BAB 2 LANDASAN TEORI. orang lain serta berhubungan dengan yang lain merupakan salah satu kebutuhan untuk

Teks penuh

(1)

  10 LANDASAN TEORI

2.1 Komunikasi

Pada hakekatnya sebagai mahkluk sosial tentunya kita tak dapat terlepas dari orang lain serta berhubungan dengan yang lain merupakan salah satu kebutuhan untuk mempertahankan hidup. Saling membutuhkan keberadaan individu lain untuk memenuhi kebutuhan, berbagi, serta melengkapi menjadi hal mendasar kita untuk berkomunikasi satu sama lainnya.

Komunikasi menjadi sarana kita untuk bertukar informasi, untuk membujuk serta mempengaruhi yang lain serta menjadi sarana utama dalam berhubungan sosial dengan sesama. Dapat berkomunikasi dengan baik menjadi salah satu unsur penting dalam berhubungan secara sosial.

Komunikasi sendiri merupakan proses pernyataan antar manusia yang dinyatakan dalam bentuk pikiran atau perasaaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya.

Dapat menyampaikan serta memahami isi pesan dari satu orang kepada orang lain ini yang dinamakan proses sosial. Maka ilmu komunikasi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang termasuk dalam kelompok ilmu-ilmu sosial menjadi sebuag ilmu yang tidak akan terputus.

(2)

2.1.1 Pengertian Komunikasi

Menurut Bernard Berelson dan Gary A Steiner,” komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, ketrampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan symbol-simbol, kata-kata, gambar figure, grafik, dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang disebut komunikasi.

Lain halnya dengan Everett M. Rogers, “ komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.”(Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, Hal. 62)

Sedangkan menurut pengertian Shanon dan Weaver ( dalam Wiryanto, 2004), komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain, sengaja atau tidak sengaja dan tidak terbatas pada bentuk komunikasi verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni, dan teknologi.

Harold Lasswell mengatakan bahwa “ cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?”.

Berdasarkan Definisi Lasswell ini dapat diturunkan 5 unsur komunikasi yang saling bergantung satu sama lain yaitu:

1. Sumber (Source)

(3)

3. Media

4. Penerima (Receiver)

5. Efek (Dampak)

Merangkum dari beberapa paradigma diatas , secara sederhana penulis menarik benang merah bahwa proses komunikasi merupakan serangkaian proses yang terdiri dari pihak komunikator yang membentuk (encode) pesan dan menyampaikannya melalui saluran tertentu (media) kepada pihak penerima (decode) yang menimbulkan efek tertentu (effect).

Serta sebagaimana yang dikemukakan oleh John R.Wenburg dan William W.Wilmot juga Kenneth K.Sereno dan Edward M.Bodaken, setidaknya ada tiga kerangka pemahaman mengenai komunikasi, yakni komunikasi sebagai tindakan satu-arah, komunikasi sebagai interaksi dan komunikasi sebagai transaksi. ”(Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, Hal. 61)

2.1.2 Fungsi Komunikasi

Deddy Mulyana dalam bukunya Ilmu komunikasi suatu pengantar mengutip Kerangka berpikir William I. Gorden mengenai fungsi-fungsi komunikasi yang dibagi menjadi empat bagian. Fungsi-fungsi-fungsi suatu peristiwa komunikasi (communication event) tampaknya tidak sama sekali independen, melainkan juga berkaitan dengan fungsi-fungsi lainnya, meskipun

(4)

terdapat suatu fungsi dominan. Fungsi Komunikasi menurut William I Gorden yaitu :

1. Fungsi Komunikasi Sosial

Komunikasi itu penting dalam membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, kelangsungan hidup untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan.Pembentukan konsep diriKonsep diri adalah pandangan kita mengenai siapa diri kita dan itu hanya bisa kita peroleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepada kita. Pernyataan eksistensi diri. Orang berkomunikasi untuk menunjukkan dirinya eksis. Inilah yang disebut aktualisasi diri atau pernyataan eksistensi diri. Ketika berbicara, kita sebenarnya menyatakan bahwa kita ada.

2. Fungsi Komunikasi Ekspresif

Komunikasi ekspresif dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi kita) melalui pesan-pesan non verbal.

3. Fungsi Komunikasi Ritual

Komunikasi ritual sering dilakukan secara kolektif. Suatu komunitas sering melakukan upacara-upacara berlainan sepanjang tahun dalam acara tersebut orang mengucapakan kata2 dan menampilkan perilaku yang bersifat simbolik.

