Tugas UTS Sistem Informasi Manajemen Minat Manajemen Kesehatan – 2014
ANALISIS SISTEM INFORMASI MANAJEMEN\
Ria Chandra Kartika (101414453004)
PROGRAM STUDI ADMINISTRASI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
DAFTAR ISI
BAGIAN 1
Analisis Makalah SDLC Sistem CBT Stikes Ngudia Husada Madura... 1 BAGIAN 2
Analisis Makalah Evaluasi SIM RS Citra Husada... 7 BAGIAN 3
BAGIAN 1
Analisis Makalah SDLC Sistem CBT Stikes Ngudia Husada Madura
Analisis sistem CBT yang dilakukan oleh kelompok 2 sudah baik, namun terdapat beberapa hal yang dirasa perlu untuk ditambahkan ataupun diperbaiki. Hal tersebut antara lain:
1. Dalam makalah SDLC terdapat gambar-gambar seperti ERD, DFD, dan juga Decision tree. Namun belum terdapat keterangan mengenai gambar tersebut. Akan lebih baik juka dibawah gambar diberikan keterangan mengenai penjelasan gambar, maupun simbol-simbol yang digunakan kedalam gambar.
2. Belum menggambarkan flowchart sistem CBT Stikes Ngudia Husada Madura Analisis sistem CBT yang dilakukan oleh kelompok 2 sudah baik. Namun kelompok 2 belum dapat menggambarkan flowchart sistem CBT yang ada. Pada flowchart dibawah ini dijelaskan alur data sistem CBT mulai dari awal aplikasi dibuka hingga keluarny output, yaitu laporan nilai mata kuliah. Penggunaan sistem CBT oleh Stikes Ngudia Husada Madura masih belum maksimal. Hal ini terbukti dari masih adanya beberapa kegiatan yang dilakukan secara manual, seperti rekap nilai ujian yang seharusnya sudah dapat dilakukan oleh sistem CBT untuk mempermudah pekerjaan.
3. Selain flowchart CBT yang diatas, kelompok 2 juga belum menampilkan flowchart untuk pengembangan sistem CBT berdasarkan rekomendasi yang diberikan. Berikut ini adalah flowchart pengembangan sistem CBT:
Berdasarkan flowchart diatas, rekomendasi sistem CBT dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Setelah aplikasi dibuka, dosen dapat mengakses sistem CBT dan memasukkan jadwal ujian serta waktu ujian. Jika terdapat jadwal yang sama atau bentrok maka sistem CBT harus dapat menolak dan merekomendasikan user untuk mencari jadwal ujian di hari ataupun jam lain. Setelah jadwal sudah ditentukan, maka selanjutnya dosen dapat melanjutkan memasukkan soal ujian beserta jawaban ujian.
b. Ketika ujian berlangsung, mahasiswa memasukkan password dan juga manjawab soal ujian.
c. Setelah ujian berlangsung sistem harus dapat menjabarkan nilai hasil ujian saat itu secara keseluruhan sehingga akan diketahui mana mahasiswa yang lulus dan mana yang remidi, tanpa harus merekap nilai ujian secara manual.
Gambar 3. Decision Tree Penentuan Jadwal Ujian
Decision tree diatas menggambarkan bahwa ketika dosen menentukan jadwal ujian, akan ditemukan dua kemungkinan yaitu bentrok dengan jadwal ujian mata kuliah lain atau tidak bentrok. Jika berada pada posisi bentrok dengan jadwal ujian mata kuliah lain, maka sistem akan menolak dan merekomendasikan penggantian jadwal ujian di hari atau jam yang lain.
Mencari Jadwal Ujian di hari atau jam lain
Jadwal Tidak Bentrok Jadwal Bentrok
BAGIAN 2
Analisis Makalah Evaluasi SIM RS Citra Husada Jember
Evaluasi SIM RM di RS Citra Husada Jember yang dilakukan oleh kelompok 4 sudah baik, namun terdapat beberapa hal yang dirasa perlu untuk ditambahkan ataupun diperbaiki. Hal tersebut antara lain:
1. Gambaran SIM RS keseluruhan
Dalam makalah evaluasi SIM RS Citra Husada belum digambarkan secara keseluruhan sistem informasi RS Citra Husada Jember. Sehingga, sedikit kesusahan untuk menganalisis dan mengevaluasi sistem tanpa ada gambaran yang jelas mengenai sistem yang berjalan saat ini. Akan lebih baik jika ditampilkan mengenai alur SIM RS, dan juga ditampilkan juga mengenai desain interface SIM RS karena banyak sekali evaluasi mengenai interface namun tidak ditampilkan bagaimana interface yang ada di SIM RS saat ini. 2. Evaluasi yang dilakukan oleh kelompok 4 adalah tentang SIM RS Citra
Husada Jember. Namun, dalam sasaran kegiatan dan wawancara hanya melibatkan pengguna SIM RM saja. Sistem informasi di rumah sakit tidak hanya pada bagian rekam medik, namum masih terdapat bagian-bagian lain seperti bagian keuangan, kepegawaian, dan lain-lain. Evaluasi SIM RS yang dilakukan oleh kelompok 4 jika memang menekankan pada evaluasi SIM RS maka sebaiknya responden juga terdapat dari pengguna sistem-sistem yang lain. Karena penggunaan SIM di RM belum tentu dapat menggambarkan SIM RS secara keseluruhan.
Berikut ini merupakan salah satu bentuk skoring pada pengolahan data task-technologi fit dari dimensi timeline:
Tabel 1. Tanggapan Responden terhadap Task Tehnology Fit
No Dimensi Pertanyaan Setuju Tidak Setuju
4 Ketepatan Waktu
Penyelesaian Pekerjaan (Timeline)
X13 0 3
X14 3 0
X15 1 2
X16 2 1
Total 6 6
Tabel 2. Skoring Dimensi Ketepatan Waktu Penyelesaian Pekerjaan (Timeline)
No. Pertanyaan Tidak Setuju (1) Setuju (2) Rata-Rata
1 X13 0 6 2.00
2 X14 3 0 1.00
3 X15 1 4 1.67
4 X16 2 2 1.33
Total 6 12 6.00
Keterangan: Tidak sesuai: 4-6, Sesuai : >6-8
Berdasarkan Tabel 2, diperoleh nilai skoring 6 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat ketidaksesuaian ketepatan waktu dalam penyelesaian pekerjaan.
BAGIAN III
JKN yang dikembangkan di Indonesia merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosian Nasional. SJSN diselenggarakan melalui mekanisme asuransi kesehatan sosial yang bersifat wajib. Tujuannya adalah agar semua penduduk indonesia terlindung dalam sistem asuransi, sehingga merek dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak. Penyelenggaraan JKN dilaksanakan dan dikelola oleh BPJS Kesehatan. BPJS adalah singkatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
Kegiatan JKN ini mendapat respon yang sangat positif dari masyarakat, terutama
masyarakat yang kurang mampu. Sehingga, banyak penduduk indonesia yang
mendaftar menjadi peserta JKN. Pendaftaran peserta JKN dapat dilakukan dengan
mengunjungi kantor cabang BPJS Kesehatan terdekat. Setiap hari, terjadi antrian
panjng untuk mendaftar menjadi peserta JKN. Untuk mempermudah layanan peserta, BPJS Kesehatan telah meluncurkan pendaftaran online sehingga calon peserta BPJS Kesehatan tak perlu antri melakukan pendaftaran secara manual di Kantor Cabang BPJS Kesehatan. Melalui pendaftaran online, peserta pun dapat mencetak Kartu BPJS Kesehatan-nya sendiri, yang disebut e-ID.
Nomer NIK ini, sekaligus menjadi filter dan melihat apakah calon peserta ini sudah menjadi peserta BPJS sebelumnya. Setelah data selesai dientri, maka peserta akan mendapatkan nomor virtual account. Nomor virtual account ini, akan digunakan peserta untuk melakukan pembayaran premi di Bank. Setelah dilakukan pembayaran premi maka peserta dapat melakukan cetak kartu di kantor cabang BPJS kesehatan. Selain mendaftar langsung di kantor cabang BPJS, pendaftaran perserta dapat dilakukan secara mandiri dengan online dan juga mendaftar kepada Bank yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Namun, untuk tahap pencetakan kartu harus tetap dilakukan di kantor cabang BPJS kesehatan.
