan pelaku usaha kelautan dan perikanan dalam ekspor, impor dan antar area;

2. meningkatnya jumlah jenis penyakit ikan karantina yang dapat dicegah penyebarannya antar zona, melalui sertifikasi kesehatan ikan ekspor, impor dan antar area;

3. menurunnya jumlah kasus penolakan/penahanan ekspor hasil perikanan per negara mitra;

(19)

2.3 Sasaran, Indikator dan Target Kinerja

Sasaran merupakan hasil yang akan dicapai secara nyata oleh instansi pemerintah dalam rumusan yang lebih spesifik, terukur, dalam kurun waktu yang lebih pendek dari tujuan. Dalam sasaran telah ditetapkan indikator sasaran sebagai ukuran tingkat keberhasilan pencapaian sasaran untuk diwujudkan pada tahun bersangkutan. Setiap indikator sasaran disertai rencana tingkat capaian (target) masing-masing. Sasaran diupayakan untuk dapat dicapai dalam kurun waktu tertentu secara berkesinambungan sejalan dengan tujuan yang ditetapkan dalam rencana strategis. Dengan demikian, setiap tujuan yang ditetapkan memiliki indikator yang terukur.

BKIPM telah menyusun Rencana Strategis Tahun 2015-2019 yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala BKIPM Nomor 85/KEP-BKIPM/2015. Rencana strategis tersebut dijabarkan ke dalam Peta Strategis dan Perjanjian Kinerja mengacu pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014.

Gambar 2.1

(20)

Dengan adanya kebijakan pemerintah mengenai efisiensi anggaran yang menyebabkan beberapa kegiatan tidak dapat dilaksanakan sampai dengan akhir tahun, maka BKIPM melakukan perubahan target dari 6 IKU. Perubahan ini sebagaimana tertuang pada Perjanjian Kinerja (PK) BKIPM yang ditandatangi Kepala BKIPM dengan Menteri Kelautan dan Perikanan pada Oktober 2016. Sasaran strategis dan target IKU pada PK BKIPM setelah revisi disajikan dalam Tabel 2.1 berikut.

Tabel 2.1 Sasaran Strategis dan IKU

INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET

SEMULA MENJADI Sasaran Strategis 1 Sasaran Strategis 2 Sasaran Strategis 3 Sasaran Strategis 4 Sasaran Strategis 5

Terwujudnya kesejahteraan masyarakat KP

Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan

Terwujudnya pengelolaan SDKP yang partisipatif, bertanggungjawab, dan berkelanjutan

Tersedianya kebijakan pembangunan BKIPM yang efektif

Terselenggaranya sistem perkarantiaan, mutu dan keamanan hayati ikan yang sesuai standar 1 3 6 8 9 4 7 2 5 10 % % % % Kajian % Unit % % Indeks 8 8 10,38 84 10 8 575 73 7,5 6,5 8 8 10,38 84 10 8 575 73 7,5 6,5 Pertumbuhan PDB perikanan

Jumlah pulau-pulau kecil yang mandiri

Peningkatan nilai ekspor hasil perikanan melalui sertifikasi karantina

Persentase jumlah jenis penyakit ikan karantina yang dicegah penyebarannya antar zona

Jenis agen hayati yang dilindungi, dilarang dan bersifat invasif melalui kajian analisis risiko

Jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra

Unit Pengolahan Ikan yang memenuhi persyaratan ekspor Persentase kepatuhan (compliance) pelaku usaha KP terhadap ketentuan peraturan perundang undangan kelautan dan perikanan

Persentase peningkatan PNBP BKIPM

(21)

INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET SEMULA MENJADI 12 16 19 22 13 17 20 23 14 18 21 24 25 15 Sertifikat Lokasi Unit Unit Unit Unit Sertifikat Unit Unit Lokasi Unit Orang Negara % 139.000 5 42 17 230 150 1300 23 175 31 25 200 36 75 139.000 1 39 17 230 150 1300 23 140 17 25 200 36 75 Sertifikat kesehatan ikan domestik yang memenuhi

persyaratan daerah tujuan

Lokasi Perairan Laut yang dipetakan dari cemaran Marine Biotoxin dan Logam Berat

Pelaku usaha (UPI) yang menerapkan sistem traceability

Jumlah laboratorium yang memenuhi persyaratan laboratorium penguji

Instalasi karantina ikan milik pihak ketiga yang layak untuk ditetapkan

Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang teregistrasi di negara mitra

Sertifikat penerapan sistem jaminan mutu (sertifikat HACCP) di Unit Pengolahan Ikan

Unit kerja lingkup otoritas kompeten yang konsisten dalam penerapan sistem pengendalian mutu

Unit Usaha Pembudidayaan Ikan (UUPI) yang menerapkan Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB)

Lokasi yang termonitor kesegaran ikan, residu dan bahan berbahaya

Unit Pelaksana Teknis yang menerapkan ISO 9001 dan ISO 17020

Tenaga Fungsional Pengendali Hama Penyakit Ikan (PHPI) dan Pengawas Mutu (Wastu) yang lulus uji kompetensi Jumlah negara yang harmonis/kerjasama dalam sistem perkarantinaan ikan, mutu dan keamanan hasil perikanan serta keamanan hayati ikan (MoU/MRA/Approval)

Persentase produk perikanan yang masuk ke dalam wilayah RI yang sesuai dengan persyaratan mutu dan keamanan hasil perikanan

Sasaran Strategis 6

Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan sistem perkarantinaan, mutu dan keamanan hayati ikan secara profesional dan partisipatif

26 27 % % 80 95 80 95 Persentase penyakit ikan eksotik yang dicegah masuk ke

dalam wilayah RI

Persentase penanganan kasus pelanggaran perkarantinaan, keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang diselesesaikan

(22)

28 29 30 Lokasi Lokasi % 56 339 96 56 339 73 Lokasi yang terpetakan jenis agen hayati yang dilindungi,

dilarang dan bersifat invasif

Lokasi yang dipetakan dari penyebaran penyakit ikan karantina

Tingkat keberhasilan pengawasan di wilayah perbatasan

INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET

SEMULA MENJADI

Sasaran Strategis 7

Sasaran Strategis 8

Sasaran Strategis 9

Sasaran Strategis 10

Terwujudnya aparatur sipil negara BKIPM yang kompeten, profesional dan berintegritas

