PENDAHULUAN
Kedatangan orang-orang Arab di kepulauan Nusantara masih menjadi perdebatan hingga sekarang. Meskipun demikian, para ahli berpendapat bahwa mereka telah memainkan peranan penting sejak awal kedatangan mereka ke Nusantara. Menurut L.W.C. van den Berg, pada abad pertengahan telah terjalin hubungan dagang yang cukup erat antara Arab selatan, khususnya
Maskat, Teluk Persia dengan
Nusantara 1 . Sebagian dari mereka
1 L.W.C. van den Berg, Hadramaut dan
Koloni Arab di Nusantara (Jakarta: INIS, 1989), h. 67.
diketahui telah menetap di pelabuhan-pelabuhan penting Nusantara dan beberapa diantaranya bahkan memiliki pengaruh yang besar bagi situasi politik golongan pribumi serta pendirian koloni-koloni Arab di wilayah ini. Penyebaran ajaran Islam pada penduduk pribumi merupakan salah satu peranan paling menonjol dari kegiatan orang Arab di Nusantara. Hal ini dibuktikan dari adanya pendapat beberapa ilmuwan yang mengaitkan kedatangan orang Arab dengan Islamisasi di wilayah nusantara.
DAKWAH KOMUNITAS ARAB DI PALU: SUATU PENDEKATAN PENDIDIKAN
Ismail Suardi Wekke* dan Andriansyah** Email: [email protected]
ABSTRACT
This article focuses on educational movement of Alkhairat in Palu, central Sulawesi. Non participant observation and in-depth interview were conducted to gain data. During three months exploration, data collection and validation reflect the beginning of research. In addition, this article is a preliminary of the study. Focus group discussion and a symposium were a place to gain the triangulation processes. The research shows that there is existence of Arabian community. It started from a small circle of religious activities internal family. They expand the program because there are a lot of demands from Muslim society. It shows that before Arabian movement in education, society only enjoys traditional education. They learn to read holy Quran but they cannot write. Therefore, this paper shows the importance of assimilation of Arabian migrants. They shape to claim local identity and there is no point of return to Arabic identity. A further reason that make Arabian can socialize with other communities because religious identity and social attainment. Graduates from the school provide a positive image and support further development of the institutions. Finally, this article suggests exploring Arabian encounters to other communities. Traditional migrant reflect of process of integration and interpretation support the construction and social developments.
Keywords: Arabian, School, and Religious Migrant
Implikasi yang ditimbulkan dari masuknya Islam di Nusantara pun sangat luas. Salah satunya adalah berdirinya organisasi sosial yang bergerak di bidang pendidikan Islam sebagai bagian dari upaya gerakan pembaharuan Islam. Sayangnya, hanya sedikit yang diketahui mengenai organisasi sosial pendidikan yang didirikan oleh komunitas Arab di Indonesia dan terbatas hanya di daerah Jawa saja. Pertanyaannya kemudian
adalah bagaimana dengan
perkembangan organisasi sosial yang didirikan oleh komunitas Arab di wilayah lainnya?. Artikel ini hendak membahas tentang organisasi sosial pendidikan yang didirikan oleh masyarakat Arab di Palu, Sulawesi Tengah sebagai suatu pendekatan dakwah.
SEKELUMIT TENTANG
KEDATANGAN ORANG ARAB DI NUSANTARA
Kedatangan orang Arab di wilayah kepulauan Nusantara selalu menjadi perdebatan menarik di kalangan para sarjanawan baik Indonesia maupun
luar negeri. Masing-masing
mengemukakan teori berdasarkan data-data yang berhasil mereka peroleh. Snouck Hurgronje misalnya, dalam pidato penerimaan jabatan guru besarnya pada Universitas Leiden 23 Januari 1907 mengatakan, bahwa dalam buku sejarah tidak didapatkan bukti bahwa orang
2 Hamid Algadri, Islam Dan Keturunan
Arab Dalam Pemberontakan Melawan Belanda. (Bandung: Mizan, 1996), h. 47.
Arab memiliki pengetahuan tentang Indonesia berdasarkan pengetahuan mereka sendiri2. Snouck berkesimpulan bahwa selama empat abad pimpinan agama Islam di Indonesia berada di tangan orang India dan baru pada abad XVI pengaruh Arab masuk ke Indonesia tanpa saingan dan pengaruh itu masuk melalui dua jalur, yaitu Hadramaut dan Mekkah. Ia tidak meyakini ada hubungan dagang antara Indonesia dengan Negara-negara Arab sejak berabad-abad lalu dan segala sesuatu yang berasal dari Arabia sampai di Indonesia melalui India. Singkatnya, point utama yang hendak disampaikan oleh Snouck adalah bahwa kedatangan orang-orang Arab di nusantara baru terjadi pada abad ke XVI.
Berbeda dengan Snouck, Ricklefs berpendapat bahwa jauh sebelum abad ke XVI orang Arab telah tiba dan menetap di Nusantara. Pendapatnya itu didasari oleh beberapa fakta sejarah, salah satunya adalah penemuan makam yang terdapat di Leran Gresik, Jawa Timur dekat Surabaya. Tulisan Arab yang ada di nisan makam itu menjelaskan bahwa makam tersebut adalah makam seorang wanita bernama Fathimah binti Maimun bin Hibatallah yang wafat pada 475 H (1082 M)3. Makam ini membuktikan dengan jelas bahwa pada abad XI sudah terdapat orang Arab atau paling tidak keturunan Arab di Jawa, sehingga Ricklefs berkesimpulan kedatangan
3 M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia
Modern 1200-2004. (Jakarta: Serambi, 2008), h 27.
orang Arab pertama di kepulauan Nusantara tidak banyak berbeda (berkaitan) dengan sejarah masuknya Islam di wilayah ini.
Terlepas dari perbedaan pendapat tentang kapan masuknya orang Arab seperti yang disebutkan di atas, para ahli sependapat dalam satu hal, yakni bahwa orang-orang Arab yang bermukim di wilayah Nusantara kurang lebih atau kebanyakan berasal dari Hadramaut4. Adapun orang-orang Arab yang berasal dari Maskat, Yaman, Suriah, Mesir, atau pantai timur Afrika yang datang ke Nusantara jarang ada yang menetap, karena mengembara memang menjadi ciri khas dari banyak orang Arab setelah
mereka meninggalkan tanah
kelahirannya. Mengenai orang Arab lainnya yang tidak berasal dari Hadramaut dan menetap di Nusantara, mereka segera terasimilasi dalam massa yang datang dari Hadramaut dan dipengaruhi pendapat mereka ini. Mengingat kepentingan mereka yang sama, maka tidak ada alasan untuk saling bermusuhan.
Sebelum tahun 1859 tidak tersedia data yang jelas mengenai jumlah orang Arab yang bermukim di daerah Hindia Belanda, sebab dalam catatan statistik resmi mereka sering dirancukan dengan orang Benggali dan orang asing lain yang beragama Islam. Perpindahan penduduk Hadramaut menjadi lebih mudah sejak tahun 1870, karena pada saat itu jalur pelayaran dengan menggunakan kapal uap antara Timur
4 L.W.C. van den Berg, Hadramaut dan
Koloni Arab di Indonesia. (Jakarta: INIS, 1989), h 1.
Jauh dan Arab mengalami
perkembangan pesat, sehinga jarak tempuh untuk menuju Nusantara semakin singkat5. Ini sangat berbeda dengan yang terjadi sebelumnya, dimana perjalanan yang ditempuh dengan menggunakan kapal layar mencapai waktu yang berbulan-bulan dan terasa sangat lama.
Seperti halnya dengan bangsa Eropa serta bangsa Asiatis lainnya, orang-orang Arab yang memutuskan untuk hijrah ke negeri lain bukanlah golongan yang terkaya di Hadramaut. Kebanyakan dari mereka yang hidupnya nyaman di negeri asalnya tidak pergi keluar negeri untuk mengadu nasib. Adapun orang Arab yang melakukan
hijrah adalah untuk mencari
penghidupan yang lebih baik atau seperti kata pepatah Arab “mencari cincin Nabi Sulaiman” serta ada pula yang disertai usaha-usaha dakwah Islam.
Umumnya orang-orang Arab yang menetap di Nusantara menikah dengan wanita lokal setempat, karena resiko membawa istri dari tanah Arab tidaklah kecil. Kebanyakan keturunan
Arab di Nusantara cenderung
berasimilasi dengan masyarakat pribumi. Bahkan setelah beberapa generasi sering kali sulit untuk diketahui asal-usulnya, kecuali mereka yang tergolong keluarga terhormat atau sayid. Sudah beradaptasi dan bahkan mengalihkan identitas mereka menjadi pribumi. Perbedaan antara keturunan atau bukan keturunan tidak lagi dapat
dikenali jikalau hanya melihat pada pola pergaulan di masyarakat.
MASYARAKAT ARAB DI TANAH KAILI
Orang-orang Arab yang berada di Nusantara tidak hanya menetap di satu tempat atau wilayah saja, melainkan segera menyebar dan membentuk koloni-koloninya di seluruh wilayah kepulauan nusantara. Salah satu wilayah yang dijadikan oleh orang-orang Arab
Hadramaut sebagai tempat
beraktivitasnya ialah Palu (Ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah sekarang). Awalnya mereka datang dalam jumlah atau rombongan-rombongan yang kecil. Orang Arab pertama yang masuk di lembah Palu (tepatnya di Wani) adalah keturunan Arab dari golongan Sayyid yang berasal dari Sulawesi Selatan, yakni Sayyid Agel Al-Mahdali. Ia beserta istri dan tiga orang anaknya datang ke Wani (sekitar 30 km arah utara kota Palu) pada abad ke-18.
