BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang mendasari penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah penelitian yang dilakukan oleh Winanto (2013) dengan judul “Persepsi Konsumen Terhadap Pelayanan Apotek di Kota Ranai Kecamatan Bunguran Timur Kabupaten Natuna”. Tujuan dari penelitian tersebut untuk melihat gambaran bagaimana persepsi konsumen apotek terhadap pelayanan apotek kota Ranai Kecamatan Banguran Timur Kabupaten Natuna. Penelitian tersebut merupakan penelitian survey deskriptif, diperoleh jumlah sampel 385 responden. Hasil sebanyak 74,03% responded memiliki persepsi yang sangat baik dan 20,26% responden memiliki persepsi yang buruk terhadap pelayanan apotek.
Penelitian yang dilakukan oleh Rakih dkk (2014) dengan judul “Hubungan Persepsi Apoteker Terhadap Pelaksanaan Konseling Kepada Pasien dan Evaluasi Pelaksanaan Konseling di Apotek Kabupaten Magetan”. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu menganalisis hubungan persepsi apoteker terhadap pelaksanaan konseling dengan evaluasi pelaksanaan konseling di apotek-apotek Kabupaten Magetan. Penelitian tersebut merupakan penelitian non eksperimental, jumlah sampel 38 responden. Hasil menunjukan bahwa 87,3% responden berpersepsi sangat mendukung terhadap pelaksanaan konseling kepada pasien. Dengan adanya waktu yang terjadawal melakukan kegiatan konseling akan mempengaruhi tingkat terapi pengobatan pasien lebih baik.
Penelitian yang dilakukan oleh Hamdaka dan Pinasti (2014) dengan judul “Pengaruh Konseling Farmasis Terhadap Kualitas Hidup dan Kadar Gulua Darah pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe-2 di Puskesmas Gedong Tengen Priode Maret-Mei 2014”. Tujuan penelitian tersebut untuk mengetahui pengaruh konseling farmasis terhadap kualitas hidup dan kadar glukosa darah pasien Diabetes Melitus tipe 2 sebelum dan sesudah diberikan konseling. Penelitian tersebut termasuk penelitian quasi experimental design dengan menggunakan
konseling oleh farmasis selama 1 bulan menyebabkan peningkatan skor kualitas hidup yaitu sebelum konseling 215,24 ± 16,42 dan sesudah konseling 221,72 ± 15,33.
Penelitian yang akan dilakukan peneliti yaitu “persepsi pasien Diabetes Mellitus terhadap konseling yang diberikan oleh apoteker di apotek wilayah Kabupaten Purbalingga”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaiman persepsi pasien Diabetes Mellitus terhadap konseling yang telah diberika oleh apoteker terkait pengobatan penyakitnya serta melihat hubungan antara karakteristik responden dengan persepsi pasien Diabetes Mellitus terhadap konseling yang diberikan oleh apoteker di apotek. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu penelitian observasional dengan desain penelitian cross sectional. Pengambilan sampel dengan tehnik purposive sampling. Data yang dikumpulkan melalui survey langsung ke apotek-apotek yang berada di Wilayah Kabupaten Purbalingga melalui kuisioner dengan daftar pertanyaan tertulis yang diberikan kepada pasien Diabetes Mellitus yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data menggunakan analisis univariat untuk menghasilkan persentase dan karakteristik distribusi dari setiap responden dan analisis bivariat untuk melihat hubungan antara karakteristik responden dengan persepsi pasien Diabetes Mellitus terhadap konseling apoteker..
B. Landasan Teori
1. Presepsi
Presepsi merupakan proses akhir dari pengamatan yang diawali oleh proses penginderaan, yaitu proses diterimanya stimulus oleh alat indera, kemudian individu ada perhatian, lalu diteruskan ke otak, dan baru kemudian individu menyadari dapat mengerti tentang sesuatu yang dinamakan persepsi. Dengan persepsi individu menyadari dapat mengerti tentang keadaan lingkungan yang ada di sekitarnya maupun tentang hal yang ada dalam diri individu yang bersangkutan (Sunaryo, 2004).