Tersedianya manajemen pengetahuan BKIPM yang handal dan mudah diakses

Terwujudnya birokrasi BKIPM yang efektif, efisien, dan berorientasi pada layanan prima

Terkelolanya anggaran pembangunan BKIPM secara efisien dan akuntabel 31 32 33 34 35 % % Indeks % % 77 50 A (87) Baik (83) 100 77 50 A (87) Baik (83) 100 Indeks kompetensi dan integritas BKIPM

Persentase unit kerja BKIPM yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar

Nilai Kinerja Reformasi Birokrasi BKIPM

Nilai kinerja anggaran BKIPM

(23)

2.4 Pengukuran Kinerja

Nilai Pencapaian Sasaran Strategis (NPSS) diperoleh melalui serangkaian penghitungan dengan menggunakan data target dan realisasi IKU yang tersedia. Dengan membandingkan antara data target dan realisasi IKU, akan diperoleh indeks capaian IKU. Penghitungan indeks capaian IKU perlu memperhitungkan jenis polarisasi IKU yang berlaku, yaitu maximize, minimize, dan stabilize. Ketentuan penetapan indeks capaian IKU adalah:

1. angka maksimum adalah 120; 2. angka minimum adalah 0;

3. Formula penghitungan indeks capain IKU untuk setiap jenis polarisasi adalah berbeda, sebagaimana penjelasan berikut:

a. Polarisasi Maximize

Pada polarisasi maximize, kriteria nilai terbaik pencapaian IKU adalah realisasi yang lebih tinggi dari target, dengan formula:

Indeks Capaian IKU =Realisasi/Target x 100% b. Polarisasi Minimize

Pada polarisasi minimize, kriteria nilai terbaik pencapaian IKU adalah realisasi yang lebih kecil dari target, dengan formula:

Indeks Capaian IKU = {(1 + (1-Realisasi/Target)} x 100% c. Polarisasi Stabilize

Pada polarisasi stabilize, kriteria nilai terbaik pencapaian IKU adalah realisasi yang berada dalam suatu rentang tertentu dibandingkan target.

4. Status indeks capaian IKU adalah sebagai berikut:

100≤X≤120

(24)

BAB 3

AKUNTABILITAS

KINERJA

3.1 Capaian Kinerja

Pengukuran capaian kinerja BKIPM tahun 2016 dilakukan dengan cara membandingkan antara target dan realisasi IKU pada masing-masing perspektif. Dari hasil pengukuran kinerja tersebut, diperoleh data bahwa capaian Nilai Pencapaian Sasaran Strategis (NPSS) sebesar 100,93%. Nilai tersebut berasal dari capaian kinerja pada masing-masing perspektif, berdasarkan pelaporan melalui sistem aplikasi pengelolaan kinerja di www.kinerjaku.kkp. go.id. Nilai NPSS BKIPM dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1

Nilai Pencapaian Sasaran Strategis BKIPM

Nilai merah pada sasaran strategis terwujudnya kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan, disebabkan tidak tercapainya indikator Pertumbuhan PDB perikanan, yang hanya terealisasi 5,77% dari target sebesar 8%. Relisasi capaian kinerja BKIPM tahun 2016 disajikan pada Tabel 3.1 di bawah ini.

(25)

Tabel 3.1

Capaian Kinerja BKIPM Tahun 2016

INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET REAL %

Sasaran Strategis 1

Sasaran Strategis 4

Sasaran Strategis 5 Sasaran Strategis 3 Sasaran Strategis 2

Terwujudnya kesejahteraan masyarakat KP

Tersedianya kebijakan pembangunan BKIPM yang efektif

Terselenggaranya sistem perkarantiaan, mutu dan keamanan hayati ikan yang sesuai standar Terwujudnya pengelolaan SDKP yang partisipatif, bertanggungjawab, dan berkelanjutan Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan

1 10 11 12 13 14 5 3 4 6 7 8 9 2 8 6,5 114.500 139.000 230 140 7,5 14 <10 10,38 575 84 10 73 % Indeks Sertifikat Sertifikat Unit Unit % Pulau Kasus % Unit % Kajian % 5,77 8,74 132.419 306.257 429 197 164,04 14 4 8,51 667 95,74 10 98 72,13 120 115,65 120 120 120 120 100 120 91,98 116,00 113,98 100 120 Pertumbuhan PDB perikanan

Indeks efektivitas kebijakan pemerintah

Sertifikat kesehatan ikan ekspor yang memenuhi persyaratan negara tujuan

Sertifikat kesehatan ikan domestik yang memenuhi persyaratan daerah tujuan

Instalasi karantina ikan milik pihak ketiga yang layak untuk ditetapkan

Unit Usaha Pembudidayaan Ikan (UUPI) yang menerapkan Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB)

Persentase peningkatan PNBP BKIPM Jumlah pulau-pulau kecil yang mandiri Jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra

Peningkatan nilai ekspor hasil perikanan melalui sertifikasi karantina

Unit Pengolahan Ikan yang memenuhi persyaratan ekspor

Persentase jumlah jenis penyakit ikan karantina yang dicegah penyebarannya antar zona Jenis agen hayati yang dilindungi, dilarang dan bersifat invasif melalui kajian analisis risiko Persentase kepatuhan (compliance) pelaku usaha KP terhadap ketentuan peraturan perundang undangan kelautan dan perikanan

(26)

INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET REAL % 15 Persentase produk perikanan yang masuk Unit 140 197 120

ke dalam wilayah RI yang sesuai dengan persyaratan mutu dan keamanan hasil perikanan 16 19 17 20 22 18 21 23 24 25 1 39 150 1.300 17 17 25 23 200 36 Lokasi Unit Unit Sertifikat Unit Lokasi Unit Unit Orang Negara 1 41 174 2.037 20 17 25 23 208 38 100 105,13 116,00 120 117,65 100 100 100 104 105,56 Lokasi Perairan Laut yang dipetakan dari

cemaran Marine Biotoxin dan Logam Berat

Pelaku usaha (UPI) yang menerapkan sistem traceability

Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang teregistrasi di negara mitra

Sertifikat penerapan sistem jaminan mutu (sertifikat HACCP) di Unit Pengolahan Ikan

Jumlah laboratorium yang memenuhi persyaratan laboratorium penguji

Lokasi yang termonitor kesegaran ikan, residu dan bahan berbahaya

Unit Pelaksana Teknis yang menerapkan ISO 9001 dan ISO 17020

Unit kerja lingkup otoritas kompeten yang konsisten dalam penerapan sistem pengendalian mutu

Tenaga Fungsional Pengendali Hama Penyakit Ikan (PHPI) dan Pengawas Mutu (Wastu) yang lulus uji kompetensi

Jumlah negara yang harmonis/kerjasama dalam sistem perkarantinaan ikan, mutu dan keamanan hasil perikanan serta keamanan hayati ikan (MoU/MRA/Approval)

Sasaran Strategis 6

Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan sistem perkarantinaan, mutu dan keamanan hayati ikan secara profesional dan partisipatif

(27)

INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET REAL % 27 32 28 95 50 56 % % Lokasi 100 61,44 56 105,26 120 100 Persentase penanganan kasus pelanggaran

perkarantinaan, keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang diselesesaikan

Persentase unit kerja BKIPM yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar

Lokasi yang terpetakan jenis agen hayati yang dilindungi, dilarang dan bersifat invasif 29 30 339 73 Lokasi % 339 75,4 100 103,29 Lokasi yang dipetakan dari penyebaran

penyakit ikan karantina

Tingkat keberhasilan pengawasan di wilayah perbatasan

Sasaran Strategis 7

Sasaran Strategis 9

Sasaran Strategis 10 Sasaran Strategis 8

Terwujudnya aparatur sipil negara BKIPM yang kompeten, profesional dan berintegritas

Terwujudnya birokrasi BKIPM yang efektif, efisien, dan berorientasi pada layanan prima

Terkelolanya anggaran pembangunan BKIPM secara efisien dan akuntabel Tersedianya manajemen pengetahuan BKIPM yang handal dan mudah diakses

31 35 33 34 77 100 A (87) Baik (83) % % Indeks % 86,77 100 A (88,52) Sangat Baik (95,99) 103,29 100 101,75 115,65 Indeks kompetensi dan integritas BKIPM

Persentase kepatuhan terhadap SAP lingkup BKIPM

Nilai Kinerja Reformasi Birokrasi BKIPM

(28)

3.2 Analisis dan Evaluasi

Stakeholder Perspective

Capaian kinerja BKIPM pada Stakeholder Perspective berasal dari satu sasaran strategis, yakni terwujudnya kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan.

Sasaran Strategsi 1.

Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Kelautan dan Perikanan

Kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan menjadi tolok ukur dari dampak keberhasilan program dan kegiatan BKIPM. Indikator kinerja yang ditetapkan untuk mengukur keberhasilan sasaran terwujudnya kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan adalah pertumbuhan PDB perikanan.

IK1. Pertumbuhan PDB Perikanan

Indikator Pertumbuhan PDB Perikanan merupakan indikator yang dicascading langsung dari IKU Level 0 KKP. Realisasi terhadap capaian indikator ini mengacu pada data yang dikelaurkan oleh BPS. Angka pertumbuhan PDB Perikanan tahun 2016 masih mengacu pada angka pertumbuhan sementara dari BPS sebesar 5,77%.

Realisasi pertumbuhan PDB Perikanan ini masih di bawah target sebesar 8,00%, atau hanya mencapai 72,13%. Namun demikian, angka ini masih lebih tinggi jika dibandingkan pertumbuhan PDB nasional, yang hanya sebesar 5,02%. Beberapa kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan PDB sub sektor perikanan, antara lain peningkatan produksi perikanan, pemberian bibit rumput laut, dan pemberian sarana prasarana kepada para nelayan dan pembudidaya ikan.

Tabel 3.2

Realisasi IK1 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

Ket.: * nilai sementara berdasarkan data BPS

INDIKATOR KINERJA CAPAIAN

2015 TARGET2019 % thd Target 2019 INDIKATOR 2016 Pertumbuhan PDB Perikanan 8,37 5,77%* 12 48,03

(29)

Customer Perspective

Capaian kinerja BKIPM pada Customer Perspective berasal dari dua sasaran strategis, yaitu 1) terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan; 2) terwujudnya pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang partisipatif, bertanggungjawab, dan berkelanjutan.

Sasaran Strategis 2. Terwujudnya Kedaulatan Dalam Pengelolaan Sumber Daya Kelautan Dan Perikanan

Keberhasilan pencapaian sasaran strategis terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan diperoleh dari pencapaian indikator persentase kepatuhan (compliance) pelaku usaha kelautan dan perikanan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, jumlah pulau-pulau kecil yang mandiri, dan jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra berikut ini.

IK2. Persentase kepatuhan (compliance) pelaku usaha kelautan dan perikanan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku

Kepatuhan adalah ketaatan pelaku usaha/pengguna jasa baik perorangan atau badan hukum yang melakukan kegiatan proses pengelolaan ikan dan produk perikanan dan/atau melakukan kegiatan lalu lintas ikan telah memenuhi persyaratan sesuai peraturan perundang-undangan (regulasi) yang berlaku di bidang perkarantinaan ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan.

Kegiatan pemasukan dan pengeluaran lalu lintas ikan (impor/ekspor) wajib dilengkapi sertifikat kesehatan ikan; melalui tempat-tempat pemasukan/pengeluaran yang ditetapkan, serta dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina untuk keperluan tindakan karantina. Pada sistem pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan, kewajiban yang harus ditaati adalah memiliki kelayakan pengolahan ikan, menerapkan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan melalui penilaian kesesuaian, serta sertifikasi terhadap unit pengolahannya maupun produknya.

Indikator persentase kepatuhan (compliance) pelaku usaha kelautan dan perikanan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku diukur dari 3 variabel, yaitu perilaku kepatuhan pelaku usaha, kepatuhan pelaku usaha terhadap regulasi, dan kepatuhan standar komoditas yang akan dilalulintaskan bebas dari hama dan penyakit ikan karantina,

(30)

Tingkat penilaian perilaku kepatuhan pelaku usaha dapat digolongkan menjadi 4 (empat) ketegori perilaku:

a. tingkat kepatuhan tinggi, dengan rentang nilai 86-100%; kategori apabila pelaku usaha taat dengan kesadaran sendiri secara sukarela dan mempunyai reputasi yang baik jika ditinjau dari profil pelaku usaha.

b. tingkat kepatuhan sedang, dengan rentang nilai 70-85%; kategori apabila dengan tidak sengaja pelaku usaha sebagai akibat ketidaktahuan terhadap regulasi dan standar komoditas dan telah memperbaiki perilaku kepatuhannya dan tidak pernah melanggar regulasi/prosedur/persyaratan, atau pelaku usaha yang dikenakan pembekuan sementara (internal suspend) dan telah menindaklanjuti hasil investigasi sebagai akibat adanya kejadian kasus penolakan ekspor.

c. tingkat kepatuhan rendah, dengan rentang nilai 51-69%; kategori apabila pelaku usaha yang resisten untuk patuh atau memanfaatkan kesempatan (celah) untuk tidak patuh, dan mengulangi pelanggarannya, atau pelaku usaha yang dikenakan pembekuan (suspend) dan tidak dapat menindaklanjuti hasil investigasi akibat adanya kejadian kasus penolakan ekspor.

d. tingkat kepatuhan sangat rendah, dengan rentang nilai 0-50%; kategori pelaku usaha yang dengan sengaja dan terbukti melanggar ketentuan regulasi serta dilakukan penegakkan hukum terhadap pelanggaran yang terjadi.

