KONSEP TA’WIL USHULIYYIN DAN RELEVANSINYA DENGAN PEMBAHARUAN HUKUM ISLAM Syahrial Dedi
Teks penuh
Dokumen terkait
Fenomena tersebut belum sesuai dengan ketentuan hukum positif yang selain mengharuskan terpenuhinya syarat sahnya perkawinan menurut agama sebagaimana yang diatur
bangkan kehidupan ekonomi, politik, sosial budaya, keagaman dan ideologi. Masyarakat Baduy, menurut Suhada lebih tepat dikatakan sebagai masyarakat yang mengasingkan
h. Baitul maal, yaitu rumah harta atau semacam balai harta yang khusus menerima, menyimpan dan mengatur harta umat Islam untuk kemanfaatan umat Islam dan agama
tentang Perkawinan (selanjutnya disebut UU Perkawinan) mengatur kedudukan anak luar kawin dalam Pasal 43 (1) yang kemudian oleh Mahkamah Konstitusi (selanjutnya
Hal ini terlihat dengan jelas pada pasal-pasal yang mengatur perkawinan berbeda agama tersebut.Pasal 40, 44, dan 61 terlihat sejalan, yaitu tidak menghendaki perkawinan
Pendahuluan Dalam Hukum Positif Indonesia, mengatur tentang perkawinan yang tertuang di dalam UU No.1 Tahun 1974 menyatakan bahwa “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang
Namun, dalam hukum perkawinan di Indonesia anak luar kawin dapat menjadi anak sah dengan pengakuan dalam akta otentik yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang dan dengan perkawinan
menghilangkan perbedaan yang ada pada agama-agama, serta menyadari dimensi-dimensi doktrinal yang berbeda dari masing-masing agama.64 Terlebih karena perbedaan agama adalah fenomena