Ada empat tahap dalam proses pembentukan persepsi menurut Belch (2009) yaitu sejumlah tahapan ketika seorang individu mengelola informasi yang masuk dalam dirinya. Keempat tahap itu masing-masing; eksposure, attention, comprehension dan retention. 1) Exposure: tahap dimana seseorang mulai menerima informasi
melalui panca indera yang dimiliki. Informasi diperoleh dengan cara melihat ataupun mendengarkan secara langsung informasi-informasi mengenai suatu hal tertentu.
2) Attention: seseorang mulai menempatkan informasi-informasi yang diterima ke dalam sebuah stimulus. Informasi-informasi tersebut mulai dicerna melalui pikiran seseorang.
3) Comprehension: seseorang mulai menginterpretasikan informasi yang masuk tersebut menjadi sebuah arti yang spesifik. Informasi tersebut menjadi berkembang dan menjadikannya persepsi yang berbeda antara setiap individu-individu yang menerima informasi tersebut.
4) Retention: tahap dimana seseorang sudah mulai tidak mengingat lagi keseluruhan dari apa yang mereka baca, lihat atau dengar meskipun mereka sudah tertarik dan dapat menginterpretasikan informasi tersebut.
b. Aspek-aspek persepsi
Pada dasarnya sikap itu mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu:
1) Komponen kognitif (komponen perseptual), yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap obyek.
3) Komponen konatif (komponen perilaku), yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap obyek. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap obyek (Azwar, 2000).
2. Diabetes Mellitus
Diabetes adalah salah satu penyakit tidak menular yang menjadi prioritas keempat penyakit yang diidentifikasi oleh WHO besama dengan penyakit cardiovascular disease (CVD), yang mencakup serangan jantung, stroke, kanker dan penyakit ernapasan kronis. Diabetes melitus merupakan penyakit yang sering diderita oleh sebagian besar orang di dunia, bersifat kronis dan pembiayaannya mahal. Penyakit diabetes ini ditandai dengan hiperglikemia (tingginya kadar glukosa dalam darah), akibat kurangnya insulin yang dihasilkan dalam tubuh karena kerusakan pankreas (diabtes tipe 1) atau akibat resistensi insulin(diabetes tipe 2) (International Diabetes Federation, 2011). Tabel Diagnosis DM tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Tabel Diagnosa DM dari Tabel Diagnosis DM tahun 2015 Gula darah
terkontrol
Prediabetes Diabetes melitus (DM)
GDP (Glukosa Darah Puasa)
100 mg/dL 100-125 mg/Dl ≥126 mg/dL
Kadar glukosa 2 jam setelah makan
<140 mg/Dl 140-199 mg/Dl ≥ 200 mg/dL
GDS (Glukosa Darah Sewaktu)
≥ 200 mg/dL+gejala
Hemoglobin A1c <5.7% 5,7-6,4% ≥ 6,5%
1. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus
Penatalaksanaan diabetes mempunyai tujuan akhir untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas DM, yang secara spesifik ditujukan untuk mencapai 2 target utama, yaitu (Azrifitria dan Silma Awalia, 2013):
b. Mencegah atau meminimalkan kemungkinan terjadinya komplikasi diabetes. The American Diabetes Assosiation (ADA) merekomendasikan beberapa parameter yang dapat digunakan untuk menilai keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Tabel penatalaksanaan Diabetes dapat dilihat pada tabel 2.2 dan 2.3 :
Tabel 2.2Tabel penatalaksanaan Diabetes Parameter Glikemik
GDP 70-130 mg/Dl
Kadar glukosa 2 jam setelah makan <180 mg/dL
Hemoglobin A1c <70%
Tabel 2.3 Tabel penatalaksanaan Diabetes Parameter Non Glikemik
Tekanan Darah <130/80 mmHg
LDL (Low Density Lipoprotein) <100 mg/dL
<70 mg/dL (dengan penyakit kardiovaskular) HDL (high Density Lipoprotein) >40 mg/dL (Pria)
>50 mg/dL (Wanita)
Trigliserida <150 mg/dL
2. Peran Apoteker dalam Penatalaksanaan Diabetes Mellitus
Kontribusi apoteker ini pada intinya adalah penatalaksanaan penyakit, berarti mancakup terapi obat dan non-obat (Depke RI, 2005) a. Mengidentifikasi dan menilai kesehatan pasien
Apoteker dapat mengidentifikasi pasien-pasien yang tidak menyadari kalau mereka menderita diabetes. Identifikasi mentargetkan pasien-pasien dengan resiko tinggi, termasuk pasien-pasien obesitas, pasien-pasien >40 tahun, pasien dengan tekanan darah tinggi atau displidemia, pasien sejarah keluarga diabetes, dan pasien yang mempunyai sejarah getasional dabetes atau melahirkan anak berat badan >4,5 kg.
