• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL DIFUSI DAN ADOPSI INOVASI DALAM PEMBELAJARAN DARING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL DIFUSI DAN ADOPSI INOVASI DALAM PEMBELAJARAN DARING"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL

DIFUSI DAN ADOPSI INOVASI DALAM PEMBELAJARAN DARING (Studi Kuantitatif Difusi dan Adopsi Inovasi Penggunaan Google Meet Untuk Pembelajaran Daring pada Masa Pandemi COVID-19 di Kalangan Mahasiswa S1

Reguler Angkatan 2017-2019 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret)

Oleh: Debora Pane

D0216026

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2021

(2)

DIFUSI DAN ADOPSI INOVASI DALAM PEMBELAJARAN DARING (Studi Kuantitatif Difusi dan Adopsi Inovasi Penggunaan Google Meet Untuk Pembelajaran Daring pada Masa Pandemi COVID-19 di Kalangan Mahasiswa S1

Reguler Angkatan 2017-2019 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret)

Debora Pane Sri Hastjarjo

Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta

Abstract

COVID-19 Pandemic forces teaching and learning activities from conventional in-class practices into virtual-distant-online learning. These transitions cause a difficult adaptation for everyone, either teachers, workers and all student body. As we all know, virtual meetings and classes are held through some programs or applications, such as Google Meet. The purpose of this study is to observe how information of Google Meet diffuses and also its adoption.

This study uses descriptive quantitative methods, using diffusion and adoption of innovation theory developed by Rogers. The questionnaires were spread among 285 respondents from regular undergraduate programme students of FISIP UNS year 2017-2019.

The results of this study are average respondents show positive attitude towards all five attributes of innovation. The majority of the respondents doesn’t take a long period to master Google Meet’s usage. Reinvention of Google Meet’s usage is needed, furthermore, teachers and collective decisions are considered the most influential in making decisions to adopt.

Keywords:

(3)

Pendahuluan

Pembelajaran secara daring merupakan sebuah konsep yang sudah kita kenal sejak lama, terutama diera globalisasi yang membuat segala sesuatu serba online. Pembelajaran daring, dikenal juga dengan online learning, e-learning, internet enabled learning, virtual learning, virtual classroom atau web-based learning (Siahaan dalam Waryanto, 2006). Adapun pengertiannya menurut Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) yaitu penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam cakupan proses edukasi yang luas untuk mendukung dan meningkatkan pembelajaran di pendidikan tinggi, termasuk juga penggunaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai pelengkap untuk pembelajaran secara konvensional (tatap muka), pembelajaran daring, atau keduanya (OECD,2005).

Dengan adanya pandemi COVID-19 yang mulai masuk sejak Maret 2020 di Indonesia, semua kegiatan diarahkan untuk dilakukan secara jarak jauh atau daring. Termasuk pula kegiatan belajar mengajar (KBM). Sekolah-sekolah, dan universitas terpaksa harus melakukan kegiatan KBM secara jarang jauh. Tentu dibutuhkan penyesuaian yang amat besar, dari pembelajaran dikelas secara tatap muka, menjadi jarak jauh dan daring melalui media.Penyesuaian yang sulit ini membawa berbagai macam perdebatan. Baik dari kesiapan pengajar dan siswa, ketersediaan teknologi dan sebagainya (Arsendy et al: 2020)

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, terkait penggunaan media yang tepat. Peneliti melakukan survei tentang berbagai macam media yang digunakan oleh dosen dikelas pada mahasiswa S1 Reguler FISIP UNS. selama masa pandemi COVID-19, media yang digunakan pada pembelajaran daring bermacam-macam. Mulai dari aplikasi yang berfokus pada konferensi video hingga media sosial bersifat pesan instan. Hasilnya What‟sApp menjadi media sosial yang kerap digunakan untuk berkomunikasi atau koordinasi antar dosen dengan mahasiswa. Hampir semua kegiatan perkuliahan menggunakan What‟sApp sebagai media untuk berkoordinasi. Sementara untuk pembelajaran virtual tatap muka, Google-Meet menjadi aplikasi yang paling banyak digunakan

(4)

untuk kegiatan pembelajaran daring. Sehingga yang melatarbelakangi tujuan penelitian ini adalah mencari tahu bagaimana proses difusi inovasi dan adopsi inovasi dalam penggunaan Google Meet untuk pembelajaran daring di fakultas ilmu sosial dan politik Universitas Sebelas Maret.

Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini, terdapat beberapa rumusan masalah. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana tingkat kompleksitas Google Meet dalam pembelajaran daring S1 Reguler FISIP UNS angkatan 2017 – 2019?

2. Bagaimana tingkat kesesuaian Google Meet dalam pembelajaran daring S1 Reguler FISIP UNS angkatan 2017 – 2019?

3. Bagaimana tingkat innovativeness pada mahasiswa S1 Reguler FISIP UNS angkatan 2017 – 2019 dalam mengadopsi Google Meet?

4. Bagaimana tipe adopsi (re-invensi) dalam pembelajaran daring di perkuliahan S1 Reguler FISIP UNS angkatan 2017 – 2019?

