• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 1 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

P U T U S A N Nomor 213 K/MIL/2016

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

Mahkamah Agung yang memeriksa perkara pidana militer pada tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara Terdakwa :

Nama : YUDI FRANSISCO ;

Pangkat/Nrp. : Serda / 31990341450978 ; Jabatan : Ba Rindam IM ;

Kesatuan : Rindam IM ; Tempat lahir : Rantau Prapat ; Tanggal lahir : 6 September 1978 ; Jenis kelamin : Laki-laki ;

Kewarganegaraan : Indonesia ; A g a m a : Islam ;

Tempat tinggal : Desa Punie, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar ;

Terdakwa berada di dalam tahanan :

1. Hakim Ketua pada Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh selama 30 (tiga puluh) hari terhitung mulai tanggal 17 Maret 2016 sampai dengan tanggal 15 April 2016 berdasarkan Penetapan Penahanan Nomor : TAP/10-K/PM.I-01/AD/III/2016 tanggal 17 Maret 2016 ;

2. Hakim Ketua pada Pengadilan Militer Tinggi I Medan selama 30 (tiga puluh) hari terhitung mulai tanggal 18 April 2016 sampai dengan tanggal 17 Mei 2016 berdasarkan Penetapan Penahanan Nomor : TAP/91/PMT-I/AD/V/2016 tanggal 17 Mei 2016 ;

3. Diperpanjang penahanannya oleh Pengadilan Militer Tinggi I Medan selama 60 (enam puluh) hari terhitung mulai tanggal 18 Mei 2016 sampai dengan tanggal 16 Juli 2016 berdasarkan Penetapan Perpanjangan Penahanan Nomor : TAP/100/PMT-I/AD/V/2016 tanggal 24 Mei 2016 ;

4. Berdasarkan putusan Pengadilan Militer Tinggi I Medan Nomor : 66-K/PMT-I/BDG/AD/V/2016 tanggal 23 Juni 2016 Terdakwa diperintahkan tetap ditahan ;

5. Berdasarkan Penetapan Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Militer Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 162/Pen/Tah/Mil/S/2016 tanggal 27 Juli 2016 Terdakwa diperintahkan untuk ditahan selama 50 (lima puluh) hari, terhitung sejak tanggal 26 Juli 2016 sampai dengan tanggal 13 September 2016 ;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 2 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

yang diajukan di muka persidangan Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh karena didakwa :

Bahwa Terdakwa pada waktu-waktu dan tempat-tempat tersebut di bawah ini yaitu pada bulan Agustus tahun dua ribu lima belas atau setidak-tidaknya di suatu waktu dalam tahun dua ribu lima belas, di Simpang Japakeh, Aceh Besar atau setidak-tidaknya di suatu tempat yang termasuk dalam daerah hukum Pengadilan MiliterI-01 Banda Aceh telah melakukan tindak pidana "Barang siapa secara bersama-sama atau sendiri-sendiri membeli, menyewa, menukar, menerima gadai, menerima hadiah, atau untuk menarik keuntungan, menjual, menyewakan, menukarkan, menggadaikan, mengangkut, menyimpan atau menyembunyikan sesuatu benda, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa diperoleh dari kejahatan" dengan cara-cara sebagai berikut : a. Bahwa Terdakwa menjadi prajurit TNI AD pada tahun 1996 melalui

pendidikan Secaba PK di Rindam I/BB, setelah lulus dilantik dengan pangkat Prada, kemudian ditempatkan di Yonif 112/R dan pada tahun 2009 ditugaskan di Rindam IM sampai sekarang masih berdinas aktif dengan pangkat Serda NRP. 31990341450978 jabatan Ba Rindam IM.

b. Bahwa pada bulan Agustus 2015, Sdr. Zulfikar (Saksi 2) telah melakukan pencurian sepeda motor merek Honda jenis Vario Nomor Polisi BL 4160 LO warna merah tahun 2008 nomor rangka MH1JF12148K274603, nomor mesin JF121279098 di daerah Ulhee Kareng di dalam sebuah rumah pada waktu malam hari, sekira pukul 04.30 WIB, Saksi 2 menghubungi Sdr. Zainal Arifin (Saksi 1) melalui handphone untuk menjumpai Saksi 2 di Jalan Laksamana Malahayati tepatnya di jembatan Kreung Cut Kaju, setelah bertemu kemudian Saksi 2 menyerahkan sepeda motor merek Honda jenis Vario Nomor Polisi BL 4160 LO kepada Saksi 1 yang merupakan hasil curian Saksi 2 untuk dibawa pulang ke rumah Saksi 1 di Perumahan Cinta Kasih, Nehen, Kabupaten Aceh Besar.

c. Bahwa pada akhir bulan Agustus 2015 sekira pukul 15.00 WIB, Saksi 2 meminta bantuan Saksi 1 untuk menjualkan sepeda motor tersebut, kemudian Saksi 1 menghubungi Sdr. Reza (tidak diperiksa) melalui

handphone untuk membantu menjualkan sepeda motor merek Honda jenis

Vario Nomor Polisi BL 4160 LO dan Sdr. Reza menyampaikan bahwa ada orang yang akan membeli sepeda motor tersebut, sehingga keduanya bertemu di Simpang Japakeh, Kabupaten Aceh Besar, selanjutnya sekira pukul 18.00 WIB, Sdr. Reza menghubungi Terdakwa melalui handphone dan menawarkan sepeda motor tersebut kepada Terdakwa, sekira pukul 21.00

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 3 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

WIB, Terdakwa menjumpai Sdr. Reza di Simpang Japakeh, Kabupaten Aceh Besar, kemudian Terdakwa berangkat ke ATM BRI yang berada di Rindam IM untuk mengambil uang.

d. Bahwa sekira pukul 21.30 WIB, Terdakwa kembali menjumpai Sdr, Reza di Simpang Japakeh, Kabupaten Aceh Besar kemudian menyerahkan uang sebesar Rp2.300.000,00 (dua juta tiga ratus ribu rupiah) kepada Sdr. Reza, setelah itu Sdr. Reza meminta tolong kepada Terdakwa untuk mengantarkannya ke tempat Saksi 1, selanjutnya Sdr. Reza menyerahkan uang sebesar Rp2.300.000,00 (dua juta tiga ratus ribu rupiah) yang diterima dari Terdakwa kepada Saksi 1, kemudian Saksi 1 memberikan uang kepada Terdakwa dan Sdr. Reza masing-masing sebesar Rp200.000,00 (dua ratus ribu rupiah).

e. Bahwa pada saat Terdakwa membeli atau menerima sepeda motor merek Honda jenis Vario Nomor Polisi BL 4160 LO warna merah tahun 2008 nomor rangka MH1JF12148K274603, nomor mesin JF121279098 dari Sdr. Reza, Terdakwa tidak ada menanyakan kelengkapan surat-surat sah kendaraan kepada Sdr. Reza karena tujuan Terdakwa hanya untuk digunakan sendiri. f. Bahwa motivasi Terdakwa membeli sepeda motor (bodong) dari Sdr. Reza

adalah karena selain karena harganya murah juga untuk menolong Sdr. Reza yang membutuhkan uang.

g. Bahwa sepeda motor merek Honda jenis Vario Nomor Polisi BL 4160 LO warna merah tahun 2008 nomor rangka MH1JF12148K274603, nomor mesin JF121279098, saat ini berada di Polresta Banda Aceh sebagai barang bukti dalam perkara pencurian yang dilakukan oleh Saksi 2 dan Saksi 1 sekarang ini masih ditahan di Polresta Banda Aceh.

h. Bahwa akibat dari tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh Saksi 2 berdasarkan hasil pemeriksaan para Saksi, bahwa barang bukti sepeda motor merek Honda jenis Vario Nomor Polisi BL 4160 LO warna merah tahun 2008 nomor rangka MH1JF12148K274603, nomor mesin JF121279098 telah dijual kepada Terdakwa sehingga Polresta Banda Aceh melimpahkan perkara Terdakwa ke Pomdam IM untuk diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Berpendapat bahwa perbuatan Terdakwa tersebut telah cukup memenuhi unsur-unsur tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam dengan pidana dalam Pasal 480 Ke-1 juncto Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP.

Mahkamah Agung tersebut ;

Membaca tuntutan pidana Oditur Militer pada Oditurat Militer I-01 Banda Aceh tanggal 17 Maret 2016 sebagai berikut :

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 4 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

Menyatakan Terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana dengan kualifikasi :

"Barang siapa secara bersama-sama atau sendiri-sendiri membeli atau menerima gadai sesuatu benda, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa diperoleh dari kejahatan", sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 480 Ke-1 juncto Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP

Dengan mengingat Pasal 10 KUHP dan Pasal 26 KUHPM serta ketentuan perundang-undangan lain yang berhubungan, kami mohon agar Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa atas nama Serda Yudi Francisco, NRP. 31990341450978, Jabatan Ba Rindam IM, Kesatuan Rindam IM sebagai berikut :

Pidana pokok : Penjara selama 8 (delapan) bulan. Pidana tambahan : Dipecat dari Dinas Militer Cq. TNI AD. Kami mohon pula untuk menetapkan barang bukti berupa : 1. Barang-barang : Tidak ada.

2. Surat-surat :

- 2 (dua) lembar Surat Perintah Kapolresta Banda Aceh Nomor : SP.Sita/ 215/IX/2015/Reskrim, tanggal 12 September 2015 tentang Melakukan penyitaan yang ada kaitannya dengan tindak pidana yang diduga dilakukan Terdakwa atas nama Sdr. Zulfikar 2) dan Sdr. Zainal Arifin (Saksi-1).

b. 1 (satu) lembar foto copy STNK sepeda motor merek Honda jenis Vario Nomor Polisi BL 4160 LO, warna merah tahun 2008, Nomor Rangka MH1JF12148K274603, Nomor Mesin JF121279098.

(Tetap dilekatkan dalam berkas perkara).

Membebani Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp10.000,00 (sepuluh ribu rupiah).

Membaca putusan Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh Nomor : 35-K/ PM.I-01/AD/I/2016 tanggal 11 April 2016 yang amar lengkapnya sebagai berikut : 1. Menyatakan Terdakwa tersebut di atas yaitu : Yudi Fransisco, Serda, NRP. 31990341450978 terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana : "Secara bersama-sama melakukan penadahan".

2. Memidana Terdakwa oleh karena itu dengan :

a. Pidana pokok : Penjara selama 6 (enam) bulan.

Menetapkan selama waktu Terdakwa berada dalam tahanan dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 5 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

b. Pidana tambahan : Dipecat dari Dinas Militer. 3. Menetapkan barang bukti berupa surat :

a. 2 (dua) lembar Surat Perintah Kapolresta Banda Aceh Nomor : SP.Sita/ 215/IX/2015/Reskrim, tanggal 12 September 2015 tentang Melakukan penyitaan yang ada kaitannya dengan tindak pidana yang diduga dilakukan Terdakwa atas nama Sdr. Zulfikar 2) dan Sdr. Zainal Arifin (Saksi-1).

b. 1 (satu) lembar foto copy STNK sepeda motor merek Honda jenis Vario Nomor Polisi BL 4160 LO warna merah tahun 2008 Nomor Rangka MH1JF12148K274603, Nomor Mesin JF121279098.

Tetap dilekatkan dalam berkas perkara.

4. Membebankan biaya perkara kepada Terdakwa sebesar Rp10.000,00 (sepuluh ribu rupiah).

5. Memerintahkan agar Terdakwa tetap berada dalam tahanan.

Membaca putusan Pengadilan Militer Tinggi I Medan Nomor : 66-K/PMT-I/BDG/AD/V/2016 tanggal 23 Juni 2016 yang amar lengkapnya sebagai berikut : Menyatakan : 1. Menerima secara formal permohonan banding dari Terdakwa

Yudi Fransisco, Serda NRP.31990341450978.

2. Menguatkan putusan Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh Nomor 35-K/PM I-01/AD/I/2016 tanggal 11 April 2016 untuk seluruhnya.

3. Memerintahkan Terdakwa tetap ditahan.

4. Membebankan biaya perkara pada tingkat banding kepada Terdakwa sebesar Rp15.000,00 (lima belas ribu rupiah). 5. Memerintahkan kepada Panitera agar mengirimkan salinan

putusan ini beserta berkas perkaranya kepada Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh.

Mengingat akan akta tentang permohonan kasasi Nomor : APK/23-K/PM.I-01/AD/VII/2016 yang dibuat oleh Panitera pada Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh yang menerangkan, bahwa pada tanggal 26 Juli 2016 Terdakwa mengajukan permohonan kasasi terhadap putusan Pengadilan Militer Tinggi tersebut ;

Memperhatikan memori kasasi tanpa tanggal bulan Juli 2016 dari Terdakwa sebagai Pemohon Kasasi yang telah diterima di Kepaniteraan Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh pada tanggal 29 Juli 2016 ;

Membaca surat-surat yang bersangkutan ;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 6 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

Menimbang, bahwa putusan Pengadilan Militer Tinggi tersebut telah diberitahukan kepada Pemohon Kasasi/Terdakwa pada tanggal 22 Juli 2016 dan Pemohon Kasasi/Terdakwa mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 26 Juli 2016 serta memori kasasinya telah diterima di Kepaniteraan Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh pada tanggal 29 Juli 2016 dengan demikian permohonan kasasi beserta dengan alasan-alasannya telah diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara menurut Undang-Undang, oleh karena itu permohonan kasasi tersebut formal dapat diterima ;

Menimbang, bahwa alasan-alasan yang diajukan oleh Pemohon Kasasi/ Terdakwa pada pokoknya sebagai berikut :

1. Bahwa berdasarkan Pasal 253 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana menyatakan, "Pemeriksaan dalam tingkat kasasi dilakukan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia atas permintaan para pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 244 dan Pasal 248 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana dan pada Pasal 239 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer "Pemeriksaan pada tingkat Kasasi dilakukan oleh Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 231 dan Pasal 235 guna menentukan : a. Apakah benar suatu peraturan hukum tidak diterapkan atau diterapkan

tidak sebagaimana mestinya ;

b. Apakah benar cara mengadili tidak dilaksanakan menurut ketentuan Undang-Undang ; dan

c. Apakah benar pengadilan telah melampaui batas wewenangnya.

Bahwa sebagaimana diatur juga dalam Pasal 30 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, menyatakan Mahkamah Agung berwenang membatalkan putusan atau penetapan Pengadilan berdasarkan parameter sebagai berikut :

a. Pengadilan tidak berwenang atau melampaui batas wewenang;

b. Pengadilan salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku; dan c. Pengadilan lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan

perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.

2. Bahwa Judex Facti telah salah menerapkan hukum dalam tertib beracara atau lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan karena kurang cukup pertimbangannya (onvoldoende gemotiveerd).

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 7 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

Pemohon Kasasi tidak sependapat dengan pertimbangan dalam putusan Pengadilan Militer Tinggi I Medan yang hanya mengambil alih putusan Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh untuk dijadikan pertimbangannya sendiri, sedangkan Pengadilan Militer Tinggi I Medan sama sekali tidak memberikan dasar dan alasan untuk melakukan pengambilalihan pertimbangan tersebut, sebagaimana pertimbangan pada halaman 12 putusan Pengadilan Militer Tinggi I Medan a quo yang menyatakan :

Menimbang : Bahwa berdasarkan alasan dan pertimbangan-pertimbangan selebihnya yang diuraikan di atas, Pengadilan Militer Tingkat Banding berpendapat bahwa putusan Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh Nomor : 35-K/PM I-01/AD/I/2016 tanggal 11 April 2016 haruslah dikuatkan.

Menimbang : Bahwa mengenai pidana yang dijatuhkan kepada Terdakwa berupa pidana pokok penjara selama 6 (enam) bulan, serta pidana tambahan dipecat dari Dinas Militer, Majelis Hakim Tingkat Banding berpendapat pidana tersebut sudah tepat dan seimbang dengan kesalahan Terdakwa oleh karena itu perlu dikuatkan dengan pertimbangan sebagai berikut : 1. Bahwa akibat perbuatan Terdakwa tersebut dapat

mencemarkan nama baik Kesatuan terlebih lagi TNI pada umumnya.

2. Terdakwa pernah dipidana oleh Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh perkara Penyalahgunaan Narkotika dengan nomor putusan Nomor : 16-K/PMT-I/BDG/AD/I/2014 tanggal 12 Maret 2014 dan sekarang masih dalam proses upaya hukum Kasasi di Mahkamah Agung Republik Indonesia. 3. Bahwa selaku prajurit TNI yang berdinas di Satuan

Rindam IM yang mencetak para prajurit TNI AD, jika dikaitkan dengan perbuatan Terdakwa tersebut dipandang tidak layak dan tidak pantas dilakukan oleh Terdakwa karena sesuai ketentuan Pasal 26 KUHPM Terdakwa harus dipisahkan dari TNI dengan cara diberhentikan dengan tidak hormat dari Dinas Militer atau dipecat. Menimbang : Bahwa berdasarkan alasan dan pertimbangan yang diuraikan

di atas, Pengadilan Tingkat Banding berpendapat bahwa putusan Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh Nomor : 35-K/ PM I-01/AD/I/2016 tanggal 11 April 2016 haruslah dikuatkan, sebagaimana amar putusan di bawah ini.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 8 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

Bahwa putusan Pengadilan Militer Tinggi I Medan yang demikian "tidak memberikan pertimbangan yang cukup" (onvoldoende gemotiveerd) karena dalam putusannya itu hanya mempertimbangkan tentang hal-hal yang memberatkan atas kesalahan Pemohon Kasasi saja berdasarkan pertimbangan yang diungkapkan pada putusan Pengadilan Tingkat Pertama (Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh) dan mengesampingkan keberatan-keberatan yang diajukan dalam memori Banding dan tanpa memeriksa perkara itu kembali baik mengenai fakta-faktanya yaitu bahwa sesuai fakta di depan persidangan Pemohon Kasasi mengatakan dengan jujur bahwa Pemohon Kasasi menerima sepeda motor jenis Honda Vario tahun 2008 Nomor Polisi BL 4160 LO dari Sdr. Reza karena Sdr. Reza membutuhkan uang dan berniat menggadaikan sepeda motor tersebut kepada Pemohon Kasasi dan bukan menjualnya kepada Pemohon Kasasi.

Bahwa benar Pemohon Kasasi dalam menerima gadai tersebut tidak mengecek secara lebih teliti karena Pemohon Kasasi sangat percaya bahwa Sdr. Reza tidak mungkin menipu Pemohon Kasasi karena Pemohon Kasasi dengan Sdr. Reza sudah berteman lama, akan tetapi Pemohon Kasasi sudah dikelabui oleh Sdr. Reza yang menggadaikan sepeda motor dari hasil curian temannya.

Bahwa Pemohon Kasasi merupakan korban penipuan dari Sdr. Reza yang telah menggadaikan barang curian kepada Pemohon Kasasi, dan disini Pemohon Kasasi merasa sangat dirugikan karena Pemohon Kasasi telah ditipu oleh Sdr. Reza karena niat Pemohon Kasasi ingin membantu temannya akan tetapi menjadi Terdakwa dalam perkara ini, dan bahkan terhadap penerapan hukumnya dan Pengadilan Militer Tinggi I Medan terus menguatkan putusan Pengadilan Militer Tingkat Pertama begitu saja dan sepatutnya untuk dibatalkan.

Pendapat demikian adalah sesuai dengan yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia terhadap perkara-perkara pidana lainnya dan Pemohon Kasasi sangat sependapat dengan putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 638 K/Sip/1969 tanggal 22 Juli 1970 yang menyatakan :

"Putusan-putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi yang kurang cukup dipertimbangkan ("onvoldoende gemotiveerd") harus dibatalkan i.c. Pengadilan Negeri yang putusannya dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi ...".

Selain itu pula melalui putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 9 K/Sip/1972 tanggal 19 Agustus 1972 yang menyatakan :

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 9 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

"Pertimbangan Pengadilan Tinggi Yang hanya menyetujui dan menjadikan alasan sendiri hal-hal yang dikemukakan oleh Pembanding dalam memori bandingnya, seperti halnya kalau Pengadilan Tinggi menyetujui keputusan Pengadilan Negeri, adalah tidak cukup".

Disamping itu pula melalui putusan Mahkamah Agung Nomor 67 K/Sip/1972 juga mengandung kaidah hukum "putusan Judex Facti harus dibatalkan jika Judex Facti tidak memberikan alasan atau pertimbangan yang cukup dalam hal dalil-dalil tidak bertentangan dengan pertimbangan-pertimbangannya". Serta putusan Mahkamah Agung Nomor 22 K/Mil/1992 juga mengandung kaidah hukum, "Mahkamah Militer Tinggi telah salah menerapkan hukum, sebab tidak cukup mempertimbangkan (onvoldoede gemotiveerd) tentang pidana yang dijatuhkan, oleh sebab itu putusan Mahkamah Militer Tinggi harus dibatalkan dan Mahkamah Agung mengadili sendiri perkara a quo". Dari pertimbangan-pertimbangan Pengadilan Militer Tinggi I Medan, secara terperinci Mahkamah Agung harus dapat mengerti hal-hal apa dalam keputusan Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh yang dianggap tidak dapat dibenarkan oleh Pengadilan Militer Tinggi I Medan.

Oleh karena putusan Pengadilan Militer Tinggi I Medan Nomor : 66-K/PMT-I/BDG/AD/V/2016 tanggal 23 Juni 2016 yang sekedar mengambil alih pertimbangan putusan Pengadilan Militer Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh Nomor : 35-K/PM.I-01/AD/I/2016 tanggal 11 April 2016 tanpa memberikan dasar dan alasan pengambilalihan putusan Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh tersebut adalah tidak cukup dan sepatutnya dibatalkan.

Bahwa ternyata Judex Facti telah tidak memenuhi ketentuan beracara atau prosedural sebagaimana yang seharusnya ditentukan oleh perundang-undangan, setidak-tidaknya ketentuan hukum beracara, artinya putusan Pengadilan a quo yang secara substansial telah dibuat tersebut adalah telah bertentangan dengan perundang-undangan, maka secara hukum harus dinyatakan batal dan tidak memiliki kekuatan hukum.

Mengingat telah terjadinya pelanggaran tertib beracara dalam pemeriksaan Tingkat Banding, maka dalam hal putusan Pengadilan Tinggi tersebut dibatalkan, Mahkamah Agung dapat mengadili sendiri perkaranya, baik mengenai penerapan hukum maupun penilaian hasil pembuktiannya, sebagaimana dipertimbangkan berdasarkan putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : 981 K/Sip/1972 tanggal 31 Oktober 1974, yaitu : "Dalam hal putusan Pengadilan Tinggi dibatalkan, Mahkamah Agung mengadili sendiri perkaranya, baik mengenai penerapan hukum maupun penilaian hasil pembuktiannya".

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 10 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

Bahkan dalam Pasal 50 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 49 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menegaskan putusan Pengadilan harus memuat alasan dan dasar putusan. Juga memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang relevan dan sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili.

Maka terhadap putusan Hakim Banding di dalam putusannya membuat pertimbangan yang onvoldoende gemotiveerd (= tidak sempurna/tidak cukup), dimana Majelis sekedar mengambil alih putusan Hakim Pertama terdahulu tanpa mengemukakan alasan-alasan hukum yang kiranya dapat dipandang sebagai dasar menguatkan putusan hukum pertama itu, oleh karenanya sudah cukup beralasan bagi Majelis Hakim Agung untuk membatalkan putusan Pengadilan a quo dimaksud.

3. Bahwa Hakim Banding telah secara amat keliru menguatkan putusan Hakim Pertama yang telah mengutip keterangan para saksi tidak sesuai dengan fakta yang terungkap di persidangan.

1. Bahwa pertimbangan Majelis Hakim khususnya pada halaman 10 (sepuluh), berdasarkan fakta-fakta sebagaimana dijelaskan dalam pertimbangan pada halaman 10 sampai dengan halaman 11 pada angka 1 sampai dengan angka 9 Majelis Hakim Tingkat Banding menilai bahwa berdasarkan fakta tersebut di atas maka perbuatan Terdakwa telah memenuhi unsur tindak pidana "Secara bersama-sama melakukan penadahan", sebagaimana diatur dalam Pasal 480 KUHP juncto Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP dan Terdakwa mengakui perbuatannya dan sangat menyesali perbuatannya oleh karena itu putusan Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh tersebut haruslah dikuatkan.

2. Bahwa oleh karena sampai saat sekarang Terdakwa masih berada dalam tahanan, maka Majelis Hakim perlu memerintahkan Terdakwa tetap ditahan.

Bahwa menurut hemat Pemohon Kasasi Majelis Hakim Tingkat Pertama dan Tingkat Banding hanya mengacu terhadap kesalahan Pemohon Kasasi saja tanpa mempertimbangkan alasan atau sebab/motif Pemohon Kasasi melakukan tindak pidana tersebut, dimana bahwa sesuai fakta di depan persidangan Pemohon Kasasi mengatakan dengan jujur bahwa Pemohon Kasasi menerima sepeda motor jenis Honda Vario tahun 2008 Nomor Polisi BL 4160 LO dari Sdr. Reza karena Sdr. Reza membutuhkan uang dan berniat menggadaikan sepeda motor tersebut kepada Pemohon Kasasi dan bukan menjualnya kepada Pemohon Kasasi.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 11 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

Bahwa benar Pemohon Kasasi dalam menerima gadai tersebut tidak mengecek secara lebih teliti karena Pemohon Kasasi sangat percaya bahwa Sdr. Reza tidak mungkin menipu Pemohon Kasasi karena Pemohon Kasasi dengan Sdr. Reza sudah berteman lama, akan tetapi Pemohon Kasasi sudah dikelabui oleh Sdr. Reza yang menggadaikan sepeda motor dari hasil curian temannya.

Bahwa Pemohon Kasasi merupakan korban penipuan dari Sdr. Reza yang telah menggadaikan barang curian kepada Pemohon Kasasi, dan disini Pemohon Kasasi merasa sangat dirugikan karena Pemohon Kasasi telah ditipu oleh Sdr. Reza karena niat Pemohon Kasasi ingin membantu temannya akan tetapi menjadi Pemohon Kasasi dalam perkara ini.

Dan dengan mendapatkan permasalahan tersebut Pemohon Kasasi kehilangan segala-galanya, dan kebebasan Pemohon Kasasi juga tergadaikan dengan posisi Pemohon Kasasi yang sekarang masuk ke dalam jeruji besi untuk mempertanggungjawabkan tindakan kecerobohannya karena membantu teman yang tidak terpikir di benak Pemohon Kasasi kalau teman Pemohon Kasasi sedang menipunya, dan itu semua karena ketidak hati-hatian dari Pemohon Kasasi dalam menolong dan membantu teman yang dalam kesusahan tanpa Pemohon Kasasi berpikir panjang dan berhati-hati dalam bertindak sehingga Pemohon Kasasi mengalami musibah dan imbasnya sampai dengan keluarga Pemohon Kasasi yang memikul akibatnya.

Bahwa Pemohon Kasasi berpendapat bahwa tujuan Majelis Hakim tidaklah semata-mata hanya memidana orang yang bersalah yang telah melakukan tindak pidana, tetapi mempunyai tujuan untuk mendidik agar yang bersangkutan dapat insyaf kembali ke jalan yang benar menjadi warga Negara yang baik sesuai dengan falsafah Pancasila. Sebenarnya dengan dipidana pokok berupa pidana penjara tanpa adanya pidana tambahan Pemohon Kasasi pun pasti akan insyaf dan tidak akan mengulanginya lagi, hal ini sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh Pemohon Kasasi kepada Hakim bahwa Pemohon Kasasi telah menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya kembali serta menyadari bahwa setiap perbuatan yang tujuannya ingin membantu haruslah berhati-hati dan jangan selalu gegabah dan harus berhati-hati dalam bergaul dan membantu teman dan Pemohon Kasasi masih memberikan nafkah anak dan istrinya melalui gaji yang diberikan oleh Negara kepadanya dan Pemohon Kasasi hanya mendapatkan penghasilan dari gaji menjadi TNI AD, serta kejadian tersebut

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 12 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

berada di luar kendali Pemohon Kasasi dimana pada awalnya Pemohon Kasasi hanya ingin membantu teman Pemohon Kasasi akan tetapi Pemohon Kasasi malah masuk ke dalam permasalahan yang tidak pernah Terdakwa pikirkan sebelumnya akan menimpa Pemohon Kasasi.

Bahwa kita semua ketahui manusia adalah tempatnya salah dan lupa sehingga wajar apabila seseorang melakukan kesalahan. Namun demikian kesalahan tersebut tidaklah fatal adanya, sehingga masih dapat diampuni kesalahan yang dilakukan oleh Pemohon Kasasi. Apabila kesalahan yang melakukan adalah residivis maka wajar apabila yang melakukan kesalahan tersebut tidak dapat diampuni karena dalam dirinya tidak ada efek jera meskipun telah dipidana, namun bagi Pemohon Kasasi kesalahan yang dilakukan dalam perkara ini tidak ada niat dalam diri Pemohon Kasasi sehingga wajib terletak pada dirinya sifat untuk diampuni atas kesalahannya. Bahwa menurut Pemohon Kasasi melihat Majelis Hakim menilai Pemohon Kasasi adalah seperti racun yang mana bila ditempatkan dimana pun dapat mempengaruhi masyarakat di sekitarnya, padahal kita ketahui bahwa manusia tempatnya salah dan lupa, serta manusia belajar dari kesalahan yang pernah dialami olehnya.

Bahwa setelah seseorang mengalami suatu peristiwa yang membuatnya harus dihadapkan ke persidangan maka orang tersebut akan menyadari kesalahan tersebut, dan seseorang tersebut berjanji dan berupaya untuk tidak mengulanginya kembali ataupun mengajak orang untuk melakukan kesalahan yang pernah diperbuatnya sehingga akan melukai rasa keadilan dan menggoyahkan tatanan kehidupan Disiplin Militer.

Disini bertentangan dengan analisa Majelis Hakim Tingkat Pertama dan Tingkat Banding yang memvonis Pemohon Kasasi jika dikembalikan ke dalam masyarakat Militer setelah menjalani pidana pokoknya maka kehadiran Terdakwa akan melukai rasa keadilan dan menggoyahkan tatanan kehidupan Disiplin Militer, dari mana dasar Majelis Hakim dapat menilai bahwa Pemohon Kasasi pasti akan mengulangi perbuatannya bahkan bisa jadi mengajak teman Pemohon Kasasi jika Pemohon Kasasi selesai menjalani pidananya sehingga menurut Majelis Hakim jika Pemohon Kasasi dikembalikan ke dalam masyarakat Militer setelah menjalani pidana pokoknya maka kehadiran Pemohon Kasasi akan melukai rasa keadilan dan menggoyahkan tatanan kehidupan Disiplin Militer.

Pemohon Kasasi akan mengutip peribahasa ِمسِب ِ هاللَّ ِن ٰمح هرلا ِميح هرلا "Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, sehebat apa pun manusia

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 13 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

itu. Manusia itu selalu berbuat salah dan lupa. Tentu saja manusia harus berusaha untuk menghindari kesalahan. Walaupun begitu, tetap saja ia akan berbuat salah juga, terlebih lagi dalam hal yang ia belum memiliki pengalaman. Orang yang sudah berpengalaman saja masih bisa berbuat salah, apalagi yang masih baru dan belum ada pengalaman".

Sikap manusia terhadap kesalahan bermacam-macam, tidak sedikit manusia yang tidak bisa menerima adanya kesalahan, baik yang ia lakukan sendiri ataupun yang dilakukan orang lain. Ada sebagian orang yang menyesal berlebihan dan berputus asa ketika dirinya melakukan suatu kesalahan yang serius. Ia akan terus menerus menyalahkan dirinya serta memutuskan untuk mundur dan tidak mau mencoba lagi.

Ada kalimat menarik dalam buku The Monk Who Sold His Ferrari. Biksu dalam cerita itu mendapat nasihat dari gurunya : "There are no mistakes in life, only lessons. There is no such thing as a negative experience, only opportunities to grow". Tidak ada kesalahan dalam hidup, yang ada hanya pelajaran. Tidak ada yang namanya pengalaman negatif, yang ada hanya peluang untuk berkembang dan memperbaiki kesalahan yang pernah ada. Bahwa atas perbuatan yang Pemohon Kasasi lakukan, Pemohon Kasasi menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Bahwa Pemohon Kasasi memohon kepada Majelis Mahkamah Agung Republik Indonesia mengindahkan/mengambil peribahasa yang Pemohon Kasasi utarakan bahwa manusia tepat salah dan lupa sebagai bahan pertimbangan Majelis dalam mengambil putusan untuk keadilan berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa, oleh karenanya Pemohon Kasasi akan memperbaiki kesalahan yang pernah ada dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah Pemohon Kasasi lakukan.

3. Bahwa Judex Facti Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh kurang mempertimbangkan hal-hal yang meringankan Pemohon Kasasi bahwa Pemohon Kasasi yang sudah mengabdi kepada bangsa dan Negara yang sudah sampai 17 (tujuh belas) tahun, hal ini membuktikan bahwa Pemohon Kasasi adalah Prajurit yang loyal dan setia terhadap TNI AD dan memegang teguh sendi-sendi keprajuritan. Dengan melihat lamanya berdinas apakah tidak ada penghargaan sama sekali terhadap Pemohon Kasasi sehingga dengan adanya kejadian seperti ini Pemohon Kasasi dijatuhi pidana tambahan berupa pemecatan dari Dinas Militer.

Bahwa Pemohon Kasasi dalam permohonan kasasinya tidak mempersoalkan tentang pidana pokok karena Pemohon Kasasi paham dan mengerti bahwa

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 14 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

perbuatan Pemohon Kasasi adalah salah dan pantas untuk dihukum penjara akan tetapi Pemohon Kasasi hanya tidak sependapat tentang pidana tambahan yang dibebankan kepada diri Pemohon Kasasi karena menurut Pemohon Kasasi dengan dijatuhi pidana pokok Pemohon Kasasi sudah insaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi dan Pemohon Kasasi akan menjadi mawas diri dan memilih di dalam bergaul dan membantu teman serta dengan masyarakat lingkungan dimana Terdakwa berdinas dan tinggal.

Menimbang, bahwa atas alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung ber-pendapat :

- Bahwa alasan kasasi dari Pemohon Kasasi/Terdakwa dapat dibenarkan, karena Judex Facti (in casu Pengadilan Militer Tinggi I Medan) telah salah menerapkan hukum, yakni dalam memberikan pertimbangan hukum dalam menjatuhkan pidana kepada Terdakwa in casu. Dalam putusannya Judex Facti telah menguatkan putusan Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh untuk seluruhnya, in casu Terdakwa dijatuhi pidana penjara selama 6 (enam) bulan dan pidana tambahan berupa pemecatan dari Dinas Militer, dengan pertimbangan antara lain bahwa Terdakwa pernah dijatuhi pidana oleh Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh dalam perkara penyalahgunaan Narkotika dengan putusan Nomor : 16-K/PMT-I/BDG/AD/I/2014 tanggal 12 Maret 2014, karenanya mendasari pertimbangan tersebut Terdakwa dipandang tidak layak lagi dalam Dinas Prajurit TNI, sehingga harus dijatuhi pidana tambahan pemecatan. Putusan Judex Facti tersebut tidak dapat dibenarkan dengan pertimbangan sebagai berikut :

- Putusan Judex Facti Nomor : 16-K/PMT-I/BDG/AD/I/2014 tanggal 12 Maret 2014 yang diajukan permohonan kasasi oleh Oditur Militer, tidak dapat dijadikan sebagai keadaan yang memberatkan pemidanaannya, karena perkara tersebut berdasarkan putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 135 K/MIL/2016 tanggal 1 September 2016 permohonan kasasi Oditur Militer tersebut dinyatakan ditolak, sehingga Terdakwa dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan dari segala dakwaan ;

- Mendasari keadaan-keadaan tersebut dapat ditegaskan bahwa pada diri Terdakwa tidak terdapat keadaan-keadaan yang menunjukkan ketidak layakan dan ketidakpantasan Terdakwa sebagai seorang Prajurit TNI ;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 15 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

Dengan demikian putusan Judex Facti in casu, tidak dapat dipertahankan lagi dan karenanya haruslah dibatalkan. Selanjutnya Judex Juris akan mengadili sendiri perkara in casu dengan berdasarkan pada fakta-fakta di persidangan ;

- Bahwa sebelum menjatuhkan pidana kepada Terdakwa in casu, perlu dipertimbangkan tentang keadaan-keadaan yang menyertai perbuatan Terdakwa in casu yakni :

Keadaan-keadaan yang meringankan :

- Terdakwa berterus terang sehingga memperlancar pemeriksaan di persidangan ;

- Terdakwa belum pernah dihukum ;

- Terdakwa berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya ; Keadaan-keadaan yang memberatkan :

- Perbuatan Terdakwa dapat mencemarkan nama baik Kesatuan di mata masyarakat ;

- Perbuatan Terdakwa dapat menggoyahkan disiplin Prajurit di Kesatuan ; - Berdasarkan keadaan-keadaan tersebut, maka Terdakwa masih dipandang

layak dan pantas untuk tetap berada dalam Dinas Prajurit TNI, karenanya kepada Terdakwa masih dapat diberikan kesempatan untuk mengabdi dan memperbaiki diri dalam mengemban tugas sebagai Prajurit TNI. Dengan demikian penjatuhan pidana tambahan pemecatan dalam putusan Judex Facti in casu, harus ditiadakan ;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi/Terdakwa dan membatalkan putusan Pengadilan Militer Tinggi I Medan Nomor : 66-K/ PMT-I/BDG/AD/V/2016 tanggal 23 Juni 2016 yang menguatkan putusan Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh Nomor : 35-K/PM.I-01/AD/I/2016 tanggal 11 April 2016, untuk kemudian Mahkamah Agung mengadili sendiri perkara ini dengan amar putusan sebagaimana yang akan disebutkan di bawah ini ;

Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa dipidana, maka Terdakwa dibebani untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini ;

Memperhatikan Pasal 480 Ke-1 juncto Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer, Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana yang telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 16 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan ;

MENGADILI

Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi/Terdakwa : YUDI FRANSISCO, Serda NRP. 31990341450978 tersebut ;

Membatalkan putusan Pengadilan Militer Tinggi I Medan Nomor : 66-K/ PMT-I/BDG/AD/V/2016 tanggal 23 Juni 2016 yang menguatkan putusan Pengadilan Militer I-01 Banda Aceh Nomor : 35-K/PM.I-01/AD/I/2016 tanggal 11 April 2016 ;

MENGADILI SENDIRI

1. Menyatakan Terdakwa tersebut di atas yaitu : YUDI FRANSISCO, Serda NRP. 31990341450978, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana : "Secara bersama-sama melakukan penadahan" ; 2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana

penjara selama 6 (enam) bulan ;

3. Menetapkan masa penahanan yang dijalani oleh Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan ;

4. Menetapkan barang bukti berupa surat :

a. 2 (dua) lembar Surat Perintah Kapolresta Banda Aceh Nomor : SP.Sita/ 215/IX/2015/Reskrim, tanggal 12 September 2015 tentang Melakukan penyitaan yang ada kaitannya dengan tindak pidana yang diduga dilakukan Terdakwa atas nama Sdr. Zulfikar 2) dan Sdr. Zainal Arifin (Saksi-1).

b. 1 (satu) lembar foto copy STNK sepeda motor merek Honda jenis Vario Nomor Polisi BL 4160 LO warna merah tahun 2008 Nomor Rangka MH1JF12148K274603, Nomor Mesin JF121279098.

Tetap dilekatkan dalam berkas perkara.

Membebani Terdakwa tersebut untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini sebesar Rp2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah) ;

Demikianlah diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Kamis tanggal 08 September 2016 oleh Dr. H. Andi Abu Ayyub Saleh, S.H., M.H., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, Dr. Drs. Burhan Dahlan, S.H., M.H. dan Dr. Drs. H. Dudu Duswara Machmudin, S.H., M.Hum. Para Hakim Agung sebagai Anggota, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari dan tanggal itu juga oleh Ketua Majelis dengan dihadiri oleh Para Hakim Anggota

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 17 dari 17 halaman Putusan Nomor 213 K/MIL/2016

tersebut, serta Rustanto, S.H., M.H. Panitera Pengganti dan tidak dihadiri oleh Pemohon Kasasi/Terdakwa dan Oditur Militer.

Hakim-Hakim Anggota : K e t u a :

ttd./Dr. Drs. Burhan Dahlan, S.H., M.H. ttd./Dr. H. Andi Abu Ayyub Saleh, S.H., M.H. ttd./Dr. Drs. H. Dudu Duswara Machmudin, S.H., M.Hum.

Panitera Pengganti : ttd./Rustanto, S.H., M.H.

Untuk salinan : MAHKAMAH AGUNG R.I.

A.n. Panitera

Panitera Muda Pidana Militer

H. Mahmud, S.H., M.H. Kolonel Chk NRP. 34166

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Visi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang adalah “Menjadi Fakultas Sains dan Teknologi terkemuka dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan

11/33/PBI/2009 tentang pelaksanaan GCG Bagi Bank Umum, Bank Syariah dan UUS dalam Pasal 2 dijelaskan bahwa pelaksanaan pelaksanaan prinsip- prinsip GCG minimal

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai persepsi mahasiswa perempuan tentang tayangan serial drama Korea dengan mengambil tujuh dari delapan

Untuk itu akan dilakukan penelitian nilai delay untuk mengetahui kinerja dari jaringan nirkabel 4G di Surabaya, agar didapatkan hasil performansi dari TCP/IP, sehingga

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1 tingkat konsep diri berada pada kategori sedang dengan prosentase 68% sebanyak 34 anak asuh; 2 tingkat dukungan sosial berada pada kategori

Dengan penyelesaian pembiayaan Non Performing Financing (NPF) menggunakan metode penjadualan kembali bank tidak diperbolehkan menambah jumlah tagihan pembiayaan yang

Penelitian sebelumnya yang menggunakan ZPT Rootone F diantaranya Darliana (2006) menunjukkan bahwa pemberiaan Rootone F dengan konsentrasi 100 mg/l air dapat

Pada siklus II aktivitas guru kembali mengalami peningkatan yaitu pada pertemuan pertama siklus II memperoleh skor 32 dengan persentase 89% berkategori amat baik,