Tabel 3.2

Realisasi IK1 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

STANDAR

TINGKAT KEPATUHAN PENGGUNA JASA

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi

0-50% 51-69% 70-85% 86-100%

(31)

Dari Tabel 3.3 di atas, jumlah pelaku usaha perikanan ekspor dan impor yang terdata di sistem sisterkaroline adalah 2.751 orang. Sebanyak 2.701 pengguna jasa (98%) masuk ke dalam kategori tingkat kepatuhan tinggi, 16 pengguna jasa (0,6%) masuk kategori kepatuhan sedang, 17 pengguna jasa (0,7%) masuk kategori kepatuhan rendah, 17 pengguna jasa (0,7%) masuk kategori kepatuhan sangat rendah. Sehingga realisasi indikator kepatuhan (compliance) pelaku usaha kelautan perikanan terhadap regulasi karantina ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan pada tahun 2016 mencapai 98% dari target 73%. Angka capaian ini mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2015.

Tabel 3.4

Realisasi IK2 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

INDIKATOR KINERJA CAPAIAN

2015 TARGET2019

% thd Target 2019

INDIKATOR 2016 Persentase kepatuhan (compliance) pelaku usaha

KP terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku

83,2 98 97 112,64

IK3. Jumlah pulau-pulau kecil yang mandiri

Indikator jumlah pulau-pulau kecil yang mandiri merupakan indikator KKP yang diturunkan langsung ke beberapa Eselon 1. Target indikator yang cascading ke BKIPM sejumlah 15 pulau/ lokasi SKPT, yaitu Biak, Mentawai, Merauke, Moa, Morotai, Natuna, Nunukan, Saumlaki, Sarmi, Simeuleu, Talaud, Tahuna, Timika, Rote Ndao, dan Tual. Namun demikian, BKIPM mengusulkan perubahan target menjadi 14 karena Rote Ndao bukan merupakan wilayah kerja BKIPM, sehingga tidak ada kegiatan operasional dan pengalokasian anggaran ke lokasi tersebut.

Relaisasi indikator ini pada tahun 2016 adalah 14 lokasi, sehingga capaiannya 100%. Upaya yang dilakukan BKIPM untuk mendukung terealisasi indikator ini adalah melalui pelaksanaan operasional karantina ikan dan mutu, serta penyediaan sarana dan prasarana. Kegiatan tersebut telah di 14 wilayah kerja BKIPM, yaitu Biak, Mentawai, Merauke, Moa, Morotai, Natuna, Nunukan, Saumlaki, Sarmi, Simeuleu, Talaud, Tahuna, Timika, Tual. Anggaran yang dialokasikan pada 14 pulau tersebut sebesar Rp. 29.916.700.000.

Tabel 3.5

Realisasi IK3 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

INDIKATOR KINERJA CAPAIAN

2015 TARGET2019

% thd Target 2019

INDIKATOR 2016

(32)

IK4. Jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra

Kontribusi BKIPM dalam meningkatkan kinerja ekspor produk hasil perikanan di pasar internasional adalah dengan menekan jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra agar tidak melampaui jumlah sepuluh (<10) per negara mitra. Indikator ini dihitung berdasarkan notifikasi penolakan yang diterima otoritas kompeten dari negara mitra yang jumlah kasus penolakannya tertinggi.

Kasus penolakan ekspor hasil perikanan ke negara mitra yang terjadi selama 2016 masih dapat dikendalikan di bawah 10 kasus. Penolakan ekspor hasil perikanan tertinggi terjadi di negara Rusia, yaitu 4 kasus yang disebabkan oleh kandungan mikrobiologi dan heavy metal. Kasus penolakan lainnya yang terjadi adalah sebagai berikut: 3 kasus di Korea Selatan yang disebabkan oleh Benzopyrene dan Carbon monoxide (CO), 2 kasus di Belanda yang disebabkan oleh merkuri, 2 kasus di Perancis yang disebabkan oleh merkuri dan cadmium, 2 kasus di China yang disebabkan oleh TVB dan Chloramp, 2 kasus di Kanada yang disebabkan oleh Sensory Evaluation, serta 1 kasus di Jerman, Spanyol dan Italia (Jerman disebabkan oleh Salmonella tipe b, Spanyol disebabkan oleh poor temperature control dan Italy disebabkan oleh mercury). Sedangkan untuk negara mitra negara Vietnam dan Norwegia tidak terjadi kasus penolakan (nihil).

Tabel 3.6

Realisasi IK4 pada Tahun 2014-2016 dan Target RPJM

INDIKATOR KINERJA CAPAIAN

2015 2014 TARGET2019 % thd Target 2019 INDIKATOR 2016 Jumlah kasus penolakan ekspor hasil

perikanan per negara mitra

2

4 4 <10 160

Penanganan terhadap penolakan ekspor tersebut telah dilakukan dengan memberlakukan status internal suspend kepada UPI dan investigasi guna mencari akar permasalahan terjadinya kasus sehingga produk perikanan yang akan diekspor tidak terjadi penolakan kembali.

Sasaran Strategis 3.

(33)

IK5. Persentase peningkatan PNBP BKIPM

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2015 tentang Jenis Dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Kementerian Kelautan Dan Perikana, tarif PNBP di BKIPM dapat dikelompokkan ke dalam 3 kategori, yaitu karantina ikan, mutu hasil perikanan, dan uji profisiensi.