(5)

4. Fungsi Komunikasi Instrumental

Komunikasi instrumental mempunyai beberapa tujuan umum: menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan dan juga untuk menghibur (persuasif) Suatu peristiwa komunikasi sesungguhnya seringkali mempunyai fungsi-fungsi tumpang tindih, meskipun salah satu fungsinya sangat menonjol dan mendominasi.

2.2 Komunikasi Massa

Abad ini disebut sebagai abad komunikasi massa. Komunikasi telah mencapai suatu tingkat dimana orang mampu berbicara dengan manusia secara serentak dan serempak. Terdapat berbagai macam pendapat tentang pengertian komunikasi massa. Ada yang menilai dari segmen khalayaknya, dari segi mediannya ada pula dari sifat pesannya.

2.2.1 Pengertian Komunikasi Massa

Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa (media cetak dan elektronik). Antara lain media elektronik (televisi, radio), media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), buku dan film. Dengan demikian, media massa adalah alat-alat dalam komunikasi yang bisa menyebarkan pesan secara serempak, cepat kepada audience yang luas dan heterogen. Bahkan media massa mampu menyebarkan pesan pada waktu yang serempak.

Definisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukan oleh Bittner (Ardianto, 2004 : 3), yakni : komunikasi massa pada sejumlah besar

(6)

orang (mass communication is messages communicated through a mass medium to a large number of people). Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa komunikasi massa itu harus menggunakan media massa.

Definisi komunikasi massa yang lebih rinci dikemukakan oleh ahli komunikasi lain, yaitu Gerbner, komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang berkesinambungan serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industry (Ardianto, 2004 : 4).

Sementara itu, menurut Jay Black dan Frederick C (Nurdin, 2004 : 12) disebutkan bahwa komunikasi massa adalah sebuah proses dimana pesan-pesan yang diproduksi secara massal/tidak sedikit itu disebarkan kepada massa penerima pesan yang luas, anonim, dan heterogen. Luas disini berarti lebih besar daripada sekedar kumpulan orang yang berdekatan secara fisik sedangkan anonim berarti individu yang menerima pesan cenderung asing satu sama lain. Heterogen berarti pesan dikirim kepada orang-orang dari berbagai macam status, pekerjaan, dan jabatan dengan karakteristik yang berbeda satu sama lain dan bukan penerima pesan yang homogen.

Berdasarkan pengertian tentang komunikasi massa yang sudah dikemukakan oleh para ahli komunikasi massa adalah komunikasi yang menggunakan media massa modern (media cetak dan elektronik) dalam penyampaian informasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak (komunikan) heterogen dan anonim sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak.

(7)

2.2.2 Karakteristik Komunikasi Massa

Definisi-definisi komunikasi massa itu secara prinsip mengandung suatu makna yang sama, bahkan antara satu definisi dengan definisi lainnya dapat dianggap saling melengkapi. Melalui definisi itu pula kita dapat mengetahui karakteristik komunikasi massa adalah sebagai berikut (Ardianto,2004:7-13): a. Komunikasi Terlembagakan

Ciri komunikasi yang pertama adalah komunikatornya. Kita sudah memahami bahwa komunikasi massa itu menggunakan media massa, baik media cetak maupun media elektronik.

b. Pesan Bersifat Umum

Komunikasi massa itu bersifat terbuka, artinya komunikasi massa itu ditujukan untuk semua orang dan tidak ditujukan untuk sekelompok orang tertentu. Oleh karenanya pesan komunikasi massa bersifat umum. Pesan komunikasi massa dapat berupa fakta, peristiwa, opini. Namun tidak semua fakta dan peristiwa yang terjadi di sekeliling kita dapat dimuat dalam media massa. Pesan komunikasi massa yang dikemas dalam bentuk apapun harus memenuhi kriteria penting atau menarik, atau penting sekaligus menarik, bagi sebagian besar komunikan.

c. Komunikannya Anonim dan Heterogen

Komunikan pada komunikasi massa bersifat anonim dan heterogen. Dalam komunikasi massa, komunikator tidak mengenal komunikannya (anonim), karena komunikasinya menggunakan media dan tidak tatap muka. Disamping anonim, komunikan komunikasi massa adalah heterogen, karena terdiri dari berbagai jenis lapisan masyarakat yang berbeda, yang dapat dikelompokkan berdasarkan