5. Bagaimana tingkat adopsi Google Meet untuk pembelajaran daring di S1 Reguler FISIP UNS angkatan 2017 – 2019?

Tinjauan Pustaka 1. Komunikasi

Keberadaan komunikasi didalam kehidupan kita merupakan sesuatu yang sangat penting. Julia T. Wood mengungkapkan bahwa komunikasi merupakan sebuah proses interaksi melalui symbol untuk menciptakan dan menginterpretasikan sebuah makna. Wood mengungkapkan komunikasi adalah sebuah proses, dan sistem. Komunikasi sebagai proses berarti komunikasi terus berlangsung, selalu bergerak, dan selalu berubah. Sedangkan sebagai sistem, komunikasi terjadi dalam suatu sistem yang terdiri berbagai bagian yang saling berhubunga (Wood, 2009) Komunikasi menekankan pada pesan, maka inti utama dari komunikasi adalah makna. Wood menyebutkan terdapat 2 tingkatan dari makna pesan. Yang pertama adalah makna harfiah yaitu makna apa adanya. Lalu ada makna dalam ranah hubungan, artinya bentuk makna juga mempunyai efek

(5)

terhadap relasi. Sebagai contoh adalah ketika seseorang menyuruh orang lain untuk pergi, pesan dimaknai secara harfiah berarti secara apa adanya, sedangkan jika dimaknai dengan dikaitkan dengan hubungan yang ada pada individu yang terlibat, mungkin akan memberikan makna yang berbeda-beda. Ketika kata-kata tersebut diucapkan oleh teman dekat tentu makna yang akan ditangkap dengan individu sangat berbeda jika yang mengatakan kata-kata tersebut adalah bos atau atasan (Wood, 2009).

Karena komunikasi merupakan sebuah proses, Lasswell memberikan sebuah model komunikasi sebagaimana dikutip oleh Mulyana mengungkapkan terdapat beberapa pertanyaan yang menggambarkan bagaimana komunikasi itu bekerja. Yaitu siapa?, mengatakan apa?, dengan saluran apa?, kepada siapa?, dan berakibatkan atau menghasilkan apa? (Who says what, in which channel, to whom, with what effect?). (Mulyana, 2005).

Menurut Lasswell terdapat juga 5 unsur komunikasi, yaitu: who (komunikator, yaitu pihak yang ingin mengirimkan pesan); Says what? (pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator kepada komunikan); in which channel? (media/sarana apa yang digunakan untuk menyampaikan pesan); to whom? (komunikan, yaitu pihak yang dituju komunikator); with what effect? (dampak apa yang dialami komunikan setelah menerima pesan). Lasswell menambahkan efek sebagai suatu unsur yang penting. Sebagai tambahan, dari beberapa pengertian diatas kita dapat menyimpulkanbahwa komunikasi adalah proses pengelolaan pesan atau tanda, dengan suatu media kepada penerima yang akan menghasilkan suatu efek.

2. Media Untuk Pembelajaran Daring

Dini, media merupakan suatu hal yang sudah sangat familiar didalam kehidupan kita. Media sosial adalah istilah yang digunakan untuk media-media baru yang memungkinkan terjadinya partisipasi yang interaktif (Manning, 2014). Pendapat ini juga didukung oleh Julia T. Wood, yang mengungkapkan bahwa media sosial berbeda dengan media massa. Media massa hanya bersifat satu arah, antara sumber pesan ke khalayak yang berjumlah besar, sedangkan media sosial

(6)

memungkinkan untuk terjadinya partisipasi dan juga interaksi (Wood, 2009). Manning mengungkapkan karakteristik inti dari media sosial adalah partisipasi dan interaksi. Partisipasi berarti media sosial membolehkan khalayak untuk berpartisipasi aktif. Karena natur media sosial bersifat partisipatif, sehingga sangat memungkinkan untuk berlangsungnya interaksi. Beberapa fungsi utama dari media sosial, diantaranya adalah sebagai identitas, pembentukan hubungan, fungsi pekerjaan, pencarian informasi dan pembagian ide.

Untuk edukasi, media sosial memiliki 3 manfaat yaitu media sosial mampu memfasilitasi perkembangan suatu komunitas, media sosial mampu mendukung perkembangan program, dan mampu untuk memelihara hubungan serta kolaborasi (Vu, et al:2017). Ditambah juga oleh pendapat Rosenberg et al, yang mendukung bahwa media sosial dapat meminimalisasi usaha yang dibutuhkan untuk membuat suatu program, bahkan dengan cara yang lebih dinamis. Dengan jangkauan media sosial yang masif, menjadi cara yang esensial untuk menjangkau lebih banyak murid dengan lebih mudah, dan mampu meningkatkan kolaborasi diantara pengguna (Rosenberg et al dalam Vu, 2017)

Melalui perkembangan teknologi dan juga media muncul berbagai inovasi. Salah satunya adalah di bidang pendidikan, yaitu pembelajaran daring. Pembelajaran daring atau online juga dikenal dengan istilah e-learning, online learning, internet enabled learning, virtual learning, virtual classroom atau web-based learning (Siahaan dalam Waryanto, 2006). Menurut Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) pembelajaran daring adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam cakupan proses edukasi yang sangat luas untuk mendukung serta meningkatkan pembelajaran di pendidikan tinggi, termasuk juga penggunaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai pelengkap untuk pembelajaran secara konvensional (tatap muka) pembelajaran daring, atau keduanya (OECD, 2005)

Komunikasi merupakan sesuatu yang sangat penting untuk berlangsungnya kegiatan pembelajaran.Boettcher dalam Hardjito (Waryanto, 2006) mengemukakan, dalam proses pembelajaran, keterlaksanaannya sangat tergantung

(7)

dari satu sampai tiga metode dasar dari komunikasi, yaitu: komunikasi dosen dengan siswa; antar siswa dengan sumber belajar; dan komunikasi di antar siswa.

Sehingga media yang layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran adalah media yang mampu memfasilitasi ketiga metode dasar ini. Hardjito dalam Waryanto (2006) menujukkan terdapat beberapa karakteristik dari internet yang mendukung untuk memungkinkannya pembelajaran secara daring. Diantaranya:

a. Sebagai media interpersonal dan media massa yang memungkinkan terjadinya komunikasi one-to-one atau one-to-many.

b. Memiliki sifat interaktif

c. Memungkinkan terjadinya komunikasi yang sinkron (syncronous) maupun komunikasi tertunda (asyncronous), sehingga syarat komunikasi untuk terselenggaranya suatu proses pembelajaran terpenuhi.

Menurut Siahaan dalan Waryanto (2006), terdapat 3 fungsi pembelajaran daring terhadap kegiatan pembelajaran di kelas, yaitu: suplemen (tambahan); komplemen (pelengkap); dan substitusi (pengganti).

3. Difusi Inovasi

Everett M Rogers, dalam bukunya yang berjudul Diffusion of Innovation mengungkapkan pengertian difusi inovasi, yaitu merupakan proses penyebaran suatu inovasi yang dikomunikasikan melalui median-median pada jangka waktu tertentu dalam sebuah tatanan sosial. (Rogers,2003) Sebuah inovasi dikatakan sukses jika penggunaannya sudah tersebarluaskan atau nama lainnya diadopsi.

Karena difusi inovasi adalah sebuah proses, maka Rogers mengemukakan terdapat 4 elemen penting dalam teori difusi inovasi. Terdiri dari inovasi, saluran komunikasi, waktu, dan sistem sosial. Inovasi adalah ide, praktik, atau objek yang mempunyai unsur kebaruan oleh individu atau unit yang akan mengadopsi suatu inovasi tersebut. Inovasi mempunyai lima (5) atribut, diantaranya adalah keuntungan relatif, yaitu seberapa menguntungkan suatu inovasi jika dibandingkan dengan alternatif sebelumnya. Kesesuaian adalah pandangan dimana inovasi dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman masa lalu dan kebutuhan anggota sistem sosial. Kompleksitas adalah tingkatan dimana

(8)

inovasi dianggap memiliki kesulitan tertentu baik dalam pemahaman serta penggunaannya.

Kemungkinan dicoba adalah tingkatan dimana inovasi dapat diujicoba dalam anggota sistem sosial. Kemungkinan diamati adalah tingkatan dimana inovasi dapat dilihat dan diamati oleh orang lain (Rogers,2003).

Proses komunikasi berlangsung dimulai dari sebuah (1) inovasi, kemudian diketahui oleh (2) pihak atau unit yang mengerti/mengetahui atau sudah mencoba inovasi tersebut, kemudian terdapat juga (3) pihak yang belum mengetahui, mengalami atau mencoba inovasi, dan (4) yaitu suatu media komunikasi yang membantu untuk menhubungan kedua unit tersebut. Rogers dalam teorinya mengingkapkan terdapat tiga jenis saluran komunikasi, diantaranya adalah saluran interpersonal, saluran media massa, dan saluran kelompok.

Waktu merupakan elemen ketiga yang berperan penting dalam teori difusi inovasi. Dengan adanya dimensi waktu memperjelas kapan dan bagaimana suatu inovasi atau persebaran sebuah inovasi berlangsung. Semua proses ini tentu terjadi dalam suatu rentang waktu. Dengan adanya rentang waktu juga memperjelas tiga hal, yaitu proses pembuatan keputusan untuk mengadopsi suatu inovasi, innovativeness atau kemampuan individu untuk mengadopsi suatu inovasi dan juga kecepatan suatu inovasi diadopsi oleh suatu sistem sosial. Berikut penjabaran ketiganya:

1) Proses Pembuatan Keputusan Terkait Inovasi (Innovation decision process)

Proses pembuatan keputusan terkait inovasi adalah kondisi dimana awal mula inovasi dikenalkan oleh individu (atau unit pembuat keputusan lainnya) untuk pertama kalinya, berlanjut kepada pembentukan sikap terhadap inovasi, hingga pembuatan keputusan baik untuk menerima atau menolak, lalu ke implementasi dan penggunaan inovasi dan konfirmasi terhadap keputusan. Semuanya berlangsung dalam proses pembuatan keputusan terkait inovasi, yang pertama adalah tahap pengetahuan. Pengetahuan didapat ketika individu mengetahui bahwa terdapat sebuah inovasi, apa kelebihan inovasi tersebut, bagaimana menggunakannya. Lalu persuasi terjadi ketika individu memiliki suatu

(9)

ketertarikan atas inovasi yang baru ia ketahui. Ketika individu sudah mengetahui inovasi ini, pada tahap pembuatan keputusan, ia bisa memilih untuk menggunakan inovasi tersebut atau tidak. Implementasi adalah tahap dimana individu menggunakan inovasi.Konfirmasi adalah keputusan akhir yang menentukan digunakan atau tidaknya suatu inovasi dalam suatu sistem sosial.

Rogers juga mengemukakan bahwa, dalam pembuatan keputusan untuk mengadopsi suatu inovasi, terdapat 3 tipe pembuatan keputusan. Yang pertama adalah pembuatan keputusan secara opsional, keputusan secara kolektif, keputusan secara otoritatif, keputusan secara kontingen (Rogers, 2003)

Innovativeness adalah tingkat kemampuan individu atau unit lain untuk mengadopsi relatif lebih suatu inovasi daripada anggota system yang lain. Dalam suatu sistem sosial terdapat beberapa kategori pengadopsi inovasi dalam suatu sistem sosial. Yaitu: innovators; early adopters; early majority; late majority; laggards.

Kecepatan adopsi adalah kecepatan relatif suatu inovasi dapat diadopsi oleh system sosial. Rogers mengungkapkan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan individu atau suatu system sosial dalam mengadopsi suatu inovasi. Diantaranya adalah kelima atribut inovasi, tipe innovation-decision, saluran komunikasi, sistem sosial, dan seberapa luas dampak yang dibuat oleh agen perubahan untuk memperluas persebaran informasi inovasi. Sistem sosial adalah unit-unit yang saling berhubungan yang ada dalam satu kesatuan berfungsi untuk pemecahan masalah untuk meraih suatu capaian yang sama.

4. Adopsi Inovasi

Rogers, dalam bukunya menjelaskan hal terkait pengadopsian suatu inovasi, yang disebut proses keputusan inovasi (innovation decision process). Proses pembuatan keputusan terkait inovasi adalah kondisi dimana awal mula inovasi dikenalkan oleh individu (atau unit pembuat keputusan lainnya) untuk pertama kalinya, berlanjut kepada pembentukan sikap terhadap inovasi, hingga pembuatan keputusan baik untuk menerima atau menolak, lalu ke implementasi dan penggunaan inovasi dan konfirmasi terhadap keputusan. Dalam sebuah

(10)

inovasi, tahap pengetahuan terdiri dari tiga jenis. Yang pertama adalah pengetahuan tentang pemahaman bahwa inovasi tertentu ada, yang kedua pengetahuan terkait penggunaan suatu inovasi yang benar. Yang ketiga adalah pengetahuan prinsip bagaimana sebuah inovasi bekrja. Persuasi terjadi ketika individu memiliki suatu ketertarikan atas inovasi yang baru ia ketahui. Dalam tahap persuasi, attitude atau sikap ikut berperan penting. Pada tahap ini individu mempertimbangkan, mencari informasi serta melakukan pemilahan informasi mana yang akan ia terima dan mana yang tidak. Dalam pemilihan informasi mengenai suatu inovasi, besar kemungkinannya jika individu menemukan hal-hal yang diragukan. Dengan munculnya keraguan ini, mendorong individu mencari suatu reinforcement (hal yang membantu menguatkan) untuk meminimalisir keraguan yang dimiki individu.

Ketika individu sudah mengetahui inovasi ini, pada tahap pembuatan keputusan, ia bisa memilih untuk menggunakan inovasi tersebut atau tidak. Dalam pembuatan keputusan, bisa atau tidaknya suatu inovasi dicoba sangat mempengaruhi kecepatan pengadopsian suatu inovasi. Selain itu, agen perubahan juga berpengaruh dalam pembuatan keputusan inovasi. Juga demonstasi oleh opinion leader sangat mempengaruhi keputusan untuk mengadpsi atau menolak suatu inovasi. Penolakan terhadap suatu inovasi dibagi menjadi dua. Penolakan aktif, yang mengandung suatu pertimbangan termasuk terhadap percobaan suatu inovasi, lalu memutuskan untuk tidak mengadopsi suatu inovasi. Penolakan pasif dilakukan tanpa mempertimbangkan untuk memakai inovasi. Implementasi adalah tahap dimana individu menggunakan inovasi (Rogers, 2003) Pada awal studi difusi inovasi, adopsi suatu inovasi dimaksudkan mengimplementasikan apa adanya dari inovasi tanpa adanya perubahan. Namun, seiring dengan waktu, dalam implementasi sangat mungkin adanya re-invensi, atau melakukan sedikit perubahan/modifikasi terhadap suatu inovasi. Konfirmasi adalah tahap dimana individu/sistem sosial membuat kesimpulan untuk mengadopsi atau menolak suatu inovasi.

