KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
SEKRETARIAT JENDERAL
Gedung Manggala Wanabakti, Blok 1 Lantai 1 Jalan Gatot Subroto,y Jakarta
10270
Telepon : 021-5705099, 5730118-9 Faximile 5710484
SIARAN PERS
Nomor : SP. 253 /HUMAS/PP/HMS.3/09/2017
KLHK Lakukan Berbagai Upaya Mencegah Kebakaran Gambut
Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Senin, 18 September 2017. Musim kemarau yang masih terjadi di beberapa wilayah Indonesia telah menyebabkan kekeringan dan dapat menjadi ancaman terjadinya kebakaran hutan dan lahan, terutama lahan gambut.
Sifat tanah gambut menyerupai spons dimana pada kondisi normal akan menyerap dan menahan air secara maksimal, namun pada musim kemarau lahan ini akan menjadi kering sampai kedalaman tertentu dan mudah terbakar. Gambut mengandung bahan bakar berupa sisa tumbuhan sampai di bawah permukaan tanah, sehingga jika terjadi kebakaran, api akan menjalar di bawah permukaan tanah secara lambat dan sulit dideteksi, serta menimbulkan asap tebal.
KLHK telah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran pada lahan gambut. Salah satunya dengan pembangunan sekat kanal dan perbaikan tata kelola air gambut. Sekat kanal berfungsi mempertahankan air tetap tertahan di gambut sehingga lahan tetap basah dan tidak mudah terbakar.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Raffles B. Panjaitan, menjelaskan bahwa KLHK telah berkoordinasi dengan berbagai pihak dalam pembangunan sekat kanal ini seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, pihak pemegang ijin usaha kehutanan, dan juga LSM bidang kehutanan.
Kebakaran yang terjadi di lahan gambut sulit dipadamkan sehingga bisa berlangsung berhari-hari. Api yang berada di bawah permukaan tanah akan sulit dideteksi pergerakannya. Oleh karena itu pemadaman darat perlu didukung dengan pemadaman udara atau water bombing sehingga api bisa benar-benar padam. Manggala Agni pun harus bekerja ekstra keras untuk memadamkan api di gambut ini, tegas Raffles B. Panjaitan.
Kebakaran gambut yang terjadi pada 2 lokasi di Kabupaten Ogan Kemiring Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan telah berhasil di padamkan. Pemadaman dilakukan oleh Manggala Agni, TNI dan POLRI di Desa Sungai Rambutan dan Kelurahan Karya Jaya, dalam waktu 1 jam api berhasil dipadamkan dengan masing-masing luas areal terbakar sekitar 1 ha.
Selain di Sumatera Selatan, pemadaman kebakaran pada lahan gambut juga dilakukan Manggala Agni Daops Kapuas Kalimantan Tengah bersama-sama dengan tim gabungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pemadaman dilakukan pada dua titik di Desa Barunai, Kecamatan Kahayan Kuala, Kabupaten Pulang Pisau. Api telah berhasil dipadamkan dengan luas terbakar masing-masing titik sekitar 3 ha.
Hasil Pemantauan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian LHK, hari Minggu (17/09/2017) pada pukul 20.00 WIB, menunjukkan informasi hotspot dari Satelit NOAA di seluruh Indonesia terdapat 10 titik. Dengan rincian di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara masing-masing 3 titik, lainnya Kalimantan Utara 1 titik, Sulawesi Barat 1, Sulawesi Tengah 1, dan Bali 1 titik.
Di waktu yang sama, berdasarkan Satelit TERRA AQUA (NASA) confidence level ≥80%, terpantau 1 titik di Kalimantan Timur, 3 titik di Sulawesi Selatan, 1 titik di Sulawesi Tengah, 13 titik di Nusa Tenggara Barat, 9 titik di Nusa Tenggara Timur. Total hotspot di seluruh wilayah Indonesia 27 titik.
Sementara menurut pantauan TERRA AQUA (LAPAN) confidence level ≥80%, terpantau 29 hotspot dengan rincian Provinsi Kalimantan Timur 2 titik, Sulawesi Selatan 3 titik, Sulawesi Tengah 1, Sulawesi Tenggara 1 titik, Nusa Tenggara Barat 13 titik, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur 9 titik.
Secara kumulatif, jumlah hotspot periode tanggal 1 Januari – 17 September 2017 menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Data satelit NOAA menunjukkan 2.009 titik, sedangkan tahun 2016 lalu sebanyak 3.180 titik, berarti terdapat penurunan sebanyak 1.171 titik (36,82%).
Penurunan cukup besar juga ditunjukkan oleh data satelit TERRA AQUA (NASA) (confidence level >80%), yaitu sebanyak 1.368 titik terlihat sepanjang 1 Januari – 17 September 2017. Pada periode yang sama tahun 2016, jumlah hotspot sebanyak 3.424 titik, sehingga saat ini terjadi penurunan 60,04 % atau sebanyak 2.056 titik.(*)
Penanggung jawab berita: