Kata kunci : jumlah alumni KKD, opini audit BPK, kinerja pembangunan daerah.

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

RINGKASAN

HERTANTI SHITA DEWI. Kinerja Pembangunan Daerah : Suatu Evaluasi terhadap Kursus Keuangan Daerah. Dibimbing oleh EKA INTAN KUMALA PUTRI dan BAMBANG JUANDA.

Sejak diberlakukan otonomi daerah di bidang keuangan, pemerintah melakukan kebijakan desentralisasi fiskal berdasarkan peraturan Undang-Undang No.33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Dalam kebijakan ini pemerintah memberikan sumber pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kepada pemerintah daerah untuk membiayai pembangunan daerah. Konsekuensinya setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) wajib menyusun laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD) sebagai pertanggungjawaban atas dana yang diterima. Kondisi laporan keuangan baik di pusat maupun daerah berdasarkan hasil audit yang telah dilakukan BPK dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi opini. Permasalahan sampai saat ini menunjukkan bahwa kualitas LKPD belum mencapai opini yang diharapkan yaitu Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Dalam upaya meningkatkan kualitas laporan keuangan dan kinerja pembangunan yang baik perlu dikelola oleh sumberdaya manusia yang kompeten. Pengelolaan keuangan yang baik menekankan perencanaan dan penganggaran berdasarkan kriteria belanja berkualitas. Sehubungan dengan hal tersebut Pemerintah menyelenggarakan kursus keuangan daerah (KKD)untuk meningkatkan kinerja aparat daerah di bidang pengelolaan keuangan.

Fenomena atas penilaian opini BPK dan kinerja pembangunan daerah di evaluasi dengan memperhitungkan indikator kinerja diantaranya : PDRB per kapita, Indeks Pembangunan Manusia, proporsi belanja modal, alokasi pendapatan dan belanja daerah serta banyaknya jumlah alumni KKD. Untuk mendapatkan informasi daerah yang mempunyai penilaian terbaik atas dua penilaian tersebut makadilakukan klasifikasi menjadi beberapa kategori.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik wilayah berdasarkan opini audit BPK dan kinerja pembangunan daerah serta menganalisis faktor yang mempengaruhi opini audit BPK dan kinerja pembangunan daerah. Penelitian ini menggunakan data sekunder sebagai sumber data. Metode analisis menggunakan program Excelserta program Minitab, dan diolah dengan menggunakan regresi logistik biner dan regresi berganda.

Hasil penelitian teridentifikasi bahwa wilayah Indonesia bagian barat mempunyai karakteristik predikat opini dan kinerja pembangunan daerah dengan kategori terbaik dibandingkan wilayah lainnya. Hasil pengujian juga menunjukkan terdapat adanyahubungan antara kinerja pembangunan daerah dengan opini audit BPK yang bersifat timbal balik atau saling memengaruhi. Opini audit BPK dipengaruhi kinerja pembangunan daerah demikian pula sebaliknya. Karakteristik wilayah berdasarkan penilaian kategori ideal (A dan B) sebanyak 139 SKPD (26,53%). Dan untuk kategori C sampai dengan F sebanyak 385 SKPD (73,47%). Kategori A-B tertinggi dicapai wilayah bagian barat yaitu sebanyak 104 SKPD (33,88%), kemudian bagian tengah dengan jumlah 32 SKPD (20,92%), dan bagian timur 3 SKPD (4,69%). Sedangkan untuk kategori (C sampai dengan F), pencapaian wilayah barat sebanyak 203 SKPD (66,12%), wilayah tengah sebanyak 121 SKPD (77,08%), dan di wilayah bagian timur sebanyak 61 SKPD (95,31%). Hasil pengujian menunjukkan bahwa opini audit BPK dengan predikat WTP/WDP dipengaruhi oleh jumlah alumni, PDRB per kapita, Indeks Pembangunan Manusia, dan porsi belanja modal dengan nilai odd ratio tertinggi adalah pengaruh IPM sebesar 1.08, jumlah alumni sebesar 1.05, PDRB per kapita sebesar 1.00 dan porsi belanja modal sebesar 0.94. Untuk variabel PDRB per kapita dipengaruhi secara signifikan oleh jumlah alumni, proporsi belanja modal, PAD, alokasi

(2)

alumni, opini BPK, alokasi belanja pendidikan, alokasi belanja kesehatan, dummy wilayah dan dummy kepulauan.

