HASIL PEMBAHASAN DALAM RAPAT SEBELUMNYA
(Tanggal 19 Agustus 2014, 16 September 2014, dan 23 Oktober 2014)
NO TENAGA ASING JENIS VISA &
IZIN TINGGAL ALASAN
1 Semua Tenaga Asing (Pejabat, Staf, Tenaga Ahlli, Pengajar, Volunteer, Peneliti,
Mahasiswa, dll) pemegang paspor dinas + keluarga (istri/suami dan anak-anak yang sah)
Dinas Telah memiliki paspor dinas dari negaranya berarti keberadaannya di Indonesia atas penugasan dari negaranya
2 Semua Tenaga Asing (Pejabat, Staf, Tenaga Ahli) pemegang paspor Laissez Passer dari PBB
+ keluarga (istri/suami dan anak-anak yang sah)
Dinas Paspor Laissez Passer adalah dokumen perjalanan dinas yang diterbitkan oleh UN untuk official dan mission yang bekerja untuk PBB di seluruh dunia
3 Pejabat, staf, tenaga ahli pemegang paspor biasa yang bekerja pada badan PBB, Organisasi Internasional Multilateral,
Organisasi Internasional Regional, dan Kerja Sama Teknik Bilateral
+ keluarga (istri/suami dan anak-anak yang sah)
Dinas Sesuai Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksana Undang-undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian
Pasal 82 ayat (1)
“Visa Dinas diberikan kepada Orang Asing pemegang paspor dinas dan paspor lain yang akan melakukan perjalanan ke Wilayah Indonesia dalam rangka melaksanakan tugas resmi yang tidak bersifat diplomatik dari pemerintah asing yang bersangkutan dan organisasi internasional”.
Pasal 82 ayat (2)
“Pemberian Visa Dinas kepada Orang Asing pemegang paspor lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diberikan berdasarkan perjanjian internasional, asas timbal balik, dan penghormatan”.
Dengan dasar tersebut, tenaga asing pemegang paspor biasa yang bekerja dalam rangka kerja sama teknik bilateral (antara Pemerintah RI dengan Pemerintah Negara Lain) dan multilateral (antara Pemerintah RI dengan Organisasi Internasional) dapat diberikan visa dan izin tinggal dinas karena: Pelaksanaan suatu kerja sama teknik
didasari dengan perjanjian internasional berupa agreement, MoU, dll
pemberian visa dinas juga merupakan penghormatan dari Pemerintah RI kepada Pemerintah Negara lain dan Organisasi Internasional tersebut.
Indonesia telah meratifikasi UN
4 Tenaga ahli yang bekerja pada proyek yang dilaksanakan langsung oleh badan PBB, Organisasi Internasional Multilateral/Regional dan Kerja Sama Teknik Bilateral (USAID, JICA, KOICA, dll)
+ keluarga (istri/suami dan anak-anak yang sah)
Dinas s.d.a
5 Volunteer yang bekerja pada badan PBB + keluarga (istri/suami dan anak-anak yang sah)
Dinas UN Volunteer termasuk badan PBB yang beroperasi di Indonesia dan memiliki fungsi mengoordinasi hal-hal yang terkait dengan sukarelawan di kantor atau berbagai program/proyek PBB
6 Mahasiswa asing dalam rangka program beasiswa dari Pemerintah Indonesia
(Darmasiswa, Beasiswa Unggulan, Triangular, dll) pemegang paspor biasa
VITAS & ITAS Sesuai PP 45 Tahun 2014 mahasiswa asing tersebut diberikan pengenaan tariff Rp 0,- untuk visa dan izin keimigrasian
7 Tenaga ahli asing jangka pendek (short term expert) pemegang paspor biasa yang bekerja pada JICA, GIZ, DFAT, dll
Catatan:
short term bagi JICA dan GIZ = kurang dari 3 bulan penugasan
short term bagi DFAT = kurang dari 6 bulan penugasan
VITAS & ITAS Dari negaranya masing-masing sudah tidak difasilitasi dengan paspor dinas
8
Pejabat/stafasing/tenaga ahli/peneliti asing
pemegang paspor biasa yang bekerja pada
lembaga-lembaga penelitian
seperti
CIRAD
KETENTUAN TERKAIT VISA DINAS DAN IZIN TINGGAL DINAS
BAGI TENAGA ASING DALAM RANGKA KERJA SAMA TEKNIK
KETENTUAN
PP 31 TAHUN 2013
RANCANGAN
PERMENLU
Visa Dinas
Pasal 30
Pasal 74 – 75
Pasal 82 – 88
Penjelasan Pasal 82 ayat (1)
Pasal 55 – 60
Pasal 66 – 75
Izin Tinggal Dinas
Pasal 112
Pasal 125 – 132
Pasal 87 – 113
Pasal 114
Alih Status Izin Tinggal
Kunjungan dan Izin Tinggal
Terbatas menjadi Izin
Tinggal Dinas
Pasal 170
Pasal 115 – 119
Pasal 121
Pasal 123
KETENTUAN TERKAIT VISA KUNJUNGAN, VISA TINGGAL TERBATAS DAN IZIN
TINGGAL TERBATAS BAGI TENAGA ASING DALAM RANGKA KERJA SAMA TEKNIK
KETENTUAN
PP 31 TAHUN 2013
Visa Kunjungan
Pasal 89 - 94
Izin Tinggal Terbatas
Pasal 141 - 151
Alih Status
Pasal 165 - 171
MASALAH YANG MASIH PENDING ISSUE
NO TENAGA ASING USULAN
JENIS VISA & IZIN TINGGAL DARI BAGIAN
PERDEBATAN KEPUTUSAN
PRO KONTRA
1 Tenaga ahli pemegang paspor biasa yang bekerja pada managing contractor yang dikontrak sebagai pelaksana program/proyek badan PBB, OI Multilateral/Regional, atau kerja sama teknik bilateral
Dinas 1. Berdasarkan CPIUN Article VII Section 26 dan dan CPISA Article VIII Section 29, seluruh pihak dalam kapasitasnya menjalankan mandat yang diberikan PBB harus diutamakan dalam proses penerbitan visa.
2. Usulan dari Bagian Bilateral agar tenaga ahli yang menjabat sebagai director program
(pimpinan program / proyek) dapat diberikan visa dinas karena fungsinya sama saja dengan tenaga asing yang bekerja pada proyek yang dilaksanakan langsung oleh badan kerja sama teknik bilateral, sehingga layak diberikan fasilitas yang setara yaitu visa dan izin tinggal dinas.
1. Apakah tenaga ahli pada perusahaan
managing contractor ini termasuk dalam pihak yang diberikan mandat oleh PBB tersebut? 2. Perlu pembahasan lebih lanjut apakah dapat
disetarakan fasilitas keimigrasiannya? mengingat:
Mereka adalah pegawai pada perusahaan swasta pemenang tender proyek
Pemberian visa dinas kepada tenaga asing disertai juga dengan keluarga Pengawasan kegiatan mereka di
lapangan karena Kemlu tidak memiliki perangkat pengawasan orang asing di Indonesia seperti Ditjen Imigrasi.
3. Merujuk Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2014 Tentang Jenis dan Tariff Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Hukum dan HAM, untuk tenaga ahli asing dalam rangka kerja sama bantuan program atau proyek dari luar negeri kepada Pemerintah RI diberikan fasilitas pengenaan tariff Rp 0,- untuk pelayanan keimigrasian berupa visa dan izin keimigrasian.
Pemberian fasilitas tersebut hanya diberikan kepada tenaga ahli saja, tidak termasuk keluarganya.
