PENDEKATAN FUZZY-QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT DAN
GOAL PROGRAMMING DALAM PEMILIHAN SUPPLIER
Suhartini, Suparno, dan Hari Supriyanto.
Jurusan Teknik Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Kampus ITS Sukolilo Surabaya 60111
Email :[email protected]
ABSTRAK
PT. Liku Telaga merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang industri kimia dasar dengan produksi asam sulfat dan aluminium sulfat. Agar mampu memproduksi suatu produk yang sesuai dengan keinginan konsumen, PT. Liku Telaga ingin melakukan perbaikan terhadap salah satu proses produksi yang selama ini berjalan diperusahaan, yaitu bagian pengadaan. Dimana hal ini berkaitan dengan proses pemilihan supplier untuk pengadaan bahan baku dalam proses produksi.
Permasalahan yang dihadapi pada penelitian ini adalah bagaimana menentukan pemilihan supplier dan alokasi order yang sesuai dengan kriteria perusahaan. Metode Fuzzy-Quality Function Deployment digunakan untuk mengukur performansi supplier dan goal programming untuk menentukan alokasi order ke supplier. Tujuan dalam penelitian ini adalah agar mampu menghasilkan solusi optimal dalam pemilihan supplier penerima order yang memenuhi beberapa fungsi objektif yang sesuai dengan kriteria perusahaan dalam mengevaluasi supplier.
Hasil dari penelitian ini adalah jumlah alokasi order ke supplier sulfur: (1) Standart Chemical Corp. PTE.LTD sebesar 3.646,7 ton, (2) PT. Lautan Luas sebesar 803,3 ton, (3) PT. Yosomulyo Jajag sebesar 300 ton, (4) CV. Archindo sebesar 150 ton, dengan minimal total harga pembelian sulfur sebesar $ 513.720. Alokasi order ke supplier aluminium hidroksida: (1) Bisindo Kencana sebesar 3.000 ton, (2) Hindalco Industries limited sebesar 1.114 ton, (3) Sumitomo sebesar 1.946 ton, (4) Chemindus SDN BHD adalah sebesar 890 ton, dengan minimal total harga pembelian aluminium hidroksida sebesar $ 2.137.578.
Kata kunci: Pemilihan supplier, Quality Function Deployment, Fuzzy Set, Goal Programming ABSTRACT
PT. Liku Telaga is one of the companies engaged in chemical industry production base with sulfuric acid and aluminum sulfate. To be able to produce a product according to customer's spesification, PT. Liku Telaga wanted to make improvements in the process, especially in procurement division. Where it relates to the process of selecting suppliers for the supply of raw materials in the production process.
Problems encountered in this study is to determine the supplier selection and allocation of orders in accordance with the company spesification. Fuzzy Method-Quality Function Deployment is used to measure supplier performance and goal programming to determine the allocation of orders to suppliers. The purpose of this research is to be able to meet optimal solutions in selecting suppliers accordance to company criteria.
The results of this study is to count the allocation order to the supplier of sulfur: (1) Standard Chemical Corp.. Pte.Ltd of 3.646,7 tons, (2) PT. Lautan Luas of 803,3 tons, (3) PT. Yosomulyo Jajag of 300 tons, (4) CV. Archindo of 150 tons, with a minimum price of sulfur for $ 513.720. Allocation orders to suppliers of aluminum hydroxide: (1) Bisindo Kencana 3.000 tons, (2) Hindalco Industries Limited 1.114 tons, (3) Sumitomo of 1.946 tons, (4) Chemindus SDN BHD to 890 tons, with a minimum price aluminium hydroxide for $ 2.137.578.
PENDAHULUAN
Seiring dengan pasar yang semakin
meng-global dan munculnya teknologi
informasi, persaingan didunia bisnis semakin ketat. Agar dapat survive dalam era kompetisi maka perusahaan berupaya untuk meningkatkan performansinya dalam rangka menghasilkan suatu output yang optimal. Output yang optimal
adalah output yang mampu memenuhi
keinginan konsumen. Dimana untuk
menghasilkan output yang optimal dipengaruhi beberapa faktor misalkan lancarnya proses produksi, peningkatan kualitas produk, sistem distribusi yang baik. Salah satu faktor yang mendorong kelancaran proses produksi adalah keberadaan supplier, hal ini berkaitan dengan fungsi supplier sebagai pemasok bahan baku.
Menurut Bevilacqua (Bevilacqua, 2006) peran supplier dalam supply chain management sangat penting untuk ditingkatkan. Keputusan
dalam pemilihan supplier harus dengan
beberapa kriteria, sehingga dapat mempermudah
dalam mengambil keputusan. Dalam
perusahaan, diantara 50-90% tugas dari bagian pengadaan yang paling penting adalah pembuat keputusan dalam strategi pengadaan dan operasional untuk menentukan profitabilitas. Pengembangan yang dapat dilakukan secara sistematik dan transparan dalam menentukan
pembelian dengan melakukan pemilihan
supplier.
Dalam penelitian ini akan menggunakan
metode Fuzzy-QFD untuk pengukuran
performansi masing-masing supplier dimana perusahaan dapat menentukan beberapa kriteria dalam pemilihan supplier. QFD adalah metode perencanaan yang terstruktur untuk menentukan keinginan dan kebutuhan konsumen dan melakukan evaluasi secara sistematis untuk memuaskan konsumen. Menurut Ciptomulyono (Ciptomulyono,1996), teori fuzzy menawarkan konsep dalam suatu frame work untuk menampung adanya informasi yang tidak pasti maupun samar (imprecise). Penggunaan teori fuzzy set memberi fleksibilitas untuk menampung ketidakpastian akibat samarnya
informasi yang dimiliki maupun unsur
preferensi yang subjektif yang dapat digunakan dalam masalah pengambilan keputusan. Dalam perhitungan dengan fuzzy-QFD maka dapat
diketahui atribut-atribut dalam pemilihan
supplier dan rangking masing-masing supplier.
Namun dalam perhitungannya masih belum
mempertimbangkan kendala yang ada dalam pemilihan supplier.
Sedangkan dalam kondisi nyata,
biasanya perusahaan dihadapkan pada
konstrain-konstrain yang membatasinya. Oleh karena itu diperlukan suatu pendekatan yang mampu memberikan solusi berdasarkan kendala yang dimiliki oleh perusahaan. Pendekatan goal programming adalah suatu pendekatan yang mampu mencari solusi yang kompromis dengan mengkombinasikan beberapa obyektif yang ingin dicapai dengan mempertimbangkan target dan kendala yang dimiliki oleh perusahaan. Dengan menggunakan goal programming maka dapat meminimumkan atau memaksimumkan
suatu fungsi tujuan sehingga dapat
meminimumkan deviasi diantara berbagai tujuan.
Perumusan Masalah
Dengan melihat latar belakang
penelitian yang ada, maka perumusan
masalahnya adalah bagaimana menentukan pemilihan supplier dan alokasi order yang sesuai dengan kriteria perusahaan.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah Penelitian ini dilakukan dengan mengarah pada tujuan yang ingin dicapai, yaitu agar mampu menghasilkan solusi optimal dalam pemilihan supplier penerima order yang memenuhi beberapa fungsi objektif dan sesuai dengan kriteria perusahaan.
Batasan dan Asumsi
Batasan pada penelitian ini adalah (1)
obyek penelitian dilakukan di bagian
pengadaan.(2)perancangan sistem pemilihan supplier hanya berlaku di PT. Liku Telaga.(3) proses pemilihan supplier hanya dilakukan pada supplier untuk produk aluminium sulfat yaitu sulfur dan aluminium hidroksida.(4)data yang digunakan diambil dari bulan Januari-Juni 2009. (5) hubungan antar kebutuhan teknis yang
dinilai oleh pengambil keputusan tidak
mengalami fuzzyfikasi.
Kontribusi / Manfaat Penelitian
Kontribusi dari penelitian ini adalah (1) Penelitian diharapkan menghasilkan suatu rancangan sistem untuk menentukan prioritas
supplier penerima order.(2) Memberikan
gambaran tentang penentuan prioritas supplier dengan metode Fuzzy-QFD dengan metode Goal Programming.
METODOLOGI PENELITIAN a. Studi Pendahuluan
Pada bagian ini dilakukan kajian-kajian yang relevan yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan yang berhubungan dengan topik. Adapun teori-teori yang digunakan adalah Fuzzy, Quality Function
Deployment dan Goal Programming.
Kegiatan awal dari penelitian ini adalah melakukan pengamatan dan pertimbangan
terhadap pemasalahan pada bagian
pengadaan.
b. Identifikasi dan rumusan masalah
Setelah dilakukan studi pendahuluan
dimana dapat ditemukan dan ditetapkan ide penelitian, maka dilakukan identifikasi sehingga permasalahan yang dihadapi akan menjadi lebih jelas. Khususnya disini adalah mengenai penentuan pemilihan supplier yang dapat membantu bagian pengadaan dalam melakukan fungsinya. Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana menentukan pemilihan supplier dan alokasi order yang sesuai dengan kriteria perusahaan.
c. Penetapan tujuan
Pada tahap ini, tujuan penelitian dirumuskan untuk menjawab permasalahan yang dikaji. Adapun tujuan penelitian yang diharapkan dapat dicapai adalah dapat menentukan atau memilih supplier yang sesuai dengan kriteria perusahaan serta pengalokasian order ke supplier.
d. Pengumpulan data
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data
yang nantinya digunakan untuk
memecahkan permasalahan yang ada. Untuk
memperoleh data maka dilakukan
wawancara dengan pihak perusahaan,
dilakukan penyebaran kuisioner,dan data historis perusahaan. Kuesioner diberikan kepada kepala departemen-departemen yang terkait langsung dengan proses pembelian. e. Pengolahan data
Setelah pengumpulan data maka dilakukan pengolahan dari data-data yang telah didapatkan, pada pengolahan data ini dilakukan dengan metode fuzzy QFD f. Pengembangan model dan alokasi
order
Pengembangan model dimulai dengan
menentukan: fungsi objektif, variabel
keputusan dan fungsi kendalanya yang
akan dijadikan sebagai model awal.
Selanjutnya dilakukan penentuan variabel deviasi yang ditambahkan pada persamaan fungsi objektif
g. Analisa dan interpretasi
Pada tahap ini akan dilakukan analisa dan pembahasan hasil dari penelitian yang telah dilakukan, terutama terhadap hasil dan pengolahan data. Analisa ini diharapkan dapat menjabarkan hasil dari pengolahan data.
h. Kesimpulan
Pada tahap ini penarikan kesimpulan
dilakukan untuk menjawab tujuan
penelitian, rekomendasi-rekomendasi yang di usulkan untuk penentuan pemilihan supplier dalam pengalokasian order
PENGEMBANGAN MODEL
a. Penentuan variabel keputusan
Pada penelitian ini variabel keputusan yang digunakan adalah Xijk, dimana X adalah variabel jumlah order supplier, dimana nilai i merupakan jenis produk, j merupakan jumlah supplier dan k merupakan jumlah bulan.
b. Penentuan kriteria performansi model
Terdapat empat fungsi objektif yang ingin dicapai pada proses pemilihan supplier antara lain:
1. Memaksimalkan produk baik : indikator
penilaian ini adalah prosentase produk baik yang diperoleh dari supplier ke- j.
