Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih atas berkah dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Revisi Rencana Penelitan Integratif (RPI) Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi (P3KR) Tahun 2010-2014.
Revisi RPI P3KR Tahun 2010 -2014, merupakan penajaman RPI sebelumnya yang disesuaikan dengan Tupoksi P3KR yakni fokus pada penelitian konservasi dan rehabilitasi sumber daya hutan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.40/Menhut-II/2010.
Pada tahun 2010, P3KR memiliki 7 RPI di mana salah satunya RPI Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lahan Kering (RPI 3) yang context dan content-nya hutan poduksi, setelah dievaluasi tidak sesuai lagi dengan Tupoksi P3KR. RPI tersebut dialihkan ke Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan dan selanjutnya dibuat RPI baru, yakni Pengelolaan Hutan Lahan Kering yang fokus pada penelitian aspek restorasi dan rehabilitasi hutan.
RPI lain yang mengalami perubahan ruang lingkup adalah RPI Pengelolaan Hutan Mangrove yang diperluas menjadi RPI Pengelolaan Hutan Mangrove dan Ekosistem Pantai (RPI 4). Lima RPI lainnya yakni Pengelolaan Hutan Gambut (RPI 5), Konservasi Flora, Fauna dan Mikroorganisme (RPI 12), Model Pengelolaan Kawasan Konservasi Berbasis Ekosistem (RPI 13), Sistem Pengelolaan DAS Hulu, Lintas Kabupaten, Lintas Provinsi (RPI 14) dan Pengelolaan Sumberdaya Lahan dan Air Pendukung Pengelolaan DAS (RPI 15), tidak mengalami perubahan judul, ruang lingkup, tujuan dan sasaran, tetapi kegiatan penelitiannya direvisi sesuai dengan tujuan dan sasaran RPI dan kemampuan sumber daya penelitian yang ada sehngga pada akhir tahun 2014 diharapkan dapat disintesa secara utuh untuk menghasilkan paket iptek yang berkualitas.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam mendukung dan membantu penyusunan revisi RPI Tahun 2010 – 2014 lingkup Puslitbang Konservas dan Rehabilitasi ini. Semoga dokumen ini dapat menjadi acuan untuk pelaksanaan kegiatan dan pencapaian kinerja sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan serta bermanfaat bagi pihak yang menangani kegiatan penelitian dan pengembangan lingkup Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi.
Bogor, September 2011 Kepala Pusat,
Ir. Adi Susmianto, M.Sc NIP. 19571221 198203 1 002
REVISI
RENCANA PENELITIAN INTEGRATIF
(RPI)
TAHUN 2010 - 2014
PENGELOLAAN HUTAN LAHAN KERING
Koordinator:
Dr. Haruni Krisnawati
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN
KEMENTERIAN KEHUTANAN
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KONSERVASI DAN REHABILITASI
LEMBAR PENGESAHAN
RENCANA PENELITIAN INTEGRATIF (RPI)
2010-2014 (REVISI)
PENGELOLAAN HUTAN LAHAN KERING
Menyetujui,
Kepala Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi,
Ir. Adi Susmianto, M.Sc
NIP. 19571221 198203 1 002 Bogor, September 2011 Koordinator, Dr. Haruni Krisnawati NIP. 19700917 199503 2 001 Mengesahkan :
Kepala Badan Litbang Kehutanan,
Dr. Ir. Tachrir Fathoni, M.Sc
NIP. 19560929 198202 1 0011
DAFTAR ISI ………...………..………...………...
1
DAFTAR TABEL …………...……….………….…...
2
ABSTRAK ...
3
I. LATAR BELAKANG ...………...…..………...……...…
3
II. PERUMUSAN MASALAH ………..………...….
4
III. HIPOTHESIS ...
5
IV. TUJUAN DAN SASARAN PENELITIAN ………...
5
V. LUARAN/OUTPUT ………
5
VI. RUANG LINGKUP PENELITIAN ………..………..
6
VII. KOMPONEN PENELITIAN ………....
6
VIII. METODOLOGI PENELITIAN ………...
7
IX. RENCANA TATA WAKTU ………...
X. RENCANA LOKASI DAN UPT TERKAIT ….………...
9
10
XI. RENCANA BIAYA PENELITIAN...……....…………...
10
XII. ORGANISASI PENELITIAN.……….…...
12
XIII. DAFTAR PUSTAKA ……..………...
12
2
Tabel 2. Tata Waktu Kegiatan Penelitian RPI Pengelolaan Hutan Lahan
Kering Tahun 2012-2014...
Tabel 3. Rencana Lokasi untuk Setiap Luaran/Output Penelitian .…………
Tabel 4. Biaya Kegiatan Penelitian Per Tahun Selama Tahun 2012-201...
Tabel 5. Rencana Kebutuhan Biaya untuk Setiap Luaran/Output
Penelitian 3 Tahun ...
Tabel 6. Institusi dan Kedudukannya dalam Rencana Penelitian Integratif
Pengelolaan Hutan Lahan kering...
9
10
10
11
12
3
karena nilai manfaat jasa lingkungan hutan dan integritas ekosistem hutan belum terinternalisasi dalam sistem pembangunan. Assesibilitas kawasan yang sangat tinggi dan tekanan yang tinggi terhadap lahan hutan oleh sektor non kehutanan mempercepat kerusakan hutan lahan kering.
Mengedepankan fungsi ekologi dan sosial kawasan hutan produksi dalam bentuk IUPHHK-Restorasi Ekosistem, High Conservation Value Forest (kawasan hutan dengan nilai konservasi tinggi) dan Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah hutan produksi,kawasan lindung yang bukan kawasan hutan dan hutan lindung menjadi tema sentral RPI Pengelolaan Hutan Lahan Kering tahun 2012-2014. Enam kajian dan penelitian integrasi yang akan dilakukan oleh Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi dan 6 UPT Badan Litbang Kehutanan diarahkan untuk menghasilkan preskripsi manajemen ekosistem hutan lahan kering di luar kawasan konservasi, yang mencakup perbaikan sistem pengelolaan, efektivitas kelembagaan dan organisasi serta penyediaan teknologi restorasi, konservasi dan rehabilitasi hutan sesuai dengan tipe hutan dan tingkat degradasi vegetasi hutan.
Kata Kunci: hutan lahan kering, restorasi hutan, konservasi hutan, rehabilitasi hutan, kelembagaan, HCVF
I. LATAR BELAKANG
Ekosistem hutan lahan kering (dryland forest ecosystem) di Indonesia mempunyai peranan sangat strategis bagi pemenuhan fungsi-fungsi lindung, konservasi dan sosial budaya masyarakat, disamping fungsi ekonomi. Keberadaan dan terpeliharanya ekosistem hutan tersebut telah terbukti berkontribusi dan berdampak positif bagi peningkatan kualitas lingkungan hidup dan kualitas hidup masyarakat. Pemenuhan fungsi-fungsi tersebut secara berkelanjutan sangat ditentukan oleh penerapan sistem pengelolaan hutan yang memperhatikan daya dukung, daya lenting dan daya pulih ekosistem tersebut.
Namun kenyataannya, kerusakan ekosistem hutan lahan kering sangat cepat dan mengkhawatirkan. Hal ini terjadi karena tekanan masyarakat yang tinggi untuk pemenuhan kebutuhan kayu dan lahan pertanian serta kebutuhan di luar sektor kehutanan. Hutan relatif mudah dijangkau oleh masyarakat yang mendiami sekitar hutan, khususnya lahan hutan dataran rendah (lowland forest) dan fleksibilitas penggunaan lahan untuk kepentingan di luar sektor kehutanan. Lebih lanjut lagi, kesalahan dalam pengelolaan (mismanagement) HPH (sekarang IUPHHK-HA) yang mengabaikan sistem TPTI dan pengawasan (Tampubolon, 1993), euforia reformasi yang mempercepat fragmentasi hutan, ketidakhadiran peran Pemerintah Daerah dalam pengelolaan hutan lindung di era otonomi daerah dan ekspansi perkebunan dan pertambangan semakin memperparah degradasi hutan dan deforestasi.
Tuntutan penerapan pengelolaan hutan berkelanjutan (Sustainable Forest Management) yang digagas, utamanya oleh ITTO melalui ITTO Guidelines for Sustainable Management of Natural Tropical Forest (ITTO, 1990), pencadangan High Coservation Value Forest (HCVF) pada hutan produksi (The Consortium for Revision of the HCV Tool kit Indonesia, Guidelines for the Identification HCV
4 ekosistem hutan lahan kering. Berbagai inisiatif secara global telah dilakukan seperti penerbitan ITTO Guidelines for the Restoration, Management and Rehabilitation of Degraded and Secondary Forest (ITTO, 2002) dan pilihan-pilihan teknik rehabilitasi dan restorasi hutan (Kobayashi et al., 1999; Lamb dan Gilmore (2003)). Namun demikian, dalam tatanan nasional dan lokal, preskripsi managemen dan teknologi restorasi, rehabilitasi dan konservasi hutan belum diformulasikan secara terstruktur. Penghimpunan serpihan ilmu pengetahuan dan hasil riset yang sudah ada (pool of knowledge) dan dilanjutkan dengan pelaksanaan riset tahun jamak (multiyears) akan menjawab pemenuhan sistem pengelolaan dan teknik pemulihan hutan lahan kering yang telah terlanjur rusak.
