• Tidak ada hasil yang ditemukan

2013, No BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2013, No BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN

PERATURAN KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK NOMOR 50B TAHUN 2013

TENTANG

PEDOMAN INSTRUKTUR NASIONAL SURVEI PENDAPATAN RUMAH TANGGA USAHA PERTANIAN 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Sesuai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik, penyelenggaraan Sensus Penduduk, Sensus Pertanian, dan Sensus Ekonomi dilakukan 10 tahun sekali. Selanjutnya, dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 51 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Statistik disebutkan bahwa waktu penyelenggaraan Sensus Penduduk adalah pada tahun berakhiran angka 0 (nol), Sensus Pertanian pada tahun berakhiran angka 3 (tiga), dan Sensus Ekonomi pada tahun berakhiran angka 6 (enam). Penyelenggaraan Sensus Pertanian dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sejak tahun 1963. Artinya, Sensus Pertanian 2013 (ST2013) adalah yang keenam kalinya. Kegiatan pertanian yang dicakup dalam sensus pertanian sebelumnya dan dalam ST2013 meliputi 6 subsektor, yaitu: tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan.

ST2013 merupakan kegiatan besar sehingga pelaksanaannya harus dilakukan dalam beberapa tahapan, baik dalam persiapan maupun pelaksanaannya. Persiapan ST2013 sudah dilaksanakan mulai tahun 2010. Pada tahun 2012 dilaksanakan updating Direktori Perusahaan Pertanian (DPP). Tahun 2013 dilaksanakan pencacahan lengkap rumah tangga usaha pertanian pada bulan Mei dan pencacahan sampel Survei Pendapatan Rumah Tangga Usaha Pertanian (SPP) pada bulan November. Tahun 2014 dilaksanakan pencacahan sampel Survei Subsektor.

1.2 Tujuan Umum ST2013

Tujuan Survei Pendapatan Rumah Tangga Usaha Pertanian Tahun 2013 (SPP 2013) adalah:

(2)

1) Mendapatkan data pendapatan/penerimaan rumah tangga pertanian beserta struktur pendapatan menurut subsektor.

2) Mendapatkan data mengenai penguasaan, penggunaan, dan konversi lahan dari rumah tangga pertanian.

3) Mendapatkan data mengenai keadaan sosial ekonomi dan ketahanan pangan rumah tangga pertanian.

BAB II

KEGUNAAN DATA SPP2013

Kegiatan SPP 2013 merupakan salah satu kegiatan ST2013 yang sangat penting dan hasilnya paling banyak ditunggu oleh berbagai kalangan. Oleh karena itu, perlu dipersiapkan peserta latih (instruktur maupun petugas) dalam upaya menumbuhkan minat, pemahaman, dan motivasi untuk mengikuti pelatihan secara baik dan sungguh-sungguh. Setiap instruktur harus mampu meyakinkan kepada peserta latih bahwa SPP 2013 merupakan suatu kegiatan yang sangat penting serta menghasilkan sesuatu yang kegunaannya sangat besar, baik bagi pemerintah maupun bagi pengguna data yang lain.

Dilihat dari sisi pengerahan sumber daya manusia maupun penggunaan anggaran, kegiatan ini merupakan kegiatan statistik yang sangat besar. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain kecuali ikut serta menyukseskannya. Dilihat dari keseluruhan kegiatan, SPP 2013 merupakan suatu rangkaian proses yang panjang dari ST2013 serta saling mempengaruhi sehingga output dari satu tahapan kegiatan akan memengaruhi output dari tahapan kegiatan berikutnya. Tahapan kegiatan pelatihan petugas pasti akan memengaruhi tahapan pengumpulan data dan kualitas data yang akan dihasilkan.

Berbagai manfaat dari kegiatan SPP 2013 adalah diperolehnya data yang lebih detail terkait kegiatan usaha pertanian yang dilakukan oleh rumah tangga. Salah satunya adalah data pendapatan dari rumah tangga yang melakukan usaha pertanian. Pendapatan rumah tangga usaha pertanian dapat diperoleh dari berbagai sumber pendapatan yang dimiliki oleh rumah tangga, antara lain dari usaha pertanian, usaha di luar sektor pertanian, buruh pertanian, buruh di luar sektor pertanian, dan pendapatan/penerimaan lainnya. Selain diperoleh

(3)

data pendapatan rumah tangga, kegiatan SPP 2013 juga mampu menghasilkan data yang lebih komprehensif mengenai profil suatu rumah tangga usaha pertanian. Data hasil SPP 2013 juga dapat digunakan untuk menunjang berbagai analisis terkait indikator kesejahteraan petani, analisis cost benefit ratio, ketahanan pangan, dan pelengkap data kemisikinan.

BAB III

TANGGUNG JAWAB DAN TUGAS INNAS

Innas bertanggung jawab dalam menyiapkan petugas SPP 2013 yang berkualitas. Petugas dikatakan berkualitas, jika mereka memenuhi kualifikasi sebagai berikut:

a) Memahami secara menyeluruh ruang lingkup tugas.

b) Memahami secara memadai konsep-konsep materi SPP 2013.

c) Memahami secara mantap mekanisme pengumpulan data di lapangan. d) Memahami arti penting proses data cleaning di tingkat lapangan.

Tanggung jawab Innas adalah mempersiapkan petugas lapangan yang berkualitas secara langsung yang akan dihadapi dalam pelatihan petugas. Tugas utama Innas adalah melatih petugas.. Mengingat peserta pelatihan yang beragam, maka Innas dituntut untuk memiliki pemahaman yang menyeluruh mengenai SPP 2013 karena Innas akan langsung melatih petugas. Innas diharapkan akan berperan sebagai narasumber SPP 2013 yang dapat diandalkan.

Walaupun komposisi pelatihan petugas bervariasi, tetapi yang harus menjadi fokus Innas dalam pelatihan adalah petugas itu sendiri. Ini penting untuk dicatat, karena waktu pelatihan relatif terbatas padahal petugas harus menguasai semua materi SPP 2013. Selama pelatihan harus dihindari diskusi yang berkepanjangan dan tidak produktif.

Jelasnya, tugas utama Innas ada dua, yaitu melatih petugas dalam kelas pelatihan yang akan diselenggarakan oleh BPS Provinsi, dan berperan sebagai narasumber SPP 2013 di tingkat provinsi.

(4)

BAB IV

PERSIAPAN PELATIHAN

Kegiatan persiapan pelatihan, antara lain mencakup persiapan teknis dalam bentuk pemantapan penguasaan materi dan bahan pelatihan, meyakinkan kelengkapan dan alat dukung proses pelatihan serta persiapan fisik dan mental. Persiapan fisik perlu karena instruktur akan bertugas dalam waktu relatif lama. Persiapan mental juga perlu karena instruktur akan menghadapi peserta latih yang terdiri dari puluhan orang dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang bervariasi. Dalam situasi pelatihan semacam itu, instruktur dituntut untuk siap secara mental mengelola potensi ’konflik’ yang mungkin terjadi antar peserta latih. Selain itu, instruktur juga dituntut untuk memiliki pengetahuan dasar dalam metode pengajaran.

4.1 Persiapan Teknis

Yang pertama harus disiapkan oleh pelatih adalah pemantapan penguasaan materi ajar yang perlu disampaikan kepada peserta latih. Sebelumnya Innas harus mampu membedakan mana materi yang perlu dan yang tidak perlu dilatihkan serta topik mana yang perlu ditekankan dan mana yang tidak perlu ditekankan. Sebagai contoh yang tidak perlu disinggung dalam pelatihan, misalnya masalah non-teknis yang merupakan porsi panitia pelatihan. Sementara yang perlu ditekankan adalah topik yang terkait dengan materi pokok dan konsep pendapatan/penerimaan rumah tangga usaha pertanian. Untuk memantapkan pemahaman peserta mengenai konsep dasar ini, jika perlu Innas mendorong dan memfasilitasi peserta latih untuk mendiskusikannya di luar jam pelatihan.

Penguasaan materi yang mantap merupakan prasyarat bagi Innas untuk memiliki kepercayaan diri dalam “menguasai” kelas. Berikut ini disajikan beberapa topik permasalahan yang perlu mendapat perhatian calon Innas dalam rangka melakukan persiapan teknis.

a)Belajar ulang. Innas harus membaca ulang semua buku pedoman, power point bahan ajar, ralat buku pedoman (jika ada) dan tambahan penegasan yang ditetapkan sebagai bahan ajar. Innas harus yakin bahwa dalam

(5)

mengajar nanti dapat lebih banyak menjelaskan daripada membacakan. Oleh karena itu, Innas harus benar-benar menguasai konsep dan definisi yang digunakan dalam SPP 2013. Penguasaan materi hanya ketika mengikuti pelatihan Innas saja tidak akan cukup karena memori bisa terhapus dengan adanya tenggang waktu antara pelatihan Innas dan pelatihan petugas. Innas juga harus mencoba memperkaya diri dengan berbagai contoh kasus yang terjadi di lapangan, khususnya yang sering terjadi di daerah tempat Innas mengajar. Ketika membaca ulang, siapkan alat tulis untuk membuat catatan-catatan pendek.

b)Menyiapkan catatan pendek. Innas harus memperlengkapi diri dengan catatan pendek versi instruktur sendiri (di luar yang telah ada pada bahan ajar). Catatan pendek dapat terdiri dari beberapa kata kunci, seperti skema alur pikir yang dianggap perlu dituliskan di papan tulis ketika menjelaskan topik tertentu. Tanpa persiapan ini, Innas akan kelihatan kurang siap di depan peserta. Menyiapkan catatan pendek pada dasarnya merupakan kegiatan menarasikan ide-ide yang ada dalam pikiran sehingga menjadi lebih konkret. Jangan pernah merasa rugi mendalami suatu konsep pemikiran karena profesionalisme seseorang sangat dipengaruhi oleh banyaknya konsep yang dipahami. Seorang Innas yang menganggap pemahaman konsep hanya perlu untuk pelatihan (sehingga merasa cukup hanya mengandalkan pembacaan buku pedoman di kelas), di kemudian hari akan mengalami kerugian dari sisi penguasaan aset intelektual yang pada dasarnya bersifat dinamis dan akumulatif.

c)Pemeriksaan jenis dan jumlah dokumen. Innas, sebelum memulai pelatihan, perlu memeriksa jenis dan kelengkapan dokumen dan peralatan peserta. Jika ada dokumen dan peralatan yang belum diterima peserta, segera mintakan kepada panitia. Jika perlu, bantulah panitia mengatasi masalah kelengkapan dokumen dan peralatan pelatihan bagi peserta.

4.2. Persiapan Bahan Ajar

Bahan ajar disediakan dalam bentuk powerpoint presentation. Bahan ajar ini merupakan alat bantu yang seragam untuk setiap kelas di semua pusat

(6)

pelatihan. Innas dituntut memiliki keterampilan untuk mengoperasikan bahan ajar secara optimal dan paham lokasi materi tertentu di dalam bahan ajar. Bahan ajar terdiri dari beberapa bagian dan masing-masing bagian ditayangkan sesuai kebutuhan.

4.3 Pengaturan Ruang Pelatihan

Ruang pelatihan perlu diatur sehingga proses pelatihan dapat berlangsung secara efektif dan nyaman. Pengaturan ruang pelatihan perlu mempertimbangkan letak papan tulis dan atau layar, posisi dan jarak tempat duduk Innas dengan peserta, serta susunan tempat duduk peserta. Yang terakhir ini perlu diatur sedemikian rupa sehingga semua peserta dapat melihat Innas dan papan tulis dengan leluasa serta mendengar suara Innas secara jelas. Perlu diatur juga agar tempat duduk peserta tidak terlalu saling berjauhan.

Jika memungkinkan tersedia viewer dan papan tulis putih (white board), maka atur sedimikian rupa sehingga sewaktu-waktu tayangan (layar) bisa ditampilkan pada papan tulis ketika memberi contoh pengisian daftar. Ketika menayangkan penjelasan, yang tidak memerlukan coretan, maka tayangan sebaiknya ke layar atau tembok agar papan tulis tetap bisa dipakai. Tata letak tempat duduk pada kelas pelatihan petugas diupayakan sebagai berikut:

Innas

Papan Tulis

(7)

4.4 Persiapan dan Pelaksanaan Role Playing

Berdasarkan serangkaian uji coba dan gladi bersih, diketahui bahwa petugas lapangan mutlak perlu melakukan role playing sebelum ke lapangan.

Role playing sangat penting agar calon petugas memiliki pemahaman yang benar dan mantap mengenai konsep-konsep yang diajarkan di kelas, menghayati mekanisme pendataan di lapangan, serta memiliki pengalaman. Mengingat pentingnya fungsi role playing, maka Innas perlu menyiapkan secara cermat, mengawasi proses, dan mendiskusikan hasilnya secara tuntas. Praktik utama dalam pelatihan Innas adalah latihan mengajar dan role playing.

Bagi Innas, role playing adalah ajang untuk berlatih yang sesungguhnya. Dengan role playing akan dapat diketahui apakah pemahaman yang diperoleh dari Instruktur Utama (Intama) sudah optimal atau belum. Mekanisme umum pelaksanaan role playing adalah sebagai berikut:

a) Role playing dilakukan dengan wawancara di kelas. Petani sebagai responden sebanyak 2 (dua) orang per kelas didatangkan langsung ke dalam kelas. b) Panitia menyiapkan Daftar ST2013-SPP.S.

c) Secara urut dan bergantian, petugas setiap kelompok mewawancarai responden dalam kelompok tersebut.

d) Setelah masing-masing memeriksa hasil kerjanya, lakukan pemeriksaan silang (saling tukar menemukan kesalahan atau kekurangan dalam hasil Daftar ST2013-SPP.S), lalu diskusikan permasalahan yang ditemukan.

e) Role playing dilaksanakan 1 sesi atau 1,5 jam, dengan rincian 15 menit pengarahan, 45 menit untuk pencacahan, dan 30 menit pembahasan.

f) Pembahasan disusun masing-masing tim dan dikumpulkan sebagai bahan laporan/evaluasi Innas. Pembahasan diharapkan dapat menjawab minimum 4 butir pertanyaan berikut:

i. Apa kesulitan dan permasalahan selama pencacahan? Mengapa? Bagaimana mengatasinya?

ii. Pertanyaan mana yang sering sulit menanyakannya? Mengapa? Bagaimana mengatasinya?

(8)

iii. Pertanyaan mana yang sering sulit dijawab responden? Mengapa? Bagaimana mengatasinya?

iv. Apa yang menurut Anda perlu dipersiapkan lagi untuk siap menjalankan tugas Anda?

g) Proses kegiatan role playing merupakan bagian dari laporan yang harus disiapkan oleh Innas. Laporan role playing mencakup:

i. Bagaimana Anda membagi kelompok peserta, bagaimana peserta melakukan pencacahan?

ii. Waktu (jam berapa mulai, berapa lama rata-rata mencacah, jam berapa selesai mencacah, serta berapa lama diskusi pembahasan).

iii. Pengamatan terhadap kelemahan peserta dalam mencacah, dan apa yang Anda lakukan?

iv. Rangkuman laporan peserta.

4.5 Mengenali Calon Peserta Latih

Agar proses pelatihan berlangsung lancar, hidup, dan dinamis, maka Innas perlu mengenali calon peserta secara memadai dengan mempelajari kelengkapan dan kebenaran biodata peserta latih. Selain itu, informasi mengenai latar belakang sosial ekonomi budaya peserta akan berguna bagi Innas dalam mempersiapkan diri mengatur strategi pelatihan.

Perlu dicatat bahwa secara umum berlaku bahwa peserta yang usianya lebih muda akan lebih mudah menyerap informasi yang diberikan dengan cepat dibandingkan peserta yang usianya lebih tua. Secara umum juga berlaku bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin mudah dan cepat informasi akan diserap, begitu pula sebaliknya. Selain itu, agar kehadiran dapat diterima secara cepat dan tidak dianggap ’orang asing’ oleh peserta, Innas dapat melakukan pendekatan budaya dengan, misalnya menggunakan jargon-jargon khas daerah setempat yang sering digunakan.

Dengan memahami berbagai karakteristik peserta pelatihan di atas, Innas dapat memilih bahasa dan cara mengajar yang paling tepat untuk diterapkan ke peserta latih. Hal tersebut sangat penting untuk diperhatikan, demi tercapainya tujuan pelatihan petugas secara optimal.

(9)

Innas perlu menyiapkan catatan perorangan mengenai partisipasi setiap peserta dalam kelas, ketepatan waktu hadir, perhatian mengikuti kelas, penyerapan materi, dan sebagainya yang menyangkut perilaku sebagai peserta. Akhirnya, perlu diingat bahwa mempersiapkan setiap peserta agar memiliki kualifikasi yang diinginkan sangat penting karena kinerja masing-masing petugas akan terkait dengan data ribuan bahkan ratusan ribu petani.

4.6 Persiapan Fisik dan Mental

Persiapan fisik di sini mencakup persiapan kondisi tubuh yang fit dan prima, latihan sendiri di rumah, serta persiapan pakaian yang digunakan. Innas harus ingat bahwa mereka akan mengajar dalam jangka waktu yang relatif panjang sehingga kondisi tubuh yang fit merupakan salah satu modal yang cukup penting dalam mengajar yang harus selalu dijaga. Innas harus mengkonsumsi makanan berkualitas serta vitamin yang cukup untuk menjaga vitalitas tubuh.

Untuk mengatasi rasa grogi dan meningkatkan rasa percaya diri pada saat mengajar, Innas harus melatih diri sendiri dalam hal penampilan dan suara. Lakukan latihan di rumah atau di depan cermin setiap hari. Perhatikan penampilan dan intonasi suara, kembangkan kemampuan bicara dari hari ke hari, sehingga pada waktu tampil mengajar yang sesungguhnya akan percaya diri. Tidak ada keahlian yang muncul tiba-tiba atau yang sudah dibawa sejak lahir. Keterampilan mengajar akan menjadi bagian penting keahlian secara keseluruhan. Seseorang dikatakan mengerti suatu konsep ditandai dengan ke-mampuannya menjelaskan kepada orang lain. Keberhasilan dalam mengajar merupakan langkah-langkah peningkatan profesionalisme dalam berkarir.

