i
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL KESEHATAN 2020
PROFESIONALISME BIDAN DALAM PEMBENTUKAN GENERASI BERKUALITAS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH PEKANBARU
TAHUN 2020
ii
iii
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL KESEHATAN 2020
“Profesionalisme Bidan Dalam Pembentukan Generasi Berkualitas”
Aula STIKes Hang Tuah Pekanbaru, 07 Januari 2020
PENYELENGGARA :
PROGRAM STUDI KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH PEKANBARU
TAHUN 2020
iv
PROSIDING SEMINAR NASIONAL KESEHATAN 2020
“Profesionalisme Bidan Dalam Pembentukan Generasi Berkualitas”
Aula STIKes Hang Tuah Pekanbaru, 07 Januari 2020 Kepanitian :
Ketua Panitia : Liva Maita, SST, M. Kes Wakil Ketua Panitia : Nur Israyati, SST., M. keb
Secretary : Rita Afni, SST., M. Kes
Bendahara : Na’imatu Shalihah, Amd. Keb
IT dan Website : Yulanda, S. Kom., M. Kom Ade Cahya, S. Kom
Publikasi : Rizer Pahlevi, ST., M. Kom Asep Marzuki, S. Kom
Sponsor : Merio Febriansyah Putra, SKM., M. Kes Divisi Sekretariat : Octa Dwienda R, SKM., M. Kes
Yulrina Ardhiyanti, SKM., M. Kes Steering Committe : July Selviyanti, SST., M. Kes
Miratu Megasari, SST., M. Kes Ani Triana, SST., M. Kes
Reviewer : Dr, Mitra, MKM
Dr. Jasrida Yunita, M. Kes Editor Board : Berliana Irianti, S, Si.T, M. Keb
Eka Maya Saputri, SST, M. Kes Editor : Solehatun Nisa, Amd. Keb Settinng/Layout : Rian Ordila, S. Kom., M. Kom
Al Fikri Syahputra, SKM Publisher : STIKes Hang Tuah Pekanbaru
Editorial Staff : Jl. Mustafa Sari No 5 Tangkerang Selatan, Bukit Raya, Pekanbaru-Riau Telepon : (0761) 33815Fax (0761) 863646 Email: [email protected]
KATA PENGANTAR
v Assalamu’alaikum wr. Wb.
Alhamdulillahi rabbil’alamin. Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga prosiding ini dapat terselesaikan dengan baik. Prosiding ini berisi kumpulan hasil penelitian dari berbagai daerah di Indonesia yang telah dipresentasikan dan didiskusikan dalam Seminar Nasional Kesehatan 2020 yang diadakan oleh Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi pada Hari Selasa, 07 Januari 2020. Seminar ini mengangkat tema “Profesionalisme Bidan Dalam Pembentukan Generasi Berkualitas”.
Prosiding ini disusun untuk memberikan gagasan dan hasil penelitian terkait dengan bidang kesehatan masyarakat dan bidang kesehatan ibu dan anak. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan prosiding ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini panitia menyampaikan ucapan terima kasih dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada narasumber, peserta seminar, panitia dan redaksi penyusunan prosiding yang telah bekerja sama sehingga prosiding ini dapat diterbitkan. Semoga penerbitan prosiding ini bermanfaat dan dapat digunakan sebagai referensi dalam penelitian-penelitian kesehatan.
Kami menyadari bahwa prosiding ini tentu saja tidak luput dari kekurangan, untuk itu segala saran dan kritik kami harapkan demi perbaikan prosiding pada terbitan tahun yang akan datang. Akhirnya kami ucapkan terima kasih dan kami berharap prosiding ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca yang budiman.
Wassalamualaikum wr. wb.
Pekanbaru, 07 Januari 2020 Panitia
SINOPSIS
vi
Prosiding ini berisi kumpulan hasil penelitian dari berbagai daerah di Indonesia yang telah dipresentasikan dan didiskusikan dalam Seminar Nasional Kesehatan 2020 yang diadakan oleh Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi pada Hari Selasa, 07 Januari 2020. Seminar ini mengangkat tema “Profesionalisme Bidan Dalam Pembentukan Generasi Berkualitas” yang disusun oleh para dosen kebidanan. Prosiding ini disusun untuk memberikan gagasan dan hasil penelitian terkait dengan bidang kesehatan masyarakat dan bidang kesehatan ibu dan anak.
DAFTAR ISI
vii
Penatalaksanaan Bendungan ASI Pada Ibu Menyusui Dengan Menggunakan
Kompres Daun Kubis Di BPM Ernita Pekanbaru Tahun 2019 ... 1 Rika Andriyani, Aulia Aska
Pengaruh Perawatan Tali Pusat Terbuka Pada Bayi Baru Lahir Di PMB
Murtinawita Kota Pekanbaru Tahun 2019 ... 9 Risa Pitriani, Riska Agustina
Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dengan Emesis Gravidarum Di PMB Ernita Pekanbaru Tahun 2019 ... 17 Yulrina Ardhiyanti, Vivin Wulandari
Asuhan Kebidanan Ny. V Dengan Luka Episiotomi ... 24 Miratu Megasari, Iga Aulia
Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Dengan Pemberian ASI Eksklusif Di
Wilayah Kerja Puskesmas Melur Pekanbaru Tahun 2014 ... 35 Ani Triana, Febrina Ariantika.Z
Asuhan Kebidanan Pada Ny. D Dengan Perawatan Payudara ... 45 Liva Maita, Rita Afriani
Terapi Musik Klasik Pada Ibu Hamil Untuk Menurunkan Kecemasan Menjelang Proses Persalinan Di BPM Hj.Dince Safrina, SST ... 50 Rita Afni
Status Gizi Anak Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Harapan Raya Pekanbaru 55 Ika Putri Damayanti
Terapi Rebusan Air Daun Sirih Pada Ibu Hamil Dengan Pengeluaran Cairan
Pervaginam Berupa Keputihan Di Klinik Pratama Putri Asih Tahun 2019 ... 60 Rina Yulviana, Sri Mayang
Pengaruh Telur Rebus Dalam Penyembuhan Luka Perenium Pada Ibu Nifas Di Klinik Pratama Arrabih Tahun 2019 ... 67 Eka Maya Saputri , Ega Febiola
Asuhan Kebidanan Akupressure Sp6 Dan Li4 Untuk Mengurangi Tingkat Nyeri Pada Persalinan Fase Aktif Di Klinik Pratama Ar-Rabih Kota Pekanbaru
Tahun 2019 ... 75 Nelly Karlinah, Melti Marzellina
viii
Hubungan Pengetahuan Lansia Tentang Pelaksanaan Senam Lansia Di Panti
Jompo khusnul Khatimah Kec. Marpoyan Damai Pekanbaru Tahun 2019 ... 82 Juli Selvi Yanti, Eka Maya Saputri, Marren Prayang
Karakteristik Ibu Yang Memiliki Bayi Usia 0-6 Bulan Yang Tidak Memberikan ASI Ekslusif Di Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo Pekanbaru Tahun 2016 ... 88 Een Husanah, Tri Merti
Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dengan Konstipasi Di PMB Hasna Dewi
Pekanbaru Tahun 2019 ... 93 Kiki Megasari
Pemberian Rebusan Daun Katuk Pada Ibu Menyusui Dalam Upaya Peningkatan Produksi ASI Di PMB Ernita Amd.Keb Pekanbaru Tahun 2019 ... 101 Riza Febrianti, Intan Widya Sari
Efektifitas Teknik Sitz Bath Untuk Mengurangi Nyeri Rupture Perineum Pada Ibu Nifas Di Praktik Mandiri Bidan Dince Syafrina, SST Tahun 2019 ... 105 Octa Dwienda Ristica, Rita Afni
Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Primigravida Dengan Ketidaknyamanan
Trimester III Di BPM Siti Juleha Tahun 2019 ... 113 Intan Widya Sari, Rippo Riskiliani
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Mutu Pelayanan Prima Di Ruang
Rawat Inap Kebidanan RSIA Eria Bunda Pekanbaru Tahun 2019 ... 119 Widya Juliarti, Wella Chelsy Dhea
Hubungan Stres Dengan Siklus Menstruasi Pada Remaja Putri Tahun 2017... 135 Berliana Irianti, Rika Sri Wahyuni
Gambaran Pengetahuan Pasangan Usia Subur Tentang Penyakit Menular Seksual Di Desa Mata Allo Dusun Berdikari I Kabupaten Gowa Tahun 2018 ... 141 Nur Israyati, Eka Nurlina
Determinan Penyebab Terjadinya Kejadian Balita Bawah Garis Merah di Wilayah Kabupaten Dharmasraya ... 148 Siti Khotimah
Page 1
PENATALAKSANAAN BENDUNGAN ASI PADA IBU MENYUSUI DENGAN MENGGUNAKAN KOMPRES DAUN KUBIS
DI BPM ERNITA PEKANBARU TAHUN 2020
RIKA ANDRIYANI, AULIA ASKA
ABSTRACT
Dams of breast milk can occur due to the narrowing of the lactiferous ducts in the mother's breast and can also occur if the mother has nipple disorders such as flat and sunken, sunken nipples. To reduce breast swelling in a non-pharmacological way, it can be done by compressing the cabbage leaves. Cabbage contains the amino acid glutamine, which is believed to treat all types of inflammation, one of which is inflammation of the breasts.
