16
LANDASAN TEORI
2.1
Barbeque
2.1.1 Pengertian Barbeque (BBQ)
Barbeque atau kepanjangan dari BBQ merupakan sebuah istilah kuliner. BBQ adalah sebuah metode mengolah produk hasil peternakan yakni daging (sapi, kambing, ayam) atau makanan hewani segar lain seperti seafood dengan cara memanaskan daging pada sebuah alat pemanggang dengan media bara api, arang atau charcoal (yang merupakan sebuah jenis batu yang khusus digunakan untuk kegiatan BBQ) (Livestock, 2013).
BBQ memiliki sebuah arti lain yang kita ketahui sebagai jenis produk saus rendam (marinade) daging sebelum proses pemanggangan.
Aktivitas BBQ biasanya dilakukan di luar ruangan (outdoor), misal di taman/kebun, menggunakan kayu bakar atau arang dan di restoran, BBQ biasanya dilakukan menggunakan oven metal yang didesain khusus untuk proses BBQ.
2.1.2 Pola Potongan pada Daging Sapi
Kegiatan utama pada BBQ adalah memanggang, daging sapi menjadi menu utama dalam kegiatan ini walaupun menggunakan variasi makanan hewani segar lain seperti daging ayam, daging ikan, atau pun protein dari laut lainnya juga banyak dijadikan alternatif. Untuk itu pembahasan jenis-jenis daging ini, membantu memahami daging
yang terbaik untuk diolah.Hal yang perlu diperhatikan dalam menyantap daging adalah cara memotong daging pada sapi yang mempengaruhi cara memasak daging. Istilah pada potongan daging sapi menjadi nama pada menu-menu steak. Dibawah ini merupakan potongan pada daging sapi yang menjadi patokan :
Gambar 2.1 Potongan Daging pada Sapi
1) Sirloin
Adalah bagian belakang sapi, daging ini lebih keras dan merupakan bagian yang terbesar dibanding yang lain.
Bagian ini terletak di depansirloin dan di belakang tulang rusuk (rib). Merupakan bagian paling mahal karena mempunyai tekstur lembut dan kandungan lemak yang sedikit.
3) Porterhouse atau T-Bone
Bentuknya menyerupai huruf T dan memisahkan serat daging dengan fillet. Ukuran Porterhouse lebih besar di banding T-Bone.
4) Top Loin / Striploin
Daging porterhouse atau T-Bone yang telah dilucuti tulang nya dan diambil dari bagian tenderloin pilihan
5) Rib Eye
Daging sekitar tulang rusuk, jika disajikan bersama tulangnya maka dinamakan
Rib Eye Steak
6) Eye Steak/ Flank
Daging otot perut. Daging lebih keras dari daging iga, daging dipukul terlebih dahulu sebelum diolah agar lebih empuk
2.1.3 Jenis-Jenis Saus Pelengkap BBQ
Dalam penyajian hasil panggang BBQ, maka daging dilengkapi dengan saus pelengkap. Selain rasa yang terkandung di dalam daging itu sendiri, saus pelengkap memberikan cita rasa lain yang menambah cita rasa dari daging panggangan itu
sendiri. Berikut ini beberapa jenis saus yang biasa melengkapi hasil panggang BBQ (Okefood, 2013) :
1) Bearnaise Sauce
Kerap kali dipakai di Prancis karena di sanalah tempat kelahiran saus
bearnaise. Masyarakat Prancis sering menamakan saus ini dengan "saus
romantis" karena creamy dan rasanya gurih asam. Saus bernaise dibuat dari mentega cair, kuning telur, cuka, dan rempah-rempah.
2) Mushroom Sauce
Saus krimini dibuat dari jamur, butter, cream pepper, dan rempah-rempah
3) BBQ Sauce
Saus ini ditemukan oleh Columbus.Memiliki rasa pedas-manis, dibuat dari pasta tomat, vinegar, liquid smoke, lada dan gula.
4) Rattle Snake Sauce
Dibuat dari racikan jalapeno, mustard, tobasco, dan rempah-rempah. Namanya yang eksentrik diambil dari jenis ular berderik. Dikarenakan rasa pedas saus yang mendominasi
5) Teriyaki Sauce
Saus ini dibuat dari kecap asin, cuka jepang, dan gula yang dibuat dengan perbandingan 1:1.
6) Pesto Sauce
Saus dari Italia ini merupakan khas masyarakat Genoa yang sudah dikenal sejak zaman Romawi Kuno. Pesto diracik dari daun basil, minyak zaitun, keju parmesan dan kacang pistachio
7) BlackpapperSauce
Saus berbahan dasar dari lada hitam mulai dikenal sebagai salah satu bahan masakan pada 1840 oleh bangsa Eropa.
2.1.4 Alat Perlengkapan BBQ
Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan BBQ yang baik dibutuhkan perlengkapan BBQ yang dapat mempermudah baik dari kelancaran kegiatan dan kehigienisannya. Berikut adalah beberapa perlengkapan inti untuk melaksanakan kegiatan BBQ:
1) Alat pemanggang / Grill
Gambar 2.2 Alat Pemanggang BBQ (Google, 2014)
Ada 2 jenis alat pemanggang, menggunakan gas atau di sebut juga dengan Gas
BBQ Grill, ada juga yang charcoal BBQ grill, menggunakan arang/charcoal.
Gambar 2.3 Spatula (Google, 2014)
Berfungsi untuk membalikkan daging-daging yang ditaruh diatas pemanggang. 3) Garpu BBQ
Gambar 2.4 Garpu BBQ (Google, 2014)
Berfungsi memindahkan daging yang besar, maupun membolak-balikan daging.
4) Alat penjepit Stainless
Gambar 2.5 Penjepit Stainless (Google, 2014)
Berfungsi untuk mengambil daging – daging yang sudah matang di atas pemanggang
5) Kuas BBQ
Gambar 2.6 Kuas BBQ (Google, 2014)
Alat ini berfungsi untuk mengolesi bumbu pada daging yang akan di panggang
2.2 The 9 Building Blocks
Berdasarkan buku Business Model Generation (Alexander Osterwalder &Yves Pigneur, 2010) dalam membuat bisnis model sebaiknya didahului oleh 9 basic
building blocks. Dengan membuat 9 Building blocks, akan diperoleh gambaran yang
lebih jelas mengenai strategi yang cocok diterapkan dalam bisnis yang akan dilakukan. 9 Building blocks terdiri dari: customer segments, value propositions,
channels, customer relationships, revenue streams, key resources, key activities, key partnerships, dan cost structure merupakan kerangka utama yang harus dimiliki
sebelum melakukan bisnis model ini.
2.2.1 Customer Segments
Pasar merupakan sekumpulan pelanggan (customer) yang memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda satu dengan yang lainnya (Osterwalder dan Pigneur, 2010). Hal ini tentunya dapat menyulitkan perusahaan untuk memenuhi semua keinginan pelanggan.
Kotler dan Keller (2011) memiliki pandangan bahwa segmentasi pasar adalah sebuah proses pembagian pasar menjadi beberapa segmen yang memiliki karakteristik sejenis berdasarkan kriteria tertentu seperti geografis, demografis, psikografis, dan perilaku.
Dengan membagi pasar menjadi segmen-segmen maka perusahaan dapat memilah konsumen dan mencermati segmen manakah yang berpotensi untuk dikembangkan. Maka dari itu proses dari segmentasi tersebut akan membantu perusahaan guna membuat value proposition yang sesuai dengan preferensi konsumen sehingga jasa yang ditawarkan akan lebih mudah diterima.
Menurut Osterwalder dan Pigneur konsumen disegmentasikan jika :
1) kebutuhan mereka memerlukan dan menginginkan penawaran yang berbeda 2) dibedakan berdasarkan pencapaian saluran distribusinya
3) konsumen membutuhkan bentuk kerjasama yang berbeda 4) secara substansial berbeda kemampuan profitabilitasnya 5) mereka bersedia membayar sisi lain dari sebuah penawaran.
2.2.2 Value Propositions
Value Proposition adalah kumpulan manfaat yang perusahaan tawarkan
kepada konsumen (Osterwalder dan Pigneur, 2010). Value Propositions merupakan satu keunikan yang menentukan mengapa produk atau jasa tersebut pantas dipilih oleh pelanggan. Value Propositions ini memberi tawaran untuk memecahkan masalah pelanggan dan memenuhi keinginan pelanggan. Keunikan yang ditawarkan ini
haruslah sesuatu yang menonjol berbeda dibanding dengan pesaing, namun juga harus sesuatu yang betul-betul didambakan oleh Customer Segment ini.
2.2.3 Channels
Menurut Osterwalder dan Pigneur (2010), channels merupakan media di mana perusahaan dapat menyalurkan produknya (value proposition) kepada konsumen (customer segments). Channel membantu perusahaan sebagai sebuah sarana untuk menyampaikan Value Proposition yang dimaksud. Terdapat lima fase channel, yaitu
awareness, evaluation, purchase, delivery, dan after sales.
1. Awareness
Awareness channel bertujuan untuk meningkatkan awareness
konsumen terhadap perusahaan dan pelayanan yang ditawarkan.Dengan konsep awareness yang digunakan adalah viral marketing, maka penggunaan sosial media sebagai channel utama.
2. Evaluation
Evaluation channel bertujuan untuk memberikan bantuan kepada
konsumen di mana mereka dapat menyampaikan tanggapan mengenai layanan yang diberikan.Forum online dan customer service merupakan evaluation
3. Purchase
Purchase channel merupakan cara pembayaran yang dapat dilakukan
oleh konsumen atau siapa saja yang menggunakan jasa pelayanan yang terdapat pada perusahaan tersebut.
4. Delivery
Delivery channel adalah channel yang dipergunakan untuk
menyampaikan value preposition yang ditawarkan oleh perusahaan kepada konsumer.Layanan perusahaan di bidang jasa menjadikan delivery channel penting untuk diperhatikan serta dikembangkan.
5. After sales
After sales channel adalah channel yang dipergunakan oleh
perusahaan untuk memberikan bantuan kepada para konsumen yang telah membeli produk atau jasa dari perusahaan tersebut.
2.2.4 Customer Relationships
Customer relationships menjelaskan tipe hubungan yang dibangun oleh
perusahaan dengan masing-masing customer segments. Customer relationships bertujuan untuk memperoleh konsumen baru, repeat buying oleh konsumen, dan menambah penjualan. Terdapat 6 jenis hubungan yang dapat terjadi antara perusahaan dengan customer segments jika merujuk pada Osterwalder dan Pigneur
(2010) yaitu: Personal assistance, Dedicated personal assistance, Self-service,
Automated services, Communities, dan Co-Creation.
2.2.5 Revenue Streams
Berdasarkan Osterwalder dan Pigneur (2010), revenue streams menggambarkan jumlah pendapatan yang diperoleh perusahaan dari masing-masing customer segment.
Dalam bisnis model, terdapat dua jenis revenue streams yaitu:
1) Pendapatan transaksi yang berasal dari pembayaran konsumen biasa 2) Pendapatan berulang (recurring) yang berasal dari pembayaran konsumen
langganan, atau layanan pasca-pembelian untuk konsumen.
Terdapat beberapa cara untuk memperoleh revenue streams, yakni penjualan aset, penggunaan jasa oleh konsumen, biaya berlangganan, biaya penyewaan, lisensi, biaya perantara (antar dua pihak), dan periklanan.
Masing-masing revenue stream memiliki mekanisme harga yang berbeda. Mekanisme harga yang dipilih akan berpengaruh terhadap pendapatan yang diperoleh perusahaan. Terdapat dua macam mekanisme harga menurut Osterwalder dan Pigneur (2010), yakni:
1) Fixed menu pricing, di mana harga ditentukan berdasarkan variabel statis. 2) Dynamic pricing, di mana harga dapat berubah, ditentukan dengan
2.2.6 Key Resources
Menurut Osterwalder dan Pigneur (2010), setiap bisnis model membutuhkan
key resources, yaitu faktor-faktor penting yang dibutuhkan perusahaan dalam
menjalankan bisnis agar dapat berjalan dengan sukses. Key resources yang dibutuhkan tiap perusahaan berbeda-beda tergantung oleh bidang bisnis mereka.
Key resources dapat dikategorikan menjadi fisik contohnya bangunan, kendaraan,
mesin, jaringan distribusi; intelektual contohnya merk, pengetahuan, hak paten dan
copyright, kemitraan; sumber daya manusia, dan finansial contohnya kas dan stok
saham.
2.2.7 Key Activities
Key activities adalah kegiatan-kegiatan penting dalam operasional yang
dilakukan oleh perusahaan untuk menjalankan bisnis (Osterwalder dan Pigneur, 2010). Seperti key resources, key activities bertujuan untuk menghasilkan value
proposition, dikenal pasar, menjaga customer relationships, dan memperoleh revenue.
Key activities tiap perusahaan berbeda-beda bergantung oleh jenis usaha
perusahaan itu sendiri. Key activities dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu proses produksi, problem solving, dan platform/network. Perusahaan dengan key activities produksi bekerja dalam mendesain, membuat, dan mengantar produk mereka. Perusahaan dengan key activities problem solving bekerja untuk menemukan solusi bagi tiap permasalahan konsumer. Sedangkan perusahaan dengan key activities
2.2.8 Key Partnerships
Key partnerships menggambarkan hubungan antara partner atau supplier dan buyer guna menjaga keberlangsungan bisnis tersebut (Osterwalder dan Pigneur,
2010). Terdapat empat tipe partnership, yaitu:
1) Aliansi antara perusahaan non-kompetitor 2) Coopetition: partnership antara kompetitor 3) Joint ventures untuk membuat bisnis baru
4) Hubungan buyer-supplier untuk menjamin ketersediaan supply.
Osterwalder dan Pigneur (2010) menjabarkan tiga alasan perusahaan menjalin kemitraan, yakni:
1. Optimalisasi dan skala ekonomi
Relasi yang terjalin antara buyer dan supplier bertujuan untuk menciptakan pengalokasian sumber daya dan juga aktifitas yang ada seoptimal mungkin. Selain itu, optimalisasi dan skala ekonomi biasa juga berlanjut hingga adanya pengurangan atau penurunan biaya dan sering juga memiliki infrasuktur yang digunakan bersamaan.
2. Mengurangi resiko dan ketidakpastian
Kemitraan dapat mengurangi resiko dalam lingkungan persaingan yang identik dengan ketidakpastian.
Kemitraan bisa juga dimotivasi guna mengakuisisi suatu sumber daya tertentu daripada mereka harus membuat atau meriset sendiri, yang tentunya memakan waktu dan biaya.
2.2.9 Cost Structure
Menurut Osterwalder dan Pigneur (2010), cost structure memperkirakan jumlah biaya yang dibutuhkan perusahaan untuk menghasilkan produk atau jasa. Biaya ini dapat dihitung setelah menentukan Key Resources, Key Activities, dan Key
Partnerships.
Terdapat dua jenis cost structure bisnis model, yakni cost-driven yang fokus meminimalkan biaya sebisa mungkin, dan value-driven yang fokus menciptakan
value produk.
Beberapa karakteristik cost structure berdasarkan Osterwalder dan Pigneur (2010) adalah:
1. Fixed costs
Fixed cost atau biaya tetap merupakan biaya yang tidak berubah,
berapapun jumlah produk atau jasa yang dihasilkan. Contohnya adalah gaji, biaya sewa, fasilitas pabrik, dll.
2. Variable costs
Variable costs atau biaya tidak tetap merupakan biaya yang
3. Economies of scale
Economies of scale atau skala ekonomi merupakan penurunan biaya
yang digunakan sebagai akibat meningkatnya hasil produksi.
4. Economies of scope
Economies of scope merupakan penurunan biaya yang digunakan
sebagai akibat bartambah luasnya area operasi.
Untuk struktur pembiayaan sendiri terdiri dari tiga komponen yaitu setup cost, bahan baku , serta biaya operasional. Setup cost adalah dana yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis model ini.
2.3 The Business Model Canvas
Sebuah model bisnis adalah gambaran mengenai manajemen strategis untuk pengembangan baru ataau mendokumentasikan bisnis model yang ada. Disini untuk menggambarkan proposisi nilai perusahaan, infrastruktur, pelanggan serta keuangan. Proses ini sangat membantu perusahaan dalam menyeimbangkan kegiatan mereka. Menurut Osterwalder dan Pigneur (2010) Pengertian business model adalah cara rasional tentang bagaimana sebuah organisasi didirikan, disampaikan dan digambarkan dalam sebuah nilai. Cara penggunaan The Business Model Canvas adalah dengan mencetak kertas dalam skala besar sehingga kelompok dapat bertukar pikiran di mulai dengan membuat sketsa serta mendiskusikan setiap elemen dalam model bisnis tersebut, caranya dengan menempelkan post it, menulis dengan spidol untuk mendorong sebuah diskusi, kreatifitas dan analisis.
Gambar 2.7 The 9 Building Blocks (Business Model Generation, 2010)
2.4 Teori Porter 5 Forces
Porter Five Forces Model adalah suatu kerangka kerja yang digunakan untuk
menganalisa tingkat persaingan di lingkungan industri perusahaan yang dibagi kedalam lima sisi kekuatan yaitu ancaman produk pengganti, kekuatan tawar – menawar pembeli, kekuatan tawar menawar pemasok, ancaman pendatang baru, dan persaingan diantara industri sejenis (Porter, 1998).
Gambar 2.8 Five Forces Analysis
Sumber : dikutip dari Michael E.Porter, “How Competitive Forces Shape
Strategy,”Harvard Business Review 57 no. 2 ( March – April 1979) dan Michael
Porter, “The Five Competitive Forces That Shape Strategy,” Harvard Business
Review 86, no. 1 (Januari 2008).
Persaingan dalam suatu industri tidak hanya terbatas pada pemain konvensional yang ada. Produk pengganti, pembeli, pemasok, serta pendatang baru potensial, semuanya merupakan pesaing bagi perusahaan-perusahaan dalam industri. Kelima kekuatan persaingan di atas secara bersama-sama menentukan intensitas persaingan dalam sebuah industri, dan kekuatan yang paling besar akan sangat menentukan serta menjaadi sesuatu yang penting dari sudat pandang perumusan strategi.
1) Ancaman Dari Produk Pengganti (Threat of Substitute Products or Services) Semua perusahaan dalam suatu industri bersaing dengan produk pengganti, walaupun terdapat perbedaan karateristik, barang substitusi dapat memberikan fungsi atau jasa yang sama. Ancaman dari produk pengganti ini tinggi jika konsumen biaya yang harus dikeluarkan antara produk pengganti dan produk kita sangat tipis, maksudnya produk penganti memiliki harga yang lebih murah atau kualitasnya sama bahkan lebih tinggi dari produk-produk suatu industri.
2) Kekuatan Tawar Menawar Pembeli (Bargaining Power of Buyer)
Para pembeli biasanya akan membeli barang yang termurah yang dapat diperolehnya. Untuk mengurangi biaya mereka, biasanya pembeli meminta kualitas yang lebih tinggi, pelayanan yang terbaik, dan tentu saja harga yang lebih murah. Tindakan ini akan menyebabkan persaingan yang kuat di antara perusahaan yang ada dalam suatu industri yang sama. Biasanya kekuatan tawar menawar pembeli tinggi jika :
Pembeli membeli dalam jumlah besar
Produk yang dibeli adalah produk standar dan tidak terdiferensiasi Pembeli memperoleh laba yang rendah
Produksi Industri adalah tidak terlalu penting untuk produk dan jasa pembeli
Pembeli menempatkan suatu ancaman melakukan integrasi ke hulu untuk membuat produk industri
3) Kekuatan Tawar Menawar Pemasok (Bargaining Power ofSupplier)
Pemasok dapat menekan perusahaan yang ada di dalam suatu industri dengan cara menaikan harga serta menurunkan kualitas barang yang dijualnya. Jika perusahaan tidak dapat menutupi kenaikan biaya melalui struktur harganya, maka pendapatan laba perusahaan tersebut dapat menurun karena tindakan pemasok tadi. Kekuatan tawar menawar pemasok tinggi jika :
Hanya ada beberapa perusahaan Produknya unik
Industri tersebut bukanlah pelanggan yang penting dari pemasok Pemasok memperlihatkan ancaman untuk melakukan integrasi hilir 4) Ancaman Pendatang Baru (Threats of New Entrants)
Pendatang baru dalam industri biasanya mengancam pesaing yang ada disebabkan karena pendatang baru seringkali; (1) membawa kapasitas baru, (2) ingin merebut pangsa pasar yang ada, (3) memiliki sumberdaya yang besar. Maka akan ada sebuah persaingan yang baru yang dihadapi perusahaan terdahulu.
Kemungkinan perusahaan memasuki suatu industri adalah fungsi dari dua faktor yaitu; (1) hambatan memasuki industri dan (2) reaksi dari perusahaan yang sudah ada. Apabila hambatan untuk masuk masih tinggi, dan pendatang baru mendapatkan reaksi yang tajam dari pemain lama dalam industri maka pendatang baru tersebut tidak menimbulkan suatu ancaman masuk yang serius.
Menurut sebuah jurnal : Invented competitor :a new competitor analysis
methodology oleh Liam Fahey memberikan sebuah pengertian apa itu invented competitor, yang ada pengaruhnya dengan ancaman akan pendatang
baru. Menurut Liam Fahey invented Competitor adalah pesaing yang bisa muncul di masa depan tetapi masih belum ada pada saat ini.
5) Ancaman Dari Industri Sejenis (Rivalry Among Existing Competitors)
Rivalitas di kalangan pesaing yang ada berbentuk perlombaan untuk mendapatkan posisi dengan menggunakan taktik seperti persaingan harga, pengiklanan secara besar-besaran, introduksi produk, dan meningkatkan pelayanan dan jaminan kepada pelanggan. Persaingan terjadi karena satu atau lebih pesaing merasakan adanya tekanan atau melihat peluang untuk memperbaiki posisi. Gerakan persaingan oleh satu perusahaan mempunyai pengaruh besar terhadap pesaingnya dan dengan demikian dapat mendorong perlawanan atau usaha untuk menandingi gerakan tersebut.
Menurut Thompson et al. (2011) Intensitas persaingan antara pelaku bisnis tinggi jika :
Permintaan konsumen terhadap produk dan jasa mengalami pertumbuhan yang lambat
Permintaan konsumen mengalami penurunan secara drastis dan para penjual masih memiliki persediaan stok barang yang melebihi kapasitas
Para pelaku bisnis secara aktif selalu melakukan langkah baru untuk mendapatkan posisi pada pasar mereka. Seperti yang sudah dijelaskan di awal, pelaku bisnis dapat melakukan dengan cara melakukan inovasi, penurunan harga, persaingan harga, pengiklanan secara besar-besaran, promosi penjualan, pilihan produk yang lebih variatif dan meningkatkan mutu pelayanan.