Pakaian yang digunakan oleh Innas juga tidak kalah penting untuk dipersiapkan karena pakaian yang digunakan dapat mencerminkan kepribadian seseorang. Cara Innas dalam berpakaian juga akan mempengaruhi penilaian peserta. Innas harus menggunakan busana yang formal dan sopan agar mendapat kesan pertama yang baik dari peserta.

(10)

Persiapan mental juga tidak kalah pentingnya dari persiapan fisik. Seorang Innas harus menyadari bahwa petugas tidak mempunyai pengetahuan, pengalaman, dan keahlian mengajar SPP 2013. Maka, jangan berharap bahwa dengan sendirinya mereka mampu memahami suatu konsep pada SPP 2013 dengan konsep survei/sensus lainnya. Bisa atau tidak bisa mereka melakukan tugasnya dengan benar di lapangan sangat tergantung kepada Innas. Oleh karena itu, jika terjadi kesalahan petugas di lapangan, maka nama Innas akan terbawa-bawa. Menyadari kondisi yang akan dihadapi dalam tugas ini, maka Innas perlu mempersiapkan mental bagaimana membuat peserta yang tidak tahu menjadi tahu.

BAB V

CAKUPAN MATERI

Materi pokok dan jumlah sesi pelatihan pada dasarnya sama untuk setiap jenjang pelatihan. Materi pokok pelatihan mencakup topik-topik bahasan sebagai berikut:

a) Konsep pendapatan dari berbagai sumber pendapatan: usaha pertanian menurut subsektor, usaha non pertanian, pendapatan/penerimaan lainnya, dan pendapatan dari buruh/karyawan/pegawai menurut subsektor.

b) Konsep nilai produksi dan biaya produksi. c) Tata cara pengisian kuesioner.

d) Mekanisme pendataan di lapangan.

e) Mekanisme pengawasan dan pemeriksaan hasil pencacahan.

Seluruh materi teknis harus dipahami dan dikuasai oleh para Innas yang selanjutnya harus disampaikan kepada petugas yang nantinya akan bertugas di lapangan. Dalam pelatihan petugas, materi lebih difokuskan pada topik-topik yang sesuai dengan tugas pokok mereka, yaitu tata cara pengisian kuesioner, penguasaan konsep dan definisi, dan mekanisme kunjungan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Sementara untuk yang bertugas sebagai pengawas/pemeriksa (PML), pembahasan konsep perlu lebih diperdalam agar mereka lebih siap

(11)

menjadi tempat bertanya para PCL. Selain itu, PML dituntut untuk memiliki kemampuan mengorganisasikan kegiatan lapangan.

Panduan umum pemberian materi pelatihan termasuk sesi-sesinya adalah sebagai berikut:

a) Disiapkan 16 sesi dengan masing-masing sesi berdurasi rata-rata 120 menit. b) Materi pelatihan mencakup penjelasan teori, praktek, dan pendalaman. Topik

dan durasi disajikan pada jadwal terlampir.

c) Materi pendahuluan biasanya disampaikan oleh pejabat yang bertugas untuk membuka pelatihan dengan dihadiri oleh seluruh peserta. Apabila pejabat tersebut hanya membuka pelatihan, maka Innas akan menyampaikan materi pendahuluan.

d) Apabila diadakan acara seremonial penutupan (secara resmi), maka waktunya adalah pada sesi terakhir maksimum 60 menit. Jika tidak diadakan acara seremonial penutupan, maka Innas menutup pelatihan di kelasnya masing-masing dengan menyampaikan harapan agar petugas dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.

e) Tidak diperkenankan memadatkan materi, meskipun dengan cara memperpanjang waktu per sesi dengan maksud mempercepat jadwal pelatihan. Satu hari maksimum hanya 4 sesi. Jika lebih dari itu, maka akan berdampak pada kejenuhan peserta.

f) Diperbolehkan mengadakan sesi tambahan untuk diskusi dan penjelasan hal-hal yang dianggap penting untuk pemantapan.

g) Diharapkan Innas menyiapkan latihan soal yang dibawa pulang ke kamar penginapan.

h) Pola aktivitas pelatihan adalah:

i. Penjelasan teori, konsep, definisi, dan tata cara pengisian. ii. Praktek mengisi daftar.

iii. Pendalaman.

5.2 Materi Non Teknis

Yang penting untuk diingat adalah bahwa tugas Innas bukan hanya sekadar memberikan pelatihan teknis, tetapi juga memberikan pembekalan non

(12)

teknis, termasuk pemberian motivasi untuk menjalani pelatihan secara sungguh-sungguh dan pembangunan moral kerja agar petugas memilki komitmen menjalankan tugas secara penuh tanggung jawab. Materi non teknis ini meskipun tidak dipersiapkan secara khusus, namun perlu disampaikan oleh Innas. Hal ini penting karena pada akhirnya kualitas hasil pendataan ditentukan oleh kinerja petugas lapangan yang tidak semata-mata ditentukan oleh penguasaan materi teknis, tetapi juga moral kerja petugas lapangan. Metode penyampaian materi non teknis tidak harus disampaikan secara khusus atau pada waktu tersendiri, namun dapat disisipkan pada saat penyampaian materi teknis.

BAB VI

METODE PELATIHAN YANG EFEKTIF

Semua Innas dituntut untuk menguasai serta menerapkan metode pelatihan yang efektif. Suatu metode dikatakan efektif jika sasaran yang ditetapkan dapat tercapai. Sebenarnya metode yang efektif merupakan syarat yang perlu, bukan syarat yang cukup untuk mencapai sasaran. Artinya, metode pelatihan yang efektif memang diperlukan, tetapi tidak cukup untuk menjamin tercapainya sasaran. Untuk menjamin tercapainya sasaran diperlukan syarat lain, antara lain penguasaan materi pelatihan dari Innas, kedisiplinan, serta motivasi aktor pelatihan (Innas dan peserta latih) untuk menyukseskan pelatihan.

Metode pelatihan yang efektif adalah metode yang dapat mengantarkan tercapainya sasaran akhir pelatihan, yaitu menyiapkan petugas lapangan yang andal dalam arti memiliki pemahaman, keterampilan, dan motivasi kerja yang memadai. Agar para peserta latih memiliki pemahaman yang memadai, dalam arti mampu menyerap materi pelatihan secara optimal, ada beberapa kiat yang dapat dijadikan sebagai pedoman oleh Innas.

6.1 Pembukaan Pelatihan

Mulailah pelatihan dengan ungkapan-ungkapan pembukaan (opening) yang menggugah atau menggelitik secara intelektual sehingga tumbuh perhatian,

(13)

minat, dan motivasi peserta untuk mengikuti pelatihan. Meskipun demikian ungkapan-ungkapan itu tidak boleh kaku, vulgar, atau datar.

Jelaskan secara sistematis bahwa kegiatan SPP 2013 merupakan kegiatan nasional dengan sasaran yang sangat luas, berjangka panjang, dan banyak ditunggu pengguna data, bahkan merupakan pekerjaan mulia karena menyangkut kepentingan orang banyak. Penegasan semacam itu diharapkan dapat memberi kesan kepada peserta bahwa keterlibatan mereka dalam SPP 2013 berarti terlibat dalam kegiatan yang besar dan mulia.

Tegaskan bahwa kinerja mereka sebagai petugas lapangan nantinya akan turut menentukan keberhasilan atau kegagalan kegiatan nasional yang besar dan mulia ini. Kepada Innas dapat diilustrasikan bahwa dengan mengajar sekitar 50 PCL, mereka bertanggung jawab terhadap kualitas data sekitar 2400 rumah tangga usaha pertanian yang terkena sampel SPP

Jelaskan secara gamblang sasaran yang ingin dicapai dari pelatihan SPP 2013, yang pada prinsipnya mencakup empat isu besar:

1) Peserta menguasai konsep-konsep secara benar.

2) Peserta memilki keterampilan melakukan wawancara pada pencacahan sampel menggunakan instrumen yang sesuai secara cermat.

3) Peserta menyadari pentingnya untuk menerapkan konsep dan keterampilan itu secara konsisten di lapangan.

4) Peserta menyadari pentingnya menjaga kualitas data yang dihasilkan.

6.2 Membangun Suasana yang Kondusif

Selama pelatihan berlangsung, bangunlah suasana akrab dengan peserta. Keakraban perlu untuk memperluas rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap SPP 2013. Tunjukkan wajah yang cerah dan antusiasme yang tinggi dalam mengajar serta sedikit gurauan (ice breaking) untuk menghilangkan kekakuan suasana atau rasa bosan peserta.

Tunjukkan rasa percaya diri yang cukup agar peserta memiliki kesan bahwa Innas memiliki kemampuan mengajar yang handal. Pandangan Innas

(14)

dapat menjangkau semua peserta selama mengajar, maka usahakan untuk selalu lebih tinggi dari peserta dengan tidak banyak duduk. Separuh badan Innas sebaiknya dapat terlihat oleh peserta paling belakang. Selama berbicara, Innas seharusnya dalam sikap berdiri, baik ketika membaca maupun menjelas-kan. Innas juga harus menjadi pusat perhatian sehingga setiap gerakannya bermakna mendukung penjelasannya.

Gambar 6.1 Suasana Ruang Pelatihan yang Baik

Gambar 6.2 Suasana Ruang Pelatihan yang Kurang Baik

6.3 Penyajian Materi Pelatihan 6.3.1Umum

Usahakan supaya volume suara dapat didengar oleh semua peserta secara jelas. Selain itu, usahakan juga supaya ketika menjelaskan konsep, definisi, dan mekanisme lapangan disinggung secara meyakinkan tentang latar belakang tujuannya. Sebagai contoh:

i. Ketika menjelaskan pemeriksaan, jelaskan bahwa sistem itu dipilih untuk memastikan kelengkapan, kewajaran, dan konsistensi isian kuesioner terjaga di tingkat lapangan.

(15)

ii. Ketika menjelaskan sketsa peta ST2013-SPP.WB, jelaskan bahwa hal tersebut perlu dilakukan untuk memastikan agar tidak ada rumah tangga yang terlewat maupun cacah ganda.

iii.Ketika menjelaskan “data cleaning”, jelaskan bahwa hal tersebut mutlak dilakukan untuk menggaransi kualitas kerja petugas.

Penjelasan konsep, definisi, dan mekanisme lapangan dalam SPP 2013 harus tuntas dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti sehingga tidak menyisakan keraguan bagi peserta. Dapat membagi waktu secara efektif dan efisien kapan harus menjelaskan dan kapan harus menggunakan alat peraga.

Berikan kesempatan sebanyak-banyaknya kepada peserta untuk bertanya. Berikan pujian kepada pertanyaan yang baik dan bermakna untuk penyerapan materi. Klarifikasikan maksud pertanyaan kepada peserta sebelum menjawabnya. Jawaban harus tetap merujuk pada konsep dan definisi di buku pedoman serta menggunakan analogi dan logika. Jika tidak dapat dijawab, maka tunda pertanyaan tersebut untuk didiskusikan dengan sesama Innas atau pengawas. Catatlah setiap ada masalah yang tidak diterangkan di dalam buku pedoman.

Berikan banyak contoh kasus dan latihan pengisian daftar. Adakan latihan wawancara sesama peserta. Setiap nomor pertanyaan pada kuesioner harus dipraktikkan kepada setiap peserta. Gunakan berbagai cara untuk membuat kelas menjadi hidup dan dinamis, antara lain dengan cara mendorong para peserta supaya berani dan termotivasi untuk berpartisipasi secara aktif di kelas. Cara lain adalah mengajukan pertanyaan kepada peserta pelatihan dalam bentuk kasus yang realistis di mana pertanyaan yang diajukan sebaiknya ditulis di papan tulis.

6.3.2Sistematika Penyajian

Sistematika penyajian materi setiap sesi harus tetap terjaga serta mengikuti jadual yang telah ditetapkan. Sebelum mulai penyajian materi dalam suatu sesi, terlebih dahulu kemukakan topik (spesifik) yang akan dibahas serta sasaran yang akan dicapai dalam sesi ini. Sebagai contoh, ketika memulai suatu

(16)

sesi, instruktur dapat menyampaikan kalimat-kalimat pembukaan berikut, “Sore ini kita akan membahas kegiatan yang sangat penting untuk melihat kesejahteraan petani kita, yaitu keadaan sosial ekonomi dan ketahanan pangan rumah tangga. Setelah penyajian topik ini selesai, dalam 10 menit terakhir kita akan mengadakan semacam tes untuk memastikan apakah kita semua memahami semua materi pada sesi ini.”

Bagian awal penyajian materi dalam suatu sesi sebaiknya berisi penjelasan mengenai cakupan materi secara keseluruhan. Dalam menyajikan materi secara keseluruhan, Innas dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk memanfaatkan flow chart, tabel atau model visual lain secara optimal.

Penjelasan materi secara keseluruhan sebaiknya juga disajikan dalam bagian akhir penyajian sebelum diadakan tes. Hal ini penting dilakukan untuk memastikan bahwa topik yang dijadwalkan dalam suatu sesi telah dicakup semuanya.

BAB VII

MEMOTIVASI PESERTA 7.1 Mengikuti Pelatihan Dengan Baik

Innas harus memotivasi peserta agar mengikuti pelatihan secara tertib, disiplin, dan penuh perhatian. Beberapa peserta mungkin terlihat antusias sedangkan beberapa peserta yang lain membutuhkan atau mengharapkan Innas dapat memberikan inspirasi, dorongan atau menstimulasi minat mereka terhadap pelatihan ini. Seorang Innas akan dapat menerapkan pembelajaran yang efektif apabila memiliki keterampilan dalam memotivasi sehingga peserta selalu terlihat penuh perhatian selama pelatihan berlangsung. Peserta akan tertib, disiplin, dan memberikan respon yang positif terhadap pelatihan yang

Hindari pengajaran yang monoton

• Hidupkan suasana diskusi di kelas

Sentuh rasa ingin tahu dan emosi peserta

(17)

tersusun/terstruktur dengan baik yang diberikan oleh seorang Innas yang antusias dan penuh perhatian terhadap peserta dan materi yang diajarkan.

Beberapa strategi umum yang harus diperhatikan Innas dalam memotivasi peserta seperti dirumuskan oleh Barbara Gross Davis (1993) adalah sebagai berikut:

a) Menunjukkan wajah cerah dan antusiasme yang tinggi dalam mengajar

Antusiasme dari Innas merupakan faktor yang sangat penting dalam memotivasi peserta. Biasanya antusiasme datang dari rasa percaya diri, ketertarikan terhadap materi yang diajarkan dan kesenangan dalam mengajar.

b) Memperhatikan kebutuhan peserta

Beberapa kebutuhan yang dapat memotivasi peserta apabila terpenuhi adalah kebutuhan untuk mempelajari sesuatu untuk tujuan tertentu, kebutuhan untuk mencari pengalaman baru, kebutuhan untuk mengatasi tantangan, kebutuhan untuk menjadi kompeten, dan kebutuhan untuk merasa terlibat serta berinteraksi dengan orang lain.

c) Membuat peserta berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran di kelas

Peserta belajar dengan melakukan, membuat, menulis, mendesain, menciptakan, dan memecahkan masalah. Berikan pertanyaan serta kesempatan sebanyak-banyaknya untuk bertanya dan hargai setiap pertanyaan dari peserta. Jangan memberitahu sesuatu, jika hal tersebut bisa dijadikan pertanyaan untuk peserta. Dorong peserta untuk memberikan saran pemecahan terhadap suatu masalah.

d) Memiliki harapan yang realistis terhadap peserta

Harapan dari Innas mempunyai pengaruh yang kuat terhadap peserta. Jika Innas mengharapkan para peserta mempunyai motivasi, bekerja keras dan memiliki perhatian yang besar terhadap pelatihan, maka hal itu akan terwujud apabila harapan tersebut juga diwujudkan dalam contoh sikap yang nyata. Misalnya, jika Innas memiliki harapan agar peserta dapat menjadi

(18)

petugas yang baik, maka Innas juga harus dapat memberikan contoh, misal cara mengajar yang baik.

e) Memberitahu peserta yang mereka butuhkan agar berhasil dalam pelatihan

Pastikan kepada peserta bahwa mereka dapat melakukan yang terbaik dan beritahu apa yang harus mereka lakukan agar berhasil dalam pelatihan. Ucapkan sesuatu yang bisa memberikan efek positif, seperti “Jika Anda bisa memecahkan masalah dari contoh ini, maka Anda akan berhasil dalam tes nanti” atau “Bagi Anda yang tidak bisa memecahkannya, saya akan membantu Anda”. Jangan mengucapkan kata-kata seperti “Anda sangat ketinggalan sekali” atau “Kalau kemampuan Anda seperti ini, bagaimana bisa saya membantu Anda?”

f) Meningkatkan motivasi diri peserta

Hindari kata-kata yang menonjolkan posisi anda sebagai Innas. Pergunakan kata-kata, seperti “Menurut saya, akan lebih baik jika.…” daripada “Saya minta….” atau “Anda harus….”

g) Harus spesifik dalam memberikan feedback yang negatif

Feedback negatif sangat berpengaruh dan bisa membuat atmosfir negatif di kelas. Ketika Innas mengidentifikasi kelemahan peserta, pastikan untuk menggunakan kata-kata yang bijak yang tidak akan menyinggung perasaan peserta.

h) Hindari komentar yang menjatuhkan

Innas harus ingat bahwa setiap peserta memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Sehingga Innas harus menunjukkan sikap yang positif apabila ada peserta yang meminta Innas untuk mengulangi lagi suatu penjelasan yang telah diberikan. Innas juga harus menghargai setiap pertanyaan yang diajukan oleh peserta. Hindari komentar yang dapat menjatuhkan mental peserta karena komentar yang bersifat negatif akan membuat peserta menjadi malas untuk bertanya. Jika hal ini sampai terjadi, maka Innas akan dianggap tidak berhasil memotivasi peserta untuk belajar serta menghambat

(19)

tercapainya tujuan pelatihan SPP 2013, yaitu untuk mendapatkan petugas yang berkualitas.