Cabbage is also rich in sulfur content which is believed to reduce breast engorgement and inflammation. The purpose of this final project is to carry out comprehensive and continuous midwifery care for breastfeeding mothers with breastfeeding by using a cabbage leaf compress through a midwifery management approach as well as documenting the care that has been given by the SOAP method. Implementation methods with case studies and case taking were carried out at BPM Ernita on 19-20 September 2020. Care was carried out by conducting a thorough assessment with NY so that the diagnosis of P1A0H1 postpartum day 9 with Asi Dam was confirmed. The plan is based on a diagnosis, namely giving cabbage leaves compresses to mothers and providing health education about breastfeeding techniques and breast care. The results obtained after doing midwifery care on Mrs. ASI dam complaints can be resolved.
Key word : Maternal Midwifery Care, Cabbage Leaves
ABSTRAK
Bendungan ASI dapat terjadi karena adanya penyempitan duktus laktiferus pada payudara ibu dan dapat terjadi pula bila ibu memiliki kelainan puting susu misalnya putting susu datar dan terbenam, cekung. Untuk mengurangi pembengkakan payudara secara non farmakologis dapat dilakukan dengan kompres daun kubis. Kubis mengandung asam amino glutamine yang diyakini dapat mengobati semua jenis peradangan, salah satunya radang yang terjadi pada payudara. Kubis juga kaya akan kandungan sulfur yang diyakini dapat mengurangi pembengkakan dan peradangan payudara. Tujuan tugas akhir ini adalah untuk melaksanakan asuhan kebidanan secara menyuluruh dan berkesinambungan pada ibu menyusui dengan bendungan asi dengan menggunakan kompres daun kubis melalui pendekatan manajemen kebidanan serta mendokumentasikan asuhan yang telah diberikan dengan metode SOAP.
Metode pelaksanaan dengan studi kasus dan Pengambilan kasus dilakukan di BPM Ernita pada tanggal 19-20 september 2020. Asuhan dilakukan dengan melakukan pengkajian secara menyeluruh dengan NY sehingga dapat ditegakkan diagnosis P1A0H1 Nifas hari ke 9 dengan Bendungan Asi. Plan disusun berdasarkan diagnosis yakni memberikan kompres daun kubis kepada ibu serta memberikan pendidikan kesehatan tentang teknik menyusui dan perawatan payudara. Hasil yang didapatkan setelah melakukan asuhan kebidanan pada Ny keluhan bendungan ASI dapat teratasi.
Kata Kunci : Asuhan kebidanan ibu Nifas , Daun Kubis
Page 2
PENDAHULUAN
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira- kira 6 minggu atau 42 hari, namun secara keseluruhan akan pulih dalam waktu 3 bulan (Wilujeng and Hartati, 2018)
Auhan selama periode menyusui perlu mendapat perhatian karna sekitar 60%angka kematian ibu terjadi.Angka kematian ibu (AKI) adalah banyaknya wanita yag meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penangannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup (Wahyuni, 2018).
Salah satu masalah yang sering dialami pada masa nifas adalah Pembengkakan payudara. Mastitis adalah infeksi yang disebabkan adanya sumbatan pada duktus (saluran susu) hingga putting susu atau disebut juga peradangan pada payudara.Bendungan asi adalah penyempitan pada saluran ASI yang disebabkan karna air susu mengental
sehingga menyumbat lumen saluran (Khasanah and Sulistyawati, 2017).
Bendungan ASI dapat terjadi karena adanya penyempitan duktus laktiferus pada payudara ibu dan dapat terjadi pula bila ibu memiliki kelainan putting susu misalnya putting susu datar dan terbenam, cekung.
ASI yang menumpuk pada payudara bila tidak dikeluarkan menyebabkan payudara membengkak dan aerola mamae menjadi lebih menonjol, puting lebih datar dan susah diisap bayi.
Peran bidan sangat penting memberi tahu ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya karena ASI bisa memberi kekebalan tubuh, serta sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi karena dalam penelitian dijumpai kenyataan bahwa terjadi banyak penyulit pada bayi yang sejak awal mempergunakan susu formula yaitu terjadinya penyakit diare dan tumbuhkembang yang kurang memuaskan. Dan peran ibu maupun masyarakat bisa mencegah terjadinya infeksi payudara, karena yang selama ini terjadi masyarakat masih menganggap bahwa perawatan payudara itu kurang penting (Nurliana Mansyur and A.
Kasrinda Dahlan, 2014)
Untuk mengurangi pembengkakan payudara secara non farmakologis dapat
Page 3 dilakukan dengan kompres kubis. Kubis
atau kol (Brassica Oleracea Var. Capitata) merupakan sayuran ekonomis yang sangat mudah ditemukan. Kubis . mengandung asam amino glutamine yang diyakini dapat mengobati semua jenis peradangan, salah satunya radang yang terjadi pada payudara.
Kubis juga kaya akan kandungan sulfur yang diyakini dapat mengurangi pembengkakan dan peradangan payudara(Apriani, Wijiyanti and Widyastutik, 2018)
Pengaruh kompres daun kubis (Brassica Oleracea Var. Capitata) terhadap pembengakakan payudara pada ibu nifas.
Berdasarkan tabel 5.6 diatas bahwa sebelum diberikan kompres daun kubis (Brassica Oleracea Var. Capitata) seluruh responden (100%) mengalami pembengakkan payudara,setelah diberikan kompres daun kubis diketahui bahwa responden hampir seluruhnya (91%) tidak mengalami pembengkakan payudara, sebagian kecil(9%)mengalami pembengkakan payudara (Widia and Pangestu, 2020).
Berdasarkan survey yang dilakukan oleh penulis BPM Ernita,1 dari 20 ibu menyusui selama 1 bulan terakhir yang melahirkan di BPM dengan keluhan bendungan asi. Oleh karna itu, penulis
tertarik untuk memberikan asuhan dausah daun kubis guna memperkecil pembekakan payudara yang disebabkan oleh bendungan asi.
METODOLOGI KASUS
Metode laporan ini adalah studi kasus dengan latar belakang asuhan kebidanan pada Ibu menyusui Dengan Bendungan ASI menggunakan Kompres Daun Kubis Pengambilan kasus dilakukan di BPM Ernita pada tanggal 19-20 september 2020. Intrumen yang digunakan berupa panduan anamnesis, formulir pemantaun dan alat yang digunakan Spignanometer, daun kubis, baskom, tisu dan stopwatch.
leaflet untuk konseling yang digunakan, menyiapkan kamera pendokumentasian.
HASIL
A. KUNJUNGAN PERTAMA
Kajian n pertama dilakukan pada Ny R pada tanggal 19 September 2020 pukul 11.00 wib, Data subjektif Ny. R usia 27 tahun, anak pertama, baru selesai melahirkan 9 hari yang lalu, Ibu mengeluh paayudara terasa nyeri dan keras, Seperti yang dikatakan ibu “ Keluhannya payudara saya dua duanya terasa nyeri dan tegang, penuh rasanya” . dan Bayi sering tidur dan menyusu saat bangun saja
“ anak saya baik laku, tidur saja jadi menyusu nya kalau bangun aja “.
Page 4 Riawayat kelahiran bayi normal “ bayi
saya lahir normal BB 2800 gr PJ 48 cm pas lahir nangisnya kencang”
Pada Pengumpulan data Objektif peneliti melakukan pemeriksaan kepadsa pasien ditemukan Keadaan emosional
Stabil, Keadaan umum Baik, Tekanan Darah 120/80 MmHg¸Suhu 36,20C,Pernafasan 22 x/i¸Denyut Nadi 82 x/i¸ Payudara teraba keras, hangat, nyeri saat diraba, Putting Susu Menonjol, Pengeluaran ASI (+), TFU tidak teraba, lochea alba, oedem pada kaki (-). Dari hasil pengkajian data diatas dapat ditarik analisa NY R P1A0H1 Nifas hari ke 9 dengan Bendungan Asi
B. KUNJUNGAN KEDUA Kajian kedua
Pada kajian ini pada hari selasa tanggal 21 September 2020, dilakukan di rumah pasien jalan teropong arengka, Kota Pekanbaru Provinsi Riau pukul 10.00 wib.
Ibu mengatakan bayi sudah sering menyusui, payudara sudah tidak nyeri lagi, ibu melakukan kompres daun kubis 3x sehari saat saat payudara tegang dan nyeri.
