B. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Univariat a. Umur responden Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan umur responden

22 

Teks penuh

(1)

37 A. Gambaran Umum

Sendangmulyo merupakan salah satu kelurahan di kecamatan Tembalang, Semarang. Secara Geografis,, wilayah kelurahan Sendangmulyo sangat luas yaitu mencapai 4.61 km2. Secara Demografis jumlah penduduk di Kelurahan Sendangmulyo sangat banyak yaitu terdapat 10.413 KK dengan jumlah pendudukan 36.646 jiwa. Jumlah penduduk yang besar terbagi dalam 30 RW, dimana Kelurahan Sendangmulyo ini sebagia besar adalah perumahan dan hanya sebagian kecil perkampungan.Penelitian dilaksanakan di RW 28 dimana di RW ini terdapat 2 posyandu dengan kegiatan setiap bulan diadakan penimbangan anak, pemberian makanan tambahan dan pemantauan pertumbuhan anak.

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Univariat

a. Umur responden

Tabel 4.1

Distribusi Responden Berdasarkan umur responden

Umur Frekuensi Persentase

Dewasa awal Dewasa akhir 66 11 85,7 14,3 Jumlah 77 100

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa sebagian besar umur responden adalah dewasa awal yaitu sebanyak 66 orang (85,7%). Hal ini menunjukkan bahwa responden penelitian sebagian besar

(2)

masih termasuk keluarga muda dengan kisaran umur antara 20 sampai denga 35 tahun. Kelurahan Sendangmulyo RW 28 adalah kompleks perumahan yang relatif baru sehingga banyak dihuni oleh keluarga dengan usia pernikahan yang masih relatif muda.

Usia adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup usia, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Perubahan umur mempengaruhi perilaku seseorang, karena melalui perjalanan umurnya yang disebabkan karena proses pendewasaan maka seseorang akan lebih mudah melakukan adaptasi perilaku hidup dengan lingkungannya (Notoatmojo, 2005).

Menurut Pariani (2000), umur adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja, sehingga semakin matang dan umurnya semakin banyak maka pengetahuan seseorang akan semakin bertambah, artinya semakin umurnya banyak maka akan mudah menyerap pendidikan kesehatan yang diberikan.

b. Pendidikan responden

Tabel 4.2

Distribusi Responden Berdasarkan pendidikan responden

Pendidikan Frekuensi Persentase

Pendidikan menengah (SMA) Pendidikan Tinggi 42 35 54,5 45,5 Jumlah 77 100

(3)

Pendidikan responden yang terbanyak adalah Pendidikan menengah yaitu sebanyak 42 orang (54,5%). Hal ini menunjukkan bahwa di RW 28 Kelurahan Sendangmulyo banyak dihuni oleh orang-orang dengan pendidikan menengah hingga tinggi, artinya bahwa responden penelitian mempunyai kemampuan untuk memahami berbagai informasi dengan lebih baik.

Pendidikan berdasarkan UU pendidikan No. 20 tahun 2003, dinyatakan bahwa pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Namun demikian masyarakat dapat mengenyam pendidikan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti umur, tingkat sosial ekonomi dan faktor lingkungan. Umur merupakan indikator kedewasaan seseorang, semakin bertambahnya umur maka pendidikan dan pengalaman yang didapat akan semakin banyak. Baik itu pendidikan formal maupun pendidikan non formal yang diinginkan adalah adanya perubahan kemampuan, penampilan atau perilakunya. Selanjutnya perubahan perilaku didasari adanya perubahan atau penambahan pengetahuan, sikap atau ketrampilannya (Notoatmodjo, 2003).

c. Pendapatan responden

Tabel 4.3

Distribusi Responden Berdasarkan pendapatan responden

Pendapatan Frekuensi Persentase

< UMR (Rp. 1.423.500) > UMR (Rp. 1.423.500) 10 67 13,0 87,0 Jumlah 77 100

(4)

Kondisi sosial ekonomi responden dalam penelitian ini didasarkan pada tingkat pendapatannya. Hasil penelitian ditemukan bahwa pendapatan responden sebagian besar adalah diatas UMR yaitu Rp. 1.423.500,00 sebanyak 87,0% dan yang berpendapatan di bawah UMR sebanyak 13,0%. Hal terjadi karena sebagian besar anggota keluarga responden penelitian terutama suami mempunyai pekerjaan tetap baik sebagai karyawan swasta maupun yang berwiraswasta sendiri.