Aplikasi e-ID dirancang untuk memudahkan peserta dalam pembuatan Kartu BPJS Kesehatan dan untuk mendukung Bisnis Proses Kepesertaan BPJS Kesehatan, maka Website BPJS Kesehatan telah ditambahkan pendaftaran peserta yang dapat di akses oleh Peserta melalui alamat www.bpjs-kesehatan.go.id. Pada aplikasi e-ID ini peserta dapat mengisikan data, dan
mencetak kartu secara pribadi tanpa harus datang ke kantor cabang BPJS kesehatan. Hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum Pendaftaran Peserta BPJS-Kesehatan secaraonline adalah Kartu Tanda Penduduk, Kartu Keluarga, Kartu NPWP, dan Alamat E-mail dan No HP yg bisa dihubungi. Pengguna dari sistem informasi kepesertaan BPJS kesehatan ini adalah: pegawai BPJS Kesehatan, Bank yang bekerja sama sebagai tempat untuk membayarkan prem dan, peserta.
kesehatan tidak dapat melakukan proses pendaftaran peserta. Hal ini dikarenakan beberapa peran penting sistem informasi di BPJS kesehatan, antara lain:
a. Sistem pendaftaran peserta tidak hanya melibatkan kantor BPJS namun juga melibatkan Bank sebagai tempat pembayaran premi BPJS. Sehingga data yang dientri oleh BPJS juga harus masuk kedalam database dan bisa diakses oleh pihak Bank. Jika peserta sudah mendaftar, peserta akan mendapatkan nomer virtual account untuk digunakan pembayaran premi di Bank. Nomer virtual account ini nanti harus dapat diakses pihak Bank, untuk mengetahui siapa peserta yang membayar premi, dan berapa premi yang harus dibayarkan.
b. Kepesertaan JKN yang dikelola oleh BPJS Kesehatan bersifat universal coverage. Semua penduduk indonesia wajib untuk menjadi peserta JKN. Sehingga setiap peserta yang terdaftar di daerah satu, harus dapat dilihat kepesertaannya di daerah lain. Dalam hal ini, sistem berperan untuk mendata dan mengendalikan supaya tidak terjadi double entri. Hal ini diasiasati dengan menyambungkan sistem kepesertaan BPJS kesehatan dengan data Dispendukcapil untuk melihat kepesertaan dari NIK.
c. Sistem informasi Kepesertaan dapat membantu dan memudahkan pegawai BPJS untuk mengetahui jumlah peserta yang ada tanpa harus mendata satu-persatu.
2. Kesesuaian Pengembangan Sistem Informasi dengan Kebutuhan
Pengembangan sistem kepesertaan BPJS Kesehatan dengan aplikasi e-ID sudah sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Pengembangan sistem dapat berarti menyusun suatu sistem yang baru untuk mengganti sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada. Sistem perlu dikembangkan karena beberapa hal, yaitu: (Jogiyanto, 2005)
a. Adanya permasalahan-permasalahan yang timnul di sistem yang lama. Permasalahan yang timbul dapat berupa:
1) Ketidakberesan
Dalam artikel ini, tidak terdapat ketidakberesan di dalam manajemen yang melatarbelakangi pengembangan aplikasi e-ID.
2) Pertumbuhan organisasi
Seiring kesadaran di masyarakat untuk menjadi peserta JKN, maka petumbuhan peserta JKN meningkat setiap hari. Berdasarkan data yang diakses dari situs resmi BPJS kesehatan, jumlah peserta sampai dengan 21 November 2014 mencapai 131.352.066 jiwa. Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat bahwa terjadi pertumbuhan peserta dan membuat pertumbuhan bagi BPJS. Dengan jumlah peserta yang semakin bertambah setiap hari, dan jumlah pegawai yang regenerasi setiap 1 tahun. Maka BPJS perlu melakukan pengembangan sistem informasi yang dapat membantu kegiatan operasional BPJS kesehatan. Sehingga pengembangan aplikasi kepesertaan e-ID ini sudah sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan organisasi. Dengan adanya aplikasi e-ID dapat membantu pelayanan pendaftarann peserta serta dapat mengurangi antrian pendaftaran peserta di kantor cabang BPJS.