Seperti yang dikatakan ibu “ alhamdulillah, payudara saya sudah tidak nyeri dan tegang lagi, bayi sudah sering menyusui “. Ibu melakukan semua
pendidikan kesehatan yang diberikan, “ Semua yang adek sampaikan kemarin saya ikuti, kalo anak saya tidur kelamaan saya bangungkan, teknik menyusui sudah sperti yang diajarkan”
Pada pengumpulan data Objektif, ditemukan data yaitu Keadaan umum Baik, Tekanan Darah 120/80 MmHg¸Suhu 36,20C,Pernafasan 22 x/i¸Denyut Nadi 82 x/i¸Payudara lunak (baru selesai menyusui) tidak ada nyeri raba, Bayi menyusu kuat ,TFU tidak teraba, lochea alba, oedem pada kaki (-). Berdasarkan pengkajian data dapat ditarik analisa P1A0H1 Nifas hari ke 1I dengan keadaan umum ibu baik
PEMBAHASAN
Pada kunjungan pertama, ditemukan keluhan yang dialami Ny. R adalah payudara tegang dan terasa nyeri. Menurut (Wilujeng and Hartati, 2018) Gejala yang sering muncul pada saat terjadi bendungan ASI antara lain payudara bengkak, payudara terasa panas. Kurangnya ibu memberikn ASI pada bayi nya, cara menyusui yang kurang tepat, produksi ASI meningkat, terlambat menyusukan, hubungan dengan bayi (bonding) kurang baik, dan dapat pula karena adanya pembatasan waktu menyusui yang dapat menyebabkan pembengkakan payudar.
Page 5 Hal ini juga didapatkan saat melakukan
anamnesa dengan Ny R, bahwa jarang menyusui bayinya lebih membiarkan bayi tidur, dan juga masih bingung dengan proses menyusui.
Berdasarkan hasil pengumpulan data pada kasus NY R ibu dinyatakan mengalami bendungan ASI Menurut teori (Khasanah and Sulistyawati, 2017) bendungan ASI disebabkan karena air susu yang terkumpul tidak dikeluarkan sehingga menjadi sumbatan. Gejala yang sering muncul pada saat terjadi bendungan ASI antara lain payudara bengkak, payudara terasa panas. Penatalaksanaan yang dilakukan penulis yaitu dengan pengompresan daun kubis. Daun kubis merupakan terapi non farmakologis untuk pencegahan bendungan ASI.
Penatalaksanaan kasus berdasarkan masalah yang ditemui adalah mengajarkan kepadai ibu untuk melakukan kompes daun kubis pada payudara yang terasa nyeri dan bengkak tersebut Tujuan nya adalah untuk mengurangi pembengkakan payudara, apabila perawatan payudara dengan kompres daun kubis dilakukan dengan baik maka pembengkakan payudara akan berkurang. Hal ini sudah sesuai dengan hasil penilitian yang dilakukan oleh (Damayanti, Ariani and Agustin, 2020)
diketahui bahwa pemberian kompres daun kubis dingin dan juga perlakuan perah ASI pada responden mampu memberikan efek yang baik dalam menurunkan skala pembengkakan dan intensitas nyeri payudara, serta meningkatkan jumlah ASI.
Hasil uji Wilcoxon untuk ketiga variabel (skala pembengkakan, intensitas nyeri, dan jumlah ASI) antara nilai sebelum dan sesudah diberikan perlakuan pada kelompok kompres daun kubis dingin menunjukkan nilai p-value untuk penurunan skala pembengkakan sebesar 0,000, p-value untuk penurunan intensitas nyeri sebesar 0,000, dan p-value untuk peningkatan jumlah ASI adalah 0,000.
Sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan nilai p-value dari ketiga variabel pada kedua kelompok tersebut adalah < α (0,05). Hal ini membuktikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada ketiga variabel antara nilai sebelum dan sesudah pemberian perlakuan pada kedua kelompok.
Cara penggunaan kompres kubis yang benar yang dapat mengurangi peembengkakan payudara adalah yaitu Daun kubis dimasukkan ke dalam lemari pendingin selama 20-30 menit, lalu mengompreskan daun kubis dingin pada payudara ibu hingga menutupi seluruh
Page 6 permukaan payudara, selama 30 menit,
perlakuan ini dilakukan sebanyak 3 kali dalam sehari selama 2 hari. kubis. Kubis atau kol (Brassica Oleracea Var. Capitata) merupakan sayuran ekonomis yang sangat mudah ditemukan. Kubis . mengandung asam amino glutamine yang diyakini dapat mengobati semua jenis peradangan, salah satunya radang yang terjadi pada payudara.
Kubis juga kaya akan kandungansulfur yang diyakini dapat mengurangi pembengkakan dan peradangan payudara (Apriani, Wijiyanti and Widyastutik, 2018).
Penatalaksanaan bendungan ASI selanjutnya adalah mengajarkan kepada ibu tentang proses menyusui, menurut Wahyuni, 2018 bahwa untuk menjaga produksi ASI agar tetap baik maka pemberian ASI pada bayi secara on demand dan minimal 2 jam sekali harus disusui. Saat menyusui payudara harus dikosongkan secara menyeluruh sehingga dapat meningkatkan kan taraf produksi ASI Penatalaksanaan Bendungan ASI selanjutnya, penulis menganjurkan ibu untuk mencukupi kebutuhan cairan dengan minum 9 gelas air mineral dalam sehari, mengomsumsi makanan yang bergizi dan menyehatkan , mencukupi pola tidur yang baik sekitar 7 hingga 8
jam,Susuin terus bayi, hindari stress dan banyak pikiran.
Pada kunjungan kedua, rasa nyeri pada payudara ibu sudah berkurang.
Asuhan yang diberikan kepada ibu di kunjungan pertama telah berhasil masalah ibu dapat diatasi. Hal ini sudah sesuai dengan hasil penulitian yang dilakukan oleh (Damayanti, Ariani and Agustin, 2020) diketahui bahwa pemberian kompres daun kubis dingin dan juga perlakuan perah ASI pada responden mampu memberikan efek yang baik dalam menurunkan skala pembengkakan dan intensitas nyeri payudara, serta meningkatkan jumlah ASI.
KESIMPULAN
Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas dengan bendungan ASI menggunakan kompres daun kubis di BPM Ernita dilaksanakan pendekatan manajemen varney dan didokumentasikan dengan metode SOAP. Pengkajian data dilakukan secara lengkap, akurat dan relevan dengan masalah yang dihadapi pasien, dan berdasarkan pengkajian maka analisa nya NY R P1A0H1 Nifas hari ke 9 dengan Bendungan Asi. Pemberian kompres daun kubis, pemberian informasi tentang kapan bayi harus menysui dan mengajarkan teknik menyusi serta nutrisi selama nifas
Page 7 merupakan penatalaksanaan yang
dilakukan untuk mengatasi masalah bendungan ASI. Masalah bendungan ASI dapat teratasi, saat melakukan kunjungan kedua, pasien tidak lagi mengeluh dengan payudara nya.
SARAN
Diharapkan dapat meningkatkan manajemen asuhan kebidanan yang diterapkan terhadap pasien dalam memberikan KIE tentang perawatan payudara selama ANC dan memasang poster tentang sukses menyusui dan dapat mengatasi masalah pada payudara ibu nifas terutama ibu nifas dengan bendungan ASI DAFTAR PUSTAKA
Apriani, A., Wijiyanti and Widyastutik, D.
(2018) ‘Efektivitas Penatalaksanaan Kompres Daun Kubis (Brassica Oleracea Var. Capitata) Dan Breast Care Terhadap Pembengkakan Payudara Bagi Ibu Nifas’, Efektivitas Penatalaksanaan Kompres Daun Kubis (Brassica Oleracea Var.
Capitata) Dan Breast Care Terhadap Pembengkakan Payudara Bagi Ibu Nifas, II(4), pp. 238–243.
Damayanti, E., Ariani, D. and Agustin, D.
(2020) ‘Pengaruh Pemberian Kompres Daun Kubis Dingin sebagai Terapi Pendamping Bendungan ASI terhadap Skala Pembengkakan dan Intensitas Nyeri Payudara serta Jumlah ASI pada Ibu Postpartum di RSUD Bangil’, Pengaruh Pemberian Kompres Daun Kubis Dingin sebagai Terapi Pendamping Bendungan ASI terhadap Skala Pembengkakan dan Intensitas Nyeri Payudara serta Jumlah ASI pada Ibu Postpartum di RSUD Bangil, 4, pp. 54–66. doi:
10.21776/ub.JOIM.2020.004.02.1.
Khasanah, N. A. and Sulistyawati, W.
(2017) ‘Buku Ajar Nifas Dan Menyusui’, In Perdana, R. (Ed.) Buku Ajar Nifas Dan Menyusui. 1st Edn.
Surakarta: Kekata Publisher, Pp. 1–
176. Available At:
https://scholar.google.co.id/scholar?h l=id&as_sdt=0%2C5&q=jurnal+artik el+ilmiah&btnG=.
Megasari, M. et al. (2019) Catatan SOAP sebagai dokumentasi legal dalam pratik kebidanan, Nuha Medika.
Edited by J. . MEITHA. Pekanbaru:
Nuha Medika. doi: 10.1055/s-2008-
Page 8 1040325.
Nurliana Mansyur, S. S. and A. Kasrinda Dahlan, S. S. (2014) ‘Buku Ajar Asuhan Masa Nifas’, in Nurliana Mansyur, S. S. and A. Kasrinda Dahlan, S. S. (eds) Asuhan Kebidanan Masa Nifas. 1st edn. jawa timur: perpustakaan nasional, pp. 1–
146. doi:
10.1017/CBO9781107415324.004.
