• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL TERHADAP PENINGKATAN SELF-CONTROL SISWA SMPN 4 LINTAU BUO UTARA SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL TERHADAP PENINGKATAN SELF-CONTROL SISWA SMPN 4 LINTAU BUO UTARA SKRIPSI"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

“PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL TERHADAP PENINGKATAN SELF-CONTROL SISWA

SMPN 4 LINTAU BUO UTARA”

SKRIPSI

Ditulis Sebagai Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana (S-1)

Jurusan Bimbingan Konseling

Oleh

NANDA CHAERUL KAHFI NIM: 14-108-069

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BATUSANGKAR

(2)
(3)
(4)
(5)

i

SMPN 4 Lintau Buo Utara”, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Bimbingan dan Konseling Institut Agama Islam Negeri Batusangar 2019. Penelitian ini di latar belakangi banyaknya siswa yang tidak memiliki kontrol diri di lingkungan sekolah, tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan

self-control siswa dengan layanan bimbingan klasikal.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian experimen. Jenis desain yang penelitian adalah quasi experimental desgin dengan tipe one

group pretest posttest. Populasi dalam penelitian ini yaitu 53 orang siswa dan

sampel 38 orang. Analisis data yang digunakan yaitu dengan uji-t dan N-gain. Berdasarkan hasil uji-t didapatkan hasil hipotesis alternatif (Ha) diterima

dan (H0) ditolak, ini berarti bahwa Layanan Bimbingan Klasikal berpengaruh

Terhadap Peningkatan Self-Control Siswa SMPN 4 Lintau Buo Utara .Berdasarkan uji pengaruh mengunakan N-gain didapatkan hasil Layanan Bimbingan Klasikal terhadap Peningkatan Self-Control Siswa SMPN 4 Lintau Buo Utara berkonstribusi sedang.

(6)

ii

rahmat dan karunia-Nya penulis skripsi yang yang berjudul “Pengaruh Bimbingan Klasikal terhadap Peningkatan Self-Control siswa SMPN 4 Lintau Buo Utara” Shalawat beserta salam kepada Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat untuk seluruh manusia.

Penulisan skripsi ini untuk melengkapi syarat-syarat dan tugas untuk mencapai gelar Sarjana pendidikan pada Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Tarbiyah dan Imu Keguruan Instutut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar. Selanjutnya dalam penulisan skripsi ini banyak bantuan, motivasi, dan bimbingan dari berbagai pihak, baik moril maupun materil yang penulis terima dalam konteks ini, penulis mengucapkan terimakasi kepada:

1. Bapak Dr. H. Kasmuri., M.A selaku Rektor IAIN Batusangkar

2. Bapak Dr Sirajul Munir, M.Pd selaku Dekan Fakutas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar

3. Bapak Dasril., S.Ag., M.Pd selakau Ketua Jurusan Bimbingan Konseling 4. Ibu Dra. Fadhilah Syafwar .,M.Pd selaku Pemimbing Akademik dan

sebagai Pemimbing II

5. Bapak Ardimen M.Pd.,Kons selaku Pemimbing I 6. Bapak Dr Masril., M.Pd.,Kons. selaku Penguji 7. Orang tua tercinta Ayah Ridwan dan Ibu Afriwati

8. Teman –teman BK angkatan 2014, PLKP-S, PLKP-LS dan KKN D 07 Akhirnya penulis mohonkan semoga bantuan, motivasi bimbingan dan nasehat dari berbagai pihak menjadi amal ibadah di sisi-nya dan dibalas dengan balasan yang berlipat ganda. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua. Aamiin.

Batusangkar. 01 Januari 2019 Penulis

Nanda Chaerul Kahfi 14 108 06

(7)

iii PENGESAHAN TIM PENGUJI BIODATA

PERSEMBAHAN

ABSTRAK……….. i

KATA PENGANTAR……… ii

DAFTAR ISI……….. iii

DAFTAR TABEL……….. v

DAFTAR LAMPIRAN………. vi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah………. 1

B. Identifikasi Masalah………... 7

C. Batasan Masalah………. 7

D. Rumusan Masalah……….. 7

E. Tujuan Penelitian……… 7

F. Manfaat dan Kegunaan Penelitian………. 8

G. Definisi Operasonal……… 9 BAB II KAJIAN TEORI

A. Landasan Teori

1. Self-Control………..

a. Definisi Self-Control……….. b. Ciri-ciri Self-Control……….. c. Teknik Self-Control……… d. Fakator-faktor yang Mempengaruhi……….. e. Aspek Self-Control………. f. Self-Control dalam Perspektif al-Quran…………. g. Fungsi Self-Control……… 11 11 11 15 16 19 20 21 23

(8)

iv

Konseling di SMP………... d. Fungsi Layanan Bimbingan Klasikal……….

31 32 3. Strategi Layanan Bimbingan Klasikal dan Kaitan

Self-Control………

33

B. Penelitian Relevan……….. 36

C. Kerangka Berfikir………... 37

D. Hipotesis………. 38

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian………... 39

B. Tempat dan Waktu Penelitian……… 40

C. Populasi dan Sampel……….. 40

D. Disain Penelitian……… 43

E. Teknik Pemgumpulan Data……… 46

F. Pengembagan Instumen……….. 48

G. Teknik Analisis Data……….. 52

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data ……… 56

B. Pelaksanaan Layanan Bimbingan Klasikal……… 57

C. Hasil Data Posttest Kelas Eksperimen………... 67

D. Analisis Hasil Hipotesis Uji Statistik (Uji-t)..…………... 69

E. Analisis Hasil N-gain………...……….. 71

F. Pembahasan ………... 72 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan……… 78 B. Implikasi……… 78 C. Saran………. 79 DAFTAR PUSTAKA……….. 80 LAMPIRAN……….

(9)

v

Tabel 3.1 Disain Eksperimen……….. 40

Tabel 3.2 Populasi Penelitian………... 41

Tabel 3.3 Sampel Penelitian………. 42

Tabel 3.4 Model quasi- exprement……….. 43

Tabel 3.5 Skala Likert dengan Alternatif Jawaban…..………... 47

Tabel 3.6 Skor Jawaban Skala Self-Control………... 48

Tabel 3.7 Indikator Self-Control………... 50

Tabel 3.8 Hasil Validitas Konstruk Skala Self-Control siswa... 51

Tabel 3.9 Reliability Statistics………... 52

Tabel 3.10 Kreteria N-gain……... 54

Tabel 4.1 Klasifikasi Data Pretest Self-Control Siswa... 56

Tabel 4.2 Materi Layanan Bimbingan Klasikal ... 57

Tabel 4.3 Klasifikasi Data Sampel Posttest Self-Control Siswa ... 67

Tabel 4.4 Perbandingan Hasil Pretest dan Posttest Self-Control Siswa Setelah Memberikan Layanan Klasikal... 67 Tabel 4.5 Klasifikasi Skor Pretest dan Posttest Self-Control siswa... 69

Tabel 4.6 Analisis Data dengan Statistik (Uji-t) ... 69

(10)

vi

Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL………. 83 Lampiran 2 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Self-Control ……….. 103

Lampiran 3 Lembar Validasi Instrumen………. 107

Lampiran 4 Daftar Hadir Siswa Layanan Bimbingan Klasikal…………. 109 Lampiran 5 Surat Rekomendasi Penelitian dari Lembaga Penelitian dan

Pengabdian Masarakat (LPPM) IAIN Batusangkar………. 121 Lampiran 6 Surat Keterangan/ Rekomendasi dari Pemerintah Kabupaten

Tanah Datar Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik

(KESBANGPOL)………. 122

Lampiran 7 Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian dari SMPN 4

(11)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebagai individu yang masih dalam tahap tumbuh kembang, remaja membutuhkan sarana pendidikan yang bisa memfasilitasi tahapan perkembangannya. Pendidikan adalah suatu upaya yang dilakukan untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan perannya di masa depan, Dalam pelaksanaan pendidikan tersebut dilakukan upaya dengan melibatkan semua komponen yang secara hirarki telah diberikan beban dan tanggung jawabnya masing-masing. Berkaitan dengan hal di atas dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 “Masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak menuju masa dewasa.

Masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak menuju masa dewasa. “Pada masa remaja individu mengalami berbagai perubahan, baik fisik maupun psikis” Hurlock (2004: 206). Sebagai anak yang masih dalam tahap tumbuh kembang, remaja membutuhkan sarana pendidikan yang bisa memfasilitasi tahapan perkembangannya. (UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003).

Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab Remaja menjadi seseorang yang sangat mempedulikan dirinya sendiri sehingga tidak menyukai hal-hal yang menggangu diri para remaja.

Remaja dalam menghadapi masa transisi ini sering kehilangan kontrol diri, oleh karena itu salah satu tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh remaja adalah memperkuat selfcontrol (kemampuan

(12)

mengendalikan diri). Individu yang memiliki kecenderungan internal (kendali diri) memiliki level aspirasi yang lebih tinggi, lebih terlibat dengan lingkungan tempat mereka berada, mandiri, mampu menahan perasaan dan keinginan sesaat demi tujuan jangka panjang, bertanggung jawab, berdaya juang tinggi, dan tekun. Hurlock (2004: 225)

Menjelaskan individu yang memiliki kontrol diri memiliki kesiapan diri untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan norma, adat, nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agamadan tuntutan lingkungan masyarakat dimana ia tinggal, emosinya tidak lagi meledak-ledak dihadapan orang lain, melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih diterima.

Menurut Tangney, Baumeister, Boone (2004: 351) “orang-orang dengan kontrol diri yang tinggi memiliki nilai-nilai yang lebih baik, ketika dibandingkan dengan orang-orang dengan kontrol diri yang rendah”. Cavanagh dan Justin (2002: 211-212) “orang yang kurang memadai pengendalian diri telah gagal untuk menguasai dua tugas perkembangan yang penting”. Dua tugas perkembangan yang penting yang dimaksud adalah individu tidak bisa mengatur dirinya sendiri dan individu mudah dikuasai atau terpengaruh oleh lingkungan.

Menurut Havighurst dalamYusuf (2014: 25-26). “Pada masa remaja, perasaan mereka lebih peka, sehingga menimbulkan jiwa yang sensitif dan peka terhadap diri dan lingkungannya”. Remaja menjadi seseorang yang sangat mempedulikan dirinya sendiri sehingga tidak menyukai hal-hal yang menggangu diri para remaja. Remaja dalam menghadapi masa transisi ini sering kehilangan kontrol diri, oleh karena itu salah satu tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh remaja adalah memperkuat self-control (kemampuan mengendalikan diri). Seiring dengan tugas perkembangan remaja.Berkaitan dengan hal itu Hurlock (2004: 225)

Menjelaskan individu yang memiliki kontrol diri memiliki kesiapan diri untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan norma, adat, nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agama dan tuntutan lingkungan masyarakat dimana ia tinggal, emosinya tidak lagi meledak-ledak dihadapan orang lain, melainkan menunggu saat dan tempat yang

(13)

lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih diterima.

Menurut Tangney, Baumeister, Boone (2004 : 351). “Orang-orang dengan kontrol diri yang tinggi memiliki nilai-nilai yang lebih baik, ketika dibandingkan dengan orang-orang dengan kontrol diri yang rendah. Cavanagh dan Justin” (2002: 211-212). “Orang yang kurang memadai pengendalian diri telah gagal untuk menguasai dua tugas perkembangan yang penting. Dua tugas perkembangan yang penting yang dimaksud adalah individu tidak bisa mengatur dirinya sendiri dan individu mudah dikuasai atau terpengaruh oleh lingkungan”.

Banyak kasus terjadi dikalangan remaja yang cenderung merupakan perilaku menyimpang yang disebabkan oleh kurangnya pengendalian diri. Contoh kasus banyaknya siswa siswi yang cabut di jam sekolah merokok, menganngu teman dalam mata pelajaran terlambat, cabut di waktu sekolah permisi tidak balik kelas, serta tidak mematuhi aturan sekolah bahkan membangkang dengan guru mata pelajaran ketika mata pelajaran berlangsung, bahkan siswa mengajak berkelahi dengan guru yang bersangkutan apabila ditegur dan memperingati siswa siswa tersebut dan mengancam guru, melihat video porno, berkata kasaar baik sesama teman bahkan orang baru dikenalnya didalam proses pembelajaran siswa tersebut tidak bisa diam untuk mengangu temannya dan merusak fasillitas sekolah seperti meja, kursi, kaca, bahkan pintu, sekolah ikut menjadi korban perlampiasan siswa apabila terjadi masalah bahkan berkelahi sesama siswa fasilitas sekolah menjadi perlampiasan siswa siswi apabila terjadi masalah baik sesama teman baik dengan guru yang bersangkutan dan apabila ditanya untuk bertangung jawaban siapa yang melakuannya tidak satupun yang menjawab jujur yang melakukannya dan siapa palakunya, dengan kompak untuk diam untuk menutupi pelaku.

Terlambat di dalam jam pelajaran sewaktu proses mata pelajaran berlangsung dan tidak balik kelas sesampai guru mata pelajaran di tukar, meribut dalam rungan mata pelajaran sehingga mata pelajaran kurang

(14)

kondusif, bermain di dalam kelas tidak memperhatikan guru ketika proses pembalajaran sehingan pembelaran tidak kondusif dan efisien.

Pelanggaran tersebut dapat dikatakan serius karena telah mengarah pada penyimpangan norma agama dan norma sosial, perkelahian siswa dengan guru, membaca atau melihat majalah dan video porno, berbicara kasar, dan kasus lainnya. Perilaku yang tidak disiplin memengaruhi siswa dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan sekolah maupun masyarakat. Sesuai dengan penjelasan Lazarus dalam Syamsul (2010: 107). “Menjealaskan bahwa kontrol diri mengambarkan keputusan individu melelui pertimbangan kognitif untuk menyatukan perilaku yang telah disusun guna untuk meningkatkan tujuan tertentu sebagaimna yang dinginkan ”.

Berdasarkan hasil pengamatan saya melihat masih banyak siswa yang berpacaran di sekolah antara kakak kelas dan adik kelas, melihat video porno, berkelahi, berkata kasar dan menganggu teman di kelas, cabut, diskusi dengan kepala sekolah bahwa kelas VII, VIII, merupkan siswa yang paling susah diatur dalam proses belajar yang di kelas sering meribut dan menggu teman di saat proses belajar berlangsung dan tidak menghargai guru masuk, wali kelas VII, VIII, dan guru mata pelajaran memberikan semua data anak yang bermasalah serta pemasalahan yang terjadi pada masing-masing siswa seperti permisi tidak kembali di kelas, merokok, berkelahi, menganggu teman, berpacaran, berkata kasar di kelas kepala sekolah dan guru berharap ada perubahan bagi siswa yang bermalah control diri agar lebih bisa mengontol dirinya di SMP Negeri 4 Lintau Buo Utara. Pada bulan Februari 2018, memperoleh informasi bahwa di SMP Negeri 4 Lintau Buo Utara masih ditemukan siswa yang kurang mampu mengendalikan diri, terutama dari segi kedisiplinan terhadap peraturan sekolah.

Upaya peningkatan self-control peserta didik tidak bisa dilakukan tanpa perencanaan yang matang, untuk itu peran bimbingan dan konseling adalah membantu menfasilitasi perkembangan perserta didik penerpan pengendalian diri. Dirjen PMPTK, (2007)

(15)

Bimbingan dan konseling adalah upaya sistematis, objektif, logis, dan berkelanjutan serta terprogram yang dilakukan oleh konselor atau guru bimbingan dan konseling untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik/ konseli untuk mencapai kemandirian dalam kehidupannya. Salah satu strategi bimbingan dan konseling adalah bimbingan klasikal.

Kurikulum bimbingan merupakan inti dari kegiatan layanan, namun hanya terdapat 24% studi yang dilakukan pada area ini. Bimbingan klasikal merupakan cara yang efektif bagi guru bimbingan dan konseling atau konselor dalam memberikan informasi dan atau orientasi kepada siswa tentang program layanan yag ada disekolah, program pendidikan lanjutan, keterampilan belajar, selain itu layanan klasikal dapat digunakan sebagai layanan preventif Committee for Children, (1992; Akos, 2. 007)

Berkaitan dengan pembahasan yang di atas bimbingan klasikal dalam POP BK SMP (2016: 72) Pengertian Bimbingan klasikal merupakan kegiatan layanan yang diberikan kepada sejumlah peserta didik/ konseli dalam satu rombongan belajar dan dilaksanakan di kelas dalam bentuk tatap muka antara guru bimbingan dan konseling atau konselor dengan peserta didik/konseli. Metode bimbingan klasikal antara lain diskusi, bermain peran, dan ekspositori. Bimbingan klasikal merupakan salah satu strategi layanan dasar serta layanan peminatan dan perencanaan indivual pada komponen program bimbingan dan konseling. Bimbingan klasikal diberikan kepada semua peserta didik/ konseli dan bersifat pengembangan, pencegahan, dan pemeliharaan.

