125 5.1 Hasil Data Defect Fusstrebe
Dari hasil pembahasan pada bab pengumpulan dan pengolahan data, dapat diketahui beberapa point penting dalam mengetahui jenis-jenis defect yang terjadi dan jenis defect apa yang paling dominan terjadi pada tiap-tiap produk. Dimana dapat diketahui variasi defect yang terjadi pada tiap-tiap produk adalah sama, yaitu : Dimention Problem (Length, Width, Thickness), Dimention of Hole
(Coordinate, diameter), Problem Assy (Parallel and Perpendicularity), Problem Performance Surface (visual defect). Persentase defect setiap komponen Fusstrebe
diuraikan sebagai berikut :
A. Persentase Defect Komponen Trager Fur Fuss : Defect Problem Assy : 62 % Defect Dimension of Hole : 6 % Defect Dimension Problem : 11 % Defect Problem Performance : 21 %
B. Persentase Defect Komponen Traverse U Profil: Defect Problem Assy : 17 % Defect Dimension of Hole : 9 % Defect Dimension Problem : 7 % Defect Problem Performance : 67 % C. Persentase Defect Komponen Klemmstuck :
Defect Problem Assy : 5 % Defect Dimension of Hole : 3 % Defect Dimension Problem : 85 % Defect Problem Performance : 7 %
D. Persentase Defect Komponen Sub Assy Fussplate : Defect Problem Assy : 76 %
Defect Dimension of Hole : 3 % Defect Dimension Problem : 76 % Defect Problem Performance : 12 %
E. Persentase Defect Komponen Sub Assy Profilmitte : Defect Problem Assy : 50 %
Defect Dimension of Hole : 0 % Defect Dimension Problem : 11 % Defect Problem Performance : 39 %
Dari keterangan di atas, maka dapat dilihat jenis defect yang benyak terjadi dilihat secara keseleuruhan produk adalah defect problem assy, dimension problem, dan problem performance. Masalah defect tersebut apabila ditarik ke aspek permasalahan secara global, penyebab kegagalan proses produksi produk
fusstrebe disebabkan oleh 2 faktor utama yakni faktor metode dan faktor manusia. Sehingga diperlukan pemecahan masalah yang berkaitan dengan 2 faktor tersebut.
5.2 Analisa Data Defect Fusstrebe
Dalam proses pengolahan data dilakukan dua jenis pengolahan, yaitu :
Petama, data yang didapat kemudian diteliti jenis defect apa saja yang paling
dominan terjadi pada tiap-tiap produknya, dilihat dari diagram pareto untuk masing-masing produk, setelah itu dibuat peta kendali melihat hasil dari diagram pareto, apabila proses telah terkendali. Kedua, data yang telah didapat dibuat peta kendali berdasarkan jenis-jenis defect yang terjadi, seperti pengolahan yang pertama, apabila proses telah terkendali, maka tidak perlu melakukan analisa pemecahan masalah, akan tetapi jika proses tidak terkendali, maka perlu melakukan analisa pemecahan masalah dengan menjabarkan penyebab masalah kemudian membuat brainstroming solusi dengan tujuan agar merangsang ide-ide dalam menanggulangi problem yang dominan, dengan berkorelasi atas penyebab utama masalah setiap komponen, lalu di bantu dengan metode 5W + 1H (What, Why, When, Where, Who, How). 5W+1H digunakan untuk mencari bagaimana cara untuk menanggulangi masalah yang terjadi yaitu berupa langkah-langkah atau tindakan-tindakan untuk memperkecil terjadinya produk defect yang mengakibatkan kerugian pada perusahaan sekaligus menemukan solusi improvement dari yang tepat sasaran.
Adapun hasil-hasil akhir dari analisa problem setiap komponen fusstrebe adalah sebagai berikut :
1. Analisa Penyebab Utama Problem Assy pada Sub Assy Trager Fur Fuss Trager Fur Fuss merupakan komponen assembling yang terdiri dari 3 part yakni Profilhohe, Tragplatte, dan Fuhrungsplatte yang ketiganya digabungkan dengan proses welding, selama proses welding tidak dilakukan metode yang maksimal, hanya menggunakan manual dengan tangan. Hasilnya banyak masalah pada ketegaklurusan dan kesejajaran pada sub assy Trager Fur Fuss. Antisipasi yang dilakukan oleh produksi selama ini adalah proses rework dengan melepas kembali trager fur fuss tiap bagiannya kemudian menyambungnya kembali, proses ini semakin menurunkan kualitas performance komponen tersebut, dan menghabiskan banyak waktu dan tenaga.