Wahyuni, E. dwi (2018) ‘Asuhan kebidanan nifas dan menyusui’, in Utami, S. (ed.) Asuhan kebidanan nifas dan menyusui. 1st edn. jakarta:
kementrian kesehatan republik indonesia, pp. 1–286.
Widia, L. and Pangestu, delia ayu putri (2020) ‘Pengaruh Kompres Daun Kubis (Brassica Oleracea Var.
Capitata) Terhadap Pembengkakan Payudara (Breast Engorgement) Pada Ibu Nifas’, Pengaruh Kompres Daun Kubis (Brassica Oleracea Var.
Capitata) Terhadap Pembengkakan Payudara (Breast Engorgement) Pada Ibu NifaS, 8(1), pp. 45–51.
Wilujeng, R. D. and Hartati, A. (2018)
‘Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas’, Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya, p. 82.
Page 9 PENGARUH PERAWATAN TALI PUSAT TERBUKA PADA BAYI BARU LAHIR
DI PMB MURTINAWITA KOTA PEKANBARU TAHUN 2020
Risa Pitriani, Riska Agustina
Program Studi D III Kebidanan STIKes Hang Tuah Pekanbaru
ABSTRACT
The umbilical cord is the channel of life for the fetus while in the womb, it is said to be the channel of life because it is this channel that for 9 months and 10 days supplies nutrients and oxygen to the fetus. When the baby is born this channel is no longer needed, so it must be cut and tied. After the cut, the next step is umbilical cord care. Open umbilical cord care means leaving the umbilical cord open and only cleaning it with clean water, good and correct umbilical cord care will have an impact on the speed of the umbilical cord and reduce the incidence of infection in the umbilical cord. The aim of the case study was to be able to carry out midwifery care for newborns with open umbilical cord care. The method used with the midwifery management approach was then documented in the form of SOAP and comparisons of the umbilical cord from the first day to the puput. This final task was carried out at PMB Murtinawita then continued with home visits to the umbilical cord. The results of the care given by Mrs. R said that she was able to perform umbilical cord care and the umbilical cord looked dry. The results of this case report showed the umbilical cord puput on day 5 without any signs of infection. suggestions are expected to change the method of umbilical cord care to open methods or the latest treatment methods to speed up the umbilical cord puput and reduce the incidence of infection.
Keywords: Open umbilical cord care, Newborns, Murtinawita PMB
ABSTRAK
Tali pusat atau umbilical cord adalah saluran kehidupan bagi janin selama di dalam kandungan, dikatakan saluran kehidupan karena saluran inilah yang selama 9 bulan 10 hari menyuplai zat-zat gizi dan oksigen ke janin. saat bayi lahir saluran ini sudah tidak diperlukan lagi, sehingga harus dipotong dan diikat.Setelah dipotong tindakan berikutnya adalah perawatan tali pusat. Perawatan tali pusat terbuka berarti membiarkan tali pusat terbuka dan hanya membersihkannya dengan air bersih, perawatan tali pusat yang baik dan benar akan berdampak pada cepatnya tali pusat puput dan mengurangi kejadian infeksi pada tali pusat. Tujuan studi kasus mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan perawatan tali pusat terbuka. Metode yang digunakan dengan pendekatan manajemen kebidanan kemudian didokumentasikan dalam bentuk SOAP serta dilakukan perbandingan tali pusat dari hari pertama sampai puput.Tugas akhir ini dilaksanakan di PMB Murtinawita kemudian dilanjutkan dengan kunjungan rumah sampai tali pusat puput. Hasil dariasuhan yang diberikan Ny R mengatakan sudah bisa melakukan perawatan tali pusat dan tali pusat terlihat kering. Hasil laporan kasus ini terlihat tali pusat puput pada hari ke 5 tanpa adanya tanda infeksi. saran diharapkan agar dapat mengganti cara perawatan tali pusat ke metode terbuka atau cara perawatan terbaru untuk mempercepat puputnya tali pusat dan mengurangi kejadian infeksi.
Kata Kunci : Perawatan Tali Pusat Terbuka, Bayi Baru Lahir, PMB Murtinawita
Page 10 PENDAHULUAN
Tali pusat atau umbilical cord adalah saluran kehidupan bagi janin selama di dalam kandungan, dikatakan saluran kehidupan karena saluran inilah yang selama 9 bulan 10 hari menyuplai zat-zat gizi dan oksigen ke janin. Tetapi saat bayi lahir, saluran ini sudah tidak diperlukan lagi, sehingga harus dipotong dan diikat atau di jepit.Setelah dipotong tindakan berikutnya adalah perawatan tali pusat yang telah dipotong.Sisa potongan tali pusat pada bayi inilah yang harus dirawat agar tidak terjadi infeksi(Putra, 2012).
Perawatan tali pusat dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi pada bayi baru lahir, upaya ini dilakukan dengan cara menjaga agar luka tersebut tetap bersih, tidak terkena air kencing, kotoran bayi, atau tanah. Banyak pendapat tentang cara terbaik dalam merawat tali pusat agar tidak terjadi peningkatan infeksi,negara-negara yang beriklim tropis perlu mewaspadai penggunaan alkohol yang dahulu populer dan terbukti efektif untuk membersihkan tali pusat, karena sesungguhnya alkohol akan mudah menguap di daerah panas, dengan membiarkan tali pusat mengering, tidak ditutup, dan hanya dibersihkan setiap hari menggunakan air bersih (Marmi &
Rahardjo, 2018).
Perawatan tali pusat terbuka berarti membiarkan tali pusat terbuka dan hanya membersihkannya dengan air bersih, serta membiarkan tali pusat puput dengan sendirinya tanpa membungkus dan membubuhkan daun-daunan, abu dapur, atau ramuan, disini tali pusat hanya dibersihkan dengan menggunakan air bersih lalu dikeringkan dengan kain tanpa ditutup dengan kain kasa(Rukiyah &
Yulianti, 2010).
Dari data SDKI 2017 terlihat adanya penurunan angka kematian bayi menjadi 24/1000 kelahiran hidup. Kematian bayi pada masa neonatal terutama disebabkan oleh tetanus neonatorium dan gangguan perinatal sebagai akibat dari kehamilan resiko tinggi (Profil Anak Indonesia, 2018).
Setelah sikecil lahir, tali pusat yang terhubung dengan ari-ari akan dipotong.
Sehingga, tali pusat yang melekat di bagian pusat bayi tersisa sepanjang kurang lebih 4 cm. tali pusat yang telah dipotong segera dijepit, dan akan terlepas sendiri setelah tali pusat benar-benar kering. Dalam keadaan normal, tali pusat akan mengering hingga berubah warna menjadi coklat, dan terlepas dengan sendirinya dalam waktu 7-10 hari.
Namun jika terdapat kasus lainnya, hal tersebut bisa berlanjut hingga sampai 2 minggu (Putra, 2012).
Page 11 Hasil penelitian (Asiyah et al., 2017)
pada metode perawatan tertutup memiliki waktu pelepasan yang lebih lama yaitu 7- 10 hari sedangkan perawatan tali pusat terbuka hanya 5-7 hari.Dari hasil penelitian (Pitriani et al., 2017) perawatan tali pusat terbuka memiliki rata-rata pelepasan tali pusat yang lebih cepat yaitu 6 hari sedangkan perawatan tali pusat tertutup memiliki rata-rata pelepasan tali pusat yang cukup lama yaitu 10 hari.
Serta ditambah penelitian (Reni et al., 2018) rata-rata waktu lepas tali pusat bayi yang dirawat dengan kasa kering atau tertutup adalah 6.55 hari sedangkan waktu lepas tali pusat bayi yang dirawat dengan perawatan terbuka lebih cepat yaitu 5.43 hari.
Dari survey yang dilakukan oleh penulis perawatan tali pusat yang dilakukan di PMB Murtinawita tersebut adalah perawatan tali pusat tertutup, dari survey tersebut didapatkan informasi bahwa pelepasan tali pusat terjadi selama 7-10 hari.
METODE
Metode yang penulis gunakan yaitu dengan cara melakukan asuhan kebidanan sesuai dengan prosedur yang baik dan benar, meliputi menganjurkan ibu melakukan perawatan tali pusat terbuka pada By Ny “R” umur 23 tahun
P2A0, dilaksanakan di PMB Murtinawita, S.ST kemudian dilanjutkan dengan kunjungan rumah pada tanggal 21-25 Agustus 2020 serta dilakukan perbandingan tali pusat dari hari pertama sampai tali pusat bayi puput. Cara pengumpulan data anamnesa, observasi, pemeriksaan dan dokumentasi. Analisa data dengan membandingkan antara data yang diperoleh dengan teori yang ada.
HASIL
Kunjungan bayi baru lahir pertama kali dilakukan pada tanggal 21 Agustus 2020
1. Subjektif
Ibu mengatakan ini kelahiran anak ke- 2, lahir pukul 16. 25 pada saat lahir bayinya menangis kuat pada saat persalinan anak pertam, ibu menggunakan perawatan tali pusat tertutup dan belum mengerti tentang cara perawatan tali pusat terbuka, serta tali pusat bayinya masih basah, tidak bau dan tidak diberi apapun dari sejak lahir.