b. Merujuk pasien
Salah satu peran apoteker yang tidak kalah penting adalah merujuk pasien kepada tim perawat diabetes lainnya seperti bagian gizi, poliklinik mata, pediatri, gigi dan lainnya bila diperlukan. Depresi juga sering dijumpai pada pasien diabetes, sehingga dapat dirujuk ke bagian penyakit jiwa bila diperlukan.
Pemantauan terhadap kondisi penderita dapat dilakukan apoteker pada saat pertemuan konsultasi rutin atau pada saat penderita menebus obat, atau dengan melakukan hubungan telepon. Pemantauan kondisi penderita harus mendorong penderita untuk melaporkan keluhan ataupun gangguan kesehatan yang dirasakannya sesegera mungkin. Apoteker juga harus memantau tingkat kenormalan :
1) Tekanan darah (target <130/80 mmHg) 2) LDL kolesterol (target <100mg/dl)
3) Penggunaan aspirin untuk pasien DM dengan hipertensi dan resiko jantung
4) Pemeriksaan mata, kaki, gigi (1x/tahun) 5) Vaksin influenza dan pneumokokal
Penjelasan diberikan kepada pasien mengenai target dan diharapkan pasien mengerti mengapa monitoring memegang peranan penting dalam terapi pencegahan komplikasi yang bisa memperburuk penyakit.
d. Menjaga dan meningkatkan kepatuhan pasien terhadap jadwal terapi Ada 6 langkah yang dapat dilakukan :
1) Libatkan pasien, ciptakan suasana dimana pasien menjadi peduli dan bersedia untuk membantu menangani masalah yang berhubungan dengan obat.
2) Spesifik, dapatkan rincian spesifik bila pasien mendiskusikan masalah obatnya.
3) Identifikasi hambatan utama yang mempengaruhi kepatuhan pasien dalam minum obatnya.
4) Simpulkan masalah pasien.
5) Memecahkan masalah dengan memberi saran pada pasien seperti berikut :
a) Meminum obat sesuai yang diresepkan
c) Bila ada masalah dengan efek samping yang dialami, kekhawatiran biaya obat sehingga mengharapkan obat alternatif lain yang lebih murah maka harus dibicarakan pada dokter atau apoteker.
d) Bila regimen obat terlalu susah, menjadi beban, atau membingungkan tanyakan ke dokter atau apoteker.
e) Jumlah obat yang anda minum bukanlah pertanda betapa sehat atau tidak sehatnya anda. Lebih baik anda diskusi dengan Dokter atau Apoteker tentang terget pengobatan seharusnya (target kadar gula, tekanan darah, kadar kolesterol dsb).
f) Bila anda merasa depresi, atau tertekan dengan ruwetnya penanganan diabetes anda, bicarakan atau dengan dokter atau apoteker.
6) Akhiri pertemuan, tanyakan langkah apa saja yang akan dilakukan pasien setelah diskusi dengan apoteker.
e. Membantu penderita mencegah dan mengatasi komplikasi ringan Mencegah dan mengatasi komplikasi diabetes adalah salah satu hal penting dalam pengelolaan diabetes. Informasi mengenai komplikasi yang mungkin muncul menyertai diabetes sangat penting disampaikan kepada penderita dan keluarganya agar dapat melakukan antisipasi seperlunya.
f. Menjawab pertanyaan penderita dan keluarga mengenai DM
Biasanya pertanyaan berkisar tentang penyebab penyakit dan gejala-gejala yang harus diwaspadai, pemeriksaan diagnostik yang harus dilakukan, hal-hal apa yang harus dihindari untuk mencegah atau memperlambat perkembangan penyakit, tentang terapi obat dan efek samping obat, tentang komplikasi dan pencegahannya, sampai pada perawatan kaki, mulut dan gigi dan lain sebagainya.
g. Memberikan pendidikan dan konseling
tidak pernah mendapatkan pendidikan mengenai diabetes, resiko untuk komplikasi major maningkat 4 kali lipat. Materi inti untuk pendidikan yang komperhensif yang dapat diberikan kepada pasien diabetes (sumber : National Standard for diabetes self-management education, Diabetes Care 2005) terdiri dari definisi deiabtes, proses penyakit, dan pilihan pengobatan, terapi nutrisi, aktivitas fisik, penggunaan obat, memonitor kadar gula sendiri, terapi nutrisi, aktivitas fisik, penggunaan obat, memonitor kadar gula sendiri, mencegah, mendeteksi, dan mengobati komplikasi-komplikasi akut dan kronis, target untuk mencapai hidup sehat, menyesuaikan sendiri perawatan dalam kehidupan sehari-hari.
1) Tahap I : segera dilaksanakan setelah pasien di diagnosa dengan DM sehingga dapat membantu mengatasi kebingungan, syok, terkejut dan lain sebagainya. Apoteker berusaha membantu pasien memahami dan menerima diagnosa.
2) Tahap II : memberikan informasi yang lebih dalam, berfokus pada masalah yang teridentifikasi sewaktu menilai pasien (misalnya peripheral neuropathy) dan hal-hal lain yang mungkin dapat diantisispasi (misalnya mengatasi reaksi hipoglikemi). Kegunaan dan cara minum obat yang benar harus dijelaskan.
3) Tahap III : memberikan pendidikan berkelanjutan untuk menekanan konsep, meningkatkan dan menjaga motivasi, dan berupaya agar pasien dapat mengurus dirinya dan peduli terhadap kesehatannya.
Secara umum, tujuan jangka panjang yang ingin dicapai dengan memberikan penyuluhan atau konseling kepada penderita diabetes dan keluarganya antara lain :
b. Untuk membantu penderita DM agar dapat merawat dirinya sendiri, sehingga komplikasi yang mungkin timbul dapat diminimalkan, selain itu juga agar jumlah hari sakit dapat ditekan.
c. Agar penderita DM dapat berfungsi dan berperan optimal dalam masyarakat.
d. Agar penderita DM dapat lebih produktif dan bermanfaat.
e. Untuk menekan biaya perawatan, baik yang dikeluarkan secara pribadi, keluarga ataupun negara.
Segala informasi yang dianggap perlu untuk meningkatkan kepatuhan dan kerjasama penderita dan keluarganya terhadap program penatalaksanaan diabetes dapat disampaikan dalam konseling. Namun dalam penyampaiannya harus mempertimbangkan kondisi penderita, baik kondisi pengetahuan, kondisi fisik, maupun kondisi psikologisnya (Depkes RI, 2005).
3. Apoteker
Menurut KepMenKes No.1027/MENKES/SK/IX/2004 apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan profesi dan telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker. Menurut definisi tersebut seorang apoteker merupakan lulusan perguruan tinggi farmasi yang memenuhi cirri profesi yaitu memiliki pengetahuan yang berbatas jelas dan pendidikan khusus berbasis keahlian pada jenjang perguruan tinggi (Depkes RI, 2004). a. Tugas dan Fungsi Apoteker di Apotek
Apoteker yang melaksanakan pengabdiannya di apotek mempunyai tugas melaksanakan pelayanan kefarmasian, memimpin dan melakukan pengawasan atas seluruh aktivitas apotek sesuai peraturan perundangan yang berlaku dengan fungsi sebagai berikut : 1) Melakukan asuhan kefarmasian dengan kegiatan :
b) Melakukan skrining resep dari segi administrative, kesesuaian farmasetik (bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara pemberian dan lama pemberian) dan pertimbangan klinis ( adanya alergi, efek samping, kesesuaian dosis, durasi dan jumlah obat).
c) Melaksanakan peracikan obat dan penyerahan obat.
d) Memilihkan obat bagi pasien yang akan melakukan swamedikasi.
e) Melaksanakan konsultasi dan edukasi kepada pasien dengan resep dokter ataupun swamedikasi.
f) Melaksanakan promosi dan edukasi program kesehatan dari pemerintah.
g) Melakukan kunjungan rumah atau pelayanan residensial (home care).
2) Melakukan pengelolaan sumber daya di apotek dengan kegiatan : a) memimpin dan mengawasi tugas karyawan.
b) Membuat struktur organisasi dan uraian tugas karyawan. c) Membuat perencanaan pengadaan obat dan perbekalan
kesehatan lainnya.
d) Membuat kebijakan tentang penyimpanan obat di apotek. e) Membuat pembukuan keuangan.
f) Membuat laporan sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
4. Konseling
a. Definisi Konseling
penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi atau perbekalan kesehatan lainnya (Depkes RI, 2004). Kriteria pasien/keluarga pasien yang perlu diberikan konseling (Menkes RI, 2014) :
1) Pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gangguan fungsi hati dan/atau ginjal, ibu hamil dan menusui).
2) Pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (misalnya: TB, DM, AIDS, epilepsi).
3) Pasien yang menggunakan obat dengan intruksi khusus (penggunaan kortikosteroid dengan tappering down/off).
4) Pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit (digoksin, fenitoin, toefilin).
5) Pasien dengan polifarmasi, pasien menerima beberapa obat untuk indikasi penyakit yang sama. Dalam kelompok ini juga termasuk pelayanan lebih dari satu obat untuk penyakit yang diketahui dapat disembuhkan dengan satu jenis obat.
6) Pasien dengan tingkat kepatuhan rendah. b. Tahap kegiatan konseling:
1) Membuka komunikasi antara apoteker dengan pasie.
2) Menilai pemahaman pasien tentang penggunaan obat melalui
Three Prime Question, yaitu:
a) Apa yang disampaikan dokter tentang obat anda?
b) Apa yang dijelaskan dokter tentang cara pemakaian obat anda? c) Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang hasil yang diharapkan
setelah anda menerima terapi obat tersebut?
3) Menggali informasi lebih lanjut dengan memberi kesempatan kepada pasien untuk mengeksploari masalah penggunaan obat. 4) Melakukan verifikasi akhir untuk memastikan pemahaman pasien.
Konseling pasien merupakan bagian dari pelayanan kefarmasian, karena apoteker sekarang tidak hanya berorientasi pada obat (drug oriented), tetapi juga harus berorientasi pada pasien (patient oriented) sehingga terwujud konsep
pharmaceutical care. Tujuan dari konseling adalah meningkatkan keberhasilan terapi, memaksimalkan efek terapi, meminimalkan resiko efek samping, meningkatkan cost effectiveness dan menghormati pilihan pasien dalam menjalankan terapi (Depkes RI, 2006). Prinsip dasar konseling adalah menjalin hubungan atau korelasi antara apoteker dengan pasien sehingga terjadi perubahan perilaku pasien secara sukarela dalam rangka meningkatkan keberhasilan terapi.
5. Apotek
pengerat, serangga. Apotek memiliki suplai listrik yang konstan, terutama untuk lemari pendingin. Maka dari itu Apotek harus memiliki :
a. Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien.
b. Tempat untuk mendisplai informasi bagi pasien, termasuk penempatan brosur / materi informasi.
c. Ruang tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi dengan meja kursi lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien.
d. Ruang racikan.
e. Tempat pencucian alat (Depkes, 2004).
Perabotan apotek harus tertata rapi, lengkap dengan rak-rak penyimpanan obat barang-barang lain yang tersusun dengan rapi, terlindungi dari debu, kelembapan dan cahay yang berlebihan serta diletakan pada kondisi ruangan dengan temperature yang telah ditetapkan. Berdasarkan PP no. 51 tahun 2009 pasal 5, pelaksanaan pekerjaan kefarmasian meliputi :
a. Pekerjaan kefarmasian dalam pengadaan sediaan farmasi. b. Pekerjaan kefarmasian dalam Produk sediaan farmasi.
c. Pekerjaan kefarmasian dalam Distribusi atau penyaluran sediaan farmasi.
d. Pekerjaan kefarmasian dalam Pelayanan sediaan farmasi.
Standar pelayanan kefarmasian di Apotek Dalam meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian yang berasaskan pharmaceutical care di apotek dibutuhkan tenaga apoteker yang profesional. Dengan diterapkannya standar pelayanan kefarmasian di apotek ini diharapkan tujuan dapat dicapai secara maksimal. Adapun pelayanan kefarmasian di apotek sebagai berikut :
1. Pelayanan resep a. Skrining resep
Apoteker melakukan skrining resep meliputi 1) Persyaratan admistratif
b) Tanggal penulisan resep.
c) Tanda tangan / paraf dokter penulis resep
d) Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien e) Cara pemakainan.
2) Kesesuaian farmasetik : betuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompati-bilitas, cara dan lama pemberian.
3) Pertimbangan klinis : adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain) Jika ada keraguan terhadapa resep dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan. b. Penyiapan obat
1) Peracikan
Merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur mengemas dan memberikan etiket pada wadah.
2) Etiket
Etiket harus jelas dan dapat dibaca 3) Kemasan obat yang diserahkan
Obat dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok sehingga terjaga kualitasnya.
4) Penyerahan obat
Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian atara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien.
5) Informasi obat
Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti. Informasi obat pada pasien meliputi : cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makan dan minuman yang harus dihindari selama terapi.
Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau pengobatan obat yang salah. Untuk pasien yang menderita penyakit tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma dan penyakit kronis lainnya, apoteker harus memberika kinseling secara berkelanjutan.
7) Monitoring penggunaan obat
Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma dan penyakit kronis lainnya.
c. Promosi dan edukasi
Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus meberikan edukasi apabila masyarakat ingin mengobati diri sendiri untuk penyakit ringan dengan memilihkan obat yang sesuai dan apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut membantu desiminas informasi antara lain dengan penyebaran leaflet/brosur, poster, penyuluhan, dan lain-lain.
d. Pelayanan residensial (home care)
Apoteker sebagai care giver diharapkan dapat melakukan pelayann kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk aktifitas ini apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan (medication record).
2. Sediaan farmasi dan perbekalan lainnya
Pengelolaan persediaan farmasi dan pembekalan kesehatan lainnya dilakukan sesuai ketentuan perundangaan yang berlaku meliputi : perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan pelayanan.
a. Perencanaan
1) Pola penyakit
2) Kemampuan masyarakat 3) Budaya masyarakat b. Pengadaan
Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan sediaan farmasi harus melalui jalur resmi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c. Penyimpanan
1) Penyimpanan bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminai dan harus ditulis informasi yang jelas pada wadah baru, wadah sekurang-kurangnya memuat nama obat, nomor batch dan tanggal kadaluarsa
2) Semua bahan harus disimpan dalam kondisi yang sesuai, layak dan menjamin stabilan bahan,
3) Admistrasi Dalam menjalankan pelayanan kefarmasian dia apotek, perlu dilaksanakan kegiatan admistrasi yang meliputi : a) Admistrasi umum
Pencatatan, pengarsipan, pelaporan narkotika, psitropika dan dokumentasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
b) Admistrasi pelayanan