Kursus Keuangan Daerah(KKD) sangat membantu dalam meningkatkan kinerja daerah. Hal ini terlihatdari manfaat pelatihan KKD yang memberikan kemampuan staf melakukan pengelolaan keuangan dengan persentase tertinggi pada proses penganggaran dan tugas administrasi keuangan.

(3)

RINGKASAN

JUMADI. Karakteristik Struktur Output Sektor Ekonomi dan Disparitas Regional di Indonesia, Periode 2000-2010. Dibawah bimbingan ERNAN RUSTIADI dan SETIA HADI

Pembangunan (ekonomi) dalam jangka panjang akan membawa serangkaian perubahan mendasar (struktural) dalam perekonomian suatu negara. Perubahan struktural merupakan masa transisi mengandung ketidakseimbangan jangka panjang yang dapat mengakibatkan disparitas regional. Sebagai hasil dari proses pembangunan, ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan cukup tinggi terutama pada periode 1970-1975 sebesar 6,95 persen, 1975-1980 sebesar 7,92 persen, dan 1990-1995 sebesar 7,13 persen. Pertumbuhan ekonomi tersebut telah mendorong perubahan struktur ekonomi, dimana pada tahun 1960 sektor pertanian masih mendominasi struktur perekonomian Indonesia (kontribusi 53,92 %), diikuti sector jasa (31,73 %) dan sektor industri pengolahan (8,35 %). Pada 2010, sektor jasa telah mendominasi struktur perekonomian Indonesia (pangsa 46,78 %), diikuti sector industri (23,88 %) dan sektor pertanian (14,60 %). Penelitian ini bertujuan menganalisis: (i) struktur ekonomi nasional dan struktur output sektor ekonomi regional; (ii) disparitas regional dan pengaruh perubahan kontribusi sektor ekonomi terhadap disparitas regional; dan (iii) karakteristik tipologi wilayah berdasarkan struktur output sektor ekonomi dan disparitas regional di tujuh region selama 2000- 2010. Wilayah studi meliputi tujuh region, yaitu Sumatera, Jawa-Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif, Shift Share Analysis, Indeks Williamson, Indeks Entropi Theil, Regresi Data Panel, dan Analisis Cluster.

Selama 2000-2010, kontribusi PDB pertanian yang semakin kecil, namun masih memiliki serapan/pangsa tenaga kerja yang besar, sebaliknya kontribusi PDB industri manufaktur yang cukup besar, namun memiliki serapan tenaga kerja yang kecil. Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi output sektor ekonomi tidak diikuti oleh transformasi tenaga kerja sektoral secara proporsional. Dilihat dari struktur output sektor ekonomi selama 2000-2010, terjadi loncatan (jumping) transformasi ekonomi, kecuali region Jawa-Bali dan nasional. Selanjutnya, dilihat dari perkembangan kontribusi dan indeks differential shift sektor industry manufaktur selama 2000-2010, terdapat indikasi terjadinya gejala de-industrialisasi dalam perekonomian regional dan nasional. Hal ini ditunjukkan oleh kecenderungan penurunan kontribusi sektor industri manufaktur terhadap perekonomian, region JawaBali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan nasional berkisar -0,57 persen hingga -2,18 persen dan sektor tersebut mengalami perlambatan pertumbuhan di region Jawa-Bali (indeks differential shift -0,007); Kalimantan (-0,381); Maluku (- 0,272), dan nasional (-0,057) selama 2000-2010.