Pendapatan yang tinggi ini memberikan dampak yang baik bagi pola pengasuhan anak balita terutama dalam memperhatikan kesehatan yang terdiri dari pertumbuhan dan perkembangan balita sehingga didapatkan balita yang sehat. Pendapatan merupakan jumlah penghasilan riil dari seluruh anggota rumah tangga yang disumbangkan untuk memenuhi kebutuhan bersama maupun perseorangan dalam rumah tangga. Pendapatan per kapita (per capita income) keluarga adalah pendapatan rata-rata dalam suatu keluarga pada suatu periode tertentu, yang biasanya satu tahun. Pendapatan per kapita bisa juga diartikan sebagai jumlah dari nilai barang dan jasa rata-rata yang tersedia bagi setiap penduduk suatu keluarga pada suatu periode tertentu. Pendapatan per kapita diperoleh dari pendapatan keseluruhan anggota keluarga pada periode tertentu dibagi dengan jumlah anggota keluarga pada periode tersebut. Ternyata tingginya pendapatan keluarga, tidak menjamin pendapatan per kapitanya juga

(5)

tinggi. Hal ini terjadi karena faktor jumlah anggota keluarga juga sangat menentukan tinggi rendahnya pendapatan per kapita (Budiono, 2004).

Pendapatan yang tinggi dalam arti di atas upah minimum regional (UMR) tentunya menyebabkan para orang tua atau responden telah mampu memenuhi standar hidup di daerah penelitian ini. Standar hidup yang layak yang dirasakan oleh responden menyebabkan mereka mampu memperhatikan status gizi keluarga terutama bagi anak balitanya

d. Pekerjaan responden

Tabel 4.4

Distribusi Responden Berdasarkan pekerjaan responden

Pekerjaan Frekuensi Persentase

IRT Swasta Wiraswasta PNS 54 20 1 2 70,1 26,0 1,3 2,6 Jumlah 77 100

Responden penelitian sebagian besar menjadi ibu rumah tangga (tidak bekerja) yaitu sebanyak 54 orang (70,1%).Hasil penelitian ini juga menemukan responden yang bekerja sebagai karyawan swasta dan PNS.

Responden yang tidak memiliki aktivitas pekerjaan di luar rumah tentunya mempunyai kesempatan yang lebih besar dalam pengasuhan anaknya termasuk keaktifannya dalam mematau pertumbuhan dan perkembangan anak melalui posyandu

(6)

e. Pengetahuan responden

Tabel 4.5

Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan

Pengetahuan Frekuensi Persentase

Baik Cukup Kurang 33 22 22 42,8 28,6 28,6 Jumlah 77 100

Berdasarkan Tabel 4.5 diketahui bahwa pengetahuan responden yang terbanyak adalah dalam kategori baik yaitu sebanyak 33 responden (42,8%). Pengetahuan mengenai pemanfaatan Posyandu yang baik ini didapatkan oleh para ibu melalui berbagai media seperti penyuluhan dari para kader dan petugas kesehatan serta dari beberapa media seperti tayangan televisi mengenai pentingnya pemanfaatan Posyandu untuk memantau pertumbuhan Balita. Ibu dengan pengetahuan yang baik tentang pemanfaatan Posyandu ini berimplikasi kepada perilaku ibu dalam memanfaatkan Posyandu.

Pengetahuan adalah merupakan hasil dari ”tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengideraan terjadi melalui panca indera manusia yaitu penglihatan, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2007).

(7)

Pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya, misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut (Taufik, 2010).

Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari dengan pengetahuan (Notoatmodjo, 2007). Pengetahuan yang baik dari para ibu yang menjadi responden penelitian mengenai pemafaatan Posyandu akan mendukung tindakan responden untuk membawa anak Balitanya ke Posyandu secara rutin untuk memantau pertumbuhan anak melalui penimbangan dan pengukuran antopometri pada anak.

f. Sikap Ibu

.Tabel 4.6

Distribusi Responden Berdasarkan Sikap

Sikap Frekuensi Persentase

Negatif Positif 37 40 48,1 51,9 Jumlah 77 100

Berdasarkan Tabel 4.6 diketahui bahwa sikap responden yang positif sebanyak 40 orang (51,9%). Sikap yang positif adalah sikap yang mendukung dimana menunjukkan bahwa responden menyetujui

(8)

dengan adanya Posyandu yang dapat dimanfaatkan untuk mengukur pertumbuhan anak balitanya. Responden ketika memanfaatkan posyandu telah merasakan banyak keuntungan seperti pengetahuan yang meningkat mengenai pertumbuhan serta perkembangan anak melalui penjelasan dari kader posyandu yang memberikan pelayanan kepada responden.

Sikap positif ini disebabkan karena responden telah memahami pentingnya Posyandu yang dapat digunakan untuk memantau pertumbuhan anak Balitanya. Apalagi berbagai kasus yang diberitakan melalui media tentang adanya gizi buruk yang tidak terpantau akhirnya membuat responden berkeinginan untuk memantau pertumbuhan Balitanya melalui Posyandu. Hal ini membuat responden penelitian akhirnya bersikap positif atau mendukung terhadap pemanfaatan Posyandu.

Sikap sendiri merupakan suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap dikatakan sebagai respon yang hanya timbul bila individu dihadapkan pada suatu stimulus. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favourable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavourable)pada objek tertentu (Azwar, 2010).

Sikap merupakan produk dari proses sosialisasi dimana seseorang bereaksi dengan rangsang yang diterima. Jika sikap mengarah pada objek tertentu, berarti bahwa penyesuaian diri terhadap

(9)

objek tertentu dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kesediaan untuk bereaksi dari orang terhadap objek tersebut. Sikap merupakan persiapan untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu dari suatu penghayatan terhadap objek.

Apa yang dialami seseorang akan mempengaruhi penghayatan dalam stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar dalam pembentukan sikap, untuk dapat memiliki tanggapan dan penghayatan seseorang harus memiliki pengamatan yang berkaitan dengan objek psikologis. Menurut Breckler dan Wiggins (Azwar, 2010) bahwa sikap yang diperoleh lewat pengalaman akan menimbulkan pengaruh langsung terhadap perilaku berikutnya. Pengaruh langsung tersebut dapat berupa predesposisi perilaku yang akan direalisasikan hanya apabila kondisi dan situasi memungkinkan g. Kunjungan ke posyandu

Tabel 4.7

Distribusi Responden Berdasarkan jumlah kunjungan

Jumlah kunjungan Frekuensi Persentase

Tidak aktif Aktif 31 46 40,3 59,7 Jumlah 77 100

Berdasarkan Tabel 4.7 diketahui bahwa responden yang aktif berkunjung ke posyandu sebanyak 46 orang (59,7%). Jumlah kunjungan ke posyandu ini sebagai pertanda keaktifan ibu dalam membawa anaknya ke Posyandu untuk ditimbang guna mengetahui pertumbuhan anak balitanya. Keaktifan kunjungan ke posyandu ini

(10)

didukung dengan pengetahuan dan sikap yang baik pada pemanfaatan posyandu sehingga mendukung perilaku ibu dalam pemanfaatan Posyandu.

Keaktifan kunjungan responden ini menunjukkan perilaku yang merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus. Perilaku atau aktivitas pada individu atau organisme tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari adanya stimulus atau rangsang yang mengenai individu itu. Perilaku atau aktivitas merupakan jawaban dari respon terhadap stimulus yang mengenainya (Walgito (2002). Bentuk stimulus yang diterima responden penelitian adalah berupa penyuluhan dan informasi dari kader Posyandu sehingga menambah pengetahuan dan sikap responden. Pengetahuan dan sikap responden sebagai faktor predisposisi dari perilaku sehingga sebagian besar responden penelitian memiliki perilaku yang positif dalam memafaatkan posyandu.

2. Analisis Bivariat

a. Hubungan usia dengan kunjungan ke posyandu Tabel 4.8

Hubungan usia dengan kunjungan ke posyandu

Usia

Kunjungan ke posyandu

Total p

value Tidak aktif Aktif

n % n % n % Dewasa awal Dewasa akhir 26 5 39,4 45,5 40 6 60,6 54,5 66 11 100 100 0,748 Total 31 40,3 46 59,7 77 100

(11)

Hubungan usia dengan kunjungan ke posyadu tidak aktif pada usia dewasa awal lebih banyak yaitu 26 orang (39,4%) dibandingkan dewasa akhir yaitu 5 orang (45,5%), sedangkan hubungan usia dengan kunjungan ke posyadu aktif pada dewasa awal lebih banyak yaitu 40 orang (60,6%) dibandingkan dewasa akhir yaitu 6 orang (54,5%).

Hasil uji statistic dengan Fisher’s exact diperoleh p value sebesar 0,748 (p>0,05), sehingga dapat dinyatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara usia dengan kunjungan balita ke posyandu di RW 28 Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

Usia ibu tidak menjadi faktor terhadap kunjungan ke posyandu, hal ini terjadi karena responden baik yang berusia dewasa awal maupun dewasa akhir sebagian besar tetap aktif berkunjung ke posyandu dengan tujuan untuk dapat menimbang dan memantau perkembangan anak.

Penelitian Tri Wahyudianingsih (2009) menyebutkan bahwa posyandu erat sekali kaitannya dengan peran serta aktif masyarakat (partisipasi ibu balita). Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi ibu balita dalam kegiatan posyandu diantaranya adalah usia ibu, faktor pendidikan, faktor pengetahuan, faktor jumlah keluarga, faktor penghasilan, serta sikap.

Penelitian yang dilakukan oleh Rarasati (2013) yang meneliti tentang hubungan karakteristik ibu, frekuensi kehadiran anak ke posyandu, asupan energi dan protein dengan status gizi anak usia 1-2

(12)

tahun menemukan bahwa usia ibu tidak berhubungan secara signifikan dengan kehadiran ke posyandu.

b. Hubungan pendidikan dengan kunjungan ke posyandu Tabel 4.9

Hubungan pendidikan dengan kunjungan ke posyandu

Pendidikan

Kunjungan ke posyandu

Total p

value Tidak aktif Aktif

n % n % n % SMA Perguruan tinggi 26 5 61,9 14,3 16 30 38,1 85,7 42 35 100 100 0,000 Total 31 40,3 46 59,7 77 100

Hubungan pendidikan dengan kunjungan ke posyadu tidak aktif pada pendidikan SMA lebih banyak yaitu 26 orang (61,9%) dibandingkan perguruan tinggi yaitu 5 orang (14,3%). Hubungan pendidikan dengan kunjungan ke posyadu aktif pada perguruan tinggi lebih banyak yaitu 30 orang (85,7%) dibandingkan SMA yaitu 16 orang (38,1%).

Hasil uji statistic dengan Continuity correction diperoleh p valuesebesar 0,000 (p<0,05), sehingga dapat dinyatakan ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan kunjungan balita ke posyandu di RW 28 Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Khotimah (2009) yang menemukan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan ibu balita dengan tingkat kunjungan ibu balita ke posyandu

(13)

di wilayah kerja Puskesmas Kertapati Palembang. Penelitian lain yang dilakukan oleh Erman (2010) yang menemukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pendidikan dengan kunjungan ke posyandu Kelurahan Lubuk Tanjung Puskesmas Perumahan Kota Lubuk Linggau.

Hasil penelitian ini sesuai teori yang menyatakan bahwa makin tinggi pendidikan seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Seseorang dengan pendidikan yang lebih tinggi akan memiliki cara berfikir yang lebih dinamis dalam menerima setiap informasi baru sehingga mampu mengambil manfaat dari informasi tersebut. Sebaliknya pendidikan yang rendah, akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat termasuk berkaitan dengan pemahaman mengenai pentingnya melakukan kunjungan ke posyandu untuk memantau kesehatan dan perkembangan anak (Notoatmodjo, 2010).

c. Hubungan pendapatan dengan kunjungan ke posyandu Tabel 4.10

Hubungan antara pendapatan dengan kunjungan ke posyandu

Pendapatan

Kunjungan ke posyandu

Total p

value Tidak aktif Aktif

n % n % n % < UMR > UMR 7 24 70,0 35,8 3 43 30,0 64,2 10 67 100 100 0,080 Total 31 40,3 46 59,7 77 100

(14)

Hubungan pendapatan dengan kunjungan ke posyadu tidak aktif pada pendapatan > UMR lebih banyak yaitu 24 orang (35,8%) dibandingkan pendapatan < UMR yaitu 7 orang (70,0%), sedangkan hubungan pendapatan dengan kunjungan ke posyadu aktif pada pendapatan <UMR lebih banyak yaitu 43 orang (64,2%) dibandingkan pendapatan < UMR yaitu 3 orang (30,0%).

Hasil uji statistic dengan Fisher’s exact diperoleh p value sebesar 0,080 (p>0,05), sehingga dapat dinyatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara pendapatan dengan kunjungan balita ke posyandu di RW 28 Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

d. Hubungan pekerjaan dengan kunjungan ke posyandu Tabel 4.11

Hubungan pekerjaan dengan kunjungan ke posyandu

Pekerjaan

Kunjungan ke posyandu

Total p

value Tidak aktif Aktif

n % n % n % Tidak bekerja Bekerja 26 5 48,1 21,7 28 18 51,9 78,3 54 23 100 100 0,056 Total 31 40,3 46 59,7 77 100

Hubungan pekerjaan dengan kunjungan ke posyadu tidak aktif pada responden tidak bekerja lebih banyak yaitu 26 orang (48,1%) dibandingkan yang bekerja yaitu 5 orang (21,7%), sedangkan hubungan pekerjaan dengan kunjungan ke posyadu aktif pada

(15)

responden yang tidak bekerja lebih banyak yaitu 28 orang (51,9%) dibandingkan responden yang bekerja yaitu 18 orang (78,3%).

Hasil uji statistic dengan Continuity correction diperoleh p value sebesar 0,056 (p>0,05), sehingga dapat dinyatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan kunjungan balita ke posyandu di RW 28 Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Khotimah (2010) yang menemukan tidak terdapat hubungan antara jenis pekerjaan ibu balita dengan tingkat kunjungan ibu balita ke posyandu di wilayah kerja Puskesmas Kertapati Palembang. Penelitian lain yang dilakukan oleh Erman (2010) juga tidak menemukan ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan kunjungan ke posyandu.

e. Hubungan pengetahuan dengan kunjungan ke posyandu Tabel 4.12

Hubungan pengetahuan dengan kunjungan ke posyandu

Pengetahuan

Kunjungan ke posyandu

Total p

value Tidak aktif Aktif

n % n % n % Kurang Cukup Baik 19 12 0 86,4 54,5 0 3 10 33 13,6 45,5 100 22 22 33 100 100 100 0,000 Total 31 40,3 46 59,7 77 100

(16)

Hubungan pengetahuan dengan kunjungan ke posyadu tidak aktif pada pengetahuan rendah lebih banyak yaitu 19 orang (86,4%) dibandingkan pengetahuan cukup yaitu 12 orang (54,5%), sedangkan hubungan pengetahuan dengan kunjungan ke posyadu aktif pada responden yang baik lebih banyak yaitu 33 orang (100%) dibandingkan responden yang pengetahuannya cukup yaitu 10 orang (45,5%) dan pengetahuannya kurang yaitu 3 orang (13,6%).

Hasil uji statistic denganChi Square diperoleh p valuesebesar 0,000 (p<0,05), sehingga dapat dinyatakan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kunjungan balita ke posyandu di RW 28 Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pamungkas (2009) yang meneliti dengan judul hubungan antara faktor pengetahuan, sikap dan kepercayaan dengan perilaku ibu berkunjung ke Posyandu III Kelurahan Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang yang menemukan bahwa pengetahuan ibu berhubungan secara signifikan dengan perilaku ibu berkunjung ke posyandu. Penelitian lain yang dilakukan oleh Suharti (2012) juga menemukan bahwa pengetahuan berhubungan secara bermakna dengan perilaku kunjungan ke posyandu di Banjarnegara Jawa Tengah. Pengetahuan ini sebagai salah satu dasar pembentukan perilaku seseorang. Orang yang berpengetahuan banyak, akan cenderung

(17)

mudah mengeksplorasi keinginan dalam bentuk tindakan. Tindakan yang direncanakan dapat mengarah pada tindakan positif atau negatif, hal ini tergantung dari akhlak dan kebudayaan seseorang. Jadi untuk memperkaya pengetahuan seseorang harus aktif menerima input untuk itu seseorang harus mempertimbangkan logika dalam pengambilan keputusan untuk berperilaku yang baik. .

f. Hubungan sikap dengan kunjungan ke posyandu Tabel 4.13

Hubungan sikap dengan kunjungan ke posyandu

Sikap

Kunjungan ke posyandu

Total p

value Tidak aktif Aktif

f % f % f % Negatif Positif 29 2 78,4 5,0 8 38 21,6 95,0 37 40 100 100 0,000 Total 31 40,3 46 59,7 77 100

Hubungan sikap dengan kunjungan ke posyadu tidak aktif pada sikap negatif lebih banyak yaitu 29 orang (78,4%) dibandingkan sikap positif yaitu 2 orang (5,0%), sedangkan hubungan pengetahuan dengan kunjungan ke posyadu aktif pada sikap positif lebih banyak yaitu 38 orang (95,0%) dibandingkan responden yang sikapnya negative yaitu 8 orang (21,6%).