7.2 Menjadi Petugas Lapangan yang Penuh Tanggung Jawab

Pelaksanaan lapangan SPP 2013 akan dilakukan oleh petugas pencacah (PCS) dan diawasi oleh petugas pengawas (PMS). Sistem tim ini dipilih untuk memastikan agar pengawasan melekat dapat dilakukan di tingkat lapangan sehingga hasil pendataan sudah ‘bersih’ (clean) di tingkat lapangan pula. Dalam kaitan ini, keberhasilan dalam menyelenggarakan pelatihan sangat menentukan keberhasilan untuk mencapai sasaran tersebut. Oleh karena itu, penyelenggara pelatihan berkewajiban untuk memiliki perhatian yang lebih serta komitmen yang tinggi untuk memastikan keberhasilan proses pelatihan.

Proses pelatihan calon petugas akan lebih baik jika calon peserta sebelumnya telah memahami ruang lingkup wilayah dan jadwal kerja, kewajiban serta hak mereka nantinya selaku petugas lapangan SPP 2013 yang tertuang dalam kontrak kerja. Dengan demikian, perlu ada semacam briefing singkat mengenai kontrak kerja sebelum proses pelatihan dimulai.

Setelah peserta memahami hak dan kewajiban sebagai petugas lapangan SPP 2013, Innas harus memberikan motivasi bahwa para petugas akan mengemban tugas mulia negara sehingga mereka harus melaksanakannya de-ngan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Pendekatan ini juga dapat dilakukan untuk menghadapi peserta yang mengeluh mengenai honor yang tidak sesuai dengan beban kerja.

Innas harus menjelaskan bahwa keberhasilan SPP 2013 akan mempunyai dampak yang tidak langsung terhadap pembangunan pertanian di Indonesia. Petugas yang berkualitas akan berkorelasi positif dengan kualitas data yang dikumpulkan. Jika data yang dikumpulkan akurat dan valid, maka perencanaan pembangunan pertanian akan tepat sasaran. Sehingga dapat dikatakan bahwa para petugas SPP 2013 juga mempunyai sumbangsih terhadap perbaikan kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk kehidupan mereka sendiri.

(20)

Menghadapi peserta yang mengeluh mengenai beratnya beban tugas yang akan diemban dalam SPP 2013, Innas harus mampu memberikan kata-kata yang memunculkan motivasi pada diri setiap peserta bahwa mereka mampu untuk melakukannya. Ceritakan kisah-kisah inspiratif yang mampu menggugah semangat peserta. Sampaikan bahwa setiap hambatan merupakan sebuah tantangan yang harus dihadapi untuk meningkatkan kualitas diri. Seperti kata pepatah, bahwa keberhasilan kita ditentukan oleh seberapa besar kemauan kita untuk berhasil. Namun kemauan saja tidak cukup, karena harus diiringi dengan tindakan nyata. Secara bertahap, dengan mulai menikmati tugas yang diemban, maka perlahan-lahan tidak akan merasa berat lagi untuk menjalankannya, bahkan akan semakin menikmatinya. Ingat juga kata pepatah Cina kuno, bahwa perjalanan 1000 mil dimulai dengan 1 langkah.

BAB VIII

EVALUASI PELATIHAN

Evaluasi pelatihan dapat didefinisikan sebagai proses sistematis untuk menganalisis tingkat pencapaian tujuan pelatihan. Penggunaan kata proses menunjukkan bahwa kegiatan evaluasi tidak hanya sekali melainkan dilakukan secara menyeluruh mulai dari awal pelatihan, di saat pelatihan berlangsung, dan di akhir masa pelatihan. Pengertian sistematis di sini berarti terencana dan berkesinambungan.

Setiap kegiatan evaluasi tidak dapat dilepaskan dari tujuan dilaksanakannya pelatihan, yang dalam hal ini adalah pelatihan SPP 2013. Dengan merujuk pada tujuan dilaksanakannya pelatihan SPP 2013, yaitu untuk memperoleh petugas yang berkualitas, maka beberapa karakteristik dari setiap peserta akan dinilai.

Karakteristik pertama adalah daya serap peserta terhadap konsep dan definisi yang dipakai dalam SPP 2013 serta mekanisme pelaksanaan lapangan. Daya serap peserta dapat dilihat dari keaktifan di kelas dan nilai-nilai pada saat kuis maupun pendalaman. Perilaku peserta pelatihan pada saat mengikuti pelajaran di kelas juga menjadi salah satu acuan untuk melihat kualitas petugas. Dalam SPP 2013, petugas lapangan diharapkan dapat bertingkah laku

(21)

sopan karena mereka bertugas dengan membawa atribut BPS. Dengan demikian apabila petugas SPP 2013 tidak dapat membawa diri dengan baik pada saat me-laksanakan tugasnya, maka nama BPS juga akan tercemar.

Evaluasi juga dapat dilakukan untuk melihat tingkat keberhasilan jalannya proses belajar mengajar (Purwanto 2008: 5). Hal ini dapat dilakukan oleh Innas dengan cara mengajukan pertanyaan untuk mengetahui sampai sejauh mana peserta mengerti akan penjelasan yang diberikan oleh Innas. Apabila ternyata masih ada peserta yang belum mengerti, Innas harus mencari metode lain untuk memberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh peserta.

Hasil evaluasi ini selanjutnya harus dibuat dalam bentuk laporan. Laporan dibuat oleh setiap Innas dan memuat semua kelas/gelombang yang diajar. Laporan juga diharapkan menyertakan foto-foto pelatihan. Agar dapat terdokumentasi secara permanen, maka laporan yang dikirim sebaiknya berupa

softcopy pdf file. Bentuk laporan Innas dapat dilihat pada daftar lampiran dan dilengkapi dengan lampiran-lampiran lain termasuk:

a) Laporan pelatihan SPP 2013.

b) Jadwal pelatihan petugas yang ada di pusat pelatihan. c) Daftar fasilitas belajar dan akomodasi/konsumsi. d) Rekapitulasi biodata peserta pelatihan.

e) Nilai pendalaman dan pengamatan.

f) Masalah dan pemecahan selama pelatihan. g) Laporan pelaksanaan role playing.

(22)

Lampiran 1. Jadwal Pelatihan Innas

Hari/

Tanggal Jam Kegiatan

Pemimpin Rapat/ Pembicara (1) (2) (3) (4) Selasa/ 17 Sept. 2013

14.00 – 16.00 Registrasi peserta Panitia

19.30 – 20.00

Pembukaan (Menyanyikan lagu Indonesia Raya, Do’a Pembukaan dan Laporan Panitia Penyelenggara) Panitia 20.00 – 20.45 Arahan Kepala BPS sekaligus Membuka Pelatihan Innas SPP ST2013 Kepala BPS RI 20.45 - 21.00 Coffe Break

21.00 - 21.15 Pengumuman Panitia Panitia

Rabu/ 18 Sept. 2013 08.00 – 10.00 Penjelasan Umum, Metodologi, Daftar ST2013-SPP.DSRT dan Peta ST2013-WB Instruktur Utama 10.00 – 10.15 Coffe Break 10.15 – 12.15 Pembahasan kuesioner ST2013-SPP.S Blok I-IV Instruktur Utama 12.15 – 13.15 Ishoma

(23)

13.15 – 15.15 Pembahasan kuesioner ST2013-SPP Blok V-VII Instruktur Utama 15.15 – 15.30 Coffe Break 15.30 – 17.30 Pembahasan kuesioner ST2013-SPP Blok VIII-XI Assignment I Instruktur Utama Kamis/ 19 Sept. 2013 08.00 – 10.00 Pembahasan kuesioner ST2013-SPP Blok XII-XV Instruktur Utama 10.00 – 10.15 Coffe Break 10.15 – 12.15 Assignnment II , Pembahasan kuesioner ST2013-SPP Blok XVI - XVIII Instruktur Utama 12.15 – 13.15 Ishoma

13.15 – 15.15 Role Playing Instruktur

Utama 15.15 – 15.30 Coffe Break

15.30 – 17.30 Role Playing Instruktur Utama 17.15 – 19.00 Ishoma

19.00 – 21.00 Evaluasi role playing Instruktur

Utama 07.30 – 09.00 Review materi dan

penegasan

Instruktur Utama

(24)

Jum’at 20 Sept. 2013 09.00 – 09.15 Coffe Break 09.15 – 11.15 Pendalaman Panitia / Instruktur Utama 11.15 – 13.15 Ishoma

13.15 – 15.15 Tata Cara Pemeriksaan Kuesioner

Instruktur Utama 15.15 – 15.30 Coffe Break

15.30 – 17.30

Tata Cara Pemeriksaan Kuesioner dan Editing Coding Instruktur Utama 17.15 – 19.00 Ishoma 19.00 – 21.00 Penutupan Deputi Bidang Stat. Produksi Sabtu/21 Sept. 2013 08.00-10.00 Penyelesaian administrasi

(25)

Lampiran 2. Jadwal Pelatihan Petugas

Survei Pendapatan Rumah Tangga Usaha Pertanian 2013 (SPP2013)

Hari Jam Kegiatan Pemimpin

Rapat/ Pembicara

(1) (2) (3) (4)

I 12.00 – 14.00 Registrasi Peserta Panitia

14.00 – 14.30 Pembukaan BPS Provinsi 14.30 – 15.30 Daftar ST2013-SPP.DSRT dan Peta ST2013-WB Instruktur Nasional 15.30 – 15.45 Ishoma 15.45 – 17.15 Pembahasan kuesioner ST2013-SPP-S Blok I-IV Assignment I Instruktur Nasional 17.15 – 19.00 Ishoma

19.00 – 21.00 Mengerjakan Assignment I Mandiri

II

08.00 – 10.00

Review Materi Hari Pertama dan Assignment I Review Pembahasan kuesioner ST2013-SPP.S Blok V-VII Instruktur Nasional 10.00 – 10.15 Istirahat

(26)

Hari Jam Kegiatan Pemimpin Rapat/ Pembicara

(1) (2) (3) (4)

ST2013-SPP Blok VIII-XI Nasional

12.15 – 13.15 Ishoma 13.15 – 15.15 Pembahasan kuesioner ST2013-SPP Blok XII-XV Instruktur Nasional 15.15 – 15.30 Ishoma 15.30 – 17.30 Pembahasan kuesioner ST2013-SPP Blok XVI-XVIII dan Assignment II Instruktur Nasional 17.30 – 19.00 Ishoma

19.00 – 21.00 Mengerjakan Assignment II Mandiri

III

08.00 – 10.00 Review Materi Hari Kedua dan Assignment II

Instruktur Nasional

10.00 – 10.15 Istirahat

10.15 – 12.15 Role Playing (2 Responden per Kelas)

Instruktur Nasional

12.15 – 13.15 Ishoma

13.15 – 15.15 Evaluasi Role Playing Instruktur Nasional

(27)

Hari Jam Kegiatan Pemimpin Rapat/ Pembicara (1) (2) (3) (4) 15.15 – 15.30 Ishoma 15.30 – 17.30 Pendalaman Instruktur Nasional IV 08.00 - 10.00 Evaluasi Pendalaman,Pemeriksaan Kuesioner dan Editing Coding Instruktur Nasional 10.00 - 10.30 Istirahat Instruktur Nasional 10.30 – 12.00 Pemeriksaan Kuesioner dan Editing Coding ( Lanjutan)

Penutupan

Instruktur Nasional

(28)

Lampiran 3. BENTUK LAPORAN INNAS TENTANG PELATIHAN

Perihal: Laporan Pelatihan ..., ……….. 2013 Petugas (PCS dan PMS) SPP 2013

Kepada Yang Terhormat

Direktur Statistik Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan BPS di

Jakarta

Bersama ini kami sampaikan laporan pelaksanaan pelatihan petugas (PCS dan PMS) Survei Pendapatan Rumah Tangga Usaha Pertanian 2013 (SPP 2013).

1. Nama : ………..…………

2. NIP/NMS : ………..…………

3. Tempat Pelatihan : ………..…………

4. Waktu Pelatihan : ………..…………

5. Jumlah Peserta Pelatihan :

PMS : …... Orang

PCS : …... Orang

Jumlah : …... Orang

6. Daftar fasilitas belajar dan akomodasi/konsumsi dilihat pada Lampiran ... 7. Rekapitulasi biodata peserta pelatihan dapat dilihat pada Lampiran ... 8. Daftar nilai peserta pelatihan dan wilayah kerjanya dapat dilihat pada

(29)

9. Masalah dan pemecahan selama pelatihan dapat dilihat pada Lampiran ... Demikan laporan yang dapat disampaikan untuk dijadikan bahan evaluasi.

………, ………. 2013 Innas,

( )

NIP. Tembusan Kepada Yth:

1. Kepala BPS Provinsi ………...

2. Kepala BPS Kabupaten/Kota*) ……….. *) coret yg tidak sesuai

(30)

Lampiran 4.

DAFTAR FASILITAS BELAJAR DAN AKOMODASI/KONSUMSI TEMPAT PELATIHAN

A. Faslitas Belajar 1. Kapasitas ruang belajar : ………. orang 2. Penerangan : Listrik -1 Lainnya -2

3. Papan Tulis : Putih dengan spidol -1

Lainnya dengan kapur -2

4. Alat-alat tulis peserta : Buku tulis/block note -1

Ballpoint -2 Pensil -3 Penghapus -4 Peruncing -5 Tas -6 B. Fasilitas Akomodasi/Konsumsi

(31)

1. Apakah peserta

menginap Ya -1

Tidak

-2 (ke P. 7) 2. Banyaknya orang

per kamar : ………..…… orang

3. a. Penerangan kamar : Listrik -1 Lainnya -2 b. Cukup terang untuk membaca : Ya -1 Tidak -2

4. Air untuk mandi : Leding -1

Lainnya -2

5. Lokasi tempat menginap dan tempat belajar bersama:

Ya -1 (ke P.8) Tidak -2

6. Jarak tempat menginap ke tempat belajar:

...……… meter

7. Transportasi lokal : Ada -1

Tidak -2 (sebutkan ………...……….) 8. Meja : Ada -1 (…..buah/kamar) Lainnya -2 9. Kursi : Ada -1 (…..buah/kamar) Lainnya -2 10. Makan : ……….kali/hari

(32)

11. Jumlah makan

selama pelatihan : ……….kali

12. Tempat makan : di penginapan -1 di kelas -2

13. Jumlah snack

selama pelatihan : ……….kali

………, ………. 2013

Innas,

( )

(33)

Lampiran 5. REKAPITULASI BIODATA PESERTA PELATIHAN

No. Nama Jenis Kelamin

Pendidikan

Terakhir Pekerjaan NIP/NMS

Bertugas Sebagai Ada Pengalaman dalam Sensus/Survei BPS? (Ya -1, Tidak -2) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) ………, ………. 2013 Innas, ( ) NIP.

(34)

Lampiran 6. DAFTAR NILAI PESERTA PELATIHAN PETUGAS

No. Nama Bertugas Sebagai Nilai Pendalaman Nilai Mengajar Total (1) (2) (3) (4) (5) (6) ………, ………. 2013 Innas,

(35)

NIP.

No. Permasalahan Penyelesaian

(36)

Lampiran 7.

DAFTAR PERMASALAHAN DAN PENYELESAIAN SELAMA PELATIHAN Kelas : …………... Gelombang : …………... ………, ………. 2013 Innas, ( ) NIP.

(37)

PERMASALAHAN

DAN PENEGASAN SPP ST2013

No

. Permasalahan Penegasan

(1) (2) (3)

1. Apakah jumlah sampel selalu 10 rumah tangga (ruta) dalam 1 blok sensus?

Jumlah sampel tidak selalu 10 ruta, bisa lebih atau kurang dari 10.

2. Mengapa harus menggunakan dokumen

scanner?

Penyiapan dokumen scanner sudah diputuskan oleh Pimpinan dan mempertimbangkan segala kemungkinan.

3. Apakah ruta terpilih harus sama dengan jenis strata yang ada, misal ruta yang terpilih perkebunan, tetapi ada di strata tanaman pangan?

Bisa saja terjadi ruta terpilih tidak sama dengan jenis strata yang sama.

4. Bagaimana penulisan pada peta Blok Sensus untuk rumah tangga pengganti?

Pada peta Blok Sensus berikan tanda panah pada simbol posisi rumah tangga sampel pengganti tersebut dan berikan tanda silang pada tanda panah rumah tangga sampel utama.

5. Bagaimana jika rumah tangga pengganti tidak bisa dicacah sampai dengan batas waktu pencacahan?

Penggantian sampel hanya dapat diganti satu kali kesempatan saja. Jika sampai dengan masa pencacahan berakhir tidak dapat diwawancarai, maka kuesioner

(38)

No

. Permasalahan Penegasan

(1) (2) (3)

ST2013-SPP.S hanya dapat terisi sampai dengan Blok IIB R. 205.

6. Referensi pencacahan 1-30 November 2013, bagaimana kalau sampel utama tidak dapat dicacah?

PMS harus mengatur strategi agar pelaksanaan pencacahan dapat berjalan sesuai jadwal yang ditentukan.

7. Apakah petugas PCS dan PMS boleh petugas BPS organik?

PCS adalah Mitra Terbaik/ KSK/ Staf.

PMS adalah Kortim Terbaik/ KSK/ Staf/ Kasi.

8. Bila ada ketidaksesuaian antara no. urut DSRT dengan letak/posisi gambar pada peta, apakah tanda panah dibiarkan pada no. urut yang salah atau diperbaiki sesuai dengan letak yang sebenarnya?

Tanda panah digambar pada posisi yang sebenarnya di lapangan.

9. Apa tindak lanjut peta yang telah dibuat untuk pelaksanaan SPP 2013?

Peta hasil SPP 2013 yang telah sesuai kondisi lapangan akan digunakan untuk kegiatan ST2013 selanjutnya. Oleh karena itu, peta hasil SPP2013 harus di-scan untuk dokumentasi.

10. Apakah peta bisa di-update? Peta harus dilakukan update sesuai keadaan lapangan, tetapi tidak mengubah batas Blok Sensus.

(39)

No

. Permasalahan Penegasan

(1) (2) (3)

Update: menambah legenda penting, memperbaiki posisi/letak jalan, gang, lorong.

11. Untuk pelaksanaan SPP 2013, apakah peta di-print di kertas A4 atau A3?

Peta di-print di kertas A3 oleh BPS Kabupaten/Kota.

12. Apakah penggantian sampel tidak melihat subsektor atau jenis komoditasnya?

Tidak, hanya melihat pasangan nomor urut yang sama antara sampel utama dan sampel pengganti.