II. RUMUSAN MASALAH
Permasalahan degradasi ekosistem hutan lahan kering tidak semata-mata permasalahan teknis, tetapi banyak ditentukan oleh masalah-masalah tata kelola kehutanan yang baik (good forestry governance), perbenturan kepentingan dan lemahnya koordinasi antar sektor dalam pemanfaatan lahan kehutanan, ketidakmantapan kebijakan tata ruang Provinsi dan kabupaten/Kota yang lebih berorientasi pada pembangunan ekonomi jangka pendek dan yang tidak berkelanjutan, kurang sinkronnya peran pemerintah pusat dan daerah dalam pengurusan hutan di era otonomi daerah dan masih rendahnya apresiasi publik terhadap pentingnya nilai manfaat tidak langsung (intangible benefits) dari keutuhan ekosistem hutan. Masalah yang satu dengan yang lain saling terkait dan penyelesaiannya juga mmerlukan pendekatan holistik. Pada RPI Pengelolaan Hutan Lahan Kering yang pelaksanaannya hanya 3 tahun (2012-2014), penelitian hanya difokuskan pada aspek identifikasi tipologi dan potensi biomassa hutan lahan kering, teknologi restorasi, rehabilitasi dan konservasi, sistem pengelolaan dan kelembagaan.
Tahapan pertama dalam perumusan masalah teknis ini adalah mengenali atau mengidentifikasi tipologi dan potensi biomassa hutan lahan kering baik yang masih utuh (primary forest, intact forest) maupun hutan yang sudah terdegradasi mulai dari yang terganggu sampai rusak berat berupa hutan sekunder (secondary forest). Gradasi dan klasifikasi hutan tersebut dapat diacu pada Whitmore (1975), Emrich et al. (2000), dan ITTO (2002).
Kerusakan ekosistem hutan lahan kering dapat berbeda tingkatannya, baik pada hutan alam produksi, hutan lindung maupun kawasan lindung yang bukan kawasan hutan. Pemulihan ekosistem hutan ini pada dasarnya dilakukan dengan cara menetapkan teknik silvikultur untuk tujuan rehabilitasi secara tepat sesuai dengan tujuan pengelolaan (management objective) yang ditetapkan, yakni pemenuhan fungsi lindung dan konservasi. Pilihan-pilihan strategi dan teknik pemulihan hutan tersebut dapat berupa restorasi hutan, rehabilitasi hutan dan konservasi hutan (ITTO, 2002; Indrawan et al., 2007; Supriatna, 2008).
5 pengelolaan bentang alam (landscape) hutan yang didasarkan pada tipologi (struktur, komposisi, persebaran) hutan, kondisi biofisik dan potensi hutan; upaya perbaikan/pemulihan hutan yang rusak melalui tindakan restorasi, konservasi dan rehabilitasi hutan sesuai dengan derajat kerusakan habitat dan perbaikan tata kelola dan kelembagaan pengelolaan hutan.
IV. TUJUAN DAN SASARAN PENELITIAN
Tujuan penelitian integratif pengelolaan hutan lahan kering yang ingin dicapai adalah tersedianya preskripsi manajemen ekosistem hutan lahan kering di luar kawasan konservasi baik yang utuh maupun terdegradasi untuk menjamin pemulihan dan keberlangsungan nilai manfaat ekonomi, ekologi dan sosial.
Sasaran yang hendak diwujudkan dalam kegiatan penelitian ini adalah untuk menghasilkan Iptek sistem pengelolaan dalam rangka restorasi, konservasi dan rehabilitasi hutan lahan kering di luar kawasan konservasi mencakup IUPHHK- Restorasi Ekosistem, HCVF dan Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah (KPPN) Hutan Produksi, Kawasan Lindung yang bukan kawasan hutan dan hutan lindung berdasarkan potensi, tipologi hutan, atribut sosial dan kelembagaan yang ada. V. LUARAN/OUTPUT
Luaran/output yang diharapkan dapat diperoleh dari keseluruhan kegiatan kajian/penelitian pada penelitian integratif "Pengelolaan Hutan Lahan Kering" adalah:
1. Klasifikasi tipologi dan sebaran hutan lahan kering; yang memuat peta klasifikasi vegetasi hutan lahan kering berdasarkan gradasi kerusakan vegetasinya, dari mulai hutan utuh (primary forest) sampai lahan alang-alang/semak belukar dari tiap fungsi/tipe ekosistem hutan lahan kering terpilih (IUPHHK-RE, HCVF dan KPPN hutan produksi, kawasan lindung yang bukan kawasan hutan dan hutan lindung).
2. Strategi rehabilitasi hutan terdegradasi; yang memuat preskripsi sistem pengelolaan dan teknik rehabilitasi vegetasi berdasarkan input hasil penelitian klasifikasi tipologi dan potensi biomassa hutan lahan kering. Sistem pengelolaan hutan lebih difokuskan pada pengaturan ruang (landscape) berdasarkan kondisi biofisik dan sosial budaya masyarakat setempat, organisasi dan tatalaksana pengurusan hutan dan tujuan-tujuan pengelolaan (management objectives). Sedangkan teknik rehabilitasi lebih difokuskan pada pilihan perlakuan atau teknik revegetasi yang tepat sesuai dengan tingkat degradasi hutan, mulai dari yang ringan (disturbed primary forest) sampai yang rusak (hutan sekunder dan
degraded forest land berupa areal alang-alang) dengan intervensi teknik rehabilitasi lahan hutan (lihat ITTO, 2002).
3. Valuasi hutan lindung; yang memuat informasi teknis nilai manfaat total keberadaan hutan lindung baik nilai manfaat langsung (tangible) maupun tidak
6 4. Kelembagaan pengelolaan hutan lindung; yang memuat preskripsi
manajemen terkait efektivitas kelembagaan dan sistem pengelolaan hutan lindung dalam Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL).
VI. RUANG LINGKUP PENELITIAN
Ruang lingkup RPI Pengelolaan Hutan Lahan Kering adalah untuk melakukan serangkaian penelitian sistem pengelolaan dan teknik rehabilitasi vegetasi hutan lahan kering terdegrdasi di luar KSA (Kawasan Suaka Alam; Cagar Alam dan Suaka Margasatwa) dan KPA (Kawasan Pelestarian Alam; Taman Nasional, Taman Hutan Raya, Taman Wisata Alam, Taman Buru). Dengan demikian, penelitian ini dibatasi pada penelitian konservasi dan rehabilitasi pada kawasan hutan produksi, hutan lindung dan kawasan lindung yang bukan kawasan konservasi.
VII. KOMPONEN PENELITIAN
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa penelitian ini difokuskan pada penyediaan Iptek sistem pengelolaan hutan lahan kering pada berbagai fungsi hutan dan kondisi vegetasi sehingga akan dapat memulihkan fungsi ekologi dan penyediaan jasa lingkungan hutan bagi masyarakat, maka penelitian akan diarahkan pada penelitian Sistem Informasi Geografis (SIG) dan perpetaan, biometrika hutan, khususnya untuk pendugaan potensi biomassa hutan, teknik-teknik silvikultur untuk tujuan rehabilitasi dan perlindungan (protective afforestation and reforestation). Khusus untuk hutan lindung, penelitian diarahkan pada aspek tata kelola (governance), penilaian manfaat sumberdaya hutan dan lingkungan, kelembagaan dan efektifitas pengelolaan.
Adapun rincian kegiatan penelitian setiap luaran yang akan dilakukan untuk 3 (tiga) tahun mendatang (tahun 2012 – 2014) adalah sebagai berikut :
Luaran 1 : Klasifikasi tipologi dan sebaran hutan lahan kering
Kegiatan penelitian :
1.1. Klasifikasi tipologi dan potensi biomassa hutan lahan kering
Luaran 2 : Strategi rehabilitasi hutan terdegradasi
Kegiatan penelitian:
2.1. Kajian sistem pengelolaan dan rehabilitasi IUPHHK restorasi ekosistem
2.2. Kajian HCVF dan rehabilitasi penggunaan kawasan hutan untuk non kehutanan
2.3. Kajian sistem pengelolaan dan rehabilitasi hutan lindung dan kawasan lindung yang bukan kawasan hutan
7 3.1. Kajian status, potensi dan nilai manfaat hutan lindung
Luaran 4 : Kelembagaan pengelolaan hutan lindung
Kegiatan penelitian:
4.1. Kajian efektivitas kelembagaan dan sistem pengelolaan hutan lindung
VIII. METODOLOGI PENELITIAN
Kegiatan penelitian yang tercakup dalam RPI ini perlu dirancang dengan metodologi penelitian yang tepat sehingga tujuan dan sasaran masing-masing penelitian dapat dicapai dan untuk selanjutnya dapat disintesa untuk mencapai tujuan dan sasaran RPI. Dengan metodologi penelitian yang tepat, baik teknik sampling, rancangan percobaan (experimental design), plot-plot penelitian permanen, teknik survei untuk penelitian sosial, maka kualitas data primer dan sekunder yang dikumpulkan akan terjamin. Khusus untuk penelitian yang dirancang dalam penelitian plot permanen (ujicoba penanaman, lokasi plot penelitian sebaiknya mudah diakses, aman dari ganggunan dan diberi tanda yang jelas dan awet agar dapat dilakukan pengamatan dan pengukuran ulang dalam waktu yang cukup lama. Begitu juga dengan kegiatan pengukuran yang berulang (time series), perlu dilakukan pada titik pengukuran (point of measurement) yang tetap.
Secara garis besar metode penelitian yang perlu dibuat dalam pelaksanaan kegiatan penelitian yang tercakup dalam RPI ini adalah sebagai berikut :
1. Pembuatan rancangan penelitian 2. Tatacara pengumpulan data
3. Tatacara pengolahan dan analisis data 4. Pelaporan hasil dan rekomendasi
Adapun bentuk dan metodologi penelitian untuk setiap luaran/output secara garis besar disajikan pada Tabel 1.
8
Luaran Metode Penelitian Klasifikasi
tipologi dan sebaran hutan lahan kering
- Pembuatan rancangan penelitian. - Analisis citra satelit.