Hasil uji statistic dengan Continuity correction diperoleh p valuesebesar 0,000 (p<0,05), sehingga dapat dinyatakan ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan kunjungan balita ke posyandu di

(18)

RW 28 Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Erman (2010) yang meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan ibu yang mempunyai balita 0-5 tahun ke posyandu di Lubuk Tanjung Wilayah Kerja Puskesmas Kota Lubuk Linggau menemukan bahwa sikap ibu berhubungan secara signifikan terhadap kunjungan ibu ke posyandu, artinya semakin positif sikap ibu maka kunjungan ke posyandu akan semakin aktif.

Penelitian lain dilakukan oleh Tri Wahyudianingsi (2009) yang menemukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara sikap ibu balita terhadap keaktifan dalam kegiatan posyandu III Dusun Boto Kabupaten Tulungagung.

Pemantauan pertumbuhan juga dapat dipantau melalui kartu menuju sehat (KMS). Menurut Arisman (2004) KMS berfungsi sebagai alat bantu pemantauan gerak pertumbuhan, bukan hanya menilai status gizi. Salah satu kegiatan Posyandu yaitu menimbang Balita kemudian diikuti dengan pengisian KMS berdasarkan berat badan dengan umur sehingga dapat diketahui dengan segera bila terdapat kelainan atau ketidaksesuaian dengan grafik pertumbuhan pada KMS.

(19)

C. Keterbatasan

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah adanya kendala pada saat dilaksanakannya penelitian, yaitu ketidaksediaan responden untuk berpartisipasi dalam penelitian ini karena takut akan berpengaruh terhadap diri dan keluarganya, namun setelah peneliti berikan penjelasan bahwa penelitian ini tidak berpengaruh apapu kepada responden maka akhirnya mereka bersedia.

(20)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Umur responden sebagian besar adalah dewasa awal yaitu sebanyak 85,7%.

2. Pendidikan responden sebagian besar adalah SMA yaitu sebanyak 54,5%. 3. Pendapatan responden sebagian besar adalah diatas UMR yaitu Rp.

1.423.500,00 sebanyak 87,0%.

4. Responden penelitian sebagian besar menjadi ibu rumah tangga (tidak bekerja) yaitu sebanyak 70,1%.

5. Pengetahuan responden yang terbanyak adalah dalam kategori baik yaitu sebanyak 42,8%

6. Sikap responden yang positif sebanyak 51,9%.

7. Kunjungan responden ke posyandu sebagian besar dalam kategori aktif yaitu sebanyak 59,7%.

8. Tidak ada hubungan yang bermakna antara usia dengan kunjungan balita ke posyandu di RW 28 Kelurahan Sendangmulyo.

9. Ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan kunjungan balita ke posyandu di RW 28 Kelurahan Sendangmulyo

10. Tidak ada hubungan yang bermakna antara pendapatan dengan kunjungan balita ke posyandu di RW 28 Kelurahan Sendangmulyo.

(21)

11. Tidak ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan kunjungan balita ke posyandu di RW 28 Kelurahan Sendangmulyo.

12. Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kunjungan balita ke posyandu di RW 28 Kelurahan Sendangmulyo.

13. Ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan kunjungan balita ke posyandu di RW 28 Kelurahan Sendangmulyo.

B. Saran

1. Ibu Balita

Ibu Balita perlu meningkatkan pengetahuan tentang perlunya melakukan pemanfaatan Posyandu setiap bulan, perlunya meningkatkan pengetahuan tentang tanda kekurangan gizi anak serta mencegah Balita sering sakit agar tidak menghambat pertumbuhan Balita. Ibu bisa mendapatkan pengetahuan gizi ini dari buku, majalah atau televisi yang menayangkan tentang gizi Balita.

2. Tenaga kesehatan

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa masih terdapat beberapa Balita yang tidak aktif berkunjung ke posyandu. Untuk itu para tenaga kesehatan harus mampu memberikan penanganan kepada mereka termasuk memberi bantuan berupa pemantauan dan penangan terhadap masalah gizi Balita jika ditemukan indikasi gizi kurang dan memberikan informasi untuk berkunjung setiap bulan ke posyandu.

(22)

3. Kader Posyandu

Kader Posyandu diharapkan dapat berperan aktif dalam ikut melakukan pemantauan terhadap status gizi Balita dengan secara aktif mengundang ibu Balita untuk mendatangi Posyandu secara rutin, dan jika ada ibu Balita yang tidak dapat datang ke Posyandu kader dapat mendatangi ibu tersebut dan memberikan pengertian agar bersedia menghadiri Posyandu.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :