BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penglihatan merupakan anugerah dari Allah Subhanahu Wata’ala yang sangat berharga. Melalui penglihatan, manusia dapat melakukan aktifitasnya dengan lancar, dapat melihat keindahan alam, dan dapat mengembangakan potensinya secara optimal. Akan tetapi, tidak setiap manusia dikaruniai penglihatan yang sempurna. Orang yang tidak dikaruniai penglihatan sempurna masyarakat biasa menyebutnya sebagai orang buta dan istilah untuk menyebut orang buta adalah tunanetra.
Dalam ajaran Islam setiap manusia yang lahir ke dunia membawa takdirnya masing-masing, baik itu takdir bersifat baik maupun bersifat buruk. Walaupun setiap manusia tidak mengetahui takdirnya masing-masing, akan tetapi manusia juga lahir dengan dianugerahi harapan. Dengan adanya harapan manusia dapat menjalani hidupnya, memiliki tujuan dalam hidupnya, dan membuat berbagai cara untuk mencapai tujuannya. Apabila manusia tidak memiliki harapan maka seolah-olah ia tidak memiliki tujuan hidup. Begitu juKLBNLBga dengan penyandang tunanetra, mereka memiliki harapan untuk mencapai tujuan hidupnya dan mereka berusaha untuk meraihnya. Dalam ajaran Islam harapan dikenal dengan istilah raja’, terdapat beberapa ayat dalam Al-Quran yang berkaitan dengan ‘raja. Ayat-ayat ini menjadi semacam cambuk bagi ummat Islam agar memiliki harapan dalam hidupnya.
Artinya:
“Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (Q.S. Al-Kahfi: 110) Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Baqoroh: 218)
Berdasarkan 2 ayat di atas, Allah SWT memerintahkan agar hamba-hamba-Nya jangan putus asa dari rahmat-Nya. Itu artinya, manusia harus tetap memiliki harapan dalam hidup ini dan sebagai ummat Islam sudah sepatutnyalah harus tetap memiliki harapan dalam hidup ini.
WHO (World Health Organization) (2012) merilis data hasil penelitian pada tahun 2010 mengenai jumlah penderita tunanetra, menurut laporan ini pada tahun 2010 terdapat 39.365.000 penderita tunanetra di seluruh dunia. WHO memperhitungkan pada tahun 2020 mendatang, kelak jumlah penduduk dunia yang buta akan mencapai 2 kali lipat, kira-kira 80 – 90 juta orang. Di Indonesia sendiri berdasarkan berita dari Merdeka.com (2012) bahwa 1% penduduk di Indonesia atau sekitar 3,5 juta orang mengidap kebutaan. Melihat jumlah itu, maka pengidap kebutaan bisa disetarakan dengan penduduk Singapura. Penyakit kebutaan di Indonesia menempati posisi kedua
di dunia, kondisi ini di perparah dengan jumlah dokter spesialis mata yang sedikit, saat ini hanya terdapat 1.938 dokter spesialis mata di Indonesia (hhttp://health.liputan6.com)
Berdasarkan hasil penelitian di atas, nampak jelas bahwa jumlah penderita tunanetra cukup banyak, khususnya di Indonesia. Kondisi tersebut diperburuk dengan jumlah tenaga kesehatan yang terbatas, juga peluang bertambahnya jumlah penderita tunanetra cukup besar.
Akibat tidak memiliki penglihatan maka tunanetra banyak mengalami masalah dalam hidupnya, secara umum masalah yang dialami tunanetra adalah masalah dalam orientasi dan mobilitas yaitu minimnya kemampuan dalam mengenali suatu tempat dan rute untuk menuju tempat tersebut sehingga tunanetra tidak dapat berpindah tempat dengan lancar dan harus menggunakan alat bantu khusus seperti tongkat ataupun bantuan orang lain untuk memandunya. Dalam kontak sosial tunanetra kesulitan untuk mengenali orang-orang yang ada di sekitarnya sehingga ia tidak bisa menunjukan reaksi atau respon yang sesuai dengan apa yang ditunjukan oleh orang-orang disekitarnya. Ketika tunanetra melakukan percakapan ia tidak dapat menampilkan ekspresi emosi dan bahasa non verbal yang sesuai dari konteks percakapannya sehingga kesan yang ditampilkan dihadapan lawan bicara menjadi tidak sesuai dengan yang seharusnya. Selain itu masalah lainnya adalah tunanetra sering mengulang-ngulang perbuatan yang tidak sengaja seperti gerakan menggoyang kepala dan tics wajah yang berirama sehingga orang-orang di sekitar mereka mengangap itu adalah perilaku yang aneh, dari keanehan itu biasanya muncul komentar-komentar negatif yang dapat membuat tunanetra menghindari kontak sosial. Kemudian tunanetra juga mengalami berbagai masalah psikologis seperti menolak kebutaannya dan perasaan rendah diri dibandingkan orang normal sehingga mereka cenderung menutup diri dan pasif dalam berbagai aktifitas (Safir, 1972 dalam Bhagotra, Sharma & Raina, 2011: 48)
Selanjutnya masalah utama yang dialami tunanetra dari lingkungannya adalah stigma masyarakat yaitu tunanetra tidak bisa melakukan apa-apa, tunanetra tidak dapat berprestasi, tunanetra harus dikasihani, dan tunanetra harus selalu dibantu. Stigma dari masyarakat ini muncul dan berkembang karena masyarakat menganggap bahwa dengan ketiadaan penglihatan maka akan membatasi berbagai aktifitas tunanetra. Akibat stigma negatif itu terus dikatakan kepada mereka sehingga secara tidak disadari mereka membenarkan stigma itu sehingga menjadikan tunanetra merasa rendah diri, pesimis, perlu dibantu, dan dikasihani. Selain itu tunnanetra juga mengalami banyak diskriminasi diberbagai tempat dan situasi seperti diskriminasi di tempat kerja, lembaga pendidikan, dan fasilitias umum lainnya. Diskriminasi ini muncul karena masyarakat memandang rendah kemampuan tunanetra dan dapat menjadi beban mereka. Banyak tunanetra tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah, ini berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia tunanetra, tunanetra tidak mampu bersaing di masyarakat, terpinggirkan, tertinggal., dan ditinggalkan. Rendahnya tingkat pendidikan ini selain karena keadaan internal tunanetra yang telah dipengaruhi oleh stigma negatif tadi juga berasal dari kurangnya dukugan dari orang-orang normal disekitar mereka, bentuk dukungan itu dapat berupa dukungan secara moral maupun materill dalam bentuk fasilitas pendidikan yang menunjang bagi tunanetra untuk mengakses pendidikan. Khususnya di Indonesia masih sangat jarang lembaga pendidikan yang menyediakan fasilitas khusus bagi tunanetra seperti struktur jalan yang dibuat kasar ataupun pegangan dipinggir jalan. Selain pendidikan, akibat kondisi lingkungan sosial maupun non sosial yang tidak bersahabat bagi tunanetra mengakibatkan tunanetra tidak berdaya secara ekonomi, berada di garis kemiskinan, dan sering menjadi obyek kebijakan yang salah, dan hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya (http://munas8.blogspot.com/).
Walaupun demikian masih terdapat tunanetra yang memiliki pendidikan tinggi, berprestasi, mandiri secara ekonomi, dapat bekerja dengan baik, memiliki hubungan sosial yang baik, berkontribusi besar terhadap orang lain, dan memajukan tunanetra lainnya. Hal ini dapat diakibatkan oleh motivasi dan usaha keras yang dilakukan tunanetra tersebut, mereka tidak menyerah terhadap masalah atau hambatan yang ada. Seperti Aria Indrawati ketua Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Tunanetra Indonesia, ia dapat menyelesaikan studi S1 hukum dan menjadi motor memperjuangkan tersedianya fasilitas khusus mahasiswa tunanetra di berbagai perguran tinggi di Indonesia (http://munas8.blogspot.com/). Mimi Mariani Lusli, seorang tunanetra yang dapat menyelasaikan program studi S3 di Faculty of Earth and Life Scienes Universitas Amsterdam Belanda dengan topik disertasi stigma pada penderita kusta di kabupaten Cirebon (id.wikipedia.org). Mawardi dan Resi yang meraih juara pertama Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) ke-3 tingkat Provinsi Kepulauan Riau tahun 2010 (antaranews.com) dan Ade Irawan yang menjadi seorang pianis internasional (indonesiaberprestasi.com). Mereka bertiga memiliki kesamaan dalam hal masa lalu yaitu sering mendapatkan diskriminasi, stigma negatif, dan berbagai cemoohan dari orang lain. Akan tetapi bukannya mereka merasa rendah diri dengan perlakukan negatif itu, mereka menganggapnya sebagi tantangan yang harus diselesaikan, mereka berdua memiliki cita-cita utama yaitu merubah persepsi negatif masyarakat terhadap tunanetra.
Meskipun terdapat tunanetra yang memiliki berbagai pencapaiannya yang mengagumkan akan tetapi jumlahnya masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah tunanetra yang memiliki tingkat pendidikan rendah, tidak mandiri secara ekonomi, dan kualitas diri yang rendah (http://munas8.blogspot.com/).
Dalam hal pendidikan tinggi secara umum setiap orang yang menempuh pendidikan tinggi memiliki keinginan untuk lulus dengan tepat waktu dan berkualitas. Berdasarkan wawancara yang
peneliti lakukan terhadap beberapa mahasiswa, mereka semua memiliki harapan agar lulus cepat dengan IPK memuaskan (wawancara pribadi, 2014). Dalam penelitian sebelumnya mengenai “Harapan pada Mahasiswa yang Orangtuanya Bercerai”, menunjukan bahwa subjek penelitian memiliki hopefull (penuh harapan) dan dengan hopefull itu masalah dan hambatan yang dihadapi tidak membuat individu menjadi hopeless (tidak ada harapan) (Azizah, 2013). Subjek dalam penelitian itu secara fisik merupakan orang normal, sehingga dapat diartikan bahwa subjek penelitian itu tidak memiliki hambatan fisik untuk mencapai tujuannya. Sedangkan S adalah mahasiswa yang memiliki kekurangan secara fisik yaitu tunanetra, sehingga kekurangan fisik itu dapat menjadi hambatan bagi S untuk mencapai tujuannya. Berdasarkan data yang diperoleh dari Bidang Kemahasiswaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, S merupakan satu-satunya mahasiswa tunanetra dan UIN sendiri tidak menyediakan fasillitas khusus bagi penyandang tunanetra.
Selanjutnya peneliti melakukan wawancara secara langsung pada S dengan tujuan untuk mendapatkan data awal penelitian (wawancara pribadi, 2014). Berikut ini adalah hasil wawancara tersebut: Selama ini S hidupnya penuh dengan keprihatinan seperti mendapatkan diskriminasi di berbagai tempat dan situasi, kesulitan dalam menjalani kesehariannya seperti saat ingin mengunjungi suatu tempat, kesulitan dalam melakukan interaksi dengan orang lain seperti saat mengobrol dengan orang lain S tidak dapat melihat keadaan fisik lawan bicaranya. Khusus dalam aktifitasnya di perguran tinggi S kesulitan dalam menyimak materi kuliah dari dosen, mengerjakan tugas, mengakses tempat kuliah, mengujungi perpustakaan, mengisi KRS, dan atifitas akademik lainnya.
S mengalami ketunanetraan sejak kanak-kanak, artinya S sebelumnya memiliki penglihatan, peristiwa ketunanetraannya merupakan peristiwa yang benar-benar mengubah
perilaku S. Sebelum tunanetra S merupakan anak yang ceria seperti anak-anak pada umumnya, namun setelah menjadi tunanetra S menjadi orang yang penyendiri, pendiam, pemurung, pesimis, dan cenderung menutup diri.
Untuk pendidikan, S menyelesaikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sekolah Luar Biasa (SLB), kemudian atas saran gurunya di SLB ia melanjutkan sekloah ke Madrasah Aliyah Negeri 2 Bandung dengan alasan MAN 2 Bandung adalah sekolah inklusi berbasis agama. Setelah menamatkan MA, karena memiliki keinginan besar untuk mencari ilmu S melanjutkan kuliah di UIN Sunan Gunung Djati Bandung jurusan Tafsir Hadits, S diterima di UIN melalui jalur undangan. S sekolah di MAN akibat dorongan dari orang tuanya yang terus mendorong S untuk maju seperti dalam menyelasaikan sekolah dan mengikuti organisasi di lingkungan rumahnya. Setelah sekolah di MAN S mulai dapat berpikir untuk kemajuan hidupnya, ia tidak terlalu tergantung pada dorongan orang tuanya. S sendiri juga yang menginginkan untuk menempuh pendidikan tinggi setelah lulus dari MAN, walaupun dalam pemilihan jurusan S meminta pertimbangan dari orang tuanya.
Walaupun mendapatkan berbagai masalah dan hambatan sampai saat ini S tetap dapat bertahan menempuh pendidikan tinggi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang merupakan perguruan tinggi umum dan tidak menyediakan fasilitas khusus bagi tunanetra. S dapat mengatasi berbagai masalah dan hambatan yang dialaminya menggunakan cara khusus menyesuaikan dengan kondisinya. Tujuan utama S menempuh pendidikan tinggi adalah dapat menjadi sarjana berkualitas yang lulusan bukan hanya mendapatkan nilai tapi juga mendapatkan ilmu
Selain itu, S berusaha untuk menjadi individu yang mandiri baik dari segi finansial maupun yang lainnya seperti dengan berdagang makanan di kampus tempatnya berkuliah, S merasa dirinya mampu berbuat sesuatu tanpa harus dibantu oleh orang lain. Selain itu S bukan orang yang suka
menunggu untuk mendapatkan yang ia inginkan, ia cenderung proaktif ketika menginginkan sesuatu. Juga untuk mengembangkan kualitas dirinya S mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri seperti mengikuti komunitas motivator Habibi Communtiy, menjadi pengajar di lembaga tahfidz Al-Qura’an, dan menjadi santri pesantren tahfidz Al-Quran. S membuktikan bahwa dirinya adalah orang yang menjalani pendidikannya dengan sungguh-sungguh dilihat dari Indeks Prestasi (IP) semester I sebesar 3.6, semester II 3.4, dan semester III 3,61. Selain itu S pernah mendapatkan juara I lomba menulis cerita pendek tingkat universitas yang dilaksanakan oleh UKM Lembaga Dakwah Mahasiswa (LDM). Hal-hal ditunjukan S sangat berbeda dengan kebanyakan tunanetra, kebanyakan orang tunanetra cenderung menutup diri, rendah diri, pesimis, tidak memiliki keinginan menempuh pendidikan tinggi, cenderung menunggu ketika menginginkan sesuatu, selalu ingin dikasihani dan dibantu, cenderung pasif, dan belajar hanya mengandalkan metode konvensional (syamirfandi.com)
Perbedaan yang ditunjukan S dengan kebanyakan tunanetra merupakan fenomena yang unik untuk diteliti, peneliti menganggap aspek harapan yang membuat S dapat menjadi tunanetra seperti yang telas dijelaskan di atas. Oleh karena itu peneliti ingin meneliti mengenai harapan pada seorang tunanetra yang menempuh pendidikan tinggi.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan di atas, maka peneliti dapat merumuskan permasalahan sebagai berikut; “Bagaimana gambaran harapan pada seorang tunanetra yang menempuh pendidikan tinggi ?”
Berdasarkan rumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam mengenai gambaran harapan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada seorang tunanetra yang menempuh pendidikan tinggi.
D. Kegunaan Penelitian
Agar memiliki nilai lebih, maka penelitian yang dilakukan haruslah memiliki kegunaan, baik itu kegunaan secara teoritis maupun praktis. Demikian juga dengan penelitian yang akan peneliti lakukan, peneliti memiliki keinginan penelitian yang akan dilakukan memiliki kegunaan berikut ini:
1. Kegunaan Teoritis
Kegunaan secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan dalam bidang psikologi khususnya Psikologi Positif dan
menjadi bahan kajian bagi akademisi psikologi.
2. Kegunaan Praktis
Kegunaan praktis yang diharapkan dari penelitian ini diantaranya adalah:
a. Dapat menjadi inspirasi bagi penyandang tunanetra, khususnya yang berstatus mahasiswa, untuk memahami potensi yang dimiliki sehingga dapat dikembangkan ke arah yang lebih positif.
b. Memberikan motivasi bagi penyandang tunanetra agar tetap memiliki harapan dalam menggapai cita-citanya.
c. Memberikan informasi mengenai sisi lain tunanetra, yakni harapan, pada orang-orang yang bertanggung jawab mengurus tunanetra.