• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ANALISIS DAMPAK KONFLIK KURDI TERHADAP HUBUNGAN BILATERAL TURKI-AMERIKA SERIKAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III ANALISIS DAMPAK KONFLIK KURDI TERHADAP HUBUNGAN BILATERAL TURKI-AMERIKA SERIKAT"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

32 BAB III

ANALISIS DAMPAK KONFLIK KURDI TERHADAP HUBUNGAN BILATERAL TURKI-AMERIKA SERIKAT

Dalam bab II ini akan menganalisis dampak konflik Kurdi terhadap hubungan bilateral Turki-Amerika dengan konsep eskalasi model spiral konflik. Pada bab ini akan menganalisis permasalahan-permasalahan yang telah diangkat di bab II. Sebelum menuliskan analisis, pada bab ini akan disajikan bagan aplikasi konsep eskalasi konflik model spiral-konflik pada bagan 3. Kemudian akan dianalisis dengan beberapa indikator dari konsep eskalasi model spiral konflik. Dengan demikian, pada bab ini akan dibagi menjadi 4 subbab. Pertama, Kecaman Turki terhadap dukungan Amerika kepada Kurdi Suriah dan Dukungan Amerika kepada Kurdi Suriah; Kedua, Serangan Turki kepada YPG dan bantuan militer Amerika kepada Kurdi Suriah; Ketiga, Serangan Udara Kurdi kepada pasukan YPG dan bantuan senjata Amerika kepada pasukan YPG; Keempat, sikap Turki terhadap rencana penarikan pasukan Militer Amerika dari Suriah, dan ancaman Amerika akan hancurkan ekonomi Turki.

(2)

33 Bagan 3. Aplikasi Konsep Eskalasi Konflik Model Spiral-Konflik Dalam

Krisis Hubungan Turki Dan Amerika Pada Konflik Kurdi

Amerika memberikan dukungan Kurdi Suriah untuk melawan Islamic

State

Erdogan Mengecam dukungan Amerika kepada YPG dalam melawan Islamic State

Pemerintah Amerika mengeluarkan kebijakan untuk mengirim bantuan militer ke Suriah (YPG) Turki mulai melakukan

serangan kepada YPG pada Agustus 2016

Pemerintah Amerika memberi bantuan senjata kepada pasukan

YPG

Turki mulai melakukan serangan udara kepada

pasukan YPG

Amerika menjatuhkan sanksi ekonomi pada

Turki Turki mengancam akan

mencari aliansi lain

Amerika mengancam akan menghancurkan ekonomi Turki jika

menyerang YPG

Turki ancam Amerika beresiko konfrontasi

dengan Turki, dan ancam akan menghabisi Kurdi

(3)

34 3.1 Kecaman Turki terhadap Dukungan Amerika kepada Kurdi

Suriah dan Dukungan Amerika kepada Kurdi Suriah

Bagan 4. Proses Aksi-Reaksi 1

Dari bagan di atas dapat dilihat sebuah aksi dan reaksi antara kedua negara yang menjadi salah satu penyebab eskalasi konflik Turki dan Amerika. Pada bagian pertama ini taktik yang digunakan antara kedua belah pihak adalah taktik ringan, yang kemudian nanti akan menjadi taktik berat. Dalam subbab ini juga menjelaskan transformasi eskalasi konflik yang semula merupakan konflik yang spesifik menjadi konflik yang umum.

Aksi pertama yang menimbulkan terjadinya eskalasi adalah pada masa kepemimpinan Obama, pada tahun 2014 Presiden Obama memberikan dukungannya kepada YPG, yang sebelumnya Amerika telah memiliki kesepakatan untuk membantu Turki dalam melawan PKK (Kucukkeles & Mankoff, 2014). Namun dengan dukungan Amerika kepada YPG, kesepakatan tersebut telah runtuh. Pada tahun tersebut Amerika juga resmi memberikan senjata kepada SDF, yang mana mayoritas pasukan SDF merupakan pasukan YPG. Hal yang dilakukan Amerika telah memancing kemarahan Turki karena telah mengingkari kesepakatan yang selama itu telah mereka setujui (Khalidi, 2017).

Erdogan Mengecam dukungan Amerika kepada

YPG dalam melawan Islamic State

Amerika memberikan dukungan Kurdi Suriah untuk melawan Islamic

(4)

35 Jika dilihat, aksi yang dilakukan oleh Amerika adalah aksi yang dilakukan untuk memberikan dukungan kepada YPG dalam melawan IS, dan juga bentuk upaya Amerika dalam misi perdamaian konflik Timur Tengah. Namun, dukungan Amerika kepada YPG merupakan suatu masalah bagi Turki. Karena kelompok yang didukung oleh Amerika adalah kelompok Kurdi Suriah atau YPG, yang mana kelompok tersebut dianggap sebagai organisasi yang terafiliasi dengan organisasi teroris PKK, yang mana Amerika juga mengakui PKK sebagai organisasi teroris. Dengan aksi yang dilakukan Amerika, secara tidak langsung telah mengancam keamanan Turki dari organisasi teroris Kurdi, sehingga dari aksi yang dilakukan oleh Amerika menimbulkan reaksi Turki yang kemudian marah kepada Amerika Atas dukungannya kepada YPG.

Menindaklanjuti aksi yang dilakukan Amerika, yaitu memberi dukungan kepada Kurdi Suriah dalam melawan IS, Turki mulai menunjukkan reaksi kemarahan kepada Amerika. Pada tahun 2016, Erdogan mengecam Amerika karena telah gagal untuk mengakui bahwa YPG adalah organisasi teroris, yang merupakan pecahan dari PKK padahal dulu Turki dan Amerika telah sepakat menganggap PKK sebagai organisasi teroris, bahkan Amerika dulu juga bersedia untuk membantu aliansinya tersebut untuk melawan organisasi teroris PKK. (BBC, 2016) Kemarahan Turki kepada Amerika berlanjut dan semakin menegang setelah muncul gambar-gambar yang mnunjukkan bahwa militer Amerika mengenakan logo Kurdi di pakaiannya. Atas kasus tersebut, Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu mengatakan bahwa Amerika merupakan aliansi yang bermuka dua. Turki mulai hilang kepercayaannya kepada aliansinya yang telah

(5)

36 lama terjalin. Amerika mengedepankan kepentingannya mendukung Kurdi suriah dan mengorbankan hubungan aliansinya dengan Turki. (BBC, 2016).

Pada permasalahan ini, Turki mulai menggunakan taktik ringan. Dalam spiral konflik terdapat peningkatan taktik-taktik sebagaimana telah dijelaskan pada bab I. Di sini Turki menggunakan taktik ringan berupa ungkapan kemarahan kepada Amerika yang menyatakan dukungannya kepada pasukan YPG dalam melawan IS. Taktik ini digunakan untuk menurunkan aspirasi lawan dengan menggunakan argumen yang logis (Pruitt & Robin, 2004, hal. 111). Sebagaimana ketika Turki mengetahui dukungan Amerika kepada YPG, Turki memberi taktik dengan menggunakan argumen-argumen persuasif yang dinyatakan oleh Erdogan dan menteri-menterinya. Dalam kecamannya, Presiden Erdogan berargumen sangat menyayangkan Amerika sebagai aliansinya yang telah lama menjalin hubungan baik, bahkan Turki juga merupakan aliansi baik NATO, justru Amerika menghianati hubungan aliansi dengan Turki. Pemerintah Turki juga menyatakan dukungan Amerika sangat memprihatinkan, karena tindakan Amerika yang telah lakukan lebih mementingkan aliansi barunya (BBC, 2016). Kecaman dan argumen-argumen yang dikeluarkan oleh pemerintah Turki merupakan taktik ringan Turki untuk mengurangi dan menghentikan aksi Amerika dalam membantu pasukan YPG, namun jika taktik ringan ini kemudian belum berhasil dalam menurunkan aspirasi lawan, maka dapat berubah menjadi taktik besar yang akan menimbulkan eskalasi konflik.

Dalam kasus pada subbab ini yang perlu digarisbawahi adalah munculnya konflik Turki dan Amerika yang disebabkan oleh Kurdi. Sebagaimana dijelaskan

(6)

37 pada bab I, munculnya konflik merupakan perbedaan persepsi dalam kepentingan. Dalam kasus ini Amerika memiliki kepentingan kepada YPG untuk melawan IS dan misi perdamaiannya di Timur Tengah, terdapat berbagai alasan mengapa Amerika memilih YPG sebagai aliansi dalam melawan IS, sebagaimana telah dijelaskan dalam bab II. Namun, kepentingan Amerika terhadap YPG bertolak belakang dengan aliansinya, Turki. Dari hal ini muncullah konflik antara Turki dan Amerika, yang sebenarnya kasus ini tidak langsung bersangkutan antara Turki dan Amerika, namun dari kepentingan yang berbeda antara kedua negara dalam konflik Kurdi, konflik antara Turki dan Kurdi (PKK) dan dan Amerika yang mendukung Kurdi Suriah (YPG) melebar menjadi konflik antar negara yaitu Turki dan Amerika.