(8)

faktor usia, jenis kelamin, pekerjaan, latar belakang budaya, agama dan tingkat ekonomi.

d. Media Massa Menimbulkan Keserempakan

Kelebihan komunikasi massa dibandingkan komunikasi lainnya dalah jumlah sasaran khalayak atau komunikan yang dicapai relatif banyak dan tidak terbatas. Bahkan lebih dari itu, komunikan yang tersebut secara serempak pada waktu yang bersamaan memperoleh pesan yang sama pula.

e. Komunikasi Mengutamakan isi ketimbang Hubungan

Setiap komunikasi melibatkan unsure isi dan unsure hubungan sekaligus, dalam komunikasi massa, pesan harus disusun sedemikian rupa berdasarkan sistem tertentu dan disesuaikan dengan karakteristik media massa yang akan digunakan. f. Komunikasi Massa Bersifat satu Arah

Secara singkat komunikasi massa itu adalah komunikasi dengan menggunkan atau melalui media massa. Karena melalui media massa maka komunikator dan komunikannya tidak dapat melakukan kontak langsung. Komunikator aktif menyampaikan pesan, komunikan pun aktif menerima pesan, namun diantara keduanya tidak dapat melakukan dialog. Dengan demikian, komunikasi massa itu bersifat satu arah.

g. Stimulus Alat Indera Terbatas

Ciri komunikasi massa lainnya yang dianggap salah satu kelemahannya adalah stimulasi alat indera yang “terbatas”. Dalam komunikasi massa, stimulus indera bergantung pada jenis media massa. Dalam media massa televisi, kita menggunakan indera penglihatan dan indera pendengaran.

(9)

h. Umpan Balik Tertunda (Delayed)

komponen umpan balik atau yang lebih popular dengan sebutan feedback merupakan faktor penting dalam membentuk komunikasi apapun. Efektifitas komunikasi sering kali dapat dilihat dari feedback yang disampaikan oleh komunikan. Umpan balik dalam komunikasi massa tidak dapat secara langsung menerima reaksi atau tanggapan dari komunikan.

2.2.3 Fungsi Komunikasi Massa

Fungsi komunikasi massa yang dikemukan oleh Harold D Lasswell yakni, (1) Fungsi Pengawasan (2) Fungsi Korelasi (3) Fungsi Pewarisan Sosial. Sama seperti pendapat Lasswell, Charles Robert Wright (1998) menambah fungsi hiburan dalam fungsi komunikasi massa (Nurudin, 2004 : 62-63).

Sedangkan fungsi komunikasi massa Dominick, dalam bukunya The Dinamics of Mass Communications adalah sebagi berikut (Ardianto, 2004: 16-18):

1. Surveillance (Pengawasan)

Fungsi pengawasan komunikasi massa dibagi dalam bentuk utama:

a. Pengawasan Peringatan yaitu jenis pengawasan yang dilakukan oleh media untuk menyampaikan informasi berupa ancaman yang perlu diketahui oleh khlayak.

b. Fungsi Pengawasan Instrumental adalah penyampaian atau penyebaran informasi yang memiliki kegunaan atau dapat membantu khalayk dalam kehidupan sehari hari.

(10)

2. Interpretation (Penafsiran)

Media massa tidak hanya memasok fakta dan data, tetapi juga memberi penafsiran terhadap kejadian-kejadian penting. Tujuan penafsiran media ingin mengajak para pembaca atau pemirsa untuk memperluas wawasan dan menbahasnya lebih lanjut.

3. Linkage (Pertalian)

Media massa dapat menyatukan anggota masyarakat dengan beragam, sehingga membentuk linkage (pertalian) berdasarkan kepentingan yang sama tetapi terpisah secara geografis diperhatikan atau dihubungkan oleh media.

4. Transmission of Value (Penyebaran nilai-nilai)

Fungsi ini disebut socialization (sosialisasi). Sosialisasi mengacu kepada cara, dimana individu mengadopsi perilaku dan nilai kelompok. Media massa mewakili gambaran masyarakat itu ditonton, didengar dan dibaca. Media massa memperlihatkan kepada kita bagaimana mereka bertindak dan pa yang diharapkan mereka dengan perkataan lain, media mewakili kita dengan model peran yang kita amati dan harapan untuk menirunya.

5. Entertainment (Hiburan)

Sulit dibantah lagi, bahwa kenyataanya hampir semua media menjalankan fungsi hiburan. Televisi banyak memutar acara hiburan seperti acara kuis, reality show, sinetron.

