PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK AIR DAUN BANGUNBANGUN (COLEUS AMBOINICUS L.) TERHADAP GAMBARAN GINJAL, LIMFOSIT
DAN MCH TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS L.) DENGAN PEMBERIAN DPT SEBAGAI ANTIGEN
Oleh:
Rani A. L Banjarnahor NIM 4102220012 Program Studi Biologi
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sain
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
iii
Pengaruh Pemberian Ekstrak Air Daun Bangunbangun (Coleus amboinicus) Terhadap Gambaran Ginjal, Limfosit Dan MCH(Mean Corpuscular
Hemoglobin) Tikus Putih ( Rattus norvegicus L.) Dengan Pemberian DPT (Dipteri Pertusis Tetanus)
Sebagai Antigen
Rani A. L Banjarnahor (4102220012) ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data empiris tentang, persentase limfosit dan kadar MCH tikus putih yang diberikan ekstrak air daun bangunbangun, persentase limfosit dan kadar MCH tikus putih yang diberikan ekstrak air daun bangunbangun Dan DPT sebagai antigen, gambaran histologi ginjal tikus putih yang diberi ektrak air daun bangunbangun, gambaran histologi ginjal tikus putih yang diberi ektrak air daun bangunbangun dan DPT sebagai antigen. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap non faktorial. Sebanyak 24 ekor tikus putih digunakan dalam penelitian ini. Tikus dibagi ke dalam 6 kelompok
yaitu kelompok kontrol diberi dengan aquadest (A0), 19 g/kg BB EDB+ DPT (A1),
31.5 g /kg BB EDB+ DPT (A2), 19 g/kg BB EDB (A3), 31.5 g /kg BB EDB (A4)
dan perlakuan aquadest + DPT (A5), diberikan setiap hari secara oral selama 30
hari. DPT diberikan secara intramuscular sebanyak 0,1 ml pada hari ke-16 dan hari ke-23 setelah perlakuan. Pada hari ke 31 kemudian tikus diambil darahnya untuk dianalisis limfosit dan MCH menggunakan alat ABX micros 60. Ginjal diperoleh dengan membedah tikus lalu ditimbang berat Ginjal. Pembuatan preparat ginjal menggunakan pewarnaan hematoxilin eosin untuk mengamati kontortus proximal dan distal serta glomerulus ginjal. Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis dengan ANAVA dan dilanjut dengan uji BNT. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa ekstrak air daun bangunbangun tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan jumlah limfosit dan MCH dan memberi gambaran histologis yang lebih baik secara signifikan.
iv
Effect Of Extract Of Leaves Bangunbangun (Coleus amboinicus) To The Kidney, Lymphocytes, And MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin)
White Rat Rattus norvegicus L.) By Giving DPT (Dipteri Pertusis Tetanus)
As Antigen
Rani A. L Banjarnahor (4102220012) ABSTRACT
The research purpose to acquiring empirical data about, lymphocytes percentage and MCH value white rat by giving leaf extract from Coleus amboinicus Lour, lymphocytes percentage and MCH value white rat by giving leaf extract from Coleus amboinicus Lour and DPT as antigen, histology image from kidney white rat by giving leaf extract from Coleus amboinicus Lour, histology image from kidney
white rat by giving leaf extract from Coleus amboinicus Lour and DPT as. This
research was an experimental study with non-factorial completely randomized design. A total of 24 rats used in this study. Rats were devided in to 6 groups: control group fed with distilled water (A0), 19 g/kg BB EDB+ DPT (A1), 31.5 g
/kg BB EDB+ DPT (A2), 19 g/kg BB EDB (A3), 31.5 g /kg BB EDB (A4) and
distilled water + DPT (A5), administered orally daylly for 30 days. DPT
intramuscularly administered 0,1 ml on day-16 and day- 23 treatment. On day 31, The rats than have blood drawn for analysis of Lymphocytes, MCH using tools ABX micros 60. Making preparations Kidney using. Hematoxilin eosin staining to kontortus proximal and distal with glomerulus kidney. The data obtained were tabulate and analyzed by ANOVA and continued with LSD. The result that have been obtained show that the water extract of leaves bangunbangun not a significant impact on increasing the number of Lymphocytes value, MCH, and gives a better picture of hitological significantly.