Gambar 5.1 Fusstrebe yang di rework di area konstruksi Brainstorming solusi
Problem assy merupakan kategori masalah yang harus di temukan pemecahan masalahnya dengan perbaikan metode dengan pembuatan alat bantu agar pengelasan tercapai ketegaklurusan dan keparalelannya.
2. Analisa Penyebab Utama Defect Problem Performance Komponen Traverse U
Traverse U yang perlu perhatian adalah lubang pada permukaan Traverse U, terdapat 6 buah lubang yang terdiri dari lubang ø 21 sebanyak 2 pcs dan ø 1,6 sebanyak 4 pcs. Defect banyak terjadi pada lubang ø1,6 karena twist drill yang di pakai sering patah, Sehingga perlu dilakukan re-drilling atau pembuatan chamfer yang besar. Problem performance lain karena adanya benturan atau gesekan, masalah tersebut diantisipasi dengan cara melakukan rework painting ulang dengan membeli cat yang warnanya mirip dengan hasil coating untuk menutupi bagian-bagian yang belum sempat tercoating secara penuh.
Gambar 5.2 Proses Painting Kembali oleh operator
3. Analisa Penyebab Utama Defect Dimension Problem pada Komponen Klemmstuck
Klemmstuck memiliki bentuk yang sedikit rumit karena adanya sudut yang di bentuk. Bentuk profil pada klemmstuck di proses mengunakan mesin CNC dengan, kesalahan banyak di temui pada ukuran pada profil yang tidak
sesuai karena kesalahan tidak cermatnya operator dalam membaca gambar, selain itu pemotongan material mentah dari klemmstuck yang tidak sesuai dengan permintaan menyebabkan, ukuran klemmstuck sebelum di proses sudah tidak masuk.
Brainstorming solusi
Permasalahan lingkungan dan standar kerja operator CNC yang tidak terkendali perlu dilakukannya tindakan dengan mengeluarkan aturan untuk mencegah kejadian tersebut terluang kembali. Harapan adanya konsekuensi tersebut menimbulkan efek jera kepada operator dan profesionalitas dalam bekerja lebih meningkat
4. Analisa Penyebab Utama Problem Assy pada Komponen Fussplate
Fussplate merupakan komponen sub assembling dari fusstrebe yang komponennya adalah standard part yang sudah tersedia di pasaran, antara lain Spindle as drat M20 dan Hex. Nut M 20, kecuali plate yang di buat oleh PT KMIL, plate yang dibuat secara sederhana hanya melakukan pemotongan menggunakan mesin plasma cutting, tanpa meratakan permukaan plate. Efek yang di timbulkan adalah banyaknya defect ketidaklurusan, dan kesejajaran permukaan plate, terdapatnya hasil percikan pengelasan, membuat performance sub assy fussplate menurun.
Brainstorming solusi
Permasalahan sering ditemui pada part plate yang permukaannya out of specification, cara yang di tempuh adalah memperbaiki proses produksi plate
sehingga surfacenya dapat flat sepenuhnya sehingga tidak mengganggu saat pengetapan dan waktu assembling proses dengan standard part.
5. Analisa Penyebab Utama Defect Problem Assy pada Komponen Sub Assy Profilmitte.
Permasalahan yang terjadi di profilmitte karena ketidaklurusan dan keparallelan part saat di welding tidak tercapai, hal ini disebabkan karena cara dalam pemegangan part saat di lakukan pengelasan hanya menggunakan tangan dan di butuhkan alat bantu pencekaman supaya tercapai ketegaklurusan dan keparalelan bidang sub assy profilmitte, selama ini masalah problem assy pada sub assy profilmitte di tanggulangi dengan melakukan proses rework. Pengelasan ulang dan penggerindaan kembali permukaan hasil pengelasan karena cipratan spatter.
5.3 Pemecahan Masalah Defect Fusstrebe yang Dominan
Pada tahap ini merupakan tahap akhir penemuan improvement atau perbaikan dengan metode 5W+1H, setelah mealui proses panjang dari pengumpulan dan pengolahan data dengan tools statistical process control berdasarkan data laporan final inspection, lalu melihat kondisi statistik perhitungan grafik yang menunjukkan defect masih terkendali atau tidak. Selanjutnya melakukan pengumpulan informasi yang diperoleh dari pihak yang bersangkutan, didukung dengan analisa menggunakan diagram sebab akibat (Fishbone), dan dirangkum dengan analisa mengenai penyebab utama terjadinya permasalahan dilanjutkan
mengekplorasi ide-ide lewat brainstroming solusi sesuai dengan penjabaran penyebab utama.
Dari seluruh analisa data dan informasi di atas, maka dapat dilihat jenis defect yang banyak terjadi dilihat secara kesleuruhan produk adalah defect problem assy dan dimension problem Maka dari itu penulis hanya melakukan metode 5W+1H pada 2 jenis defect tersebut. Dalam pembuatannya maksud dari 5W+1H adalah sebagi berikut :
“What” disini diartikan apa yang menyebabkan terjadinya masalah ? “Why” disini diartikan mengapa kesalahan/masalah tersebut terjadi ? “When” disini diartikan kapan masalah itu terjadi ?
“Where” disini diartikan dimana masalah itu terjadi ?
“Who” disini diartikan siapa yang atau factor apa yang menyebabkannya ? “How” disini diartikan bagaimana cara menyelesaikannya ?
Berikut adalah tabel rencana penanggulangan masalah untuk terjadinya produk defect yang didapatkan dari hasil pengolahan data :
Tabel 5.1 Penanggulangan Defect Fusstrebe dengan Metode 5W+1H Penyebab
Dominan What Why When Where Who How
Problem Assy
Pada Sub Assy Trager Fus Fuss
Perpendicularity
dan Parallelism pada komponen yang out spec.
-pencekaman hanya manual dengan tangan
-bidang tegak lurus dan kesejajaran part saat proses pengelasan tidak akurat
Januari s/d November 2014 PT. KMIL Metode
- Perancangan dan Pembuatan Table Jig Fusstrebe untuk mendapatkan ketegaklurusan dan parallel product Fusstrebe yang maksimal.
-Jig dapat di setting sehingga dapat digunakan di berbagai tipe fusstrebe Operator yang baru belum memiliki skill yang mumpuni dalam melakukan pengelasan
-Kurangnya pengalaman atau jam kerja dalam pengelasan.
-Belum maksimalnya training dan penyesuaian pekerjaan Januari s/d November 2014 PT. KMIL Manusia
-Pelatihan materi tentang teori pengelasan
-Training dengan cara pembuatan part yang sederhana
-Pendampingan yang intensif dari leader selama masa training
Dimension Problem pada Klemmstuck Operator Tidak Teliti dalam memeriksa product
-Kurang konsentrasi dan fokus kerja terutama bagi shift malam
-Operator terlalu asyik bermain gadget masing-masing Januari s/d November 2014 PT. KMIL Manusia
-Penetapan aturan baru dengan memberlakukan jam minus bagi operator yang melakukan kesalahan kerja di hitung dari
-Pembuatan aturan dengan melarang operator mengoperasikan HP ketika bekerja
Kurangnya
pengawasan dari Leader CNC
-Leader produksi masih baru dan kurang teliti dalam pengawasan
Januari s/d November 2014 PT. KMIL Manusia
-Pemberian sanksi kepada leader dan dilakukan penilaian khusus karena ketidakseriusan dalam melaksanakan SOP
-Pelatihan training leadership secara maksimal
Problem Assy Pada Sub Assy
Fussplate
Flatness bidang pada plate tidak bagus
Karena tidak dilakukannya proses facing (pemakanan permukaan bidang dengan alat potong)
Januari s/d November 2014 PT. KMIL Metode
-Melakukan perbaikan urutan proses kerja, dengan memberikan proses facing pada base plate
-Pilih supplier bahan baku yang bagus.