Teknologi informasi telah berkembang dengan cepat. Perangkat keras komputer, perangkat lunak dan teknologi komunikasi telah begitu cepat berkembang. Perusahaan mulai merasakan bahwa teknologi komunikasi ini perlu digunakan untuk meningkatkan penyediaan informasi kepada konsumen (Jogiyanto, 2005). Aplikasi e-ID merupakan salah satu aplikasi yang memanfaatkan pengembangan teknologi dengan membuat aplikasi komputer dan bersifat online. Dengan memberikan informasi yang mudah dan akurat, serta akses pendaftaran secara pribadi, diharapkan BPJS Kesehatan dapat menarik minat penduduk indonesia untuk menjadi peserta. Sehingga, visi untuk menjadi universal coverage pada tahun 2019 bisa terwujud. Dalam keadaan pasar bersaing dengan asuransi-asuransi swasta lainnya, kecepatan informasi atau efisiesi waktu sangat menentukan berhasil atau tidaknya strategi dan tujuan yang telah ditentukan oleh perusahaan. c. Adanya instruksi instruksi
Penyusunan sistem baru dapat juga terjadi karena adanya instruksi dari pimpinan, ataupun dari luar organisasi. Berdasarkan informasi yang didapat dari artikel ini, pengembangan aplikasi e-ID ini adalah sebuah perwujudan dari BPJS Kesehatan dari permintaan masyarakat untuk mempermudah akses pendaftaran peserta.
Aplikasi e-ID memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut, yaitu: a. Kelebihan e-ID BPJS Kesehatan
1) Inovasi program yang sangat positif untuk meningkatkan cakupan kepesertaan JKN secara mandiri.
2) Memberikan kemudahan bagi calon peserta tidak perlu medaftar di kantor cabang BPJS Kesehatan dan dapat mencetak kartu secara mandiri.
3) Mengurangi beban ketersediaan kertas untuk cetak kartu, karena peserta dapat melakukan cetak kartu secara mandiri.
4) Peserta bisa lebih menghemat biaya untuk pengambilan kartu ke kantor cabang BPJS Kesehatan. Bahkan, yang paling penting lagi, peserta tidak perlu mengurus melalui calo untuk mendaftar peserta JKN di BPJS Kesehatan.
b. Kekurangan e-ID BPJS Kesehatan
Berdasarkan pemberitaan di media dan juga keluhan masyarakat, kekurangan e-ID adalah sebagai berikut:
1) Notifikasi gagal dikirim ke alamat email
Pada pendaftaran online permasalahan yang sering terjadi adalah data sudah berhasil tersimpan akan tetapi notifikasi email tidak terkirim. Padahal dalam notifikasi tersebut ada link form yang sudah terisi nomor virtual account yang harus dibayar
2) Sudah bayar virtual account tapi tidak bisa aktivasi e-ID
e-ID berfungsi sebagai pengganti kartu BPJS, sehingga harus diprint secara mandiri oleh peserta. Untuk bisa print e-ID harus melewati notifikasi alamat email. Tapi ada banyak orang yang gagal aktivasi dari email padahal sudah membayarkan premi.
error. Pada beberapa kasus dalam pengembangan sistem informasi terdapat kegagalan dalam pengembangan sistem. Penyebab kegagalan pengembangan sistem tersebut antara lain: kurangnya penyesuaian pengembangan sistem, kelalaian menetapkan kebutuhan pemakai dan melibatkan pemakai, kurang sempurnanya evaluasi kualitas dan analisis biaya, adanya kerusakan dan kesalahan rancangan, penggunaan teknologi komputer dan perangkat lunak yang tidak, direncanakan dan pemasangan teknologi tidak sesuai, sengembangan sistem yang tidak dapat dipelihara, serta implementasi yang direncanakan dilaksanakan kurang baik
3. Analisis Fase Pengembangan Sistem Informasi Kepesertaan Aplikasi e-ID BPJS Kesehatan
Pengembangan sistem didefinissikan sebagai aktivitas untuk menghasilkan sistem informasi berbasis komputer atau teknologi yang ada untuk menyelesaikan persoalan (problem) organisasi atau memanfaatkan kesempatan yang ada. Pengembangan sistem informasi dapat juga diartian sebagai aktivitas menyusus sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang ada (Jogiyanto, 2005). Pengembangan dapat dijabarkan menjadi 5 fase, yaitu: Preliminary Investigation, Analysis Sistem, Design System, Development, dan Implementation.
Analisis fase pengembangan aplikasi e-ID BPJS Kesehatan adalah sebagai berikut:
a. Fase Preliminary Investigation
perserta dapat melakukan pendaftaran onlien di rumah, serta mendaftar di Bank yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Namun untuk mencetak kartu, peserta JKN hanya dapat melakukan cetak kartu di kantor cabang BPJS Kesehatan. Sehingga terjadi antrian yang panjang di kantor cabang BPJS Kesehatan. Permasalahan tersebut juga menambah beban kerja pegawai BPJS Kesehatan dalam menangani permasalahan kepesertaan JKN.
Sesuai dengan fungsi BPJS Kesehatan yaitu sebagai badan penyelenggara jaminan sosial kesehatan yang bertujuan untuk mencapai
universal health coverage, sistem yang berjalan saai ini dirasa kurang, Proses pendaftaran dalam hal entri data dapat dilakukan di kantor cabang BPJS Kesehatan, online, dan juga Bank yang bekerjasama, titik tempat pendaftaran untuk entri data sudah banyak namun, tidak diimbangi dengan titik untuk pencetakan kartu. Sehingga hal tersebut menimbulkan antian panjang di kantor cabang BPJS Kesehatan, ketidakpuasan masyarakat, dan beban kerja BPJS Kesehatan menjadi.
b. Fase Analysis System
Analisis sistem adalah fase pengumpulan informasi, mendefinisikan kebutuhan-kebutuhan sistem, dan mereview rekomendasi terhadap pihak manajemen. Analisis pengembangan sistem kepesertaan BPJS Kesehatan harus disesuaikan dengan kebutuhan. sehingga perlu dilakukan analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan ini terdiri dari kebutuhan fungsional dan kebutuhan non-fungsional. Kebutuhan fungsional adalah jenis kebutuhan yang berisi proses apa saja yang nantinya dapat dilakukan oleh sistem kepesertaan yang dikembangkan. Sedangkan kebutuhan non-fungsional adalah tipe kebutuhan yang berisi properti perilaku yang dimiliki oleh sistem kepesertaan yang dikembangkan.
Aplikasi e-ID memiliki kekurangan yaitu aplikasi yang sering error, hal ini dapat disebabkan oleh pada proses analisis kebutuhan terjadi kesalahan. Namun dalam artikel ini, tidak menunjukkan secara jelas bagaimana komponen penyusun dari server, dan komponen lainnya. Sehingga terjadi kesulitan untuk menganalisis.
Dengan dikembangkanya sistem yang baru, maka diharapkan akan terjadi peningkatan-peningkatan di sistem yang baru. Peningkatan ini harus berhubungan dengan Performance, Information, Economy, Control, Eficiency, dan juga Service atau yang biasa disingkat PIECES. Analisis pengembangan sistem informasi kepesertaan dengan aplikasi e-ID berdasarkan PIECES adalah sebagai berikut:
1) Performance
sistem kepesertaan yang ada akan meningkat. Performance dapat diukur dari throughput dan juga response time. Troughput adalah jumlah dari pekerjaan yang dapat dilakukan suatu saat tertentu. Dengan adanya e-ID jumlah kartu yang dapat dicetak menjadi lebih banyak, karena peserta dapat dilakukan peserta secara mandiri di rumah.
2) Information
Pengembangan sistem dengan aplikasi e-ID harus dapat meningkatkan kualitas informasi yang disajian. Dengan dikembangkannya aplikasi e-ID masyarakat langsung dapat menggunakan kartu e-ID sama seperti kartu yang dicetak oleh BPJS tanpa harus melalui antrian panjang di kantor cabang BPJS Kesehatan.