Didalam suatu industri terdapat pesaing yang masing-masing dari mereka memiliki kekuatan atau daya saing yang seimbang.
Konsumen tidak membutuhkan biaya yang besar untuk berpindah dari merek yang satu ke merek lainnya
Produk dari pesaing menjadi produk yang semakin standarisasi sebagai produk komoditi dan tidak identik atau sulit di tiru.
Jika kompetitor tidak merasa puas dengan posisi di dalam pangsa pasar mereka sehingga mereka melakukan langkah agresif seperti : pemotongan harga, memberikan diskon spesial, pinjaman bunga rendah atau tidak berbunga, lebih gencar melakukan kegiatan promosi dan iklan, melakukan merger dengan kompetitor lain untuk mendapatkan kekuatan yang lebih besar
Kompetitor mulai menggunakan objektif dan strategi yang sangat berbeda dari konsep atau peraturan umum dalam mencapai pangsa pasar baru.
Pelaku bisnis pasar yang berasal dari luar industri melakukan akuisisi terhadap perusahaan lemah di dalam lingkungan industry dan mentranformasikan perusahaan tersebut menjadipesaing yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
2.5 Feasibility
Feasibility Study adalah dokumen yang berisi penjelasan kelayakan suatu
jenis usaha yang akan dikembangkan. Studi ini mencakup Business Plan yang menganalisa berbagai macam solusi dan rekomendasi terhadap berbagai kemungkinan persoalan dan tantangan sebelum usaha tersebut dijalankan. Dalam mempersiapkan Feasibility Study kita harus mengasumsikan bahwa pembaca tidak mengenal usaha kita dan perkembangan industrinya. Referensi mengenai industri dari usaha yang akan dikembangkan baik dalam bentuk kliping atau surat keputusan pemerintah perlu dilampirkan. Feasibility Study harus mencantumkan informasi mengenai operasi perusahaan
sebagai berikut:
1) Tipe organisasi atau perusahaan yang berisi jenis perusahaan atau badan hukumnya
2) Referensi tanggal informasi yang berupa tanggal informasi dikeluarkan atau diperoleh lokasi usaha
3) Produk atau jasa yang dihasilkan 4) Ringkasan sejarah perusahaan
5) Kegiatan operasional yang diusulkan 6) Kompetisi usaha
7) Pelanggan 8) Para supplier
2.6 Finance Management
Finance mempelajari bagaimana individu, bisnis, dan/atau organisasi
meningkatkan, mengalokasikan, dan menggunakan sumber daya moneternya sejalan waktu serta menghitung resiko dalam menjalankan proyek mereka.
2.6.1 Biaya
Menurut Mulyadi (2005), Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi, sedang terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.
Biaya Pemasaran
Menurut Mulyadi (2005) biaya pemasaran dalam arti sempit dibatasi artinya sebagai biaya penjualan, yaitu biaya – biaya yang dikeluarkan untuk menjual produk ke pasar. Sedangkan biaya pemasaran dalam arti luas meliputi semua biaya yang terjadi sejak saat produk selesai diproduksi dan disimpan dalam gudang sampai dengan produk tersebut diubah kembali dalam bentuk uang tunai.
Biaya Promosi
Menurut Philip Kotler yang dialihbahasakan Benyamin Molan (2010), Biaya promosi adalah sejumlah biaya yang dikeluarkan untuk promosi.
Biaya Layanan Konsumen
Menurut Philip Kotler (2010), Biaya layanan konsumen adalah sekumpulan biaya yang dikeluarkan untuk mengevaluasi, mendapatkan, dan menggunakan produk atau jasa tersebut.
2.6.2 Laporan Keuangan
Menurut Munawir (1998), Laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak – pihak yang berkepentingan yang menggunakan data atau aktivitas perusahaan tersebut. Pihak – pihak yang berkepentingan tersebut dapat berupa manajemen perusahaan, pemilik perusahaan, kreditur, investor, karyawan, lembaga pemerintah dan masyarakat umum.
Menurut Tandelilin (2001), jenis – jenis laporan keuangan berdasarkan informasi yang dikandungnya dapat dibagi dalam tiga laporan keuangan, yaitu :
1. Neraca
Neraca adalah laporan keuangan yang menggambarkan kondisi finansial perusahaan pada suatu waktu tertentu.
Dalam kenyataannya, bisa saja satu hari setelah disusun kondisi keuangan perusahaan sudah mengalami perubahan.Neraca merupakan laporan mengenai
aktiva, kewajiban dan ekuitas perusahaan pada suatu waktu tertentu, dimana penyusunan aset dalam neraca disusun berdasarkan likuiditasnya, sedangkan penyusunan kewajiban dalam neraca disusun berdasarkan jangka waktu jatuh temponya. Laporan posisi keuangan harus seimbang antara total aktiva dan total gabungan dari kewajiban dan ekuitas.
2. Laporan Rugi Laba
Laporan rugi laba adalah ringkasan profitabilitas perusahaan selama periode waktu tertentu, yang menunjukkan penghasilan yang diperoleh, biaya yang dikeluarkan dan elemen – elemen lain pembentuk laba dalam periode waktu tertentu. Laporan ini mencerminkan perbedaan antara penghasilan dan biaya sehingga menghasilkan keuntungan ataupun kerugian bersih perusahaan.