Performance bidang plate yang melengkung sejak raw material
Tidak dilakukannya inspeksi dan crosscheck tentang spesifikasi sub assy fussplate Januari s/d November 2014 PT. KMIL Manusia
-Melakukan spesifikasi ulang kebutuhan kualitas fussplate pada customer
5.4 Penerapan Improvement Pada Proses Produksi Fusstrebe Setelah mengetahui bagaimana cara menyelesaikan masalah yang terjadi dalam proses pembuatan fusstrebe lewat metode 5W+1H, pada tahap ini mengulas informasi sejauh mana improvement tersebut di realisasikan oleh PT KMIL
5.4.1 Pembuatan Table Jig Fusstrebe
Konsep desain dari table jig dibuat dengan menyesuaikan produk fusstrebe, dan memungkinkan untuk dapat di setting karena fusstrebe memiliki tipe panjang dan tinggi yang berbeda-beda. Table Jig Fusstrebe mulai di desain sejak bulan oktober 2014 dan di buat pada bulan desember 2014
Gambar 5.4 Table Jig Fusstrebe ketika diaplikasikan 5.4.2 Perbaikan Urutan Proses Facing Pada Plate
Permasalahan permukaan plate yang tidak rata disebabkan tidak adanya proses facing. Alasan tidak melakukan proses facing karena ingin mengefisienkan waktu proses dan memangkas biaya produksi, tetapi kualitas yang diinginkan malah diabaikan.
Gambar 5.5 Foto Plate yang tidak Dilakukan Proses Facing
Standard Operation Procedure yang baru menerapkan langkah antara lain :
1. Setiap operator CNC untuk tetap perhatian dalam mengukur produk sample awal, sebelum program tersebut digunakan sebagai program CNC.
2. Tidak diperkenankan untuk menggunakan handphone ketika bekerja dan mengutamakan kualitas produk.
Agar menimbulkan efek jera bagi ketidaktelitian operator, management dan pihak produksi mengeluarkan aturan untuk diberlakukannya jam minus pada operator jika melakukan kesalahan. Jam minus tersebut di hitung dari tingkat kesalahan yang terjadi dan intensitas yang ditimbulkan dari setiap personal, jam minus tersebut sebagai pengganti overtime yang tidak di bayar.
Gambar 5.6 List Pencatatan Jam Minus Operator 5.5 Hasil Perbaikan
Dari Improvement yang sudah terapkan, perbaikan dilakukan pada 2 aspek dalam industri, yakni aspek metode dan aspek manusia. Perbaikan tersebut mulai dilakukan pada bulan Desember 2014 dan Januari 2015. Untuk data defect tahun
2015 hanya sampai bulan april, sesuai dengan orderan customer. Berikut tabel produksi dan reject tahun 2014 dan tahun 2015 :
Tabel 5.2 Data Produksi Fusstrebe dan Persentase Defect Tahun 2014
Observasi Fusstrebe Waktu Produksi (Dalam Mingguan) Quantity Prod. Total Quantity Defect Persentase Defect 1 Ketten Foerderer Fuss Komplette Jan-01 45 8 17,78% 2 Ketten Foerderer Fuss Komplette Jan-02 43 7 16,28% 3 Ketten Foerderer Fuss Komplette Jan-03 44 9 20,45% 4 Ketten Foerderer Fuss Komplette Jan-04 28 22 78,57% 5 Ketten Foerderer Fuss Komplette Feb-03 76 16 21,05% 6 Ketten Foerderer Fuss Komplette Feb-04 72 15 20,83% 7 Ketten Foerderer Fuss Komplette Mar-01 53 11 20,00% 8 Ketten Foerderer Fuss Komplette Mar-02 34 7 20,59% 9 Ketten Foerderer Fuss Komplette Jun-03 94 19 20,21% 10 Ketten Foerderer Fuss Komplette Jun-04 90 22 24,44% 11 Ketten Foerderer Fuss Komplette Jul-01 87 17 19,54% 12 Ketten Foerderer Fuss Komplette Jul-02 77 15 19,48% 13 Ketten Foerderer Fuss Komplette Jul-03 86 18 20,93% 14 Ketten Foerderer Fuss Komplette Jul-04 162 42 25,93% 15 Ketten Foerderer Fuss Komplette Aug-1 111 22 19,82% 16 Ketten Foerderer Fuss Komplette Aug-2 81 16 19,75% 17 Ketten Foerderer Fuss Komplette Aug-3 84 17 20,24% 18 Ketten Foerderer Fuss Komplette Aug-4 60 11 18,33% 19 Ketten Foerderer Fuss Komplette Sep-01 59 14 23,73% 20 Ketten Foerderer Fuss Komplette Sep-02 45 10 22,22% 21 Ketten Foerderer Fuss Komplette Sep-03 22 18 81,82% 22 Ketten Foerderer Fuss Komplette Oct-1 32 8 25,00% 23 Ketten Foerderer Fuss Komplette Oct-2 35 7 20,00% 24 Ketten Foerderer Fuss Komplette Oct-3 47 9 20,00% 25 Ketten Foerderer Fuss Komplette Oct-4 41 9 21,95% 26 Ketten Foerderer Fuss Komplette Nov-1 34 8 23,53% 27 Ketten Foerderer Fuss Komplette Nov-2 46 11 23,91% 28 Ketten Foerderer Fuss Komplette Nov-3 38 6 15,79%
TOTAL 1726 394
Data hasil inspeksi komponen Fusstrebe Dept. Quality Control 2014
Jumlah produksi tahun 2014 ada 1726 assy fusstrebe. Total defect fusstrebe 394. Persentase defect untuk setiap observasi tahun 2014 adalah 22,83%
Tabel 5.3 Data Produksi Fusstrebe dan Persentase Defect Tahun 2015 Observasi Fusstrebe Waktu Produksi (Dalam Mingguan) Quantity Prod. Total Quantity Defect Persentase Defect 1 Ketten Foerderer Fuss Komplette Jan-01 95 4 4,21% 2 Ketten Foerderer Fuss Komplette Jan-02 85 3 3,53% 3 Ketten Foerderer Fuss Komplette Jan-03 90 5 5,56% 4 Ketten Foerderer Fuss Komplette Jan-04 64 1 1,56% 5 Ketten Foerderer Fuss Komplette Feb-01 34 0 0,00% 6 Ketten Foerderer Fuss Komplette Mar-04 42 2 4,76% 7 Ketten Foerderer Fuss Komplette Apr-01 38 1 2,63% 8 Ketten Foerderer Fuss Komplette Apr-02 38 0 0,00% 9 Ketten Foerderer Fuss Komplette Apr-03 13 0 0,00%
TOTAL 499 16
Data hasil inspeksi komponen Fusstrebe Dept. Quality Control 2015
Sampai bulan april minggu ketiga total produksi fusstrebe sudah mencapai 499 pcs, sesuai dengan data orderan customer, dari data tersebut total jumlah defect adalah 16 pcs. Persentase defect tahun 2015 untuk setiap minggu adalah 3,21 %. Dari hasil formulasi data didapatkan perhitungan persentase defect sebagai berikut :
Tabel 5.4 Data Perbendingan Persentase Defect Tahun 2014 dan Tahun 2015 Percentage Defect 2014 22,83%
Percentage Defect 2015 3,21%
Improvement
19,62%
Data tersebut menunjukkan hasil perbaikan yang dapat dicapai secara kuantitatif, berdasarkan diambil dari persentase rata-rata defect setiap minggu data 2014 dan 2015, improvement yang dapat dicapai dari langkah perbaikan tersebut sebesar 19,62 %. Hasil ini cukup signifikan menurut operator konstruksi adanya
jig welding sangat membantu mereka dalam proses pengerjaan welding, dan adanya aturan baru di CNC membuat karyawan CNC semakin bersungguh-sungguh dalam bekerja walaupun terpaksa.
Penelitian ini memiliki kelebihan dibanding dengan cara inspeksi proses yang dilakukan oleh customer. Data yang diproses dengan statistical process control terukur dan dapat di amati dengan diagram kendali P. Langkah perbaikan yang ambil juga tepat sasaran karena sesuai dengan kondisi defect atau problem yang terjadi yang berada diluar kendali.