Tujuan Kegiatan layanan bimbingan klasikal untuk membantu peserta didik/ konseli dapat mencapai kemandirian dalam kehidupannya, perkembangan yang utuh dan optimal dalam bidang pribadi, sosial, belajar, dan karir, serta mencapai keselarasan antara pikiran, perasaan dan perilaku.

Pemahaman secara mendalam tentang diri siswa dapat membantu ketepatan dalam memberikan bantuan, semakin mendalam pemahaman terhadap diri siswa maka akan semakin tepat bantuan diberikan. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh layanan bimbingan klasikal yang dapat digunakan

(16)

terhadap peningkatan self-control siswa. self-control siswa perlu ditingkatkan agar siswa dapat mengendalikan tingkah lakunya dalam situasi apapun sehingga tidak menimbulkan perilaku maladaptif. Peningkatan tersebut dapat dilakukan melalui layanan bimbingan klasikal. Bimbingan klasikal menyediakan informasi yang akurat dan dapat membantu siswa untuk merencanakan pengambilan keputusan dalam hidupnya serta mengembangkan potensinya secara optimal. Melalui layanan bimbingan klasikal yang bersifat pengembangan, siswa dapat memperoleh pemahaman diri dalam meningkatkan self- control dalam kehidupan sehari-hari. Siswa yang memiliki self-control yang baik dapat mengendalikan tingkah lakunya agar senantiasa sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

Penelitian Farozin (2012. P: 143-155). “Mengungkapkan model bimbingan klasikal terbukti efektif untuk meningkatkan motivasi belajar. Layanan bimbingan klasikal efektif untuk meningkatkan self-control pada siswa SMA” Setiawan (2015: 106). Pemahaman secara mendalam tentang diri siswa dapat membantu ketepatan dalam memberikan bantuan, semakin mendalam pemahaman terhadap diri siswa maka akan semakin tepat bantuan diberikan.

Penelitian ini bertujuan menghasilkan melihat pengaruh bimbingan klasikal yang dapat digunakan terhadap peningkatan control siswa.

self-control siswa perlu ditingkatkan agar siswa dapat mengendalikan tingkah

lakunya dalam situasi apapun sehingga tidak menimbulkan perilaku maladaptif. Peningkatan tersebut dapat dilakukan melalui layanan bimbingan klasikal. Bimbingan klasikal menyediakan informasi yang akurat dan dapat membantu siswa untuk merencanakan pengambilan keputusan dalam hidupnya serta mengembangkan potensinya secara optimal. Melalui layanan bimbingan klasikal yang bersifat pengembangan, siswa dapat memperoleh pemahaman diri dalam meningkatkan self-control dalam kehidupan sehari-hari. Siswa yang memiliki self-control yang baik dapat mengendalikan tingkah lakunya agar senantiasa sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Hasil penelitian ini bermanfaat bagi konselor untuk membantu siswa

(17)

meningkatkan self control nya melalui layanan bimbingan klasikal. Maka dari itu peneliti tertarik meneliti tentang. “Pengaruh Layanan Bimbingan Klasikal Terhadap Peningkatan Self-Control Siswa di SMPN 4 Lintau Buo Utara”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka hal-hal yang dapat identifikasi sebagai berikut:

1. Pengaruh layanan bimbingan klasikal terhadap peningkatan

self-control siswa SMPN 4 Lintau Buo Utara.

2. Faktor yang mempengaruhi self-control sisiwa SMPN 4 Lintau Buo Utara.

3. Perkembangan Self-control siswa setelah diberikan layanan bimbingan klasikal SMPN 4 Lintau Buo Utara.

4. Self-control siswa dari pengaruh pada hubungan teman sebaya. C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka penulis akan membatasi penelitian pada “Pengaruh Layanan Bimbingan Klasikal terhadap Peningkatan Self-Control dalam belajar Siswa SMPN 4 Lintau Buo Utara”

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah Layanan Bimbinggan Klasikal Berpengaruh terhadap Peningkatan Self-Control siswa SMPN 4 Lintau Buo Utara?”.

E. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah melihat pengaruh layanan bimbingan klasikal terhadap peningkatan self-control siswa SMPN 4 Lintau Buo Utara.

(18)

F. Manfaat dan Kegunaan Penelitian 1. Manfaat penelitian

a. Secara Teoritis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau masuakan bagi perkembangan ilmu konselinng kajian ilmu konseling khususnya dalam meningkatkan self-control siswa. b. Secara Praktis

1) Bagi Penulis

Mendapat gelar Sarjana Pendidikan (S-1) pada Jurusan Bimbingan Konseling Fakultas Keguruan Institiut Agama Islam Negeri Batusangkar.

2) Bagi siswa yang memiliki self-control yang rendah

Agar siswa memiliki self-control bisa mengendalikan diri setelah dilakukan layanan bimbingan klasikal yang diberikan guru BK di sekolah hingga mendapat meperolah manfaat untuk mengotrol diri agar lebih baik.

3) Bagi Guru BK/ Konselor

Konselor mampu menumbuhkan minat siswa untuk selalu mengontrol diri setelah pelaksanaan bimbingan klasikal. 4) Jurusan Bimbingan Konseling

Memberikan sumbangan terhadap pemgembangan ilmu di dunia pendidikan terutama dalam bidang bimbingan konseling. 5) Pembaca

Untuk referensi dan menambah wawasan yang baru bagi pembaca.

6) Bagi Sekolah

Dapat menjadikan gambaran bagi pihak sekolah dan mengantisipasi kurangnya self-control siswa

(19)

Dapat menjadikan bahan dan refrensi selanjutnya untuk penelitian yang berkaitan dengan layanan klasikal dalam

self-control siswa.

2. Luar Penelitian

Sementara luar penelitian atau target yang dicapai dari penelitian ini adalah diharapkan hasil penelitian dapat didasari menjadi sebuah artikel yang dapat dipersenatsikan dalam seminar atau bisa diterbitkan pada jurnal ilmiah.

G. Definisi Operasonal 1. Self-Control

Adapun dasar rujukan yang dipakai dalam penelitian ini merujuk pada pendapat Goldfried & Merbaum Mukhtar, (2016: 4) mendefinisikan “self-control sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur, dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi positif”

Menurut penulis Self-control adalah suatu kemampuan siswa memikirkan untuk menyusun perencanaan proses belajar agar mencapai tujuan pembelajaran, membimbing perilaku dari hal yang menganggu dari tujuan ke sekolah, mengatur emosi dari aturan sekolah yang ada agar tidak melanggar, dan mengarahkan bentuk perilaku yang baik dalam mencapai prestasi di sekolah, ettitut yang baik yang dapat membawa siswa ke arah perilaku yang positif dan bersifat toleran terhadap lingkungan di sekitar sekolah.

2. Bimbingan klasikal

Permend Dikbud RI No. 111 tahun (2014: 1) menjelaskan, layanan bimbingan dan konseling di dalam kelas:

a. Layanan bimbingan dan konseling di dalam kelas (bimbingan klasikal) merupakan layanan yang dilaksanakan dalam seting kelas, diberikan kepada semua peserta didik dalam bentuk tatap muka terjadwal dan rutin setiap kelas/perminggu.

(20)

b. Volume kegiatan tatap muka secara klasikal (bimbingan klasikal) ada 2 (dua) jam perkelas (rombongan belajar) perminggu dan dilaksanakan secara terjadwal di kelas.

c. Materi layanan bimbingan klasikal meliputi empat bidang layanan bimbingan dan konseling diberikan secara proporsonal sesuai dengan kebutuhan peserta didik/ konseli yang meliputi aspek perkembangan pribadi, sosial, belajar, karir dalam rangka pencapaian optimal peserta didik dan tujuan pendidikan nasonal.