2. Objektif
KU Bayi : Baik TTV :S : 36,7 C, N : 136 x/m, P : 44 x/m, Pemeriksaan Fisik Bayi, LK : 35 cm, LD : 34 cm.
BB : 2500 gr. PB : 50 cm, Mata:
Sklera tidak ikterik, Mulut: reflex menghisap kuat, Leher : tidak ada pembesaran dan pembengkakan
Page 12 kelenjar tiroid Dada : simetris,
Ekstremitas : jari bayi lengkap, Abdomen : lembek, Punggung : Tidak ada kelainan tulang punggung, Tali pusat : tali pusat masih basah, tali pusat bersih, dan terbungkus kasa, Reflek : Menghisap (sucking) :(+) Menggenggam (graps) : (+)Moro:
(+) Genitalia : Jenis kelamin : laki-laki Testis sudah berada dalam skrotum Anus : (+)
3. Anamnesis
Neonatus cukup bulan 1 hari dengan tali pusat masih terbungkus kasa KU Bayi : Baik
4. Penatalaksanaan
a. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan KU Bayi : Baik, TTV : Dalam batas normal, Tidak ada kelainan
b. KIE Perawatan Pada bayi baru lahir, memberitahukan kepada ibu untuk selalu menjaga kebersihan bayinya, menjaga bayi agar tetap kering, melakukan personal hygine saat bayi BAK atau BAB dan membersihkan daerah kemaluan bayi dengan menggunakan kapas basah.
c. KIE tanda-tanda Infeksi Tali Pusat, memberitahukan kepada ibu tanda bahaya infeksi pada tali pusat yaitu : tali pusat kemerahan, tali pusat bengkak, bayi rewel,
terasa panas sekitar tali pusat, tali pusat berair atau bernanah jika itu terjadi maka ibu bisa langsung membawa bayinya ke fasilitas kesehatan
d. KIE faktor penyebab lama puputnya tali pusat, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya.
e. KIE Perawatan Tali pusat, memberitahu kepada ibu tentang perawatan tali pusat
Kunjungan kedua bayi baru lahir dilakukan pada tanggal 25 Agustus 2020 1. Subjektif
Ibu mengatakan tali pusat bayinya sudah puput
2. Objektif
KU Bayi : Baik
TTV : S : 36,7 C, N : 136 x/m, P : 44 x/m, Tali pusat bayi sudah puput, Tidak ada tanda infeksi.
3. Analisa
Neonatus cukup bulan 5 hari dengan tali pusat sudah puput
KU Bayi : Baik 4. Penatalaksanaan
a. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan
b. KIE Kebersihan Bayi
Memberitahukan ibu untuk selalu menjaga kebersihan bayinya dengan memandikan bayi minimal sehari sekali, serta untuk segera mengganti popok bayi jika
Page 13 basah agar tidak terjadi ruam
popok.
c. Evaluasi Tali Pusat
Pada perawatan tali pusat terbuka yang dilakukan selama 5 hari didapatkan hasil tali pusat puput pada hari ke 5, tanpa adanya tanda-tanda infeksi.
PEMBAHASAN 1. Subjektif
Berdasarkan kunjungan hari pertamaBy.Ny “R” pada tanggal 21 Agustus 2020 jam 08.30 WIB ibu mengatakan belum mengerti tentang cara perawatan tali pusat, tali pusat masih basah, bersih, tidak berbau serta tidak diberi apapun. Pada kunjungan kelima tanggal 25 Agustus 2020 jam 08. 30 WIB ibu mengatakan tali pusat bayi sudah puput.
Sesuai dengan teori (Putra, 2012) setelah tali pusat bayi dipotong langkah selanjutnya adalah melakukan perawatan pada tali pusat bayi, karena sisa potongan tali pusat yang tidak dirawat akan menyebabkan infeksi.
Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan selama 5 hari didapat pada kunjungan pertama ibu belum mengerti cara melakukan perawatan tali pusat yang akan mempengaruhi lama puputnya tali pusat sehingga perlunya informasi agar ibu dapat
melakukan perawatan tali pusat dengan baik dan benar.
2. Objektif
Dari hasil pemeriksaan kunjungan Berdasarkan kunjungan hari pertama By. Ny “R” pada tanggal 21 Agustus 2020 jam 08.30 WIB didapatkan hasil K/U : Baik, TTV : Dalam batas normal, Tidak ada kelainan, tali pusat masih basah, bersih, dan masih terbungkus kasa.
Pada kunjungan kelima tanggal 25 Agustus 2020 jam 08. 30 WIB didapatkan hasil tali pusat sudah puput dan tidak ada tanda infeksi.
Sesuai dengan teori (Sekartini &
Endyarni, 2011) tali pusat yang masih basah perlu dijaga, tali pusat bayi tidak perlu diberi alkohol, obat merah, atau antiseptik.Juga sejalan dengan teori. (Putra, 2012) dalam keaadaan normalnya tali pusat akan mengering hingga berubah warna menjadi coklat, dan terlepas dengan sendirinya dalam waktu 7-10 hari. Namun jika terdapat kasus lainnya, hal tersebut bisa berlanjut hingga 2 minggu.
Tali pusat yang dirawat akan berubah warna dari hari pertama hingga tali pusat bayi puput, perawatan secara terbuka berarti membiarkan tali pusat tanpa menutupnya dengan kasa yang dapat membuat tali pusat lembab serta tidak
Page 14 terkena dengan udara luar yang
mempengaruhi tali pusat agar cepat kering.
3. Penatalaksanaan
Berdasarkan kunjungan hari pertama didapatkan hasil tali pusat masih basah, bersih, dan tidak diberi apapun.Pada kunjungan kelima didapatkan hasil tali pusat sudah puput dan tidak ada tanda infeksi. Serta ibu dapat melakukan perawatan dengan baik
Sesuai dengan teori (Rukiyah &
Yulianti, 2010) perawatan tali pusat terbuka berarti membiarkan tali pusat terbuka dan hanya membersihkannya dengan air bersih, serta membiarkan tali pusat puput dengan sendirinya
tanpa membungkus dan
membubuhkan daun-daunan, abu dapur, atau ramuan. Disini tali pusat hanya dibersihkan dengan menggunakan air bersih lalu dikeringkan dengan kain tanpa ditutup dengan kain kasa.
Serta berdasarkan penelitian (Asiyah et al., 2017)pada metode perawatan tertutup memiliki waktu pelepasan yang lebih lama yaitu 7-10 hari sedangkan perawatan tali pusat terbuka hanya 5-7 hari. Dari hasil penelitian (Pitriani et al., 2017) perawatan tali pusat terbuka memiliki rata-rata pelepasan tali pusat yang
lebih cepat yaitu 6 hari sedangkan perawatan tali pusat tertutup memiliki rata-rata pelepasan tali pusat yang cukup lama yaitu 10 hari.
Serta ditambah penelitian (Reni et al., 2018)rata-rata waktu lepas tali pusat bayi yang dirawat dengan kasa kering atau tertutup adalah 6.55 hari sedangkan waktu lepas tali pusat bayi yang dirawat dengan perawatan terbuka lebih cepat yaitu 5.43 hari.
Menurut penulis perawatan tali pusat merupakan hal yang sangat sederhana untuk dilakukan karena tali pusat hanya perlu dijaga agar tidak lembab dan basah karena semakin cepat tali pusat bayi kering maka semakin cepat pula tali pusat bayi akan puput untuk menghindari terjadinya infeksi.
KESIMPULAN
Dari data yang telah dikumpulkan, saat penulis mendapat persetujuan pasien bahwa akan dilakukan asuhan perawatan tali pusat terbuka, analisa yang didapatkan yaitu KU : Baik, dan Tali pusat bayi masih basah serta tidak diberi apapun. Perawatan tali pusat terbuka pada bayi baru lahir normal di PMB Murtinawita dilaksanakan pada tanggal 21-25 Agustus 2020. Penatalaksanaan yang dilakukan yaitu perawatan tali pusat terbuka selama 5 hari, tidak diberi apapun
Page 15 dan di hari kelima tali pusat bayi sudah
puput, tanpa adanya tanda infeksi
SARAN
1. Bagi STIKes Hang Tuah Pekanbaru Diharapkan kedepannya STIKes Hang Tuah dapat menyediakan lebih banyak buku mengenai perawatan tali pusat terbuka serta bisa mengadakan workshop / seminar terbaru tentang perawatan tali pusat pada bayi baru lahir
2. Bagi PMB Murtinawita, SST
Diharapkan kepada penyedia layanan asuhan kebidanan BPM Murtinawita agar dapat mengganti caraperawatan tali pusat dari perawatan yang masih tertutup ke perawatan tali pusat terbuka atau ke cara perawatan tali pusat yang terbaru.
3. Bagi Pelaksana Asuhan Selanjutnya Diharapkan studi kasus ini dapat dijadikan pedoman atau informasi dan menambah pengetahuan pelaksana asuhan selanjutnya dalam melakukan perawatan tali pusat terbuka guna mempercepat puputnya tali pusat sehingga asuhan ini dapat dilakukan kepada ibu dan bayi lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Asiyah, N., Islami, & Mustagfiroh, L.