(11)

2.3 Media Massa

Jika khalayak tersebar tanpa diketahui dimana mereka berada, maka biasanya digunakan media massa. Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio, dan televisi.

2.3.1 Pengertian Media Massa

Kata “media” adalah bentuk jamak dari kata “medium”. Medium adalah cara atau alat yang menyampaikan sebuah pesan sampai kepada khalayak (Miller, 2010: 9).

Media massa adalah suatu istilah yang mulai dipergunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas.

Peristiwa yang terjadi di suatu negara, akan segera mempengaruhi perkembangan masyarakat di negara lain. Atau dengan kata lain, menurut istilah John Naisbitt dan Patricia Aburdence dalam bukunya Megatrend 2000 (1991), dunia kini telah menjadi ‘global village’.

(12)

2.3.2 Jenis Jenis Media Massa

1. Media Massa Cetak (Printed Media).

Media massa yang dicetak dalam lembaran kertas. Isi media massa umumnya terbagi tiga bagian atau tiga jenis tulisan: berita, opini, dan feature.

2. Media Massa Elektronik (Electronic Media)

Jenis media massa yang isinya disebarluaskan melalui suara atau gambar dan suara dengan menggunakan teknologi elektro, seperti radio, televisi, dan film.

3. Media Online (Online Media, Cybermedia)

yakni media massa yang dapat kita temukan di internet (situs web).

2.3.3 Pengaruh Media Massa

Komunikasi massa harus mempunyai efek menambah pengetahuan, mengubah sikap, dan menggerakan perilaku kita. Efek yang terjadi pada komunikasi tersebut terdapat pada tiga aspek. Ketiganya adalah efek kognitif, afektif, dan behavioral.

1. Efek Kognitif

yaitu efek yang timbul bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami atau dipersepsikan khalayak. Efek ini berkaitan dengan transformasi pengetahuan, ketrampilan, kepercayaan atau informasi.

(13)

2. Efek Afektif

yaitu efek yang timbul apabila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi atau dibenci khalayak. Efek ini hubunganya dengan emosi, sikap dan nilai.

3. Efek Behavioral

yaitu efek yang merujuk pada perilaku nyata yang diamati, yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan atau kebiasaan berperilaku. (Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (2002,219))

2.4 Televisi

Televisi sebagai produk maju berkembang pesat sejalan dengan perkembangan zaman. Televisi itu sendiri telah banyak menyentuh kepentingan masyarakat dunia. Televisi menciptakan suatu ketergantungan serta kebiasaan dengan menciptakan suasana tertemtu sehingga pemirsanya dapat menghabiskan waktu untuk menonton.

2.4.1 Pengertian Televisi

Televisi merupakan paduan radio (broadcast) dan film (moving picture). Pemirsa dirumah tidak mungkin menangkap siaran televisi kalau tidak ada unsur-unsur radio dan tidak mungkin dapat melihat gambar-gambar yang bergerak pada layar televisi jika tidak ada unsur-unsur film.

(14)

Suatu program siaran televisi dapat dilihat dan didengar oleh pemirsa karenadipancarkan oleh pemancar. Dalam segi ini, prinsip pemancaran dan prinsip penangkapan oleh pemancar televisi adalah sama dengan prinsip radio. Sering gambar pada layar televisi mendadak menjadi jelek sedang suaranya tetap baik. Disini jelas bahwa segi auditifnya baik dan pada siaran televisi terdapat dalam unsur radio.

Sesuai dengan karakteristiknya televisi adalah salah satu bentuk media massa yang memancarkan “suara” dan “gambar” yang berarti sebagai reproduksi dari kenyataan yang disiarkannya melalui gelombang-gelombang elektronik, sehingga dapat diterima oleh pesawat-pesawat penerima dirumah

Sedangkan menurut Effendy (1986:197) bahwa Televisi terdiri dari istilah “Tele” artinya far, off, jauh ditambah dengan “Vision” yang berarti penglihatan. Pengertian televisi menurut Effendy menerangkan bahwa bila dipandang dari segi “jauh”-nya diusahakan oleh prinsip radio dan segi “penglihatannya oleh gambar. Tanpa adanya gambar pemirsa tidak melihat apa-apa sedangkan penonton dapat menikmati siaran televisi kalau televisi dapat memancarkan gambar dan gambar yang dipancarkan adalah gambar yang bergerak.

2.4.2 Fungsi Televisi

Televisi sebagai media komunikasi audiovisual memiliki 3 fungsi utama, yakni fungsi informasi, pendidikan serta hiburan. (Effendy, 2003:24)

(15)

1. Fungsi Informasi (The Information Function)

Televisi dalam melaksankan fungsinya sebagai sarana informasi tidak hanya dalam bentuk siaran pandang mata, yaitu berita yang dibacakan penyiar dilengkapi gambar-gambar factual, akan tetapi juga menyiarkan bentuk lain seperti ceramah, diskusi dan komentar. Televisi dianggap sebagai media massa yang mampu menyiarakan informasi yang sangat memuaskan. Hal ini didorong oleh 2 faktor yang terdapat dalam media massa audiovisual tersebut yaitu immediacy dan realism.

Immediacy, mencakup pengertian langsung dan dekat. Peristiwa yang akan disiarkan oleh stasiun televisi dapat dilihat dan didengar oleh pemirsa pada saat peristiwa itu berlangsung.

Realism, mengandung makna kenyataan. Ini berarti bahwa stasiun televisi menyiarkan informasinya secara audio dan visual dengan perantaran mikrofon dan kamera apa adanya sesuai dengan kenyataan, jadi para pemirsa melihat dan mendengar sendiri. Dalam menyiarkan informasi mengenai pidato presiden istana negara misalnya, para pemirsa melihat sendiri wajah presiden dan mendengar sendiri suaranya. Nyata, tidak seperti ketika membaca surat kabar mengenai peristiwa yang sama, yang telah dahulu diolah oleh wartawan.

2. Fungsi Pendidikan (The Educational Function)

Sebagai media komunikasi massa televisi merupakan sarana yang ampuh untuk menyiarakan acara pendidikan kepada khalayak yang jumlahnya begitu banyak secara simultan. Seduai dengan makna pendidikan, yakni

(16)

meningkatkan pengetahuan dan penalaran masyarakat, televisi menyiarkan acara-acara tertentu secara teratur, misalnya pelajaran bahasa, matematika dll.

Selain acara pendidikan yang dilakukan secara berkesinambungan diatas, stasiun televisi juga menyiarkan berbagai acara secara implicit mengandung pendidikan. Acara-acara tersebut antara lain sandiwara, fragmen, ceramah, film dan lainnya yang dinamakan pendidikan informal.

3. Fungsi Hiburan (The Entertainment Function)

Sebagai media yang melayani kepentingan masyarakat luas, fungsi hiburan yang melekat pada televisi tampaknya lebih dominan daripada fungsi-fungsi lainnya, sebagaian besar dari alokasi waktu massa siaran televisi diisi oleh acara-acara hiburan seperti lagu, film, sinetron, dan lainnya. Fungsi hiburan sangat penting, karena ia menjadi salah satu kebutuhan manusia untuk mengisi waktu mereka dari aktivitas di luar rumah.

Televisi hadir dengan berbagai isi serta konten program yang terus memenuhi kebutuhan khalayak.

2.5 Program Berita Televisi

Program acara televisi kategori berita adalah program yang berpengaruh besar dalam perkembangan pola pikir manusia, karena pertukaran informasi berita dari belahan dunia membuat manusia berkembang menjadi manusia berkualitas.

(17)

2.5.1 Pengertian Berita

Dalam buku Here’s the News yang dihimpun oleh Paul De Maeseneer, berita didefinisikan sebagai informasi baru tentang kejadian yang baru, penting, dan bermakna (signifikan), yang berpengaruh pada para pendengarnya serta relevan dan layak dinikmati oleh mereka. Definisi berita tersebut mengandung unsur-unsur yang :

a. Baru dan penting,

b. Bermakna dan berpengaruh, c. Menyangkut hidup orang banyak, d. Relevan dan menarik.

Definisi lain dari berita, menurut Doug Newson dan James A. Wollert dalam Media Writing : News for the Mass Media (1985:11) mengemukakan dalam definisi sederhana, berita adalah apa saja yang ingin dan perlu diketahui orang atau lebih luas lagi oleh masyarakat (dalam Sumadiria, 2005:64). Dengan melaporkan berita, media massa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai apa yang mereka butuhkan.

Setelah merujuk kepada beberapa definisi diatas, meskipun berbeda-beda namun terdapat persamaan yang mengikat pada berita, meliputi : menarik perhatian, luar biasa dan terbaru. Karena itu, bisa disimpulkan bahwa berita adalah laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang benar, menarik dan atau penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media berkala seperti surat kabar, radio, televisi, atau media online internet( Sumadiria, 2005:65)

(18)

2.5.2 Jenis Program Berita

Dalam buku Jurnalistik Televisi, Menjadi Reporter Profesional, berita (dalam hal ini program acara news), pada umumnya dapat dikategorikan menjadi tiga bagian, yaitu hard news (Berita berat), soft news (berita ringan) dan investigative reports (laporan penyelidikan). Pembedaan terhadap tiga kategori tersebut didasarkan pada jenis peristiwa dan cara-cara penggalian data.

(1) Hard News

Hard News (berita berat) adalah berita tentang peristiwa yang dianggap penting bagi masyarakat, baik sebagai individu, kelompok maupun organisasi. Berita tersebut misalnya tentang mulai diberlakukannya suatu kebijakan baru pemerintah. Tentu saja ini menyangkut kepentingan orang banyak, sehingga harus segera diberitakan.

Seorang reporter yang pandai akan menginformasikan berita tersebut lebih awal sebelum kebijakn itu diturunkan. Tentu dengan menhetengahkan sumber-sumber terpercaya dan dapat meyakinkan pemirsa.

(2) Soft News

Soft News ( Berita Ringan) seringkali juga disebut dengan feature yaitu berita yang tidak terkait dengan aktualitas namun memiliki daya tertarik bagi pemirsanya. Berita ringan seperti ini menitikberatkan pada hal-hal yang dapat menakjubkan bahkan mengherankan pemirsa. Dapat juga menimbulkan kekhawatiran atau juga menimbulkan simpati. Objeknya dapat berupa manusia, hewan, benda, tempat atau apa saja yang dapat menarik perhatian pemirsa.

(19)

Bagi televisi , berita ringan sangat diperlukan. Secara psikologis, pemirsa yang mendapatkan sajian berita berat dari awal hingga akhir akan merasa tegang.

(3) investigative News

Investigative Report (laporan penyelidikan) adalah jenis berita yang ekslusif. Datanya tidak bisa diperoleh di permukaan, tetapi harus dilakukan berdasarkan penyelidikan ini sangat menarik, karena cara mengungkapkannya pun tidak mudah. Seorang reporter untuk dapat melakukan tugas ini harus memiliki banyak sumber orang-orang dalam yang mendapat jaminan untuk tidak terekspos karena keselamtan diri mereka.

Media televisi akan lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan berita yang sama dibandingkan media cetak. Televisi membutuhkan gambar, bahkan wajah orang yang diwawancarai. Diwawancarai agar dapat terhindar dari kemungkinan bahaya atas apa yang ia sampaikan dalam wawancara televisi.Muda(2005:40-43).

2.5.3 Nilai Berita

Nilai berita (News Value) merupakan acuan yang dapat digunakan oleh para jurnalis, yakni para reporter dan editor, untuk memutuskan fakta yang pantas dijadikan berita dan memilih mana yang lebih baik. Kriteria mengenai nilai berita merupakan patokan berarti bagi reporter. Dengan kriteria tersebut, seorang reporter dapat dengan mudah mendeteksi mana peristiwa yang harus diliput dan dilaporkan, dan mana peristiwa yang tak perlu diliput dan harus dilupakan. Kriteria nilai berita juga sangat penting bagi para editor dalam

(20)

mempertimbangkan dan memutuskan, mana berita terpenting dan terbaik untuk dimuat, disiarkan, atau ditayangkan melalui medianya kepada masyarakat luas.

Nilai berita adalah karakteristik sebuah peristiwa yang dapat diberikan atau dapat dipublikasikan di media massa yaitu (M. Romli, 2008;90-92) :

1. Aktual, yakni hangat atau baru saja terjadi. 2. Faktual, nyata atau benar- benar terjadi.

3. Penting, yakni menyangkut orang-orang penting artis atau tokoh ternama. 4. Menarik, yakni mengundang perhatian orang untuk melihat.

Sebuah peristiwa yang layak untuk menjadi berita tergantung pada nilai berita yang terkandung di dalamnya, serta kemampuan jurnalis untuk mengubah peristiwa tersebut menjadi peristiwa yang bermakna.

2.6 Teori S-O-R

Teori ini dilandari suatu tanggapan bahwa organisme menghasilkan perilaku tertentu jika ada kondis stimulus tertentu. Dalam proses perubahan sikap, maka sikap komunikan hanya dapat berubah apabila stimulus yang menerpanya benar-benar melebihi dari apa yang pernah dialaminya.

Elemen-elemen utama dari teori ini ialah Pesan (Stimulus), Penerima (Organisme), dan Efek (Respon). Prinsip Stimulus Respon pada dasarnya merupakan suatu prinsip belajar yang sederhana dimana efek merupakan reaksi terhadap stimuli tertentu. Dengan demikian, seseorang dapat mengharapkan atau memperkirakan suatu kaitan erat antara pesan-pesan media dan reaksi audiens (Djuarsa, 1999:188)

(21)

Menurut Prof.Dr.Mar’at dalam bukunya “ sikap manusia, perubahan serta pengukurannya mengemukakan bahwa untuk mengenal sikap baru, dikenal tiga variabel penting yaitu:

a. Perhatian b. Pengertian c. Penerimaaan

Berdasarkan uraian diatas, maka proses komunikasi dalam teori S-O-R ini dapat digambarkan sebagai berikut:

2.8 Gambar Teori SOR

Gambar diatas menunjukkan bahwa perubahan sikap tergantung pada proses yang terjadi pada individu. Stimulus atau pesan yang disampaikan kepada komunikan mungkin diterima atau mungkin di tolak. Komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian dari komunikan. Setelah komunikan mengolahnya dan menerimanya, maka terjadilah kesediaan untuk mengubah sikap.

Stimulus Organisme:

Perhatian Pengertian Penerimaan

(22)

Jika substansi teori diatas dikaitkan dengan perbandingan minat menonton dapat dikemukan bahwa:

1. Stimulus ialah ransangan yaitu isi program DAAI Mata Hati sebagai program news dengan konten humanis, berupa komunikator dan isi pesan.

2. Organisme ialah komunikan yaitu Anggota Tzu Ching Jakarta.

3. Response ialah efek atau dampak yang ditimbulkan stimulus dapat merubah sikap yaitu timbulnya perasaan suka serta minat terhadap news DAAI Mata Hati yang mendorong komunikan untuk menonton program news tersebut, yang kemudian diwujudkan dengan tindakan komunikan untuk memilih menonton news Mata Hati di Daai TV.

Dampak yang ditimbulkan dapat diklasifikasikan menurut kadarnya, sebagai berikut: a) Dampak Kognitif adalah yang timbul pada komunikan yang menyebabkan dia

menjadi tahu atau mengikat intelektualitasnya. Di sini pesan yang disampaikan komunikator ditujukan kepada pikiran si komunikan. Dengan kata lain, tujuan komunikator hanyalah berkisar pada upaya mengubah pikiran si komunikan. b) Dampak Afektif lebih tinggi kadarnya daripada dampak kognitif. Disini tujuan

komunikator bukan hanya sekedar supaya komunikan tahu tapi tergerak hatinya, menimbulkan perasaan tertentu, misalnya perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah dan sebagainya.

c) Dampak behavioral yakni dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan. (Effendy, 2004:7).

Penelitian ini membahas dampak pada tahap behavioral, dengan stimulus isi program DAAI Mata Hati dari tema hingga kemasan secara humanis serta sejauh mana

(23)

mempengaruhi minat dari diri seseorang (anggota Tzu Ching Jakarta) atau menggerakkan hati hingga tindakan menonton yang timbul dalam diri komunikan.

2.7 Minat Menonton 2.7.1 Pengertian Minat

Bentuk konkret dari efek adalah perubahan sikap, pendapat, kelakuan dan tumbuhnya minat yang merupakan akibat rangsangan yang menyentuhnya baik bersifat langsung maupun lewat media massa.

Minat menurut Umi Chulsum, dalam kamus besar Bahasa Indonesia ialah keinginan yang kuat, gairah, kecenderungan hati yang sangat tinggi terhadap sesuatu. Minat merupakan momen dari kecenderungan-kecenderungan yang terarah secara intensif kepada suatu objek yang dianggap penting. Pada minat ini terdapat pengenalan (kognitif), emosi(afektif) dan kemampuan (konatif), baik dalam perubahan sikap maupun tindakan.

Sedangkan menurut Hurlock (1978:115), minat selalu berkaitan dengan bobot emosional yang akan menentukan seberapa lama minat akan bertahan dan kepuasan yang diperoleh dari minat itu. Jadi dapat dikatakan bahwa minat sangat dipengaruhi oleh perangsang atau stimulus.

