• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH. Penginderaan Jauh Jillid 1_Cet.2_1992 Prof.Dr.Sutanto

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MAKALAH. Penginderaan Jauh Jillid 1_Cet.2_1992 Prof.Dr.Sutanto"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

GEO 114

Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK)

MAKALAH

Penginderaan Jauh Jillid 1_Cet.2_1992

Prof.Dr.Sutanto

Disusun Oleh:

Aprizon Putra Nim : 89059.07

Dosen Pembimbing:

Dra.Ernawati,M.Si

Febriandi.S.Pd,M.Si

▸ Baca selengkapnya: peralatan dalam penginderaan jauh yang dipasang pada sebuah wahan dan berfungsi sebagai alat perekam atau pemantau obyek dipermukaan bumi disebut

(2)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar...!

Daftar isi...!!

Daftar Gambar

Struktur Ilmu (Aprizon, 2009)……….6

Panjang gelombang yang digunakan dalam penginderaan jauh (Sabins Jr., 1978)………10

Interaksi antara tenaga elektromagnetik dan atmosfer………11

Sistem Penginderaan Jauh. (Prof Dr. Sutanto, Penginderaan Jauh, jilid I, 1999)………...17

Bentuk liputan foto udara. Blok bujur sangkar pada foto udara (Smith, 1943)………..17

Daftar Table Tabel 1 Spektrum Elektromagnetik dan bagian-bagiannya………..……….9

Tabel 2 Beda antara citra foto dan non foto. ………...……15

BAB I PENDAHULUAH………..……….…………..………1

BAB II PENGINDERAAN JAUH DAN INTERPRETASI CITRA...4

BAB III DASAR FISIKA PENGINDERAAN JAUH...8

BAB IV SISTEM PENGINDERAAN JAUH...13

BAB V JENIS CITRA...15

BAB VI UNSUR DAN TEKNIK INTERPRETASI...20

BAB VII ALAT INTERPRETASI CITRA...31

BAB VII PENUTUP...39 DAFTAR PUSTAKA

(3)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Teknologi penginderaan jauh merupakan pengembangan dari teknologi pemotretan udara yang mulai diperkenalkan pada akhir abad ke 19. Manfaat potret udara dirasa sangat besar dalam perang dunia pertama dan kedua, sehingga cara ini dipakai dalam eksplorasi ruang angkasa. Sejak saat itu istilah penginderaan jauh (remote sensing) dikenal dan menjadi populer dalam dunia pemetaan .

Eksplorasi ruang angkasa yang berlangsung sejak tahun 1960 an antara lain diwakili oleh satelit-satelit Gemini, Apollo, Sputnik, Solyus. Kamera presisi tinggi mengambil gambar bumi dan memberikan informasi berbagai gejala dipermukaan bumi seperti geologi, kehutanan, kelautan dan sebagainya. Teknologi pemotretan dan perekaman permukaan bumi berkembang lebih lanjut dengan menggunakan berbagai sistim perekam data seperti kamera majemuk, multispectral scanner, vidicon, radiometer, spectrometer yang berlangsung sampai sekarang.

Pada tahun 1972 satelit Earth Resource Technology Satellite-1 (ERTS-1), sekarang dikenal dengan Landsat, untuk pertama kali diorbitkan Amerika Serikat.

Satelit ini dikenal sebagai satelit sumber alam karena fungsinya adalah untuk memetakan potensi sumber alam dan memantau kondisi lingkungan. Para praktisi dari berbagai bidang ilmu mencoba memanfaatkan data Landsat untuk menunjang program pemetaan, yang dalam waktu pendek disimpulkan bahwa data satelit tersebut potensial untuk menunjang program pemetaan dalam lingkup area yang sangat luas.

Sukes program Landsat diikuti oleh negara-negara lain dengan diorbitkannya berbagai satelit sejenis seperti SPOT oleh Perancis, IRS oleh India, MOSS dan Adeos oleh Jepang, ERS-1 oleh MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa) dan Radarsat oleh Kanada.