Sementara menurut Mustonen-Ollila, ia menyederhanakan teori dari Rogers, dimana kelima tahap proses adopsi suatu inovasi diantaranya adalah tahap

(11)

pertama yaitu, inisiasi. Dikatakan inisiasi ketika individu mengetahui bahwa terdapat suatu hal yang dapat dilakukan lebih baik dari sebelumnya. Tahap berikutnya adalah muncul ketertarikan ketika individu mengetahui dan memahami bahwa informasi inovasi yang mereka ketahui ini mungkin memiliki sebuah kelebihan dan akan membuat sesuatu lebih praktis. Tahap berikutnya adalah evaluasi, evaluasi tahap pengumpulan informasi yang berbeda dan melakukan suatu perbandingan dari yang satu terhadap yang lainnya. Selanjutnya, adalah tahap percobaan, lalu tahap yang terakhir yaitu proses penerimaan atau penolakan (Mustonen-Ollila, 1998)

Metode

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif. Kuantitatif deskriptif merupakan penelitian kuantitaif dengan tujuan mendeskripsikan apa yang diteliti secara sistematis, faktual, dan akurat (Kriyantono, 2012). Dalam pengambilan sampel, peneliti menggunakan teknik proporsional berstrata, menggunakan rumus Slovin dengan margin of error sebesar 5%, didapatkan jumlah sampel adalah 285 dari 995 orang populasi. Pengambilan data dilakukan dengan menyebar kuesioner kepada 285 responden yang merupakan mahasiswa program S1 Reguler FISIP UNS angkatan 2017-2019. Data primer dalam penelitian ini didapat langsung dari responden yang mengisi kuesioner penelitian, sedangkan data sekunder dari penelitian didapat dari Kemahasiswaan FISIP UNS dan organisasi-organisasi kemahasiswaan di FISIP UNS. Penelitian berlangsung selama sekitar 3 minggu, pertengahan Desember 2020 hingga awal Januari 2021.

Sajian dan Analisis Data

1. Pengembangan Instrumen Penelitian

Untuk mengukur atribut inovasi, peneliti menggunakan instrumen yang dibuat oleh Steckler untuk mengukur keuntungan relatif dan kompleksitas, dan kemungkinan untuk diobservasi (Steckler,1992). Beberapa instrumen juga diambil dari penelitian Moore dan Benbasat (Moore & Benbasat, 1991) Sementara, untuk

(12)

mengukur indikator kesesuaian, dan kemungkinan untuk dicoba, peneliti menyesuaikan skala dari Pankratz (Pankratz, 2002) dengan mengganti objek penelitian. Untuk indikator kesesuaian, peneliti menggunakan kriteria komunikasi yang harus ada dalam pembelajaran daring menjadi indikator. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengukuran innovativeness dari David F. Midgley dan Grahame R Dowling. Midgley dan Dowling menekankan mengukur innovativeness dengan teknik „cross-sectional‟. Adapun objek penelitian Midgley dan Dowling adalah suatu produk yang dibeli oleh konsumen, sehingga mengukur innovativeness secara cross-sectional dengan mencari tahu seberapa banyak aitem produk inovasi yang telah dimiliki oleh individu ketika penelitian dilakukan (Midgley dan Dowling, 1978). Berdasarkan penelitian tersebut, peneliti menggunakan cara yang sama, hanya saja mengganti aitem produk menjadi penguasaan fitur-fitur pada Google Meet. Dalam mengukur adopsi inovasi, teori yang digunakan tetap menggunakan teori dari Rogers, yaitu teori proses pengambilan keputusan inovasi (innovation decision process) (Rogers, 2003). Selain itu, penulis juga mengadopsi beberapa instrumen penelitian dari Fry, Riley, dan Robert Thring (Fry et al, 2018) yaitu tentang pengukuran personality value dan communication behaviour.

2. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Uji validitas dan reliabilitas digunakan untuk mencari tahu jika instrumen yang telah dirancang benar mengukur apa yang ingin diukur. Sedangkan uji reliabilitas digunakan untuk mencari tahu, jika instrumen tetap reliabel untuk diterapkan pada penelitian lain. Dalam penelitian ini, instrument diuji coba kepada 49 non-responden yang memiliki karakteristik yang sama dengan responden. Ketentuan valid atau tidaknya jika r jumlah (koefisien korelatif) > r tabel. Adapun jumlah r tabel minimum untuk valid atau tidaknya instrument adalah 0,279

No. Kode Pernyataan Koefisienen

Korelatif 1 KR1 Meningkatkan kualitas pekerjaan/studi 0,666 2 KR2 meningkatkan efektivitas pekerjaan 0,615

(13)

3 KR3 Membantu mengerjakan pekerjaan lebih cepat 0,462 4 KS1 Sesuai dengan apa yang dibutuhkan 0,692

5 KS2 Sesuai dengan style bekerja 0,753

6 KS3 Sesuai dengan kemampuan 0,720

7 KS4 Sesuai dengan cara bekerja yang disukai 0,741 8 KS5 memfasilitasi kebutuhan berkomunikasi 0,615

9 KRUM1 Fitur mudah untuk dipahami 0,654

10 KRUM2 Fasilitas mudah digunakan 0,751

11 KRUM3 Penggunaan mudah dimengerti 0,736

12 KRUM4 Tidak menemukan kesulitan penggunaan 0,672 13 KRUM5 Membutuhkan pertolongan teman -0,101

14 KRUM6 Prosedur mudah dipahami 0,753

15 KC1 Memiliki kesempatan untuk mencoba 0,609 16 KC2 Mencoba terlebih dahulu sebelum memutuskan 0,283 17 KD1 Melihat keunggulan dari aplikasi lain 0,543 18 KD2 Mengamati kemudahan yang ditawarkan 0,661 19 KD3 Pernah melihat penggunaan diluar pembelajaran 0,210

20 IN2 Penguasaan sepenuhnya aplikasi 0,613

21 IN3 Mengerti cara memulai pertemuan 0,601

22 IN4 Pernah memulai pertemuan 0,592

23 IN5 Memahami semua fitur 0,611

Tabel 1 Koefisien korelasi Difusi Inovasi

Dari tabel diatas dapat disimpulkan terdapat dua aitem yang tidak valid, kedua aitem ini tidak akan digunakan pada saat penelitian. Sedangkan untuk uji reliabilitasnya pengujian menggunakan koefisien Cronbach’s Alpha dikomputasi melalui program SPSS, adapun hasilnya sebagai berikut.