Realisasi PNBP BKIPM sampai dengan Desember 2016 adalah sebesar Rp52.862.589.194 dari target Rp14.023.500.000 atau mencapai 376,96%. Jika dibandingan dengan realisasi PNBP pada tahun 2015, terjadi penambahan PNBP sebesar Rp32.842.967.012, atau meningkat sebesar 163%.

Grafik 3.1

Realisasi PNBP BKIPM Tahun 2014-2016

Tingginya peningkatan realisasi PNBP dikarenakan usaha BKIPM dalam meningkatkan pengawasan ekspor/impor/antar area terhadap komoditas perikanan yang dilalulintaskan, implementasi e-payment di 47 UPT KIPM, dan integrasi sistem sertifikasi mutu dan karantina ikan sebagaimana amanat UU Nomor 23/2014.

Tabel 3.7

Realisasi IK5 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

INDIKATOR KINERJA CAPAIAN

2015 2014 TARGET2019 % thd Target 2019 INDIKATOR 2016

(34)

-IK6. Peningkatan nilai ekspor hasil perikanan melalui sertifikasi karantina

Indikator peningkatan nilai ekspor hasil perikanan melalaui sertifikasi karantina diukur dengan membandingkan nilai ekspor tahun berjalan (A) dengan tahun sebelumnya (B), dengan rumus perhitungan sebagai berikut:

%_NE= ((A-B))/B x 100% Ket. : NE : peningkatan nilai ekspor

A : nilai ekspor tahun berjalan B : nilai ekspor tahun sebelumnya

Frekuensi ekspor perikanan yang dilaporkan melalui UPT BKIPM pada 2016 sebanyak 132.419, dengan volume untuk komoditas hidup sebanyak 2,61 milyar ekor dan komoditas non hidup sebesar 1,09 juta ton. Nilai ekspor perikanan pada 2016 sebesar US$5,99 milyar.

Dari keseluruhan ekspor perikanan tahun 2016 tersebut, sebanyak 92,31% merupakan ikan konsumsi, yaitu sebesar US$5,71 milyar dimana udang vaname merupakan komoditas dengan estimasi nilai ekspor terbesar, yaitu sebesar US$141,95 juta disusul tuna (US$69.24 juta), tawes (US$57,74 juta), dan kepiting sebesar (US$57.07 juta). Untuk nilai ekspor ikan hias yang dilaporkan pada UPT BKIPM pada tahun 2016 sebesar US$45,56 juta mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya sebesar 44.28%.

Negara tujuan ekspor terbesar untuk komoditas konsumsi yang dilaporkan adalah Amerika Serikat (230,49 ribu ton), China (136,09 ribu ton), Jepang (103,17 ribu ton), Vietnam (84,54ribu ton) dan Thailand (68,97 ribu ton).

(35)

Jika dibandingkan dengan nilai ekspor perikanan yang dilaporkan melalui UPT BKIPM pada tahun 2015 sebesar US$5,52 milyar, terjadi peningkatan sebesar 8,51% pada 2016. Meskipun terjadi peningkatan nilai ekspor, namun belum dapat memenuhi target sebesar 10,38%. Hal ini disebabkan, pada tahun 2016 terjadi penurunan harga yang cukup besar dibandingkan pada tahun 2015, seperti lobster dari US$42,6/kg menjadi US$10,97/kg.

Tabel 3.8

Realisasi IK6 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

INDIKATOR KINERJA CAPAIAN

2015 TARGET2019

% thd Target 2019

INDIKATOR 2016 Peningkatan nilai ekspor hasil perikanan melalui

sertifikasi karantina

6,53% 8,51% 12% 67,17%

IK7. Unit Pengolahan Ikan yang memenuhi persyaratan ekspor

Inspeksi dan verifikasi terhadap pelaksanaan SSOP/GMP dan penerapan HACCP di UPI dilaksanakan untuk memastikan bahwa UPI tersebut secara konsisten menerapkan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan. sebagaimana diamanatkan pada Permen KP Nomor PER.19/MEN/2010 tentang Pengendalian Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan, dan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.01/MEN/2007 tentang Persyaratan Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Pada proses Produksi, Pengolahan dan Distribusi.

Realisasi indikator ini diukur dengan menghitung jumlah UPI yang mendapatkan sertifikat HACCP dari otoritas kompeten, sebagai salah satu persyaratan ekspor ke negara mitra. Realisasi jumlah Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang memenuhi persyaratan ekspor pada 2016 mencapai 667 UPI dari target 575 UPI atau mencapai 116%. Sedangkan jika dibandingkan dengan target 2019, realisasi ini sudah mencapai 102%, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 3.8 di bawah ini.

Tabel 3.9

Realisasi IK7 pada Tahun 2014-2016 dan Target RPJM

INDIKATOR KINERJA CAPAIAN

2015 2014 TARGET2019 % thd Target 2019 INDIKATOR 2016 Unit Pengolahan Ikan yang

memenuhi persyaratan ekspor

592

(36)

IK8. Persentase jumlah jenis penyakit ikan karantina yang dicegah penyebarannya antar zona

Upaya pencegahan masuk dan tersebarnya HPIK di Indonesia didasarkan pada Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 58/KEPMEN-KP/2016 tentang Status Tidak Bebas Hama dan Penyakit Ikan Karantina di Wilayah Negara Republik Indonesia yang sudah ada di dalam wilayah Indonesia. Berdasarkan Keputusan Menteri tersebut, terdapat 13 jenis Penyakit Ikan Karantina yang tersebar di 141 lokasi.

Indikator persentase jumlah jenis penyakit ikan karantina yang dicegah penyebarannya antar zona (P) diukur dengan membandingkan jumlah jenis HPIK yang sudah ditemukan (A) dan jumlah jenis HPIK yang menyebar dari zona tidak bebas ke zona bebas (B), dengan rumus perhitungan sebagai berikut:

%= 1-((A - B))/B x 100%

Ket.: A: Jumlah total lokasi sebaran HPIK yang baru

B: Jumlah total lokasi sebaran HPIK berdasarkan Kepmen KP No.58/2016

Capaian indikator ini diperoleh dari hasil kegiatan pemetaan penyakit ikan karantina Tahun 2016 yang dilakukan di 339 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Hasil pemetaan Tahun 2016 ditemukan 6 lokasi sebaran baru Penyakit Ikan Karantina, sehingga tingkat keberhasilan capaian indikator ini adalah 95,74% dari target 84% atau mencapai 113%.

Tabel 3.10

Realisasi IK8 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

INDIKATOR KINERJA CAPAIAN

2015 INDIKATOR 2016 TARGET2019 Target% thd2019 Persentase jumlah jenis penyakit ikan karantina

yang dicegah penyebarannya antar zona

(37)

Lokasi sebaran baru penyakit ikan karantina dimaksud terdapat di: 1) Kabupaten Tangerang ditemukan Infectious myonecrosis virus (IMNV) pada Litopenaeus vannamei; 2) Kota Cirebon ditemukan Aeromonas salmonicida pada Clarias batracus; 3) Kabupaten Cilacap ditemukan Taura syndrome virus (TSV) pada Litopenaeus vannamei; 4) Kabupaten Lamongan ditemukan Infectious hypodermal and haematopoietic necrosis virus (IHHNV) pada Litopenaeus vannamei; 5) Kabupaten Karangasem ditemukan Infectious myonecrosis virus (IMNV) pada Litopenaeus vannamei; dan 6) Kota Muara Enim ditemukan Edwardsiella ictaluri pada Clarias batracus.

Pengendalian sebaran Penyakit Ikan Karantina pada Tahun 2016 lebih berhasil jika dibandingkan dengan pengendalian sebaran pada Tahun 2015. Jika pada Tahun 2015 hanya mencapai 64%, pada Tahun 2016 pengendaliannya mencapai 95,04%. Dengan demikian terdapat peningkatan upaya pengendalian sebesar 31,04%.

IK9. Jenis agen hayati yang dilindungi, dilarang dan bersifat invasif melalui kajian analisis resiko

Indikator jenis agen hayati yang dilindungi, dilarang dan bersifat invasif melalui kajian analisis risiko diukur dengan menghitung jenis ikan yang dikaji analisis risikonya dengan mengacu kepada rencana kerja tahunan telah ditetapkan melalui Keputusan Kepala BKIPM.

Pada tahun 2016, telah dilakukan kajian analisis risiko sebanyak 10 kajian, sebagaimana target sebanyak 10 kajian atau mencapai 100%. Sehingga sampai dengan tahun 2016 ini, BKIPM telah melakukan kajian analisis risiko sebanyak 21 kajian dari target RPJM sebesar 80 kajian, atau mencapai 26,25%.

Tabel 3.11

Realisasi IK9 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

INDIKATOR KINERJA 2015CAPAIAN TARGET2019 Target% thd 2019

INDIKATOR 2016 Jenis agen hayati yang dilindungi, dilarang dan

bersifat invasif melalui kajian analisis risiko

11 10 45 46,47

Adapun kajian analisis risiko jenis agen hayati yang dilindungi, dilarang dan bersifat invasif Tahun 2016 terdiri dari Analisis Risiko Pemasukan Spesies Asing Invasif: 1) Kerang Mediterania; 2) Red Claw; 3) Cichlasoma urophthalmus dan C. trimaculatum; 4) Tetraodon sp; 5) Katak Tebu; 6) Alligator Gar; 7) Lionfish; 8) Ikan Roach; 9) Lates niloticus; dan 10) Tilapia zillii. Sehingga sampai dengan tahun 2016, BKIPM telah melakukan kajian terhadap 21 jenis agen hayati yang

(38)

Internal Process Perspective

Capaian kinerja BKIPM pada Internal Process Perspective berasal dari tiga sasaran strategis sebagai berikut.

Sasaran Strategis 4.

Tersedianya kebijakan pembangunan BKIPM yang efektif

Keberhasilan pencapaian sasaran strategis Tersedianya kebijakan pembangunan BKIPM yang efektif diperoleh dari pencapaian tiga belas indikator kinerja berikut ini.

IK10. Indeks efektivitas kebijakan pemerintah

Indeks efektivitas kebijakan pemerintah adalah suatu ukuran untuk menilai sejauh mana kebijakan yang diterbitkan oleh KKP dapat diterima oleh stakeholders kelautan perikanan, serta mampu menyelesaikan masalah sesuai dengan tujuan pembuatan kebijakan tersebut. Indikator indeks efektivitas kebijakan pemerintah merupakan indikator di Level 0 yang diturunkan ke seluruh level I dengan metode lingkup dipersempit.

Indeks efektivitas kebijakan bidang perkarantinaan ikan mutu dan keamanan hasil perikanan diukur melalui survei ke pengguna jasa. Pelaksanaan survei efektivitas telah dilakukan oleh Pusat Karantina Ikan terhadap Permen KP No.33/2014 dan Pusat Sertifikasi Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan terhadap Kepmen KP No.52A/2013 pada November 2016, sehingga realisasi indikator ini pada 2016 sebesar 8,47 dari target 6,5 atau mencapai 120%.

Tabel 3.12

Realisasi IK10 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

INDIKATOR KINERJA CAPAIAN

2015 INDIKATOR 2016 TARGET2019 Target% thd2019 Indeks efektivitas kebijakan pemerintah 8,1 8,47 8 106

(39)

Sasaran Strategis 5.

Terselenggaranya sistem perkarantiaan, mutu dan keamanan hayati ikan yang sesuai standar

Keberhasilan pencapaian sasaran strategis Terselenggaranya sistem perkarantiaan, mutu dan keamanan hayati ikan yang sesuai standar diperoleh dari pencapaian tiga belas indikator kinerja berikut ini.

IK11. Sertifikat kesehatan ikan ekspor yang memenuhi persyaratan negara tujuan

Sertifikat Kesehatan (Health Certificate) atau yang disingkat HC merupakan bukti pengendalian penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan yang diterbitkan apabila suatu produk/hasil perikanan telah memenuhi persyaratan atau standar yang berlaku sehingga aman untuk dikonsumsi manusia dan kelestarian hayati ikan.

Penerbitan HC mutu didasarkan pada hasil surveilan terhadap konsistensi penerapan HACCP selama proses produksi di Unit Pengolahan Ikan (UPI) dan hasil pengujian sesuai dengan Keputusan Kepala BKIPM Nomor 59 Tahun 2016. Sedangkan penerbitan HC karantina ikan mengacu pada PP Nomor 15 Tahun 2002, SOP Nomor 01 Tahun 2015 dan SOP Nomor 03 Tahun 2015.

Target indikator ini pada 2016 sebesar 114.500 sertifikat, terdiri dari HC karantina sebesar 32.500 dan HC mutu sebesar 82.000. Total HC yang diterbitkan sampai dengan Desember 2016 adalah sebanyak 132.419 sertifikat atau mencapai 115,65%, terdiri dari HC karantina sebesar 45.837 sertifikat dan HC mutu sebesar 86.582 sertifikat.