Secara geografis, Wani
merupakan daerah pesisir pantai yang pada waktu itu merupakan pusat pelabuhan dan bongkar muat barang-barang dan rempah yang terkenal di lembah Palu, sehingga dipilih sebagai tempat oleh orang Arab untuk menunjang aktivitas perdagangan mereka6. Dari segi pola pemukiman,
daerah Wani dibagi menjadi dua bagian, yakni Wani I dan Wani II. Wani I merupakan tempat tinggal suku asli (Kaili), sementara Wani II merupakan
6 Poppy Nursiah, “Keberadaan Masyarakat Arab Di Kota Palu”, Skripsi.
tempat tinggal para pendatang yang kebanyakan dari golongan Arab, bahkan tempat ini juga dikenal dengan nama
Malambora yang artinya kampung Arab.
Di tempat barunya ini keluarga Al Mahdali langsung berbaur dengan penduduk sekitar tanpa kesulitan sama sekali. Hal ini terjadi karena mereka sebelumnya telah berasimilasi dengan penduduk Wajo, Sulawesi Selatan, sehingga sudah terbiasa dengan kehidupan lingkungan Wani yang tidak jauh berbeda dengan tempatnya dulu tinggal. Penduduk setempat memanggil Sayyid Agel dengan sebutan Puang
Natuambulu yang berarti “Tuan Bulu”.
Julukan ini diberikan karena Sayyid Agel memang seorang yang tinggi-besar dengan badan yang mempunyai banyak bulu.
Gelombang kedua orang Arab yang masuk di lembah Palu adalah keluarga Al Haddad, yakni Sayyid
Husen bin Ahmad Al Haddad.
Kedatangannya ini diperkirakan sekitar akhir abad ke-19. Sama seperti Sayyid Agil, ia pun merupakan keturunan Arab yang berasal dari Sulawesi Selatan. Sayyid Husen dikabarkan datang ke Wani beserta istri dan anak-anaknya. Selain itu, ia juga disertai attah atau
hamba sahaya yang nantinya
dipekerjakan di perkebunan
(kebanyakan perkebunan kelapa) yang akan mereka garap. Anak-anak dari Sayyid Husen ini kemudian banyak yang menikah dengan keturunan Al Mahdali.
(Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan PIPS FKIP Universitas Tadulako), h. 39.
Dalam laporan memorie van
overgave tahun 1935 disebutkan bahwa
semenjak abad ke-20 setiap tahun jumlah orang-orang (pedagang) Arab yang datang ke Lembah Palu terus meningkat dan lebih banyak dibandingkan dengan yang sebelumnya, antara lain: keluarga Al Habsyi, Assegaf, Al Athas, Al Idrus, Al Amri dan Aldjufrie. Mereka ini masih golongan Sayyid (kecuali keluarga Al Amri) dan beberapa diantara mereka menikah dengan sesama keturunan Sayyid, ada pula yang menikah dengan anak raja lokal setempat. Ditinjau dari segi pernikahan, nampaknya ada semacam “sistem kasta” yang berlaku bagi orang-orang Arab golongan Sayyid. Pernikahan antar golongan Sayyid telah menjadi suatu tradisi yang dipegang teguh oleh orang-orang Arab, tidak terkecuali yang ada di lembah Palu. Ini dikarenakan mereka sangat menjaga kehormatan atau kemurnian “darahnya”. Laki-laki Arab sayyid bisa saja menikah dengan wanita-wanita Arab non sayyid bahkan wanita pribumi setempat, disebabkan kedudukan mereka yang dianggap lebih tinggi. Hal ini berbeda dengan yang dialami oleh wanita-wanita Arab sayyid yang diharuskan menikah dengan sesama sayyid, bila mereka melanggar “aturan” tersebut, maka kedudukannya dianggap menurun.