Berdasarkan hasil analisis Indeks Williamson, selama 2000-2010 disparitas antar region masih rendah (indeks 0,270 hingga 0,308), namun menunjukkan kecenderungan (trend) yang meningkat. Selama 2000-2010, disparitas antar provinsi di dalam region (intra region) untuk region Kalimantan dan Jawa-Bali paling tinggi, dengan indeks Williamson 0,749 hingga 0,923; region Sumatera 0,432 hingga 0,562; dan region Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua paling rendah rendah (0,004 hingga 0,255). Ketimpangan intra region menunjukkan trend menurun, kecuali region Jawa-Bali dan Nusa Tenggara. Berdasarkan analisis indeks entropi Theil, disparitas intra region memberikan kontribusi paling besar terhadap disparitas regional dibandingkan disparitas antar region. Ketimpangan wilayah sebesar 85,81 persen hingga 89,14 persen disebabkan oleh disparitas intra region (proporsinya meningkat) dan hanya 10,86 persen hingga 14,19 persen disebabkan oleh disparitas antar region (proporsinya menurun). Berdasarkan

(4)

regional (DR) di tujuh region dan tanpa region Jawa-Bali selama 2000- 2010 dipengaruhi oleh perubahan kontribusi/pangsa (share) sektor pertanian (SP); pertambangan dan penggalian (STG); industri manufaktur (SIM); dan perdagangan dan jasa (SPJ) secara negatif (berbanding terbalik), dimana perubahan kontribusi sektor pertanian memberikan pengaruh paling besar, sebaliknya sector pertambangan dan penggalian paling kecil terhadap disparitas regional.

Berdasarkan hasil Analisis Cluster (K-Means Cluster), terdapat empat cluster atau tipologi wilayah didasarkan karakteristik perkembangan struktur output sector ekonomi dan disparitas regional di tujuh region selama 2000-2010. Keempat tipologi wilayah tersebut selanjutnya diberi nama: Tipologi I: Wilayah Tertinggal (region Papua); Tipologi II: Wilayah Sedang Berkembang (region Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku); Tipologi III: Wilayah Transisi (region Sumatera, Kalimantan), dan Tipologi IV: Wilayah Maju (region Jawa-Bali). Berdasarkan analisis korelasi sederhana pergeseran kontribusi antara sektor pertanian dengan sektor industry manufaktur dan sektor perdagangan dan jasa selama kurun waktu 2000-2010 memiliki pola yang berbeda-beda, yang menunjukkan bahwa transformasi ekonomi antar tipologi wilayah maupun antar region memiliki tahapan, proses, dan kecepatan yang berbeda-beda. Secara umum, arah pergeseran kontribusi sektor industry manufaktur terhadap sektor pertanian tidak sesuai teori tahapan transformasi ekonomi (penurunan kontribusi sektor pertanian tidak diikuti peningkatan kontribusi sektor industri manufaktur), kecuali region Sumatera, Nusa Tenggara, dan Papua, dimana region Sumatera berpotensi mengalami proses industrialisasi pada taraf yang lebih tinggi. Transformasi ekonomi pada Tipologi IV: Wilayah Maju (region Jawa-Bali) diawali dengan proses industrialisasi, sedangkan pada tipologi wilayah lainnya mengalami loncatan pergeseran peranan (kontribusi) sector pertanian langsung digantikan oleh sektor perdagangan dan jasa. Proses industrialisasi selama 2000-2010 tidak dapat mendukung upaya peningkatan pendapatan per kapita dan penurunan kemiskinan, kecuali di region Sumatera dan Nusa Tenggara. Kondisi ini memperkuat indikasi gejala de-industrialisasi di Indonesia. De-industrialisasi dapat mengarahkan perekonomian regional dan nasional terjebak pendapatan menengah (middle income trap). Pengembangan sektor perdagangan dan jasa dapat meningkatkan pendapatan per kapita dan menurunkan kemiskinan. Implikasi kebijakan: pengembangan sektor industry manufaktur di seluruh tipologi wilayah dan region, kecuali region Jawa-Bali untuk memperkokoh struktur perekonomian, mencegah terjadinya gejala deindustrialisasi, meningkatkan pendapatan per kapita dan menurunkan kemiskinan, serta mewujudkan pertumbuhan dan transformasi ekonomi secara bertahap dan berkelanjutan.