Dalam kasus ini juga mencakup transformasi eskalasi, yaitu dari eskalasi spesifik menjadi umum. konflik yang sebenarnya terjadi adalah antara Turki dan Kurdi, baik Kurdi Turki (PKK) ataupun Kurdi Suriah (YPG). Di sisi lain, terdapat Amerika yang juga memiliki kepentingan dengan YPG, yang mana Amerika menjadikan YPG sebagai aliansi dan Alat untuk melawan IS (Kirmanj, 2017). Pruit dan Rubin menjelaskan tentang transformasi eskalasi konflik, dari spesifik menuju umum. Dalam bukunya disebutkan bahwa isu-isu eskalasi akan cenderung meluas dan menjadi umum, hubungan kedua negara cenderung mengalami kemunduran (Pruitt & Robin, 2004, hal. 145). Sebagaimana hubungan Turki dan Amerika yang mengalami kemunduran, dan terus mengalami eskalasi ketegangan antara Turki dan Amerika yang disebabkan perbedaan persepsi antara kedua negara.

(7)

38 Dalam kasus tersebut dapat diartikan bahwa eskalasi semakin melebar, yang sebelumnya terjadi ketegangan antara Turki dengan Kurdi, dan kemudian muncul Amerika dalam konflik Kurdi, namun dengan kepentingan yang berbeda dengan Turki. Sehingga eskalasi konflik Turki yang semula spesifik dengan Kurdi, menjadi meluas dengan Amerika, yang menyebabkan eskalasi ketegangan antara Turki dan Amerika. Setelah eskalasi menjadi umum, antara Turki dan Amerika, terjadilah taktik-taktik contentious antara Turki dan Amerika dari ringan menuju berat yang akan dianalisis dalam subbab selanjutnya.

3.2 Serangan Turki Kepada YPG dan Kiriman Militer Amerika untuk Kurdi Suriah

Bagan 5. Proses Aksi-Reaksi 2

Dukungan pemerintah Amerika kepada YPG terus berlanjut, Presiden Obama mengeluarkan kebijakan untuk mengirimkan pasukan militer Amerika ke wilayah Suriah yang ditempati pasukan YPG. Kebijakan Obama merupakan langkah Amerika untuk mendamaikan konflik di Timur Tengah, terutama di Suriah yang tak kunjung usai. Amerika melihat konflik di Suriah semakin membesar, konflik tersebut telah menewaskan kurang lebih 200 ribu korban jiwa.

Turki mulai melakukan serangan kepada YPG

pada Agustus 2016

Pemerintah Amerika mengeluarkan kebijakan untuk mengirim bantuan militer ke Suriah (YPG)

(8)

39 Selain alasan pengiriman militer ke Suriah untuk misi perdamaian konflik, campur tangan Rusia dengan pemerintah Suriah juga menjadi salah satu alasan mengapa Amerika mengirimkan pasukan militernya ke Suriah (Mohammed, Stewart, & Zengerle, 2015).

Pengiriman pasukan Amerika untuk membantu YPG terus berlanjut, pada tahun 2016, Amerika menambah pasukan militernya ke Suriah sebanyak 300 Pasukan untuk membantu YPG melawan IS di wilayah Raqqa (Ankerman, 2016). Sikap Amerika yang terus-menerus mengirimkan pasukannya untuk membantu YPG membuat eskalasi ketegangan dengan Turki. Hal yang dilakukan oleh Amerika merupakan bagian dari taktik contentious, sebagaimana dijelaskan dalam buku Social Conflict oleh Pruit dan Rubin, ketika suatu pihak akan menggunakan taktik-taktik untuk berusaha mendapatkan kepentingannya dengan mengorbankan pihak lain. Suatu pihak akan meyakinkan pihak lain bahwa “milik saya adalah milik saya, dan milik anda adalah milik saya.” (Pruitt & Robin, 2004, hal. 98)

Dengan demikian sikap yang dilakukan Amerika yang terus-menerus mengirimkan bantuan militer kepada YPG, yang mengedepankan kepentingannya dibandingkan Aliansi NATO dengan Turki. Tindakan Amerika tersebut akan menyulut kemarahan Turki. Karena dalam kasus ini Amerika konsisten dengan misi perdamaian Timur Tengah, dengan terus memberikan dukungan kepada Kurdi Suriah atau YPG, sebenarnya telah menciderai hubungan baik Aliansi Turki dan Amerika, terutama dalam Aliansi NATO sikap yang dilakukan Amerika ini akan terus menimbulkan eskalasi ketegangan hubungannya dengan Turki (Berlianto, 2017).

(9)

40 Dari sikap Amerika yang terus-menerus memberikan dukungan militernya kepada YPG, menimbulkan reaksi Turki kepada sikap Amerika. Reaksi Turki dalam menyikapi Amerika semakin meningkat, dari reaksi ringan menjadi berat. Yang semula reaksi Turki terhadap Amerika hanya berupa kemarahan dan kecaman Erdogan kepada Amerika, sebagaimana dijelaskan dalam subbab pertama, reaksi Turki kepada Amerika menjadi taktik berat. Kemarahan Turki ditunjukkan dengan serangan Turki ke YPG. Turki menyerang wilayah Timur Sungai Eufrat, yang mana wilayah tersebut merupakan wilayah yang terdapat 2000 pasukan militer Amerika. Erdogan juga menyatakan kekecewaannya terhadap Amerika, bahwa dukungan keamanan Amerika kepada Turki hanya lip service (triworld, 2018).

Taktik yang digunakan Turki pada kasus ini sudah mulai menjadi taktik berat. Taktik yang dilakukan turki sudah termasuk memberikan hukuman kepada pihak lawan, yang dapat menyebabkan kerugian pihak lawan dengan melakukan serangan ke wilayah Suriah. Turki melakukan serangan karena taktik ringan sebelumnya yang hanya berupa ungkapan kemarahan dari Erdogan dan juga menteri-menterinya belum mendapat respon dari Amerika. Justru Amerika terus melakukan bantuan militer kepada pasukan YPG, bahkan bantuan militer juga untuk melawan pasukan Turki. Secara tidak langsung pada kasus ini menjadi titik awal eskalasi ketegangan Turki dan Amerika.

Sejauh ini antara Turki dan Amerika telah terjadi aksi-reaksi yang saling membalas antara kedua belah pihak, sebagaimana dalam konsep eskalasi konflik model spiral-konflik, akan terus terjadi aksi saling membalas yang intens, yang

(10)

41 menyebabkan eskalasi hubungan kedua belah pihak. Namun di sini Amerika meskipun memberikan aksi dalam bentuk dukungan Kepada YPG, yang menyulut kemarahan Turki, Amerika juga melakukan aksi defensif, karena meskipun Turki telah melakukan serangan ke wilayah manbij, yang mana terdapat pasukan Amerika di dalamnya, Amerika tetap belum melakukan tindakan keras kepada Turki. Meskipun demikian, aksi defensif Amerika yang tidak membalas perlawanan Turki ketika menyerang wilayah Suriah, Sikap Amerika yang mengabaikan Turki sebagai aliansinya di NATO, dan memilih terus melakukan dukungan dan bantuan ke Kurdi Suriah akan terus menimbulkan eskalasi kemarahan Turki kepada Amerika.

3.3 Pengiriman Senjata Amerika Kepada Pasukan YPG dan Serangan Udara Turki Ke Pasukan YPG

Bagan 6. Proses Aksi-Reaksi 3

Pasca serangan Turki kepada Pasukan YPG tahun 2017, Amerika belum merespon secara langsung sikap Turki yang terus melakukan serangan ke Suriah yang terdapat pasukan Amerika di dalamnya. Dalam hal ini Amerika masih tetap

Turki mulai melakukan serangan udara kepada

pasukan YPG

Pemerintah Amerika memberi bantuan senjata

(11)

42 dalam lingkup spiral defender, karena dari berbagai sikap yang telah dilakukan oleh Turki kepada Pasukan YPG belum memberi pengaruh besar yang merugikan Amerika. Keputusan Presiden Trump dalam memberikan bantuan senjata kepada pasukan YPG sangat beresiko besar yang memicu eskalasi ketegangan Turki dan Amerika, yang sebelumnya telah mengalami eskalasi karena bantuan militer Amerika kepada YPG. Meskipun demikian, Amerika tetap melakukan pengiriman senjata kepada Pasukan YPG, meskipun beresiko akan memperburuk hubungannya dengan Turki. Pertengahan tahun 2017 Amerika mengirimkan berbagai senjata kepada pasukan YPG (Aljazeera, 2017).

Sikap-sikap yang dilakukan oleh Amerika sejak dukungannya kepada Pasukan YPG untuk melawan IS merupakan sikap defensif Amerika. Dalam hal ini juga termasuk dalam spiral konflik, sebagaimana dijelaskan dalam bab I, bahwa dalam konsep eskalasi konflik model spiral konflik, di dalamnya juga terdapat spiral defensif, yang mana satu pihak sebagai agresor, yang aktif memberikan serangan, dan defender yang melindungi diri dari serangan (Pruitt & Robin, 2004, hal. 202-203). Sehingga di sini meskipun Amerika dapat dianggap sebagai defender, karena sejauh ini Amerika belum memberikan taktik-taktik langsung kepada Turki yang akan menghasilkan eskalasi yang semakin besar. Namun dengan sikap Amerika yang terus memberi dukungan kepada Pasukan YPG merupakan suatu sikap yang memicu eskalasi hubungan antara Turki dan Amerika.

Menyikapi bantuan Amerika kepada pasukan YPG yang terus-menerus dilakukan, menjadikan Turki semakin kecewa kepada hubungan aliansi mereka.

(12)

43 Atas dukungan dan bantuan senjata Amerika kepada Pasukan YPG, Turki kembali memanas. Turki terus melakukan taktik-taktik yang terus memicu terjadinya eskalasi konflik. Setiap langkah yang dilakukan Amerika yang berkaitan dengan YPG, Turki akan terus maju melakukan perlawanan. Taktik-taktik yang dilakukan Turki juga menunjukkan sikap yang keras. Mulai dari kecaman, hingga melakukan serangan.

Dalam memberikan reaksi terhadap bantuan senjata Amerika Kepada Pasukan YPG, Turki dengan tegas memberi peringatan kepada Pemerintah Amerika agar segera meninjau ulang kebijakan dalam memberikan bantuan senjata kepada Pasukan YPG. Turki terus mendesak Amerika agar menghentikan bantuan dan dukungannya kepada Pasukan YPG. Jika Amerika tidak menghiraukan desakan dari Turki, maka Turki akan melakukan serangan ke wilayah YPG yang diduduki pasukan Militer Amerika (Gumrukcu & Nehme, 2018).

Reaksi awal Turki dari bantuan senjata Amerika kepada pasukan YPG adalah berupa Ancaman untuk melakukan serangan ke wilayah Suriah. Ancaman merupakan taktik berat yang dilakukan Turki. Menurut Pruit dan Rubin, ancaman merupakan taktik-taktik berat yang dapat memicu eskalasi. Ancaman merupakan taktik berat yang digunakan oleh satu pihak agar pihak lain dapat patuh kepada pihak lain. Menurut Pruit dan Rubin ancaman merupakan taktik yang efektif agar pihak lawan termotivasi dan dapat tunduk dan patuh. Meskipun demikian, ancaman memiliki resiko yang cenderung akan mendapatkan balasan dari pihak lawan (Pruitt & Robin, 2004, hal. 112)

(13)

44 Setelah melakukan ancaman kepada Amerika untuk melakukan serangan ke wilayah Suriah, Turki tidak mendapat respon dari ancamannya. Amerika terus melakukan bantuan kepada YPG. Turki juga terus mengancam akan melakukan serangan ke wilayah Suriah yang terdapat sekitar 2000 pasukan militer Amerika. Sebagaimana ancaman yang disebutkan oleh deputi Perdana Menteri, Bekir Bozdag, bahwa siapapun yang mendukung pasukan kelompok teroris, maka ia merupakan target dalam peperangan. Meskipun dalam hal ini, Amerika yang merupakan aliansi NATO dengan Turki, namun Turki tetap mengancam siapapun, yang mendukung makan akan beresiko konfrontasi dengan Turki (Gumrukcu & Nehme, 2018).

Desakan dan ancaman Turki kepada Amerika agar menghentikan bantuan senjatanya kepada pasukan YPG tidak mendapat respon dari Amerika. Bahkan saat itu juga ketika Amerika memberikan bantuan Senjata kepada Pasukan YPG, permohonan Turki untuk melakukan pembelian senjata dari Amerika pun diabaikan oleh Amerika (Al Jazeera, 2019). Keresahan Turki terhadap sikap Amerika yang terus membantu YPG dan mengabaikan pembelian senjata Turki, menyebabkan ketegangan Turki semakin meningkat.

Karena Ancamannya tidak menimbulkan kepatuhan Amerika kepada Turki, kemudian Turki meningkatkan taktik yang lebih keras dalam memberi reaksi atas bantuan Amerika kepada pasukan YPG. Pada tanggal 20 Januari 2018 Turki melakukan serangan Udara ke wilayah Manbij, yaitu wilayah yang terdapat pasukan militer YPG dan Amerika (VOA, 2018). Serangan udara Turki ke

(14)

45 wilayah Manbij merupakan peningkatan taktik Turki untuk menghentikan bantuan Amerika kepada pasukan YPG.

Sesuai bagan di atas, dalam sub bab ini terjadi proses aksi-reaksi Turki dan Amerika yang memicu eskalasi ketegangan Turki dan Amerika. Pada dua sub bab sebelumnya telah dijelaskan proses-proses aksi-reaksi Turki dan Amerika yang terus mengalami eskalasi, mulai dari hanya ungkapan kemarahan Turki hingga bentuk serangan Turki ke wilayah Manbij di Suriah. Dalam sub bab ini terdapat dua peningkatan taktik dalam reaksi Turki terhadap Amerika. Sejauh ini, Amerika masih dalam posisi sebagai defender, karena mulai dari bentuk dukungannya kepada Kurdi Suriah hingga memberikan bantuan yang berupa pengiriman pasukan militer hingga memberikan sekitar 23.000 muatan truk senjata, Amerika belum secara langsung melakukan aksi yang secara langsung ditujukan untuk Turki, melainkan hanya memberi dukungannya kepada YPG (Aljazeera, 2017). Meskipun aksi yang dilakukan tidak secara langsung diberikan kepada Turki, namun yang dilakukan oleh Amerika telah mengancam keamanan Turki, karena yang selama ini dibantu oleh Amerika adalah kelompok Teroris yang mengganggu keamanan negara Turki.

3.4 Rencana Serangan Turki Tahun 2018 dan Ancaman Amerika kepada Turki

Bagan 7. Proses Aksi-Reaksi 4

Turki ancam Amerika beresiko konfrontasi dengan Turki, dan ancam

akan menghabisi Kurdi

Amerika mengancam akan menghancurkan ekonomi

Turki jika menyerang YPG

(15)

46 Sepekan setelah melakukan serangan udara ke wilayah Manbij, Turki kembali melakukan desakan agar Amerika segera menghentikan dukungannya kepada pasukan YPG. Setelah beberapa kali Turki melakukan reaksi yang agresif atas dukungan Amerika kepada YPG, seperti melakukan serangan ke wilayah-wilayah yang ditempati pasukan YPG dan Amerika, pada tahun 2018 Turki menurunkan reaksinya dari bentuk serangan kembali berupa ancaman. Namun meskipun demikian, sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya, Ancaman juga merupakan salah satu taktik berat yang digunakan agar pihak lawan dapat tunduk dan patuh. Pada tahap pertama setelah serangan Turki ke YPG, Turki mengancam Amerika akan terjadi konfrontasi dengan Turki jika tidak segera mengakhiri dukungannya kepada YPG, sebagaimana dikatakan oleh Juru Bicara Pemerintah Turki, Bozdag, bahwa Amerika harus meninjau ulang bantuan militer dan elemen lain untuk mendukung Teroris, atau akan beresiko konfrontasi dengan Turki (Gumrukcu & Nehme, 2018).

Jika ditinjau ulang, tindakan reaksi Turki atas dukungan Amerika kepada YPG, yang sebelumnya Turki memberikan ancaman-ancaman dan serangan ke wilayah Suriah yang terdapat pasukan YPG dan Militer Amerika, yang mana ancaman dan serangan tersebut telah memicu eskalasi dengan Amerika. setelah reaksi-reaksi ditujukan ke YPG, kini Turki langsung mengancam bersentuhan

(16)

47 dengan Amerika, bukan mengancam akan melakukan serangan ke wilayah Suriah yang terdapat pasukan YPG dan militer Amerika. hal tersebut dapat dilihat dari ancaman pemerintah Turki yang disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah Turki, Bozdag, bahwa Amerika harus meninjau ulang bantuan militer dan elemen lain untuk mendukung Teroris, atau akan beresiko konfrontasi dengan Turki (Gumrukcu & Nehme, 2018).

Ancaman Turki kepada Amerika belum juga membuahkan hasil, Turki belum mendapatkan respon dari Amerika terkait ancaman tersebut, Amerika belum memberikan sinyal akan menarik pasukan militernya dari Suriah. Ketegangan Turki dan Amerika semakin memanas pada Agustus 2018. Permasalahan dengan Kurdi tidak kunjung selesai, namun dengan adanya kasus penangkapan Andrew Brunson, menjadikan kondisi ketegangan hubungan Turki dan Amerika semakin bereskalasi, pasalnya pada masa itu Amerika menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Turki, yang menyebabkan nilai tukar mata uang Lira turun hingga 16 persen (Yasinta, 2018). Kondisi tersebut tentu menjadikan kemarahan Turki kepada Amerika semakin besar, Turki kembali melakukan ancaman kepada Amerika, Turki mengancam akan mencari aliansi baru (Yasinta, 2018).

Kondisi hubungan kedua negara semakin memburuk, Turki telah beberapa kali menjatuhkan sanksi berupa ancaman dan serangan ke Kurdi yang terdapat militer Amerika. namun karena konflik mengalami eskalasi, konflik semakin membesar, Turki melakukan ancaman langsung yang berhadapan dengan Amerika. hal ini seperti yang telah dijelaskan, bahwa ketika konflik mengalami eskalasi, maka isu-isu dalam sebuah konflik akan semakin meluas, sebagaimana

(17)

48 bagian dari transformasi eskalasi, konflik mulai dari spesifik menuju konflik umum (Pruitt & Robin, 2004, hal. 144). Konflik yang pada awalnya hanya Turki dengan Kurdi, meluas menjadi Turki dan Amerika, dan kondisi hubungan antara kedua negara semakin memburuk sejalan dengan eskalasi konflik.

Setelah keadaan hubungan kedua negara semakin memburuk pada bulan Agustus 2018, pada bulan Desember 2018 Amerika mulai menunjukkan sikap kerasnya kepada Turki. Amerika mulai menggertak Turki yang beberapa kali telah melakukan serangan kepada YPG dan terus mengancam akan melakukan serangan ke wilayah Kurdi Suriah sepanjang 2018. Kementerian Pertahanan Amerika menyatakan bahwa setiap serangan yang ditujukan ke wilayah YPG dan pasukan militer Amerika, maka perbuatan tersebut tidak dapat diterima. Pemerintah Amerika juga menyatakan kepada Turki, bahwa operasi serangan yang dilakukan Turki di wilayah Suriah telah menghambat tujuan kepentingan Amerika (CNN, 2018)

Gertakan Amerika kepada Turki tersebut merupakan tindakan yang langsung ditujukan kepada Turki. Dimana sebelumnya tindakan Amerika yang memicu eskalasi dengan Turki adalah sikap Amerika yang mendukung dan membantu YPG serta mengabaikan Turki ketika ingin membeli persenjataan dari Amerika. Karena konflik mengalami eskalasi, maka Turki dan Amerika setelah sekian lama memiliki perbedaan persepsi tentang Kurdi Suriah, dan beberapa tindakan Turki dan Amerika kepada Kurdi Suriah yang juga memicu eskalasi konflik, kini Turki dan Amerika mulai berhadap-hadapan dalam konflik antara

(18)

49 dua negara. Hal ini juga dipicu oleh kasus penahanan Andrew Brunson yang menyebabkan eskalasi Turki dan Amerika.

Di bulan yang sama, Desember 2018, Trump mengumumkan bahwa Amerika telah berhasil mengalahkan IS, maka dengan kalahnya IS, Amerika akan menarik sekitar 2000 pasukan militernya dari Suriah. Namun rencana penarikan pasukan militer Amerika dari Suriah belum tentu, dan belum diketahui kapan akan melakukan penarikan militernya, karena Pemerintah Amerika harus memastikan lagi bahwa IS tidak akan bangkit kembali (BBC, 2018).

Menanggapi rencana Amerika yang akan melakukan penarikan militer dari wilayah Suriah, Turki melakukan ancaman kepada Amerika jika membatalkan penarikan militernya dari Suriah. Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, mengatakan akan melakukan operasi ke wilayah Suriah jika Amerika membatalkan penarikan pasukan militernya, terlebih ketika pembatalannya dengan alasan yang menurut Cavusoglu alasan konyol, seperti kekhawatiran Amerika jka melakukan penarikan militernya dari Suriah, maka Turki akan melakukan pembantaian ke wilayah YPG (Utomo, 2019). Namun pada kenyataannya ancaman Turki justru semakin meningkat karena ketidakpastian Pemerintah Amerika dalam menentukan waktu penarikan pasukan militer Amerika. karena tidak ada kepastian, maka Pemerintah Turki mengancam akan melakukan operasi ke wilayah Suriah, baik Amerika melakukan penarikan militernya, ataupun tidak melakukan penarikan, Turki tetap akan melakukan operasi ke wilayah Suriah (Muhaimin, 2019).

(19)

50 Ancaman Turki terkait rencana penarikan pasukan militer Amerika dari Suriah semakin menimbulkan eskalasi konflik Turki dan Amerika. Gertakan Amerika kepada Turki agar berhenti melakukan serangan kepada YPG karena menghambat proses perdamaian konflik Timur Tengah tidak dapat membuat Turki patuh kepada Amerika. Justru ketika Amerika mengumumkan akan melakukan penarikan pasukan militernya, Turki melakukan ancaman akan melakukan operasi ke wilayah Suriah, bahkan jika batal melakukan penarikan militer, Turki juga akan tetap melakukan operasi ke wilayah Suriah. Ancaman-ancaman tersebut merupakan taktik-taktik berat yang digunakan antara kedua negara, namun taktik-taktik tersebut tidak dapat menimbulkan kepatuhan antara pihak satu dengan yang lain,justru menambah eskalasi ketegangan kedua negara.

Atas ancaman Turki akan melakukan serangan ke wilayah Suriah jika Amerika melakukan penarikan pasukan dari Suriah, Amerika memberikan reaksi dengan melakukan ancaman akan menghancurkan ekonomi Turki, jika Turki melakukan serangan ke pasukan YPG. Dengan Ancaman tersebut, kondisi hubungan bilateral Turki dan Amerika semakin memburuk. Amerika yang dulu hanya memberikan bantuan kepada YPG dalam melawan IS, kini Amerika berlawanan langsung dengan Turki, hal ini ditunjukkan dengan ancaman-ancaman Amerika kepada Turki. Ancaman-ancaman tersebut merupakan taktik-taktik berat Amerika yang ditujukan kepada Turki, yang menyebabkan eskalasi konflik.

Dengan demikian cukup jelas bahwa antara Turki dan Amerika telah terjadi aksi-reaksi yang saling balas-membalas. Dan juga dalam kasus ini terdapat penggunaan taktik-taktik yang meningkat dari ringan menuju berat, dan juga

(20)

51 terjadi transformasi eskalasi sesuai dengan yang dijelaskan oleh Pruit dan Rubin dalam bukunya terkait eskalasi konflik. Pada kasus ini Turki melakukan taktik-taktik dari ringan menuju berat dalam menanggapi aksi Amerika yang membantu YPG dalam mendukung IS. Pada Fase awal Amerika tidak langsung memberikan taktik kepada Turki, namun bentuk dukungan Amerika kepada YPG merupakan sumber dari terjadinya eskalasi konflik. Hal tersebut terjadi karena terdapat perbedaan persepsi antara Turki dan Amerika dalam memandang Etnis Kurdi, seperti dijelaskan Pruit dan Rubin, bahwa perbedaan persepsi antara kedua belah pihak akan menimbulkan konflik. Dan pada fase akhir Amerika mulai melakukan taktik-taktik berat langsung ditujukan ke Turki, yang berbentuk ancaman kepada Turki.

Referensi

Dokumen terkait

Pengelolaan Alokasi Dana Desa dalam Pemberdayaan Masyarakat Studi Pada Desa Blimbing Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung, Wike, S.Sos, M.Si DPA Penelitian ini dilakukan

Strategi kang bisa digunakake ing tindak tutur informatif sajrone khotbah kebaktian minggu ing Greja Kristen Jawi Wetan ing Kutha Surabaya ana wolu yaiku menehi

Manajer membuat keputusan berdasarkan kepada ketiga asumsi tersebut. Bagaimana caranya? Melakukan evaluasi untuk dapat menentukan pengukuran. Untuk melakukan

Banyak modalitas diagnostik yang telah diteliti untuk mendiagnosis secara optimal penyebab terjadinya perdarahan uterus abnormal dan untuk mengidentifikasi apakah pada pasien

Beberapa kasus di Sade dan Segenter menunjukkan kegiatan memasak bergeser kearah luar bangunan, dari yang dulunya perapian hanya diletakkan di dalam rumah sekarang

Cahaya Abadi Indah adalah strategi tipe 5 atau best-value focus yang memproduksi suatu produk kepada sejumlah kecil konsumen dengan nilai tambah terbaik, karena perusahaan

Pilihan berkata “Yes” yang diambil oleh Carl Allen, ketika dia dihadapkan pada suatu pilihan, kemudian mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, namun pada

Tools filterisasi pada Menu Roster, dapat membantu user untuk mengindentifikasikan Jam SPL Lembur yang lebih BESAR dari 3 Jam (ataupun satuan jam tertentu) di Hari Kerja.. Page