Uji Reliabilitas Instrumen Sebelum dan Sesudah Aitem Tidak Valid Dihapus

(14)

0,901 0,926 Tabel 2 Uji Reliabilitas Difusi Inovasi

Sedangkan untuk adopsi inovasi, uji validitas instrument dan reliabilitas isntrumen adalah sebagai berikut:

No. Kode Pernyataan Koefisienen

Korelatif 1 PV1 Mempunyai ketertarikan terhadap teknologi baru 0,640 2 PV2 Pertimbangan lebih jika tidak yakin akan

keberhasilan

0,212

3 PV3 Menganggap diri berani mencoba teknologi baru 0,640 4 PV4 Ingin menjadi yang pertama mencoba teknologi

baru

0,631

5 CB1 Berusaha untuk terus update 0,582

6 CB2 Bertanya kepada teman/kolega untuk mencoba teknologi

0,147

7 CB3 Teman/kolega meminta pendapat tentang teknologi baru

0,579

8 CB4 Sering berpartisipasi dalam kegiatan sosial 0,696 9 CB5 Sering membaca berita tentang teknologi baru 0,678 10 I2 Cukup atau tidaknya Google Meet untuk

pembelajaran daring

0,534

11 I3 Google Meet lebih baik jika didampingi aplikasi lain

0,410

12 K1 Kelanjutan menggunakan aplikasi Google Meet 0,592 Tabel 3 Uji Validitas Adopsi Inovasi

Uji reliabilitas pada instrumen adopsi inovasi adalah sebagai berikut: Uji Reliabilitas Instrumen Sebelum dan Sesudah Aitem Tidak Valid

Dihapus

(15)

0,756 0,811 Tabel 4 Uji Reliabilitas Adopsi Inovasi

3. Karakteristik Responden

Dari 285 responden terdapat 90 orang atau 31,6% responden berasal dari program studi Administrasi Negara, 77 orang atau 27% responden berasal dari program studi Ilmu Komunikasi, 66 orang atau 23,2% responden dari program studi Sosiologi, dan 52 orang atau 18,2% responden dari program studi Hubungan Internasional.

4. Difusi Inovasi

Informasi tentang Google Meet tersebar melalui berbagai cara. Berdasarkan jawaban para responden, sumber informasi utama tentang Google Meet adalah pengajar/dosen, dan juga teman sejawat. Sedangkan jika ditinjau dari jenis kelompok yang paling mempengaruhi adalah kelas, diikuti dengan kelompok belajar. Ditinjau dari sumber media, internet merupakan sumber utama yang memberikan informasi tentang Google Meet.

Dari ketiga item yang digunakan untuk mengukur keuntungan relatif dari penggunaan Google Meet, rata-rata jawaban dari responden berada pada 3,50. Hal ini berarti menurut jawaban responden, Google Meet cukup memberikan keuntungan, baik dalam meningkatkan kualitas, efektivitas, dan mempercepat pelaksanaan pekerjaan.

Sementara untuk kesesuaian Google Meet untuk pembelajaran daring, rata-rata skor dari kelima aitem yang dilakukan pengukuran adalah 3.85. Ini menandakan bahwa rata-rata dari responden menyetujui bahwa Google Meet untuk digunakan dalam pembelajaran daring. Google Meet dinilai sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh responden, begitu juga dengan style bekerja responden, sesuai dengan kemampuan yang dimilki responden, begitu juga dengan cara bekerja yang disukai oleh responden, dan yang memiliki rata-rata paling tinggi, sesuai untuk kebutuhan berkomunikasi dengan teman dan pengajar.

(16)

Cara yang dilakukan peneliti untuk mengukur kerumitan adalah dengan mencari tahu jika Google Meet menawarkan banyak kemudahan menggunakan skala Likert 5 poin. Rata-rata dari kelima aitem yang dipakai untuk mengukur kerumitan adalah 4.23. Rata-rata ini menandakan bahwa menurut jawaban responden, Google Meet tidak rumit atau mudah untuk digunakan. Baik dari fasilitas, prosedur, penggunaan, responden menjawab Google Meet mudah untuk dimengerti dan dipahami.

Dalam penggunaannya rata-rata dari kedua aitem untuk mengukur kemungkinan dicobanya penggunaan Google Meet adalah 4.18. Nilai ini menunjukkan bahwa, banyak dari responden yang mempunyai kesempatan untuk mencoba terlebih dahulu. Angka kemungkinan dicoba yang lumayan tinggi ini, menyatakan bahwa pencobaan aplikasi Google Meet dapat dilakukan dengan mudah. Dengan memungkinkannya suatu inovasi untuk dicoba, maka membantu responden atau pengguna ketika hendak memutuskan untuk mengadopsi suatu inovasi atau tidaknya.

Dua aitem yang diukur adalah poin jika kelebihan dari Google Meet dapat diamati. Rata-rata dari kedua aitem ini adalah 3,85. Sekitar separuh dari responden menyetujui jika mereka dapat melihat keunggulan dari Google Meet dibandingkan dengan aplikasi lain. Sedangkan separuhnya berada di posisi netral dan tidak setuju. Dari data ini kita dapat menyimpulkan bahwa banyak dari responden yang belum merasakan kelebihan yang ditawarkan oleh Google Meet jika dibandingkan dengan aplikasi lain. Namun, lebih dari 80% responden menyetujui bahwa kemudahan yang ditawarkan oleh Google Meet, dapat diamati.

5. Adopsi Inovasi

Untuk mengukur adopsi inovasi, sebelumnya dilakukan juga terhadap dimensi nilai kepribadian (personality value) dan tingkah laku komunikasi (communication behaviour). Nilai kepribadian mengukur bagaimana sikap individu terhadap suatu inovasi terbaru. Dalam penelitian ini, terdapat 3 aitem nilai kepribadian, dimana memiliki rata-rata yaitu 3,81. Nilai ini menunjukkan bahwa responden memiliki sikap yang positif terhadap suatu inovasi, ditunjukkan

(17)

baik dalam keinginan untuk segera mencoba, keberanian untuk mencoba, dan ketertarikan terhadap inovasi. Sedangkan tingkah laku komunikasi adalah untuk melihat faktor tingkah laku berkomunikasi responden. Terdapat 4 aitem untuk mengukur tingkah laku komunikasi, dengan rata-rata 3,58. Dari nilai ini dapat disimpulkan bahwa tingkah laku komunikasi responden adalah cukup baik. Responden cukup paham dengan informasi-informasi dan juga tentang teknologi atau inovasi terbaru. Cukup banyak responden yang meminta pendapat teman/kolega terlebih dahulu, dan juga cukup banyak responden yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial di lingkungan.

6. Innovativeness dan Kategori Adopter

Innovativeness membahas tentang derajat kemampuan anggota sistem sosial untuk mengadopsi suatu inovasi. Derajat innovativeness responden dinilai tinggi, karena mayoritas responden tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menguasai Google Meet. Untuk menentukan kategori adopter, peneliti menggunakan beberapa indikator, diantaranya waktu dibutuhkan untuk menguasai Google Meet, penguasaan sepenuhnya Google Meet, mengerti atau tidaknya dasar untuk mengoperasikan Google Meet. Indikator-indikator ini kemudian dicari rata-ratanya untuk mengkategorikan innovativeness responden. Adapun pembagian kategori adopter sebagai berikut:

No. Kategori Adopter Keterangan

1. Innovators Yang termasuk kedalam kategori ini adalah para pengajar/dosen. Dosen merupakan pihak sumber informasi pertama kali yang mengenalkan Google Meet didalam pembelajaran daring. Besar kemungkinannya dosen merupakan pembuat keputusan atas aplikasi apa saja yang digunakan untuk pembelajaran daring, sehingga membuat dosen sebagai sosok yang sangat berpengaruh akan digunakannya Google Meet didalam perkuliahan daring.

(18)

2. Early Adopters Yang termasuk kedalam early adopters dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang menunjukkan kemampuan yang cepat untuk menguasai Google Meet, menggunakan dan mengerti pengoperasian Google Meet. Dalam penelitian ini, mahasiswa yang masuk kedalam kategori early adopters adalah 17,5% mahasiswa yang sudah menguasai sepenuhnya aplikasi Google Meet.

3. Early Majorities Early majorities dalam penelitian ini adalah 48% dari responden.

4. Late Majorities Late majorities dalam penelitian ini adalah 28% responden yang menilai diri mereka sendiri „netral‟ dalam kemampuan menguasai sepenuhnya aplikasi Google Meet.

5. Laggards Laggards dalam penelitian ini adalah sekitar 10% dari responden yang menilai diri mereka sangat tidak menguasai, minim pengetahuan akan pengoperasian Google Meet dan yang membutuhkan waktu terlampau lama untuk bisa menguasai Google Meet dibandingkan dengan responden lainnya.

Tabel 5 Kategori Adopter Kesimpulan

Berdasarkan oleh penelitian yang telah dilakukan dan dianalisis oleh peneliti, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Tingkat kerumitan Google Meet dalam pembelajaran daring di S1 Reguler FISIP UNS angkatan 2017 – 2019 memiliki rata-rata yang rendah. Google Meet dinilai mudah untuk dipahami, dimengerti dan dikuasai.

2. Tingkat kesesuaian Google Meet dalam pembelajaran daring S1 Reguler FISIP UNS angkatan 2017 – 2019 memiliki rata-rata yang

(19)

mengindikasikan bahwa Google Meet sesuai digunakan untuk pembelajaran daring, baik untuk memfasilitasi style responden, cara kerja yang disukai responden, hingga membantu memfasilitasi komunikasi antar teman maupun pengajar.

3. Tingkat innovativeness pada mahasiswa S1 Reguler FISIP UNS angkatan 2017 – 2019 dalam mengadopsi Google Meet dinilai cukup tinggi, ditandai dengan mayoritas responden membutuhkan waktu yang cepat untuk menguasai Google Meet.

4. Tipe adopsi dalam pembelajaran daring di S1 Reguler FISIP UNS angkatan 2017 – 2019 adalah berdasarkan keputusan kolektif dan pengajar/dosen. Dosen merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan penggunaan Google Meet dalam pembelajaran daring.

5. Tingkat adopsi Google Meet untuk pembelajaran daring di S1 Reguler FISIP UNS angkatan 2017 – 2019 adalah cukup tinggi, didukung oleh rata-rata atribut inovasi yang memberikan banyak kemudahan dalam penggunaan Google Meet, selain itu rata-rata waktu menguasai Google Meet relatif singkat. Dan salah satu faktor yang paling penting dalam adopsi inovasi Google Meet adalah adanya dosen/pengajar yang merupakan sosok yang sangat berpengaruh.

Daftar Pustaka

Arsendy, Senza., George Adam Sukoco, Rasita Ekawati Purba. (2020, 2 Mei). Riset Dampak COVID-19: Potret Gap Akses Online „Belajar Dari Rumah‟ dari 4 Provinsi [Halaman web]. Diakses dari https://theconversation.com/riset-dampak-covid-19-potret-gap-akses-online-belajar-dari-rumah-dari-4-provinsi-136534

Cloudhost. (2020, 22 April). Mengenal Google Meet : Fitur, Keunggulan, dan Cara Menggunakannya. [Halaman Web]. Diakses dari : https://idcloudhost.com/mengenal-google-meet-fitur-keunggulan-dan-cara-menggunakannya/

Fry, Amy & Ryley, Tim & Thring, Robert. (2018). The Influence of Knowledge and Persuasion on the Decision to Adopt or Reject Alternative Fuel Vehicles. Sustainability. 10. 2997. 10.3390/su10092997.

(20)

Kriyantono R. (2006). Teknik praktis riset komunikasi. Jakarta: Kencana.

M. Pankratz, D. Hallfors, H. Cho, Measuring perceptions of innovation adoption: the diffusion of a federal drug prevention policy, Health Education Research, Volume 17, Issue 3, June 2002, Pages 315– 326, https://doi.org/10.1093/her/17.3.315

Manning, J. (2014.) Social media, definition and classes of. In K. Harvey (Ed.), Encyclopedia of social media and politics (pp. 1158-1162). Thousand Oaks,

CA: Sage.

(PDF) Definition and Classes of Social Media. Available from: https://www.researchgate.net/publication/290514612_Definition_and_Class es_of_Social_Media [accessed May 27 2020].

Midgley, David F., Grahame R. Dowling. (1978). Innovativeness: The Concept and Its Measurement.

Moore, G. C., & Benbasat, I. (1991). Development of an Instrument to Measure the Perceptions of Adopting an Information Technology Innovation. Information Systems Research, 2(3), 192–222. doi:10.1287/isre.2.3.192 Mustonen-Ollila, Erja. (1998). Methodologies Choice and Adoption : Using

Diffusion of Innovations as the Theoretical Framework.

Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD). (2005)

“E-learning in TertiaryEducation”.

PolicyBriefs.http://www.oecd.org/dataoecd/27/35/35991871 Rogers, Everett. (2003). Diffusion of Innovations. Amerika : Freepress

Steckler, Allan., Robert M. Goodman, Kenneth R. McLeroy, Sonia Davis, Gary Koch. (1992). Measuring the Diffusion of Innovative Health Promotion Programs.

Vu, Phu., Scott Fredrickson, Carl Moore. (2017). Handbook of Research on Innovative Pedagogies and Technologies for Online Learning in Higher Education. Philadelphia : IGI Global

Waryanto, Nur Hadi. (2006). Phytagoras Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika 2 (1) 10-23. Yogyakarta

Wood, Julia T. (2009). Communication in Our Lives. Boston : Wadsworth Cengange Learning.

Gambar

Tabel 1 Koefisien korelasi Difusi Inovasi
Tabel 5 Kategori Adopter  Kesimpulan

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Dengan demikian serasah merupakan bahan organik mati yang berada di atas tanah.. mineral dimana hanya kayu mati dengan ukuran diameter < 10 cm

Hal ini me- nunjukkan bahwa pekerja yang bekerja pada daerah dengan konsentrasi debu di atas NAB mempunyai risiko untuk mengalami penurunan faal paru dengan

Untuk mengetahui pengaruh nilai religius yang diintegrasikan dalam pembelajaran biologi melalui pendekatan SETS terhadap hasil belajar siswa pada pokok bahasan

Hasil hitungan dapat dilihat pada Gambar 6, gelombang mengalami pecah pada kedalaman 3,00 m dengan tinggi gelombang pecah 3,00 m, sedangkan di depan dermaga tinggi gelombang 1,85

Dalam memilih starting line up pelatih akan mempunyai pertimbangan yang luas artinya pertimbangan dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, dalam merancang sistem

adalah kurangnya Teras Nyemil dalam menyampaikan komunikasi pemasaran, sehingga dari hasil tersebut penulis ingin tahu pelaksanaan marketing communication mix terhadap brand

Pada gambar 4.b menunjukkan bahwa ikan lele ( Clarias batrachus) pada perlakuan direndam hasil maksimum yaitu konsentrasi 1,5% batas ikan layak dikonsumsi pada jam ke-15 dengan