1
Pada era globalisasi yang semakin maju, masyarakat dalam suatu negara dimanjakan dengan perkembangan teknologi dan transportasi yang semakin modern. Namun sejalan dengan perkembangan yang modern tersebut, menimbulkan permasalahan dalam perkembangan perekonomian suatu negara terhadap harga jual barang atau jasa yang semakin lama semakin tinggi dan berdampak pada daya beli masyarakat dalam suatu negara (Lutfi, 2012).
Menyikapi permasalahan tersebut pemerintah di Indonesia membuatkan suatu wadah dengan lembaga intermediasi yaitu bank yang diharapkan menjadi salah satu faktor yang dapat berperan aktif dalam menunjang kegiatan nasional dan penggerak perekonomian di Indonesia. Peran itu diwujudkan dalam fungsi utamanya sebagai perantara antara debitur dan kreditur sehingga bank dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak. Saat ini, industri perbankan mengalami kemajuan yang cukup pesat akibat dari kemajuan teknologi dan komunikasi. Selain itu, perkembangan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi menimbulkan nilai-nilai dan kebutuhan baru bagi masyarakat dilihat dari semakin maraknya minat masyarakat untuk menggunakan jasa-jasa perbankan. Dengan adanya teknologi dan komunikasi tersebut akan memberikan kemudahan kepada para nasabah dalam bertransaksi keuangan (Dhiny, 2014).
Di Indonesia, Bank terbagi menjadi dua jenis yaitu Bank Sentral dan Bank Umum. Bank Sentral di Indonesia hanya satu yaitu Bank Indonesia sebagai lembaga negara yang mempunyai wewenang untuk mengeluarkan alat pembayaran yang sah dari suatu negara, merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, mengatur dan mengawasi perbankan serta menjalankan fungsi sebagai lender of the last resort. Sedangkan, Bank Umum adalah Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional ataupun berdasarkan prinsip syariah yang dalam
kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran atau bank komersial (Dhiny,2013).
Menurut UU No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan, jenis bank berdasarkan kepemilikannya dibagi menjadi dua yaitu, bank swasta dan bank pemerintah. Bank pemerintah adalah bank yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh pemerintah. Contoh dari bank pemerintah adalah Bank Pembangunan Daerah (BPD), yang memiliki fungsi dan peranan sebagai pengembang perekonomian dan penggerak pembangunan di daerah. Adapun tugas dari Bank Pembangunan Daerah yaitu menyediakan pembiayaan keuangan pembangunan di daerah, menghimpun dana serta melaksanakan dan menyimpan kas daerah disamping menjalankan kegiatan bisnis perbankan. Selain itu, BPD memiliki fungsi yang unik yaitu menjadi agen perubahan di suatu daerah (Agent of Regional Development) yang tak dimiliki oleh bank lain (Dennis, 2013).
Di Indonesia, Bank Pembangunan Daerah (BPD) terbagi menjadi 26 bank dan melayani satu ataupun dua provinsi. Adapun salah satu contoh BPD yang melayani 2 provinsi adalah BPD Jawa Barat dan Banten yaitu PT Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Tbk atau sering dikenal dengan sebutan Bank BJB. Badan Pembangunan Daerah diharuskan menyajikan laporan keuangannya agar dapat memperlihatkan kesehatan dan perkembangan atau kinerja dari laporan keuangan BPD tiap tahunnya. Berdasarkan peraturan Bank Indonesia No.6/10/PBI/2004, tingkat kesehatan bank merupakan hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau penilaian kuantitatif terhadap faktor-faktor permodalan (capital), kualitas asset (assets quality), manajemen (management), rentabilitas (earning), dan likuiditas (liquidity) tiap tahunnya (www.bi.go.id, 2013).
Adapun hasil pelaporan laporan keuangan Bank BJB periode 2013 terus mengalami peningkatan yang cukup baik. Dilihat pada laporan posisi keuangan Bank BJB 31 Desember periode 2012-2013 dari sisi aset Bank BJB meningkat 0,16566% dari tahun sebelumnya menjadi Rp 70.958.233. Pada sisi liabilities turun hingga 1,4049938% dari tahun sebelumnya menjadi Rp 60.896.825. Pada
sisi equity meningkat 11,8063533% dari tahun sebelumnya menjadi Rp 6.718.265 (bankbjb.co.id, 2013).
Dari hasil laporan posisi keuangan/neraca tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja perusaan Bank BJB pada periode 2012-2013 dapat dinyatakan baik dan sehat, karena tidak adanya permasalahan dalam laporan keuangan tersebut (Dennis, 2013).
Adapun pada pertengahan tahun 2014 PT Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Tbk mengalami penurunan dalam pelaporan laporan keuangan, yang diakibatkan dari tinggnya inflasi dan diiringin dengan turunnya nilai tukar uang di Indonesia (devaluasi) (Mita, 2014).
Pelaporan laporan keuangan dilihat dari laporan posisi keuangan Bank BJB periode 2013-2014 sebagai berikut, dari sisi aset Bank BJB naik hingga 6,874894982% menjadi Rp75.836.537. Pada sisi liabilities mengalami peningkatan sebesar -4,906495536% menjadi Rp 63.884.725. Pada sisi equity naik sebesar 5,438040923% menjadi Rp7.083.607 (bankbjb.co.id, 2014).
Maka dari laporan posisi keuangan tersebut dapat dilihat bahwa kinerja perusaan Bank BJB pada periode 2013-2014 dinyatakan baik dan sehat, meskipun pada sisi liabilitas terjadi peningkatan, namun kewajiban dari Bank BJB dapat ditangani karena pada sisi asset masih lebih besar dibandingkan sisi liabilitasnya. Adapun laporan laba rugi pada Bank BJB periode 2013-2014 menurun sebagai berikut, Pada sisi Net Interest menurun -6,702957231% dari tahun sebelumnya menjadi Rp 4.461.598. Dari sisi Operating Income menurun -19,18431719% dari tahun sebelumnya menjadi Rp 1.415.835. Laba yang diperoleh sebelum pajak menurun -17,93534504% dari tahun sebelumnya menjadi Rp 1.438.490. Laba sesudah pajak menurun -18,62499428% dari tahun sebelumnya menjadi Rp1.120.035. laba yang diterima per saham menurun -18,70188573% dari tahun sebelumnya menjadi Rp 115,11 (bankbjb.co.id, 2014).
Dari hasil laporan laba rugi tersebut mempengaruhi pergerakan saham Bank BJB yang saat ini berada pada level Rp840 per saham, menurun dibandingkan tahun sebelumnya pada level Rp960. Tercatat hingga tahun 2014 saham Bank BJB hanya dapat mencapai level tertinggi yaitu Rp1.200 dan stagnan
pada level tersebut. Sehingga pada periode 2013-2014 Bank BJB mengalami undervalue, maka kinerja investasi Bank BJB tidak menghasilkan hasil yang membaik (Teguh, 2014).
Dalam hal tersebut, Bank BJB berupaya meningkatkan kinerja dari beberapa produk investasi yang diharapkan dapat mengangkat nilai saham Bank BJB. Salah satu kinerja produk investasi yang ditingkatkan kinerjanya oleh Bank BJB yaitu produk reksadana. Pada tahun 2015 Bank BJB memperlihatkan keseriusan dalam rangka meningkatkan kinerja investasi dari pruduk reksadana, dengan kembali menandatangangi perjanjian kerjasama bersama Manajer Investasi dari PT Sucorinvest Asset Management yang memiliki track record yang baik di pasar modal. Adapun maksud dan tujuan dari kerjasama tersebut untuk dapat meningkatkan Asset Under Management (AUM) dan Fee Based Income Bank BJB, serta mendukung visi perusahaan hingga 2020 yaitu mencapai sejuta investor dan masuk 10 besar Manajer Investasi di Indonesia (bankbjb.co.id, 2015).