13. Bagaimana wilayah-wilayah yang tidak konsentrasi (biasanya lokasi antar rumah tangga berjauhan) agar target 1 bulan pencacahan bisa terpenuhi?

Dalam pendataan ST2013-SPP.S target rumah tangga sampel per blok sensus, baik blok sensus konsentrasi maupun tidak adalah sekitar 10 rumah tangga. Petugas harus mengatur strategi pencacahan sehingga diperkirakan target 1 bulan pencacahan bisa terpenuhi.

14. Pekerja serabutan juga merupakan sebagai pendapatan ruta, apakah dicatat di Blok III?

Ya, dicatat di Blok III Kolom (11) untuk sektor pertanian dan atau Kolom (13) untuk di luar sektor pertanian.

15. Jika sampel adalah ruta padi ternyata tidak pernah tanam padi (salah identifikasi pada Daftar ST2013-L) tetapi

Tidak perlu diganti sampel. Selama rumah tangga tersebut merupakan rumah tangga pengelola usaha

(40)

No

. Permasalahan Penegasan

(1) (2) (3)

menanam singkong, apakah harus ganti sampel?

pertanian wawancara tetap dilanjutkan.

16. Konsep “Bukan rumah tangga pertanian” (kode 2) pada Rincian 205, apakah hanya untuk kesalahan pada pencacahan Daftar ST2013-L atau sesuai keadaan lapangan pada saat pencacahan?

Misal, pada waktu pencacahan SPP 2013, ruta tersebut sudah tidak berusaha di sektor pertanian lagi.

a. Jika terjadi karena kesalahan listing pada pencacahan lengkap bahwa ruta tersebut sebenarnya bukan ruta pertanian, maka dilakukan penggantian sampel. b. Jika selama setahun yang lalu

mempunyai usaha pertanian, meskipun saat pencacahan sudah alih usaha di luar sektor pertanian, maka ruta tersebut tetap dicacah.

17. Untuk daerah sulit (biaya besar, misal menggunakan pesawat seperti di Papua), apakah sampel blok sensus bisa diganti?

Jika terpilih di daerah sulit, maka tetap harus dilakukan pencacahan di lapangan karena dasar penarikan sampel adalah probability sampling

dan keterwakilan subsektor.

18. Untuk pembantu dan sopir yang menginap (menjadi ART), apakah biaya makan dan minum diperkirakan sebagai upah/gaji?

Ya, tetap diperkirakan.

19. Responden (pengelola) yang sudah diketahui sampai dengan batas waktu pencacahan masih pergi, apakah bisa diganti dengan responden lain yang

Responden harus pengelola usaha pertanian, jika diperkirakan sampai dengan batas waktu pencacahan, pengelola tidak bisa dicacah, maka

(41)

No

. Permasalahan Penegasan

(1) (2) (3)

mengetahui? lakukan penggantian sampel.

20. a. Blok III ART pengelola sudah tidak ada dalam ruta (misal, menikah dan pindah rumah) pada saat pencacahan dan ruta tersebut tidak ada petani lagi. Apakah tetap dicacah atau ganti sampel?

b. Jika ruta tersebut masih ruta pertanian, apakah usaha ART tersebut tetap dimasukkan ke dalam ruta tersebut?

a. Jika pengelola sudah tidak ada dalam ruta, maka dilakukan penggantian sampel.

b. Jika ruta tersebut masih ada pengelola usaha pertanian yang lain, maka tidak perlu dilakukan penggantian sampel dan wawancara dilanjutkan.

21. Jika KRT mengusahakan tanaman pertanian, tetapi pada saat pencacahan KRT tersebut meninggal dunia dan digantikan oleh anak/menantunya yang tidak berusaha di sektor pertanian serta tidak mengetahui pengelolaan dan ongkos-ongkosnya, bagaimana dengan perlakuan untuk ruta tersebut?

Sampel ruta diganti.

22. Rumah tangga sampel pecah, terdiri dari ayah dan anaknya, ayahnya (ruta pertama) tidak mempunyai usaha pertanian sedangkan anaknya (ruta kedua) mempunyai usaha pertanian. Jika KRT awal adalah ayahnya, maka ruta

Karena KRT semula adalah ayahnya yang ternyata tidak mempunyai usaha pertanian, maka sampel diganti dengan sampel pengganti pasangannya pada Daftar ST2013-SPP.DSRT(C).

(42)

No

. Permasalahan Penegasan

(1) (2) (3)

manakah yang dicacah SPP 2013?

23. Apakah penggunaan traktor milik sendiri juga diimputasi nilai sewanya?

Tidak, hanya pengeluaran BBM dan perawatan/perbaikan kecil.

24. Dua rumah tangga sampel menjadi satu rumah tangga sampel. Yang dicacah salah satu atau kedua-duanya?

KRT dari ruta gabungan dan tercantum pada DSRT tetap dilakukan pencacahan sedangkan yang tidak menjadi KRT pada ruta gabungan dilakukan penggantian sampel.

25. a. Mengapa harus ada strata non-konsentrasi?

b. Adakah BS nonkonsentrasi terpilih sebagai sampel?

a. Agar mewakili dalam estimasi.

b. Ada sampel dari BS non-konsentrasi.

26. Pembagian tugas Blok Sensus, apakah boleh lintas kecamatan?

Untuk PCS (Mitra/KSK) tidak boleh lintas kecamatan, akan tetapi untuk PMS dari BPS Kabupaten/Kota hal ini dimungkinkan.

27. Jika ada 3 pengelola dalam 1 ruta, ketika wawancara ada 1 pengelola tidak dapat ditemui sampai batas pencacahan karena naik haji. Apakah ganti sampel?

Tidak ganti sampel. Pencacahan dilanjutkan meskipun hanya 1 pengelola sebagai pemberi informasi.

28. Apakah Daftar ST2013-SPP.DSRT(C) bisa langsung diberikan kepada PCS?

Daftar ST2013-SPP.DSRT(C) tetap dipegang oleh PMS.

(43)

No

. Permasalahan Penegasan

(1) (2) (3)

29. Pada Blok III konsep setahun yang lalu, apakah bulan atau hari?

Sehari sebelum pencacahan, mundur setahun ke belakang.

30. Pada saat pencacahan SPP 2013, ruta tersebut sedang menunggu musim panen, apakah tetap dicacah?

Ya, karena masih usaha pertanian.

31. Untuk Blok III Kolom (10), pegawai baru sektor pertanian belum mendapat gaji, bagaimana perlakuannya?

Kolom (10) berkode 1 dan Kolom (11) diisi perkiraan gaji yang akan diterima sesuai hari kerja.

32. Apakah ruta berkode 4 (mengelola milik orang lain dengan menerima upah) dapat terpilih menjadi sampel?

Mempunyai peluang untuk terpilih menjadi sampel.

33. Bagaimana jika ruta menyewakan lahan transaksinya bukan pada saat pencacahan, tetapi sejak 5 tahun yang lalu?

Pendapatan yang diterima dibagi per tahun.

34. Jika hanya sewa tanaman saja, apakah lahannya dicatat atau tidak?

Lahan dicatat dan berasal dari pihak lain.

35. Menanam tanaman di lahan Perhutani yang sudah ada tanaman tahunan, apakah luas lahannya dicatat atau tidak?

Luas lahan yang dikuasai tetap dicatat dan berasal dari pihak lain.

36. Untuk Blok VII R.A.2, apakah termasuk Tanaman Sedang Tidak Menghasilkan (TSTM) dan Tanaman Tidak

Tidak, hanya untuk Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).

(44)

No

. Permasalahan Penegasan

(1) (2) (3)

Menghasilkan (TTM)?

37. Sawah yang dialiri dari pompa, apakah termasuk sawah irigasi?

Tidak, sawah tersebut termasuk sawah non irigasi.

38. Jika lahan sawah menjadi sarang walet, apakah dianggap konversi?

Ya, dari lahan sawah menjadi lahan bukan pertanian.

39. Bagaimana dengan tanaman semusim yang ditanam di sekeliling rumah dan tidak bisa dihitung luasnya?

Pendapatan dicatat di R. 1501.g Lainnya.

40. Jagung muda, jagung manis, dan singkong yang diambil daunnya dimasukkan kemana?

Jagung selama tidak menjadi pipilan kering dimasukkan sebagai produk ikutan tanaman jagung (palawija) dan dikategorikan panen. Hal yang sama berlaku untuk daun singkong.

41. Bagaimana struktur ongkos yang dikeluarkan untuk tanaman cabai yang panen pertamanya dimulai pada referensi pencacahan dan perkiraan selesai panen (dibongkar) diluar referensi pencacahan?

Nilai produksi yang dicatat adalah nilai produksi yang di panen mulai periode pencacahan sampai dengan perkiraan tanaman tersebut dibongkar.

Nilai pengeluaran yang dicatat adalah nilai pengeluaran dari tanaman cabai tersebut mulai ditanam sampai dengan tanaman tersebut dibongkar.

(45)

No

. Permasalahan Penegasan

(1) (2) (3)

42. Untuk tanaman hortikultura semusim seperti cabai rawit, jika sebelum referensi pencacahan (Nov 2012- Nov 2013) ada panen yang seharusnya tanaman cabai tersebut dibongkar tetapi tidak dibongkar, kemudian diberikan perawatan (pemupukan, penyemprotan, dll) sehingga pada referensi pencacahan kembali panen. Tanaman cabai tersebut akan dibongkar setelah referensi pencacahan. Bagaimana pencatatan nilai produksi dan ongkosnya?

a. Nilai produksi panen sebelum referensi pencacahan tidak dicatat.

b. Nilai produksi panen yang dicatat adalah nilai produksi yang di panen pada referensi pencacahan sampai dengan perkiraan tanaman tersebut dibongkar.

c. Nilai pengeluaran yang dicatat adalah nilai pengeluaran dari tanaman cabai tersebut mulai ditanam sampai dengan tanaman tersebut dibongkar. 43. Bagaimana bibit untuk tanaman tebu

yang dipanen beberapa kali?

Ongkos-ongkosnya adalah termasuk biaya bibit sejak penanaman sampai dengan pada saat pencacahan.

44. Ruta mengambil karet dari karet yang ditanam di lahan adat dengan sistem bebas ambil. Bagaimana penggunaan lahannya?

Lahan tidak ada karena pemungutan hasil hutan.

45. Beberapa karyawan perusahaan perkebunan kelapa sawit ditugasi mengurus sapi yang dikelola perusahaan, dimasukkan subsektor manakah karyawan/buruh tersebut?

Karyawan/buruh subsektor perkebunan.

(46)

No

. Permasalahan Penegasan

(1) (2) (3)

46. Ruta A menyewa pohon kelapa seluas 1 Ha dari ruta B. Di lahan tersebut, ruta B mengusahakan tanaman kehutanan (sengon). Apakah lahan tersebut dicatat di ruta A atau ruta B?

Pada blok V, ruta B memiliki lahan yang digunakan untuk tanaman sengon sedangkan ruta A menguasai lahan yang berasal dari sewa dan digunakan untuk tanaman kelapa.

47. Untuk ternak bagi hasil dan hilang, apakah masuk Blok XV R.1501.f.ii atau R.1502.d?

Bagi hasil masuk Blok XV R.1501.f.ii sedangkan hilang masuk Blok XV R. 1502.d.

48. Apakah yang memelihara ternak kadang-kadang menjual juga dimasukkan ke pendapatan usaha peternakan?

Pada pelaksanaan SPP 2013 tidak mengenal BMU, jika selama setahun yang lalu menjual ternaknya, maka tetap dicatat sebagai usaha peternakan.

49. Apakah ayam pedaging tidak disamakan dengan tanaman semusim atau tetap mengikuti periode selama setahun yang lalu?

Tetap selama setahun yang lalu.

50. Penjualan sapi perah betina produktif, nilainya masuk mana?

Tidak masuk kemanapun alias diabaikan karena dianggap sebagai pengurangan barang modal (investasi).

51. JIka ada sapi yang mati karena tertabrak mobil dan diganti dengan sapi lagi,

Jumlah sapi yang mati dicatat dan nilainya ‘0’ sedangkan sapi

(47)

No

. Permasalahan Penegasan

(1) (2) (3)

bagaimana penghitungannya? penggantian harus dicatat di penambahan lain, baik jumlah maupun nilainya.

52. Di Sulawesi Tengah, ada sapi yang tidak dikandangkan dan dilepas sama sekali (tidak diurus sama sekali), selama setahun yang lalu responden tidak pernah mengecek jumlah sapi tersebut, bagaimana cara pencatatannya?

Tetap dianggap sebagai usaha sedangkan mutasi dan ongkos tetap dicatat.

53. Bagaimana jika pada saat pencacahan ada usaha ternak walaupun pada Daftar ST2013-L hanya sebagai buruh?

Tetap masuk Blok IX.

54. Kambing/kuda yang khusus diambil susunya, apakah diperlakukan seperti sapi perah?

Tidak, kuda dan kambing tetap dianggap seperti sapi potong (tidak dianggap barang modal). Dalam hal ini hasil berupa susu dicatat sebagai produksi ikutan.

55. Budidaya perikanan di laut yang menghasilkan rumput laut, kerapu, dan kerang mempunyai satuan produksi yang berbeda, bagaimana cara mengisi satuan produksi?

Satuan produksi dikosongkan, yang terisi hanya nilai produksi total dari rumput laut, kerapu, dan kerang.

56. Kerang mutiara memiliki produksi berupa mutiara (bukan kerang), apakah dianggap produksi primer atau ikutan (Blok X) dan

Mutiara adalah produksi primer dan satuannya butir.

(48)

No

. Permasalahan Penegasan

(1) (2) (3)

apakah satuannya?

57. Bagaimana dengan penangkapan ikan hias yang satuannya adalah ekor sedangkan Blok XI R.2a satuannya adalah kg?

Satuan produksi dikosongkan, yang terisi hanya nilai produksinya.

58. Bagaimana perlakuan untuk penangkapan ikan yang dijual dalam bentuk ikan asin/ikan asap dan tidak pernah dijual dalam bentuk ikan segar?

Tetap dicatat dalam ikan segar, harga diperkirakan sesuai harga setempat.

Sedangkan pengolahan ikan asin/ikan asap masuk ke dalam industri pengolahan.

59. Untuk komoditas budidaya perikanan yang sama, jika produksi mencakup ikan dan biota lain dengan satuan berbeda, bagaimana pencatatan produksinya?

Dicatat nilainya saja sedangkan volumenya dikosongkan.

60. Pada penangkapan ikan, jika responden memiliki dua perahu dan melakukan penangkapan pada hari yang sama, apakah dihitung 1 trip atau 2 trip?

1 trip karena maksimal 1 hari 1 trip. Hasil per trip dijumlahkan dari 2 perahu tersebut.

61. Di Sumsel, penangkapan ikan di rawa dilakukan dengan sistem lelang. Si pemenang lelang membayar buruh untuk menangkap ikan. Berapa jumlah tripnya?

1 hari 1 trip tanpa melihat jumlah buruhnya. Hasil per trip dijumlahkan dari seluruh buruh.

(49)

No

. Permasalahan Penegasan

(1) (2) (3)

budidaya ikan termasuk produksi ikutan?

dijual, maka pendapatannya dicatat sebagai produk ikutan.

Jika ikan penganggu tersebut tidak dijual, maka pendapatannya dicatat di Blok XV R.1501.a.i.

63. Bagaimana cara menghitung trip untuk kapal penampung di laut?

Jumlah trip dihitung sesuai konsep dari pelabuhan asal sampai kembali lagi.

64. Biaya yang dikeluarkan untuk mengupah orang yang menjualkan hasil produksinya ke TPI masuk ke mana?

Masuk upah pekerja.

65. Menangkap belut masuk ke mana? Bila dilakukan di perairan umum, maka masuk penangkapan ikan. Bila dilakukan di sawah, maka tidak termasuk penangkapan ikan. Penghasilan dari menangkap belut diisikan pada Blok XV R.1501.a.i.

66. Bagaimana pencatatan kegiatan mengambil kayu di hutan kemudian dibuat arang dan dijual?

Mengambil kayu hutan dicatat di Blok XIV.A1 dengan nilai yang diperkirakan. Arang yang dijual dicatat di Blok XIV.B1 dengan nilai pendapatan sebesar nilai jual arang dikurangi (perkiraan) nilai kayu dan biaya lainnya.

(50)

No

. Permasalahan Penegasan

(1) (2) (3)

67. Jika menanam jati untuk pagar, apakah luasnya dimasukkan pada Blok V?

Ya, Luas lahan yang digunakan untuk menanam jati sebagai pagar termasuk lahan rumah dan pekarangan serta diisikan pada lahan bukan pertanian.

KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK,

Gambar

Gambar 6.1 Suasana Ruang Pelatihan yang Baik

Referensi

Dokumen terkait

Bagi stakeholder , sebagai bahan masukan untuk meningkatkan pemahaman dalam menganalisis pengaruh kualitas pelayanan petugas pajak, sanksi pajak dan biaya kepatuhan

Penyusunan Rencana Strategis ( Renstra) tahun 2011 -2015 ini adalah sebagai upaya untuk membina, meningkatkan, mengembangkan, menumbuhkan Sektor koperasi serta

Kualitas pemahaman mengenai kebijakan reformasi birokrasi yang diindikasikan dengan kemampuan dalam memahami konsep dan kebijakan reformasi birokrasi, manajemen

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu dapat menambah jumlah literatur penelitian stilistika yang telah ada, menumbuhkan minat peneliti lain untuk

1) Bagi guru, dapat memberikan pembelajaran yang menyenangkan sehingga peserta didik tertarik dalam mengikuti proses pembelajaran. 2) Bagi siswa, Menumbuhkan

Oleh karena itu peneliti membuat penelitian dengan judul “ Pengaruh Motivasi Kualitas Dan Kondisi Sosial-Ekonomi Keluarga Terhadap Minat Melanjutkan Studi Program

Maka dari ini penting bagi guru untuk menciptakan strategi pembelajaran yang mudah dipahami dalam menumbuhkan minat belajar bagi siswa hiperaktif.. Anak hiperaktif mempunyai

Harapan peneliti ialah Perusahaan memberikan pelatihan yang kompeten sehingga kompensasi akan mengikuti dari banyaknya jumlah nasabah yang tergabung dalam Polis dan secara signifikan