(2017). Perawatan Tali Pusat Terbuka Sebagai Upaya Mempercepat Pelepasan Tali Pusat.
Kebidanan, 1.
https://ejr.stikesmuhkudus.ac.id/inde x.php/ijb/article/download/112/175 Marmi, & Rahardjo, K. (2018). Asuhan
Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Prasekolah. PUSTAKA PELAJAR.
Profil Anak Indonesia. (2018).
https://www.google.com/url?sa=t&r ct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=
1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEw j_5ajUmMzoAhXjheYKHbGmBfo QFjAAegQIARAB&url=https%3A
%2F%2Fwww.kemenpppa.go.id%2 Flib%2Fuploads%2Flist%2F74d38- buku-pai-
2018.pdf&usg=AOvVaw3Oj7wsy6 FNb8YCuuoOf4Dl
Putra, S. R. (2012). Asuhan Neonatus Bayi dan Balita untuk Keperawatan dan Kebidanan (Rusdianto (Ed.);
Pertama,). D-MEDIKA.
Pitriani, R., Damayanti, I. P., & Afni, R.
(2017). Umbilical Cord Care Effectiveness Closed and Open To Release Cord Newborn. Kebidanan,
1, 1–6.
https://www.google.com/url?sa=t&r ct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=
Page 16 1&ved=2ahUKEwi887Ltl8zoAhVcI
LcAHSqyAX8QFjAAegQIARAB&
url=https%3A%2F%2Fjournal.unive rsitaspahlawan.ac.id%2Findex.php%
2Fdoppler%2Farticle%2Fdownload
%2F139%2F111&usg=AOvVaw1_
n2ZxMLMNgw3Xpifjm5WP
Rukiyah, A. Y., & Yulianti, L. (2010).
Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita (Pertama). CV. Trans Info Medika
Reni, D. P., Nur, F. T., Cahyanto, E. B.,
& Nugraheni, A. (2018). Perbedaan Perawatan Tali Pusat Terbuka dan Kasa Kering Dengan Lama Pelepasan Tali Pusat Pada Bayi Baru Lahir. Ilmiah Kesehatan Dan
Aplikasinya, 6.
https://jurnal.uns.ac.id/placentum/art icle/download/22772/16946
Page 17
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN EMESIS GRAVIDARUM DI PMB ERNITA PEKANBARU TAHUN 2020
Yulrina Ardhiyanti, Vivin Wulandari STIKes HANG TUAH PEKANBARU
ABSTRACT
Emesis gravidarum is usually characterized by nausea and vomiting and can cause various adverse effects, one of which is a decrease in appetite. The impact on the fetus is that the fetus will lack the nutrients and fluids needed by the body. At PMB Ernita in January 2020 there were 4 out of 10 pregnant women who experienced emesis gravidarum. The goal of care is to provide obstetric care for pregnant women with emesis gravidarum. The method used was a case study conducted at PMB Ernita from 31 August - 04 September 2020 with the criteria for a pregnant woman in the first trimester with nausea and vomiting. The care used was consuming sugarcane juice combined with ginger water which was drunk 3 times a day for 4 days then followed by a home visit for 4 days on 31 August - 04 September 2020. The development of the midwifery care that was given to the patient Mrs.R with consuming sugarcane juice combined with ginger boiled water as much as 330 ml 3 times a day for 4 days was successful because the nausea and vomiting were reduced. And it is hoped that PMB Ernita can provide leaflets or brochures so that pregnant women can read about emesis gravidarum and the care given by the therapy of boiled ginger water combined with sugarcane juice.
Keyword : Midwifery Care, Emesis Gravidarum, Pregnant Women ABSTRAK
Emesis gravidarum biasanya ditandai dengan mual muntah dan dapat menimbulkan berbagai dampak buruk salah satunya penurunan nafsu makan. Dampak bagi janin adalah janin akan kekurangan nutrisi dan cairan yang dibutuhkan oleh tubuh. Di PMB Ernita pada bulan Januari 2020 terdapat sebanyak 4 orang dari 10 ibu hamil yang mengalami emesis gravidarum. Tujuannya untuk melakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan emesis gravidarum. Metode yang digunakan adalah studi kasus yang dilaksanakan di PMB Ernita dari tanggal 31 Agustus–04 September 2020 dengan kriteria pasien ibu hamil trimester I dengan mual muntah. Asuhan yang diberikan adalah mengkonsumsi terapi air tebu dikombinasikan dengan air jahe yang diminum 3 kali sehari selama 4 hari kemudian dilanjutkan dengan kunjungan rumah selama 4 hari pada tanggal 31 Agustus – 04 September 2020. Perkembangan dari asuhan kebidanan yang di berikan pada pasien Ny.R dengan mengkonsumsi terapi air tebu dikombinasikan dengan air rebusan jahe sebanyak 330 ml 3 x sehari selama 4 hari berhasil karena mual muntah berkurang.Diharapkan PMB Ernita agar dapat menyediakan leaflet atau brosur agar ibu hamil bisa membaca tentang emesis gravidarum dan asuhan yang diberikan dengan terapi air rebusan jahe dikombinasikan dengan air tebu.
Kata Kunci : Asuhan Kebidanan, Emesis Gravidarum, Ibu Hamil
Page 18 PENDAHULUAN
Emesis gravidarum merupakan salah satu tanda dan gejala kehamilan yang umum terjadi pada ibu hamil pada awal kehamilan trimester I. Emesis gravidarum biasanya ditandai dengan mual muntah saat hamil muda pada beberapa kasus dapat berlanjut sampai kehamilan trimester kedua dan ketiga tapi itu jarang terjadi (Pudiastuti, 2012).
Angka kejadian emesis gravidarum sedikitnya 15% dari semua wanita hamil (WHO, 2015). Angka kejadian emesis gravidarum di Indonesia yang didapatkan dari 2.203 kehamilan yang dapat diobservasi secara lengkap adalah 543 orang ibu hamil yang terkena emesis gravidarum.Di Indonesia sekitar 10%
wanita hamil yang terkena emesis gravidarum. Di Riau kejadian emesis gravidarum sebanyak 10% - 15% dari jumlah ibu hamil sebanyak 182.815 pada tahun 2015 (Depkes, 2015).
Menurut penelitian Wardani (2020), obat nonfarmakologi / terapi dengan air tebu dikombinasi dengan air rebusan jahe bisa mengurangi mual muntah pada pasien emesis gravidarum. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa air tebu dikombinasikan dengan air rebusan jahe dapat menghilangkan mual muntah pada ibu emesis gravidarum.Cara mengkonsumsi air tebu dikombinasikan dengan rebusan air jahe yaitu dianjurkan
untuk mengkonsumsi 100 ml air tebu dan 10 ml air jahe yang diminum 3 kali sehari selama 4 hari untuk mengurangi mual muntah pada ibu emesis gravidarum.
Berdasarkan wawancara pada ibu hamil yang dilakukan di PMB Ernita di bulan Januari 2020, dari 10 orang ibu hamil terdapat 4 orang yang mengalami emesis gravidarum Upaya bidan tersebut untuk mengatasi pasien emesis gravidarum adalah konseling dan memberikan obat.
METODE
Studi kasus ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan Continuity of care diberikan pada ibu hamil dengan emesis gravidarum di PMB Ernita Pekanbaru yang beralamat di Jalan Lobak No.115 Delima, Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru.
Asuhan diberikan pada Ny. P dengan 2 kali kunjungan adalah mengkonsumsi air tebu dikombinasikan dengan air jahe yang diminum 3 kali sehari selama 4 hari pada tanggal 31 Agustus–04 September 2020.
Cara pengumpulan data anamnesa, observasi, pemeriksaan dan dokumentasi.
Analisa data dengan membandingkan antara data yang diperoleh dengan teori yang ada.
Page 19 HASIL
1. Kunjungan I
Kunjungan pertama ini dilakukan pada tanggal 31 Agustus 2020 pukul 10.00 WIB. Kunjungan antenatal dilakukan dirumah pasien yang beralamat di Jalan Teropong Arengka.
a. Data Subjektif
Ibu mengatakan berusia 19 tahun, bekerja sebagai ibu rumah tangga, mengatakan ini kehamilan yang kedua, yang pertama keguguran karena terjatuh dari kamar mandi, HPHT 23–
05–2020, mual muntah setiap pagi dan malam dan setiap habis makan kurang lebih 2 sampai 3 kali. Ibu masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Ibu mengatakan hasil USG janinnya masih kecil harus ditambahi berat badannya dan ada permasalahan. Ibu tidak memiliki riwayat penyakit yang pernah diderita.
b. Data Objektif
Keadaan umum ibu baik dan kesadaram composmentis, Tekanan Darah : 110 / 70 mmHg, Denyut Nadi : 82 x/menit, Pernafasan : 20x/menit, Suhu : 36,8 , BB sebelum hamil : 50 kg, BB sekarang : 48 kg, Tinggi badan : 160 kg, Lila : 27 cm, kelopak mata ibu tidak pucat, konjungtiva merah muda, putting susu menonjol, ibu tidak ada merasakan benjolan maupun rasa
nyeri, kebersihan baik, hasil palpasi TFU : 2–3 jari diatas simpisis.
c. Assasment
G2 P0 A1 Usia kehamilan 14 minggu 2 hari dengan Emesis Gravidarum
d. Plan
Informasi, edukasi, dan terapi : 1) Hasil pemeriksaan
2) Pendidikan kesehatan tentang emesis gravidarum
3) Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh ibu hamil emesis gravidarum 4) Pendidikan tentang kesehatan
tentang nutrisi
5) Tanda–tanda bahaya kehamilan 6) Penanganan Terapi Herbal Untuk
Emesis Gravidarum 7) Kunjungan ulang
2. Kunjungan II
Pada kajian ini merupakan hasil dari kunjungan antenatal kedua yang dilakukan pada tanggal 04 september 2020. Data yang dikumpulkan hanya fokus pada pemeriksaan khusus kehamilan yaitu dengan keluhan mual muntah atau emesis gravidarum.
a. Data subjektif
1) Ibu mengatakan mual muntahnya sudah mulai berkurang selepas minum air terapi.