vii
2.1. Deskripsi Umum Bangunbangun(Coleus amboinicusLour) 8
2.1.1. Komposisi Daun Bangunbangun 9
2.1.2. Kasiat Daun Bangunbangun 10
2.1.3. Sistem Kekebalan Tubuh 12
2.2. Tikus Putih 14
2.2.1. Klasifikasi dan Morfologi 14
2.2.2. Ginjal 15
3.4.2. PenyediaanTikusputih 23
3.4.3. Pemberian Pakan dan MinumanTikus 24
3.4.4. Pembuatan Ekstrak Air daunbangun-bangun 24
3.4.5. Pemberian Antigen 25
3.5. Pengamatan Parameter 25
3.5.1. Analisis Limfosit 25
3.5.2. Pengukuran MCH 25
3.5.3 BeratGinjal 25
viii
3.6. RancanganPenelitian 28
3.7. Variabel Penelitian 29
3.8. Teknik Analisis Data 29
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian 32
4.1.1. Pengaruh EDB Terhadap Persentase Limfosit dan Jumlah 32
Tikus Putih
4.1.2. Pengaruh EDB Terhadap Jumlah MCH Darah Tikus Putih 35
4.1.2. Pengaruh EDB Terhadap Gambaran Histologi Ginjal Tikus Putih 36
4.2. Pembahasan 38
4.2.1. Pengaruh Pemberian EDB Terhadap Limfosit Tikus Putih 38
4.2.2. Pengaruh Pemberian EDB Terhadap MCH darah Tikus Putih 40
4.2.3. Pengaruh Pemberian Ekstrak Air Daun Bangunbangun Terhadap 41 Histologi Ginjal Tikus Putih
4.2.4. Hubungan fungsi ginjal, MCH dan Limfosit. 43
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan 45
5.2. Saran 45
DAFTAR PUSTAKA 47
x
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1. Komposisi Zat Gizi Daun Bangunbangun 10
Tabel 3.1. Kandungan Nutrisi Pakan Pellet jenis 202 C per 50 Kg Bahan 24
Tabel 3.2. Faktor konversi LD50 25
Tabel 3.3. Tabel pengamatan parameter pada tiap perlakuan 28
Tabel 3.4 DaftarAnalisisSidikRagam 30
Tabel 4.1. Pengaruh EDB Terhadap Persen Limfosit dan Jumlah MCH 33
Tikus Putih
Tabel 4.2. Daftar Analisis Sidik Ragam Jumlah Limfosit Tikus Putih 34
Tabel 4.3. Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) Jumlah Limfosit Darah Tikus Putih 35
Tabel 4.4. Daftar Analisis Sidik Ragam Jumlah MCH Darah Tikus Putih 36
ix
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1. Morfologi daun bangunbangun 9
Gambar 2.2. Tikus Putih (RattusnorvegicusL.) 14
Gambar 2.3. Struktur Internal Ginjal 16
Gambar 4.1. Rata-rata Persen Limfosit dan rata-rata Jumlah MCH 34
Tikus Putih
Gambar 4.2. Histologi Ginjal Tubulus Kontortus proximal (A) dan 36
distal (B) pada kelompok kontrol (A0)
Gambar 4.3. Histologi Ginjal Tubulus Kontortus proximal (A dan 37
distal (B) serta Glomerulus ginjal pada
kelompok 19 g EDB + DPT(A1)
Gambar 4.4. Histologi Ginjal Tubulus Kontortus proximal (A) dan 37
Distal (B) serta Glomerulus ginjal pada kelompok 31,5 g EDB+ DPT(A2)
Gambar 4.5. Histologi Ginjal Tubulus Kontortus proximal (A) dan 37
distal (B) serta Glomerulus ginjal pada kelompok
19 g EDB (A3)
Gambar 4.6. Histologi Ginjal Tubulus Kontortus proximal 38
(A) dan distal (B) serta Glomerulus ginjal pada kelompok 31,5 g EDB (A4)
Gambar 4.7. Histologi Ginjal Gambar Tubulus Kontortus proximal (A) 38 dan distal (B) pada kelompok Aquades + DPT (A5)
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Perhitungan Anava Untuk Jumlah Limfosit 51
Tikus Putih (Rattus norvegicus)
Lampiran 2. Perhitungan Anava Untuk Jumlah MCH 54