Pada sekitar tahun 2000 sensor berketelitian tinggi yang semula merupakan jenis sensor untuk mata-mata/intellegence telah pula dipakai untuk keperluan sipil dan

(4)

1.2 Perumusan

Penginderaan Jauh berkembang sangat pesat sejak empat Dasawarsa terakhir ini. Perkembangannya meliputi aspek sensor, wahana atau kendaraan pembawa sensor, jenis citra serta liputan dan ketersediaanya, alat dan analisa data, dan jumlah penggunaanya serta bidang penggunaanya. Didalam perkembangan yang pesat ini masih saja terdengar pertanyaan-pertanyaan seperti antara lain:

1) Apakah itu penginderaan jauh.

2) Apa Citra dan interprestasi Citra.

3) Apakah penginderaan jauh sama dengan interprestasi citra.

4) Apakah penginderaan jauh merupakan ilmu atau teknik.

5) Mengapa penginderaan jauh semakin banyak digunakan.

1.3 Tujuan

Penggunaan data satelit penginderaan jauh di bidang kebumian telah banyak dilakukan di negara maju untuk keperluan pemetaan geologi, eksplorasi mineral dan energi, bencana alam dan sebagainya. Di Indonesia penggunaan dalam bidang kebumian belum sebanyak di luar negeri karena berbagai kendala, diantaranya data satelit cukup mahal, memerlukan software khusus dan paling utama adalah ketersediaan sumberdaya manusia yang terampil sangat terbatas.

Dalam pembahasan kali ini akan lebih ditekankan pada perkembangan teknologi penginderaan jauh tanpa membahas prinsip dasarnya secara mendalam, selain itu membahas mengenai prospek penggunaannya untuk bidang ilmu secara umum. (La An: Prinsip dasar penginderaan Jauh 27:2007)

1.4 Manfaat 1. Bagi Mahasiswa

a) Dapat memperoleh pengetahuan secara luas, baik dari dalam ataupun dari luar jangkauan pendidikan secara umum khususnya pendidikan dalam ilmu Penginderaan Jauh.

b) Meningkatkan kualitas keilmuan

c) Menghindari ketertinggalan informasi dalam ilmu-ilmu Geografi pada umumnya.

2. Bagi Dosen

(5)

3. Bagi Pembaca

a) Ikut mendukung dan turut serta meningkatkan mutu pendidikan khususnya ilmu Geografi.

b) Memiliki nilai tambah bagi akreditasi pendidikan Geografi dari Karya tulis tentang Ilmu Penginderaan Jauh.

(6)

BAB II

PENGINDERAAN JAUH DAN INTERPRESTASI CITRA

2.1 BATASAN DAN PENGERTIAN 2.1.1 Penginderaan Jauh

Penginderaan jauh dapat diserupakan dengan suatu proses membaca. Dengan penggunakan mata Anda bertindak sebagai alat pengindera (sensor) yang menerima cahaya yang dipantulkan dari halaman modul ini. Data yang diterima oleh mata Anda berupa energi sesuai dengan jumlah cahaya yang dipantulkan dari bagian terang pada halaman modul ini. Data tersebut dianalisis atau ditafsir di dalam pikiran Anda agar dapat menerangkan bahwa bagian yang gelap pada halaman ini merupakan sekumpulan huruf-huruf yang menyusun kata-kata. Lebih dari itu, kata-kata tersebut menyusun kalimat-kalimat, dan Anda menafsir arti informasi yang terdapat pada kalimat-kalimat itu.

1) Penginderaan jauh adalah ilmu atau seni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah atau gejala, dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat, tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau gejala yang akan dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1990).

2) Penginderaan jauh merupakan upaya untuk memperoleh, menemunjukkan (mengidentifikasi) dan menganalisis objek dengan sensor pada posisi pengamatan daerah kajian (Avery, 1985).

3) Penginderaan jauh merupakan teknik yang dikembangkan untuk memperoleh dan menganalisis informasi tentang bumi. Informasi itu berbentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan dari permukaan bumi (Lindgren, 1985).

Dari beberapa batasan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penginderaan jauh merupakan upaya memperoleh informasi tentang objek dengan menggunakan alat yang disebut “sensor” (alat peraba), tanpa kontak langsung dengan objek.

Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa penginderaan jauh merupakan upaya untuk memperoleh data dari jarak jauh dengan menggunakan peralatan tertentu.

(7)

keperluan. Data yang diperoleh dari penginderaan jauh dapat berbentuk hasil dari variasi daya, gelombang bunyi atau energi elektromagnetik. Sebagai contoh grafimeter memperoleh data dari variasi daya tarik bumi (gravitasi), sonar pada sistem navigasi memperoleh data dari gelombang bunyi dan mata kita memperoleh data dari energi elektromagnetik. (Tentang tiga hal ini akan diuraikan lebih lanjut pada bagian lain). Jadi penginderaan jauh merupakan pemantauan terhadap suatu objek dari jarak jauh dengan tidak melakukan kontak langsung dengan objek tersebut.

2.1.2 Citra

Citra penginderaan jauh yang selanjutnya disingkat dengan citra, termasuk dalam artian ketiga menurut Hornby.

1. Citra merupakan gambaran yang terekam oleh kamera atau sensor lainnya (Hornby).

2. Citra adalah gambaran objek yang dibuahkan oleh pantulan atau pembiasan sinar yang difokuskan dari sebuah lensa atau cermin (Simonett, 1983).

Didalam bahasa Inggris ada dua istilah yang masing-masing diterjemahkan dengan citra, yaitu Image dan Imagery. Untuk membedakannya. Berikut dikemukakan batasannya menurut Ford (1979), yaitu:

 Image ialah gambaran suatu objek atau suatu perwujudan suatu image pada umumnya berupa sebuah peta, gambar, atau foto.

 Imagery ialah gambaran visual tenaga yang direkam dengan menggunakan piranti penginderaan jauh.

2.1.3 Interpretasi Citra

Interpretasi citra merupakan perbuatan mengkaji foto udara atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi objek dan menilai arti pentingnya objek tersebut. Jadi di dalam interpretasi citra, penafsir mengkaji citra dan berupaya mengenali objek melalui tahapan kegiatan, yaitu: deteksi, identifikasi dan analisis.

Pada dasarnya kegiatan interpretasi citra terdiri dari 2 proses, yaitu melalui pengenalan objek melalui proses deteksi dan penilaian atas fungsi objek.

(8)

dilakukan secara langsung atas benda, melainkan dengan mengkaji hasil rekaman dari foto udara atau satelit.

2.2 PENGINDERAAN JAUH SEBAGAI ILMU 2.2.1 Jensen dan Dahlberg

Seorang Geografiwan. Jensen dan Dahlberg (1986) mengemukakan bahwa penginderaan jauh dan kartografi termasuk teknik dalam Geografi. Meskipun demikian., dua teknik ini tumbuh menjadi disiplin baru didalam Geografi.

2.2.2 Lueder

Lueder (1959) mengemukakan bahwa penginderaan jauh merupakan ilmu dan teknik. Karena dikemukakan sebelum digunakannya istilah Penginderaan Jauh, ia masih mempergunakan istilah Interprestasi Foto udara.

2.2.3 Everett dan Simonett

Everett dan Simonett (1976) mengutarakan bahwa penginderaan jauh merupakan ilmu, antara lain karena karakteristik yang berupa:

Gambar 1 Struktur Ilmu (Aprizon, 2009)

Everett dan Simonett (1976) menyatakan bahwa yang menjadi masalah utama bagi para filosofiwan dalam penginderaan jauh yaitu antara lain :

a. Tingkat konsistensi yang diperoleh.

b. Pengubah ujud alamiah menjadi ujud budaya (artefacting).

c. Ketidak pastian.

d. Tidak tepatnya ekstrapolasi antara data yang skalanya berbeda.

e. Keanekaan parameter lingkungan secara spasial dan secara temporal untuk diubah

Everett dan Simonett

Konsepsi Dasar Filosofi

Diskriminasi

Resolusi

Strategi jamak

Pengelola Ilmu Baru

(9)

2.2.4 Abler, Adams, dan Gould (1972)

Abler, Adams, dan Gould (1972) mengutarakan bahwa ilmu pengetahuan atau sains dikembangkan dan dilaksanakan oleh kelompok-kelompok pakar dengan tugas yang berbeda-beda. Berdasarkan pendapat empat orang pakar kenamaan tersebut maka penulis berpendapat bahwa penginderaan jauh merupakan ilmu. Bila digunakan oleh pakar lain untuk menopang penelitian atau pekerjaan, maka penginderaan jauh merupakan teknik bagi mereka itu.

2.3 MENGAPA PENGINDERAAN JAUH SEMAKIN BANYAK DIGUNAKAN.

Baik diukur dari jumlah bidang penggunaanya maupun dari frekwensi penggunaanya pada tiap bidang, penggunaan penginderaan jauh memang meningkat pesat pada emapt dasawarsa terakhir ini. Peningkatan dilandasi oleh beraneka alasan.

Sekurang-kurangnya ada enam alasan yang melandasi peningkatan penggunaan Penginderaan jauh, yaitu:

1). Citra menggambarkan obyek, daerah dan gejala dipermukaan bumi.

 Ujud dan letak obyek yang mirip ujud dan letaknya dipermukaan bumi.

 Relatif lengkap.

 Meliputi daerah luasan.

 Permanen.

2). Dari jenis Citra dapat ditimbulkan gambaran tiga dimensional apabila pengamatannya dilakukan dengan alat yang disebut stereoskop.

 Menkaji model medan yang berbeda.

 Relief lebih jelas karena adanay pembesaran vertical.

 Memungkinkan pengukuran beda tinggi yang dapat dimanfaatkan untuk peta kontur, perencanaan lintas jalan, dan saluran irigasi.

 Memungkinkan pengukuran lereng untuk menetukan kelas lahan, konservasi, dan keperluan lainnya.

3). Karateristik obyek yang tak tampak dapat diwujudkan dalam bentuk citra sehingga dimungkinkan pengenalan obyek.

(10)

Referensi

Dokumen terkait

Adapun nilai skin factor sebesar +13,35 dan flow efficiency sebesar 0,47 menunjukkan bahwa daerah di sekitar lubang sumur diindikasikan telah mengalami kerusakan.Untuk

Pembelajaran menggunakan modul bermanfaat untuk hal-hal sebagai berikut: (1) meningkatkan efektivitas pembelajaran tanpa harus melalui tatap muka secara teratur karena

Ini disebabkan karena pada umumnya para perajin hanya memproduksi dalam jumlah terbatas untuk keperluan sendiri, atau berdasarkan permintaan dari konsumen.Untuk menghidupkan

Terdapat perbedaan mencolok pada gambar diagram batang pada Gambar 5 , yaitu kontribusi pada tahun 2011 didominasi oleh repeatability pengambilan data faktor- Ksebesar

Tujuan dari pemantauan ini untuk mengetahui kualitas udara laboratorium IEBE dan radioaktivitasnya, sehingga dapat mendukung sistem keselamatan bagi pekerja radiasi

Maka dalam menjalankan fungsi Pemerintah sebagai pengatur dan pembina bidang telekomunikasi, Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi menerbitkan Rencana Dasar Teknis Nasional,

Untuk dapat dilakukan analisis faktor, persyaratan pokok yang harus dipenuhi adalah angka Measure of Sampling Adequacy (MSA) harus di atas 0,5 dan probabilitas (sig) <

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Keputusan Bupati tentang Penerima Belanja Hibah kepada Lembaga