Tabel 3.13

Realisasi IK11 pada Tahun 2014-2016 dan Target RPJM

INDIKATOR KINERJA CAPAIAN

2015

2014 INDIKATOR 2016 TARGET2019 Target% thd2019 Sertifikat kesehatan ikan ekspor

yang memenuhi persyaratan negara tujuan

110.649

(40)

Dari HC mutu yang diterbitkan tersebut, terjadi peningkatan sebesar 20.114 sertifikat jika dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 66.468 sertifikat. Volume ekspor tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar 12,66%, dari 664,95 ribu ton pada tahun 2015 menjadi 737,91 ribu ton pada tahun 2016. Untuk nilai ekspor juga terjadi peningkatan sebsar 5,33%, dari US$ 3,87 milyar pada tahun 2015 menjadi US$ 4,08 milyar pada tahun 2016. Untuk HC karantina pada tahun 2016, meningkat sebesar 1.656 sertifikat dibandingkan tahun 2015 sebesar 44.181 sertifikat. Volume ekspor non konsumsi mengalami peningkatan dari 2,17 milyar ekor dan 383,32 ribu ton pada tahun 2015 menjadi 2,61 milyar ekor dan 355,91 ribu ekor tahun 2016, dengan nilai ekspor sebesar US$1,91 milyar.

IK12. Sertifikat kesehatan ikan domestik yang memenuhi persyaratan daerah tujuan Sertifikasi kesehatan ikan domestik dilakukan melalui tindakan karantina ikan dalam rangka mencegah tersebarnya HPIK antar area di dalam Wilayah Negara Republik Indonesia.

Pada tahun 2016 realisasi indikator ini sebesar 306.257 sertifikat dari target sebesar 139.000 sertifikat atau mencapai 220%.

Tabel 3.14

Realisasi IK12 pada Tahun 2014-2016 dan Target RPJM

INDIKATOR KINERJA 2015CAPAIAN

2014 TARGET2019

% thd Target 2019

INDIKATOR 2016 Sertifikat kesehatan ikan domestik

yang memenuhi persyaratan daerah tujuan

155.886

134.378 306.257 159.000 192,61

Komoditas hidup yang dominan dilalulitaskan dan dilaporkan melalui UPT adalah benih vannamei 9,47 miliar ekor, benih windu 2,57 miliar ekor, udang vaname 1,93 milyar ekor, bandeng 1,41 milyar ekor, benih bandeng 590,33 juta ekor, dan ikan lainnya sebsar 680,79 juta ekor. Sedangkan untuk komoditas non hidup yang dominan adalah tongkol 51,19 ribu ton, rumput laut 49,20 ribu ton, bandeng 24,48 ribu ton, cakalang 20,50 ribu ton, tuna 1 9 , 3 5 ribu ton, dan produk lainnya sebesar 232,93 ribu ton.

(41)

Grafik 3.3

Komoditas Hidup dan Non Hidup Yang Dominan Dilalulintaskan

IK13. Instalasi karantina ikan milik pihak ketiga yang layak untuk ditetapkan

Instalasi Karantina Ikan adalah tempat beserta segala sarana dan fasilitas yang ada padanya yang digunakan untuk melaksanakan tindakan karantina guna mencegah masuk dan tersebarnya HPIK dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri, atau keluarnya HPI dari dalam wilayah negara Republik Indonesia. Instalasi Karantina Ikan milik Pihak Ketiga adalah instalasi karantina yang dibangun oleh perorangan atau badan hukum dan telah ditetapkan dalam bentuk sertifikat instalasi karantina ikan, yang pengelolaannya di bawah pengawasan UPT KIPM.

Indikator instalasi karantina ikan milik pihak ketiga yang layak untuk ditetapkan diukur dengan menghitung jumlah instalasi karantina ikan milik pihak ketiga yang telah ditetapkan sebagai Instalasi Karantina Ikan (IKI) melalui keputusan Kepala BKIPM. Pada tahun 2016, telah ditetapkan 429 unit IKI dari target 230 unit atau mencapai 185,22%. Jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2015, realisasi ini meningkat sebesar 165%.

Tabel 3.15

Realisasi IK13 pada Tahun 2014-2016 dan Target RPJM

INDIKATOR KINERJA CAPAIAN

2015

2014 TARGET2019 Target% thd

2019

INDIKATOR 2016 Instalasi karantina ikan milik pihak

ketiga yang layak untuk ditetapkan

260

(42)

IK14. Unit Usaha Pembudidayaan Ikan (UUPI) yang menerapkan Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB)

Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB) adalah metode yang berisikan standar operasional prosedur yang digunakan untuk memastikan bahwa semua tindakan dan penggunaan fasilitas instalasi karantina dilakukan secara efektif, konsisten, sistematis dan memenuhi standar biosekuriti untuk menjamin kesehatan ikan. Penerapan CKIB bertujuan untuk mendorong Unit Usaha Pembudidayaan Ikan (UUPI) melaksanakan manajemen kesehatan ikan yang baik dengan menerapkan prinsip-prinsip biosekuriti pada produksi budidaya ikan sehingga dapat memenuhi jaminan kesehatan ikan.

Pada tahun 2016, realisasi UUPI yang telah disertifikasi CKIB sebanyak 197 unit, terdiri dari 6 unit grade A, 113 unit grade B, dan 78 unit grade C. Realisasi ini mencapai 112,57% dari target sebesar 175 unit. Namun demikian, Jika dibandingkan dengan target RPJM tahun 2019, realisasi ini baru mencapai 39,4%. Oleh sebab itu, dalam 3 tahun mendatang perlu dilakukan terus sosialisasi kepada para pengguna jasa dan meningkatkan pelayanan karantina agar semua pengguna jasa memanfaatkan pelayanan sertifikasi CKIB tersebut.

IK15. Persentase produk perikanan yang masuk ke dalam wilayah RI yang sesuai dengan persyaratan mutu dan keamanan hasil perikanan

Indikator persentase produk perikanan yang masuk ke dalam wilayah RI yang sesuai dengan persyaratan mutu dan keamanan hasil perikanan dihitung dengan membandingkan jumlah total permohonan dengan jumlah permohonan yang ditolak.