Tikus Putih (Rattus norvegicus)
Lampiran 3. Dokumentasi 57
Lampiran 4. Skema Pembuatan Ekstrak Air Daun Bangunbangun 61
Lampiran 5. Surat Izin Penelitian Di laboratorium Biologi 63
FMIPA UNIMED
Lampiran 6. Surat Balasan Telah Melakukan Penelitian 64
Di laboratorium Biologi FMIPA UNIMED
Lampiran 7. Surat Izin Penelitian Di Laboratorium 65
Patologi Anatomi Fak. Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Lampiran 8. Surat Balasan Telah Melakukan Penelitian Di 66
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Akhir-akhir ini dunia barat mulai memalingkan kembali perhatiannya ke
alam, yang terkenal dengan semboyan back to nature, mengikuti dunia timur,
khususnya Asia yang sampai detik inipun masih tetap memanfaatkan obat alami
dalam upaya pelayanan kesehatan di samping obat sintetik. Hal ini karena timbul
kepercayaan masyarakat barat bahwa obat alami, termasuk obat nabati, dapat
berperan dalam upaya pemeliharaan, peningkatan, dan pemulihan kesehatan serta
pengobatan penyakit. Di samping itu diyakini pula bahwa obat alami kurang
memberikan efek samping jika dibandingkan dengan obat sintetik Hargono (1996)
dalam Kumala dkk (2005).
Salah satu upaya pencegahan penyakit adalah melalui peningkatan daya
tahan tubuh yaitu dengan meningkatkan efektivitas sistem imunitas tubuh supaya
sel-sel imun dapat terus melawan penyebab penyakit dan tubuh dapat terhindar
dari berbagai penyakit. Manusia sejak dilahirkan telah dilengkapi dengan sistem
pertahanan tubuh yang spesifik maupun yang non spesifik. Dengan sistem
pertahanan tubuh yang disebut sistem imun ini diharapkan manusia dapat
menangkal berbagai bakteri, virus, jamur, dan zat-zat asing lain yang dapat
menimbulkan berbagai gangguan penyakit Tjokronegoro (1990) dalam Noor et. al
(2008).
Respons imun diperlukan untuk 3 hal yaitu pertahanan tubuh terhadap
infeksi mikroorganisme, homeostasis terhadap eliminasi komponen-komponen
tubuh yang sudah tua, dan pengawasan terhadap penghancuran sel-sel yang
bermutasi terutama yang mejadi ganas. Dengan kata lain, respons imun dapat
diartikan sebagai suatu sistem agar tubuh dapat mempertahankan keseimbangan
antara lingkungan di luar dan di dalam tubuh. Imunomodulator atau
immunostimulan Imunomodulator tampak menjadi bagian terpenting dalam dunia
pengobatan. Imunomodulator membantu tubuh untuk mengoptimalkan fungsi
2
di mana kebanyakan orang mudah mengalami gangguan sistem imun (Suhirman
dkk, 2000)
Daun Bangun-bangun (Coleus amboinicus, L.), sebutan yang lazim
dipakai oleh orang Batak, merupakan salah satu etnobotani Indonesia yang secara
turun temurun dimanfaatkan masyarakat Sumatra Utara sebagai menu sayuran
sehari-hari dan terutama disajikan untuk ibu-ibu yang baru melahirkan, tanaman
ini juga memiliki efek immunostimulan. Tanaman ini tidak diketahui asal-usulnya ,batang berbentuk bulat dan sedikit berambut, jarang berbunga, namun apabila berbunga bunganya bewarna putih dan ungu, namun mudah sekali dibiakkan dengan stek dan cepat berakar di dalam tanah (Heyne, 1987 dalam Santosa, 2002).
Mardisiswojo dan Rajakmangunsudarso (1985) dalam santosa (2000),
meneliti bahwa dalam daun bangunbangun mengandung minyak atsiri (0,043%
pada daun segar atau 0,2% pada daun kering). Minyak atsiri dari daun
Bangunbangun selain berdaya antiseptik ternyata juga mempunyai aktivitas tinggi
melawan infeksi cacing Phytochemical database (Duke, 2000 dalam santosa,
2004) melaporkan bahwa dalam daun ini terdapat juga kandungan vitamin C,
vitamin B1, vitamin B12, beta karotin, niasin, karvakrol, kalsium, asam-asam
lemak, asam oksalat, dan serat. Senyawa-senyawa tersebut berpotensi terhadap
bermacam-macam aktivitas biologik, misalnya antioksidan, diuretik, analgesik,
mencegah kanker, antitumor, antivertigo, immunostimulan, antiradang,
antiinfertilitas, hipokolesterolemik, hipotensif, hepatoprotektif dan lain-lain
khasiat yang perlu diteliti lebih lanjut.
3
Penggunaan daun bangunbangun pada masyarakat khususnya di Sumatera
Utara hanya bagi ibu-ibu yang baru melahirkan, sementara jika ditinjau dari
kandungan senyawa kimianya, daun bangunbangun memiliki potensi yang baik
sebagai antibakteri dan sebagai antioksidan alami. Kandungan kimia pada daun
bangunbangun adalah kalium, dan minyak atsiri 0,2%, mengandung karvakrol,
fenol, sineol (Wijayakusuma, 1996). Oleh karena itu perlu dikaji pemanfaatannya
dalam fungsi yang lain seperti imunostimulan.
4
Kebanyakan sel limfosit menempati suatu organ yang disebut organ limfoid. Pada organ ini terjadi interaksi antara sel-sel limfosit dengan sel-sel non-limfosit. Interaksi ini memiliki fungsi yang sangat penting baik bagi perkembangan limfosit itu sendiri maupun sebagai titik awal adaptasi. Organ limfoid secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama disebut sentral atau organ limfoid primer dan kedua disebut periferal atau organ limfoid sekunder. Sel-sel limfosit dihasilkan oleh organ limfoid primer yang pada gilirannya akan menuju ke organ limfoid sekunder. Pada organ limfoid sekunder sel limfosit dijaga untuk tetap hidup dan pada organ limfoid sekunder pula sel-sel limfosit mengalami adaptasi akibat adanya antigen yang masuk ke dalam tubuh. Yang termasuk organ limfoid primer adalah sumsum tulang dan timus, sedangkan yang termasuk organ limfoid sekunder di antaranya adalah spleen,
lymph node, Peyer’s patch, appendix, adenoid, dan tonsil. Baik limfosit B maupun
limfosit T berasal dari sumsum tulang, namun hanya limfosit B yang mengalami pemasakan pada sumsum tulang. Limfosit T melakukan migrasi dari sumsum tulang menuju organ timus sebelum masak dan mengalami pemasakan pada organ ini. Limfosit tersebut disebut limposit B dan T, karena berturut-turut mengalami proses pemasakan pada bone marrow (sumsum tulang) dan thymus (timus) Limfosit yang telah mengalami pemasakan pada organ limfoid primer segera memasuki peredaran darah untuk menuju organ limfoid sekunder. Organ limfoid sekunder merupakan organ limfoid periferal tempat terjadinya penangkapan antigen oleh sel-sel imunokompeten. Pada organ limfoid periferal ini imunitas adaptif dimulai. Pada setiap saat tubuh kita selalu berhadapan dengan patogen yang masuk. Patogen memasuki tubuh kita dengan berbagai cara, misalnya dari makanan, minuman, udara, dan luka. Antigen dan limfosit akhirnya akan bertemu pada organ limfoid periferal yaitu pada lymph node, spleen, dan jaringan limfoid mukosa. Pada organ limfoid periferal inilah sebenarnya dimulainya imunitas adaptif. Pada organ limfoid periferal sel-sel tertentu yang dikenal dengan nama antigen presenting cell (APC) eperti makrofag, sel dendritik, dan sel B akan mempresentasikan antigen dalam bentuk peptida. Peptida dipresentasikan pada permukaan APC dalam keadaan terikat oleh MHC. Limfosit mengenali antigen
5
Dalam penelitian ini daun bangunbangun diberikan dalam bentuk ekstrak air. Karena dengan air akan didapatkan banyak kandungan daun bangunbangun. Selain itu dalam penelitian yang dilakukan Pritima dan Pandian (2007) melaporkan bahwa ekstrak air daun bangunbangun memiliki efek antibakteri dan
antidioksidan ( Rao, et. al 2006). Penggunaan dosis ekstrak air 19 g/kg BB, 31.5
g/kg BB ditentukan berdasarkan harian masyarakat batak (Santosa, 2002), yaitu 150gr/ 50 Kg BB kemudian dikonversikan ke tikus.. konversi dosis dilakukan
dengan melihat tabel konversi LD50 yaitu ditentukan pada berat badan manusia
70. Kg dan tikus 200.g (Laurence and Bacharach, 1946) dalam Silitonga (1993). Sementara antigen yang digunakan dalam penelitian ini adalah DPT (Difteri Pertusis Tetanus), tikus putih akan diinduksi dengan DPT untuk melihat pengaruh dari ekstrak air daun bangunbangun dalam melawan antigen.
Dari penjelasan di atas maka perlu dilakukan penelitian mengenai Efek
Pemberian Ekstrak Air Daun Bangunbangun (Coleus amboinicus L.) Terhadap Gambaran Ginjal, Limfosit dan MCH Tikus Putih (Rattus norvegicus L.) dengan Pemberian DPT sebagai Antigen.
1.2. Batasan Masalah
Batasan masalah pada penelitian ini adalah efek pemberian ekstrak air
daun bangunbangun (Coleus amboinicus L.) terhadap gambaran ginjal, limfosit
dan MCH tikus putih (Rattus norvegicus L.) dengan pemberian DPT sebagai
antigen.
1.3. Rumusan masalah
Berdasarkan latarbelakang diatas maka yang menjadi rumusan masalah
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh ekstrak air daun Bangunbangun terhadap persen
limfosit dan kadar MCH tikus putih?
2. Bagaimana pengaruh ekstrak air daun Bangunbangun terhadap persen
6
3. Bagaimana pengaruh ekstrak air daun Bangunbangun terhadap gambaran
histologi ginjal tikus putih?
4. Bagaimana pengaruh ekstrak air daun Bangunbangun terhadap gambaran
histologi ginjal tikus putih yang diberi DPT sebagai antigen?
1.4. Tujuan
Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh data empiris tentang:
1. Persentase limfosit dan kadar MCH tikus putih yang diberi ekstrak air
daun bangunbangun.
2. Persentase limfosit dan kadar MCH tikus putih yang diberi ekstrak air
daun bangunbangun dan DPT sebagai antigen.
3. Gambaran histologi ginjal tikus putih yang diberi ekstrak air daun
Bangunbangun
4. Gambaran histologi ginjal tikus putih yang diberi ekstrak air daun
Bangunbangun dan DPT sebagai antigen.
1.5. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan akan bermanfaat sebagai :
1. Sumbangan informasi tentang efek daun Bangunbangun sebagai
immunostimulan melalui pengamatan terhadap kadar limfosit pada darah,
ukuran dan gambaran histologi ginjal tikus putih.