3) Economy
Pengembangan sistem dengan aplikasi e-ID harus berpengaruh pada peningkatan manfaat-manfaat dan penurunan biaya operasional yang ada. Dengan dikembangkan aplikasi e-ID salah satu pengaruh terhadap ekonomi perusahaan adalah BPJS Kesehatat dapat menghemat kertas untuk pencetakan kartu kepesertaan JKN oleh BPJS Kesehatan, karena peserta dapat mencetak kartu secara mandiri.
4) Control
pengendalian untuk mengurangi kecurangan dalam pencetakan kartu. Hal ini dilakukan dengan cara, setiap peserta JKN yang menggunakan kartu e-ID wajib melampirkan syarat-syarat dan ketentuan umum yang ada pada kartu e-ID
Gambar 3. Kartu e-ID BPJS Kesehatan
5) Eficiency
Pengembangan sistem dengan aplikasi e-ID harus memberikan peningkatan pada efisiensi kegiatan operasional di perusahaan. Aplikasi e-ID membantu kinerja BPJS Kesehatan terutama bagian kepesertaan untuk mencetak kartu secara mandiri. Sehingga akan meningkatkan hasil kinerja BPJS Kesehatan dimana masyarakat tidak perlu antri untuk mendapatkan kartu kepesertan dan juga menunjang proses pencapaian universal health coverage menjadi lebih maksimal.
6) Service
pengembangan aplikasi e-ID memberikan kelengkapan pada sistem kepesertaan yang dapat mendaftar melalui online. Sebelum terdapat aplikasi e-ID peserta yang mendaftar online melakukan cetak kartu d kantor cabang BPJS Kesehatan. Dengan adanya aplikasi e-ID pendaftar online dapat sekaligus melakukan pencetakan kartu setelah dilakukan pembayaran di Bank.
Berdasarkan analisis PIECES diatas, aplikasi e-ID sudah baik dan dapat memberikan peningkatan kepada sistem yang telah ada, meningkatkan pelayanan kepesertaan dan meningkatkan kinerja BPJS Kesehatan.
c. Fase Design System
Setelah tahap analisis sistem selesai dilakukan, maka analisis sistem telah mendapatkan gambaran dengan jelas apa yang harus dikerjakan. Tahap selanjutnya adalah desain sistem. Desain sistem terdiri dari 2 macam, yaitu desain sistem level tingga dan desain sistem level rendah. Salah astu desain yang tampak dalam artikel ini adalah desain interface aplikasi e-ID.
Gambar 4. Interface Halaman Awal Aplikasi e-ID
Desain antarmuka (interface) yang baik yaitu untuk masukan (input) dan keluaran (output) diupayakan yang familiar dengan pengguna akhir, sehingga lebih mudah dan lebih cepat bagi pengguna akhir beradaptasi dengan aplikasi yang dikembangkan.
d. Development
Pada fase pengembangan ini adalah tahap untuk melakukan uji coba terhadap pengembangan sistem yang dilakukan. Dalam artikel ini tidak dijelaskan secara jelas mengenai tahapan uji coba aplikasi e-ID.
e. Implementation
Fase implementasi adalah tahapan training user dan mendokumentasikan sistem, conversion, evaluation, dan juga maintenance. Salah satu bentuk training user adalah dengan melakukan publikasi dan sosialisasi aplikasi e-ID beserta tata cara penggunaan aplikasi. Sehingga masyarakat mengetahui bahwa terdapat aplikasi baru dan mengetahui bagaimana cara menggunakan aplikasi tersebut.
tahapan sudah bagus dan sangat bermanfaat bagi peserta, calon peserta dan juga BPJS Kesehatan. Namun, kekurangan aplikasi, yaitu aplikasi yang sering error, hal ini dapat disebabkan dalam fase analisis sistem sampai muncul rekomendasi untuk design sistem terdapat sesuatu hal yang kurang pas. Sehingga, masyarakat banyak mengeluhkan aplikasi e-ID yang sering error.