%Produk Mutu=(A-B)/A x100% Ket:

A : Jumlah Izin Pemasukan Hasil Perikanan

Tabel 3.16

Realisasi IK14 pada Tahun 2014-2016 dan Target RPJM

INDIKATOR KINERJA CAPAIAN

2015

2014 TARGET2019 Target% thd

2019

INDIKATOR 2016 Unit Usaha Pembudidayaan Ikan

(UUPI) yang menerapkan Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB)

104

(43)

Capaian indikator ini diperoleh dari jumlah izin pemasukan hasil perikanan sebanyak 74 buah (tidak ada izin yang ditolak), sehingga presentase produk perikanan yang masuk ke dalam wilayah RI yang sesuai dengan persyaratan mutu dan keamanan hasil adalah (74 - 0) / 74 x 100%= 100% dari target sebesar 75%.

Pelaksanaan penanganan importasi produk perikanan yang dilaksanakan oleh UPT di pintu-pintu masuk impor saat ini baru berdasarkan verifikasi dokumen impor dan pengambilan sample produk. Sampel yang telah diambil tersebut diuji untuk memastikan bahwa produk tersebut sesuai dengan mutu dan keamanan yang dipersyaratkan. Penanganan importasi hasil perikanan telah dilaksanakan oleh BKIPM di beberapa wilayah pintu pemasukan hasil perikanan, yaitu Jakarta, Surabaya, Banyuwangi, Semarang, dan Lampung.

INDIKATOR KINERJA CAPAIAN TARGET2019 Target% thd

2019

INDIKATOR 2016

Persentase produk perikanan yang masuk ke dalam wilayah RI yang sesuai dengan persyaratan mutu dan keamanan hasil perikanan

100% 80% 125

Tabel 3.17

Realisasi IK15 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

(44)

IK16. Lokasi perairan laut yang dipetakan dari cemaran marine biotoxin dan logam berat Pemetaan perairan cemaran marine biotoxin dan logam berat di Indonesia perlu dilakukan mengingat sebagai negara tropis yang memiliki sebaran terumbu karang yang cukup luas, perairan Indonesia sangat berpotensi terjadinya blooming binatang bersel satu tertentu yang memproduksi ciguatoxin (CTX). Daerah terumbu karang merupakan daerah yang cocok bagi tempat hidup bentik dinoflagellata yang biasanya menempel pada algae (ganggang) laut yang hidup di batu-batu karang.

Keracunan ciguatoxin atau disebut Ciguatera Fish Poisoning (CFP) adalah keracunan karena mengkonsumsi ikan yang berada di perairan karang pada musim tertentu yang mengandung organism yang memproduksi ciguatoxin (blooming) seperti kakap, kerapu, baronang, dan barakuda. Dengan kegiatan pemetaan ini diharapkan dapat diketahui dan dimonitor perairan-perairan mana saja yang berpotensi tercemar oleh marine biotoxin dan logam berat sehingga dapat dijadikan sebagai bahan untuk menentukan kebijakan khususnya di BKIPM dan di Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Indikator lokasi perairan laut yang dipetakan dari cemaran marine biotoxin dan logam berat diukur dengan menghitung realisasi jumlah lokasi perairan (teluk, selat, wilayah pesisir) laut yang dipetakan dari cemaran Marine Biotoxin dan Logam Berat.

Target awal pada tahun 2016 adalah sejumlah 5 lokasi, yaitu perairan di Jakarta, Surabaya, Lampung, Makassar dan Ambon. Namun demikian, karena adanya adanya efisiensi anggaran (retreat II KKP), kegiatan monitoring dan pemetaan marine biotoxin dan logam berat tidak dilanjutkan sehingga dilakukan penyesuaian target menjadi 1 lokasi.

Capaian pada tahun 2016 sebesar 100%, yaitu pemetaan cemaran marine biotoxin dan logam berat di perairan Teluk Hurun, Lampung bersamaan dengan terjadinya Harmful Algae Blooming (HAB) pada triwulan II 2016.

Tabel 3.18

Realisasi IK16 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM

INDIKATOR KINERJA 2015CAPAIAN TARGET2019 Target% thd 2019

INDIKATOR 2016

(45)

Dari hasil identifikasi, pada Stasiun I mengandung plankton penghasil biotoxin, yaitu Alexandrium sp., Dynophisis sp., dan Pyrodinium sp. Pada Stasiun II mengandung plankton penghasil biotoxin, yaitu Nitzshia sp., Alexandrium sp., Dynophisis sp., dan Pyrodinium sp. Pada Stasiun III mengandung plankton penghasil biotoxin, yaitu Nitzshia sp., Alexandrium sp., Dynophisis sp., dan Pyrodinium sp. Hal ini menunjukkan ikan perairan Lampung khususnya Teluk Hurun memiliki potensi untuk terkontaminasi biotoxin (Gambar 3.3).

Gambar

Tabel 3.31 Realisasi IK29 pada Tahun 2015-2016 dan Target RPJM
Tabel 2.1 Sasaran Strategis dan IKU
Tabel 3.33 Nilai Pemenuhan Fasilitas

Referensi

Dokumen terkait

Dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk pemberdayaan Pokdarwis Tiram Tambun dalam mengembangkan usaha homestay di Desa Wisata Mentawir Kabupatem

bahwa salah satu keberhasilan tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia ditentukan oleh tingkat kompetensi di bidang manajemen yang meliputi aspek pengetahuan,

“Fairness reduces the negative effects of organizational politics on turnover intentions, citizenship behavior and job performance”, Journal of Business and

Memandangkan kajian ini bertumpu kepada analisis ayat-ayat amsal al-Qur'an dalam kemahiran komunikasi pengajaran dan pembelajaran, tidak salah rasanya jika saya bahaskan jua

Pelaksanaan kegiatan tersebut untuk memberikan evaluasi dan profil lengkap keberhasilan kampanye perubahan pola konsumsi dan P3DN pada masyarakat dan UMKM yang

- Makna preposisi yang mengacu pada sumber atau asal, yaitu makna preposisi yang menyatakan pada sumber atau sesuatu,misalnya: from, of, into, out of. - Makna preposisi

Hasil pengamatan organoleptis menujukkan bahwa bau ketiga jenis salep sesuai dengan bahan tambahan salep dan rasa dari ketiga jenis salep adalah dingin serta

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, penulis melakukan prasurvey di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyyah 1 Metro Pusat pada kelas III Yakub yang terdiri dari 7