Pada saat ini PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten telah bekerjasama dengan 4 Manajer Investasi dengan memasarkan 13 produk reksadana kepada para investor. Adapun hasil dari ke 13 produk reksadana tersebut, telah menghasilkan 165 orang tenaga pemasar yang telah mendapatkan ijin sebagai Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana (WAPERD), dengan total cabang penjualan efek reksadana sebanyak 53 Cabang terdiri dari 17 Cabang di area Jabodetabek dan 37 Cabang di area Luar Jabodetabek dan aktif dalam BEI (bankbjb.co.id, 2015).
Namun permasalahan yang terjadi pada Bank BJB saat ini adalah dari ke 13 produk reksadana Bank BJB yang dikelola oleh 4 Manajer Investasi hanya ada beberapa dari produk reksadana yang dapat mencapai kinerja yang baik dan tembus pada level Rp 2.700-Rp 3.600 (Aria,2013).
Dengan adanya fenomena tersebut, menarik penulis untuk melakukan praktik kerja lapangan yang selanjutnya di susun dalam Laporan Tugas Akhir dengan judul : “Tinjuan Kinerja Produk Reksa Dana PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat & Banten menggunakan Model Sharpe Ratio, Treynor Ratio dan Jensen Ratio”
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang pemilihan judul diatas, maka penulis dapat mengidentifikasikan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana perhitungan kinerja produk reksadana PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat & Banten menggunakan model Sharepe ratio, Treynor Ratio dan Jensen Ratio.
2. Bagaimana hasil kinerja produk reksadana PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat & Banten Menggunakan Model Sharepe ratio, Treynor Ratio dan Jensen Ratio.
1.3 Maksud dan Tujuan Laporan Tugas Akhir
Adapun maksud dan tujuan dari laporan tugas akhir ini adalah :
1. Untuk mengetahui perhitungan kinerja produk reksadana PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat & Banten menggunakan model Sharepe ratio, Treynor Ratio dan Jensen Ratio.
2. Untuk mengetahui hasil kinerja produk reksadana PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat & Banten menggunakan model Sharepe ratio, Treynor Ratio dan Jensen Ratio.
1.4 Kegunaan Laporan Tugas Akhir
Adapun kegunaan dari laporan Tugas Akhir ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi berbagai pihak yaitu sebagai berikut :
1. Bagi Pihak Penulis
Bagi pihak penulis diharapkan laporan Tugas Akhir ini bermanfaat sebagai bagian dari proses belajar, dan juga diharapkan penelitian ini akan menambah pengetahuan penulis dalam meningkatkan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang diperoleh dan dipelajari
selama penulis menuntut ilmu di lingkungan kampus dalam praktik kerja di lapangan.
2. Bagi Pihak Perusahaan
Penelitian ini hasil pemikiran secara teoretis terhadap kinerja reksadana perusahan, sehingga hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mengambil suatu kesimpulan dan dapat memberikan saran-saran kepada perusahaan sebagai bahan pertimbangan untuk suatu perbaikan kinerja perusahaan.
3. Bagi Pihak Lain
Laporan Tugas Akhir ini juga diharapkan bermanfaat menjadi bahan referensi bagi seluruh para mahasiswa yang akan menyusun laporan Tugas Akhir berkaitan dengan masalah ini.
1.5 Lokasi dan Waktu Kerja Praktik
Untuk mendapatkan data dan informasi dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini, maka penulis melakukan kerja praktik pada PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat & Banten yang berlokasi di Jl Jenderal Achmad Yani No. 221 – 223, Bandung. Adapun waktu penelitian ini dilaksanakan pada 6 Juni 2016 sampai dengan 15 Juli 2016.