Pengaruh orang Arab terhadap penduduk bahkan penguasa pribumi setempat semakin besar seiring meningkatnya ekonomi mereka. Pada abad ke-20 dilaporkan bahwa hampir seluruh perdagangan ekspor-impor di Lembah Palu dikuasai oleh orang-orang Arab, yang juga menguasai sebagian
besar perdagangan kecil di pasar-pasar. Selain sektor perdagangan, mereka juga
menguasai sektor perkebunan,
khususnya kelapa, yang menjadi primadona saat itu. Cara yang mereka gunakan untuk menguasai tanaman ini ialah dengan membiarkan penduduk
(yang memilik kebun kelapa)
mengambil beberapa bahan kebutuhan pokok di toko-toko milik mereka (dibiarkan berhutang) dengan ketentuan setelah tanaman kelapa mereka panen, hasilnya harus disetorkan sebagai ganti pembayaran dari barang-barang kebutuhan pokok yang telah mereka ambil. Dalam laporan Hirschman tahun 1935 bahkan disebutkan hampir semua pemilik kelapa berhutang kepada orang Arab atau Cina dan secara rutin harus menyerahkan kopra untuk menyetorkan bunga menurut harga pasar.
Salah satu data yang dapat dijadikan indikasi atau gambaran mengenai kekayaan orang Arab di Palu abad 20 adalah laporan pendapatan pemerintah onderafdeeling Palu pada tahun 1934 melalui pajak yang dibayar oleh orang-orang Arab sebesar f 1060,10; sedangkan penduduk pribumi hanya f 796,15. Sementara itu, status sosial
orang Arab di Palu dapat dilihat dari peninggalan rumah-rumah mereka. Hasil penelusuran penulis yang melihat sisa-sisa rumah peninggalan orang Arab di Wani dan Donggala abad ke-19 dan 20 memperlihatkan rumah-rumah orang Arab yang besar bahkan mengalahkan
Souraja (rumah raja) pribumi setempat.
Bentuknya menyerupai rumah-rumah bangsawan Bugis di Sulawesi Selatan.
MADRASAH ALKHAIRAT AL-ISLAMIYAH
Lahirnya Madrasah Alkhairat Al-Islamiyah sebagai wadah pendidikan Islam di Palu tidak dapat dipisahkan dari peranan orang-orang Arab yang bermukim di wilayah ini. Perlu untuk diketahui bahwa sebelum adanya madrasah Alkhairat, pendidikan Islam di wilayah ini sebagian besar diajarkan oleh orang-orang Bugis dan Makassar 7 . Namun, metode belajar yang digunakan masih sederhana. Di mana ada seorang guru agama disitulah orang-orang
berkumpul untuk mempelajari
pengetahuan agama Islam. Kegiatan ini juga berlangsung di rumah tokoh masyarakat setempat dimana guru diminta untuk datang mengajar di tempat tersebut. Pada masa ini kegiatan belajar mengajar belum mengenal sistem kelas seperti yang diterapkan dalam sekolah-sekolah madrasah. Materi yang diajarkan adalah cara membaca Alquran atau mengaji dengan meniru dan menghafal.
Guru duduk menghadap
murid-muridnya sambil membaca Alquran lalu diikuti oleh murid meniru apa yang diucapkan oleh guru. Dalam pengajian ini murid-murid hanya diajar membaca, tidak diajar menulis8. Satu hal yang dapat dirasakan mengenai pengaruh Bugis dalam pendidikan Islam di Palu adalah cara membaca Alquran dengan menggunakan ejaan Bugis, alefu ri asena
A, alefu ri asena I, dan seterusnya.
7 Syakir Mahid, dkk., Sejarah Sosial
Sulawesi Tengah. (Yogyakarta: Pilar, 2009), h. 64.
Penulis sendiri sewaktu masih kanak-kanak sempat merasakan belajar mengaji dengan cara tersebut. Setelah kedatangan Sayyid Idrus tahun 1929, seorang ulama asal Hadramaut, barulah sistem pendidikan madrasah diperkenalkan kepada penduduk setempat.
Sebelum berdirinya madrasah Alkhairat Al-Islamiyah tahun 1930, sekolah-sekolah yang ada di lembah Palu seluruhnya dikelola oleh pemerintah kolonial Belanda dan organisasi kristen,
Zending Leger Des Heils atau yang
sekarang lebih dikenal dengan nama Bala Keselamatan (BK). Dalam memorie
van overgave tahun 1925 disebutkan
bahwa di wilayah onderafdeeling Palu terdapat tiga jenis sekolah, yaitu:
Pertama, Sekolah Daerah yang dikelola
penguasa swapraja di Lasuani, Biromaru, Dolo, Sidondo, Kaleke dan Ngatapapu; Kedua, Sekolah Rakyat yang dikelola Bala Keselamatan di Padende, Bomba, Bora, KapiroE, Manusi, Sibalaya, Kalawara, Rarampadende, Lemo, Lindu, Winatu, Gimpu dan Kantewu; Ketiga, Sekolah Bala Keselamatan di Wayu, Porame, Karere dan Towoelu.
Sekolah-sekolah tersebut mendapat dukungan dan sokongan dana (subsidi) dari pihak pemerintah kolonial Belanda, sehingga tidak terdapat kesulitan yang berarti dalam pelaksanaan belajar mengajarnya. Demi kepentingan sekolah ini pada anggaran tahun 1926 disediakan dana f 8000 untuk 8 Nurhayati Nainggolang, Sejarah
Daerah Sulawesi Tengah. Depdikbud 1997/1998, h. 28-29.
bangunan baru di tempat lain mengingat bangunan lama sudah kurang baik dan pekarangan tempat bangunan itu berdiri banyak menderita karena banjir. Sekolah-sekolah yang dikelola oleh Bala Keselamatan bahkan mendapatkan subsidi berupa uang sekolah (semacam beasiswa) yang rata-rata 7 (tujuh) sen per-siswa setiap bulannya. Selain pendidikan, Bala Keselamatan juga mengelola Fasilitas kesehatan dalam bentuk poliklinik daerah yang terdapat di Palu di Rowiga, Kalawara, Bora, Palelo, Lemo dan Kantowu. Demi kepentingan pos-pos ini pada tahun 1925 dan 1926 dana f 100 per pos dibayarkan pada anggaran pengeluaran untuk membeli obat-obatan yang diperlukan.
Pembukaan sekolah-sekolah oleh Bala Keselamatan tersebut selalu dibarengi dengan misi kristenisasi terhadap penduduk lokal. Hal inilah yang menimbulkan kegelisahan dan respon orang Arab, sehingga muncul keinginan untuk mendirikan sebuah madrasah guna membendung laju kristenisasi dan secara bersamaan hendak mengislamkan penduduk yang masih belum beragama di daerah pedalaman. Perkembangan tersebut memperlihatkan semacam kontestasi “balapan” antara Kristen dengan Islam yang ada di Lembah Palu dalam hal mendapatkan pemeluk baru,
9 Azmumardi Azra, Islam Nusantara:
Jaringan Global dan Lokal. (Bandung: Mizan, 2002), h. 165.
10 Penulis menemukan kekeliruan pengejaan atau kutipan tentang tempat kelahiran Sayyid Idrus yang menyebutkan Taris sebagai tempat kelahirannya di dalam sumber-sumber
yang tentunya berdampak pula pada penguasaan sumber daya yang lainnya.
MASYARAKAT ARAB DAN
MADRASAH ALKHAIRAT
AL-ISLAMIYAH
Berbicara tentang Alkhairaat tidak dapat dipisahkan dari sosok Sayyid Idrus bin Salim Aljufrie, sebab dari tangan beliaulah Madrasah Alkhairat Al-Islamiyah terbentuk dan mampu berkembang tidak hanya di Sulawesi Tengah, tetapi juga meliputi kawasan Indonesia Timur lainnya. Azyumardi Azra bahkan menyebutkan Sayyid Idrus merupakan seorang pendidik Hadrami paling terkemuka di Indonesia pada abad ke-20 yang telah mendirikan Madrasah Alkhairat yang sekarang memiliki satu-satunya jaringan madrasah terluas (lebih dari 1.280 jumlahnya) di wilayah bagian Timur Indonesia 9. Sayyid Idrus bin
Salim Aljufri lahir pada hari Senin, 14 sya’ban 1309 H/15 Maret 1891 M di Terim10, sebuah kota kecil yang secara geografis tidak jauh dari kota Saiun, Hadramaut, Yaman Selatan. Secara geneologis, Sayyid Idrus mempunyai silsilah keturunan dari keluarga Ba’alawy yang nasab atau silsilahnya bersambung sampai kepada Ali bin Abi Thalib, kahlifah keempaat, keponakan lokal. Padahal, di Hadramaut tidak ada satupun wilayah yang bernama Taris, yang ada hanyalah Terim. Terkait wilayah-wilayah di Hadramaut lihat L.W.C. van den Berg, Orang Arab di Nusantara. (Depok: Komunitas Bambu, 2010), h. 20-29.
dan sekaligus menantu dari Rasulullah SAW dari Fatimah al-zahra11. Ayahnya
bernama Sayyid Salim bin Alawi Aljufrie merupakan mufti di Hadramaut, sedangkan ibunya bernama Syarifah Nur merupakan keturunan Arab-Bugis yang
masih mempunyai hubungan
kekerabatan dengan bangsawan Arung
Matowa di Wajo, Sengkang, Sulawesi
Selatan12. Syarifah Nur adalah keturunan Arung Matowa Wajo yang ke-42, yakni La Pawellangi Pajung Paroe Datu ri Akkajeng (1854-1859).
Pada tahun 1929 Sayyid Idrus kemudian menuju Wani atas ajakan orang-orang Arab yang berada di wilayah tersebut untuk membuka dan memimpin madrasah. Setibanya di
Wani, Sayid Idrus langsung
menggunakan waktunya untuk kegiatan dakwah Islam dan pengajaran terhadap sejumlah muridnya. Mereka belajar tanpa dipungut biaya. Tempat belajarnya pun masih belum menentu, kadang di mesjid, kadang pula diadakan bergiliran dari rumah satu kerumah lainnya.Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Haidar bahwa pada tahap awal pendidikan Islam dimulai dari kontak pribadi maupun kolektif antara mubalig (pendidik) dengan peserta didiknya13. Sebelum adanya masjid, surau, dayah
11 Silsilah Sayyid Idrus adalah sebagai berikut: “Idrus bin Salim bin Alawi bin Abdillah bin Husain bin Salim bin Idrus bin Muhammad bin Abdillah bin Alawi bin Abubakar Aljufrie bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Muhammad faqih al-muqaddam bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali uraidi bin Ja’far shadiq bin Muhammad baqir bin Zain al-abidin bin Ali bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
atau pesantren yang merupakan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar pendidikan Islam, transfer ilmu ini dilakukan di rumah kyai atau ulama serta di rumah-rumah penduduk sekitar secara bergiliran. Pada masa awal ini, inti dari materi pelajarannya ialah pengajaran ilmu-ilmu agama yang dikonsentrasikan dengan membaca kitab-kitab klasik.
Keinginan orang Arab untuk segera membuka madrasah terhalangi oleh keputusan pemerintah kolonial yang melarang pembukaan madrasah di Wani, sebab orang-orang Arab yang ada di wilayah tersebut diduga terlibat dalam pemberontakan Salumpaga di Toli-toli tahun 1919. Melihat situasi ini, Sayyid Idrus kemudian memutuskan untuk mengalihkan aktivitasnya ke Palu dan dengan bantuan dari Sayyid Abd. ar-Rahman Aljufri (orang Arab di Palu) serta madika malolo Palu, Tjatjo Ijazah, Sayyid Idrus berhasil mendirikan madrasah Islam yang pertama di Lembah Palu pada tanggal 30 Juni 1930 dengan nama Madrasah Alkhairat Al-Islamiyah.
Madrasah Alkhairaat Al-Islamiyah pada awalnya adalah sebuah
madrasah/sekolah yang hanya
menggunakan sebuah toko kecil lalu berpindah ke sebuah rumah petak dalam pelaksanaan belajar mengajarnya. Pada
Lihat lampiran Monograf Silsilah Leluhur Allawiyyin Keturunan Al-Imam Husen.
12 Sutrisno Kutoyo, Sejarah Pendidikan
Islam di Sulawesi Tengah. (Jakarta: epdikbud 1986/1987), h.102.
13 Haidar Putra Daulay, Sejarah
Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia. (Jakarta: Kencana, 2007), h.1.
mulanya yang menjadi guru di madrasah tersebut hanya Sayyid Idrus sendiri. Metode belajar yang digunakan ialah sistem halaqah dan belum mengenal adanya jenjang-jenjang pendidikan seperti sekarang. Pada tahap ini murid-murid hanya diajarkan mengenai pengetahuan di bidang agama. Di samping itu diajarakan pula bahasa Arab dengan menggunakan alat peraga, misalnya, ketika mengucapkan batu (dalam bahasa arab), Sayyid Idrus menggenggam sebuah batu, begitu pula
ketika diucapkan kayu, maka
digenggamnya pula sebatang kayu. Jumlah murid pada waktu itu berkisar 60 orang dan mereka belajar tanpa dipungut biaya. Tempat belajarnya pun masih belum menentu, kadang di mesjid, kadang pula diadakan bergiliran dari rumah satu ke rumah lainnya. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Arab. Sistem pendidikan seperti ini bertahan selama kurang lebih 18 tahun.
Signifikansi dari penggunaan sistem pendidikan tersebut tidak bisa dianggap remeh, sebab melalui metode itulah Sayyid Idrus berhasil membangun hubungan personal yang kuat dan menjadi ikatan yang menghubungkan mereka antara satu dan yang lainnya, sehingga sang guru kemudian memberikan otoritasnya kepada murid-murid untuk mengajar dan membuka madrasah hingga ke pedalaman Sulawesi Tengah. Pada akhirnya, melalui murid-muridnya-lah jaringan madrasah Alkhairat dapat tumbuh dan berkembang hingga wilayah pelosok Sulawesi Tengah dan daerah-daerah sekitarnya.
Murid-murid yang belajar di madrasah Alkhairat Al-Islamiyah berasal dari berbagai macam kalangan, karena
peruntukannya memang tidak untuk satu kalangan tertentu saja, tetapi dibuka untuk umum. Tidak sulit untuk mengetahui bahwa masyarakat Palu dan sekitarnya cenderung lebih memilih menyekolahkan anaknya di madrasah Alkhairat, sebab sekolah yang ada saat itu hanya sedikit dan dikelola sepenuhnya oleh pemerintah Belanda. Keengganan masyarakat (khususnya yang beragama Islam) untuk menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah yang didirikan oleh orang-orang Belanda disebabkan karena adanya kekhawatirkan akan dikristenkan. Di samping itu, sekolah-sekolah yang
dibangun Belanda kebanyakan
diperuntukan bagi anak-anak bangsawan atau pejabat dan masih harus dibebani lagi dengan pembayaran sekolah, sehingga masyarakat biasa tidak memiliki akses untuk menikmati fasilitas tersebut. Di saat seperti inilah madrasah Alkhairat Al-Islamiyah muncul sebagai alternatif bagi masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya.
Menurut laporan Hirschman, pada tahun 1934 sekolah Islam Alkhairat Al-Islamiyah di bawah pimpinan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri telah menampung 125 murid. Pada tahun ini pula telah dihasilkan tamatan pertama sebanyak dua orang, yaitu M. Qasim Maragau dan Sayyid Abd. Rahman Aljufrie. Setahun kemudian dihasilkan lagi tamatan kedua yang lebih banyak jumlahnya, antara lain: Alwi Intje Ote, Abdullah Hay Abdullah, Hasjim Samsuddin, Sa’ad F. Basjir, Zahrani, M. Muhammad, B. Daeng Malino, Hasan Intje Ote, M. Noh Lawewa, D.M.P Djaelangkara, Zainuddin, S. Aidid Al-Hasni, Zainal Abidin Betalembah, Rustam Arsjad, M. Nawawian Abdullah,
dan Mahfud Godal. Setelah itu menyusul lagi tamatan-tamatan yang berikutnya. Tamatan-tamatan ini merupakan kader-kader Alkhairat yang diberi kepercayaan dan otoritas oleh Sayyid Idrus menjadi guru dan mubaligh karena dianggap telah memiliki pengetahuan yang memadai. Mereka lalu dikirim ke wilayah-wilayah pedalaman atau desa di berbagai tempat di Palu khususnya, maupun Sulawesi Tengah pada umumnya, untuk mendirikan madrasah-madrasah Alkhairat. Beberapa diantaranya bahkan dikirim hingga ke Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku.
Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1948 sistem pendidikan di madrasah Alkhairat Al-Islamiyah mulai meningkat sebab telah diadakan sistem kelas sesuai dengan tingkat kecerdasan murid. Sekembalinya K.H. Rustam Arsjad (murid Sayyid Idrus yang bertugas mengajar di madrasah Alkhairat Kalimantan Selatan) ke Palu, ia berniat membuka madrasah setingkat lebih tinggi dari Ibtidaiyah. Keinginan K.H. Rustam Arjad ini muncul terutama karena pengalamannya bertemu dengan K.H. Idham Chalid14 sewaktu masih di Kalimantan terutama dalam menangani
dan mengembangkan pendidikan
keagamaan. Olehnya itu, pada tahun 1951 didirikan Madrasah Muallimin (sekolah guru) yang dikhususkan untuk mencetak guru-guru yang akan
14K.H. Idham Khalik merupakan kyai sekaligus politisi berpengaruh yang berasal dari Kalimantan Selatan. Usai perang kemerdekaan dirinya diangkat menjadi anggota Parlemen Sementara RI mewakili Kalimantan. Awalnya ia bergabung dengan Masyumi dan terpilih sebagai anggota DPRS tahun 1950 mewakili partai tersebut. Ketika NU memisahkan diri dari
ditempatkan pada cabang-cabang
madrasah Alkhairat yang
membutuhkannya. Kurikulum yang diajarakan pada madrasah ini meliputi 75% pendidikan Islam dan 25% pendidikan umum. Sebagai penunjang diberi tambahan pelajaran, seperti: Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Ilmu Keguruan dan Kewarganegaraan, Sejarah, Ilmu Bumi.
Untuk mengisi tenaga pengajar di madrasah ini, Sayyid Idrus menggunakan beberapa guru sekolah lanjutan di Palu, antara lain: Pendeta Entoh (Kristen) membawakan Bahasa
Inggris dan S.A. Abubakar
(Muhammadiyah) membawakan
pelajaran Kewarganegaraan dan Bahasa Indonesia. Dengan dibukanya madrasah Muallimin ini menandakan bahwa tingkatan madrasah Alkhairat telah mengalami pengembangan, tidak hanya pada tingkat Ibtidaiyah saja, dan sistem pendidikan serta pengajarannya mulai disesuaikan dengan sekolah negeri. Madrasah Muallimin ini dipimpin oleh K.H. Rustam Arsjad dan lama pendidikannya tiga tahun.
Pada tahun 1953, sekembalinya Sayyid Idrus dari perjalanan mengunjungi cabang-cabang Alkhairaat, beliau mendirikan gedung baru berlantai dua, karena setiap tahun ajaran baru, banyak murid yang mendaftar di Alkhairaat. Gedung berlantai dua ini
Masyumi, tahun 1952, ia lebih memilih bergabung dengan Partai NU. Kegiatan Idham Khalid dibidang pengembangan pendidikan selanjutnya mempertemukaan ia dengan K. H. Rustam Arsjad yang pada akhirnya memberikan saran-saran kepada K.H. Rustam Arjad terkait dengan pengembangan pendidikan agama, khususnya madrasah.
terdiri atas 10 ruang belajar dan 1 ruang kantor yang biaya pembangunannya berasal dari swadaya masyarakat dan hasil usaha dagang Sayyid Idrus sendiri. Tahun 1956 dibuka Madrasah Lanjutan Pertama (sederajat dengan SMP Negeri) yang dipimpin oleh Ustadz Abas Palimuri, alumni Alkhairaat yang pada saat itu baru kembali dari tugas belajar di Sekolah Guru Atas (SGA), Jakarta. Di tahun yang sama dibuka pula Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) yang dipimpin oleh Ustadz
Bachren Thajeb. Kurikulumnya
disesuaikan dengan kurikulum
Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) empat tahun yang dikelola oleh Departeman Agama. Pada tahun 1964 perkembangan Alkhairat telah mencapai tingkat perguruan tinggi dengan dibukanya Univeritas Islam Alkhairat (UNISA) yang terdiri dari tiga fakultas, yakni: Fakultas Tarbiyah, Fakultas Syari’ah, dan Fakultas Ad’ab. Berdasarkan data-data yang dilansir oleh Departeman Agama Provinsi Sulawesi Tengah tahun 1977, Alkhairat telah mengasuh sekolah-sekolah yang telah disesuaikan kurikulumnya dengan sekolah negeri.
KESIMPULAN
Artikel ini menunjukkan peranan orang Arab di lembah Palu yang telah ikut mewarnai dinamika sejarah Sulawesi Tengah. Mereka tidak hanya
memainkan peranan dalam
perekonomian, tetapi membawa misi kemanusiaan dengan cara mendirikan madrasah Alkhairat sebagai wadah mencerdaskan umat Islam hingga ke
wilayah pelosok Sulawesi Tengah. Berkat kerjasama dengan berbagai pihak
pertumbuhan dan perkembangan
madrasah ini masih berlangsung hingga sekarang.
Pendidikan yang digerakkan Madrasah Alkhairat menjadi sebuah pendekatan dakwah komunitas Arab di Palu. Sebagai sebuah gerakan pendidikan, dakwah yang dilaksanakan sesungguhnya dimaksudkan untuk memperkuat kapasitas internal umat
Islam. Sehingga dengan
penyelenggaraan pendidikan sekaligus menjadi sarana untuk membendung kristenisasi dan penyebaran misi keagamaan yang dilaksanakan gereja. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan
DAFTAR PUSTAKA
Azmumardi Azra, Islam Nusantara:
Jaringan Global dan Lokal.
Bandung: Mizan, 2002.
Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia.
Jakarta: Kencana, 2007.
Hamid Algadri, Islam Dan Keturunan
Arab Dalam Pemberontakan
Melawan Belanda. Bandung:
Mizan, 1996.
L.W.C. van den Berg, Hadramaut dan
Koloni Arab di Nusantara. Jakarta:
INIS, 1989.
M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia
Modern 1200-2004. Jakarta:
Serambi, 2008.
Nurhayati Nainggolang, Sejarah Daerah
Sulawesi Tengah. Jakarta:
Depdikbud 1997/1998.
Poppy Nursiah, “Keberadaan Masyarakat Arab Di Kota Palu”,
Skripsi. Program Studi Pendidikan
Sejarah, Jurusan PIPS FKIP Universitas Tadulako.
Sutrisno Kutoyo, Sejarah Pendidikan
Islam di Sulawesi Tengah.
Jakarta: Depdikbud 1986/1987. Syakir Mahid, dkk., Sejarah Sosial
Sulawesi Tengah. Yogyakarta:
Pilar, 2009.
UNTUK SITASI: Wekke, Ismail Suardi
dan Andriansyah. (2014). Dakwah Komunitas Arab di Palu: Suatu Pendekatan Pendidikan. Jurnal Dakwah Al-Hikmah, Vol. 5 (2), Oktober, 123-134.