• Tidak ada hasil yang ditemukan

Waspada Karhutla, Tingkatkan Sinergi dan Deteksi Dini

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Waspada Karhutla, Tingkatkan Sinergi dan Deteksi Dini"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

SEKRETARIAT JENDERAL

Gedung Manggala Wanabakti, Blok 1 Lantai 1 Jalan Gatot Subroto, Jakarta 10270 Telepon : 021-5705099, 5730118-9 Faximile 5710484

SIARAN PERS

Nomor : SP. 240/HUMAS/PP/HMS.3/09/2017

Waspada Karhutla, Tingkatkan Sinergi dan Deteksi Dini

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehu tanan, Minggu, 10 September 2017. Penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diupayakan oleh Brigade Dalkarhutla KLHK – Manggala Agni. Kebakaran seluas ± 2 Ha di Desa Toman, Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin berhasil ditanggulangi Manggala Agni Daops Banyuasin, Sabtu (9/9/2017). Mereka juga melakukan groundcheck hotspot di Kelurahan Rimba Asam, Kecamatan Betung, Kabupaten Banyuasin. Ditemukan sekitar ± 65 Ha lahan terbakar, dan segera dilakukan upaya pemadaman.

Di Kalimantan Tengah, Manggala Agni berhasil melakukan pemadaman karhutla di tiga lokasi yaitu: Desa Taruna Jaya (Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau) dengan luas yang terbakar ±1 Ha; Kelurahan Palangka (Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya) dengan luas terbakar ± 5 Ha; Desa Sebuai Timur (Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat) dengan luas lahan yang terbakar ± 30 Ha.

Upaya pemadaman di Kalimantan Selatan dilakukan oleh Manggala Agni di lima lokasi, meliputi Kabupaten Balangan, Kabupaten Tanah Laut, dan Kota Banjarbaru. Luas areal yang terbakar bervariasi antara 2,5 – 30 Ha.

Sementara, di Sulawesi Tenggara, Manggala Agni Daops Tinanggea melaksanakan pemadaman di Blok Hutan Laea Bawah (Kec. Lantari Jaya, Kab. Bombana) dengan luas areal terbakar ± 29 ha.

Raffles B. Panjaitan, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (PKHL), Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI), KLHK, mengungkapkan bahwa jika mencermati prediksi Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran (SPBK) dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), saat ini potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan di wilayah Indonesia masih harus diwaspadai.

“Manggala Agni dan para pihak terkait di seluruh wilayah Indonesia harus selalu siap siaga melakukan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Pemantauan deteksi dini dan patroli terpadu pencegahan karhutla terus dilakukan setiap hari. Koordinasi lintas instansi dan stakeholder lainnya juga terus ditingkatkan agar upaya-upaya penanggulangan dapat dilakukan secara optimal”, ungkap Raffles B. Panjaitan.

Prediksi SPBK BMKG hari ini menunjukan sebagian besar Provinsi di Sumatera dan Kalimanta sangat mudah terbakar. Kondisi ini memicu potensi ancaman terjadi karhutla di kedua wilayah tersebut.

(2)

Hasil pemantauan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, pada 9 September 2017, pada Satelit NOAA19 terpantau 5 titik panas (hotspot) dengan rincian Provinsi Bangka Belitung 5 titik di Kab. Tanah Laut (Kalsel), di Kab. Barito Utara (Kalteng), di Kab. Pasir (Kaltim), di Kab. Berau (Kaltim), dan Kab. Bulungan (Kaltara).

Berdasarkan Satelit TERRA AQUA (LAPAN) confidence level ≥80%, terpantau 18 hostpot dengan rincian Kalbar 2 titik, Bangka Belitung 3 titik, Lampung 1 titik, NTB 2 titik, NTT 7 titik, Sulbar 1 titik, dan Sumbar 2 titik.

Sedangkan informasi hotspot berdasarkan Satelit TERRA AQUA (NASA), terpantau 18 titik dengan rincian Bangka Belitung 2 titik, Lampung 3 titik, NTB 2 titik, NTT 8 titik, Sulbar 1 titik, dan Sumbar 2 titik.

Dengan demikian, berdasarkan Satelit NOAA untuk periode tanggal 1 Januari – 9 September 2017 total hotspot 1.774 titik. Terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 684 titik (28,89%) jika dibandingkan periode yang sama tahun 2016 jumlah hotspot sebanyak 2.495 titik.

Berdasarkan Satelit Terra/Aqua (NASA) Conf. Level ≥80% periode tanggal 1 Januari – 9 September 2017 terdapat 1.085 titik, pada periode yang sama tahun 2016 jumlah hotspot sebanyak 3.160 titik, sehingga terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 2.081 titik (65,66%).

Penanggung jawab berita:

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menduga pengaruh indikator kebakaran hutan yaitu titik panas ( Hotspot ) dan curah hujan dengan kejadian penyakit Infeksi Saluran Pernapasan

Berdasarkan distribusi spasial titik panas di Provinsi Kalimantan Timur, dalam kegiatan pemantauan titik panas lebih memperhatikan daerah-daerah yang memiliki kemunculan titik panas

STRUKTUR ORGANISASI BRIGDALKARHUT BRIGADE PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN REKAPITULASI KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN. SEBARAN TITIK PANAS (HOT SPOT) YANG TERDETEKSI OLEH

Hari Jum’at, 18 September 2009 posko BNPB tidak menerima data informasi adanya titik panas/hotspot yang ada di wilayah Sumatera dan Kalimantan.. Kehutanan

1) Skenario bencana kebakaran lahan dan hutan disebabkan terjadinya penyebaran dari titik panas (hot spot) yang mulai muncul dari Juni di provinsi Sumatera

Penelitian ini mengukur hubungan antara peningkatan sebaran titik panas ( hotspot ) sebagai penunjuk adanya kebakaran hutan dan lahan, luas lahan terbakar

Berdasarkan distribusi spasial titik panas di Provinsi Kalimantan Timur, dalam kegiatan pemantauan titik panas lebih memperhatikan daerah-daerah yang memiliki kemunculan titik panas

Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung sebaran titik panas (hotspot) sebagai penduga terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Sumatra Selatan,