- Pembuatan plot untuk pengumpulan dan validasi data lapangan dengan teknik sampling yang sesuai dengan karakter (ground check/terrestrial sampling) (Gomez dan Gomez, 1984) dan sampling biomassa hutan (Madjwick, 1986).
- Klasifikasi tipologi dan sebaran. - Pemodelan klasifikasi tipologi.
- Pembuatan peta tipologi dan sebaran.
- Studi pustaka hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan.
- Menyusun hasil penelitian dan rekomendasi teknik pengklasifikasian tipologi dan sebaran hutan lahan kering.
Strategi rehabilitasi hutan
terdegradasi
- Pembuatan rancangan penelitian rehabilitasi hutan sesuai dengan perlakuan yang digunakan (Steel dan Torrie, 1981) dan rancangan penelitian untuk identifikasi sistem pengelolaan hutan.
- Pembuatan plot ujicoba atau pengumpulan data yang representatif baik respon perlakuan teknik rehabilitasi maupun sistem pengelolaan hutan.
- Analisis data hasil penelitian di lapangan untuk teknik rehabilitasi dan metode statistik (Steel dan Torrie, 1981).
- Studi pustaka hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan.
- Menyusun hasil penelitian dan rekomendasi teknik rehabilitasi hutan terdegradasi dan sistem pengelolaan hutan.
9
lindung manfaat total hutan lindung, status dan potensi hutan lindung sesuai dengan pengamatan/kajian/perlakuan yang digunakan.
- Pembuatan plot pengamatan yang representatif dan penentuan sampel status dan potensi hutan lindung. - Analisis data baik secara kualitatif maupun deskriptif. - Studi pustaka hasil-hasil penelitian yang telah
dilakukan
- Menyusun hasil penelitian dan rekomendasi valuasi hutan lindung.
Kelembagaan pengelolaan hutan lindung
- Pembuatan rancangan studi kebijakan, kelembagaan dan pengelolaan hutan lindung.
- Penetapan sampel KPHL.
- Pengumpulan data primer dan sekunder, mencakup data biofisik, demografi, organisasi dan tata kelola hutan lindung.
- Studi pustaka hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan.
- Menyusun hasil penelitian dan rekomendasi teknik efektifitas pengelolaan hutan lindung.
IX. RENCANA TATA WAKTU
RPI Pengelolaan Hutan Lahan Kering merupakan RPI baru yang mulai berlaku efektif mulai tahun 2012 sampai dengan 2014, sesuai dengan perkembangan organisasi Badan Litbang Kehutanan sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Kehutanan No.40/Menhut-II/2010. Reorganisasi Badan Litbang Kehutanan tersebut berimplikasi pada fokus kegiatan penelitian, dalam hal ini Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi akan fokus pada penelitian konservasi dan rehabilitasi sumberdaya hutan.
Rencana tata waktu pelaksanaan dan hasil penelitian setiap luaran/output selama jangka waktu penelitian disusun sebagaimana disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Tata Waktu Kegiatan Penelitian RPI Pengelolaan Hutan Lahan Kering Tahun 2012-2014.
Kode Luaran / Kegiatan Tahun Pelaksanaan 2012 2013 2014 3.1. Klasifikasi tipologi dan sebaran hutan lahan kering
3.1.1.01
Klasifikasi tipologi dan potensi biomassa hutan lahan kering
x x x
10
3.2. Strategi rehabilitasi hutan terdegradasi
3.2.1.01
Kajian sistem pengelolaan dan rehabilitasi IUPHHK restorasi ekosistem
x x x
3.2.1.09 - x x
3.2.1.16 x x x
3.2.2.07 Kajian HCVF dan rehabilitasi penggunaan
kawasan hutan untuk non kehutanan - x x
3.2.2.16 x x x
3.2.3.01 Kajian sistem pengelolaan dan rehabilitasi hutan lindung dan kawasan lindung yang bukan kawasan hutan
- x x
3.2.3.09 x x x
3.2.3.13 x x x
3.3. Valuasi hutan lindung
3.3.1.01
Kajian status, potensi dan nilai manfaat hutan lindung
x x x
3.3.1.14 x x x
3.3.1.16 x x x
3.4. Kelembagaan pengelolaan hutan lindung
3.4.1.01 Kajian efektivitas kelembagaan dan sistem pengelolaan Hutan Lindung
x x x
3.4.1.15 x - -
X. RENCANA LOKASI DAN UPT TERKAIT
Penelitian ini akan dilakukan pada representasi areal IUPHHK-Restorasi Ekosistem, HCVF dan KPPN Hutan Produksi, kawasan lindung yang bukan kawasan hutan dan hutan lindung. Adapun rencana lokasi dan Satuan Kerja (P3KR dan Badan Litbang Kehutanan) yang terlibat disajikan pada Tabel 3. berikut :
Tabel 3. Rencana lokasi untuk setiap luaran/output penelitian
Luaran Rencana Lokasi Penelitian Instansi
1 Sumatera, Kalimantan P3KR, BPK Banjarbaru 2 Sumatera, Kalimantan dan NTT P3KR, BPK Palembang, BPT
KSDA Samboja, BPK Aek Nauli, BPT HHBK Mataram
3 Sumatera, Kalimantan dan NTT P3KR, BPK Kupang 4 Sumatera, Kalimantan dan NTB P3KR, BPK Banjarbaru
11 7.925.000.000,- (tujuh milyar sembilan ratus dua puluh lima juta rupiah). Secara terinci kebutuhan biaya tahunan dan total biaya selama 3 tahun untuk setiap luaran/output/kegiatan penelitian disajikan pada Tabel 4 dan 5 berikut:
Tabel 4. Biaya Kegiatan Penelitian Per Tahun Selama Tahun 2012-2014
Kode Luaran / Kegiatan
Biaya
(x Rp. 1.000.000) Total 2012 2013 2014
3.1. Klasifikasi tipologi dan sebaran hutan lahan kering
3.1.1.01 Klasifikasi tipologi dan potensi biomassa hutan lahan kering
200 200 200 600
3.1.1.15 150 150 150 450
3.2. Strategi rehabilitasi hutan terdegradasi
3.2.1.01
Kajian sistem pengelolaan dan
rehabilitasi IUPHHK restorasi ekosistem
350 300 250 900
3.2.1.09 - 200 200 400
3.2.1.16 200 200 150 550
3.2.2.07 Kajian HCVF dan rehabilitasi
penggunaan kawasan hutan untuk non kehutanan
- 200 150 350
3.2.2.16 200 200 150 550
3.2.3.01 Kajian sistem pengelolaan dan
rehabilitasi hutan lindung dan kawasan lindung yang bukan kawasan hutan
- 200 150 350
3.2.3.09 150 150 150 450
3.2.3.13 300 300 300 900
3.3. Valuasi hutan lindung
3.3.1.01
Kajian status, potensi dan nilai manfaat hutan lindung
200 200 200 600
3.3.1.14 200 200 200 600
3.3.1.16 200 200 200 600
3.4. Kelembagaan pengelolaan hutan lindung
3.4.1.01 Kajian efektivitas kelembagaan dan sistem pengelolaan Hutan Lindung
150 150 150 450
3.4.1.15 175 - - 175
12 Luaran (x Rp. 1000) 1 2 3 4
Sumatera dan Kalimantan Sumatera, Kalimantan dan NTT Sumatera, Kalimantan dan NTT Sumatera, Kalimantan dan NTB
1.050.000 4.450.000 1.800.000 675.000
Total 7.925.000
XII. ORGANISASI PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan secara terpadu yang melibatkan institusi penelitian di lingkup Badan Litbang Kehutanan, khususnya Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi, dan UPT dibawah tanggung jawab dan binaan Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi.
Terdapat 7 institusi yang akan terlibat dalam penelitian terpadu ini. Adapun ketujuh institusi litbang beserta tugasnya dalam melaksanakan luaran penelitian disajikan pada Tabel 6 berikut :
Tabel 6. Institusi dan Kedudukannya dalam Rencana Penelitian Integratif Pengelolaan Hutan Lahan Kering
No. Institusi Status & Pelaksana Luaran
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. P3KR BPK Aek Nauli BPK Palembang BPT HHBK Mataram BPK Kupang BPK Banjarbaru BPT KSDA Samboja
Pelaksana luaran No: 1,2, 3, dan 4 Pelaksana luaran No: 2
Pelaksana luaran No: 2 Pelaksana luaran No. 2 Pelaksana luaran No. 3 Pelaksana luaran No: 1 dan 4 Pelaksana luaran No. 2 dan 3
Adapun tugas Koordinator & Pelaksana secara garis besar adalah sebagai berikut:
Koordinator :
1. Menyusun proposal Rencana Penelitian Integratif lintas unit kerja 2. Memberikan asistensi teknis kepada para pelaksana judul
3. Menyusun sintesa hasil penelitian koordinasi
Pelaksana :
1. Menyusun RPTP sesuai proposal koordinator
2. Melaksanakan penelitian di lapangan sesuai proposal
3. Menyusun laporan penelitian yang menjadi tanggung jawabnya 4. Mengirimkan laporan tahunan dan sintesa kepada koordinator
13 Management for Development Policy GTZ. Eschburn.
Gomez, K.A. and A.A. Gomez. 1984. Statistical Procedure for Agricultural Research. 2nd ed. John Wiley and Sons. New York.
Indrawan, M., R.B. Primach and J. Supriatna. 2007. Biologi Konservasi. Edisi Revisi Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
ITTO. 1990. ITTO Guidelines for Sustainable Management of Natrural Tropical Forest. ITTO, Yokohama, Japan.
ITTO. 2002. ITTO Guidlines for the Restoration, Management and Rehabilitation of Degraded and Secondary Forest. ITTO Policy Development Series No. 13. Yokohama, Japan.
Kobayashi, S. J. Turnball, T. Toma, T. Mori and N. Majid (eds.).2001. Rehabilitation of Drgraded Forest Issues in Forest Conservation. IUCN. Switzerland.
Supriatna, J. 2008. Melestarikan Alam Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Tampubolon, A.P. 1995. Restoring Degraded Protected Areas With Original Species. Rimba Indonesia Vol XXX (3): 51-56.
Tampubolon, A.P. and N. Supriana. 1993. The Environmental Aspects of TPTI. UN Space Technology Conference. Bandung.
Steel, R.G.D. and J.H. Torrie. 1981. Principle and Procedures of Statistics. A Biometrical Approach. 2nd ed. McGraw Hill. Tokyo, Japan.
Whitmore, T.C. 1973. Tropical Rain Forest of The Far East. Clarendon. Press. Oxford.
14
VERIFIKASI Tujuan:
Menyediakan preskripsi manajemen ekosistem hutan lahan kering di luar kawasan konservasi baik yang utuh maupun terdegradasi untuk menjamin
pemulihan dan keberlangsungan nilai manfaat ekonomi, ekologi dan sosial
Diperolehnya apresiasi dari Ditjen BUK dan Ditjen PHKA atas preskripsi manajemen IUPHHK Restorasi, HCVF dan KPPN hutan produksi dan hutan lindung
Konsep preskripsi manajemen, draft kebijakan di Ditjen BUK dan PHKA, sintesa hasil penelitian
Komitmen dan support Ditjen BUK dan PHKA, Pemda tinggi,
kontinyuitas dana, diseminasi hasil penelitian lancar
Sasaran:
Tersedianya iptek sistem pengelolaan dalam rangka restorasi, konservasi dan rehabilitasi hutan lahan kering di luar kawasan konservasi mencakup IUPHHK Restorasi ekosistem, HCVF dan Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah (KPPN) Hutan Produksi, Kawasan Lindung yang bukan kawasan hutan dan hutan lindung berdasarkan potensi, tipologi hutan, atribut sosial dan kelembagaan yang ada
Diperolehnya iptek sistem pengelolaan dan rehabilitasi hutan lahan kering untuk tujuan peningkatan fungsi sosial dan ekologi
Konsep preskripsi manajemen,draft kebijakan di Ditjen BUK dan PHKA, sintesa hasil penelitian
Komitmen dan support Ditjen BUK dan PHKA, Pemda tinggi,
kontinyuitas dana, diseminasi hasil penelitian lancar
Luaran:
1. Klasifikasi tipologi dan sebaran hutan lahan kering
Kegiatan:
1.1. Klasifikasi tipologi dan potensi biomassa hutan lahan kering
Luaran:
2. Strategi rehabilitasi hutan terdegradasi
Tersedianya informasi tipe dan potensi biomassa representasi hutan lahan kering
Tersedianya informasi dan
Publikasi ilmiah, LHP, Laporan Tahunan, PPTP, RPTP, DIPA-RKA-KL, Publikasi ilmiah, LHP, Anggaran tersedia, SDM peneliti mencukupi, support Pemda tinggi Anggaran tersedia,
15
Kegiatan:
2.1.Kajian sistem pengelolaan dan rehabilitasi IUPHHK Restorasi untuk perbaikan biodiversity 2.2.Kajian rehabilitasi HCVF dan penggunaan
kawasan hutan untuk non kehutanan
2.3.Kajian sistem pengelolaan dan rehabilitasi hutan lindung dan kawasan lindung yang bukan kawasan hutan
Luaran:
3. Valuasi hutan lindung
Kegiatan:
3.1.Kajian status, potensi dan nilai manfaat hutan lindung
Luaran:
4. Kelembagaan pengelolaan hutan lindung
Kegiatan:
4.1.Kajian efektivitas kelembagaan dan sistem pengelolaan hutan lindung
HCVF, hutan lindung dan kawasan lindung yang bukan kawasan hutan
Tersedianya informasi status pengelolaan, potensi dan manfaat hutan lindung
Tersedianya informasi bentuk kelembagaan dan sistem pengeloaan hutan lindung yang tepat RPTP, DIPA- RKA-KL Publikasi ilmiah, LHP, Laporan Tahunan, PPTP, RPTP, DIPA- RKA-KL Publikasi ilmiah, LHP, Laporan Tahunan, PPTP, RPTP mencukupi, support Pemda tinggi Anggaran tersedia, SDM peneliti mencukupi, support Pemda tinggi Anggaran tersedia, SDM peneliti mencukupi, support Pemda tinggi,
REVISI
RENCANA PENELITIAN INTEGRATIF
(RPI)
TAHUN 2010 - 2014
PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE
DAN EKOSISTEM PANTAI
Koordinator:
Ir. Endro Subiandono
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN
KEMENTERIAN KEHUTANAN
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KONSERVASI DAN REHABILTASI
LEMBAR PENGESAHAN
RENCANA PENELITIAN INTEGRATIF (RPI)
2010-2014 (REVISI)
PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE DAN EKOSISTEM PANTAI
Menyetujui,
Kepala Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi,
Ir. Adi Susmianto, M.Sc.
NIP. 19571221 198203 1 002
Bogor, September 2011 Koordinator,
Ir. Endro Subiandono
NIP. 19570901 198502 1 001 Mengesahkan :
Kepala Badan Litbang Kehutanan,
Dr.Ir.Tachrir Fathoni M.Sc
NIP. 19560929 198202 1 00116
DAFTAR ISI ……….…………..………...
16
ABSTRAK ...
17
I. LATAR BELAKANG ...……..………..………...…...
17
II. PERUMUSAN MASALAH ………..………...
21
III. TUJUAN DAN SASARAN PENELITIAN ………...
21
IV. RUANG LINGKUP ………..………...
22
V. KOMPONEN PENELITIAN ………...
23
VI. METODOLOGI ………...
24
VII. RENCANA TATA WAKTU DAN INSTITUSI PELAKSANA ...
27
VIII. RENCANA BIAYA …………....……....…………...
29
IX. ORGANISASI ………….……….…...
31
X. DAFTAR PUSTAKA ……..…..………...
XI. KERANGKA KERJA LOGIS ...
31
33
17
menimbulkan kondisi yang tidak menguntungkan bagi kelestarian lingkungan karena rusaknya hutan pantai dan hutan mangrove. Sebagai gambaran, tahun 2001 di kawasan pantai Bali menunjukkan bahwa 20% dari 430 km panjang pantai yang ada di Bali mengalami kerusakan. Di kawasan Pontianak, Bengkayang dan Sambas kerusakan pantai telah mencapai 14 km; sementara perbaikan baru dilakukan sepanjang 5,1 km. Kerusakan ini belum termasuk yang terjadi di beberapa kawasan pantai di Jawa antara lain di Teluk Jakarta, pantai selatan Pulau Jawa, pantai Eretan, pantai Mauk dan beberapa kawasan di Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi. Penurunan luasan secara drastis terjadi pada kawasan hutan mangrove; dari seluas 4,25 juta ha menjadi 3,7 juta ha, dan bahkan hanya sekitar 2,1 juta ha yang dalam keadaan utuh. Di luar kawasan diperkirakan terdapat 5,5 juta ha mangrove, yang sebanyak 4.8 juta ha diantaranya dalam keadaan rusak parah. Kerusakan ini lebih banyak disebabkan oleh ulah manusia yang kurang bijak dalam mengelolanya. Upaya penanggulangannya sudah dilakukan sejak Pelita V dan perlu lebih ditingkatkan lagi. Banyak pihak telah menyadari bahwa ekosistem mangrove dan pantai berperan sangat penting dalam melindungi wilayah pantai dan daerah dibelakangnya. Mengingat pentingnya fungsi jalur hijau dalam menjaga keseimbangan pantai, maka upaya untuk melindunginya sangat diperlukan. Kegiatan pengkajian dan penelitian untuk mendukung keberhasilan upaya tersebut juga sangat diperlukan. Terdapat tiga hal pokok yang hendaknya diperhatikan dan disiapkan dalam rangka mengkreasi petunjuk teknis pengelolaan ekosistem mangrove dan pantai, yakni : (a) teknologi penanaman dan rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai berikut kelembagaannya; (b) informasi proses ekologis di hutan mangrove dan ekosistem pantai, serta (c) model pemanfaatan biodiversitas hutan mangrove dan ekosistem pantai dalam koridor kelestarian ekosistem tersebut. Kata kunci : ekosistem mangrove dan pantai, biodiversitas, rehabilitasi, pemanfaatan,
kelembagaan.
I. LATAR BELAKANG
Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau yang tersebar dari barat hingga timur dengan garis pantai sepanjang kurang lebih 80.000 km. Setiap pulau memiliki perbedaan yang dipengaruhi oleh kondisi geologi, geomorfologi dan hidrologi. Dengan kondisi tersebut maka di sepanjang garis pantai (pesisir) terbentuk berbagai tipe ekosistem, yang salah satunya adalah ekosistem pantai (Dwi, 2010). Ekosistem pantai merupakan ekosistem yang letaknya berbatasan dengan ekosistem darat dan laut. Ekosistem ini dipengaruhi oleh siklus harian pasang surut air laut. Komunitas tumbuhannya berturut-turut dari daerah pasang surut ke arah darat dapat dibedakan menjadi : (a) formasi pescaprae dengan ciri adanya tumbuhan Ipomoea pescaprae, Spinifex littorius, Euphorbia atoto, Crinum asiaticum dan Pandanus tectorius; serta (b) formasi baringtonia dengan ciri adanya tumbuhan Baringtonia asiatica, Terminalia catapa, Callophylum inophylum
dan Hibiscus tiliaceus. Bila tanah di daerah pasang surut berlumpur, maka kawasan ini ditumbuhi mangrove dengan tumbuhan dari jenis Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Nypa serta Xylocarpus, Lumnitzera, Aegiceras dan Heritiera.
18 ekosistem mangrove, selain mempunyai fungsi ekonomis sebagai penyedia kayu, obat-obatan, bahan pangan dan media lahan pengembangan tambak/silvofishery; juga mempunyai fungsi ekologis sebagai tempat pemijahan ikan-ikan di perairan, penyaring intrusi air laut ke daratan dan kandungan logam berat yang berbahaya bagi kehidupan, tempat singgah burung migran dan sebagai habitat satwaliar serta penahan abrasi pantai, amukan angin taufan dan tsunami. Musibah gempa dan ombak besar tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Pulau Nias akhir tahun 2004 yang lalu telah mengingatkan kembali betapa pentingnya hutan pantai dan hutan mangrove bagi perlindungan pantai. Dilaporkan bahwa pada wilayah yang memiliki hutan pantai dan hutan mangrove relatif baik, cenderung kurang terkena dampak gelombang tersebut.
Wilayah pantai umumnya datar, berbatasan dengan laut, banyak sungai, air tanah relatif dangkal, pemandangannya indah dan mempunyai terumbu karang sangat menarik, serta terkadang mengandung mineral ekonomis. Kondisi wilayah pantai yang demikian menjadikan wilayah tersebut sering menjadi titik permulaan pengembangan wilayah. Banyak kota-kota tua di dunia dan di Nusantara berkembangnya berawal dari wilayah pantai ini. Di wilayah pantai ini juga berkembang kawasan pemukiman, kawasan industri, kawasan wisata, kegiatan perikanan, pertanian, olah raga air dan kegiatan reklamasi dan pengerukan dasar perairan untuk tujuan komersial, bahkan karena kondisi geologi tertentu menjadi kawasan pertambangan (Sampurno, 2010). Faktor alam yang berpengaruh tehadap kondisi wilayah pantai antara lain timbulnya gelombang dan arus, terjadinya pasang surut, sedimentasi dan abrasi yang berpengaruh pada berubahnya garis pantai serta kondisi sungai yang bermuara di perairan tersebut. Akibatnya ekosistem pantai cenderung mendapat tekanan besar, dan hal ini dapat menimbulkan kondisi yang tidak menguntungkan bagi kelestarian lingkungan karena rusaknya hutan pantai dan hutan mangrove.
Kerusakan hutan pantai di Indonesia sudah banyak terjadi. Kurdi (2010) menyatakan bahwa dengan asumsi kemunduran garis pantai sekitar 50 meter maka Indonesia akan kehilangan lahan seluas 400.000 Ha. Diperkirakan bahwa sekitar 50-60% penduduk Indonesia tinggal di kawasan pantai. Fenomena ini menunjukkan besarnya kawasan yang hilang akibat mundurnya garis pantai yang cukup besar dan besarnya jumlah masyarakat yang dirugikan terutama mereka yang menggantungkan hidup dari aktivitas pantai. Pengamatan pada tahun 2001 di kawasan pantai Bali menunjukkan bahwa 20% dari 430 km panjang pantai yang ada di Bali mengalami kerusakan. Di kawasan Pontianak, Bengkayang dan Sambas kerusakan pantai telah mencapai 14 km; sementara perbaikan baru dilakukan sepanjang 5,1 km. Kerusakan ini belum termasuk yang terjadi di beberapa kawasan pantai di Jawa antara lain di Teluk Jakarta, pantai Eretan, pantai Mauk dan beberapa kawasan di Sumatera dan Sulawesi.
Priyambodo (2011) mengungkapkan bahwa di sepanjang pantai selatan Pulau jawa hampir seluruh gumuk-gumuk pasir telah mengalami kerusakan akibat aktivitas penambangan pasir yang berlebihan. Kerusakan areal gumuk pasir serta vegetasi penutupnya dapat menyebabkan terjadinya penurunan fungsi dan kapasitas ekosistem pantai. Jika kerusakan tersebut terus berlanjut dikhawatirkan dalam jangka panjang akan mengakibatkan terjadinya peningkatan intrusi air laut
19 ke areal pertanian dan permukiman serta meningkatkan pula kerentanan areal permukiman terhadap kemungkinan bahaya tsunami. Apalagi jika mengingat bahwa kondisi wilayah pantai yang terdiri atas endapan pasir dengan bentuk lahan yang selalu berubah menyebabkan proses penutupan vegetasi secara alami berlangsung sangat lambat. Oleh karena itu dapat dilihat bahwa hamparan gumuk pasir dan areal endapan pasir dibelakangnya mempunyai tutupan vegetasi yang sangat minimal.
Upaya untuk merehabilitasi wilayah pantai (hutan pantai) memang telah diujicobakan. Melalui dukungan dana program Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) tahun 2007 kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Kebumen dengan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dapat menghijaukan kawasan Pantai Petanahan seluas 360 ha dengan tanaman cemara udang. Cemara udang tersebut melalui teknologi block press, yakni memasukkan bibit cemara ke dalam tanah liat yang sudah dicampur dengan pupuk organik yang di-pres kemudian baru ditanam di tanah berpasir, bisa tumbuh di pasir pantai yang panasnya mencapai 70 derajat celcius. Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyatakan bahwa pengembangan hutan Pantai Petanahan di Kabupaten Kebumen tersebut akan dijadikan contoh penghijauan kawasan pantai secara nasional, antara lain di Sumatera, Kalimantan dan daerah lainnya (Priyambodo, 2011).
Kerusakan serupa terjadi pula pada ekosistem mangrove, bahkan di Indonesia saat ini keberadaan mangrove benar-benar telah pada posisi yang sangat mengkhawatirkan. Kehidupan modern dan kemudahan aksesibilitas pemasaran hasil produksi dari ekosistem mangrove ke pasaran serta pemanfaatan yang berlebihan tanpa memperhatikan kaedah konservasi telah mengakibatkan penurunan baik kualitas maupun kuantitasnya.
Berdasarkan data tahun 1984, Indonesia diyakini masih memiliki kawasan hutan mangrove seluas 4,25 juta ha, kemudian berdasar hasil interpretasi citra landsat (1992) luasnya tersisa 3,812 juta ha (Ditjen INTAG dalam Martodiwirjo 1994). Bahkan berdasar data Ditjen RRL (1999), luas mangrove Indonesia dalam kawasan hutan hanya 3,7 juta ha, itupun sekitar seluas 1,6 juta ha (43,2%) nya dalam kondisi rusak parah. Di luar kawasan, Indonesia diperkirakan memiliki mangrove seluas 5,5 juta ha, yang sebanyak 4,8 juta ha (87,3%) dalam keadaan rusak parah. Kecepatan kerusakan kawasan mangrove selama 16 tahun, dengan demikian, mencapai lebih dari 134.000 ha/th.
Untuk pengamanan potensi dan fungsi pesisir, sebenarnya di beberapa daerah telah menetapkan kawasan laut, hutan mangrove atau hutan pantai sebagai zona penyangga yang dikelola secara terpadu untuk peningkatan ekonomi masyarakat pantai. Namun di pihak lain, masih banyak dijumpai sempadan pantai yang tidak memiliki jalur hijau (green belt) mangrove sebagaimana yang telah ditetapkan pada Keputusan Presiden (Keppres) No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, yaitu 130 x rata-rata tunggang air pasang purnama (tidal range). Namun pada kenyataannya, ketentuan ini sangat terabaikan pada hampir di seluruh hutan mangrove yang ada. Padahal untuk lebih dapat ditegakkannya supermasi hukum tersebut, dapat dikemukakan beberapa hasil pengamatan pada ekosistem mangrove yang antara lain bahwa pembuatan 1 ha tambak ikan pada hutan mangrove alam akan menghasilkan ikan/udang sebayak 287 kg/tahun, namun dengan hilangnya setiap 1 ha hutan mangrove akan mengakibatkan
20 tangkapan (Y) dan luas hutan mangrove (X) sebagai Y = 0,06 + 0,15 X. Sukresno dan Anwar (1999) menunjukkan adanya kecenderungan menurunnya salinitas tanah dengan jauhnya jarak dari garis pantai, yaitu dari 50 mhs di garis pantai dan 2 - 10 mhs pada jarak 0,1 km hingga < 0,2 mhs pada jarak > 1 km, kecuali pada wilayah yang mangrovenya rusak dapat mencapai > 2 mhs pada jarak > 1 km. Kondisi air sumur pada jarak 1 km masih tergolong baik untuk wilayah dengan kondisi mangrovenya yang relatif baik, sementara pada wilayah dengan mangrove yang tipis sudah terintrusi pada jarak 1 km. Jumlah/liter phytoplankton dan zooplankton sebagai sumber pakan ikan cenderung meningkat dengan makin luas dan makin bertambahnya usia tanaman mangrove (Marsono et al. 1995; Anwar dan Sumarna 1987). Bahkan hasil penelitian Gunawan et al. (2007) menunjukkan bahwa kandungan logam berat berbahaya berupa Merkuri (Hg) pada tanah di tambak terbuka adalah sebanyak 16 kali jika dibandingkan pada tanah hutan mangrove, dan sebanyak 14 kali dibandingkan dengan tambak yang bermangrove. Di samping itu, kandungan Hg dalam ikan/udang pada tambak tanpa mangrove cenderung lebih tinggi daripada tambak yang bermangrove (Gunawan dan Anwar, 2008).
Upaya merehabilitasi daerah pesisir pantai dengan penanaman jenis mangrove sebenarnya sudah dimulai sejak tahun sembilan-puluhan. Data penanaman mangrove oleh Departemen Kehutanan sejak tahun 1995 hingga 2003 baru terealisasi seluas 7.890 ha (Departemen Kehutanan, 2004) dan dari 2003 hingga 2007 telah mencapai 70.185 ha (Departemen Kehutanan, 2008), namun tingkat keberhasilannya sangat umumnya rendah. Di samping itu, masyarakat juga tidak sepenuhnya terlibat dalam upaya rehabilitasi mangrove, bahkan dilaporkan adanya kecenderungan gangguan terhadap tanaman mengingat perbedaan kepentingan. Beberapa hasil penelitian pendukung rehabilitasi mangrove dalam teknik rehabilitasi hutan mangrove berupa teknik pesemaian, teknik penanaman dan kajian silvofishery telah dikemukakan dalam sintesis hasil penelitian teknologi dan kelembagaan rehabilitasi hutan mangrove (Anwar, 2007).
Mengingat pentingnya fungsi jalur hijau hutan mangrove dan hutan pantai dalam menjaga keseimbangan ekosistem pantai, maka sangat diperlukan upaya-upaya untuk melindungi dan melestarikan. Guna mempertahankan kelestarian hutan mangrove dan hutan pantai tersebut, suatu sistem pengelolaan yang memperhatikan prinsip kesinambungan fungsi, terpeliharanya jaringan-jaringan kehidupan dan kesadaran serta kesamaan persepsi berbagai pihak atas pentingnya keberadaan ekosistem mangrove dan pantai, perlu dikaji dan diterapkan.
Salah satu program penelitian dan pengembangan pada Pusat Litbang Konservasi dan rehabilitasi adalah Program Pengelolaan Hutan Alam, yang salah satu Rencana Penelitian Integratif (RPI) nya adalah menggarap topik Pengelolaan Hutan Mangrove dan Ekosistem Pantai, yang bertujuan untuk memperoleh teknologi dan model konservasi dan rehabilitasi mangrove dan ekosistem pantai dalam rangka pemulihan serta optimalisasi fungsi dan manfaatnya.
21
II. RUMUSAN MASALAH
Pesatnya laju degradasi ekosistem mangrove dan pantai di Indonesia saat ini dan berkembangnya pemanfaatan sumberdaya alam tersebut, memerlukan adanya peningkatan pengelolaannya secara lebih serius. Petunjuk Teknis bagi upaya konservasi dan rehabilitasinya yang lebih detail dan komprehensip serta kebijakan yang dapat meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pelaksanaan konservasi dan rehabilitasi perlu dikreasi lebih lanjut. Kebijakan penggunaan mangrove, lahan mangrove dan pantai serta kebijakan perubahannya seyogyanya memperhatikan dampak yang mungkin timbul akibat penerapan yang tidak tepat. Terdapat tiga hal pokok yang perlu diperhatikan dan disiapkan dalam mengkreasi petunjuk teknis pengelolaan ekosistem mangrove dan pantai, yakni : (a) teknologi rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai berikut kelembagaannya; (b) informasi proses ekologis di hutan mangrove dan ekosistem pantai, serta (c) model pemanfaatan biodiversitas hutan mangrove dan ekosistem pantai dalam koridor kelestarian ekosistem tersebut.
Pengalaman selama ini terutama dalam rehabilitasi mangrove, selain menunjukkan masih rendahnya persentase keberhasilannya, juga teknik penanamannya di tapak-tapak khusus masih memerlukan penyempurnaan. Keterlibatan masyarakat dalam konservasi dan rehabilitasi juga sangat minim mengingat belum meratanya pengetahuan mereka akan fungsi dan manfaat ekosistem mangrove dan pantai bagi lingkungan serta peningkatan kehidupannya. Belum jelasnya hak penggunaan lahan bagi penggarap juga diduga merupakan andil kurang gayutnya masyarakat secara langsung dalam rehabilitasi dan pengelolaan. Penurunan salinitas air tanah daratan, proses siklus hara, pertumbuhan, serta peningkatan biodiversitas atas kehadiran ekosistem mangrove dan pantai merupakan aspek-aspek bioekologi yang juga perlu digali. Potensi peningkatan produksi perikanan, jasa lingkungan, dan pendapatan masyarakat baik dari kayu maupun non kayu, serta motivasi keterlibatan masyarakat dalam kegiatan konservasi dan rehabilitasi hutan mangrove dan hutan pantai merupakan aspek-aspek sosial ekonomi yang juga perlu digali. Tanah timbul di sekitar mangrove yang acapkali menimbulkan permasalahan sosial dan hukum dikemudian hari juga merupakan aspek penting lainnya dalam penetapan kebijakan konservasi wilayah pantai.
III. TUJUAN DAN SASARAN
Penelitian bertujuan untuk menyediakan teknologi dan model konservasi dan rehabilitasi mangrove dan ekosistem pantai dalam rangka pemulihan serta optimalisasi fungsi dan manfaatnya.
Adapun sasaran penelitian ini adalah :
a) Tersedianya teknologi penanaman dan rehabilitasi mangrove dan ekosistem pantai.
b) Tersedianya informasi proses ekologis di hutan mangrove dan ekosistem pantai.
c) Tersedianya model pemanfaatan biodiversitas hutan mangrove dan ekosistem pantai.
Untuk mencapai tujuan dan sasaran di atas, maka luaran atau output penelitian untuk setiap sasaran adalah sebagai berikut :
22 khusus, yang akan diperoleh melalui kegiatan :
a.1. Teknik penanaman pada delta terdegradasi.
a.2. Teknik penanaman pada areal terabrasi dan pulau-pulau kecil.
b) Model kelembagaan konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai, yang akan diperoleh melalui kegiatan :
b.1. Kajian sistem kelembagaan konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai.
Sasaran Kedua, luarannya :
a) Informasi peran mangrove dan ekosistem pantai dalam pemeliharaan kualitas lingkungan, yang akan diperoleh melalui kegiatan :
a.1. Kajian penjerapan polutan perairan oleh jenis-jenis mangrove.
a.2. Kajian peran jenis-jenis mangrove dalam penjeratan sedimen terlarut. a.3. Kajian keragaman satwa dan mikroorganisme hutan mangrove dan
ekosistem pantai. Sasaran Ketiga, luarannya :
a) Status potensi dan nilai manfaat mangrove dan ekosistem pantai, yang akan diperoleh melalui kegiatan :
a.1. Kajian potensi sumber pangan jenis-jenis mangrove.
a.2. Kajian potensi jasa lingkungan hutan mangrove dan ekosistem pantai. a.3. Kajian distribusi dan perubahan tutupan mangrove.
b) Manfaat sosial ekonomi konservasi hutan mangrove dan ekosistem pantai, yang akan diperoleh melalui kegiatan :
b.1. Kajian valuasi ekonomi konservasi hutan mangrove dan ekosistem pantai.
b.2. Kajian model kemitraan pemanfaatan hutan dan jenis-jenis tumbuhan mangrove.
IV. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup penelitian mencakup kajian, valuasi dan ujicoba yang berkaitan dengan ekosistem mangrove dan pantai. Penelitian diarahkan pada aspek penanaman dan rehabilitasi mangrove dan ekosistem pantai berikut kelembagaannya, proses ekologis di hutan mangrove dan ekosistem pantai, serta pemanfaatan biodiversitas hutan mangrove dan ekosistem pantai.
23
V. KOMPONEN PENELITIAN
Penelitian Pengelolaan Hutan Mangrove dan Ekosistem Pantai merupakan salah satu RPI di Badan Litbang Kehutanan, maka komponen-komponen penelitiannya perlu dikodefikasi dengan membubuhkan angka empat (4), yakni sebagai nomor urut RPI. Dengan demikian, komponen penelitian yang diperlukan untuk mencapai luaran (output) pada RPI ini dikodefikasi sebagai berikut :
Kodefikasi Luaran Kodefikasi Kegiatan
4.1. Teknologi penanaman jenis mangrove dan tumbuhan pantai pada tapak khusus.
4.1.1. Teknik penanaman pada delta terdegradasi.
4.1.2. Teknik penanaman pada areal terabrasi dan pulau-pulau kecil. 4.2. Model kelembagaan
konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai.
4.2.1. Kajian sistem kelembagaan konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai.
4.3. Informasi peran mangrove dan ekosistem pantai dalam pemeliharaan kualitas lingkungan.
4.3.1. Kajian penjerapan polutan perairan oleh jenis-jenis mangrove.
4.3.2. Kajian peran jenis-jenis mangrove dalam penjeratan sedimen terlarut. 4.3.3. Kajian keragaman satwa dan
mikroorganisme hutan mangrove dan ekosistem pantai.
4.4. Status potensi dan nilai manfaat mangrove dan ekosistem pantai.
4.4.1. Kajian potensi sumber pangan jenis-jenis mangrove.
4.4.2. Kajian potensi jasa lingkungan hutan mangrove dan ekosistem pantai. 4.4.3. Kajian distribusi dan perubahan
tutupan mangrove. 4.5. Manfaat sosial ekonomi
konservasi hutan
mangrove dan ekosistem pantai.
4.5.1. Kajian valuasi ekonomi konservasi hutan mangrove dan ekosistem pantai. 4.5.2. Kajian model kemitraan pemanfaatan
hutan dan jenis-jenis tumbuhan mangrove.
24 Untuk menghasilkan luaran yang telah diidentifikasi di atas, akan dilakukan kegiatan-kegiatan dengan pendekatan dan metode tertentu sebagaimana disebutkan di bawah ini.
4.1. Teknologi penanaman jenis mangrove dan tumbuhan pantai pada tapak khusus
4.1.1. Teknik penanaman pada delta terdegradasi
Akan dilakukan kegiatan berikut :
a) Percobaan penanaman beberapa jenis mangrove pada berbagai jarak tanam dan jalur tanam.
b) Pengamatan pertumbuhan anakan mangrove pada berbagai perlakuan.
c) Pengamatan perubahan kualitas perairan dan substrat tanah setelah empat tahun penanaman.
4.1.2. Teknik penanaman pada areal terabrasi dan pulau-pulau kecil
Untuk memperoleh teknik penanaman pada areal terabrasi akan dilakukan kegiatan berikut :
a) Percobaan penanaman beberapa jenis mangrove dan atau tumbuhan pantai pada berbagai jenis pemecah dan atau peredam ombak.
b) Percobaan pemberian perlakuan perbedaan fisik pelindung ombak terhadap keberhasilan pengurangan tingkat abrasi.
c) Pengamatan keberhasilan tanaman mangrove yang ditanam di sebelah dalam pelindung ombak.
d) Pengamatan perubahan kualitas perairan dan substrat tanah setelah empat tahun penanaman.
Untuk memperoleh teknik penanaman pada pulau kecil akan dilakukan kegiatan berikut :
a) Percobaan penanaman beberapa jenis mangrove dan atau tumbuhan pantai dengan berbagai jarak tanam (salah satu perlakuan dengan jarak rapat) dan jalur tanam.
b) Pengamatan keberhasilan tanaman.
c) Pengamatan perubahan kualitas perairan dan substrat tanah setelah empat tahun penanaman.
4.2. Model kelembagaan konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai
4.2.1. Kajian sistem kelembagaan konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai
Akan dilakukan kegiatan berikut :
a) Kajian profil dan motivasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya terkait dengan ekosistem mangrove dan pantai.
25 b) Kajian tingkat pengaruh dan kepentingan para pihak dalam
program konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai.
c) Kajian peran dan mekanisme koordinasi lembaga konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai.
4.3. Informasi peran mangrove dan ekosistem pantai dalam pemeliharaan kualitas lingkungan
4.3.1. Kajian penjerapan polutan perairan oleh jenis-jenis mangrove
Akan dilakukan kegiatan berikut :
a) Penetapan plot pengamatan berupa tambak atau empang pada berbagai perbedaan tutupan mangrovenya serta pada hutan mangrove.
b) Analisis kandungan polutan perairan pada substrat, perairan, ikan, udang, terumbu karang dan pada bagian tanaman mangrove yang diambil dari tambak yang berbeda jenis mangrovenya.
c) Analisis kandungan polutan yang terjerap oleh bagian tanaman berbagai jenis mangrove.
4.3.2. Kajian peran jenis-jenis mangrove dalam penjeratan sedimen terlarut
Akan dilakukan kegiatan berikut :
a) Penanaman anakan Avicennia spp., Sonneratia spp. dan
Rhizophora spp. dalam dua macam jarak tanam (di Segoro Anakan Kabupaten Cilacap, Delta Welahan Kabupaten Demak, dan Delta Comal di Kabupaten Pemalang, Propinsi Jawa Tengah).
b) Analisis laju sedimen terlarut yang dijerat oleh masing-masing jenis tanaman dan pada berbagai jarak tanam.
4.3.3. Kajian keragaman satwa dan mikroorganisme hutan mangrove dan ekosistem pantai
Akan dilakukan kegiatan berikut :
a) Penetapan lokasi kawasan/hutan mangrove dan hutan pantai konservasi.
b) Pengamatan keragaman satwa dan mikroorganisme di masing-masing lokasi.
c) Deliniasi lokasi yang menjadi tempat singgahan burung migran.
4.4. Status potensi dan nilai manfaat mangrove dan ekosistem pantai 4.4.1. Kajian potensi sumber pangan jenis-jenis mangrove
Akan dilakukan kegiatan berikut :
a) Pengambilan bagian tanaman (buah, bunga, kulit) dari jenis
Bruguiera spp., Sonneratia spp., dan Avicennia spp. b) Analisis kandungan kimia dan kadar gizi bahan makanan. c) Penyajian resep makanan dari bahan dasar mangrove.
26 Akan dilakukan kegiatan berikut :
a) Penetapan lokasi hutan konservasi mangrove dan pantai sebagai calon hutan wisata.
b) Kajian sumberdaya hutan mangrove dan hutan pantai, infra struktur dan sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan.
c) Analisis potensi hutan mangrove dan hutan pantai pada areal konservasi untuk pengembangan wisata alam.
4.4.3. Kajian distribusi dan perubahan tutupan mangrove
Akan dilakukan kegiatan berikut :
a) Kajian distribusi mangrove menggunakan pendekatan penginderaan jauh dengan data berupa citra dari satelit landsat dan citra resolusi sangat tinggi dari google earth.
b) Analisis digital citra landsat menggunakan software pengolah data penginderaan jauh, serta pemodelan diantaranya pemodelan indeks vegetasi.
c) Kegiatan pengecekan di lapangan untuk mengetahuhi jenis dan famili mangrove yang ada, kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kegiatan pembangunan sektor.
d) Analisis perubahan penutupan mangrove dengan melakukan analisis multi temporal terhadap data penginderaan jauh landsat TM (direncanakan citra landsat tahun 1990, 2000 & tahun 2010).
4.5. Manfaat sosial ekonomi konservasi hutan mangrove dan ekosistem pantai
4.5.1. Kajian valuasi ekonomi konservasi hutan mangrove dan ekosistem pantai
Akan dilakukan kegiatan berikut :
a) Pengamatan sumberdaya hutan mangrove dan atau hutan pantai yang akan divaluasi.
b) Analisis persepsi masyarakat terhadap hutan mangrove dan atau hutan pantai.
c) Analisis valuasi ekonomi dari manfaat langsung hutan mangrove (kayu, buah, daun, dan kulit) dan atau hutan pantai.
d) Analisis valuasi ekonomi dari manfaat tidak langsung hutan pantai dan atau hutan mangrove (ikan, feeding ground, nursery ground, habitat satwaliar, pencegah abrasi, intrusi, serta manfaat lainnya).
4.5.2. Kajian model kemitraan pemanfaatan hutan dan jenis-jenis tumbuhan mangrove
Akan dilakukan kegiatan berikut :
a) Analisis persepsi masyarakat atas sistem silvofishery pola kemitraan.
b) Analisis biaya dan finansial, serta analisis sosial sistem silvofishery yang diterapkan.
27
Luaran Keg. dan
Institusi Kegiatan Litbang 2010 2011 2012 2013 2014
4.1.Teknologi penanaman jenis mangrove dan tumbuhan pantai pada tapak khusus.
4.1.1.16 4.1.1. Teknik penanaman pada delta
terdegradasi. x x x x x
4.1.2.7
4.1.2. Teknik penanaman pada areal terabrasi dan pulau-pulau kecil.
x x x x x
4.1.2.9 - - - x x
4.1.2.17 - - x x x
4.1.2.18 x x x x x
4.2.Model kelembagaan konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai.
4.2.1.1 4.2.1. Kajian sistem kelembagaan
konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai.
- - x x x
4.3.Informasi peran mangrove dan ekosistem pantai dalam
pemeliharaan kualitas lingkungan.
4.3.1.1 4.3.1. Kajian penjerapan polutan perairan
oleh jenis-jenis mangrove. x x - - -
4.3.2.12 4.3.2. Kajian peran jenis-jenis mangrove
dalam penjeratan sedimen terlarut. - x x x x
4.3.3.18 4.3.3. Kajian keragaman satwa dan
mikroorganisme hutan mangrove dan ekosistem pantai.
x x x - -
4.3.3.19 - - x x x
4.4.Status potensi dan nilai manfaat mangrove dan ekosistem pantai.
4.4.1.1 4.4.1. Kajian potensi sumber pangan
jenis-jenis mangrove. x x - - -
4.4.2.1
4.4.2. Kajian potensi jasa lingkungan hutan mangrove dan ekosistem pantai.
- - - x x
4.4.2.7 - - x x x
28
4.4.3.1 4.4.3. Kajian distribusi dan perubahan
tutupan mangrove. - - x x x
4.5.Manfaat sosial ekonomi konservasi hutan mangrove dan ekosistem pantai.
4.5.1.1 4.5.1. Kajian valuasi ekonomi konservasi hutan mangrove dan ekosistem pantai.
- - - x x
4.5.1.18 x x x - -
4.5.2.1 4.5.2. Kajian model kemitraan pemanfaatan hutan dan jenis-jenis tumbuhan mangrove.
x x x x x
4.5.2.14 x x x x x
Keterangan: Digit terakhir 1: Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi; 7: Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Aek Nauli; 9: BPK Palembang; 12: BPK Solo; 14: BPK Kupang; 16: BPK Samboja; 17: BPK Manado; 18: BPK Makassar; dan 19: BPK Manokwari.
29
VIII. RENCANA ANGGARAN
Total anggaran untuk penyelenggaraan penelitian yang melibatkan delapan unit kerja selama lima tahun (2010–2014) mencapai Rp. 8.725.000.000,- (delapan milyar tujuh ratus dua puluh lima juta rupiah).
Luaran Keg.dan Kode
Institusi Kegiatan Litbang
Anggaran (x Rp.1.000.000)
Jumlah 2010 2011 2012 2013 2014
4.1. Teknologi penanaman jenis mangrove dan tumbuhan pantai pada tapak khusus.
4.1.1.16 4.1.1. Teknik penanaman pada delta
terdegradasi. 125 125 125 125 125 625
4.1.2.7
4.1.2. Teknik penanaman pada areal terabrasi dan pulau-pulau kecil.
125 125 125 125 125 625
4.1.2.9 - - - 125 125 250
4.1.2.17 - - 125 125 125 375
4.1.2.18 125 125 125 125 125 625
4.2. Model kelembagaan konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai.
4.2.1.1 4.2.1. Kajian sistem kelembagaan
konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai.
- - 175 175 175 5205
4.3. Informasi peran mangrove dan ekosistem pantai dalam
pemeliharaan kualitas lingkungan.
4.3.1.1 4.3.1. Kajian penjerapan polutan perairan
oleh jenis-jenis mangrove. 150 150 - - - 300
4.3.2.12 4.3.2. Kajian peran jenis-jenis mangrove
dalam penjeratan sedimen terlarut. - 100 100 100 100 400 4.3.3.18 4.3.3. Kajian keragaman satwa dan
mikroorganisme hutan mangrove dan ekosistem pantai.
125 125 125 - - 375
4.3.3.19 - - 125 125 125 375
4.4. Status potensi dan nilai manfaat mangrove dan ekosistem pantai.
4.4.1.1 4.4.1. Kajian potensi sumber pangan
30
4.4.2.1
4.4.2. Kajian potensi jasa lingkungan hutan mangrove dan ekosistem pantai.
- - - 150 150 300
4.4.2.7 - - 150 150 150 450
4.4.2.16 150 150 150 150 - 600
4.4.3.1 4.4.3. Kajian distribusi dan perubahan
tutupan mangrove. - - 200 200 200 600
4.5. Manfaat sosial ekonomi konservasi hutan mangrove dan ekosistem pantai.
4.5.1.1 4.5.1. Kajian valuasi ekonomi konservasi hutan mangrove dan ekosistem pantai.
- - - 125 125 250
4.5.1.18 125 125 125 - - 375
4.5.2.1 4.5.2. Kajian model kemitraan pemanfaatan hutan dan jenis-jenis tumbuhan
mangrove.
150 150 150 150 150 750
4.5.2.14 125 125 125 125 125 625
31 Teknis Koordinator dan Tim Sekretariat, yang semuanya berada di Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi Bogor, serta beberapa Peneliti sebagai Pelaksana kegiatan penelitian baik dari Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi maupun dari beberapa (tujuh) Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Litbang Kehutanan, yakni dari Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Aek Nauli, BPK Solo, BPK Kupang, BPK Samboja, BPK Manado, BPK Makassar dan BPK Manokwari.
X. DAFTAR PUSTAKA
Anwar, C. dan Y. Sumarna. 1987. Populasi phitoplankton pada beberapa perairan hutan mangrove Cilacap. Bulletin Penelitian Hutan, No. 492: 28-37. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Bogor.
Anwar, C. 2007. Sinthesis Hasil Penelitian Teknologi dan Kelembagaan Rehabilitasi Hutan Mangrove. Draft awal. Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam, Bogor (tidak diterbitkan).
Departemen Kehutanan. 2004. Statistik Kehutanan Indonesia, Forestry Statistics of Indonesia 2003. Badan Planologi Kehutanan, Departemen Kehutanan, Jakarta.
Departemen Kehutanan. 2008. Statistik Kehutanan Indonesia, Forestry Statistics of Indonesia 2007. Badan Planologi Kehutanan, Departemen Kehutanan, Jakarta.
Dwi, I. 2010. Ekosistem pesisir pantai. http://one-geo.blogspot.com. Diunduh tanggal 03 Juli 2011.
Direktorat Bina Pesisir. 2004. Pedoman Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Ditjen Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, DKP. Jakarta.
Ditjen Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. 1999. Inventarisasi dan Identifikasi Hutan Bakau (Mangrove) yang Rusak di Indonesia. PT. Insan Mandiri Konsultan. Jakarta (tidak diterbitkan).
Gunawan, H., C. Anwar, R. Sawitri dan E. Karlina. 2007. Status Ekologis Silvofishery Pola Empang Parit di Bagian Pemangkuan Hutan Ciasem-Pamanukan, Kesatuan Pemangkuan Hutan Purwakarta. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol. IV No. 4 (429-439): 2007.
Gunawan, H. dan C. Anwar. 2008. Kualitas perairan dan kandungan Merkuri (Hg) dalam ikan pada tambak empang parit di BKPH Ciasem-Pamanukan, KPH Purwakarta, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol. V No. 1(1-10): 2008.
Keputusan Presiden No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Kurdi, S.Z. 2010. Identifikasi kerugian kawasan pantai akibat kenaikan muka air
laut. Puslitbang Permukiman. http://[email protected]. Diunduh tanggal 03 Juli 2011.
Martodiwirjo, S. 1994. Kebijaksanaan Pengelolaan dan Rehabilitasi Hutan Mangrove dalam Pelita VI. Bahan Diskusi Panel Pengelolaan Hutan
32 Marsono, D., E.P. Rahayu dan Udiono. 1995. Peran rehabilitasi mangrove
terhadap keanekaragaman biota (Studi kasus di pantai Pemalang).
Priyambodo. 2011. Hutan Pantai Petanahan Jadi Contoh Penghijauan. http://www.antaranews.com. Diunduh tanggal 16 April 2011.
Sampurno. 2010. Pengembangan kawasan pantai kaitannya dengan geomorfologi. Departemen Geologi ITB. http://www.scribd.com. Diunduh tanggal 29 Juni 2011.
Turner, R.E. 1977. Intertidal vegetation and commercial yields of penaeid shrimp. Trans. Am. Fish. Soc. 106: 411-416.
33
1 Tujuan:
Penelitian bertujuan untuk
menyediakan teknologi dan model konservasi dan rehabilitasi mangrove dan ekosistem pantai dalam rangka pemulihan serta optimalisasi fungsi dan manfaatnya.
Pemanfaatan informasi dan teknologi pengelolaan hutan mangrove dan ekosistem pantai yang berkesinambungan oleh Pengguna.
Pedoman teknis pengelolaan hutan mangrove dan ekosistem pantai.
Ada kemauan kuat dari Pemerintah dan Pihak terkait
Fasilitas mendukung.
2 Sasaran:
1) Tersedianya teknologi penanaman dan rehabilitasi mangrove dan ekosistem pantai.
2) Tersedianya informasi proses ekologis di hutan mangrove dan ekosistem pantai.
3) Tersedianya model pemanfaatan biodiversitas hutan mangrove dan ekosistem pantai.
Pemanfaatan teknik penanaman dan rehabilitasi hutan mangrove dan ekosistem pantai.
Pemanfaatan informasi proses ekologis di hutan mangrove dan ekosistem pantai.
Pemanfaatan informasi nilai ekologis biodivesitas hutan mangrove dan ekosistem pantai.
Pedoman teknis konservasi dan rehabilitasi.
Pedoman teknis
pengembangan kemitraan. Informasi kemanfaatan
ekologis biodiversitas hutan mangrove dan ekosistem pantai. Ada dukungan Pemerintah Pusat dan Daerah. Diseminasi hasil litbang tepat sasaran. 3 Luaran:
1) Teknologi penanaman jenis mangrove dan tumbuhan pantai pada tapak khusus.
2) Model kelembagaan konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai.
3) Informasi peran mangrove dan ekosistem pantai dalam
pemeliharaan kualitas lingkungan. 4) Status potensi dan nilai manfaat
mangrove dan ekosistem pantai. 5) Manfaat sosial ekonomi konservasi
hutan mangrove dan ekosistem pantai.
Tersedianya teknik penanaman mangrove pada delta terdegradasi.
Tersedianya teknik penanaman mangrove dan atau tumbuhan pantai pada areal terabrasi dan pulau kecil. Tersedianya sistem kelembagaan dalam konservasi dan
rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai.
Bertambahnya data base penjerapan polutan oleh jenis-jenis mangrove.
Bertambahnya data base penjeratan sedimen terlarut oleh jenis-jenis mangrove.
Bertambahnya data base keragaman satwa dan
mikroorganisme di hutan mangrove dan ekosistem pantai. Bertambahnya database potensi jasa lingkungan hutan
mangrove dan ekosistem pantai.
Bertambahnya data base nilai ekonomi konservasi hutan mangrove dan ekosistem pantai.
Laporan hasil penelitian. Kebijakan, program dan anggaran mendukung.
34
4 Kegiatan:
1) Teknik penanaman pada delta terdegradasi.
2) Teknik penanaman pada areal terabrasi dan pulau-pulau kecil. 3) Kajian sistem kelembagaan
konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove dan pantai. 4) Kajian penjerapan polutan
perairan oleh jenis-jenis mangrove.
5) Kajian peran jenis-jenis mangrove dalam penjeratan sedimen terlarut.
6) Kajian keragaman satwa dan mikroorganisme hutan
mangrove dan ekosistem pantai. 7) Kajian potensi sumber pangan
jenis-jenis mangrove.
8) Kajian potensi jasa lingkungan hutan mangrove dan ekosistem pantai.
9) Kajian valuasi ekonomi
konservasi hutan mangrove dan ekosistem pantai.
10) Kajian model kemitraan pemanfaatan hutan dan jenis-jenis tumbuhan mangrove.
Tersedianya rencana penelitian integratif. Tersedianya pelaksana penelitian.
Tersedianya rencana operasional penelitian. Tersedianya lokasi penelitian.
Tersedianya satuan percobaan.
PPTP RPTP
Rencana Kerja, RKA-KL/ DIPA
Ada dukungan anggaran.
Tersedia Peneliti dan Teknisi.
REVISI
RENCANA PENELITIAN INTEGRATIF
(RPI)
TAHUN 2010 - 2014
PENGELOLAAN HUTAN RAWA GAMBUT
Koordinator:
Dr. Herman Daryono, MS
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN
KEMENTERIAN KEHUTANAN
KEMENTERIAN KEHUTANAN
BADAN PENELITAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KONSERVASI DAN REHABILTASI
LEMBAR PENGESAHAN
RENCANA PENELITIAN INTEGRATIF (RPI)
2010-2014 (REVISI)
PENGELOLAAN HUTAN RAWA GAMBUT
Menyetujui,
Kepala Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi,
Ir. Adi Susmianto, M.Sc.
NIP. 19571221 198203 1 002 Bogor, September 2011 Koordinator, Dr. Herman Daryono, MS NIP. 19490707 198003 1 004 Mengesahkan :
Kepala Badan Litbang Kehutanan,