Dalam laporan tersebut, ada pengelompokan biaya seperti : o Biaya produksi
Berkaitan dengan biaya – biaya yang langsung terkait dengan aktivitas produksi barang – barang dan jasa yang akan dijual perusahaan.
o Biaya administrasi dan umum
Berkaitan dengan biaya overhead, biaya gaji, pengiklanan, dan biaya lainnya yang tidak terkait langsung dengan biaya produksi barang dan jasa.
o Biaya bunga
Berkaitan dengan biaya yang harus dikeluarkan sebagai konsekuensi penggunaan utang.
o Biaya pajak penghasilan
Berkaitan dengan kewajiban perusahaan untuk membayar sejumlah pajak kepada pemerintah. Bagi investor, informasi laba tersebut dapat dijadikan sebagai dasar dalam menilai tingkat pengembalian investasi yang dilakukan (tingkat pengembalian terhadap investasi – ROI), atau seberapa besar pendapatan yang akan diperoleh dari setiap saham yang dibeli investor. Tetapi laporan rugi laba tersbeut tidak dapat menggambarkan kecenderungan keuangan perusahaan di masa yang akan datang, untuk itu diperlukan adanya perbandingan laporan beberapa tahun sebelumnya secara berurutan.
3. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas merupakan laporan yang memuat aliran kas yang berasal dari tiga sumber yaitu :
1. Operasional perusahaan
Menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas seperti melunasi hutang, pembiayaan operasional perusahaan, pengumpulan kas yang berasal dari konsumen, dan arus kas baik masuk ataupun keluar lainnya dari aktivitas operasi perusahaan.
Menunjukkan arus kas yang keluar dan masuk perusahaan yang berkaitan dengan kegiatan investasi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan di masa mendatang.
3. Aktivitas finansial
Menunjukkan arus kas yang keluar dan masuk perusahaan dari para investor, kreditur, atau pemilik perusahaan.
2.6.3 Alat Analisis Investasi
Dalam menjalankan usaha pada umumnya menggunakan metode – metode penilaian investasi yang diantaranya adalah dengan menggunakan metode :
1. Payback Period
Menurut Husain Umar (2000), Payback period adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi (initial
cash investment)
Menurut F Weston dan E. F Bringham (1993), Payback period adalah jumlah tahun yang dibutuhkan agar pengembalian – pengembalian yang diterima menyamai jumlah yang diinvestasikan.
Untuk mengetahui sejauh mana investasi itu kembali, maka dirumuskan sebagai berikut :
Payback Period = initial investment x 1 tahun cash flow
Jika payback period > umur ekonomis, investasi ditolak sedangkan jika payback period < umur ekonomis, investasi diterima.
2. Net Present Value
Mengacu kepada pendapat Umar, H. (2007), Net Present Value yaitu selisih antara Present Value dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan – penerimaan kas bersih ( aliran kas operasional maupun aliran kas terminal ) di masa yang akan datang.
Warren, C.S., Reeve, J.M., Fess, P.E. (2002), berpendapat bahwa “Net
Present Value method analyzes capital investments proposals by comparing the initial cash with the present value of the net cash flows. It is sometimes called the discounted cash flow method”
Menurut Kasmir dan Jakfar (2003), Net Present Value (NPV) atau nilai bersih sekarang merupakan perbandingan antara PV kas bersih
(PV of Proceed) dengan PV investasi (Capital Outlays) selama umur
investasi.Selisih antara niai kedua PV itulah yang dikenal dengan Net
Present Value (NPV). Menurut Arthur J Keown (2005) Net Present Value dari proposal investasi yang sebanding dengan present value
Dimana :
CFt = Free Cash Flow per tahun dalam periode t r = Sesuai dicount rate (required rate of return) CFo = Initial Cash Outlay
Τ = The project’s expected life Kriteria NPV :
Jika NPV (+), investasi diterima Jika NPV (-), investasi ditolak
3. Internal Rate of Return
Mengacu kepada pendapat Umar, H. (2007), metode Internal Rate of
Return (IRR) adalah metode yang digunakan untuk mencari tingkat
bunga yang menyamakan 26 nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan di masa datang, atau penerimaan kas, dengan mengeluarkan investasi awal.
Warren, C.S.,Reeve, J.M.,Fess, P.E. (2002), menyatakan bahwa
“Internal Rate of Return method uses present value concepts to compute the rate of return from the net cash flows expected from capital investment proposal. This method is sometimes called the time-ajdusted rate of return method.”
Net Present Value kadang kurang lengkap untuk digunakan sebagai
satu – satunya penilaian investasi. Karena dalam nilai sekarang penanaman lebih besar dari jumlah investasi awal.Tetapi kelebihan
dari hasil di atas investasi awal secara presentase tidak diketahui, oleh karena itu perusahaan ingin mengetahui presentase dari pengambilan penanaman setelah dikonversi kedalam nilai sekarang.
Rumus dari Internal Rate of Return (IRR) adalah sebagai berikut : Metode ini diterapkan dengan prosedur :
1. Mencari Net Present Value dari investasi.
2. Apabila nilai sekarang bersih positif, maka tingkat hasil dinaikkan sampai menunjukkan nilai sekarang bersih negatif. Atau sebaliknya apabila nilai sekarang bersih negatif, maka tingkat hasil sampai nilai sekarang bersih positif.
Menurut H.M Yacob ibrahim (1997), kriteria penilaian dengan menggunakan metode ini adalah bila nilai IRR yang didapat lebih besar dari tingkat bunga udang yang berlaku dalam masyarakat, maka investasi diterima.Dan sebaliknya, bila nilai IRR lebih kecil dari tingkat bunga yang berlaku dalam masyarakat, maka investasi ditolak.
2.7
Teori Pemasaran
2.7.1 Pengertian PasarMenurut Kotler dan Amstrong (2008), Pasar memiliki arti seperangkat aktual dan kemampuan pembeli dari sebuah produk .
Menurut Kotler, Bowen dan Makens (2002) pasar terdiri dari pembeli dan pembeli berbeda-beda dalam berbagai hal yang bisa membeli dalam keinginan, sumber daya, lokasi, sikap membeli, dan kebiasaan membeli.
Menurut sebuah jurnal marketing analysis toolkit : market size and Market
Share analysis oleh Thomas Steenburgh dan Jill Avery yang menjelaskan pemahaman
pasar sebelum mengetahui sasaran pasar.
Pasar Potensial adalah himpunan konsumen yang memiliki minat dalam produk
berpotensi relevan. Namun, konsumen di pasar potensial mungkin tidak mampu
menerjemahkan kepentingan mereka untuk penjualan, pendapatan tertentu dan
kendala akses pasar. Atau bahkan meskipun produk tersebut berpotensi relevan untuk
mereka, mereka mungkin tidak menyadari ketersediaannya karena komunikasi
pemasaran yang buruk.
Ketersediaan Pasar adalah himpunan konsumen yang memiliki minat, pendapatan, dan akses pasar untuk produk tertentu.
2.7.2 Pengertian Pemasaran
Menurut Kotler dan Amstrong, pemasaran adalah sebuah proses perusahaan menciptakan nilai untuk konsumennya dan membangun hubungan yang kuat dengan konsumen dengan tujuan untuk menciptakan keuntungan dari konsumen.
2.7.3 Pengertian Strategi Pemasaran
Strategi Pemasaran menurut Kurtz (2008) adalah sebuah keseluruhan program perusahaan untuk menentukan target pasar dan memuaskan konsumen dengan membangun kombinasi elemen dari bauran pemasaran, distribusi, promosi, dan harga. Kegiatan pemasaran yang selama ini dikenal hanya sekedar memberikan informasi dan membeli sebuah produk padahal menurut Kotler dan Amstrong, (2008) pemasaran tidak hanya berkutat pada “telling and selling” tapi lebih dari itu, pemasaran menurut mereka secara singkat adalah “new sense of satisfying customer
needs”. Pengertian pemasaran menurut Kotler dan Gary Amstrong dalam buku nya
Principles of Marketing adalah :
“The Process by which companies create value for customer and build strong
customer relationship inorder to capture value from customer in return”
Jadi kegiatan pemasaran, lebih besar maknanya apalagi jika sudah bersinggungan dengan kebutuhan seseorang, tidak hanya cukup dengan sebuah produk terbeli tapi bagaimana konsumen memberikan nilai tersendiri kepada produk tersebut, sehingga akhirnya menjadi loyal terhadap sebuah produk bahkan perusahaannya.
Perusahaan menyiapkan strategi pemasaran dengan memilih segmen konsumen terbaik yang dapat menciptakan keuntungan yang sebesarnya. Proses ini meliputi
1) Market Segmentation
Segmentasi yang lengkap membutuhkan biaya yang tinggi, dan kebanyakan pelanggan tidak dapat membeli produk yang benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan.Untuk itu, perusahaan mencari kelas-kelas pembeli yang lebih besar dengan kebutuhan produk atau tanggapan membeli yang berbeda-beda.Segmen pasar menurut Kotler dan Amstrong (2008) adalah membagi sebuah pasar menjadi grup-grup pembeli dengan keinginan, karateristik, atau perilaku yang berbeda-beda. Pembagian pasar menurut Kottler :
a. Geografik
Segmentasi geografik adalah membagi kesuruhan pasar menjadi kelompok homogen berdasarkan lokasi. Pendekatan ini membantu mengidentifikasi secara umum akan kebutuhan konsumen di suatu lokasi, walaupun sebenarnya lokasi geografis tidak menjamin bahwa semua konsumen di lokasi tersebut mempunyai keputusan pembelian yang sama.
b. Demografis
Segmentasi dari demografis dibagi menjadi :
1) Usia : Kebutuhan dan keinginan konsumen berubah seiring usia 2) Jenis Kelamin : membagi pasar sesuai jenis kelamin
3) Pendapatan : Membagi pasar sesuai kelompok pendapatan yang berbeda-beda
c. Psychographic
Membagi pasar berdasarkan kelas sosial, gaya hidup, dan karateristik pribadi.
d. Tingkah Laku
Membagi pasar berdasarkan pengetahuan konsumen, sikap, dan respon terhadap produk.
2) Market Targeting
Setiap perusahaan dapat masuk ke dalam satu atau beberapa segmen pasar.Setelah perusahaan mendefinisikan segmen pasar, Market Targeting mengevaluasi ketertarikan dari masing-masing segmne dan memilih segmen pasar.
3) Positioning
Positioning adalah Memposisikan suatu produk dengan jelas, tepat, dan
berbeda untuk bersaing di pikiran target konsumen .
4) Differentiation
Differentiation adalah membuat suatu perbedaan kepada target konsumen
dengan menciptakan nilai yang berbeda di pikiran konsumen.
2.7.4 Bauran Pemasaran
Logikanya setelah mengetahui bidikan pasar untuk mendapatkan target pasar yang diinginkan, harus ada rencana detail dalam bauran pemasarannya. Menurut Kottler (2008), bauran pemasaran adalah seperangkat taktik pemasaran yang dapat di
kontrol meliputi produk, harga, tempat, dan promosi yang di padukan perusahann untuk menciptakan respon dari target pasarnya. Empat bauran pemasaran :
1) Produk ( Product )
Produk adalah kombinasi benda dan jasa dari perusahaan yang ditawarkan ke target pasar untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan. Produk secara luas meliputi desain, merek, hak paten , positioning, dan pengembangan produk. Produk bisnis ini adalah sebuah Inovasi yang merupakan perpaduan antara kebutuhan dan kemudahan bagi pelanggan. kehadiran sebuah produk yang baru, sehingga disadari adanya tahapan yang harus diambil untuk memperkenalkannya. Menurut Kotler and Gary Amstrong ada sebuah proses dalam pengambilan sebuah keputusan terhadap produk baru oleh konsumen.
Produk baru maksudnya adalah “a good , service, and idea that is perceived by
some potential customer as new”
Menurut David W. Cravens dan Nigel F. Piercy dalam bukunya Strategic Marketing ada 3 tipe produk baru :
1) Transformational Innovation : Produk ini baru dan nilai yang diciptakan
substansial . Contoh : Penemuan Mesin ATM
2) Substantial Innovation : Produk baru yang cukup signifikan dan menciptakan nilai penting bagi pelanggan/ konsumen. Contoh : Diet Coke (menciptakan minuman bersoda yang mengandung sedikit gula)
3) Incremental Innovation : Produk baru yang diciptakan dari hasil improvisasi dari inovasi sebelumnya . Contoh : rasa baru pada minuman bersoda Fanta (yang biasanya rasa stroberi, kini dibuat rasa apel)
Dalam mengembangkan sebuah produk baru dibutuhkan sebuah perencanaan yang efektif dalam prosesnya, berdasarkan David W. Cravens dan Nigel F. Piercy gambar dibawah ini adalah tahapan dalam sebuah perencanaan efektif :
Gambar 2.9 Tahapan Perencanaan Efektif (hasil olahan sendiri, 2014)
Awal mula dari perencanaan ini adalah sesuatu yang harus sering dilakukan, yaitu melakukan analisis terhadap kebutuhan dari konsumen. Dari informasi keinginan dari para konsumen membuat rangsangan ide tercipta, kemudian dari banyak nya ide yang bermunculan terkait dengan keinginan dari para konsumen kita melakukan penyaringan yang gunanya untuk mengeliminasi ide-ide yang tidak menjanjikan, karena mengembangkan sebuah ide ketahapan selanjutnya pada proses pengembangan produk baru tidak mengerluakan
sedikit, sehingga sebisa mungkin kita melakukan penyaringan ide agar lebih terfokus. Sebelum menentukan keputusan pada pengembangan produk baru, kita perlu melakukan analisa bisnis untuk membuat estimasi biaya dan pendapatan yang akan diperoleh. Sampai pada tahap selanjutnya pengembangan produk
2) Harga (Price)
Harga adalah sejumlah uang yang harus dikeluarkan konsumen untuk mendapatkan suatu produk dan jasa. Harga juga merupakan pesan yang menunjukkan bagaimana suatu brand memposisikan dirinya di pasar.
3) Distribusi (Distribution)
Distribusi meliputi aktivitas perusahaan dalam membuat produknya tersedia di target pasar, Strategi pemilihan tempat meliputi transportasi, pergudangan, pengaturan, persediaan, dan cara pemesanan bagi konsumen.
4) Promosi (Promotion)
Promosi adalah aktifitas perusahaan untuk mengkomunikasikan produk dan jasanya serta mempengaruhi target konsumen untuk membeli. Kegiatan promosi antara lain: iklan, personal selling, promosi penjualan, dan public relation.
2.7.5 Experiental Marketing
Sebuah Jurnal berjudul Experiental Marketing vs. Traditional Marketing :
Creating Rational and Emotional Liaisions with consumer oleh Dainora Grundey
melibatkan konsumen dengan sebuah pengalaman yang luar biasa dengan memberikan kesempatan konsumen untuk terlibat secara fisik, mental, emosional dan spiritual dalamkonsumsi produk atau jasa yang membuat interaksi bermakna nyata.
B. Scmitt seorang pencetus Experiental Marketing mengatakan dalam jurnal
yang di buat oleh Dainora bahwa Experiental Marketing adalah disiplin
menciptakan produk dan jasa yang mempertimbangkan semua elemen dibawah ini.
Schmitt mengidentifikasi ada lima jenis pengalaman atau Strategic Experience Modules:
Gambar 2.10 The Experiental Grid (Rumania Journal Ekonomi, 2008)
1. Sense: segala aspek sensual dan nyata dari suatu produk atau pengalaman
yang di pengaruhi oleh kelima indera penglihatan, suara, aroma, rasa dan
sentuh. Pengalaman rasa sangat berguna untuk membedakan produk atau jasa, untuk
memotivasi pelanggan potensial dan untuk menciptakan perasaan bernilai dalam
sebuah pemikiran pembeli.
2. Feel : Feel pada pemasaran dikhususkan untuk merangsang dan mempengaruhi
perasaan positif atau negatif terhadap suatu produk atau jasa akan mempengaruhi
sejauh mana itu dikonsumsi.
3. Think: Tujuan dari think marketing adalah untuk mendorong pelanggan
untuk terlibat dalam pemikiran elaborasi dan kreatif yang
dapat mengakibatkan penilaian ulang pada perusahaan dan produk.
4. Act : Act marketing berorientasi pada penciptaan pengalaman
melalui perilaku dari pelanggan, baik secara pribadi maupun dalam
perusahaan. Tujuannya adalah untuk mengubah perilaku jangka panjang dan
kebiasaan yang mendukung produk atau jasa tertentu.
dikutip dari Rumania Journal Ekonomi
TahunXI, no.29 (3) 2008 140.
5. Relate: relate mengembangkan penginderaaan, perasaan, kesadaran, dan tindakan
pada individu pribadi dengan menghubungkan individu itu
dengan konteks sosial dan budaya yang lebih luas tercermin dalam brand.
Dengan kata lain , berhubungan memainkan pemasaran pada identifikasi diri dengan
konteks dan asosiasi terikat dalam produk atau jasa yang digunakan.Kelima jenis
pengalaman (SEM) disampaikan kepada individu melalui Experience Providers
(ExPros), melalui cara di bawah ini :
1. Communication : periklanan, Komunikasi Eksternal dan Internal Perusahaan,
Kampanye public relations baik visual dan lisan identitas dan signage, nama,
logo, warna, dll
3. Co-branding: melibatkan event marketing, sponsor, aliansi dan kemitraan,
perizinan, penempatan produk dalam film, dll
4. Spatial Environment : yang meliputi desain eksternal dan internal perusahaan,
outlet penjualan, konsumen dan trade fair.
5. Web sites
6. People: Tenaga penjualan, kantor cabang, penyedia layanan pelanggan, operator
layanan pelanggan
Tabel 2.1 Experimental Grid Pada MOOGRILL