Jadi dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa minat adalah sikap yang dapat menimbulkan perhatian, pemuasan rasa keingintahuan dan hasrat untuk melakukan sesuatu dalam diri seseorang yang muncul akibat adanya objek tertentu.

(24)

1. Minat tidak dibawa sejak lahir. Minat timbul dari perasaaan senang terhadap suatu objek.

2. Minat dapat berubah-ubah ( situasional dan temporer).

3. Minat tidak berdiri sendiri, senantiasa mengandung reaksi dengan stimulus maupun objek.

4. Objek minat itu dapat merupakan suatu hal tertentu, tetapi dapat juga merupakan kumpulan-kumpulan dari hal-hal tersebut. (Wijaya,1993:45).

Berbicara tentang minat di pihak komunikan, dapat ditemukan bahwa minat akan timbul bila ada unsur-unsur sebagai berikut:

1. Terjadinya sesuatu hal yang menarik.

2. Terdapat kontras, yaitu hal yang satu dengan yang lainnya, sehingga apa yang menonjol itu menimbulkan perhatian.

3. Terdapatnya harapan untuk mendapatkan suatu pemahaman terhadap hal yang dimaksud.

Pada semua usia, minat memainkan peran yang penting tehadap seseorang dan mempunyai dampak yang besar atas perilaku dan sikap. Minat mempengaruhi bentuk dan intensitas aspirasi.

2.8 Kerangka konsep

Kerangka sebagai hasil pemikiran yang rasional merupakan uraian yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang dicapai dapat mengantar penelitian pada rumusan hipotesa (Nawawi, 2001 : 40)

(25)

Kerangka konsep adalah hasil pemikiran yang rasional dalam menguraikan rumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara dari masalah yang diuji kebenarannya. Agar konsep-konsep dapat diteliti secara empiris, maka harus dioperasionalkan dengan mengubahnya menjadi variabel.

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :

“Analisis Pengaruh Isi Program DAAI Mata Hati terhadap minat nonton anggota Tzu Ching Jakarta”

1. Variabel Bebas (X)

Variabel bebas merupakan variabel yang diduga sebagai penyebab atau pendahulu dari variabel lain (Rakhmat, 2004 : 12). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah isi program DAAI Mata Hati.

2. Variabel Terikat (Y)

Variabel terikat adalah variabel yang diduga sevagai akibat atau yang dipengaruhi oleh varibel yang mendahuluinya (Rakhmat, 2004 : 12). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah minat menonton anggotaTzu Ching Jakarta.

2.9 Model Teoritis

Model teoritis merupakan paradigm yang mentransformasikan permasalahan terkait antara satu dan lainnya. Variabel variabel yang dikelompokkan dalam kerangka konsep akan dibentuk menjadi suatu model teoritis sebagai berikut :

(26)

Gambar 2.11 Model Teoritis

2.10 Operasional Variabel Penelitian

Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep diatas, maka dapat dibuat operasional variabel yang berfungsi untuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian, yakni sebagai berikut :

Variabel Bebas (X) Variabel Terikat (Y)

Dimensi Indikator Dimensi Indikator

Isi Program DAAI Mata Hati

1. Tema 2. Tagline 3. Aktual 4. Faktual 5. Penting 6. Manarik 7. Waktu Penayangan 8. Durasi 9. Kemasan Acara 10. Gaya Penyampaian Pesan 11. Pemahaman Pesan Minat Menonton 1. Perhatian 2. Minat a) Rasa suka/ senang b) Positif c) Rasa tertarik d) Prasangka e) Pendirian f) Harapan 9) Minat nonton

Gambar 2.12 Gambar Operasional Variabel Penelitian Variabel Bebas

Isi Program DAAI Mata Hati

Variabel Terikat Minat nonton Anggota Tzu Ching Jakarta

Figur

Gambar diatas menunjukkan bahwa perubahan sikap tergantung pada proses  yang terjadi pada individu

Gambar diatas

menunjukkan bahwa perubahan sikap tergantung pada proses yang terjadi pada individu p.21
Gambar 2.12 Gambar Operasional Variabel Penelitian Variabel Bebas

Gambar 2.12

Gambar Operasional Variabel Penelitian Variabel Bebas p.26
Gambar 2.11 Model Teoritis

Gambar 2.11

Model Teoritis p.26

Referensi

Memperbarui...