Contractor. 2 Staf dan tenaga pegajar
asing pemegang paspor biasa yang bekerja pada lembaga kebudayaan (Japan Foundation, Goethe, British Council, dll)
Tenaga pengajar pada perguruan tinggi dan lembaga pendidikan yang kedatangannya
berdasarkan MoU antara Pemerintah RI dengan Negara-negara lain seperti: Italia, Mesir, Sudan, China, Arab Saudi (LIPIA), dll
Catatan:
Selama ini staf lembaga kebudayaan selalu memegang paspor dinas dari negaranya, namun tenaga pengajar ada yang memiliki paspor dinas ada yang memiliki paspor biasa.
fasilitas untuk pemegang pemegang paspor biasa adalah visa kunjungan dan ITAS
Ada wacana dari Japan Foundation bahwa ke depan, Pemerintah Jepang tidak akan menerbitkan paspor dinas untuk tenaga pengajar bahasa Jepang di Japan Foundation
Dinas Mereka bekerja pada perwakilan lembaga kebudayaan dari pemerintahnya masing-masing. Kegiatan lembaga kebudayaan adalah mempromosikan budaya dan menjembatani lintas budaya dengan Indonesia
Ada permintaan khusus dari Pemerintah Arab Saudi agar tenaga pengajar bahasa Arab di LIPIA diberikan visa dan izin tinggal dinas dengan pertimbangan politis terkait dengan kuota Jemaah Haji Indonesia.
Lembaga kebudayaan mengadakan kursus bahasa yang dalam pelaksanaannya menarik iuran dari peserta kursus.
Tenaga pengajar bahasa dan tenaga asing yang terkait dengan penyelenggaraaan kursus yang mengenakan iuran tidak perlumendapat surat persetujuan penugasan (SP TA)
Tenaga pengajar bahasa yang diperbantukan pada perguruan tinggi dan lembaga
pendidikan lainnya yang kedatangannya di Indonesia dalam rangka pelaksanaan MoU dengan Pemerintah RI dapat diterbitkan SP TA dan diberikan rekomendasi untuk visa kunjungan, ITAS & MERP
INGO yang telah melaksanakan kerja sama teknik dengan Pemerintah RI
Pemberian fasilitas berfungsi juga sebagai alat monitoring
keberasaan tenaga asing pada NGO tersebut, sehingga Pemerintah Indonesia (K/L Mitra dan Kemensetneg) dapat memonitor keberadaan mereka. Diberikan hanya untuk 3 (tiga)
pejabat/staf pada INGO sebagai penghormatan
menyatakan:
“Visa Dinas diberikan kepada Orang Asing pemegang paspor dinas dan paspor lain yang akan melakukan perjalanan ke Wilayah Indonesia dalam rangka melaksanakan tugas resmi yang tidak bersifat diplomatik dari pemerintah asing yang bersangkutan dan organisasi internasional”.
Sesuai UU Hublu, INGO tidak termasuk dalam Organisasi Internasional, sehingga ketentuan Pasal 82 ayat (1) tersebut tidak mencakup tenaga asing yangbekerja di INGO. Untuk alat monitoring keberadaan tenaga
asing INGO tersebut tetap diperlukan SP TA dan fasilitas keimigrasian
Merujuk Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2014 Tentang Jenis dan Tariff Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Hukum dan HAM, untuk tenaga ahli asing dalam rangka kerja sama bantuan program atau proyek dari luar negeri kepada Pemerintah RI diberikan fasilitas pengenaan tariff Rp 0,- untuk pelayanan keimigrasian berupa visa dan izin keimigrasian.
Pemberian fasilitas tersebut hanya diberikan kepada tenaga ahli saja, tidak termasuk keluarganya.
Fasilitas ini sudah memadai untuk tenaga ahli yang bekerja pada INGO. Diperlukan
koordinasi lebih lanjut dengan Ditjen Imigrasi mengenai prosedur pelaksanaan PP 45 tahun 2014 ini.