Menurut penulis pelayanan dasar bimbingan yang dirancang konselor kepada peserta didik, melalui kontak langsung dan kegiatanya terjadwal diberikan kepada semua peserta didik, dalam bentuk tatap muka terjadwal dan rutin setiap kelas/perminggu. Tatap muka secara klasikal (bimbingan klasikal) ada 2 (dua) jam perkelas meliputi empat bidang layanan bimbingan dan konseling diberikan secara proporsonal sesuai dengan kebutuhan peserta didik/ konseli yang meluputi aspek perkembangan pribadi, sosial, belajar, karir dalam rangka pencapaian optimal.

(21)

11 BAB II KAJIAN TEORI A. Landasan Teori 1. Self-Control a. Definisi Self-Control

Masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak menuju masa dewasa. “Pada masa remaja individu mengalami berbagai perubahan, baik fisik maupun psikis” Hurlock, (2004: 206). Sebagai individu yang masih dalam tahap tumbuh kembang, remaja membutuhkan sarana pendidikan yang bisa memfasilitasi tahapan perkembangannya. (Undang Uundang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003).

Pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab .

Menurut Havighurst dalam Yusuf,( 2008: 25-26) “pada masa remaja, perasaan mereka lebih peka, sehingga menimbulkan jiwa yang sensitive dan peka terhadap diri dan lingkungannya”. Remaja menjadi seseorang yang sangat mempedulikan dirinya sendiri sehingga tidak menyukai hal-hal yang menggangu diri para remaja. Remaja dalam menghadapi masa transisi ini sering kehilangan kontrol diri, oleh karena itu salah satu tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh remaja adalah memperkuat selfcontrol (kemampuan mengendalikan diri).

(22)

Goldfried & Merbaum Mukhtar, (2016: 4) mendefinisikan. “Self-control sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur, dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi positif”. Rotter dalam Wiked (2005). “Kendali diri merupakan keyakinan yang berasal dari individu untuk mengendalikan perilakunya”. Pendapat tersebut hampir senada dengan pandangan Mischel dalam Pervin (1984: 410) ,bahwa self-control mengarah pada kekuatan individu untuk mengatur atau mengendalikan tindakannya dalam menghadapi situasi.

Baumister, et.al (2007: 351). Mengemukakan “self-control adalah kapasitas untuk mengubah suatu respon, terutama untuk membawa respon tersebut pada garis standar seperti cita-cita, nilai, moral dan ekspektasi sosial, dan untuk mendukung pencapaian tujuan jangka panjang”.

Cavanagh & Levitov (2002: 211). Menyatakan kontrol diri adalah bagian penting dan pengarahan diri yang akan membantu menyalurkan energi mereka dan memungkinkan untuk membimbing kehidupan mereka sendiri. Pengendalian diri yang sehat didasarkan pada komunikasi internal yang baik, komunikasi internal yang dimaksud adalah ketika individu mengontrol pikirannya dengan mengubah ancaman menjadi peluang sehingga dapat memilih keputusan yang baik dan menampilkan perilaku yang menghasilkan konsekuensi positif.

Berdasarkan pendapat para ahli, maka dapat dipahami

self-control adalah kemampuan seseorang dalam mengontrol perilaku,

mengontrol pikiran dan mengontrol keputusan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi positif. Pengendalian diri (self-control) memiliki jenis yang beragam. Block dan Block dalam Lazarus, (1976: 238) mengemukakan tiga jenis self-control, yaitu:

(23)

1. Over control, yaitu kontrol yang berlebihan sehingga menyebabkan sesorang banyak mengontrol dan menahan diri untuk bereaksi terhadap stimulus.

2. Appropriate control, yaitu kontrol yang memungkinkan individu mengontrol impulsnya dengan tepat.

3. Under cintrol, yaitu kecenderungan untuk melepaskan impuls dengan bebas tanpa perhitungan yang matang. Menurut Sarafina dalam Muharsih, (2008: 26) self-control yang digunakan individu dalam menghadapi suatu stimulus meliputi:

1. Behavior control, yaitu kemampuan individu untuk mengambil tindakan kongkrit untuk mengurangi akibat stressor. Tindakan mengurangi stressor dapat berupa pengurangan intensitas kejadian atau memperpendek durasi kejadian;

2. Cognitive control, yaitu kemampuan individu untuk menggunakan proses berpikir atau strategi untuk memodifikasi akibat stressor. Strategi memodifikasi stressor dapat berupa penggunaan cara yang berbeda dalam memikirkan kejadian tersebut atau pada pemikiran yang menyenangkan atau netral;

3. Declaration control, kesempatan untuk memilih antara prosedur alternatif atau tindakan yang dilakukan.

4. Information control, yaitu kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan mengenai kejadian yang menimpa remaja, kapan akan terjadi, mengapa dan apa konsekuensinya. Kontrol informasi dapat memprediksi dalam menghadapi sesuatu yang tidak diketahuinya;

5. Retrospective control, yaitu menyinggung kepercayaan mengenai apa atau siapa yang menekan setelah kejadian itu terjadi.

Menurut Averill (1973: 286) bahwa aspek-aspek self-control terbagi menjadi tiga yaitu kontrol perilaku (behavior control), kontrol kognitif (cognitif control), dan kontrol keputusan (decisional

control).

1. Behavioral control

Merupakan kesiapan atau suatu respon yang dapat secara langsung mempengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Kemampuan mengontrol perilaku ini diperinci menjadi dua indikator, yaitu mengatur pelaksanaan (regulated administration)

(24)

dan kemampuan memodifikasi stimulus (stimulus modifiability).

Kemampuan mengatur pelaksanaan merupakan kemampuan untuk menentukan siapa yang mengendalikan situasi atau keadaan, dirinya sendiri atau sesuatu diluar dirinya. Individu yang kemampuan kontrol dirinya baik akan mampu mengatur perilaku dengan menggunakan kemampuan dirinya dan bila tidak mampu individu akan menggunakan sumber eksternal. Kemampuan mengatur stimulus merupakan kemampuan untuk mengetahui bagaimana dan kapan suatu stimulus yang tidak dikehendaki dihadapi.

2. Cognitive control

Merupakan kemampuan individu dalam mengelola informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau menggabungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis atau untuk mengurangi tekanan. Aspek ini terdiri atas dua indikator, yaitu memperoleh informasi (information gain) dan melakukan penilaian (appraisal). Sebuah informasi yang dimiliki oleh individu mengenai suatu keadaan yang tidak menyenangkan, individu dapat mengantisipasi keadaan tersebut dengan berbagai pertimbangan. Melakukan penilaian berarti individu berusaha menilai dan menafsirkan suatu keadaan atau peristiwa dengan cara memperhatikan segi-segi positif secara subjektif.

3. Decisional control

Merupakan kemampuan seseorang untuk memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang di yakini atau di setujuinya. Kendali diri dalam menentukan pilihan akan berfungsi baik dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan, atau kemungkinan pada diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan tindakan Dapat dipahami self-control Kemampuan individu mengatur perilaku untuk menentukan mengendalikan situasi atau keadaan, dirinya sendiri atau sesuatu diluar dirinya, melakukan penilaian berarti individu berusaha menilai dan memnganbarkan suatu keadaan atau peristiwa dengan cara memperhatikan segi-segi positif, kontrol diri dalam menentukan pilihan baik dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan, diri individu untuk memilih apa yang individu kerjakan.

(25)

b. Ciri-ciri Self-Control

Individu yang memiliki memiliki control diri yang tinggi akan mampu mengendalikan diri dalam perilaku, emosi, kemampuan dalam mengambil keputusan, sehingga masing-masing individu memiliki kemampuan menngontrol diri yang berberda. Mengetahui jenis kontrol diri yang pada setiap individu dapat dilihat ciri-ciri nya, menurut Logue (1995: 24) orang yang memiliki kontrol diri sebagai berikut:

1. Memegang teguh atau tetap bertahan dengan tugas yang seharusnya ia kerjakaan, walaupun banyak gangguan. 2. Mengubah perilaku sendiri melalui perubahaan dari

beberapa pengruh aturan norma yang ada

3. Tidak menunjukkan atau melibatkan perilaku yang dipengaruhi oleh kemarahan dan emosional.

4. Bersifat toleran terhadap stimulus yang berlawanan. Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa individu yang memiliki self-control yang tinggi adalah individu adalah individu yang menerapkan ciri-ciri di atas, individu yang memiliki ciri-ciri di atas seimbang yang memiliki kontrol yang tinggi akan memegang teguh prinsipnya, menguba prilaku jeleknya kearah positif, tidak berpengaruh dengan emosional terhadap prikau yang ada dan bersifat toleran. apabila individu tidak memiliki ciri-ciri di atas maka individu memiliki self-control yang rendah. Gufron dan Risnawita (2010: 31), aspek-aspek kontrol diri yaitu:

1. Kemampuan Mongontrol Diri Perilaku

Kemampuan mengontrol perilaku yaitu kemampuan untuk mentukan pengendalian situwasi yang ada. Dalam hal ini, perilaku sangat penting peranya dalam kehidupan sehubungan apabila perilaku seserorang tidak terkontrol maka dapat terjadinya perilaku menyimpang.

2. Kemampuan Mengontrol Stimulus

Kemampuan mengontrol stimulus yaitu kemampuan untuk menghadapi stimulus yang tidak yang dinginkan dengan cara mencegah atau menjauhi penyebab yang akan terbentuknya stimulus yang tidak dinginkan serta menempatkan waktu diantara rangkai stimulus yang sedang berlangsung.

(26)

3. Kemampuan Mengantisipasi Peristiwa atau Kejadian Kemampuan mengantisipasi peristiwa yaitu kemampuan untuk mengantisipasi kedaan melalui berbagi pertimbangan secara relatif dan objektif. Individu dalam henghadapi masalah suatu peritiwa harus memiliki kemampuan untuk mengantisipasi masalah tersebut menjadi besar dan rumit.

4. Kemampuan Menafsirkan Peristiwa atau Kejadian

Kemampuan menafsirkan peristiwa yaitu kemampuan yang untuk menilai dan menafsirkan suatu kedaan atau peristiwa dengan cara memperharikan segi-segi terjadi. Artinya individu harus dapat mengartikan setiap individu dapat positif secra obyektif.

5. Kemampuan Mengambil Keputusan

Kemampuan untuk memilih suatu tindakan berdasarkan pada suatu yang akan diyakini atau yang disetujui.

Dapat dipahami individu yang memiliki self-control memahami kemampuan untuk mentukan pengendalian situwasi yang ada, kemampuan untuk menghadapi stimulus yang tidak yang dinginkan dengan cara mencegah atau menjauhi penyebab yang akan terbentuknya permasalahan yang tidak dinginkan ,untuk mengantisipasi kedaan melalui berbagi pertimbangan secara relatif dan objektif untuk memilih suatu tindakan berdasarkan pada suatu yang akan diinginkan .

c. Teknik-Teknik Self-Control

Pengendalian diri dimana individu mengontrol prilaku dengan lingkunganya dan mencoba besosialiasasi menerima apa adanya menghadapai menomena dilingkungan yang ada di sekolah dan individu dapat mengontrol diri sendiri dengan menciptakan suasana baru yang mempunyai pengaruh pada diri. Skinner dalam Nur& Rini (2010: 31) mengemukakan beberapa teknik yang dapat digunakan untuk melepaskan kontrol diri yaitu :

1. Pengendalian dan pertolongan fisik proses dimana individu mengontrol tingkah laku dengan cara pengendalian fisik seseorang bersosialisasi dengan orang lain dengan melatih diri untuk menerima apa adanya, berusaha menghadapi permasalahan dengan cara

(27)

pengendalian fisik terhadap suatu respon yang dikontrol. Eksistensi dan kekuatan tingkah laku dapat dijelaskan dengan menunjuk pada pengaruh lingkungan yang menghalangi respon.

2. Perubahan stimulus selain membuat respon yang mungkin dan tidak mungkin, kita dapat membuat atau menghapus peluang. Dalam mengerjakannya kita memanipulasi baik satu hal yang mendatangkan atau pun yang membedakan stimulus.

3. Penggunaan stimulus aversif seseorang dapat mengontrol diri sendiri dengan menciptakan stimulus verbal yang mempunyai pengaruh pada diri. Kita mengkondisikan reaksi aversif dalam diri kita dengan memadukan stimulus pada cara-cara yang tepat.

Selain teknik kontrol diri yang telah dibahas di atas, terdapat tiga teknik kontrol diri yang dikemukakan oleh Cormier& Cormier dalam Nur& Rini (2010: 31) :

1. Self monitoring, merupakan suatu proses dimana individu mengamati dan peka terhadap segala sesuatu tentang dirinya dan interaksinya dengan lingkungan. Self

monitoring bersifat reaktif, yaitu tindakan yang selalu

mencatat perilaku dapat menyebabkan perubahan, meskipun tidak ada keinginan untuk berusaha sendiri untuk mengadakan perubahan. Dalam self monitoring, individu dapat memberi dirinya sendiri penguat internal yang otomatis.

2. Self reward, merupakan suatu teknik diman individu mengatur dan memperkuat perilakunya dengan segala akibat yang dihasilkan. Self reward adalah cara mengubah perilaku yang dapat dilakukan dengan member hadiah atau hal-hal yang menyenangkan apabila perilaku yang diinginkan berhasil.

3. Stimulus control, suatu teknik yang digunakan untuk mengurangi atau meningkatkan perilaku tertentu.

Stimulus kontrol menekankan pada pengaturan kembali

atau modifikasi lingkungan yang ditetapkan untuk menjadikan suatu hal yang tidak mungkin atau tidak menguntungkan tingkah laku yang biasa terjadi.

Mengontrol diri sangat secara berkelanjutan diperlukan dalam diri individu karena dua alasan. Pertama, individu hidup bersama kelompok sehingga dalam memuaskan keinginannya individu harus mengontrol perilakunya agar tidak mengganggu kenyamanan orang

(28)

lain. Kedua, masyarakat mendorong individu untuk secara konstan menyusun standar yang lebih baik bagi dirinya. Ketika berusahaa memenuhi tuntutan, dibuat pengontrolan diri agar dalam proses pencapaian standar tersebut individu tidak melakukan hal-hal yang menyimpang. Jadi, teknik-teknik yang dapat digunakan untuk mengontrol diri menurut Skinner ada tiga yaitu pengendalian dan pertolongan fisik, perubahan stimulus, penggunaan stimulus aversif, sedangkan teknik kontrol diri menurut Cormier & Cormier yaitu self

monitoring, self reward, dan stimulus control.

Skinner dalam Nur& Rini (2010: 32) mengemukakan beberapa teknik yang dapat digunakan untuk melepaskan kontrol diri yaitu :

1. Pengendalian dan pertolongan fisik proses dimana individu mengontrol tingkah laku dengan cara pengendalian fisik seseorang bersosialisasi dengan orang lain dengan melatih diri untuk menerima apa adanya, berusaha menghadapi permasalahan dengan cara pengendalian fisik terhadap suatu respon yang dikontrol. Eksistensi dan kekuatan tingkah laku dapat dijelaskan dengan menunjuk pada pengaruh lingkungan yang menghalangi respon.

2. Perubahan stimulus selain membuat respon yang mungkin dan tidak mungkin, kita dapat membuat atau menghapus peluang. Dalam mengerjakannya kita memanipulasi baik satu hal yang mendatangkan ataupun yang membedakan stimulus. 3. Penggunaan stimulus aversif seseorang dapat mengontrol diri sendiri dengan menciptakan stimulus verbal yang mempunyai pengaruh pada diri. Kita mengkondisikan reaksi aversif dalam diri kita dengan memadukan stimulus pada cara-cara yang tepat.

Mengontrol diri sangat secara continue diperlukan dalam diri individu karena dua alasan. Pertama, individu hidup bersama kelompok sehingga dalam memuaskan keinginannya individu harus mengontrol perilakunya agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain. Kedua, masyarakat mendorong individu untuk secara konstan menyusun standar yang lebih baik bagi dirinya. Ketika berusahaa memenuhi tuntutan, dibuat pengontrolan diri agar dalam proses pencapaian standar tersebut individu tidak melakukan hal-hal yang menyimpang. Jadi,

(29)

teknik-teknik yang dapat digunakan untuk mengontrol diri menurut Skinner ada tiga yaitu pengendalian dan pertolongan fisik, perubahan stimulus, penggunaan stimulus aversif, sedangkan teknik kontrol diri menurut Cormier & Cormier yaitu self monitoring, self reward, dan

stimulus control.

d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Control diri dipengaruhi beberapa faktor, faktror dari luar diri individu seperti motivasi keluarga teman, guruyangdapat dipetik pelajaran didalamnya dan dalam diri invidu yang sangat mempengaruhi control diri bertambahnya usia seseorang, pengalaman diri yang bisa diambil maka akan semakin baik kontrol dirinya. Cormier& Cormier dalam Nur& Rini (2010: 32) diri sebagaimana faktor psikologis lainnya, kontrol diri dipengaruhi pula oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.

1. Faktor Internal

Faktor internal yang mempengaruhi kontrol diri adalah faktor usia dan kematangan. Semakin bertambahnya usia seseorang maka akan semakin baik kontrol dirinya. Individu yang secara psikologis juga akan mampu mengontrol perilakunya karena telah mampu mempertimbangkan mana hal yang baik dan tidak baik baginya.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal meliputi lingkungan keluarga. Dalam lingkungan keluarga terutama orang tua akan menentukan bagaimana kemampuan kontrol diri seseorang. Bila orang tua menerapkan kepada anaknya sikap disiplin secara intens sejak dini dan orang tua bersikap konsisten terhadap semua konsekuensi yang dilakukan anak bila menyimpang dari yang sudah ditetapkan, maka sikap konsisten ini akan di internalisasikan oleh anak, akan menjadi kontrol bagi dirinya. Teladan dan contoh yang paling penting. Orang tua yang tidak mampu dan tidak mau mengontrol emosinya terhadap anak akan semakin memperburuk keadaan. Berdasarkan paparan di atas dapat dipahami bahwa faktor yang mempengaruhi kontrol diri adalah keluarga, usia, dan kematangan. Semakin usia bertambah maka kemampuan untuk mengontrol diri semakin baik.

(30)

Aspek- aspek yang mempengaruhi kontrol diri kemampuan individu mengolah informasi, mengambil keputusan dan kesiapan untuk merespon, Sedangkan menurut Averill dalam Nur& Rini (2010: 33) terdapat tiga aspek kontrol diri, yaitu :

1. Kontrol kognitif (cognitif control) Yaitu kemampuan individu mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau menghubungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis atau mengurangi tekanan. Aspek ini terdiri dari dua penilaian yaitu memperoleh informasi dan melakukan penilaian. Dengan informasi yang dimiliki oleh individu mengenai suatu keadaan yang tidak menyenangkan individu dapat mengantisipasi keadaan tersebut dengan berbagai pertimbangan. Melakukan penilaian berarti individu berusaha menilai dan menafsirkan suatu keadaan atau peristiwa dengan cara memperhatikan segi– segi positif secara subyektif.

2. Kontrol diri dalam mengambil keputusan (decisional control) Yaitu kemampuan untuk memilih suatu tindakan berdasarkan sesuatu yang diyakini atau disetujui. Kontrol diri dalam menentukan pilihan akan berfungsi baik dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan atau kemungkinan pada diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan tindakan.

3. Kontrol perilaku (behavioral control) Merupakan kesiapan tersedianya suatu respon yang dapat secara langsung mempengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Kemampuan mengontrol perilaku ini diperinci menjadi dua komponen, yaitu mengatur pelaksanaan (regulated administration) dan kemampuan memodifikasi stimulus (stimulus modifiability). Kemampuan mengatur pelaksanaan merupakan kemampuan individu untuk menentukan siapa yang mengendalikan situasi atau keadaan dirinya sendiri atau aturan perilaku dengan menggunakan kemampuan dirinya dan bila tidak mampu individu akan menggunakan sumber eksternal, kemampuan mengatur stimulus merupakan kemampuan untuk mengetahui bagaimana dan kapan suatu stimulus yang tidak dikehendaki dihadapi.(1973: 287)

Beberapa cara yang dapat digunakan, yaitu mencegah atau menjauhi stimulus, menempatkan tenggang waktu diantara rangkaian stimulus yang sedang berlangsung, menghentikan stimulus sebelum waktunya berakhir dan membatasi intensitasnya.

(31)

Dipahami bahwa aspek-aspek yang terdapat dalam kontrol diri adalah adanya kontrol kognitif, kontrol diri dalam pengambilan keputusan, dan kontrol perilaku. Sedangkan untuk mengukur kontrol diri yaitu kemampuan mengontrol perilaku, kemampuan mengontrol stimulus, kemampuan mengantisipasi suatu peristiwa atau kejadian, kemampuan menafsirkan peristiwa atau kejadian, dan kemampuan mengambil keputusan.

f. Self-Control dalam Perspektif Al-Qur’an

Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia, yang diciptakan Allah SWT dalam kondisi yang paling baik dan sempurna. Kepada manusia Allah menganugerahkan berbagai potensi luar biasa yang tidak ada dan tidak dimiliki oleh makhluk lain di dunia ini. Setiap manusia diciptakan dalam keadaan yang fitrah (suci) yang berarti manusia dianugrahi naluri untuk beragama yang lurus, yaitu tauhid. Menjalani kehidupan seringkali manusia gagal dalam mengendalikan bisikan hawa nafsu dan larut pada rayuan setan yang mengajaknya berbuat maksiat dan dosa.

Allah SWT menciptakan adanya berbagai dorongan fisiologis dalam fitrah manusia dan hewan, guna terealisasikan tujuan-tujuan yang dikehendaki Allah SWT, yaitu penjagaan diri dan kelangsungan hidup bagi seluruh jenis. Jelas pemenuhan dorongan-dorongan ini merupakan hal yang dituntut oleh fitrah dan diperlukan oleh tabiat manusia maupun hewan sebab pada pemenuhan dorongan-dorongan tersebut bergantung kelestarian hidup dan kelestarian jenis. Ditetapkan hukum –hukum dan perintah–perintah Al-Qur’an yang berkenaan dengan dorongan – dorongan tersebut, yang sesuai dengan fitrah manusia.

Mengikuti dorongan nafsu dan keinginan setan tanpa memikirkan akibat dari keinginan tersebut merupakan hal yang menyimpang dari fitrah kemanusiaan. Kondisi tersebut sangat berbahaya bagi kehidupan manusia sebab, mengabaikan fitrah dapat

(32)

menyebabkan hati menjadi beku dan padamnya cahaya fitrah. Sebagaimana firman Allah (Al-Qur’an surat. An-Naazi’aat. 40) yaitu:





















Artinya: Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran

Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.

Ayat di atas, dapat diambil pelajaran bahwa seorang individu harus mampu mengontrol dirinya dari dorongan-dorongan biologis dan hawa nafsu yang dapat membawanya lupa kepada Tuhan-Nya dan merasa takut atas kebesaran-Nya, sehingga tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif dan membawa kepada kemaksiatan. Dengan berdzikir kepada Allahlah individu akan selamat dari keinginan hawa nafsu belaka. Berdasarkan firman Allah dalam. (Al-Qur’an surat. Ali-Imran. 134) yaitu:





























Artinya: Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di

waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Ayat di atas menjelaska bahwa individu yang mampu menahan amarahnya adalah individu yang memiliki kontrol diri yag baik sehingga dapat menahannya dan menyalurkan emosinya ke dalam emosi yang positif sehingga tidak merugikan diri sendiri maupun lingkungan disekitarnya. Seorang berdzikir akan muncul kesadaran dari dalam dirinya sehingga mampu mengendalikan pikiran agar sejalan dengan ajaran Islam. Berdasarkan firman Allah dalam.( Al-Qur’an surat. Al-A’raf: 55) yaitu :



















(33)

Artinya: Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara

yang lembut. Sesungguhnya Allah tidaklah menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Ayat di atas dapat dipahami bahwa secara umum Al-Qur’an menganjurkan kepada semua manusia untuk senantias mengontrol segala perilaku dan tindakannya dari bisikan hawa nafsu dan sifat yang berlebihan. Agar individu tidak menjadi budak hawa nafsu, akan tetapi? individu itulah yang mengendalikan dorongan-dorongan nafsu tersebut. Islam telah mengajarkan tentang hukum serta batasan-batasan bagi individu agar mempunyai pengendalian diri dalam berperilaku.Yang dimaksud batasan dalam hal ini adalah mengetahui batasan ilmunya, batas kekuatan akalnya, anggota badannya, harta bendanya, batas tingkat derajat kebesarannya dalam segala perkara dan kepentingannya. g. Fungsi Self-Control

Fungsi self-control adalah membatasi perhatian individu mengendalikan diri dari orang lain dilingkungannya yang bertingkah laku negative, memenuhi kebutuhan individu secara seimbang. Messina & Messina dalam Singgih Gunarsa (2004:255-256) menyatakan bahwa pengendalian diri memiliki beberapa fungsi:

1. Membatasi perhatian individu terhadap orang lain Dengan adanya pengendalian diri, individu akan memberikan perhatian pada kebutuhan pribadinya pula, tidak sekedar berfokus pada kebutuhan-kebutuhan, kepentingan, atau keinginan orang lain di lingkunganya. Perhatian yang terlalu banyak pada kebutuhan, kepentingan, atau keinginan orang lain, cenderung akan menyebabkan individu mengabaikan bahwa melupakan kebutuhan pribadinya.

2. Membatasi keinginan individu untuk mengendalikan orang lain dilingkungannya. Dengan adanya pengendalian diri, individu akan membatasi ruang bagi aspirasi dirinya dan memberikan ruang bagi aspirasi orang lain supaya dapat terkondisi secara bersama-sama. Individu akan membatasi keinginannya atas keinginan orang lain, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berada dalam ruang spirasinya masing-masing, atau bahkan menerima aspirasi orang lain tersebut secara penuh.

3.Membatasi individu untuk bertingkah laku negative Individu yang memiliki pengendalian diri akan terhindar dari berbagai

(34)

tingkah laku negatif. Pengendalian diri memiliki arti sebgai kemampuan individu menahan dorongan atau keinginan untuk bertingkah laku (negatif) yang tidak sesuai dengan norma sosial. Tingkah laku negatif yang tidak sesuai dengan norma sosial tersebut meliputi ketergantungan pada obat atau zat kimia, rokok, alkohol dan lain sebagainya.

4.Membantu individu untuk memenuhi kebutuhan individu secara seimbang.

Pemenuhan kebutuhan individu untuk hidup menjadi motiv bagi setiap individu dalam bertingkah laku. Individu bertingkah laku untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, boleh jadi individu memiliki ukuran melebihi kebutuhan yang harus dipenuhinya. Individu yang memiliki pengendalian diri yang baik, akan berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dalam takaran yangsesuai dengan kebutuhan yang ingin dipenuhinya. Pengendalian diri membantu individu untuk menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan hidup, seperti tidak memakan makanan secara berlebihan, tidak melakukan hubungan seks berlebihan berdasarkan nafsu semata-mata, atau tidak melakukan kegiatan berbelanja secara berlebihan melampaui batas kemampuan keuangan. 2. Layanan Bimbingan Klasikal

Layanan bimbingan dan konseling memiliki berbagai setting pelayanan, diantaranya bimbingan dalam setting klasikal dan bimbingan dalam setting kelompok. Melalui bimbingan klasikal, guru BK dapat memberikan layanan bimbingan kepada sejumlah peserta didik dengan waktu yang lebih efisien. Menurut Geltner dan Clark dalam Winkel (2006 :561) “bimbingan klasikal adalah layanan yang bersifat preventive, curative, preservative,dan developmental

merupakan cara yang efisien dalam memberikan informasi kepada siswa satuan kelas”.

Derektorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidikan Dan Tenga Pendidikan Departemen Pendidikan Nasonal tahun 2007 menjelaskan layanan bimbingan klasikal adalah “salah satu pelayanan dasar bimbingan yang dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak lansung dengan para siswa didik secara terjadwal” berdasarkan

(35)

penjelasan diatas, dapat dipahami bahwa layanan bimbingan klasikal adalah salah satu layanan dasar bimbingan yang dilakukan konselor kepada peserta didik melalui kontak langsung dan kegiatanya terjadwal. Permend Dikbud RI No. 111 tahun (2014: 1) menjelaskan, layanan bimbingan dan konseling di dalam kelas:

1. Layanan bimbingan dan konseling di dalam kelas (bimbingan klasikal) merupakan layanan yang dilaksanakan dalam seting kelas, diberikan kepada semua peserta didik dalam bentuk tatap muka terjadwal dan rutin setiap kelas/perminggu.

2. Volume kegiatan tatap muka secara klasikal (bimbingan klasikal) ada 2 (dua) jam perkelas (rombongan belajar) perminggu dan dilaksanakan secara terjadwal di kelas.

3. Materi layanan bimbingan klasikal meliputi empat bidang layanan bimbingan dan konseling diberikan secara proporsonal sesuai dengan kebutuhan peserta didik/ konseli yang meluputi aspek perkembangan pribadi, sosial, belajar, karir dalam rangka pencapaian optimal peserta didik dan tujuan pendidikan nasonal.

Layanan bimbingan dan konseling merupakan pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan perencanaan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku. Menurut Ahmad Juntika Nurihsan dkk (2013: 34). “Bimbingan klasikal merupakan layanan dasar bimbingan untuk membantu seluruh peserta didik mengembangkan perilaku efektif dan keterampilan hidupnya yang mengacu kepada tugas perkembangan peserta didik, layanan ini ditujukan untuk seluruh peserta didik.”

Menurut Prayitno dan Erman (2008: 99). Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa, agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

(36)

Layanan bimbingan klasikal yang diberikan kepada seluruh perseta didik untuk pengoptimalan diri yang tidak sesuai dengan norma norma yang di berikan oleh berikan oleh orang yang ahli dibidangnya yaitu guru BK denagn memenfaatkan kekutan individu dan saran yang dapat di kembangankan berdasarkan norma yang ada.

Layanan bimbingan klasikal dianggap sebagai salah satu cara untuk mencegah siswa dalam pemgembangan self-control pelanggaran tata tertib sekolah. dengan menggunakan layanan bimbingan klasikal konselor bisa memberikan materi tentang akibat melanggar tata tertib sekolah dan penyesuaian diri dilingkuangan sekoalah. Sesuai dengan fungsi layanan bimbingan klasikal yaitu fungsi pencegahan yang merupakan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik untuk melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah dan sontrol diri dari prilaku perilaku yang menyimpang yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku.

Bimbingan klasikal layanan bimbingan dan konseling memiliki berbagai setting pelayanan, diantaranya bimbingan dalam setting klasikal dan bimbingan dalam setting kelompok. Melalui bimbingan klasikal, guru BK dapat memberikan layanan bimbingan kepada sejumlah peserta didik dengan waktu yang lebih efisien.

Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depertemen Pendidikan Nasional 2007 Dirjend PMPTK (2007: 40) mengemukakan pendapat:

Layanan bimbingan klasikal adalah salah satu pelayanan dasar bimbingan yang dirancang konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para peserta didik di kelas secara terjadwal, konselor memberikan pelayanan bimbingan ini kepada peserta didik. Kegiatan bimbingan kelas ini bisa berupa diskusi kelas atau curah pendapat.

Pendapat diatas berkaitan, Bimbingan klasikal menurut Winkel dan Hastuti (2006 : 561). "Bimbingan klasikal adalah bimbingan yang

(37)

diberikan kepada sejumlah siswa yang bergabung dalam satu satuan kegiatan pengajaran".

Dirjen PTK Depdiknas (2007) Mengemukan bahwa layanan bimbingan klasikal adalah salah satu pelayanan dasar bimbingan yang dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para peserta didik dikelas secara terjadwal, konselor memberikan pelayanan bimbingan ini kepada peserta didik. Kegiatan bimbingan kelas ini bisa berupa diskusi kelas atau curah pendapat. Menurut Santoso (2011: 139).

Bimbingan kelas (klasikal) adalah program yang dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para peserta didik di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada para peserta didik. Kegiatan bimbingan kelas ini bisa berupa diskusi kelas atau

brain storming (curah pendapat).

Uraian di atas dapat dipahami bahwa bimbingan klasikal merupakan layanan dasar yang dirancang pelayanan dasar bimbingan yang dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para peserta didik dikelas secara terjadwal ditujukan kepada peserta didik yang berupa diskusi atau curah pendapat salah satu cara untuk mencegah siswa dalam pemgembangan

self-control pelanggaran tata tertib sekolah, sesuai dengan fungsi

layanan bimbingan klasikal yaitu fungsi pencegahan yang merupakan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik untuk melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah dan kotorol diri yang ada dilikungan sekolah.

a. Pelaksanaan Layanan Bimbingan Klasikal

Layanan bimbingan klasikal bukanlah suatu kegiatan mengajar atau menyampaikan materi pelajaran sebagaimana mata pelajaran dalam kurikulum pendidikan disekolah, melainkan menyampaikan informasi yang dapat berpengaruh terhadap tercapainya perkembangan yang optimal seluruh aspek perkembangan dan tercapainya kemandirian

(38)

peserta didik atau konseli. Oleh karena itu ada kaitan langsung antara kegiatan bimbingan dengan pengajaran di kelas.

POP BK SMP (2016: 64). Langkah-langkah pelakasaanaan bimbingan klasikal :

1). Persiapan

a) Mengajukan jadwal masuk kelas 2 jam setiap kelas/ minggu untuk ditetapkan pimpinan sekolah sesuai kalender akademik SMP.

b) Mempersiapkan topik materi bimbingan klasikal, yang dirumuskan berdasarkan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik (SKKPD) Ditjen PMPTK (2007), masalah yang dihadapi peserta didik/ konseli yang diases menggunakan AUM atau DCM, dan instrumen lain yang relevan.

c) Menyusun rencana pelaksanaan layanan bimbingan klasikal dengan menggunakan sistematika sebagaimana disajikan dalam format RPL.

d) Mendokumentasikan rencana pelaksanaan layanan bimbingan klasikal yang akan diberikan

2) Pelaksanaan

a)Melaksanakan layanan bimbingan klasikal sesuai jadwal dan materi yang telah dirancang.

b) Mendokumentasikan rencana pelaksanaan layanan bimbingan klasikal yang telah diberikan

c) Mencatat peristiwa dan atau hal-hal yang perlu perbaikan dan atau tindak lanjut setelah layanan bimbingan klasikal dilaksanakan

3) Evaluasi dan tindak lanjut

a) Melakukan evaluasi proses layanan bimbingan klasikal,

b) Melakukan evaluasi hasil layanan bimbingan klasikal yang telah diberikan.

(39)

Tujuan bimbingan klasikal membantu individu agar mampu menyesuaikan diri, mampu mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri, dan gembangkan potensi yang dimiliki individu agar bisa membantu individu agar mampu menyesuaikan diri, mampu mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri, mampu beradaptasi dalam lingkungan pendidikan Menurut Ahmad Juntika Nurihsan (2006: 8)

Bahwa tujuan bimbingan memberikan arah agar individu dapat merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karier, serta kehidupannya pada masa yang akan datang; mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan seoptimal mungkin; menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, serta lingkungan kerjanya; dan mengatasi hambatan serta kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, ataupun lingkungan kerja.

Menentukan perilaku sebagai bukti hasil bimbingan klasikal dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengenal dan memahami potensi, kekuatan, serta tugas-tugasnya; mengenal dan memahami potensi-potensi yang ada dilingkungannya; mengenal dan menentukan tujuan, rencana hidup serta rencana pencapaian tujuan tersebut; memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri, menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, lembaga tempat bekerja dan masyarakat, menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan lingkungan, serta mengembangkan segala potensi dan kekuatannya yang dimilikinya secara tepat, teratur, dan optimal.

Menurut Winkel dan Hastuti (2010:136). “Tujuan dari bimbingan klasikal adalah membantu individu agar mampu menyesuaikan diri, mampu mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri, mampu beradaptasi dalam kelompok, mampu menerima support atau memberikan support pada orang lain”.

Self-control adalah pengaturan proses-proses fisik, psikologis dan

(40)

membentuk dirinya sendiri. self-control sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu kearah konsekuensi positif. Selain itu self-control juga menggambarkan keputusan individu yang melalui pertimbangan kognitif untuk menyatukan perilaku yang telah disusun untuk meningkatkan hasil dan tujuan tertentu yang diingkan

Berdasarkan beberapa uraian tentang konsep dasar self

-control tersebut dapat dipahami self--control adalah suatu kemampuan

yang dimiliki oleh individu dalam mengatur dan mengarahkan perilakunya berdasarkan proses koginitif dan psikologis sehingga menghasilkan perilaku yang sesuai dengan yang diharapkan individu tersebut.

Kontrol diri juga dapat diartikan sebagai suatu aktivitas pengendalian tingkah laku. Pengendalian tingkah laku mengandung makna yaitu, melakukan pertimbangan- pertimbangan terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu untuk bertindak Ghufron dan Rini Risnawita (2014: 25-26). Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori mengenai self -control yang meliputi definsisi, aspek-aspek

self control, jenis-jenis self-control, fungsi self-control, dan faktor

yang mempengaruhi self-control. Sedangkan teori khusus mengenai tahap-tahap dan metode untuk meningkatkan self-control tidak ditemukan. Pada penelitian ini, self-control remaja dalam konteks Islam terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al Mu’minun Ayat 71 yaitu:



































Artinya: “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti

binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al-Qur’an) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (Al-Qur’an).

(41)

Ayat ini dijelaskan bahwa alasan penentangan mereka terhadap Al-Qur’an adalah kandungannya bertentangan dengan hawa nafsu dan keinginan mereka yang tidak pada tempatnya. Diasumsikan undang-undang yang mengatur alam ini harus mengikuti keinginan manusia, maka yang terjadi adalah kehancuran dan tidak ada parameter pasti yang mengatur dunia ini. Kemudian ayat ini menyebut Al-Qur’an menjadi perantara untuk menyadarkan manusia dan faktor penyelamat manusia. Sebaliknya, mengikuti hawa nafsu akan membuat manusia memalingkan wajahnya dari ayat-ayat Ilahi. c. Ruang Lingkup dan Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling

di SMP

Pelaksanaan bimbingan dan konseling di SMP didasarkan kepada tujuan, prinsip, dan azas bimbingan dan konseling. Kegiatannya mencakup semua komponen dan bidang layanan melalui layanan langsung, media, kegiatan administrasi, peminatan peserta didik, serta kegiatan tambahan dan pengembangan keprofesian berkelanjutan guru bimbingan dan konseling atau konselor. Layanan langsung, meliputi (1) konseling individual, (2) konseling kelompok, (3) bimbingan kelompok, (4) bimbingan klasikal, (5) bimbingan kelas besar atau lintas kelas, (6) konsultasi, (7) kolaborasi, (8) alih tangan kasus, (9) kunjungan rumah, (10) advokasi, (11) konferensi kasus,dan (12) peminatan. Layanan melalui media, meliputi (1) papan bimbingan, (2) kotak masalah, (3) leaflet, dan (4) pengembangan media bimbingan dan konseling. POP BK SMP (2016: 46).

Kegiatan administrasi, meliputi (1) pelaksanaan dan tindak lanjut asesmen kebutuhan, (2) penyusunan dan pelaporan program kerja, (3) evaluasi program bimbingan dan konseling, dan (4) pelaksanaan administrasi dan manajemen bimbingan dan konseling. Kegiatan tugas tambahan, meliputi (1) Kepala/ Wakil Kepala Sekolah, Pembina OSIS, Pembina Ekstrakurikuler, Pembina Pramuka, dan Koordinator BK, serta pengembangan keprofesian berkelanjutan

Gambar

Tabel 3.1  Desain Eksperimen
Tabel 3.2  Populasi Penelitian
Tabel 3.3  Sampel Penelitian
Tabel 3.10  Kreteria  N-gain

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

OPTIMALISASI KONSEP DIRI SISWA MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA PERMAINAN (Penelitian Tindakan Bimbingan Pada siswa Kelas VIII A SMP Kanisius

Akan tetapi, siswa yang memiliki daya tarik interpersonal tinggi (populer) juga mendapatkan layanan bimbingan klasikal ini karena layanan bimbingan merupakan layanan untuk

1. Guru BK menyampaikan tujuan layanan yang akan di capai. Guru BK menggunakan berbagai media untuk mempermudah siswa dalam meningkatkan self control siswa. Guru BK

Berdasarkan tabel dan grafik tentang hasil pengamatan terhadap siswa sewaktu mengikuti kegiatan layanan bimbingan klasikal pada siklus II, memberikan gambaran

Menjelaskan bahwa sebelum memberikan layanan bimbingan klasikal kepada peserta didik terlebih dulu guru BK membuat RPL dan topik materi yang akan dibahas disesuaikan dengan

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diketahui bahwa jenis layanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan dengan format layanan klasikal di SMP Negeri 3

Menurut Gysbers dan Henderson (2012) bimbingan klasikal merupakan salah satu bentuk strategi yang diselenggarakan dalam layanan Dasar. Bimbingan klasikal merupakan

EFEKTIVITAS LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL TEKNIK PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PEMECAHAN MASALAH PADA SISWA KELAS VIII FU SMP MUHAMMADIYAH 1 MOYUDAN Chelsy