2. Meminimalkan total harga pembelian:
meminimasi total harga pembelian dari
sejumlah supplier ke-j dengan cost
estimation sebesar c.
3. Memaksimalkan on time delivery: indikator penilaian ini adalah prosentase pengiriman yang tepat dan kapasitas pengiriman dan lead time pengiriman atau meminimasi prosentase barang yang late delivery dari supplier ke-j.
4. Memaksimumkan scoring supplier:
maksudnya agar kuota yang diberikan kepada supplier sesuai dengan kinerja yang selama ini dilakukan setiap supplier.
c. Model goal programming
Pada penelitian ini terdapat empat fungsi tujuan, diantaranya adalah:
1. Memaksimalkan produk baik
( )
ijk i j k ijk X r Z n Maksimalka∑∑∑
= = = = 1 1 4 1 6 1 1 _( )
ijk i j k ijk X r Z n Maksimalka∑∑ ∑
= = = = 2 2 8 5 6 1 2 _2. Memaksimalkan total harga pembelian
(
)
∑∑ ∑
( )
= = = − = − 1 1 4 1 6 1 3 _ i j k ijk ijk X c Z n Maksimalka(
)
∑∑∑
( )
= = = − = − 2 2 8 5 6 1 4 _ i j k ijk ijk X c Z n Maksimalka3. Memaksimalkan on time delivery
( )
∑∑∑
= = = = 1 1 4 1 6 1 5 _ i j k ijk ijk X l Z n Maksimalka( )
∑ ∑∑
= = = = 1 1 8 5 6 1 6 _ i j k ijk ijk X l Z n Maksimalka4. Memaksimalkan scoring supplier
( )
∑∑∑
= = = = 1 1 4 1 6 1 7 _ i j ijk k ijk X b Z n Maksimalka( )
∑∑∑
= = = = 1 1 8 5 6 1 8 _ i j ijk k ijk X b Z n Maksimalka5. Penentuan minimasi deviasi
Pada tahap selanjutnya fungsi tujuannya meminimasi deviasi antara berbagai tujuan.
Fungsi tujuan dibuat dengan cara
menggabungkan setiap tujuan yang dibentuk minimasi variabel simpangan sesuai dengan tujuan prioritas.
a. Fungsi tujuan
Fungsi goal menunjukkan penjumlahan total
performansi alternatif ditambahkan
underestimate dan dikurangi overestimate yang ada pada ruas kiri harus sesuai dengan kendala yang dimiliki perusahaan. Adapun fungsi tujuannya adalah:
1. Memaksimalkan produk baik
( )
1 1 1 1 1 4 1 6 1 g p n X r ijk i j k ijk + − =∑∑∑
= = =( )
2 2 2 2 2 8 5 6 1 g p n X r ijk i j k ijk + − =∑ ∑∑
= = =2. Memaksimalkan total harga pembelian
(
)
( )
3 3 3 1 1 4 1 6 1 2 c X n p g Z i j k ijk ijk + − = − = −∑ ∑∑
= = =(
)
( )
4 4 4 2 2 8 5 6 1 2 c X n p g Z i j k ijk ijk + − = − = −∑∑ ∑
= = =3. Memaksimalkan on time delivery
( )
5 5 5 1 1 4 1 6 1 g p n X l i j k ijk ijk + − =∑ ∑∑
= = =( )
6 6 6 2 2 8 5 6 1 g p n X l i j k ijk ijk + − =∑ ∑∑
= = =4. Memaksimumkan scoring supplier
( )
7 7 7 1 1 4 1 6 1 g p n X b i j ijk k ijk + − =∑ ∑∑
= = =( )
8 8 8 2 2 8 5 6 1 g p n X b i j ijk k ijk + − =∑ ∑∑
= = = b. Fungsi kendalaAdanya keterbatasan yang tersedia
merupakan kendala dalam mencapai tujuan, adapun batasan untuk mencapai tujuan diatas, yaitu: (1) kebutuhan material, (2) Harga, (3) Kapasitas maksimum pembelian, (4) Kapasitas gudang, (5) Safety stock.
PENERAPAN MODEL
Proses analisa terbagi menjadi beberapa
bagian yaitu analisa Quality Function
Deployment untuk menentukan kriteria-kriteria yang dibutuhkan dalam pemilihan supplier, analisa Fuzzy-Quality Function Deployment untuk menentukan skor atau rangking supplier,
dan analisa goal programming untuk
menentukan alokasi order supplier.
1. Analisa hasil kuisioner
Kuisioner pendahuluan untuk
menentukan kriteria-kriteria pemilihan
supplier, didapatkan bahwa dari 25 kriteria
yang ditetapkan sebelumnya, ternyata
menurut responden hanya 12 kriteria yang
diperlukan dalam pemilihan supplier.
Kriteria-kriteria yang terpilih adalah: mutu produk, harga, ketepatan waktu pengiriman, K3L, sistem pembayaran, ketersediaan
pemenuhan order, layanan perbaikan,
ketepatan jumlah barang, kelengkapan dokumen, prosedur komplain, koordinasi informasi dan kontrol operasi.
2. Analisa House Of Quality
a) Analisa tingkat kepentingan
kebutuhan perusahaan (what)
Tingkat kepentingan dari
kebutuhan perusahaan (what) yang dihitung dengan menggunakan metode fuzzy-Quality Function Deployment.