4 Volunteer pada badan kerja sama teknik bilateral (contoh: Peace Corp)
Khusus Klasifikasi visa
sendiri
Permohonan baru untuk visa melalui Ditjen Imigrasi dirasa sulit dilakukan mengingat jumlah volunteer yang banyak dan tersebar di pelosok daerah Klasifikasi visa tersendiri untuk
Perlu ditinjau ulang apakah volunteer setara dengan tenaga pejabat/tenaga ahli?
volunteer UU No. 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian hanya mengklasifikasi 3 jenis visa, yaitu visa dinas, visa kunjungan, dan visa tinggal terbatas. Perlu pengusulan perubahan UU Keimigrasian untuk memberikan visa khusus untuk volunteer. Perubahan UU harus diajukan oleh KemenkumHAM ke DPR untuk persetujuan. Apakah KemenkumHAM mau mengusulkan mengingat pemberian visa untuk tenaga asing hanya sebagian kecil dari urusan keimigrasian yang dilaksanakan oleh KemenkumHAM?
Perspektif institusi keamanan dalam forum Clearing House cenderung negatif terhadap keberadaan volunteer Peace Corps Amerika Serikat ini.
5 Peneliti asing
pemegang
paspor biasa yang bekerja
pada CIFORDinas Sebagai penghormatan kepada tenaga
asing Organisasi Internasional Dalam HCA antara Pemerintah RI dengan CIFOR tidak disebutkan secara spesifik bahwa Pemerintah RI berkewajiban memberikan visa dan izin tinggal dinas, Pemerintah hanya diminta untuk dapat memberikan visa dan izin tinggal yang bebas pengenaan tariff dan prosesnya cepat Ada wacana HCA CIFOR akan direview ulang Hasil penelitian tidak selalu bermanfaat bagi
Indonesia 6
Pejabat/stafasing/tenaga
ahli/peneliti asing pemegang
paspor biasa yang bekerja
pada
lembaga-lembaga
penelitian
regional seperti
ERIA, SEAMEO,
SEAMOLEC, dll
Dinas Sebagai penghormatan kepada tenaga asing Organisasi Internasional
Dalam HCA antara Pemerintah RI dengan lembaga-lembaga tersebut tidak disebutkan secara spesifik bahwa Pemerintah RI berkewajiban memberikan visa dan izin tinggal dinas
7 Tenaga pengajar asing pemegang paspor biasa yang bekerja [pada IALF
VITAS & ITAS Tetap perlu diberikan rekomendasi ke Ditjen Imigrasi untuk pengurusan visa dan izin tinggalnya karena
penugasannya dengan Surat Persetujuan Penugasan
0,-8 Internship (Magang) VITAS & ITAS Tetap perlu diberikan rekomendasi ke Ditjen Imigrasi untuk pengurusan visa dan izin tinggalnya karena
penugasannya dengan Surat Persetujuan Penugasan
Tidak perlu direkomendasikan ke Ditjen Imigrasi karena dalam PP 45 tahun 2014, hanya tenaga ahli asing dalam rangka kerja sama bantuan program atau proyek dari luar negeri kepada Pemerintah RI yang mendapat fasilitas
pengenaan tariff Rp 0,-, sedangkan tenaga magang tidak ada kaitannya dengan kerja sama teknik
9
Pejabat asing pemegang
paspor biasa yang bekerja
pada Kantor Berita (kerja
sama dengan Kantor Berita
Antara)
Catatan:
Selama ini yang meminta
fasilitas adalah pejabat
pada Kantor Berita
Bernama Malaysia
Dinas Asas resiprositas karena Malaysia memberikan visa dinas bagi Kepala Kantor Berita Antara di Malaysia.
Perlu konfirmasi dengan Dit. Infomed Kemlu atau Kemkominfo agar sama perlakuannya dengan Pejabat Kantor Berita dari Negara lain.
Tugas utk KTSS
10 Redaksional SP TA yang mencantumkan visa yang diberikan
11 Ketentuan mengenai kelengkapan dokumen akte nikah
Wajib dilengkapi
Penerapan pasal 82 ayat (3) PP 31 tahun 2013
Agar tidak terjadi penyalahgunaan fasilitas
Kemlu dan KBRI tidak mensyaratkan dokumen tersebut