2. Pengembangan ilmu pengetahuan dalam pengkajian tanaman obat
tradisional, dan faktor-faktor yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
3. Informasi bagi masyarakat luas tentang khasiat daun bangubangun dalam
meningkatkan daya tahan tubuh , baik untuk mewujudkan masyarakat
yang sehat.
1.6. Definisi Operasional
1. Ekstrak air Bangunbangun (Coleus amboinicus L) adalah ekstrak yang dibuat dengan cara maserasi. Ekstrak diberikan kepada kelompok
7
menggunakan sonde lambung dengan dosis 0 ; 19g/kg BB dan 31,5 g/Kg
BB.
2. Limfosit adalah bagian leukosit (sel darah putih) yang ditemukan dalam darah dan jaringan getah bening. Limfosit yang diukur dalam penelitian ini
adalah limfosit pada darah yang diambil melalui dekapitasi leher. Limfosit
diukur dengan menggunakan alat ABX Micros 60 dalam satuan persen.
3. MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin.) atau Hemoglobin Eritrosit
Rata-Rata (HER), yaitu banyaknya hemoglobin per eritrosit. MCH diukur
dengan menggunakan alat ABX Micros 60 satuan dengan pikogram (pg)
4. Histologi ginjal adalah preparat yang dibuat dengan metode hematoksilin-eosin. Kemudian diamati dibawah mikroskop. Pengamatan yang dilakukan
adalah terhadap tubulus kontortus proximal dan distal serta glomerulus. 5. DPT adalah antigen dari bakteri Dipteri Pertusis Tetanus yang telah
dilemahkan yang memberikan kekebalan terhadap penyakit imunisasi
Poliomielitis (penyakit lumpuh), imunisasi Hepatitis virus B (HVB) atau
imunisasi Hemophillus influenza B (HiB). Tujuan pemberian DPT ini
adalah untuk mengamati pengaruh DPT terhadap imun dalam tubuh tikus
45
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan serta data yang diperoleh maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Persentase limfosit tikus putih yang diberi ekstrak air daun
bangunbangun pada perlakuan 19 g EDB adalah 74,60% , untuk
Perlakuan 31,5g EDB adalah 78,13%. Kadar MCH tikus putih yang
diberi ekstrak air daun bangun bangun 19 g EDB adalah 36,73 , untuk
Perlakuan 31,5g EDB adalah 35,95.
2. Persentase limfosit tikus putih yang diberi ekstrak air daun
bangunbangun pada perlakuan 19 g EDB + DPT adalah 35,10% ,
untuk Perlakuan 31,5g EDB + DPT adalah 36,55%. Kadar MCH tikus putih yang diberi ekstrak air daun bangun bangun 19 g EDB+ DPT
adalah 35,10 , untuk Perlakuan 31,5g EDB+ DPT adalah 36,55.
3. Gambaran histolog ginjal tikus putih yang diberi ekstrak air daun
bangunbangun pada histologi glomelurus, tubulus proximal dan distal ginjal tikus putih lebih jelas terlihat.
4. Gambaran histologi ginjal tikus putih yang diberi ekstrak air daun
bangunbangun dan DPT sebagai antigen pada histologi glomelurus, tubulus proximal dan distal ginjal tikus putih tidak terlihat jelas setiap bagian-bagiannya
. 5.2. Saran
Dari hasil penelitian ini, maka dapat disarankan:
1. Perlu adanya sumber informasi tentang efek daun bangunbangun
sebagai immunostimulan melalui pengamatan terhadap kadar MCH, Pesentase limfosit dan histologi ginjal tikus putih.
2. Perlunya pengembangan ilmu pengetahuan dalam pengkajian tanaman
obat tradisional, dan faktor-faktor yang dapat meningkatkan daya tahan
46
3. Perlunya mengkonsumsi daun bangunbangun yang mengandung