Kata kunci: Struktur output sektor ekonomi, loncatan transformasi ekonomi, deindustrialisasi, disparitas regional, tipologi wilayah

(5)

RINGKASAN

YULIANA SUSANTI. Pengembangan Sapi Potong untuk Peningkatan Perekonomian di Provinsi Jawa Tengah: Suatu Pendekatan Perencanaan Wilayah. Dibimbing oleh DOMINICUS SAVIO PRIYARSONO dan SRI MULATSIH.

Sapi potong merupakan salah satu ternak ruminansia yang mempunyai kontribusi terbesar sebagai penghasil daging, serta untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani. Pengembangan sapi potong berdasarkan pendekatan perencanaan wilayah merupakan salah satu upaya untuk meningkatan peran sapi potong dalam meningkatkan perekonomian di Provinsi Jawa Tengah, dengan mensinergiskan antara potensi komoditas dan wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peranan sapi potong dalam perekonomian Jawa Tengah dan potensi pengembangan berdasarkan perencanaan wilayah, serta merumuskan strategi pengembangannya.

Analisis deskriptif digunakan untuk menjelaskan peranan sapi potong dalam perekonomian Jawa Tengah, yang dilihat dari peranannya terhadap pemenuhan kebutuhan daging sapi baik di tingkat provinsi maupun ditingkat nasional, serta kontribusinya terhadap PDRB dan tenaga kerja. Identifikasi potensi pengembangan sapi potong menggunakan analisis KPPTR (Kapasitas Peningkatan Populasi Ternak Ruminansia), analisis Location Quotient (LQ), serta analisis Skalogram. Perumusan strategi pengembangan sapi potong menggunakan analisis deskriptif untuk mengelompokkan wilayah berdasarkan nilai KPPTR, nilai LQ dan hierarki wilayah yang ditentukan oleh tingkat kapasitas pelayanan pengembangan sapi potong.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan sapi potong di Provinsi Jawa Tengah memberikan kontribusi positif dalam pemenuhan kebutuhan daging sapi, namun kontribusi sapi potong terhadap sumbangan PDRB dan penyerapan tenaga kerja masih relatif kecil. Provinsi Jawa Tengah memiliki potensi ketersediaan hijauan pakan yang cukup besar, sehingga masih bisa menambah populasi ternak ruminansia berdasarkan nilai KPPTR sebesar 5.232.130 ST. Wilayah yang mempunyai KPPTR positif terdapat pada 17 kabupaten dari 21 kabupaten yang ditetapkan sebagai wilayah pengembangan sapi potong, sedangkan 4 kabupaten lainnya mempunyai KPPTR negatif. Wilayah basis sapi potong di Jawa Tengah terdapat pada 7 kabupaten, namun berdasarkan hasil penilaian secara fisik untuk kapasitas pelayanan pendukung pengembangan sapi potong pada wilayah basis tersebut masih tergolong rendah dan sedang. Strategi untuk peningkatan peran sapi potong dalam perekonomian Provinsi Jawa Tengah adalah dengan pendekatan perencanaan wilayah, yang bertujuan untuk meningkatkan populasi dan produksi sapi potong, serta nilai tambah bagi peternak dan penyerapan tenaga kerja. Pengelompokan wilayah pengembangan sapi potong menghasilkan 4 (empat) kelompok berdasarkan: wilayah sumber hijauan pakan, wilayah basis sapi potong dan hierarki wilayah berdasarkan tingkat kapasitas pelayanan untuk mendukung pengembangan sapi potong, serta pemetaan wilayah untuk program produksi sapi potong (pembibitan, pembesaran dan penggemukan).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :