• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi analisis hadis-hadis Tafsir al-Iklil karya K.H. Misbah Zain bin Mustafa (surat ad-Dhuha sampai surat an-Nash)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Studi analisis hadis-hadis Tafsir al-Iklil karya K.H. Misbah Zain bin Mustafa (surat ad-Dhuha sampai surat an-Nash)"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI ANALISIS HADIS-HADIS TAFSIR AL-IKLIL KARYA K.H MISBAH ZAIN BIN MUSTAFA ( SURAT AD-DHUHA SAMPAI SURAT AN-NASH)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Tafsir Hadis Ilmu Ushuluddin

Oleh :

MUHAMMAD SHOLEH

NIM : 104211071

FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

(2)

ii

Nama : Muhammad Sholeh

NIM : 104211071

Jurusan : Tafsir Hadis

Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :

STUDI ANALISIS HADIS-HADIS DALAM TAFSIR AL-IKLIL KARYA K.H MISBAH ZAIN BIN MUSTAFA (SURAT AD-DHUHA SAMPAI SURAT AN-NASH)

Secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.

Semarang, 20 Maret 2015 Pembuat Pernyataan,

Muhammad Sholeh NIM : 104211071

(3)

iii

STUDI ANALISIS HADIS-HADIS DALAM TAFSIR AL-IKLIL KARYA K.H MISBAH ZAIN BIN MUSTAFA

(SURAT AD-DHUHA SAMPAI SURAT AN-NASH)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Dalam Ilmu Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadis

Oleh :

MUHAMMAD SHOLEH NIM : 104211071

(4)
(5)

v MOTTO                      

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk

(6)

vi

(7)

vii

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

penulisan ejaan Arab dalam skripsi ini berpedoman pada keputusan Menteri Agama dan Menteri Departemen Pendidikan Republik Indonesia Nomor : 158 th. 1987 dan 0543b/U/1987 sebagaimana dikutip dalam Pedoman Penulisan Skripsi. Tentang pedoman Transliterasi Arab-Latin sebagai berikut :

1. Konsonan

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama

أ

ب

ت

ث

ج

ح

خ

د

ذ

ر

ز

س

ش

ص

ض

ط

ظ

ع

غ

ف

ق

ك

ل

alif ba ta sa jim ha kha dal zal ra zai sin syin sad dad ta za ‘ain gain fa qaf kaf lam tidak dilambangkan

b

t

s\

j

h{

kh

d

z\

r

z

s

sy

s}

d}

t}

z}

_‘

g

f

q

k

l

tidak dilambangkan be te

as (dengan titik di atas) je

ha (dengan titik di bawah) ka dan ha

de

zet (dengan titik di atas) er

zet es es dan ye

es (dengan titik di bawah) de (dengan titik di bawah)

te (dengan titik di bawah) zet (dengan titik di bawah)

koma terbalik di atas ge

ef ki ka

(8)

viii

ـه

ء

ً

ha hamzah ya

h

_

Y

we ha apostrof ye 2. Vokal

Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong.

A. Vokal tunggal

Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harakat, transliterasinya sebagai berikut:

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama

--- fathah A A --- kasrah I I --- dammah U U Contoh: kataba - fa„ala - zukira - B. Vokal rangkap

Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harakat dan huruf, transliterasinya berupa gabungan huruf, yaitu:

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama

-

(9)

ix --- ْو Kasrah au a dan u Contoh: kaifa - َفْيَك haula - َلْوَح 3. Maddah

Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama

--- -ا -

ى fathah dan alif a> a dengan garis di

atasnya -

ًْ kasroh dan ya i> i dengan garis di

atasnya - --ْو dhammah dan wau u> u dengan garis di atasnya Contoh: qala - َلاَق rama - يَمَر qila - َلْيِق yaqulu - ُلْوُقَي 4. Ta` Marbutah

A). Ta` Marbutah hidup transliterasinya adalah /t/.

(ketentuan ini tidak diperlukan bagi kata-kata Arab yang sudah terserap dalam bahasa Indonesia, seperti zakat, shalat, dan sebagainya, kecuali bila dikehendaki lafaz aslinya).

B).Ta` Marbutah mati transliterasinya adalah /h/.

C). Jika Ta` Marbutah terletak pada akhir kata dan diikuti dengan kata sandang al (لا) maka ada dua bentuk transliterasi. Pertama dengan memisahkan kedua kata, sehingga kedua kata ditransliterasikan sebagaimana adanya. Kedua dengan menggabungkan kedua kata itu, sehingga ta` marbutah ditransliterasikan dengan /t/.

Contoh:

Raudah al-atfal -

Raudatul atfal -

Madinah al-munawwarah atau -

Madinatul munawwarah

5. Syaddah

ة د دعتم Ditulis Muta„addidah

(10)

x a. Kata sandang diikuti huruf syamsiah.

Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf /l/ diganti dengan huruf yang sama dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang itu.

b. Kata sandang diikuti huruf qamariah

Kata sandang yang diikuti huruf qamariah ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan di depan dan sesuai pula dengan bunyinya. Baik diikuti oleh huruf syamsiah maupun huruf qamariah, kata sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikuti dan dihubungkan dengan kata sandang. Contoh:

-

ar-rajulu

-

as-sayyidah

-

asy-syamsu

-

al-qalamu

-

al-badi u

-

al-jalalu 7. Hamzah

Dinyatakan di depan bahwa hamzah ditransliterasikan dengan apostrof, namun itu hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan akhir kata. Bila hamzah terletak di awal kata, maka ia tidak dilambangkan karena dalam tulisan Arab berupa alif.

Contoh:

-

ta‟khuzuna

-

an-nau‟

-

syai‟un

-

inna

-

umirtu

-

akala

(11)

xi

KATA PENGANTAR ميحرلا نمحرلا للها مسب Assalamu‟alaikum Wr. Wb.

Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memelihara alam semesta. Kiranya tiada kata paling tepat yang bisa diucapkan selain Alhamdulillah, rasa syukur tiada terkira kepada Allah SWT yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Studi Analisis Hadis-Hadis Tafsir Al-Iklil Karya K.H Misbah Zain Bin Mustafa (Ad-Dhuha Sampai Surat An-Nash)”.

Shalawat dan salam abadi semoga tercurahkan tanpa henti kepada Baginda Rasulullah SAW, atas perjuangannya dalam menyebarkan agama sehingga kita dapat merasakan damainya hidup dalam naungan Islam.

Selesainya skripsi ini tidak terlepas dari banyak pihak yang ikut serta dalam memberikan bantuan kepada penulis baik moril maupun materiil. Untuk itu, pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih tiada terhingga kepada:

1. Dr. H. Mukhsin Jamil. M.Ag, selaku Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang.

2. Dr. H. Mokh. Sya‟roni, M.Ag selaku Pembimbing I yang telah meluangkan waktunya memberikan bimbingan serta arahan dalam penulisan skripsi ini serta memberikan arahan selama studi di Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang.

3. Dr. Hj. Sri Purwaningsih, M.Ag selaku Pembimbing II yang telah meluangkan waktunya memberikan bimbingan, arahan, serta motivasi dalam penulisan skripsi ini

4. Pengasuh Ponpes Raudhotut Thalibin Tugurejo Tugu Kota Semarang, KH. Zaenal Asyikin (alm), Nyai Hj. Muthohiroh, KH. Drs. Mustaghfirin, KH. Abdul Kholiq, L.c dan Ust. M. Qolyubi, S.Ag, juga Pengasuh Ponpes ASASUL HUDA III Bawang Batang, KH. Chamdan Sulaiman yang telah mendidik dan memberikan ilmunya untuk menjadi insan yang bermanfaat di dunia dan akhirat.

(12)

xii

oleh Allah SWT yang bisa penulis panjatkan.

6. Adikku Imam Ghozali dan Ihsanul Fu‟adi yang selalu memberikan semangat dalam setiap senyum serta prestasi-prestasi yang kalian torehkan sehingga rasa bangga ini terus mengalir kepada kalian.

7. Kawan-kawan KMBS Walisongo yang tidak bisa sebutkan satu per satu. 8. Sahabat-Sahabat PPRT khususnya kamar 9 bang jhon, rio, ridwan, daus,

imam, latep, muner, pian, yunus, mugni, datok, tabik dll

9. Teman-Teman TH C kaji fuad, jamal, jejen, aziz cengek, mbah rif‟an, aufal, yuli dan lain-lainnya.

10.Rosita Naili Farih dan Safrina Tsani Akmala, dengan penuh keikhlasan memberi warna dalam kehidupan penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini serta kesetiaanya yang selalu menemani, mengisi setiap hari penulis dengan keceriaan, motivasi, inspirasi, serta semangat untuk terus belajar demi menjadi pribadi yang lebih baik. .

11.Semua pihak dan instansi terkait baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah membantu, baik moril maupun materiil dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi materi, metodologi dan analisisnya. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya hanya kepada Allah penulis berharap, semoga apa yang tertulis dalam skripsi ini bisa bermanfaat khususnya bagi penulis dan bagi para pembaca pada umumnya. Amin.

Wa‟alaikumsalam Wr. Wb.

Semarang, 2015

Penulis

Muhammad Sholeh

(13)

xiii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN DEKLARASI ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

TRANSLITERASI ... vii

KATA PENGANTAR ... xi

DAFTAR ISI ... xiii

ABSTRAK ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 8

D. Telaah Pustaka ... 8

E. Metode Penelitian ... 10

F. Sistematika Pembahasan ... 14

BAB II HADIS DAN KAEDAH-KAEDAH KESAHIHAN HADIS ... 17

A. Hadis dan Kaedah-Kaedah Kesahihan Hadis ... 18

1. Definisi Hadis ... 18

2. Pembagian Hadis ... 18

B. Kaedah-Kaedah Kesahihan Hadis ... 18

C. Takhrij al-Hadis ... 22

D. Kritik Sanad Hadis ... 29

(14)

xiv

1. Biografi K.H Misbah Mustafa ... 35

2. Karya-karya K.H. Misbah Mustafa ... 38

3. Latar belakang penulisan kitab tafsir al-Iklil ... 44

4. Sistematika dan Corak penulisan kitab tafsir al-Iklil... 45

B. Hadis-Hadis dalam Kitab Tafsir al-Iklil Dari Surat ad-Dhuha Sampai Surat an-Nash ... 47

1. Hadis Pertama ... 48 2. Hadis Kedua ... 49 3. Hadis Ketiga ... 49 4. Hadis Keempat ... 50 5. Hadis Kelima ... 50 6. Hadis Keenam ... 51 7. Hadis Ketujuh ... 51 8. Hadis Kedelapan ... 52

BAB IVANALISIS HADIS ... 53

1. Kualitas Hadis Pertama ... 53

2. Kualitas Hadis Kedua ... 55

3. Kualitas Hadis Ketiga ... 56

4. Kualitas Hadis Keempat ... 60

5. Kualitas Hadis Kelima ... 63

6. Kualitas Hadis Keenam ... 74

7. Kualitas Hadis Ketujuh ... 80

8. Kualitas Hadis Kedelapan ... 85

BAB V PENUTUP ... 89

A. Kesimpulan ... 89

B. Saran ... 90

(15)

xv

ABTRAKSI

Skripsi ini membahas tentang kualitas hadis-hadis yang terdapat pada Tafsir al-Iklil fi Ma‟ani Tanzil karya KH. Misbah Zain bin Mustafa dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash.

Sebagaimana dalam menafsirkan al-Qur‟an, banyak ulama‟ menggunakan metode bil ma‟tsur atau menafsirkan ayat-ayat al-Qur‟an dengan ayat al-Qur‟an yang lainnya, ayat al-Qur‟an dengan hadis nabi, dan ayat al-Qur‟an dengan ijma‟ sahabat dan ulama‟. KH Misbah tidak luput dengan penafsiran metode diatas, akan tetapi dalam menafsirkan al-Qur‟an banyak sekali menggunakan hadis-hadis yang belum jelas tentang keorisinilannya. Penulis beranggapan bahwa dalam penggunaan hadis untuk menjelaskan al-Qur‟an dalam Tafsir al-Iklil ada 3 kategori, yaitu: pertama hadis tidak terdapat sanad dan matan, atau hanya menggunakan bahasa penafsir sendiri (jawa pegon). Kedua, tidak terdapat sanadnya atau hanya menggunakan potongan matan hadisnya. Ketiga, terdapat sanad dan matannya. Dari sini penulis coba melakukan penelitian mengenai kualitas hadis-hadis Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash. Penulis juga memfokuskan penelitiannya pada hadis yang tidak terdapat sanadnya atau kategori kedua.

Mengenai kualitas hadis-hadis Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash. Terdapat 8 hadis yang diteliti dengan tema yang berbeda-beda. Dalam meneliti hadis tersebut, penulis menggunakan metode-metode penelitian hadis, seperti kaidah-kaidah kesahihan hadis, takhrij al-hadis, kaidah jarh wa at-Ta‟dil. Penulis juga mencantumkan mengenai rijal al-sanad dan skema al-sanad. Dengan menggunakan teori diatas, penulis menganalisis hadis-hadis Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash yang tidak terdapat sanadnya dengan hasil sebagai berikut: kualitas hadis pertama dengan pembahasan mengenai orang munafik tidak bisa melakukan shalat isya‟ dan subuh secara berjama‟ah. Dari kesimpulan penulis hadis tersebut tidak ada sumbernya, jadi kualitas sanad dan matannya dhaif. Kualitas hadis kedua tentang Allah benci terhadap kebathilan. Dari segi sanad adalah dhaif, karena ini hadis maudhu‟ sedangkan dari segi matan adalah hasan. Kualitas hadis ketiga tentang kiamat itu akan dating dengan tanda-tandanya. Salah satunya adalah waktu terasa singkat seperti satu tahun terasa satu bulan, satu bulan terasa seminggu, seminggu terasa satu hari, dan satu hari terasa satu jam. Dari segi sanad adalah shahih sedangkan matan hadis ini juga shahih. Kualitas hadis keempat tentang Surat at-Tiin, dari segi sanad adalah shahih sedangkan matan hadis ini juga shahih. Kualitas hadis kelima Hadis Tentang Melaksanakan ibadah sholat di bulan Puasa Ramadhan dengan Iman dan Sungguh-Sungguh akan diampuni Semua Dosanya. Dari segi sanad adalah shahih sedangkan matan hadis ini juga shahih. Kualitas hadis keenam Tentang Keistimewaan Kalimat Tayyibah, dari segi sanad adalah hasan sedangkan matan hadis ini adalah shahih. Kualitas hadis ketujuh Tentang Cinta Dunia Pangkal Dari Keburukan, dari segi sanad adalah hasan dikarenakan sanadnya tidak sampai pada tingkatan sahih sedangkan matan hadis ini adalah shahih. Kualitas hadis kedelapan Tentang jangan Memikirkan Dzat Allah, Akan Tetapi

(16)

xvi

Penelitian ini hanya pada kitab Tafsir al-Iklil dari surat ad-Dhuha sampai surat an-Nash, dan bukan keseluruhan kitab Tafsir al-Iklil.

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Keberadaan al-Qur’an dan Hadis di kalangan umat Islam merupakan anugerah yang luar biasa dari Allah Swt. Sudah sepantasnya bagi kita sebagai orang muslim untuk selalu menjaga dan mengamalkannya. Dua hal tersebut merupakan sebagai pedoman bagi orang muslim dalam mengarungi kehidupan dunia dan untuk terhindar dari gemerlap dunia sehingga kita dapat selamat sampai ke akhirat.

Salah satu usaha untuk memahami al-Qur’an adalah dengan melakukan penafsiran. Untuk memahami ayat al-Qur’an yang masih global, maka diperlukan sebuah penafsiran baik itu menafsirkan ayat al-Qur’an dengan ayat al-Qur’an lainnya, ayat al-Qur’an dengan hadis, ataupun ayat al-Qur’an dengan ijma para sahabat dan ulama’ atau yang disebut dengan metode bi al ma’tsur.

Penting untuk dikemukakan bahwa kegiatan menafsirkan teks (al-Qur’an) pada hakikatnya adalah upaya untuk menjelaskan dengan serinci-rincinya ayat al-Qur’an yang masih perlu dibedah. Dengan kata lain, kegiatan menafsirkan al-Qur’an adalah Karena teks al-Qur’an lahir di ruang tidak hampa untuk merespons segala persoalan kemanusiaan yang terus bergerak dinamis.1 Oleh karena itu, kegiatan menafsirkan al-Qur’an ini menjadi salah satu kegiatan penting bagi umat Islam untuk lebih dalam menggali makna al-Qur’an sebagai salah satu solusi untuk menjawab setiap permasalahan tersebut.

Dalam upaya menafsirkan al-Qur’an para mufassir (orang yang menafsirkan al-Qur’an) memiliki beragam metode dan corak. Ada yang menafsirkan al-Qur’an dengan metode Tahlili, Ijmali, Muqarrin, dan Maudhu’i. Dalam menafsirkan al-Qur’an para mufassir juga banyak

1 Abu Yasid, Nalar & Wahyu (Interrelasi dalam Proses Pembentukan Syari’at)

,(Jakarta:

(18)

melakukan berbagai macam pendekatan atau corak, seperti; pendekatan sastra, fikih, tasawuf, dan bahasa. Ada pula yang menggunakan pendekatan sosial. Selain itu, masih banyak lagimetode dan corak yang digunakan mufassir dalam membedah kalam illahi ini.2 Semua itu tergantung kecenderungan keluasan ilmu dan bidang yang di tekuni oleh para mufassir tersebut.

Dalam upaya penafsiran, penggunaan ayat Qur’an dengan al-Qur’an tidaklah menjadi sebuah masalah, karena secara periwayatannya semuanya sudah jelas. Namun dalam menjelaskan ayat al-Qur’an dengan hadis, harus ditinjau kembali, dengan kata lain para mufassir dalam menjelaskan ayat yang sifatnya masih global, banyak yang menggunakan hadis. Penggunaan hadis dalam menafsirkan ayat al-Qur’an tidaklah dilarang, bahkan diperbolehkan selama masih dalam ketentuan, seperti tidak bertentangan antara makna ayat al-Qur’an dan hadis yang lebih sahih, untuk mengetahui hadis yang digunakan apakah sahih atau dhaif dalam sebuah tafsir, maka cara yang tepat yaitu sebuah penulisan. Hal seperti itu sering kita jumpai pada kitab-kitab tafsir yang ada, dikarenakan mufassir menggunakan metode periwayatan bi al-Ma’tsur.

Sabda Nabi Saw.:

3

Hadis menduduki tempat yang tinggi dihati orang islam dan mendapat legitimasi dari al-Qur’an sebagai sumber hukum islam setelah al-Qur’an. Hadis merupakan penjelas yang nyata terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang masih global (mujmal).4

Mengingat hadis merupakan penjelas al-Qur’an, Alah SWT telah menerangkan dalam ayat al-Qur’an seperti peran nabi muhammad SAW

2Mohammad Nor Ichwan, Belajar Al-Qur’an

,(Semarang: Rasail, 2005), h.245-268

3Malik bin Annas, al-Muwatha’ bi Riwayat Yahya bin Yahya al

-Laisi, (Bairut: Dar

al-Ihya’ al-Ulum), h. 690 4

(19)

3

sebagai mufassir al-Qur’an allah SWT. Diterangkan dalam surat an-Nahl/16:44, Allah SWT berfirman:

      Artinya: dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu

menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. Ayat diatas, menjelaskan bahwa Rasulallah SAW memiliki otoritas penjelas pertama dan utama terhadap al-Qur’an, baik makna langsung dari apa yang tersurat (redaksi yang kurang jelas) maupun makna tidak langsung dari apa yang tersurat (makna tersirat, subtansi, atau kandungan yang dikehendaki oleh suatu ayat).6

Dilihat dari segi periwayatannya seluruh al-Qur'an tidak perlu dilakukan penulisan kembali tentang orisinalitasnya, sedangkan terhadap hadis Nabi SAW khususnya yang termasuk kategori ahad, maka diperlukan sebuah tindakan penulisan akan orisinalitasnya.7 Bertolak dari permasalahan tersebut, maka hadis Nabi SAW sebelum dipahami dan diamalkan, perlu diidentifikasi terlebih dahulu serta diteliti orisinalitasnya dalam rangka kehati-hatian dalam mengambil hujjah atasnya. Setelah dilakukan pengujian, baru kemudian suatu hadis yang diduga kuat berkualitas sahih ditelaah dan dipahami untuk selanjutnya dapat diamalkan, sebab ada di antara hadis-hadis yang sahih tersebut yang dapat segera diamalkan (ma'mulbih) dengan memahami redaksinya, namun adapula yang tidak segera dapat diamalkan (gair ma'mulbih), karenanya menuntut pemahaman yang mendalam dengan memperhatikan latar belakang munculnya hadis (asbab al-wurud al-hadis) serta piranti lainnya. Proses inilah yang dikenal kemudian dengan proses pemahaman hadis.

5

Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahannya,

(Jakarta: Departemen Agama, 1971), h. 408 6 Hasan Asy’ari Ulama’i,

Normativitas & Historisitas Hadis (Semarang: CV. Bima

Sejati), h. 1 7

(20)

Banyak karya para mufassir yang dalam menafsirkan al-Qur’an dengan menggunakan hadis Nabi mulai dari masa klasik, pertengahan, sampai masa kontemporer yang jumlahnya semakin bertambah. Misalnya Tafsir Jami’ul Bayan Fi Tafsiril Qur’an oleh At-Thabari, al-Jami’ al -Ahkam al-Qur’an karya al-Qurtubi, Tafsir al-Qur’anil karim karya ibn katsir bahkan para ulama indonesia tidak luput dari proses dalam menafsirkan al-Qur’an seperti : Bisri Mustafa dengan kitab Tafsir al-Ibriz, Muhammad QuraishSihab dengan kitab Tafsir al-Misbah, Hamka dengan kitab tafsir al-Azhar dan juga Misbah Mustafa dalam karya tafsir al-Iklil dengan berbahasa jawa pegon.

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengkaji kitab Tafsir al-Iklil. Kitab ini terdiri dari 30 jilid, pemisahannya berbatas pada juz dalam al-Qur’an dengan menggunakan bahasa jawa pegon dan makna gandul. Dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an pengarang kitab ini menjelaskan ayat demi ayat secara terperinci, lugas dan tidak bertele-tele sehingga sangat tepat dikonsumsi untuk kalangan awam pada umumnya dan kalangan pesantren khususnya. Melihat cara penafsiran yang digunakan dalam Tafsir al-Iklil, penulis sebelumnya beranggapan bahwa Tafsir al-Iklil menggunakan metode penafsiran secara tahlili yaitu menjelaskan mulai dari makna kosakata, makna kalimat, munasabah ayat, asbab al-nuzul, riwayat-riwayat yang berasal dari Nabi saw, sahabat, tabi’in dan ulama-ulama yang lainnya, dimana prosedur ini dilakukan dengan mengikuti susunan mushaf, ayat per ayat, surat per surat dalam al-Qur’an.8

Dalam penulisan kitab tafsir ini pengarang membutuhkan waktu yang lumayan lama yaitu selama 8 tahun, dimulai pada tahun 1977 sampai 1985.

Pengarang kitab Tafsir al-Iklil ini adalah K.H Misbah Mustafa seorang pengasuh pondok pesantren al-Balagh, Bangilan, Tuban, Jawa Timur. Beliau dilahirkan di pesisir utara Jawa Tengah, tepatnya di kampung Sawahan, Gang Palem, Rembang pada tahun 1916 dengan nama kecil

8AhmadSyarofi, Penafsiran Sufi Surat Al-Fatihah dalam Tafsir Tāj Al

-Muslimîn dan Tafsir Al-Iklîl Karya K.H Misbah Musthafa, (Semarang: Skripsi IAIN Walisongo, 2008), h. 27-28

(21)

5

Masruh. Beliau lahir dari pasangan keluarga H. Zaenal Mustafa dan Khadijah. KH Misbah beserta kakaknya KH Bisri, masa kecilnya dididik dengan ketat dalam disiplin ilmu agama, mereka berdua dipondokkan di Kasingan rembang yang diasuh oleh Kyai Kholil. Setelah mendalami ilmu agama di Kasingan, Misbah kecil meneruskan menimba ilmu di Tebuireng Jombang, asuhan KH. Hasyim Asy’ari.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Tebuireng, beliau memperdalam pendidikan agamanya di Mekah. Dan sepulang dari Mekah, pada tahun 1940 beliau aktif dalam partai politik. Kemudian di masa tuanya beliau mulai menulis dan mengarang kitab, termasuk kitab Tafsir al-Iklil. Menurut beliau dengan cara menulis itu merupakan metode dakwah yang paling tepat. Karena dengan menulis kita dapat menjawab masalah-masalah saat itu, terutama masalah sosial.

Mengenai nama kitab Tafsir al-Iklil karena berkaitan dengan masalah sosial dan beliau juga termotivasi dari kegiatan spiritual yang diembannya selama kehidupan sehari-hari dengan tradisi sufistiknya. Secara etimologis, al-Iklil berarti mahkota bagi kaum muslimin. Mahkota dalam bahasa jawa berarti “kuluk”, atau tutup kepala untuk seorang raja. Pada zaman dahulu setiap raja memiliki tutup kepala yang berlapiskan emas dan berlian atau intan. Harapan dari KH. Misbah Mustafa, supaya orang-orang muslimin menjadikan al-Qur’an sebagai mahkota atau pelindung bagi dirinya yang dapat membawa ketentraman batin baik di dunia dan akhirat.

Dalam upaya menafsirkan al-Qur’an, KH. Misbah Mustafa tidak terlepas dari keberadaan hadis. Ini terbukti dalam sebuah kitab tafsir karya beliau yang mana dalam menjelaskan sebuah ayat al-Qur’an menggunakan hadis. Hadis yang dijadikan salah satu sumber penjelas dalam penafsiran al-Qur’an memegang peranan penting, karena akan berikan penjelasan dan lebih memerinci ayat-ayat al-Qur’an yang masih global.9

Karena hadis memiliki peran yang begitu penting dalam sebuah penafsiran al-Qur’an, maka hadis-hadis yang digunakan dalam berpijak pun

9 M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an

(22)

tidak boleh sembarangan. Dalam artian bahwa hadis yang digunakan harus memiliki standar yang layak (shahih) untuk dijadikan sebagai dasar atau dalil (hujjah). Hadis-hadis tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah tentang keshahihannya.

Berbagai macam kitab tafsir yang menggunakan hadis sebagai salah satu penguat dalam penafsirannya belum tentu dapat dipastikan semuanya adalah shahih bahkan ada yang dhaif, karena demi ada beberapa unsur kepentingan. Oleh karenanya, perlu bagi kita untuk meneliti kualitas hadis-hadis yang dicantumkan dalam sebuah kitab tafsir. Hal ini sangat penting, mengingat kedudukan kualitas hadis erat sekali kaitannya dengan dapat atau tidaknya suatu hadis dijadikan hujah (hujjah; dalil) agama.10

Berdasarkan hal-hal tersebut, penulis mencoba untuk melakukan penulisan mengenai kualitas sanaddan matanhadis yang ada dalam sebuah kitab tafsir. Dalam hal ini penulis menggunakan Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash karya K.H Misbah Mustafa sebagai objek kajiannya. Pemilihan al-Iklil sebagai objek penulisan dikarenakan tafsir ini merupakan salah satu tafsir yang masih aktif dikaji oleh masyarakat Indonesia sebagai bahan pembelajaran untuk para santri dan masyarakat khususnya yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Al-Balagh BangilanTuban, umumnya untuk para masyarakat indonesia.

Di dalam Tafsir al-Iklil ini cukup banyak hadis-hadis yang ditampilkan menggunakan rujukan yang kurang jelas sehingga menjadikan pembaca ragu dan mengalami kesulitan ketika ingin melakukan kroscek terhadap hadis-hadis yang ada. Dan juga dalam penyebutan hadis-hadisnya pengarang kitab Tafsir al-Iklil tidak menampilkan teks asli hadis yang terkait. Dalam pembahasan ini penulis ingin mengkroscek hadis-hadis yang ada dalam kitab Tafsir al-Iklil khususnya dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Naas. Alasan pemilihan surat ad-Dhuha sampai Surat an-Naas dikarenakan surat tersebut sering sekali digunakan oleh masyarakat islam

10Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis

: Telaah Kritis Dan Tinjauan Dengan Pendekatan Ilmu Sejarah, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1995), h. 5

(23)

7

dalam bacaan sholat fardhu. Selain itu surat tersebut juga digunakan acara-acara keagamaan yang ada di dalam kehidupan masyarakat. Penulis membatasi objek penulisan yaitu dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash karena penulis sadar akan kemampuan yang terbatas, jika penulisan ini objeknya terlalu luas akan menyita waktu dan pikiran yang sangat lama. Maka dari itu penulis membatasi objek kajian. Penulis hanya mengkaji hadis-hadis dalam kitab tafsir al-Iklildari surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash untuk meneliti dan mengetahui kualitas hadis tersebut.

Dalam kitab tafsir al-Iklildari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash terdapat 18 hadis dengan kategori yang berbeda-beda. Kategori ini di bedakan menjadi tiga: yang pertama, hadis yang ada sanad dan matan. Yang kedua, hadis yang tidak ada rangkaian sanad. Yang ketiga, hadis yang tidak terdapat sanad dan matan hanya menggunakan bahasa asli pengarang kitab tafsir (jawa pegon). Khusus mengenai penulisan ini, penulis memfokuskan terhadap hadis-hadis yang tidak terdapat sanadnya. Dikarenakan waktu dan keterbatasan penulis dalam melakukan pembahasan dan juga kesulitan penulis dalam mengungkapkan maksud dari pengarang kitab tafsir yang menggunakan hadis hanya dengan menggunakan bahasa pengarang kitab tafsir sendiri. Supaya tidak terjadi ketidak sepahaman antara penulis dengan pengarang kitab, maka hanya memfokuskan objek penulisan pada hadis-hadis yang tidak terdapat sanad di dalam Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai surat an-Nash.

Hal tersebut perlu dilakukan penulisan, karena penggunaan hadis yang tidak konsisten oleh pengarang kitab Tafsir al-Iklil dalam rangka menjelaskan dan menafsirkan ayat-ayat suci al-Qur’an. Melihat latar belakang tersebut, menginspirasi penulis untuk membahasnya dalam sebuah skripsi yang berjudul “STUDI ANALISIS HADIS-HADIS DALAM TAFSIR AL-IKLIL KARYA K.H MISBAH BIN ZAIN MUSTAFA ( Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash)

(24)

B. Rumusan Masalah

Bagaimana kualitas hadis-hadis yang digunakan Misbah Mustafa dalam Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah diatas maka yang menjadi tujuan penulisan ini adalah:

1. Untuk menganalisis kualitas hadis-hadis yang digunakan Misbah Mustafa dalam Tafsir al-Iklildari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash

Adapun manfaat yang dapat diambil dari penulisan ini adalah: 1. Penulisan ini diharapkan mampu menjadi tambahan referensi para pengkaji

hadis dalam upayanya untuk mengetahui penggunaan hadis dalam Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash yang dilakukan Misbah Mustafa.

2.Untuk melengkapi sebagian dari syarat-syarat guna memperoleh gelar sarjana strata satu (S1) dalam bidang ilmu tafsir dan hadis pada Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang.

3. Menambah khazanah keilmuan dalam bidang hadis, yaitu memaparkan kualitas hadis-hadis yang ada dalam kitab Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash karya Misbah Mustafa.

D. Tinjauan Pustaka

Penulisan mengenai karya-karya Misbah Mustafa sebelumnya dapat dibilang relative sedikit, terutama mengenai kitab tafsirnya al-Ikil Fi Ma’anil Tanzil karya K.H Misbah Mustafa, hasil penelusuran penulis hanya menemukan beberapa karya yang membahas kitab ini, yaitu :

1. “Penafsiran Sufi Surat Al-Fatihah dalam Tafsir Tāj Al-Muslimîn dan Tafsir al-Iklîl Karya K.H Misbah Musthofa”. Skripsi IAIN Walisongo Semarang oleh Ahmad Syarofi, pembahasannya mengenai kajian ayat-ayat yang mengandung sufistik dalam surat al-Fatihah Tafsir Tāj Al-Muslimîn dan Tafsir al-Iklîl. Pada sisi lain penulis juga mencantumkan biografi dan corak serta metode kitab tafsir al-Iklil. Dalam skripsi ini hanya membahas

(25)

9

tentang kajian tafsirnya saja, sedangkan mengenai cara-cara penafsiran yang dilakukan pengarang kitab tafsir dalam mengambil sumber rujukannya tidak diteliti.

2. “Penafsiran K.H Misbah Mustafa Terhadap Ayat-Ayat Tentang Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dalam Kitab Tafsir al-Iklil Fi Ma’anil Tanzil”. Skripsi UIN SyarifHidayatullah Jakarta oleh Kusminah, pembahasannya mengenai ayat tentang implementasi menjalankan kebaikan dan mencegah keburukan, metode yang digunakan adalah tematik dimana ayat-ayat yang mengenai Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dikumpulkan terus dianalisis menurut kitab Tafsir al-Iklil. Selain itu dalam pembahasan tersebut menyertakan biografi pengarang, metode dan corak penafsiran tafsir al-Iklil.

3. “Hubungan Ulama dengan UlilAmri menurut Misbah Mustafa dalam Kitab Tafsir al-Iklil Fi Ma’anil Tanzil”. Skripsi IAIN Walisongo Semarang oleh Ahmad Karsidin. Skripsi tersebut membahas mengenai Ulama dan UlilAmri dalam kitab Tafsir al-Iklil Fi Ma’anil Tanzil, tentang bagaimana korelasi antara keduanya, selain itu juga ada pembahasan mengenai kitab tafsir tersebut mengenai biografi pengarang, metode dan corak penafsiran, dan juga metode penulisan kitab Tafsir al-Iklil.

Dari ketiga pembahasan tersebut hanya menyangkut masalah yang dihadapi mengenai kajian tafsirnya, padahal dalam menjelaskan sebuah penafsiran ayat al-Qur’an tafsir tersebut menggunakan hadis sebagai penjelas ayat al-Qur’an. Dengan belum adanya pembahasan yang secara implisit mengenai rujukan yang K.H Misbah Mustafa dalam mencantumkan hadis-hadis yang ada dalam karya beliau yaitu kitab Tafsir al-Iklil. Maka dari itu penulis akan melakukan penulisan baru dengan menganalisis hadis-hadis yang ada dalam kitab Tafsir al-Iklil karya K.H Misbah Mustafa dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash.

(26)

E. Metode Penelitian

Dalam penulisan ilmiah, agar penulisan tersebut dapat menghasilkan produk, bahasan, analisis atau kesimpulan yang baik dan dapat dipertanggung jawabkan, maka tentu saja harus memperhatikan semua aspek yang mendukung penulisan agar dapat berjalan dengan baik dan terhindar dari bias.11

Dalam pelaksanaan penulisan, semua model metode penulisan bisa digunakan oleh penulis tergantung pada tujuan atau maksud penulisan tersebut.12 Intinya metode itu dapat digunakan untuk membantu menjawab penulisan yang dilakukan penulis. Adapun penjelasan metode yang penulis gunakan dalam penulisan ini sebagai berikut:

1. Jenis Penulisan

Penulisan ini berbentuk penulisan kualitatif. Penulis menganggap pendekatan ini sesuai untuk diterapkan karena penulisan ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi informasi.13 Karena penulisan ini merupakan jenis penulisan kualitatif, yang mana objek penulisannya adalah hadis-hadis yang temuan-temuannya banyak dijumpai dalam buku, artikel, majalah , dll. Maka dalam pengumpulan datanya penulis menggunakan studi kepustakaan (Library Research). Pendekatan ini dirasa penulis lebih cocok digunakan karena penulisan ini dilaksanakan dengan melakukan riset kepustakaan untuk mengkaji sumber-sumber tertulis yang telah dipublikasikan atau pun belum dipublikasikan14 dan juga dimaksudkan untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi informasi.15 Adapun data yang akan diidentifikasi dan dieksplorasi dalam penulisan ini hadis-hadis yang terdapat dalam Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash.

11

Restu Kartiko Widi, Asas Metodologi Penelitian (Sebuah Pengenalan dan Penuntun

Langkah Demi Langkah Pelaksanaan Penelitian), (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), h. 67

12

Ibid., h. 67

13

Bagong Suyanto (ed.), Metode Penelitian Sosial, (Jakarta: Kencana, 2007), h. 174 14

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, (Jakarta: Bina Aksara, 1989), h. 10

15

(27)

11

2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan penulis dibedakan menjadi dua. Ada sumber data primer dan sumber data sekunder. Adapun penjelasannya sebagai berikut:

a. Sumber data primer

Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data.16Yang menjadi sumber data primer dalam penulisan ini adalah Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash karya Misbah Mustafa yang menjadi sumber hadis-hadis yang akan diteliti.

b. Sumber data sekunder

sumber data sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat dokumen.17 Disamping kitab-kitab sumber diatas, penulis juga menggunakan sumber-sumber lain yang dapat membantu dalam mempermudah penulisan. Adapun sumber-sumber tersebut dapat berupa buku atau kitab seperti kitab-kitab karangan KH. Misbah Mustafa yaitu Tafsir Taj al-Muslimin.

3. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang penulis gunakan adalah metode dokumentasi, yaitu mencari data yang berupa catatan, transkrip, buku, dan sebagainya.18 Mengumpulkan data yang sudah ada, yaitu hadis-hadis dalam Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash ,di dalamnya terdapat 18 hadis dengan kategori yang berbeda-beda. Kategori ini di bedakan menjadi tiga: Yang pertama, hadis yang ada sanad dan matan. Yang kedua, hadis yang tidak ada rangkaian sanad. Yang ketiga, hadis yang tidak terdapat sanad dan matan hanya menggunakan bahasa asli pengarang kitab tafsir (jawa pegon). Khusus mengenai penulisan ini,

16

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan

R&D,(Bandung: Alfabeta,2011), h. 308

17

Ibid, h. 309

18

(28)

penulis memfokuskan terhadap hadis-hadis yang tidak terdapat sanadnya. Dikarenakan waktu dan keterbatasan penulis dalam melakukan pembahasan dan juga kesulitan penulis dalam mengungkapkan maksud dari pengarang kitab tafsir yang menggunakan hadis hanya dengan bahasa pengarang kitab tafsir sendiri. Supaya tidak terjadi ketidak sepahaman antara penulis dengan pengarang kitab, maka penulis hanya memfokuskan objek penulisan pada hadis-hadis yang tidak terdapat sanad di dalam Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai surat an-Nash yang berjumlah 8 dengan tema yang berbeda. Tema yang pertama, hadis membahas tentang orang munafik tidak bisa mengerjakan sholat isya dan subuh secara berjama’ah. Kedua, hadis tentang Allah SWT benci dengan kesalahan. Ketiga, hadis tentang tanda-tanda waktu sebelum datangnya kiamat. Keempat, hadis tentang bacaan setelah membaca surat at-Tiin. Kelima, hadis tentang melaksanakan ibadah (sholat) di bulan puasa ramadhan dengan iman dan bersungguh-sungguh. Keenam, hadis tentang keistimewaan kalimat tayyibah. Ketujuh, cinta dunia pangkal dari keburukan. Kedelapan, hadis tentang larangan berfikir mengenai dzat Allah SWT, tetapi memikirkan makhluk ciptaan Allah. Setelah mengidentifikasi dan pemfokusan penulisan tersebut penulis Kemudian mengkroscek hadis-hadis tersebut di berbagai kitab-kitab hadis muktabarroh, software hadis seperti Jawami’ al-Kalim, Mausu’ah dan bahan-bahan yang mempunyai keterkaitan dengan permasalahan yang sedang dibahas.

4. Teknik Analisis Data

Metode analisis data yang penulis gunakan dalam penyusunan penulisan ini adalah sebagai berikut :

a. Metode takhrij hadis b. Metode Kritik Hadis

Di dalam metode ini dimaksudkan untuk mengkritik hadis-hadis dalam Tafsir al-Iklil baik kritik sanad hadis (naqd khoriji) dan kritik

(29)

13

matan hadis (naqd dhakiki), dengan tujuan untuk menganalisis kualitas hadis dari segi sanad dan matan.19

Yaitu penelusuran atau pencarian hadis-hadis pada pelbagai kitab sebagai sumber asli dari hadis yang bersangkutan dengan judul yang diangkat, yang di dalam sumber itu dikemukakan secara lengkap matan dan sanad hadis yang bersangkutan untuk mengetahui hadis-hadis yang ditakhrij terdapat pada kitab muktabarrah.20 Akan tetapi penulis tidak takhrij hadis dari jalur periwayatan Bukhari dan Muslim. Hal ini dikarenakan banyak yang berpendapat bahwa dari jalur keduanya sudah tidak diragukan tentang kesahihan hadisnya.

c. Metode deskriptif

Metode deskriptif merupakan metode penulisan dalam rangka menguraikan secara lengkap, teratur dan teliti terhadap suatu obyek penulisan.21 Dalam hal ini penulis menggunakan metode tersebut untuk memaparkan data yang didapat dari hasil pen-takhrij-an hadis-hadis yang ada di dalam Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash. Kemudian menganalisis hadis-hadis tersebut dengan kaedah-kaedah keshahihan hadis yang di dalamnya memaparkan data periwayat hadis yang menyangkut nama perawi, tahun lahir, dan wafatnya, guru-gurunya, murid-muridnya dan beberapa pendapat ulama mengenai pribadinya.

Informasi tentang perawi hadis, penulis peroleh dengan menggunakan kitab-kitab yang berhubungan dengan biografi rawi yaitu kitab Tahzib Kamal karya Abdul Hajjaj Yusuf bin Zaki al-Mizzi, Tahzib al-Tahzibkarya Ibnu Hajar al-Asqalani dan kitab (buku) lain yang berkaitan dengan biografi rawi. Apakah rawi-rawi tersebut bersambung bahkan tsiqqah atau tidaknya.

19

Muhammad Abdurrahman Dan Elan Sumarna, Metode Kritik Hadis, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), h. 26

20

Suhudi Ismail, op.cit., h.43 21

Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), h. 66

(30)

Selain itu untuk menyempurnakan sebuah penulisan hadis kita harus menganalisis sebuah matan yang ada dalam sebuah hadis tersebut. Penulisan tersebut untuk mengetahui ada atau tidaknya syuzudz dan illat yang ada dalam hadis. Para ulama berpendapat bahwa ada kaidah keshahihan sebuah matan, seperti (1) tidak bertentangan

dengan apa yang Allah tetapkan atau yang termaktub dalam al-Qur'an, (2) tidak bertentangan dengan Hadis mutawatir, (3) tidak bertentangan juga dengan ijma` ulama dan (4) tidak bertentangan dengan peristiwa sejarah.22

Setelah menganalisa apa yang dilakukan penulis, maka selanjutnya memaparkan status hadis-hadis yang ada pada kitab Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash.

F. Sistematika Penulisan

Untuk lebih memudahkan pemahaman dan terstruktur lebih baik, maka penulis sajikan penulisan ini dengan sistematika yang disusun melalui bab-bab yang menggambarkan urutan pembahasan. Adapun urutan pembahasan tersebut adalah sebagai berikut:

Bab I: Pendahuluan

Dalam bab satu ini diuraikan beberapa hal yang menjadi kerangka dasar dalam penulisan yang akan dikembangkan pada bab-bab berikutnya. Adapun urutan pembahasannya adalah; pertama, Latar Belakang Masalah, didalamnya diuraikan proses munculnya permasalahan yang akan diangkat dalam pembahasan penulisan ini; kedua, Rumusan Masalah, adalah rincian dari beberapa permasalahan yang dipaparkan dalam latar belakang masalah; ketiga, Tujuan Penulisan, adalah berisi tentang perlunya diadakan penulisan terhadap pokok permasalahan yang sedang diteliti; keempat, Tinjauan Pustaka, adalah berisi tentang

22

Agus Sholahudin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), h. 112

(31)

15

pemaparan pengetahuan, dalil, konsep atau ketentuan-ketentuan yang telah dikemukakan oleh penulis sebelumnya yang terkait dengan pokok masalah yang hendak dibahas; kelima, Metode Penulisan, adalah pendekatan, cara dan teknik yang akan dipakai dalam proses pelaksanaan penulisan; keenam, sistematika pembahasan penulisan penulisan.

Bab II : Landasan Teori

Bab kedua ini terdiri dari beberapa sub bab, yaitu : pengertian hadis dan pembagiannya dengan menggunakan kaedah-kaedah kesahihan sanad dan matan hadis, teori tentang melakukan takhrij hadis, pada bab ini juga menyebutkan kritik sanad dan matan hadis dengan kaedah jarh wa at ta’dil.

Bab III: Penyajian Data

Pada bab ini penulis menjelaskan meliputi biografi KH.

Misbah Zain bin Mustafa yang mencakup riwayat hidup, pendidikan, dan pengabdian beliau, latar belakang penulisan kitab tafsir serta corak dan metode tafsir al-Iklil dan juga memaparkan hadis-hadis yang terdapat dalam Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash beserta Rijal al-Sanadyang menggunakan model tabel dan Skema Sanad.

Bab IV: Analisis

Bab keempat ini dimaksudkan adalah mentakhrij hadis-hadis yang terdapat dalam Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash karya KH. Misbah Mustafa berdasarkan kaidah-kaidah kesahihan sanad dan matan hadis dari hadis-hadis yang ada pada bab ketiga beserta Rijal al-Sanad yang menggunakan model tabel dan Skema Sanad. Selanjutnya menganalisis tentang kualitas hadis-hadis yang ada pada Tafsir al-Iklil dari Surat ad-Dhuha sampai Surat an-Nash.

(32)

Bab V: Penutup

Bab ini merupakan pembahasan akhir penulis, yang akan memberikan beberapa kesimpulan akhir dari hasil penulisan, saran-saran serta diakhiri penutup.

(33)

17 BAB II

HADIS DAN KAEDAH-KAEDAH KESAHIHAN HADIS A. Hadis

1. Definisi Hadis

kata hadis berasal dari bahasa Arab, yaitu hadits, jamaknya al-ahadits, al-haditsan, dan al-hudtsan. Secara etimologis, kata ini mempunyai banyak arti, diantaranya al-jadid (segala sesuatu yang baru) lawan dari al-qadim (sesuatu yang lama), dan al-khabar yang berarti (berita).1 Kata tersebut juga telah masuk ke dalam bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia secara bahasa mengartikan

“hadis” dengan “1. sabda dan perbuatan Nabi Muhammad saw. yang

diriwayatkan atau diceritakan oleh sahabah-sahabah Nabi (untuk menjelaskan dan menentukan hukum Islam); 2. sumber ajaran agama Islam yang kedua selain Al-Qur’an.”2

Adapun para ulama ahli hadis mendefinisikan hadis dengan

segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi saw. baik berupa sabda, perbuatan, taqrir, sifat-sifat maupun hal ihwal Nabi.3

2. Pembagian Hadis

Pada perkembangan selanjutnya para ulama hadis berusaha melakukan klasifikasi terhadap hadis baik berdasarkan kuantitas maupun berdasarkan kualitas hadis. Hadis jika ditinjau dari segi kuantitas perawinya, maka akan di dapatkan dua bagian terbesar yaitu, hadis mutawatir adalah Hadis Mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak rawi dari awal sanad hingga akhirnya, yang

1Muhammad bin Makram Ibn Manzur, Lisan al-‘Arab, (Kairo: Dar al-Ma„arif, 1992), Juz II, h. 131–134

2

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), h. 513

3

Agus Sholahudindan Agus Suyadi,, Ulumul Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), h. 15. Lihat Juga Muhammad Ajaj al-Khatib as-Sunah Qabla at-Tadwin, (Kairo: MaktabahWahbah, 1975), h. 19

(34)

secara adat mustahil bagi mereka untuk bersepakat bohong4 dan hadis ahad adalah yang dimaksud ahad adalah khabar yang tidak memenuhi syarat mutawatir. Hadis ahad terbagi menjadi tiga: Pertama,masyhur, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh tiga atau lebih rawi di setiap tingkatan (tabaqah) namun belum sampai batas mutawatir. Kedua,

hadis ‘aziz, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh dua rawi disetiap

tabaqah-nya. Ketiga, hadis garib, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh seorang rawi saja.5

Sedangkan hadis jika ditinjau dari segi kualitas perawinya, maka dapat diklasifikasikan pada dua bagian yaitu, hadis Maqbul hadis yang diterima sebagai dalil dan hadis Mardud hadis yang tertolak sebagai dalil. Hadis Maqbul terbagi menjadi dua yaitu : yang pertama, Hadis Sahih adalah Hadis yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh rawi ‘adl dan dabt mulai dari awal sanad hingga terakhirnya, serta

tidak terdapat syazd dan ‘illah.” syarat hadis sahih.6 Yang kedua Hadis

Hasan adalah hadis yang memenuhi syarat hadis sahih kecuali hadis hasan diriwayatkan oleh rawi yang tidak sempurna sifat dabt-nya.7, sedangkan yang termasuk dalam hadis Mardud salah satunya adalah hadis Dhaif adalah Hadis yang tidak memenuhi sifat hadis shahih dan hadis hasan dikarenakan ketiadaan satu atau beberapa syaratnya.8 B. Kaedah-Kaedah Kesahihan Hadis

Dalam menetapkan kualitas hadis di perlukan Kaedah yang baku atau setidaknya dibakukan oleh ulama hadis. Sebagaimana yang di kemukakan al-Nawawi bahwa kriteria hadis shahih adalah:

4Muhammad Ajjaj Al-Khatib, Usul al-Hadis: ‘Ulumuh wa Mustalahuh

, (Beirut: Dar

al-Fikr, 1971),h. 301 5

Mahmud at-Thahan Taysir Mushthalah al-Hadis, (Surabaya: Bungkul Indah, t.th), h. 22-31. Lihat juga al-Khatib, Ushul, h. 302

6 Ibid., h. 34 7 Ibid., h. 46 8 Ibid., h. 63

(35)

19

Artinya: Yaitu hadis yang bersambung sanadnya oleh rawi yang ‘adil dan dlabit serta terhindar dari syuẓudẓdan ‘illat.9

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa Kaedah keshahihan hadis adalah10:

a. Sanadnya Bersambung

Untuk mengetahui persambungan sanad, di lakukan tahapan sebagai berikut:

1) Mencatat semua nama periwayat dalam sanad yang di teliti. 2) Mempelajari sejarah hidup masing-masing periwayat. 3) Menelaah ṣigat dalam tahammul wa ada’ al-hadi.

Mayoritas ulama telah menetapkan delapan metode yang biasa di gunakan dalam tahammul wa ada’ al-hadi. Delapan metode itu adalah:

1) As-sama’ adalah menerima hadis dengan cara mendengarkan

langsung dari perkataan gurunya, dengan cara didiktekan baik dari hafalannyamaupun dari tulisannya. Cara ini di sepakati jumhur ahli hadis sebagai cara penerimaan hadis yang paling tinggi tingkatannya. Selain itu, lambang periwayatan yang termasuk dalam kategori sama’ adalah, Haddaana,

Akhbarana, Sami’tu, Qalalana, ẑakaralana.

2) Al-Qira’ah ‘Ala al-Syaikh adalah menerima hadis dengan cara

seseorang membacakan hadis di depan gurunya, baik dia sendiri yang membacakan ataupun orang lain sedang guru mendengarkan atau menyimaknya. Metode Qira’ah ini biasa menggunakan ungkapan, Qara’tu ‘Ala Fulan, jika periwayat membacakan di hadapan guru hadis yang menyimaknya. Dan

Qara’a ‘Ala Fulan Wa Ana Asma’u Wa UqirruBih, yang di

gunakan jika periwayat tidak membaca sendiri.

9 An-Nawawiy, al-Taqrib Li al-Nawawiy Fann Ushul Hadis, (Kairo: „Abd al-Rahman Muhammad, tth), h. 2

10 Hasan Asy‟ari Ulamai, Melacak Hadits Nabi SAW, (Semarang: Rasail, 2006), h. 26-28

(36)

3) Al-Ijazah adalah guru memberikan izin kepada seseorang untuk meriwayatkan hadis yang dimilikinya, baik izin itu secara lisan ataupun tertulis. Kata-kata yang di pakai untuk cara ijazah bermacam-macam, Seperti: haddaṡana ijazatan atau haddaṡanaiẑan, atau ajazali, atau ajaztu laka an tarwiya ‘anni.

4) Al-Munawalah adalah seorang guru memberikan hadis atau beberapa hadis kepada muridnya untuk diriwayatkan.

5) Al-Mukatabah adalah guru menuliskan sendiri atau menyuruh orang lain untuk menuliskan sebagian hadisnya guna di berikan kepada murid yang ada di hadapannya atau yang tidak hadir dengan jalan di kirimi surat melalui orang yang di percaya untuk menyampaikannya. Lambang yang di gunakan pada metode al-Mukatabah yaitu, kataba ilayya funanun,akhbarani bihi mukậtabatan, dan akhbarani bihi kitậbatan.

6) Al-I’lam adalah guru memberitahukan kepada muridnya, bahwa

kitab atau hadis yang diriwayatkannya dia terima dari seorang (guru), dengan tanpa memberikan izin kepada muridnya. Ungkapan yang menunjukkan periwayatan hadis dengan cara

al-I‟lam yaitu, akhbarana ‘ilaman atau a’lamani fulanun qala

haddaṡana.

7) Al-Washiyyah adalah seorang periwayat hadis mewasiatkan kitab hadis yang diriwayatkannya kepada orang lain. Ulama berbeda pendapat tentang periwayatan dengan cara wasiat ini. Sebagian ulama membolehkannya dan sebagian lagi tidak memperbolehkannya. Kata-kata yang dipakai untuk periwayatan cara wasiat dapat berbunyi awshailayya.

8) Al-Wijadah adalah seseorang memperoleh hadis orang lain dengan mempelajari kitab-kitab hadis dengan tidak melalui cara sama’, ijazah atau munawalah. Atau dengan kata lain, seseorang dengan tidak melalui ketiga cara diatas, mendapati

(37)

21

hadis yang ditulis oleh periwayatnya. Istilah-istilah yang sering di temukan dalam jalur sanad misalnya ‘an dan anna.

b. Seluruh Rawi dalam Sanad tersebut ‘adil.

Adapun term „adil (‘adalah) secara etimologis berarti pertengahan, lurus, condong kepada kebenaran. Dalam ilmu hadis, rawi yang ‘adil yaitu rawi yang menegakkan agama Islam, dihiasi akhlak yang baik, terhindar dari kefasikan juga hal-hal yang merusak muru’ah. Kaidah rawi hadis yang ‘adil adalah beragama Islam dan menjalankan agamanya dengan baik, berakhlak mulia, terhindar dari kefasikan, terpelihara muru’ahnya.11

c. Seluruh Rawi dalam Sanad tersebut ḍabit.

Secara etimologis ḍabit berarti menjaga sesuatu. Sedangkan dalam ilmu hadis, rawi yang ḍabitadalah rawi yang hafal betul dengan apa yang diriwayatkan dan mampu menyampaikan dengan baik kapan dan dimana sajahafalannya mengenai hadis.12

d. Hadisnya terhindar dari Syuzudz

Mengenai definisi syaẓd pada sanad hadis, menurut pendapat dalam terminologi ilmu hadis. Bahwa hadis baru di nyatakan Syadẓ apabila hadis yang diriwayatkan oleh perawiṣiqah bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang juga

ṣiqah.13

Sedangkan syaẓd pada matan hadis di definisikan sebagai adanya pertentangan atau ketidaksejalanan riwayat seorang perawi yang menyendiri dengan seorang perawi yang lebih kuat hafalan dan ingatannya. Pertentangan atau ketidaksejalanan tersebut adalah dalam hal menukil matan hadis, sehingga terjadi penambahan, pengurangan, perubahan tempat (maqlub) dan berbagai bentuk kelemahan dan cacat lainnya.

11

Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis: Telaah Kritis Dan Tinjauan

Dengan Pendekatan Ilmu Sejarah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1998), h. 129

12

Ibid., h.135

13

(38)

e. Hadisnya terhindar dari ‘illat.

‘Illat merupakan sebab-sebab tersembunyi yang dapat

merusak keshahihan hadis yang secara lahir tampak shahih.14 Dalam aspek sanad, hadis yang mengandung ‘illat adalah hadis yang secara lahir tampak baik, ternyata setelah di teliti di dalamnya terdapat rawi yang galt (banyak melakukan kesalahan), sanadnya mauquf (hanya sampai pada sahabat) atau mursal (hanya riwayat sahabat dari sahabat lain), bahkan ada kemungkinan masuknya hadis lain pada hadis tersebut.

Sedangkan yang di maksud ‘illat pada matan adalah suatu sebab tersembunyi yang terdapat pada matan hadis yang secara lahir tampak shahih, baik berupa masuknya redaksi lain pada hadis tertentu, atau redaksi yang di maksud memang bukan lafadz-lafadz yang mencerminkan sebagai hadis nabi, sehingga seringkali bertentangan dengan nash-nash yang lebih kuat akurasinya.

Untuk mengetahui status hadis tersebut, maka harus diadakan sebuah penulisan mengenai hadis tersebut. Yang mana penulisan hadis tersebut dikenal dengan istilah Takhrij al-Hadis. Dari cara tersebut maka dapat diketahui mengenai kualitas hadis tersebut, apakah hadis sahih,hadishasan,bahkan hadis dhaif.

C. Takhrij al-Hadis

Dalam sebuah menafsirkan para mufassir seringkali mencantumkan hadis nabi untuk menjelaskan makna al-Qur‟an yang masih global, akan tetapi tidak jarang juga dalam pencantuman hadis tersebut tidak menyebutkan kualitas hadis yang digunakan. Maka dari itu perlu menelaah kembali dengan melakukan penelusuran terhadap hadis-hadis itu kepada sumber-sumber rujukan (kitab himpunan hadis nabi), dan untuk selanjutnya untuk mengetahui kualitasnya. Proses inilah yang kemudian disebut dengan Takhrij al-Hadis.

14

(39)

23

1. Pengertian Takhrij al-Hadis dan tujuannya.

Secara etimologis, takhrij berasal dari bahasa Arab dari kata kharraja yang berarti “tampak atau jelas”, arti yang lain dari term ini adalah al-Istinbath (mengeluarkan), al-Tadrib (meneliti), al-Tawjih (memperhadapkan).15 Menurut Mahmud at-Thahan kata at-Takhrij

menurut asal bahasanya yaitu “berkumpulnya dua perkara yang

berlawanan pada sesuatu yang satu”. Adapun Secara terminologis,

Takhrij al-Hadis adalah penelusuran atau pencarian hadis pada berbagai kitab sebagai sumber asli hadis yang bersangkutan, yang di dalam sumber itu dikemukakan secara lengkap matan dan sanad hadis yang bersangkutan.16

Dari definisi tersebut di atas, secara umum Takhrij al-Hadis bertujuan untuk menunjukan sumber hadis-hadis sekaligus menerangkan hadis tersebut dari aspek diterima atau ditolaknya (kesahihan).

2. Sebab-sebab perlu melakukan kegiatan Takhrij al-Hadis

Bagi seseorang penulis hadis kegiatan Takhrij al-Hadis merupakan hal yang penting, karena dengan tanpa kegiatan tersebut akan sulit sekali untuk mengetahui asal usul riwayat hadis yang akan diteliti. Maka sebab-sebab perlunya kegiatan takhrij al-hadis ialah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui asal usul riwayat hadis yang akan diteliti.

Suatu hadis akan sangat sulit diteliti status dan kualitas nya bila terlebih dahulu tidak diketahui asal-usulnya. Tanpa diketahui asal-usul, maka sanad dan matan hadis yang bersangkutan sulit diketahui susunannya menurut sumber pengambilannya. Untuk mengetahui asusul hadis, maka perlu dilakukan Takhrij al-Hadis.

15

Mahmud at-Thahan, Ushul Al-Takhrij wa Riwayah Assanid, (Riyad: Maktabah al-Ma‟arif, 1992), h. 7-8. Lihat juga Hasan AsyariUlama‟i, Mendeteksi Hadis Nabi,... h. 2

16

Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 43

(40)

b. Untuk mengetahui seluruh riwayat bagi hadis yang akan diteliti. Hadis yang diteliti mungkin memiliki lebih dari satu sanad. Mungkinsaja, salah satu sanad itu berkualitas dhaif dan yang lainnya berkualitas sahih. Untuk mengetahui sanad tersebut, maka harus mengetahui seluruh riwayat hadis yang bersangkutan. Sehingga kegiatan takhrij perlu dilakukan.

c. Untuk mengetahui ada atau tidaknya syahid dan mutabi’ pada sanad yang diteliti

Dalam penulisan sanad, kadang menjumpai periwayat lain yang sanadnya mendukung pada sanad yang sedang diteliti. Dukungan ini bila terletak pada tingkat periwayat sahabat dinamakan syahid, sedangkan pada tingkat bukan sahabat itu dinamakan mutabi’. Kedua langkah tersebut untuk memperkuad kualitas sanad hadis yang sedang diteliti. Untuk mengetahui syahid

dan mutabi’tersebut, maka harus melakukan Takhrij al-Hadis.17

3. Tujuan dan Manfaat Takhrij al-Hadis

Ilmu takhrij merupakan bagian dari ilmu agama yang harus mendapat perhatian serius karena di dalamnya dibicarakan berbagai kaedah untuk mengetahui sumber hadis itu berasal. Di samping itu, untuk menentukan kualitas hadis. Takhrij hadis bertujuan untuk mengetahui sumber asal hadis yang diteliti. Tujuan lainnya adalah mengetahui ditolak atau diterimanya hadis-hadis tersebut. Dengan cara ini, kita akan mengetahui hadis-hadis yang pengutipannya memperhatikan kaidah-kaidah ulumul hadis yang berlaku sehingga hadis tersebut menjadi jelas, baik asal-usul maupun kualitasnya.18

Adapun manfaat dari kegiatan Takhrij al-Hadis ini sangat banyak sekali, diantaranya adalah:

17

Ibid., h. 44-45

18

(41)

25

a. Melalui takhrij seseorang dikenalkan sumber-sumber hadis, kitab asal dari suatu hadis itu berada dan juga rawi-rawi yang terlibat dalam periwayatannya.

b. Melalui takhrij seseorang dapat menambah kebendaharaan sanad hadis dari kitab-kitab yang memuat hadis tersebut.

c. Melalui takhrij dapat memperjelas keadaan sanad suatu hadis, apakah sahih, ahad, ataupun dhaif.

d. Melalui takhrij dapat memperjelas status hukum hadis.

e. Melalui takhrij dapat juga diperoleh aneka pendapat ulama tentang hukum suatu hadis tersebut.

f. Melalui takhrij dapat memperjelas rawi yang samar.

g. Melalui takhrij dapat mengetahui nama rawi dari jalur lain yang tidak diketahui namanya pada suatu jalur.

h. Melalui takhrij dapat menafikan sigat “an” yang dilakukan oleh kalangan mudallis, yaitu dengan melihat jalur lain yang jelas persambungannya.

i. Melalui takhrij dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya percampuran riwayat.

j. Melalui takhrij dapat dibatasi nama rawi yang sebenarnya (mungkin sama gelar atau julukannya).

k. Melalui takhrij dapat dikenal rawi yang tidak terdapat dalam satu sanad.

l. Melalui takhrij dapat memperjelas arti kalimat yang asing dalam suatu sanad.

m. Melalui takhrij dapat mengetahui hukum syadz suatu hadis (kesendirian riwayat yang menyalahi dengan riwayat yang siqat) n. Melalui takhrij dapat membedakan hadis yang mudraj (mengalami

penyusupan sesuatu)

o. Melalui takhrij dapat menghilangkan keragu-raguan dan kekeliruan yang dialami seorang rawi.

(42)

p. Melalui takhrij dapat diungkap hal-hal yang terlupa atau diringkas oleh seorang perawi.

q. Melalui takhrij dapat dipahami riwayat yang dilakukan melalui proses riwayat bi al-ma’na dan riwayat bi al-lafdh.

r. Melalui takhrij dapat dipahami kapan dan di mana kejadian yang ada di dalam hadis itu muncul.

s. Melalui takhrij dapat dipahami sebab-sebab timbulnya hadis tersebut.

t. Melalui takhrij dapat diungkap kemungkinan terjadinya kesalahan percetakan.

Secara global melalui takhrij ini dapat diperoleh sejumlah sanad dari sebuah hadis berikut sejumlah redaksi dari sebuah matan hadis.19

4. Metode dan langkah-langkah takhrij al-hadis a. Metode Takhrij al-Hadis

Dalam melakukan takhrij al-hadis itu sangat sulit, maka sangat diperlukan metode dan cara untuk menelusuri sumber hadis tersebut. Adapun metode tersebut adalah sebagai berikut:

1) Takhrij al-Hadis bi Ma’rifat al-Rawi al-A’la (proses penelusuran hadis yang didasarkan pada pengetahuan akan rawi teratas atau di tingkat sahabat). Kitab yang membantu penelusuran ini antara lain:

a) kitab al-Masanid b) kitab al-Ma’ajim c) kitab al-Athrafat

2) Takhrij al-Hadis bi Ma’rifat Mathla’ Hadis (proses penelusuran hadis yang didasarkan pada pengetahuan akan lafadz awal suatu matan hadis). Kitab yang membantu penulusurannya antara lain:

a) jenis kitab al-Masyhurat ‘alaalsinat al-Nasional

19 Hasan Asyari Ulama‟i,

(43)

27

b) jenis kitab yang disusun berdasarkan abjad hijaiyah

c) jenis kitab Mafatih atau Fahrasat li alhadis

al-Mu’ayyat

3) Takhrij al-Hadis bi Ma’rifat lafdz min alfadz al-ahadis (proses penelusuran hadis yang didasarkan pada pengetahuan akan lafadz tertentu yang ada diantara matan hadis terutama yang gharib guna meminimalkan areal penelusuran). Kitab yang membantu penelusuran ini di antara lain: al-Mu’jam al- Mufahras li alfadz al-Hadis al-Nabawi karya A. Wensick. 4) Takhrij al-Hadis bi Ma’rifat Maudhu’i al-Hadis (proses

penelusuran hadis yang didasarkan pada pengetahuan akan tema yang terkait dengan hadis yang ditelusuri). Kitab yang membantu penelusurannya antara lain:

a) Jenis kitab yang membahas tentang seluruh masalah keagamaan (al-Jawami’, al-Mustakhrajat, al-Mustadrakat,

al-Majami’, al-Zawaid dan Kunuz al-Sunnah).

b) Jenis kitab yang membahas tentang sebagian masalah keagamaan (al-Sunan, al-Mushannafat, al-Muwaththa’at,

al-Mustakhrajat ‘ala al-Sunan).

c) Jenis kitab yang membahas tentang topik tertentu dari masalah keagamaan (al-Ajza’, al-Targhib wa Tarhib, al-Zuhd wa al-Fadla’il wa al-Adab wa al-Akhlaq, al-Ahkam dan beberapa himpunan hadis lainnya).

5) Takhrij al-Hadis bi Ma’rifat Shifat al-Hadis (proses penelusuran hadis yang didasarkan pada pengetahuan akan status hadis). Kitab yang membantu penelusurannya antara lain: a) Kitab al-Masyhurat

(44)

c) Kitab al-Dhu’afa’ wa al-Madlu’at dan sebagainya.20

Dengan berkembangnya zaman, sekarang ada metode takhrij al-Hadis dengan menggunakan sofware seperti jawami‟ al -Kalim, maktabah tsamillah dan lain-lain.

b. Langkah-langkah melakukan Takhrij al-Hadis, sebagai berikut: 1) Melakukan i’tibar

Setelah melakukan kegiatan takhrij, langkah awal penulisan untuk hadis yang diteliti, maka seluruh sanad hadis dicatat dan dihimpun untuk kemudian dilakukan al-I’tibar.

I’tibar yaitu menyertakan sanad-sanad yang lain untuk suatu

hadis tertentu, dan hadis tersebut pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang rawi saja, dan dengan menyertakan sanad-sanad yang lain tersebut akan dapat diketahui apakah ada rawi yang lain atau tidak untuk bagian sanad dari sanad yang dimaksud.21

Untuk mempermudah dan memperjelas dalam proses

i’tibar, diperlukan pembuatan skema untuk semua sanad bagi

hadis yang akan diteliti. Dalam pembuatan skema sanad ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian, yakni: (1) jalur semua sanad; (2) nama-nama seluruh periwayat untuk sanad; dan (3) metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing periwayat.

2) Meneliti pribadi periwayat yang tercantum dalam sanad

Langkah ini sangat penting dalam langkah penulisan hadis. Karena menyangkut penulisan terhadap oang-orang yang membawa berita hadis tersebut. Dalam langkah ini, dilakukan dengan cara mencari nama lengkap periwayat, nisbat, kunyah, dan laqab dalam kitab Rijal al-Hadis. Adapun kitab yang

20

Mahmud at-Thahan, Ushul Al-Takhrij wa Riwayah al-Assanid, h. 37-38Lihat juga Hasan Asyari Ulama‟i, Mendeteksi Hadis Nabi,(Semarang: IAIN Walisongo Semarang, 2006),

h. 5-7 21

Referensi

Dokumen terkait

maka bersama ini kami undang Saudara untuk mengikuti Klarifikasi Penawaran dan Verifikasi Data Kualifikasi dengan membawa Dokumen Asli dari penawaran saudara serta Surat

I decide when to get up, what assignments to accept, how many hours a day I want to put in, and when to walk from home to office to home by simply crossing the threshold from one

This Earth of Mankind describes the class struggle between the bourgeois represented by the Mellemas and the proletariat represented by Nyai Ontosoroh. The Mellemas are a

i proses pembelajaran pada materi haji dalam Mata Pelajaran Fiqih di.. in Ngandong Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang semester

Pihak kedua sebagai distributor tunggal diberi kewenangan oleh pihak pertama untuk melakukan pendistribusian, penjualan, mengangkat keagenan, menentukan harga serta hal-hal lainnya

Pembelajaran tari nusantara di SMP Sekolah Indonesia Kota Kinabalu ini cukup baik, karena peserta didik dapat mengikuti pembelajaran seni tari dengan baik dan para

PENGARUH PENGGUNAAN HISTORICAL EPISOD ES MAP (HEM) D ALAM PEMBELAJARAN TEORI SEL TERHAD AP PERSEPSI HAKIKAT SAINS SISWA.. Indonesia |

Dokumen Pelaksana Anggaran ( DPA ) tanggal 3 Febnrari 2015, Dinas Kebudayaan, pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kayong Utara akan melaksanakan proses