Page 20 2) Ibu mengatakan muntahnya hanya
dipagi hari dan malam hari sudah jarang
b. Data objektif
1) Keadaan umum ibu baik dan kesadaran composmentis
2) Tanda – tanda vital :
Tekanan darah : 100 / 90 mmHg Denyut nadi : 80 x/menit Pernafasan : 20 x/menit Suhu : 36,6
c. Assasment
G2P0A1 Usia kehamilan 15 minggu dengan emesis gravidarum
d. Plan
Informasi , edukasi dan terapi : 1) Hasil pemeriksaan
2) Kondisi mual muntah 3) Penkes asupan nutrisi 4) Kunjungan ulang
PEMBAHASAN
Pembahasan ini ditulis dengan memberikan penjelasan khusus mengenai tinjauan kasus yang telah dijabarkan agar didapatkan suatu pemecahan masalah dari kesenjangan yang ada diawal dan diakhirnya dapat di tarik kesimpulan sehingga dapat digunakan sebagai tinda lanjut dalam penerapan asuhan kebidanan yang tepat, efektif serta efisien.Pembahasan ini dibahas setiap kajian dari kunjungan yang pertama sampai kunjungan ke dua pada tanggal 31
Agustus 2020 – 04 September 2020 serta mengevaluasi hasil dari kunjungan tersebut.
a. Data Subjektif
Berdasarkan hasil kunjunngan pertama Ny. P, pada tanggan 31 Agustus 2020 jam 10.00 WIB ibu mengatakan saat ini mual muntah ibu tidak tertahankan Karena setiap pagi, habis makan dan malam selalu muntah. Muntahnya sekitar 3 kali dalam sehari.Pada kunjungan ke dua ibu mengatakan mual muntahnya sudah mulai berkurang.
Perbedaan tingkatan mual muntah yang sering dijumpai adalah morning sickness, emesis gravidarum dan hiperemesis gravidarum. Emesis gravidarum ini mual muntah beberapa kali terutama pada pagi hari, tidak menyebabkan gangguan aktivitas sehari – hari.(Manuaba, 2010)
Emesis gravidarum merupakan hal yang fisilogis tetapi apabila tidak segera diatasi akan menjadi hal yang patologis.
Rasa mual biasanya dimulai dari minggu pertama kehamilan dan berakhir pada minggu keempat. Selain itu emesis gravidarum memberikan dampak secara fisologis , social, dan spiritual. Secara psikologis emesis gravidarum dapat menimbulkan kecemasan , rasa bersalah, dan marah jika gejala mual muntah semakin berat. Selain itu dapat terjadi konflik antara ketergantungan terhadap
Page 21 pasangan dan kehilangan kontrol jika ibu
sampai berhenti berkerja (Runiari, 2010).
Dari hasil asuhan yang telah diberikan selama 4 hari didapatkan hasil dari ibu bahwa mual muntahnya berkurang dikarenakan ibu minum air terapi tebu dikombinasikan dengan rebusan jahe.Karena jahe mengandung minyak atsiri sebagai anti anflamasi sehingga jahe dapat mengurangi frekuensi mual muntah pada ibu hamil sehingga menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi air tebu dikombinasikan dengan air jahe untuk menetralisirkan mual dan muntah pada ibu hamil dengan diberikan 3 kali sehari selama 4 hari.Dan pada kunjungan ke 2 tanggal 04 September 2020 ibu mengatakan mual muntahnya mulai berkurang.
b. Data Objektif
Dari hasil pemeriksaan kunjungan pertama pada tanggal 31 Agustus 2020 yaitu Keadaan umum ibu baik dan kesadaran composmentis, Tekanan darah : 110 / 70 mmHg, Denyut nadi : 82 x/menit, Pernafasan : 20 x/menit, Suhu : 36,8 , BB sebelum hamil : 50 kg, BB sekarang : 48 kg, Tinggi badan : 160 kg, Lila : 27 cm, kelopak mata ibu tidak pucat, konjungtiva merah muda, putting susu menonjol, ibu tidak ada merasakan benjolan maupun rasa nyeri, kebersihan baik, hasil palpasi TFU : 2 – 3 jari diatas simpisis.
Menurut (Maulana, 2013), beberapa nutrisi pada ibu hamil dengan emesis gravidarum yaitu makan dalam jumlah sedikit tetapi sering, makan makanan yang mengandung karbohidrat dan protein yang dapat membantu mengatasi rasa mual.
Banyak mengonsumsi buah, sayuran dan makanan yang mengadung tinggi karbohidrat seperti roti, kentang, biscuit dan sebagainya, hindari makanan yang berlemak, berminyak, dan pedas yang akan memperburuk rasa mual, minum yang cukup untuk menghindari dehidrasi akibat muntah dan hindari minuman yang mengandung kafein, vitamin B6 efektif untuk mengurangi rasa mual pada ibu hamil. Pemakaian ini juga membutuhkan konsultasi dari dokter, Pengobatan tradisional seperti jahe dan lemon dapat mengurangi rasa mual, makan makanan yang mengandung lemak dan protein yang rendah seperti ikan, ayam tanpa kulit, telur dan sebagainya
c. Assessment
Assessment pada kasus ini sesuai dengan teori menurut (Megasari et al., 2019) penilaian yang dilakukan akan berujung pada kesimpulan kondisi klien yang harus ditindaklanjuti yang bertuang dalam plan atau rencana asuhan yang diberikan. Assessment yang dapat ditegakkan pada asuhan kebidanan kajian I adalah G2P0A1 usia kehamilan 14 minggu 2 hari dengan Emesis
Page 22 Gravidarum. Assessment yang dapat di
tegakkan pada asuhan kebidanan kajian II adalah G2P0A1 usia kehamilan 15 minggu dengan Emesis Gravidarum.
d. Plan
Pada saat asuhan kunjungan pertama ibu dianjurkan untuk mengkonsumsi terapi air tebu dikombinasikan dengan rebusan jahe 3 x sehari sebanyak 330 ml perhari selama 4 hari.Pada kunjungan kedua terlihat mual muntah ibu berkurang dan tetap menganjurkan ibu minum terapi air tebu dikombinasikan dengan air jahe.
Jahe baik untuk ibu hamil dengan porsi yang cukup karena jahe Obat alami saat terasa mual, muntah maupun mabuk perjalanan. Menurut sebuah penelitian(Redi Aryanta, 2019), jahe sangat efektif untuk mencegah dan menghindarkan seseorang dari berbagai keluhan kesehatan seperti mual, muntah serta mabuk saat perjalanan.
Dari hasil penelitian yang dilakukan (Wardani, 2020) diketahui bahwa rata-rata Emesis Gravidarum pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo Pekanbaru sebanyak 5.87 kali sebelum mengkonsumsi air tebu kombinasi dengan air jahe dan mengalami penurunan menjadi 0.47 kali sesudah mengkonsumsi air tebu kombinasi dengan air jahe. Dalam penelitian ini air tebu dikombinasikan dengan air rebusan jahe ini diberikan kepada ibu hamil dengan
emesis gravidarum selama 4 hari frekuensi pemberian 3 kali/hari.
Menurut penulis bahwa kandungan yang terdapat pada jahe iyalah minyak atsiri sebagai anti anflamasi sehingga jahe dapat mengurangi frekuensi mual muntah pada ibu hamil sehingga menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi air tebu dikombinasikan dengan air jahe untuk menetralisirkan mual dan muntah pada ibu hamil dan tebu mengandung glukosa untuk penekanan asam didalam lambung dan dapat mengurangi mual muntah.
KESIMPULAN
Asuhan yang diberikan pada Ny. P dengan emesis gravidarum yaitu dengan pemberian terapi air tebu dan rebusan jahe untuk menetralisirkan mual muntah yang dilakukan selama 4 hari, dihari pertama ibu masih mual muntah lebih dari 3 kali/hari dan setelah minum terapi air tebu dikombinasikan air rebusan jahe dikunjungan kedua pada hari keempat setelah minum terapi tersebut ibu mengatakan mual muntahnya sudah mulai berkurang menjadi 2 kali/hari. Jadi dapat disimpulkan bahwa air tebu dikombinasikan dengan air rebusan jahe dapat mengurangi mual muntah pada ibu hamil.
Page 23 SARAN
a. Diharapkan kepada penyedia layanan kesehatan yang sedang menjalankan praktik untuk bisa menyediakan kelas ibu hamil
b. Diharapkan PMB terhadap pelayanan pada ibu hamil yang mengalami emesis gravidarum dan agar dapat menyediakan leaflet atau brosur agar ibu hamil bisa membaca tentang emesis gravidarum tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Manuaba, I. A. C. (2010). Buku Ajar Penuntun Kuliah Ginekologi. TIM.
Maulana, H. D. . (2013). Promosi Kesehatan. Penerbit Buku Kedokteran , EGC.
Megasari, M., Yanti, J. S., Triana, A., &
Maita, L. (2019). Catatan Soap Sebagai Dokumentasi Legal Dalam Praktik Kebidanan (Metha & P.
Desristanto (Eds.)). Nuha Medika.
Notoatmodjo, S. (2010). Promosi Kesehatan:Teori & Aplikasi. Rineka Cipta.
Pudiastuti, R. D. (2012). Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Normal Dan Patologis. Nuha Medika.
Rahmawati, E. N. (2011). Ilmu Praktis Kebidanan. Victory Inti Cipta.
Redi Aryanta, I. W. (2019). Manfaat Jahe Untuk Kesehatan. Widya Kesehatan.
Who. (2015). Reduction Of Maternal
Mortality. A Joint
Who/Unfpa/Unicef/World Bank Statement.
Page 24 ASUHAN KEBIDANAN Ny. V DENGAN LUKA EPISIOTOMI
Miratu Megasari, Iga Aulia STIKes Hang Tuah Pekanbaru
[email protected] [email protected]
INTISARI
Latar belakang studi kasus : Masa nifas atau puerperium adalah masa setelah persalinan selesai sampai 6 minggu atau 42 hari. Sekitar 60% kematian ibu terjadi setelah melahirkan yang didominasi oleh beberapa penyebab salah satunya infeksi dimana hal ini dapat dicegah dengan melakukan pertolongan persalinan yang bersih, deteksi dini infeksi, dan asuhan pada masa nifas yang baik. Ibu yang memiliki laserasi pada saluran genetalia termasuk episiotomi beresiko terkena infeksi pada masa nifas.
Tujuan studi kasus : Mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan perawatan luka episiotomi terhadap konsumsi ikan gabus untuk mempercepat pengeringan luka secara menyeluruh dan berkesinambungan.
Metode studi kasus : Metode yang digunakan adalah studi kasus, sedangkan metode pendokumentasian yang akan digunakan yaitu metode S-O-A-P. asuhan yang diberikan pada ibu nifas Ny.V dengan luka episiotomi terhadap konsumsi ikan gabus di PMB Hasna Dewi Kota Pekanbaru selama 10 hari dari tanggal 24 Agustus 2020 – 03 September 2020
Laporan kasus :ibu nifas Ny.v mengatakan ia merasa lelah dan nyeri pada daerah luka jahitan.
Simpulan : Asuhan kebidanan dilaksanakan menggunakan pendekatan dengan pendokumentasian SOAP (Subjektif, Objektif, Asessment, Penatalaksanaan).Tidak ditemukan kesenjangan pada hasil data subjektif dan objektif hasil dari mengkonsumsi ikan gabus selama 10 hari sebanyak 500 gram yang dikonsumsi perharinya didapat masa nifas Ny.V berjalan dengan normal, kondisi luka episiotomi bagian luar telah kering dan tidak ditemukan adanya tanda-tanda infeksi.
Saran : Diharapkan terus membimbing mahasiswa selama melakukan praktik di Klinik dan meningkatkan pelayanan menjadi lebih baik lagi, khususnya asuhan kebidanan pada ibu nifas untuk kunjungan ibu nifas di Klinik atau rumah bersalin terutama yang memiliki luka episiotomi sehigga dapat mendeteksi dini apabila terjadi infeksi atau masalah lain.
Kata Kunci : Masa Nifas, Luka Episiotomi, Asuhan Kebidanan, Ikan Gabus
Page 25 PENDAHULUAN
Episiotomi ialah insisi perineum untuk memudahkan persalinan dan mencegah rupture perineum totalis, pada masa lalu dianjurkan untuk melakukan episiotomi secara rutin yang tujuannya untuk mencegah robekan berlebihan pada perineum. Membuat tepi luka rata agar mudah dilakukan penjahitan, mencegah penyulit atau tahanan pada kepala dan infeksi, akan tetapi hal itu tidak didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang cukup.
Sebaliknya, hal ini tidak boleh diartikan bahwa episiotomi tidak diperbolehkan, karena ada indikasi tertentu untuk tetap dilakukan tindakan episiotomi (Sulistyawati & Nugraheny, 2010).
Episiotomi rutin tidak boleh dilakukan karena jumlah darah yang hilang meningkat dan risiko terjadinya hematom. Kejadian laserasi derajat tiga atau empat lebih banyak terjadi pada episiotomi rutin, meningkatkan nyeri pasca persalinan di daerah perineum, meningkatkan risiko infeksi pada multigravida dengan perineum yang kaku dan meningkatkan infeksi nifas jika tidak dirawat dengan benar (Afni et al., 2015).
Menurut (Maritalia, 2014), infeksi nifas adalah peradangan yang terjadi pada organ reproduksi yang disebabkan oleh masuknya mikroorganisme atau virus kedalam
organ reproduksi tersebut selama proses persalinan dan masa nifas. Ibu yang mengalami infeksi nifas biasanya ditandai dengan demam (peningkatan suhu tubuh diatas 38°C) yang terjadi selama dua hari berturut-turut. Adapun faktor predisposisi infeksi nifas
diantaranya perdarahan,
traumapersalinan, partus lama, retensio plasenta serta keadaan umum yang buruk mengenai anemia dan malnutrisi.
Proses penyembuhan luka dipengaruhi oleh pemenuhan nutrisi jika nutrisi seseorang tidak terpenuhi maka proses penyembuhan luka akan tidak baik dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal ini terbukti dari hasil penelitian (Rahmawati & Triatmaja, 2015) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan pemenuhan zat gizi dengan pemulihan lukaperineum. Menurut penelitian yang dilakukan (Sakinah, 2017) menyatakan bahwa ada hubungan antara status gizi ibu nifas dengan penyembuhan luka perineum.
Nutrisi yang buruk akan menghambat proses penyembuhan bahkan menyebabkan infeksi pada luka.
Nutrisi yang dibutuhkan dan penting adalah asam amino (protein), lemak, energi sel (karbohidrat), vitamin (C, A, B kompleks, D, K, E), zink, race element (besi, magnesium), dan air. Asam amino
Page 26 esensialdan non-esensial dapat ditemukan
pada daging, ikan, dan putih telur (Arisanty, 2013).
METODE STUDI KASUS
Metode ini digunakan dalam bentuk pengkajian data subjektif, objektif, assesment dan penatalaksanaan. Metode ini menggali tentang bagaimana asuhan yang benar dalam penatalaksanaan dan pemeriksaan pada ibu nifas pada perawatan luka episiotomi dengan konsumsi ikan gabus.
1. Lokasi dan Waktu a. Lokasi
Pengambilan kasus ini dilakukan di PMB Hasna Dewi Kota Pekanbaru yang beralamat di Jl.HR Soebrantas Panam, Kec.Tampan
b. Waktu
Pengambilan kasus ini dilaksanakan pada tanggal 24 Agustus 2020 s/d 03 September 2020.
HASIL STUDI KASUS
1. Kunjungan Nifas Pertama di PMB Hasna Dewi Kota Pekanbaru (5 Jam Post Partum)
Tanggal 24 Agustus 2020 Pukul : 13.30 WIB
a) Pengkajian Data Subjektif
Ny.V berusia 18 tahun, agama islam, pendidikan terakhir SMA, pekerjaan ibu sebagai ibu rumah tangga, dan ibu beralamat di Jl.Mayang Griya Asri II Ibu mengatakan ia merasa lelah dan nyeri pada daerah luka jahitan.
b) Pengkajian Data Objektif
Setelah melakukan pemeriksaan data objektif didapat hasil yaitu TD: 120/80 mmHg, N: 80 ×/i, P: 20
×/i, S: 36,5 , TFU 3 jari dibawah pusat, kontrasksi uterus baik, perdarahan ± 20 cc berwarnah merah kehitaman (lochea rubra), luka episiotomi (mediolateralis), kondisi luka baik dan telah diberikan antiseptik setelah bersalin, pus (-), darah (-), odema (- ), infeksi perineum (-).
c) Assasment
P1A0H1, 5 jam post partum, K/U ibu baik dengan keluhan merasah lelah dan nyeri pada daerah luka jahitan.
d) Plan
1) Bina hubungan baik dengan ibu
2) Beritahu ibu hasil pemeriksaaan
3) Menjelaskan kepada ibu tentang keluhan yang ibu rasakan