Hasil dari tingkat kepentingan
kebutuhan perusahaan (what) dapat dilihat pada tabel 5.1.Dimana pada tabel diatas menunjukkan prioritas kebutuhan perusahaan (what) yang berisi nilai-nilai
kebutuhan apa yang paling diprioritaskan oleh perusahaan dalam pemilihan supplier
Tabel 5.1 Tingkat kepentingan (what)
Kebutuhan perusahaan (what) α β γ Mutu produk 7,33 8,33 9,33 Harga 7,33 8,33 9,33 K3L 6 7 8 Ketepatan pengiriman 7,33 8,33 9,33 Sistem pembayaran 6 7 8 Layanan perbaikan 4 5 6 Ketersediaan order 6 7 8
Ketepatan jumlah barang 6 7 8
Kelengkapan dokumen 4 5 6
Prosedur komplain 5,33 6,33 7,33
Koordinasi informasi 6,67 7,67 8,67
Kontrol operasi 6 7 8
b) Analisa respon teknis (how)
Respon teknis adalah hal-hal teknis yang mempunyai pengaruh untuk perbaikan yang berhubungan dengan apa yang diinginkan oleh perusahaan dalam mengevaluasi supplier. Beberapa
respon teknis (how) yang dapat
merespon kebutuhan perusahaan (what). Beberapa respon teknis (how) yang dapat merespon kebutuhan perusahaan what);(1) pengalaman(2) pemenuhan kapasitas(3) sertifikasi system quality (4) merespon pemesanan customer (5)
kondisi keuangan (6) system
komunikasi (7) lokasi.
c) Analisa hubungan antar respon
teknis (how)
Hubungan-hubungan ini untuk mengetahui seberapa besar pengaruh respon teknis yang satu dengan respon teknis yang lain. Berdasarkan data menunjukkan adanya korelasi positif
sangat kuat antar respon teknis
(how):(1) pengalaman dengan
pemenuhan kapasitas (2) pengalaman dengan dengan sertifikasi system quality
(3) pengalaman dengan merespon
pemesanan customer (4) pengalaman
dengan sistem komunikasi (5)
pemenuhan kapasitas dengan sertifikasi system quality (6) pemenuhan kapasitas dengan respon pemesanan customer (7) pemenuhan kapasitas dengan sistem komunikasi.
d) Analisa bobot respon teknis
Respon teknis (how)
menunjukkan nilai-nilai teknis yang mempunyai pengaruh perbaikan dalam
mengevaluasi supplier yang
berhubungan dengan apa yang
diinginkan perusahaan. Nilai fungsi keanggotaan tertinggi (α = 33,1; β =45,6; γ = 60,0) yaitu respon teknis
pengalaman. Bobot respon teknis
tersebut menunjukkan nilai fungsi keanggotaan terbesar adalah respon teknis yang paling berpengaruh dalam
mengevaluasi pemilihan supplier.
Sedangkan nilai fungsi keanggotaan terendah (α = 19,8; β =30,1; γ = 42,5) yaitu atribut merespon pemesanan customer hal ini menunjukkan bahwa
respon teknis tersebut kurang
berpengaruh dalam mengevaluasi
pemilihan supplier.
3. Analisa Fuzzy Suitability Indeks (FSI)
Fuzzy Suitability Indeks (FSI) dari masing-masing supplier dapat dilihat pada tabel 5.2.
Tabel 5.1 Fuzzy Suitability Indeks (FSI)
FSI Material Supplier α β γ Standart Chemical Corp. PTE.LTD 84,6 157,2 257,9 PT. Lautan Luas 109,8 193,3 306,9 PT. Yosomulyo Jajag 81,3 153,0 253,9 Sulfur CV. Archindo 75,5 145,2 242,0 PT. Bisindo Kencana 97,7 178,9 288,6 Hindalco Industries Limited 121,7 211,6 331,3 Sumitomo 86,8 160,6 255,7 Aluminium hidroksida Chemindus SDN BHD 64,9 128,9 220,4
Berdasarkan table 5.4 dapat dilihat bahwa supplier sulfur yang mempunyai nilai fungsi keanggotaan tertinggi (α = 109,8; β =193,3; γ = 306,9) adalah PT. Lautan Luas. Sedangkan pada supplier aluminium hidroksida yang mempunyai nilai tertinggi (α = 121,7; β =211,6; γ =331,3) adalah Hindalco Industries Limited. Dari tabel tersebut dapat dikatakan bahwa nilai-nilai FSI terbesar yang dimiliki supplier menunjukkan seberapa besar supplier tersebut sudah memenuhi kriteria-kriteria pemilihan supplier yang sesuai dengan keinginan perusahaan.
Hasil perhitungannya dalam menentukan skor dan rangking masing-masing supplier. Untuk lebih jelasnya skor dari supplier sulfur dapat dilihat gambar 1.
164,3 200,8 160,3 152 0 50 100 150 200 250 Standart Chemical Corp. PTE.LTD PT. Lautan Luas PT. Yosomulyo Jajag CV. Archindo Skor supplier sulfur
Series1
Gambar 1. Skor supplier sulfur
Berdasarkan gambar 1 dapat diketahui supplier sulfur yang mempunyai skor tertinggi sebesar 200,8 adalah PT. Lautan Luas. Sedangkan skor untuk supplier aluminium hidroksida dapat dilihat pada gambar 2.
186 219 165,9 135,8 0 50 100 150 200 250 PT. Bisindo Kencana Hindalco Industries Limited Sumitomo Chemindus SDN BHD Skor supplier aluminium hidroksida
Series1
Berdasarkan gambar 2 dapat dilihat supplier aluminium hidroksida yang mempunyai nilai skor tertinggi sebesar 219 adalah Hindalco Industries Limited. Skor dari masing-masing supplier tersebut dijadikan salah satu fungsi
tujuan dalam goal programming untuk
pengalokasian order perusahaan. Sehingga supplier yang mempunyai skor tertinggi dimaksudkan agar kuota yang diberikan kepada supplier sesuai dengan kualitas pelayanan yang terjalin dengan perusahaan.
5. Analisa menentukan formulasi goal
programming
a) Variabel keputusan
Pada penelitian ini variabel yang digunakan yaitu Xijk adalah variabel jumlah alokasi order dimana i adalah jenis produk, j adalah jumlah supplier dan k adalah jumlah bulan.
b) Fungsi tujuan
Pada penelitian ini ada empat fungsi tujuan yang ingin dicapai pada proses pemilihan supplier, antara lain:
• Memaksimalkan produk baik
Pada fungsi objektif memaksimalkan
produk baik yang berarti perusahaan
menginginkan adanya produk yang
mempunyai kualitas yang baik.
• Meminimalkan total harga pembelian
Pada fungsi obyektif meminimasikan harga beli material dari sejumlah supplier.
• Memaksimalkan on time delivery
Pada fungsi objektif memaksimalkan on time delivery hal ini agar produk yang
dipesan kedatangannya sesuai dengan
pemesanan yang dilakukan. Sehingga dapat memenuhi target proses produksi dalam pembuatan aluminium sulfat.
• Memaksimalkan scoring supplier
Pada fungsi objektif memaksimalkan
scoring supplier hal ini agar dalam pemilihan supplier juga mempertimbangkan faktor-faktor yang bersifat kualitatif. Faktor- faktor kualitatif yang dimaksud disini
adalah sesuai dengan harapan dari
perusahaan terhadap apa yang seharusnya
dimiliki oleh supplier dalam bentuk
layanan yang seharusnya ada pada supplier.
c) Fungsi batasan
Fungsi batasan sangat diperlukan untuk mendukung keputusan yang akan diambil, dimana batasan ini juga dapat memberikan suatu pilihan untuk tidak memilih satu jenis yang sama dalam pencapaian fungsi tujuan.
Dalam penelitian ini berdasarkan wawancara yang dilakukan maka batasan-batasan yang diinginkan oleh perusahaan dalam pembelian material adalah kebutuhan yang diperlukan perusahaan, harga yang diinginkan harus sesuai dengan cost estimation perusahaan, kapasitas gudang yang dimiliki perusahaan, kapasitas maksimal yang dapat dikirim oleh supplier dan safety stock yang diharapkan oleh perusahaan.
• Batasan kebutuhan yang diperlukan oleh
perusahaan berfungsi supaya order yang dilakukan ke supplier sesuai dengan permintaan sehingga dapat memenuhi kebutuhan perusahaan.
• Batasan harga digunakan dengan tujuan
total harga yang digunakan untuk membeli material sesuai dengan cost estimation material oleh perusahaan, dapat diartikan bahwa total harga pembelian material harus sesuai dengan alokasi budget yang ada di perusahaan.
• Batasan kapasitas gudang diharapkan bahwa
masing-masing supplier sesuai dengan kapasitas gudang yang dimiliki oleh perusahaan.
• Batasan kapasitas maksimal supplier
berfungsi agar material yang dipesan oleh perusahaan kepada supplier tidak melebihi kapasitas maksimal yang dimiliki oleh masing-masing supplier.
• Batasan safety stock perusahaan berfungsi sebagai batasan untuk memesan material lagi dan juga agar material yang ada digudang selalu ada.
Adapun kelima batasan tersebut akan dimasukkan dalam fungsi batasan, sehingga
masing-masing batasan memiliki variabel
deviasi yaitu deviasi positif dan deviasi negatif. 6. Analisa alokasi order dengan goal programming
a. Material sulfur
Dari hasil pengolahan data pada bab IV, selanjutnya dilakukan analisa terhadap alokasi order. Berdasarkan tabel 4.25 menunjukkan alokasi order yang dilakukan perusahaan dengan mempertimbangkan beberapa fungsi objektif antara lain mempertimbangkan produk baik, total harga pembelian, on time delivery dan scoring supplier. Untuk lebih jelasnya hasil alokasi order pada material sulfur dapat dilihat pada gambar 5.3.
Alokasi order material sulfur 50 708,3 531,7 531,7 656,7 698,3 520 191,7 138,3 138,3 163,3 171,7 0 50 50 50 50 50 0 30 30 30 30 30 1 2 3 4 5 6 Bulan CV. Archindo PT. Yosomulyo Jajag PT. Lautan Luas Standart Chemical Corp. PTE.LTD
Dari gambar 5.3 diatas dapat diketahui alokasi order untuk masing-masing supplier sulfur. Standart Chemical Corp. PTE.LTD yang mempunyai rangking kedua dengan skor 164,3 dan memiliki harga sulfur per ton sebesar $105 memperoleh order pada bulan Januari 520 ton pada bulan Februari memperoleh order sebesar 698,3 ton pada bulan Maret memperoleh order sebesar 656,7 ton pada bulan April memperoleh order sebesar 531,7 ton pada bulan Mei memperoleh order sebesar 531,7 ton pada Juni memperoleh order sebesar 708,3 ton yang mana selama enam bulan tersebut prosentase produk
baik adalah 100%, prosentase ketepatan pengiriman adalah 100%.
PT. Lautan Luas yang mempunyai skor tertinggi yaitu 200,8 dan memiliki harga sulfur per ton sebesar $110 memperoleh alokasi order pada bulan Januari tidak ada order, bulan Februari sebesar 171,7 ton, bulan Maret sebesar 163,3 ton, bulan April memperoleh order sebesar 138,3 ton pada bulan Mei memperoleh order sebesar 138,3 ton pada Juni memperoleh order sebesar 191,7 ton yang mana selama enam bulan tersebut prosentase produk baik adalah 100%, prosentase ketepatan pengiriman adalah 100%.
PT. Yosomulyo Jajag mempunyai rangking ketiga dengan skor 160,3 dan memiliki harga sulfur per ton sebesar $106 memperoleh order pada bulan Januari, Februari, Maret, April, Mei dan Juni masing-masing memperoleh order sebesar 50 ton. Sedangkan prosentase ketepatan pengiriman 100% dan prosentase produk baik adalah 90%.
CV. Arcindo mempunyai rangking keempat dengan skor 152 dan memilki harga sulfur per ton sebesar $108 memperoleh order pada bulan Januari, Februari, Maret, April, dan Mei masing-masing memperoleh order sebesar 30 ton. Dan pada bulan Juni tidak memperoleh order. Dimana bulan Maret prosentase ketepatan pengiriman adalah 90% dan prosentase produk baik pada bulan April dan bulan Mei
masing-masing 90%. Dan bulan-bulan lainnya
peosentase ketepatan pengiriman dan prosentase produk baik masing-masing 100%.
b. Material Aluminium Hidroksida
Alokasi order pada masing-masing supplier aluminium hidroksida dapat dilihat pada gambar 5.4.
Alokasi order mateial aluminium hidroksida
350 350 500 500 500 500 500 500 486 282 282 32 32 0 350 196 350 350 168 168 168 168 168 50 1 2 3 4 5 6 Bulan Chemindus SDN BHD Sumitomo Hindalco Industries Limited PT. Bisindo Kencana
PT. Bisindo Kencana yang memiliki rangking kedua dengan skor 219 yang memiliki harga aluminium hidroksida per ton sebesar $306 memperoleh order pada bulan Januari, Februari, Maret, April, Mei dan Juni masing-masing sebesar 500 ton. Dimana supplier
tersebut memiliki prosentase ketepatan pengiriman tepat pada bulan Juni sebesar 90% dan prosentase produk baik pada bulan Januari sebesar 90%. Sedangkan untuk bulan-bulan lainnya prosentase ketepatan pengiriman dan
produk baik masing-masing mempunyai
prosentase ketepatan pengiriman dan prosentase produk baik mempunyai prosentase sebesar 100%.
Hindalco Industries Limited (HiL) yang mempunyai rangking tertinggi dengan skor
186,0 yang memilki harga aluminium
hidroksida per ton sebesar $311 memperoleh order pada bulan Januari tidak memperoleh order, bulan Februari dan Maret sebesar 32 ton, pada bulan April sebesar 282 ton, pada bulan Mei 486 ton dan pada bulan Juni sebesar 282 ton. Dimana selama enam bulan prosentase ketepatan pengiriman dan prosentase produk yang baik adalah 100%.
Sumitomo yang memiliki rangking ketiga dengan skor 131,79 yang memiliki harga aluminium hidroksida sebesar $309 memperoleh alokasi order pada bulan Januari, Februari, Maret, April dan Mei sebesar 350 ton. Dimana pada supplier tersebut memiliki prosentase ketepatan pengiriman pada bulan Januari sebesar 90% dan prosentase produk baik pada bulan Maret sebesar 90%. Sedangkan untuk
bulan-bulan lainnya prosentase ketepatan
pengiriman dan produk baik masing-masing mempunyai prosentase sebesar 100%.
Chemindus SDN BHD yang memiliki rangking keempat dengan skor 107,73 yang memiliki harga aluminium hidroksida sebesar $307 memperoleh order pada bulan Januari, Februari, Maret, April, Mei dan Juni sebesar 168 ton. Dimana untuk prosentase ketepatan pengiriman pada bulan Maret, April dan Juni masing-masing sebesar 90% dan prosentase produk baik pada bulan Februari sebesar 90% pada bulan Mei sebesar 80%. Sedangkan untuk bulan-bulan yang lainnya prosentase ketepatan pengiriman dan prosentase produk baik masing-masing mempunyai prosentase sebesar 100%. 7. Analisa hasil pencapaian tujuan output goal programming
a. Material sulfur
Berdasarkan output dari goal programming dimana dari beberapa fungsi tujuan diantaranya memaksimalkan produk baik, on time delivery, total harga pembelian dan scoring supplier. Hasil dari pencapaian tujuan untuk material sulfur dapat dilihat pada tabel 5.7.
Fungsi Tujuan Pencapaian (Z)
Memaksimalkan produk baik 4.809,167 ton Meminimalkan total harga pembelian $ 513.720 Memaksimalkan on time delivery 4.791,5 ton Memaksimalkan scoring supplier 1.229,243 ton
Berdasarkan tabel 5.7 dapat dilihat pada fungsi tujuan pertama memaksimalkan produk baik menghasilkan 4.809,167 ton, berarti dapat dikatakan bahwa produk baik maksimum yang dapat dicapai sebesar 98% dari kebutuhan perusahaan yang ditetapkan. Fungsi tujuan kedua meminimalkan total harga pembelian diperoleh $ 513.720 menunjukkan bahwa pencapaian total harga pembelian minimal
material sulfur yang dapat dibeli oleh
perusahaan sebesar $ 513.720 , sehingga dapat dikatakan pencapaian perusahaan 1% melebihi
dari target. Fungsi tujuan yang ketiga
memaksimalkan on time delivery pencapaiannya sebesar 4.791,5 ton atau 98% yang on time delivery dari 4.900 ton jumlah yang dipesan sebanyak 24 kali pemesanan. Fungsi tujuan yang keempat memaksimalkan scoring supplier
pencapaiannya sebesar 1.229,243 ton
menunjukkan kemampuan supplier yang terpilih untuk menyediakan material.
b. Material aluminium hidroksida
Hasil pencapaian tujuan perusahaan dalam menentukan alokasi order untuk material aluminium hidroksida dapat dilihat pada tabel 5.8.
Fungsi Tujuan Pencapaian (Z)
Memaksimalkan produk baik 6.813,6 ton Meminimalkan total harga pembelian $ 2.137.578 Memaksimalkan on time delivery 6.763,6 ton Memaksimalkan scoring supplier 1.779,34 ton
Berdasarkan tabel 5.8 dapat dilihat pada pada fungsi tujuan pertama memaksimalkan produk baik menghasilkan 6.813,6 ton, berarti dapat dikatakan bahwa produk baik maksimum yang dapat dicapai sebesar 98% dari kebutuhan perusahaan yang ditetapkan. Fungsi tujuan kedua meminimalkan total harga pembelian diperoleh $ 2.137.578 menunjukkan bahwa pencapaian total harga pembelian minimal material aluminium hidroksida yang dapat dibeli
perusahaan sebesar $ 2.137.578 sehingga pencapaian harga pembelian perusahaan 1% melebihi dari target. Fungsi tujuan yang ketiga memaksimalkan on time delivery pencapaiannya sebesar 6.763,6 ton atau 97% yang on time delivery dari 6.950 ton jumlah yang dipesan sebanyak 24 kali pemesanan. Fungsi tujuan yang keempat memaksimalkan scoring supplier
pencapaiannya sebesar 1.779,34 ton
menunjukkan kemampuan supplier yang terpilih untuk menyediakan material.
Dari hasil perhitungan dengan Lingo80 untuk alokasi order material sulfur dan aluminium hidroksida untuk masing-masing supplier dapat dilihat bahwa pencapaian nilai
obyektif minimal adalah $ 2.656.694.
8. Pencapaian tujuan goal programming
dengan Quality Function Deployment Quality Function Deployment digunakan untuk mengevaluasi supplier sesuai dengan
kebutuhan perusahaan, dari kebutuhan
perusahaan inilah muncul kriteria-kriteria kritis sehingga untuk memenuhi kriteria kritis yang dibutuhkan perusahaan perlu adanya respon teknis. Pengambil keputusan menilai masing-masing supplier berdasarkan respon teknis yang sudah ditentukan oleh manajemen perusahaan. Hasil dari penilaian tersebut adalah skor atau rangking masing-masing supplier dan skor itu akan dimasukkan dalam salah satu fungsi tujuan dari goal programming.
Goal programming digunakan untuk
menentukan alokasi order masing-masing
supplier sehingga dapat dilihat hasil keempat
pencapaian tujuan tersebut menunjukkan
performansi supplier yang terpilih. Dari
keempat pencapaian fungsi tujuan tersebut dapat
menunjukkan kemampuan masing-masing
supplier dengan respon teknis yang ditentukan oleh perusahaan.
PT. Lautan luas sebagai supplier sulfur yang mempunyai skor tertinggi 200,8 dan nilai FSI sebesar (α =109,8; β =193,3,6; γ =306,9) dan Hindalco Industries Limited sebagai supplier aluminium hidroksida yang mempunyai skor tertinggi 219 dan nilai FSI terbesar (α = 121,7; β =211,6; γ =331,3). Dari hasil
pencapaian goal programming dalam
pengalokasian order menunjukkan bahwa
supplier yang mempunyai scoring tertinggi atau kemampuan respon teknis yang baik, belum tentu memperoleh jumlah order yang terbesar.
Hal ini dapat dilihat pada supplier sulfur
Standart Chemical Corp. PTE.LTD memperoleh
order sebesar 3.646,7 ton sedangkan PT. Lautan Luas memperoleh order sebesar 803,3 ton, dan supplier aluminium hidroksida PT. Bisindo Kencana memperoleh order sebesar 3.000 ton
sedangkan Hindalco Industries Limited
memperoleh order sebesar 1.114 ton.
Dari fungsi tujuan goal programming memaksimalkan produk baik menggambarkan tingkat pengalaman dan sertifikasi system quality, fungsi tujuan meminimalkan harga
menggambarkan tingkat pengalaman dan
memaksimalkan on time delivery
menggambarkan tingkat pengalaman dan lokasi dari masing-masing supplier dalam memenuhi kriteria kebutuhan konsumen yaitu mutu produk, harga, ketepatan waktu pengiriman, K3L, layanan perbaikan, ketepatan jumlah barang, kontrol operasi, prosedur komplian, koordinasi informasi dan kelengkapan dokumen pengiriman. Dapat diartikan bahwa kemampuan supplier pada respon teknis menunjukkan supplier tersebut sudah memenuhi kriteria-kriteria yang selama ini diinginkan oleh perusahaan dalam pemilihan supplier.
KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi kesimpulan dari permasalahan yang telah dibahas dalam penelitian ini. Dan berisi jawaban atas permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan dalam proses pemenuhan order. Disamping itu dikemukakan saran sebagai
masukan bagi perusahaan dalam proses
pemenuhan order guna perbaikan untuk waktu mendatang dan kepada peneliti dengan topik yang sama.
1. Kesimpulan
• Pengukuran performansi berdasarkan
Fuzzy-Quality Function Deployment 1. Terdapat 12 kriteria kebutuhan perusahaan
(what) dan 7 respon teknis (how) yang dapat digunakan untuk mengukur performansi supplier dalam memenuhi order PT. Liku Telaga.
2. Skor tertinggi supplier sulfur adalah PT. Lautan Luas dengan skor 200,8, dan
supplier aluminium hidroksida adalah
Hindalco Industries Limited dengan skor 219,0.
• Alokasi order berdasarkan Goal
programming
1. Alokasi order ke supplier
mempertimbangkan empat fungsi tujuan
yaitu memaksimalkan produk baik,
memaksimalkan on time delivery dan memaksimalkan scoring supplier.
2. Alokasi order untuk masing-masing supplier
sulfur dan supplier aluminium hidroksida, yaitu:
a. Material sulfur
Jumlah alokasi order selama enam bulan yang akan datang untuk masing-masing supplier adalah supplier Standart Chemical Corp. PTE.LTD sebesar 3.646,7 ton, supplier PT. Lautan Luas sebesar 803,3 ton, supplier PT. Yosomulyo Jajag sebesar 300 ton, dan supplier CV. Archindo sebesar 150 ton. Dimana total harga pembelian minimal yang dapat dicapai adalah sebesar $ 513.720. .
b. Material aluminium hidroksida
Jumlah alokasi order selama enam bulan yang akan datang untuk masing-masing supplier adalah supplier PT. Bisindo Kencana sebesar 3.000 ton, supplier Hindalco Industries limited sebesar 1.114 ton, supplier Sumitomo sebesar 1.946 ton, dan supplier Chemindus SDN BHD sebesar 890 ton. Dimana total harga pembelian minimal yang dicapai adalah sebesar $ 2.137.578.
2. Saran
1. Penelitian pemilihan supplier ini bisa dikembangkan dengan metode Fuzzy-Quality Function Deployment dan Fuzzy-Goal Programming.
2. Disarankan dalam menentukan
pemilihan supplier dan alokasi order lebih mempertimbangkan bobot atau prioritas pada fungsi tujuan dalam goal programming.
3. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya dilakukan juga analisa BCOR (Benefit, Cost, Opportunity and Risk) dan analisa
sensitivitas dalam pemilihan
suppliernya dan juga dalam melakukan
alokasi order sebaiknya waktu
pengiriman dan biaya pengiriman juga diperhatikan.
DAFTAR PUSTAKA
Alifulllah (2008). Pemilihan Supplier dan Alokasi Order menggunakan Pendekatan
Taguchi Loss Function-AHP-Fuzzy
Multiobjective Integer Programming. Tugas Akhir Sarjana, ITS, Surabaya.
Bevilacqua, M. Ciarapica, F, E. dan Giacchetta, G. (2006). A Fuzzy-QFD Approach to Supplier Selection. Journal of Purchasing & Supply Management 12, 14-27.
Boer, L. Labro, E. dan Morlacchi, P.(2001). A Review of Methods Supporting Supplier Selection. Journal of Purchasing & Supply Management 7, 75-89.
Ciptomulyono, U. (1996), “Model Fuzzy Goal
Programming Untuk Perencanaan
Produksi Terpadu”, IPTEK, November, hal 116-127.
Cohen, L. (1995). Quality Function
Deployment, How to make QFD Work for you. Addison Wesley Publishing Company, Massachuset.
Dhuto, S. U. (2005). Usulan Pemilihan Supplier
Bahan Baku dengan Penggabungan
Metode TOPSIS dan AHP, Thesis, ,ITS, Surabaya.
Kahraman, C. Ertay, T. dan Buyukozkan, G. (2006). A Fuzzy Optimization Model for QFD Planning Process using Analytic Network Approach. European Journal of Operational Research 7, 390-411.
Kusumadewi, S. (2004). Aplikasi Logika Fuzzy untuk Pendukung Keputusan. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Lieberman, G.J. dan Hillier, F.S. (1990). Introduction to Operations Research. McGraw-Hill, Singapore.
Muflih, 2005. Alokasi Order pada Supplier dengan Pendekatan Metode Quality
Function Deployment dan Linear
Programming. Thesis. ITS, Surabaya. Papandreou, V. dan Shang, Z. (2008),”Multi
Criteria Optimation Approach for the design of sustainable Utility System”, Computer and Chemical Engineering, vol 32, 1589-1602.
Pujawan, N, I. (2005). Supply Chain
Sanayei, A, S. dan Mousavi, F, S. Abdi, M, R. Mohaghar, A. (2008). An Intregrated
Group Decision-Making Process for
Supplier Selection and Order Allocation Using Multi-Attribute Utility Theory and Linear Programming. Journal of the Franklin Institute 345, 731-747.
Tabucanon, Mario T. (1988). Multiple Criteria Decision Making in Industry. Division of Industrial Engineering and Management, Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand.
Verma, R. dan Pullman, M.E., (1998a). An Analysis of The Supplier Selection Process. International Journal of Management Sci. 26 (6), 739–750.
Temponi C.,Yen J. dan Tiao W.A., (1999). House of Quality: A fuzzy Logic-Based Requirement Analysis. European Journal of Operational Research 117, 340-354. Weber, C., Current, J.R. dan Benton, W.C.
(1991). Vendor Selection Criteria and Methods. European Journal of Operational Research 50, 2–18.
Yogi, K, N. (2004). Evaluasi Kinerja Supplier dan Alokasi Volume Pembelian di PT. NE. Thesis. ITS, Surabaya.
Zadeh, L.A. (1965). Fuzzy sets. Information and Control 8, 338-353.